Seirei Gensouki Volume 24 Bab 1: Di Kota Suci Tonerico Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 24 Bab 1: Di Kota Suci Tonerico Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 1: Di Kota Suci Tonerico

Sekitar waktu ketika Fenris dan anak itu sedang berbincang di kedalaman labirin, Rio dan Sora telah selesai menyisir lantai sebelas yang lebarnya beberapa kilometer.

“Sepertinya memang tidak ada jalan menuju lantai dua belas,” ucap Rio setelah mereka kembali berkumpul di pintu masuk lantai tersebut.

“Sora juga tidak bisa menemukan jalan turun ke bawah. Mohon maafkan Sora.”

“Tidak ada yang perlu disesali. Jika tidak ada jalan yang terlihat, maka kemungkinannya antara jalan itu tidak kasat mata, atau lantai sebelas adalah lantai terbawah dari labirin ini.” Rio tersenyum lembut kepada Sora.

“Apa kita harus mencoba menggali dindingnya?” tanya Sora sambil mengepalkan tangan kanannya.

Rio mengelilingi pandangannya ke lantai yang sangat luas itu. “Kalau kita ingin menggali, kita harus memastikan ada ruangan di sisi sebaliknya. Jika kita menggali secara membabi buta, kita bisa mengambil risiko lantai ini runtuh menimpa kita.”

Kendati demikian, memeriksa setiap sudut dan celah juga terdengar sangat melelahkan.

Agar bisa mengetahui apakah ada rongga di balik dinding tersebut, mereka harus mengalirkan energi ke dalamnya. Namun, selain memiliki diameter beberapa kilometer, langit-langit lantai sebelas juga setinggi ratusan meter. Rio menghela napas memikirkan tugas yang begitu berat itu.

Namun, lantai sebelas labirin itu adalah wilayah yang belum pernah diinjak oleh umat manusia. Karena mereka sudah sejauh ini, mereka tidak bisa kembali tanpa melakukan investigasi yang layak terhadap area tersebut. Masih mungkin ada petunjuk mengenai alasan mengapa Dewa Bijaksana Lina membuat Raja Naga berreinkarnasi di suatu tempat di area ini tempat Perang Ilahi dimulai…

“Baiklah. Mari kita gunakan seni roh kita untuk memeriksa apakah ada rongga di sisi lain dinding atau lantai. Ini mungkin memakan waktu agak lama, karena ruangannya sangat besar, tapi…”

Untungnya, mereka bisa mendirikan perkemahan dengan menurunkan rumah batu tersebut, sehingga memungkinkan untuk melakukan pencarian selama beberapa hari.

“Tidak perlu bagi Raja Naga untuk melakukan tugas membosankan seperti itu. Serahkan saja pada Sora!”

“Meskipun begitu, aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya sendirian. Mari kita bagi area ini.”

“Tapi…”

“Tidak apa-apa. Aku ingin mengerjakannya bersama-sama denganmu, Sora.”

“B-Benarkah?! Kalau begitu, baiklah! Ayo kita lakukan!” jawab Sora dengan ceria, merasa senang mendengar bahwa Rio ingin bekerja sama dengannya. Dengan demikian, mereka berdua mulai melakukan pencarian yang cermat di lantai sebelas.

◇ ◇ ◇

Sementara itu, di kedalaman labirin…

“Tampaknya mereka memang tidak tahu cara mencapai lantai dua belas. Tapi mereka masih belum menyerah untuk mencarinya,” jelas anak ber jubah putih itu sambil menatap langit-langit. Rasanya hampir seperti dia bisa melihat secara persis apa yang sedang dilakukan oleh Rio dan Sora. Kira-kira, apa sebenarnya yang bisa dilihat oleh mata-mata yang tersembunyi di balik rambut berponi panjang itu?

“Masalahnya adalah apakah mereka sedang mencari karena mereka yakin ada lantai dua belas, atau mereka mencari karena mereka tidak tahu apakah ada lantai dua belas.”

“Benar. Jika Lina yang menyuruh mereka ke sini, mereka pasti tahu cara pergi ke lantai dua belas. Jika mereka menyerah seperti ini, itu berarti mereka sama sekali tidak tahu bahwa ada lantai dua belas.”

“Itu poin yang bagus… Bagaimanapun juga, kita hanya bisa mengawasi untuk saat ini,” kata Fenris sambil mendesah.

“Aku mungkin seorang yang suka mengurung diri, tapi kau punya banyak urusan yang harus dilakukan. Benarkan? Kau bisa menyerahkan mereka kepadaku dan kembali ke pekerjaanmu sendiri, Fenris.”

“Segalanya akan jauh lebih mudah jika aku bisa melakukannya…”

“Hei, apa maksudmu kau tidak bisa mempercayai adik perempuanmu yang menggemaskan ini?”

“Kau masih belum tahu apa-apa tentang dia. Dia bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi bahkan sebelum dia menjadi seorang yang melampaui batas.”

“Jadi kau khawatir aku akan mengacaukan segalanya dan merusak rencana. Hmph…”

“Mengingat kepribadianmu, kau pasti akan mencoba menemuinya begitu aku memalingkan muka.”

Gadis berjubbah putih itu tertawa tanpa rasa malu. “Aha ha. Jangan khawatir. Aku akan memastikan untuk memilih lokasi yang tepat saat hal itu terjadi.”

“Jangan bilang… Apa kau berencana mencarinya di luar?” tanya Fenris, matanya melebar karena terkejut. Sangat jarang bagi adik perempuannya untuk melangkah keluar dari labirin.

“Tentu saja. Menemuinya di dalam labirin justru akan menimbulkan kecurigaan.”

“Hmm…” Fenris memasang ekspresi berpikir, mempertimbangkan kembali usulan itu.

“Selain itu, bukan langkah yang buruk juga untuk melakukan kontak dengan mereka di luar labirin, kan?”

“Kau sendiri akan melemah secara drastis di luar labirin, tapi…”

“Tadi kau khawatir aku akan mengacau, sekarang kau malah terlalu mengkhawatirkanku. Kurasa kau memang menyayangi adik perempuanmu ini.”

“Kehadiranmu sangat esensial bagi rencana kita.”

“Baiklah, kita ikuti itu saja. Jadi, bagaimana? Apakah kau akan menyerahkannya padaku?” Gadis berpakaian putih itu menatap Fenris dengan penuh tanya, yang kemudian dibalas dengan anggukan khidmat. “Baiklah… Kau memang akan jauh lebih cocok daripada aku.”

“Kalau begitu sudah diputuskan. Pertama-tama, mari kita cari tahu apakah dia benar-benar Raja Naga yang sama seperti seribu tahun yang lalu.”

insert1

◇ ◇ ◇

Kira-kira satu jam kemudian, di Ibu Kota Suci Tonerico, di dalam kantor resmi Paus Fenris Tonerico…

“Ya ampun…” Fenris yang berjubah putih duduk di kursinya sambil menghela napas kesal.

“Apakah Anda punya waktu sebentar, Yang Mulia?” Seorang wanita muda mengenakan jubah putih anggun berjalan melalui pintu yang terbuka. Namanya adalah Anna Mendoza, seorang pendeta tinggi yang bertindak sebagai sekretaris paus. Ada seikat dokumen besar di dalam pelukannya.

“Silakan masuk.”

“Terima kasih banyak atas kerja keras Anda pada upacara penyegelan selama beberapa bulan terakhir ini,” ujarnya.

“Ya, aku sangat lelah. Aku harus segera kembali ke upacara penyegelan, jadi aku akan sangat menghargai waktu untuk beristirahat.”

“Anda tidak boleh melakukannya. Ada beberapa hal yang muncul selama ketidakhadiran Anda yang memerlukan perhatian Anda. Tolong periksa ini.”

“Inilah mengapa aku tidak ingin kembali…”

Menilik dari percakapan mereka, Fenris telah absen dari istana selama beberapa bulan terakhir, tetapi tidak jelas apa sebenarnya upacara penyegelan itu.

“Jelaskan situasinya secara singkat, Pendeta Anna,” kata Fenris dengan senyum cerah.

“Dengan senang hati, Yang Mulia. Masalah prioritas tertinggi yang harus ditangani adalah maraknya kasus penggelapan dana di kalangan para pendeta baru-baru ini…”

Anna mulai menjelaskan dengan gembira hal-hal yang dirinci dalam dokumen tersebut. Matanya berbinar-binar dengan rasa hormat yang meluap-luap yang ia simpan untuk Fenris.

Sementara itu, Fenris mendengarkan perkataan Anna dengan menyisipkan tanggapan pelan seperti “Hmm” dan “Begitu ya” setiap beberapa saat. Ia menerima dokumen-dokumen yang diserahkan wanita itu dan sekilas membaca halaman-halamannya sambil berpikir dalam hati.

Waktu kepulanganku sungguh buruk karena bertepatan dengan kedatangannya ke sini… Atau haruskah aku bersyukur karena dia ada di sini saat aku juga berada di kota?

Ia menatap ke luar jendela sambal merenung.

Selama dia dan muridnya ada di sini, pertahanan di Galarc seharusnya jauh lebih lemah. Sekarang akan menjadi waktu terbaik untuk mengerahkan golem yang kudapatkan, tapi…

Wajah menyeringai Dewa Bijak Lina melintas di benak Fenris. Bagaimana jika benar Lina dalang di balik tindakan Rio saat ini?

Kemampuannya melihat masa depan berarti dia pasti telah memprediksi situasi ini. Dia juga pasti menyadari bagaimana Fenris akan bergerak begitu menyadari kekuatan musuh terpecah. Ada kemungkinan dia telah menyiapkan jebakan untuk melawannya.

Dewi itu benar-benar lawan yang menyebalkan untuk dihadapi… Jika aku tidak diingatkan akan wajahnya barusan, aku pasti sudah melancarkan serangan ke Kerajaan Galarc tanpa ragu-ragu. Jika semuanya berjalan lancar, itu akan melenyapkan Celia Claire dan roh kontraknya sekaligus.

Paus Fenris menghela napas penuh penyesalan atas keraguannya sendiri.

“Eum, Yang Mulia…” Anna menghentikan penjelasannya dan menatap Fenris.

Fenris mengalihkan pandangannya dari jendela dan kembali menatap Anna. “Ada yang salah?”

“Dengan segala hormat, Anda tampak terganggu oleh sesuatu di luar jendela…”

“Aku hanya memikirkan beberapa hal sambil mendengarkan. Aku telah mempersempit departemen-departemen yang mungkin terlibat dalam penggelapan sumbangan besar,” jawab Fenris sambil meletakkan dokumen-dokumen itu di atas mejanya. Pendapatan dan pengeluaran dari setiap departemen tertulis di atas kertas tersebut. Fenris menandai departemen-departemen yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut dan mengembalikan dokumen itu kepada Anna.

“A-Anda luar biasa seperti biasa…!”

“Yang kulihat hanyalah departemen mana yang memiliki perhitungan ceroboh dan angka-angka yang tidak realistis. Sudah biasa untuk menutup mata bagi mereka yang menyisihkan sebagian kecil persembahan, tetapi aku akan berkeliling ke departemen-departemen dan mengingatkan mereka agar tidak bertindak terlalu jauh. Kamu bisa mengamati situasinya untuk melihat apakah itu membaik setelahnya dan bertindaklah sesuai dengan itu.”

“Baik, Yang Mulia! Beralih ke masalah berikutnya…”

“Tolong buat itu cepat,” kata Fenris sambil menghela napas.

Aku hanya harus mengawasi situasi ini sampai pengumpulan informasi selesai. Akan merepotkan jika mereka berpapasan di kota, jadi aku akan menyuruh Renji kembali ke Kekaisaran Proxia untuk saat ini.

Dia kembali memandang ke luar jendela, menatap pemandangan kota Suci.

◇ ◇ ◇

Dua hari kemudian, pada sore hari, Rio dan Sora telah menyisir setiap jengkal dinding dan lantai lantai sebelas menggunakan esensi sihir mereka, tetapi pada akhirnya, mereka tetap tidak dapat menemukan lantai dua belas. Mereka meninggalkan lantai sebelas dan kembali ke permukaan.

“Cahaya mataharinya benar-benar silau…” gumam Rio, mengangkat satu tangan untuk menutupi matanya.

Bagian dalam labirin diterangi oleh dinding dan langit-langit yang bersinar, tetapi tempat itu tidak ada apa-apanya dibandingkan terangnya matahari. Dan masa tinggal mereka yang cukup lama di sana mungkin membuat matahari terasa semakin menyilaukan.

“Oh tidak, mata berharga Raja Naga… Tolong jangan menatap langsung ke arah cahaya. Anda bisa merusak penglihatan Anda.”

“Aha ha… Aku baik-baik saja. Aku akan segera terbiasa.”

“Selain itu, bagaimana bisa wanita itu membuat Raja Naga tinggal di tempat yang begitu gelap dan lembap selama dua hari penuh…?”

“Bukan salah Lina kita tinggal di sana.”

“Tidak! Ini semua salah Lina! Dia membuatmu berreinkarnasi setelah seribu tahun dan tidak repot-repot meninggalkan petunjuk yang layak. Dia sungguh tidak peka! Dia membuatmu membuang-buang waktu datang ke sini,” omel Sora dengan marah.

Memang benar, jika Dewa Bijaksana Lina berniat membuat Rio melakukan sesuatu dengan kekuatan Raja Naga, dia seharusnya meninggalkan semacam petunjuk tentang apa tujuannya. Kendati demikian, dialah yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin dia punya alasan untuk tidak meninggalkan petunjuk apa pun.

“Sudahlah, mengetahui bahwa tidak ada petunjuk sama sekali adalah sebuah petunjuk tersendiri. Ayo kita lanjutkan perjalanan dan kembali ke kota untuk menikmati hidangan lezat,” saran Rio dengan lembut.

“M-Makanan yang lezat…! Ya, ayo pergi! Jujur saja, Lina seharusnya berterima kasih atas belas kasih Raja Naga yang tiada akhir.”

Tergiur oleh tawaran makanan enak, Sora tersenyum cerah bagaikan matahari di atas kepala mereka. Dengan demikian, Rio and Sora berjalan kembali ke Ibu Kota Suci Tonerico. Sora berjalan dengan langkah melompat-lompat riang sepanjang waktu, tetapi…

Bagaimanapun juga, ada sesuatu yang mencurigakan tentang labirin ini…

Rio menoleh untuk melihat kembali ke arah labirin, tidak mampu menepis perasaan ganjil yang menyelimutinya.

Lebih dari seribu tahun yang lalu, Enam Dewa Bijaksana telah melakukan eksperimen di sini yang membuka celah di dunia. Monster-monster dari dunia lain berhamburan keluar melalui celah tersebut, memicu awal dari Perang Ilahi. Dan monster-monster itu terus bermunculan di labirin hingga hari ini. Mustahil untuk berpikir bahwa labirin ini tidak ada hubungannya.

Namun, mereka telah menghabiskan waktu dua hari di lantai sebelas untuk menyelidiki tanpa hasil. Tidak ada monster baru yang muncul selama mereka berada di sana, dan mereka tidak mendeteksi adanya rongga di sisi lain dinding atau lantai. Tempat itu benar-benar tampak seperti jalan buntu, itulah sebabnya mereka memutuskan untuk kembali ke permukaan. Menghabiskan waktu lebih lama untuk menyelidiki hanya berdasarkan kecurigaan yang samar juga bukanlah tindakan yang bijaksana.

“Ada apa, Raja Naga?” panggil Sora, langsung menyadari saat Rio menghentikan langkahnya.

Rio menggelengkan kepala seolah untuk mengusir kekhawatirannya. “Tidak, bukan apa-apa. Ayo pergi.”

Mereka perlahan-lahan bergerak menjauh dari pintu masuk labirin raksasa itu. Tidak lama kemudian, mengikuti jejak langkah mereka, seorang gadis tunggal muncul dari pintu masuk yang sama.

“Sudah lama sejak terakhir kali aku pergi ke permukaan. Sekarang…”

Anak bergaun putih itu mendongak, menatap langsung ke arah matahari yang terik, lalu menurunkan pandangannya ke punggung Rio dan Sora di kejauhan dan perlahan mulai berjalan mengikuti mereka.

◇ ◇ ◇

Setelah itu, Rio dan Sora berhasil sampai di Kota Suci Tonerico. Mereka menuju ke jalan utama untuk mencari restoran dengan menu yang menggugah selera.

“Selama Perang Ilahi, ada sesuatu yang ditakuti Lina. Aku tadinya berasumsi bahwa hal itu berkaitan dengan Perang Ilahi pada eranya, tetapi ada kemungkinan itu adalah sesuatu yang sepenuhnya berbeda,” ucap Rio tiba-tiba di tengah perjalanan mereka.

“Jika begitu, tidak ada cara untuk mengetahui apa itu. Ini semua salah Lina si bodoh itu, jadi kamu tidak perlu menuruti permintaannya, Raja Naga.”

“Tetapi, ada kemungkinan kita hanya melewatkan sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dengan labirin sekalipun.”

“Kalau begitu, haruskah kita turun ke bawah sekali lagi?”

“Ya… Sepertinya akan lebih baik untuk turun ke labirin setidaknya sekali lagi. Tapi pertama-tama, aku ingin mengumpulkan lebih banyak informasi tentang area ini.”

Sayangnya, saat ini mereka tidak memiliki cukup informasi. Mereka telah menanyai beberapa orang di kota dan guild petualang sebelum masuk ke labirin, tetapi informasi itu hampir tidak menyentuh permukaannya.

“Apakah ada tempat di mana kita bisa melakukannya?”

“Hmm. Ada satu tempat yang bisa kupikirkan di mana kita bisa menyelidiki berbagai hal…”

“Ooh! Sebagaimana yang diharapkan dari Raja Naga! Di mana itu?”

“Kuil di kota ini. Orang-orang yang memerintah tanah ini tinggal di sana, jadi seharusnya ada perpustakaan tempat catatan-catatan lama tentang tempat ini disimpan.”

“Masuk akal! Kalau begitu, ayo kita pergi ke perpustakaan di kuil!”

“Ya. Akan sangat bagus jika kita bisa menggeledah perpustakaan kuil, tapi…”

Rio memasang ekspresi bermasalah di wajahnya. Dia tidak yakin mereka akan mendapatkan izin untuk menggeledah perpustakaan kuil hanya dengan bertanya secara jujur. Di dunia ini di mana semua buku dibuat dengan tangan, buku dianggap sebagai barang mewah. Tidak mungkin orang asing diberi izin untuk memasuki perpustakaan dengan begitu mudah.

Itu berarti kita harus menyelinap masuk, ya… Tapi bahkan jika kita melakukannya, kita tidak akan bisa tinggal di perpustakaan untuk waktu yang lama…

Meskipun para makhluk transenden kesulitan meninggalkan kesan di dalam benak dan ingatan orang-orang, mereka tetap akan menimbulkan kehebohan jika mereka menyusup ke perpustakaan dan berdiri di sana membaca tanpa peduli.

Dan jika sebuah kehebohan terjadi, orang-orang akan tetap mengingat bahwa sesuatu telah terjadi. Jika mereka memperketat keamanan perpustakaan, akan menjadi lebih sulit untuk menyelinap masuk lain kali. Itulah mengapa akan lebih baik untuk menemukan cara masuk tanpa menarik perhatian pada diri mereka sendiri.

Rio sedang mempertimbangkan pilihannya dengan cemberut, ketika—

“Hei,” sebuah suara memanggil Rio dan Sora.

“Eh…?” Rio menoleh untuk melihat ke tepat di samping mereka. Suara itu berasal dari seorang anak kecil yang usianya tidak terlihat lebih tua dari Sora.

“Apa yang tadi kalian katakan tentang kuil?” anak itu bertanya.

Anak itu memiliki wajah androgini dan rambut putih bersih. Poni panjangnya menutupi matanya, membuat sulit untuk mengetahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Jubah putih yang dia kenakan menyiratkan bahwa dia adalah seorang pendeta magang di kuil tersebut. Dia tidak mengenakan aksesori mewah apa pun, dan jubahnya terbuat dari kain berkualitas baik. Mungkinkah dia anak dari seseorang yang berkedudukan tinggi?

“…”

Meskipun Rio dan Sora tidak melakukan hal yang mencolok, mereka telah menarik perhatian anak ini. Mata Rio terbelalak kaget.

“Eh? Dra… Master Rio dan Sora sedang sibuk sekarang. Kami tidak punya waktu untuk berurusan dengan anak-anak nakal, jadi sana pergi. Hus, hus.” Sora berusaha mengusir anak itu dengan ekspresi jelas-jelas kesal.

“Aha ha. Kamu lucu sekali. Bukankah kamu sendiri juga anak kecil?”

“Apa—?! Sora adalah wanita dewasa! Sungguh anak kecil yang tidak sopan!” desis Sora sambil memamerkan giginya ke arah anak itu dengan mengancam.

“Tenanglah, Sora… Maafkan dia. Siapa kamu?” tanya Rio kepada anak itu.

“Aku dari kuil, seperti yang bisa kaulihat. Aku mendengar kalian menyebutkan tentang kuil, jadi aku penasaran apa yang sedang kalian diskusikan.”

Anak itu mengangkat kedua lengannya dan mengguncang kain jubahnya untuk menunjukkan bahwa dia berafiliasi dengan kuil.

“Begitu ya. Daripada kuilnya, yang kami minati adalah sejarah daerah ini. Kami ingin tahu apakah kuil menyimpan informasi seperti itu di suatu tempat.”

“Benar. Ngomong-ngomong…” Anak itu tiba-tiba mendekati Rio dan mendongak menatap wajahnya. Mereka hampir cukup dekat untuk berpelukan, membuat wajah Rio berkedut karena bingung.

“Emm… Ada apa?”

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya anak itu sambil menatap lekat-lekat ke wajah Rio.

“Sepertinya tidak…?”

“Hmm. Baiklah. Mungkin karena kita punya warna rambut yang sama? Ada sesuatu tentang dirimu yang terasa familier. Begitu ya, begitu ya… Jadi kita belum pernah bertemu sebelumnya…” Anak itu terkekeh sambil menyeringai.

“Hei, menjauhlah dari Tuan Rio! Pikir kamu siapa, tiba-tiba muncul entah dari mana dan merayu dengan menekankan betapa kalian mirip! Kamu kan cuma bocah!” bentak Sora kepada anak itu dengan marah.

“Aha ha. Kamu dan aku jelas orang asing. Yap.” Anak itu mundur satu langkah, menjauhkan diri dari Rio.

“Aku tidak akan pernah lupa pada seseorang yang tidak sopan sepertimu,” kata Sora sambil mendengus kesal.

“Sepertinya aku juga tidak akan bisa melupakan kalian berdua. Oh, aku belum memperkenalkan diri. Aku Eru. Senang berkenalan dengan kalian.” Anak itu mengulurkan tangannya kepada Rio. Rio menyambut jabat tangan itu.

“Senang berkenalan denganmu juga. Aku Rio, dan ini Sora.”

“Hih.” Sora memalingkan wajah dari Eru dengan cemberut.

“Rio dan Sora, ya? Kebetulan sekali kita bertiga memiliki nama dua suku kata. Untuk merayakan pertemuan baru, aku akan menceritakan sedikit tentang negeri ini,” tawar Eru.

“Itu…” Rio ragu-ragu. Ini adalah anak yang baru saja mereka temui. Apakah boleh meminta bantuan seperti itu dengan begitu mudah kepada mereka?

“Meskipun penampilanku seperti ini, aku adalah sarjana tingkat rendah di kuil. Aku tahu betul tentang sejarah Kota Suci, termasuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di era Perang Ilahi sebelum kota ini dibangun.”

“Kalau begitu, kami akan sangat berterima kasih…”

Mereka baru saja kesulitan karena tidak dapat mencari di perpustakaan kuil. Sangat kebetulan sekali seorang sarjana dari kuil muncul pada waktu yang begitu tepat—bahkan sedikit terlalu kebetulan.

“Kalau begitu, sudah diputuskan. Aku mungkin terlihat muda, tapi aku lebih tua dari penampilanku. Jangan khawatir,” kata Eru, mengakhiri percakapan tersebut. Meskipun mereka tidak menyebutkan usia sebenarnya, mereka mengisyaratkan bahwa usia mereka lebih tua daripada penampilannya. Dan begitulah…

“Jika memang begitu, izinkan kami melakukan sesuatu sebagai balasan atas pengetahuanmu.”

Rio memilih untuk memperlakukan Eru sebagai seorang sarjana, bukan anak kecil. Dia meletakkan tangannya di dada dan membungkuk dalam-dalam.

“Huh, cara berpikir yang fleksibel. Aku suka itu. Tidak semua orang bisa berpikir seperti itu. Biar kulihat… Kamu bisa mentraktirku sesuatu yang enak. Selain itu, aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kalian berdua. Kalian pengelana, kan? Aku tidak tahu banyak tentang dunia luar, jadi aku tertarik dengan hal itu,” kata Eru sambil tersenyum lebar. “Kalau begitu, ayo kita pergi? Sudah lama aku tidak berkeliling di sekitar sini, tapi sepertinya masih ada restoran yang cukup bagus di dekat sini.”

Eru mulai berjalan mendahului Rio dan Sora.

“Hei! Kau pikir kau siapa, memutuskan semuanya sendiri…?!” gerutu Sora, tidak senang dengan cara Eru yang berjalan sendiri sesuai kemauannya.

“Kami juga menghargainya. Ayo pergi, Sora.”

Dengan demikian, Rio dan Sora belajar lebih banyak tentang ibu kota suci dari anak yang bernama Eru.

◇ ◇ ◇

“Mari, mari. Di sebelah sini.”

Tempat yang dituju Eru untuk memandu Rio and Sora adalah sebuah restoran yang didirikan beberapa ratus tahun yang lalu. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan berpenampilan mewah.

“Ini sungguh membawa kenangan. Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali aku ke sini?” kata Eru, dengan ekspresi yang sedikit bernostalgia.

“Hih. Jelas banget kalau kamu cuma berusaha bertingkah seperti orang dewasa,” gerutu Sora.

Mereka memang tampak seperti anak-anak… Tapi ada sesuatu tentang diri mereka yang membuat mereka terasa lebih tua dari penampilannya.

Dia berbicara dengan sangat intelektual untuk ukuran anak-anak, dan pembawaannya pun sangat tenang. Ada orang-orang seperti Celia yang sepertinya tidak pernah menua, jadi sangat mungkin Eru memiliki kondisi fisik yang serupa. Meskipun usianya mungkin belum lebih dari dua puluh tahun, Rio tidak akan terkejut jika Eru mengatakan bahwa usianya baru belasan tahun awal.

Selain itu, Celia telah lulus dari Akademi Kerajaan dan menjadi peneliti saat usianya baru sepuluh tahun. Bukan hal yang tidak mungkin jika ada sarjana lain yang seusia dengannya.

Lagipula, Sora-lah yang sebenarnya berusaha bertingkah lebih dewasa daripada penampilannya…

Sora adalah gadis polos baik dari segi penampilan maupun perilaku sehari-hari. Rio melirik ke bawah pada gadis kecil yang berjalan di sampingnya.

“Hmm? Ada apa, Dra… Tuan Rio?”

“Tidak, tidak ada apa-apa,” kata Rio dengan tawa canggung.

“Ayo, mari masuk.” Eru memimpin jalan melewati pintu.

“Selamat datang!” Seorang pria tua yang tampaknya adalah tuan rumah menyambut mereka, membungkuk dengan hormat.

“Meja untuk tiga. Bisakah Anda mengantar kami masuk?” Eru bertanya atas nama kelompok mereka.

“Tentu saja. Boleh saya menanyakan apakah Anda memiliki reservasi hari ini?” tanya pria itu, memeriksa buku catatan di meja resepsionis.

“Tidak, kami tidak punya.”

“Dimengerti. Sebuah ruang pribadi baru saja kosong, jadi saya akan mengantar Anda ke sana.”

Pria itu dengan cepat menutup buku catatan dan mengantar mereka melewati pintu di dalam. Di Ibu Suci Tonerico, kuil memiliki pengaruh besar atas segalanya. Mungkin mereka hanya diizinkan masuk tanpa reservasi karena Eru mengenakan pakaian yang jelas terkait dengan kuil.

Bagaimanapun, mereka diantar ke ruang pribadi dan dipersilakan duduk.

“Kurasa menu andalan toko ini adalah paeja gaya paus, bukan? Kami akan memesan tiga porsi itu terlebih dahulu, terima kasih,” kata Eru, memberikan pesanan mereka kepada pria paruh baya tersebut. Pria itu menahan napas karena terkejut.

“Hmm? Ada apa?”

“Mohon maaf, saya hanya terkejut mendengar nama menu yang sudah lama itu. Itu membawa kembali beberapa kenangan indah.”

“Lama? Apakah itu berarti hidangannya…”

“Oh tidak, menunya hanya berganti nama. Kami bisa menyajikannya tanpa masalah. Tiga porsi paeja gaya paus ya. Butuh sedikit waktu untuk menyiapkannya, jadi kami mohon kesabaran Anda,” kata pria itu, mengulangi pesanan mereka dengan nama menu yang lama.

“Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu, kenapa namanya diubah?”

“Sepertinya itu sudah lebih dari satu dekade lalu… Beberapa pendeta yang mengunjungi restoran ini menunjukkan bahwa penggunaan gelar Yang Mulia dalam menu tersebut tidak sopan…”

Mungkin karena Eru tampak berafiliasi dengan kuil, tetapi pria paruh baya itu tampak agak canggung saat menjelaskan alasan diubahnya nama menu tersebut.

“Oh, hanya itu? Sungguh konyol. Kakak laki-lakiku tidak akan pernah terganggu oleh hal-hal seperti itu. Kalau boleh jujur, seharusnya kamu menegur betapa lancangnya para pendeta rendahan yang mempermasalahkan produk yang dinamai menurut nama paus,” kata Eru sambil mengangkat bahu dengan dramatis.

“Hah…?” Rio memandang mereka dengan bingung. Mata pria paruh baya itu juga membelalak karena terkejut.

“Hmm? Ada apa?” tanya Eru kepada Rio dengan nada santai.

“Maaf, aku hanya sedikit penasaran… Yang kamu maksud dengan ‘kakak laki-laki’ itu…?” tanya Rio dengan ragu-ragu.

“Oh, dia? Ya, maksudku paus Tonerico. Paus Fenris Tonerico. Bahkan seorang pelancong sepertimu pasti pernah mendengar namanya sebelumnya, kan?”

“Y-Ya…” jawab Rio, wajahnya berkedut karena pengungkapan yang mengejutkan itu.

“K-Keluarga sedarah Yang Mulia?! A-Aku minta maaf karena tidak menyadarinya lebih awal!” Pria paruh baya itu menjadi pucat dan langsung sujud dalam kepanikan.

Itu adalah reaksi yang sangat wajar; di Kerajaan Suci Almada, ada dua pemimpin: raja dan paus. Raja adalah penguasa politik, dan paus adalah penguasa spiritual. Paus memiliki kedaulatan penuh atas Kota Suci Tonerico, jadi wajar jika pria paruh baya itu merasa gentar di hadapan kerabat sedarah sang paus.

Aku sudah punya firasat bahwa mereka bukanlah orang sembarangan, tapi…

Bahkan Rio tidak menyangka bahwa mereka adalah kerabat langsung dari sang paus.

“Tolong, angkat kepalamu. Lagi pula, aku tidak diakui secara publik sebagai adik perempuan paus, jadi tidak apa-apa. Yah, lebih tepatnya aku tidak bisa diakui, tapi kamu tahu sendiri,” kata Eru kepada pria paruh baya itu tanpa rasa bersalah.

Adik perempuan. Jadi ternyata dia seorang gadis.

Fitur wajahnya yang kekanak-kanakan dan androgini membuat jenis kelaminnya sulit dikenali sekilas, namun sekarang semuanya sudah jelas. Tapi hal yang lebih mengganggu Rio saat ini adalah apa yang baru saja dikatakan Eru tentang diakui. Sebenarnya apa maksudnya?

“U-Um…” Pria paruh baya itu menjadi kaku, khawatir dia telah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.

“Jangan salah paham, ya? Kuil mengurus banyak panti asuhan di sekitar Kota Suci. Aku berasal dari salah satu tempat itu. Dan itu berarti… Apakah kamu tahu apa artinya itu?” tanya Eru, sengaja membuat kata-katanya bernada ambigu.

“Ah, tidak…” Tidak yakin bagaimana harus merespons, pria itu benar-benar bingung. Melihat itu, Rio memutuskan untuk memberikan bantuan.

“Itu berarti kamu bukanlah kerabat sedarah paus,” jawab Rio menggantikan pria itu.

“Tepat sekali. Itulah artinya.” Eru mengangguk dengan ekspresi puas. Rio berpikir Eru akan melanjutkan dengan kalimat “Itulah sebabnya kita tidak memiliki hubungan darah, jadi tidak perlu memperlakukanku begitu formal,” namun sebaliknya—

“Itulah yang telah diputuskan. Secara resmi, maksudku,” tambahnya dengan nada penuh teka-teki.

“…”

Ketegangan yang gugup melayang di udara. Ucapannya membuatnya semakin terdengar seperti sesuatu yang seharusnya tidak mereka ketahui.

“Pfft! Aha ha. Maaf, maaf. Itu cuma lelucon. Aku biasanya selalu mengurung diri di kamar, jadi sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengobrol dengan orang lain seperti ini. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda kalian.”

“Aku tidak akan bertanya berapa banyak dari ucapan itu yang merupakan kebenaran…” jawab Rio sambil menghela napas ringan.

“Ya, lakukan saja itu. Bagaimanapun juga, memang benar aku biasanya tidak pernah muncul di muka publik. Paus Fenris Tonerico tidak memiliki adik perempuan. Jadi, pastikan kalian menjaga kerahasiaan apa yang kalian dengar hari ini, ya? Jika kalian masih menyayangi nyawa kalian.”

“B-Baik! Tentu saja! Satu-satunya hal yang aku dengar hari ini adalah pesanan makananmu!” Pria paruh baya itu mengangguk dengan panik, terlihat kebingungan dengan cara yang tidak akan pernah disangka-sangka dari seorang pegawai restoran kelas atas. Hal itu sangat bisa dimaklumi mengingat situasi yang ada.

“Benar juga, kita tadi sedang di tengah-tengah memesan. Apakah kalian berdua punya sesuatu yang ingin kalian makan? Paeja adalah hidangan yang menggunakan sekam biji-bijian yang sudah ditumbuk. Ada banyak bahan lainnya di dalam sana, jadi hidangan itu cukup mengenyangkan. Buatlah pesanan kalian dengan memikirkan hal itu,” kata Eru, mengarahkan kembali pembicaraan kepada Rio dan Sora.

“Sekam biji-bijian yang ditumbuk? Begitu ya…”

Dengan kata lain, itu adalah hidangan nasi. Rio bisa membayangkan makanan yang akan segera disajikan.

“Master Rio, bolehkah Sora memesan daging?!” tanya Sora, menatap menu dengan antusiasme yang tidak bisa tenang.

“Tentu saja. Pesanlah sebanyak yang kamu mau.”

“Terima kasih banyak! Daging! Daging! Sora ingin steak sirloin. Lima ratus gram dengan tingkat kematangan medium rare, ya!” ucapnya, memesan kepada pria paruh baya itu dengan gembira. Dia sama sekali tidak terganggu oleh suasana berbahaya yang dapat dirasakan beberapa saat lalu.

“B-Baiklah. Dimengerti.” Pria itu mengangguk canggung, terkejut dengan sikapnya.

“Aha ha. Kamu begitu fokus pada makanan, Sora.”

“Tentu saja. Apa lagi yang perlu dipusingkan saat berada di restoran?”

“Tidakkah kamu peduli siapa diriku?”

“Hah? Sora peduli pada Dirimu sama seperti kepeduliannya pada cuaca seribu tahun lalu. Yang lebih penting, Sora tidak ingat pernah mengizinkanmu memanggil namanya,” bentak Sora dengan nada acuh tak acuh. Wajah pria paruh baya itu berkedut gugup membayangkan konsekuensi memprovokasi kerabat paus. Namun…

“Aha ha ha! Cuaca seribu tahun lalu, ya? Kamu hampir terdengar seperti hidup pada zaman itu. Kamu benar-benar orang yang menarik, Sora.” Eru tertawa girang, sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap Sora.

“Sora baru saja bilang untuk tidak memanggilnya dengan nama. Jangan bertingkah seolah kita berteman!”

“Aduh, jangan bilang begitu. Ayo kita berteman.”

Sora memiringkan kepalanya dan berkedip keheranan. “Hmm? Apa kamu baru saja bilang ingin menjadi teman Sora?”

“Yups. Aku sangat senang bisa bertemu seseorang yang baru untuk dijadikan teman. Sebagai sesama wanita dewasa, bagaimana menurutmu? Mau berteman?” kata Eru tanpa rasa malu sama sekali, menawarkan untuk menjalin pertemanan baru dengan Sora.

“…”

Bahkan ketika dia dekat dengan orang-orang, mereka akan selalu melupakannya. Karena itulah, Sora selalu menjauhkan diri dari orang lain—itulah yang dia lakukan selama seribu tahun setelah dia kehilangan Dragon King. Dan kecanggungan sosialnya membuatnya bingung harus berbuat apa sekarang. Karena tidak yakin bagaimana harus merespons, dia pun terdiam. Tapi kemudian…

“Bagaimana menurutmu, Sora? Aku pribadi ingin sekali melihatmu membuat lebih banyak teman,” kata Rio dengan penuh dorongan, sambil mengintip ke wajah Sora dari samping.

Lain cerita jika dia benar-benar terlihat benci dengan gagasan itu, tetapi jika Sora sebenarnya ingin mencari teman… maka Rio ingin mendukungnya. Bahkan jika temannya pada akhirnya akan melupakannya, itulah yang diyakini Rio dengan tulus.

“B-Baiklah… Jika itu yang Dra— Jika itu yang Master Rio inginkan, maka Sora akan membuat pengecualian untuk kali ini saja dan mengizinkanmu memanggilnya dengan nama. Ahem. Menjadi seorang wanita dewasa sepertinya tidak terlalu buruk juga,” kata Sora sambil berdehem kaku. Rona tipis di pipinya sepertinya bukan imajinasi Rio.

“Benarkah? Aku sangat senang. Mari berteman baik, Sora.”

“Ya. Tentu,” jawab Sora, menghindari tatapan Eru dengan malu-malu.

“Andai aku bisa bertemu kalian berdua lebih awal… Tapi itu berarti kita tidak akan bisa berteman seperti ini. Segala sesuatunya memang tidak pernah berjalan sesuai rencana.” Eru menatap ke kejauhan dan terkekeh dengan sedikit nada kesedihan.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Aku tidak bermaksud apa-apa yang mendalam. Ngomong-ngomong, ayo selesaikan pesanan kita dulu.”

Sora memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran, tetapi Eru dengan santai mengalihkan perhatiannya. Mereka melanjutkan untuk menyelesaikan pesanan makanan dan minuman mereka. Pria terhormat yang mencatat pesanan mereka dengan cepat meninggalkan ruangan, membiarkan mereka bertiga sendirian.

“Sekarang, kamu tertarik dengan sejarah negeri ini, kan? Apa secara spesifik yang ingin kamu ketahui lebih lanjut?”

“Benar…” Rio merenungkan bagaimana cara merangkai pertanyaannya sejenak.

“Oh, tapi sebelum itu—Rio, kamu bisa terus berbicara seperti saat pertama kita bertemu.”

“Tidak, aku tidak bisa melakukan hal seperti itu…”

“Tidak perlu ada formalitas di antara kita.” Eru tersenyum seolah dia bisa melihat langsung ke dalam hati Rio.

“Meskipun kau berkata begitu…”

Kita adalah orang asing yang baru saja bertemu—itulah kata-kata yang ditelan Rio dengan senyum bermasalah.

“Begitu ya… Memang benar kita baru saja bertemu, tapi aku tetap merasa ini bukanlah pertemuan pertama kita. Maafkan ketidaksopananku… Aku hanya kurang suka bersikap terlalu formal. Sora dan aku sekarang adalah teman, jadi aku akan senang jika kamu juga bisa berbicara kepadaku dengan lebih santai. Lagi pula, aku seharusnya terlihat tidak lebih dari seorang anak kecil di matamu, bukan?”

“A-ku mengerti… Bukan, maksudku aku mengerti. Apakah begini sudah tidak apa-apa?”

Rio mengalah dengan sedikit desahan dan mengubah cara bicaranya menjadi lebih terus terang.

“Baguslah. Sekarang, tanyakan saja! Apa yang ingin kamu ketahui?”

“Apakah ada catatan mengenai semua keabnormalan atau insiden aneh yang terjadi dalam seribu tahun terakhir?”

“Keabnormalan atau insiden aneh, hm? Itu pertanyaan yang agak samar. Sebelum aku menjawabnya, bolehkah aku bertanya seberapa banyak yang sudah kamu ketahui tentang bangsa dan negeri ini saat ini?” tanya Eru sambil meletakkan tangan di dagunya untuk berpikir.

“Kami baru saja tiba di kerajaan ini, jadi pengetahuan kami sangat dangkal. Sebagai contoh, kami tahu ada seorang paus yang memerintah Kota Suci ini alih-alih raja. Kami tahu bahwa kota ini dan labirinnya adalah sumber dari Perang Suci. Dan kami tahu bahwa guild petualang di sini adalah markas besar umum dari guild-guild petualang Strahl.”

“Begitu ya. Ada satu hal dalam daftar itu yang sangat krusial bagi sejarah negeri ini. Apakah kamu tahu apa itu?”

“Labirinnya, kurasa?”

Kota Suci dan kerajaan tersebut memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan labirin. Rio tidak ragu-ragu dalam memberikan jawabannya.

“Benar sekali. Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai dengan menengok kembali bagaimana labirin berperan dalam sejarah negeri ini. Pertama, Kerajaan Suci ini didirikan 950 tahun yang lalu.”

Ketika kerajaan tersebut pertama kali didirikan, Tonerico belum menjadi kota suci, dan paus belum ada. Sebaliknya, keluarga kerajaan dari kerajaan itulah yang memerintah negeri ini.

Eru langsung membahas tentang labirin. “Permata ajaib yang ditemukan dengan mengalahkan monster di labirin adalah sumber daya yang menarik, tahu. Raja tidak menginginkan apa pun selain menyimpannya untuk dirinya sendiri. Tapi labirin itu adalah tempat yang cukup unik. Kamu mungkin sudah tahu ini, tapi ada kalanya sejumlah besar monster meluap keluar.”

“Itu disebut bencana dungeon,” lanjutnya, “dan yang pertama setelah berakhirnya Perang Ilahi sangatlah besar. Menurut beberapa sumber, ratusan ribu monster dilepaskan dari labirin. Akibatnya, kota yang berada di sini sebelum Kota Suci musnah. Kerusakan menyebar di seluruh Kerajaan Suci Almada, yang pada akhirnya menyebabkan kekacauan di seluruh Strahl.”

Bencana dungeon pertama terjadi sekitar seratus tahun setelah berakhirnya Perang Ilahi, ketika Kerajaan Suci Almada baru berusia setengah abad.

“Setiap bangsa menjadi gempar, mengira bahwa Perang Ilahi ternyata belum berakhir. Mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tanpa para pemimpin mereka, para monster tiba-tiba jatuh ke dalam semacam kepanikan massal.”

Ini karena para monster tampaknya bergerak tanpa tujuan tertentu. Mereka tidak menyerang satu area dan mengubahnya menjadi markas berskala besar seperti yang mereka lakukan selama perang, melainkan berpencar di sekitar wilayah Strahl dan membentuk kelompok-kelompok kecil untuk ditinggali.

“Dan begitulah, orang-orang di seluruh negeri—dan di luar negeri—mulai mengungkapkan kritik dan ketidakpuasan mereka terhadap pengelolaan labirin oleh raja Almada.”

Tentu saja, umat manusia tidak punya cara untuk memprediksi pergerakan monster. Para monster telah berhamburan keluar dari labirin atas kemauan mereka sendiri, menyebar dan tinggal di mana pun mereka mau. Karena itu bukanlah fenomena yang disebabkan oleh Almada, negara-negara lain akhirnya memutuskan bahwa Kerajaan Suci tidak patut disalahkan.

Namun, tetap saja ada suara-suara kritik meskipun begitu. Apakah tidak ada tanda-tanda yang meramalkan apa yang akan terjadi? Tidakkah mereka bisa meramalkan peristiwa seperti itu?

“Yah, begitulah besar kerusakannya. Bahkan dikatakan bahwa semua monster di seluruh dunia saat ini berasal dari bencana dungeon yang pertama.”

Sudah sewajarnya jika semua ketidakpuasan dari kerajaan-kerajaan yang terkena dampak bencana dungeon diarahkan ke Kerajaan Suci Almada, tempat labirin itu berada.

“Raja pada masa itu pasti sudah sangat kebingungan. Jika bencana dungeon lainnya menyebabkan kerusakan di seluruh Strahl lagi, dia harus bertanggung jawab atas hal itu. Dia pasti sangat putus asa ingin melepaskan diri dari kewajiban mengelola labirin,” kata Eru dengan ekspresi geli. “Tetapi dia tidak bisa meninggalkannya. Negara pertama yang terkena dampak bencana dungeon adalah Almada, yang berbagi tanah tempat labirin itu berada. Selain itu, permata ajaib yang diperoleh dari monster labirin tetaplah sumber daya yang menarik.”

Itulah sebabnya Kerajaan Suci Almada harus terus mengelola labirin tersebut.

“Dan karena itulah, sang raja memikirkan sebuah ide. Meskipun dia tidak ingin mengelola labirin itu secara langsung, dia tetap menginginkan cara untuk meraup permata bertuah yang didapatkan di sana.”

Itu adalah cara berpikir yang benar-benar egois dan serakah.

“Itulah mengapa kepausan dan guild petualang didirikan. Kota Suci dipisahkan dari kerajaan menjadi wilayah otonom, dan pengelolaan labirin dipaksakan kepada paus. Petualang akan melalui guild petualang untuk menjelajahi labirin dan mengumpulkan permata berenergi.”

Kerajaan mengaudit guild petualang, tetapi administrasinya independen dari negara. Kerajaan telah berinvestasi dalam pendiriannya, tetapi tidak perlu bagi kerajaan untuk mendanai biaya administrasi lebih lanjut setelahnya. Itu adalah cara yang jauh lebih hemat biaya untuk membersihkan labirin daripada memobilisasi pasukan kerajaan.

Masalahnya adalah bagaimana mengarahkan permata berenergi yang dikumpulkan oleh guild petualang ke kerajaan, tetapi selama guild petualang Kota Suci ada di dalam kerajaan, ada banyak cara untuk mengatasinya.

Tanah di sekitar Kota Suci sangat asam dan tidak cocok untuk pertanian, sehingga mereka bergantung pada kerajaan untuk sumber daya pangan. Sama seperti bagaimana Kerajaan Suci tidak bisa bertahan tanpa Kota Suci, guild petualang tidak bisa eksis tanpa Kerajaan Suci.

“Tidakkah menurutmu ini adalah sistem yang dirancang dengan sangat baik?” kata Eru dengan bangga, hampir seolah-olah dia sendiri yang menciptakannya.

“Sekarang pertanyaannya adalah apakah ada catatan tentang kelainan atau insiden aneh yang terjadi dalam seribu tahun terakhir, kan? Hal pertama yang terlintas di benakku adalah bencana dungeon yang pertama. Apakah itu menjawab pertanyaanmu?” katanya, mengakhiri penjelasannya.

“Ya, itu sangat menarik untuk didengar. Ada beberapa hal yang kau sebutkan yang membuatku penasaran juga…”

“Tentu, silakan tanyakan.”

“Terima kasih. Kalau begitu yang pertama, kau bilang ada kalanya monster meluap ke luar labirin, tapi seberapa sering bencana dungeon itu terjadi?”

“Hmm. Bukan hal yang terlalu langka bagi monster untuk meluap dari labirin. Tapi agar hal itu terjadi dalam skala besar yang cukup untuk disebut sebagai bencana dungeon, kuqira itu terjadi sekitar sekali setiap seratus tahun atau lebih? Yang paling baru terjadi tiga puluh delapan tahun dan tujuh puluh lima hari yang lalu, kurasa.”

“Itu sudah cukup lama… Dan aku terkesan kau mengingat tanggal persisnya.”

“Bagaimanapun juga, aku adalah seorang sarjana. Aku cukup percaya diri dengan ingatanku—meskipun tidak sehebat para Wise Gods itu, tentu saja,” kata Eru dengan cekikikan yang memikat.

“Benar juga… Itu luar biasa. Kalau begitu, bolehkah aku bertanya seberapa besar luapan monster yang harus terjadi sebelum disebut sebagai bencana dungeon?”

“Tidak ada definisi pasti untuk itu. Dua ribu hingga beberapa ratus monster pernah dianggap sebagai bencana dungeon sebelumnya. Bahkan, itulah ukuran dari bencana yang terakhir.”

“Itu cukup kecil jika dibandingkan dengan bencana pertama yang terjadi.”

“Bencana pertama yang terjadi adalah kasus yang luar biasa. Bahkan bencana terbesar berikutnya setelah itu hanya berkekuatan beberapa puluh ribu saja. Ukurannya semakin lama semakin kecil, dan tidak pernah melampaui lima ribu dalam beberapa ratus tahun terakhir.”

“Begitu ya. Dan apakah monster meninggalkan labirin dalam jumlah yang lebih kecil merupakan hal yang hampir terjadi setiap hari?”

“Yup. Tapi untuk skala harian, jumlahnya mungkin sepuluh monster atau kurang dalam sehari. Kelompok yang terdiri dari beberapa puluh ekor paling banyak terbentuk sekitar sekali setiap beberapa bulan.”

“Begitu ya…”

“Apakah ada sesuatu yang kamu khawatirkan?” tanya Eru, sambil menatap wajah Rio.

“Aku hanya berpikir apakah ada pola yang disadari dari pergerakan monster-monster itu. Aku tahu kamu bilang mereka disimpulkan sebagai sejenis kepanikan kelompok, tapi bagaimana jika ada sesuatu yang bersembunyi di dalam labirin yang memerintahkan mereka?”

“Oh? Jadi kamu pikir ada sesuatu yang bersembunyi di dalam labirin selama lebih dari seribu tahun sejak akhir Perang Suci… Apakah itu yang kamu maksud?” tanya Eru, bibirnya membentuk senyuman geli.

“Ya. Jika sejumlah besar monster tetap berada di dalam labirin setelah Perang Suci berakhir, tidak aneh jika ada pemimpin berpangkat tinggi yang bersembunyi di antara mereka. Jika ada pola yang disadari dalam pergerakan mereka, itu bisa menjadi buktinya.”

“Menarik sekali. Pergerakan para monster itu benar-benar primitif. Mereka akan berkumpul bersama dan bertarung satu sama lain terkadang, tetapi mereka akan mengamuk dan menyerang tanpa pandang bulu jika melihat manusia. Tidak ada tanda-tanda kecerdasan atau pemikiran di balik pertarungan mereka yang buruk itu. Pendapatmu akan jauh lebih masuk akal jika ada tanda-tanda strategi atau niat dalam perilaku mereka.”

“Apa pendapatmu sebagai seorang cendekiawan, Eru? Saat kamu melihat kembali bencana dungeon selama seribu tahun terakhir, apakah kamu melihat adanya pola yang disadari?” tanya Rio, langsung pada intinya.

“Sebenarnya tidak ada cukup kasus untuk diteliti dengan benar. Untuk menentukan suatu pola, kamu harus menganalisis pergerakan monster di luar labirin. Tapi satu-satunya waktu para monster menang adalah bencana dungeon yang pertama. Dan aku baru saja memberitahumu bagaimana mereka bergerak, bukan?”

“Setelah kota di sini hancur, mereka berpencar tanpa target lain…”

“Benar sekali. Jika para monster berniat untuk menyerang permukaan, mereka akan membentuk pangkalan tepat di sebelah labirin. Namun, para monster saat itu tidak melakukannya. Mereka dengan membabi buta berpencar ke segala arah, mencari target berikutnya untuk diserang. Tidak ada komando atau kepemimpinan. Mereka semua bergerak ke arah yang acak. Apakah itu terdengar seperti mereka mengikuti sebuah rencana?”

“Tentu saja itu terdengar tidak mungkin…” jawab Rio sambil menghela napas. Hal itu tidak terdengar seperti sesuatu yang akan dilakukan oleh ahli strategi yang baik.

“Jika kamu melihat pergerakan para monster yang berhasil lolos, kamu akan mendapati bahwa mereka semua hanya mengamuk semau mereka. Tidak ada kerusakan yang mendukung anggapan bahwa mereka bergerak dengan pemikiran yang terencana, dan satu abad lagi berlalu sebelum bencana dungeon berikutnya terjadi. Itulah sebabnya para politikus pada masa itu dan para sejarawan yang datang setelah mereka semua menyimpulkan bahwa itu adalah sejenis kepanikan massal yang disebabkan oleh para monster.”

“Begitu ya…” kata Rio sambil memikirkan tentang labirin itu.

Apakah apa yang diramalkan oleh Lina sama sekali tidak ada hubungannya dengan labirin?

Masih ada sesuatu tentang hal itu yang mengganggunya.

Labirin itu berakhir di lantai sebelas. Sekilas, ada beberapa ribu monster di lantai sebelas, tetapi kami mengalahkan mereka semua. Apakah itu berarti tidak akan ada bencana dungeon lagi untuk sementara waktu?

Semakin ia memikirkannya, semakin tampak seolah-olah labirin itu tidak ada hubungannya. Faktanya, masuk ke dalam labirin dan membunuh begitu banyak monster lagi bahkan bisa jadi merupakan langkah yang buruk bagi mereka. Jika mereka menunda bencana dungeon, mereka secara tidak sengaja bisa saja berujung melanggar aturan yang melarang untuk mendukung kelompok atau individu tertentu.

Rio terdiam dengan ekspresi seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

“Kamu tidak yakin. Itulah yang dikatakan oleh wajahmu sekarang,” kata Eru, menebak dengan terus terang.

“Tidak, skenario terbaiknya adalah kalau itu bukan apa-apa. Rasanya hanya seperti kita telah mengabaikan sesuatu. Labirin itu sendiri adalah tempat yang penuh misteri…”

“Karena kita sudah berada di sini, aku juga akan menjawab pertanyaan apa pun yang kamu miliki tentang misteri labirin. Kamu mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti ini lagi, tahu?” kata Eru dengan senyuman yang memikat secara tidak menyenangkan.

“Terima kasih. Kalau begitu, yang pertama, tentang ekosistem di dalam labirin: ada begitu banyak monster yang berkumpul di dalamnya, namun tidak ada jejak peradaban apa pun. Aku tidak tahu apa yang dimakan oleh para monster itu, tetapi mereka tidak bertani atau beternak. Apakah mungkin mereka telah menciptakan pangkalan atau ruang tinggal di suatu tempat yang tidak diketahui oleh manusia?”

Setelah itu, percakapan berlanjut ke ekologi para monster. Monster adalah makhluk omnivora yang memakan segalanya mulai dari tumbuhan hingga bangkai yang membusuk. Ada banyak sekali laporan saksi mata tentang mereka yang memakan tanah dan batu di dalam labirin. Mereka tidak mengeluarkan kotoran apa pun, jadi mereka mungkin mampu mengubah semua yang mereka makan menjadi energi.

Wajah Rio berkedut saat ia mengetahui tentang cara hidup para monster itu. Sora juga memasang ekspresi jijik.

“Selain itu, monster memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, tetapi karena betina tidak memiliki payudara, sulit untuk membedakan jenis kelamin mereka sekilas. Ada teori yang menyatakan bahwa alasan mereka tidak memiliki payudara adalah karena anak-anak mereka tidak perlu menyusu. Sejak saat mereka lahir, anak-anak itu makan persis seperti orang dewasa.”

“Begitu ya… Bagaimana aku harus mengatakannya…”

“Ada apa?”

“Meskipun kita sama-sama organisme bipedal, mereka jelas telah berevolusi dengan cara yang sangat berbeda dari kita manusia. Seberapa keras lingkungan mereka hingga mereka harus berevolusi dengan cara seperti itu?” gumam Rio pelan.

“Oh? Lingkungan yang keras, katamu. Sungguh menarik sekali. Nah, itu pengamatan yang sangat tajam darimu. Seperti yang diharapkan darimu, Rio.”

“Benar sekali! Master Rio lebih bijaksana daripada siapa pun di dunia ini. Kerja bagus karena sudah menyadarinya, Eru,” kata Sora, menyetujui Eru dengan bangga.

“Aha ha… Terima kasih,” ujar Rio dengan malu-malu. Mereka adalah satu-satunya orang di ruangan itu, tetapi siapa pun yang melihatnya hanya akan melihat seorang pria yang dipuji oleh dua anak yang jauh lebih muda darinya.

“Menilai dari ciri-ciri biologis mereka, teorimu cukup tepat sasaran. Pertama-tama, para monster adalah penyusup dari dunia lain. Bagi mereka, dunia ini mungkin hanyalah lingkungan yang sangat keras,” tambah Eru sambil terkikik.

“Benar juga…”

Pertama-tama, monster adalah makhluk yang berubah menjadi debu saat mati, dan menjatuhkan permata bertuah mereka. Sudah wajar bagi mereka untuk berevolusi di lingkungan yang sangat berbeda dari organisme di dunia ini. Kalau dipikir-pikir, merupakan suatu keajaiban bahwa manusia dan makhluk lain dari Bumi maupun dunia ini telah berevolusi dengan cara yang begitu mirip.

“Terima kasih sudah menunggu.”

Tepat pada saat itulah makanan yang mereka pesan tiba.

“Wah! Sudah datang! Makanannya sudah datang!” seru Sora gembira mencium aroma daging yang menggiurkan.

“Mari kita lanjutkan ini setelah makan. Untuk sekarang, ceritakan lebih banyak tentang diri kalian sambil kita menikmati makanan kita.”

Dengan demikian, Rio dan yang lainnya mulai menyantap makanan mereka.

◇ ◇ ◇

Setelah itu, berbagai hidangan dibawa masuk dan ditata di atas meja.

“Nah, yang ini adalah paeja ala paus. Bukankah terlihat luar biasa?” kata Eru sambil memperkenalkan hidangan itu kepada mereka dengan bangga. Itu adalah wajan penggorengan yang bundar dan dangkal yang berisi nasi, daging, ikan, dan sayuran.

Aku tahu kan. Ini adalah “paella” yang kuenal.

Rio menatap paeja ala paus itu dan tersenyum senang. Sungguh, hidangan itu sangat mirip dengan hidangan Spanyol bernama paella dari Bumi. Rio sempat merasa curiga saat pertama kali mendengar Eru mendeskripsikan hidangan tersebut, tetapi dia tidak menyangka akan benar.

“Ya… Ini pasti akan terasa sangat enak. Aku yakin itu,” ucapnya dengan keyakinan penuh.

“Oh? Reaksi itu hampir terdengar seolah-olah kamu pernah makan paeja sebelumnya, Rio,” pancing Eru.

“Ya. Aku tidak bisa memastikannya sebelum memakannya, tapi aku pernah makan sesuatu yang mirip. Bagian yang gosong di bagian bawah adalah yang paling enak.”

“Oh! Kamu paham betul soal makanan. Kalau begitu, mari kita makan.”

“Baiklah. Aku rasa kamu juga akan menyukainya, Sora.”

“Sora menantikannya!” Mata Sora berkilau karena antusias saat dia menatap paeja itu.

“Kalau begitu, saya akan mulai menyajikannya,” kata seorang pelayan pria. Dia membawa sendok besar untuk membagi paeja tersebut menjadi porsi-porsi untuk mereka.

“Singkirkan sayurannya saat kamu menyajikan bagian Sora,” perintah Sora seketika.

“Baik, mengerti.” Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum.

“Oh? Aku tidak terkesan melihat seorang wanita dewasa begitu pilih-pilih makanan. Makanan itu ibarat kehidupan: ada manis dan asamnya. Mampu membedakan rasa-rasa seperti itu adalah bagian dari menjadi orang dewasa, Sora.”

“D-Diam kamu. Orang dewasa sejati hanya mengambil bagian-bagian yang enak saja.”

“Begitu ya. Ungkapan yang sangat pas.” Eru terkekeh geli mendengarkan perdebatan itu.

“Silakan dinikmati.”

Paeja dan hidangan lainnya disajikan serta diletakkan di atas meja di hadapan mereka.

“Terima kasih. Kami akan melayani sisanya sendiri, jadi Anda boleh pergi sekarang.”

“Baiklah.” Atas perintah Eru, pelayan itu meninggalkan ruangan.

“Sekarang, mari kita makan selagi masih hangat.”

“Yups.”

“Mari makan!”

Akhirnya tiba waktunya untuk makan; hidangan pertama yang secara alami dijangkau oleh mereka semua adalah paeja. Mereka menyendok nasi yang basah oleh kaldu ke atas sendok mereka dan membawanya ke mulut.

“Mmm!”

“Hmm…”

“Fiuh!”

Eru, Rio, dan Sora semua tersenyum puas.

“Benar kan… inilah rasanya! Inilah rasa yang ingin kuberikan pada kalian berdua untuk dicoba. Bagaimana menurutmu, Rio? Bagaimana rasanya dibandingkan dengan paeja yang kamu tahu?”

“Ya, ini lezat. Ada daging, makanan laut, dan sayuran di dalamnya, jadi kupikir rasanya akan sulit untuk disatukan, tetapi ini tercampur dengan sempurna. Tidak ada bau amis sama sekali, dan sangat mudah untuk dimakan.”

“Benar sekali. Paeja daging, paeja makanan laut, paeja sayuran; ada banyak variasi paeja di luar sana, tetapi gaya Paus memiliki campuran dari semuanya.”

Di samping percakapan tentang paeja yang terjadi antara Eru dan Rio, Sora sedang melahap makanannya hingga pipinya menggembung.

“L-Lezat! Ini enak sekali! Sora bisa makan nasi, daging, dan ikan ini selamanya!”

“Heh heh. Aku senang kamu menikmatinya, Sora,” kata Eru sambil tersenyum puas.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa mereplikasi rasa ini, tapi lain kali aku akan mencoba membuatkan paeja untuk kita, Sora. Paeja yang isinya hanya daging sepertinya enak.”

“B-Benarkah?! Terima kasih banyak!” Sora tersenyum lebar hingga telinga begitu mendengar bahwa paeja itu hanya akan berisi daging.

“Oh? Apakah kamu bisa memasak sendiri, Rio?” tanya Eru dengan mata membelalak karena penasaran.

“Ya. Yah, ini cuma hobi saja.”

“Kalau begitu, aku ingin sekali mencoba paeja buatanmu suatu hari nanti.”

“Ehm… Ya, kalau nanti ada kesempatan.”

Selama aku adalah seorang yang melampaui batas, kecil kemungkinan harapan itu akan terwujud, pikir Rio saat tatapannya sedikit goyah karena rasa bersalahnya.

“Kalau begitu, ini janji ya. Kamu harus mentraktirku paeja buatanmu suatu hari nanti. Sambil mengobrol seru seperti hari ini. Tentu saja, aku juga akan menyiapkan sesuatu sebagai rasa terima kasih.” Eru condong ke depan memasuki ruang pribadi Rio dan memintanya membuat janji.

“Baiklah, aku mengerti. Ini sebuah janji.” Meskipun itu adalah janji yang tak bisa dipenuhi, Rio tetap mengangguk.

“Kamu sudah setuju, ya? Seperti yang kubilang tadi, aku percaya diri dengan ingatanku. Aku tidak akan membiarkanmu beralasan kalau kamu lupa nanti.”

“Tentu saja,” kata Rio sambil tersenyum lirih.

“Oh, benar juga. Kamu tidak perlu membuat janji seperti itu sejak awal kalau aku menjadi istrimu saja. Dengan begitu, aku bisa makan masakan rumahan buatanmu setiap hari, kan? Aku tahu, bagaimana kalau aku yang menjadi ucapan terima kasih untuk paejamu itu?” ucap Eru tiba-tiba entah dari mana.

“Mrgh?!” Rio tersedak makanannya karena terkejut. Tak kalah kaget, Sora membeku di tempatnya dengan sendok yang menggantung di mulutnya yang terbuka.

“Jangan khawatir, kamu tidak akan merasa bosan dengan keberadaanku. Lagi pula, penampilanku juga lebih baik daripada orang kebanyakan,” kata Eru sambil menyibakkan ponianya untuk memperlihatkan wajahnya di baliknya.

Meskipun penampilannya masih muda, senyumannya tampak memikat. Wajah yang ia tunjukkan itu memang sangat rupawan. Dia tampak muda, namun kemudaan itu berpadu dengan kedewasaan yang akan membuat para pria dewasa berhenti dan menatap jika berpapasan dengannya di kota.

insert2

“E-Err…” Rio ragu-ragu, tidak yakin kata-kata apa yang harus digunakan untuk menolaknya.

“I-Istri Master Rio?! Omong kosong apa yang kau bicarakan, Eru?! Apa maksudmu?!” Sora tersadar dan berteriak.

“Yah, Rio itu tampan, kan?” kata Eru dengan sederhana.

“I-Itu…! Itu benar, kau benar soal itu. Setidaknya seleramu bagus.” Sora sudah siap untuk membentak Eru, tapi malah akhirnya mengangguk-angguk dengan ganas pada fakta yang tak terbantahkan.

“Bagaimana bisa kau menangkap seseorang yang begitu tampan tanpa mengucapkan sepatah kata pun tentang ketertarikan? Tidakkah kau pikir itu tidak sopan kepada Rio?”

“I-Itu… benar? Kau mungkin ada benarnya…”

Bagi Sora, Rio adalah seseorang yang pantas mendapat rasa hormat mutlak. Tidak mungkin dia tidak setuju dengan sesuatu yang memujinya. Eru telah melihat hal ini dan memanfaatkannya untuk keuntungannya, dengan mulus meredam semangat Sora.

“Ayo, kau masih belum menyentuh steakmu. Makanlah selagi masih hangat, atau rasanya tidak akan seenak ini.”

“S-Sora tahu itu! Semuanya karena kau mengatakan sesuatu yang aneh! Dasar…”

Sora memotong steak dengan pisau dan garpunya dan membawa daging itu ke mulut kecilnya.

“Wah… Aku sangat senang. Ini kebahagiaan…” Dia tersenyum bahagia.

Eru menurunkan poni rambutnya lagi dan menyeringai pada Sora. “Kamu membuat makanan terlihat lebih enak dengan caramu makan, Sora.”

Rio menghela napas pelan untuk mengusir kekesalannya.

“Kamu bisa memberiku jawabanmu tentang urusan istri saat kamu mentraktirku paejamu, Rio,” kata Eru dengan tawa nakal, membuatnya tidak jelas seberapa serius dia sebenarnya.

“Aha ha…” Rio tertawa sambil wajahnya berkedut. Mungkin karena dia berkeringat dingin, paeja yang dia gigit untuk menyembunyikan rasa canggungnya tidak terasa seenak sebelumnya.

◇ ◇ ◇

Sekitar satu jam berlalu. Meskipun ada momen selama makan yang membingungkan Rio, dia terus menanyakan berbagai hal pada Eru tentang labirin setelah mereka selesai makan. Setelah semua pertanyaan itu terjawab, mereka membayar tagihan dan meninggalkan restoran.

“Terima kasih untuk hari ini. Semua informasi itu sangat membantu,” kata Rio, menundukkan kepalanya pada Eru.

Eru menggelengkan kepalanya sambil tertawa. “Tidak apa-apa, aku sendiri juga sangat senang. Aku sangat senang bertemu kalian berdua hari ini. Aku ingin mengobrol lagi seperti ini lain kali kita bertemu.”

“Y-Ya… Lain kali…”

Sebagai makhluk transenden dan muridnya, Rio dan Sora tidak akan tinggal dalam ingatan Eru. Mereka memahami hal itu lebih baik daripada siapa pun. Rio setuju dengan Eru dengan senyum sedih sementara Sora menatapnya dengan ekspresi serupa.

“Tidak apa-apa,” kata Eru tiba-tiba.

“Hah?”

“Tidak perlu khawatir; kita pasti akan bertemu lagi. Kita sekarang sudah berteman, kan? Itu termasuk kamu, Sora,” katanya, menatap mereka berdua.

“B-Benar. Ya.” Kali ini, Rio bisa tersenyum dengan positif sambil mengangguk.

“Kalau aku melihat kalian berdua di kota, aku akan memanggil kalian. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku percaya pada ingatanku; aku tidak akan melupakan wajah kalian.”

“Begitu ya. Kami akan menantikannya, kalau begitu.”

“Aku juga. Jadi sampai bertemu lagi, Rio, Sora.”

Sora mengangkat bahu agak malu-malu. “Hmph. Sora akan mempertimbangkannya.”

“Aku tidak pandai dalam perpisahan yang emosional, jadi mari kita mengucapkan selamat tinggal dengan biasa saja.”

“Ya. Sampai jumpa…” Rio berbalik untuk pergi.

“Hei, Rio.”

Setelah mereka masing-masing berjalan beberapa meter, Eru berhenti dan memanggil punggung Rio. Saat Rio menoleh, Eru melanjutkan.

“Informasi yang kuberikan hari ini didasarkan pada lantai yang telah dicapai umat manusia. Aku tidak tahu bagaimana keadaan di lantai yang lebih dalam.”

“Ya…”

“Berbagai pertanyaan yang kau miliki tentang labirin… Para petualang Kota Suci menantang labirin siang dan malam untuk menjawabnya. Jika kau tertarik, kau harus turun ke labirin dan menyelidiki sendiri—sepuas hatimu,” kata Eru dengan tatapan yang sugestif.

“Benar. Aku akan mencobanya.”

“Maaf sudah menghentikanmu. Kali ini perpisahan yang sesungguhnya. Sampai jumpa lagi.”

“Ya.”

Kali ini, Rio dan Sora berjalan menjauh dari Eru. Ketika Rio menoleh nanti, Eru sudah tidak terlihat. Dia telah menghilang ke dalam kerumunan orang yang berjalan di kota.

“Itu sudah pasti, tanpa keraguan…”

Eru diam-diam mengamati Rio dan Sora tanpa sepengetahuan mereka. Dia bersembunyi di pintu masuk gang buntu, mengawasi kedua mereka.

“Dia orang yang berbeda yang memiliki kekuatan Raja Naga,” gumamnya dengan keyakinan. “Tapi…”

Sebuah pikiran tampak melintas di benak Eru saat dia memandang Rio dengan tatapan kosong. Akhirnya, Rio dan Sora melanjutkan berjalan dan menghilang ke dalam kerumunan.

“Sekarang… aku akhirnya di permukaan untuk sekali ini. Sebaiknya aku jalan-jalan dulu sebelum melapor ke kakakku.”

Eru terkikik gembira saat dia menghilang ke arah berlawanan dengan Rio.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted