Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 2 Chapter 7_ Makoto Takatsuki Challenges a Boss Bahasa Indonesia
Bab 7: Makoto Takatsuki Menantang Boss
“Baiklah, ayo kita berangkat,” kataku.
“Apa kita benar-benar harus berangkat selarut ini?” gerutu Lucy dengan ekspresi mengantuk.
Saat itu pukul dua pagi, dan kami bersiap untuk berangkat demi menghadapi sang ratu harpy.
“Aku tadinya yakin kita bakal pergi pas siang hari,” tambah Nina.
“Itu terlalu naif, Nona Nina! Dunia ini adalah tempat yang kejam, jadi kita harus memanfaatkan kelemahan musuh kita tanpa ampun,” jelas Fujiyan. “Harpy adalah monster avian dan ketajaman penglihatan mereka menurun di malam hari.”
“Lagi pula, mereka menyerang kami para lamia saat kami sedang tidur. Balas adalah perbuatan yang adil!” seru Sasa dengan antusias.
“Para harpy akan tidur pada jam seperti ini,” kataku kepada Sasa, “jadi mari kita buat mereka tidur selamanya.”
“Makoto, sentimen itu sedikit menyeramkan,” ujar Lucy.
Aku melanjutkan pengarahan kami. “Lucy dan aku akan menyusup dari luar dungeon. Nina, Sasa, kalian tunggu di dekat danau. Kita akan mulai menyerang dua jam dari sekarang, jam empat pagi. Fujiyan, kau tunggu di sini untuk kabar baik dan jarahan dari sang ratu harpy.”
“Baiklah. Siapkan diri kalian dengan baik dan ingat barang-barang yang kalian butuhkan. Semoga berhasil, kawan-kawan!”
Kami semua mengangguk tegas sebelum berangkat.
“Hutan di sekitar sini jadi sangat gelap begitu matahari terbenam. Aku tidak menyukainya,” kata Lucy, mencengkeram lenganku erat-erat. Aku menggunakan Stealth saat kami berjalan melewati pepohonan dan semak belukar.
Suara geraman dan dengungan dari hewan serta serangga terdengar sangat jelas di dalam hutan yang gelap. Ini juga waktu malam ketika banyak monster yang aktif.
“Aku sudah bolak-balik melewati rute ini selama tiga hari,” kataku padanya, “jadi ini sudah seperti jalan-jalan santai saja bagiku.”
“Apa itu tidak melelahkan bagimu?” tanya Lucy dengan hati-hati.
“Nggak, ini sangat menyenangkan.”
“Ah… Begitu ya…” Dia menghela napas, menatapku dengan pandangan yang menyiratkan bahwa aku adalah orang gila.
“Ada apa dengan desahan itu?” Perjalanan menuju sarang adalah bagian dari persiapan untuk menghadapi boss. Kau tidak boleh menurunkan kewaspadaan, dan perjalanannya juga cukup menyenangkan. Antisipasi itu membuatku semakin bersemangat!
“Kabutnya begitu tebal sampai aku hampir tidak bisa melihat apa-apa. Aku tidak mengerti apa yang bisa kau nikmat—”
Aku memotong perkataannya. “Kabut ini adalah sesuatu yang kuminta dari para elemental. Ide yang cukup bagus, kan?”
“Apa? Semuanya?”
“Kurang lebih… Lagi pula, suara bicara-mu terlalu keras,” kataku sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Kami bergerak maju secara diam-diam, tetapi perjalanannya cukup panjang, jadi itu juga terasa sedikit membosankan.
Oh ya, aku belum sempat tanya Fujiyan tipe gadis seperti apa yang dia sukai. Kurasa aku harus mengajaknya minum begitu pertempuran ini selesai!
Hei, terdengar suara sang Dewi, jangan pasang bendera kematian (flag).
Yah, itu kasar sekali, Dewi. Aku kan bersikap hati-hati…
“Ngomong-ngomong, Makoto,” kata Lucy setelah beberapa saat, “kamu ingat kan waktu aku pergi bersama Aya hari itu?”
“Ya, apa kalian akur?”
Sebenarnya, aku penasaran apa yang mereka bicarakan.
“Kurang lebih begitu. Para Lamiae tampaknya biasa makan makanan yang cukup buruk, jadi dia sangat menyukai makanan di kafe dan semacamnya.”
“Benar juga, kurasa selama ini dia hanya makan ikan mentah dan buah-buahan.” Saat aku tahu seperti apa pola makannya di dalam dungeon, aku merasa sangat simPATI.
“Dia sempat bilang ingin sesuatu yang manis, tapi tidak ada toko di kota yang benar-benar menyajikan makanan seperti itu.”
“Oh, ya. Tapi Fujiyan berjanji akan mendapatkan cokelat,” kataku. “Apa lagi yang kalian bicarakan?”
Dia tidak langsung menjawab.
Eh? Apa kalian berdua hanya mengobrol tentang makanan saja?
“Kami juga… membicarakan seperti apa dirimu di duniamu yang dulu,” ujarnya pada akhirnya.
“Maksudmu soal aku yang dulunya cuma seorang penyendiri yang suka game?”
Aku ragu Aya akan mengatakan hal yang terlalu aneh.
“Dan aku menceritakan kepadanya tentang bagaimana dirimu selama di Macallan.”
Tunggu sebentar… “Kenapa kalian malah membicarakan aku…?”
“Yah, itu yang ingin diketahui oleh Aya. Dan aku pun ingin tahu seperti apa kamu di masa lalu.”
“Hm, baiklah kalau begitu…” Rasanya sedikit memalukan. Tapi… juga agak mengasyikkan?
Sambil mengobrol, kami sampai di tempat tujuan.
“Kita sudah sangat dekat sekarang. Lucy, tunggu di sini.”
“Baiklah,” ucapnya. “Kamu yang akan menghabisi para pengintai itu, kan?”
“Benar.” Sambil berbicara, aku menyetel Calm Mind ke 99%.
Kabut tebal membuat jarak pandang hampir tidak ada, tetapi Scouting terus memantau posisi para harpy. Jelas saja, aku menjaga agar Stealth tetap aktif sepanjang waktu. Mereka tidak menyadari keberadaanku saat aku melangkah tanpa suara, lalu menyerang.
Ada tiga harpy semuanya: satu di atas batu besar, satu lagi di dahan pohon rendah, dan yang ketiga berada di dekat lubang yang mengarah ke Labyrinthos. Aku menggorok leher masing-masing dari mereka dan menusuk jantung mereka untuk memastikan kematian mereka. Menggunakan sihir airku, aku mengendalikan aliran darah yang memancar, mengarahkannya menjauh dariku.
Dengan tewasnya para harpy tersebut, sekarang kita memiliki sedikit waktu luang hingga pergantian penjaga.
“Lucy, aku sudah selesai,” kataku kepadanya.
“Bahkan belum ada lima menit… Kamu pasti akan menjadi seorang pembunuh bayaran yang hebat.”
“Itu bukan pekerjaanku,” jawabku membela diri. Aku mungkin memiliki keahlian yang cocok untuk seorang pembunuh bayaran, tapi aku tidak berniat menjadi salah satunya. Setidaknya secara resmi. Meskipun, terlepas dari protesku, kupikir bermain sebagai pembunuh bayaran sangatlah mengasyikkan!
Dan begitu saja, kami mendekati lubang menuju Labyrinthos, lalu mengintip ke dalam secara diam-diam.
Di dalam dungeon itu, kami melihat struktur besar mirip sarang yang terbuat dari pepohonan dan tanaman merambat yang menempel di langit-langit.
Sarang para harpy.
“Lucy, giliranmu.”
“Mengerti. Ini untuk Aya, jadi aku akan menyajikan porsi ekstra besar!”
Kemudian, dia mulai merapal mantra. Berkat berkah raksasa pada tongkatnya, dia bisa memanggil satu Stone Shot tanpa inkantasi. Namun, kali ini, dia memanggil beberapa sekaligus, jadi dia harus merapal mantra. Batu besar demi batu besar muncul di udara di sekeliling kami saat dia menggumamkan kata-kata mantra tersebut.
“Terbahlah oleh api, Imbue Flame.” Batu-batu besar itu mulai bersinar terang, dan menerangi area tersebut bagaikan matahari terbenam.
“Lucy! Mereka sudah menyadarinya!” Beberapa harpy sedang mengintip ke arah kami dari dalam sarang.
Sudah terlambat! Serang, Lucy!
“Meteo Rain!”
Lucy mengayunkan tongkatnya dan batu-batu besar yang terbakar dengan berbagai ukuran menghancurkan sarang para harpy, sekaligus meruntuhkan seluruh langit-langit dalam prosesnya.

◇ Di Dalam Sarang Harpy ◇
Ada sesuatu di luar, pikir salah satu harpy. Apa yang sedang dilakukan para pengintai?
Para harpy adalah monster, tetapi mereka juga makhluk ber-IQ tinggi yang bertindak secara kolektif, memanfaatkan kemampuan bertahan hidup yang signifikan.
Seekor harpy di dekat pintu masuk langsung menyadari sesuatu yang tidak biasa, dan ketika mereka melihat ke luar, mereka langsung terkesiap kaget.
Cahaya di luar dungeon tampak begitu terang hingga dikira fajar yang akan tiba. Tetapi pada saat harpy itu menyadari bahwa itu adalah serangan sihir pada sarang mereka, mantranya sudah menghantam.
Rumah mereka dihancurkan tanpa ampun. Api menjilat-jilat sarang tersebut sementara beberapa harpy hancur tertimpa langit-langit yang runtuh.
Namun, beberapa dari mereka berhasil menghindari takdir tersebut—tidak ada yang bisa menjatuhkan mereka jika mereka bisa terbang melarikan diri ke langit!
Tiba-tiba, para harpy yang sedang terbang itu ditelan oleh air.
Apa?! pikir para harpy secara bersamaan. Mereka tidak bisa berenang dengan baik dan biasanya akan menghindari bahkan untuk mencobanya.
Ada—Ada apa ini?! adalah pikiran berikutnya dari kawanan tersebut.
Namun bagaimanapun juga, mereka jatuh, tidak mampu memahami situasi dengan tenang sebelum mereka menghantam danau di bawah mereka.
◇ Sudut Pandang Aya Sasaki ◇
“Nona Sasaki!” seru Nina.
“Nina! Sepertinya mereka berhasil!”
Kami telah bersembunyi di balik air terjun di tepi danau, tetapi kemudian, kami mendengar deru suara saat langit-langit runtuh. Sarang para harpy yang kotor itu jatuh bersama para penghuninya, dan semuanya tenggelam dalam volume air yang sangat besar.
“Meteo Rain milik Nona Lucy dan Tianlong peringkat ultra milik Tuan Takatsuki adalah kombinasi yang cukup kejam.”
“Ada ular laut dan buaya raja di dalam danau,” kataku. “Mereka seharusnya memangsa para harpy itu.”
“Sepertinya mereka langsung menyerang, ya’h.”
Para harpy mencoba mengepakkan sayap untuk keluar dari air, tetapi monster akuatik itu jauh lebih unggul. Sering kali, satu atau dua harpy berhasil lolos dari danau, dan Nina atau aku akan mengirim mereka terbang kembali ke dalam air dengan teriakan.
Satu per satu, para harpy menjerit saat mereka ditarik ke dalam air.
Ini pembalasan untuk keluargaku! Tidak ada satu pun dari kalian yang akan lolos!
“Sepertinya tidak ada lagi yang tersisa,” kataku akhirnya, sambil bernapas tersengal-sengal.
“Sekarang kita hanya perlu mencari tahu ke mana Ratu pergi, ya’h…”
Kami mencari di sekitar gua, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Apakah dia berhasil kabur? Sial! Padahal kita sudah sangat dekat!
“Hei, hei, Sasa, Nina!”
Takatsuki dan Lucy melayang turun dari langit-langit setelah beberapa saat. Mereka memegang benda kecil seperti payung di tangan mereka. Rupanya, benda-benda ini disebut Paracut dan saat dibuka, sihirnya membuat penggunanya melayang turun dengan perlahan, bahkan dari tempat yang tinggi.
Fujiwara memiliki segala macam barang berguna.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Makoto. “Apakah kalian berhasil mengalahkan ratu harpy?”
“Belum. Kami tidak yakin apakah dia ikut jatuh bersama yang lainnya, ya’h.”
“Makoto, apakah skill Scouting-mu mendeteksi sesuatu?” tanyaku.
“Ada terlalu banyak monster di sekitar sini,” jawabnya. “Aku tidak bisa membedakannya.”
Di mana dia? Dungeon yang bising itu mendadak menjadi sunyi senyap dan tidak ada harpy yang terlihat. Kita pasti telah menghabisi mereka semua.
“Mereka tidak memberikan perlawanan yang berarti,” komentar Lucy. “Ayo kita kembali dan minum-minum.” Suasananya sudah beralih ke perayaan, tetapi Takatsuki dan Nina segera menyadarkannya kembali ke kenyataan.
“Lucy, itu sama saja menantang Hukum Murphy.”
“Kamu belum boleh lengah sekarang, Nona Lucy, ya’h.”
Sejujurnya, aku juga merasa agak pusing karena kemenangan. Kami telah membasmi para harpy! Itu adalah kekuatan yang tidak bisa aku kalahkan sendirian!
Kita berhasil! Ibu, saudari-saudari! Nabi!
Kemudian, aku mendengar nyanyian samar, begitu pelan hingga aku hampir tidak mendengarnya.
Suara itu… menyenangkan. Dan sangat tidak cocok berada di dalam dungeon.
Aku memutuskan untuk bertanya kepada yang lain. “Eh? Apakah kalian semua mendengar sesuatu?”
“Aku tidak begitu yakin, ya’h… Tapi kurasa begitu, ya’h.”
“Suaranya pelan. Aku tidak begitu bisa mendengarnya dengan jelas.”
Kami saling berpandangan—
“Jadi kalian di sini…”
—kemudian semuanya berbalik secara bersamaan.
Ratu harpy.
Dia memiliki wajah yang cantik dan sayap berwarna cokelat muda yang indah. Nyanyian itu tidak berhenti saat dia berbicara. Gadis yang pintar.
“Mustahil! Siren Song, ya’h?!” seru Nina dengan panik.
“Eh, dia kan ratu harpy, kan?” tanyaku. “Kenapa dia bisa menggunakan skill siren?”
“Dia pasti mendapatkan skill itu setelah berevolusi, ya’h! Suara itu akan memikat pria mana pun yang mendengarnya. Tuan Takatsuki, Anda tidak boleh mendengarkannya, ya’h!”
Terlambat. Takatsuki menatap kosong ke arah ratu harpy.
Tidak peduli! Aku akan membunuhnya sebelum dia sempat melakukan apa pun! pikirku sambil bergerak maju menghampirinya.
“Apakah kamu senang melihat si anak penyihir mati?” tanya ratu harpy sambil menyeringai. “Anak penyihir! Tempelkan belati ke lehermu.”
Takatsuki melakukan persis seperti apa yang diperintahkan oleh suara itu.
“Sialan, ya’h!” teriak Nina.
“M-Makoto,” rintih Lucy dengan panik sambil memegang tongkatnya dengan kedua tangan.
“Suaraku sangat efektif pada pria manusia,” gerai ratu harpy terkekeh. “Keberuntunganmu habis saat kamu membawanya bersamamu.”
“Siren Song dapat memikat pria, ya’h. Orang-orang yang menyerang keluargamu pasti dikendalikan olehnya juga, ya’h,” sembur Nina dengan gigi kertak.
“Oh, aku penasaran siapa kamu. Jadi kamu adalah gadis lamia yang kulihat kubunuh… rupanya tidak juga, ya.” Ratu harpy itu mendelik penuh kebencian padaku, dan aku mendelik balik dengan tatapan membunuh.
“Keluargamu semuanya sudah mati!” teriakku. “Rasakan akibat dari apa yang kau perbuat!”
Jawabannya sama sekali tidak lain adalah sebuah ejekan. “Selama aku bertahan hidup, aku bisa menghidupkan mereka kembali sebanyak yang aku inginkan. Sungguh disayangkan bagi kalian.”
Sialan! Dia benar.
Ini akan menjadi akhir bagi kami para lamia begitu dia membunuh Ibu.
“Jangan melangkah lagi,” ratu harpy memperingatkan. “Anak laki-laki manusia, mendekatlah perlahan padaku. Jika teman-temanmu menyerang, sayat lehermu sendiri.”
Takatsuki mengangguk patuh pada suara itu.
“T-Tidak…” seru Lucy.
Nina tetap diam, tidak bergerak, tetapi mencari kesempatan.
Apa yang harus kita lakukan…? Dia menyandera Takatsuki, jadi kita harus berhati-hati. Aku memandangi dia dan ratu harpy secara bergantian, tapi kemudian aku menyadari sesuatu.
Takatsuki? batinku. Siren Song seharusnya telah memikatnya sepenuhnya, tapi dia menatap lurus kepadaku. Matanya tampak jernih seolah-olah dia sama sekali tidak berada di bawah mantranya.
Apakah dia sebenarnya tidak mengendalikannya?
Dia terus melihat ke arah kami saat mendekati ratu harpy. Aku melihat desakan di dalam matanya.
Baiklah!
Aku memusatkan kekuatanku di tangan kanan, menggunakan skill dari pohon skill Action Game Player, salah satu yang biasa aku gunakan secara bawah sadar: Charged Attack.
Tentu saja, aku harus menunggu saat yang tepat. Jika aku menyerangnya sekarang, dia bisa saja kabur…
“Kalian para gadis tetaplah di tempat kalian,” perintah ratu harpy. “Kalian beruntung—jika anak-anakku ada di sini, aku akan memberi kalian makan kepada mereka. Tapi sayang sekali, aku akan membawa anak laki-laki manusia ini saja.”
Aku tetap menaruh kepercayaan pada Takatsuki sambil terus mengumpulkan kekuatanku.
Semua akan baik-baik saja. Pasti.
“Pria manusia sungguh bodoh,” lanjutnya. “Saat mereka mendengar nyanyianku, aku menjadi seperti seorang dewi bagi mereka. Mereka siap berlutut di hadapanku begitu kita bertemu.”
Ekspresi penuh kemenangan di wajahnya membuatku kesal.
“Ayo, jilat kaki dewimu,” katanya, menjulurkan satu kaki berkuku di depan Takatsuki.
Dia pasti sudah terlalu terbawa suasana… Aku benci mengakuinya, tapi dia memang cukup cantik hingga aku bisa dengan mudah membayangkan dia memikat para pria.
“M-Dia membuat Makoto menjilat kakinya… Aku sangat cembur— maksudku, itu keterlaluan!”
“Umm, Nona Lucy, ya’h?” Nina menegur secara lisan.
Aku harus bicara dengan Lucy tentang apa yang baru saja dia katakan nanti…
Takatsuki membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya ke kaki wanita itu. “Kuku yang begitu kotor tidak akan pernah bisa menjadi milik seorang dewi,” ujarnya pelan, dengan nada suaranya yang biasa.
“Ha?” ratu harpy itu sempat bersuara sebelum dia tanpa suara memotong kakinya.
“Gyaaaaahhhhh!”
Saat dia menjerit, es stalaktit ajaib muncul di udara dan menusuk matanya. Apakah Takatsuki memotong kakinya dan merapal mantra secara bersamaan?
Wah! Aku bahkan tidak melihatnya bergerak!
“Sasa! Sekarang!” teriak Takatsuki.
Dia benar! Sekarang atau tidak sama sekali!
Aku Dash maju dan mempertahankan kecepatan ku, menghantamkan kepalan tanganku yang bermuatan energi ke tubuh ratu harpy.
“Gah!” Kepalan tanganku menembus langsung tubuhnya, merobek lubang di tubuhnya. “K-Kutuk…an kau!”
Entah bagaimana, dia masih sempat bernapas untuk mengutuk kami.
Cakar dari kakinya yang tersisa bergerak naik untuk merobek tubuhku.
Shing.
Dalam sekejap, belati Takatsuki memotong langsung lehernya.
Kami yang lain berteriak kaget saat mayat itu jatuh ke tanah.
Bukankah belati itu sedikit terlalu tajam?
“T-Terima kasih,” kataku kepadanya.
“Itu balas dendammu, Sasa.”
Saat mendengar kata-kata itu, aku merasakan ketegangan di dalam diriku mengendur. Aku terhuyung-huyung mendekatinya.
Ah… Aku berlumuran darah.
Mengabaikan usahaku untuk menjauh, dia menangkapku. Aku hampir ingin menangis karena deapan lembut yang dia berikan padaku.
“Kerja bagus, Sasa,” ujarnya kepadaku.
“Terima kasih…”
Aku sudah membalaskan dendam kalian semua, batinku, mengirimkan kata-kata itu kepada keluargamu yang sudah tiada.
Kepalaku jatuh ke bahunya dan aku memejamkan mata. Itulah kehangatan paling menenangkan yang pernah ku rasakan dari orang lain.
Pecahan-pecahan yang meremukkan hatiku semuanya telah dienyahkan.
◇ Sudut Pandang Makoto Takatsuki ◇
“Kenapa… kenapa… sihir pesonaku tidak mempan?” tanya pemimpin harpy queen itu dengan nada tersiksa.
Hah? Dia masih bisa bicara? Aslinya, dia masih hidup?
“Sialan…” kata Lucy sambil mundur. “Bagaimana kau bisa hidup? Itu menyeramkan.”
Aku sangat setuju, sebenarnya.
Aku bakal memimpikan hal ini, jadi berhentilah bicara sebagai kepala buntung.
“Di mana dia… Di mana adikku?” tanya Sasa kepada kepala tersebut.
Itu pemandangan yang cukup surealis, tapi pertanyaannya serius jadi aku tetap diam.
“Aku tidak tahu… dia lenyap… begitu dia membuka pintu masuk…”
Sasa terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Begitu ya…”
Benar juga, kurasa ada orang lain yang butuh pembalasan dendam.
Lupakan semua itu, apa yang harus kita lakukan dengan kepala ini?
“Monster memiliki tingkat vitalitas yang luar biasa jika mereka hidup selama berabad-abad. Tapi kekuatan mereka berasal dari jantung. Pisahkan kepala dan tubuhnya dan dia akan segera mati’h,” jelas Nina, sedikit meredakan ketakutanku.
“Takatsuki, kenapa dia tidak bisa mengendalikanmu?” tanya Sasa.
“Aku juga ingin tahu itu’h!” sahut Nina.
Lucy sedang menusuk-nusuk kepala harpy queen dengan ujung tongkatnya. Berhentiiii.
“Karena Calm Mind, skill seperti sihir pesona akan kesulitan memengaruhiku.”
“Hmm, aku pernah dengar kalau skill stabilitas mental membuat perlawanan terhadap sihir pesona dan ilusi jadi lebih mudah’h… Tapi itu tidak membuatmu kebal, hanya lebih tangguh’h…” Nina memiringkan kepalanya menatapku. “Siren Song yang sama sekali tidak ada efeknya itu aneh’h.”
“Lagipula, akting Takatsuki memungkinkanku untuk membalas dendam!” kata Sasa, memelukku lagi.
Ini mulai terasa sangat memalukan… Bisakah kau melepaskannya sekarang?
“Aya, lepaskan dia,” kata Lucy sambil berjalan ke arah kami. Dia pasti sudah bosan menusuk-nusuk kepala itu.
“Ogahhh,” jawab Aya saat Lucy mencoba menariknya.
Itu menggemaskan, mirip seperti saudara yang sedang bermain-main. Meskipun aku lebih suka mereka tidak menyeretku ke dalam masalah ini.
“Oh, apa kau pernah melihat seorang dewi, Tuan Takatsuki’h?”
“Benar kan? Cara bicaramu pada harpy queen tadi, terdengar seperti kau pernah,” tambah Lucy.
“Ya,” konfirmasiku. “Aku terkadang melihatnya dalam mimpiku. Kami juga berbicara kemarin.”
“Oooh! Aku bisa mengerti kenapa Siren Song tidak mempan kalau kau pernah melihat dewi yang asli’h!”
Kurasa itu masuk akal?
“Takatsuuuki, apa itu dewi?” tanya Sasa.
Benar juga, aku belum sempat menjelaskannya, ya?
“Makoto mengikuti dewa yang jahat. Orangnya juga sangat cantik.”
Jangan sembarangan menyebut kata jahat begitu!
“Maksudku, dia memang sangat cantik…” kataku. “Dia juga terus-menerus mencoba menggodaku, jadi aku tidak begitu yakin bagaimana harus bereaksi.”
“D-Dewimu mencoba menggodamu’h?!”
“Kemarin dia berpakaian sangat santai, dan dia terus menempel padaku…” Ingatan itu membuat jantungku berdegup kencang lebih dari sekadar sedikit, jadi aku akan sangat berterima kasih jika di masa depan dia tidak melakukan hal itu.
“Eh… Apa dewi ini agak murahan ya?”
Lucy! Kau tidak boleh bilang begitu! Tapi… dia tidak seperti itu, kan?
Aku mendengar suara Noah di dalam benakku saat dia ikut bersuara untuk membela diri. Hei, aku ini dewi perawan!
“Dia bilang dia seorang perawan.” Aku menyampaikannya dengan patuh demi reputasinya.
“Tapi dia sendiri yang mengatakannya, jadi rasanya aneh… Ini mirip seperti cewek-cewek yang selalu bilang, ‘Ini pertama kalinya buatku,’ kurasa…”
Kau tidak boleh ngomong begitu, Sasa. Sisi tersembunyi yang cukup kelam mulai kelihatan nih, ya?
“S-Semuanya, kalian sebaiknya tidak menghina seorang dewi kecuali kalian ingin disambar petir’h,” peringatan Nina sebelum menoleh ke arah kepala harpy queen. “Oh, sepertinya dia akhirnya mati’h.”
Monster itu telah tewas saat kami sedang melakukan percakapan konyol ini. Yah, terserahlah.
“Apa yang harus kita bawa pulang? Apa material yang paling berharga?” tanya Sasa.
“Sayapnya mungkin akan berguna, tetapi ketika monster hidup begitu lama, jantungnya menjadi bagian yang paling berharga’h.”
“Oh, yang ini?” kata Sasa, merobek jantung dari mayat itu tanpa ragu-ragu. Menjijikkan…
“Seharusnya ada magicite di dalamnya’h.”
“Hmmm, bagian ini?”
Dia mengeluarkan secuil magicite, dan benda itu berada di tangannya, memancarkan cahaya jingga.
“Ukuran yang bagus! Itu pasti bisa dijual dengan harga lumayan’h.”
“Ada satu lagi,” tambah Sasa.
“Apa?”
Dia menggali keluar sepotong lagi dengan ukuran yang sama, yang memancarkan cahaya ungu.
“Rasanya agak menenangkan, memegang benda ini…” gumam Sasa sambil menatapnya.
Nina memeriksanya dengan seksama juga. “Itu… mungkin berasal dari ratu lamia’h…”
“Apa?!” seru Sasa. “Benarkah?”
Oh, kurasa itu seperti pusaka dari ibunya.
“Sebaiknya kau ambil saja,” kata Lucy.
“Benar, itu milikmu,” kataku menyetujui.
“Eh, tapi—”
“Aku yakin bos juga akan mengatakan hal yang sama’h.”
“Terima kasih… semuanya.”
Sasa memeluk benda itu erat-erat di depan dadanya.
Aku senang, benar-benar senang, karena kami berhasil membalaskan dendamnya.
“Baiklah, ayo kita kembali,” kataku setelah beberapa menit.
“Apakah kita akan melewati lubang itu lagi?” keluh Lucy.
“Yah, tidak ada jalan keluar lain.”
“Tenanglah kalian semua, kita berhasil me—Tunggu, semuanya, diamlah’h!”
“Sesuatu sedang datang.”
Mata Nina menajam, dan di saat yang sama, Lucy menyiapkan tongkat sihirnya. Sesaat kemudian, Scouting-ku turut bereaksi.
“Sepertinya ada sekelompok monster dan manusia yang sedang bertarung,” kata Sasa sambil menunjuk. Aku mengikuti arah jarinya dan melihat sekelompok orang yang berjumlah sekitar dua puluh orang sedang diserang oleh monster.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.
“Terserah padamu!” seru Lucy riang.
Sasa dan Nina sama-sama menatapku penuh harap. Kurasa aku yang akan memutuskan kalau begitu. “Aku masih punya beberapa sisa penggunaan sihir elemen, jadi mari kita bantu mereka.” Aku telah menghabiskan seluruh minggu untuk berlatih tapi tidak punya banyak kesempatan menggunakannya. “Para Elemental, halo, bisakah kalian memberiku bantuan? Water Magic: Water Whale.”
Wujud raksasa seekor paus muncul, terbuat sepenuhnya dari air, dan ia berenang melalui udara di atas danau. Paus itu menelan sekitar dua puluh orang sebelum menerbangkan para monster dengan kibasan ekornya. Paus itu kemudian kembali menghampiri kami.
Lucy dan Sasa sama-sama berteriak dan memegangi tubuhku saat air dalam jumlah besar itu mengangkut orang-orang tersebut ke tempat kami.
“Mister Takatsuki, sekarang kamu benar-benar bisa mengendalikan air dengan jauh lebih presisi…” kata Nina kepadaku dengan terkejut.
“Oh, mereka itu Ksatria Soleil, kan?” tanya Lucy.
“Benar,” jawabku.
Aku melihat lambang Althena di zirah dada mereka. Mungkin dia juga ada di sini?
“Apa kalian baik-baik saja?!” seru Pahlawan Cahaya saat dia langsung melompat berdiri.
“Hei, Sakurai,” sapaku.
“T-Takatsuki? Apa itu tadi kamu? Sihir yang gila sekali!”
“Ah, ya, begitulah… Kurasa begitu…” Aku mengedarkan pandangan. Aku tidak yakin bisa menerima pujian itu sepenuhnya karena bagaimanapun juga itu adalah sihir para elemental.
“Ryousuke! Kamu tidak apa-apa? Hei! Dari mana asalmu?” Tuntutan ini datang dari orang yang muncul berikutnya—mantan teman sekelas kami, Saki Yokoyama.
“Saki?” tanya Sasa.
“Tunggu, apa itu kamu, Aya?” tanyanya tidak percaya. “Kamu masih hidup?!”
“Sudah lama ya, Saki!”
“Kamu terlihat agak berbeda…?”
“Banyak hal yang terjadi,” jawab Sasa singkat.
“Oh, kalau begitu kamu harus menceritakan semuanya kepadaku!”
“Tentu!”
Mantan gadis-gadis SMA itu mulai mengobrol. Kurasa mereka berdua dulunya cukup dekat.
“Terima kasih telah menyelamatkan kami semua,” kata Sakurai kepadaku.
“Sama-sama. Jadi, apa yang terjadi?”
Ksatria Soleil seharusnya semuanya adalah petarung elit, jadi aku tidak bisa membayangkan monster di level Labyrinthos ini akan menjadi ancaman besar bagi mereka.
“Ah, yah, kami berpapasan dengan naga wabah di lantai bawah, tapi…”
Rupanya, kedua naga yang tersisa itu bekerja sama—pasangan tersebut adalah lawan yang luar biasa tangguh.
Para ksatria telah mencoba memisahkan mereka tetapi kemudian diserang oleh monster lain dari lantai itu. Ketika naga-naga wabah itu menyerang lagi, para ksatria berada di posisi yang dirugikan sehingga seluruh kelompok terpaksa harus mundur.
Kami berpapasan dengan mereka tepat setelah mereka berhasil melarikan diri dari lantai bawah.
“Aku senang kita tidak kehilangan siapa pun, tapi pertempuran ini adalah sebuah kegagalan…” Ekspresi Sakurai tampak suram.
“White Grandsage ada di sini sebagai pengawas kita, jadi mungkin kalau dia benar-benar membantu kita…” Saat Yokoyama berbicara, ekspresinya berubah muram karena tidak senang.
“Dia ada di sini berjaga-jaga kalau kita gagal. Kita tidak bisa meminta lebih,” jawab Sakurai dengan tenang.
“Apa?!” seru Lucy kaget. “White Grandsage ada di sini?!”
“Hei, Lucy, apakah White Grandsage itu adalah orang yang disebut sebagai yang terkuat di benua ini?”
“Ya! Dia kurang lebih adalah panutan bagi semua penyihir!”
Itu adalah sesuatu yang telah kudengar di kuil; White Grandsage dari Highland adalah puncak dari arti seorang penyihir.
Sementara Lucy dan aku merasa bersemangat, ekspresi Sakurai justru tampak jauh lebih suram.
Benar juga, dia berada dalam situasi yang cukup menyebalkan…
Sakurai berbalik untuk berbicara kepada Yokoyama. “Kita tidak bisa berbuat apa-apa di sana, Saki. Kita disuruh untuk menghadapi naga-naga wabah itu.”
“Tapi jika kita melaporkan bahwa kita gagal, maka faksi pangeran…”
“Kegagalan akan menimbulkan banyak masalah bagi Putri Noelle.”
Aku tidak tahu menahu tentang situasi yang sebenarnya, tetapi sepertinya mereka sedang berada dalam masalah besar.
Jika aku mengikuti instruksi sang dewi…
Maukah kamu membantu Pahlawan Cahaya?
▶Ya
Tidak
Aku adalah satu-satunya pengikutnya, jadi setidaknya aku harus mendengarkan permintaannya.
“Kau butuh bantuan, Sakurai?” tanyaku. Aku berbicara kepadanya terlebih dahulu, alih-alih hanya merespons ucapannya.
Komentar