Monogatari no Kuromaku ni Tensei Shite Volume 2 Bab 12 Bahasa Indonesia
Bab 12: Di Atas Puncak Berselimut Merah dan Keperakan
Ren dan Fiona telah kembali ke benteng dan kini berada di atas atap.
Jika mereka tidak berpegangan pada jembatan gantung menggunakan sihir alam, mereka pasti sudah terbakar hidup-hidup di dalam aliran lava yang memenuhi dasar jurang.
Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Fiona.
Bahkan dengan kesadaran bahwa mereka harus berbalik kembali ke benteng, Ren tidak bisa memprioritaskan hal lain di atas nyawanya.
“……Maafkan aku. Ini salahku.”
“Tidak, Nona Ignat, Anda tidak bisa disalahkan.”
Ren mencoba menghibur Fiona, tetapi dia gemetar karena rasa frustrasi.
Meskipun dia tidak bersalah, dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyeret Ren ke dalam situasi tersebut dan membahayakannya.
Ren, yang tersentuh oleh jiwa mulianya, mengalihkan pikirannya pada apa yang ada di depan.
(Kita berhasil keluar entah bagaimana caranya, tapi masalah sebenarnya baru saja dimulai.)
Tepat setelah melarikan diri dari jembatan gantung, Ren telah mencari cara untuk menuruni gunung dari sekitar sana.
Namun, aliran lava yang mengelilingi mereka memperjelas bahwa hal itu tidak mungkin, memaksa mereka untuk menyerah dan kembali ke benteng.
(Orang-orang yang menyeberagi jembatan gantung seharusnya aman…….Aku hanya berharap mereka yang berpegangan padanya juga baik-baik saja.)
Para ksatria, petualang, dan peserta ujian yang berjalan lebih dulu seharusnya memiliki jalur yang aman ke depan.
Jika lava mengalir sesuai dengan kontur medan yang dia ketahui, maka rute yang digunakan untuk mendaki seharusnya masih utuh.
Namun, jalur yang tersedia untuk penurunan Ren dan Fiona kini terbatas.
Hanya rute yang lebih panjang dan lebih memutar yang tersisa.
Pertama-tama, mereka harus memutuskan apakah opsi terbaik mereka adalah menunggu di sini untuk diselamatkan.
(Jika kita hanya duduk diam di sini, tempat ini juga akan ditelan oleh lava.)
Dari atas atap, mereka memiliki pemandangan yang jelas tentang seberapa cepat lanskap pegunungan itu berubah.
Tidak ada tanda-tanda laju lava tersebut akan melambat.
cepat atau lambat, aliran lava dan api mungkin akan mulai meletus dari tanah di dekat benteng juga.
“Petualang, kita……”
Fiona juga telah menyadari bahwa sekadar menunggu di sini bukanlah sebuah pilihan.
“Kurasa pilihan terbaik kita adalah mencari jalur lain untuk turun gunung.”
“……Aku juga merasakan hal yang sama.”
Masih ada beberapa rute yang memungkinkan untuk turun dari Pegunungan Baldor.
Ren menunjuk ke satu arah.
“Yang terdekat ada di sebelah sana.”
Tempat yang dia tunjuk adalah wilayah Viscount Given.
Namun, dibandingkan turun ke arah wilayah Clausel, itu akan memakan waktu jauh lebih lama.
(Jika cara ini tidak berhasil, kita terpaksa harus mengambil rute yang bahkan jauh lebih merepotkan.)
Mereka juga bisa turun menggunakan jalur yang sama yang telah dilewati oleh para peserta ujian.
Tetapi itu adalah pilihan terakhir.
Itu akan memakan waktu terlalu lama, memaksa mereka untuk tetap berada di Pegunungan Baldor di tengah bencana ini.
Sambil menghela napas, Ren bergumam,
“Terlalu banyak hal aneh yang terjadi secara beruntun. Pasti ada seseorang yang menyebabkan semua ini karena suatu alasan.”
Fiona memiringkan kepalanya.
Ren melanjutkan,
“Sebagai contoh, sebagai bagian dari perebutan kekuasaan antar faksi.”
“Oh, begitu ya.”
Fiona mengangguk, memahami alasannya.
Namun kemudian dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Ini mungkin bukan sekadar perebutan kekuasaan faksi biasa. Petualang, apakah kamu ingat anak laki-laki yang sangat diperhatikan oleh para orang dewasa sebelum kita menyeberangi jembatan gantung? Anak itu adalah pewaris dari seorang bangsawan tingkat tinggi Faksi Pahlawan.”
Ren langsung memahami implikasinya.
“Dengan Nona Ignat yang juga berada di sini, situasi ini seharusnya tidak disebabkan oleh perebutan kekuasaan faksi…… setidaknya, tidak dengan cara seperti ini.”
“Ya. Tentu saja, kita tidak bisa memastikannya, tetapi tidak ada keuntungan bagi kedua belah pihak untuk melakukan hal seperti ini.”
Meskipun ada bangsawan seperti Viscount Given, Faksi Pahlawan tetap akan mematuhi batas-batas tertentu.
Begitu juga dengan Faksi Kerajaan, mereka tidak akan sembarangan membuat masalah dengan kehadiran Fiona.
Lalu, siapa yang bisa melakukan ini?
(Apakah ini terjadi karena kepala sekolah sedang tidak ada? Tidak, lebih mungkin, seseorang merencanakan insiden ini karena kepala sekolah sedang tidak ada.)
Dan jika Marquis Ignat ada di sini, tidak akan ada seorang pun yang mampu membuat keributan seperti itu dengan begitu mudah.
Ada kemungkinan bahwa seseorang dengan kekuatan yang setara atau lebih besar darinya telah terlibat, tapi—
(Apakah itu faksi yang lain?)
Mungkin mereka yang menginginkan kebangkitan Raja Iblis telah mengambil tindakan di sini.
Namun, berspekulasi tentang pelakunya tidak akan membantu mereka sekarang.
Pertama-tama, mereka harus fokus pada keselamatan diri mereka sendiri dan melarikan diri dari Pegunungan Baldor.
“Kita harus meninggalkan Pegunungan Baldor sesegera mungkin. Mari kita bersiap dan langsung berangkat.”
“Baik! Aku akan segera memeriksa persediaan kita!”
Karena hari masih siang, mereka memiliki banyak waktu sebelum gelap.
Dengan lahar yang mengalir di mana-mana, bahkan malam hari pun akan sedikit diterangi.
Mereka harus menempuh perjalanan sejauh mungkin selagi bisa.
Tepat saat mereka hendak kembali ke dalam benteng, Fiona tiba-tiba berhenti.
“────”
Dia menempelkan satu tangan ke dadanya.
Untuk sesaat, dia merasakan deyutan yang begitu kuat dan tak dapat dijelaskan.
“Nona Ignat?”
“T-Tidak! Bukan apa-apa!”
Tapi itu hanya sesaat.
Dia takut tubuhnya telah kembali seperti semula sebelum dia meminum obat itu, tetapi tidak ada tanda-tanda ke arah sana.
Fiona dengan cepat menepuk-nepuk pipinya dan memasang senyum manis.
Itu adalah kecantikan yang mampu memikat seluruh kerajaan—bagaikan bidadari.
◇ ◇ ◇ ◇
Mereka memilih jalur yang belum dilalap oleh lava saat mereka turun.
Medan di sekitar Pegunungan Baldor perlahan-lahan mulai terkikis.
Batu cair mengalir turun di lereng gunung yang terjal, mewarnai seluruh wilayah itu dengan warna merah.
Pada pagi hari kedua setelah meninggalkan benteng—
Ren terbangun saat fajar dan sedang menyiapkan sarapan ketika,
“Selamat pagi, Petualang.”
“Oh, selamat pagi.”
Fiona keluar dari dalam tenda, suaranya masih terdengar mengantuk.
Ren menoleh ke arahnya saat ia menjawab.
“Sarapannya hampir siap────”
“Maaf. Aku kesiangan lag────”
Keduanya terdiam di tengah kalimat.
Ren tidak yakin mengapa Fiona berhenti berbicara.
Sedangkan untuk dirinya sendiri, alasannya sederhana.
(……Ahoge itu.)
Itu adalah sisi Fiona yang tidak pernah ia bayangkan dari ketenangannya biasanya.
Saat Fiona melangkah keluar dari tenda, sehelai ahoge berdiri dengan manis di atas kepalanya, kemungkinan besar mencuat dari rambut ikalnya.
Haruskah ia memberitahunya?
Hal itu justru bisa membuatnya merasa malu.
Ren memaksakan senyum santai dan berpura-pura tidak menyadarinya.
“Ini bukan hidangan mewah, tapi silakan dinikmati.”
“Oh, tidak sama sekali! Ini sudah lebih dari cukup sebagai sebuah pesta!”
Fiona dengan cepat menguasai dirinya kembali dan melangkah mendekati api unggun, lalu menggigit sarapan sederhana yang telah disiapkan oleh Ren.
Ia duduk di samping api unggun, mendekap secangkir sup dengan kedua tangannya.
(Hal itu muncul lagi.)
Setiap kali dia meneguk supnya, helai rambut *ahoge* di kepalanya ikut bergoyang.
Rasanya tidak sopan jika terus menatapnya, jadi Ren dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Namun, saat itulah dia menyadari bahwa Fiona sedang menatapnya.
Dia memiringkan kepalanya sedikit karena bingung, yang membuat Fiona buru-buru mengalihkan pandangannya.
Dia sedikit mendekap tubuhnya saat duduk, membuat dirinya tampak lebih kecil sambil meminum supnya dalam diam.
“Aku akan bersiap-siap untuk mengemas barang kita. Kita tidak perlu terburu-buru, jadi nikmati saja makanmu.”
Saat Ren berdiri, Fiona sempat ragu sejenak, seolah-olah hendak memanggilnya.
Tangannya secara naluriah bergerak ke arah punggung pria itu, tetapi kemudian dia ragu-ragu dan menariknya kembali.
“Oh—terima kasih banyak!”
Suaranya diwarnai sedikit rasa terkejut.
Begitu berada di dalam tenda, Ren mulai mengemasi barang-barang bawaan mereka yang sedikit.
“Hm.”
Dia mengangguk pelan pada dirinya sendiri saat membereskan perkakas.
Kemudian, saat dia merentangkan tangannya, jari-jarinya menyentuh rambutnya—
Dan benda itu ada di sana.
Sehelai rambut berdiri tegak lurus.
(Kurasa itu membuat skor kita imbang.)
Ini bukanlah sebuah kompetisi, tetapi dia tetap merapikannya dengan kepala batu.
Dari luar, suara terkejut Fiona terdengar.
“T-Tunggu, aku juga punya?!”
Dia pasti menyadarinya setelah tanpa sengaja melihat pantulan dirinya di suatu tempat.
◇ ◇ ◇
“…Sial.”
Di bawah langit yang penuh bintang, Ren duduk di samping api unggun, tiba-tiba tersentak bangun.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia tertidur.
Mereka memutuskan untuk berkemah di sini malam ini, memadatkan salju dan mendirikan dua buah tenda.
Setelah makan malam, dia telah mendesak Fiona untuk beristirahat.
Jadi, dia mengambil giliran berjaga malam—hanya untuk ketiduran sendiri.
“Tidak apa-apa, Petualang.”
Sebuah suara terdengar di sampingnya.
Fiona.
Dia menoleh dan melihat gadis itu sedang duduk di dekat api unggun.
“Tidak ada apa-apa yang terjadi saat kamu tidur. Tidak ada monster yang menyerang atau semacamnya.”
“…Aku minta maaf. Sudah jadi tugas perluku untuk berjaga, dan aku malah tertidur juga pada akhirnya.”
Ren menundukkan kepalanya, tetapi Fiona langsung menggeleng.
“Seharusnya aku yang meminta maaf. Kamu juga begadang tadi malam, bukan? Makanya kamu tadi tampak sedikit mengantuk…”
“Jangan dipikirkan. Ini sudah bagian dari pekerjaan.”
“Tidak. Dalam situasi seperti ini, aku juga ingin membantu.”
Dia memberinya senyuman lembut.
Terbalut dalam pakaian terhangatnya, dia tetap memeluk lututnya untuk mencari kehangatan.
Sebuah cangkir kayu yang mengepulkan uap panas berada di tangannya, mengeluarkan aroma teh yang samar.
Seolah teringat sesuatu, Fiona memberikan cangkir itu kepada Ren dan meraih teko kecil di dekat api, menyeduh teh lagi.
“Keluarga Ignat punya beberapa pelayan yang dulunya bekerja di Istana Kekaisaran, kau tahu.”
“Wah… Memang Khas keluarga Ignat.”
“…Tapi bahkan mereka pun harus menahan senyum setiap kali mencicipi teh buatanku.”
Ren tidak yakin bagaimana harus menanggapinya.
Namun satu hal yang pasti—dia tidak bisa begitu saja menolak untuk meminumnya.
Fiona tersenyum malu-malu.
“Jika rasanya terlalu buruk, kamu bisa membuangnya.”
Ren mengambil cangkir itu dengan senyuman tenang dan membawanya ke bibirnya.
(Hmm.)
Itu membuatnya benar-benar terbangun.
Teh itu… sangat pahit.
“Ini enak.”
“Itu bohong, kan? Aku baru saja melihat alis kamu berkedut.”
“Itu hanya kebiasaanku saja. Jangan khawatirkan itu. Aku serius saat bilang ini enak.”
“Yah… aku senang mendengarnya, tapi kumohon jangan memaksakan diri, ya? Kalau perutmu sampai sakit, itu kan gawat…!”
Dia sama sekali tidak merasa makanannya tidak enak.
Saat Ren menelan suapan demi suapan berikutnya, Fiona merasa bersalah sekaligus senang atas tindakannya.
“Menurutmu, apakah kita butuh waktu sekitar dua hari lagi untuk turun gunung?”
Setelah keheningan sejenak, Fiona berbicara, dan Ren menanggapinya.
“Kurasa begitu. Kita seharusnya bisa mencapai wilayah Viscount Given pada saat itu, tapi… eh? Kalau dipikir-pikir, apakah masih pantas menyebutnya wilayah Viscount Given lagi?”
Dia melontarkan pertanyaan itu karena sang viscount sudah tidak ada lagi.
Tidak ada keraguan bahwa dia telah jatuh dari kekuasaan setelah insiden itu, namun yang lebih penting, dia telah mengakhiri hidupnya sendiri sebelum hal itu terjadi.
“Um… karena tempat itu sekarang berada di bawah tahanan kekaisaran, sepertinya tidak… ya?”
“…Demi kesederhanaan, mari kita sebut saja itu wilayah Viscount Given untuk saat ini.”
Ren menggaruk pipinya, dan Fiona mengeluarkan sedikit tawa kecil, matanya menyipit.
Tidak ada jejak kesedihan di ekspresinya.
Dia mendongak menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip, menghembuskan napas putih sementara cahaya api menerangi wajahnya.
“Anda adalah orang yang kuat, Lady Ignat.”
“Huh? Dari mana datangnya pertanyaan itu secara tiba-tiba?”
“Maaf jika aku keliru, tetapi… bahkan saat di jembatan gantung tadi, Anda tidak pernah menunjukkan rasa takut sedikit pun.”
“Hehe. Jika itu maksudmu, alasannya sama seperti yang kubilang padamu sebelumnya.”
Senyumannya tampak teguh, dan suaranya sama sekali tidak menunjukkan jejak ketakutan, menegaskan bahwa kesan Ren tentang kekuatannya bukanlah sekadar imajinasinya.
“Aku sempat menyebutkan sebelumnya bahwa orang-orang di benteng menunjukkan gejala yang mirip dengan kerusakan vaskular, kan?”
Rasanya topik pembicaraannya telah berubah, tetapi Ren dengan cepat mengangguk.
Meskipun demikian, topik itu sama sekali tidak berubah.
Percakapan ini memiliki suatu tujuan.
“Aku juga mengalami kerusakan vaskular. Kerusakanku begitu parah hingga para tabib, apoteker, bahkan pengrajin alat sihir menyatakan bahwa itu tidak mungkin disembuhkan. Dikatakan bahwa itu adalah kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
(…Jadi itulah alasan kenapa dia mengenakan kalung itu.)
Kalung anti-sihir itu dibuat persis untuk alasan tersebut.
Awalnya, kalung itu dibuat oleh salah satu dari Tujuh Pahlawan untuk menyembunyikan keberadaan rekan-rekan mereka.
Dengan menekan sihir mereka yang luar biasa, mereka mampu mengelabui musuh, termasuk Raja Iblis.
Dengan memanfaatkan efek penekan sihir tersebut, mereka pasti berharap dapat meringankan kondisi Fiona, meski hanya sedikit.
“Ayahku memberiku alat penyembuh ajaib dan ramuan. Rak buku yang dipenuhi buku-buku yang hanya bisa kubaca pada hari-hari ketika aku merasa sehat. Sebuah kursi yang tidak bisa kududuki tanpa bantuan.
Dan secuil langit yang terlihat dari jendelaku. Itulah seluruh duniaku.”
Bergerak sendiri hampir mustahil dilakukan tanpa bantuan.
Bahkan pada hari-hari yang baik, yang bisa dia lakukan hanyalah duduk di tempat tidur, minum, atau makan sendiri.
Dan bahkan hal itu jarang terjadi.
Langit yang dilihatnya terbatas pada pemandangan dari jendelanya.
Jika Fiona dari setahun yang lalu melihat pemandangan di hadapannya sekarang, dia pasti akan menganggapnya tidak lebih dari sebuah mimpi.
“Tapi suatu hari, ayahku dan para pelayan mulai bersikap berbeda.”
“Bersikap berbeda?”
“Ya. Mereka tiba-tiba menjadi menjaga jarak… seolah-olah tidak ada yang ingin menatap mataku.”
Fiona salah paham, mengira bahwa umurnya sudah tidak lama lagi berdasarkan diagnosis.
Malam itu, tanpa sepengetahuannya, obat tertentu diam-diam dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Marquis Ignat telah mengatur agar obat itu diberikan kepadanya secara diam-diam untuk menghindari memberinya harapan palsu.
Perubahan sikap dirinya dan para pelayan semata-mata karena mereka sedang mendoakan agar obat tersebut mujarab.
(Obat itu… apakah dibuat dari bahan-bahan Sheefulfen?)
Fiona tidak mengatakannya secara terang-terangan, tetapi Ren merasa yakin.
“Saat aku membuka mata, aku merasa lega karena masih hidup. Aku bertanya-tanya apakah, dengan bantuan, aku bisa berdiri hari ini. Apakah aku bisa duduk sendiri. Berapa kali lagi aku bisa menyuapi diriku sendiri. Aku berdoa untuk keajaiban-keajaiban kecil seperti itu. Tapi aku segera menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan tubuhku.”
Ketika dia terbangun, tubuhnya terasa sangat ringan.
Segala sesuatu di dalam penglihatannya berkilau, begitu jelas dan memukau.
“Tubuhku tidak terasa sakit… Hal itu saja sudah terasa sangat aneh sehingga aku mencoba bangkit dari ranjangku tanpa bantuan—hanya untuk jatuh tersungkur ke lantai. Kepalaku benturan dan memuat benjolan. Pipiku memar, dan itu membengkak. Tapi hanya itu saja. Yang kulakukan hanyalah merangkak di atas karpet dengan menyedihkan… namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis karena air mata kebahagiaan.”
Fiona memalingkan wajahnya dari langit dan menatap Ren.
Matanya bersinar dengan kilau mistis yang begitu hebat hingga bintang-bintang di atas tampak seperti bintik-bintik debu belaka jika dibandingkan.
Seandainya Ren bukan Ren, Fiona akan mati seperti takdirnya semula.
Melihatnya berjuang begitu putus asa untuk hidup di masa kini membuatnya tampak semakin berharga.
Dan sekarang, dia sepenuhnya mengerti mengapa wanita itu tidak takut pada apa pun.
“Itulah sebabnya aku tidak takut pada apa pun sekarang. Dibandingkan dengan hari-hari itu, ini bukan apa-apa.”
Dia mengulanginya seolah untuk menegaskan kata-katanya sendiri.
“Dan lagi pula, aku bisa terus maju jika memikirkan apa yang terjadi setelah kita berhasil turun gunung.”
Dia membisikkan sesuatu pelan, meskipun dia tidak mengucapkannya dengan jelas.
Namun, apa pun itu, dia menyimpan makna yang mendalam dalam kata-kata tersebut.
Itulah yang mendorongnya untuk maju.
Ren tidak mendengar gumamannya, tapi itu tidak masalah.
“Kita pasti akan turun dengan selamat. Aku bersumpah akan membawamu melewati Pegunungan Baldor, apa pun yang terjadi.”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ren, tatapannya yang penuh tekad menembus diri Fiona.
“Sejujurnya… mereka benar tentang dirimu. Kamu benar-benar orang yang sangat baik.”
Dia membisikkan kata-kata itu begitu pelan hingga Ren tidak mendengarnya, sambil terkekeh pelan pada dirinya sendiri.
Lalu—
“…”
Dia tiba-tiba meletakkan tangan di dadanya.
Dia menarik napas dalam-dalam, dan Ren merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Kamu tidak apa-apa? Ada yang salah…?”
“T-Tidak! Aku baik-baik saja!”
Fiona buru-buru menyangkalnya, tetapi ekspresinya cukup tenang hingga meyakinkan.
Dia terlihat begitu tenang sehingga Ren hampir percaya bahwa dia hanya membayangkan momen kegelisahan tadi.
“Tidurlah lagi. Aku akan baik-baik saja sendirian.”
Dia tadi sempat tertidur, tetapi dia bisa tetap terjaga sedikit lebih lama.
Ketika dia menunjukkan kekhawatiran padanya, Fiona ragu-ragu sejenak sebelum meminta maaf.
“Kalau begitu… aku akan menerima tawaranmu dan beristirahat duluan.”
Dia berdiri, meminta maaf sekali lagi, lalu berjalan menjauh dari api unggun tempat Ren duduk.
Dia kembali ke tenda yang digunakannya dan menutup pintunya.
Pada saat yang sama, dia langsung berlutut dengan keras.
Berbaring di tempat, dia menyilangkan lengannya di dada dan menundukkan pandangannya.
Sambil menahan rasa sakit luar biasa yang mengalir di tubuhnya, dia bergumam,
“…Kenapa… tiba-tiba…?”
Agar Ren tidak menyadarinya, dia bahkan menekan napasnya, menahannya sedapat mungkin.
Suara yang tidak bisa sepenuhnya dia redam diredam dengan putus asa oleh kedua tangannya yang membekap mulutnya.
◇ ◇ ◇ ◇
Keduanya meninggalkan tempat perkemahan begitu malam berganti pagi.
Dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu, salju di sekitar telah jauh berkurang.
Meskipun dampak dari hujan salju lebat masih terlihat, aliran lava telah mencairkan sebagian besar salju dengan panasnya.
Berkat ini, perjalanan turun tampak berjalan dengan lancar, tetapi—
(…Ini benar-benar parah.)
Jalur yang mengarah ke wilayah Viscount Given terhalang tepat di hadapan Ren.
Lereng curam di bawah tertutup oleh lava, dan lava tersebut memercik serta mendesis saat menggelegak naik.
(Saat Marquis Ignat mencoba membangkitkan Asvar, kondisinya tidak seburuk ini.)
Memang tidak tepat mencampuradukkan game dengan kenyataan, tetapi situasinya tidak dapat disangkal sangatlah gawat.
Sepanjang perjalanan, Ren telah mencoba menggunakan kekuatan sihir alami dari pedang sihir kayunya untuk membersihkan jalan.
Fiona juga telah mencoba menghentikan aliran lava itu dengan sihir es miliknya.
Namun tentu saja, akar pohon dan tanaman merambat hangus terbakar.
“Sepertinya konsentrasi sihir dari aliran lava ini semakin meningkat.”
Seperti yang dikatakan Fiona, aliran lava tersebut dilapisi dengan sihir.
Bahkan ketika Fiona membekuannya dengan sihir es, lava itu dengan cepat kembali mengamuk hanya setelah beberapa detik.
Seolah-olah aliran lava itu sendiri hidup, melawan sihir es saat ia mengamuk.
“Kalau begitu, ini tampaknya bukan fenomena alam.”
“Aku setuju. Situasi ini rasanya seolah-olah sengaja menyudutkan kita, seperti seseorang yang sedang mendorong kita ke dalam perangkap.”
Sama seperti insiden di jembatan gantung, sulit untuk percaya bahwa ini adalah kejadian alam.
Pada titik ini, rasanya kembali untuk mencari rute lain bukanlah langkah yang bijak.
Jalan menuju benteng itu entah sudah lenyap atau akan segera lenyap.
(Tidak ada jalan keluar dari sini—yah, bukan, bukan berarti sama sekali tidak ada jalan.)
Tidak ada waktu untuk memilih-milih jalur turun—tidak, mungkin memang tidak pernah ada.
“Aku ingat satu jalur lainnya.”
“Jalur lain… Apakah kita masih bisa turun dari sana?”
“Ya. Tanpa keraguan.”
Itu adalah peta tersembunyi yang diketahui oleh Ren.
Masalahnya adalah apakah lokasi itu benar-benar ada di dunia ini.
Selain itu, ada ancaman konstan dari gargoyle pemakan baja dan lingkungan sekitar dari peta tersembunyi tersebut, yang telah membuat Ren menghindari penggunaan rute itu di masa lalu.
“Itu adalah jalur yang berbahaya, karena ada monster peringkat-D. Jika kita tidak bisa mencapai jalur itu, mungkin lebih baik kita tetap di benteng dan menunggu.”
“Tidak.”
Fiona tersenyum pahit.
“Kamu harus paham, petualang. Kita tidak bisa lagi mengharapkan bantuan dari luar.”
Sekalipun orang-orang yang berpisah di jembatan gantung itu masih hidup dan berhasil kembali dengan selamat, mereka kemungkinan besar sudah selesai menuruni gunung sekarang.
Setelah itu, mereka mungkin mencari bala bantuan—atau mungkin, para ksatria dan petualang yang baru saja turun sedang dalam perjalanan untuk membantu Ren dan Fiona.
Namun, itu tidak mungkin.
Jika mereka tidak melewati jembatan gantung, satu-satunya cara untuk mencapai benteng adalah dengan melewati jurang.
Tetapi melewati jurang yang dalam itu tidak realistis, dan aliran lahar terus menghebat.
(Meskipun begitu, kita juga tidak bisa mengandalkan bantuan yang datang dari jalur lain.)
Jika bantuan akan datang dari jalur-jalur tersebut, Ren dan Fiona pasti sudah turun sendiri.
Mengingat hal itu, menunggu bantuan hanya akan membuat aliran lahar merenggut nyawa mereka.
“Kita harus pergi. Meskipun berbahaya, satu-satunya cara bagi kita untuk bertahan hidup adalah dengan mengambil jalur yang kamu tahu.”
Jika mereka sampai ditelan oleh aliran lahar karena menunggu, mereka tidak punya pilihan selain maju, meskipun mengetahui bahayanya.
Komentar