Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 6 Bab 6: Makoto Takatsuki Bersiap untuk Pertempuran Bahasa Indonesia
Bab 6: Makoto Takatsuki Bersiap untuk Pertempuran
“Huh, kita berhasil mengalahkannya.” Aku menghela napas lega.
Sciulli… iblis tingkat tinggi sekaligus ajudan Raja Mayat Hidup… Dia adalah lawan yang mengerikan. Aku sempat panik saat dia menyerang tiba-tiba. Meskipun dia tampak lebih lemah daripada saat ibu Lucy bertarung melawannya, jadi kami berhasil melewatinya entah bagaimana caranya. Ini sudah menjadi kejadian sehari-hari.
“Kita berhasil mengalahkannya, Putri,” kataku mengulanginya.
Berkat menggunakan Synchro dengan Furiae, aku juga berhasil memanggil Undyne. Aku harus berterima kasih padanya untuk itu.
Saat aku berbalik untuk melihat Furiae… dia mengeluarkan suara ciutan kecil, dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.
Hah? Eh? Kenapa? batinku.
“K-K-K-K… Ksatriaku!” gerenangnya terbata-bata. “Sihir apa itu tadi?! Kapan kamu mempelajari sesuatu yang begitu mengerikan? Dan kamu memberikan persembahan kepada Eir?! Sebenarnya dewi mana yang kamu ikuti?!”
“Ha?” Apa yang membuatnya menanyakan hal itu? Aku benar-benar dan sepenuhnya mengabdi pada Noah.
Ah, tapi pengorbanan itu adalah sesuatu yang diajarkan oleh Eir kepadaku. Mungkin dari situlah kesalahpahaman ini berasal…?
“Putri, itu—”
“K-Kamu sama saja seperti kelompok Highland itu—menipuku demi keuntungan! Sama seperti iblis itu! Sama sepertinya!”
“Aku tidak.” Sambil tersenyum masam, aku berjalan menghampirinya.
“Jauh-jauh!” bentaknya. “Keparat perawan! Kamu mengincar tubuhku!”
“Hei!”
Kenapa kamu bilang begitu?! Lagi pula, bagaimana kamu tahu?! Apa itu Lucy?! Sasa?! Yah, sebenarnya, bisa saja salah satu dari mereka… Hal semacam itu sepertinya memang akan sering dibahas dalam obrolan para gadis.
“Tenanglah, Putri. Cukup… tenanglah untuk sekarang,” bujukku sambil melambaikan tangan untuk menenangkannya.
Lambat laun, dia kembali normal, meskipun dia masih menatapku dalam-dalam dengan mata setengah terpejam. Dia mirip seperti kucing liar.
“Yah, terserahlah. Hmph! Kerja bagus, ksatriaku.”
Nah, begitu—kembali normal.
“Jadi,” lanjutnya. “Tentang sihir itu…”
“Ah, yah—”
Tepat saat aku mulai mencoba menjelaskan modifikasi belati oleh Eir, sebuah suara menyela. “Oh, pacar Lucy. Selingkuh darinya?”
Furiae dan aku berputar karena terkejut. Penyihir Merah… Apa dia baru saja berteleportasi?
“Aku merasakan sedikit miasma, tapi itu lenyap. Apa kamu tahu sesuatu?”
“Ah, begitulah, Sciulli sebenarnya masih hidup,” jawabku.
“Hrmm! Benarkah? Ke mana dia pergi?!”
“Kami membunuhnya.”
“Oh, kalian melakukannya…?” Dia mendadak tampak tertarik, bersenandung sambil mengamatiku. Rasanya aku bagaikan seekor tikus yang duduk di hadapan burung elang. Tiba-tiba, dia menyentuh pipiku. Tangannya terasa agak hangat.
“Anak yang aneh sekali kamu… Lucy tampaknya cukup tertarik, jadi aku semakin penasaran.” Ada suara di telingaku. Elemental… mungkin? “Bagaimana kalian bisa mengalahkan iblis peringkat tinggi?”
Matanya menyala merah, dan cahaya jingga menyebar di rambutnya.
Pada saat yang sama, aku bisa mencium bau alkohol. Apa dia sedang mabuk?
“Itu berkat Eir,” kataku kepadanya.
“Maukah kamu memperlihatkannya padaku?” tanya dengan antusias.
Dia ingin aku memperlihatkan… teknik pengorbanan itu?
“J-Jangan, Ksatria-ku!” Furiae panik, bergerak untuk menghentikan kami.
Meskipun begitu, tidak apa-apa—lagian aku tidak bisa melakukannya sekarang.
“Sayang sekali, butuh sedikit waktu lagi sebelum aku bisa melakukannya lagi. Lagipula aku baru saja menggunakannya.”
“Aww, sayang sekali,” ucap Rosalie dengan nada riang. Matanya kembali menjadi biru dan rambutnya kembali menjadi pirang saja. Lalu, dia mengalihkan pandangannya dariku ke arah Furiae. “Oh… kamu juga orang yang menarik. Bukankah begitu, pendeta wanita?”
Furiae menegang.
“Um! Rosalie, sang putri di sini adalah—”
“Jangan khawatir. Pendeta wanita bulan ada di pihak umat manusia kali ini, bukan di pihak iblis, kan?”
“T-Tentu saja aku berada di pihak mereka!” seru Furiae dengan tegas.
Rosalie tersenyum padanya sebelum terkikik. “Lucy-ku punya teman-teman yang sangat menarik. Teman lamianya itu juga memiliki kekuatan yang aneh.”
Ah… dia tahu segalanya. Dia mungkin memiliki Appraisal juga.
“Sialan juga, sih. Sciulli berhasil melarikan diri? Aku pasti sudah kehilangan keahlianku…” komentar Rosalie sambil meregangkan tubuh. “Oh! Siapa yang paling kamu sukai di urutan kedua? Lucy memimpin, kan?”
“Eh? Um… Yah…”
Percakapan ini sama sekali tidak menentu.
“Mungkin pendeta wanita cantik di sisimu itu? Bisa jadi lamia bernama Aya itu? Atau mungkin wanita berambut pirang yang sombong dalam balutan baju zirah atau gadis berambut biru yang kecil itu?”
Yang terakhir itu seorang anak laki-laki, Rosalie, batinku.
“Aku tidak pernah menyangka Lucy akan membawa pulang pacar. Aku mengalihkan pandangan darinya sedetik saja dan dia sudah tumbuh begitu dewasa. Cepat berikan aku cucu!”
Aku terdiam. Topik pembicaraan ini benar-benar melompat ke mana-mana.
Yups… dia benar-benar mabuk. Dia bertingkah persis seperti Mary di kampung halaman di guild Macallan.
“Yah, sampai jumpa,” katanya tiba-tiba, rupanya setelah selesai dengan urusannya. Dia mengangkat sebelah tangan ke udara. Pada saat yang sama, aku mulai mendengar suara desiran, dan lingkaran sihir menyebar di sekelilingnya.
Lalu—dia pun menghilang.
“Teleportasi tanpa mantra… bahkan saat sedang mabuk?”
“Dia lenyap…” gumam Furiae.
Penyihir Merah itu telah datang, menyampaikan maksudnya, lalu pergi.
“Kita kembali?” tanyaku pada Furiae.
“Benar… kita harus kembali.”
Kami berjalan menuju rumah kepala desa. Rosalie… tidak ada di sana. Aku menjelaskan perjumpaan kami dengan Sciulli kepada kepala desa dan Maximillian.
“Apa?!” seru kepala desa. “Dia masih hidup?!”
“Syukurlah Anda selamat, Tuan Makoto.”
Ekspresi keduanya tampak serius.
“Sihir Rosalie telah sedikit melemahkannya,” jelasku.
“Seharusnya aku ikut denganmu,” kata Lucy.
“Ya,” imbuh Sasa. “Tapi, kami senang kamu selamat.”
Keduanya memasang wajah khawatir. Aku merasa agak tidak enak.
“Meskipun begitu, jika sihir tingkat saint itu tidak mampu menghancurkan iblis tersebut sepenuhnya… maka kita sedang menghadapi pertempuran yang sulit,” catat Florna, Pendeta Wanita Kayu. Dia tampak gelisah saat membawakan beberapa cangkir teh.
“Apakah Freya mengatakan sesuatu?” tanyaku kepadanya.
“Hanya… menyuruh agar berhati-hati… Dia memang jarang memberikan petunjuk seperti itu.”
Hmm, begitu ya.
Aku menoleh ke arah Janet. “Bisakah kita mendapatkan bala bantuan dari Highland?” Jika dewi Freya tidak menawarkan bantuan, maka tetangga kitalah pilihan terbaik berikutnya.
“Aku sudah meminta bantuan, tapi… ada sesuatu yang mengganggu perjalanan mereka, jadi bala bantuan tertunda.” Suara Janet terdengar parau.
“Mengganggu perjalanan?” batinku. Memangnya ada orang yang berani menentang Highland?
“Itu adalah Sekte Ular,” ujar Furiae sambil menggigit buah yang mirip apel dengan santai.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Lucy.
“Sihir Takdir,” jawabnya. “Setidaknya aku punya gambaran.”
Itu sangat membantu.
“Fuu, kamu seharusnya memberi tahu Janet,” komentar Sasa.
“Yah… sepertinya itu tidak akan membuat banyak perbedaan. Sekte itu terus-menerus mencoba bekerja melawan negara.”
“Benar juga…” akuku. Mereka benar-benar sangat menyebalkan. “Kurasa kita harus mengandalkan ibu Lucy. Bagaimanapun juga, dialah petarung terkuat Springrogue.”
Namun, aku sama sekali tidak tahu ke mana dia pergi. Aku tidak melihatnya di mana pun.
“Mama… Yah, dia minum terlalu banyak dan pergi ke bulan.”
“Ke bulan? Bukan hanya memandangi bulan?”
“Ya, dia terus-menerus menggunakan Teleport untuk melakukannya,” jelas Lucy.
“W-Wah…” Semudah itu? Setidaknya bagi dia, sepertinya memang begitu.
“Aku harap dia baik-baik saja,” komentar salah satu saudari Lucy. “Terakhir kali dia bilang ‘pergi jalan-jalan’, dia menghilang selama setahun…”
Semua orang selain keluarga Rosalie menatap elf itu dengan terkejut.
“B-Yah, kemungkinan besar itu tidak akan terjadi kali ini. Bahkan dia seharusnya mengerti situasi yang sedang kita hadapi,” kata sang kepala desa sementara tetesan keringat mengalir di wajahnya.
Semua orang terdiam. Sungguh, ada apa dengan suasana ini? Khawatir tidak akan banyak membantu kami, jadi kami akhirnya membubarkan diri untuk tidur dan memulihkan stamina. Aku merebahkan diri di ranjang kamar tamu yang telah disediakan oleh kepala desa. Sang pangeran bernapas dengan pelan di ranjang sebelah, dan aku menatap ke arahnya.
Ya, dia memang terlihat seperti gadis yang cantik, pikirku. Tidak heran jika Rosalie salah paham.
“Nrow, nrow.”
“Oh, jadi di sini tempatmu pergi?”
Twi merangkak keluar dari kolong tempat tidur. Aku menatap ke langit-langit jerami saat aku merasakan bulu ekornya menyentuh pipiku. Sebuah lampu kecil menyala di sebuah tiang.
Besok, kami akan menuju ke Makam Raja Iblis, dan kami masih belum mengetahui susunan lengkap musuh yang menunggu kami.
Mari kita beristirahat… putusku sambil menutup mata.
◇
Aku bermimpi malam itu. Itu pasti karena ketidakpastian di dalam hatiku. Namun, situasinya berbeda dari biasanya.
“Noah…? Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.
Area tersebut terbentang tanpa batas, sebuah alam dewa yang tak bertepi. Di dalam ruang ini terdapat dewinya, “kecantikan” tertinggi di surga. Tapi… dia memasang ekspresi masam…
Dan sebuah cambuk di tangan nya.
Melayang di sisinya…
“U-Uhm… ada apa dengan pakaian itu…?”
Yah, yang melayang di sisinya adalah Eir. Terikat di udara… dalam ikatan tempurung kura-kura…
Eh? Apa-apaan?
“Halo, Mako☆” Eir tersenyum.
Dari mana aku harus mulai memikirkannya?!

“Umm… Noah… Eir…? Apa yang kalian berdua lakukan?”
Eir terikat tali dan berayun pelan di udara. Bibir Noah mengerucut kesal, dan dia memegang sebuah cambuk di tangannya.
Apa-apaan ini…?
“Noah jahat banget!”
“Jangan coba-coba mengelak denganku!” teriak Noah. “Dia menipu kita!”
Menipu kita?
Sambil berteriak, Noah mencambuk Eir. Cambukan itu sepertinya tidak terlalu menyakitinya.
“Aduh☆ Kekerasan itu perbuatan buruk, Noah.”
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Mana belati milikku,” kata Noah.
“Ini…” kataku sambil menyerahkannya seraya menghela napas.
“Aku tahu… Kamu menggunakannya untuk mengalahkan demon itu, kan? Aku pikir kamu menggunakan sihir pengorbanan… tapi belatinya terjebak dalam perangkap Eir.”
“Hah?”
Aku menatap Eir karena terkejut. Dia hanya menjulurkan lidahnya, tanpa rasa bersalah.
“Ketahuan deh,” cengirnya.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu! Dengar, Makoto—sihir pada belati ini mempersembahkan sesuatu kepada Eir. Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk menghancurkan demon itu, tapi Eir mengambil 99% dari jiwanya dan hanya satu persen terakhir itu yang masuk ke jatah umur hidupmu.”
“Biaya komisi 99%?” tanyaku. Itu… sangat mencekik.
“Dia sedang memperbudakmu!”
“Tapi dia tidak akan bisa mengalahkan demon undead kuno seperti itu dengan sihir biasa, kan?” sergah Eir. “Kurasa kamu bisa berterima kasih atas dukunganku untuk hal itu.”
“Meskipun begitu, 99% tetap saja pemerasan! Makoto adalah muridku! Cara yang kamu atur ini, rasanya lebih mirip dia sedang bekerja untukmu!”
Hal itu masuk akal—Eir telah memutuskan untuk memanfaatkanku. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa.
“Yah, tidak masalah, kan?” kataku.
Keduanya mengeluarkan suara kebingungan.
“Kamu tidak keberatan?” tanya Noah dengan tatapan kosong.
Aku memandang dewi air itu sebelum berbicara. “Bantuan Eir-lah yang menyelamatkan Furiae dan aku.”
Wajah bercandanya berubah menjadi senyuman licik. “Betapa berlapang dada, Mako.”
“Emm, aku menghargai pemandangan ini, tapi pakaian itu sungguh konyol.”
“Oh?”
Eir saat itu sedang terikat tali. Dia biasanya mengenakan gaun yang agak longgar dan menjuntai. Gaun itu sekarang ditarik kencang oleh tali, sehingga lekuk tubuhnya yang biasanya tersembunyi kini terlihat jelas. Dadanya yang bentuknya indah dan pinggangnya yang kencang, beserta pinggulnya yang lebar, semuanya terekspos.
Tidak ada satu pun cela pada bentuk tubuhnya. Itu memang Eir. Itu tentu saja pemandangan yang menyenangkan.
“Maaakoootooo?” Noah mendekat dengan mengancam.
“Meep! A-aku tidak melihat apa-apa!”
“Kamu melihatnya!”
Yah, dia memang berada tepat di hadapanku…
“Eir! Cepat turun dari sana!” perintah Noah.
“Kamulah yang mengikatku,” balasnya, melepaskan diri dari ikatan itu. Kemudian, dia menoleh kepadaku. “Kalau begitu, apakah kamu baik-baik saja membiarkan semuanya seperti ini?”
“Aku tidak keberatan. Meskipun itu hanya satu persen dari jiwa Sciulli, aku tetap mendapatkan lebih banyak jangka hidup, jadi aku akan terus melanjutkannya.” Cara itu memotong perantara, tapi aku yakin teknik tersebut akan berguna dalam pertempuran yang akan datang karena ia juga bisa memusnahkan undead. Satu-satunya hal adalah…
Para dewi semuanya pembohong, ya?
Aku menghela napas.
“Itu sangat kasar, Mako.”
“Tunggu! Aku belum menipumu!” Noah memohon.
“Kamu menyembunyikan fakta bahwa kamu adalah dewa jahat,” tegasku.
“Ugh.” Noah memalingkan muka.
“Lagi pula, Eir—aku yakin ada banyak orang kuat lainnya di luar sana. Apakah kamu benar-benar harus mengganggu satu-satunya murid yang dimiliki Noah?”
“Benar! Aku kan cuma punya satu murid! Apa yang akan kau lakukan kalau terjadi sesuatu padanya saat dia melawan raja iblis?!” tuntut Noah dengan marah.
Eir meletakkan jarinya di pipi sebelum menatapku penuh arti. “Tapi Mako adalah petarung terkuat Roses saat ini.”
Noah dan aku menatapnya dengan tatapan kosong.
“Dia… benarkah?”
“Itu cuma lelucon, kan?”
“Aku tidak berbohong. Bagaimanapun juga, Leonardo masih muda dan belum punya banyak pengalaman. Para ksatria semuanya berspesialisasi dalam pertahanan daripada penyerangan. Sebagian besar petarung kuat adalah petualang, jadi mereka tidak sepenuhnya menjadi petarung Roses.” Eir menghela napas dengan ekspresi kecewa.
“Eir… tingkatkan kekuatan negaramu,” kata Noah kepadanya.
“Apa cadangan kita benar-benar sangat sedikit…?” tanyaku. Kelemahan negara kami kembali ditekankan secara nyata.
“Aku kan dewi cinta dan kedamaian! Aku tidak suka para [[i]]berserker[[/i]] itu,” kata Eir sambil berpose imut.
Kita mau berperang, lho…
Rasanya dia tidak benar-benar menyadari hal itu.
“Makanya aku ingin kau terus melanjutkan ini, Mako☆!”
“Baiklah…”
Dia benar-benar menganggapnya remeh.
Apakah kamu akan menerima wahyu Eir?
▶ Ya
Tidak
Aku menatap lelah pada pilihan RPG Player yang melayang di hadapanku.
“Baiklah, Eir. Aku akan mencegah kebangkitan Raja Iblis dengan pahlawan dan pendeta wanita Springrogue.” Kita mungkin akan mendapatkan ibu Lucy juga. Kita pasti bisa melalui ini.
Noah menghela napas. “Kamu harus memikirkan baik-baik janji seperti ini.”
Ya… aku memang punya sesuatu yang perlu kukatakan.
“Eir. Sacrificial Magic: Offering itu luar biasa. Efeknya… dan visualnya juga.” Aku bisa mengingat para malaikat mungil yang melahap wanita iblis itu.
“Benar, kan?” dia terkikik. “Itu memberimu lebih banyak masa hidup, bukan?”
“Hmm, mari kita lihat,” komentar Noah. Dia sudah memegang Buku Jiwa milikku. Yah, terserah.
“Oh, lima belas tahun? Kamu mendapat tambahan sepuluh tahun lagi.”
“Benar juga. Aku hanya punya sisa lima tahun setelah sihir bunuh diri itu. Jadi itu berasal dari teknik yang diajarkan Eir kepadaku, ya? Tapi, bagaimana cara kerjanya…?” Aku mendapatkan tambahan sepuluh tahun hanya dengan menggunakannya sekali. Membangun masa hidupku sebelumnya… yah, butuh berbulan-bulan pertempuran hanya untuk mendapatkan nilai satu tahun.
Eir mendengus kecil dan melirikku sekilas. “Sacrificial Magic: Offering adalah keajaiban yang mempersembahkan jiwa korban kepada-ku. Orang yang melaksanakan pengorbanan itu mendapat komisi satu persen. Kali ini, itu menghasilkan masa hidup sepuluh tahun,” jelasnya dengan bangga.
“Hmph, sungguh tidak beradab,” komentar Noah sambil melipat kedua tangannya.
Oh, jadi jiwa Sciulli diubah menjadi masa hidup untukku… Pada dasarnya aku telah memakan jiwa musuhku. Itu cukup berdosa. Itu pada dasarnya seperti hal yang dilakukan oleh iblis, bukan?
“Eh-eh-eh, Mako. Jiwa iblis yang rusak itu dimurnikan dan menjadi fondasi bagi dunia baru. Itu adalah kasih sayang seorang dewa, penyelamatan. Paham?”
Aku menghela napas tertahan.
Eir benar-benar santai.
Tanpa kusadari, dia sudah berada sangat dekat dan melingkarkan kedua tangannya di leherku. “Tahu tidak, Mako? Sekarang kamu punya teknik untuk mendapatkan lebih banyak masa hidup—jika kamu berpindah keyakinan, kamu bahkan mungkin bisa mendapatkan Water Magic (Saint Rank).”
“E-Eir?”
“Bodoh!” bentak Noah, memukulkan cambuk ke kepalanya.
Eir terkikik. “Anima milikmu disegel, jadi itu tidak akan berhasil.”
“Grr! Menjauhlah darinya!” bentak Noah.
“Aku cuma main-main, cuma main-main,” kata Eir, sambil menjauh.
Itu sungguh mengejutkan.
“Begitu kekuatanku kembali, aku akan menendangmu sampai melewati cakrawala!”
“Oh, seramnya, seramnya,” goda Eir. “Kurasa hanya Althena yang bisa menang kalau kamu mendapatkan animamu kembali. Aku akan kabur saja. Jauh, jauh sekali.”
“Hih, dia juga bakal kalah!”
Suara Noah terdengar percaya diri. Namun, ada hal yang jauh lebih penting di situ.
“Noah, kamu salah satu dewi yang lebih kuat?” tanyaku.
Keduanya menghentikan pertengkaran mereka untuk menatapku.
“Yah, benar,” jawab Eir. “Lagipula, umur Noah jauh lebih tua.”
“Tetap saja, segel itu membuatku jadi yang paling lemah,” tambah Noah.
Jadi aslinya dia memang dewi yang kuat, pikirku. Aku tidak menyangka itu. Sebenarnya, dia mungkin juga tahu apa yang kuinginkan.
“Noah, bisakah kamu mengajariku skill Elemental Unity dan Elemental Summons?” Ini adalah jurus khusus ibu Lucy. Aku benar-benar ingin mempelajarinya. Aku telah melewatkan kesempatan untuk bertanya pada Rosalie, tetapi Noah adalah orang terbaik untuk ditanyai tentang elemental.
“Hmm? Kamu kan sudah menggunakan yang pertama,” kata Noah.
“Apa?” Itu jelas bukan jawaban yang kuduga.
“Kamu memasukkan para elemental ke dalam belati milikku dan membuat bilah mana sebelumnya, kan? Itu adalah Elemental Unity. Hanya saja Rosalie menggunakan tubuhnya sendiri untuk itu.”
“Ah, begitu ya.”
Kalau begitu, jika aku melakukan hal yang sama—
Eir menyela alur pikirku. “Statmu mungkin belum cukup tinggi.”
“Eir benar,” setuju Noah. “Kamu mungkin akan hancur jika mencoba menirunya.”
“A…h begitu…” Aku tadinya ingin mencobanya. Tetap saja, ketika dua dewi menyuruhmu untuk tidak melakukan sesuatu, lebih baik mendengarkan mereka.
“Kalau begitu, bagaimana dengan pemanggilan?” tanyaku. Bisa memanggil elemental di mana saja akan sangat membantu.
“Yah, dia mengucapkan ‘Pemanggilan Elemental’ dengan suara keras, tapi sebenarnya dia hanya menggunakan Teleportasi untuk menarik elemental ke hadapannya.”
“Teleportasi?” tanyaku. Itu skill tingkat tinggi. “Aku…tidak bisa melakukannya.” Jika aku bisa, aku tidak akan mengalami semua masalah ini sejak awal.
Jadi… itu juga jalan buntu. Sayang sekali. Aku langsung lemas.
“Hm?” Eir merangkulku dari depan, membisikkan sesuatu di telingaku sambil memelukku dari belakang. “Mako, kamu ingin skill yang kuat?”
P-Pikiran Tenang!
“Aku tidak akan berpindah keyakinan,” kataku kepadanya setelah beberapa saat.
“Aku siap dan menunggu,” jawabnya.
“Eir!” teriakan Noah. Dia melancarkan tendangan ala Kamen Rider ke arah Eir. Roknya tersingkap, memperlihatkan pahanya. Tapi… entah bagaimana… itu tidak memperlihatkan celana dalamnya? Itulah keajaibannya di sini.
“Oh, benar. Mako, aku harus memperingatkanmu tentang penggunaan sihir pengorbanan pada Raja Iblis.”
“Eir, kaki Noah masih menginjak kepalamu…” kataku menunjukkan hal itu. Pemandangan macam apa ini sebenarnya?
“Apakah pengorbanan itu akan mempan pada Bifrons?” tanya Noah. Dia berbicara dengan normal sambil tetap mempertahankan posisi menendang.
“Sebagian besar iya. Tapi kamu tidak bisa menggunakan Throw seperti yang kamu lakukan kali ini. Kamu harus menusuknya secara langsung lalu mengaktifkannya. Melawan Raja Iblis, cara lain tidak akan berhasil.”
“Tusukan langsung…” Jadi aku harus berada dalam jarak satu meter dari Raja Mayat Hidup. Itu permintaan yang cukup berat. “Kalau begitu, aku akan melakukan apa pun yang kubisa.”
Jika aku tidak sanggup mengatasinya, aku akan menyerahkan segalanya kepada Rosalie.
“Hati-hati, Makoto.”
“Semoga berhasil, Mako!”
Kedua dewi itu mengantarku pergi saat aku merasakan kesadaranku mulai memudar.
Melihat mereka seperti ini justru membuat mereka terlihat seperti teman baik…
Bangsa Titanea dan Dewa Suci seharusnya saling berseteru. Apakah para dewi itu berbeda? Saat pikiran-pikiran itu melintas di benakku, perlahan-lahan aku kehilangan kesadaran.
◇
Aku terbangun di sebuah kamar tamu di kediaman pemimpin Canaan. Aku bisa melihat langit-langit dalam cahaya yang temaram. Ada orang lain di dalam kamar itu.
“Mmm… Makoto… Itu menggelisahkan…” Pangeran Leonardo mengumam dalam tidurnya di sebelahku. Sebaiknya aku membiarkannya istirahat lebih lama.
Aku mencuci mukaku dengan sihir air dan mengenakan kemeja sebelum memanjatkan doa kepada Noah. Langit tampak cukup mendung. Aku sebenarnya lebih suka hujan, tapi setidaknya ini lebih baik daripada langit cerah. Ada cukup banyak elemental air di sekitar.
“Pagi, Lucy, Sasa,” kataku kepada keduanya yang sudah bangun lebih dulu. Mereka langsung berbalik menghadapku.
“Takatsuki! Gawat!”
“Argh! Kenapa Mama egois sekali?!”
Mereka berdua tampak panik. Sebenarnya, bukan hanya mereka berdua—semua orang di ruangan itu memasang ekspresi suram di wajah mereka.
“Ah, Pahlawan Mawar, kamu sudah bangun. Silakan lihat ini…” Kepala suku mengibaskan selembar kertas ke arahku.
Sebuah surat…?
Di atasnya, tertulis sebuah kalimat tunggal:
Aku akan pergi ke Makam Raja Iblis dan membereskan para iblis! —Rosalie
Aku… Ayolah, Rosalie.
Komentar