Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 8 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 8 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Mengobrol dengan Dewi (Volume 8)

“Aku akan kembali,” kata Ira. Begitu dia melontarkan pernyataan percaya dirinya bahwa kita bisa menang melawan Iblis, dia berdiri, meregangkan anggota tubuhnya, dan bersiap untuk pergi.

“Eh, sudah?” tanya Eir.

“Hei! Kita sedang merayakan kemenangan Makoto,” kata Noah. “Kamu harus tetap tinggal.”

Pasangan itu masing-masing memegang salah satu lengan Ira.

“L-Lepaskan aku!” protes Ira.

“Ayolah! Tenang saja.”

“Ke sini.”

Kemudian, kedua dewi itu mulai menyeret rekan mereka yang berukuran lebih kecil itu.

◇ Beberapa Puluh Menit Kemudian ◇

“Kenapa menjadi Dewi Takdir membuatku begitu sibuk?!”

Ira benar-benar…teler. Dengan wajah memerah, dia membanting gelas koktailnya yang kini kosong ke atas meja.

“Gawat… Dia mulai mengomel,” komentar Noah.

Eir mengangkat bahu. “Yah, dia memendam banyak stres.”

Berbanding terbalik dengan Ira yang mabuk berat, kedua dewi lainnya meminum anggur dengan anggun. Sedangkan aku—

“Makoto Takatsuki! Apa kau mendengarkanku?!”

“A-Aku dengar.”

—Aku terjebak bersama Ira.

Tolong!

Aku menatap kedua dewi lainnya, tapi mereka hanya membalas tersenyum, mendoakan yang terbaik lewat cengiran mereka.

Bukankah ini seharusnya perayaan untuk diriku?!

“Kenapa?!” cerca Ira. “Aku terus memperbaikinya berulang kali, tapi sejarah terus berubah dengan aneh! Sebenarnya apa yang terjadi?!”

“I-Itu kedengarannya berat.”

“Lagi pula…! Kenapa ini jadi tugasku untuk memberikan skill kepada ras fana?! Masih ada dewi-dewi lain, jadi kenapa kita tidak membaginya saja?! Benar kan?!” Wajah kesakitannya kini beralih menatap Eir.

“Yah, kau satu-satunya yang punya hak untuk memberikan skill,” tunjuk Eir. “Itu pekerjaan yang santai, kan?”

Aku terkesan karena Eir berhasil membalas senyuman dan menjawab dengan begitu tenang.

“Tunggu, jadi kaulah yang memberiku skill Water Magic dan RPG Player?” Masalah-masalahku di Kuil Air tiba-tiba kembali teringat di benakku. Jika dewi mungil ini memberiku skill yang lebih kuat, aku pasti sudah tak terkalahkan…

“Bukan, itu bukan Ira,” jelas Noah. “Aku mungkin belum pernah memberitahukannya sebelumnya, tapi para penghuni dunia lain diberi skill secara acak saat mereka tiba—Ira tidak memilihnya.”

“Yups!” seru Eir. “Irrie menyelidiki mereka dan menuliskan penjelasannya di Buku Jiwa mereka. Cuma kebetulan saja kalau banyak orang dari dunia lain yang mendapatkan skill aneh atau kuat.”

“Begitu ya…” Itulah memang apa yang telah diberitahukan kepadaku di Kuil Air. Sepertinya aku sedang bernasib sial saja.

“Skill yang aneh justru memberiku lebih banyak pekerjaan…” gerutu Ira. “Dan kali ini bahkan ada Class Change…” Wajahnya mengerut, dan dia jelas sedang mengingat beberapa kenangan buruk.

Hah. Ada skill yang disebut Class Change…?

Meskipun begitu, Ira tampak benar-benar kelelahan. Aku tadinya membayangkan dia akan memiliki gaya hidup yang jauh lebih menyenangkan—bagaimanapun juga, dia adalah dewi dari negara makmur seperti Cameron.

“Yah, tidak apa-apa kok,” kata Noah. “Maksudku, aku sangat bosan sampai Makoto datang.”

“Roses cukup kecil, jadi aku tidak perlu melakukan banyak hal,” aku Eir.

“Ya, Eir, yang kau lakukan hanyalah nongkrong di sini bersamaku. Seharusnya kau lakukan pekerjaanmu.”

“Tidak apa-apa kok. Lagipula, kau kesepian.”

“Aku tidak kesepian. Cepat sana kembali ke Roses.”

“Enggak mau! Ogah…”

“Kamu ini benar-benar…” Noah terdiam, tampak jengkel. “Yah, terserahlah. Kalau begitu, kita main apa? MomoTetsu?”

“Boleh, pertandingan seratus tahun.”

“Lagi?”

Mereka berdua mulai menyiapkan permainan mereka. Mereka mirip seperti mahasiswa yang punya terlalu banyak waktu luang…

Di seberang ruangan, Ira menatap mereka dengan penuh kekesalan. Aku merasa dia terlihat agak kesal, jadi aku menuangkan segelas minuman yang tampak paling mahal yang bisa kutemukan, lalu menggesernya ke hadapannya.

Dia menatap minuman itu, dan sebuah desahan bingung terlepas dari bibirnya.

“Untuk apa ini?”

“Kerja bagus karena telah membuat Rencana Front Utara sukses. Mari kita pertahankan momentum ini untuk melawan Iblis.”

Banyak hal tak terduga yang telah muncul, tetapi tanpa Future Sight milik Ira, bahkan rencana awal pun akan sulit untuk dieksekusi. Kami benar-benar membutuhkan dia untuk terus memberikan ramalan-ramalan.

Dia sempat tertegun sejenak dan mungkin sedang membaca pikirannya sendiri karena sedetik kemudian, ekspresinya berubah menjadi gembira.

“Makoto Takatsuki… Kau orang yang lebih baik dari yang kuduga.” Dengan wajah yang masih memerah, dia menarik bahuku. “Jadi… Kenapa kau tidak meninggalkan Noah dan menjadi milikku?”

“Yah…” Aku meraba-raba kata untuk menolak. “Aku… menghargai tawaran itu.” Namun, aku hampir tidak mungkin menerimanya.

“Hei! Jangan membajak pengikutku!” Noah menyela, telinganya yang tajam menangkap percakapan itu.

“Lagi pula, aku adalah satu-satunya pengikutnya,” tambahnya.

“Kurasa itu benar,” kata Ira, melepaskan bahuku.

“Ayolah kalian berdua! Ikut bergabung!” seru Eir, menarik kami ke depan konsol. Aku tidak tahu apa yang harus kuduga… tapi itu jelas bukan PlayStation asli.

K-Kuno sekali…

“Aku tidak punya waktu untuk bermain game!” protes Ira, tetapi pada akhirnya, dia ikut bergabung.

Sudah lama sejak terakhir kali aku bermain game MomoTetsu berdurasi penuh, jadi pada akhirnya, aku sangat bersenang-senang.

Gosip Keiko Kawakita dan Aya Sasaki

◇ Sudut Pandang Keiko Kawakita ◇

“Takatsuki, apa kau ingat apa yang kita lakukan waktu itu?”

“Enggak, sudah lupa sepenuhnya.”

“Kalau begitu, aku akan memberitahumu secara persis apa yang terjadi! Waktu SMP dulu—”

“Aku ingin melupakannya! Kenapa kau mengungkit masa lalu kelamku?!”

Sepertinya Ryousuke dan Takatsuki sedang mengobrol dengan akrab. Ryousuke bisa bersikap ramah kepada siapa saja, tetapi jarang sekali melihatnya benar-benar menggoda seseorang seperti itu. Rasanya ada jarak yang berbeda di antara mereka berdua. Mereka lebih dekat dari yang aku ingat…

“Ada apa, Saki? Kau terus menatap,” kata Aya, mengintip ke arah wajahku. Dia datang ke sini bersama Takatsuki. Bahkan sekarang mereka berdua sedang berpacaran.

“Aku tadi cuma berpikir—dua orang itu dekat ya. Kita semua kan satu SMP, tapi aku tidak pernah menyadarinya.”

“Iya, mengejutkan, kan? Mereka tampak berbeda saat sedang mengobrol bersama.”

“Kau benar… Sepertinya aku belum pernah melihat Ryousuke begitu tanpa beban dengan siapa pun selain Takatsuki.”

Bahkan di dunia lama kita, banyak orang yang mengandalkan Ryousuke—sekarang, dia memikul tanggung jawab berat sebagai seorang pahlawan dan komandan divisi ksatria. Aku sudah terbiasa melihatnya tabah dan siap beraksi, tetapi melihatnya sedemikian santai adalah hal yang tidak biasa.

Dia bahkan tidak memasang ekspresi seperti itu saat sedang bersamaku…

Takatsuki adalah salah satu sahabat terdekatnya… Begitu dekatnya hingga tidak akan ada orang lain yang bisa menggantikannya.

“Rasanya kita tidak bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan para pria seperti itu…” gumam Aya. Dia kemudian menoleh kepadaku, kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. “Saki, ada apa?”

Dia selalu begitu tajam.

“Yah… Aku bersikap sangat buruk pada Takatsuki di Kuil Air…” gumamku.

“Buruk?”

Aku menarik napas dan mulai menjelaskan apa yang telah terjadi. Tepat setelah kami tiba, Ryousuke telah mengajak Takatsuki untuk ikut bersama kami ke Highland. Tetapi aku telah mendelik ke arah Takatsuki sebelum dia sempat menjawab, menuntut tanpa kata agar dia menolak tawaran Ryousuke. Aku tadinya berpikir bahwa seorang penyihir magang akan menjadi beban karena keterampilannya sangat lemah. Jika dipikirkan kembali sekarang, aku telah bertindak sangat egois. Kita semua tidak berdaya di dunia baru ini.

Aya hanya mendengarkan.

Tunggu, sadarku sedetik kemudian. Dia pacar Takatsuki! Ini pasti akan membuatnya kesal! Aku tahu aku harus meminta maaf, tetapi kemudian aku melihat ekspresinya.

Dia tampak… bersyukur?

“Oh! Jadi berkat kamulah aku dan Takatsuki bisa bertemu lagi!” serunya. Dia menjelaskan bahwa jika Takatsuki pergi bersama Ryousuke, mereka berdua tidak akan bisa bertemu di Labyrinthos.

Yang berarti… dia sama sekali tidak marah.

Tetap saja… aku harus meminta maaf kepada Takatsuki.

◇

“U-Um! Takatsuki, aku ingin bicara,” kataku, menariknya ke samping dalam perjalanan kembali ke ruang medis. Aya sudah duluan berjalan.

“Kawakita? Sasa bilang dia ada urusan, jadi dia sudah pergi.”

Bukan! Maksudku, aku ingin bicara denganmu!

“Apa kamu keberatan ikut denganku sebentar?” tanyaku. Ada banyak orang di sekitar pintu masuk ruang medis, jadi aku ingin pergi ke suatu tempat yang lebih sepi.

“Um…” Dia tampak bingung. “Kau tahu, aku tidak membawa uang…”

“Aku tidak berniat mengambil uangmu!” Kenapa juga dia berpikir begitu?! Orang macam apa sih yang ada di pikirannya tentang aku?! Dia agak linglung, ya…? Yah, terserahlah, aku tetap bisa melakukan tujuanku ke sini.

Aku mengumpulkan keberanianku dan langsung mengatakannya. “Takatsuki! Aku ingin meminta maaf karena sudah bersikap begitu buruk padamu di Kuil Air. Aku minta maaf!” Aku menundukkan kepalaku.

Dia terdiam cukup lama, lalu…

“Hah?”

Jadi, aku menjelaskannya lagi. Aku yakin dia akan merendahkanku atau marah, jadi aku terus menatap tanah saat berbicara. Tapi begitu aku selesai dan melirik ke atas lagi, kulihat dia mengangkat bahu.

“Nah, bagus juga kamu menghentikanku. Kalau aku pergi bersama Sakurai, aku tidak akan bisa bertemu Sasa lagi.”

Hah. Dia mengatakan hal yang sama seperti Aya.

“Kamu… tidak marah?” tanyaku.

“Tidak, aku malah berterima kasih.” Ekspresinya jujur, bukan sekadar basa-basi untuk menjaga perasaan. Dia pasti benar-benar merasakan hal itu.

Sungguh, Aya, kamu benar-benar spesial baginya.

“Kamu sangat menyukai Aya, ya?” tanyaku.

“Sejak SMP,” akuinya.

“H-Hah… Begitu ya!” Kami dulu satu sekolah, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya. “Omong-omong, apa yang membuatnya bermula?”

“Yah, dia datang ke tempatku, dan…”

Aku datang ke sini untuk meminta maaf, dan sekarang kami malah membicarakan soal percintaan. Aku mungkin sedikit terlalu bersemangat. Kami menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol sebelum Aya keluar, berteriak dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Catatan Renungan Komandan Ksatria Soleil

◇ Sudut Pandang Komandan Owain ◇

Pertarungan melawan Raja Iblis berada di ambang kehancuran, tetapi secara keseluruhan, strategi kami telah memenangkan hari. Pahlawan Cahaya, Sir Sakurai, telah meraih banyak hal bagi Highland melalui kemenangan atas Zagan.

Namun, aku masih memiliki satu kekhawatiran: Pahlawan Mawar, Makoto Takatsuki.

Aku telah menerima banyak perintah dan permintaan dari para bangsawan—semuanya menginstruksikanku untuk membawanya ke Highland. Bagaimanapun, dia telah mengalahkan Raja Mayat Hidup di Springrogue dan memberikan kontribusi besar dalam pertarungan melawan Zagan. Tidak ada seorang pun yang memberikan pengaruh lebih besar pada pertempuran itu selain dia, dan para aristokrat Highland yang serakah tidak akan pernah mengabaikan hal itu. Rencana mereka adalah membuatnya bergabung dengan Ksatria Soleil dan menikahi beberapa gadis bangsawan.

Namun, ada masalah besar dengan rencana itu.

Makoto Takatsuki sudah bertunangan dengan Putri Sophia dari Roses, dan mencoba merebut Pahlawan Mawar dari sisinya hampir pasti akan mengundang ketidaksenangan wanita itu. Keadaan saat ini menunjukkan sudah ada kesenjangan yang lebar antara kedua negara kita. Dukungan militer kita terhadap Roses akan membuat pembatalan pertunangan itu mungkin terjadi… tetapi itu bukanlah tugasku.

Dan terlepas dari hal lainnya, Lady Noelle dekat dengan Putri Sophia, dan dia menentangnya.

Para bangsawan yang sama kemudian meributkan penggunaan kekayaan negara yang melimpah untuk memikatnya kepada kita. Namun, Makoto Takatsuki saat ini adalah Pahlawan Resmi Negara Roses. Meskipun Pahlawan Resmi Negara didukung dalam berbagai cara oleh negara mereka, pandangan yang umum adalah bahwa Roses—yang lebih kecil—tidak dapat menawarkan dukungan sebanyak negara-negara yang lebih besar. Aku telah menugaskan bawahannya untuk menyelidiki kompensasi apa yang diterima oleh Pahlawan Mawar.

“Jadi?”

“Dukungan mereka… hampir tidak ada.”

“Apa?” tanyaku, tidak sepenuhnya mengerti.

“Meskipun keluarga kerajaan Roses membayarkan akomodasinya, Pahlawan Mawar jarang sekali menggunakan rumah itu. Dia tidak menggunakan senjata atau zirah mahal, dan dia juga tidak pernah mengajukan permintaan bantuan kepada keluarga kerajaan Roses. Menggodanya secara finansial sepertinya akan sulit…”

“Begitu ya.”

Aku menghela napas. Jika dia adalah orang yang sangat tamak, maka mungkin saja membawanya ke Highland, tapi sepertinya bukan itu masalahnya.

“Apakah ada informasi yang berguna?”

“Yah, ada sesuatu yang terus dia sebutkan berulang kali…”

Aku mendengarkan dengan penuh minat. “Oh! Cepat katakan!” Mungkin inilah hal yang bisa membuatnya berpihak pada kita…

“Pahlawan Mawar ingin menaklukkan dungeon terakhir, Kuil Dasar Laut.”

“Begitu… ya.” Aku kembali menghela napas, kali ini dengan putus asa.

Ada tiga yang disebut sebagai “dungeon terakhir” di mana umat manusia belum pernah menginjakkan kaki di sana. Kuil Dasar Laut adalah yang paling keras. Sangat sulit untuk tetap hidup di dalam dindingnya… setidaknya begitu kata cerita.

Aku penasaran kenapa dia ingin menaklukkannya… namun, dengan tenaga kita yang terfokus pada Raja Iblis Agung, kita tidak bisa menyisihkan pasukan untuk membantunya.

Jadi tidak ada cara…

Namun kemudian, kekhawatiran lainnya pun datang.

“Oh? Ada apa, Komandan? Anda terlihat bermasalah.”

“G-Grandsage?! Ada perlu apa Anda datang ke sini?”

Entah dari mana, orang terkuat di negeri itu berteleportasi ke dalam ruangan.

“Aku mendengar beberapa rumor aneh,” ucapnya. “Tampaknya ada rencana untuk membawa sang elementalist ke Highland dengan cara apa pun. Apakah itu benar?”

“Ada… banyak orang yang menginginkan hal itu.”

Dia mendengus. “Aku tidak akan repot-repot melakukannya. Itu hanya buang-buang waktu.”

“Apa maksudmu? Apakah kamu menentangnya?”

“Tidak.” Dia terdiam sejenak, lalu menyeringai. “Yah, kalian akan segera mengerti.”

Dan dengan kalimat yang bernada firasat buruk itu, dia menghilang secepat kemunculannya.

Grandsage sangat menyukainya, namun dia tidak memberikan perintah konyol kepadaku untuk merebutnya. Apa sebenarnya yang dia pikirkan…? Sakit kepalaku semakin lama semakin menjadi-jadi.

“Komandan, kami membawa berita,” lapor salah satu bawahanku saat dia memasuki ruangan.

“Ada apa lagi?! Jika ini tidak mendesak, kembalilah nanti—”

“Pahlawan Mawar sedang menuju Kuil Dasar Laut! Pikirku aku harus melaporkannya—”

“Apa?!” tanyaku, bangkit berdiri dengan suara gaduh.

“Itu masalah, kan?”

“Tentu saja itu masalah! Tahan dia di ibukota sampai upacara penghargaan selesai!” perintahku buru-buru.

Sepertinya aku sama sekali tidak bisa menebak jalan pikirannya…

Aku mengembuskan napas panjang.

Kekesalan Pendeta Wanita Bulan

◇ Sudut Pandang Furiae ◇

Kesatriaku, Makoto Takatsuki, telah mengalahkan raja iblis bersama Pahlawan Cahaya. Itu adalah sesuatu yang patut dirayakan—bahkan aku pun berpikir begitu.

Namun…

“Tuan Takatsuki, suatu kehormatan bisa berkenalan dengan Anda.”

“Aku melihat sosok terhormat Anda di tengah kerumunan pada jamuan makan sebelumnya… tetapi aku tidak sempat berbicara.”

“Kapan Anda akan keluar dari rumah sakit? Jika Anda membutuhkan tempat tinggal—”

“Tidak, tidak, aku bersikeras agar Anda datang kepadaku terlebih dahulu…”

Sekelompok gadis bangsawan dari Highland telah mengerumuninya. Mereka semua ingin mendekati pria yang telah bekerja sangat keras untuk mengalahkan raja iblis itu.

“Aku, eh, menghargai tawaran itu…” Dia tersenyum samar sambil kebingungan. Karena mereka semua adalah kaum aristokrat, dia berusaha menolak mereka tanpa menyinggung perasaan.

Dia kan bisa mengatakannya secara terus terang…

Tiba-tiba, dua wanita lagi mendekati kelompok itu.

“Aku minta maaf, tapi dia adalah Pahlawan Roses—silakan hubungi keluarga kerajaan kami jika kalian ingin mendiskusikan urusan tertentu.”

“Aku tidak habis pikir kalian semua mencoba memaksanya untuk membatalkan perjanjian sebelumnya dengan keluarga Ballantine.”

Dengan beberapa patah kata itu, Putri Sophia dan Janet Ballantine mengusir mereka. Para gadis bangsawan itu buru-buru meminta maaf saat mereka kabur.

Sejak pertempuran itu, pemandangan ini telah menjadi hal yang lumrah.

“Terima kasih, Sophia, Janet.” Nada lega yang menyedihkan tampak jelas dalam suaranya.

“Meskipun keberanianmu melawan raja iblis luar biasa, kau sangat lemah terhadap wanita,” ujar Putri Sophia. “Mungkin aku harus menghabiskan sisa hari ini bersamamu?”

“Tunggu sebentar!” seru Janet. “Aku datang ke sini untuk menemuinya juga! Kau tidak boleh memonopolinya.”

“Kau bisa menemuinya kapan saja. Menyerahlah untuk kali ini.”

“Aku tidak punya banyak waktu luang! Butuh banyak usaha untuk menjadwalkan kesempatan seperti ini!”

“Yah, aku sibuk menjadi seorang anggota keluarga kerajaan!”

“Salah satu putri bangsawan Highland jauh lebih sibuk daripada seorang putri dari negara kecil seperti itu!”

Mereka berdua mulai bertengkar. Makoto Takatsuki sekali lagi merasa kewalahan.

Ksatriaku, kau bisa menghentikan mereka dalam sekejap!

Penyihir itu menghela napas. “Mereka bertengkar lagi.”

“Ayolah, Sophie, Jen, berbaikanlah,” tambah sang prajurit.

“Baiklah…”

“Kurasa begitu…”

Ini adalah pemandangan lain yang sudah tidak asing lagi. Dalam sekejap mata, Makoto Takatsuki dikelilingi oleh para wanita lagi.

“Ada apa, Fuu? Wajahmu terlihat aneh,” kata prajurit itu kepadaku.

“T-Tidak ada apa-apa!”

Benar, tidak ada apa-apa. Aku sama sekali tidak kesal melihat kerumunan wanita yang terus-menerus mengelilingi kesatriaku. Kepopulerannya tidak ada hubungannya denganku. Dia dan aku adalah seorang putri dan kesatria pelindung—hubungan kami murni sebatas urusan pekerjaan.

Kesatriaku tiba-tiba berjalan mendekat dengan tatapan kosong di wajahnya. “Ada apa, Putri? Anda merasa tidak enak badan?”

“Tidak!” seruku dengan nada tinggi tanpa sengaja.

“Yah, suasana hati Anda jelas sedang tidak baik…”

Ledakanku itu tentu saja membuatnya curiga.

“Ada apa dengan dia?” bisiknya kepada Lucy.

“Mungkin lagi datang bulan?”

“Ah, begitu ya.”

Ugh. Masalahnya jelas bukan itu.

“Hmm, Putri? Aku mungkin tidak begitu paham, tapi beritahu aku jika Anda sedang kesulitan. Lagipula, aku adalah kesatria pelindung Anda.”

“Makoto?!” seru Lucy panik.

“Takatsuki, belajarlah sedikit peka…” keluh Aya.

“Bukannya begitu!” teriakku karena malu.

Aku kabur dari ruangan itu, dan begitu akhirnya berhenti melangkah, aku langsung lemas bersandar.

Dia sudah berjuang begitu keras… Aku ingin bersikap baik padanya… Kenapa aku tidak bisa jujur dengan perasaanku sendiri?

Lain kali kita bicara, aku akan bersikap agak lebih lembut padanya, janjiku pada diri sendiri.

Namun… hal itu tidak akan pernah terjadi.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted