Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 4 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 4 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

The Black Chronicle

Pada ulang tahun Aura yang ketujuh, ayahnya memberinya sebuah buku dengan sampul hitam pekat. “Bacalah ini,” kata beliau kepadanya. “Ini akan sangat berguna bagimu.”

Nama buku itu adalah The Black Chronicle. Tidak butuh banyak imajinasi untuk memahami maksud ayahnya. Hampir tidak ada seorang pun di Aletia yang memiliki warna hitam murni dan sejati. Warna itu hanya milik satu orang saja: Held Rey Schwartz von Grantz, sang kaisar kedua.

Raja Pahlawan Dua Hitam, sang penengah kemenangan, si pemakai topeng, yang lahir untuk menguasai medan perang, seorang ahli strategi yang melampaui dunia manusia. Dia memiliki banyak nama dan banyak gelar, tetapi yang terbesar dari semuanya adalah gelar Mars, yang diambil saat pengangkatannya ke dalam jajaran dewa Grantz. Bahkan di era modern, Dewa Perang tersebut memegang popularitas yang luar biasa di seluruh kekaisaran.

“Apakah ini bagus?”

Mungkin terinspirasi oleh reputasi keluarganya sebagai penghasil ahli strategi luar biasa, di usia tujuh tahun, Aura telah menetapkan impiannya: menjadi seorang komandan yang layak untuk mengukir namanya dalam sejarah kekaisaran.

“Sangat bagus,” jawab ayahnya. “Ayah bisa berjanji padamu akan hal itu. Ayah sendiri sudah membacanya dari awal sampai akhir.”

Aura menatap The Black Chronicle dengan rasa ingin tahu dan memiringkan kepalanya. “Apakah ini buku baru?” tanyanya. Dia telah membaca setiap buku di rumah dari sampul ke sampul dan dapat menghafal di luar kepala buku-buku yang berkaitan dengan Sang Dewa Perang, tetapi dia tidak mengenali buku yang satu ini.

“Baru saja dicetak. Buku ini memuat kisah-kisah tentang Sang Dewa Perang yang tidak akan kamu temukan di teks mana pun sebelumnya, serta tinjauan yang patut dipuji tentang taktik yang dia gunakan dalam pertempuran. Ayah yakin kamu akan menyukainya.”

“Baiklah. Aku akan membacanya.”

Aura mengangguk hormat dengan sedikit membungkuk. Sambil berlari kecil dengan suara langkah kaki berderap, dia bergegas kembali ke kamarnya. Dia hampir tidak bisa menahan diri saat merayap masuk ke bawah selimut, dan dadanya berdegup kencang karena antisipasi saat dia membuka sampul buku itu. Di negara militer yaitu Kekaisaran Grantz, nama Sang Dewa Perang begitu disucikan. Dia dijunjung tinggi, dihormati, dan dicintai oleh semua orang.

“Schwartz benar-benar luar biasa…”

Aura, yang bercita-cita menjadi seorang komandan, bukanlah pengecualian. Tidak ada habisnya kisah perbuatan inspiratif Schwartz, dan strategi jeniusnya terlalu banyak untuk dihitung.

“Menarik sekali…”

Bahkan seribu tahun kemudian, dia tetap memiliki daya tarik yang memikat yang tidak dimiliki oleh tokoh sejarah lainnya. Tahun-tahunnya yang hilang diselimuti misteri, tahun-tahun tersisanya dicurahkan untuk medan perang, liku-liku yang membentuk perjalanannya menuju puncak kejayaan—tidak peduli catatan mana yang dia baca, Aura selalu menyelesaikan halaman terakhir dengan kesan yang sama.

“Dia sebenarnya bisa menaklukkan dunia.”

Mungkin bahkan Schwartz tidak akan mampu membuat Kekaisaran Grantz abadi, tetapi seandainya dia yang pertama kali mengenakan mahkota, wilayah kekaisaran itu pasti akan jauh lebih luas daripada sekarang.

Bagaimanapun juga, kesimpulan Aura sangat sederhana: “Buku ini adalah harta karun.”

Nama penulisnya tidak dicantumkan, tetapi dia memiliki bakat dalam menyampaikan daya tarik abadi sang Dewa Perang. Dia sangat berutang budi kepada ayahnya atas hadiah tersebut. Tidak, sebelum itu, dia berutang budi kepada sang Dewa Perang itu sendiri. Tanpa berbagai pencapaian luar biasanya, buku itu tidak akan pernah tercipta sama sekali.

“Hm?”

Dia melirik ke luar jendela. Kegelapan mulai turun.

“Sekali lagi saja.”

Sisa-sisa kepuasan setelah membaca itu sangat layak untuk dinikmati sedikit lebih lama lagi. Selain itu, dia terlalu bersemangat untuk bisa tidur. Tentu saja, “sekali lagi saja” itu berlangsung hingga pagi hari. Pada akhirnya, dia membaca Black Chronicle dari awal sampai akhir selama tiga hari penuh, dan hanya omelan penuh amarah dari ibunya yang menghentikannya dari hari keempat.

*****

“Dan Black Chronicle telah menjadi seperti bagian dari diriku sejak saat itu,” kata Aura menutup cerita.

Adakah orang di dunia ini yang mendengar cerita seperti itu dan tidak tersipu? Jika ada, orang itu pastilah bukan Hiro. Dia menutup telinganya dan menyembunyikan wajahnya, diserang oleh rasa malu yang tidak dapat dijelaskan.

Sebuah telapak tangan kecil menepuk bagian atas kepalanya. “Kamu mendengarkan tidak?”

Dia mendongak kembali dan melihat mata berat Aura menatapnya dengan sedikit kesal. “Uh… pokoknya aku paham kalau kamu adalah penggemar kaisar kedua.”

Dia menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat, melambaikan telapak tangannya di depan wajahnya. “Aku bukan penggemar. Aku mencintainya.” Tangannya mengepal membentuk kepalan tangan kecil yang bertekad. Dengan wajahnya yang tetap tanpa ekspresi seperti biasa, sulit untuk memastikan seberapa serius dia sebenarnya, tapi bagaimanapun juga, itu bukan pengakuan yang pantas diucapkan di hadapan Kaisar Schwartz sendiri.

“Kamu harus membacanya.” Aura mengulurkan Black Chronicle ke hadapannya.

Hiro lebih baik disiksa daripada membaca kisah blak-blakan tentang masa lalunya sendiri, tetapi dia tidak ingin mengecewakan gadis yang berbinar-binar di hadapannya. Setelah ragu sejenak, dia mengambil buku itu. Dia hanya harus menggertakkan giginya dan menahan rasa geli yang luar biasa.

“Buat catatan. Nanti akan ada ujian.”

Jeritan tanpa suara keluar dari mulut Hiro saat dia dilanda keputusasaan yang tiba-tiba.

Ambisi Claudia

“Berlututlah.”

Kata itu, yang diucapkan dengan angkuh, menembus dada pria itu bagaikan bilah pedang.

Tiga bulan sebelumnya, saudara laki-laki Claudia, Pangeran Flaus, telah membunuh raja dan mencoba merebut kendali Lebering. Pria yang kini berdiri di hadapannya, meringis kesakitan, telah memimpin pasukan pemberontak di kota kerajaan. Pada akhirnya, kudeta itu telah gagal—dengan bantuan Pangeran Keempat Hiro Schwartz dari Kekaisaran Grantz, sang Putri Claudia saat itu telah menghancurkan rencana buruk Flaus dan merebut takhta untuk dirinya sendiri. Baik saudara laki-lakinya maupun pria yang telah memanipulasinya tewas dalam pertempuran akhir. Yang tersisa dari pemberontakan itu kini hanyalah tahanan di hadapan matanya.

“Aku tidak akan pernah menundukkan kepalaku kepada penyihir sepertimu,” sembur pria itu.

“Wah. Sayang sekali.” Senyuman tipis Claudia sama sekali tidak menunjukkan sedikit pun kekecewaan.

