Seirei Gensouki Volume 4 Interlude: Terdampar di Dunia Lain Bahasa Indonesia
Interlude: Terdampar di Dunia Lain
Hanya satu jam sebelum Rio tiba di padang rumput, dan tepat saat dia menemukan tempat di mana ode dan mana telah terganggu oleh sihir ruang-waktu, tiga orang Jepang yang mengenakan pakaian aneh untuk dunia ini sedang berdiri di tengah rumput.
“…Miharu?” Seorang siswi SMP berseragam memanggil Miharu dengan ragu-ragu, yang juga merupakan seorang siswi SMA yang mengenakan seragamnya.
Kedua gadis itu tidak menyadari fakta bahwa beberapa pilar cahaya di seluruh wilayah Strahl telah menembus langit kurang dari satu menit yang lalu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, dan juga bagaimana mereka bisa datang ke tempat ini.
“Ah, um… Sinyalnya tidak ada di sini. M-Mungkin rusak?” jawab Miharu. Dia tadinya menatap layar “Tidak ada sinyal” di ponselnya dengan linglung ketika dia menyadari namanya dipanggil. Dia memasang senyuman terbaik yang bisa dia berikan.
“R-Rusak…?” Ekspresi siswi SMP itu diliputi kecemasan.
“Apa kita… berpindah, atau semacamnya?” Bocah SD yang mengenakan pakaian santai itu bergumam dengan ragu dan bingung. Lanskap kota modern tempat mereka berdiri beberapa saat lalu telah berubah menjadi dataran berumput sebelum mereka sempat menyadarinya.
Singkatnya, hal itu hanya bisa digambarkan sebagai “mustahil.”
“Mana mungkin, ini bukan salah satu game yang selalu kamu mainkan itu.” Siswi SMP tersebut langsung mematahkan perkataannya.
“Lalu bagaimana kamu menjelaskan situasi ini?” protes bocah SD itu sambil merengut.
“A-Aku tidak tahu. M-Mungkin mimpi…”
“Itu tidak jauh berbeda dari ideku.”
Bocah SD dan siswi SMP itu mulai bertengkar satu sama lain dengan nada yang agak jengkel, kemungkinan besar merasa agresif setelah ditempatkan dalam situasi yang sangat membingungkan ini.
Miharu menarik napas dalam-dalam dan menenangkan kedua anak itu. “Aki-chan, Masato-kun. Mari kita tenang dan pahami situasinya, ya? Apakah kalian berdua ingat di mana kalian berada sebelum kemari?”
Sebagai yang tertua, dia harus tetap berpikiran jernih.
“Di mana kita berada… Bukankah kita semua berkumpul setelah upacara pembukaan di sekolah?” Bocah bernama Masato itu menghela napas lesu.
“Tapi bukankah Satsuki-san dan Takahisa-kun bersama kita juga?” tanya Miharu tanpa buang waktu.
“Ya, mereka bersama kita,” angguk Masato dengan yakin.
“Bagaimana denganmu, Aki-chan?”
Didorong oleh Miharu, gadis SMP bernama Aki itu mengangguk. “Ya… Kita semua bersama-sama di area perumahan.”
“Apakah kalian berdua merasakan sesuatu yang aneh sebelum lanskapnya berubah? Sesuatu yang kalian sadari. Aku sedang berbicara dengan Satsuki-san ketika penglihatanku tiba-tiba tampak berdistorsi,” kata Miharu, menjelaskan rangkaian kejadian dari sudut pandangnya sendiri sambil menanyai kedua orang lainnya.
“…Aku sedang berbicara dengan kakakku ketika lanskapnya berdistorsi, kurasa,” jawab Aki dengan gumaman.
“Kalau dipikir-pikir, pemandanganku juga melengkung…” Masato memiringkan kepalanya sambil bergumam.
“Jika kita bertiga melihat hal yang sama, maka itu bukanlah halusinasi… kan?” gumam Miharu.
Hal itu tidak mengubah fakta bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang situasi mereka. Bagaimanapun juga, area perumahan yang damai yang baru saja mereka lewati beberapa saat lalu kini telah menjadi padang rumput, tidak menyisakan apa pun selain bebatuan, bukit, and pegunungan dalam pandangan mereka; tidak ada satu pun bangunan buatan manusia yang terlihat. Di lokasi asal mereka, pemandangan seperti ini tidak mungkin terjadi tidak peduli berapa kilometer pun mereka bergerak.
Jika dipikirkan dengan tenang, seluruh situasi ini sangat tidak ilmiah hingga mulai terasa menyeramkan. Mungkin mereka benar-benar telah berteleportasi, seperti yang dikatakan Masato.
Ketakutan yang tak terlukiskan menjalar melalui diri Miharu, membuatnya sedikit bergidik.
“Hei, apa kita benar-benar berpindah dimensi? Apakah ini bahkan masih Jepang?” tanya Masato kepada Miharu dan Aki, sambil melihat sekeliling dengan penuh kecurigaan.
“Kita tidak punya cara untuk mengetahuinya, karena tidak ada sinyal telepon di sini.” Aki menggelengkan kepalanya secara terus terang.
“M-Mari kita buat keputusan dulu,” usul Miharu kepada keduanya. “Apakah kita tetap di sini, atau kita pindah?”
Pembicaraan itu terus berputar-putar di tempat, jadi dia memutuskan untuk mengajukan pertanyaannya dan mengubah topik.
“Tapi jika kita pindah, kita tidak akan bisa kembali ke sini lagi. Seseorang mungkin akan datang menyelamatkan kita… Apa kamu yakin?” tanya Aki dengan cemas.
Meskipun tidak memiliki bukti sebaliknya, dia memiliki keyakinan samar bahwa mereka bisa tiba-tiba dikembalikan ke tempat asal mereka jika mereka tetap tinggal di sini. Alasannya untuk berdiam diri dan menunggu penyelamatan saat terjadi bencana juga tidak sepenuhnya salah; ada kemungkinan yang lebih tinggi untuk diselamatkan dengan menjaga stamina, daripada berjalan-jalan tanpa arah dan menghabiskan energi.
Namun, hal itu hanya akan meningkatkan kemungkinan penyelamatan jika mereka memiliki persediaan untuk tinggal dalam waktu lama — misalnya, saat mendaki gunung, kamu akan memberitahu seseorang terlebih dahulu tentang hari apa kamu berencana untuk kembali.
“Tidak ada jaminan seseorang akan datang menyelamatkan kita. Bahkan tidak ada jalan di sini. Apakah ada orang yang tahu kalau kita berada di sini?” Pertanyaan yang diajukan Masato itu memang didasarkan pada penalaran yang masuk akal.
“Itu… benar, tapi…” kata Aki, merasa terpaksa untuk setuju.
“Bahkan jika kita tetap di sini, tidak ada dinding atau atap untuk melindungi kita. Tempat ini agak dingin, kita tidak punya apa pun untuk melindungi diri dari hujan, dan kita hampir tidak punya makanan atau air…” kata Miharu, merinci semua kerugian dari tetap tinggal di tempat mereka berada. Semakin banyak dia berbicara, semakin dia merasa putus asa atas situasi mereka.
“Aku tidak punya makanan atau air sama sekali.”
“Aku juga tidak…”
Wajah Masato dan Aki langsung memucat seketika.
“A-Aku punya sedikit teh dan biskuit. Semuanya akan baik-baik saja!” Miharu buru-buru membuka tas sekolahnya, mengeluarkan botol teh dan biskuit buatan sendiri. Dia menunjukkannya kepada dua orang lainnya dengan dorongan yang ceria. Namun, jumlahnya tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran mereka.
Dengan persediaan yang begitu sedikit, bahkan jika aku memberikan semuanya kepada mereka berdua, kita akan kehabisan makanan dan air dalam sekejap… Aku harus melakukan sesuatu sebelum itu terjadi. Meskipun dia berhasil menganalisis situasi dengan tenang, rasa tidak sabar perlahan-lahan mulai muncul di dalam diri Miharu.
“Hei, ayo coba cari seseorang. Kalau kita tetap di sini, kita akan mati kelaparan atau mati kedinginan,” usul Masato dengan cemas. Melihat ketenangan Miharu membantunya menjaga ketenangannya sendiri, tetapi dia masih bisa merasakan betapa rapuhnya situasi mereka saat ini.
“Bagaimana menurutmu, Aki-chan?” tanya Miharu.
“I-Iya. Aku setuju… Tapi kita harus pergi ke arah mana?” Aki mengangguk dengan ragu-ragu, melihat sekeliling padang rumput dengan ekspresi khawatir. Miharu juga tidak tahu jawabannya.
“Ayo coba berjalan ke arah sana, karena di sisi seberang sana ada pegunungan di kejauhan.” Miharu menekan kekhawatirannya dan menunjuk ke arah selatan.
◇◇◇
Setelah mereka memutuskan arah yang akan dituju, mereka bertiga mulai berjalan dalam diam. Mereka berjalan selama sekitar sepuluh hingga dua puluh menit, tetapi masih belum ada tanda-tanda buatan manusia. Sebaliknya, bahkan tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan.
Udara terasa dingin dan kering; berjalan saja sudah membuat tenggorokan mereka kering. Setelah berjalan selama satu jam, Miharu menyuruh dua orang lainnya untuk meminum satu teguk teh dari botolnya. Karena hanya itulah air yang mereka miliki, mereka harus menjatahnya secara hemat, namun teratur. Bagaimanapun juga, sangat penting untuk tetap terhidrasi saat bergerak.
Andainya saja ada sungai atau semacamnya… pikir Miharu dengan sungguh-sungguh sambil memimpin kedua orang lainnya, yang mengikutinya tanpa mengeluh.
“…Ah, itu manusia… —Hei, bukankah itu manusia?!” kata Masato tiba-tiba.
“Hah? …B-Benar juga! Itu manusia, manusia! Miharu!” Suara Aki melengking gembira.
Jauh di kejauhan tempat Aki dan Masato memandang, terdapat sosok-sosok mirip manusia. Meskipun mereka tidak dapat memastikan seberapa jauh jaraknya, kelihatannya itu adalah sekelompok besar orang yang bergerak dalam satu barisan. Setelah diamati lebih dekat, makhluk-makhluk yang tampak seperti kuda sedang menarik sesuatu di antara mereka.
Itu kuda… kan? Ketidaksesuaian pemandangan itu dengan latar waktu yang ada membuat Miharu tertegun kaget.
“Hei, Miharu! Apa kita tidak pergi ke sana?! Ada orang-orang di sana!” Aki menarik lengan baju Miharu.
“I-Iya. Itu… benar,” angguk Miharu pelan, sambil bertanya-tanya dengan rasa cemas di dalam hati tentang di belahan dunia mana sebenarnya mereka berada. Namun, bukan hanya kecemasan saja yang ada di dalam hatinya — ada secercah kewaspadaan juga.
“Heeeii!” Tidak menyadari apa yang dirasakan Miharu di dalam hatinya, Masato berteriak kencang dan menarik perhatian ke arah posisi mereka.
“Heeeii!” Aki mengikuti langkah Masato.
“Heeeii!” Suara Masato dan Aki akhirnya berpadu satu sama lain. Ada orang-orang di sana; dalam situasi yang sama sekali tidak diketahui, kelegaan mental yang dibawa oleh kenyataan itu bagi keduanya sangatlah besar tak terukur.
Kedua anak itu melambaikan tangan mereka dengan putus asa sebagai bentuk seruan sambil berteriak. Kemudian, setelah menyadari keberadaan Masato dan Aki, beberapa sosok meninggalkan antrean di ujung sana. Ada tiga orang dari mereka, dan mereka mendekati Miharu serta yang lainnya dengan kecepatan yang terasa aneh.
Masato dan Aki menyadari hal itu dan melambaikan tangan mereka dengan gembira.
“…Eh, kuda?”
Mereka segera membeku, karena mereka menyadari sosok-sosok yang mendekat itu menunggang kuda. Saat Masato dan Aki tertegun, para penunggang kuda itu langsung menghampiri mereka.
“**** **!” Pria yang memimpin di depan berteriak. Ketiga murid Jepang itu sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan.
“***, ****!”
Ketika pria yang tampak seperti pemimpin di barisan depan itu berteriak, kedua orang lainnya langsung berhenti seketika.
Para pria yang menunggang kuda tersebut semuanya memiliki fitur wajah yang kasar, dan jelas bukan orang Jepang. Mereka mengenakan zirah kulit ringan dengan pedang logam yang tampak sangat kokoh tersarung di pinggang mereka.
Para pria itu menenangkan kuda yang baru saja mereka hentikan dan memelototi ketiga orang tersebut. Aki dan Masato mundur karena ketakutan.
Miharu juga merasa takut, tetapi dia berdiri di depan Aki dan Masato untuk melindungi mereka.
“Ah, umm… A-Apa kalian mengerti bahasa Jepang?” Dia membuka mulutnya untuk mencoba mengatakan sesuatu, lalu melontarkan pertanyaan pertama yang terlintas di benaknya dengan suara gemetar.
“****’* ****, *** ***?” Pria yang tampak seperti pemimpin itu memiringkan kepalanya dengan curiga.
“Apa kau tahu di mana kita berada? Sepertinya kita tersesat…” tanya Miharu dalam bahasa Inggris berikutnya, menolak untuk menyerah.
“*****.” Pria itu menggelengkan kepala seolah-olah dia menyerah untuk berkomunikasi.
“Hah? Bahasa Inggris juga tidak bisa? Kalau begitu, umm, apa yang harus kita lakukan… M-Mungkin pelafalanku buruk.”
Tidak dapat mencapai pemahaman bersama, Miharu akhirnya melemah, dan rasa gelisahnya terus meningkat. Dia diliputi oleh debaran yang tidak menyenangkan di dadanya.
Di belakang Miharu, Aki dan Masato benar-benar ciut dalam keheningan. Mereka belum pernah berbicara dengan orang asing seumur hidup mereka, jadi mereka ketakutan.
Hal itu bisa dimaklumi — pihak seberang dilengkapi dengan pedang, lagipula.
“****, ***’* *** ***** **** *** ** ****? **** ** **** **** *** ****.” Salah satu pria di atas kuda menatap wajah dan tubuh Miharu sambil menyeringai saat dia mengatakan sesuatu kepada sang pemimpin. Tidak ada batasan dalam tatapannya, membuat Miharu sedikit gelisah.
“****, ***’** *****,” jawab sang pemimpin kepada pria itu dengan senyuman di mulutnya. Tatapannya juga tertuju pada Miharu.
“*** ***** *** ****’* ** *** ******. *** *****, *** ***** ***** ****.” Pria ketiga juga mengatakan sesuatu, pandangannya tertuju pada Aki dan Masato yang berdiri di belakang Miharu.
“A-Apa?”
“Hei, bukankah ini agak gawat?” kata Aki dan Masato sambil mendongak dengan cemas ke arah para pria yang sedang bercakap-cakap di antara mereka sendiri.
“*** *****, *** ****.” Pria yang tampak seperti pemimpin itu mengatakan sesuatu, dan pria-pria lainnya langsung turun dari kuda mereka. Mereka semua mulai berjalan dengan santai ke arah Miharu, Aki, dan Masato.
Miharu merentangkan kedua lengannya di depan Aki dan Masato untuk melindungi mereka, menempatkan dirinya di garis depan. Seperti yang dikatakan Masato, dia memiliki firasat buruk tentang ini… namun, sungguh, dia tahu ini sudah terlambat.
Ketiga orang itu perlahan-lahan mundur ke belakang.
“J-Jangan mendekat!” teriak Aki tiba-tiba dari belakang Miharu. Suaranya bergetar, kemungkinan besar karena ketakutan.
Dia memelototi para pria itu dengan mengancam, tetapi itu ibarat menatap moncong senapan.
Salah satu pria yang mendekat langsung tertawa terbahak-bahak melihat gertakan Aki. Kemudian, sang pemimpin tiba-tiba mencabut pedangnya dari sarung di pinggangnya. Bagaimana pun mereka melihatnya, kilau dan ketebalan bilah itu pastilah bukan tiruan.
“***’* ****!” Pria berpenampilan seperti pemimpin itu tiba-tiba berteriak kepada Miharu, Aki, dan Masato.
Aki mengeluarkan pekikan kecil. “Iik!”
Masato juga tersentak. Perasaan buruk menggerogoti Miharu sedikit demi sedikit, melumpuhkan kakinya. Rasanya seolah-olah seseorang sedang mencengkeram jantungnya dengan kuat.
“A-Ayo lari! Cepat!” kata Masato.
“I-Iya!” Aki mengangguk penuh semangat.
“Jangan lari, kalian berdua!” Miharu sadar kembali dengan tersentak dan dengan panik menggenggam tangan Aki serta Masato.
Para pria itu memiliki senjata dan menunggang kuda; dia sangat meragukan mereka akan bisa lari dari orang-orang seperti itu, dan berlari justru bisa mendesak mereka untuk membunuh.
Lebih penting lagi, suasana di sekitar para pria itu terasa tidak normal.
“Eh? Ah, tapi…” Aki mencoba mengatakan sesuatu, tetapi suaranya terhenti.
“Jangan lari. Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, jadi patuhi saja mereka dengan tenang. Kumohon?” gumam Miharu, mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam untuk menunjukkan kesediaannya menurut tanpa perlawanan. Kedua tangannya gemetar ketakutan.
“****.” Sang pemimpin mendengus mengejek melihat kurangnya perlawanan dari Miharu dan yang lainnya, lalu memberikan semacam perintah kepada dua pria lainnya dari atas kuda. Kedua pria itu segera bergerak mematuhinya, mengikat tangan Aki dan Masato dengan tali. Mereka mengambil tas sekolah yang dibawa keduanya, lalu menyeret kedua anak itu mendekati kuda-kuda, dan mengikatkan tali ke pelana.
Aki dan Masato merasa kesal, tetapi mereka menuruti perintah itu dengan tenang seperti yang dikatakan Miharu. Keduanya menatap Miharu dengan cemas, karena dialah satu-satunya yang tertinggal.
Kemudian, seorang pria berdiri di dekat Aki dan Masato untuk mengawasi mereka sementara pria satunya mendekati Miharu. Pria itu menatapnya dengan tatapan mesum dan bersiul riang, lalu mengulurkan tangan ke tubuh Miharu dengan gerakan bernafsu, ketika —
“****! *** ****, *** ****!” Pemimpin itu berteriak marah, membuat pria tersebut buru-buru menarik kembali tangannya. Sambil berdecak kesal, ia merampas tas sekolah Miharu dan mengikat tangan gadis itu dengan kasar tanpa perasaan.
Miharu membeku sementara tubuhnya gemetar karena ketakutan yang tak terlukiskan. Debaran di dadanya tidak kunjung mereda, tetapi ketika ia melakukan kontak mata dengan Aki dan Masato yang tampak khawatir, ia memaksakan senyum di wajahnya. Setelah itu, Miharu diseret ke arah kuda dan diikat ke pelana persis seperti Aki dan Masato.
…Apakah ini pilihan yang tepat? pikir Miharu saat melihat keputusasaan di ekspresi Aki dan Masato.
Jika Aki dan Masato tadi mencoba lari, para pria itu mungkin akan membunuh salah satu dari mereka, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia biarkan. Meskipun tetap hidup bukan berarti memiliki harapan, kematian sudah pasti adalah sebuah akhir.
“**** ***!” Pemimpin itu memberikan perintah baru, dan para pria itu dengan sigap menaiki kuda mereka.
Miharu dan yang lainnya ditarik oleh tali yang diikatkan pada pelana kuda dan dibawa menuju kelompok utama tempat para pria itu berasal.
◇◇◇
Miharu dan yang lainnya dibawa ke sebuah jalan reyot yang jelas tidak terawat. Di sana terdapat lebih dari sepuluh gerobak berkereta kuda yang membentuk barisan dua jalur; mereka dikelilingi oleh orang-orang bersenjata yang sedang melindungi muatan di dalamnya.
Sebagian besar gerobak penutupnya digulung ke atas, mengekspos platform bagian dalamnya ke udara terbuka. Meskipun demikian, kerangkanya terbuat dari logam yang sekokoh sel penjara, dan di dalamnya terdapat banyak sekali orang berpakaian compang-camping.
Bagi Miharu dan dua orang lainnya, yang dibesarkan di masyarakat modern, pada titik ini sudah jelas bahwa ini adalah dunia yang berbeda. Mereka dapat melihat pembagian dunia yang jelas antara orang-orang bersenjata lengkap yang mengelilingi gerobak dan orang-orang yang tak bernyawa di dalam gerobak. Miharu, Aki, dan Masato dapat merasakan dan melihat aura aneh yang melayang di udara di sekitar kelompok tersebut.
Ketika para pria itu — mereka yang memisahkan diri dari kelompok untuk menjemput Miharu dan dua orang lainnya — kembali, seluruh perhatian tertuju kepada mereka. Ketiganya jelas-jelas mengenakan pakaian yang tidak sesuai, menarik tatapan curiga dari para pria tersebut. Namun, begitu perhatian terhadap pakaian aneh mereka mereda, tatapan para pria itu perlahan-lahan tertarik ke arah penampilan Miharu.
Dari pakaian dan ciri fisik (seperti warna rambutnya, misalnya), sudah jelas bagi para pria itu bahwa dia adalah seorang orang asing. Wajahnya manis, dengan fitur-fitur yang terpahat indah, dan tubuh femininnya sungguh menawan — dia langsing, namun proporsional. Dari aura lembutnya yang berhasil memancarkan keanggunan sekaligus kelembutan, latar belakang asuhannya tampaknya setara dengan para bangsawan di dunia ini.
Angin yang bertiup lembut menipu, mengibarkan rok lipit kotak-kotaknya serta rambut hitam berkilau yang tergerai sampai ke punggungnya. Mata para pria itu melebar melihat pemandangan tersebut.
Miharu bisa merasakan dengan tajam tatapan lancang yang terpaku padanya, dan dia bergerak dengan tidak nyaman, mengalihkan pandangannya.
“****?” Seorang pria berpakaian rapi yang muncul dari entah di mana mengajukan pertanyaan kepada para pria yang telah membawa anak-anak muda itu. Matanya tertuju pada ikatan mereka dan menyipit tajam.
“**********. ******, ****, *******? ********.” Pemimpin itu melihat ke arah ketiga orang tersebut sambil mengatakan sesuatu dengan nada menyombongkan diri kepada pria berpakaian rapi itu, lalu menunjukkan tas sekolah yang tadi mereka bawa.
“**, *******.” Pria berpakaian rapi itu mengambil tas sekolah tersebut dan memeriksanya, sebelum mengeluarkan deheman kagum.
Ia menatap mereka bertiga, dan dengan senyum kemenangan, ia mendekati mereka dengan tatapan menilai di matanya. Ia memeriksa pakaian mereka secara lekat dari jarak sangat dekat, menyentuh setiap kain dan membelalakkan matanya karena kualitasnya.
Selanjutnya, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah kelompok tersebut, sebelum bergerak tepat di hadapan Miharu. Saat melihat wajah ketakutannya, sebuah senyum sadis terukir di wajahnya sendiri. “****, ******?” tanyanya, tetapi Miharu tidak dapat memahami kata-katanya dan hanya memiringkan kepalanya dengan takut-takut. Sebagai tanggapan, pria berpakaian rapi itu menampilkan senyum vulgar.
“*******. **********.” Ia menunjuk ke arah Miharu, lalu menggerakkan dagunya ke arah para pria di sekitarnya untuk mematuhi perintahnya; mereka langsung bergerak cepat untuk menanggapinya.
Mereka menarik tangan Miharu yang terikat dengan tali, membawanya pergi. Gerobak tempat ia dibawa memiliki kualitas yang lebih baik daripada yang lain, dengan penutup yang layak yang dapat berfungsi sebagai tempat berlindung dari cuaca.
Tidak sanggup melihat Miharu diseret pergi, Aki berteriak. “Miharu, tunggu!”

“Aki-chan, aku akan baik-baik saja. Kalian juga, Masato-kun… Kya?!”
Miharu sempat menoleh ke belakang saat digiring pergi untuk tersenyum kepada Aki dan Masato, tetapi tali tersebut ditarik dengan kasar, membuatnya kehilangan keseimbangan dan nyaris tersandung.
“Miharu!” teriak Aki dengan panik.
“Kya?!”
“Whoa!!”
Suara cambukan tajam bergema, membuat Aki dan Masato menciut ketakutan. Sumber suara itu berasal dari cambuk, yang dikendalikan dengan mahir oleh pria berpakaian rapi itu menggunakan tubuhnya yang gemuk. Ia terus mengayunkan cambuk itu sebagai ancaman terhadap Aki dan Masato.
“Uhh…” Aki sudah menciut sepenuhnya.
“****. ** **** ***** *******.” Pria berpakaian rapi itu melihat ketakutan Aki dan Masato lalu mendengus puas lewat hidungnya, menurunkan cambuknya, dan memberikan perintah kepada anak buah di dekatnya.
Orang-orang bersenjata itu bergerak, kali ini menyeret Aki dan Masato ke sebuah gerobak yang berbeda dari gerobak tempat Miharu dibawa.
Tanpa pilihan lain, Aki dan Masato naik ke atas gerobak; lantai gerobak itu terbuka, dan ada gerombolan anak laki-laki dan perempuan berusia sekitar sepuluh tahun berkumpul di dalamnya.
“M-Miharu… Apa yang harus kita lakukan, Masato? Apa yang harus kita lakukan…” tanya Aki kepada Masato. Dia berdiri di dalam gerobak dan mencengkeram jeruji besi, sangat kesal.
“A-Aki, aku mengerti perasaanmu, tapi mungkin lebih baik kita tetap diam,” bisik Masato kepadanya, mengkhawatirkan keadaan di sekitar mereka.
“Apa yang kamu bicarakan…” Aki mulai memprotes dengan nada cemberut saat dia menyadari anak-anak lain di dalam gerobak itu sedang memelototi mereka. Dia langsung menutup mulutnya.
Tidak ada secercah energi pun di wajah mereka, tetapi jelas bahwa mereka sedang memperingatkan Aki dan Masato. Mungkin mereka ingin menyuruh mereka untuk tidak membuat keributan dan memicu kemarahan para pengawal.
“Mari kita duduk dengan tenang untuk sekarang. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika kita membuat keributan,” bisik Masato ke telinganya, sebelum membaca situasi dan duduk di dalam gerobak. Mau tak mau, Aki akhirnya duduk di samping Masato dan menundukkan kepalanya dengan muram.
Tidak lama setelah itu, gerobak-gerobak yang ditumpangi Miharu, Aki, and Masato berangkat. Namun, dalam sekejap mata, sebuah keributan terjadi. Salah satu pengawal di sisi gerobak menunjuk ke arah pinggir jalan dan meneriakkan sesuatu.
“…Apa?” gumam Aki, mengangkat kepalanya.
Dia dengan gugup melihat ke luar gerobak dan mendengarkan dengan saksama. Meskipun dia tidak mengerti kata-kata mereka, dia menduga semacam kekacauan telah terjadi; pada saat yang sama, dia merasakan secercah harapan samar bahwa dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri, terlepas dari kenyataan bahwa pintu gerobak terkunci.
Pada saat itu, Aki melihat sesosok tubuh mendekat dari sisi jalan, tepat di sebelah gerobak tempat Miharu berada. Sosok itu tampak seperti seorang anak laki-laki berusia pertengahan belasan tahun.
“…Hah?”
Anak laki-laki itu mengenakan mantel yang dibayangkannya berfungsi sebagai perlengkapan perjalanan di dunia ini, tetapi ketika wajah anak laki-laki itu memasuki bidang pandangnya, Aki terkesiap. Rambutnya berwarna abu-abu, dan dia memiliki wajah yang sangat tampan, tetapi perhatian Aki tidak tertuju kepadanya karena hal itu.
Dia terkesiap karena anak itu tampak paling mirip dengannya — secara rasial — daripada siapa pun yang pernah ditemuinya di dunia ini sejauh ini. Jika dia harus menjelaskannya, anak itu tampak seperti blasteran Asia.
Anak laki-laki yang disebutkan tadi mendatangi gerobak dan mulai mengatakan sesuatu kepada para pengawal. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tetapi para pria itu jelas bersikap waspada terhadapnya.
Segera setelah itu, pria berpakaian rapi tersebut muncul untuk melihat apa yang sedang terjadi. Anak laki-laki itu mengatakan sesuatu, yang dijawab oleh pria berpakaian rapi itu dengan gelengan kepala mentah-mentah. Mereka tampaknya sedang berdebat tentang sesuatu.
Anak laki-laki berambut abu-abu itu kemudian sempat mengalihkan pandangannya ke arah konvoi gerobak, dan pria berpakaian rapi itu menoleh ke arah gerobak tempat Aki dan Masato berada. Dia segera membuang muka lagi, tetapi matanya sempat beradu dengan mata Aki sedetik.
Apakah dia datang ke sini untuk menyelamatkan kami? pikir Aki dalam hati penuh harap, dengan perasaan gelisah yang aneh di dadanya. Harapan yang muncul di tengah situasi putus asa seperti itu mungkin hanyalah bentuk optimisme murni, tetapi harapan itu tumbuh dengan kecepatan yang semakin meningkat.
Aki sedang menatap anak laki-laki itu dengan tatapan penuh kerinduan ketika, tiba-tiba, para pria di sekitar mereka dengan terburu-buru mulai menurunkan penutup gerobak yang terbuka. Penutup gerobak tempat Aki dan Masato berada juga diturunkan.
Kenapa mereka menyembunyikan kita?
Aki merasakan kecurigaan yang kuat. Haruskah dia mengambil tindakan dan mencari pertolongan? Bagaimana jika dia salah menilai situasi ini? Melakukan hal itu bisa membuatnya menghadapi akibat yang mengerikan nantinya.
Apakah anak itu bahkan akan mempercayai keadaannya sejak awal? Dia tidak tahu.
Namun, ini bisa menjadi titik balik takdir mereka — kesempatan terakhir yang mungkin ada bagi mereka untuk diselamatkan. Jika memang begitu, dia tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu.
Tidak mampu menahannya lagi, Aki bangkit berdiri dengan penuh semangat. “T-Tolong kami!” serunya putus asa, meminta pertolongan kepada anak laki-laki tersebut.
Tatapan anak laki-laki itu beradu dengan mata Aki, dan sedetik kemudian, penutup gerobak diturunkan di hadapan Aki.
Komentar