The World After the Bad Ending Chapter 179 Bahasa Indonesia
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Bab 179: Bangun dari Mimpi
Di dalam kamar Iris, gelap gulita saat mimpi buruk menyebar.
Iris menatapku dengan mata bulat lebar.
Dia tak pernah menyangka aku akan bereaksi seperti ini di sini.
Itulah sebabnya aku semakin mendesak.
“Iris, kau sudah cukup dewasa untuk membuat pilihanmu sendiri. Iris yang kukenal bukanlah orang yang hanya menggantungkan diri pada ikatan keluarga buta.”
Iris Hysirion.
Karakter dengan pesona misterius dalam Flame Butterfly.
Bayangan menutupi wajahnya, membuat pikirannya tak terbaca.
Tapi dia selalu tampak lebih kuat daripada Lucas, tak tergoyahkan.
Itulah kesanku tentangnya saat masih memainkan gim itu.
Tapi sekarang, gim itu telah menjadi kenyataan.
Dan aku telah menyaksikan sendiri apa yang dialami Iris.
Jelas, dia dipaksa menduduki takhta kaisar oleh Duke Robliage.
Dia tak pernah benar-benar menginginkannya, tapi terpaksa memikul beban itu.
Meski begitu, sebagai Putri Ketiga, dia berusaha sepenuh hati menjalankan tugasnya.
Dia berdiri di hadapan orang lain dengan kebanggaan dan martabat,
meski di balik pintu tertutup, dia diteror mimpi buruk.
Gambar itu terpatri dalam ingatanku.
Dia bukan lagi sekadar bos akhir misterius bagiku—
Dia adalah Iris Hysirion, manusia nyata.
Iris merindukan kasih sayang keluarga.
Tapi dia bukan orang yang akan terus bergantung padanya selamanya.
Dia adalah seseorang yang bisa berdiri tegak sebagai putri, lebih bersinar daripada siapa pun.
Itulah Iris Hysirion yang kukenal.
“Seorang putri tak harus sempurna setiap saat—aku juga tahu itu.”
Putri tetaplah manusia.
Betapapun dunia memuji dan memuliakannya,
dia pasti akan tersandung sesekali.
“Tapi Iris yang kukenal tidak lemah.”
Iris, di ambang diterkam mimpi buruk.
Kutatap tetesan air mata yang menggenang di mata merahnya dan berkata.
“Aku telah melakukan dosa tak termaafkan padamu. Aku berdiri di sisimu dengan nama palsu sepupumu, Hannon.”
Kugenggam bahunya erat.
Mempertahankannya sekuat tenaga, mencegahnya terjatuh ke dalam mimpi buruk.
“Tapi izinkan aku bertanya, Iris—pernahkah aku berbicara padamu hanya dengan kebohongan?”
Matanya yang tersesat dalam mimpi buruk bertemu dengan milikku.
“Apakah semua yang kulakukan untukmu benar-benar tak berarti?”
Aku ingin menyelamatkannya, sungguh.
Aku tak ingin dia ditelan mimpi buruk,
jadi kulakukan segalanya untuk menghentikannya.
Mengapa dia membuka hatinya padaku?
Aku selalu mendekatinya dengan ketulusan, meski dia waspada.
Hania pernah memberitahuku—
karena dia tahu perasaanku pada Iris tulus,
dia tak akan menjadi yang pertama bicara.
Hania, yang selalu mendukung dan melindungi Iris, berkata demikian.
“Iris.”
Kupanggil namanya sekali lagi,
menatap lurus ke mata merahnya.
Genggamanku di bahunya mengencang.
“Keluarga bukan satu-satunya yang bisa memahamimu dan mendukungmu.”
Ada orang yang terus berada di sisi Iris selama ini.
Di antaranya aku dan Hania.
“Apakah pendapat orang lain lebih penting? Apakah konsep kaku ‘keluarga’ adalah segalanya di dunia ini?”
Aku menghadapinya.
Dia begitu haus kasih keluarga sampai tak melihat sekitarnya.
“Apakah semua yang kau lihat dan rasakan hanyalah kebohongan?”
Iris selalu memperlakukanku dengan tulus.
Apa yang kulakukan untuk membantunya tak pernah sia-sia.
Aku telah membebaskannya dari mimpi buruk,
membuatnya tidur nyenyak,
dan dia merasakannya lebih dari siapa pun.
“Saat ini, di matamu, aku adalah Hannon Irey—orang yang kau kenal.”
Kutuangkan hatiku dalam kata-kata.
Memanggil Iris, mati-matian menariknya keluar dari mimpi buruk.
“Apakah kau benar-benar percaya aku hanya terdiri dari kebohongan?”
Tangannya yang mencengkeram kerahku gemetar.
“…Tidak.”
Untuk pertama kalinya, dia menyangkal.
“Hannon yang kukenal tulus.”
Air mata mengalir di mata merahnya.
“Kau benar-benar ingin menyelamatkanku dari mimpi buruk.”
Ketulusan menyentuh orang.
Dan ketulusanku selalu menyentuh Iris.
Itulah sebabnya—sekarang—dia mengakui usahaku nyata.
Boom—
Pada saat itu, seluruh asrama putri bergetar.
Mimpi buruk Iris mulai menyebar, memengaruhi gedung.
Iris, sadar kembali, membeku.
Jika mimpi buruk menguasai asrama,
murid-murid di dalamnya akan dalam bahaya.
Dia menyadarinya.
Lebih dari itu—dia sendiri dalam bahaya.
Jika dia benar-benar ditelan mimpi buruk,
dia tak akan pernah kembali.
Boom!
Seperti dugaan, kegelapan merekah dari dadanya.
Dia sedang ditelan.
Iris secara naluriah mencoba mendorongku pergi.
Dia tahu jika aku tetap, aku juga akan terjebak.
Tapi malah kuulurkan tangan dan menariknya ke pelukanku.
Selama ini aku yang selalu dipeluknya—
tapi sekarang, akulah yang memeluknya.
“Tunggu—!”
“Iris, dunia tidak hanya diikat oleh keluarga.”
Dia berusaha mendorongku dalam kepanikan.
Tapi kupertautkan erat-erat.
Mimpi buruknya mulai menyebar ke tubuhku juga.
Dingin yang membekukan meresap ke dalam tubuhku,
berusaha melahap kami berdua.
“Tapi aku di sini. Hania di sini. Teman-teman akademimu juga di sini.”
Aku menolak untuk membiarkannya.
Setelah semua ujian yang kulewati—
aku takkan membiarkan mereka diambil.
Tanda Naga Api di kulitku mulai memanas.
Sisa-sisa Naga Kuning menyala, menyatu dengan api.
Mata reptil emas berkilau.
Sisik api muncul di wajahku saat bentukku mulai berubah.
Api mengaum, berkobar dahsyat.
Tapi mimpi buruk tetap bergerak tanpa ampun.
“Tidak! Hentikan—pergi dariku!”
Iris berteriak kesakitan.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
Tapi jika berniat lari,
aku tak akan memeluknya sejak awal.
“Aku terlambat memperkenalkan diri, Iris.”
Perban yang membungkus tubuhku terurai.
Menampilkan diriku yang sebenarnya.
Bentuk yang dulu kusembunyikan—
tapi sekarang ditunjukkan untuk membangun hubungan tulus dengannya.
“Namaku Vikamon Niflheim.”
Rambut putih menjuntai bebas.
Tubuhku, sekarang jauh lebih besar dari Iris,
memungkinkanku melindunginya lebih sempurna.
Mata Iris melebar kaget saat bertemu dengan milikku.
Wajar—dia tak menyangka melihatku di sini.
Di saat itu, api lain menyala dalam diriku.
Kali ini, api yang tak pernah kukenal sebelumnya.
Dulu, aku dikorupsi Ashflame di bawah pengaruh Penguasa Iblis.
Sekarang, ia membakar dahsyat, bukan untuk melahap, tapi untuk menghanguskan mimpi buruk.
Api Naga Api berubah menjadi abu.
Saar begitu, Ashflame menyembur, melelehkan mimpi buruk.
Tapi mimpi buruk tak menyerah begitu saja.
Ia melawan Ashflame, mati-matian berusaha memadamkannya.
Semakin dilawan, semakin ganas Ashflame berkobar.
Ini adalah api yang kuterima dari Vulcan.
Aku takkan membiarkan mimpi buruk buatan Penguasa Iblis menang.
Krak!
Di saat yang sama, Iris juga mulai menekan mimpi buruk.
Dia takkan membiarkannya melahap segalanya.
Mimpi buruk mengamuk.
Sudah sampai sejauh ini—bahkan sempat bersemi dalam diri Iris.
Tak mungkin menyerah dengan mudah.
“Bagaimana mungkin seseorang hidup hanya dengan bermimpi?”
Aku berbicara pada mimpi buruk dan menambah panas Ashflame.
Api mengamuk itu memperlihatkan taringnya dan mencengkram mimpi buruk.
“Bangun.”
Retak!
Pecahan menyebar di seluruh mimpi buruk.
Hancur!
Akhirnya, mimpi buruk hancur berkeping-keping.
Serpihannya yang berserakan, tertangkap cahaya Ashflame, terlihat nyaris indah bak mimpi.
Iris menyandarkan kepalanya di dadaku.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, matanya yang gelisah mulai terpejam.
Dia akhirnya merasakan kehangatan yang selalu menidurkannya.
“…Hannon.”
Dia menggumamkan nama yang sering diucapkannya.
“…Ini Hannon.”
Orang yang selalu dianggapnya sebagai sepupu—aku.
Kehangatanku menyentuhnya dengan cara paling tulus.
Tanpa kusadari, Iris tertidur.
Dan kali ini, bukan mimpi buruk yang menghantuinya—
Tapi tidur nyenyak yang damai.
Saat dia tidur, kenyataan kembali.
Serpihan mimpi buruk larut jadi debu dan menghilang.
Bang!
Tepat saat itu, pintu terbuka keras.
“Nyonya Iris!”
Berdiri di sana, terengah-engah panik, adalah Hania.
Wajahnya basah oleh keringat.
Dia pasti berjuang mati-matian membuka pintu.
Riuh terdengar di luar.
Asrama terguncang oleh mimpi buruk Iris beberapa saat lalu.
Sekarang, murid-murid dievakuasi di bawah arahan pelayan asrama.
Mata Hania bertemu dengan milikku.
Dia membeku, mengenaliku—versi diriku yang ini.
Lalu, pandangannya beralih ke Iris, yang tertidur lelap dalam pelukanku.
“…Hannon?”
Saat dia memanggil namaku, kuanggukkan kepala.
Ekspresi rumit melintas di wajahnya sebelum dia diam-diam menutup pintu.
Jika dibiarkan terbuka, orang luar akan melihatku.
“Apa yang terjadi?”
“Nyonya Iris mengetahui siapa diriku sebenarnya.”
Hania menelan ludah.
Dan di saat itu, dia menyadari mengapa Iris tampak gelisah akhir-akhir ini.
Dia mengira itu hanya mimpi buruk.
Tapi nyatanya, karena satu-satunya keluarganya menyimpan rahasia darinya.
Hania menghela napas panjang menatap wajah tidur Iris.
“Apa Nyonya Iris baik-baik saja sekarang?”
“Untuk sementara.”
Sayangnya, aku tak bisa bilang dia benar-benar aman.
Sekali mimpi buruk berakar, ia selalu menunggu kesempatan kembali.
Satu-satunya cara menghentikannya selamanya adalah menghilangkan sumbernya.
‘Duke Robliage.’
Aku harus menyingkirkannya.
Hania memandang wajah damai Iris sejenak.
Lalu, maju, menyelimutinya, dan duduk di sampingku.
“Aku harus minta maaf saat dia bangun.”
“Ya. Kau pikir dia akan memaafkanmu jika membungkuk dalam-dalam?”
“Aku tak tahu apa itu membungkuk dalam-dalam, tapi Nyonya Iris baik hati.”
Hania tersenyum lembut menatap Iris.
“Pasti dia akan memaafkan kita.”
Setidaknya, Iris dikelilingi orang-orang baik.
“Ngomong-ngomong, Hannon… itu penampilan aslimu?”
“Bagaimana rasanya melihat wajah asli mantan pacarmu?”
“Menyebalkan.”
Ah.
Beginilah sikap mantan.
Hania membiarkan rambut persiknya terjuntai di lutut sambil menyandarkan wajah.
Lalu, dia menyunggingkan senyum nakal.
“Tapi… lebih baik dari sebelumnya.”
Jadi, pada akhirnya, tetap wajah Vikamon.
“Mau balikan? Rasanya seperti pacaran dengan orang baru.”
“Pergi kau.”
Mantan yang tajam lidah memang.
Dan begitu, dengan kami berdua tertawa—
Iris tidur lebih nyenyak dari sebelumnya.
[Penerjemah – Night]
[Penyunting – Gun]
—–Sakuranovel.id—–
Absolute cinema