Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch2_ Sister figure, mother figure part 1 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch2_ Sister figure, mother figure part 1 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V1Ch2: Sosok kakak perempuan, sosok ibu bagian 1

Penerjemah: Soafp

Ini mungkin terdengar cepat, tapi aku langsung diinterogasi begitu sampai di rumah. Tersangkanya adalah Yukito Kokonoe.

“Kenapa kamu mengatakan itu?”

Hari ini, seperti biasa, meja makan diselimuti oleh misteri, tetapi tatapan matanya bahkan jauh lebih menakutkan dari biasanya.

Duduk di hadapanku, sang terdakwa, adalah kakak perempuanku, Yuri Kokonoe.

Gawat sekali. Aku hampir dijatuhi hukuman penjara tanpa melalui persidangan, bisakah seseorang melakukan sesuatu tentang hal ini? Aku tidak bisa.

“Aku benar-benar tidak tahu…”

Kakakku jujur saja adalah wanita yang cantik di mata keluargaku sendiri, sama seperti ibuku. Dia sudah seperti dewi seutuhnya. Rambut hitamnya yang sebahu sangat indah, matanya terdefinisi dengan jelas, dan dia adalah seorang kecantikan yang murni serta polos.

Mata yang tajam itu juga sesuai dengan suasananya. Untuk saat ini, aku harus menyembahnya tiga kali sehari. Aku beruntung mendapatkan kakak perempuan SSR, tapi aku yakin aku pasti telah menimbun banyak keberuntungan. Satu-satunya hal yang aku yakini pasti adalah bahwa itu bukanlah diriku di kehidupan ini.

Dia satu tahun lebih tua dariku dan seorang siswi kelas dua di SMA yang sama. Kudengar dia adalah calon ketua OSIS berikutnya dan merupakan salah satu orang paling terkenal di sekolah karena kecantikannya (aku tidak tahu banyak tentangnya).

Bagi seorang adik laki-laki yang tidak becus sepertiku, dia adalah kakak perempuan yang membanggakan, tetapi perbedaannya sangat besar hingga kami tidak diakui sebagai saudara kandung di SMA kami.

Mungkin ini justru kabar baik? Aku hampir tidak percaya bahwa ibu dan kakakku adalah kerabat sedarah yang sama denganku. Sejak aku mengemukakan teori [Yukito Kokonoe dipungut dari jalanan], ibuku menangis, topik ini telah menjadi tabu untuk ku diskusikan.

“Apa kamu sudah mendapat teman?”

Saat dia berbicara kepadaku, aku dibuat silau oleh auranya, dan sayangnya, aku merasa gugup.

Dia menatapku dengan mata besarnya dan aku tidak bisa menatap langsung ke arahnya serta tanpa sadar mengalihkan pandangan. Ada semacam aura tak kasat mata di dalam dirinya. Spiritualitas. Secara umum, kakakku mengenakan kaos longgar dan celana pendek di rumah. Itulah juga alasan mengapa aku kesulitan menatapnya karena dia menghabiskan waktunya dengan pakaian kasual.

“…Teman… apa itu teman?”

“Aku ngeri mendengar pertanyaanmu itu, jadi berhentilah”

Apakah dia mengkhawatirkan apakah adiknya yang payah ini menjalani pengalaman SMA yang layak?

Kebaikan kakakku bergema di seluruh tiga ribu dunia, tetapi jika reputasiku buruk, itu mungkin akan memengaruhinya juga.

Gawat, aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang.

“Apakah kamu berteman dengan cowok itu?”

“Apa kamu kenal Mihou?”

Aku terkejut mendengar nama seorang pria tampan berpenampilan segar tiba-tiba keluar dari mulut kakakku.

Apakah dia begitu terkenal? Dia tentu saja memiliki wajah dan kepribadian yang bagus.

Jangan-jangan dia menyukai pria yang lebih muda. Musim semi telah tiba baginya!

“Jangan-jangan, kamu menyukainya?”

“Ha?”

Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah aku akan segera ditembak mati oleh tatapannya. Matanya begitu dingin hingga aku merasa seolah-olah vonis bersalah akan segera dijatuhkan.

Aku perlahan mengangkat kepalaku untuk mencuri pandang ke wajahnya, namun dia sepertinya menyadari gerak-gerikku.

Aku terkena serangan telak. Tatapan ranjau darat! Kekuatan pertahanan Yukito telah menurun!

“I-I-I-I-Bukannya apa-apa!”

Aku begitu kesal, instingku memperingatkanku bahwa jika aku membuatnya marah, aku adalah seorang pria mati.

“Lalu, kenapa kamu menyapanya seperti itu?”

“Sebelum itu, kenapa kamu ingin tahu?”

“Jawab pertanyaannya.”

“Baik”

Sayangnya, seorang adik laki-laki tak berdaya di hadapan kakak perempuannya. Tampaknya dia menyadari apa yang sedang terjadi di dalam kelas, dan dia punya banyak hal yang dinantikan jika seorang mata-mata dicurigai berada di antara teman sekelasku.

“Apakah itu karena Suzurikawa-san dan Kamishiro-san?”

“….. Tidak ada komentar soal itu.”

“Bersalah dan dijatuhi hukuman mati.”

“Tidak, aku tidak berbohong, aku bicara yang sebenarnya.”

Sistem peradilan itu juga mengambil keputusan dengan semena-mena secara mengejutkan. Sistem keadilan ini sama sekali tidak membantu.

“Eh? Tapi bagaimana bisa Yuri-san tahu tentang Kamishiro?”

“Jelas saja, aku tahu sebanyak itu.”

Sungguh… sudah diputuskan! Aku terpana oleh kejutan terbesar abad ini, padahal ini baru bulan April. Jika terus begini, masa depan tampak suram.

Itu adalah topik yang sama sekali tidak ingin kutuapkan, tapi sepertinya kakakku mengenal semua teman sekelasku dengan sempurna. Dia tahu lebih banyak tentang mereka daripada aku, yang bahkan hampir tidak bisa mengingat nama mereka. Luar biasa! Mungkin itu hal yang wajar bagi gadis pintar sepertinya. Tapi meski begitu, bagiku itu adalah kejutan besar bahwa dia mengenal Kamishiro.

Meskipun Suzurikawa dan kakakku sudah saling kenal sejak kecil, mereka sama sekali tidak pernah berhubungan.

Aku tidak bisa menyangkal bahwa pikiranku sedikit kacau ketika kedua nama itu disebutkan hingga masuk ke urutan teratas.

“Maaf, Yuri-san, tapi aku harus pergi belajar.”

Aku segera membereskan piring bekas makanku dan langsung kabur dari tempat kejadian. Keinginan untuk tetap tinggal jauh lebih kuat daripada ketakutan dipenggal.

“Yukito, kamu benar-benar tidak apa-apa? Benar begitu? ”

“Ya, aku tidak apa-apa.”

Aku memotong perkataan kakakku. Aku memutuskan untuk langsung pergi ke kamarku saat itu juga.

Aku merasa kesal pada sikapku sendiri yang sangat tidak sopan. Apa yang sebenarnya hendak dia katakan? Jangan-jangan dia mengkhawatirkanku?

Aku menjatuhkan diri ke ranjang di kamar yang gelap, tanpa menyalakan lampu, —karena kakakku membenciku.

[Sudut Pandang Yuri]

“Kenapa dia harus mengalami semua ini……”

Oh…. Mou! Aku menggaruk kepalaku karena frustrasi. Aku tadinya berpikir situasinya akan membaik saat dia masuk SMA. Tapi justru malah semakin memburuk. Aku benci melihat ekspresi di wajah teman-teman sekelas barunya. Aku menggertakkan gigi karena merasa tak berdaya tidak bisa mengatakan apa pun kepada adikku saat dia berjalan menuju kamarnya. Aku mungkin telah menyinggung perasaannya karena secara tidak peka mengangkat topik yang tidak ingin disentuhnya.

Kenapa aku begitu ceroboh dan tidak peka? Orang-orang di sekitarku selalu memujiku setinggi langit, tapi pada kenyataannya, aku begitu tidak berdaya. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk adikku.

Ibu dan aku tinggal bersama di apartemen ini. Kami adalah keluarga yang terdiri dari tiga orang, dan ayah serta ibu kami sudah lama bercerai. Untungnya, kehidupan kami berkecukupan dan ibu menghasilkan banyak uang, jadi kami sama sekali tidak punya masalah.

Tapi kami memiliki masalah lain yang lebih serius. Aku sangat menantikan hari ketika dia masuk sekolah, tapi keadaannya sama saja seperti sebelumnya! Harapanku hancur berkeping-keping, dan kekhawatiranku semakin bertambah.

Aku ingin adikku menjalani kehidupan SMA yang cerah dan bahagia. Tapi jika keadaan terus berlanjut seperti ini, itu tidak akan pernah terjadi. Aku merasakan kecemasan tiada akhir yang tak terlukiskan. Ekspresiku menjadi muram saat melihat teman-teman sekelas adikku, kombinasi terburuk yang bisa dibayangkan. Hinagi Suzurikawa dan Shiori Kamishiro.

Perempuan-perempuan yang menyukai adikku. Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku tidak ingin kedua orang ini mendekati adikku lagi! Aku memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk membantunya, tapi tidak ada satu pun yang bisa kulakukan sampai dia naik tingkat dan pindah kelas.

Tidak ada satu pun yang bisa kulakukan.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencemooh diriku sendiri. Apa gunanya berlagak menjadi kakak perempuan yang baik atau mengkhawatirkannya sekarang? Alasan aku tidak menyukai mereka berdua adalah karena, pada akhirnya, itu adalah kebencian yang sejenis.

Aku membenci diriku sendiri, jadi sudah wajar jika aku membenci dua orang yang sama-sama kubenci.

Aku teringat ekspresi di wajah adikku saat dia pergi. Aku telah menyakitinya lagi. Tidak ada yang berubah sejak saat itu. Cara dia menatapku selalu menyiratkan rasa takut.

Aku bisa tahu apa yang dia rasakan tentangku dari cara dia dengan cepat membuang muka dariku.

Dia selalu memperhatikan suasana hatiku dan tidak pernah berbicara kepadaku kecuali jika itu diperlukan. Itu bukanlah cara untuk memiliki hubungan kakak-adik yang layak. Tapi akulah yang membuat keadaannya menjadi seperti itu. Aku tadinya berharap berjalannya waktu akan menyelesaikan keretakan itu, tetapi alih-alih mereda, keadaannya malah memburuk. Kenyataan bahwa aku gagal menyadari hal ini hanya membuat kepedihan itu semakin terasa nyata. Sejak hari itu, adikku memanggilku dengan sebutan “-san.” Dia tidak pernah sekalipun memanggilku Ane. (kakak perempuan)

Tidak mungkin aku bisa mengatakan apa pun kepada adikku seolah-olah aku adalah kakak perempuannya. Karena dia membenciku.

[Sudut Pandang Yukito]

“Aku pulang.”

Ibuku, Ouka Kokonoe, pulang ke rumah. Waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan. Dia sibuk seperti biasanya. Dia sering pulang sekitar jam segini, tetapi pada kesempatan seperti itu, aku biasanya yang bertanggung jawab atas makan malam. Kakak perempuanku tidak begitu mahir dalam pekerjaan rumah. Dia mungkin akan berkata bahwa surga tidak memberikan dua hal sekaligus. Kecantikan adalah berkah terselubung, bukan?

“Selamat datang kembali.”

“Oh, ya. Maaf ya Ibu tidak bisa membuatkan makan malam.”

“Tidak apa-apa kok.”

Aku rasa aku tidak seharusnya merasa terbebani saat dia bekerja untuk kami, tetapi pada dasarnya Ibu ingin melakukan pekerjaan rumah sendiri. Alangkah baiknya jika lebih banyak diserahkan kepadanya. Yang kumaksud dia adalah kakakku. Kurasa dia seharusnya melakukan lebih banyak pekerjaan di rumah.

“Yukito, apa kamu…….baik-baik saja di sekolah?”

“Yah, kurasa begitu.”

“Begitu ya. Baguslah.”

Keheningan yang canggung dan tipis pun terjadi. Keluargaku bertanya tentang sekolah dengan cara yang aneh, mungkin karena mereka ingin tahu apakah aku membuat masalah. Kenapa ya, aku bahkan sudah membuat masalah sejak hari pertama. Bisa dibilang mereka tidak begitu mempercayaiku, tapi mengingat aku membuat banyak masalah di SMP, aku memang pantas mendapatkannya.

“Aku mungkin tidak akan melakukan apa pun yang bisa menimbulkan masalah. Aku akan diam saja.”

“Bukannya, bukan itu maksud Ibu–”

“Aku sudah membuat makan malam, jadi kamu bisa menghangatkannya dan memakannya kalau mau. Aku mau kembali ke kamarku.”

Saat aku membalikkan badan untuk pergi ke kamarku, aku tidak tahu bahwa ibuku sedang menatapku dengan tatapan sedih.

“Hei, pria segar dan tampan. Ekspresi wajahmu itu bisa dikurangi sedikit.”

“Akhirnya sampai juga di sekolah, ya?”

“Ada apa ini?”

“Yah, kau tahu. Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.”

Begitu aku tiba di kelas, aku sedang terlibat obrolan yang hambar dengan Kouki, ketika seseorang dengan ceria menyela. Orang-orang ceria yang bisa mempertahankan energi seperti ini di pagi hari tidak lain adalah musuh alami bagi orang-orang berpikiran negatif. Aku sudah merasa lelah, tapi benar saja, dia adalah sainganku, Kana Sakurai.

“Selamat pagi, Kokonoe-kun!”

“Sakurai-san ya. Selamat pagi. Maaf aku tidak bisa datang kemarin. Bagaimana harimu?”

“Ahaha. Kami bersenang-senang bersama, kan!”

“Hmm? Ada apa?”

Reaksi Elizabeth mirip dengan Kouki tadi. Aku tidak ingin terlibat dengan cara apa pun, tetapi saat itulah sel-sel otak abu-abuku mencapai kebenaran.

Hahahaa, begitu ya. Begitu ya… kalian sedang bertengkar, kan?

Salah satu kemungkinan adalah seseorang menyatakan perasaannya kepada pria tampan itu saat mereka sedang bermain, dan gadis-gadis lain yang merasa terancam oleh hal itu juga menyatakan perasaan mereka kepadanya. Jadi semuanya menjadi canggung, dan situasi itu masih terbawa hingga hari ini.

Aku sangat bangga pada diriku sendiri atas deduksi yang sempurna ini. Aku, Yukito, adalah definisi sejati dari seorang Holmes Jepang. Aku tidak pernah populer. Tidak sepertiku, yang tidak pernah punya pacar seumur hidup, mereka sudah jatuh cinta begitu masuk sekolah.

“Omong-omong, Kokonoe-san. Apa kau kebetulan kenal dengan Suzurikawa dan Kamishiro?”

“Yah, bisa dibilang kami saling kenal.”

K-Kenapa Elizabeth menyebutkan nama itu? Aku merasa bingung dengan disebutkannya nama-nama mereka setelah nama saudari perempuanku kemarin. Apakah sedang ada tren Suzurikawa dan Kamishiro di dunia ini tanpa sepengetahuanku? Jika iya, yang bisa kulakukan hanyalah mengabaikan tren itu dengan gemilang.

“Apakah boleh aku bertanya?”

“Tidak ada apa-apa kok. Kami hanya saling kenal. Aku dulu tinggal di sebelah rumah Suzurikawa dan kami tumbuh bersama. Kalau Kamishiro dan aku hanya teman saat SMP dulu ketika kami sama-sama di klub olahraga.”

“Aku tidak menyadari kalau kau punya hubungan seperti itu dengan dua gadis paling cantik di kelas ini, Kokonoe-kun.”

“Aku tidak menyadari kalau kategori kasta semacam itu sudah terbentuk tanpa sepengetahuanku……”

“Tidak, tapi kelihatannya tidak seperti itu bagiku.”

Aku bertanya-tanya apakah status dari dua wanita tercantik itu adalah Brahmana atau Ksatria. Setidaknya, mereka pasti bukan dari kasta yang sama denganku. Jika mereka dari kasta tertinggi, aku akan takut untuk berbicara dengan mereka, tetapi itu justru membuatku merasa lebih tenang, jadi itu sama sekali bukan masalah.

“Hei, cepat duduk di bangkumu, kau pembuat onar.”

Sayuri-sensei memasuki kelas. Aku merasa lega karena topik ini untuk sementara sudah selesai, tapi sejak kapan aku menjadi anak bermasalah? Maksudku, apakah itu julukanku! Biar kutegaskan lagi di sini bahwa aku bukan anak bermasalah. Aku selalu bernasib buruk dengan wanita.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di usiapu ini, aku adalah puncak dari segala kesialan dengan wanita. Ibuku menjauhiku, saudari perempuanku membenciku, dan teman masa kecilku—yang kulihat sebagai sosok yang kucintai—ternyata sudah punya pacar sebelum aku sempat menyatakan cinta padanya.

Di tengah patah hati semacam itu, aku menjadi sasaran pengakuan palsu, dan aku benar-benar tidak pernah mengalami nasib baik. Aku hampir diculik, aku mencoba menyelamatkan seorang anak perempuan yang tersesat tapi orang tuanya malah melaporkanku ke polisi, dan aku sudah terlibat dalam berbagai macam masalah yang merepotkan, menyebalkan, serta kesialan sejak aku masih kecil.

Sebagai akibat dari perbuatan heroikku di dunia lain, aku dibunuh karena balas dendam dan terlahir kembali di dunia ini. Fakta bahwa aku sangat bernasib buruk dengan wanita berarti aku pasti membawa karma itu bersamaku.

Aku tidak pandai menjalin hubungan yang mendalam dengan orang lain, dan bahkan sebelum itu, aku tidak mampu merasakan atau berempati dengan perasaan mereka. Bukan berarti aku tidak ingin terluka atau takut terluka. Hanya saja aku memang tidak memahami perasaan semacam itu.

Sekarang ini, aku merasa repot jika harus terlibat dengan orang lain, tetapi di sisi lain, aku pandai bergaul dengan orang secara permukaannya saja, dan jika aku bisa menjalani hidup yang tidak menimbulkan masalah bagi siapapun, itulah cara hidupku. Kurasa itu bisa disebut sebagai sebuah teknik.

Begitu aku tahu kalau orang-orang ini ada di kelasku di sini, misiku di SMA adalah bersikap serendah mungkin dan setenang mungkin, seperti lumut bercahaya yang bersinar diam-diam di dalam gua, sambil meminimalkan kontak dengan teman sekelas sebagai jubahku, tetapi aku meratapi nasibku ketika tanpa diduga aku harus memperkenalkan diri. Tepat saat aku bersiap untuk pergi, cowok tampan dan segar di sebelahku malah menyukaiku entah bagaimana caranya.

Rencanaku untuk menjadi cowok muram dan penyendiri hampir saja runtuh.

Tapi aku punya kartu truf. Bicara soal muram, ya.

“Kau akan ikut klub, Yukito?”

Fuufuufuu. Topik yang sudah kutunggu-tunggu akhirnya muncul. Aku benar-benar pria berdosa.

Selepas jam sekolah, topik tentang kegiatan klub muncul dalam obrolan santai. SMA ini tidak terlalu bagus dalam bidang olahraga, tetapi tim atletiknya aktif dengan cara mereka sendiri, meskipun, untungnya, budaya sekolah yang santai berarti tidak ada aturan yang mewajibkan setiap orang untuk masuk ke suatu jenis klub.

“Kalau kamu sendiri bagaimana?”

“Aku sudah diminta untuk bergabung dengan banyak klub olahraga, tapi aku masih memikirkannya.”

“Cih, inilah kenapa kamu ini cowok ceria, dengarkan baik-baik. Hanya ada satu kegiatan klub yang cocok untukku, seorang yang negatif.”

“Yuki.”

Satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama depanku di kelas ini adalah cowok berpenampilan segar di sebelahku ini, kan? Aku menoleh ke belakang dan melihat seseorang yang sebenarnya paling kuhindari untuk urusan apa pun.

“Kamishiro?”

Ekspresi Kamishiro tiba-tiba berubah muram. Apa, ada yang salah denganmu?

Para gadis memiliki gaya hidup yang benar-benar tidak dapat dipahami. Aku bukanlah seorang gadis populer, jadi merupakan permintaan yang sulit untuk memahami seluk-beluk emosi wanita.

“Kamu tidak memanggilku dengan namaku, ya?

“Kita tidak seakrab itu.”

“Itu…… Benar…..”

Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan gadis ini secara tiba-tiba? Tidak mungkin aku bisa memanggil seorang gadis dengan cara yang akrab. Hanya cowok tampan seperti Kouki saja yang diperbolehkan melakukan hal itu.

“Yuki akan bergabung dengan tim basket, kan? Aku sedang berpikir untuk menjadi manajer tim basket putra! Jadi kali ini kita akan bersama—“

Basket. Aku merindukan tiga tahun yang kuhabiskan di sekolah menengah pertama dengan bermain basket.

Namun, semua yang tersisa hanyalah kenangan buruk. Aku tidak bisa mencapai tujuan yang telah kutetapkan untuk diriku sendiri, dan aku tidak bisa menyelesaikan apa pun. Yang kuingat hanyalah masalah yang kutimbulkan pada tim. Seharusnya aku mendedikasikan diriku untuk terus maju, tetapi aku malah mandek, bahkan tidak mampu mencapai hal itu.

“Kamishiro, aku tidak bermain basket lagi.”

“Eh? …. Itu bohong, kan? Karena, setelah semua yang terjadi…”

“Semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang memotivasiku.”

“Kamu sudah bermain basket seumur hidupmu!”

“Kamu lebih tahu dari siapa pun bagaimana akhirnya.”

Pada saat itu, ekspresi Kamishiro jelas-jelas berubah tegang. Dia menatapku dengan mata yang tampak seolah-olah hendak menangis. Aku membalas tatapannya secara langsung, tanpa mengalihkannya.

“Kamishiro, sampai kapan kamu akan merasa kasihan padaku?”

“Kamu salah! Maafkan aku, Yuki, tapi bukan begitu maksudku.”

“Pertama-tama, tidak mungkin aku akan bermain basket, mengingat aku ini orang yang suram. Sudah menjadi aturan sejak dulu kala bahwa satu-satunya hal yang cocok untuk orang yang “suram” adalah masuk klub pulang cepat! Jadi, aku mau pulang. Sampai jumpa nanti. Semoga sukses sebagai manajer.”

“Tunggu!”

Mengabaikan Kamishiro, aku berjalan menuju pintu depan. Mengabaikan para siswa dengan sepatu loafer mereka, aku berjalan menuju pintu depan. Inilah masa muda yang kuharapkan. Di sekolah menengah pertama, aku tidak bisa bersenang-senang setelah jam sekolah karena kegiatan klub. Bisa dibilang aku menyia-nyiakan masa mudaku.

Dalam hal itu, aku berencana untuk langsung pulang dari sekolah menengah atas dan menikmati kehidupan sekolah dengan santai. Aku bahkan tidak berniat menyentuh bola lagi. Aku telah kehilangan seluruh antusiasme dan semangat yang kumiliki saat itu.

Semuanya sudah lenyap. Aku tidak akan pernah bisa menghadapinya lagi seperti di masa lalu.

“Seperti masa lalu…… ya”

Rasanya seperti menyaksikan kembali salah satu sesi karaoke kemarin. Kelas menjadi gempar. Kali ini, banyak teman sekelasnya yang berada di sana untuk menyaksikannya. Mereka berada di tengah-tengah kehebohan.

(Kokonoe-kun, mana mungkin tidak terjadi apa-apa setelah itu! Kemarin adegan shura yang lain, sekarang hari ini!)

Teman-teman sekelas melirik ke arah Kamishiro, tetapi orang yang bersangkutan sedang menggigit bibirnya dan menatap pintu masuk kelas. Dia tidak memedulikan keributan dan kesibukan di dalam kelas.

“Um, Kamishiro-san. Maukah kamu menjadi manajer tim basket? Aku berencana untuk bergabung dengan tim basket, jadi aku senang mendengarnya.”

“Maaf, biarkan aku memikirkannya dulu.”

“Eh?”

Kasihan sekali pria itu. Ini jelas bukan saat yang tepat untuk mengajaknya bicara.

Pertanyaannya adalah, apakah Kamishiro menaruh hati pada Yukito? Ito, dengan senyum tipis di wajahnya, mencoba mengajak Kamishiro bicara, tetapi wanita itu mengabaikannya begitu saja.

(Pupupu…… aku seharusnya tidak tertawa tapi aku merasa sedikit kasihan pada Ito-kun. ……)

(EEEEEHHHHHH!!?! Jadi maksudmu Kamishiro-chan mencoba menjadi manajer Kokonoe-chan?)

“Sayang sekali Yukito adalah anggota klub pulang cepat. Aku suka olahraga, tapi aku melakukan banyak kegiatan klub di SMP. Kurasa aku akan bergabung dengan klub pulang cepat juga.”

Mihou, satu-satunya orang di sana, menggumamkan sesuatu seperti itu tanpa bisa membaca situasi.

v1ch2p1

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *