Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 7 Epilog Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 7 Epilog Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Epilog

Ketika dia terbangun, semuanya telah berakhir. Bau busuk yang mengerikan menariknya kembali ke kesadaran. Dia duduk dan mendapati dirinya berada di dataran berumput yang dipenuhi mayat-mayat hangus.

“Ugh… Kenapa… aku masih hidup…?”

Dia mengingat dengan jelas bahwa dirinya telah ditelan oleh kobaran api. Seharusnya, dia sudah menjadi abu, namun dia tidak dapat merasakan luka bakar apa pun, hanya rasa nyeri tumpul akibat benturan keras yang bergema di dalam tubuhnya.

“Akhirnya sadar rupanya.”

Seorang pria membungkuk untuk berbicara kepadanya. Penampilannya sangat aneh, paling tidak. Dia mengenakan pakaian serba putih, dengan topeng aneh di wajahnya. Dia berjongkok di dunia kematian ini seolah-olah dia adalah penghuni aslinya.

“Dan siapa kau?”

Matanya membelalak dalam upaya untuk mengintimidasi pria itu, tetapi pada akhirnya, dialah yang terguncang oleh kehadiran pria itu yang luar biasa. Keringat membasahi keningnya. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. Rasanya pria itu sedang menguras sisa hidupnya, mengoyak jiwanya semudah menguliti dagingnya.

“Aku senang kau tampak baik-baik saja. Jika kau mati, semua usahanya akan sia-sia.” Kekuatan pria bertopeng itu berderak di kulitnya setiap kali kata terucap dari bibirnya. “Dua jalan kini terbentang di hadapanmu.”

Dia tidak berkata apa-apa.

“Kau bisa menunggu sampai membusuk di medan perang kuno atau bangkit dan mencari yang baru.” Sekarang, mana yang akan kaupilih? Dia mengamatinya dari atas sampai bawah, menilainya.

Tenggorokannya terasa kering. Paru-parunya berteriak meminta udara. Keheningan berlarut-larut di antara mereka.

Akhirnya, pria bertopeng itu menghela napas. “Aku tahu membuat keputusan itu sulit. Tapi begitu pilihan itu dibuat, segalanya akan jauh lebih mudah.”

Perlahan-lahan, dia mengangkat kedua tangannya. Dia tersentak mundur, tetapi pria itu hanya mendengus.

“Tidak perlu bersikap begitu tegang.” Dengan kedua tangan di sisi topengnya, dia melangkah mendekat tanpa suara. “Apakah kau mendambakan kelahiran kembali? Atau akhir yang sesungguhnya?”

Dia melepas topengnya, menampakkan wajahnya.

Pikirannya mendadak kosong. Kemarahan yang meluap-luap tanpa diundang meluncur dari bibirnya. “Kubunuh kau jika itu hal terakhir yang kulakukan,” semburnya.

“Kalau begitu, aku akan memberimu harapan.” Senyuman pria itu tampak berbahaya dalam kepolosannya.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted