Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 5 Epilog Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 5 Epilog Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Epilog

Angin sepoi-sepoi berhembus, terasa relatif hangat setelah angin utara yang menusuk tulang. Tinggi di langit, bulan cembung tergantung tertutup awan.

Pangeran Kedua Selene mengalihkan pandangannya dari bulan dan menatap ke arah ibu kota. Kota itu diselimuti kegelapan. Dia berdiri satu sel dari temboknya, di atas sebuah bukit kecil—seorang diri dengan empat ribu prajurit di belakangnya, menunggu dengan tenang dalam barisan yang teratur.

“Sepertinya sudah selesai.” Napas putih keluar dari bibirnya saat dia tersenyum lembut. “Sekarang, kira-kira perubahan apa yang akan dibawa oleh kebangkitan junjungan kita ke dunia ini?”

Dia meredam tawa kecilnya dengan tangan dan menunduk. “Ada apa, Drix?”

Drix mengepalkan tinjunya ke tanah karena frustrasi saat menatap ibu kota. “Aku khawatir akan keselamatan kanselir.”

Selene mengangkat bahu. “Dia masih hidup, aku yakin itu. Dia akan segera menampakkan diri. Dia selicin ular, dan sama sulitnya untuk dipatahkan semangatnya.”

“Yang Mulia! Aku membawa kabar mendesak!” Seorang utusan berhenti di depannya dengan napas tersengal-sengal. “Six Kingdoms sedang menyerang bagian barat! Aku ulangi, Six Kingdoms telah melancarkan serangan ke wilayah-wilayah barat!”

“Tidak mungkin!” Drix bangkit berdiri, wajahnya memucat karena terkejut dan takut. Kenapa mereka menyerang pada saat yang begitu krusial? Mereka bergerak begitu cepat, seolah-olah mereka sudah tahu apa yang akan terjadi.

“Berapa banyak?”

“Mereka datang dengan membawa seratus ribu pasukan, Yang Mulia! Tapi barisan mereka masih terus bertambah! Belum bisa dipastikan seberapa besar jumlah mereka nantinya!”

Selene menutup matanya dan mengerutkan kening. “Keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau,” katanya sambil mengangkat bahu. “Bagaimana bangsa ini akan bertahan tanpa kaisarnya?”

Dia membuka matanya dan mengulurkan tangan ke arah bulan. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Sekarang, mari kita lihat jalan mana yang kau pilih… Tuan Sayap-Hitam tersayang.”

Maka dimulailah hari pertama bulan pertama Tahun Kekaisaran 1024—tahun yang kemudian dikenal sebagai Tahun Kekacauan.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted