Archive for The World After the Bad Ending

The World After the Bad Ending Chapter 181
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 181 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 181: Seron Ingin Menjadi Lebih Kuat Aku segera membawa Seron yang pingsan ke ruang UKS. Dan apa yang kudengar dari guru UKS sungguh mengejutkan. “Astaga, Seron, kamu ke sini lagi?” Lagi. Itu berarti Seron sudah beberapa kali datang ke ruang UKS. Guru UKS, yang tampaknya sudah terbiasa, merawat tangan Seron dan membaringkannya. Kemudian, dengan menggunakan sihir penyembuhan, wajah Seron terlihat membaik. “Guru, apa maksudnya ‘lagi’?” Ketika aku menyuarakan kebingunganku, guru UKS menghela napas. “Ini sudah ketujuh kalinya Seron ke sini.” Bukan sekali atau dua kali—tujuh kali. Akademi Zerion memiliki banyak siswa yang bersemangat. Tidak jarang beberapa di antaranya dibawa ke ruang UKS setelah latihan yang intens. Tapi tujuh kali? Itu tidak biasa. Pandanganku tertuju pada Seron. Awalnya, aku pikir dia mungkin di-bully oleh siswa lain. Seron memang memiliki kepribadian yang sering menimbulkan konflik. Si Badger Merah kami sangat ahli dalam berkelahi. Tapi dari suasana yang tercipta, bully bukanlah masalahnya. Sebaliknya, Seron dengan sungguh-sungguh meminta orang lain untuk berlatih bersamanya. Seron terengah-engah, napasnya tersengal-sengal. Apa yang ingin dia capai dengan memaksakan diri sekeras ini? Seron memang selalu kompetitif, tapi dia tidak pernah memaksakan diri sampai pingsan seperti ini sebelumnya. “Ugh… ughhh…” Saat aku tenggelam dalam pikiran, Seron perlahan membuka matanya. Ketika pandangan kami bertemu, matanya melebar karena kaget. “P-Pangeran Ubi Manis?” Reaksi yang tak terduga. “Kenapa kamu di sini?” “Aku yang membawamu ke sini. Kamu tidak ingat?” “O-Oh.” Dia tampaknya hanya ingat samar-samar apa yang terjadi. Wajah Seron memerah, dan dia menyembunyikan diri di bawah selimut. “T-Terima kasih. Aku baik-baik saja sekarang! Kamu bisa pergi!” Dia menggeliat di bawah selimut. “Kenapa kamu berlatih sekeras itu?” Selimut itu bergetar. Dia tahu dia tidak bisa menghindari pembicaraan ini. Tapi dia masih belum mau keluar dari bawah selimut. “Kamu sudah pingsan tujuh kali. Jika kamu terus memaksakan diri seperti ini, kamu akan benar-benar terluka.” “…Kamu tidak bisa bicara.” Yah… dia benar. cari situs novel_Fire.ηet di Google untuk mengakses bab-bab novel lebih awal dan dalam kualitas terbaik. Aku sendiri sering bekerja terlalu keras, jadi aku tidak pantas menasihatinya. “Dan kadang, latihan memang intens.” “Ini jelas memaksakan diri. Jika kamu terus begini—” “Aku tahu!” Seron tiba-tiba berteriak. Dia tetap menyembunyikan wajahnya di bawah selimut sambil bergumam, “Aku sudah tahu…” Aku diam-diam memperhatikannya. Aku bisa merasakan dia tidak berteriak karena ingin. “Lalu kenapa?” Pasti ada alasan lain dia memaksakan diri sekeras ini. Ketika aku bertanya, Seron ragu sejenak. “…Karena aku…

The World After the Bad Ending Chapter 180
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 180 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 180: Teman Pertama Iris Iris bangun di sore hari. Untungnya ini akhir pekan, jadi tidur hingga larut bukan masalah. Sementara itu, Hania pergi ke asrama putra menggantikanku. Jika bukan karena dia, aku mungkin tidak sengaja menginap di luar. “……” Setelah bangun, Iris diam beberapa saat. Lalu, dia menatap wajahku lama sekali. Saat ini, aku berhadapan dengan Iris bukan sebagai Hannon melainkan Vikamon. Mungkin karena itu, tatapannya terasa sangat menekan. “Ahem, um, Nyonya Iris.” “Vikamon… Ah, benar, orang itu ada.” Ah, jadi dia hanya tidak ingat. Bagi Iris, Vikamon bukan sosok penting. Dia hanya orang yang nekat menyerangnya di dungeon iblis. Tidak lebih dari itu. Mungkin karena itulah dia menatapku dengan ekspresi bingung. “Kenapa kau membantuku?” Vikamon adalah sosok yang pernah diusir Iris dari akademi. Jika ada apa-apa, dia punya alasan untuk mendendam. Tidak ada alasan logis baginya untuk menolong Iris. Kenapa aku membantunya? Menghadapi pertanyaan itu, aku diam sejenak. Apa yang harus kukatakan di sini? Beberapa alasan muncul di kepalaku. Tapi akhirnya, aku memutuskan untuk jujur. “Tidak semua pertolongan harus ada alasannya.” Aku ingin menolong Iris. Karena aku telah melihat hidup dan penderitaannya di Blazing Butterfly. Aku tidak ingin kisahnya berakhir dengan buruk. Itu alasanku. Aku tahu itu tidak cukup untuk dipahami Iris. Jadi kutambahkan sesuatu yang lebih bisa dia pahami. “Lagipula, kau mengingatkanku pada adik perempuanku.” Mata Iris melebar. “…Adik perempuan?” “Ya, aku punya adik yang dua tahun lebih muda.” Xenia dan Iris tidak sepenuhnya berbeda. Bakat istimewa. Ekspektasi orang sekitar. Tugas memimpin kelompok. Kerinduan akan kasih sayang keluarga. Itulah kesamaan mereka. Saat memandang Xenia, entah kenapa aku teringat Iris. Mungkin seperti Iris yang tanpa sadar memperlakukan aku seperti keluarga, aku pun mulai melihatnya seperti itu. ‘Meski sebenarnya urutannya terbalik.’ Tapi ini bukan bohong. Iris menatapku kosong. Khawatir dia tak paham, aku menunggu dengan cemas. Lalu, akhirnya dia bicara. “…Jadi aku bukan yang lebih tua.” Itu yang dipikirkannya? Secara teknis, aku lebih tua darinya. Baik secara mental maupun fisik, aku harus berada di posisi itu. Ekspresi Iris serius. “Artinya… Hannon—tidak, Vikamon sebenarnya adalah oppaku?” “Ya, begitulah.” Mendengar Iris memanggilku oppa, rasa aneh muncul. Inikah sebabnya pria suka dipanggil begitu? Jika masih ada rasa sayang tersisa, ini mungkin cukup berpengaruh. “Lalu… hubungan kita sekarang apa?” Hingga kini, aku berlaku sebagai Hannon. Karena itu, Iris selalu memperlakukan aku sebagai sepupu mudanya. Tapi sekarang identitasku terbongkar. Aku beruntung dia menerima ketulusanku. Jika tidak, aku pantas…

The World After the Bad Ending Chapter 179
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 179 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 179: Bangun dari Mimpi Di dalam kamar Iris, gelap gulita saat mimpi buruk menyebar. Iris menatapku dengan mata bulat lebar. Dia tak pernah menyangka aku akan bereaksi seperti ini di sini. Itulah sebabnya aku semakin mendesak. “Iris, kau sudah cukup dewasa untuk membuat pilihanmu sendiri. Iris yang kukenal bukanlah orang yang hanya menggantungkan diri pada ikatan keluarga buta.” Iris Hysirion. Karakter dengan pesona misterius dalam Flame Butterfly. Bayangan menutupi wajahnya, membuat pikirannya tak terbaca. Tapi dia selalu tampak lebih kuat daripada Lucas, tak tergoyahkan. Itulah kesanku tentangnya saat masih memainkan gim itu. Tapi sekarang, gim itu telah menjadi kenyataan. Dan aku telah menyaksikan sendiri apa yang dialami Iris. Jelas, dia dipaksa menduduki takhta kaisar oleh Duke Robliage. Dia tak pernah benar-benar menginginkannya, tapi terpaksa memikul beban itu. Meski begitu, sebagai Putri Ketiga, dia berusaha sepenuh hati menjalankan tugasnya. Dia berdiri di hadapan orang lain dengan kebanggaan dan martabat, meski di balik pintu tertutup, dia diteror mimpi buruk. Gambar itu terpatri dalam ingatanku. Dia bukan lagi sekadar bos akhir misterius bagiku— Dia adalah Iris Hysirion, manusia nyata. Iris merindukan kasih sayang keluarga. Tapi dia bukan orang yang akan terus bergantung padanya selamanya. Dia adalah seseorang yang bisa berdiri tegak sebagai putri, lebih bersinar daripada siapa pun. Itulah Iris Hysirion yang kukenal. “Seorang putri tak harus sempurna setiap saat—aku juga tahu itu.” Putri tetaplah manusia. Betapapun dunia memuji dan memuliakannya, dia pasti akan tersandung sesekali. “Tapi Iris yang kukenal tidak lemah.” Iris, di ambang diterkam mimpi buruk. Kutatap tetesan air mata yang menggenang di mata merahnya dan berkata. “Aku telah melakukan dosa tak termaafkan padamu. Aku berdiri di sisimu dengan nama palsu sepupumu, Hannon.” Kugenggam bahunya erat. Mempertahankannya sekuat tenaga, mencegahnya terjatuh ke dalam mimpi buruk. “Tapi izinkan aku bertanya, Iris—pernahkah aku berbicara padamu hanya dengan kebohongan?” Matanya yang tersesat dalam mimpi buruk bertemu dengan milikku. “Apakah semua yang kulakukan untukmu benar-benar tak berarti?” Aku ingin menyelamatkannya, sungguh. Aku tak ingin dia ditelan mimpi buruk, jadi kulakukan segalanya untuk menghentikannya. Mengapa dia membuka hatinya padaku? Aku selalu mendekatinya dengan ketulusan, meski dia waspada. Hania pernah memberitahuku— karena dia tahu perasaanku pada Iris tulus, dia tak akan menjadi yang pertama bicara. Hania, yang selalu mendukung dan melindungi Iris, berkata demikian. “Iris.” Kupanggil namanya sekali lagi, menatap lurus ke mata merahnya. Genggamanku di bahunya mengencang. “Keluarga bukan satu-satunya yang bisa memahamimu dan mendukungmu.” Ada orang yang terus…

The World After the Bad Ending Chapter 178
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 178 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 178: Tertangkap oleh Iris Setelah itu, aku mencari beberapa orang lagi. Di lantai 8, jika lebih dari lima orang bergerak bersama, kemungkinan menarik perhatian rasul meningkat. Jadi, hingga lantai 7, kami bisa melanjutkan dengan lebih dari lima anggota, tetapi setelah itu, kami harus membatasi diri tepat lima orang. Untuk itu, menyusun tim yang tepat sangat penting. ‘Peluang bertemu dengan akademi lain meningkat mulai lantai 5.’ Aku sudah menganalisis bagaimana mereka akan bergerak. Bagaimanapun, tokoh kunci dalam menembus Dungeon Iblis selalu kelompok kecil, tidak peduli akademi mana pun. Aku menghabiskan seharian penuh mengumpulkan anggota. Aku memberi tahu mereka bahwa jika tidak ingin pergi, mereka bebas menolak. “Senior, kau meremehkanku.” “Tentu saja, aku ikut!” Tanpa terkecuali, semua yang aku tanya menyatakan kesediaan mereka untuk memasuki Dungeon Iblis. Rasa tanggung jawab untuk melindungi dunia dari Dungeon Iblis. Itulah alasan utama para siswa mendaftar di Akademi Zerion. Tidak satu pun siswa Akademi Zerion menolak tawaranku. “Aku akan pergi.” Akhirnya, bahkan Eve, Sang Api Biru yang Tak Terkalahkan, setuju untuk bergabung. Situasinya mendesak—ada kemungkinan rasul akan bertindak. Jika ada cara untuk menghentikannya, kami harus melakukannya. Tekad itu terasa sangat jelas. Sangat khas Eve. “Terima kasih. Sekarang tidak perlu khawatir tentang barisan depan kita.” “Hannon Irey.” Saat aku mengucapkan terima kasih kepada Eve, dia memanggil namaku. Ketika aku menatapnya dengan bingung, dia melirik sekeliling sebelum berbicara lagi. “Aku ingin berbicara denganmu tentang Putri Ketiga.” Mendengar kata-katanya, aku segera berhenti berjalan. Untungnya, tidak ada orang lain di sekitar. Bahkan Isabel dan Sharin tidak ikut campur dalam proses perekrutan. Satu hal yang mengkhawatirkanku adalah mereka berdua berbagi kamar, tapi aku yakin mereka tidak akan bertengkar karena itu. “Ada apa?” “Terakhir kali aku membantu, ukuran mimpi buruk tiba-tiba membesar.” Aku sedikit mengerutkan kening. Eve dan aku telah secara konsisten mengelola mimpi buruk Iris. Berkat usaha kami, mimpi buruknya telah membaik secara signifikan. Namun, saat aku pergi, mimpi buruknya memburuk lagi. Aku sudah agak mengantisipasi ini. Celestial Grace pasti sudah mulai bertindak serius dengan Penguasa Iblis. Tapi dari reaksi Eve, mimpi buruk itu tumbuh lebih buruk dari yang kuduga. “Bahkan dengan Pedang Mimpi Putih, kau tidak bisa menekannya?” “……Pedang Mimpi Putih sudah pecah.” “Apa?” Wajahku kaku karena kaget. Aku tidak pernah menyangka Pedang Mimpi Putih akan hancur. “Aku memeriksanya ketika kembali ke asrama hari ini. Itu retak dan pecah.” Eve adalah orang yang menjaga Pedang Mimpi Putih. Pedang yang dimaksudkan untuk memurnikan mimpi…

The World After the Bad Ending Chapter 177
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 177 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 177: Pertengkaran Kucing Untuk saat ini, aku kesampingkan masalah Midra. Seorang lelaki yang sifat aslinya mustahil untuk dipahami. Dan seseorang yang terasa terlalu memberatkan untuk ditelusuri lebih dalam saat ini. ‘Aku tidak punya pilihan selain mengamatinya perlahan.’ Karena dia menguasai sihir langit, aku harus lebih berhati-hati. Jadi, untuk sekarang, aku memutuskan untuk menunggu dan mengamati. Bahkan hanya menjalani skenario saja sudah cukup menyulitkan. Dungeon Iblis Musim Dingin telah dimulai dalam kekacauan. Untuk menjelajahi tempat ini dengan benar, aku perlu membentuk tim terlebih dahulu. Profesor Vega mempercayakanku untuk membentuk tim. Dia telah mengakui kemampuanku sejauh ini dan menyerahkannya padaku. Aku harus menjalankan tugasku dengan baik. Dengan pemikiran itu, orang pertama yang aku ajak adalah Sharin. “Sharin, kita butuh tim eksplorasi untuk Dungeon Iblis. Bagaimana menurutmu? Mau ikut?” “Apa kamu bisa menanyakan hal semacam itu dengan santai seperti itu?” Lebih mudah mendekati seseorang dalam suasana santai daripada suasana yang tegang. Sharin mendengarkan pertanyaanku dan menatapku dengan tajam. “Suamiku.” Lalu, tanpa ragu, dia mengangkat tangannya dan mulai menekan pipiku dari kedua sisi. “Apa kamu tidak ingat bahwa kamu hampir mati di Dungeon Iblis baru-baru ini?” Dia benar. Meski aku selamat, saat itu aku benar-benar berada di ambang kematian. “Dan sekarang kamu ingin pergi ke sana lagi? Kamu sudah berjanji padaku, ingat?” Janji yang kuberikan pada Sharin—untuk tidak kembali terluka lagi. Saat dia mengingatkanku akan hal itu, wajahku menjadi canggung. “Itu sebabnya aku ingin pergi bersamamu.” “Bagaimana jika terjadi sesuatu lagi?” “Aku pikir penyihir jenius sepertimu pasti sudah punya solusinya.” Sharin membusungkan dadanya, sedikit bangga. “Tentu saja!” Aku tidak menyangka dia benar-benar sudah mempersiapkan sesuatu. Itu sangat khas Sharin. Tapi meski begitu, wajahnya masih tetap cemberut. “Suamiku, kamu memang selalu punya kecenderungan seperti itu, tapi akhir-akhir ini kamu semakin sembrono.” Sharin menggenggam erat bahuku. Dia semakin sering menunjukkan kasih sayang fisik seiring berjalannya waktu. “Itu karena benda itu.” Dia sedang membicarakan Perban Kerudung yang selama ini kupakai. Sharin sudah lama mengetahui identitas asliku. Jadi, dia juga menyadari bahwa masalah yang terjadi padaku berasal dari Perban Kerudung itu. Kalau dipikir, aku belum memberitahunya tentang efek samping Perban Kerudung. Aku ragu sejenak. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Tapi Sharin sudah membantuku berkali-kali sebelumnya. Aku tidak bisa terus menyembunyikan hal-hal darinya. “Sharin.” Aku memberitahunya tentang hukuman dari Perban Kerudung. Awalnya, dia mendengarkan dengan tenang dengan ekspresi mengantuknya yang biasa. Tapi tak lama kemudian, wajahnya mulai berubah. Di akhir, dia semakin…

The World After the Bad Ending Chapter 176
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 176 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 176: Pribadi Penuh Tanda Tanya Aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan Adipati Whitewood mengenai pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan meninggalkan ruang fakultas. Karena kelas sudah berakhir, kulihat para siswa beraktivitas selepas sekolah. Sekilas terlihat seperti dunia yang damai, namun di balik permukaan, gelombang besar mulai bergerak. Tanpa kusadari, musim gugur telah berlalu dan musim dingin tiba. Dedaunan yang berguguran telah hilang, menyisakan hanya ranting-ranting yang gundul. ‘Apakah ini musim dingin kedua sejak aku datang ke sini?’ Aku teringat keputusasaan yang kurasakan saat pertama kali merasuki tubuh ini. Kini, bahkan keputusasaan itu terasa seperti kenangan yang jauh. ‘Sudah setahun sejak aku merasuki tubuh ini.’ Saat aku berjalan dengan pikiran-pikiran ini— Tap— Suara langkah kaki mendekat dari kejauhan. Ketika kuangkat kepala, kulihat wajah yang familiar. Bahkan, itu adalah nama yang baru saja kudengar dari Aisha beberapa saat lalu. “Oh, senior!” Orang itu melihatku dan tersenyum cerah. Melihat itu, dengan sendirinya aku membalas senyumannya. “Midra.” Midra Fenin. Siswa tahun pertama peringkat kedua. Sosok penuh misteri. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya secepat ini. Rencananya aku ingin menanyakan tentang dia kepada Card, tetapi keadaan berubah tak terduga. “Kudengar kau menemui Adipati Whitewood, tapi rupanya kau kembali lebih cepat dari perkiraanku?” Midra menyeringai sambil berbicara dengan nada santainya yang biasa. Aku hanya menatapnya. Aku tak tahu apa-apa tentang Midra. Dia bukan karakter yang memainkan peran penting dalam skenario. Arc “Kupu-kupu Api” berfokus pada Lucas dan orang-orang di sekitarnya. Alhasil, tak banyak informasi tentang siswa tahun pertama. Itulah mengapa Midra adalah karakter yang tak dikenal. Menghadapinya, aku memutuskan untuk berbicara. “Midra, kudengar namamu tidak tercatat di keluarga Baron Fenin.” Lebih baik langsung ke inti masalah daripada berbelit-belit. Begitu aku menyampaikan apa yang diceritakan Aisha, Midra terdiam sejenak. Lalu, dengan wajah kesulitan, dia menggaruk kepalanya. “Ah, haha, jadi kau sudah dengar? Sejujurnya, aku bukan benar-benar dari keluarga Baron Fenin. Ada beberapa keadaan rumit, tapi agak sulit dijelaskan.” Midra menjawab lebih santai dari yang kuduga. Aku tiba-tiba merasa seperti mengorek urusan keluarganya. “Aku malu menyembunyikan identitasku, tapi aku sangat ingin masuk Akademi Zerion.” “Ada alasan khusus mengapa kau begitu ingin masuk?” Pada pertanyaanku berikutnya, Midra tersenyum. Cahaya matahari terbenam merembes melalui jendela. Dalam cahaya keemasan itu, Midra hanya tersenyum. “Ya, ada seseorang yang sangat ingin kuperhatikan.” Apa maksudnya? Aku tak bisa memahami makna di balik kata-katanya, tapi Midra jelas menatapku langsung. “Aku akan berterima kasih jika kau bisa merahasiakan ini. Tentunya, senior juga…

The World After the Bad Ending Chapter 175
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 175 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 175: Konsultasi Pribadi yang Menyenangkan Setelah kelas berakhir, aku berjalan hati-hati menyusuri lorong, mengikuti Vega. Vega tetap diam sepanjang waktu. Para siswa berbisik penuh semangat saat menyaksikan kami berdua lewat. Belum lama ini, aku telah mengaku cinta pada Vega dua kali. Tidak ada gosip yang lebih panas atau menghibur dari itu. Mengapa Vega memanggilku? Jika dia menyuruhku disiplin lagi, aku tidak punya pembelaan. ‘Aku tidak akan dikeluarkan dari akademi, kan?’ Jika itu terjadi, aku harus bersujud dan memohon ampun. “Masuklah.” Vega melangkah ke dalam kantor fakultas. Dia mengusap rambutnya sebelum duduk di kursinya. “Kau pasti tahu mengapa aku memanggilmu ke sini.” Aku segera menunduk. “Aku minta maaf karena mengaku dua kali padamu!” Aku tidak sengaja menyerang Vega dengan pengakuanku. Tidak ada respons darinya. Dengan hati-hati, aku mengangkat kepala, hanya untuk menemukan Vega menatapku tak percaya. Matanya jelas berkata, Omong kosong apa yang kau ucapkan? Bukan itu? “Bukan itu alasannya kau memanggilku?” “Hah, sungguh menyebalkan, Hannon.” Vega menghela napas panjang dan mengeluarkan bir dari laci mejanya. Kenapa dia menyimpan bir di sana? Dia membuka tutupnya dan berbicara padaku. “Menurutmu berapa kali aku dikonfesi sejak menjadi profesor di Akademi Zerion?” Aku berkedip. “Kau pernah dikonfesi sebelumnya?” “Dan itu datang dari orang yang mengaku padaku?” Dunia ini penuh dengan selera yang unik. Ya, mempertimbangkan kepribadian Vega, perilakunya mungkin dipertanyakan, tapi penampilannya sangat mencolok. Tidak mengherankan jika ada yang terpikat pesonanya. ‘Lebih dari itu, dia pada dasarnya orang baik.’ Di antara semua profesor, Vega yang paling mengutamakan muridnya. Itu sangat layak dihormati. “Belakangan ini tidak ada, tapi setiap tahun selalu ada orang sepertimu. Aku bahkan tidak terkejut lagi.” Belakangan ini tidak terjadi. Entah mengapa, pernyataan itu membuatku sedih. Yah, mungkin Vega semakin tua—murid tidak mudah jatuh cinta padanya lagi. “Ekspresi apa itu?” Alis Vega berkedut. Aku memberinya senyum cerah. “Aku lega kau tidak menganggap serius pengakuanku!” Ucapanku yang riang membuat Vega terdiam. “Yang lebih mengejutkanku adalah ini—aku beranggapan kau tidak tertarik pada wanita sama sekali, tapi kau mengaku padaku.” “Aku pasti sempat kehilangan akal.” “Kau memang terlihat seperti orang gila.” Aku mendapat persetujuan Vega sebagai orang gila. Diam-diam dia mengamatiku yang tak tahu malu sebelum memutuskan tidak membahasnya lebih jauh. “Kau pasti punya alasan, jadi aku tidak akan bertanya.” Aku berterima kasih untuk itu. “Hannon, alasan aku memanggilmu adalah karena jejak yang kau temukan di lantai sembilan Dungeon Musim Gugur.” Jejak di dekat pintu dungeon— Aku pernah…

The World After the Bad Ending Chapter 174
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 174 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 174: Pertemuan Pribadi dengan Sang Profesor Aku mengaku cinta pada Profesor Vega. Lebih tepatnya, Hannon yang asli yang mengaku pada Profesor Vega. Bagaimana bisa situasi ini terjadi? Wajahku dipenuhi emosi yang rumit. Sejujurnya, aku tidak sepenuhnya tidak menyadari preferensi Hannon. Hannon menyukai wanita yang lebih tua. Sejak awal, Hannon dirancang sebagai karakter yang cocok dengan dinamika “kakak-adik”, subgenre populer dalam subkultur. Di Akademi Zerion, jika ada satu wanita cantik yang lebih tua dan mencolok, itu pasti Profesor Vega. Itulah mengapa, selama arc Kupu-Kupu Api, Hannon dan Profesor Vega sering dipasangkan. Bahkan di luar game, para pemain aktif menjodohkan mereka berdua. Tapi bukan berarti ada hubungan resmi di antara mereka— Setidaknya, sampai sekarang. ‘Aku hanya pergi beberapa minggu…’ Apa yang terjadi dalam waktu singkat itu sampai membuat Hannon mengaku? Sekarang, aku mengerti mengapa semua orang bereaksi seperti itu hari ini. Mulai dari mantan pacarku, Hania, tunanganku, Sharin, bahkan Seron yang naksir padaku— Aku selalu terlibat dengan banyak wanita. Dan sekarang, rumor menyebar bahwa aku mengaku pada Profesor Vega. Tentu saja, yang lain akan memandangku seperti orang gila dan berusaha menghindariku. “Padahal aku sudah berusaha memperbaiki citra belakangan ini…” Citra itu hancur berantakan. “…Yah, aku tidak terlalu peduli dengan citramu.” Isabel, yang berada di sampingku, berkomentar santai. “Bahkan mungkin lebih baik jika citramu semakin buruk.” Dia tersenyum, tapi senyumnya terlihat agak menyeramkan. Kenapa dia terlihat seperti akan beralih ke sisi gelap? Sejak mengaku, sifat iseng Isabel semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menerimanya begitu saja. Lagipula, aku hanya kembali ke reputasiku yang dulu sebagai playboy. Bukan hal baru. Menjadi playboy sudah biasa bagiku. “Ah! Pangeran Ubi Manis!” Tiba-tiba, suara yang familiar terdengar. Ketika aku menoleh, seseorang berlari ke arahku dengan kaki pendek. Kilatan rambut merah— Lalu, tiba-tiba, ada benturan keras di perutku. Melihat ke bawah, Seron berdiri di sana. Dia masih sama bersinarnya seperti biasa. “Harusnya kau beri tahu aku saat tiba!” “Aku di sini.” “Kau terlambat!” Bahkan setelah kuberi tahu, dia masih ribut. Seron masih sama energiknya. “Kau kembali.” Eve juga mendekat, berdiri di samping Seron. Sepertinya Seron merawat Eve dengan baik saat aku pergi. “Jadi, semuanya berjalan lancar?” Seron mendongak dan bertanya. Apa dia mencoba membutakanku dengan sinarnya? Kilauannya semakin kuat. Tapi, aku menghargai perhatiannya. “Sempurna.” “Bagus.” Seron berjinjit dan menepuk kepalaku. Entah kenapa, rasanya menenangkan. Apa dia belajar saat aku pergi? “Ngomong-ngomong, Seron, peringkat berapa aku di pertarungan simulasi kali ini?”…

The World After the Bad Ending Chapter 173
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 173 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 173: Kembali ke Akademi Aku berhasil menyelesaikan percakapan dengan Pangeran Pertama. Sepanjang diskusi, wajahnya tetap tegang. Seorang adipati kekaisaran yang bersekongkol dengan Penguasa Iblis—betapa beratnya situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Belum lagi, Celestial Grace adalah sosok yang memiliki kekuatan cukup besar untuk menargetkan kaisar sendiri. Dampak dari pengungkapan ini tidak bisa diprediksi. Sejujurnya, jika Pangeran Pertama hanya mempertimbangkan tahta kekaisaran, kejadian ini sebenarnya tidak sepenuhnya merugikan baginya. Bagaimanapun, ini memberinya kesempatan langka untuk menyingkirkan Celestial Grace yang ditakuti. ‘Tapi…’ Celestial Grace cukup kuat untuk mengatur perjodohan bagi kaisar. Salah satu pilar utama yang menentukan nasib kekaisaran. Bahkan jika ketahuan terlibat dengan Penguasa Iblis, memutuskan hubungan dengan sepenuhnya tidak akan mudah. Jika Celestial Grace jatuh, kekaisaran sendiri akan menanggung akibatnya. ‘Itulah mengapa Babak Keenam ada.’ Babak Keenam. Pemberontakan yang akan dilakukan Adipati Robliage dalam keputusasaan saat terpojok. Itulah peristiwa besar berikutnya dalam skenario ini. Bagi Pangeran Pertama, hal ini juga sangat memberatkan. Jika pemberontakan pecah, kekaisaran akan terguncang hingga ke dasarnya. Tidak ada negara yang bisa menjadi yang terkuat selamanya. Jika stabilitas internalnya melemah, kekuatan keseluruhannya pasti akan goyah. Jadi, kunci dari situasi ini adalah bagaimana mengatasinya dengan baik. ‘Ya ampun, linimasa sudah berubah begitu jauh sehingga aku tidak bisa lagi memprediksi ke mana ini akan berujung.’ Bahkan aku sendiri merasa was-was tentang masa depan, tidak yakin ke mana peristiwa yang dipercepat ini akan mengarah. Bagaimanapun, Pangeran Pertama sekarang ditakdirkan untuk begadang merencanakan strategi. Itulah jalan yang harus dilaluinya untuk menjadi kaisar. Aku hanya bisa berharap dia berhasil. 「Aku berjanji soal Iris.」 Untungnya, sebagai kompensasi atas informasi yang kusampaikan, Iris akan diurus dengan baik. Dengan Celestial Grace yang telah membuat kesepakatan dengan Penguasa Iblis, tidak mungkin dia diizinkan menjadi kaisar. Ini juga berarti, begitu kebenaran terungkap, Iris akan didiskualifikasi dari tahta. Dadu sudah dilempar. Tapi, menggambarkan Iris sebagai korban masih bisa dilakukan. Tentu saja, ini membutuhkan kerja sama dan persetujuannya. Bagian itu ada di tangannya. Aku hanya bisa berharap dia membuat pilihan yang tepat. ‘Akhirnya, waktunya kembali ke Akademi Zerion.’ Skenario yang dipercepat telah membuatku jauh dari akademi terlalu lama. Sekarang, urusan akademi pasti sudah jauh berkembang. Tidak diragukan lagi, Dungeon Iblis Musim Dingin yang akan datang sudah dijadwalkan. ‘Aku penasaran bagaimana kabar yang lain.’ Aku hanya bisa berharap Hannon asli telah menangani segalanya dengan baik selama ketidakhadiranku. Mempercayai itu, aku naik kereta yang menuju Akademi Zerion. Tentu saja, ini bukan kereta…

The World After the Bad Ending Chapter 172
 Bahasa Indonesia
The World After the Bad Ending Chapter 172 Bahasa Indonesia
Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

Warning: Attempt to read property "name" on null in /home/litenovel.id/public_html/wp-content/themes/ZNovel/template-parts/content-series.php on line 23

[Penerjemah – Night] [Penyunting – Gun] Bab 172: Rahmat Surgawi Gerdio Robliage. Lelaki yang berkelana di istana kekaisaran seolah itu rumahnya sendiri. Kemunculannya yang tiba-tiba membuatku dan Master Menara Biru membeku di tempat. Tidak satu pun dari kami yang menyangka akan bertemu dengan Adipati Robliage pada saat ini. Sang adipati menyungging senyum ramah, seolah mendorong kami untuk menyapanya. Mataku beralih ke Master Menara Biru. Baru saat itulah dia tersadar. “Yang Mulia, Rahmat Surgawi. Sudah lama tidak bertemu.” Rahmat Surgawi. Anugerah yang diturunkan dari langit. Saat Master Menara Biru memberinya salam hormat, Rahmat Surgawi tersenyum. “Tak perlu formalitas di antara kita.” “Tidak, formalitas tetap diperlukan.” “Haha, kau dan aku pernah minum bersama bahkan merangkul bahu satu sama lain. Mengapa ribut sekarang?” Rahmat Surgawi tertawa lebar. Bagi yang melihat, dia terlihat seperti pria ceria dan baik hati. Sebenarnya, Rahmat Surgawi memang telah banyak berjasa bagi kekaisaran. Dari mempelopori pembangunan jalan kereta baru yang menghidupkan pasar, Hingga berusaha keras meningkatkan kehidupan warga biasa. Karenanya, dia dijuluki Rahmat Surgawi. Lelaki yang mengangkat taraf hidup kekaisaran ke puncaknya. Jika rakyat diminta menyebut nama bangsawan paling dihormati, Dia pasti berada di urutan teratas. Tapi justru karena inilah dia akhirnya mengincar takhta kaisar. Dia yakin di bawah kepemimpinannya, kekaisaran akan semakin makmur. Namun, aku tahu sifat aslinya. ‘Tidak ada yang menyangkal kemampuannya.’ Tapi di luar kemampuannya yang luar biasa, Dia sama sekali tak memiliki moral. Jika tujuannya bisa tercapai, dia takkan ragu melakukan apa pun. Bahkan nyawa manusia hanyalah pion baginya. Dia tak merasa bersalah membuat perjanjian dengan Raja Iblis. Baginya, itu hanya kebutuhan. Begitulah logikanya. Kekaisaran hanyalah alat— Dunia yang bisa dia bentuk sesukanya. Itulah satu-satunya keinginannya. Seseorang yang seharusnya tidak pernah diberi kekuasaan. Karena keahliannya yang luar biasa justru membuatnya semakin berbahaya jika tak terkendali. Itulah Rahmat Surgawi. Mungkin itulah mengapa senyumnya sekarang membuatku gelisah. Aku juga telah berlatih keras mengendalikan otot wajahku, Berulang kali melatih diri untuk melawan mati rasa akibat kelumpuhan wajah. Karena itu, aku bisa mendeteksi apa yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang. Senyum ceria Rahmat Surgawi saat ini sepenuhnya palsu. Dilatih begitu sempurna hingga orang biasa tidak akan menyadarinya. Lalu, tatapannya beralih ke arahku. Kelopak matanya menurun sedikit, Alisnya melengkung lembut, Dan sudut bibirnya melengkung sempurna seperti bulan sabit. Imitasi sempurna dari senyum penuh kebaikan. “Hannon Irey, sudah lama tidak bertemu.” Dia bahkan menyebut namaku dengan santai seperti orang yang selalu mengingatnya. ‘Dari awal…’ Dia sudah tahu aku akan berada di…