Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 5 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 5 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Desain Claudia

Padang salju berubah menjadi merah. Setiap ayunan lengannya membuat mayat-mayat lain bergelimpangan.

Pasukan aneh berbaris di belakangnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun saat mereka secara mekanis menebas musuh-musuh mereka. Hanya suara napas mereka yang berirama yang keluar dari bibir mereka. Mereka bahkan tidak menjerit saat ditebas, dan mereka tidak sedikit pun gentar sebelum membalas dengan kekerasan yang luar biasa. Jeritan musuh-musuh mereka memenuhi udara, terperas dari paru-paru yang sekarat.

Akhirnya, musuh melihat bahwa mereka telah kalah dan mulai melarikan diri. Alunan baja memudar, dan hujan merah mulai membeku di tempatnya jatuh.

“Hiduplah Ratu Claudia!” Seruan itu membahana begitu tidak ada lagi musuh yang tersisa untuk dibunuh. “Hiduplah Ratu Claudia! Hiduplah Ratu Claudia!”

Semakin banyak suara yang mulai memanggil namanya. Sorak-sorai mereka mengguncang udara yang membeku, membawa kehangatan di tengah dingin yang menusuk.

Sosok berwarna ametis yaitu Claudia membalas sorak-sorai itu dengan kibasan pedangnya. Darah mengalir dari bilahnya, memerciki salju dengan warna merah tua. “Aku hampir tidak perlu turun ke medan perang,” komentarnya dengan dingin kepada menteri di sampingnya.

“Yang Mulia,” kata pria itu, “seandainya Anda tidak ikut terjun ke dalam pertempuran, pertarungan ini mungkin akan memakan waktu dua kali lebih lama.”

“Ketergantungan pada kekuatan pinjaman itulah yang membuat kita terus-menerus diganggu oleh para bandit.” Dia menatapnya dengan pandangan dingin. Ujung pedangnya bersandar di tenggorokannya. “Kamu tidak akan lagi menggangguku dengan urusan semacam ini. Permalukan dirimu untuk kedua kalinya dan kamu akan kehilangan kepalamu.”

“Baik, Yang Mulia. Tentu saja, Yang Mulia.” Pria itu menjadi pucat dan menundukkan kepalanya.

Claudia menatapnya dengan tatapan yang mungkin pantas diberikan untuk sampah di pinggir jalan dan menghela napas. Begitu ketertiban dipulihkan di wilayah ini, aku akan mengirimnya untuk mempertahankan suatu provinsi terpencil.

Dia tidak membutuhkan pengikut yang mengandalkannya untuk setiap hal kecil. Hidup bergantung pada orang lain adalah hak istimewa rakyat jelata. Kaum bangsawan mungkin lahir dalam kekuasaan, tetapi dengan alasan yang sama, mereka memiliki kewajiban untuk memimpin—sebuah gagasan yang jelas tidak dipahami oleh pria di sisinya.

Terlebih lagi pada saat Lebering harus berdiri dengan teguh. Andai saja semua vasalku memiliki kemampuan setara Lord Hiro…

Tidak ada waktu untuk disia-siakan. Zaman sedang berubah, dan jika negaranya tidak ikut bergerak, ia akan tertinggal.

“Desa-desa di sekitarnya akan membutuhkan makanan selama tiga bulan ke depan,” katanya. “Keluarga andalah yang akan menyediakannya.”

“Y-Yang Mulia… Dengan segala hormat, kas kami tidak sanggup—”

“Cukup. Apakah kamu lebih suka berpisah dengan persediaan yang kupikir tidak kusadari kamu timbun, atau dengan nyawamu?”

Mata menteri itu terbelalak, tetapi akhirnya, dia berpikir bahwa lebih baik menundukkan kepala daripada Kehilangan kepalanya. “Seperti yang Anda inginkan, Yang Mulia.”

“Aku senang kita sudah sepakat.”

Rakyat adalah harta yang harus disayangi, jauh lebih berharga daripada pria yang meringkuk di hadapannya sekarang. Musim dingin telah tiba, dan hawanya menjadi sangat membekukan. Banyak yang akan kelaparan atau mati kedinginan sebelum musim semi datang.

Dan aku tidak akan tinggal diam jika ada calon anak berprestasi di antara mereka.

Dia tidak datang jauh-jauh ke tempat terpencil semata-mata untuk membasmi bandit. Dia sedang mencari pengikut yang menjanjikan. Pinggiran kota kerajaan sudah disisir bersih dari orang-orang berbakat, dan setiap perwira pemula yang bisa ditemukannya telah dimasukkan ke dalam pasukannya. Sekarang hanya provinsi-provinsi terpencil yang tersisa.

“Dia terus maju semakin jauh, tetapi aku tidak akan tertinggal. Jika aku kehilangan jejaknya, akan jadi apa ambisiku nanti?”

Dia mendekati puncak kejayaan dengan kecepatan yang luar biasa. Dia tidak bisa tidak mengagumi kehebatannya. Pemandangan itu menyulut api di dalam dadanya. Dia tidak mau dikalahkan dalam kecepatan. Dia tidak mau dikalahkan.

Sungguh luar biasa. Semakin jauh dia tampak di luar jangkauan, semakin kuat aku akan menjadi. Dan dia tidak akan membawaku ke jalan yang salah. Jika aku hanya mengikutinya, aku akan segera menyaksikan puncak-puncak itu sendiri.

Pewaris Hero King, Hiro Schwartz. Dia akan mengejarnya, mencengkeramnya—dan melampauinya.

“Semoga kamu tidak jatuh ke tangan orang lain… sampai hari aku melahapmu sendiri.”

Rasa Malu Scáthach

Hiro tidak mengerti. Pikirannya kesulitan memproses apa yang sedang dilihatnya.

Anggota tubuh yang proporsional memancarkan vitalitas. Kulit pucat berkilau keemasan dalam semburat matahari terbenam. Rambut basah meneteskan air yang perlahan menyerah pada gravitasi, mengalir dalam aliran-aliran kecil dari tulang selangka ke lantai. Pemandangan itu akan membuat siapa pun menelan ludah. Dia berdiri membeku dalam kepanikan, seperti rusa yang tersorot lampu.

Bibir merah muda ceri Scáthach bergetar ragu-ragu. “T-Tuan Hiro. Boleh… Boleh saya tahu apa yang membawa Anda ke sini?”

“Ehm… Aku bisa menanyakan hal yang sama. Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Seharusnya dialah yang mengajukan pertanyaan. Apa yang sedang wanita itu lakukan di sini—lagipula dalam keadaan telanjang? Dia sama sekali tidak punya apa pun untuk menutupi tubuhnya. Tubuhnya yang tanpa cela terekspos sepenuhnya. Saat dia menatap, wanita itu merona merah padam dari dagu hingga kulit kepalanya.

“Aku berkeringat saat berlatih. Aku pikir aku bisa mandi.”

“Itu… juga rencanaku.”

“Begitu ya. Sepertinya kita berdua memilih waktu yang buruk. Kebetulan yang tidak menyenangkan.”

“Ya. Benar. Kurang lebih begitu.” Kenapa dia tidak berusaha menutupinya? “Um… kau tahu kan kalau aku bisa melihat semuanya, kan?”

“Lalu kenapa?”

Wajah Scáthach memerah padam bahkan saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Bahasa tubuhnya tidak sesuai dengan ucapannya. Dia pasti merasa malu, itu sudah pasti, tapi meskipun begitu, dia tetap tidak berusaha menutupi tubuhnya.

“Aku tahu akulah yang memergogimu, tapi bukankah seharusnya kau berteriak padaku? Atau setidaknya berusaha menutupi diri?”

Kenapa dia harus menjelaskan masalah ini kepada orang yang seharusnya menjadi korban? Kepalanya mulai pusing. Biasanya, dia akan memperkirakan akan ditampar, atau diteriaki, atau dipaksa meminta maaf dengan panik sebelum kabur menyusuri koridor. Namun untuk suatu alasan, dia malah terjebak dalam situasi buntu yang aneh ini.

“Apakah seorang putri dari Faerzen harus bertindak seperti gadis kebanyakan?” Scáthach berkacak pinggang, membuat tubuhnya semakin terekspos. “Aku adalah seorang kesatria. Aku punya tugas untuk memberi teladan melalui kekuatan dan perilakuku.”

Sekarang Hirolah yang merasa malu. “Itu tidak berarti kau tidak boleh memiliki rasa malu. Jika boleh dikata, itu justru hal yang bagus untuk dimiliki oleh seorang putri.”

“J-Jangan konyol. Terlihat telanjang bukanlah alasan untuk meninggikan suaraku, apalagi sampai menggunakan kekerasan. Seorang putri tidak akan pernah mempermalukan dirinya sendiri dengan perilaku yang tidak pantas seperti itu!”

Dia berbicara dengan begitu penuh semangat dan bergestur begitu tegas sehingga Hiro merasa dirinya sedang diceramahi. Sejauh yang bisa dia pahami, wanita itu kepanasan karena malu dan sekarang tidak tahu apa yang sedang dikatakannya.

“Baiklah, tapi setidaknya tutupi…”

“Usul yang konyol. Kenapa aku harus malu dengan tubuh yang diberikan orang tuaku? Aku seharusnya senang karena kau melihatnya!”

Air mata menggenang di sudut matanya. Dia tampak seperti hampir menangis. Ini adalah kasus yang sia-sia. Bersikeras mempertahankan pendirian hanya akan memperburuk keadaan.

“B-Begitu ya…” Hiro memaksakan apa yang mungkin merupakan senyuman diplomatis.

“Aku senang mendengarnya! Sekarang, jangan berdiri di sana seperti batang pohon dan mandilah! Aku akan kembali ke kam— Wah!”

Scáthach mulai berjalan menjauh, bibirnya terkatup rapat, tetapi dia terpeleset di lantai yang licin.

“Awas—†Tanpa berpikir, Hiro mengulurkan tangan untuk menangkapnya. Apa yang terjadi selanjutnya hanyalah nasib buruk—atau begitulah dia meyakinkan dirinya sendiri—tetapi begitu tangannya menyentuh sesuatu yang lembut, dia menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan besar. Dia mengatupkan giginya dan bersiap menerima hantaman yang tak terelakkan.

Itu tidak pernah datang.

“Eep! A-Aku minta maaf! Aku pergi sekarang!” Scáthach merangkak menjauh, wajahnya benar-benar seperti terbakar. Dia berputar dan mencoba melarikan diri ke arah koridor, tetapi di tengah jalan, dia menyadari bahwa dia masih belum berpakaian. Dia memungut pakaiannya, buru-buru mengenakannya, dan berlari dengan penampilan berantakan keluar dari kamar.

“Scáthach? Ada apa?” Suara Liz terdengar dari luar. “Kenapa kau setengah berpakaian?! Tunggu, apa kau menangis?!”

Dihantam oleh perasaan firasat buruk, Hiro mulai memikirkan cara untuk kabur.

“Ini salah Hiro…” Scáthach merengek. “Ini semua salah Hiro!”

“Apa yang dia lakukan?!”

Dalam sekejap, Hiro menyadari apa yang akan terjadi dan langsung kabur secepat tenaga.

Pendeta Agung Pertama

Sebuah pemandangan mengerikan terbentang di bawah pepohonan. Tanah dipenuhi genangan darah. Jeritan sekarat bergema di udara, semakin lama semakin banyak. Namun, bahkan pemandangan menyedihkan itu seolah memudar saat Hiro berdiri terpaku. Rambut keemasan, sehalus sutra, menari di bawah dahan-dahan, membuat hutan berkilau dengan cahaya surgawi saat menangkap sinar matahari yang menyusup melalui kanopi.

“Hah!”

Dia mengeluarkan embusan napas pelan dan tajam. Satu tebasan bersih merobohkan monster di hadapannya. Itu bukan satu-satunya korban—satu per satu, makhluk lain di sekelilingnya ambruk ke tanah. Darah terarceng tinggi di setiap tebasan, tetapi tidak satu tetes pun jatuh mengenai dirinya. Pedang di tangannya tetap tajam saat menjalankan tugasnya, bilahnya yang berkilau tidak ternoda oleh noda merah.

Dia adalah pemandangan yang fantastis. Pemandangan dunia lain. Memandangnya membuat orang bertanya-tanya apakah dirinya telah tersesat ke dalam mimpi—dan samar-samar, Hiro menyadari bahwa dia jauh lebih cantik karena hal itu.

Cantik. Tidak ada hal lain yang bisa mendeskripsikannya; tidak ada kata lain yang lebih cocok untuknya. Dia membawa dirinya dengan ringan dan bertarung bagaikan sedang menari, seperti seorang gadis perang yang keluar langsung dari buku cerita. Dia cantik… dan siapa yang tidak akan jatuh cinta pada kecantikan?

“Apa kau terluka?”

Suaranya menarik Hiro kembali ke kenyataan, tetapi butuh waktu sejenak bagi kabut keterpesonaan untuk hilang dari pikirannya.

“Apa?” dia berseru bodoh.

“Hutan Anfang adalah tempat yang jauh lebih berbahaya daripada saat kau dipanggil ke dunia ini. Apa Lord Artheus tidak memperingatkanmu untuk menjauh?”

Senyumnya bersinar dengan belas kasih seorang Madonna. Dia merasa kekuatan meninggalkan anggota tubuhnya; mustahil untuk dilawan.

Dia mengulurkan tangan yang seputih porselen. “Apa kau bisa berdiri?”

Rasa malu yang terlambat muncul di dada Hiro saat dia menatap jari-jarinya. Bukan hanya dia membutuhkan seorang wanita untuk menyelamatkannya dari monster, dia bahkan terduduk di tanah karena ketakutan dan tidak mampu bangkit sendiri. Diliputi oleh rasa malu, dia menepis tangan wanita itu.

“Aku tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri.”

Sayangnya, kedua kakinya tidak sependapat. Dia mencoba memaksa dirinya untuk berdiri, tetapi lututnya lemas dan dia jatuh lagi, membenturkan pantatnya dengan menyakitkan ke tanah. Hal itu justru memicu gelombang kebencian diri yang lain. Dia menundukkan kepalanya, diingatkan secara tidak menyenangkan tentang kelemahan dan ketidakberartian dirinya sendiri.

“Untuk apa kau begitu malu?”

Hiro mengangkat kepalanya dan mendapati wajah cantik wanita itu berada sangat dekat hingga mengejutkan. Tangannya terulur untuk memegang pipinya.

“Manusia saling bergantung saat mereka harus melakukannya, dan membiarkan orang lain bergantung pada mereka sebagai gantinya. Begitulah cara mereka menjadi kuat. Jangan merendahkan dirimu sendiri seperti itu. Kau ditakdirkan untuk menjadi sangat kuat.”

“Apa yang membuatmu begitu yakin?”

“Aku melihatnya di dalam matamu. Apakah seseorang akan menerima keadaan mereka begitu saja, atau apakah mereka memiliki tekad untuk melepaskan diri… semua itu tertulis di mata mereka.”

Tidak ada yang bisa Hiro katakan. Dia berbicara dengan begitu kuat hingga tidak memberi ruang untuk membantah, dengan keyakinan sedemikian rupa hingga tidak menyisakan ruang untuk berdebat, dan kata-katanya menghantam tepat di dadanya.

“Bukankah kita bisa berjalan berdampingan? Ketika kebetulan yang begitu indah telah mempertemukan kita, sungguh bodoh jika menolaknya.” Dia tersenyum sedikit malu-malu, untuk pertama kalinya memperlihatkan usianya, lalu terkikik. “Kau boleh bergantung padaku, selama aku juga boleh bergantung padamu.”

“Rey, aku…” Hiro mencoba berbicara, tetapi sebuah jari pucat menahan bibirnya.

“Ssh. Tidak apa-apa. Mari kita tumbuh kuat bersama.”

Dia sangat cantik. Tidak ada lagi yang bisa mendeskripsikannya—dan senyumannya menariknya masuk, semakin dalam dan dalam, bagaikan kedalaman tanpa dasar dari langit biru yang cerah.

Pesan untuk Kakakku

Sudah berapa bulan berlalu sejak Hiro meninggalkan Aletia, Artheus tidak bisa menghitungnya. Setelah kepergian kakaknya, dia berhenti menghitung hari.

“Kira-kira, apakah kau baik-baik saja?” gumamnya.

Di dalam sebuah ruangan yang tidak seorang pun diizinkan masuk kecuali kaisar, dia berdiri seorang diri. Beberapa langkah ke arah jendela dan dia menatap ke bawah ke arah taman mawar, yang dirawat begitu teliti oleh para tukang kebun. Inilah saat-saat di mana hatinya menjadi bimbang.

“Kekaisaran telah tumbuh terlalu besar untuk kebaikannya sendiri, Schwartz. Kita telah memperoleh kekuatan lebih dari yang kita butuhkan, dan inilah hasilnya.”

Itu tidak berarti dia akan mengabaikannya. Banyak orang telah mengorbankan nyawa mereka demi melihat bangsa ini bangkit. Dia telah mengeraskan hatinya dan terus bertarung sementara orang-orang yang dicintainya mati di sekitarnya, dan inilah hadiahnya.

“Dari semua jiwa yang memberikan kesetiaan mereka kepadaku pada hari itu, aku bisa menghitung jumlah yang tersisa dengan sebelah tangan.”

Archpriestess pertama telah tiada. Hiro telah tiada. Para bawahannya telah meninggalkan panggung satu per satu. Namun terlepas dari semuanya, mereka yang ditinggalkan Hiro untuk melayaninya tetap menjadi bawahan yang paling teguh.

“Bahkan sekarang setelah kau pergi, kau tetap mendukungku.”

Meski begitu, perdamaian masih sangat jauh. Seiring sebuah bangsa berkembang, ia menemui dilema-dilema baru. Kobaran api perang menyapu benua dari waktu ke waktu. Dengan Kekaisaran Grantz yang berbatasan dengan begitu banyak negara lain, konflik tidak pernah usai.

“Sungguh tidak ada batas bagi keserakahan manusia. Apa yang merasuki kita hingga membuat masalah-masalah ini untuk diri kita sendiri?”

Negara itu tunduk kepadanya sekarang. Tidak ada yang menghentikannya untuk membiarkan egonya membengkak jika dia memang berniat begitu. Namun ketika semua orang meninggalkannya dan dia sendirian, dia diingatkan kembali bahwa dia seorang diri.

Sebuah suara terdengar dari balik pintu. “Yang Mulia, Lord Lacerta dari Kerajaan Eidechse meminta audiensi.”

Artheus berbalik dan berjalan menuju pintu. “Dan bagaimana kabarnya?” tanyanya saat dia melangkah ke koridor.

Bangsawan itu menundukkan kepalanya. Dia adalah abdi setia yang telah melayani Artheus sejak Kekaisaran Grantz masih berupa sebuah kerajaan. “Sangat tenang tanpa beban, Yang Mulia. Dia tampaknya berharap bahwa dia tidak akan menghadapi konsekuensi apa pun.”

“Kalau begitu, dia meremehkan aku.”

“Tentu saja. Kekuatan kita saat ini terkonsentrasi di barat.” Suara pelayan itu merendah satu tingkat, dan bayangan melintas di wajahnya. “Dan Lord Schwartz sedang… berhalangan.”

Untuk menghindari gejolak yang tidak perlu, Artheus sengaja tidak memberi tahu rakyat tentang kepergian Hiro, melainkan berdalih bahwa ketidakhadirannya disebabkan oleh cedera yang memerlukan waktu pemulihan. Namun, seiring berjalannya waktu, rumor secara alami mulai menyebar bahwa kematiannya sedang disembunyikan. Kini kebohongan itu telah menjadi beban, memunculkan semakin banyak keraguan terhadap integritas kekaisaran.

“Jadi saudaraku adalah pasak penopang yang menjaga bangsaku tetap bersatu.” Artheus terkekeh. “Kira-kira aku seharusnya merasa bangga.”

Musuh-musuh Kekaisaran Grantz justru semakin bertambah banyak setelah kepergian Hiro. Itulah salah satu alasan mengapa pasukan mereka saat ini sedang menuju ke barat—Kerajaan Eidechse sedang menyerang Baum.

“Lord Schwartz sangat dicintai oleh semua orang, Yang Mulia, baik di dalam kekaisaran maupun di luar.”

Dia memang memiliki pesona yang luar biasa, itu sangat benar. Di balik fitur wajahnya yang lembut, dia adalah batu karang di tengah masa krisis. Hanya dengan sepatah kata, orang-orang yang biasanya saling berselisih akan bersatu padu untuk bertempur di bawah panjinya.

Artheus berhenti. Keheningan meliputi lorong tersebut.

Pelayannya menoleh ke belakang dengan cemberut. “Yang Mulia? Ada yang tidak beres?”

Artheus tidak menjawab. Dia hanya menatap kosong melalui jendela-jendela bundar di dinding sebelah kanan.

Schwartz… Atau sebaiknya kukatakan Hiro…

Dia tidak pernah mencoba menghitung berapa banyak hari yang telah berlalu sejak kepergian Hiro. Semakin dia memikirkan jalannya waktu, dia menjadi semakin putus asa, dan tahun-tahun keemasan itu terasa semakin jauh.

Suatu hari nanti, dunia ini akan memanggilmu lagi.

Itu adalah sebuah kepastian. Takdir yang tak terelakkan.

Aku ragu aku masih akan berada di sini ketika hari itu tiba. Aku tidak akan bisa menyelamatkanmu saat kamu paling membutuhkannya. Tapi tidak perlu takut.

Kehendaknya akan bertahan. Dia akan memastikannya. Dia akan meninggalkan kekuatan yang cukup untuk menyelamatkan saudaranya.

Kamu tidak sendirian, Hiro. Jiwaku akan berjalan bersamamu, selamanya.

Dia mungkin saja menuju akhir yang kesepian, tetapi dia akan tetap bertarung—sampai tulang-tulangnya menjadi debu.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted