Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 7 Bab 5: Makoto Takatsuki Mencari Sekte Ular Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 7 Bab 5: Makoto Takatsuki Mencari Sekte Ular Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 5: Makoto Takatsuki Mencari Sekte Ular

“Ini adalah momen yang kalian tunggu-tunggu! Turnamen Bela Diri Great Keith kini telah dimulai!”

Suara komentator menggema, diperkuat oleh sihir angin, dan Koloseum dipenuhi oleh sorak-sorai penonton. Arena di bawah dipenuhi oleh para petarung.

“Wah,” gumamku.

“Ada banyak sekali orang!” seru Sasa.

Kami berdua sedikit terkejut dan melihat mereka semua dengan mulut ternganga.

“Aya, mereka semua terlihat cukup kuat,” kata Lucy cemas, menarik lengan baju Sasa.

“Akan baik-baik saja. Kamu ini terlalu khawatir.” Sasa tampak tidak peduli. Namun Lucy benar—semua prajurit di arena itu terlihat sangat tangguh dan berbadan kekar.

Turnamen ini tanpa kelas—dengan kata lain, terbuka untuk siapa saja terlepas dari ras atau jenis kelamin. Siapa pun yang menang akan menjadi Pahlawan Sah Negara Great Keith untuk tahun depan. Oleh karena itu, mereka memberikan kesempatan kepada setiap orang yang menginginkannya. Para pesertanya juga bukan hanya penduduk lokal. Orang-orang datang dari berbagai macam negara demi mencari ketenaran dan kehormatan.

Para komentator sekarang sedang membacakan nama setiap peserta satu demi satu. Terkadang, sebuah nama akan diiringi oleh sorak-sorai dari penonton, dan aku menduga bahwa mereka adalah petarung yang lebih terkenal.

“Terdengar agak aneh karena hanya ada tiga puluh dua peserta untuk turnamen yang begitu terkenal,” komentar Fujiyan.

“Tidak begitu juga, Sayang’h. Penyisihannya sudah diadakan. Ada lebih dari sepuluh ribu pendaftar’h.”

“Ah. Aku tidak tahu.”

“Tunggu, benarkah?” tanyaku terkejut. “Sasa, apa kamu harus ikut serta?”

“Tidak. Aku hanya menuliskan namaku di lembar pendaftaran.”

Hm, ada apa ini?

Putri Sophia lalu bersuara, dengan ekspresi kaku di wajahnya. “Hero Makoto, sepertinya karena dia adalah salah satu rekanmu, dia dipilih melalui proses pengecualian.”

“Jadi maksudmu…”

“Bahwa ini sepertinya merupakan bagian dari rencana mereka,” lanjut Putri Sophia. “Jika Aya tidak mengajukan diri, aku yakin mereka mungkin akan mencari alasan untuk memicu keikutsertaanmu…”

“Mengalahkan Hero milik Roses akan menunjukkan seberapa kuat para prajurit mereka sendiri.” Aku menghela napas. Semua mata rekan-rekanku tertuju padaku.

“Dan mewakili Roses—Aya Sasaki!” seru sang komentator menggelegar.

Aku mencoba memanggilnya untuk mendoakannya semoga beruntung, namun menyadari perubahan mendadak di atmosfera.

“Pulang sana!”

“Curang!”

“Buuu!”

“Cepatlah kalah sana!”

“Pikirkan orang-orang yang benar-benar pantas mendapatkan tempat mereka!”

“Tahu dirilah sedikit!”

Arena tersebut dipenuhi dengan sorakan penolakan.

“Apa?!” tuntut Lucy.

“Fakta bahwa dia tidak bertarung di babak penyisihan telah bocor. Aku bertaruh itu ulah para panitia,” kata Putri Sophia sambil menggigit bibirnya.

“Babak final dikatakan sebagai kehormatan tertinggi bagi seorang prajurit’h,” jelas Nina—yang dulunya pernah menjadi prajurit di sini—. “Petarung biasa bahkan tidak bisa melewati babak penyisihan’h… Ini mungkin karena kecemburuan’h.”

Hal itu membuatku khawatir. “Hei… Sasa?” tanyaku. “Mungkin sebaiknya kamu mengundurkan diri…”

Namun tatapannya terpaku pada kotak VIP tempat raja dan berbagai bangsawan duduk. Sepertinya beberapa tokoh penting dari Highland juga hadir. Gerald… tidak ada di sana. Itu sedikit melegakan.

Fokus tepat Sasa adalah Olga Sól Talisker, yang sedang menguap tanpa minat. “Jangan khawatir, Takatsuki,” kata Sasa, menatapku balik sambil tersenyum. “Aku mengincar dia.”

Ya… Sasa tidak akan mengalah.

“Paham. Tapi jangan memaksakan diri terlalu keras.”

“Baik!”

Aku hanya harus mendukungnya. Setelah pertukaran kata itu, aku kembali menghampiri Putri Sophia dan Lucy.

“Sophia, Lucy. Tolong berikan dukungan padanya.”

“Serahkan padaku!” seru Lucy.

“Baiklah. Jika dia terluka, maka aku akan menyediakan tabib dari Roses,” tawar Sophia. “Para pejabat turnamen juga memiliki tabib, tetapi mereka didukung oleh Great Keith, jadi tabib kita akan disiapkan sebagai berjaga-jaga.”

Aku menghargai perhatiannya.

Sasa berbalik menatapku. “Kamu akan bertarung melawan Sekte Ular, kan? Aku lebih mengkhawatirkanmu.”

Memang benar, pertemuan bawah tanah Sekte Ular dijadwalkan pada hari yang sama dengan turnamen. Apakah itu sebuah kebetulan?

Tidak, itu mungkin disengaja.

Itu persis seperti cara mereka merencanakan sesuatu di Highland. Dulu, mereka memilih hari di mana Pahlawan Cahaya akan dilantik sebagai pemimpin negara. Hal yang sama terjadi sekarang—mereka bergerak di dalam bayang-bayang dan memanfaatkan perhatian semua orang yang tertuju ke tempat lain. Apakah Uskup Agung Isaac itu akan terlibat lagi?

“Yah, sampai jumpa lagi!” seru Sasa ceria sebelum berlari kecil menuju ke arah arena.

Aku melirik Fujiyan, lalu Nina, Putri Sophia, Lucy, dan… Furiae, yang sedang menyedot minumannya dengan wajah cemberut.

“Berikan dukungan padanya juga, Putri,” kataku mendorong Furiae. “Ngomong-ngomong, apa kamu baik-baik saja? Padahal kamu bisa saja mengungsi kembali ke Roses.”

Sejak dia mendapatkan penglihatan tentang kejatuhan Gamelan, Furiae tidak pernah keluar sama sekali. Dia tampak tidak enak badan, jadi aku menyarankannya untuk kembali ke Macallan… tetapi dia tidak melakukannya.

“Tidak. Aku tidak akan lari sendirian,” jawabnya. “Lagi pula, kamu dan yang lainnya tetap tinggal, jadi kalian harus mengubah masa depan.”

“Mengerti,” jawabku, menerima dorongan semangat itu apa adanya.

“Ayo pergi, Pahlawan Makoto,” panggil kesatria pelindung itu. Putri Sophia telah memutuskan bahwa dia tidak bisa membiarkanku menghadapi Sekte Ular sendirian, jadi kakek tua itu dan beberapa kesatria berpangkat tinggi lainnya ikut membantu.

Semoga berhasil, Sasa.

Kerumunan orang masih mencemoohnya saat kami meninggalkan Koloseum dan menuju ke tempat pertemuan.

Ketika kami tiba di tempat pertemuan, seorang kesatria dari Great Keith menyambut kami.

“Kami sudah menunggu,” kata salah satu pria itu. “Kalian adalah pasukannya pahlawan, kan?”

“Benar. Dan kalian pasti adalah orang-orang yang diceritakan Jenderal Talisker kepada kami,” jawab kesatria pelindung itu.

Tak satupun dari mereka mengenakan zirah megah, dan keduanya hanya membawa perlengkapan seminimal mungkin. Aku sendiri sejak awal selalu membawa perlengkapan yang cukup ringan. Sekilas, kedua kelompok kami tampak seperti petualang atau tentara bayaran. Ini disengaja—kita tidak boleh sampai Sekte Ular menyadari keberadaan kami. Itulah juga sebabnya mengapa kami dibagi ke dalam regu-regu yang beranggotakan sekitar sepuluh orang dan mengapa kami berencana untuk bergabung di tempat tujuan.

Kesatria muda yang memimpin pasukan Great Keith memandu kami. Kami mengikuti langkahnya untuk beberapa saat, dan akhirnya aku menyadari bahwa kota tersebut semakin sepi.

“Ini adalah daerah kumuh,” jelas pemandu kami. “Ini adalah area dengan ketertiban umum terburuk di kota ini.”

Aku hanya mengangguk setuju. Orang-orang yang berkeliaran di sini mengenakan pakaian yang cukup kampak, dan banyak dari anak-anaknya yang bertelanjang kaki. Orang-orang sudah minum-minum dan berjudi bahkan sebelum matahari terbit.

Kata “kumuh” itu benar-benar sangat tepat.

Tapi… semuanya tampak ceria secara aneh.

Dibandingkan dengan area serupa di Highland, ada lebih banyak gairah hidup di wajah orang-orang di sini. Ada berbagai macam ras di sekitar—manusia, kaum beastmen, dwarf, bahkan elf. Mungkin bahkan ada cambion di sini?

Kami tidak menghadapi masalah berarti selama perjalanan.

Beberapa anak dan pengemis mendekati kami, tetapi pemandu kami menunjukkan suatu lambang kepada mereka dan mereka semua langsung kabur dengan wajah pucat.

“Ada apa sebenarnya di sana?” tanyaku.

“Hero, lambang ini adalah insignia Kesatria Herald,” jelas pemandu kami. Lambang di tangannya menggambarkan seorang dewi yang memegang pedang sekaligus buku.

“Oh, itu sangat mengesankan untuk anak seusiaku—maksudku, seusiaku,” komentar kesatria penjaga tua itu.

“Tidak juga. Keluarga kami sudah melakukan hal yang sama sejak generasi kakekku,” jawabnya dengan senyum canggung.

Seorang Kesatria Herald di Jepang akan menjadi gabungan antara petugas polisi dan hakim. Rupanya, mereka membuat keputusan di tempat terhadap para penjahat. Mengetahui hal itu, aku pikir anak-anak tadi memang benar untuk kabur. Hal itu juga membuat kesatria muda ini menjadi pilihan yang bagus sebagai pemandu karena dia pasti tahu seluruh isi kota.

Setelah beberapa saat, kami berhenti berjalan. “Kita telah tiba di pintu masuk,” beri tahu pemandu kami. Kami berakhir di sebuah jalan sempit belakang yang tampak seperti tempat pembuangan yang terbengkalai. Dia menunjuk ke arah gerbang batu yang mengarah ke bawah tanah. “Ini adalah pintu masuk ke area bawah tanah Great Keith,” jelas kesatria penjaga itu.

“Karena panasnya permukaan, sudah menjadi kebiasaan di Great Keith untuk membiarkan orang mati kita beristirahat di tempat yang lebih sejuk,” tambah pemandu itu.

“Hah…”

“Mohon berhati-hati di dalam kegelapan.”

Saat kami perlahan menuruni tangga, suhu udara merosot tajam. Aku hampir bisa melupakan betapa panasnya terik matahari di atas tanah. Ventilasi berkala ke luar menjaga tempat ini agar tidak tertutup sepenuhnya, dan sedikit cahaya bersinar melalui celah-celah tersebut, namun meskipun begitu, tempat ini hampir sepenuhnya gelap gulita.

Kami menggunakan Night Vision untuk maju menerobos kegelapan.

Ada makam sejauh mata memandang di kedua sisi lorong. Ini adalah tengah hari, dan kami berada dalam sebuah kelompok, jadi itu tidak terlalu menjadi masalah… tapi aku akan dengan senang hati menolak untuk datang ke sini sendirian di tengah malam buta.

Bahkan setelah kami berjalan cukup lama, sepertinya makam ini tidak ada ujungnya. “Seberapa jauh makam-makam ini berlanjut?” Aku mendapati diriku bertanya.

“Lorong dan makam-makam ini berlanjut sampai ke luar ibu kota. Ini adalah jalur pelarian jika seandainya ibu kota jatuh, jadi tempat ini sedikit mirip labirin. Kau sebaiknya tidak datang ke sini sendirian.”

Yups. Tidak akan pernah ke sini sendirian.

“Semua ksatria kami diwajibkan untuk menghafal tata letaknya. Kami tidak diperbolehkan membawa peta kertas… Aku yakin kau mengerti alasannya,” tambahnya dengan senyuman penuh arti.

“Bisa jadi masalah hidup dan mati jika musuh berhasil mendapatkannya.” Bagaimanapun juga, musuh bisa menggunakan lorong ini untuk menyusup ke ibu kota tanpa terdeteksi.

“Benar. Bahkan catatan-catatan kecil pun dikecam keras. Hukumannya juga cukup unik. Jika seorang prajurit kedapatan membawa peta area ini, mereka akan ditinggalkan di tengah-tengahnya dan harus mencari jalan keluar sendiri. Menakutkan, bukan?”

Apakah itu humor yang kelam? Kami yang berasal dari Roses saling berpandangan.

“D-Dan bagaimana jika mereka tidak berhasil?” Itulah pertanyaan terbesar.

Ksatria itu menghindari tatapan mataku. “Lihat makam-makam itu? Mereka adalah ksatria-ksatria baru. Setidaknya satu orang per tahun tidak dapat menemukan jalan kembali… Meratapi mereka adalah salah satu tugas rekrutan baru. Aku ingat betul depresi yang kurasakan dulu.”

Kami semua terkesiap mundur. Militer Great Keith benar-benar terlalu keras!

Ksatria muda itu melihat ekspresi pucat kami dan mengangkat bahu. “Canda.”

“Apa?” seru kami serentak.

S-Seberapa banyak dari itu? Apakah dia sedang bercanda tentang makam-makam itu… atau hukumannya?

Mari… jangan tanyakan itu, putusku.

Sisa perjalanan dilalui dalam keheningan.

Saat kami berjalan semakin jauh ke dalam, tempat ini menjadi semakin mirip ruang bawah tanah. Kami melihat lebih sedikit makam, tetapi lorong-lorongnya masih bercabang ke segala arah. Ada begitu banyak pertigaan dan perempatan sehingga aku pasti akan tersesat jika baru pertama kali ke sini.

Omong-omong, aku memiliki Mapping dari pohon keterampilan RPG Player-ku, dan itu benar-benar sangat berguna. Kurasa ada kemungkinan bahwa informasi tentang Snake Sect itu adalah sebuah kebohongan… dan para ksatria Great Keith berniat membuat kami tersesat di bawah tanah. Jika itu masalahnya… yah, aku benar-benar lebih memilih untuk tidak mempercayainya.

“Seseorang ada di sana,” bisik pemimpin kami, memberi gestur agar kami berhenti. Kami berada di sebelah sudut dan sebuah jalur lurus yang panjang.

Night Vision-ku benar-benar melihat seseorang. Mengingat lokasi kita, itu bisa jadi adalah mayat hidup…

“Seseorang dari Snake Sect,” ksatria itu memberi tahu kami. “Seorang penjaga, kemungkinan besar.”

The Herald Knight memiliki penglihatan yang cukup bagus. Dia tampak seperti memiliki sedikit darah manusia setengah hewani dalam silsilahnya, dan mereka memiliki penglihatan malam yang baik. Great Keith sebagian besar adalah meritokrasi, jadi jika seseorang kuat, ras apa pun mereka tidak terlalu menjadi masalah.

“Itu… adalah masalah. Ini satu-satunya jalur, dan jalan memutar akan memakan waktu terlalu lama.”

Ksatria pelindung itu melipat kedua tangannya. Namun kemudian, pemandu kami mengeluarkan alat sulap yang tampak seperti jam pasir.

“Kami memperkirakan akan ada seseorang yang berjaga,” kata pemandu kami. “Struktur labirin ini membuat penyingkiran salah satu dari mereka menjadi sulit, jadi kami merencanakan serangan terkoordinasi begitu pasirnya habis jatuh. Dengan begitu, tidak masalah jika kita ketahuan.”

“Begitu ya,” ksatria pelindung itu mengangguk.

“Kau ingin aku menyingkirkan yang itu?” tawarku. Sejauh ini, aku merasa cukup tidak berguna.

The Herald Knight menatapku dengan ragu. “Aku tidak membayangkan kau bisa melakukannya tanpa ketahuan.”

“Ada jarak lebih dari seratus meter di antara kita,” tetua itu menunjukkan. “Kau pasti akan terlihat.”

Mereka menentangnya kurang lebih seperti yang aku perkirakan.

“Kalau begitu, aku hanya perlu memastikan dia tidak bisa melihatku,” jawabku dengan tenang.

“Mereka… sedang tidur.”

“Ternyata sangat mudah…”

Kami menyelinap mendekati mereka, tetapi mereka tertidur pulas. “Mereka” karena sebenarnya ada dua orang yang berjaga.

“Pahlawan Mawar, apakah itu Kabut peringkat rendah?” tanya The Herald Knight, menatap dengan penuh minat pada botol di tanganku.

“Memang benar. Aku mengubah air di dalam botol menjadi kabut dan membuat mereka menghirupnya. Namun, trik itu adalah rahasia dagang.” Botol air khusus ini adalah botol yang telah dikutuk oleh Furiae dengan Slumber.

“Kau melumpuhkan mereka tanpa memperingatkan siapa pun tentang kehadiran kita! Dan dari jarak sejauh itu! Luar biasa.”

Ksatria pelindung itu tampak kagum. “Teknik yang menarik. Akan kuingat itu.” Tatapannya tajam, meskipun ketajaman itu hampir seketika lenyap saat dia berbicara kepada kelompok kami. “Berkat Tuan Makoto, kita bisa maju. Ikat para anggota Sekte Ular. Satu dari kita akan tetap di sini—sisanya akan maju. Kita sudah dekat dengan tujuan kita.”

Kami mengangguk pelan dan berjalan menerobos kegelapan dalam keheningan. Wajah pemandu kami tampak tegang. Kami mungkin sudah sangat dekat.

Akhirnya, kami melihat pendar cahaya merah di depan. Clairvoyance menunjukkan bahwa cahaya itu berasal dari api.

“Mereka di sana,” kataku.

“Benar. Sekte Ular pastinya sedang berkumpul di sini.”

Kami memutuskan untuk menunggu pada jarak yang lumayan jauh. Tiba-tiba, mata Ksatria Pembawa Pesan membelalak kaget.

“M-Mustahil!” teriaknya, lalu dengan cepat berlari pergi.

Apa? Bukankah kita tadi menunggu?

“Apa yang sedang kita lakukan, Pahlawan?” tanya ksatria lainnya.

“Kita ikuti dia,” kataku. Tak seorang pun dari kami tahu apa yang sedang terjadi, tapi kurasa hanya itulah yang bisa benar-benar kami lakukan.

Koridor panjang itu bermuara ke sebuah aula terbuka yang aneh. Obor-obor mengelilingi ruangan tersebut, memancarkan rona merah ke seluruh bagian dalam. Aku tidak mengerti apa yang sedang kulihat untuk sesaat, tapi aku berpikir bahwa sesuatu sedang menutupi lantai.

Itu adalah sebuah tumpukan. Ratusan orang ditumpuk menjadi satu. Manusia, para *beastmen*, orang dewasa, anak-anak… semuanya terkulai lemas bersama-sama.

A-Apakah mereka mati?

Tempat itu tampak seperti gunung mayat. Tubuhku membeku melihat pemandangan aneh itu.

“Sialan! Kenapa?!”

“Ya ampun! Bertahanlah!”

Kedua ksatria itu bergegas menghampiri korban yang paling dekat. Aku mengikuti dengan cepat di belakang lalu menyentuh wajah seseorang dengan lembut.

Kulit mereka masih hangat, dan dada mereka naik turun, meskipun hanya sedikit. Aku masih bisa mendengar mereka bernapas. F-Fiuh, mereka belum mati. Meskipun begitu, tak seorang pun dari mereka merespons sentuhan itu.

“Healwater.”

Oh, bagus sekali, Pak Tua! Aku tidak tahu kalau kau bisa menyembuhkan. Dia mungkin terlihat sangat keras, tapi dia bisa diandalkan.

Rupanya, semua ksatria air bisa melakukannya. Mereka perlahan-lahan merapalkan sihir itu kepada berbagai orang yang bertumpuk di lantai. Sayangnya, aku tidak memiliki kemampuan penyembuhan.

“Tidak ada tanda-tanda Sekte Ular di sini! Hanya mantan budak! Mereka semua juga hampir mati. Panggil para penyembuh!”

Ksatria Pembawa Pesan itu meminta bala bantuan ke semacam alat sihir. Aku tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan atau meminta bantuan, jadi tidak ada yang bisa kulakukan. Sebagai gantinya, aku hanya mengawasi orang-orang yang pingsan itu dengan hati-hati.

Ha?

Ada yang aneh. Mana di sekitar mereka sangat lemah secara tidak wajar. Tubuh mereka juga melemah. Rasanya hampir seperti ada sesuatu… yang menyedot vitalitas mereka. Di satu sisi, aku mengenali situasi itu.

“Pak Tua, apa kau punya Buku Jiwa?” tanyaku. “Yang kosong, untuk referensi.”

“Aku tidak punya… Untuk apa kau membutuhkannya?”

“Pahlawan!” seru Ksatria Pembawa Pesan. “Apakah kau tahu apa yang terjadi?”

“Sepertinya mereka menggunakan sihir pengorbanan—sihir bunuh diri… Atau, yah, dipaksa untuk menggunakannya.”

Itulah tebakanku berdasarkan pengalamanku sendiri. Aku bisa mengingat sensasi kekuatan mental dan fisikku yang perlahan memudar. Dan ketika aku menggunakannya, aku juga jatuh pingsan.

“Menukar hidup mereka demi sihir yang kuat… Itu dilarang!” teriak ksatria pengawal itu.

Ksatria Pembawa Pesan menoleh kepadaku. “Gereja-gereja sang dewi dengan tegas melarang sihir bunuh diri. Mereka bahkan seharusnya tidak tahu caranya… Kenapa kau tahu tentang hal itu?”

Ups, ya… Agak aneh bagiku untuk mengetahuinya. Aku sempat khawatir selama beberapa detik sebelum menjawab, “Grandsage yang menceritakannya kepadaku.”

Dia tidak akan bisa memeriksa faktanya. Bagaimanapun juga, wanita itu memiliki pengaruh yang sangat besar di Highland.

“White Grandsage… Ya, dia adalah penyihir terkemuka di benua ini dan memiliki pengetahuan selama seribu tahun… Aku tentu bisa memahaminya.”

“Aku ingin memeriksa sisa hidup mereka untuk memastikannya,” kataku. “Apakah ada cara untuk melakukannya?” Soul Book tentu saja bisa menunjukkannya kepada kita.

“Itu bukan masalah,” kata Ksatria Pembawa Pesan. “Aku punya mantra untuk menyelidiki hal semacam itu.”

“Huh, aku tidak tahu kalau ada mantra untuk itu,” akuku.

“Mantra itu menampilkan statistik dan kemampuan seseorang, jadi seharusnya tidak digunakan sembarangan… Namun, ini adalah keadaan darurat. Aku akan meminta maaf nanti.”

Dia kemudian menyentuh salah satu dahi anak itu dan merapalkan sebuah mantra. Cahaya pudar terbentuk di sekitar mereka, yang terlihat sama seperti ketika seseorang menggunakan Soul Book.

Ekspresi Ksatria Pembawa Pesan berubah tegang. “Apa-apaan ini?” bisiknya.

“Ada apa?”

“Dia… hanya tersisa hari.”

“Hari?!” tanya ksatria pengawal itu dengan marah. “Sungguh kekejaman yang luar biasa!”

“Apa yang akan terjadi pada mereka?” tanyaku. Apakah ada sesuatu yang bisa kami lakukan?

“Jangan khawatir. Kami akan membawa mereka kepada pendeta wanita kami dan memohon kepada Sól. Seharusnya mungkin untuk memperpanjang umur mereka sampai batas tertentu… Meskipun itu akan memerlukan bayaran yang tidak sedikit.”

“Bayaran?” tanyaku bingung.

“Sebuah persembahan,” jelas ksatria pengawal itu.

Oh, benar juga! Kau bisa membeli umur panjang di dunia ini.

“Tapi, bukankah itu akan menjadi jumlah yang cukup besar?”

“Memang… Tapi tidak ada cara lain. Aku akan mengajukan permohonan itu kepada Yang Mulia.”

Mengingat betapa kejamnya Great Keith, aku cukup khawatir tentang mereka yang harus membayar demi memperpanjang umur para budak. Setidaknya Ksatria Pembawa Pesan tidak berniat menelantarkan mereka. Itu sudah bagus.

Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki.

“Apa yang terjadi di sini?!”

“Di mana Sekte Ular?!”

“Sól yang memberi kami informasinya!”

Para ksatria mengerubungi area tersebut, dengan para penyembuh di antara mereka.

“Tunjukkan padaku yang paling lemah!”

“Siapa pun yang tidak membawa apa-apa, bawa mereka keluar! Kita tidak punya cukup tempat untuk menyembuhkan mereka di sini!”

“Ada orang asing di sini—bisakah kita menunjukkan jalan keluar kepada mereka?!”

“Ini darurat! Jenderal Talisker telah mengizinkannya.”

Terjadi kesibukan yang luar biasa saat para penyembuh memprioritaskan mereka yang paling terluka dan Ksatria Pembawa Pesan mengeluarkan perintah. Kelompok dari Roses membantu mengangkut yang terluka keluar. Dengan kekuatanku, aku hanya bisa menggendong anak-anak.

Aku benci statistikku…

Mengeluh tidak akan ada gunanya, jadi aku mulai bekerja. Semakin banyak bala bantuan yang datang dan sekarang, kami telah berhasil mengeluarkan sekitar setengah dari para budak.

Pada akhirnya, ksatria pelindung memanggilku. “Pahlawan. Kami akan tetap tinggal di sini. Kenapa tidak pergi mendukung Lady Aya?”

“Aku akan tetap di sini sampai mereka semua keluar,” kataku menegaskan.

Sasa tidak akan senang jika aku memprioritaskannya daripada orang-orang yang terluka. Aku melakukan perjalanan ke permukaan beberapa kali, dan setelah beberapa jam, semuanya berhasil keluar. Orang-orang dengan kondisi terparah dibawa ke gereja terlebih dahulu. Pada titik ini, sepertinya tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, dan saat itulah Ksatria Pembawa Pesan mendekati kami.

“Pahlawan Makoto, para ksatria Roses. Terima kasih atas bantuan kalian. Untungnya, sepertinya tidak ada korban jiwa.”

“Itu sudah lebih dari cukup,” kata kakek itu sambil tersenyum.

“Aku ingin tahu apa sebenarnya rencana mereka,” gumamku.

Mereka telah menghabiskan banyak uang untuk membeli para budak dan kemudian menggunakan hampir seluruh kekuatan mereka dengan sihir bunuh diri. Tapi… untuk apa? Wajah pria itu mengeras.

“Kami saat ini sedang mengorganisasi tim pencari untuk melacak Sekte Ular. Kami telah menangkap dan menginterogasi semua anggota yang diketahui, namun belum menemukan informasi yang relevan.”

“Mungkin kita telah mengacaukan rencana mereka?” usul kakek itu.

“Aku sangat berharap begitu, tapi…”

Aku mendengarkan percakapan mereka setengah hati, namun aku juga merenungkan hariku di bawah pengaruh Calm Mind.

Kemudian, sebuah suara di dalam kepalaku bersuara.

Makoto, mereka digunakan untuk sihir pengorbanan. Meskipun, aku tidak tahu untuk apa sihir itu digunakan… Eir dan Sól mungkin juga tidak tahu.

Tidak ada satupun dari kalian yang tahu?

Orang-orang di balik ini dilindungi oleh berkah Typhon. Pengaruh daemon tersebut menyembunyikan masa depan, jadi kami tidak dapat mengetahui apa yang sedang terjadi. Berhati-hatilah.

Akan kulakukan. Terima kasih, Noah.

“Mungkin jika kita tahu untuk apa sihir itu digunakan,” sahutku.

Kedua orang itu menatapku.

“Bukankah itu gagal?” tanya ksatria pengawal itu. “Tidak terjadi apa-apa pada akhirnya. Bukankah Suicide Magic adalah praktik mengorbankan umur untuk merapal sihir?”

“Bukannya begitu, itu hanya menggunakan rentang hidupmu untuk menutupi defisit mana,” jelasku. “Jika rentang hidup mereka benar-benar digunakan, itu mungkin untuk merapal sesuatu.”

“Pahlawan Makoto.” Ksatria Herald membungkuk dalam-dalam. “Aku tidak tahu apa-apa tentang Suicide Magic. Jika kamu menyadari sesuatu, sekecil apa pun itu, tolong beritahu aku.”

Pria itu benar-benar bersungguh-sungguh dan jujur. Aku ingin membantunya, jadi aku berpikir baik-baik lalu mulai berbicara.

“Seperti yang kubilang tadi, pada dasarnya itu menutupi defisit… Ini hanya tebakannya saja, tapi anggap saja Sekte Ular menggunakannya untuk suatu hal.” Jika Noah benar, maka itu pasti memang benar kasusnya. Kedua orang itu mengangguk setuju. “Sekte itu tidak menyerang tanpa bala bantuan. Di Roses, mereka memunculkan raksasa wabah. Di Highland, mereka menggunakan gerombolan wyvern dan amukan monster. Bahkan di Macallan, mereka memanggil amukan monster lainnya serta naga purba. Springrogue adalah pasukan Zagan dan membangkitkan Raja Iblis… Jadi, mereka pasti sedang mencoba melemahkan kekuatan Great Keith dengan suatu cara.”

“Dengan membeli para budak?” tanya Ksatria Herald.

“Tapi mereka melepaskan para budak itu, Pahlawan.”

“Kamu benar. Tapi para budak itu bukanlah petarung—hanya bahan bakar untuk sihir. Sejarah masa lalu menunjukkan kepada kita bahwa sekte itu sering menggunakan monster.”

“Jadi… mereka akan menyebabkan amukan monster di sini?!” seru ksatria pengawal itu. Para ksatria Great Keith semuanya menatap ke arah kami dengan terkejut.

Dengan cepat, Ksatria Herald mengeluarkan alat komunikasinya. “Peringatkan pasukan penjaga kota! Periksa monster di sekitar segera!”

Ia bertindak cepat. Bagus sekali melihatnya.

“Terima kasih, Pahlawan,” kata dia. “Kami telah mengerahkan kekuatan untuk memastikan para anggota Sekte Ular tidak melarikan diri, tetapi kemungkinan serangan dari luar masih ada. Aku sudah memberi tahu mereka untuk tetap waspada terhadap hal semacam itu.”

“Kita bisa mengawasi kemunculan monster!”

“B-Baiklah…”

Semua ksatria dari Roses memasang ekspresi puas. Rasanya mereka semua bersikap sedikit terlalu optimis. Dalam beberapa hal, ini adalah hal yang bagus, tetapi hal itu membuatku merasa gelisah ketika membayangkan mereka bertarung melawan Iblis.

“Terima kasih atas segalanya. Aku akan melanjutkan pencarian kami. Kenapa tidak kembali ke turnamen saja? Salah satu rekanmu ikut bertanding, kan? Jika dia lolos, kurasa mereka sedang melangsungkan babak semifinal saat ini.”

Dengan saran perpisahan itu, Ksatria Herald pamit pergi. Dia orang yang cukup menyenangkan selama ini.

“Mari kita kembali kepada Lady Sophia.”

“Ayo.”

Kami bergegas kembali. Hari masih pagi saat kami berangkat tadi, dan sebagian besar hari sudah berlalu. Apakah Sasa masih bertanding? Sambil berlari kecil, aku bertanya kepada ksatria pengawal tentang turnamen tersebut.

“Apakah kamu pernah bertanding?”

“Pernah… Sayangnya, aku tidak pernah lolos babak penyisihan.”

“O-Oh.”

Mungkin seharusnya aku tidak bertanya.

“Jarang sekali petarung kita yang bisa lolos. Tapi, kurasa Lady Aya akan menampilkan pertunjukan yang bagus!”

“Ya, dia seharusnya masih bertahan,” jawabku sambil mengangguk.

Turnamen itu hanya berlangsung selama satu hari karena para warga tidak sabaran. Kupikir membaginya selama beberapa hari akan membuat pertunjukannya lebih menarik. Cedera apa pun yang diderita langsung disembuhkan oleh tabib terbaik yang dimiliki negara ini, jadi masalah itu bukan halangan. Kakek itu dan aku sedang membicarakan hal tersebut ketika Colosseum terlihat. Begitu kami menunjukkan kartu identitas, kami masuk ke dalam. Suasanya sangat ramai—bahkan mungkin lebih ramai—daripada tadi pagi.

Penonton sangat antusias menyaksikannya.

Kita terlambat banget… Kira-kira bagaimana keadaan Sasa ya?

Aku sedang mencari tempat duduk Lucy dan Furiae ketika aku mendengar suara komentator yang diperkeras.

“Pemenang kita! Aya Sasakiiiii!”

Huh…? Tunggu… apa?

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted