Seirei Gensouki Volume 24 Epilog Bahasa Indonesia
Epilog
Pilar api di distrik lampu merah itu terlihat dari istana kerajaan.
Itu tampak menyeramkan dan pertanda buruk. Apa yang sedang terjadi? Langit masih samar-samar remang, tetapi istana sudah berada dalam kekacauan. Kerumunan orang juga telah berkumpul di taman mansion tempat para gadis itu tinggal.
“Kobaran api itu…”
Wajah Satsuki tegang saat dia menatap api yang menyala di kejauhan. Cara api itu membakar sama sekali tidak wajar. Seseorang jelas-jelas telah menciptakan api tersebut secara buatan dan menggunakan sihir atau seni roh untuk mengendalikannya. Dan ketika Satsuki memikirkan tentang kemampuan untuk mengendalikan api, satu hal langsung terlintas di benaknya.
“Jangan-jangan…”
Satsuki menggelengkan kepalanya, menepis pemikiran itu. Aki dan Masato berada di dekatnya, menatap dengan cemas. Pada akhirnya, kobaran api itu padam, tetapi taman mansion tersebut tetap terdiam untuk waktu yang lama.
“E-Eh… Kobaran api itu…” kata Masato akhirnya dengan gugup.
Aki melihat ke sekeliling dengan gelisah untuk mengusir perasaan tidak enak yang dirasakannya, tetapi Miharu sama sekali tidak terlihat di taman.
“E-Eh, kemana perginya Miharu?!” serunya.
Tepat pada saat itu, sejumlah besar esensi sihir muncul di langit di atas kastil. Merasakan tekanan yang cukup besar hingga menggetarkan udara, mereka yang dapat merasakan esensi tersebut langsung bersiap untuk bertarung.
“Apakah itu kehadiran seorang spirit?!”
Sara dan para gadis kaum spirit lainnya menatap ke sudut taman dengan terkesiap. Spirit kontrak mereka telah memberi tahu mereka tentang kehadiran spirit yang mereka deteksi. Berdiri di sana adalah Aishia, yang tengah mengenakan topengnya.
“Siapa…?” Semua orang memiringkan kepala mereka dengan rasa penasaran.
Aishia?! Kenapa dia mewujud… Tidak, kalau begitu hal itu pasti merupakan pertanda buruk.
Yaitu, semua orang selain Celia, yang menebak-nebak alasan di balik kemunculan Aishia. Bagaimanapun juga, apa pun yang muncul di langit memiliki jumlah esensi yang luar biasa besar.
“Lari!” kata Aishia, terbang ke udara. Meskipun biasanya dia tidak acuh pada emosinya, ada rasa urgensi yang kuat dalam suaranya.
“Semuanya, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi jika kalian tetap tinggal! Cepat!” kata Celia kepada semua orang.
Saat itulah Miharu keluar dari pintu depan mansion. Dia berjalan perlahan dengan tatapan kosong di wajahnya.
“Lewat sini, Miharu! Cepat!”
Celia memanggil Miharu dengan panik. Namun, Miharu hanya berhenti dan menatap ke langit seolah-olah dia tidak mendengarnya.
Ada apa, Miharu?!
Celia mencoba bergegas menghampiri Miharu, tetapi Miharu membuka mulutnya.
“Assumo.”
“Ha?”
Celia meragukan pendengarannya. Mantra itu? Bagaimana? Kenapa? Berbagai macam pertanyaan bergemuruh di dalam kepalanya.
“Contoh: Septimum Caelum Vel Persona.”
Miharu terus melafalkan mantra tersebut dan mengaktifkan sihirnya.

◇ ◇ ◇
Sementara itu, beberapa waktu kemudian, jauh di Kerajaan Suci Almada, di Kota Suci Tonerico…
Hari masih pagi, tidak lama setelah matahari mulai terbit. Rio dan Sora telah memutuskan untuk turun kembali ke labirin. Mereka sedang dalam perjalanan menuju pintu masuk raksasa labirin itu ketika mereka bertemu dengan sesosok wajah yang tidak asing.
“Eh, bukankah ini Rio dan Sora. Kita bertemu lagi,” kata Eru kepada mereka dengan gembira.
“Kamu… Eru?” Rio dan Sora menghentikan langkah mereka dan mengerjap menatapnya.
“Orang yang sama dengan yang kalian temui kemarin.” Eru menceritakan kembali bagaimana mereka telah makan bersama di sebuah restoran di ibu kota kemarin dengan tatapan bernostalgia.
“Ehm… Kamu ingat kami?” Sebagai makhluk transenden dan muridnya, keberadaan Rio dan Sora sangat mudah dilupakan. Rio sangat terkejut mendengar bahwa perempuan itu mengingat mereka.
“Seperti yang kubilang, aku percaya diri dengan ingatanku. Lagipula, itu baru terjadi kemarin.”
“Ah, ya, kurasa begitu…”
“Ah, melihat wajah kalian membuatku jadi ingin makan paeja lagi. Kalian berjanji akan mentraktirku paeja buatan kalian lain kali, kan?”
“Aku memang mengatakannya… Tapi apa yang sedang kamu lakukan di sini, Eru?” Merasa bingung, Rio melanjutkan percakapan tersebut.
“Kemarin, aku menyuruh kalian untuk memeriksa sendiri labirin itu jika kalian tertarik, kan? Jadi, aku pikir aku akan bisa menemui kalian berdua lagi jika aku menunggu di sini. Semuanya persis seperti yang kuduga,” kata Eru dengan senyuman penuh curiga.
“Begitu ya… Itu kebetulan yang luar biasa… Bukan, atau apa itu memang kebetulan?” Rio memiringkan kepalanya saat mengucapkan kata-kata itu dengan suara keras.
“Mungkin itu sudah takdir, mengingat hubungan antara kau dan aku. Bukan, antara kita semua. Termasuk Sora,” ujar Eru sambil menatap ke arah Sora.
“Takdir?” Tubuh Rio sedikit kaku.
“Ya. Sebenarnya, aku berniat memberitahumu sesuatu yang penting jika aku bertemu denganmu hari ini. Sebuah rahasia khusus di antara kita bertiga.”
“Rahasia seperti apa?”
“Terkait dengan— Eh?”
Tepat saat Eru hendak mengucapkan rahasia pentingnya, ruang di sekitar Rio berdistorsi. Hal terakhir yang ia lihat adalah Eru yang menggerakkan mulutnya untuk mengatakan sesuatu… sebelum distorsi ruang tersebut menelan dirinya dan Sora. Keduanya tiba-tiba menghilang.
“Ya ampun…” Eru ditinggalkan sendirian. Sesaat kemudian, ia menghela napas yang menyiratkan campuran antara rasa frustrasi dan kekesalan.
“Ya ampun… Ini gara-gara wanita itu, kan?” gumamnya sambil memasang wajah cemberut.
“Sepertinya masa depan ini telah diramalkan, Kakak.”
Ia menatap ke arah matahari cerah yang terbit di timur, arah Kerajaan Galarc.
Komentar