Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 5 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 5 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Ungkapan Terima Kasih Para Roh

No-life Gamers sedang libur, yang berarti Sacred, yang menyesuaikan jadwal mereka, juga libur. Pada hari-hari seperti itu, suasana di sekitar meja makan terasa lebih santai dari biasanya.

Tiga dari roh kontrak Sophie saat ini berkumpul di salah satu sudut meja. Karena mereka sedang tidak termaterialisasi saat itu, tidak ada seorang pun yang dapat melihat atau mendengar mereka.

“Kee, kee.” Kelpie, roh air muda yang menyerupai lumba-lumba, terdengar sedih. Kemarin, roh itu telah menghabiskan seluruh MP Sophie sekali lagi di dalam dungeon Peringkat S.

“Ayolah, kamu tidak perlu sedih begitu. Kamu hanya kehilangan kendali, kan?” Bocah setengah telanjang dengan rambut berduri dan cara bicara kasar ini adalah Éar, roh udara muda milik Sophie. Terlepas dari penampilannya seperti anak berusia tiga tahun yang usil, dia berusaha sebaik mungkin untuk menghibur Kelpie.

“Mengendalikan jumlah MP memang sulit.” Korpokkur, roh bumi muda yang tampak seperti anak laki-laki berusia tiga tahun mengenakan pakaian eksotis, dengan tenang berusaha meyakinkan Kelpie untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

Éar memasang pose berpikir dan mendongak menatap Salamander, roh api muda yang berada di pangkuan Sophie dengan wujud salamander raksasa merah Jepang. “Hmm, sepertinya Salamander dan Kelpie mengalami masa-masa yang lebih sulit daripada kita berdua.”

Tidak seperti Éar dan Korpokkur, yang dengan cukup cepat memahami cara mengendalikan jumlah MP yang mereka ambil dari Sophie, Salamander dan Kelpie masih terus berjuang.

“Tuan Rohzen bilang itu masalah afinitas,” jawab Korpokkur. “Dia bilang roh yang menyerupai binatang itu lebih kuat, tetapi harus bekerja lebih keras dalam hal pengendalian.”

“Kalau dia berkata begitu…” Éar memasang ekspresi ragu. “Bagaimana pun, aku merasa tidak enak karena kita sudah banyak merepotkan Sophie. Menurutmu, bisakah kita berterima kasih padanya dengan suatu cara?”

“Kee?”

“Maksudmu, seperti hadiah?”

“Ya, sesuatu yang bisa membuatnya senang. Mengingat dia memilih untuk mengadakan kontrak dengan kita dan membawa kita keluar untuk melihat dunia.”

Keempat roh ini telah hidup selama berabad-abad hingga ribuan tahun, tetapi mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk meninggalkan Rohzenheim. Akibatnya, Éar sedang mempertimbangkan untuk memberi Sophie sesuatu guna mengungkapkan rasa terima kasih mereka karena telah menunjukkan bagian dunia yang lain kepada mereka.

“Ada benarnya juga.”

“Kee!” imbuh Kelpie.

Korpokkur dan Kelpie sama-sama menyukai gagasan Éar.

“Nah, kira-kira apa yang bisa membuat Sophie senang…” Sayangnya, Éar tidak begitu tahu tentang hal-hal yang disukai maupun tidak disukai oleh Sophie, karena dia pada dasarnya hanya tinggal di dungeon atau di rumah.

Kedua roh yang lain juga memutar otak mereka, tetapi tidak ada satu pun ide yang terlintas.

“Oh, sepertinya mereka bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.” Korpokkur menyadari bahwa banyak orang di ruang makan sedang bersiap-siap untuk keluar.

Rupanya Meruru hendak pergi ke pusat kota bersama beberapa anggota Sacred, termasuk Rosetta. Kemungkinan besar mereka akan pulang dalam keadaan mabuk berat. Keel hendak mampir ke gereja, sementara Helmios berencana membawa sisa rekan-rekannya ke Guild Petualang. Dogora dan Krena akan berlatih bersama Dverg di halaman seperti biasa.

Setelah semua orang yang memiliki tujuan tertentu berdiri dan meninggalkan ruangan, Allen dan para No-life Gamers yang tersisa menaiki tangga ke lantai dua rumah tersebut.

Éar mendengus jengkel. “Ayolah, Sophie tidak pergi keluar? Dia mau membantu pekerjaan aneh itu lagi?”

Ternyata, Sophie berniat menggunakan hari liburnya yang berharga untuk membantu Allen membuat lebih banyak item pemulihan. Menurut pandangan Allen, dia tidak akan pernah merasa punya terlalu banyak Blessing of Heaven atau Seed of Magic, jadi dia menghabiskan setiap waktu luangnya untuk membuatnya. Cecil dan Sophie sering menemaninya di hari libur mereka. Tentu saja, itu berarti Volmaar juga ikut, semata-mata agar dia bisa tetap berada di sekitar sana dan memastikan Sophie tidak bekerja terlalu keras.

Ketiga roh itu menyusup ke kamar Allen tanpa pikir panjang. Sesuai dugaan Éar, Allen, Cecil, Sophie, and Volmaar memang tengah sibuk membuat Blessing of Heaven.

“Jadi mereka akan berada di sini sepanjang hari.” Korpokkur tampak murung. “Bagaimana kita bisa mencari tahu apa yang diinginkan Sophie?”

“Kee…? Kee, kee!” Tiba-tiba, Kelpie tampak mendapat pencerahan dan mulai berbicara dengan Salamander, yang sedang meringkuk di pangkuan Sophie.

“Au?” Roh api itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggonggong “Au, au!” sebagai tanda mengerti dan perlahan-lahan merangkak turun ke tempat kelompok Allen bekerja. Semua orang memperhatikan saat ia merayap maju… dan tiba-tiba melahap salah satu Blessing of Heaven yang baru saja dibuat.

“Wa— Apa yang kamu lakukan?!” seru Cecil.

Sophie terkesiap. “Salamander!”

Keduanya terkejut hingga kehabisan kata-kata saat roh api itu menelan lebih banyak Blessing seolah-olah itu adalah camilan lezat.

“Salamander, kamu tidak boleh melakukan itu!” kata Sophie dengan nada menegur dan mencoba mengangkat rohnya, tetapi makhluk itu mulai meronta-ronta dengan penuh semangat.

Melihat ekspresi khawatirnya, Allen menyarankan, “Sophie, mungkin Salamander bosan harus diam saja sepanjang hari. Bagaimana kalau membawanya jalan-jalan keluar dan mencari udara segar?” Dia sama sekali tidak terlihat marah mengenai Blessing of Heaven yang dimakan.

“Aku… mungkin akan menerima saranmu,” suara Sophie terdengar sangat menyesal.

“Bagus! Rencana ini berhasil!” seru Éar sambil mengepalkan tinjunya. “Kerja bagus, Salamander!”

Maka Sophie meminta diri dan pergi ke kota dengan Salamander di dalam gendongannya. Karena khawatir padanya, Volmaar ikut menyusul.

“Au, au!” Roh api itu membalikkan tubuhnya dengan penuh semangat.

“Kamu ingin aku pergi ke arah sini, Salamander?” Sophie memastikan dia memegang Salamander dengan lembut namun mantap saat dia mulai berjalan ke arah yang ditunjukkannya.

Ketiga roh lainnya mengikuti dari dekat, melayang di udara dan menunggu untuk melihat bagaimana situasi selanjutnya. Akhirnya, kelompok itu tiba di pasar terbesar di Menara Penderitaan.

“Au, au!” Salamander mencondongkan tubuh ke depan dengan antusias ketika Sophie berjalan melewati sebuah warung sayur.

“Salamander, jangan,” tegur Sophie sambil menahannya. “Kamu tidak boleh makan itu.”

“Sepertinya dia tidak begitu tertarik pada makanan ya,” amati Éar. “Dia juga tidak makan terlalu banyak di rumah.”

“Peri tidak makan banyak,” konfirmasi Korpokkur.

“Kee, kee.”

Sophie juga tampaknya tidak begitu tertarik di toko daging. Sesaat kemudian, dia tiba di sebuah warung sudut yang menjual barang-barang antik seperti periuk.

“Au, au!”

“Salamander, jangan. Nanti pecah.”

Karena roh api itu mulai meronta-ronta lagi di depan sebuah periuk yang terbuat dari tanah liat, Sophie terpaksa memperingatkannya sekali lagi. Di belakangnya, roh-roh lain mencatat dengan kecewa bahwa tidak ada barang di sini yang menarik minatnya dan lantas memberi tahu Salamander tempat berikutnya yang harus dituju.

“Au, au!”

“Ini bukan makanan, Salamander. Tapi bentuknya bagus.”

Kali ini, Sophie berada di sebuah lapak tempat aksesoris buatan tangan seperti kalung dibentangkan di atas selembar kain besar di tanah. Nenek kurcaci yang kemungkinan besar adalah pemiliknya pindah dari bagian belakang tempat dia duduk bersandar di dinding ke kursi di depan barang-barang dagangan, melirik Sophie dari sudut matanya.

Tanpa berpikir panjang, Sophie berlutut untuk melihat aksesoris itu dari dekat. Dia dan Salamander menatap dengan binar-binar di mata mereka.

“Nona muda, bagaimana menurutmu? Kuberi harga murah,” kata sang nenek dengan suara ramah, menilai dari penampilan dan cara bicara Sophie bahwa dia kemungkinan punya banyak uang.

“Oh, aku sangat menyesal. Sebenarnya aku tidak membawa uang hari ini,” Sophie meminta maaf dan dengan penuh penyesalan meninggalkan lapak tersebut. Dia tidak membawa dompetnya karena mengira dia hanya akan berjalan-jalan.

“Dia tampak tertarik pada yang ini,” kata Éar dengan puas.

Korpokkur mengangguk. “Mhm. Mari kita ambil ini.”

“Kee, kee!” Kelpie menyetujui.

Sayangnya, Korpokkur kemudian menyadari sesuatu. “Tapi kita tidak punya uang. Apa yang harus kita lakukan?”

“Keeee…” Kelpie merengek kecewa.

Di dunia manusia, uang dibutuhkan untuk mendapatkan barang. Mencuri tentu saja tidak boleh, karena para arwah tahu hal itu akan membuat Sophie sedih.

“Heh heh heh,” Éar terkekeh. “Jikalau hal seperti ini terjadi… Ta-da!”

Korpokkur berseru, “Itu uang!” sementara Kelpie menjerit girang.

Benar saja, ada koin emas di atas telapak tangan Éar yang terbuka. Emosi Korpokkur jarang terlihat di wajahnya, tetapi keterkejutannya jelas terlihat dari reaksinya.

Rupanya Éar telah menyambar koin emas yang tergeletak begitu saja di atas meja di kamar Allen. Arwah udara remaja itu benar-benar membuktikan reputasinya sebagai pembuat keonaran.

“Bagikan MP-mu kepadaku supaya aku bisa membeli benda ini.”

“Baiklah.”

“Kee.”

Korpokkur dan Kelpie menyalurkan MP mereka ke tubuh Éar, yang tiba-tiba berwujud nyata di sudut gelap pasar. Dia bergegas menuju kios tempat Sophie berhenti dan mengamati produk-produk yang dijual dengan penuh perhatian.

Ketika nenek itu menyadari keberadaannya, dia berkata dengan ramah, “Halo, sayang. Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Dia sama sekali tidak menduga anak itu akan membeli apa pun, karena dia terlihat baru berusia sekitar tiga tahun.

“Aku datang untuk membeli sesuatu.” Éar tidak memiliki banyak waktu, jadi dia memberikan jawaban singkat dan langsung mengulurkan koin emasnya.

“Uang yang banyak sekali!” Mata sang nenek mendelik lebar.

Aksesoris di sini tidak memberikan penambahan statistik dan hanyalah produk kaca biasa. Harganya jauh dari sepadan dengan sekeping koin emas.

“Mana barang yang tadi dilihat oleh elf itu?”

“Oh, apakah nona muda tadi yang mengutusmu? Um, benda inilah yang sepertinya paling dia minati.”

Sophie tadi sedang melihat sebuah kalung dengan butiran kaca besar. Dia jelas terlihat seperti orang yang memiliki prestise dan uang, jadi sangat masuk akal jika dia mengutus seorang pelayan untuk membelikan barang yang menarik perhatiannya. Peri kerdil itu merasa aneh betapa cepatnya pelayan itu datang, tetapi dia tidak ambil pusing.

“Kalau begitu yang ini, tolong. Ini uangnya.”

“T-Terima kasih. Sampaikan rasa terima kasihku kepada nona mudamu, ya?”

Menerima kalung dan uang kembaliannya, Éar berkata dengan singkat, “Baiklah” dan pergi secepat yang dia bisa. Saat berikutnya, MP-nya habis. Sekali lagi menjadi tak kasat mata, dia bergabung kembali dengan kedua roh muda lainnya.

“Kau berhasil,” catat Korpokkur dengan penuh apresiasi saat Kelpie menjerit senang.

Éar menyeringai. “Heh heh. Baiklah, ayo kita taruh ini di kamar Sophie secara diam-diam. Ini akan menjadi kejutan!”

Ketika Sophie kembali ke markas, Salamander sudah tenang, jadi dia melanjutkan kembali membantu Allen membuat barang-barang pemulihan. Setelah makan malam, dia kembali ke kamarnya, di mana dia menemukan sesuatu yang berkilau di atas mejanya.

“Astaga! Bukankah ini…” Sophie mengenali kalung itu.

Para roh muda terkikik saat melihatnya memiringkan kepalanya dengan bingung.

Pendidikan Kaum Bangsawan

Pelomas memenuhi panggilan ke istana kerajaan Ratashia dan mendapati dirinya dibawa ke sebuah ruangan di mana Viscount Granvelle berdiri beberapa langkah ke belakang sementara putranya, Thomas, tengah serius memeriksa jajaran alat musik dengan kerutan di wajahnya.

Viscount itu menghela napas. “Kita sudah berada di sini cukup lama, Thomas. Pelomas sibuk. Jangan buang lebih banyak waktunya dari yang diperlukan.”

“B-Baik, ayah.” Thomas memasang wajah yang bahkan lebih serius saat dia terus mencoba memilih alat musik.

“Oh, tidak apa-apa!” Pelomas melambaikan tangannya dengan gugup. “Aku punya banyak waktu. Silakan ambil waktu selama yang kamu butuhkan.”

Pelomas sebenarnya memiliki beberapa janji temu yang dijadwalkan setelah ini, tetapi Viscount Granvelle adalah penguasa wilayah kampung halamannya sekaligus pendukung Pelomas Whaling Company. Dia bersedia memberikan beberapa kelonggaran bagi sang viscount, tetapi ada batasan untuk apa yang bisa dia lakukan.

Setelah Rohzenheim dan Ratash secara resmi menjalin hubungan diplomatik dan menandatangani perjanjian perdagangan, satu-satunya perusahaan dagang yang diberi wewenang untuk memfasilitasi perdagangan tersebut, Pelomas Whaling Company, mulai berkembang dalam skala yang begitu cepat. Senjata, zirah, dan barang-barang lain yang bersumber dari Rohzenheim tidak hanya mengalir ke Ratash, tetapi juga melalui Ratash menuju Giamut dan Baukis.

Tentu saja, nama perusahaan dagang tersebut melambung tinggi sebagai hasilnya, dan para bangsawan yang berharap untuk berbisnis dengan perusahaan itu meningkat tajam jumlahnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa seluruh bangsawan negeri itu telah berbondong-bondong datang ke ibu kota kerajaan demi mendekati Pelomas, yang saat itu masih bersekolah di akademi perdagangan.

Apa yang paling mereka inginkan adalah alat musik peri, yang telah diperkenalkan ke Ratash bersamaan dengan senjata, perabot rumah tangga, dan barang-barang lainnya ketika perdagangan dengan Rohzenheim dimulai. Alat-alat musik ini memiliki beberapa kemiripan dengan alat musik Ratash dalam bentuk dan cara memainkannya, tetapi suara yang dihasilkan sangat berbeda. Belakangan ini, semua bangsawan terbawa dalam perlombaan untuk mempelajarinya dan menganggap kemahiran memainkannya sebagai bagian baru dari pendidikan umum para bangsawan. Bukan hal yang aneh sama sekali melihat mereka mengadu keterampilan satu sama lain dalam pertunjukan kompetitif.

Selain itu, fakta bahwa Rohzenheim dan Ratash kini memiliki hubungan diplomatik berarti akan ada semakin banyak kesempatan bagi para bangsawan dari kedua negara untuk saling bertemu. Para bangsawan Ratash berpikir bahwa, ketika pesta dansa diselenggarakan, mereka yang bisa memainkan alat musik Rohzenheim dengan baik akan menarik perhatian istana kerajaan. Akibatnya, mereka semua berebut untuk mendapatkan alat musik untuk diri mereka sendiri atau untuk anak-anak mereka.

“Bagaimana dengan yang ini?” Thomas mengambil sebuah seruling yang mirip dengan ocarina.

“Itu alat musik yang bagus,” jawab Pelomas. “Seharusnya tidak begitu sulit untuk dipelajari.”

“Begitu ya.”

Ternyata, ini akan menjadi kali pertama Thomas belajar memainkan alat musik. Inilah sebabnya mengapa Pelomas merekomendasikan alat musik yang seharusnya mudah dipelajari, dan sang viscount menyetujui pilihan tersebut.

Thomas saat ini bekerja sebagai pejabat di istana kerajaan, tetapi dia pada akhirnya akan menggantikan Viscount Granvelle sebagai kepala keluarga Granvelle berikutnya. Di satu sisi, sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang bangsawan untuk menguasai keterampilan yang akan memberinya perhatian di dalam istana yang dapat ia manfaatkan untuk meraih keunggulan.

Pelomas bersuara. “Jika Anda menyukai yang itu, Lord Thomas, Anda boleh memilikinya secara cuma-cuma. Alat itu juga dilengkapi kotak kayu cantik yang bisa saya—”

“Hm?” Thomas mengerutkan kening dan memotong ucapannya. “Aku menghargai tawaranmu, tetapi kau adalah seorang pedagang yang secara resmi diberi hak untuk berdagang dengan Rohzenheim. Transaksi tetaplah transaksi. Aku akan membayar penuh.”

Bangsawan muda itu cukup pintar untuk tidak berlindung di balik pembenaran seperti “kau adalah pedagang dari wilayahku” dan “ini cuma sebuah alat musik.” Arogansi semacam itu hanya akan mencoreng reputasinya di istana. Dia memerintahkan kepala pelayan keluarganya, Sebas, yang berdiri di dekat situ, untuk mengantarkan uang tersebut ke kediaman Pelomas pada lain hari.

“Terima kasih, My Lord,” Pelomas membungkuk. “Sepertinya urusan kita sudah selesai di sini, jadi saya akan pamit sekarang.” Dia dengan sigap mulai mengemas alat-alat musik lainnya, hanya menyisakan ocarina beserta kotak kayunya, lalu memberitahu Sebas mengenai harganya.

Thomas mengangguk. “Baiklah. Maaf karena telah menyita begitu banyak waktu di tengah kesibuk—”

BRAK!

Tiba-tiba, pintu terbuka dengan bantingan yang begitu kuat hingga nyaris copot dari engselnya. Seorang gadis berambut pirang yang ikal di kedua sisi kepalanya bergegas masuk, sambil membawa glaive yang disampirkan di bahunya.

“P-Putri Leilana!” seru Thomas.

Gadis yang baru beranjak remaja ini tidak lain adalah Leilana, putri dari Ratash. Di belakangnya berdiri Kapten Reinbach dari Pengawal Kerajaan, yang bertindak sebagai pengawal sekaligus instruktur bertarungnya.

Leilana dan Thomas telah berkenalan di Perguruan Tinggi Bangsawan. Setelah berdansa bersama di sebuah pesta dansa, Leilana menjadi tertarik pada Thomas dan mulai mengejar-ngejarnya ke mana pun. Belum lama berselang sejak dia secara pribadi mengangkat Thomas menjadi tutornya. Lalu tahun ini, kakak laki-lakinya, yang saat itu menjabat sebagai Putra Mahkota Invel, naik takhta. Hal ini memberikannya otoritas yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Dia selalu menjadi tipe orang yang, ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai keinginannya, akan memaksa keadaan agar bisa mendekati apa yang dia inginkan, namun sekarang, tidak ada lagi orang yang bisa menolaknya.

Mengingat Thomas berada dalam antrean untuk menjadi kepala House Granvelle berikutnya, desas-desus samar mulai beredar di dalam istana bahwa Viscount Granvelle secara sengaja berusaha mendekatkan putranya dengan Putri Leilana demi meningkatkan pengaruhnya sendiri. Tentu saja, sang putri sama sekali tidak tahu tentang hal ini.

Setelah berhasil menemukan orang yang dicarinya, Putri Leilana tersenyum cerah. “Ah, kamu di sini! Thomas, kamu ikut latihan juga. Reinbach bersama kita hari ini, jadi ini akan menjadi sesi yang bagus! Tunggu, ada apa ini semua?”

Dia mendekati meja tempat Thomas berdiri dan mengambil salah satu ocarina yang tersisa. Ini adalah alat musik asing bagi Ratash, jadi dia tidak tahu apa pun tentangnya selain bahwa alat itu adalah sejenis suling. Dia mengintip dengan rasa ingin tahu ke dalam lubang yang seharusnya ditiup.

“Tunggu— Sang Putri, mohon jangan lakuk— Uhuk!”

Thomas mencoba mengambil kembali alat musik itu karena takut penanganan kasar Leilana akan merusaknya, tetapi yang didapatkannya justru kepalan tangan sang putri di perutnya.

Mewakili putranya yang sedang mengerang, Viscount Granvelle menjelaskan, “Yang Mulia, ini adalah alat musik yang sangat berharga dari Rohzenheim.”

“Dari Rohzenheim, katamu.” Leilana mengangkat alat musik itu ke mulutnya dan mencoba meniupnya beberapa kali, tetapi dia tidak dapat menghasilkan suara yang bagus.

Fwooo. Fwooo.

Sang putri mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak bisa melakukannya. Thomas, tunjukkan padaku bagaimana caranya.” Dia menyodorkan ocarina itu ke depan.

“Hah?” Thomas menatapnya dengan tatapan kosong.

Sang putri memelototinya sebagai balasan. “Apa? Sekarang kau sudah terlalu besar untuk melakukan apa yang aku suruh?”

“Oh, tidak pernah, Yang Mulia. M-Mohon izinkan saya memainkannya.” Thomas menerima alat musik itu dan, dengan wajah memerah, mendekatkan bibirnya ke lubang yang sama yang baru saja disentuh oleh Leilana beberapa saat lalu dan mencoba meniupnya beberapa kali.

Fwooo. Fwooo.

“Tiupanmu sama buruknya denganku!” seru Leilana.

“Maafkan aku…”

“Lupakan saja. Kita harus latihan sekarang. Kau ikut denganku. Oh? Sepertinya aku ingat ada seorang anak laki-laki yang kurus dan jangkung di ruangan ini juga…”

Dengan memasang wajah datar, Viscount Granvelle berkata, “Jika yang Anda maksud adalah pedagang itu, dia sudah pergi untuk janji temu berikutnya.”

“Sayang sekali. Padahal aku berniat memberinya latihan juga.”

Leilana melangkah keluar ruangan dengan entakan kaki yang berat, menyeret Thomas di bagian belakang kerah bajunya dan diikuti oleh Kapten Reinbach. Pelomas, yang telah diselamatkan berkat ketangkasan berpikir Viscount Granvelle, memperhatikan kepergian mereka dari tikungan lorong.

“Jadi itu Putri Leilana…”

Pelomas merasa baru saja mendapat pengingat betapa luar biasanya istana kerajaan itu.

Kenangan tentang Deduksi Cemerlang Kenpy dan Cecil

Hari ini, para No-life Gamer beristirahat dari dungeon Rank S. Mereka memiliki waktu libur seharian penuh, jadi mereka akan menghabiskannya dengan cara masing-masing.

Begitu sarapan selesai, Meruru mengumumkan, “Aku akan pergi ke pusat kota bersama kelompok Rosetta.”

Allen mengangguk. “Tentu saja. Jangan pergi ke toko-toko yang mencurigakan, ya?”

Kawasan pusat kota di Tower of Tribulations memiliki banyak sekali toko khusus dewasa.

“Baiklah,” jawab Meruru sambil memiringkan kepalanya dengan bingung, tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Allen.

“Ayolah, Allen,” sahut Rosetta dengan nada malas. “Kau tahu aku tidak akan membawanya ke tempat semacam itu. Meskipun begitu, kau benar-benar harus ikut dengan kami sekali-sekali.”

“Aku tidak usah, terima kasih. Aku punya urusan yang harus dikerjakan di rumah.”

“Kau selalu tinggal di belakang hanya berdua dengan Cecil dan Sophie. Hanya perasaanku saja atau itu terdengar agak mencurigakan?”

Cecil memelototi senyuman menyeringai Rosetta. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rosetta berjalan keluar bersama Meruru dan beberapa anggota Sacred.

“Dan aku berangkat ke gereja.” Di setiap hari liburnya, Keel pergi ke gereja untuk menawarkan jasanya sebagai seorang tabib dan menaikkan level keahliannya.

Krena dan Dogora mengonfirmasi bahwa mereka akan mendapatkan pelatihan dari Dverg di halaman rumah.

Helmios mengumpulkan sisa rekan-rekannya untuk pergi ke Guild Petualang. Dia sebenarnya adalah pria yang sangat sibuk, terkadang harus memenuhi panggilan dari Gereja Elmea, menemui para menteri Baukisia, dan seterusnya. Ketika berada di dalam dungeon Rank S, dia tetap harus menggunakan alat sihir dan melakukan panggilan ke luar sesekali. Pria ini benar-benar seorang Hero dunia.

“Kalau begitu…” Allen berdiri di ruang makan yang sekarang sudah kosong dan berjalan ke kamarnya di lantai dua, diikuti oleh Cecil, Sophie, dan Volmaar.

Kamar Allen adalah yang terbesar di lantai ini. Dia telah mengangkat beberapa papan lantai dan membawa sedikit tanah untuk membuat ladang kecil. Setiap hari, dia duduk di depan ladang ini, menciptakan Summon Rumput yang langsung dia ubah menjadi Blessings of Heaven, Seeds of Magic, dan Potherbs, di mana yang terakhir menawarkan perlindungan dari debuff. Dia menghabiskan hampir seluruh hari liburnya untuk membangun persediaannya, dengan ketiga orang lainnya membantu memanen dan memasukkannya ke dalam Storage miliknya.

Namun hari ini, sebuah masalah muncul hampir begitu mereka mulai.

“Au, au!” Salamander, roh api kecil yang dikontrak Sophie, mulai memakan item pemulihan yang sedang mereka buat.

“Jangan, Salamander, tenangkan dirimu!” Sophie mengangkat kembali rohnya dengan panik untuk mencegahnya memakan lebih banyak lagi.

“Sepertinya dia merasa agak bersemangat hari ini,” catat Allen. “Apakah akan membantu jika membawanya jalan-jalan keluar?”

“Aku sangat minta maaf, Lord Allen!” Sophie meminta maaf begitu hebatnya hingga dia hampir bersujud.

“Ah, jangan khawatirkan itu. Mungkin para roh butuh sedikit pelampiasan setelah seharian terus dikurung di rumah. Terutama ketika mereka masih membiasakan diri dengan tempat baru.”

Allen pada dasarnya memperlakukan Salamander seperti anjing peliharaan.

“Aku minta maaf, dan terima kasih. Sepertinya aku akan menerima tawaranmu.”

Ekspresi roh api itu tampak cerah ketika dia mendengar Sophie akan pergi keluar. Sophie berjanji akan segera kembali, lalu pergi dengan Salamander di dalam gendongannya. Volmaar mengikutinya tanpa berkata apa-apa.

Untuk sepersekian detik, Allen merasakan dorongan untuk memintanya tinggal untuk terus membantu, tetapi dia menelan kata-katanya. Bagaimanapun juga, Sophie masih membiasakan diri mengurus roh mudanya, dan tidak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi.

Pada akhirnya, hal ini membuat Allen dan Cecil tinggal berdua saja di rumah. Mereka terus membuat dan memanen item pemulihan sampai tiba-tiba, Cecil bertanya, “Apakah kamu juga melakukan ini saat kamu menjadi Kenpy?” Rupanya dia sedang memikirkan apa yang sebelumnya Allen bagikan tentang kehidupan masa lalunya.

“Hm? Yah… sebenarnya tidak juga, sejujurnya.”

“Itu mengejutkan. Aku sudah melihatmu melakukan ini begitu lama, aku tadinya mengira kamu juga melakukannya di kehidupan masa lalumu.”

Bahkan saat di Akademi, Allen telah membuat item pemulihan dengan obsesi seperti orang kesurupan. Usahanya pada akhirnya berubah menjadi kontribusi signifikan yang membantu Aliansi Lima Benua bertahan melawan invasi pasukan Pasukan Raja Iblis di berbagai front. Hal ini membuat Cecil berpikir bahwa Allen pasti sudah tahu tentang pentingnya item pemulihan dari pengalaman pribadinya di kehidupan sebelumnya.

“Yah, aku tidak punya kelas kerajinan. Tapi sekarang, kurasa aku mulai mengerti bagaimana perasaan orang-orang yang mempertahankan kuota harian dalam menempa dan membuat zirah.”

Gaya bermain utama Allen adalah membunuh monster untuk mengumpulkan item yang diinginkannya. Namun, dalam kehidupan ini, dia mulai menikmati pengembangan kemampuan kerajinannya.

“Kuota? Apa maksudnya itu?”

“Tepat seperti yang terdengar. Itu adalah target tertentu yang harus dicapai pada akhir hari. Ada juga kuota mingguan dan bulanan.”

Dalam game yang dimainkan Allen, ada dungeon yang hanya bisa dimasuki sekali sehari atau quest yang hanya bisa diselesaikan sekali. Setiap hari di mana hadiah mereka tidak diambil adalah kesempatan yang terbuang, jadi Allen selalu memastikan untuk menyelesaikan tugas harian dan menganggapnya sebagai kuota.

“Begitu ya, jadi itu seperti berlatih alat musik atau mempelajari suatu mata pelajaran.”

“Pertarungan ratu es yang hanya bisa kita lakukan sebulan sekali itu sangat sengit sampai-sampai kamu tidak bisa membayangkannya.”

“Sengit… meskipun itu es? Pertarungan ratu es apa ini?”

Cerita itu secara alami keluar dari bibir Allen saat dia mengenang masa lalu. “Ada seorang ratu yang menutupi sebuah kota dengan es yang harus kami lawan sebagai sebuah kelompok. Dia sangat kuat. Dia baru saja diperkenalkan dan menjatuhkan cincin yang sangat kuat.”

“Jadi dia adalah ratu yang jahat.” Cecil berpikir dia mungkin pernah mendengar dongeng serupa sebelumnya.

“Kita hanya bisa melawannya sebulan sekali. Kalah adalah hal yang tidak boleh terjadi, jadi aku harus mengumpulkan banyak orang untuk pertarungan itu.”

“Ah, jadi kamu punya rekan-rekan.” Ada sedikit emosi dalam suara Cecil, tetapi Allen gagal menangkapnya.

“Tentu saja! Tidak mungkin aku bisa menang sendirian.”

Hampir lima puluh pemain dibutuhkan untuk membunuh satu bos ini. Namun, hanya satu salinan cincin yang akan dijatuhkan, meskipun semua orang menginginkannya.

“Ngomong-ngomong, kamu mencapai usia tiga puluh lima di kehidupan masa lalumu, kan?”

“Iya, betul.”

“Apakah kamu sudah menikah?”

“Tidak, aku masih lajang.”

“Eh? Padahal kamu adalah Ksatria Suci yang membunuh Raja Iblis.”

Cecil kini berada di bawah kesalahpahaman bahwa Allen, di kehidupan masa lalunya, adalah seorang Ksatria Suci bernama Kenpy yang telah menyelamatkan dunia dari ancaman seperti ratu es ini dan para Raja Iblis. Seharusnya, dia sudah menikah. Cecil merasa terkejut karena dia ternyata belum menikah.

“Yah, bagaimana ya aku mengatakannya? Maksudku, pernikahan itu memang ada, ya.”

“Aku akan sangat terkejut jika mendengarnya tidak ada!”

Tentu saja, pemahaman Cecil tentang penjelasan Allen pada dasarnya keliru. Dia sebenarnya sedang membicarakan game online yang pernah dimainkannya. Di beberapa game ini, para pemain memang dapat membeli rumah pribadi dan menikah dengan pemain lain, tetapi cara kerja fitur-fitur ini sangat berbeda dari kehidupan nyata. Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadi alasan besar mengapa Allen tetap lajang sepanjang masa itu.

“Yah, Allen? Detailnya.”

“Kemunculan cincin ratu es itu sebenarnya berujung pada banyak penipuan.”

“Bagaimana bisa?”

Hanya kelompok yang dipenuhi oleh pemain yang sangat berpengalaman yang memiliki peluang untuk membunuh ratu es dan mendapatkan cincinnya. Ditambah dengan fakta bahwa dia hanya bisa dilawan sebulan sekali, jumlah cincin tersebut sangatlah terbatas.

Akibatnya, para pemain yang tidak bermoral mulai bertindak kreatif dalam upaya mereka untuk mendapatkan salah satu cincin itu. Beberapa orang hanya membelinya dengan uang, tetapi yang lain tidak ragu untuk membunuh dan merebutnya jika ada kesempatan.

“Meskipun begitu, itu tetap tidak menjelaskan kenapa kamu tidak menikah.”

“Di duniamu yang dulu, kami memiliki kebiasaan memberikan cincin kepada orang lain saat bertunangan atau menikah dengan mereka.”

“Oh? Sebuah cincin?”

Di dunia ini, sudah menjadi kebiasaan bagi para kekasih untuk saling memberikan pernak-pernik dan aksesoris. Namun, seperti yang Allen jelaskan lebih lanjut, di dunianya dulu, ada yang namanya cincin pertunangan dan cincin pernikahan yang memiliki makna tambahan sebagai representasi nyata dari hubungan antara dua orang.

Mengetahui hal ini, beberapa pemain pria yang menginginkan cincin itu mendapat ide untuk menggunakan avatar wanita demi memperdaya mereka yang memilikinya. Sungguh di luar dugaan, benar-benar ada beberapa kasus pemain yang kehilangan cincin mereka dengan cara ini.

“Ketika aku mendengar bahwa salah satu temanku juga menjadi korban penipuan ini, aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk memikirkan tentang pernikahan.”

“Kamu sebenarnya sedang membicarakan seorang teman atau dirimu sendiri?”

“Nggak, aku tidak tertipu. Aku menjaga jarak dari semua itu dan menunggu sampai semuanya mereda.”

Singkatnya, strategi Allen adalah menunggu konten baru dirilis terlebih dahulu, entah itu bos baru, dungeon, item, atau yang lainnya, sebelum kembali dan menikmati rilis sebelumnya.

“Kamu tidak perlu berbohong padaku. Begitu ya, jadi itu salah satu alasan kenapa kamu tidak suka membahas kehidupanmu sebagai Kenpy.” Cecil mengangguk penuh pemahaman seolah-olah dia baru saja membuat kesimpulan yang brilian.

“Hah? Maksudmu apa?”

“Jangan khawatir. Di sini juga ada wanita-wanita jahat, tapi aku akan melindungimu.” Cecil mengangguk lagi—kali ini dengan penuh keyakinan—sementara Allen menatapnya dengan bingung.

Daftar Isi

  • Sampul
  • Bab 1: Kembali ke Akademi
  • Bab 2: Audiensi Kerajaan
  • Bab 3: Kepulangan
  • Bab 4: Melawan Naga Putih
  • Bab 5: Kepulangan yang Kemenangan
  • Bab 6: Perjalanan ke Baukis
  • Bab 7: Dungeon Peringkat S
  • Bab 8: Laksamana Garara dan Kru-nya
  • Bab 9: Mengumpulkan Medali
  • Bab 10: Kenangan Masa Lalu
  • Bab 11: Bergabung dengan Party Pahlawan
  • Bab 12: Golem, Munculah!
  • Bab 13: Kekuatan Sesosok Roh
  • Bab 14: Mencari Orichalcum
  • Kisah Sampingan 1: Masa Lalu Rehzel
  • Kisah Sampingan 2: Perjamuan Para Roh
  • Kisah Sampingan 3: Golem Meruru
  • Kisah Sampingan 4: Tak Terkalahkan
  • Kisah Sampingan 5: Kontrak Pelomas
  • Kisah Sampingan 6: Menciptakan Kota Benteng
  • Kisah Sampingan 7: Negeri Para Roh
  • Kata Penutup
  • Ilustrasi Berwarna
  • Cerita Pendek Bonus
  • Tentang J-Novel Club
  • Hak Cipta

Landmark

  • Daftar Isi
Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted