Seirei Gensouki Volume 22 Bab 6: Tanya Jawab Pahlawan Bahasa Indonesia
Bab 6: Tanya Jawab Pahlawan
Keesokan harinya, Satsuki, Masato, and Takahisa dipandu oleh Charlotte dan Lilianna untuk mengunjungi ruang makan di kastil. Francois ingin membicarakan sesuatu dengan mereka, jadi mereka akan makan siang bersama dengannya.
“Silakan lewat sini.”
Seorang kesatria membukakan pintu ruang makan dan Charlotte memberi isyarat agar mereka masuk. Ketika Satsuki dan yang lainnya memasuki ruangan, mereka mendapati ruangan itu sudah diisi oleh tamu lain: Putri Pertama Beltrum Christina dan Putri Kedua Flora, pahlawan Hiroaki, Roanna, dan Duke Huguenot.
“Putri Christina! Putri Flora!” Satsuki berlari menghampiri gadis-gadis yang sudah dianggapnya sebagai teman baik. Ekspresi Christina dan Flora langsung cerah sebagai tanggapan. Mereka berdiri untuk menyambutnya.
“Sudah lama tidak berjumpa, Lady Satsuki.”
“Merupakan suatu kehormatan bisa berada di dekat Anda lagi.”
Satsuki mengerutkan kening dengan sedih, tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Aku mendengar tentang apa yang terjadi di Rodania. Kalian pasti telah menderita banyak hal.”
“Terima kasih atas kata-kata baik Anda. Kami diselamatkan oleh kelompok Profesor Celia dan Sara, jadi tolong sampaikan salam kami kepada mereka nanti,” kata Christina. Flora menundukkan kepalanya di sampingnya.
“Kami akan mengundang kalian berdua ke mansion di lain kesempatan, jadi silakan datang berkunjung lagi,” kata Charlotte, bergabung dalam percakapan.
“Kami dengan senang hati akan datang.”
“Tentu saja.”
Kedua kakak beradik itu menjawab bersahut-sahutan.
“Senang bisa melihatmu lagi juga, Hiroaki. Aku senang melihatmu tidak terluka.” Satsuki duduk di dekat sana dan menatap ke arah Hiroaki. Meskipun hubungan di antara mereka bukanlah yang terburuk, itu juga tidak bisa dibilang baik. Tak satu pun dari mereka biasanya repot-repot mengajak bicara satu sama lain ketika tidak ada hal yang ingin dikatakan. Dalam situasi seperti ini, Satsuki adalah orang yang biasanya menyapanya terlebih dahulu, namun hanya disambut dengan wajah tidak suka.
“Ya. Terima kasih.” Hiroaki melirik ke arah Satsuki tanpa bangkit dari tempat duduknya. Jawabannya singkat, tetapi tidak bernada memusuhi. Mata Satsuki sedikit melebar mendengarnya.
“Selamat siang, Sakata. Apakah kamu mengingatku? Aku pernah menyapamu sekali di perjamuan.”
Takahisa mendekati Hiroaki untuk memberikan salamnya juga.
“Kamu adalah… Benar, kamu pahlawan dari Centostella. Jadi, anak kecil di sebelah sana itu pasti pahlawan yang baru.”
Hiroaki sepertinya mengingat Takahisa.
“Halo, aku Sendo Masato.”
“Sakata Hiroaki,” jawab Hiroaki sambil mengangkat bahu sedikit.
“Semuanya. Ayahku akan segera tiba, jadi silakan duduk di tempat masing-masing,” seru Charlotte kepada semua orang, setelah menerima isyarat dari ksatria di samping pintu yang bertugas mengumumkan kedatangan. Saat Satsuki dan yang lainnya duduk di tempat mereka, Raja Francois dari Galarc memasuki ruang makan.
“Terima kasih sudah berkumpul hari ini, semuanya—silakan duduk. Ada beberapa topik dalam agenda yang tidak cocok dibahas saat makan, jadi mari kita nikmati makanannya terlebih dahulu.”
Begitu Francois selesai berbicara, makanan dibawa masuk ke dalam ruangan. Maka dimulailah pesta makan siang dengan empat pahlawan, tetapi suasana di dalam ruangan sama sekali tidak cerah. Semua orang sedang menyantap hidangan mereka—kalau boleh dibilang, makanan itulah yang membuat mulut mereka sibuk sehingga tidak berbicara. Kemudian, setelah semua orang akhirnya selesai makan…
“Sekarang, mari kita langsung ke pokok permasalahan. Alasan mengapa aku mengumpulkan para pahlawan di sini hari ini tidak lain adalah untuk membahas kejatuhan Rodania. Nona Satsuki pasti sudah mendengar tentang hal ini, tetapi telah dilaporkan bahwa pahlawan es membantu Kerajaan Beltrum dalam serangan ke Rodania,” mulai Francois, sambil memandangi wajah setiap orang.
“Masalahnya adalah kekuatan yang ditampilkan oleh pahlawan es tersebut. Dalam sekali serang, pahlawan es itu membekukan seratus sekian Ksatria Udara yang melindungi Rodania, membuat mereka jatuh dari langit,” lanjutnya.
“…”
Wajah-wajah menjadi kaku saat kelompok itu merasakan suatu bentuk kegugupan.
“Jumlah ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Pahlawan itu menghadapi pasukan terbang yang tersebar di udara, namun masih mampu melakukan kehancuran separah itu. Putri Christina memperkirakan bahwa jika dia menggunakan kekuatan itu terhadap pasukan di darat, dia bisa menghabisi lebih dari seribu prajurit.”
“S-Seribu?!”
Semua orang selain Satsuki, Masato, dan Takahisa—yang sudah mendengar hal ini sebelumnya—kehilangan kata-kata mendengar angka tersebut.
“Jika kekuatan itu hanya bisa digunakan sekali dalam setiap pertempuran, maka negara hanya akan menganggapnya sebagai ancaman berat yang tidak bisa diabaikan. Namun, jika kekuatan itu dapat digunakan beberapa kali, atau jika ada kekuatan yang bahkan lebih besar… Kita berpotensi menghadapi krisis nasional.”
“Apa maksudmu dengan berpotensi?” tanya Satsuki dengan gugup.
“Aku merujuk pada potensi seorang pahlawan yang memutuskan untuk menggunakan kekuatan mereka melawan kita. Para pahlawan memiliki kekuatan untuk membunuh seribu prajurit dalam satu gerakan. Jika kekuatan semacam itu dapat digunakan secara berulang kali, memobilisasi tentara hanya akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia.” Francois menunjukkan bahaya para pahlawan secara langsung.
“Apa-Apa yang kamu katakan?! Kami tidak akan pernah melakukan itu!” Takahisa pasti merasa seolah-olah dia telah dikritik karena menjadi seorang pahlawan, jadi dia berdiri dan berteriak kepada Francois sebagai bentuk protes.
“Tentu saja, aku yakin bahwa tidak seorang pun yang berpikiran sehat akan melakukan hal seperti itu. Aku menaruh kepercayaan pada semua pahlawan di sini hari ini,” jawab Francois dengan tenang.
“Silakan kembali ke tempat duduk Anda, Tuan Takahisa.”
Ditenangkan oleh kata-kata pelan Lilianna, Takahisa duduk kembali dengan ekspresi pahit.
“Aku harus menekankan hal ini untuk menghindari kesalahpahaman: Aku tidak melihat para pahlawan yang hadir di sini sebagai ancaman. Aku memandang pahlawan es, yang secara sengaja menggunakan kekuatannya dalam konflik bangsa lain, sebagai ancamannya. Aku meminta pengertian kalian tentang hal itu sebelum aku melanjutkan,” ujar Francois, sambil menatap mata setiap pahlawan dengan cermat.
“Tidak apa-apa, aku mengerti,” ucap Satsuki.
“Aku juga,” jawab Masato.
“Hmm…” Hiroaki mengangkat bahunya untuk menyampaikan pengertiannya tanpa sepatah kata pun.
“…Benar.” Takahisa mengangguk.
“Sebagai pemimpin kerajaan ini, aku mengharapkan cara untuk memperkirakan kekuatan pahlawan es. Tentu saja, pahlawan es tersebut tidak dapat dihubungi secara langsung. Itulah sebabnya aku mengumpulkan para pahlawan yang bersahabat dengan kerajaan kita di sini hari ini. Aku sudah menjelaskan hal ini kepada Tuan Hiroaki, tetapi aku ingin meminta kalian semua untuk menunjukkan jurus terkuat kalian,” kata Francois, akhirnya menjelaskan alasan sebenarnya di balik jamuan makan siang tersebut.
“Apakah itu berarti Sakata…” Satsuki menatap Hiroaki.
“Ya, aku sudah setuju untuk bekerja sama. Pahlawan es di pihak musuh adalah masalah bagi kaum Restorasi juga. Yang berarti itu adalah masalahku.” Pernyataan Hiroaki menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap kaum Restorasi.
“Hah…” Satsuki menatapnya dengan rasa ingin tahu, melihatnya dari sudut pandang yang baru.
“Aku juga ingin menekankan bahwa ini adalah sebuah permintaan. Kalian sama sekali tidak dipaksa untuk berpartisipasi. Menolak juga tidak akan mendatangkan kesulitan atau kerugian apa pun bagi kalian. Aku bersedia menunggu jika kalian ingin meluangkan waktu beberapa hari untuk mempertimbangkan jawabannya, dan aku terbuka untuk menjawab setiap pertanyaan kalian,” ujar Francois kepada para pahlawan.
“Kalau begitu… aku ingin bertanya sesuatu.”
Satsuki perlahan mengangkat tangannya.
“Ada apa, Lady Satsuki?”
“Mengenai kekuatan seorang pahlawan… Sebagai pahlawan Kerajaan Galarc, kamu bisa mengukur kekuatanku kapan pun kamu mau. Bukankah begitu?”
“Dengan persetujuanmu, ya.”
“Tapi kamu tidak pernah meminta izin kepadaku. Kamu bahkan tidak pernah memintaku untuk menunjukkan kekuatan pahlawanku. Kupikir kita pernah membahas sesuatu yang serupa sebelumnya, bisakah kamu jelaskan sekali lagi, di hadapan semua pahlawan di sini?” Satsuki melihat sekeliling ke arah para pahlawan lainnya saat dia berbicara.
“Tentu saja, aku bisa saja memintamu untuk menunjukkan kekuatanmu demi membuktikan dirimu sebagai seorang pahlawan. Namun, dari situasi saat itu sudah jelas bahwa kamu cocok dengan legenda para pahlawan…” kata Francois, terkekeh seolah ada sesuatu yang menggelikan.
“Ada beberapa alasan mengapa aku tidak meminta hal itu, tetapi alasan utamanya adalah aku menganggap para pahlawan memiliki status yang setara dengan para penguasa suatu negara. Aku ingin menjalin hubungan yang baik sejak awal, jadi aku tidak ingin membuat tuntutan apa pun yang tidak ingin aku terima jika berada di posisiku. Sebagaimana wajarnya saat berinteraksi dengan seseorang yang berstatus setara,” tambahnya sebagai penjelasan.
“…” Satsuki terdiam menunggu Francois melanjutkan.
“Bukankah menurutmu itu tidak pantas? Seberapa besar kekuatan yang kau miliki bukanlah masalah. Tidak ada kebutuhan politik, keuangan, atau kebutuhan lainnya untuk sebuah demonstrasi. Meminta kalian memamerkan kekuatan semata-mata karena rasa penasaran adalah tindakan yang tidak sopan, bukankah begitu?”
“Aku mengerti maksudmu, tapi apakah benar-benar tidak ada kebutuhan sama sekali?”
Kekuatan seorang pahlawan seharusnya memiliki banyak kegunaan militer bagi kerajaan. Satsuki bertanya mengapa Francois tidak menunjukkan ketertarikan dengan cara yang berputar-putar.
“Kerajaan Galarc makmur. Tidak ada perang yang sedang terjadi, dan kerajaan tidak berada dalam ancaman kehancuran. Kami tidak punya niat untuk menyerang siapa pun. Untuk apa kami menggunakan kekuatan legendaris di masa-masa damai seperti ini? Meskipun aku akui aku sempat merasa penasaran terhadap kekuatan itu,” kata Francois dengan jujur.
“Jika Anda penasaran, mengapa Anda tidak menyelidikinya?” tanya Takahisa dari samping.
“Seperti yang sudah kukatakan, karena itu tidak pantas. Dan, seperti yang juga kukatakan, karena aku ingin membentuk hubungan yang setara dengan Lady Satsuki. Sangat mudah untuk merasa jijik pada orang-orang yang bersikap tidak pantas kepadamu, bukan?” Memiliki ketertarikan pada sesuatu tidak serta-merta berarti hal itu perlu diselidiki, begitulah pemikiran Francois.
Takahisa terus menatap Francois dengan penuh kecurigaan seolah ingin berkata, “Anda berkata begitu, tapi Anda tetap ingin menyelidikinya,” namun Francois sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapannya yang tidak sopan itu.
“Hal itu akan berbeda cerita jika Lady Satsuki menawarkan diri untuk menguji kekuatannya sendiri, tetapi aku tidak akan pernah membuat permintaan seperti itu kepadanya semata-mata karena rasa penasaran. Paling buruk, Lady Satsuki bisa menjadi waspada terhadapku. Sekalipun ada kebutuhan untuk menyelidiki kekuatan tersebut, aku akan mengajukan permintaannya setelah sejumlah kepercayaan berhasil dibangun terlebih dahulu. Dan itulah mengapa aku berada di sini sekarang,” ujar Francois secara terang-terangan. Dia kemudian memandang ke arah para pahlawan. “Ada hal lain yang ingin kutanyakan kepada kalian semua.”
“Ya?” jawab Satsuki mewakili yang lain.
“Aku baru menyaksikan perilaku Lady Satsuki dari dekat, tetapi jika menyangkut kekuatan sejati para pahlawan, apakah aku salah jika mengatakan bahwa kalian yang lain juga belum menyelidiki potensi penuh dari kekuatan kalian? Bagiku, tampaknya meskipun kalian memiliki kesempatan untuk melepaskan seluruh kekuatan kalian, tidak seorang pun dari kalian yang akan mencoba menguji batasan kalian dan mendambakan kekuatan yang bahkan lebih besar,” kata Francois.
“Itu karena aku tidak punya niat untuk menggunakannya!” jawab Takahisa lebih dulu, menyuarakan prinsip moralnya yang kuat.
“Aku sependapat dengan Takahisa. Aku juga tidak pernah berencana menggunakannya.”
“Begitu juga denganku.”
Meskipun tanggapan mereka tidak terlalu bersemangat, Satsuki dan Masato setuju dengannya.
“Yah, benar. Begitu kami sedikit serius, kami bisa menghasilkan serangan yang menghancurkan. Rasanya kami tidak ingin melemparkan diri ke dalam perang, jadi untuk apa kami menginginkan kekuatan yang lebih besar lagi? Kekuatannya sendiri sangat intuitif, jadi tidak ada buku petunjuknya juga.” Hiroaki menyetujui ketiganya sambil mengemukakan pendapatnya sendiri.
“Jika aku boleh menambahkan satu hal, aku juga khawatir kamu akan mewaspadai diriku jika aku meminta untuk mencari tahu lebih banyak tentang kekuatan pahlawanku. Bukan berarti aku tidak tertarik pada kekuatan seorang pahlawan, tetapi aku pikir akan menjadi masalah jika aku terlalu memamerkan kekuatanku,” kata Satsuki, menambahkan sudut pandang yang berbeda.
“Bwa ha ha! Aku sangat menghargai sisi penuh pertimbangan dari dirimu itu, Lady Satsuki.” Francois tertawa terbahak-bahak.
“Aku juga menghargai Anda karena telah menjadi raja yang penuh pertimbangan, Yang Mulia.”
“Kalau begitu, mari kita bicara lebih blak-blakan satu sama lain. Aku akan jujur kepada kalian—aku takut dengan apa yang akan terjadi pada kerajaan jika seseorang dengan kekuatan luar biasa muncul. Jika kalian tidak ingin menggunakan kekuatan sejati seorang pahlawan, maka akan lebih menguntungkan bagi kerajaan jika kalian tetap menyegel kekuatan itu. Kerajaan Galarc berada di bawah pemerintahan yang stabil sebelum kehadiran seorang pahlawan, jadi tidak ada kebutuhan untuk menggunakan kekuatan legendaris itu—hanya meminjam pengaruh kalian saja sudah cukup,” kata Francois, mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya.
Segalanya mungkin akan berbeda jika kekuatan pahlawan dikendalikan oleh kehendak Francois, tetapi pihak yang memiliki kekuatan tersebut adalah para pahlawan yang statusnya setara dengan raja. Kehendak bebas seorang gadis belaka tentu berbeda dengan kehendak raja suatu negara.
Sebagai penguasa kerajaan, adalah hal yang wajar untuk takut pada kekuatan yang tidak dapat dikendalikan, kekuatan yang cukup besar untuk menghancurkan kerajaan. Di Bumi modern, hal itu setara dengan seorang individu yang memiliki senjata nuklir alih-alih sebuah negara.
“Jika kami bekerja sama dengan kerajaan dalam hal ini… Kami mungkin akan ketahuan memiliki kekuatan yang sama besarnya dengan pahlawan es, ya?” Satsuki tiba-tiba bertanya.
“Memang benar.”
“Bukankah setelah itu kami akan dianggap sebagai ancaman? Bukankah Anda akan khawatir kalau kami akan mengarahkan kekuatan kami untuk melawan kerajaan? Aku yakin sangat menakutkan bagi kerajaan jika ada seorang individu yang memiliki kekuatan sebesar itu.”
Mempertimbangkan pembantaian yang telah dilakukan oleh pahlawan es Renji, sudah terbukti bahwa kekuatan para pahlawan adalah sebuah ancaman. Satsuki memperhitungkan hal itu saat ia bertanya kepada Francois dengan sungguh-sungguh.
“Apakah kalian akan dianggap sebagai ancaman atau tidak itu tergantung pada tingkat kepercayaan yang kita miliki. Dalam kasus kalian, aku punya banyak waktu untuk memastikan karakter kalian sejak saat kalian dipanggil hingga sekarang. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mempercayai kalian dan membuat permintaan agar kalian menguji kekuatan pahlawan kalian sepuas hati. Inilah jawaban yang kuambil.” Francois menatap langsung ke mata Satsuki saat ia menjawabnya.
“Karena Yang Mulia telah bersikap sopan seperti ini, aku ikut. Sebagai pahlawan Kerajaan Galarc, aku bersumpah untuk mengerahkan seluruh kekuatanku,” kata Satsuki, menjanjikan kerjasamanya.
“Apakah kamu yakin? Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak mencari jawaban langsung.”
“Aku memiliki tingkat kepercayaan yang sama kepada Anda sebagai raja. Aku juga menganggap Char sebagai teman yang tak tergantikan. Dengan orang-orang seperti Anda yang memimpin Galarc, aku dengan senang hati memberikan jawabanku di sini dan saat ini juga.”
“Begitu ya… Terima kasih,” kata Francois, memberikan tatapan penuh apresiasi kepada Satsuki.
“T-Tunggu sebentar, Satsuki. Bukankah itu terlalu gegabah? Kamu harus berpikir lebih matang sebelum memberikan jawaban,” kata Takahisa buru-buru.
“Takahisa…”
“Bagaimana jika permintaannya tidak berhenti pada sekadar memamerkan kekuatanmu? Bagaimana jika situasinya berubah dan dia memintamu untuk menggunakan kekuatan itu? Jika kita menggunakan kekuatan kita dalam perang, kita akhirnya akan membunuh sejumlah besar orang. Bukankah begitu?”
Alih-alih menatap Satsuki, Takahisa membalas menatap Francois dengan tatapan menuduh.
“Jika pahlawan es itu suatu saat mengancam kerajaan kita dengan kekuatannya, aku mungkin akan meminta Lady Satsuki berdiri di garis depan sebagai pencegah. Namun, itu murni akan menjadi pencegah. Aku hanya akan memintanya menggunakan kekuatannya melawan pasukan musuh sebagai upaya terakhir dari yang terakhir. Dan bahkan jika itu terjadi, aku akan menyerahkan keputusan akhirnya kepada Lady Satsuki sendiri. Aku sama sekali tidak berniat menggunakan kekuatan seorang pahlawan sebagai agresor. Fokusku murni untuk pertahanan, yaitu menggunakan kekuatan itu sebagai pencegah.” Sebagai balasan, Francois menjawab sambil menatap Satsuki alih-alih Takahisa.
“Kamu bilang kamu tidak akan menggunakan kekuatan seorang pahlawan untuk perang?”
“Frasa itu menyiratkan bahwa aku sama sekali tidak akan menggunakan para pahlawan untuk perang. Yang aku katakan adalah aku ingin menggunakan kekuatan mereka sebagai pencegah,” koreksi Francois seketika.
“Meskipun begitu, tidak ada jaminan kamu akan berhenti hanya pada pencegah,” gerutu Takahisa sambil mengerutkan kening. Dia tidak begitu condong untuk mempercayai Francois seperti halnya Satsuki, yang mungkin menjadi alasan mengapa di matanya Satsuki tampak sedang ditipu.
Meskipun ada hubungan saling percaya antara Satsuki dan Francois, hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Takahisa dan Francois. Takahisa dipanggil di Kerajaan Centostella, jadi tidak ada yang bisa dilakukan mengenai hal itu, tetapi…
“Itu mungkin benar. Namun, aku sudah menyampaikan kebijakanku terhadap militer musuh. Anda tampaknya berada di bawah kesan bahwa kerajaan secara aktif berusaha untuk terlibat dalam perang, Sir Takahisa. Meskipun memang ada beberapa negara yang mengerahkan tenaga mereka untuk perang, semuanya bermuara pada sang pemimpin—dan aku bisa berjanji kepada Anda bahwa aku tidak menikmati perang. Ada kalanya aku tidak punya pilihan selain menganggapnya sebagai sarana diplomasi, tetapi aku tidak akan pernah melakukannya secara sukarela,” kata Francois setelah sedikit menghela napas.
“Kenapa begitu?” Takahisa terus menyuarakan keraguannya.
“Pertama-tama… Meskipun aku tidak akan sampai menyebutnya sia-sia, biaya ekonominya terlalu berat. Memobilisasi tentara membutuhkan sejumlah besar sumber daya. Senjata harus ditempa, warga negara direkrut, makanan dicari, pasukan dikirim, perbekalan diangkut… Terlalu banyak hal yang harus disebutkan,” jelas Francois sebagai keraguan pertamanya.
“Meskipun bisa bergantung pada skalanya, perang adalah beban bagi seluruh kerajaan. Perang juga menyebabkan warga negara menumpuk stres. Namun kemenangan hanya membawa sedikit kompensasi. Ketidakpuasan di seluruh negeri tetap ada setelah perang, jadi akibat dari perang membawa lebih dari sekadar biaya ekonomi,” lanjutnya, menawarkan sudut pandang dari para warga yang terpaksa masuk ke dalam perang.
“Orang-orang bukanlah bidak yang tidak punya pikiran. Begitu kemenangan diraih, imbalan atas jasa besar dan kompensasi atas kerusakan akan menjadi topik yang tak terhindarkan. Setiap keputusan yang dibuat akan disambut dengan kritik dan tuduhan, menumpuk lebih banyak ketidakpuasan. Dan mereka yang paling banyak berkontribusi pada kemenangan akan mendapatkan kekuatan untuk membentuk faksi-faksi baru.” Dengan wajah lelah, dia menambahkan poin terakhirnya sebagai pukulan telak.
“Aku tidak tahu tentang raja-raja lain, tetapi aku akan meminta situasinya jauh lebih besar daripada kerugian-kerugian tersebut sebelum aku dengan sukarela mencari perang sendiri. Atau, situasinya memiliki sangat sedikit kerugian sejak awal. Yah, kurasa kekuatan para pahlawan bisa digunakan secara paksa dalam hal itu.”
“Tunggu, kalau begitu…!” Takahisa mulai berbicara, tetapi—
“Hanya karena aku bisa, bukan berarti aku akan melakukannya. Aku tidak akan melakukan itu,” tegas Francois terlebih dahulu.
“Kenapa…?”
“Seperti yang sudah kukatakan, fokusku murni defensif, untuk menggunakan kekuatan itu sebagai pencegah. Aku juga bilang bahwa aku ingin membentuk hubungan baik dengan Lady Satsuki. Bahkan jika para pahlawan benar-benar memiliki kekuatan untuk menghancurkan sebuah bangsa, itu tidak berarti mereka secara aktif mengharapkan kehancuran, bukan?” kata Francois, dengan tenang membedah argumen itu poin demi poin.
“Seseorang dapat disiksa oleh terlalu banyak kekuatan di tangan mereka. Melakukan ini akan seperti mempercayakan kekuatan pencegah suatu kerajaan kepada satu orang tunggal. Beban mental Lady Satsuki juga harus dipertimbangkan. Aku ingin menekankan bahwa aku tidak akan memaksanya melakukan apa pun,” kata Francois, menatap Satsuki dengan penuh arti.
“Sudah cukup, Takahisa. Aku tahu kamu mengkhawatirkanku, tapi jawabanku tidak akan berubah.” Satsuki mencoba meredakannya dengan desahan.
“Tapi…”
“Aku mempercayai Kerajaan Galarc di bawah pemerintahan Raja Francois. Jika pahlawan es mengancam kerajaan ini, aku juga tidak bisa menutup mata,” katanya dengan jelas menanggapi keengganan Takahisa.
“Jadi, kamu akan melawan pahlawan es itu jika dia menyerang?”
“Benar… Jika aku merasa tidak punya pilihan lain, aku akan melakukannya.”
“Kenapa?” tanya Takahisa, tidak mampu memahaminya.
“Karena ini masalahku juga. Jika pahlawan es itu mengalahkan militer, musuh akan berbaris menyerbu kastil ini.”
“Tentu, itu mungkin memengaruhi kamu—tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk ikut bertarung juga.”
“Jadi kamu tidak akan bertarung jika Kastil Centostella sedang diserang?”
“Membuat pengandaian yang ekstrem hanya akan mengalihkan inti pembicaraan…”
“Akan terlambat saat pengandaian itu terbukti benar, dan aku juga tidak menganggapnya terlalu ekstrem. Pahlawan es itu memiliki rekam jejak menyerang Rodania. Banyak orang tewas, dan Christina serta yang lainnya terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawa mereka.”
Satsuki melirik ke arah kelompok dari Restorasi saat dia menyampaikan argumennya.
“Tapi jika kamu terus berjalan di jalur itu, pada akhirnya, kamu akan menggunakan kekuatanmu untuk melawan orang lain. Jika kita menggunakan kekuatan kita, orang-orang akan mati. Mereka akan berjatuhan seperti lalat. Aku tidak menginginkan itu. Membunuh seseorang hanya karena mereka mengancammu benar-benar biadab…” Takahisa terbawa emosi dan membalas argumen dengan nada jijik yang jelas.
“Begitu ya. Kamu tidak ingin bertarung karena kamu tidak ingin membunuh orang.”
“Bukankah itu hal yang wajar?”
“Benar, wajar. Aku juga tidak ingin membunuh siapa pun. Aku tidak menikmati pertarungan. Tapi jika aku tidak melindungi diriku sendiri, siapa yang akan melindungiku? Kita tidak bisa hidup dalam damai jika kita tidak melindungi diri kita sendiri.”
“Itu bukan berarti kamu bisa membunuh orang karenanya. Perdamaian tidak ada artinya jika kamu harus melakukan kejahatan untuk mendapatkannya. Mencoba melawan kekuatan dengan kekuatan hanya akan mengakibatkan lebih banyak nyawa yang dikorbankan. Jika kedua belah pihak menolak untuk mengalah sedikit pun, pertarungan itu hanya akan berakhir ketika salah satu pihak hancur total.”
“Apa yang kamu katakan terdengar jauh lebih ekstrem bagiku… Dan secara pribadi, aku tidak percaya perdamaian dapat terwujud tanpa adanya kekuatan. Harus ada kekuatan yang berperan sebagai pencegah agar orang-orang tidak saling membunuh.”
Baik Satsuki maupun Takahisa sama-sama tidak mau mengalah dari pendirian mereka. Hingga…
“Jadi, pahlawan dari Centostella.”
Hiroaki, yang sedari tadi mengamati mereka dalam diam, menyela dengan nada jengkel.
“Apakah kamu sedang berbicara kepadaku?” Takahisa memiringkan kepalanya dengan ekspresi curiga.
“Ya, kamu. Anggap saja ada sepuluh orang di sebuah ruangan dengan sepuluh senjata. Salah satu dari orang itu adalah kamu. Sekarang, enam dari orang-orang itu adalah orang baik dan ramah kepadamu. Tapi tiga sisanya adalah keparat. Mereka mengambil senjata dan mengancam kalian semua. Apa yang akan kamu lakukan?”
Hiroaki tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Takahisa dengan situasi rekaan.
“Apa? Pakai pengandaian yang tidak realistis lagi?” Takahisa mengerutkan kening.
“Jawab saja,” desak Hiroaki.
“Hukum ada karena suatu alasan. Aku seharusnya tidak perlu melakukan apa pun, karena tidak ada orang normal yang akan melakukan kejahatan sekejam itu.”
“Sayangnya, ada para idiot di dunia ini yang mengabaikan hukum. Jika orang-orang seperti itu mengambil senjata untuk mengancammu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan bernegosiasi dengan mereka sebelum mencapai tahap itu dan meninggalkan ruangan.”
“Bagaimana jika ketiga orang yang bersenjata itu bilang tidak, mereka tidak membiarkanmu pergi?”
“Aku akan meyakinkan mereka,” jawab Takahisa tanpa ragu.

“Dan bagaimana jika kamu gagal?”
“Aku tidak akan menyerah. Aku akan memastikan mereka mendengarkan.”
“…Apa kamu serius? Kamu mungkin akan dibunuh karena menyebalkan pada tahap itu. Kurasa kalau kamu tidak mau melawan, itu hidupmu… Tapi bagaimana jika gadis yang kamu cintai ada di dalam sana dan orang-orang bersenjata itu mencoba meraba-rabanya? Apakah kamu masih akan mencoba membicarakannya baik-baik? Satsuki dan King Francois bilang mereka tidak akan membiarkan orang-orang itu berbuat semaunya. Mereka akan mengangkat senjata untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi. Dan aku sependapat dengan mereka.”
“Memperkeruh situasi sampai orang-orang saling bunuh justru adalah jenis pengorbanan tak bermakna yang aku maksud. Mengangkat senjata demi menghindari pertikaian adalah hal yang kontradiktif dan absurd… Pasti ada pilihan lain selain bertarung!”
“Itulah kenapa untuk menghindari pengorbanan yang tak perlu, kita… Percuma saja. Orang ini sama sekali tidak punya ikatan dengan kenyataan. Apa kamu yakin dia bukan sekadar pengecut yang tidak mau mengotori tangannya sendiri?”
Hiroaki menghela napas berat saat rasa frustrasinya menumpuk ketika ia berbicara.
“A-Apa maksudmu dengan itu? Kalianlah yang tidak melihat kenyataan. Kalian memperlakukan nyawa manusia seperti bukan apa-apa. Kalian tidak melihat manusia sebagai manusia!” kata Takahisa dengan marah.
“Itu cuma pendapatmu. Dan yang kulakukan hanyalah menyampaikan pendapatku. Ngomong-ngomong, bisakah kita singkirkan saja orang ini karena perbedaan nilai, King Francois?” Tidak ingin berbicara dengan Takahisa lagi, Hiroaki beralih kepada Francois.
“Aku tidak pernah berniat memksa siapa pun untuk berpartisipasi sejak awal,” jawab Francois sambil mengangkat bahu. “Kebutuhan untuk mengukur kekuatan seorang pahlawan muncul, jadi aku mengajukan permintaan kepada kalian yang ingin bekerja sama. Segala hal tentang kekuatan penangkal dan semacamnya tidak relevan dengan situasi saat ini. Tidak perlu memutuskan hal-hal itu pada detik ini juga. Sir Takahisa adalah pahlawan Centostella—apakah Anda punya pendapat yang ingin disampaikan, Princess Lilianna?” tanyanya, meminta pandangan Lilianna.
“Aku juga tidak berada dalam posisi untuk memaksakan kehendak Sir Takahisa.”
Hingga saat ini, Lilianna telah mengawasi perdebatan tersebut dalam keheningan. Tidak ada emosi yang bisa dibaca dari ekspresinya. Namun, Takahisa sepertinya merasakan sesuatu, saat ia menutup mulutnya setelah sekilas menatap mata indahnya.
“Begitu ya…” ucap Francois sambil menghela napas.
“Kalau begitu sudah diputuskan. Satsuki dan aku akan berpartisipasi. Bagaimana denganmu, pahlawan baru?” Kehilangan minat pada Takahisa, Hiroaki beralih kepada Masato.
“Aku juga akan bekerja sama,” terima Masato dengan sigap.
“H-Hei, Masato!” Takahisa tidak bisa mengabaikan jawaban Masato.
“Apa? Kamu tidak punya hak untuk memberiku perintah, Kak. Setelah mendengarkan semua yang kalian diskusikan, aku memutuskan kalau aku sependapat dengan Satsuki,” jawab Masato dengan tegas.
“Apa kamu benar-benar mengerti situasinya?! Kamu bisa saja berakhir membunuh seseorang!”
“Bukannya itu intinya. Kita sedang membicarakan bagaimana cara menghadapi pahlawan es jika dia memutuskan untuk menyerang lebih banyak negara. Kalau kamu tidak punya niat untuk bertarung, maka duduk saja di sana dan tutup mulutmu. Mengkritik orang-orang yang bertarung demi kamu sementara kamu bersembunyi di zona aman adalah perbuatan seorang pengecut.”
“A-Aku punya hak atas kebebasan berbicara. Dan aku juga tidak ingin mendengar itu darimu, Masato. Apa kamu bilang orang-orang yang ikut serta dalam perang itu lebih superior? Pemikiran seperti itu mengarah pada totaliterisme.”
“Aku tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan. Aku tidak sedang membahas siapa yang lebih superior atau hal totaliter itu. Aku sedang membahas tentang membela diri dari penyerang. Jika situasinya tetap akan berakhir dengan pertarungan, maka aku ingin bisa melawan sebelum hal itu terjadi,” balas Masato, memanaskan perdebatan di antara kedua bersaudara itu.
“Huh. Hei, Satsuki?” panggil Hiroaki kepada Satsuki di sampingnya.
“…Ya?”
“Mereka itu bersaudara?”
“Ya, benar. Kakaknya adalah Sendo Takahisa, dan adiknya adalah Sendo Masato,” kata Satsuki, mengenalkan keduanya.
“Wah, jadi adiknya punya pikiran yang lebih jernih.” Hiroaki mencibir tanpa repot-repot merendahkan suaranya.
“Apa…” Takahisa mengerutkan kening ke arahnya, tersinggung oleh kata-katanya.
“Pahlawan berwajah rupawan, apa yang kamu lakukan itu adalah totalitarianisme itu sendiri, tahu? Kamu mencoba memaksa Satsuki dan Masato agar memiliki pendapat yang sama denganmu, kan?”
“Apa… Bukan begitu! Yang kuinginkan hanyalah—”
“Baik Satsuki maupun Masato tidak menyuruhmu untuk bertarung, kan?” ejek Hiroaki.
“Guh…” Takahisa mengatupkan giginya dan mengepalkan tangan dengan kesal.
Menyadari bahwa jika hal ini diteruskan hanya akan menjadi pertengkaran tak berguna, Satsuki menyela sebagai penengah. “Baiklah, bagaimana kalau kita cukupkan sampai di sini? Topik kali ini adalah apakah kita akan membantu penyelidikan mengenai output maksimum dari kekuatan pahlawan kita. Sakata, Masato, dan aku akan bekerja sama. Takahisa tidak harus melakukan apa pun yang tidak ingin dia lakukan. Kita diberitahu bahwa tidak ada penalti jika tidak berpartisipasi, dan kurasa kita sudah cukup mendiskusikan pandangan masing-masing sekarang.”
“Benar. Lagian aku tidak peduli apakah pria itu ikut berpartisipasi atau tidak. Aku sama sekali tidak tertarik untuk membujuknya,” setuju Hiroaki, mengalah dengan mudah.
“Aku—aku tidak salah…” gumam Takahisa dengan ekspresi cemberut.
“Kalau begitu, kita akan melanjutkan dengan Tuan Hiroaki, Lady Satsuki, and Tuan Masato sebagai peserta. Akan merepotkan jika para bangsawan di kastil mengetahui tentang penyelidikan ini dan membuat keributan, jadi ini akan dilakukan secara diam-diam di suatu tempat yang jauh dari pandangan publik. Saya masih dalam proses memilih lokasi yang tepat, namun anggap saja eksperimen ini akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.”
Dengan kesimpulan dari Francois, sesi tanya jawab antara para pahlawan pun berakhir.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di rumah besar tempat Miharu dan yang lainnya tinggal…
Setelah mengantar kepergian Roland di pagi hari saat ia berangkat ke Kerajaan Beltrum, Celia langsung menganalisis topeng tersebut. Bahkan setelah makan siang, ia mengurung diri di kamarnya dan terus merapal sihir pada topeng di atas meja kerjanya. Sora mengamatinya dari tempat duduknya di atas tempat tidur.
“Celia, tiga puluh detik telah berlalu sejak kau mulai menganalisis,” kata Sora kepada punggung Celia.
“Baiklah. Fiuh…” Celia menghentikan analisisnya dan menghela napas berat.
“Sudah waktunya untuk istirahat satu jam di antara setiap analisis,” desak Sora.
“Aku mulai terbiasa, jadi kurasa kita bisa mulai mempersingkat durasi istirahatnya.”
“Tidak. Kau harus mempertahankan tempo ini untuk sementara waktu agar Sora dapat memantau kesehatanmu. Kita akan memperpanjang waktu istirahat jika kelelahanmu menumpuk,” kata Sora, mengatur kesehatan Celia secara ketat.
“Kau cukup melindungi rupanya. Aku mengira kau akan lebih mendesakku.” Celia terkekeh, menatap Sora dengan ekspresi terkejut.
“Raja Naga meminta Sora untuk memastikan kau tidak memforsir diri terlalu keras. Selain itu, kemajuannya akan semakin tertunda jika kau pingsan di tengah analisis. Itu akan jauh lebih merepotkan.”
“Begitu ya… Kalau begitu, aku akan mengambil istirahat itu sekarang.” Celia tersenyum, senang mendengar dirinya begitu dihargai. Dia bangkit dari duduknya dan menjatuhkan diri dengan wajah menghadap ke tempat tidur, membenamkan wajahnya di bantal.
“Jadi, bagaimana hasilnya? Apakah kau sudah mulai memahaminya?” tanya Sora.
“Kau menanyakan itu setiap kali istirahat. Jawabanku tetap sama seperti sebelumnya—perjalananku masih sangat panjang,” jawab Celia sambil berguling telentang diiringi tawa kecil.
“Yah, itu adalah artefak yang diciptakan oleh salah satu yang disebut Dewa Bijaksana. Kita sudah tahu sejak awal kalau menganalisisnya tidak akan mudah.”
“Dari rasanya, aku perlu menganalisisnya selama beberapa hari untuk membuat kemajuan. Aku tidak ingin menghabiskan waktu berpekan-pekan, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun untuk melakukannya, jadi aku akan mengincar semacam hasil sebelum kau harus pergi bersama Rio dalam perjalanannya. Kuharap itu berhasil.”
“Yah, Sora bisa memanjatkan doa singkat untukmu.”
“Hehe. Terima kasih.” Sudut bibir Celia terangkat membentuk senyuman yang diarahkan ke langit-langit kamar. Tepat saat itu, seseorang mengetuk pintu.
“Siapa ya? Sebentar!” serunya sambil bergegas menghampiri pintu.
“Oh! Halo Suzune.”
Latifa sedang berdiri di sisi seberang. “Hai Celia. Sora.” Dia melemparkan senyuman ramah kepada mereka.
“Ada apa, Suzune?”
“Satsuki baru saja pulang, jadi aku ingin mengajak kalian berdua minum teh bersama semua orang di ruang makan.”
“Terdengar menyenangkan. Kebetulan aku sedang istirahat. Bagaimana menurutmu, Sora?” tanya Celia sambil menoleh ke arah Sora dengan antusias.
“Minum teh? Apa serunya berkerumun di dalam satu ruangan untuk minum teh bersama?” Sora tampak ragu dengan gagasan yang terasa merepotkan itu.
“I-Itu seru! Kau bisa menikmati teh yang lezat bersama orang lain dan mengobrol dengan akrab.” Sebagai seseorang yang sangat menyukai waktu ngetehnya, Celia tidak bisa mengabaikan tanggapan seperti itu.
“Betul sekali!” setuju Latifa. “Kami semua membuat manisan bersama-sama! Rasanya juga enak sekali!” tambahnya memberikan dukungan.
“Manisan? Ada manisan juga?” Mata Sora membelalak karena tertarik.
“Ada! Kami membuat banyak sekali!”
“Banyak manisan? Kalau begitu. Ayo kita pergi, Celia.”
“Ya ampun…” Celia tertawa, gemas melihat betapa mudahnya Sora terpancing oleh iming-iming manisan.
“M-Maksud tatapan itu apa? Penelitian butuh banyak berpikir, jadi penting untuk menjaga kadar gula tetap tinggi. Sora hanya mengkhawatirkanmu, Celia.”
Sora memastikan untuk menegaskan bahwa manisan itu bukanlah untuk dirinya sendiri.
“Baiklah, aku paham. Ayo kita berangkat.”
Celia terkikik sambil keluar dari ruangan. Sora mengikutinya sampai mereka tiba di ruang makan tempat semua orang berkumpul.
“Aku membawa Celia dan Sora!” lapor Latifa kepada seisi ruangan. Yang sudah berkumpul di dalam ruangan itu adalah wajah-wajah yang tidak asing lagi: Miharu, Aki, Satsuki, Masato, Sara, Orphia, Alma, Sayo, Komomo, dan Charlotte.
“Selamat datang kembali, Lady Satsuki dan Masato,” sapa Celia kepada kedua orang yang baru saja kembali itu. Dia langsung menyadari ketidakhadiran Takahisa dan Lilianna, tetapi dia memilih untuk tidak membahas hal itu.
“Kami pulang, Celia. Dan Sora juga.”
“Halo.”
Satsuki dan Masato menyambutnya kembali.
“Dan kapan kamu akan berhenti memanggilku dengan gelar seperti yang kamu lakukan pada semua orang?” cemberut Satsuki kesal.
“Jangan bahas itu lagi, aha ha… Bagiku itu batasan yang sulit untuk dilewati, mengingat posisi kita…”
Satsuki sudah meminta Celia untuk mengubah cara dia memanggilnya berkali-kali sekarang. Celia sebelumnya sudah pernah mencoba melakukannya, tetapi dia harus kembali menggunakan gelar begitu mereka berada di tempat umum, yang secara alami membuat bentuk panggilan itu terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari mereka juga.
“Tapi kamu tetap memanggil Masato dengan namanya setelah dia menjadi pahlawan.”
Satsuki biasanya tidak peduli tentang hal itu, jadi dia pasti merasa cemburu setelah mendengar Masato dipanggil dengan namanya setelah menjadi seorang pahlawan.
“Itu benar. Aku harus memanggilnya Sir Masato mulai sekarang.”
Sebelumnya dia hanyalah seorang anak laki-laki biasa bagi Celia, tetapi sekarang dia adalah seorang pahlawan seperti Satsuki. Menjadi seorang pahlawan tidak mengubah perasaan Celia padanya, tetapi dia memang harus memanggilnya dengan gelar di depan umum mulai sekarang. Akan tetapi…
“Tolong jangan panggil aku begitu, Celia!” protes Masato dengan tegas.
“Tapi aku tidak bisa memanggil seorang pahlawan tanpa gelar di depan umum…” kata Celia dengan ragu-ragu. Dia harus mengingat statusnya sebagai seorang bangsawan.
“Bagaimana kalau kalian tetap memanggil mereka dengan namanya saat di rumah?” usul Charlotte. “Lagi pula tidak ada orang yang melihat, dan itulah yang lebih disukai oleh Lady Satsuki dan Sir Masato.”
“Tapi kamu sendiri memanggil semua orang dengan menggunakan gelar, Putri Charlotte.”
“Aku memanggil semua orang secara setara, jadi cara panggilanku bukanlah tolak ukur keakraban kita. Meskipun ada beberapa pengecualian seperti Liselotte. Tapi berkat itu, tidak pernah ada orang yang berkata kepadaku, ‘Kamu memanggil orang ini dengan namanya, jadi kenapa kamu tidak memanggilku dengan namaku saja juga?’.” Charlotte menyeringai.
“Ada benarnya juga… Kamu benar-benar memikirkan hal ini dengan matang. Yah, begitulah Char,” gumam Satsuki dengan rasa kagum yang besar.
“Dan ada cara lain untuk menunjukkan keakraban selain mengubah cara kamu memanggil seseorang. Seperti bagaimana aku menunjukkan diriku yang sebenarnya di hadapan kalian semua di sini.”
“B-Betapa penuh perhitungannya… Tapi aku jujur senang mendengarnya.”
“Terima kasih banyak. Aku menyayangi semua orang di sini, tahu?” kata Charlotte dengan ekspresi usil.
“Tentu saja, tentu saja.” Satsuki mengangguk dengan malu-malu.
“Di dalam masyarakat bangsawan, setiap orang memiliki kedudukan. Bisa jadi sulit untuk menyesuaikan diri dalam memanggil setiap orang secara berbeda, itulah sebabnya aku merasa lebih mudah untuk memanggil semua orang dengan cara yang sama. Namun…” Charlotte berhenti sejenak. “Perbedaan dalam cara panggilan tidak selalu berarti perbedaan dalam tingkat keakraban. Aku tidak berpikir Lady Celia menganggap Lady Satsuki sebagai teman yang lebih rendah saat dia memanggilnya dengan gelar,” lanjutnya.
“I-Itu benar sekali, Putri Charlotte. Anda sangat pandai merangkai kata.” Celia mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya. “Dan karena itu, jika aku boleh terus memanggil Lady Satsuki dengan cara ini…”
“Tidak. Itu adalah masalah yang berbeda dari ini. Apa salahnya menggunakan nama panggilan di rumah? Lagi pula, seru rasanya melihat Lady Celia begitu kerepotan karenanya,” kata Charlotte, menggagalkan upaya Celia untuk mempertahankan bentuk sapaannya dengan senyuman.
“Barusan kamu mengatakan sesuatu yang bagus, jadi jangan malah merusaknya begitu…” Satsuki menghela napas, menutupi matanya dengan tangan kanannya. Namun, ada senyuman di wajahnya karena menganggap hal itu sangat mencerminkan diri Charlotte.
“Apa sih yang harus diributkan soal cara memanggil seseorang? Dasar orang-orang aneh. Lebih penting lagi, sudah waktunya makan camilan. Di mana mereka? Sora datang untuk makan camilan.” Sora tadinya memperhatikan percakapan mereka dengan rasa penasaran sampai sekarang, tetapi perhatiannya beralih ke camilan.
“Ke sini, Sora.”
“H-Hei. Jangan ditarik, Sora! Astaga.”
Latifa menggandeng tangan Sora dan membimbingnya ke meja terbesar di ruang makan, lalu mereka duduk berdampingan.
“He he. Kami membuat banyak permen khusus untukmu, Sora,” kata Miharu, mendorong kartu saji yang dipenuhi baki-baki permen.
“Hmph. Ayase Miharu…”
Ketika Sora menyadari Miharu mendekati tempat duduknya, dia menatapnya dengan waspada bagaikan kucing liar yang siaga penuh.
“B-Benar, itu aku. Kenapa kamu memanggilku dengan nama lengkapku?”
“Karena,” kata Sora terus terang, mengabaikan kebingungan Miharu.
“Kamu tidak perlu memanggilku dengan nama lengkapku, tahu? Cukup panggil Miharu saja.”
“Huh?! Itu tidak adil, Miharu! Hei Sora, kamu juga boleh memanggilku Suzune, ya?”
Miharu dan Latifa berkata, mendorong Sora untuk memanggil nama mereka.
“Oh! Dan aku Komomo!”
“Kamu juga bisa memanggilku Sayo.”
“Kalau begitu, kamu bisa memanggilku Orphia.”
Semua orang di sekitar mulai memperkenalkan diri mereka juga.
“H-Hah? Ada apa dengan kalian semua, tiba-tiba mengerubungi Sora…” Sora melihat sekeliling ke arah wajah-wajah ramah mereka. “K-Kenapa Sora harus memanggil nama kalian? Sora tidak peduli soal itu, dia ada di sini untuk makan manisan! Manisan!” serunya untuk menyembunyikan rasa malunya.
Ketika dia melihat bagaimana Sora dikelilingi oleh semua orang, Celia terkikik geli. “Ya ampun, sungguh menyenangkan. Senang rasanya melihatmu akur dengan semua orang, Sora.”
“Sora tidak! Hmph!” Sora menggembungkan pipinya.
“He he. Ini permen, Sora,” kata Miharu, meletakkan nampan di depannya.
“Wah! Ada aroma manis yang keluar darinya! Kelihatannya enak! Apa namanya?” tanya Sora dengan mata yang berbinar-binar.
“Ada kue kering, madeleine, dan scone. Kamu harus menambahkan sedikit madu dan krim agar scone-nya terasa manis.”
“Apakah Sora sudah boleh makan? Sora akan makan sekarang.”
“Tentu. Silakan makan.”
Begitu Miharu menyerahkan nampan-nampan itu kepada yang lain, dia duduk di samping Sora.
“Wah! Kue-kue kering ini enak sekali!” Sora memasukkan kue demi kue ke dalam mulutnya, mengunyah seolah-olah itu adalah manisan paling lezat yang pernah ia makan.
“Syukurlah.” Tidak ada reaksi yang lebih baik yang bisa diterima untuk masakan buatan sendiri. Miharu tersenyum bahagia.
“Kue kering ini adalah resep asli Miharu,” kata Latifa dari samping Sora.

“Resep buatan Ayase Miharu sendiri? Hmm… Nyam nyam.”
Sora menatap tajam kue-kue itu dengan ekspresi dilema. Namun, kue-kue itu sendiri tidak bersalah kepadanya, jadi dia terus mengunyahnya.
“Tenggorokanmu akan terasa kering setelah makan begitu banyak kue kering. Nih, minum susu.”
Alih-alih teh, Miharu menuangkan sedikit susu ke dalam cangkir dan menyajikannya kepada Sora.
“Susu? Oh, susu sapi. Apakah itu cocok dengan kue kering?”
Sora memiringkan kepalanya dengan skeptis. Namun, tenggorokannya memang terasa kering, jadi dia meneguk sedikit dari cangkir itu.
“Gluk, gluk… Wah, keduanya sangat cocok!” serunya gembira, menghabiskan sisanya dalam sekali teguk.
“Rasanya aku jadi punya adik perempuan baru,” kata Latifa dengan senyuman tanpa beban, menatap wajah Sora dari samping.
“Benar. Beginikah rasanya punya adik perempuan? Sepertinya aku bisa mengerti perasaan Miharu sekarang,” setuju Aki. Dia juga sedang mengawasi Sora dari kursi di seberangnya.
Faktanya, semua orang di ruangan itu sedang menatap Sora yang melahap manisan dengan ekspresi menyenangkan di wajah mereka.
“A-Ada apa? Berhenti menatap Sora.” Sora balas menatap mereka dengan lingkaran susu di sekitar mulutnya. Sebagai seseorang yang hidup sendirian hingga sekarang, dia merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Dia tidak bisa mengerti mengapa setiap orang di sini menatapnya dengan tatapan ramah.
“Maaf, Sora, kamu sangat imut. Dan ada susu di sekitar mulutmu, nih.” Miharu mengambil kain basah dan dengan lembut menyeka mulut Sora.
“W-Wah! Apa yang kamu lakukan, Ayase Miharu?! Jangan memperlakukan Sora seperti anak kecil!”
Sora mencoba menepis kain Miharu, tetapi Miharu langsung selesai menyeka mulut Sora dengan tangan yang terampil.
“Oh, dia memanggil Miharu dengan nama lengkapnya lagi,” kata Latifa dengan nada iri.
“Itu tidak aneh. Sora juga memanggil orang lain dengan nama mereka. Seperti Celia,” gumam Sora dengan malu-malu.
“He he.” Celia menyeruput tehnya dari kursi yang agak jauh, tersenyum ceria.
◇ ◇ ◇
Pesta teh itu berakhir satu jam kemudian. Dengan perut penuh berisi kue-kue manis, Sora kembali ke kamarnya seorang diri.
Celia telah dipanggil oleh Charlotte untuk membantu suatu urusan. Satsuki, Masato, Sara, Orphia, Alma, and Gouki bersamanya karena alasan yang sama. Yang lainnya berniat tetap tinggal di ruang makan dan melanjutkan obrolan, namun Sora buru-buru meminta diri dengan alasan lelah.
“Sejujurnya… ada apa dengan mereka semua?” gumamnya pada diri sendiri sambil duduk di atas tempat tidurnya. Semua orang terus berusaha berbicara kepadanya karena rasa penasaran sepanjang waktu, membuat suasananya sangat menyesakkan. Jika saja kue-kue itu tidak begitu enak rasanya, dia pasti sudah pergi dengan perasaan kesal jauh lebih awal.
Jadi, mengapa bisa begitu? Saat dia mengenang kembali pesta teh tersebut, dia seolah merasakan suatu emosi selain kejengkelan. Namun, dia tidak mampu mengungkapkan emosi itu dengan kata-kata secara sukses.
“Hrmm…”
Perasaan samar itu menumpuk di dalam diri Sora tanpa ada tempat untuk pergi.
“Aku kembali, Sora. Aku masuk ya.” Tepat pada saat itu, Celia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
“Oh, kamu akhirnya kembali.” Sora melompat bangun dari tempat tidur dan menunjuk ke arah Celia. Dia sama sekali tidak sedang menunggu Celia atau semacamnya, jadi kenapa dia merasa senang? Jantungnya berdetak lebih cepat karena suatu alasan.
“Apa? Ini baru tiga puluh menit sejak kamu duluan kembali ke kamar. Apa kamu menungguku?” Celia mendongak melihat jam dinding dengan terkejut.
“T-Tidak, Sora tidak menunggu. Apa yang kalian bicarakan tadi?” Sora mengalihkan topik pembicaraan karena merasa malu.
“Oh, aku diminta untuk menjadi saksi suatu hal. Ini bersifat rahasia bagi para penghuni rumah besar ini, tapi ini adalah sesuatu yang harus Rio ketahui, jadi aku berencana untuk membicarakannya denganmu…”
“Hmm. Kalau begitu, mari kita tunggu sampai Aishia datang untuk memeriksa kita, jadi kamu bisa menceritakannya kepada kami sekaligus.”
◇ ◇ ◇
Malam itu, di hutan pinggiran Galtuuk dan di pintu masuk rumah batu yang dibangun di samping mata air…
“Aku datang lagi…”
Celia berdiri menghadap Rio dengan ekspresi yang agak canggung sekaligus sedikit malu. Dia gelisah tak tenang sambil menghindari tatapan Rio dengan wajah memerah.
Dia baru saja bergelayut manja padanya dengan berani malam sebelumnya untuk mengucapkan selamat tinggal, berpikir bahwa dia tidak akan bisa mengantarnya saat dia berangkat untuk perjalanannya dalam beberapa hari. Kenangan jernih tentang momen itu muncul kembali di benaknya, dan rasa malunya lebih dari yang sanggup dia tanggung. Meskipun begitu, kebahagiaannya karena bisa bertemu Rio lagi melampaui hal itu, itulah sebabnya dia berdiri di sini lagi malam ini. Dia adalah seorang wanita muda yang sedang jatuh cinta.
“Aku membawanya ke sini lagi,” ucap Aishia dengan nada bicaranya yang biasa.
“Kami kembali, Raja Naga!” Sora menyapa Rio dengan gembira, senang bisa berada di hadapannya lagi.
“Selamat datang kembali, Sora,” balas Rio dengan lembut. Dia kemudian menoleh ke arah Celia. “Dan selamat datang, Celia. Terima kasih sudah membawa mereka ke sini, Aishia.”
“M-Maaf, aku tidak menyangka akan datang dua hari berturut-turut,” sesal Celia, wajahnya sedikit merona.
“Sepertinya aku mengatakan ini kemarin, tapi tolong jangan meminta maaf. Tidak ada hari di mana kamu tidak diperbolehkan berkunjung, jadi aku benar-benar senang bisa melihatmu lagi hari ini. Sungguh.”
Meskipun hal itu menimbulkan risiko terlihat saat mereka berpindah masuk dan keluar dari kediaman tersebut, Aishia dan Sora lah yang menangani transportasi. Mereka sangat berhati-hati dalam hal itu.
“Ada sesuatu yang ingin aku laporkan kepadamu. Apakah kamu punya waktu luang untuk mengobrol sebentar?” tanya Celia, mendongak menatap wajah Rio.
“Tentu saja. Mari kita pindah ke ruang tamu.”
Maka, kelompok itu berpindah ke ruang tamu persis seperti hari sebelumnya, duduk dengan urutan tempat duduk yang sama persis. Di sana, Celia menjelaskan kepada Rio tentang eksperimen yang diminta Charlotte untuk ia saksikan.
“Begitu ya. Penyelidikan tentang kekuatan dari kekuatan seorang pahlawan…” Rio meletakkan tangan di dagunya sambil berpikir.
“Tidak ada kemungkinan sesuatu seperti monster tanah akan muncul dan kehilangan kendali, kan? Aku tidak tahu harus berbuat apa jika hal itu terjadi…” gumam Celia dengan gugup.
“Itu bukan hal yang mustahil, tetapi aku rasa tidak akan ada orang yang kehilangan kendali atas kekuatan mereka. Aku juga tidak berpikir monster seperti monster milik Saint Erica akan muncul,” kata Rio samar-samar, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Benarkah?”
“Senjata Ilahi yang dimiliki oleh para pahlawan memiliki roh transenden—roh tingkat tinggi—yang bersemayam di dalamnya. Dan hubungan antara roh tingkat tinggi tersebut dengan Tujuh Dewa Bijaksana adalah, yah…”
“Ah, benar. Sora menceritakan semuanya kepadaku tentang Miharu dan Lina kemarin dan hari ini. Dia juga menjelaskan alasan mengapa Perang Ilahi terjadi… Aku juga mendengar darinya bagaimana Enam Dewa Bijaksana menyegel keenam roh tingkat tinggi di dalam Senjata Ilahi, dan bagaimana para pahlawan bisa mati saat mereka menggunakan kekuatan transenden itu.”
“Kalau begitu, aku akan melewatkan penjelasan seputar hal itu. Enam Dewa Bijaksana memasang pembatas pada Senjata Ilahi agar roh tingkat tinggi yang disegel di dalamnya tidak bisa muncul.”
“Jadi mereka tidak akan kehilangan kendali atas kekuatan itu?”
“Ya. Setiap pahlawan menggunakan Senjata Ilahi mereka sebagai katalis untuk membentuk kontrak khusus yang disebut ikatan roh dengan roh tingkat tinggi di dalamnya. Kendali atas Senjata Ilahi seharusnya berada di tangan pahlawan, tetapi jika mereka mengeluarkan terlalu banyak kekuatan, pembatas itu akan menciptakan beberapa efek samping bagi mereka.”
“Efek samping seperti apa…?” tanya Celia dengan rasa takut.
“Seorang pahlawan bisa berasimilasi dengan roh tingkat tinggi melalui ikatan roh tersebut. Semakin tinggi keluaran kekuatan, semakin tinggi pula tingkat asimilasinya. Meskipun tingkat itu dapat ditingkatkan dan diturunkan kembali untuk sementara waktu, asimilasi itu sendiri adalah tindakan menjadi eksistensi yang tidak stabil dan bukan manusia. Ada kemungkinan roh tingkat tinggi akan mengambil alih kendali tubuh jika hal itu berjalan terlalu jauh. Begitulah cara Saint Erica kehilangan kendali atas Senjata Ilahi miliknya di saat-saat terakhirnya.”
“Jadi begitulah yang terjadi…”
“Pembatas itulah yang mencegah roh tersebut mengambil alih kendali tubuh dengan begitu mudah.”
“Apakah mungkin untuk mendapatkan kembali kendali setelah kehilangannya?”
“Sejujurnya, aku tidak tahu. Akan bagus jika pembatas itu juga membantu dalam hal itu, namun jika tidak, pahlawan tidak punya pilihan selain menunggu roh tersebut mengembalikan tubuh mereka. Atau mereka bisa mencoba merebutnya kembali dengan paksa.”
Namun, setelah bertarung melawan Saint Erica, tampaknya bahkan jika pembatas itu berfungsi, kendali atas tubuh akan tetap berada di tangan roh untuk waktu yang cukup lama.
“Jadi, bagaimanapun juga berbahaya jika kehilangan kendali atas tubuh? Maksudku, jika begitulah cara Saint Erica kehilangan kendali atas roh tingkat tinggi tanah.”
“Jika Miharu atau Aishia berada di dekat sana, mereka akan diserang tanpa pertanyaan karena ikatan mereka dengan Lina—Miharu karena merupakan reinkarnasinya, dan Aishia karena menerima keilahiannya. Aku tidak yakin apa yang akan terjadi jika mereka tidak berada di dekat sana… Roh-roh tingkat tinggi menyimpan dendam terhadap Six Wise Gods karena menyegel mereka di dalam Senjata Ilahi, jadi mereka mungkin bertindak dengan kekerasan. Jika mereka menggunakan kekuatan transenden mereka seperti itu, itu akan menjadi bencana besar.”
“Mereka tidak hanya akan menghancurkan segala sesuatu di sekitar mereka, tetapi para pahlawan juga akan mati. Kalau begitu, haruskah aku menghentikan penyelidikan agar tidak dilanjutkan? Aku bisa memberi tahu mereka bahwa berbahaya untuk mengeluarkan kekuatan para pahlawan. Tapi bagaimana aku menjelaskannya dengan cara yang dapat dipercaya…?” tanya Celia dengan cemas.
“Tidak perlu. Seperti yang kukatakan tadi, seharusnya ada pembatas untuk mencegah mereka kehilangan kendali atas tubuh mereka. Dan ada kebutuhan untuk mengetahui seberapa banyak kekuatan mereka yang dapat mereka keluarkan. Aku juga akan mengawasi dari bayang-bayang, jadi biarkan mereka melanjutkan penyelidikan.”
Ini adalah kesempatan langka bagi para pahlawan yang dijaga ketat untuk meninggalkan kastil dan menggunakan Senjata Ilahi mereka secara maksimal di Alam Liar. Rio ingin mengawasi dan mencari tahu bagaimana para pahlawan saat ini dibandingkan dengan Saint Erica.
“Baiklah,” jawab Celia dengan patuh.
“Aku yakin belum ada seorang pun yang mampu memanggil monster seperti binatang buas daratan. Satsuki jelas belum berada pada tahap itu saat terakhir kali aku melihatnya, begitu pula Sakata. Ini mungkin karena pembatasnya—tetapi masalahnya adalah bagaimana Saint Erica melepas pembatas itu dan kehilangan kendali atas kekuatannya. Aku ingin tahu jawabannya.”
“Fenomena yang diciptakan oleh Senjata Ilahi pada akhirnya adalah semua seni roh, bukan? Bagaimana jika mereka meningkatkan kemampuan mereka dalam seni roh?” Celia berteori.
“Kemampuan seorang pahlawan harus sesuai dengan performa senjatanya. Aku juga sudah memikirkannya, tapi…”
Memang ada peluang besar bagi para pahlawan untuk menjadi lebih baik dalam menangani Senjata Ilahi mereka jika mereka melatih seni roh mereka. Rio sendiri telah memikirkan kemungkinan ini. Mungkin itulah jawabannya tentang bagaimana mereka bisa menghindari kehilangan kendali atas tubuh mereka dari roh peringkat tinggi atas. Namun…
“Ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Untuk beberapa alasan, rasanya Saint Erica bertarung dengan mengandalkan kemampuan Senjata Ilahi miliknya sepenuhnya. Aku juga tidak bisa membayangkan dia belajar seni roh dari siapa pun.”
Pertanyaan yang muncul di benak Rio adalah apakah kemampuan seni roh benar-benar merupakan kunci untuk melepaskan pembatas pada Senjata Ilahi. Dia juga mempertanyakan apakah ada cara lain untuk melepaskan pembatas tersebut selain meningkatkan kemampuan dalam seni roh.
“Benar. Tidak ada praktisi seni roh di wilayah Strahl, jadi akan sangat sulit bagi Saint Erica untuk menemukan seseorang untuk dijadikan tempat belajar…” Celia memiliki pertanyaan yang sama dengan Rio.
“Sebaliknya, pahlawan es bertarung sepenuhnya menggunakan seni rohnya. Reiss mungkin adalah orang yang mengajarinya, dan dari apa kulihat dari satu serangan yang dia lakukan di Rodania, dia mampu mengeluarkan cukup banyak kekuatannya.”
“Begitu ya…”
“Itulah sebabnya aku ingin melihat seberapa besar kekuatan yang bisa dikeluarkan Satsuki dan tiga pahlawan lainnya dari Senjata Ilahi mereka saat ini. Mungkin ada asumsi yang bisa diambil dengan membandingkan mereka dengan Saint Erica dan pahlawan es.”
Sebagai contoh, meskipun mereka tidak menghabiskan banyak waktu untuk itu, Satsuki dan Masato sudah mempelajari dasar-dasar penggunaan seni roh. Mereka berpotensi mengeluarkan lebih banyak kekuatan daripada Hiroaki atau Takahisa, yang tidak pernah melatih hal semacam itu.
“Mengerti. Aku akan memberi tahu Aishia begitu kita tahu di mana investigasi itu akan diadakan.”
“Baiklah. Kalau begitu, Aishia bisa pergi ke sana besok siang untuk mengawasi keadaan dalam wujud rohnya.”
“Serahkan padaku,” jawab Aishia segera.
“Terima kasih, Aishia. Sebagai konfirmasi, Celia—Miharu tidak akan hadir, kan?” tanya Rio.
“Tidak, seharusnya tidak. Rencananya adalah meninggalkannya di kastil.”
“Kalau begitu, bisakah kamu tetap tinggal di kastil juga pada hari itu, Aishia? Aku yakin semuanya akan baik-baik saja berkat pembatas itu, tetapi tidak ada salahnya untuk terlalu berhati-hati terhadap roh peringkat atas tingkat tinggi.”
“Tentu. Aku mengerti.”
“Sebaliknya, aku ingin kamu ikut denganku, Sora. Apakah tidak apa-apa?”
“Tentu saja!” jawab Sora penuh semangat.
“Tapi aku mungkin tidak diizinkan membawa Sora bersamaku… Investigasi itu akan diadakan secara rahasia, jadi kurasa aku tidak akan diizinkan membawanya tanpa alasan yang jelas…” kata Celia, menyuarakan kekhawatirannya.
“Aku berencana untuk berangkat dalam perjalanan itu setelahnya, jadi dia bisa meninggalkan kediaman dan kembali ke sini sehari sebelum itu. Maaf karena telah membawamu pergi dari kediaman tepat saat kamu mulai terbiasa tinggal di sana… Apakah kamu akan merasa kesepian tanpa semua orang, Sora?” Rio memandangi wajah Sora.
“Semua orang akan melupakannya beberapa hari setelah dia meninggalkan kediaman, kan?” Celia mengerutkan kening dengan sedih.
Selain dilupakan oleh dunia setiap kali mereka menggunakan kekuatan mereka, para makhluk transenden dan para murid mereka juga kesulitan meninggalkan kesan yang abadi pada ingatan orang lain. Sebagai seorang makhluk transenden, efek itu langsung terjadi pada Rio. Sebagai seorang murid, efek itu terjadi setelah beberapa hari bagi Sora.
“Kenapa malah kamu yang terlihat begitu sedih karenanya? Sora sama sekali tidak peduli. Dia sudah terbiasa. Bepergian dengan Raja Naga jauh lebih penting,” kata Sora dengan ekspresi yang sama sekali tidak terusik. Bahkan Sora sendiri tidak tahu apakah itu adalah bentuk keberanian atau kebenaran yang sesungguhnya.
“Aku minta maaf… Ini semua karena kamu adalah muridku,” kata Rio dengan penuh penyesalan. Sebagai murid Raja Naga, aturan para dewa berlaku juga pada Sora, mencegahnya membuat teman seperti orang biasa. Dia telah membuatnya menemani Celia agar bisa akrab dengan semua orang yang tinggal di kediaman itu, tetapi itu mungkin telah menyebabkannya merasa lebih sakit sekarang karena dia harus berpisah dengan mereka.
“J-Jangan meminta maaf! Jika Raja Naga tidak menyelamatkan Sora, dia pasti sudah mati kelaparan sejak dulu! Dan tidak seperti penghapusan ingatan dari kekuatan transenden, kesan yang kuat masih bisa diingat dari waktu ke waktu! Terutama untuk murid seperti Sora!” jelas Sora dengan gugup. Namun, kegugupannya justru membuatnya tampak seperti sedang berbohong demi membuat Rio merasa lebih baik.
Aku pasti akan melakukan sesuatu tentang aturan para dewa. Agar suatu hari nanti aku bisa memperkenalkan Sora kepada semua orang dengan layak.
Rio bersumpah dalam hati.
Komentar