Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 7 Bab 6: Makoto Takatsuki Menyaksikan Turnamen Bahasa Indonesia
Bab 6: Makoto Takatsuki Menyaksikan Turnamen
“Pemenang kita! Aya Sasakiiiii! Hadirin sekalian, kita kedatangan seorang pahlawan baru!!!”
Pendengaranku tidak salah. Komentator itu baru saja meneriakkan tentang kemenangannya.
Sudah? Dari apa yang kudengar, babak final biasanya berlangsung pada malam hari.
“Ayaaa!”
“Kuat banget! Dia tidak terhentikan!”
“Badannya kecil tapi tangguh!”
“Dia imut banget! Aku ingin membawanya pulang!”
“Hahhh, hahhh, Aya-ya!”
Orang-orang tampaknya jauh lebih bahagia dengannya daripada tadi pagi. Yah, terobsesi mungkin kata yang lebih tepat. Rupanya, Great Keith benar-benar menyukai orang-orang yang kuat. Namun, beberapa komentar itu…
“Makoto! Kamu sudah kembali?!” seru Lucy sambil berlari menghampiri.
“Ya… Sudah selesai?”
“Yup! Aya menghabisi mereka semua hanya dengan satu pukulan! Itu luar biasa!”
Huft… Cuma satu pukulan untuk setiap pertandingan?
“Kesatriaku, kenapa semua orang dunia lain begitu tidak masuk akal?” tanya Furiae. Dia sedang memegang payung parasol dan mengipasi dirinya dengan satu tangan.
Ah, ada Twi yang bersembunyi di bayangan roknya.
“Nrow, nrow.”
Aku mengelus dagu kucing itu. Kamu juga keluar di tengah cuaca panas ini untuk mendukungnya, ya?
“Sasa memang spesial,” jawabku. “Aku tetap kagum dia bisa menang.”
Sasa sedang berdiri di tengah-tengah arena sambil melambaikan tangan ke arah penonton.
“Bahkan itu bukan sebuah pertandingan. Dan sungguh luar biasa mendengar sorohan penonton perlahan menghilang begitu saja!” Wajah Furiae tampak memancarkan campuran antara rasa jengkel dan menikmati suasana. Ya, dia memang punya sedikit masalah pribadi dengan negara ini.
“Apa Sasa terluka?” Aku meragukannya jika dia menang hanya dengan satu serangan di setiap pertandingan.
“Penyembuhan yang sudah kuatur jadi sia-sia,” ujar Putri Sophia sambil tersenyum masam.
Aku tetap berterima kasih padanya. “Meskipun begitu, mengetahui mereka akan ada di sini membuatku jauh lebih santai.”
“Takatsuki!”
“Wah, Sasa.”
Dia datang menghampiri dari arah arena dan kini sedang memelukku.
“Aku menang!”
“Selamat! Maaf aku melewatkan pertandinganmu.”
“Jangan dipikirkan. Pertandingan yang sebenarnya baru akan mulai,” kata dia sambil mendongak menatap kursi VIP.
Seorang pahlawan berambut gelap balas menatap—Olga Sól Talisker, Pahlawan Pijar.
“Akan ada istirahat sejenak yang diikuti oleh pertandingan ekshibisi antara Aya Sasaki dan Lady Olga!” seru sang komentator.
Beberapa saat kemudian, sesosok figur muncul di dalam arena.
“Lady Olga?” ulang komentator itu. Kali ini, nadanya bernada tanya.
Sang pahlawan tadi berada di tribun penonton hingga detik lalu. Apakah dia melompat turun dari sana? Area VIP itu berada di ketinggian lebih dari sepuluh meter di atas udara.
Olga tidak mengatakan apa-apa, dia hanya melipat tangannya dan menatap ke bawah ke arah kami dengan tatapan yang hampir menantang.
“Sampai jumpa nanti, Takatsuki.”
“Apa kamu tidak mau istirahat—”
Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku, Sasa melompat turun ke dalam arena.
Dia memelototi sang pahlawan dari jarak sekitar satu meter.
“Oh, ada apa ini?” kata komentator. “Pertandingan belum dijadwalkan dimulai dalam waktu dekat!”
Kerumunan mulai bergeming.
“Kamu baru saja bertarung. Pergi sana diobati,” kudengar Olga berkata dengan Dengar sembari menggerakkan dagunya ke arah para tabib.
“Aku tidak butuh itu. Aku tadi baru pemanasan,” jawab Sasa dengan tenang.
“Oh… jadi ini pertandingan yang sebenarnya? Kurasa kita melanjutkan dari hari itu.”
“Benar sekali. Aku akan mengalahkanmu di sini.”
Mereka berdua saling tersenyum tajam satu sama lain. Udara bergetar karena aura mereka. Ketegangan di antara mereka membuat penonton terdiam.
“E-Ehm… pertandingannya akan dimulai sedikit lagi…” kata wasit dengan ragu-ragu.
“Yah, sepertinya dia ingin segera mulai.”
“Aku siap kapan pun dia siap.”
Mereka berdua memberi tahu wasit bahwa mereka sudah siap.
Mendengar itu, petugas tersebut memberikan semacam sinyal kepada komentator.
“Oh! Tampaknya pasangan ini akan segera mulai!”
Kerumunan penonton bersorak gemuruh.
“Izinkan aku memperkenalkan para petarung kita! Ini adalah pertandingan ekshibisi melawan petarung terkuat Great Keith, Pahlawan Pijar, Olga Sól Taliskerrrrr!”
Pahlawan wanita itu tetap tenang bahkan saat penonton bersorak liar. Dia adalah simbol kekuatan bagi negara tersebut, dan perpaduan antara kekuatan dan kecantikan membuatnya sangat populer.
“Menghadapinya, kita memiliki prajurit luar biasa dari Roses, Aya Sasakiii! Sudah beberapa dekade sejak seorang prajurit asing menjadi pahlawan bagi negara kita! Dia pasti akan memberikan pertarungan yang bagus!”
Sasa tersenyum dan melambai ke arah penonton.
Sorakannya sama kerasnya dengan sorakan untuk Olga. Jika orang-orang mendukungnya melebihi Olga, maka dia benar-benar telah berhasil memenangkan hati penonton. Aku menggunakan Dengarkan untuk mendengarkan beberapa komentar dari penonton.
“Siapa yang akan menang?”
“Jangan bodoh! Lady Olga tidak akan pernah kalah.”
“Tapi Aya cukup kuat. Ini pasti akan menjadi pertarungan yang bagus.”
“Ya, dia adalah yang terkuat yang pernah kita lihat!”
Orang-orang Great Keith jelas menganggap Olga sebagai yang terkuat, dan tidak ada yang mengira dia akan kalah.
Di tengah sorak-sorai tersebut, Olga dan Sasa mundur ke sisi ring masing-masing. Tak satu pun dari mereka memasang kuda-kuda atau semacamnya—mereka hanya berdiri di sana. Beberapa penonton sudah berteriak agar mereka segera mulai.
“Pertandingan ekshibisi Turnamen Bela Diri Great Keith akan segera dimulai!” umum komentator.
“Mulai!” kata wasit dengan tajam.
Seketika itu juga, Sasa melompat, kepalkannya mendekati Olga. Pahlawan wanita itu menghindarinya, lalu membalas dengan sebuah tendangan.
Sasa menahan tendangan itu dengan lengannya.
Terdengar bunyi gedebuk keras dan kaki Olga menghantam lantai dengan suara berderak.
Ayolah… Arena itu terbuat dari batu…
Keduanya saling menyerang berulang kali, tetapi mereka terus menangkis atau menghindar… Setidaknya, begitulah kelihatannya di mataku. Jujur saja, aku hampir tidak bisa mengikuti apa yang sedang terjadi.
“Kau lihat pertahanan tadi?”
“Ya, luar biasa! Dia memasukkan dua gerakan tipuan di situ.”
“Apakah itu pukulan tiga kali lipat?”
“Bodoh, itu empat. Dua dengan masing-masing tangan.”
Para penonton terlalu peka. Sialan, mereka semua malah menganalisis pertandingannya!
“Kau bisa mengikutinya, Lucy?”
“Ya. Mereka masih saling menguji kemampuan. Kurasa kecepatan Aya baru delapan puluh persen.”
“O-Oh…”
Mereka belum menganggapnya serius?! Sungguh? Lucy memiliki penglihatan yang tajam dan tampaknya baik-baik saja, tetapi aku bahkan tidak akan bisa melihat apa pun saat mereka benar-benar mulai serius. Pertukaran serangan itu berlanjut sejenak sebelum keduanya berpisah.
“Lumayan. Kau lebih kuat dari sebelumnya,” kata Olga sambil tersenyum kagum.
“Tentu saja! Aku berlatih,” balas Sasa dengan senyuman polos.
“Kalau begitu, mari kita akhiri ini.”
Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, aura Olga praktis meledak di sekelilingnya.
Kemampuan untuk mengubah panas menjadi aura… Itu adalah anugerah yang diberikan oleh Sól kepadanya, dan hal itulah yang telah membuatnya kuat selama bertahun-tahun. Keterampilan itu sangat efektif di Great Keith—udara di sini selalu terasa sangat panas akibat terik matahari yang menyengat, tetapi itu justru menguntungkannya.
Sesaat kemudian, Olga menghilang.
Aku mendengar suara benturan sesuatu yang menghantam sesuatu yang lain, dan sebuah sosok gelap melayang ke arah tepi arena.
Sasa?!
Aku buru-buru melihat ke arah sana… tapi ternyata Olga yang terpental. Dia langsung bangkit berdiri dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
“Yes!” sorak Lucy sambil mengepalkan tinjunya.
Apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak melihat apa pun.
“L-Lucy… apa itu tadi?” tanyaku pelan.
“Hero Olga akhirnya serius, tapi Aya menggunakan skill yang selama ini dia simpan. Dia melipatgandakan kecepatan gerakannya dengan Dash lalu menggunakan Charged Attack untuk memukulnya mundur! Itu tadi hebat sekali!” jelasnya dengan gembira.
Ah, benar juga. Itu masuk akal… Tunggu, apa?!
“Sasa menang tanpa menggunakan skill Action Game Player miliknya?!”
“Yups. Dia tidak mau memperlihatkannya kepada sang hero.”
Apa-apan ini? Dia sama sekali tidak bisa diandalkan bahkan meskipun menggunakan skill-skillnya dulu, tapi sejak evolusinya, dia bertarung tanpa mengandalkan skill itu…
“Tch!”
Aura Olga meledak lagi. Sasa menyambutnya dengan senyuman. Mereka berbenturan sekali lagi. Kali ini, Sasa terpental jauh, tapi dia tampaknya tidak terluka dan bangkit berdiri lagi.
Sasa memulai pertukaran serangan berikutnya, dan mereka saling bertumbukan untuk ketiga kalinya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua masih berimbang satu sama lain. Meskipun demikian, mereka tampak sangat berbeda. Sasa bernapas tersengal-sengal tetapi jelas menikmati dirinya sendiri. Ekspresi Olga berubah masam karena kesal.
Ada perbedaan yang jelas di antara para penonton. Ini bukanlah kemenangan telak bagi Olga seperti yang mereka harapkan, dan jika terus begini, pertarungan ini bisa berakhir dengan hasil imbang.
Kendati demikian, masyarakat umum tetap merasa antusias—negara ini memang sangat menyukai orang-orang kuat.
Masalahnya ada di kursi VIP. Para bangsawan dan kaum ningrat semuanya memasang wajah muram. Ekspresi paling garang terpasang di wajah ayah sang hero—Jenderal Talisker.
Sebaliknya, para bangsawan dari negara lain seperti Highland tampak tersenyum lebar saat mereka berbicara dengan para bangsawan dari Great Keith. Kami berada terlalu jauh untuk mendengar (bahkan dengan Listen), tapi itu mungkin obrolan ringan tentang petarung negara lain yang bisa menandingi hero mereka. Highland punya banyak orang dengan kepribadian yang… menyenangkan.
Sebenarnya, bagaimana kabar putri kita? Aku menoleh untuk melihat dan disambut oleh sepasang mata yang berkilau.
“H-Hero Makoto, Aya sekuat ini?!” seru Putri Sophia, sambil menarik-narik lengan bajuku. Suaranya dipenuhi dengan antusiasme.
“Dia telah bekerja keras untuk menaikkan levelnya.” Sasa sudah berada di atas level delapan puluh sekarang, terus mengikuti kenaikan level bahkan setelah berevolusi menjadi ratu lamia.
“Dan dengan demikian lahirlah petarung terkuat di Roses…” tambah ksatria pengawal itu sebelum panik dan menoleh kepadaku. “Ah, aku tidak meremehkanmu.”
“Tidak, dia memang yang terkuat,” jawabku dengan senyum merendah.
“Pertarungan yang luar biasa!” kata komentator itu. “Ini benar-benar sepadan dengan penantian kita! Kita semua tahu betapa kuatnya Lady Olga… tapi siapa yang bisa memprediksi kekuatan Aya Sasaki?! Meskipun aku benci mengatakannya, waktu yang dialokasikan untuk pertandingan ini hampir—”
Komentator itu hendak mengumumkan bahwa pertandingan telah berakhir, tetapi dia disela oleh Olga. Teriakan marahnya bergema di seluruh tribun.
“Tunggu! Datanglah! Balamung!”
Sebuah lingkaran sihir terbentuk di sekelilingnya. Itu mirip dengan mantra teleportasi Crimson Witch, tetapi terbalik.
P… pemanggilan?
Sihir pemanggilan biasanya digunakan untuk memanggil monster jinak. Namun, kali ini, sebuah pedang muncul.
Pedang itu bersinar merah terang saat terbentuk di dalam genggamannya.
“A-Ah… Lady Olga? Bukankah sebaiknya Anda tidak menggunakan pedang suci selama turnamen…?” tanya komentator itu dengan ragu-ragu.
Balamung—pedang suci Great Keith. Itu adalah senjata pusaka yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh pahlawan pilihan Sól.
“Aya Sasaki! Aku menantangmu berduel atas nama Pahlawan Pijar, Olga!” serunya, bersiap dengan pedang yang bersinar itu.
“Lady Olga?! Tidak ada rencana…” Permintaan mendadak itu datang dari Olga sendiri, dan komentator itu tampak benar-benar bingung karena acara tersebut melenceng total dari naskah.
“Apa?”
“Berduel?”
“Kok kurasa Lady Olga bertarung secara serius ya…”
“Mustahil.”
Para penonton juga mulai bergeming riuh.
“Berhenti! Olga!” Jenderal Talisker berteriak dari kursi VIP.
Apakah dia sedang akting…atau tidak?
Jenderal itu pastinya tidak senang melihat seorang petarung dari negara lemah seperti Roses terbukti setara dengan petarung terhebat Great Keith. Dilihat dari ekspresi dan nada suaranya yang terburu-buru, dia sama sekali tidak tampak sedang berakting.
Sang pahlawan mengabaikan teguran ayahnya dan melontarkan teriakan sekali lagi ke arah Sasa. “Aya Sasaki! Apa kamu akan menerima?! Atau tidak?!”
“Kamu tidak boleh melakukannya!” Putri Sophia berseru. “Aya, Hero Makoto! Berduel melawan seorang pahlawan dengan pedang suci adalah sebuah kebodohan!”
“Sasa!” teriakku, berusaha menyuruhnya agar tidak menerima.
“Mengerti, Takatsuki!” balasnya sambil mengacungkan jempol.
Senyuman yang luar biasa…
Hm?
Aku punya firasat buruk tentang ini.
“Tidak, Sasa! Bukan itu maksudku!” teriakku buru-buru.
Namun dia tidak mendengarkanku—dia berbicara mendahuluiku, pada saat yang bersamaan.
“Aku terima, Olga!”
Argh, dia benar-benar melakukannya sekarang…
“Pahlawan Makoto! Kenapa kamu tidak menghentikannya?!”
“Aku sudah mencoba!” jawabku setengah mati saat Putri Sophia mengguncang bahuku.
Ada alasan di balik kepanikannya. Para pahlawan yang diberkati oleh para dewi adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan pedang suci yang diturunkan di setiap negara.
Ascalon, pedang suci Roses, digunakan oleh Leonardo Eir Roses.
Clarent dari Springrogue digunakan oleh Maximillian.
Caliburn dari Highland digunakan oleh Gerald Ballantine.
Begitu pula, Balamung milik Great Keith digunakan oleh Olga Sól Talisker.
Seorang pahlawan yang diberkati oleh para dewi dapat—melalui pelepasan pedang mereka—melipatgandakan kekuatan mereka beberapa kali lipat. Dikatakan bahwa hanya pahlawan yang telah melakukannya yang dapat mengalahkan Raja Iblis. Dengan demikian, mereka dianggap sebagai petarung terkuat di setiap negara dan simbol kekuatan suatu bangsa.
Meskipun tampaknya, bahkan Gerald dan Olga—Hero Petir dan Pijar—jika digabungkan pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Hero Cahaya dan pedang sihir pinjamannya.
Yah, dia kan seharusnya adalah reinkarnasi dari sang penyelamat, jadi wajar saja kalau dia begitu OP… dasar keparat.
Olga menyiapkan bilahnya sambil berhadapan dengan Sasa di dalam arena. “Aya Sasaki, persiapkan senjatanya!” Rupanya, dia tidak akan menyerang musuh yang tidak bersenjata.
“Aku baik-baik saja dengan tangan kosong,” jawab Sasa, sambil memukulkan telapak tangannya.
“Oooohhhh! Aya Sasaki siap menghadapi Lady Olga dengan tangan kosong! Ini gila! Apakah ini dihitung sebagai bunuh diri?!”
Oh… komentator itu sudah kembali. Dan langsung menyerang secara verbal.
“Tidak mungkin! Menyerahlah sekarang!” teriak seseorang di tengah kerumunan.
“Aya bakal mati!”
“Kaabur!”
“Lady Olga, tetap tenang!”
Para penonton sama khawatirnya terhadap Sasa. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan—sudah jelas kalau dia sama sekali tidak punya niat untuk mundur dalam waktu dekat.
Ini gawat…
“Hei.” Lucy menoleh kepadaku dengan tatapan cemas dan menepuk bahuku. “Apa dia akan baik-baik saja?”
“Yah, situasinya tidak bisa dibilang bagus. Tapi Sasa sendiri yang menyetujuinya.”
“B-Bagaimana bisa kamu begitu santai?! Apakah kalian berdua sama sekali tidak mengkhawatirkannya?!” tuntut Putri Sophia. “Aku akan menghentikan ini.”
Dia bergerak menuju arena, tetapi Furiae menghentikan langkahnya.
“Pertandingannya sudah dimulai. Kamu hanya akan ikut tertarik ke dalam.”
Furiae perlahan menariknya mundur. Itu benar-benar sebuah kelegaan—tidak mungkin aku bisa menghentikan Putri Sophia secara fisik.
Di dalam arena, cahaya di sekeliling pedang Olga berkobar bak nyala api. Mana di dalam bilah pedang itu—yang konon merupakan berkah dari Sól—tampak seperti bom yang berada di ambang ledakan. Udaranya mulai bergetar karena panas.
“Kamu ingin bertarung tanpa senjata? Kamu akan mati,” peringat Olga sekali lagi.
“Jangan khawatirkan itu. Ayo, kita mulai,” jawab Sasa sambil memberi isyarat dengan tangannya. Ekspresi sang hero menjadi semakin tajam.

“Kamu akan menyesalinya… orang dari dunia lain,” gumamnya.
Mungkinkah dia sedikit memiliki prasangka terhadap orang-orang dari dunia lain? Maksudku, kita memang baru saja muncul begitu saja entah dari mana dan mengacaukan keseimbangan kekuatan dunia.
“H-Hero Makoto! Aya—”
Putri Sophia berteriak bahkan saat Furiae menahannya.
“Sasa akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“Apa?” Putri Sophia memandang kami dengan ragu. “Bagaimana kamu bisa begitu tenang?”
“Begini, Sophia—” kataku. Namun kemudian, Lucy memotong perkataanku sambil menunjuk ke arah ring.
“Mereka mulai!”
“Wasit! Begitu Anda memberi aba-aba, segera menjauh!” saran sang komentator. “Jika tidak, Anda akan ikut terseret.”
Sempat ada keheningan.
“Apakah kamu yakin tentang ini?” tanya sang wasit kepada Sasa.
“Yups, tidak apa-apa,” jawabnya dengan sangat santai.
“Kalau begitu, atas aba-abaku… Mulai!”
Wasit memberikan aba-aba mulai dan seketika melompat keluar dari ring. Olga dan Sasa adalah satu-satunya orang yang berada di dalam arena sekarang. Para penonton menahan napas mereka, dan bahkan sang komentator pun tidak mengatakan apa-apa.
Sejenak kemudian. Lalu, Olga menghilang. Sedetik kemudian, ring itu meledak.
Aku tidak bisa melihat serangannya, atau Sasa yang menerima serangan itu, jadi semua yang terjadi baru dijelaskan kepadaku oleh Lucy nanti.
Olga telah melompat ke udara lalu menembakkan seluruh mana pedangnya ke arah tanah. Serangan itu bagaikan hantaman meteor, dan Sasa telah menerimanya secara langsung. Arena itu hancur berkeping-keping seolah-olah sebuah bom telah meledak—embusan angin menghantam kami saat salib besar berwarna merah terbentuk di udara.
Setelah itu, aku bisa melihat apa yang sedang terjadi lagi… sedikit banyak. Itu… mirip dengan teknik pedang Sakurai dan sihir peringkat suci Rosalie… Rupanya, serangan dengan kaliber seperti itu membentuk tanda salib semacam itu.
Ring itu kini diselimuti debu, sehingga kami tidak bisa melihat apa pun.
“Aya?!” jerit Putri Sophia.
Di sekeliling kami, para penonton gemetar menyaksikan betapa kuatnya serangan Olga.
“A-Apa-apan ini?” ucap komentator itu pada akhirnya. “Apakah Aya Sasaki selamat?”
Itulah yang ingin diketahui oleh hampir semua orang. Debu perlahan-lahan menghilang, menampakkan ring yang hancur lebur. Tak seorang pun berkata-kata. Aku bersumpah bahkan aku tidak mendengar siapa pun di antara penonton yang bernapas.
“Eh… apa? N-Nona… Olga?”
Suara komentator itu bergetar.
Hal pertama yang bisa kami lihat adalah Olga, terkulai lemas di dekat dinding dalam Colosseum. Mungkin dia telah menghantamnya? Bajunya retak dan hancur…
Seperti ada sesuatu yang besar yang menubruknya.
Dia tidak mati, kan? Olga tampak seperti baru saja mengalami kecelakaan mobil.
“Ugh,” erangnya.
Yah, setidaknya dia masih sadar. Dia segera terhuyung-huyung bangkit berdiri. Aku senang dia masih hidup. Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya. Dia melirik bergantian ke arah baju zirah yang hancur dan arena. Tidak ada apa pun di tangannya—Balamung sama sekali tidak terlihat.
“A-Aya Sasaki baik-baik saja! Dia berdiri di dalam arena!” seru suara komentator menggema.
Di tengah kepulan debu, tempat serangan Olga berada pada kekuatan tertingginya, Sasa berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia bersinar dengan cahaya yang berkilau dalam nuansa warna pelangi.
“Aduh, dia memperlihatkan skill-nya ke semua orang,” keluh Lucy.
“Yah, setidaknya dia aman,” kataku, menghela napas lega. Aku cukup yakin dia akan baik-baik saja, namun skala serangan Olga tetap membuatku khawatir.
“Sebenarnya apa itu?!” tuntut Putri Sophia, sambil memegangiku. Dia terlalu sibuk dengan urusan resmi, jadi kami belum sempat menjelaskan kekuatan baru Sasa.
“Itu adalah skill yang dia dapatkan dari Action Game Player saat dia berevolusi,” jelasku.
“Skill baru… tujuh warna cahaya itu? Oh, sekarang sudah mulai pudar.”
Memang benar, kilau warna-warni di sekitar Sasa perlahan memudar.
“Takatsuki! Aku menang!” seru Sasa, berpose dengan jari membentuk tanda “V”.
Namun, mataku lebih tertuju pada pedang yang bengkok dan babak belur di dekat kakinya. Ini gawat, kan? Maksudku… Balamung adalah harta nasional… dan kita merusaknya… Aku pernah dengar benda itu tak ternilai harganya—hampir tidak ada tandingannya. Ini tidak akan memicu insiden internasional, kan?
“S-Selamat ya, Sasa,” kataku. Dia sudah menang, jadi dia berhak mendapatkan sedikit perayaan.
“Yups! Ayo puji aku lagi!” Dia mengangguk, lalu melompat ke arahku dan melingkarkan lengannya di leherku.
“Ah… Aya? Apa fungsi skill-mu itu?” tanya Putri Sophia dengan bingung.
Sasa terkikik. “Namanya Super Star!”
“Apa katamu?”
Aku teringat betapa aku kehabisan kata-kata saat melihat skill itu untuk pertama kalinya. Super Star. Skill itu sangat menakutkan sekaligus sederhana. Selama skill itu aktif, dia tidak terkalahkan. Skill itu melindungi pemain dari segala serangan dan meniadakan semua pertahanan terhadap serangan pemain.
Putri Sophia mematung begitu mendengar betapa tidak masuk akalnya skill itu. Ekspresi tidak percaya dan jengkel dari Lucy dan Furiae adalah satu-satunya reaksi nyata yang terlihat.
Sasa terkikik malu-malu. Itu terlihat imut, jadi tanpa sadar aku mengelus kepalanya… bahkan saat aku mengeluh dalam hati tentang skill-nya yang super curang.
Komentar