Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 8 Prolog Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 8 Prolog Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Cover
Back Image1
Back Image2
Back Image3
story
characters
tocimg

Prolog

Hujan turun deras. Langit bergemuruh dengan petir, menangis dari cakrawala ke cakrawala.

“Tidak! Ini tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi?!”

Langit bergolak, bumi bergetar, angin merintih. Seluruh dunia berkonspirasi untuk menenggelamkan ratapan anak laki-laki itu, namun dia terus menjerit di tengah kekacauan itu.

“Kenapa?! Bagaimana bisa?! Kenapa harus kamu?!”

Suaranya tidak berhasil menembus. Suara itu lenyap menjadi ketiadaan, disambar oleh angin dan dihantam oleh hujan.

Badai yang melolong dan curahan air deras merusak tubuhnya bagaikan racun, menguras kehangatan dari dagingnya. Lama-kelamaan, napasnya berubah menjadi putih dan wajahnya menjadi pucat karena dingin. Hawa dingin menyelimuti daratan seolah-olah telah dikunci dalam es—dan karenanya wajar saja jika kehangatan dari wanita di dalam pelukannya juga mulai surut.

“Hentikan, kumohon. Biarkan dia…”

Langit mencemooh permohonannya, menyapu bersihnya dengan hujan lebat. Tetesan air yang besar mengguyur tubuhnya, membeku dan tanpa ampun.

“Rey… Ayolah, Rey, buka matamu. Kumohon… biarkan aku mendengar suaramu lagi.”

Ada banyak hal lain yang ingin dia katakan. Seandainya saja dia lebih tenang, seandainya saja dia lebih rasional… Ada seribu alasan yang bisa dia buat. Tapi dengan nyawa wanita itu yang hampir padam di hadapannya, pikirannya menjadi kosong.

“Kenapa ini harus terjadi?! Kenapa dia harus mati?!”

Sekalipun tahu usahanya sia-sia, dia mendekapnya erat-erat seolah mencoba mengikat jiwanya pada tubuhnya. Bagaikan anak kecil yang berpegangan pada ibu yang hendak pergi, dia membenamkan wajahnya di dada wanita itu dan melepaskan ratapan tanpa kata.

“Seseorang… siapa pun… tolong aku, kumohon…”

Tidak ada seorang pun yang menjawab, namun dia tetap memanjatkan doa.

“Aku akan melakukan apa saja… Kumohon…”

Tidak ada seorang pun yang mendengar, namun dia tetap memohon.

“Selamatkan dia! Aku akan melakukan apa saja!”

Tidak ada seorang pun yang memberikan pertolongan, namun dia tetap memohon-mohon.

“Aku tahu! Spirit King! Kau bisa melakukannya! Kau sedang melihat, bukan?! Kau harus menyelamatkannya! Seberapa sulitkah bagimu untuk menghentikan satu jiwa agar tidak pergi?!”

Namun, begitu dia mendongak menatap langit, dia tahu tidak ada keajaiban yang akan datang. Awan hitam pekat berputar-putar di angkasa, badai yang mengamuk dan semakin membesar. Seolah-olah sebagai kontras, gerakan dada wanita itu menjadi semakin dangkal, napasnya melemah saat hujan membasuh darahnya. Kilat menyambar, menerangi wajah bocah yang dilanda keputusasaan itu, memperjelas ekspresinya dengan tajam.

“Tidak! Tidak, tidak, tidak!”

Jeritan membelah kerongkongannya. Napas tersengal-sengal menyumbat saluran pernafasannya. Isak tangis meremukkan paru-parunya.

“Ahh… Aaaaaahhh!”

Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk wanita itu, dan sumpah itu kini menghancurkan hatinya. Dia telah bersumpah untuk menyelamatkannya, berapa pun harganya, dan sumpah itu kini meremukkan jiwanya. Menghadapi kenyataan yang tak dapat diterima, sebuah kebenaran yang tak terlukiskan, dia berteriak menyangkal semuanya.

“Aaaaaaaaahhh!!!”

Hari itu, hatinya—jiwanya—mati.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted