Eroge no Heroine wo Netoru Otoko ni Tensei Shitaga, Ore wa Zettai ni Netoranai V1Ch4: Bagian 1 Bahasa Indonesia – Litenovel

Eroge no Heroine wo Netoru Otoko ni Tensei Shitaga, Ore wa Zettai ni Netoranai V1Ch4: Bagian 1 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V1Ch4: Bagian 1

Penerjemah: Soafp

“……? Rasanya aku bermimpi yang agak aneh.”

Itulah hal pertama yang kukatakan ketika aku terbangun.

Aku ingat kalau aku pergi tidur semalam setelah berbicara dengan Ayana usai membereskan beberapa hal tentang dunia ini.

Setelah itu, sepertinya aku mengalami semacam mimpi aneh di antara waktu aku tertidur dan waktu aku bangun sekarang, tapi aku sama sekali …… tidak bisa mengingatnya.

“Yah, sepertinya aku harus bangun. Kurasa Ibu sedang membuat sarapan.”

Aku keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu, berusaha menyemangati tubuhku yang masih mengeluh ingin tidur sedikit lagi.

“Selamat pagi, Towa”

“Selamat pagi, Ibu.”

Aku membuka pintu dan melangkah masuk, mendapati aroma lezat yang melayang di udara.

Menu sarapannya sama seperti keluarga pada umumnya, tetapi aku bisa merasakan kalau cinta ibuku telah dicurahkan ke dalamnya.

(Dia juga membuat kotak bento yang lezat, serta makanan biasa.)

Kutebak itu juga karena dia adalah seorang ibu dan tahu kesukaan anaknya.

Aku sedang menatap punggung ibuku saat dia menyendok sup miso ke dalam mangkuk dengan sebuah sendok sayur dan menuangkannya ke dalam mangkuk.

“Ada apa?”

“…Tidak ada apa-apa”

Pasti aneh baginya melihatku menatapnya seperti ini.

Ibu menatapku dan aku tidak yakin harus berkata apa, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutku justru adalah ucapan terima kasih kepadanya.

“Terima kasih untuk semuanya, Ibu. Bekal dan masakan Ibu adalah yang paling enak yang pernah aku rasakan.”

Ketika aku mengatakan itu kepadanya, dia bahkan semakin terlihat bingung.

Aku tidak berbohong saat mengucapkan kata-kata terima kasih ini, hanya saja aku diliputi oleh perasaan yang ingin sekali menyampaikan hal ini kepada ibuku.

(Apakah ini juga emosi Towa? Keluarga…… semacam keinginan untuk meyakinkan atau menyenangkan satu-satunya ibu yang tersisa).

Setidaknya aku tahu banyak tentang apa yang sedang terjadi karena sekarang ini adalah keluargaku sendiri.

Pertama-tama aku menjelaskan bahwa dialah satu-satunya ibu yang tersisa, tetapi bukan berarti ayah meninggalkanku karena berselingkuh atau bercerai atau semacamnya, hanya saja terjadi sebuah kecelakaan yang tidak disengaja dan Ayah …… telah tiada.

Aku tidak mengerti bagaimana rasanya meratapi kepergian pasangan tercinta. Namun, aku pikir ibuku adalah sosok yang benar-benar luar biasa karena mampu mengatasi masa lalu seperti itu dan merawat satu-satunya anak laki-lakinya.

(Ada begitu banyak hal tentang dirinya yang benar-benar tidak kutahu. Kuharap aku bisa mengingatnya mulai sekarang.)

Aku begitu sibuk memikirkan hal ini sehingga aku tidak menyadari ibuku, yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku.

“Towa!”

“Whoa!?”

Aku terkejut dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, tetapi aku tahu itu adalah dirinya.

Tiba-tiba, Ibu memelukku dan aku terkejut, tetapi aku merasa sangat nyaman dan tenang karena dialah orang yang memelukku.

“Kamu mengucapkan hal-hal yang membuatku sangat bahagia! Sebagai seorang ibu, aku sangat senang mendengar anakku berkata seperti itu!”

“…Begitu ya.”

“Iya!!”

Kemudian aku sarapan bersama ibuku.

Kurasa karena percakapan yang baru saja kami lakukan, Ibu berada dalam suasana hati yang sangat baik sepanjang waktu, dan dia terus menyeringai padaku sampai-sampai aku hampir merasa malu.

(Dia sangat cantik)

Inilah yang kupikirkan saat melihatnya menyeringai seperti itu.

Dia memiliki rambut cokelat dan mengenakan anting-anting di telinganya, dan untuk ukuran seseorang yang memiliki anak laki-laki seusia itu, dia bisa dianggap mencolok jika dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Namun, itu tidak memberikan kesan negatif pada orang lain mengenainya, dan sebaliknya, dia justru tampil sebagai wanita yang memancarkan kesan seperti seorang kakak perempuan.

“Towa, kamu bisa santai saja kalau mau, tapi apa kamu yakin dengan waktunya?”

“……eh?”

Tak perlu dikatakan lagi, aku langsung bergegas begitu melihat jam.

Aku dengan cepat selesai menyikat gigi, bersiap-siap untuk pergi keluar, dan berlari keluar rumah.

“Kurasa aku akan datang lebih lambat dari perkiraan hari ini.”

Ucapannya tidak bohong, dan ketika aku menuju ke tempat pertemuan biasa, kudapati Shu dan Ayana sedang menungguku sambil mengobrol dengan akrab.

“…Jujur saja, kalian berdua benar-benar akur.”

Aku berharap pemandangan itu bisa berlangsung selamanya, dan semakin aku memikirkan peranku di dalamnya, semakin aku merasakan sedikit nyeri di hatiku.

Di saat yang sama, aku memikirkan kebahagiaan dan kesenangan yang aku miliki kemarin saat mengobrol dengan Ayana,……, dan aku berharap bisa menyimpan kenangan itu untuk diriku sendiri selamanya.

“…..Perasaan ini, aku jadi bertanya-tanya sebenarnya siapa diriku.”

Aku memiliki ingatan dari kehidupan masa laluku, atau lebih tepatnya, ingatan tentang duniaku yang sebelumnya.

Itu berarti ada kehidupan sebelum ini bagiku, dan itu adalah bukti bahwa aku adalah orang yang berbeda, bukan Towa.

Namun, setiap kali aku merasakan tarikan tubuhku setelah menjadi Towa dengan cara ini, aku tidak yakin apakah aku ini diriku yang sebenarnya atau Towa.

“Aa~aah, perasaan apa ini sebenarnya?”

Aku merasa galau seperti ini, tetapi suasana hatiku segera menjadi tenang pada akhirnya.

Lagipula, tidak peduli siapa diriku, aku tidak bisa mengubah atau menghentikan diriku yang sudah terlanjur menjadi Towa.

“O~i Towa! Apa yang sedang kau lakukan~!”

“Towa-kun! Cepat ke mari!”

“Ah! Maaf, maaf!”

Aku dipanggil oleh mereka berdua, jadi aku langsung menuju ke arah sana.

Aku bergabung dengan mereka dan mereka mulai berjalan, tetapi sama seperti kemarin, mereka berjalan di depanku dan aku berjalan sedikit di belakang mereka.

“Ngomong-ngomong, ibuku penasaran apakah kamu bisa datang ke rumah hari ini.”

“Hari ini ya? Hmmm….”

Ayana merasa kesulitan dengan pertanyaan Shu.

Bukan hal yang aneh bagi Shu dan Ayana untuk bolak-balik ke rumah masing-masing karena mereka tinggal berdekatan. Merupakan hal yang lumrah pula bagi mereka untuk makan malam di salah satu rumah mereka.

Pada akhirnya, Ayana menolak undangan tersebut, dengan alasan bahwa dia ingin berbelanja dan ingin melakukannya lain kali saja, tetapi Shu tidak senang mendengarnya.

“Apakah itu prioritas yang lebih tinggi daripada datang ke rumah?”

“Ehm….”

Ayana merasa terganggu oleh perkataan Shu.

Aku mendengarkan dari samping, tapi kurasa itu bukanlah cara bertanya yang baik, jadi aku meletakkan tanganku di bahu Shu dan menyela pembicaraannya.

“Ayana punya urusan pribadi yang harus diurus, kan? Bahkan ada pepatah, “Sekalipun dekat dengan seseorang, tetaplah bersikap sopan,” jadi jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan seperti itu.”

“….Aku minta maaf.”

Shu meminta maaf dengan patuh ketika aku mengatakan itu, tetapi dia tetap tidak menyukainya, dan percakapan kami menjadi sangat terbatas sejak saat itu hingga kami berangkat ke sekolah.

“……Aku minta maaf, Towa-kun.”

“Jangan dipikirkan.”

Ayana meminta maaf kepadaku karena membuat suasana menjadi buruk, tapi itu bukan masalah besar.

Shu mungkin akan segera melupakannya, dan dia tidak perlu khawatir bertingkah berlebihan pada Ayana.

Pada akhirnya, Shu berjalan pergi dengan cepat.

Kami mengikutinya dari belakang sambil saling tersenyum.

“Aku berbohong soal rencana belanja tadi.”

“Eh?”

Aku terkejut mendengar Ayana berkata begitu sambil menjulurkan lidahnya.

Dengan kata lain, Ayana telah berbohong. …… Yah, aku tidak menganggap Ayana sebagai orang yang tidak pernah berbohong, dan wajar saja jika dia melakukannya karena dia juga manusia.

Meski begitu, aku merasa cukup terkejut karena dia tega berbohong kepada Shu.

“Ada hari-hari di mana aku ingin menghabiskan waktu sendirian juga. Tentu saja, aku akan jauh lebih bahagia melebihi apa pun jika Towa-kun ada bersamaku.”

“….”

Lagi-lagi……, dia mengatakan hal semacam itu lagi.

Oleh karena itu, saat Ayana melontarkan kata-kata yang sepertinya sarat makna mendalam kepadaku, aku teringat kembali pada panggilan telepon semalam.

[Aku mencintaimu, tidak peduli seperti apa pun dirimu. Bukan karena rasa kasihan atau simpati aku menawarkan cintaku kepada Towa-kun saat itu. Aku mempersembahkannya kepadamu karena aku ingin berada di sisimu dan mendukungmu.]

Aku hendak bertanya kepadanya dengan tegas apa maksud dari kata-kata itu, tetapi Ayana sudah meraih tanganku sebelum aku sempat melakukannya.

“Sebenarnya asyik juga pergi ke sekolah berdua saja seperti ini, tapi aku tidak mau mendengar omelan lagi dari Shu-kun, jadi ayo kita pergi, ya?”

“……Kurasa begitu.”

Aku terkekeh, berpikir bahwa pada akhirnya, Ayana tidak hanya memanjakan Shu saja.

Saat aku berjalan sambil merasakan kehangatan tangan Ayana di telapak tanganku, dia tiba-tiba mengalihkan perhatiannya kepadaku dan membuka mulutnya.

“Towa-kun,……, ada sesuatu yang salah kah?”

“Apa maksudmu?”

“Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari dirimu.”

Kata-kata itu membuatku sontak menegang.

Bukan hanya gerakan tubuhku, tetapi bahkan hatiku seolah-olah telah berhenti,……. Maksudku adalah aku merasa seolah-olah waktu telah berhenti.

Aku telah berubah entah bagaimana caranya, dan itulah kata-kata inti yang mendeskripsikan siapa diriku sekarang.

“Aku tadi cuma merasakan sesuatu saja, jadi jangan dipikirkan.”

“….Begitu ya”

Meskipun aku menyuruhnya untuk tidak memikirkannya, aku terkejut dan juga gugup kalau-kalau dia akan menyadari dan menolakku.

Ayana memasang senyuman di wajahnya dan aku bisa mendapatkan kembali kendali atas tubuhku, tetapi ini tetap berarti bahwa ada orang yang akan menyadari perubahan yang telah terjadi padaku.

Gejolak emosional yang tidak aku rasakan saat diberitahu oleh Ayana,…… Ini mungkin menjadi bukti bahwa Ayana begitu istimewa.

“……………”

“……Uhm…..Apa aku membuatmu memikirkan hal itu……?”

“……Ah~”

Sepertinya aku sudah memasang ekspresi kaku untuk waktu yang lama, dan Ayana menatap wajahku dengan cemas.

Ayana kembali berbicara sebelum aku sempat mengatakan bahwa tidak apa-apa, bahwa aku tidak begitu memikirkannya.

“Saat aku bilang kalau kamu telah berubah, maksudku bukanlah seperti yang kukatakan tadi. Memang benar aku merasa Towa-kun sedikit berubah akhir-akhir ini,…… tapi bagaimana ya, aku tetap merasa Towa-kun adalah Towa-kun.”

“Apa maksudmu?”

“Haha,……, aku juga tidak tahu, tapi sebesar apa pun orang-orang terlihat berubah, aku tahu bahwa kamulah yang ada di sini. Hatiku tidak akan pernah salah mengenali Towa-kun, dan itulah kenapa aku bisa bilang bahwa kamu adalah Towa-kun saat aku menggenggam tanganmu.”

Aku sendiri tidak memahaminya, kata Ayana sambil tertawa dan kembali berjalan menjauh.

Daftar Isi

Komentar

0 0 votes
Article Rating
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted