Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 3 Prologue_ Makoto Takatsuki’s Dream Bahasa Indonesia





Prologue: Mimpi Makoto Takatsuki
“Wahai pahlawan, aku menganugerahkan kepadamu 50 gald dan sebatang tongkat kayu. Kalahkan raja iblis dan pulihkan kedamaian di dunia.”
Aku selalu menganggap pengaturan seperti itu gila. Jika seseorang ingin kau menyelesaikan misi seperti itu, setidaknya mereka harus menyerahkan seratus juta…
Tetap saja, sang pahlawan mengalahkan monster dan tumbuh semakin kuat. Mereka mendapatkan artefak legendaris, menyelamatkan sang putri, dan pada akhirnya, mereka menghancurkan raja iblis. Seorang pahlawan menyelamatkan dunia. Mereka tidak menghindari kesulitan apa pun, dan mereka berdiri melawan ketidakadilan, mengatasi segala rintangan di jalurnya. Mereka adalah sosok yang ideal.
Itulah mengapa, di masa depan, aku ingin menjadi seorang pahlawan.
— Makoto Takatsuki
“Takatsuki, apa ini?” tanya Sasa.
“Sasa! Jangan asal membaca barang milik orang lain tanpa izin!”
Saat itu adalah musim panas di tahun ketiga SMP kami. Kami berdua sedang belajar untuk ujian, tapi Sasa memutuskan kalau dia bosan dan mulai menggeledah kamarku. Aku tidak terlalu memikirkannya—lagipula hal itu cukup biasa terjadi. Aku pikir dia hanya mencari manga untuk dibaca, tapi lihat apa yang berhasil dia temukan!
“Kamu yang menulis ini, kan? Kapan?”
“Kembalikan itu sekarang juga!”
Benda yang baru saja dibacakannya dengan suara keras adalah sesuatu yang ku tulis di sekolah, berjudul “Impian untuk Masa Depan.” Seharusnya benda itu terkubur dalam-dalam di lemari pakaianku, jadi dari mana dia menemukannya?! Itu benar-benar sesuatu yang ingin kuanggap tidak pernah ada.
“Berikan!” teriakku lagi.
Aku berhasil meraihnya dan mengambil kembali bukti memberatkan itu. “Aaah, kamu ini mesum, Takatsuki. Memangnya apa yang ingin kamu sentuhhuuu,” cibir Sasa dengan nada menggoda.
“Aku tidak menyentuh apa pun!” protesku sambil berkeringat. Karena kehebohan tadi, kami tidak banyak belajar.
Lagi pula… dadanya terasa lembut.
◇
“Ada apa, Takatsuki? Kamu terus menatapku,” komentar Sasa sambil memiringkan kepalanya dan menatap balik ke arahku.
Kami berada di kapal udara milik Fujiyan, sedang makan malam dalam perjalanan pulang dari Labyrinthos. Aku menatap wajahnya, tenggelam dalam lamunan tentang masa lalu.
Yah, kurasa kami memang berada di dunia pedang dan sihir yang selalu aku impikan semasa kecil. Tapi maaf ya, diriku yang lebih muda—kamu tidak berhasil menjadi pahlawan.
Sasa tersenyum kepadaku saat aku sedang mengenang masa lalu, dan kami saling bertatapan cukup lama.
“Hei, Makoto,” panggil Lucy sambil merangkulku dari belakang. “Kamu mau latihan sebentar setelah kita selesai makan?”
Suka tidak suka, aku selalu mulai merasa gerah saat dia menempel padaku karena suhu tubuhnya yang tinggi. Belakangan ini dia jadi lebih sering bersentuhan, seolah-olah sedang memamerkannya pada Sasa.
“Boleh, latihan pengendalian mana lima jam seperti biasa?”
“Duh, aku tidak bisa konsentrasi selama itu…” protesnya.
“Yah, kita bisa istirahat.”
“Baiklah kalau begitu.”
Bahkan setelah mendengar jawabanku, dia tetap tidak melepaskan pelukannya dariku. Sejujurnya agak sulit untuk terus makan dengan dia yang menempel di punggungku seperti ini.
“Lu, turun sana,” kata Sasa sambil menariknya lepas dariku. “Takatsuki masih makan.”
“Ugh, aku tidak bisa menang melawan kekuatanmu!” keluh Lucy.
“Hei, Takatsuki, aku akan pergi ke kamarmu malam ini,” kata Sasa. Giliran dia sekarang yang menempel padaku, jadi situasinya sama sekali tidak membaik.
“Padahal kamu juga melakukan hal yang sama semalam…”
“Aku akan melakukan hal yang sama setiap malam! Aku mau tidur di kasurmu malam ini!”
“Eh, aku tidak keberatan.” Lagipula, biasanya aku menghabiskan sepanjang malam untuk berlatih. Sasa pada akhirnya akan mengobrol denganku sebentar lalu tertidur… di kasurku.
“Ayaaa, sebaiknya kamu ceritakan lebih banyak tentang itu.”
“Wah, kamu jadi jauh lebih kuat! Apa kamu menggunakan mana?”
Lucy mengunci kedua lengan Sasa ke belakang punggungnya, membuat gadis itu tertawa dan menggeliat. Itu adalah gestur yang lucu dan penuh keaktifan. Kurasa mereka berdua jadi jauh lebih akur sejak persinggahan kita di hotel (cinta?).
“Takatsuki, aku akan datang berlatih denganmu hari ini,” deklarasi Sasa.
Lucy langsung menyela setelahnya. “Dan aku akan datang ke kamarmu malam ini.”
Merupakan pemandangan yang langka bagi Sasa untuk ingin bergabung dengan latihan kami, dan kurasa Lucy telah memutuskan untuk tetap tinggal setelah sesi latihan kami selesai.
“Tentu,” jawabku.
“Aya, kamu tidak bisa menggunakan sihir, bukan? Apa kamu tidak akan bosan?” tanya Lucy.
“Aku bisa melatih skill-ku, kan? Bagaimana denganmu? Apa yang kamu rencanakan di kamarnya?”
“Latihan, sudah jelas. Memangnya apa yang kamu bayangkan?”
“Rasanya sedikit mencurigakan,” jelas Sasa, “karena kamu jauh lebih bersemangat saat memikirkan untuk pergi ke kamarnya, alih-alih berlatih di luar.”
Mereka berdua terkikik, tetap mempertahankan pegangan erat di bahu satu sama lain. Kalau begitu, kita akan bisa mengadakan pertemuan yang menyenangkan dan ramah, damai seperti biasanya.
Ngomong-ngomong, diriku di masa lalu, mari kita langsung ke intinya: kamu tidak bisa menjadi pahlawan, tetapi kamu benar-benar mendapatkan party yang berisikan gadis-gadis imut.
“Tackie-ku yang terhormat…”
“Tuan Takatsuki’h…”
Fujiyan dan Nina memasang ekspresi aneh di wajah mereka.
“Ada apa dengan kalian berdua?” tanyaku.
“Tidak ada apa-apa…”
“Sama sekali tidak ada apa-apa’h…”
Aku menatap mereka dengan rasa penasaran. Sepertinya aku mendengar salah dari mereka bergumam sesuatu seperti, “Berusahalah sebaik mungkin untuk menghindari ditusuk,” tapi mungkin cuma perasaanku saja…?
Komentar