Cakupan kekuasaannya telah berkembang pesat selama tiga bulan terakhir, hampir tanpa perlawanan. Persiapannya tentu saja telah dilakukan sejak lama, tetapi sangat membantu karena para pengikut ayahnya terlalu bodoh untuk menyadari apa yang sedang terjadi sampai semuanya sudah terlambat.

“Tetapi jika kau tidak menunjukkan rasa hormat yang sepantasnya kepadaku, keluargamu akan menanggung akibatnya. Istri dan anakmu akan diusir ke jalanan, atau bahkan lebih buruk. Jika kau ingin aku memberi mereka perlindungan kerajaan, kau harus berlutut.”

Claudia berhenti mengambil buah dari mangkuk pelayannya untuk menjilat sisa jus dari jemarinya, lalu menoleh kembali dengan senyuman menggoda. Para prajuritnya, para pejabatnya, bahkan pria yang dirantai itu mau tak mau tertegun, begitu kuatnya daya pikat wanita itu.

“Nyawamu tentu saja tetap harus melayang. Sebuah contoh harus diberikan.”

Setelah pria itu mati, ia akan merangkul sisa keluarganya di bawah perlindungannya. Mereka mungkin akan membencinya pada awalnya, tetapi dengan sedikit ketulusan dan waktu untuk mengindokrinasinya—membujuk mereka, ia meralatnya dalam hati—tentang kebenaran tindakannya, kemarahan mereka akan mendingin menjadi kesetiaan. Dengan penerapan wortel dan tongkat yang tepat, siapa pun bisa dibuat percaya akan apa pun.

“Apakah kau memberikan sumpah bahwa keluargaku tidak akan disakiti?” tanya pria itu.

“Tentu saja. Kautelah diadili. Mereka tidak bersalah dalam masalah ini.” Dengan senyuman penuh belas kasih bagaikan Bunda Maria, Claudia meletakkan sebelah tangan di dadanya dan bersumpah demi pendiri agung Lebering, Lox.

Hal itu tampaknya meyakinkan sang pria. Ia menempelkan dahinya ke lantai. “Aku dan aku sendirilah pelopornya,” serunya. “Atas kejahatan karena mendatangkan kekacauan ke dalam Lebering—ke dalam negeri Anda, Yang Mulia—saya merelakan nyawa saya sebagai taruhannya.” Dengan kepala tetap menunduk, suaranya bergetar sementara bibirnya mengatup karena penyesalan. “Saya tidak punya hak untuk meminta apa pun dari Anda, tetapi saya memohon belas kasihan Anda untuk mengampuni keluarga saya.”

“Baiklah. Mengingat pengakuan tulusmu, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku bersumpah demi namaku sebagai ratu bahwa orang-orang terkasihmu tidak akan mengalami bahaya apa pun.”

“Anda sangat baik hati, Yang Mulia!”

“Sekarang bawa dia ke tempat algojo.”

Atas perintah Claudia, para prajurit yang menahan pria itu mulai menyeretnya pergi.

Dengan eksekusinya, benih pemberontokan terakhir akan dicabut. Sebentar lagi akan ada penobatan resmi, rekonstruksi wilayah selatan, penguatan militer, negosiasi dengan kekuatan asing. Urusan publik kepemimpinan akan ditangani dengan cepat dan diam-diam. Sementara itu, dalam bayang-bayang, spionase dan suap kepada para bangsawan berpengaruh di seluruh benua akan memperkuat kekuatan Lebering. Untuk mengelabui pandangan Kekaisaran Grantz akan menjadi tugas yang sangat sulit, namun untungnya, dia telah melirik seorang kolaborator yang bersedia.

Dan kau pasti akan bekerja sama, Lord Hiro. Selama kepentingan kita sejalan, kita terikat satu sama lain.

Kaum zlosta telah hidup dalam penderitaan dan kehinaan selama seribu tahun lamanya. Jika suatu saat mereka ingin melihat matahari lagi, dia tidak boleh ragu-ragu dalam menghadapi apa pun. Biarkan dunia mengejeknya; biarkan dunia meludahinya; tetapi demi melestarikan warisan rakyatnya, dia akan menorehkan jejak kecilnya dalam sejarah.

Mimpi Lox akan terwujud di bawah masa pemerintahanku. Aku bersumpah akan hal ini.

Suatu hari nanti, Lebering akan bergabung dengan suara-suara yang mendeklarasikan kekuasaan di seluruh benua—dan pada hari itu, dunia akan mengingat kengerian dan kekuatan kaum zlosta.

Claudia bangkit berdiri, nyala api idealisme berkobar di matanya. “Sidang ini dengan ini ditutup,” umum beliau. “Aku akan kembali ke kamar-kamar pribadiku.”

Dia memiliki banyak sekali hal yang harus dilakukan. Setiap menit, setiap detik sangatlah berharga. Tidak ada waktu untuk bersantai; tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Dia akan bergerak lebih cepat dari siapa pun, lebih awal dari siapa pun, lebih baik dari siapa pun—dan dia akan merebut supremasi.

Ambisiku baru saja dimulai.

Surat-surat untuk Sang Archpriestess

Tempat suci Spirit King adalah, seperti namanya, kuil tempat Spirit King disemayamkan. Di bagian paling dalam, para calon pendeta wanita bekerja siang dan malam agar layak menyandang pangkat ksatria-pendeta wanita. Terlarang bagi kaum pria, beberapa orang menyebutnya sebagai taman kewartawanan; yang lain menyebutnya sebagai hal yang paling mendekati surga di dunia yang sialan ini.

Sang archpriestess, juru bicara tempat suci tersebut, ditemani setiap saat oleh pengawal bersenjata yang ketekunannya memastikan bahwa dia tidak mengalami bahaya apa pun. Dua pengawal wanita mendampinginya hari ini saat dia berkunjung untuk menyemangati para peserta pelatihan.

Wanita itu menghela napas cemas saat mengamati para pengawal berlatih. Kedua pengawalnya saling melirik. Meskipun biasanya dia menjalankan tugasnya dengan tekun dan anggun, selama dua hari terakhir dia dilanda suasana hati yang aneh.

“Ada apa dengan itu?” tanya pengawal yang lebih bersemangat.

“Belum tahukah kamu?” jawab pengawal yang lebih pendiam. “Baru-baru ini, Yang Mulia tidak memikirkan hal lain selain sang Pangeran Hitam.”

“Maksudmu Lord Hiro? Anak laki-laki yang pernah tinggal di sini dulu?”

“Tepat sekali. Mereka telah saling berkirim surat sejak saat itu. Tampaknya balasan terbarunya tertunda, itulah sebabnya dia merasa tertekan.”

Ksatria-pendeta wanita yang bersemangat itu memijat keningnya, merasa sakit kepala mulai datang. “Hingga mengganggu tugas-tugasnya? Jadi bahkan Yang Mulia pun memiliki hati seorang gadis…”

“Bayangkan memiliki kemewahan untuk mengabaikan surat-surat yang rela dibunuh oleh seluruh benua demi kesempatan untuk mengirimkannya.”

“Setuju. Jadi? Sudah berapa lama dia membuat wanita itu menunggu?”

Jika ingatannya tidak salah, sang Pangeran Hitam ditempatkan di Benteng Berg di sebelah selatan. Seorang kurir bisa menemuinya dalam dua hari. Bahkan jika dia bingung harus menulis apa, sebuah balasan seharusnya hanya memakan waktu tiga atau empat hari, tentu saja tidak lebih dari seminggu.

“Enam hari, kudengar. Aku tidak akan terkejut jika balasannya datang sebelum hari ini berakhir.”

“Berapa lama biasanya surat-surat itu tiba?”

“Tidak lebih dari empat hari. Kamu bisa tahu kapan surat-surat itu datang—Yang Mulia menghabiskan sepanjang hari dengan berseri-seri. Entah bagaimana caranya kamu bisa melewatkannya.”

“Haruskah kita mengirim utusan? Memerintahkannya untuk cepat?”

Ksatria-pendeta wanita yang pendiam itu meringis mendengarnya. “Hanya jika kamu ingin mengundang kemarahan Yang Mulia. Lagipula, kita yang berada di kedudukan ini tidak bisa menuntut bangsawan kekaisaran. Kepala kita bisa melayang.”

Ksatria-pendeta wanita yang bersemangat itu memiringkan kepalanya. “Begitukah menurutmu? Sang Pangeran Hitam tidak tampak seperti tipe orang seperti itu di mataku. Kurasa dia akan membiarkan kita lolos hanya dengan teguran ringan dan senyuman lebar.”

“Atau kita bisa menutup mulut kita dan membiarkan masalah ini selesai dengan sendirinya. Kurasa itu jauh lebih bijaksana, benar kan?”

Ksatria-pendeta wanita yang bersemangat itu menghela napas. “Rasanya tidak tenang bagiku mengetahui masalahnya dan tidak berbuat apa-apa untuk membantu, itu saja.”

Pada saat itu, ksatria-pendeta wanita lainnya berlari dari arah pintu masuk tempat latihan. “Yang Mulia!” serunya. “Surat dari Lord Hiro telah tiba!”

Saat kedua pengawal itu berbalik untuk melihat reaksi sang archpriestess, embusan angin kencang membuat rambut mereka berkibar.

“Apa-apaan—”

“Wah!”

Mereka bergegas untuk memastikan keselamatan sang archpriestess, tetapi dia telah menghilang.

“Sialan! Ke mana dia pergi?!”

“Mungkinkah itu monster? Tapi apa yang bisa menyambarnya secepat itu?”

Mereka mengamati sekeliling dengan panik. Akhirnya, mereka berdua melihat hal yang sama, dan mulut mereka berdua ternganga bersamaan.

“Iih! Kapan kamu sampai di sana?!”

Jeritan meluncur dari ksatria-pendeta wanita yang baru tiba saat dia menyadari sang archpriestess berdiri tepat di belakangnya. Sang archpriestess nyaris menyambar surat itu dari genggamannya dan meletakkan tangan satunya di atas surat tersebut dengan penuh kelembutan, senyuman tersungging di wajahnya. Lalu, tiba-tiba, dia berbalik dan melangkah cepat menuju pintu masuk.

“Yang Mulia?! Mau ke mana Anda?!”

“Kembalilah, Yang Mulia! Anda seharusnya berada di bawah pengawasan kami!”

Sang archpriestess berhenti dan menoleh ke belakang saat kedua pengawalnya berteriak memanggilnya.

“Tapi aku harus mengirim balasan kepada Lord Hiro!”

“Apakah itu mendesak?” tanya ksatria-pendeta wanita yang berapi-api itu.

“Oh, ya. Sangat mendesak.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia menanyakan makanan kesukaanku. Namun, dengan begitu banyak pilihan, bagaimana bisa aku memutuskan?”

“Apa?”

Kesatria-pendeta wanita yang berapi-api itu menghentikan langkahnya, mengerjap kebingungan. Sang archpriestess sudah berlari kencang menyusuri koridor, melupakan tugas-tugasnya.

“Yang Mulia, tunggu! Bagaimana dengan para peserta pelatihan?!”

Teriakan-teriakan menyusulnya, tetapi dia tidak memedulikannya. Dalam urusan cinta, bahkan pembawa Penglihatan Jauh pun menjadi buta.

Tangan Hitam Menunggang

Masa ketika ras-ras di Aletia bersaing untuk supremasi adalah masa yang biadab. Yang kuat bertahan hidup sementara sisanya digiling hingga menjadi lumpur. Kematian adalah kenyataan hidup di era yang penuh kekerasan itu, memicu pusaran kebencian yang terus tumbuh dan berputar di atas benua tersebut.

Ini adalah medan perang—sebuah tempat ekstrem seperti neraka yang tidak memberikan toleransi sedetik pun untuk salah langkah. Seratus ribu orang bertubrukan dengan seratus ribu orang lainnya, dan setiap kali baja berdenting, ratusan, ribuan, puluhan ribu nyawa tumpah di atas tanah. Benturan antara keyakinan dan keyakinan mengguncang udara dan nyaris membelah bumi.

“Hah! Apa katamu?! Bukankah aku telah melatih prajuritku dengan baik?!”

Di atas tebing menjulang yang menyuguhkan pemandangan luas ke arah medan pertempuran, seorang pria mengamati pasukan-pasukan yang saling bertubrukan dengan senyum gembira.

“Ceroboh,” kata pria kedua. “Kekuatan tanpa kehalusan adalah sifat para buas. Manusia seharusnya menggunakan otak yang mereka miliki sejak lahir.” Dia mengetuk keningnya untuk memperjelas maksudnya.

“Manusia, begitu, Lox? Pilihan kata yang aneh untuk seorang fiendkin.”

Lox tidak terpancing. “Kau seharusnya mengekang amarahmu itu, Roylicht. Medan pertempuran tidak membedakan antara manusia dan zlosta.”

“Omong kosong. Aku akan berdoa kepada Raja Roh agar tidak ada satupun prajuritmu yang bisa kembali, bagaimana dengan itu?!”

“Kau berbicara seperti anak kecil. Pasukan-pasukanku tidak sedemikian rapuh.”

Saat keduanya saling memelototi, sosok ketiga mendekati mereka sambil bersiul. “Aduh, aduh. Kalian berdua seharusnya akur atau kalian akan membuat orang tua itu marah lagi.”

“Diam, kau monster,” geram Roylicht.

“Jaga jarakmu, Amphibia. Wujudmu itu menjijikkan bagiku.”

Individu androgini yang dipanggil Amphibia itu menatap pasangan tersebut dengan kerutan cemberut. “Kalian benar-benar jahat! Apa yang pernah kulakukan se— Uh!”

“Hentikan sikap manismu itu. Itu membuat tinjuku gatal.”

“Mungkin lain kali kau harus memberi peringatan sebelum memukul,” kata Lox, meskipun matanya mendesak Roylicht untuk melanjutkan.

“Betapa kejamnya… Apa salahku sampai pantas diperlakukan begitu?” Dengan tangan menempel centil di pipi, Amphibia menatap kedua orang itu dengan mata berkaca-kaca. Keduanya mundur tiga langkah, merasa jijik.

“Berapa kali harus kukatakan pada kalian anak-anak muda? Gangguan kecil adalah kematian di medan perang.” Suara serak terdengar saat seorang lelaki tua berambut putih mendekati ketiganya, langkah lambatnya dibantu oleh sebuah tongkat.

“Hanya terkadang.” Seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata hitam melangkah keluar dari belakang lelaki tua itu dan menepuk bahunya. “Pameran kepercayaan diri mungkin tidak memberikan contoh yang baik bagi para pasukan, tapi itu memang meyakinkan mereka.”

“Sudah kubilang, Lord Schwartz, kau terlalu lembut pada anak-anak muda ini. Kau membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak terkalahkan.”

“Dan kau terlalu kasar. Kenapa tidak bersantai saja untuk hari ini? Black Hand berkumpul sekali lagi. Bukankah itu alasan untuk merayakan?” Anak laki-laki bernama Schwartz melangkah melewati para bawahannya, berjalan santai ke tepi tebing, dan mengintip ke bawah. Setelah beberapa saat, dia berbalik sambil tersenyum lebar. “Sekarang, mari kita bicara bisnis. Pasukan kalian semua bertarung dengan sangat hebat, tapi mereka tidak bisa begitu saja memenangkan hari ini. Jadi, sebuah pertanyaan. Bagaimana kita bisa mencegah pertempuran ini jatuh ke dalam jalan buntu?”

Keempat komandan itu mengerutkan kening ke arahnya, merasa terkejut.

Lelaki tua itu adalah orang pertama yang berbicara. “Apakah kau berniat mengerahkan pasukan inti kita dan menghabisi musuh sendiri?”

Schwartz menggelengkan kepala. “Tidak juga. Memang benar pemain baru diperlukan, tapi itu bukan aku.”

Lelaki tua itu adalah orang pertama yang menyadari maksudnya, diikuti oleh Amphibia dan Lox.

“Ups. Kalau begitu sebaiknya aku bergabung kembali dengan pasukanku. Dah, Lord Schwartz!”

“Aku juga akan pergi.”

Keduanya bergegas pergi, meninggalkan Roylicht yang kebingungan.

“Mau ke mana mereka?! Ada apa dengan mereka?”

Schwartz mengangkat sebelah jarinya. “Lihat ke sana dan kamu akan mengerti.”

Roylicht menoleh. Di kejauhan, sebuah pasukan telah memutar melewati musuh dan kini mendekati mereka dari belakang. Matanya terbelalak saat melihat panji yang mereka bawa.

“Meteia?! Sialan, benar-benar perebut kehormatan!”

Dia pun bergegas meninggalkan tebing itu.

Senyuman Schwartz semakin lebar saat melihat ketiga orang itu pergi. Saat itulah dia menyadari lelaki tua tersebut belum beranjak.

“Anda tidak ikut bergabung dengan mereka?” tanya Schwartz.

“Tidak, tidak. Saya sudah cukup puas menonton anak-anak muda bertarung dalam pertempuran ini.” Lelaki tua itu berhenti sejenak. “The Black Hand, ya? Nama yang cukup hebat yang telah diberikan kepada kita.”

“Artheus memang sangat menyukai gelar,” komentar Schwartz.

“Dia menyia-nyiakan yang satu ini untuk anak-anak kemarin sore itu, kalau kau tanya padaku.”

“Mereka akan butuh nama yang bisa diingat orang. Pada waktunya, seluruh dunia akan mengetahuinya.”

Pada akhirnya, seluruh Aletia akan bergetar di hadapan Sang Dewa Perang dan Tangan Hitam miliknya. Api mereka mungkin kecil sekarang, namun segera mereka akan menyapu daratan bagaikan sinar membara dari matahari terbit.

Ikatan Seribu Tahun

Hari kelima belas bulan kedelapan Pholus 204, lebih dari seribu tahun sebelum masa kini

Sentakan pergelangan tangannya membuat sepuluh kepala menggelinding; ayunan lengannya membuat seratus kepala terbang. Satu patah kata dari bibirnya dapat menghancurkan sebuah bangsa; satu kilatan taringnya dapat menjatuhkan seratus orang. Meskipun terdengar sulit di percaya, begitulah kekuatan Leon Welt Artheus von Grantz, sang Hati Singa, yang dicintai oleh Raja Roh—dan pria yang kelak dikenal di dunia masa depan sebagai Zertheus, Sang Dewa Pertama.

Udara terasa lembap dan pengap saat Artheus tiba di tempat peristirahatan itu.

“Sialan seribu kali untuk panas ini! Dari mana pula datangnya hal ini?!”

Mengeluh seperti anak laki-laki yang separuh usianya, pemuda berambut pirang dan bermata emas itu melompat turun dari keretanya. Itu bukanlah ungkapan kiasan—dia melompat langsung dari kendaraan yang sedang melaju, mendarat dengan anggun, dan melemparkan jubah mewahnya yang berbenang emas. Tanpa memedulikan pakaiannya yang kotor, dia menanggalkan bajunya hingga memperlihatkan dada bidangnya. Wajahnya yang berfitur elok berkerut geram saat dia mendelik menatap matahari.

“Kalau begitu, majulah!” teriaknya. “Hadapi aku! Akan kuetak ke bumi dan kuberi kau pelajaran!”

Meskipun dia adalah raja dari bangsanya dan cukup kuat untuk membuat orang-orang di sekitarnya berlutut, panas itu sepertinya telah membuat akal sehatnya terganggu.

Saat Artheus meneriakkan caci makian anti-mataharinya ke langit, keretanya mengepulkan debu saat berhenti mendadak di dekatnya. Seorang anak laki-laki berambut hitam turun dan menyaksikan tingkah konyol rekannya dengan ekspresi sedikit tersiksa.

“Kau sadar kan kalau itu akan membakar planet ini?” serunya.

Dia adalah Held Rey Schwartz von Grantz, Raja Pahlawan dari Twinned Black yang terkenal. Ketajaman taktiknyalah yang telah menyelamatkan kerajaan Artheus dari kehancuran, dan dialah yang telah membebaskan umat manusia dari cengkeraman zlosta. Di dunia yang akan datang, dia akan dikenal sebagai Dewa Perang dan dicintai oleh para prajurit maupun rakyat jelata—tetapi untuk saat ini, dia belum melakukan perbuatan apa pun yang layak untuk kehormatan itu, dan dunia belum mengetahui namanya.

“Bagaimana bisa kau begitu tenang?! Apa kau tidak kepanasan? Kau pasti merasakannya! Tempat peristirahatan, begitu mereka menyebut tempat ini, dan di depan mukaku! Istirahat dari apa?! Panas di sini sama buruknya dengan di tempat lain!”

“Memang,” kata Schwartz, “tapi aku bisa tahan.”

“Nah, itu dia saudara yang kukenal. Ketika para wanita menjerit-jerit tentang Lord Schwartz yang dingin setiap kali kau berjalan di jalanan, kurasa itulah maksud mereka.” Mata Artheus dingin, dan ada sedikit nada cemburu di suaranya.

Schwartz tertawa dipaksa dan mengangkat bahu. “Kau selalu membuat asumsi yang aneh. Aku berjanji padamu, tidak ada seorang pun yang menjerit-jerit karena aku.”

“Kau berbohong, saudara. Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana gadis-gadis rakyat jelata menyelipkan surat cinta ke tanganmu.”

“Yah… baiklah, mungkin itu kadang-kadang terjadi.”

“Aku, sang Raja sendiri, hanya menerima lamaran aliansi politik tanpa akhir, sementara saudaraku bersenang-senang dengan warga kota dan membebankan seluruh urusan kertas kepadaku. Ini sama sekali tidak adil.”

“Jika kau tidak suka pengaturannya, aku dengan senang hati akan bertukar posisi.”

Meskipun Schwartz mengatakannya sebagai candaan, mata Artheus menyipit tajam, seperti elang yang melihat mangsanya. Kilatan di dalamnya bukanlah kemarahan atau cemoohan, melainkan harapan yang tulus. Mungkin hawa panas telah mengaburkan penilaiannya, tapi dia tampak menganggap tawaran itu serius.

“Jika kau menginginkannya,” kata Artheus, “aku akan menyerahkan tahta kerajaan dalam sekejap.”

“Tidak, bukan itu maksudku…” Terkejut, Schwartz kesulitan mencari kata-kata.

“Negaraku akan menjadi reruntuhan yang membara jika bukan karenamu, dan aku sudah mati terbunuh. Mahkotaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan utang budiku. Aku akan memberikannya dengan senang hati.”

Schwartz tiba-tiba merasa yakin bahwa jika dia mengatakan ya, Artheus akan menyerahkan tahta keesokan harinya juga. Dia akan menindas siapa pun yang menentang hingga bungkam, meyakinkan rakyat melalui kekuatan tekadnya—apa pun yang diperlukan, dia akan mewujudkannya.

“Aku menghargai tawaran itu, tapi…”

Artheus mendengus. Seringai terukir di wajahnya saat dia merangkul bahu Schwartz. “Candaan, saudara. Maafkan selera humorku yang buruk.”

“Akulah yang seharusnya meminta maaf,” kata Schwartz. “Seharusnya aku tidak bercanda tentang hal itu.”

“Pikirkanlah lagi. Lebih penting dari itu…” Sambil tersenyum lebar, Artheus melemparkan seluruh berat badannya ke punggung Schwartz. “Aku kelelahan. Kamu harus menggendongku ke mansion!”

“Apa yang kamu bicarakan?! Jalan sendiri sana!”

“Aku tidak mau! Gendong aku! Rajamu memerintahkannya!”

“Berhenti! Turun dari punggungku, bodoh!”

Darah lebih kental daripada air, kata orang-orang, dan karena itu perbedaan antara kerabat sedarah dan orang lain bagaikan langit dan bumi. Jika memang begitu, ikatan antara Schwartz dan Artheus pastilah jauh lebih kental daripada darah apa pun.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted