Seirei Gensouki Volume 22 Bab 4: Kembalinya Celia Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 22 Bab 4: Kembalinya Celia Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 4: Kembalinya Celia

Pada hari yang sama ketika Rodania diserang oleh pasukan Kerajaan Beltrum, pada siang hari, kapal udara evakuasi dari pihak Restorasi tiba di ibu kota Galarc.

Namun, tepat sebelum kapal udara itu mendarat, seseorang yang lain tiba di pinggiran kota—Rio.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Celia dan Sora di atas kapal udara, dia telah menuju ke kota ibu kota, Galtuuk, mendahului mereka. Kemudian, dia mendarat di hutan yang jauh dari peradaban, tepat di sebelah sebuah mata air.

Seharusnya di sekitar sini… Dekat pohon itu.

Rio mendekati sebuah pohon tertentu dan memasukkan tangannya ke dalam sebuah lubang. Dia mengeluarkan topeng yang dapat menanggung penalti aturan dewa yang disembunyikan di dalamnya.

Dia telah meninggalkan topeng ini di sini demi Aishia. Dia tidak dapat mengenakan topeng dalam wujud rohnya, jadi dia meninggalkannya di sini. Dia telah memerintahkannya untuk menggunakan topeng ini jika sesuatu terjadi saat mereka terpisah, namun tidak ada tanda-tanda topeng itu digunakan—yang berarti tidak terjadi apa-apa.

“Haruto.”

Tepat pada saat itu, Aishia mewujud di samping Rio. Jiwa mereka terikat bersama melalui kontrak mereka, jadi dia telah merasakan kehadirannya begitu dia datang cukup dekat dengan ibu kota.

“Aishia. Sepertinya keadaan di sini tenang-tenang saja.”

“Yups… Tidak ada hal besar yang terjadi. Selamat datang kembali.”

Ada jeda singkat dalam kalimatnya saat dia mengingat kembali bagaimana Takahisa dan Aki tiba di Kastil Galarc kemarin.

“Di mana Sora?” tanya Aishia, sambil melihat-lihat sekeliling untuk mencarinya.

“Dia akan datang nanti. Kapal udara berssihir yang membawa Celia dan yang lainnya juga menuju ke sini. Banyak hal yang terjadi—akan kujelaskan semuanya, tapi pertama-tama… Dissolvo.”

Rio menggunakan Penyimpanan Ruang-Waktu dan mengeluarkan rumah batu itu, lalu meletakkannya di samping mata air.

“Ayo kita bicara di dalam,” sarannya. Ada beberapa hal yang harus dia jelaskan, termasuk bagaimana Celia mendapatkan kembali ingatannya tentang mereka.

“Baiklah. Aku juga harus menceritakan kepadamu tentang apa yang terjadi di sini.”

Dengan demikian, dalam waktu yang dibutuhkan Celia untuk tiba di Galtuuk, keduanya membahas apa yang telah terjadi pada diri mereka saat yang lain tidak ada.

◇ ◇ ◇

Beberapa menit kemudian, Rio telah selesai melaporkan kepada Aishia tentang apa yang telah terjadi di Rodania terlebih dahulu.

“Celia… mendapatkan kembali ingatannya?” Aishia mengerjap, memperlihatkan keterkejutan yang jarang terjadi pada dirinya.

“Bahkan kamu pun terkejut ya? Aku juga kaget. Tidak ada cukup waktu untuk berbicara dengan benar, tapi aku berhasil melakukan percakapan singkat dengannya.”

“Syukurlah…” Aishia tersenyum lega.

“Ya…” kata Rio pelan. “Sora akan tinggal di kastil bersamanya selama beberapa hari ke depan untuk bertukar informasi dengannya. Aku juga berharap Sora bisa mengenal yang lain.”

“Jika Sora ada di sana, semuanya akan aman. Dan jika Celia ada di sana, kita tidak perlu mengkhawatirkan Sora,” kata Aishia. Sora bukanlah yang terbaik dalam berinteraksi dengan orang lain, jadi perilakunya sedikit mengkhawatirkan saat dia sendirian.

“Aha ha. Itu benar. Bisakah kamu pergi memeriksa mereka nanti malam? Aku yakin Celia juga ingin menemuimu lagi.”

Jika dia mengenakan topeng itu, dia bisa menyembunyikan kehadiran rohnya saat dia mewujud. Bahkan jika Sara dan yang lainnya kembali ke mansion, mereka tidak akan menyadari ada roh kontrak yang menemui Celia secara diam-diam. Jikalau mereka berpapasan, Aishia bisa menyamar sebagai manusia di hadapan mereka.

“Yups. Aku juga ingin menemui Celia.”

Sepertinya itu bukan imajinasi Rio semata bahwa Aishia, yang biasanya tanpa ekspresi, tampak lebih bahagia hari ini.

“Jadi, apa yang ingin kamu diskusikan, Aishia?”

“Aki dan Takahisa datang ke kastil,” lapor Aishia, kali ini dengan sedikit raut wajah muram.

“Begitu ya… Bagaimana keadaan mereka?” Mata Rio terbelalak, tetapi nadanya terdengar tenang. Dari reaksi Aishia, tampaknya mereka bukan masalah besar dalam situasi saat ini.

Meskipun demikian, insiden yang disebabkan Takahisa di masa lalu melintas di benaknya, memberinya secercah rasa gelisah. Dan ada Aki yang juga harus dikhawatirkan. Rio menyadari bahwa keretakan antara Miharu and Aki berkaitan dengan eksistensi Amakawa Haruto.

Namun, dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk mengatasi hal itu. Meskipun dia memiliki ingatan Amakawa Haruto, dia tidak hidup sebagai Amakawa Haruto. Dia tidak bisa menjadi penengah di antara keduanya, yang membuatnya merasa tidak berdaya dan bersalah. Awan suram terus-menerus menggelayuti dirinya.

“Mereka berdua sudah merenung dan meminta maaf kepada Miharu dan yang lainnya. Miharu dan Aki sudah berbaikan dengan benar.”

“Baguslah kalau begitu,” jawab Rio. Meskipun dia tidak meragukan perkataan Aishia, dia merasa sulit mempercayainya tanpa melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

“Aki mungkin akan baik-baik saja sekarang.”

“Benarkah…?”

“Yups. Aku yakin.” Aishia mengangguk dengan mantap. Dia mungkin telah mengamati interaksi mereka dalam bentuk rohnya.

“Begitu ya…” Pada akhirnya, Miharu dan Aki berbaikan tanpa perlu dia melakukan apa pun. Tidak, sebenarnya dia memang tidak perlu melakukan apa pun sejak awal, jadi ini mungkin adalah hal yang terbaik.

Bagaimanapun juga, Aki membenci Amakawa Haruto. Dia pasti memiliki perasaan yang bertentangan terhadap Rio, yang memiliki ingatan Amakawa Haruto. Namun sekarang setelah Rio menjadi seorang transcendent, Aki telah kehilangan ingatannya tentang Rio. Dengan kata lain, dia telah lupa bahwa Rio memiliki ingatan Amakawa Haruto.

Jika itu adalah pemicu bagi Miharu and Aki untuk berbaikan, maka mungkin ada makna dari penghapusan keberadaannya. Rio berpikir dengan ekspresi wajah yang sedikit sedih.

Namun Aishia menepis pikiran negatifnya. “Aki telah melupakan Rio, tapi masih mengingat Amakawa Haruto. Selain itu, dia mengatasi perasaannya tentangnya. Bahkan jika dia mengingatmu sekarang, aku yakin jawabannya tidak akan berubah.”

“Kamu rasa begitu…?” Rasa cemas di dadanya terasa sedikit lebih ringan. Aishia mungkin telah membaca pikirannya dan mengatakan itu untuk meringankan beban di hatinya. Menyadari bahwa dia bukan tandingan Aishia, Rio tersenyum masam.

“Mereka akan mengamati situasinya lebih lanjut terkait Takahisa.”

“Jadi, bukan berarti fakta bahwa dia mencoba menculik Miharu telah dihapus…”

Meskipun hukumannya tampak sedikit ringan, dia adalah kakak laki-laki Aki dan Masato. Hukuman itu dijatuhkan dengan mempertimbangkan mereka berdua. Dia juga seorang pahlawan, sosok yang kepentingannya setara dengan raja dari sebuah kerajaan besar.

“Efek dari kehilangan ingatan tentangmu tampaknya lebih besar pada Takahisa. Dia sangat menyesali semuanya sekarang setelah dia melupakanmu, tapi aku tidak tahu bagaimana itu akan memengaruhi tindakannya mulai dari sekarang.”

Bagaimana jika Takahisa tiba-tiba teringat pada Rio? Dia bisa kembali ke dirinya yang dulu. Itulah analisis tersirat dari Aishia.

“Begitu ya…” Karena tidak bisa mengabaikan kekhawatirannya sepenuhnya, ekspresi Rio masih sedikit kaku. Namun, tidak masuk akal untuk menghukum Takahisa karena takut dia akan menimbulkan masalah baru sekarang setelah dia kehilangan ingatannya dan merenungkan perbuatannya.

Dengan tindakan-tindakannya yang dibatasi oleh statusnya sebagai makhluk transenden, tidak ada yang bisa Rio lakukan untuk mencegah Takahisa melakukan pelanggaran kedua. Yang artinya…

“Untuk saat ini, mari kita biarkan Celia mengawasi keadaan begitu dia kembali ke mansion. Jika dia tidak melihat adanya masalah, maka kita mungkin tidak perlu melakukan apa pun.”

Pada akhirnya, keputusan Rio adalah menunggu dan melihat.

◇ ◇ ◇

Kira-kira setengah jam setelah Rio tiba di Galtuuk, kelima kapal udara pelarian dari Restorasi tiba dari Rodania, mendarat di danau kota.

Itu adalah kunjungan mendadak, tanpa sarana untuk memberikan peringatan apa pun. Para pengungsi tidak dapat turun dari kapal secara bergerombol, jadi sejumlah perwakilan menuju ke kastil terlebih dahulu. Mereka adalah Christina, Duke Huguenot, dan ayah Celia, Roland, dan mereka didampingi oleh para penghuni kastil saat ini: Celia, Sara, Orphia, dan Alma. Sora juga bersama mereka saat mereka semua naik ke beberapa kereta kuda yang menuju ke kastil.

“Baiklah, jadi aku akan pergi bersama Putri Christina dan yang lainnya untuk menyambut Raja Francois begitu kita tiba di kastil.”

Di dalam kereta bersama Celia, Sara, Orphia, Alma, dan Sora, Celia memutuskan untuk pergi secara terpisah dari yang lain.

“Ya. Kami akan kembali ke mansion terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya kepada semua orang.”

“Terima kasih.”

“Bagaimana dengan dia?” tanya Sara, sambil menatap Sora. Dia sedang memikirkan apakah Sora akan pergi bersama mereka ke mansion, atau ikut dalam pertemuan dengan Celia.

“Apa yang ingin kau lakukan, Sora? Kau bisa menunggu di mansion terlebih dahulu,” tanya Celia, menatap Sora yang pendiam di sampingnya.

“Apa—! Kau mengharapkan Sora pergi ke tempat yang penuh orang asing sendirian?!” kata Sora, tampak jelas enggan dengan gagasan itu.

“Kau tidak akan sendirian, Sara dan yang lainnya akan bersamamu… Atau apa kau pemalu di hadapan orang asing, Sora?”

“S-Sora hanya tidak suka dikelilingi oleh orang asing yang memaksa Sora untuk berbicara. Tidak menyukai keramaian tidak sama dengan pemalu. Raja Naga mempercayakan Sora kepadamu, jadi uruslah Sora sampai akhir!”

Meskipun dia berkata begitu, Sora telah hidup sendirian di pegunungan selama lebih dari seribu tahun. Dia tidak akan pernah mengakuinya sendiri, tetapi sudah jelas bahwa dia pemalu dalam menghadapi orang baru. Hal itu membuatnya tampak setua penampilannya yang kekanak-kanakan.

“Sepertinya dia sangat melekat padamu,” kata Orphia sambil tersenyum.

“Begitukah menurutmu…?” Celia memiringkan kepalanya dengan canggung.

“I-Itu tidak benar!” Sora langsung memprotes.

“Ha ha, anak-anak memang mulai bersikap pemberontak pada usia seperti itu.” Alma terkekeh.

“Oh? Maksudmu seperti dirimu, Alma?”

“A-Aku selalu penurut.” Alma merengut mendengar godaan Sara.

“Sora juga penurut!” Dia menggembungkan pipinya sebagai bentuk protes.

“Tentu saja. Yah, kau boleh ikut denganku ke kastil, tetapi kau harus menunggu di ruangan lain selama pertemuan berlangsung. Kau tidak boleh berkeliaran di dalam kastil sendirian, paham?”

Celia memperingatkannya seolah-olah dia sedang berbicara kepada anak kecil.

“Sora tahu itu! Memangnya kau menganggap Sora siapa?!” Suaranya yang penuh semangat bergema di dalam gereta.

◇ ◇ ◇

Meskipun kedatangan mereka mendadak, Francois langsung menyetujui audiensi darurat dengan Christina dan yang lainnya. Begitulah parahnya situasi saat itu. Christina, Flora, Duke Gustav Huguenot, Count Roland Claire, Celia, Hiroaki, dan Roanna semuanya hadir. Sora sedang menunggu di ruangan lain di dekat situ.

Begitu pertemuan dimulai, Christina memberikan ringkasan singkat tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi hingga saat ini.

“Aku tidak pernah menyangka Rodania akan jatuh…” Raja Francois dari Galarc bergumam dengan ekspresi serius.

“Mereka pasti mengincar saat-saat kita lengah setelah penandatanganan perjanjian.” Christina mengerutkan kening.

“Meski begitu, tindakan itu tampaknya terlalu tergesa-gesa dan arogan. Mereka pasti memiliki tujuan yang sangat ingin mereka penuhi bagaimanapun caranya…” kata Francois, menatap Christina penuh arti.

“Barang itu berhasil dibawa keluar dengan selamat,” jawab Christina, menginterpretasikan pertanyaannya dengan akurat.

“Begitu ya…”

“Itu tentu saja merupakan langkah arogan untuk menyerang kota benteng dengan pertahanan berlapis, tetapi itu hanya menunjukkan seberapa besar keyakinan mereka bahwa mereka bisa menang melawan kita. Kekuatan sang pahlawan di pihak mereka cukup kuat untuk menjamin kemenangan mereka…”

“Kamu sempat menyebutkan bagaimana serangan pahlawan es itu membuat kalian terpojok…”

“Dalam satu gerakan, pahlawan es membekukan Ksatria Udara yang melindungi Rodania. Ratusan ksatria yang tersebar di langit musnah seketika,” kata Christina, menekankan kekuatan Renji.

“Sungguh luar biasa kuatnya…”

“Aku belum pernah melihat serangan berskala besar yang begitu mematikan. Jika itu digunakan di darat, serangan itu akan memusnahkan pasukan yang terdiri dari seribu prajurit.”

Sihir serangan tingkat tertinggi, yang ditujukan untuk pemusnahan berskala luas, paling banyak dapat melenyapkan dua hingga tiga ratus orang di area yang padat. Menurut Christina, serangan yang ditunjukkan Renji di Rodania besarnya beberapa kali lipat dari skala itu… berpotensi sepuluh kali lipat atau lebih.

“Jadi kekuatan pahlawan itu memang seperti yang tersirat dalam legenda… Hmmm… Hmmm?” Francois memiringkan kepalanya dengan ekspresi skeptis. Dia merasakan deja vu yang tiba-tiba. Dia tahu bahwa para pahlawan itu kuat, tetapi rasanya hal serupa pernah terjadi sebelumnya.

“Ada apa?” tanya Christina, mengamati ekspresi Francois dengan rasa penasaran. Perasaan deja vu itu dengan cepat menghilang.

“Tidak, bukan apa-apa. Ada hal lain yang ingin kutanyakan—Sir Hiroaki,” Francois memanggil Hiroaki disertai desahan prihatin.

“Apa?”

“Apakah Anda mampu memanipulasi serangan dengan skala sebesar itu?”

“Entahlah… Serangan yang digunakan keparat itu menutupi seluruh langit. Roanna bilang Yamata no Orochi output-maksimal milikku lebih kuat daripada sihir serangan tingkat tertinggi, tapi apakah itu bisa menutupi seluruh langit atau tidak adalah masalah lain…”

Hal itu kemungkinan besar tidak mungkin bagi Hiroaki. Dia tidak ingin mengakuinya dengan lantang karena kesal, tetapi ekspresinya dengan jelas menunjukkan kebenaran itu.

“Hmmm…” gerutu Francois sambil berpikir.

“Namun, naga air yang muncul di danau Rodania saat kita berangkat kekuatannya setara dengan serangan pahlawan es itu. Bukankah itu berarti Sir Hiroaki memiliki potensi untuk menggunakan serangan dengan skala yang sama?” ujar Adipati Huguenot, mengemukakan teorinya berdasarkan asumsi bahwa Hiroaki adalah orang yang bertanggung jawab atas kemunculan ular berkepala delapan di Rodania.

“Mungkin saja, tapi itu tidak ada artinya karena aku pingsan. Aku bisa mencoba melakukannya lagi, tapi…”

Terakhir kali dia mengeluarkan Yamata no Orochi, dia sudah cukup serius. Dia tidak yakin bisa menciptakan makhluk dengan skala beberapa kali lipat lebih besar dari itu.

Rio lah yang mengendalikannya…

Hanya Celia yang tahu kebenarannya. Namun, tidak akan ada yang mengerti jika dia mencoba menjelaskannya, dan itu justru akan semakin memperrumit keadaan. Dia menahan lidahnya karena kesal.

“Karena keadaan sudah menjadi seperti ini, kita mungkin perlu mengevaluasi ulang nilai dari kekuatan para pahlawan. Kita harus memberi tahu Lady Satsuki mengenai hal ini nanti, tetapi bagaimana menurutmu, Sir Hiroaki? Apakah kamu bersedia bekerja sama untuk melakukan pengujian guna mengukur tingkat kekuatanmu?”

“Tentu saja. Tapi di mana kita bisa melakukannya? Jika Anda ingin kami mengerahkan seluruh kemampuan, aku tidak menyarankan area halaman kastil.” Hiroaki menerima permintaan Francois dengan sigap.

“Dengan kekuatan sebesar itu, tentu saja kita tidak bisa mengadakannya di sini. Kita akan pergi ke luar ibu kota untuk melakukan pengujian apa pun. Apakah Anda setuju, Putri Christina?”

“Aku tidak keberatan.”

“Kalau begitu, aku akan mengaturnya dari pihak kami. Namun, pengujian tersebut harus diadakan secara rahasia. Tolong jangan menyebarkan berita ini ke tempat lain.”

Dengan demikian, diputuskan dengan cepat bahwa pengujian akan diadakan untuk mengukur kekuatan para pahlawan.

Sejujurnya, aku punya keraguan tentang hal ini…

Francois menghela napas lesu saat memikirkan hal itu di dalam hatinya. Dia tidak begitu antusias dengan gagasan tersebut karena dia tahu bagaimana orang bisa berubah ketika mereka memperoleh kekuatan yang sangat besar. Dan sebagai seorang raja, dia tahu persis bagaimana sekelompok orang dapat disalahgunakan oleh seseorang seperti itu.

Hingga saat ini, Francois telah menghindari penggunaan kekuatan pahlawan untuk kepentingan militer. Dia tidak merasa Satsuki perlu bertarung—terutama karena dia takut kepribadian Satsuki akan berubah jika dia mendapatkan kekuatan yang terlalu besar untuk dia tangani.

Selain itu, jika Satsuki mendapatkan kekuatan sebesar itu, perang faksi bisa muncul di sekitarnya, memaksa Satsuki untuk bertarung dalam perang demi kepentingan mereka. Hal itu bisa menyebabkan kepercayaan yang telah mereka bangun selama ini menjadi hancur.

Namun, dia tidak lagi bisa menutup mata terhadap masalah ini ketika ancaman pahlawan es membayangi Kerajaan Galarc. Sebagai pemimpin bangsa, dia harus memastikan mereka memiliki kekuatan pencegah yang cukup untuk melindungi kerajaan dari serangan. Bukan gagasan yang paling bijak untuk mempercayakan pertahanan kerajaan kepada satu orang saja, tetapi dalam situasi ini, Satsuki adalah satu-satunya orang yang mampu menjalankan peran tersebut.

“Menyampingkan masalah para pahlawan, apa rencana Restorasi selanjutnya?” tanya Francois kepada Christina. Dia mengerti bahwa mereka melarikan diri ke sini karena mereka tidak punya tempat lain untuk dituju.

“Saat ini ada seribu pengungsi yang menunggu di atas kapal udara sihir kami. Selama mereka berada di pihakku—tidak, bahkan jika aku harus melanjutkan semuanya sendirian, aku berniat menentang Duke Arbor sampai akhir.”

Meskipun kehilangan markas mereka, Christina tetap berniat untuk melanjutkan perjuangannya. Ada tekad yang tenang namun teguh di dalam matanya.

“Begitu ya.” Francois dapat melihat bahwa tidak ada cara untuk menggoyahkan keputusannya.

“Oleh karena itu, aku ingin mengesampingkan harga diri demi menyampaikan sebuah permintaan kepada Anda.”

“Apa itu?”

“Dengan jatuhnya Rodania, kami tidak punya tempat lagi untuk pergi. Maukah Anda memberi kami tempat untuk menjalankan kegiatan organisasi kami?” tanya Christina, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Permintaannya bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Celia, Flora, Roanna, dan Duke Huguenot semuanya ikut menundukkan kepala bersama-sama dengannya. Ayah Celia, Roland, yang seharusnya berada di posisi netral, melakukan hal yang pada akhirnya mendorong Hiroaki untuk ikut melakukannya juga.

“Hmm…”

Francois tidak langsung menjawab. Menyambut sisa-sisa kaum Restorasi ke dalam Galarc akan berakibat pada konfrontasi yang tak terhindarkan dengan Kerajaan Beltrum. Itu bukan masalah yang bisa ia putuskan dengan mudah sebagai seorang raja.

“Semua orang di sini adalah bangsawan atau pelayan yang berpendidikan tinggi. Kami semua akan mengerahkan kemampuan kami untuk melayani Kerajaan Galarc sampai hari di mana kami kembali ke Kerajaan Beltrum,” mohon Christina dengan putus asa, kepalanya masih menunduk rendah. Sebagai Putri Pertama dari negaranya, ia belum pernah harus membuat permintaan putus asa seperti itu sebelumnya dalam hidupnya. Namun, ia rela memohon agar permintaannya ini didengar.

“Tolong, jika Anda sudi mempertimbangkannya…” ucapnya dengan suara bergetar.

Jika Francois menolak, para pengungsi harus menghadapi pilihan untuk mati secara terhormat dengan mengakhiri hidup mereka sendiri, menyerah kepada pemerintah Beltrum, bertempur dalam perang yang sia-sia melawan Duke Arbor, atau berkeliaran sebagai pengembara. Tidak ada jaminan keselamatan bagi mereka jika mereka menyerah, dan jelas bahwa setiap pilihan menjanjikan masa depan yang berat.

“Aku akan mengatur akomodasi dan pekerjaan untuk rakyatmu untuk saat ini,” kata Francois perlahan. Entah ia menerima kaum Restorasi atau tidak, konfrontasi dengan Kerajaan Beltrum sudah tidak bisa dihindari.

“Terima kasih banyak!”

Udara yang berat itu langsung mencair. Suara Christina hampir pecah karena gembira saat ia mengucapkan terima kasih kepadanya. Yang lainnya membungkuk lebih rendah lagi untuk menyampaikan rasa terima kasih mereka. Namun…

“Ini masih terlalu dini untuk bersuka cita. Aku hanya akan membuat pengaturan bagi mereka yang tetap berada di pihak Restorasi. Bersiaplah menghadapi gaya hidup yang lebih keras daripada yang kalian jalani di Rodania,” tambah Francois. Ia tidak punya niat untuk melindungi siapa pun yang hanya datang untuk numpang makan gratis.

“Tentu saja, kami sudah sepenuhnya siap untuk itu.”

“Kalau begitu, aku akan memberi kalian waktu beberapa hari untuk menata diri. Selama waktu itu, kalian boleh meminjam wisma tamu sebagai tempat tinggal sementara. Akan ada orang-orang di antara kelompok kalian yang tidak lagi berstatus bangsawan di negeri ini. Pastikan mereka memahami hal itu ketika mereka memutuskan apakah akan tetap berada di pihak Restorasi atau tidak. Sementara itu, kami akan mengurus rincian persyaratannya dari pihak kami.”

“Aku tidak bisa cukup berterima kasih atas perlakuan yang begitu baik ini,” kata Christina, kembali menundukkan kepalanya.

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu juga?” tanya Roland sambil mengangkat tangannya.

“Silakan,” kata Francois.

“Aku berniat untuk kembali ke Kerajaan Beltrum,” ujar Roland dengan tenang. Anggota rombongan lainnya terkejut mendengar gagasan untuk kembali setelah mereka baru saja mengungsi.

“Tidak ada salahnya menyelidiki situasi di pihak mereka. Dan akulah satu-satunya yang bisa bergerak bebas untuk melakukan itu,” kata Roland, menjelaskan alasannya. Tentu saja, ia tidak berniat untuk menyerah, dan ia juga tidak akan berkhianat dengan meninggalkan pihak yang kalah lalu bergabung dengan Beltrum.

Roland adalah kepala keluarga bangsawan yang paling dekat kedua dengan keluarga kerajaan setelah keluarga Fontaine—keluarga Roanna—jadi tidak ada seorang pun yang meragukannya dalam hal itu.

“Karena perjanjian sebelumnya, maksudmu?” tanya Francois dengan ekspresi suram.

Perjanjian yang dia maksud adalah perjanjian yang dibuat antara Christina dan Duke Arbor mengenai faksi Restorasi dan pemerintah Beltrum. Dalam perjanjian tersebut, perlakuan terhadap keluarga Count Claire dinyatakan secara tersurat. Yaitu, sebagai imbalan atas kembalinya Charles Arbor ke faksi Restorasi, pemerintah Beltrum akan menjamin posisi dan keselamatan keluarga Count Claire. Orang-orang dari keluarga Count Claire juga akan bertindak sebagai utusan dalam komunikasi di masa depan antara Beltrum dan faksi Restorasi. Namun dalam situasi saat ini, seberapa baik posisi Count Claire dilindungi melalui perjanjian tersebut?

“Pihak seberang melancarkan serangan mendadak sebelum syarat-syarat perjanjian itu sempat dipenuhi. Cukup meragukan apakah mereka akan menepati sisa perjanjian itu.”

Christina amat meragukannya. Celia, putri Roland, juga merasa skeptis. Ekspresinya dipenuhi oleh rasa khawatir.

“Mungkin saja. Namun sebagai kepala keluarga count, tetap tinggal di Galarc bisa dianggap sebagai pengabaian terhadap posisi netralku. Itulah mengapa kurasa yang terbaik adalah kembali tanpa rasa malu! Ha ha ha!” Roland tertawa terbahak-bahak.

“Kalau begitu, aku juga sebaiknya tidak tinggal di sini…” ucap Celia, merenungkan apakah dia harus ikut kembali bersama ayahnya.

“Masalahnya terletak pada kita berdua yang tetap tinggal di tempat yang sama, Celia. Dengan salah satu dari kita tinggal bersama faksi Restorasi dan yang satunya lagi di Beltrum, kita bisa beralasan bahwa kita menempatkan personel di masing-masing pihak.”

Dengan Raja Francois dan orang-orang lain di sekitar mereka yang sedang mengawasi, Roland menahan diri untuk tidak memanjakan putrinya dengan nada bicara aslinya, tetapi dia tetap berbicara kepadanya dengan tatapan seorang ayah.

“Kalau begitu, aku bisa pergi sebagai gantinya…”

“Kamu begitu tenggelam dalam penelitianmu sejak usia muda, kamu tidak akan memiliki koneksi bahkan jika kamu pergi, bukan?”

“Itu…” Celia tidak dapat menyangkal hal itu.

“Ayah adalah yang paling cocok untuk peran ini. Akan ada hal-hal lain yang hanya bisa kamu lakukan juga.”

“Ayah…”

“Fokuslah pada hal-hal yang bisa kamu lakukan di sini di Galarc. Mengerti?”

“Aku mengerti…”

“Kalau begitu, aku akan kembali ke Beltrum. Paling cepat besok pagi, jika memungkinkan. Apakah Yang Mulia menyetujuinya?”

Dengan berakhirnya percakapan antara ayah dan anak itu, Roland beralih untuk meminta persetujuan Christina.

“Baiklah…”

Dengan demikian, diputuskan bahwa Roland akan kembali ke Kerajaan Beltrum seorang diri.

◇ ◇ ◇

Kira-kira satu jam setelah pertemuan antara pihak Restorasi dan Francois dimulai, Satsuki dan kelompok Galarc selesai menerima pembaruan tentang berbagai kejadian dari para gadis bangsa spirit di ruang makan mansion.

Suasana dipenuhi oleh keheningan yang pekat. Takahisa telah menyusul Lilianna ke mansion sebelumnya, jadi mereka berdua juga hadir di sana.

Satsuki, Miharu, Aki, Masato, dan Takahisa semuanya lahir dan dibesarkan di Jepang tanpa pengalaman perang. Ekspresi mereka tampak kaku selama mendengarkan Sara berbicara, dan hingga kini pun masih tetap kaku.

“Perang tidak pernah menyenangkan,” ucap Gouki sambil menghela napas, menebak apa yang sedang mereka pikirkan. “Perang akan memengaruhimu entah kamu ingin menjadi bagian darinya atau tidak. Terkadang perang bahkan memengaruhimu saat kamu sama sekali bukan bagian darinya. Setidaknya, begitulah rasanya.”

Sebagai seorang prajurit veteran yang telah berpartisipasi dalam berbagai peperangan, kata-katanya berasal dari pengalaman nyata.

“Aku setuju… Aku tidak pernah menyangka Celia dan yang lainnya akan ikut terseret dalam perang.” Satsuki mengerutkan kening dengan pahit. Dia tahu bahwa hubungan antara Beltrum dan pihak Restorasi tidak begitu baik, tetapi dia tidak menduga hal itu akan berkembang menjadi konflik sungguhan.

Pendapatnya itu mungkin dipengaruhi oleh latar belakang dibesarkan di lingkungan yang damai, tetapi seperti yang dikatakan Gouki, rasanya dia sekarang juga ikut terpengaruh oleh berbagai hal tersebut.

“Aku sangat lega kalian semua kembali dengan selamat… Terima kasih karena sudah kembali, Sara, Orphia, Alma.” Latifa menyambut kepulangan mereka dengan ekspresi penuh emosi.

“Suzune…”

“Terima kasih.”

“Benar.”

Ketiga gadis ras roh itu tersenyum bahagia.

“Perang itu—sungguh tak termaafkan. Seharusnya hal itu tidak terjadi. Kejadian-kejadian selama perang biasanya akan dianggap sebagai kejahatan. Membunuh begitu banyak orang dan memaksa tunduk lewat kekuatan mentah adalah hal yang mutlak salah.”

Takahisa menyatakan rasa jijiknya terhadap perang dengan nada penuh kemarahan yang intens. Sulit dipercaya bahwa ini adalah orang yang sama yang pernah mencoba membawa Miharu ke Kerajaan Centostella dengan menggunakan kekerasan, tetapi menunjukkan hal itu sekarang hanya akan mengalihkan pokok permasalahan.

“Benar… Aku setuju dengan sentimen menentang perang,” kata Satsuki dengan nada yang lebih tenang.

“Pembunuhan itu kejahatan. Itu adalah kejahatan mutlak. Perang yang mempromosikan pembunuhan orang pun sama jahatnya…” gumam Takahisa pada dirinya sendiri. Cara dia mengecam pembunuhan dan perang telah melampaui ranah nilai-nilai moral, hampir menyerupai semacam dendam kesumat yang berakar mendalam. Rasanya seolah-olah pikirannya sedang dikuasai oleh pikiran-pikiran negatif.

“Ada apa, Sir Takahisa?”

Lilianna menyadari reaksi tidak normal itu dan mengamati wajahnya dari kursi di sebelah Takahisa.

“Ah, Lily…” Takahisa tersadar kembali.

“Tidak, aku hanya memikirkan mengapa manusia sanggup memulai perang demi keuntungan mereka sendiri. Bagaimana bisa mereka memilih untuk membunuh orang lain tanpa ragu-ragu? Past ada yang tidak beres dengan diri mereka jika mereka bisa menemukan kegembiraan dalam keuntungan dari membunuh orang lain. Hanya sampah terendah yang akan melakukan hal seperti itu untuk mengacaukan ketertiban. Bukankah begitu?”

Dia berbicara tentang rasa keadilannya sendiri, mengekspresikan kebenciannya terhadap perang.

“Aku tidak akan menyangkal hal itu. Namun, perang akan tetap terjadi bagaimanapun juga. Kita umat manusia berjalan di atas sejarah yang berlumuran darah, dan penting bagi kita untuk tidak menutup-nutupi hal itu. Aku bertanya-tanya apa yang diperlukan untuk melenyapkan semua perang di dunia ini.”

Lilianna menghindari untuk langsung menyetujui perkataan Takahisa dan menyinggung berbagai perang yang telah dilalui umat manusia hingga saat ini. Kemudian, ia tersenyum masam.

“Hanya orang-orang yang tidak memahami penderitaan orang lain yang menciptakan perang. Mereka tidak hidup dengan kepedulian yang cukup terhadap sesama. Begitu banyak orang yang mati saat perang, namun mereka yang selamat tertawa tanpa beban begitu perang usai. Itu bodoh,” kata Takahisa dengan ekspresi pahit.

“Hmm… Aku mengerti apa yang kamu maksud, tapi… itu semua tergantung bagaimana kamu melihatnya, bagaimana perasaanmu tentang hal itu, dan seberapa kuat hatimu, kurasa. Dan itu berbeda-beda pada setiap orang. Tidak harus berupa perang untuk membuat sesuatu yang menyakitkan terjadi pada seseorang, dan tidak ada yang salah jika mereka mencoba bangkit kembali dan menjalani keseharian mereka dengan senyuman… Kamu tidak akan pernah tahu jika mereka hanya tampak baik-baik saja dari luar…” Satsuki tampaknya memiliki pendapatnya sendiri tentang pandangan Takahisa. Namun, ia kesulitan merangkai pikirannya saat itu juga dan tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat.

“Apakah boleh bagiku merasa bahagia karena Sara dan Celia serta semuanya kembali? Seharusnya boleh… Kan?” tanya Latifa dengan raut khawatir.

Dia merasa senang karena semuanya telah kembali dengan selamat. Itulah emosi terkuat yang bergejolak di dalam dirinya. Namun di saat yang sama, pasti ada banyak orang yang tewas dalam pertempuran tersebut.

Jadi, apakah dia diizinkan untuk bersukacita atas kembalinya teman-temannya dengan selamat, ataukah itu tindakan yang tidak bijaksana? Setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Takahisa, dia mulai meragukan dirinya sendiri.

“Dengar, itulah kenapa kamu tidak bisa mengatakan hal seperti itu. Ketika orang-orang yang penting bagimu kembali hidup-hidup, kamu berhak merayakannya. Kamu berhak untuk tersenyum. Bukan berarti kamu tertawa tanpa beban… Langsung mengambil kesimpulan dan menyebut orang lain tidak bijaksana sebelum mendengarkan mereka adalah hal yang justru memicu konflik sejak awal.” Satsuki menghela napas, masih belum bisa mengumpulkan pikirannya.

“Saya yakin Anda diizinkan untuk merayakannya, Lady Suzune, Satsuki,” ucap Gouki dengan jelas, menghilangkan keraguan di hati Latifa dan Satsuki.

“Gouki…”

“Bersukacita atas kembalinya seorang teman dan meratapi mereka yang telah tiada adalah perasaan yang bisa berdampingan. Merasa lega karena melihat seorang teman hidup-hidup bukan berarti kamu tidak peduli pada mereka yang telah gugur.”

Gouki memberikan nasihatnya sebagai seorang pemimpin dalam hidup, yang telah melihat banyak orang dengan kekhawatiran serupa hingga sekarang. Ditambah lagi—

“Ada mereka yang bertarung untuk melindungi lalu tewas, dan ada mereka yang dilindungi lalu kembali. Oleh karena itu, mereka yang telah gugur harus dipuji atas pengorbanan mereka, dan mereka yang kembali harus dirayakan. Jika tidak, mereka yang tewas tidak akan bisa beristirahat dengan tenang. Setidaknya, itulah pandangan pribadinya,” pungkasnya.

“Rasanya kamu menjelaskan semuanya dengan sempurna. Terima kasih.”

Satsuki memberinya tepuk tangan pelan penuh takjub.

“Aku hanya hidup lebih lama dari kalian semua. Aku pernah berpartisipasi dalam perang dan menyaksikan akhir dari banyak orang di medan perang. Aku juga telah membunuh orang lain saat pertempuran… Tapi itu sedikit terlalu kejam untuk dibicarakan di meja makan. Maafkan aku.”

Gouki memasang tatapan jauh di matanya saat berbicara, tetapi ucapannya yang hampir keceplosan itu membuatnya buru-buru menarik kembali kesadarannya.

“Itu juga terlalu menggurui dan bertele-tele. Mohon maafkan kami, semuanya.” Kayoko menghela napas jengkel sambil menundukkan kepalanya di samping Gouki.

“Bwa ha ha, itu mungkin benar.” Gouki tertawa terbahak-bahak. Pertukaran antara pasangan suami istri itu melenyapkan suasana suram di dalam ruangan.

“Baiklah. Ayo kita rayakan kembalinya Celia saat dia kembali, Suzune.”

“Yup!” Semua jejak keraguan menghilang dari ekspresi Satsuki dan Latifa.

“Aku akan membuat makanan hangat malam ini… Yang terbaik yang bisa kubuat!” umum Miharu dengan antusias. Dia juga ingin merayakan kembalinya Celia dan para gadis rakyat roh.

“Oh, kalau begitu aku akan bantu, Miharu,” tawar Orphia seketika.

“Tapi makanannya kan untuk merayakan kepulangan kalian…”

“Tidak apa-apa, aku ingin melakukannya. Sama seperti biasanya, kan?”

“Begitu ya. Baiklah.” Miharu mengangguk senang.

“Aku juga akan bantu! Ayo kita buat sesuatu bersama-sama lagi, Aki. Seperti sebelumnya, kan?”

“Yup. Baiklah.” Aki juga mengangguk senang atas ajakan Latifa. Para gadis lainnya pun menawarkan diri untuk ikut ambil bagian secara bergiliran, dan pada akhirnya diputuskan bahwa semua orang akan memasak bersama seperti biasa.

“Rumah besar ini bagus… Semuanya begitu hangat, seperti sebuah keluarga. Itu membuatku ingin tinggal di sini selamanya,” gumam Takahisa dengan penuh iri. Hanya Lilianna dan Masato, yang duduk di kedua sisinya, yang mendengarnya.

Tepat pada saat itu, sejumlah orang memasuki ruang makan. Mereka adalah Celia, Roland, dan Sora, yang baru saja kembali dari pertemuan di kastil.

“Kami pulang… Ah, semuanya ada di ruang makan seperti yang kuduga.” Celia melihat wajah-wajah akrab yang berkumpul di ruang makan dan merasa lega.

“Selamat pulang, Celia.” Semua orang menoleh ke arah Celia dan menyapanya dengan gembira.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Entah kenapa, suasananya terasa sedikit berbeda dari biasanya. Celia mengerjap ke arah mereka dengan bingung.

“Semua orang hanya senang kau pulang dengan selamat,” jawab Charlotte sambil terkikik.

Celia tersenyum lembut. “Putri Charlotte… Terima kasih banyak.”

“Selamat siang, Count Claire. Aku mendengar tentang apa yang terjadi di Rodania. Silakan buat diri Anda merasa nyaman malam sepertinya semua orang akan memasak makan malam bersama.”

Charlotte berbicara seolah-olah sudah diasumsikan bahwa Roland akan menginap. Dia telah membuat pengaturannya begitu Roland tiba bersama Celia.

“Terima kasih atas perhatiannya…” Roland meletakkan satu tangan di dadanya dan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.

“Omong-omong, siapa itu?” tanya Satsuki setelah melihat Sora, yang sedang bersembunyi di belakang Celia.

“Oh, benar juga. Kita belum menjelaskan hal itu.” Sara tiba-tiba teringat apa yang gagal ia jelaskan. Ia tidak sepenuhnya lupa, tetapi itu mungkin merupakan gejala dari aturan dewa yang sedang berlaku.

“Tidak apa-apa, aku bisa menjelaskannya,” kata Celia kepada Sara. “Ini Sora. Dia terpisah dari wali selama kekacauan di Rodania dan akan berada di bawah perawatanku untuk sementara waktu. Apakah boleh baginya untuk tinggal di mansion ini bersama kami? Ada ranjang kosong di kamarku, jadi dia bisa tinggal bersamaku.” Setelah memperkenalkan Sora kepada semuanya, dia beralih untuk meminta izin kepada Charlotte. Meskipun pemilik resmi mansion itu adalah Satsuki, keputusan seperti ini harus melalui Charlotte. Tatapan semua orang tertuju pada Sora.

“Hmph…” Sora tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, jadi dia dengan cepat bersembunyi di balik Celia. Hal itu tampaknya membangkitkan dorongan melindungi dalam diri Satsuki, yang bangkit dari kursinya dan mendekati Sora. Dia berjongkok dan tersenyum padanya dari ketinggian mata yang sama.

“Huh… Anak yang manis sekali. Aku Satsuki. Senang berkenalan denganmu, Sora.”

“Dia menggemaskan! Omong-omong, aku Suzune!”

“Dan aku Komomo!”

Dua orang yang paling muda berinisiatif untuk bangkit dari tempat duduk mereka dan berkumpul di sekitar Sora. Yang lainnya juga tertarik untuk berdiri dan membentuk lingkaran yang mengelilingi mereka. Semua orang menatap penampilan masa kecil Sora yang menggemaskan dengan tatapan penuh kasih.

“Oh…?” Gouki and para orang dewasa dari Yagumo membelalakkan mata karena penasaran. Nama Sora terdengar seperti nama dari tanah air mereka, dan pakaian yang dikenakannya pun mirip dengan yang dikenakan di wilayah Yagumo.

“Argh, betapa menyesakkan! Menjauhlah, menjauhlah! Berhenti melihat Sora! Usst!”

“H-Hei…” Sora mencengkeram Celia dan menggunakannya sebagai perisai untuk menjaga jarak dari mereka yang mendekatinya.

“Tidak apa-apa, tidak perlu takut,” kata Latifa. Dia menjulurkan kepalanya dari samping Celia dan mencoba mengintip wajah Sora bersama Komomo.

“Hssh!” Sora mendesis kepada mereka seperti kucing yang sedang waspada.

“Imut sekali!”

Sepertinya Sora berhasil merebut hati semua orang.

“Seperti yang kalian lihat, mulutnya sedikit tajam… Tapi dia orang yang baik, jadi mohon beri dia sedikit kelonggaran. Ayo, kamu juga harus menyapa semua orang dengan benar.” Celia menundukkan kepalanya, lalu membuat Sora berdiri di sampingnya.

“Hmph… Mohon jaga Sora.” Sora membungkuk dengan setengah hati.

Satsuki langsung menoleh ke arah Charlotte. “Mari kita tampung dia, Char.”

“Aku tidak keberatan. Mansion ini juga rumah Lady Celia,” setuju Charlotte dengan sigap.

“Terima kasih banyak.” Celia dengan lembut mendorong punggung Sora dan membuatnya ikut menundukkan kepala bersamanya.

“Ngomong-ngomong, apakah Ayase Miharu ada di antara kelompok ini?” tanya Sora sambil melihat sekeliling ruangan. Dia baru saja teringat bahwa Ayase Miharu adalah reinkarnasi dari Tujuh Dewa Bijak Lina.

“Um, itu aku…” Miharu mengangkat tangannya dengan rasa penasaran. Dia belum memperkenalkan dirinya, tetapi dia sudah dipanggil namanya. Sora berjalan langsung menghampirinya.

Wanita ini adalah reinkarnasi Lina.

Sora melotot tajam ke arah wajah Miharu dari jarak dekat, tetapi karena penampilannya yang muda dan menggemaskan, sama sekali tidak ada kesan mengancam dari gestur tersebut.

insert5

“Apakah kamu benar-benar sudah melupakan segalanya? Apakah tidak ada yang tersisa sama sekali?” tanya Sora.

“Um… Apa maksudmu?” Miharu memiringkan kepalanya dengan bingung.

“Kamu benar-benar seperti orang yang berbeda,” gumam Sora.

“Hmm?”

Semua orang merasa bingung mengapa Sora mengetahui nama Miharu dan apa yang sedang dibicarakannya.

“Ehm, aku memberi tahu dia nama semua orang di perjalanan tadi. Tapi, ada apa, Sora?”

Celia sama bingungnya dengan yang lain, namun dia berhasil mengarang kebohongan di tempat untuk meredakan kecurigaan terkait penyebutan nama Miharu. Kendati demikian, hal itu tidak menjawab pertanyaan Celia sendiri. Dia menatap wajah Sora untuk mencari kebenaran.

Sora menggelengkan kepala sambil mendesah. “Bukan apa-apa.”

“Ngomong-ngomong, pakaian itu menyerupai busana dari wilayah Yagumo. Boleh aku tahu dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Gouki, menyuarakan ketertarikannya pada pakaian Sora.

“Ini… dibeli dari sebuah pasar saat Sora sedang bepergian.”

Sora tinggal di puncak gunung yang menghadap ke sisi Yagumo di Wilderness, dan pakaiannya didapatkan pada beberapa kesempatan langka ketika dia turun untuk membeli barang-barang dari Yagumo. Namun, mengatakan yang sebenarnya hanya akan menimbulkan masalah, jadi dia menghilangkan sebagian besar penjelasannya. Itu adalah sesuatu yang dia beli dari pasar di wilayah Yagumo, jadi dia juga tidak berbohong.

“Oh? Kalau begitu, itu pasti dibuat oleh keturunan seseorang yang mengembara ke sini dari wilayah Yagumo.” Gouki mengangguk, menarik kesimpulannya sendiri dari jawaban itu.

“Satu hal lagi, kulihat Aki telah kembali,” kata Celia, menoleh ke arah Aki. Dia sudah menyadari keberadaan Aki di dalam ruangan tadi, tetapi belum ada kesempatan untuk membahasnya sampai sekarang.

“Benar, kami juga terkejut saat baru saja kembali tadi.”

“Mereka tiba di Galarc kemarin.”

Orphia dan Miharu memberi tahu Celia tentang apa yang telah terjadi. Dari cara Miharu melingkarkan lengannya dengan lembut di bahu Aki, Celia merasakan bahwa mereka telah berbaikan.

“Begitu ya… Halo, Aki. Senang bisa bertemu denganmu lagi.”

“Aku juga merasakan hal yang sama… Maaf atas semua kehebohan ini.” Aki menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.

Celia tersenyum lembut padanya. “Jika kalian sudah berbaikan, maka aku tidak punya hal lain untuk dikatakan. Aku ikut senang untuk kalian.”

“Aki, siapa ini?”

Tepat pada saat itu, Takahisa mendekati Aki, ingin diperkenalkan kepada Celia.

“Oh, Takahisa. Ini Celia. Kami berada di bawah perawatannya sebelum perjamuan terjadi.”

“Eh?” Celia terkejut saat mendengar Aki memanggilnya Takahisa. Dia telah mendengar tentang kejadian di perjamuan itu setelah semuanya usai. Yaitu, bagaimana Takahisa takut kalau Rio dan Miharu akan bersatu dan mencoba menculik Miharu demi mencegah hal itu terjadi.

“Halo, salam kenal. Aku Sendo Takahisa, kakak laki-laki Aki.” Takahisa memperkenalkan diri dengan senyum cerah, sama sekali tidak menyadari ekspresi kaku Celia atau merasa malu atas perilaku masa lalunya.

“Ah… Aku Celia. Salam kenal juga.”

Eh? Apa yang terjadi di sini? Apa artinya ini? Kenapa dia bertindak begitu ceria dan riang setelah apa yang dia perbuat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi kepala Celia, membuatnya nyaris di ambang kehancuran. Tapi dia tidak dilahirkan sebagai seorang bangsawan secara percuma. Dia entah bagaimana berhasil memaksakan kata-katanya keluar dengan senyuman yang canggung.

Apakah karena dia lupa pada Rio? Apakah itu sebabnya dia datang ke sini bersama Aki?

“Aki dan Masato sangat baik kepadaku. Senang berkenalan denganmu, pahlawan agung.” Celia menebak alasan kenapa Takahisa ada di sini, menenangkan dirinya, dan menyapanya dengan baik.

“Panggil saja Takahisa—tidak perlu memanggilku dengan gelar itu. Senang rasanya melihat Aki mendapatkan teman seumuran.” Takahisa menggaruk pipinya dengan malu-malu.

“Celia lebih tua darimu, Takahisa,” kata Aki dengan nada jijik.

“Tunggu, benarkah?!” Dia mengira Celia lebih tua daripada Aki, tetapi lebih muda darinya. Takahisa menatapnya dengan terperangah.

“Usiaku akan menginjak dua puluh satu tahun tahun ini.”

“Dua puluh… Dua puluh… Hah…?”

Takahisa menatap Celia dengan tidak percaya. Bagaimanapun dia melihatnya, Celia sama sekali tidak tampak lebih tua dari anak SMP kelas dua atau tiga.

“Halo, aku ayah Celia, kepala keluarga Count Claire, Roland. Merupakan suatu kehormatan bisa bertemu dengan pahlawan agung dari Kerajaan Centostella.” Roland menyela percakapan mereka seolah-olah untuk menghentikan Takahisa mendekati putri tercintahnya.

“S-Salam kenal, Count Claire.” Takahisa menciut mendengar aura intimidasi Roland.

Melihat pemandangan itu membuat Satsuki menghela napas. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Putri Christina dan Putri Flora? Apakah kesehatan mereka baik-baik saja?” tanyanya kepada Celia.

“Ya, keduanya tampak baik-baik saja di luar. Tapi aku khawatir keduanya mungkin agak syok dengan rentetan peristiwa ini.” Celia pasti mengkhawatirkan kondisi mental Christina dan Flora. Ada sedikit kesedihan di dalam senyumnya saat dia menjawab.

“Begitu ya…”

Semua gadis yang tinggal di mansion ini pernah berinteraksi dengan Christina dan Flora sampai batas tertentu. Seperti Celia, mereka semua mengkhawatirkan keduanya dengan raut wajah muram.

“Pikiran mereka pasti sedang sangat penat sekarang, jadi mari kita undang mereka ke sini lain waktu saja. Aku menganggap mereka berdua sebagai temanku,” saran Charlotte.

“Tentu, tolong lakukan. Aku yakin mereka pasti akan sangat senang.” Celia mengangguk gembira.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted