Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 7 Bab 2: Berpegang Teguh pada Harapan, Terperosok ke dalam Kesedihan Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 7 Bab 2: Berpegang Teguh pada Harapan, Terperosok ke dalam Kesedihan Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 2: Berpegang Teguh pada Harapan, Terperosok ke dalam Kesedihan

Dunia dipenuhi dengan darah. Jeritan bergema di tengah mimpi buruk yang terbangun dan dilukis dengan warna merah tua sejauh mata memandang. Hujan panah turun tanpa ampun, mendatangkan pembantaian kejam pada orang-orang di bawah sana. Namun, sama sekali tidak ada gunanya merasa kasihan. Ini adalah medan perang, tempat para monster bersembunyi dan para ibunuh berkeliaran. Membunuh atau dibunuh—itulah aturannya. Segala sesuatu yang berdiri di antara para pesertanya dan malapetaka hanyalah kekuatan tangan mereka sendiri. Ini bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah; setiap orang dari mereka tahu bahwa sedetik saja merasa simpatik akan membuat mereka menjadi mayat, dan Liz pun bukan pengecualian.

“Tempat apa ini?”

Rasa sakit yang luar biasa meledak di dalam tengkoraknya bagaikan dihantam palu. Dia mendengus dan terhuyung-huyung. Saat dia jatuh berlutut, dia menyadari sesuatu yang aneh. Hujan turun deras di sekelilingnya, tetapi hujan itu tidak mengeluarkan suara dan tidak menimbulkan cipratan saat menghantam lumpur. Seiring kecurigaannya yang semakin besar, matanya beralih ke Lævateinn di pinggangnya. Pedang merah tua itu diselimuti oleh api biru.

“Apakah kau yang melakukan ini? Apakah kau membawaku kembali lagi?”

Akhirnya, pikirannya mulai memahami. Lævateinn tetap bergeming dalam kebisuan atas pertanyaan-pertanyaannya, tetapi nyala api birunya berkobar lebih terang, seolah-olah memohon agar dia menanamkan pemandangan mengerikan itu ke dalam benaknya.

“Apa—” Dia tersentak dan mendongak ketika sesuatu menarik perhatiannya. “Ah…”

Di sana berdiri seorang anak laki-laki—seorang anak laki-laki yang dikenalnya. Wajahnya mendongak ke arah langit yang sangat gelap, mandi di tengah hujan lebat seolah-olah sedang menyampaikan pengakuan dosa. Sesuatu meremas dengan menyakitkan di dada Liz. Bagaimanapun juga, anak laki-laki itu tampak seolah-olah sedang berusaha menyembunyikan air matanya.

“Hiro…”

Anak laki-laki itu sepertinya mendengar suaranya. Dia menurunkan pandangannya dari langit dan mengarahkannya kepadanya. Saat dia melihat mata hitamnya, rasa takut yang dingin menusuk tulang belakangnya. Tidak ada apa pun di sana—tidak ada apa-apa sama sekali. Tidak ada persepsi, tidak ada identitas, tidak ada emosi apa pun. Hanya ketiadaan.

“Ah…”

Hiro melangkah mendekat. Sambil disaksikan oleh Liz dengan tercengang, dia mencabut sebilah bilah pedang hitam dari pinggangnya.

“Jadi kau masih hidup.”

“Apa?”

Kekejutan membanjiri pikirannya sejenak, dan kemudian bilah pedang itu diayunkan ke bawah. Dia secara insting memejamkan matanya rapat-rapat. Namun, tidak ada rasa sakit yang datang. Bahkan sebelum dia sempat memproses apa yang telah terjadi, sebuah deheman terdengar dari belakangnya. Dengan hati-hati membuka matanya kembali, dia menoleh dan melihat seorang pria berkulit ungu terkapar di tanah, dengan bilah pedang hitam menancap di tengkoraknya yang terbelah.

“Tuan Schwartz! Tuan Schwartz!”

Seorang pria datang berlari, berteriak seolah berjuang agar suaranya terdengar di atas deru hujan lebat. Dia jatuh berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya saat Hiro berbalik.

“Musuh telah mengibarkan bendera putih. Kami yakin mereka bermaksud untuk menyerah.”

“Lalu?” Suara Hiro sedingin balok es yang dipaksa masuk ke tenggorokan Liz.

“Tidak ada artinya melanjutkan pertempuran lagi, Tuan. Jika musuh menginginkan perdamaian… kita pasti harus… mengirimkan seorang utusan…” Suara pria itu bergetar saat dia berbicara. Dia tetap menundukkan kepalanya, seolah dia takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, ketakutannya ternyata tidak terbukti. Jawaban Hiro sama sekali tidak mengandung kejutan yang tidak menyenangkan. “Baiklah. Aku menerima penyerahan diri mereka.”

Wajah prajurit itu berseri-seri bagaikan langit yang cerah, tetapi kembali mendung dengan cepat. Dia menjadi pucat saat melihat wajah Hiro yang tanpa emosi menatapnya dari atas, berbingkai deru hujan.

“Tetap saja, ini sangat disayangkan.”

“Tuan?” tanya prajurit itu dengan penuh kekhawatiran.

Hiro berbalik dan mulai berjalan ke arah sebaliknya. “Sulit sekali melihat jarak jauh dalam hujan deras ini.”

“Tuan… apa maksud Anda?”

Hiro berhenti lagi setelah berjalan beberapa langkah. Sederetan tahanan berlutut di hadapannya, terikat dengan rantai.

Zlosta?

Setidaknya itulah yang dipikirkan Liz. Wajah mereka tertutup oleh air hujan, tetapi dari fisik mereka yang kekar dan kulit berwarna ungu muda, sangat mudah untuk menebaknya.

“Kami tidak pernah melihat bendera putih apa pun. Dan pada saat kami menyadari kesalahan kami, semuanya sudah terlambat.”

Liz menelan ludah. Dia mungkin saja lupa cara bernapas, begitu mengejutkannya apa yang terjadi selanjutnya.

“Begitulah kejadiannya, kan?” Hiro mengalihkan perhatiannya kepada para tahanan, suaranya terdengar lembut. Bilah pedang di tangannya berkilat, dan salah satu kepala mereka terpelanting dari bahu mereka dengan kemudahan yang mengerikan. Gumpalan berdarah itu menghantam lumpur dan menggelinding ke arah Liz.

“Iiik!” Liz terperanjat mundur. Dia sudah sering melihat mayat—dia tidak asing dengan medan pertempuran—tetapi kepala yang terpenggal itu berada di luar apa pun yang pernah ia alami. Wajahnya berkerut dalam penderitaan, rongga matanya adalah dua lubang kosong, dan ada sebuah lubang di keningnya tempat batu mana dicongkel keluar. Tubuh tanpa kepala itu dipenuhi dengan bekas luka, bukti nyata dari penyiksaan. Kemarahan macam apa yang mampu memicu kekejaman sebanyak itu? Dia membekap mulutnya dengan kedua tangan, dicengkeram oleh dorongan untuk muntah.

“Jika kau ingin hidup, katakan padaku di mana dia berada.” Wajah Hiro tetap tanpa emosi. Dengan gerakan yang kejam, dia mulai memenggal kepala-kepala lainnya. “Katakan padaku, kumohon. Aku mohon pada kalian.”

Berapa banyak air mata yang telah ia tangisi? Berapa kali hatinya hancur? Berapa banyak kegagalan yang harus ia lalui hingga bisa tersenyum begitu putus asa sementara air mata mengalir di wajahnya?

“Hiro! Hentikan ini!”

Liz mengulurkan tangan ke arahnya, tetapi itu tidak ada gunanya. Sekalipun entah bagaimana dia bisa menangkap bayangan ini, dia tidak akan bisa meraih hati Hiro.

“Ah… Aaahhh…!” Jeritan tanpa kata memaksa keluar dari tenggorokannya.

“Awalnya tidak mudah. Aku terjaga selama ber malam-malam, berusaha menyangkal kenyataan bahwa aku telah mengambil nyawa seseorang.” Air mata bercampur dengan darah saat dia menyeka cipratan merah dari pipinya, tersenyum mengerikan selama waktu itu. “Tetapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa tidak ada kebaikan dan kejahatan di medan pertempuran, tidak peduli kata-kata indah apa pun yang kau rangkai untuk pura-pura sebaliknya.”

Dia tidak memancarkan amarah, tidak pula niat membunuh. Namun pedangnya terus menebas lagi dan lagi tanpa secercah belas kasihan pun.

“Sulit untuk tidak mengerti, begitu kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi. Dan begitu kamu mengalaminya, kamu akan membuang segala keraguanmu.”

Liz tidak ingin melihat, tidak ingin melihatnya seperti ini. Namun meskipun dia mencoba memejamkan mata, pemandangan itu terus membekas; meskipun dia mencoba menutup telinganya, suara-suara mengerikan itu tidak pernah berhenti. Sebuah ratapan lolos dari bibirnya, tetapi dia tidak punya cara untuk menghentikannya. Tidak ada cara untuk mengubah masa lalu. Semuanya sudah terjadi.

“Jadi aku membuang gagasan keadilanku.”

Hatinya membuncah hingga hampir pecah oleh kesedihan. Ledakan mengoyak dadanya, mengancam untuk membelahnya. Kesedihan yang meremukkan otak dan kebencian yang tak tertahankan menekan dirinya seperti sebuah tangan raksasa… dan seketika itu juga, pemandangan tersebut bergeser.

“Perang melahirkan keindahan sekaligus keburukan.”

Langit pecah seperti kaca, terfragmentasi menjadi kepingan salju yang berkilauan. Sebuah denyutan melesat melintasi tanah saat bumi bergolak dan hancur berkeping-keping. Manusia, flora, fauna—gelombang itu mereduksi segala kehidupan menjadi debu. Dunia runtuh, dan yang tersisa hanyalah warna putih, ruang kosong yang dipenuhi oleh cahaya menyilaukan.

Liz tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang memerah di sekelilingnya.

“Apa yang kau rasakan, Nak, sekarang setelah kau melihat keburukannya? Emosi apa yang ditimbulkannya?”

Tidak perlu mencari sumber suara itu. Suara tersebut berada tepat di hadapannya, kehadirannya begitu luar biasa besar. Sosok itu duduk di atas sebuah kursi yang dihiasi dengan mewah menggunakan emas dan perak, sebuah singgasana tunggal yang tertutup oleh harta karun dari segala penjuru dunia. Anehnya, dia tidak bisa mengenali siapa itu. Meskipun ada cahaya, wajahnya tertutup oleh bayangan.

“Katakan padaku jawabanmu, Nak.”

Suara itu melayang aneh di udara, kaya akan kedalaman dari awal masa tua sekaligus vitalitas seorang pria dewasa di masa jayanya. Tubuhnya yang langsing memancarkan keberanian seorang pemuda yang teruji sekaligus kesegaran hijau dari seorang anak laki-laki yang berani. Liz tahu dalam sekilas pandang bahwa ini bukan orang biasa.

“Apakah kau kecewa? Apakah kau putus asa? Apakah kau dipenuhi dengan amarah yang benar?”

Rona kekaguman muncul di wajahnya saat melihat pemandangan itu. Meskipun otaknya masih berjuang untuk mencerna, entah bagaimana, mulutnya tahu apa yang harus dikatakan.

“Aku merasa… sedih.”

Dia menyentuh bibirnya dengan jari-jarinya, terkejut karena kata-kata itu keluar begitu mudah, tetapi sebelum dia sempat menguasai dirinya kembali, sosok itu mengajukan pertanyaan lain.

“Dan mengapa bisa begitu?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, tapi… aku ingin membantu entah bagaimana caranya.”

Sosok itu terkekeh, panjang dan rendah. “Begitu ya. Membantu, ya. Jawaban yang aneh.”

“Hiro… Dia tampak begitu kesakitan…” Bibir Liz terkatup rapat dengan getir. “Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Aku tidak bisa…”

Topeng kesedihan yang mengerikan telah terukir di wajah Hiro, yang berusaha ia pertahankan agar air mata tidak merembes keluar. Namun, perempuan itu gagal memberikan kata-kata kebaikan apa pun kepadanya, penghiburan kecil apa pun. Tidak ada yang tahu perasaan apa yang mendasari pilihannya, tetapi ia tahu bahwa itu bukanlah jawaban yang sebenarnya ingin ia berikan.

“Begitulah naluri dari semua makhluk hidup. Ketakutan akan kehilangan berujung pada kompensasi yang berlebihan. Ketakutan akan penyesalan mendorong seseorang pada tindakan yang tadinya akan ia sangkal. Akal seseorang mungkin memprotes, tetapi akal tidak dapat menolak desakan dari rasa takut yang paling mendasar.” Nada bicara sosok itu terdengar biasa saja, tetapi helaan napasnya tampak menyesal. “Manusia adalah makhluk yang serakah. Mereka mengejar cita-cita luhur hanya untuk merasa putus asa ketika mereka gagal mencapainya, dan semakin jauh mereka jatuh, semakin keras pula benturannya. Oleh karena itu, mereka berpaling satu sama lain untuk mencari dukungan, karena tanpa pundak untuk bersandar, mereka akan segera tumbang di bawah beban mereka sendiri.”

Berapa banyak siksaan yang harus ditanggung seseorang di tangan kesendirian, pikir Liz, hingga berakhir seperti itu?

“Aku tidak berdaya. Untuk memberinya keselamatan, untuk memberinya pertolongan, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menimbun lebih banyak beban di pundaknya.” Sosok itu mengangkat satu jarinya. “Namun, masih ada satu harapan.”

“Harapan apa?”

“Bukan suatu kebetulan yang membawamu ke sini, anak kecil.” Sosok itu mengangkat jarinya ke langit. “Itu adalah takdir.”

Liz mendongak dan melihat sebuah gerbang besar melayang di udara di atas kepalanya. Gerbang itu terasa ganjil karena kurang megah untuk ukuran sebesar itu, ditutupi oleh pola-pola rumit tetapi selain itu tidak berhias apa pun. Singkatnya, gerbang itu tampak biasa saja, sebuah portal kayu melingkar tanpa dekorasi atau hiasan. Namun, suasananya yang khas begitu memikat, sama seperti keindahan terbesar di dunia alami.

“Masa Perubahan akan segera tiba. Kamu harus bersiap.”

“Masa Perubahan?” Liz mengecap bobot kata-kata itu di dalam mulutnya dan merasakan lidahnya menjadi kering. Seketika itu juga, sosok tersebut menatapnya dengan tajam, membuat tubuhnya menjadi kaku.

“Jika kamu ingin mencari keadilanmu sendiri, jika kamu ingin menjunjung tinggi cita-citamu sendiri, peliharalah hati yang kuat.”

Dengan pengetahuannya saat ini, Liz tidak dapat memahami kata-kata itu… tetapi sudahlah, mungkin memang tidak perlu mencoba untuk memahaminya. Dia mendapat kesan bahwa pria itu tidak berharap dia mengerti.

“Semua yang belum sempat kulakukan, kuserahkan kepadamu.”

Lalu langit menjerit.

“Apa—”

Liz mendongak kaget. Pintu itu sedang jatuh, mulutnya menganga lebar. Pintu itu menubruk ke arahnya, menyemburkan partikel debu semacam itu, menderu saat mendekat. Secara refleks dia memejamkan mata dan menyilangkan tangan di atas kepalanya. Hembusan angin membuat rambutnya berkibar liar saat bertiup turun ke atasnya, tetapi hanya itu saja. Tidak peduli berapa lama dia menunggu, tidak ada benturan yang terjadi.

Dia menurunkan lengannya yang bersilang dan dengan ragu-ragu membuka matanya.

“Kamu baik-baik saja?” tanya sebuah suara.

Tidak ada pintu di hadapannya, melainkan wajah seorang manusia. Dia mengeluarkan cicitan bingung. Itu adalah seseorang yang dikenalnya. Secara otomatis, ingatannya menghubungkan fitur-fitur wajah itu dengan sebuah nama.

“Scáthach.”

“Tepat sekali. Maafkan aku jika aku mengejutkanmu.” Tempat tidur itu berderit di bawah berat tubuh wanita tersebut saat dia menarik diri dengan nada meminta maaf.

Liz menggelengkan kepala sambil menegakkan tubuhnya. “Dan Aura juga…”

Di balik bahu Scáthach terdapat seorang gadis bertubuh mungil berambut perak. Dia sedang duduk di sebuah kursi di dekat dinding, buku yang tadi dibacanya masih terbuka lebar di hadapannya.

Liz menghela napas, lebih karena rasa penyesalan daripada kelegaan. Dia masih memiliki segunung pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada pria dalam mimpinya itu.

Melihatnya lemas, Scáthach mengerutkan kening. “Kamu mengigau dalam tidurmu. Mimpi buruk, mungkin?”

“Tidak. Hanya mimpi yang menyedihkan.”

Hal itu bisa Liz pastikan dengan yakin. Bahkan sekarang, memikirkannya kembali membuat dadanya terasa nyeri luar biasa seolah mau meledak. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhnya.

Pada saat itu, gagang pintu berderik. Ketiga orang itu berputar menghadap ke arah pintu masuk, mata mereka tajam dan wajah mereka tegang karena waspada. Beberapa detik berlalu dan pintu pun terbuka lebar, membiarkan angin dingin masuk dari koridor di luar.

“Rosa?”

Wanita itu mengangguk. “Sepertinya aku kembali tepat waktu.”

Ada sesuatu yang jelas sedang membebani pikirannya. Dia tampak pendiam, kepercayaan dirinya yang biasa sama sekali tidak terlihat. Rambutnya telah kehilangan kilaunya dan kulitnya kehilangan rona kemerahannya. Ketiga orang lainnya memandangi perubahan dirinya dengan rasa terkejut.

“Rosa?” ulang Liz. “Ada apa?”

“Ampuni aku!” seru Rosa. Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia langsung jatuh berlutut dan menundukkan kepalanya.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti!”

Liz mencoba bergegas mendekati adiknya, tetapi bangkit terlalu cepat membuat keseimbangannya hilang dan dia mulai terjatuh. Hanya uluran tangan Scáthach yang tepat pada waktunya yang menyelamatkannya agar tidak terjatuh.

“Kau tidak boleh bergerak begitu tiba-tiba,” peringat Scáthach. “Kau baru saja bangun.”

“Terima kasih,” ucap Liz dengan suara gemetar. Dia melangkah mendekati Rosa, tetapi adiknya itu tidak menunjukkan tanda-tanda mengangkat kepalanya. “Aku tidak bisa mendengarmu kalau kau bicara pada lantai. Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?”

“Ah… Ya, tentu saja.”

Rosa merapikan pakaiannya dan mulai memberikan penjelasan. Dengan nada getir, dia menceritakan bagaimana kepala Keluarga Muzuk memperdayanya di dewan perang, bagaimana kurangnya ketidakwaspadaan dirinya sendiri telah membiarkan pria itu mengambil alih kendali majelis, dan bagaimana, sebagai akibatnya, dia tidak lagi bisa menemani Liz pergi berperang.

“Dia jauh lebih kejam dari yang kuduga. Tentu saja aku hanya bisa menyalahkan ketidakbecusanku sendiri, tapi… keparat. Penyesalan adalah tegukan yang pahit. Diperbodoh di saat krisis seperti ini…” Dia memukulkan kepalanya— *ralat* —mengepalkan tinjunya ke lantai. “Ini sangat memalukan.”

Sebuah piala perak muncul di depan matanya. “Ini. Minumlah. Itu akan menenangkanmu.”

“Tentu saja. Terima kasih.” Rosa mengambil cangkir dari Aura dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk, lalu menjilati sisa-sisa tetesan air di bibirnya. “Aku sadar bahwa aku adalah orang terakhir yang seharusnya memberikan nasihat ini, Liz, tapi tetap saja, berhati-hatilah terhadapnya.”

“Aku tidak bisa membayangkan kau berniat untuk tinggal diam saja menghadapi ini,” komentar Scáthach.

Rosa mengangguk. “Tentu saja tidak. Aku sudah memikirkan beberapa rencana. Selama dia pergi berperang, aku akan membangun kekuatanku. Dia akan menyesal karena telah mencoba menjadikanku pionnya.”

“Nah, itu baru mirip saudari yang kukenal,” kata Liz. “Meskipun aku tetap merasa kau perlu istirahat.”

Kematian Hiro jelas sangat membebani pikiran Rosa sama seperti yang dirasakan oleh Liz sendiri. Hal itu sangat terlihat dari kelelahan di wajahnya dan kelopak matanya yang bengkak yang coba ia sembunyikan dengan riasan. Liz sangat memahami rasa sakitnya.

“Ayo,” katanya sambil mengulurkan tangan penuh kasih kepada saudarinya. “Mari kita buat kau tidur. Kedengarannya mungkin aneh jika itu diucapkan olehku.” Dia tersenyum untuk mengiringi usaha bercanda itu.

Mata Rosa membelalak sejenak. Saat-saat panjang berlalu. Akhirnya, disertai desahan lelah, dia meraih tangan saudarinya. “Setidaknya untuk saat ini sudah aman,” gumamnya sambil membiarkan dirinya ditarik berdiri. “Kau akan berangkat perang dalam dua hari.”

“Baiklah.” Liz mengangguk.

Rosa mengangkat tangan untuk menyisir rambut saudarinya. “Surat Ratu Claudia akan tiba besok. Rencana akhir kita akan bergantung pada isinya. Sampai saat itu tiba, kau harus beristirahat… begitu juga aku.”

Setelah berkata demikian, dia merebahkan diri ke atas tempat tidur yang baru saja ditinggalkan oleh Liz. Tak lama kemudian, dia langsung tertidur pulas. Liz dan Scáthach saling melirik dan bertukar senyum tegang.

“Aku juga tidak boleh bermalas-malasan.” Menatap penuh kasih kepada saudarinya, Liz menarik napas dalam-dalam, seolah mengatur ulang dirinya sendiri. Bukan hanya dia dan Rosa yang menderita. Aura dan Scáthach menanggung kepedihan yang sama, namun mereka berdua tetap berusaha mempertahankan ketenangan luar dan melakukan apa pun yang mereka bisa. Membiarkan kesedihannya sendiri menghalangi jalan hanya akan menyia-nyiakan usaha mereka. Lagipula, mereka belum pernah melihat jasad Hiro.

Ini belum pasti. Selengkapnya yang kutahu, dia mungkin selamat dan baik-baik saja di suatu tempat.

Dia memilih untuk percaya bahwa pria itu masih hidup. Memikirkan pria itu masih mendatangkan air mata di matanya, tetapi meratap dan menangis tidak akan ada gunanya bagi siapapun.

Aku tidak boleh membiarkan semua yang dia tinggalkan untukku menjadi sia-sia.

Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan bertekad, untuk saat ini, untuk menatap ke depan.

“Jangan terlalu memaksakan diri.” Tangan Scáthach menepuk pundaknya.

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Liz mengangguk, mengusap sisa tidur dari matanya. Melihat adalah percaya. Dia tidak akan mempercayai rumor tersebut sampai dia bisa memastikannya sendiri.

*****

Angin liar telah mereda, dan keheningan yang tenang menggelayut di udara. Titik-titik hitam tenda para prajurit menghiasi pemandangan senja. Asap api unggun menutupi langit malam. Setelah hari sebelumnya, suasananya sangat tenang. Daratan begitu sunyi, tak seorang pun akan percaya bahwa tempat itu diduduki oleh lebih dari seratus ribu prajurit. Suasana di dalam tembok kota pun serupa; teriakan para pedagang kurang bersemangat, dan orang-orang yang berjalan di jalanan tampak lesu dan berat melangkah. Sebuah melankoli telah menyelimuti ibu kota kekaisaran Cladius.

Saat istana Venezyne menatap ke bawah ke arah kota, dimandikan dalam rona senja yang menenangkan, sebuah dewan perang sedang berlangsung di ruang depan singgasana. Liz, Rosa, and sekutu-sekutu mereka turut hadir. Para bangsawan terkaya dan paling berkuasa di negeri itu memenuhi sisa kursi, dan mereka tidak menyembunyikan ambisi mereka untuk merebut hati siapa pun yang akan naik takhta. Sekarang setelah Hiro tiada, pandangan mereka tertuju pada Liz, menjanjikan pasukan mereka untuk perjuangan tersebut dengan harapan memenangkan simpatinya. Dengan jatuhnya para bangsawan pusat dari kekuasaan dan merosotnya para bangsawan barat, perang ini bukan lagi tentang mengusir Enam Kerajaan dari kekaisaran—melainkan tentang memperebutkan klaim atas tanah yang akan ditinggalkan oleh musuh. Semakin besar kontribusi suatu keluarga bangsawan terhadap upaya perang, semakin mewah imbalan yang dapat mereka harapkan.

Keuntungan adalah motivator yang kuat. Tanpa itu, bangsa akan mengalami stagnasi, para bangsawan akan memberontak, dan rakyat akan menolak untuk bekerja. Semakin sebuah posisi bertentangan dengan kepentingan seseorang, semakin banyak intrik yang diperlukan untuk memenangkan dukungan mereka. Sebaliknya, semakin sebuah posisi sejalan dengan kepentingan mereka, semakin sedikit seseorang harus mengandalkan tipu muslihat. Namun, apa pun di luar titik itu, bergantung pada kapasitas individu.

Dia harus menumbuhkan sifat-sifat seorang penguasa, tetapi itu adalah masalah untuk hari lain. Saat ini, dia punya perang yang harus dimenangkan.

Rosa menghela napas. Liz akan menghadapi banyak sekali cobaan di masa depannya. cepat atau lambat, dia harus berhadapan langsung dengan sisi politik yang buruk—begitulah jalan bagi semua orang yang bercita-cita naik takhta.

“Countess von Kelheit.” Suara Kanselir Graeci menariknya kembali ke kenyataan. “Apakah surat Ratu Claudia sudah tiba?”

Rosa mengangguk. “Sayangnya, tampaknya beliau tidak dapat memastikan apa yang telah terjadi pada Lord Hiro.”

Dia mengeluarkan selembar perkamen kecil dan membacakan isinya dengan suara keras. Sejumlah bangsawan mengerutkan kening saat dia selesai. Merekalah orang-orang yang tidak pernah memberikan dukungan kepada Hiro, dan ketidakpastian statusnya membuat mereka berada dalam posisi yang tidak nyaman. Tidak diragukan lagi mereka lebih memilih untuk mendengar secara pasti bahwa dia telah tewas di medan perang.

Keberadaan Hiro tidak disukai oleh mereka yang memuja keluarga kerajaan Grantz. Sesuai dengan kehendak kaisar pertama, Kaisar Greiheit telah mengakui statusnya dan memberinya gelar, tetapi hal itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah orang asing dengan asal-usul yang tidak pasti. Lebih dari beberapa bangsawan keberatan dengan gagasan menempatkan orang seperti itu di atas takhta, melihatnya sebagai ancaman terhadap keilahian garis keturunan von Grantz. Tetapi mereka tidak dapat mengkritiknya secara terbuka—terutama ketika dia diakui sebagai keturunan Mars dan didukung oleh House Kelheit yang berkuasa.

“Kalau begitu, nasib dia dan Pangeran Ketiga Brutahl tetap tidak diketahui,” kata Kanselir Graeci. “Six Kingdoms mengklaim memiliki jasad mereka. Kita dapat membahas masalah ini lagi setelah kita memulai negosiasi untuk pemulangan mereka.”

Rosa mengangguk setuju. Tidak ada keberatan di antara para bangsawan lainnya.

“Dan apa yang dia katakan tentang Six Kingdoms?”

Sebuah suara baru menyela, berusaha mengambil alih kendali percakapan. Itu adalah Beto von Muzuk. Bulu kuduk Rosa merinding, merasakan adanya intrik lain yang sedang bekerja.

“Semacam perselisihan tampaknya telah muncul antara komandan dan wakil komandan.”

“Ada lagi?”

Rosa mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. “Tidak ada yang penting.”

Beto tidak berusaha menyembunyikan kekecewaannya. “Kalau begitu, itu hampir tidak layak untuk menunda keberangkatan kita.”

“Begitukah menurutmu?” Liz telah mengamati percakapan itu dengan penuh pemikiran, tetapi mendengar itu, dia menyela. “Jika kita mulai mengabaikan intelijen, pada akhirnya kita akan kalah dalam pertempuran yang seharusnya bisa kita menangkan.”

Wajah Beto mengeras saat dia diserang dari arah yang tidak terduga.

Mata Liz menyipit setajam baja telanjang. “Ada perpecahan antara komandan dan wakil komandan. Itu adalah informasi yang berharga. Jika itu adalah bagian dari suatu rencana, kita harus mencari tahu apa rencana itu dan melawannya. Jika itu adalah kebenaran, tentara musuh berada di ambang perpecahan menjadi dua, dan kita harus bertindak cepat untuk menghentikan mereka agar tidak berkumpul kembali.”

Dia mengutarakan isi pikirannya dengan jelas dan tanpa ragu-ragu. Para bangsawan memperhatikan dengan mata terbelalak, terkejut oleh rasa Percaya dirinya.

“Mari kita kirim pengintai untuk memantau tentara mereka. Jika kita beruntung, kita mungkin bisa membimbing mereka untuk melakukan apa yang kita inginkan. Selain itu, informasi apa pun yang dapat kita kumpulkan akan berguna untuk merebut kembali wilayah barat.”

Udara dingin yang mengalir di dalam ruangan berubah menjadi hangat. Sebuah wibawa menyelimuti para bangsawan, fleksibel dan mengalah, namun tetap sangat kuat. Sesuatu sedang berubah, dan semua orang bisa merasakannya.

Beto mengangkat sebelah tangan. Cahaya penuh kebencian berkilat di matanya saat dia menatap tajam ke arah Liz dengan tatapan menyelidik. “Kemungkinan besar, kita telah menyia-nyiakan satu hari yang berharga. Semakin cepat kita membebaskan wilayah barat, semakin cepat pula rakyat terbebas dari penderitaan mereka. Apakah Anda tidak setuju, Yang Mulia?”

“Mengerahkan pasukan kita secara tergesa-gesa demi menghasilkan sesuatu tidak akan ada gunanya bagi siapa pun. Jika kita terjun secara membabi buta ke dalam pertempuran, kita akan mendatangkan tragedi yang lebih buruk ke wilayah barat. Hanya kemenangan pasti yang akan membebaskan rakyat. Tidak ada jalan pintas.”

Keduanya sama-sama memiliki argumen yang masuk akal, tetapi Liz berhasil merebut hati para hadirin. Senyuman tipis tersungging di wajah Beto sebelum akhirnya lenyap dari pandangan. Mengenai apa yang membuatnya begitu geli, aura mengerikan yang dipancarkannya membuat niat aslinya mustahil untuk ditebak.

Tetap saja, Liz memenangkan perdebatan itu. Dia sudah tumbuh dewasa.

Dia pasti telah mengamati Hiro dengan cermat. Gaya retorikanya sangat mirip dengan gaya Hiro. Dia melihat situasi dengan jernih dan mengutarakan maksudnya secara terang-terangan sambil menolak memberikan celah bagi lawannya untuk melayangkan keberatan. Sementara itu, Beto terpaksa menggunakan argumen emosional yang terkesan kurang berbobot. Dia kemungkinan besar berharap bisa memancing Liz agar mendukung posisinya, namun dia terlalu berhati-hati dalam menebar umpan dan akhirnya malah merugi sendiri. Tentu saja dia tidak punya niat untuk menyeret perang lebih lama daripada Liz, tetapi kalah berdebat membuatnya tampak seperti orang bodoh. Mencoba memprotes sekarang hanya akan membuatnya kehilangan dukungan dari para bangsawan lain di masa depan. Satu-satunya pilihannya adalah memilih bungkam.

“Kalau begitu rencana kita akan berjalan tanpa ada perubahan.” Suara Graeci kembali menguasai ruangan sidang tersebut. “Kita akan berbaris ke barat mengikuti rute yang telah disepakati. Apakah kita semua sepakat?”

Liz mengangguk.

“Bagus. Kita berangkat besok pagi. Bagi yang memiliki posisi komando, mohon untuk segera mengurus pos masing-masing sebelum hari berakhir.”

Dengan begitu, rapat dewan pun berakhir. Saat para bangsawan bergegas keluar ruangan, Rosa mendekati kursi Liz.

“Garda berangkat hari ini. Aku berniat untuk mengucapkan selamat tinggal, kalau kamu ingin ikut denganku.”

“Oh, tentu saja! Aku juga harus mengucapkan selamat tinggal pada Huginn dan Muninn.”

Saat Liz bangkit dari kursinya, seorang bangsawan mendekatinya dengan nada meminta maaf. “Bolehkah saya meminta waktu Anda sebentar, Yang Mulia?”

Dia bukanlah satu-satunya. Tak lama kemudian, kerumunan orang telah mengurung Liz.

“Saya juga, Yang Mulia!” seru pria yang lain. “Saya berharap bisa mendiskusikan beberapa poin strategi kita.”

“Apa? Hah?” Liz melihat sekeliling dengan bingung. Para bangsawan mendesaknya, meminta untuk berkonsultasi mengenai pemikiran Liz tentang pergerakan pasukan dan berbagai alasan lainnya untuk bisa mendekatinya. Dia memandang mereka, lalu beralih ke Rosa, kembali menatap mereka, dan akhirnya kembali kepada Rosa dengan tatapan memohon sambil mendongakkan mata.

“Kamu bisa mengirim surat nanti. Aku akan menyampaikan salam terbaikmu kepada Huginn.” Rosa memasang senyum kaku dan menepuk-nepuk bahu Liz beberapa kali untuk menyemangatinya. Menolak tawaran para bangsawan itu hanya akan menimbulkan kebencian yang tidak perlu.

“Baiklah. Tolong sampaikan ya.”

Dengan anggukan pasrah, Liz kembali menghadap kerumunan tersebut. Saat dia menyerahkan diri pada keriuhan mereka, Rosa meninggalkan ruangan itu, menuju ke kediaman House Kelheit tempat Garda dan pasukannya telah menunggu.

Kepergian mereka akan menjadi pukulan telak bagi pasukan kita.

Mereka telah menerima kabar tentang kepergian Hiro, tetapi itu bukan satu-satunya alasan mereka meninggalkan kekaisaran. Surat terakhir Hiro untuk Garda telah memicu kepergian mereka. Rosa sama sekali tidak tahu apa isi surat itu. Dia berharap sempat membaca isinya, tetapi dia juga tahu bahwa Hiro mempercayakannya kepadanya karena pria itu tahu dia tidak akan melakukannya.

Kau benar-benar tahu cara memanfaatkan orang lain tidak seperti siapa pun.

Sambil menggerutu dalam hati, Rosa keluar dari koridor dan melewati pintu depan yang dijaga ketat.

*****

Rosa kembali ke kediaman House Kelheit dan mendapati Garda serta bawahannya sudah berada di dekat pintu, bersiap untuk berangkat. Zlosta itu berada di barisan terdepan, mengenakan baju zirah pelat bergalur untuk menyembunyikan kulit ununya. Seorang pria—mungkin seorang pedagang keliling, melihat dari pakaiannya—sedang berlutut di hadapannya sambil menyerahkan sebuah surat. Ada sesuatu dari pemandangan itu yang terasa janggal baginya, dan dia memiringkan kepalanya saat mendekat.

Garda dan bawahannya membungkuk saat mendengar kedatangannya. Pedagang itu bergegas pergi, berlari melewati Rosa hingga tak terlihat. Dia melirik dengan penuh rasa ingin tahu saat pria itu kabur, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Garda. Seperti biasa, ekspresi zlosta itu tidak dapat terbaca di balik helmnya, tetapi wajah Huginn dan Muninn tampak tertunduk, menunjukkan kesuraman mereka dengan jelas.

“Begitu cepat berangkat?” tanya Rosa.

Garda mengangkat kepalanya menatap langit. “Kami tidak punya alasan lagi untuk tinggal.”

“Begitu ya. Sayang sekali.”

Dalam hal itu, Rosa harus mengalah. Perasaan mereka tidak akan berubah, dan dia tidak dapat memikirkan apapun untuk ditawarkan yang dapat meyakinkan mereka agar tetap tinggal. Namun, ada satu hal yang ingin dia ketahui sebelum mereka berangkat: isi surat dari Hiro.

“Apakah itu mata-mata? Pria berpakaian pedagang itu?” Suaranya menyelidik, berharap bisa mengorek informasi yang dia bisa dari jawaban Garda.

“Bukan. Hanya salah satu pedagang yang akan kami kawal. Pasukan Crow Legion dulunya adalah tentara bayaran. Jadi kami akan menjadi tentara bayaran lagi, sekarang setelah kami bebas.”

Jadi mereka kembali bekerja sebagai tentara bayaran, dan tugas pertama yang mereka ambil adalah mengawal kafilah pedagang. Sebuah cerita yang cukup masuk akal, tetapi belum cukup untuk menggoyahkan keraguan Rosa.

“Sudahkah kalian memutuskan ke mana tujuan kalian?”

“Ke timur, Nona. Sebuah bangsa kecil di pantai timur.”

“Baum?”

“Tepat sekali. Didirikan oleh leluhur sang Naga Bermata Satu sendiri.”

Jadi mereka menuju ke Baum. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan, tetapi rasanya sangat mirip dengan sesuatu yang akan diperintahkan oleh Hiro.

Rosa ragu-ragu untuk mengajukan pertanyaan berikutnya, tetapi jika dia membiarkan Garda lolos dengan jawaban yang mengelak, semuanya akan sia-sia. Sesuatu yang sederhana dan langsung pada sasaran akan menjadi cara terbaik untuk mengukur reaksinya, belum lagi cara paling efektif untuk membuatnya kehilangan keseimbangan jika dia memang menyembunyikan sesuatu.

Dengan menarik napas dalam-dalam, dia langsung pada intinya. “Apakah itu atas perintahnya?” tanya Rosa, mengerahkan seluruh urat sarafnya untuk mengamati jawabannya dengan seksama.

Garda mengangkat bahu sedikit. Dia menatap lurus ke dalam matanya, mungkin berusaha menyembunyikan secercah emosi. “Siapa yang bisa bilang? Tapi zaman sedang berubah. Itu sudah pasti.”

Semacam gejolak mental tersembunyi di balik kata-katanya, hal itu bisa dideteksi oleh Rosa, tetapi kata-kata itu mengandung begitu banyak kemungkinan arti sehingga tidak mungkin untuk diidentifikasi. Apakah itu berkaitan dengan kematian Hiro, keadaan kekaisaran, atau bahkan Enam Kerajaan? Mungkin pertanyaan lain akan membantunya mempersempit kemungkinan tersebut.

“Memang benar, dan bukan hanya untuk kekaisaran. Apakah itu berlaku untuk Baum juga?”

Garda tidak menjawab. Dia menarik tali kekang kudanya dan menaikkan dirinya ke atas pelana. Tiba-tiba, dia berbicara lagi. “‘Dengan auman naga hitam, jalinan dunia terpuntir, dan dengan auman singa, ketertiban dipulihkan.’”

Kutipan tersebut adalah baris terakhir dari Tawarikh Putih dan Hitam. Pendapat umum di kalangan sejarawan adalah bahwa paruh pertama merujuk pada Raja Pahlawan yang membebaskan rakyat Soleil dari penindasan zlosta, sementara paruh kedua menggambarkan Hati Singa yang membimbing umat manusia menuju kedamaian dan kemakmuran. Jika digabungkan, bait lengkap itu mengakhiri kisah mereka.

“Sampaikan salamku kepada Lady Celia Estrella.” Dengan senyuman penuh firasat buruk, Garda memutar balik kudanya. “Aku sangat menantikan pertemuan kita berikutnya.”

“Apa maksud ucapan itu?” Rosa meninggikan suaranya mengejarnya, merasa bingung. Apakah dia menyiratkan bahwa dia berharap untuk kembali ke kamp Liz suatu hari nanti? Atau mungkin dia memaksudkan hal lain sepenuhnya…

Zlosta itu melambaikan tangan ke belakang dari balik bahunya, tetapi selain itu tidak memberikan jawaban apa pun. Derap kuku kuda semakin melemah di antara mereka, dan Rosa hanya bisa menyaksikan dalam keheningan yang terpana saat dia dan pasukannya pergi menunggang kuda.

*****

Hari kesembilan bulan ketiga Tahun Kekaisaran 1024

Beyrouth, di bagian barat laut wilayah barat

Setelah menarik pasukannya dari Dataran Laryx, tempat mereka bertempur melawan Pangeran Keempat Hiro, Enam Kerajaan mendirikan kembali garis depan di Beyrouth, tempat Kekaisaran Grantz berbatasan dengan Faerzen. Alasannya sederhana: mereka telah menderita kerugian yang tidak terduga. Meskipun moral pasukan tinggi setelah membunuh keturunan Dewa Perang, banyak sekali perwira yang tewas dalam pertempuran tersebut.

“Apa yang harus dilakukan, apa yang harus dilakukan?”

Lucia mengetukkan kipas besi ke permukaan meja, sementara laporan kerusakan berada di tangannya. Pasukannya yang berjumlah dua ratus ribu orang telah berkurang menjadi sekitar seratus enam puluh ribu. Dia membuka lembaran kertas kedua yang melaporkan bahwa kekaisaran telah mengerahkan pertahanan mereka. Seratus tiga puluh ribu; lebih sedikit dari yang dia takutkan, namun tetap saja merupakan jumlah yang tangguh. Jika mereka bisa mengatasinya dalam waktu dua bulan yang singkat itu, mereka diperkirakan masih memiliki banyak kekuatan cadangan. Posisi jangka panjang Enam Kerajaan semakin melemah.

“Akan lebih bijaksana untuk mundur ke Faerzen.”

Betapapun menyenangkannya untuk tetap berada di wilayah barat dan mendatangkan malapetaka bagi perekonomian kekaisaran, terlalu terpaku pada mempertahankan perolehan mereka saat ini akan mengarah pada kekalahan. Di atas segalanya, ketertarikan Lucia pada kekaisaran telah memudar. “Kita harus menganggap Faerzen sebagai sebuah kemenangan dan puas dengan itu.” Dia menghela napas lelah sambil memijat kerutan di antara kedua alisnya. “Keselamatan kita sendiri adalah yang utama di atas segalanya. Pertempuran berikutnya akan dilangsungkan di panggung yang berbeda.”

Segalanya mulai berantakan sejak pelarian Penguasa Eld.

“Hukuman, mungkin. Karena menuruti keinginanku seperti gadis bodoh. Seorang ratu memiliki tanggung jawab. Seharusnya aku mengingat hal itu.”

Dia menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap ke langit-langit tendanya, menghidupkan kembali momen tersebut. Bilah pedang telah menebas ke arah leher anak laki-laki berambut hitam itu—dan segalanya menjadi hancur.

Para prajurit menyaksikan dengan napas tertahan, menunggu momen yang akan mengukir nama mereka ke dalam sejarah. Jeritan keputusasaan dari perlawanan musuh sudah lama terdiam. Yang tersisa hanyalah membunuh sebuah legenda hidup. Namun, medan pertempuran tidak mengenal ampun terhadap rasa puas diri, bahkan ketika kemenangan tampak sudah pasti. Didorong oleh kegembiraan yang tidak biasa, Lucia membiarkan dirinya melupakan kebenaran yang paling mendasar dan penting ini.

Pertama-tama terdengar ringkikan kuda, lalu derap kuku. Begitu dia menyadari keributan itu, gumpalan debu yang besar telah menyelimuti medan di depan matanya. Udara tampak berderit di bawah tekanan yang hebat, yang mengalihkan perhatiannya sesaat secara fatal dari menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Luka.

“Agh… Gyaaah!”

Luka jatuh ke tanah, berguling-guling dalam penderitaan. Bahkan dalam sekaratnya, dia mencengkeram pedangnya dan menatap penuh kebencian kepada Penguasa Eld, tetapi sia-sia. Bilah pedangnya tidak memiliki kekuatan untuk melukai. Seluruh sisi kiri tubuhnya telah membeku keras.

Suara seorang wanita terkikik. “Ya ampun. Kau sepertinya telah tertangkap basah.”

Naluri Lucia bergejolak sebagai tanggapan atas bahaya. Dia berputar, melayangkan serangan ke kiri dengan kipasnya, tetapi sebuah benturan mendorong pukulan itu ke atas, memaksa erangan keluar dari paru-parunya.

Saat pasir dan debu mengaburkan sekeliling, salah satu penunggang Vulpes melompat turun dari kuda mereka dan melepaskan helm mereka. Guncangan kepala mereka membuat rambut berwarna amethyst terurai ke udara, dan wajah seorang wanita terlihat. Dari luar dia tampak murni dan bermartabat, tetapi penampilan tenangnya dikhianati oleh aroma memikat yang tersembunyi di baliknya. Kecantikannya dingin hingga terasa tajam, dan sama memukaunya di mata wanita maupun pria.

“Sayangnya, kematian pria ini akan sangat merepotkan bagiku.” Dia memamerkan senyum anggun saat melangkah di depan Penguasa Eld yang berlumuran darah. “Jadi jika kau ingin memilikinya, kau harus melewati aku dulu.”

Dengan itu, dia mengangkat pria itu dengan mudah menggunakan lengannya yang langsing dan melemparkannya ke punggung kuda yang sedang mendekat.

Untuk sesaat, Lucia tertegun, tetapi dia segera bertindak. “Berhenti!” perintahnya, membentangkan kipasnya lebar-lebar. Namun, saat dia hendak mengejar, dinding es muncul untuk menghalangi jalannya. Firasat buruk mencengkeramnya saat dia mendekat, dan dia berhenti mendadak. Kabut dingin menyerangnya, melingkar di sekeliling anggota tubuhnya.

“Apa—?!”

Ayunan kipasnya membelah kabut menjadi dua bagaikan air terjun, tetapi angin dingin berembus, membekukan tanah tempat dia berdiri.

“Terkejut?” Bibir wanita berambut ametis itu tertarik membentuk senyuman gembira saat dia menjalankan jemarinya pada sebilah pedang yang transparan bagaikan kristal. “Saksikanlah, pedang iblis Hauteclaire.”

Lucia tahu dalam sekali lihat bahwa pedang itu bukanlah senjata biasa. Pedang itu memancarkan kekuatan mengerikan yang cukup kuat untuk melengkungkan udara di sekitarnya. Mana mengalir dari bilah pedang dalam jumlah yang menakutkan. Kekuatannya begitu besar dan begitu pekat, hingga mampu menelan seluruh akal sehatnya. Setiap helai rambut di tubuhnya berdiri tegak.

“Betapa menjengkelkan.” Dia berdecak kesal. Kuda yang membawa Penguasa Eld hampir lolos dari kepulan debu, tetapi jika dia mengalihkan perhatiannya dari wanita berambut ametis itu, kematiannya akan datang dengan cepat dan pasti.

“Sekarang, kalau boleh tahu, siapa kamu?”

Ini bukanlah wanita biasa. Hal itu sangat jelas terlihat dari mana membakar yang dipancarkannya. Namun, bagaimana bisa seseorang tanpa salah satu Pedang Bangsawan mampu menggunakan kekuatan yang begitu hebat?

“Aku adalah Claudia van Lebering, ratu dari Kerajaan Lebering.”

“Ah, garis keturunan kerajaan. Darah Zlosta, hampir murni… Dan dari warna kulitmu… kau adalah seorang auf, bukan?”

Claudia menahan cekikikan geli dengan punggung tangannya. “Kau sangat berwawasan luas, rupanya.”

Mata Lucia menatap tajam bagaikan baja. “Seorang pembawa darah Raja Lox… Kau telah datang jauh dari pinggiran utara yang membeku.”

Jadi, dia tidak hanya memiliki konstitusi fisik zlosta yang tangguh; dia juga seorang auf, dan terlebih lagi merupakan keturunan dari salah satu anggota Black Hand. Dengan semua itu, mungkin dia memang bisa berdiri sejajar dengan para Noble Blades. Tentu saja, cadangan mana miliknya sudah cukup besar. Namun, satu pertanyaan tetap tersisa.

“Mana yang terpelintir macam apa ini?” Alis Lucia berkerut. “Rasanya seolah-olah ada banyak mana yang terkandung di dalam satu wadah.”

“Itulah kekuatan dari peninggalan leluhurku yang telah dipulihkan ke kejayaan penuhnya. Kekuatan Devouring.”

Lucia samar-samar mengingat istilah itu dari tulisan leluhurnya sendiri. Sayangnya, banyak sekali catatan sejarah yang telah dihancurkan dalam pembersihan besar-besaran kaisar ketiga, dan memoar yang dibacanya tidak memberikan banyak detail, sehingga dia tidak pernah menganggapnya sebagai hal yang patut mendapat perhatian khusus.

“Kinslaying Blade. Sungguh sebuah keajaiban artefak kuno seperti itu bisa bertahan sama sekali.”

“Banyak teks yang hilang dalam pembersihan besar-besaran… atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa teks-teks itu sengaja disembunyikan? Bagaimanapun, sekarang kau tahu bagaimana artefak itu bertahan tanpa terdeteksi. Siapa yang akan menduga bahwa artefak itu bersembunyi di tempat terbuka?”

Tulisan-tulisan yang ada menggambarkan pedang terkutuk yang membantai zlosta dalam jumlah banyak, kekuatannya membengkak saat pedang itu melahap batu mana mereka. Seberapa besar kemampuan itu, Lucia tidak dapat memastikannya, tetapi jika dia bisa merasakan kebesaran mana pedang itu dengan begitu jelas hanya dengan berdiri di dekatnya, itu pasti merupakan instrumen yang berbahaya. Meski begitu, dia tidak berjiwa lemah hingga harus mundur.

“Aku khawatir aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Aku harus mengejar Lord of Eld.”

Masih ada waktu. Para prajurit yang telah merenggutnya mungkin telah menyamar sebagai kavaleri Vulpes, tetapi tetap saja tidak akan mudah bagi mereka untuk melewati medan perang yang dipenuhi oleh pasukan Enam Kerajaan. Jika dia menaklukkan Claudia dengan cepat dan melakukan pengejaran secepat tenaga, dia bisa merebutnya kembali.

Claudia melirik sekeliling sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah Lucia. “Benar. Waktu semakin sedikit. Aku harus pergi.”

Meskipun suaranya terdengar santai, dia tidak mungkin bisa menembus lebih dari tiga puluh ribu prajurit tanpa terluka. Satu perintah saja dari Lucia akan mendorongnya ke tepi jurang yang curam. Lucia mengerutkan kening. Ada sesuatu yang aneh dari sikap wanita itu.

Kenapa dia begitu peduli dengan apa yang ada di sekitarnya?

Setelah bergerak untuk menghalangi jalan Lucia, Claudia tidak mengambil tindakan lanjutan apa pun. Faktanya, dia tampak menghindari untuk melancarkan serangan, seolah-olah dia sangat berhati-hati terhadap dampaknya pada lingkungan sekitar. Tapi mengapa hal itu yang paling utama ada di pikirannya?

“Jadi itu tipu muslihatmu…”

“Wah. Akhirnya kamu menyadarinya.”

Claudia melambaikan tangan seolah mengaduk udara. Angin kencang mulai membubarkan awan debu.

“Dan kamu percaya kamu akan bisa lolos? Begitu saja?”

“Seandainya kamu lebih cepat menyadarinya, aku mungkin tidak akan bisa melarikan diri dengan begitu mudah.” Bibir Claudia melengkung geli. Pada saat itu, suara terompet menggema di seluruh medan perang. Lucia melihat sekeliling dengan cemas.

“Sekarang, aku sudah memberimu cukup waktu. Apa yang terjadi selanjutnya adalah keputusanmu.” Claudia meraih kendali kuda dan melompat ke pelana. Lambaian tangannya membersihkan debu dari jalurnya. Dia menoleh ke arah Lucia. “Tentu saja, jika kamu menghargai kehormatanmu, kamu sama sekali tidak punya pilihan.”

Dengan senyum meremehkan, dia melesat menerobos medan perang. “Hiro Schwartz von Grantz sudah mati!” serunya saat dia menerjang ke dalam kepulan debu. “Kemenangan untuk Enam Kerajaan! Sebarkan kabar ke seluruh medan! Bentangkan panji-panji! Tinggikan suara kalian!”

Suaranya memudar ke kejauhan, mengejek hingga akhir.

Lucia merengut, menyadari bahwa dia telah jatuh ke dalam perangkap musuh. Dia melihat sekeliling dengan panik mencari mayat, melihat seorang prajurit yang tewas di dekatnya, dan memenggal kepalanya. Membenturkan gumpalan berdarah itu ke tanah yang basah oleh darah membuat rambutnya menjadi cukup hitam untuk dikelabui sekilas. Saat awan debu itu menipis, dia mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Hiro Schwartz von Grantz sudah mati!” serunya.

Sungguh penghinaan. Sungguh aib. Memiliki punggung musuh yang terpojok di dinding, hanya untuk dipaksa melihat mereka lolos begitu saja, dipaksa melakukan pekerjaan mereka sendiri. Itu sangat menggelikan hingga dia bisa tertawa. Dia begitu percaya diri dengan rencana-rencana miliknya saat memasuki pertempuran, tetapi rupanya Lord of Eld telah merencanakan hal ini sejak awal. Kemungkinan besar, dia telah menari sesuai iramanya sebelum pedang sempat dihunus.

Dia mengira dirinya pintar ketika merencanakan pengkhianatan para bangsawan barat dan tengah, dan merasa gembira ketika hal itu tampak berjalan sesuai rencana. Ketika Lord of Eld berlutut di hadapannya, dia memuji dirinya sendiri bahwa dia telah melampaui sang Dewa Perang. Namun, selama ini, dialah yang mengendalikan keadaan.

“Pertunjukan yang sangat menyedihkan. Aku mengira diriku berpikiran jauh ke depan, tetapi aku hampir tidak bisa melihat melampaui ujung hidungku sendiri.”

Dia sudah sangat dekat—begitu dekat yang menggiurkan—dengan kemenangan, hanya untuk membiarkan kelengahan sesaat merebutnya darinya. Aib ini akan dibalaskan. Tidak akan ada belas kasihan bagi mereka yang menolaknya. Mereka yang mencoreng martabat seorang ratu tidak boleh dibiarkan hidup. Darah menetes dari mulutnya saat dia menggigit bibirnya karena malu, tetapi amarahnya jauh lebih kuat daripada rasa sakitnya.

“Aku akan memastikan kamu mati karena ini. Aku bersumpah.”

Tenda itu berputar dengan kemarahan yang membunuh.

“Permisi.” Pada saat itu, suara seorang wanita memecah udara yang stagnan.

Sesosok bayangan melangkah melewati tirai tenda tanpa menunggu izin dari Lucia. Lengan kirinya sudah buntung—bahkan, seluruh sisi kiri tubuhnya terluka parah, sangat menyedihkan untuk dilihat. Sekalipun dia memancarkan permusuhan, dia tampak rapuh bagaikan patung kaca. Tidak ada lagi jejak sang putri yang dulunya diagung-agungkan sebagai wanita yang sangat cantik. Siapa pun yang melihatnya sekarang akan mengatakan hal yang sama: penampilannya meresahkan untuk dipandang, matanya suram dan tak bernyawa, kulitnya pucat bagaikan hantu pendendam dan begitu dingin. Dia adalah Luka Mammon du Vulpes, pemimpin pasukan Vulpes dan wakil komandan Pasukan Hukuman.

“Maafkan aku karena terlambat. Aku tadi sedang mengurus Igel.” Sedikit pun dia tidak terlihat menyesal. Matanya sama sekali tidak memancarkan emosi.

Adik laki-laki Luka telah tewas dalam pertempuran melawan kekaisaran, kepalanya dipenggal oleh pangeran keempat, tetapi dia menolak untuk mengakui kematiannya. Dia telah membawa jenazah adiknya kembali ke tendanya, tempat di mana dia makan bersama kepala itu, tidur bersamanya, dan bahkan sempat terlihat tertawa saat bercakap-cakap dengannya. Percakapan berbisik yang mengerikan yang keluar dari tendanya malam demi malam mulai membuat para prajurit jaga merasa resah, hingga Lucia menerima beberapa kali permohonan untuk pindah pos. Kematian Igel telah membuat kewarasannya runtuh, dan dia sekarang menjalani hari-harinya di batas antara kenyataan dan khayalan.

“Luka-lukanya belum sembuh, lihat saja. Aku harus merawatnya. Jika Anda memiliki urusan dengan saya, kumohon buat itu menjadi cepat.”

Disertai desahan tanpa suara, Lucia memberi gestur ke arah kursi dengan kipasnya, tetapi Luka menolak undangan untuk duduk, dan tetap berdiri di dekat pintu masuk. Bahu Lucia terkulai karena kalah, tetapi dia tetap melanjutkan.

“Tidak ada yang bisa didapat dengan tetap tinggal di sini. Aku berniat untuk mundur ke Faerzen.”

Luka melangkah lebih dekat dan memelototi komandannya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Apakah itu membuatmu tidak senang?” tanya Lucia.

Luka mengangguk kecil. “Tentu saja. Perlukah aku mengingatkanmu bahwa kamu membiarkan pangeran keempat melarikan diri? Dia pasti bersembunyi di suatu tempat di sekitar sini. Kita harus memburunya dan mengambil kepalanya.”

“Kita tidak perlu lagi mengkhawatirkannya. Dia sudah mati, dan aku sendiri sudah tidak lagi tertarik pada tanah ini.”

“Kamu boleh berkata begitu pada dirimu sendiri jika kamu suka. Tapi begitu para prajurit menyadari kebenarannya, begitu tanah air kita mengetahui aib ini, tak seorang pun dari kita akan bisa lolos dari hukuman.”

“Memang benar, tapi lihatlah bagaimana dia sama sekali tidak berniat mengumumkan kelangsuratannya. Sepertinya kematian sama menguntungkannya bagi dirinya sebagaimana halnya bagi kita.”

Betapapun menjengkelkannya untuk diakui, terlepas dari batasan kawan dan lawan, kepentingan mereka sejalan. Lucia tidak punya pilihan selain terus berpura-pura bodoh dan bersandiwara bahwa dia telah membunuh Lord of Eld.

“Aku tidak punya niat untuk mundur. Aku akan tetap tinggal sampai aku mendapatkan kepalanya, berapa pun harganya.”

“Sedikit egois untuk diucapkan oleh seorang komandan dari seratus ribu prajurit, bukan begitu?”

Mundur adalah pilihan yang lebih bijaksana. Pertempuran terbuka akan mendatangkan kesulitan karena rantai komando yang sedang kacau. Terlebih lagi, mereka telah berhasil mencapai tujuan mereka untuk mendamaikan wilayah barat; mereka seharusnya puas dengan hal itu. Kekaisaran Grantz sekarang menghadapi tugas membangun kembali wilayah barat—mereka harus menghukum para bangsawan yang berkhianat, mencegah populasi pengungsi mereka mengamuk, dan mengatasi banyak masalah lainnya lagi. Seorang komandan yang bijak akan menunggu sampai kekaisaran itu kewalahan dan kemudian memanfaatkan kelengahannya untuk mendaratkan pukulan telak.

“Demi almarhum saudaramu, jika bukan karena alasan lain, kamu seharusnya—”

“Almarhum? Almarhum?! Igel tidak mati!” Ekspresi Luka berubah mengerikan bagaikan iblis. “Dia sedang beristirahat di tendanya! Dia sedang menunggu waktu yang tepat!”

Dia mengenakan wajah dari roh yang diliputi kebencian, rupa mengerikan yang tidak akan—tidak mungkin—pernah dipakai oleh manusia biasa. Untuk sesaat, Lucia merasa kasihan pada Sang Dewa Perang.

“Jika kamu berkata begitu. Tapi bagaimana dengan para prajurit yang akan kau bawa ke liang kubur demi membalaskan dendammu?”

“Cukup. Aku adalah komandan mereka. Mereka akan melakukan apa yang diperintahkan.”

“Lalu bagaimana dengan singgasana yang begitu kaukagumi itu?”

“Aku akan dengan senang hati melepaskannya demi mendapatkan kepalanya.” Luka menggigit ibu jarinya karena frustrasi. Kepalanya tiba-tiba terkulai. “Aku akan merenggut nyawanya dengan tanganku sendiri, aku bersumpah. Dia pantas mendapatkan siksaan abadi.” Cahaya gelap bersinar di matanya.

Lucia menjentikkan kipasnya dan mengangkatnya menutupi mulutnya.

“Setiap malam…” lanjut Luka. “Setiap malam, Igel menangis seperti anak kecil. ‘Selamatkan aku, Kakak,’ kata dia. ‘Leherku. Ini sakit.’ ‘Lenganku… Di mana lenganku?’ Dan air mata darah jatuh dari matanya saat dia memohon kepadaku untuk membalaskan dendamnya.”

Pernapasan Luka menjadi tersengal-sengal, seperti binatang buas. Matanya menatap tajam ke arah Lucia, memohon. Aura beracun bangkit di sekelilingnya bagaikan miasma saat dia terbakar oleh kebencian.

“Jadi aku harus membantunya, kan? Bagaimanapun juga aku adalah kakaknya. Ya, benar begitu… begitu aku berhasil menangkap pangeran keempat, aku akan memotong kedua lengannya, membelah perutnya… Aha ha! Dan kemudian aku akan mengambil jeroannya, melilitkannya di lehernya, dan menariknya kencang sampai aku memutar kepalanya hingga putus!”

Dia menatap kosong ke udara, bergumam kepada seseorang yang tidak ada di sana. Wajahnya kosong tanpa emosi; sementara suaranya bernada riang, kata-katanya terdengar hampa.

“Ya, begitulah. Begitulah caranya. Aku akan membunuhnya… membunuhnya? Bunuh dia, bunuh dia, bunuh dia…”

Kebenciannya memunculkan kutukan yang begitu dalam dan luas hingga mengundang keputusasaan.

“Bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia bunuh dia…”

insert2

Kejang itu menyerangnya tanpa peringatan. Dia menatap ke tanah, menghentakkan kakinya dengan gelisah, lehernya bergetar seperti boneka yang rusak. Seketika, dia tersentak seolah-olah terkejut. “Ah… Ah! Aku minta maaf! Ampuni aku! Kumohon, jangan—”

Dia mundur ke sudut tenda, memeluk tubuhnya sendiri. Matanya terbelalak kaget saat dia melihat sekeliling dengan ketakutan.

“Ah… Lucia. Jika… Jika hanya itu, aku harus pamit. Igel memanggil.”

Dia melarikan diri melalui penutup tenda seolah-olah berusaha menghindari sesuatu yang tak kasat mata. Lucia melirik dengan cemas ke arah sosoknya yang menjauh dan memejamkan matanya.

“Alangkah kejamnya dia hancur. Jauh lebih parah dari yang kuduga.” Dia menghela napas berat penuh ratapan. Sudut bibirnya tertarik ke atas. “Sekarang, bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkannya?”

*****

Laporan ajudan itu memotong kehebohan di dalam tenda. “Jenderal Macrill, para pengintai telah menemukan perkemahan pasukan Lebering.”

Di ujung meja, Macrill du Pius, jenderal Kerajaan Vulpes, bangkit berdiri dengan susah payah. “Bagus, bagus. Di mana mereka bersembunyi?”

“Di Benteng Veritas, Jenderal. Benteng kecil di tengah wilayah barat.”

“Jaraknya cukup jauh. Bisakah kita mengerahkan pasukan khusus untuk menjarah tempat itu?”

“Kami tidak tahu jumlah mereka, Jenderal. Saya rasa akan lebih bijaksana jika kita menunggu informasi lebih lanjut.”

“Begitu ya.” Sambil mendesah, Jenderal Macrill kembali duduk di kursinya. “Kekacauan yang merepotkan. Kita tidak bisa pulang dengan tangan hampa, atau Lady Luka pasti akan berakhir di hadapan pancungan.”

Di antara semua kerajaan, Vulpes menderita kerugian yang sangat besar. Pasukan mereka yang berjumlah dua puluh ribu orang tidak hanya dikalahkan di kota Severt, tetapi senjata dan baju zirah prajurit yang kalah itu juga telah dirampas oleh musuh dan digunakan untuk melawan Pasukan Hukuman dalam pertempuran melawan Pangeran Keempat Hiro. Kerajaan-kerajaan lain sudah mulai bersiap melontarkan kecaman. Jika mereka menuntut ganti rugi, Luka tidak hanya akan dicabut kehormatannya, dia kemungkinan besar akan kehilangan nyawanya.

“Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, atau aku tidak akan pernah bisa menatap mata Lord Kratos.”

Raja sebelum yang terakhir, Kratos, telah memenangi permusuhan banyak orang, tetapi dia sudah seperti seorang ayah bagi Jenderal Macrill. Sekarang setelah dia tiada, yang tersisa darinya hanyalah kedua anaknya, dan hancur hati Macrill melihat apa yang terjadi pada mereka setelah kerajaan mereka direbut dengan licik. Saat itu, dia tidak berdaya untuk melakukan apa pun selain berdiri mengawasi. Namun, mereka mampu bertahan atas usaha sendiri dan, dalam sekejap, melampauinya. Ketika mereka mengambil alih komando kampanye saat ini, harapan membuncah di dadanya bahwa takhta dapat dikembalikan kepada pemilik yang sah. Tapi harapan itu kini telah hancur berkeping-keping—Igel tewas di medan perang, dan kehilangan itu telah meruntuhkan kewarasan adiknya.

“Sungguh keadaan yang sangat tragis. Dan aku masih berani menyebut diriku seorang jenderal…”

Saat Macrill melipat tangan dan merenung, seorang ajudan mendekatinya. “Wakil Komandan Luka memanggil Anda, Jenderal. Beliau meminta kehadiran Anda di tendanya sekarang juga.”

Suasana hati Macrill langsung memburuk. Dia merasa kesulitan melihat kondisi Luka yang sekarang. Rumor yang gencar beredar menyatakan bahwa wanita itu tidur dengan kepala mendiang saudaranya yang dipeluk di dalam dekapannya, dan para prajurit mulai mengeluhkan bau busuk yang keluar dari tenda sang komandan. Meski begitu, dia tidak bisa menolak undangan tersebut. Tidak ada yang tahu teguran macam apa yang mungkin sedang disiapkannya.

“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Dia berjalan menuju pintu tenda, merenungkan bahwa teguran mungkin adalah hal paling sepele dari semua kekhawatirannya.

Hawa dingin menyerbunya begitu dia melangkah keluar. Dia menepis rasa merinding dan mulai berjalan, dengan ekspresi cemberut. Tenda Luka tidak jauh dari perkemahan utama, dan sorak-sorai kegembiraan membubung ke udara dari segala arah saat dia berjalan dalam keheningan di antara tenda-tenda.

Akhirnya, dia tiba di tempat tujuannya. Penjaga di pintu masuk membungkuk dengan tegang. Tangan pria itu bergetar saat dia menyingkap tirai tenda, mungkin karena terintimidasi oleh perjumpaan langsung dengan perwira atasannya, atau mungkin karena ketakutan akan perbuatan keji yang terjadi di dalam.

Jenderal Macrill menghela napas. Menahan keinginan untuk berbalik dan kabur, dia merunduk masuk. Seketika itu juga, bau busuk yang tengik menyerang hidungnya, begitu mengerikan hingga membuat perutnya mual. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Saat dia terhuyung-huyung melangkah lebih jauh ke dalam, dia melihat Luka duduk di tengah tenda. Penampilannya begitu mengerikan hingga sesaat membuatnya kehilangan napas, tetapi wanita itu memberi isyarat agar dia duduk, dan dia buru-buru menuruti perintah tersebut.

“Anda memanggil saya, Nyonya?” Dia tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan getaran ketakutan dalam suaranya. Dengan ragu-ragu, dia mengangkat kepalanya, takut kalau dia telah melakukan kesalahan. Dia mendapati wanita itu menatapnya dengan mata yang keruh bagaikan air lumpur, ekspresinya bersih tanpa sisa emosi apa pun.

“Apakah kamu tidak akan menyapa Igel?”

“Nyonya?”

“Igel sedang marah. Kamu harus menyapanya.” Luka memutar kepala saudaranya agar menghadap Macrill. Dagingnya telah mengering, kulitnya mengelupas, dan bola matanya telah membusuk. Perut Macrill mual mencium bau busuk tersebut.

Menelan ludah dengan susah payah, dia menundukkan kepalanya. “Tentu saja, Nyonya! Tuan Igel, saya senang melihat Anda sehat walafiat!”

Dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikannya. Air keruh dari rawa yang tak berdasar merayap di atas kakinya dan naik ke betisnya. Dia menggigil karena hawa dingin yang bukan sepenuhnya disebabkan oleh cuaca.

“Oh, Igel. Apa yang harus kita lakukan padanya?” Luka tersenyum sambil memeluk tengkorak itu dengan penuh kasih sayang. “Benarkah? Apakah itu akan memuaskanmu? Yah…” Dia terkikik. “Kamu memang selalu memiliki jiwa yang baik.”

Dia memberi isyarat kepada Jenderal Macrill untuk mengangkat kepalanya. Tulang-tulang tuanya berderit saat dia mendongak, sementara dia terus melawan rasa gugup yang berusaha menolak.

Cahaya tenda yang temaram memperlihatkan senyuman tipis di bibir Luka. “Mengingat pengabdian setiamu kepada keluarga kami sejak zaman ayah kami, kamu dengan murah hati telah dibebaskan dari hukuman.”

Jenderal Macrill tidak bertanya oleh siapa. Jika dia melakukannya, kepalanya akan melayang. Suaranya tetap tenang saat dia menyatakan rasa terima kasihnya. “Saya senang mendengarnya, Nyonya. Saya akan terus melayani Anda—kalian berdua—dengan seluruh jiwa raga saya.”

“Sekarang, mengenai alasan aku memanggilmu ke sini.”

“Saya siap mendengarkan perintah Anda, Nyonya.”

“Aku ingin kamu membakar semua kota di sekitar sini. Tebas para pengungsi saat mereka turun ke jalan dan gantung mayat-mayat itu di tempat yang mudah terlihat. Kamu tidak boleh membiarkan satu pun orang kekaisaran hidup. Balikkan setiap batu terakhir. Penggal setiap kepala terakhir.”

Macrill sedang menundukkan kepalanya untuk kedua kalinya ketika perintah yang tak terbayangkan itu masuk ke telinganya. Dia membeku di tengah gerakan. Kebingungan berputar-putar di dalam kepalanya, tetapi karena tahu bahwa dia harus memberikan jawaban, dia memantapkan hatinya dan berbicara.

“Nyonya… ini tidak bisa saya lakukan.”

“Dan kenapa tidak?”

“Itu akan membuat kita menjadi musuh yang tidak perlu. Itu akan berdampak buruk pada prospek kita dalam pertempuran.”

“Angkat kepalamu, Jenderal Macrill.”

Dengan dentuman keras, jantungnya mulai berdetak lebih cepat, seolah-olah seember air pertengahan musim dingin telah disiramkan ke kepalanya. Napasnya menjadi tersengal-sengal saat ia merasakan emosinya bergolak mundur. Dengan pikirannya yang tidak dapat menerima perintah yang tidak dapat ia proses, tubuhnya memicu respons penolakan. Waktu melambat. Ia merasa seolah-olah tersesat dalam kegelapan, kegelapan yang terbentang selamanya—tetapi segala sesuatu pada akhirnya pasti menemui ajalnya.

Tidak ada teriakan yang keluar dari mulutnya saat kepalanya menyelesaikan gerakannya. Teror meredam rasa terkejutnya di tenggorokan. Namun tepat di depan matanya, cukup dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan, adalah wajah Luka. Pupil matanya membesar saat tatapannya menembus ke dalam dirinya. Di sisinya, sejajar dengan kepalanya sendiri, ia memegang tengkorak saudaranya.

“Lihat apa yang dilakukan kekaisaran pada Igel. Bunuh mereka. Setiap orang terakhir.”

Dia begitu cantik saat pertama kali mereka bertemu. Setelah kematian ayahnya, kecantikan itu telah menjadi kutukannya, menjadikannya sasaran empuk untuk menjadi mainan para bangsawan. Meskipun demikian, ia tidak pernah kehilangan martabatnya, bersinar anggun dan murni saat ia tetap meyakini hari esok yang lebih cerah. Ia telah melewati neraka dan akhirnya memenangkan kebebasannya, namun lihatlah apa yang terjadi pada dirinya—tubuhnya dipenuhi luka bakar, kepala saudaranya yang telah mati dibuai di dalam pelukannya. Di mana matanya dulu jernih seperti amber, sekarang mata itu diselimuti oleh kedengkian.

“Akan segera dilaksanakan, Nyonya. Semua yang menghalangi jalan kita akan mengetahui arti dari pembantaian.”

Dia sedang meluncur menuju kehancuran. Tidak ada orang lain yang akan mengikutinya sekarang. Tetapi jika dia berdiri di sisinya, jika dia memberikan sisa hidupnya yang sedikit itu, mungkin itu bisa membalas budi yang dia miliki kepada ayahnya.

“Aku akan memberimu dua puluh ribu prajurit. Bakar desa-desa mereka. Ratakan kota-kota mereka. Hancurkan istana mereka, benteng mereka, segala sesuatu yang memiliki empat dinding menjadi reruntuhan.”

“Baik, Nyonya.”

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted