Seirei Gensouki Volume 16 Epilog: Orang Suci Pembalasan Bahasa Indonesia
Epilog: Orang Suci Pembalasan
Sangat berbeda dari Galarc, terdapat sebuah kerajaan kecil di ujung wilayah Strahl. Tempat ini terkikis hingga batasnya; udaranya dingin dan kering, serta hampir tidak pernah turun hujan. Tanahnya hampir layu sepenuhnya, dan para warganya kelaparan.
Satu-satunya golongan yang makmur adalah kelas bangsawan ke atas. Hanya kaum bangsawan dan kerajaan yang mampu menjalani kehidupan yang makmur, dan jumlah mereka kurang dari satu persen dari populasi. Mayoritas penduduk kerajaan itu kelaparan. Begitulah cara kerajaan tersebut bertahan hingga sekarang.
Orang kaya bukanlah dewa. Tidak ada yang bisa bertahan selamanya.
Akhir itu datang secara tiba-tiba.
Perubahan sedang berusaha terjadi; perubahan pertama yang akan sangat mengguncang wilayah Strahl sedang terjadi pada saat ini juga.
“Raaaaaargh!”
Di ibu kota kerajaan kecil yang kelaparan itu, suara-suara kemarahan bergemuruh.
Sepuluh ribu orang dari populasi seratus ribu jiwa berarak maju. Mereka membawa senjata dan baju zirah yang compang-camping—sebagian besar memegang alat-alat pertanian. Beberapa bahkan tidak memegang apa pun.
Beberapa menit yang lalu, orang-orang itu telah mendobrak gerbang menuju distrik para bangsawan dan kini sedang mengerumuni kastil kerajaan. Banyak bangunan di distrik bangsawan hancur menjadi reruntuhan di sepanjang jalan.
Yang memimpin jalan menuju kastil adalah seorang wanita berambut hitam mengenakan pakaian suci, mengayunkan tongkat uskup yang indah bagaikan sebuah gada. Usianya tampak sekitar pertengahan hingga akhir dua puluhan.
“Ayolah, para pemaudaku yang taat. Waktunya adalah sekarang. Ikuti langkahku!”
Wanita itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi ke udara dan menyerukan kepada orang-orang. Suaranya hampir tenggelam oleh teriakan amarah, dan hanya mencapai sepuluh orang yang berada tepat di belakangnya.
“Hari ini, mulai saat ini, aku akan menjatuhkan penghakiman Tuhan kepada kerajaan yang busuk ini. Para penguasa yang menimbun kekayaan atas nama Tuhan akan merasakan hukuman ilahi yang sesungguhnya!”
Dia mengangkat tongkatnya ke arah kastil, yang berdiri di atas tebing di ujung paling dalam dari distrik bangsawan, dan meninggikan suaranya.
“Kemarahan kalian adalah kemarahanku! Pembalasan kalian adalah pembalasanku! Oleh karena itu, aku akan menjatuhkan palu keadilan pada para penguasa busuk di dunia ini! Sekarang, semuanya! Lepaskan semua kemarahan kalian yang meluap-luap! Salurkan semuanya padaku!”
Tidak ada yang dapat menghentikannya—baik suaranya, maupun langkah majunya. Kecepatan mereka hanya sebatas lari-lari kecil, tetapi mereka semakin dekat dan dekat dengan kastil.
“Kirimkan kemarahan kalian kepadaku! Dan aku… aku… aku akan melenyapkan semuanya! Lenyapkan semuanya, dan bangun kembali! Rakyat, dan masyarakat untuk rakyat! Kita harus menyingkirkan mereka! Kepada korupsi, para penguasa busuk itu! Kita akan menciptakan sebuah revolusi untuk rakyat dengan tangan kita sendiri! Kita akan menciptakan sebuah demokrasi!”
Satu-satunya hal yang terpantul di matanya adalah kastil di atas tebing itu. Dia mengucapkan kata-katanya seolah-olah dipinjam dari orang lain, meneriakkannya dengan tatapan kosong ke arah kerumunan yang marah. Namun, amarah di matanya tidak dapat disangkal. Dia tanpa ragu merasakan kebencian yang luar biasa terhadap sesuatu.
Dan dengan demikian wanita itu melangkah maju.
Dia mendekati kastil di ujung distrik bangsawan. Namun, begitu dia mendekat dalam jarak beberapa ratus meter dari kaki kastil, dia tiba-tiba berhenti.
Orang-orang yang mengikutinya pun secara bersamaan ikut berhenti.
“Pembalasan adalah milikku! Aku akan membalas!”
Wanita itu mendongak menatap kastil di atas tebing sambil berteriak.
“Pembalasan adalah milik kalian! Pembalasan adalah milik kalian!” sorak orang-orang.
“Pembalasan adalah milikku! Aku akan membalas!” Teriak wanita itu sambil mengangkat tongkatnya.
“Pembalasan adalah milik kalian! Pembalasan adalah milik kalian!”
Teriakan penuh amarah itu akhirnya memenuhi seluruh ibu kota.
“Pembalasan adalah milik kalian! Pembalasan adalah milik kalian!”
Wanita itu merasakan teriakan amarah orang-orang di punggungnya. Kemudian, setelah beberapa waktu, dia mengayunkan tongkatnya ke bawah.
Saat ujung tongkat itu menghantam tanah, bumi meledak, bergejolak naik dengan hebat. Energi ledakan itu berkumpul ke arah depan, menghantam tanah ke atas dan menuju ke arah tebing tempat kastil berada.
“Raaaaaagh!”
Orang-orang menyaksikan pemandangan itu sambil berteriak penuh semangat. Tanah yang membengkak naik bagaikan ombak, mendekati tebing.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di lantai tertinggi kastil kerajaan…
“A-Apa? Apa ini? Memangnya apa salahku pada mereka?”
Raja dari kerajaan itu sedang gemetar. Pemandangan yang hanya bisa disaksikan oleh mereka yang berkuasa hingga kemarin tidak lagi ada di ibu kota. Beberapa menit yang lalu, gerbang distrik bangsawan hancur berkeping-keping, bangunan-bangunan di distrik bangsawan hancur, dan massa yang beringas kini semakin mendekat.
“A-Aku takut. Aku takut… Ini menakutkan, sangat menakutkan…” Sang raja bergetar hebat.
Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut.
Hanya ada satu emosi yang memenuhi hatinya, kepalanya—segalanya. Ada seribu prajurit yang melindungi istana, tetapi tidak ada yang tahu apakah mereka cukup bisa diandalkan untuk mempertahankan benteng.
Seribu orang bisa tewas dalam sekejap.
Tepat pada saat itu, pintu ruangan tempat sang raja bersembunyi mendadak terbuka lebar. Komandan para ksatria muncul.
“Y-Yang Mulia! Silakan melarikan diri—”
Komandan ksatria itu mencoba berteriak, tetapi kata-katanya terputus sebelum dia sempat menyelesaikannya.
Hal terakhir yang dilihat oleh sang raja adalah ledakan yang menelan sang komandan beserta seluruh batu di sekitarnya.
◇ ◇ ◇
Kembali ke kaki tebing…
“Aaaaaah!”
“Mulai saat ini, kerajaan ini telah memperoleh keselamatan! Para anggota kerajaan dan bangsawan yang busuk sudah lenyap!” seru wanita itu dengan bangga.
“Whoooooo!”
Orang-orang bersorak. Mereka melihat pemandangan ilahi dari sang wanita—bukan, sang Saint—lalu bersorak. Wanita itu mengangkat tongkatnya sekali lagi.
“Mulai sekarang, aku akan menjadi tombakmu, tongkatmu, pemandumu menuju jalan yang benar. Sekarang, mari kita bangun negeri kita sendiri di atas tanah ini!”
Meskipun suara sang Saint tenggelam oleh sorak-sorai orang-orang, deklarasinya untuk mendirikan sebuah bangsa tidak ikut tenggelam.

Komentar