Seirei Gensouki Volume 15 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Aroma Sabun
Di sebuah daerah berbatu entah di mana di Kerajaan Paladia, di dalam rumah batu yang telah disiapkan oleh Rio, Christina membuka matanya dan perlahan-lahan duduk di atas tempat tidur. Hari itu adalah pagi setelah Rio menyelamatkannya dan Flora.
“Mmgh…”
Dia mengangkat sebelah tangan untuk menutupi menguapnya dengan anggun, lalu sedikit meregangkan tubuhnya. Sinar matahari yang samar-samar menyinari celah jendela kecil di dalam ruangan itu.
Aku tidur seperti orang mati, pikir Christina dalam hati. Dia langsung pingsan begitu roboh di atas tempat tidur kemarin; mengingat bagaimana dia menghabiskan hari sebelumnya dengan berkeliaran di dalam hutan dalam keadaan tertekan, hal itu sangat bisa dimaklumi.
Sungguh tempat tidur yang nyaman. Bantalnya juga pas sekali.
Rasa lelah yang telah menumpuk belum sepenuhnya hilang, tetapi dia sudah terbangun sepenuhnya.
Aku ingin tahu apakah Sir Amakawa sudah bangun…
Dia memutuskan untuk keluar kamar dan memeriksanya. Dia merangkak turun dari tempat tidur dan memeriksa penampilannya di cermin panjang, memastikan pakaiannya tidak kusut.
Tidak ada rambut berantakan. Bagus. Sebenarnya…
Dia menyentuh rambutnya dengan kedua tangan, memastikan teksturnya selembut kelihatannya. Rasanya hampir sama seperti dia baru saja mengeringkan rambutnya seusai mandi.
Apa ini…?
Christina mengerjap keheranan di depan cermin. Dia menyisir rambutnya dengan jemari dan mendapati rambutnya terasa halus serta mudah diatur. Selain itu, saat dia mengangkat sehelai rambut dan mendekatikannya ke hidung, dia bisa mencium aroma manis.
“Bau yang sangat enak…”
Sambil menggerakkan hidungnya, Christina menghirup aroma menenangkan pada rambutnya, lalu berbalik dan melihat Flora yang masih tertidur di atas tempat tidur. Kemudian, seolah merasakan sang kakak sudah terbangun—
“Mm… Christina?”
Flora ikut terbangun juga. Rasanya hampir seolah semua penderitaan yang dia lalui akibat racun laba-laba itu hanyalah mimpi, meskipun ini jelas-jelas nyata.
“Selamat pagi, Flora.” Christina tersenyum kepada adik perempuannya sambil berterima kasih kepada Rio dalam hatinya.
Elemental ☆ Halloween
Di Jepang, tepat saat musim dingin mulai tiba, SMA tempat Haruto bersekolah libur dan dia diundang ke rumah Celia di sebuah lingkungan yang tenang. Celia mengusulkan agar mereka mengadakan pesta Halloween hari ini. Miharu, Satsuki, Christina, Flora, Suzune, and Rikka juga akan hadir.
Aku ingin tahu apakah semuanya sudah berkumpul…
Haruto berdiri di depan gerbang dan membunyikan bel pintu.
Mansion ini benar-benar luar biasa ya, meskipun begitu.
Dia menatap rumah Celia dari tempatnya berdiri. Celia adalah seorang dosen yang pindah ke sini dari luar negeri. Dia mengaku datang ke Jepang untuk memperdalam wawasannya.
Profesor Celia pastinya berasal dari keluarga yang sangat kaya, ya? Meskipun Christina dan Flora juga memancarkan kesan yang sama…
Dia pernah menyangkal pernyataan ini, tetapi tidak mungkin Celia bisa tinggal di mansion seperti itu tanpa menjadi orang kaya. Cara bicara dan perilaku sehari-harinya juga merupakan tanda dari latar belakang pendidikannya.
“Ya… Siapa itu…?” tanya suara Celia melalui interkom.
“Ini Haruto.”
“H-Haruto… B-Benar. Kamu di sini…”
“Apa aku datang di waktu yang tidak tepat…?” tanya Haruto sambil memiringkan kepalanya.
Suara Celia terdengar lebih melengking dari biasanya. “T-Tidak sama sekali. Hanya saja… M-Masuklah dulu. Aku sedang agak sibuk sekarang, tapi pintu depannya tidak dikunci, jadi masuk saja sendiri.”
“Baiklah…” Haruto tidak begitu mengerti, tetapi dia melakukan apa yang diperintahkan dan berjalan melewati gerbang menuju ke rumah, lalu tiba di depan pintu masuk.
“Permisi…” Haruto membuka pintu dan mengintip ke dalam.
“Trick or treat!” seru Celia. Dia berdiri tepat di hadapannya, mengenakan pakaian serigala putih bersih lengkap dengan telinga serigala, cakar serigala, dan ekor serigala.
“P-Profesor…?” Terkejut, Haruto mematung. Dia bisa memahami alasan di balik pakaiannya—bagaimanapun juga ini hari Halloween, jadi dia mungkin berdandan untuk acara itu.
“J-Jika kamu tidak memberiku camilan, aku akan mengerjaimu! R-Roar!”
“Aku tadinya mau membuat camilan di dapurmu, tapi… ngerjain seperti apa?” tanya Haruto dengan ragu-ragu.
“N-Kerjai? Umm… Aku akan memakanmu!” Celia hampir saja terbata-bata, tetapi dia memaksakan diri untuk menjawab secara spontan.
“Itu… akan menjadi masalah.” Haruto telah mendapatkan kembali ketenangannya dan menjawab sambil tersenyum.
“I-Itu benar. Aku akan menggigit dan mengunyahmu,” kata Celia sambil tersipu.
“Menggigit, katamu… Di sebelah mana yang kamu maksud?” Dia begitu menggemaskan hingga Haruto merasa perlu untuk terus memancingnya.
“Lengan atau lehermu, kurasa… A-Aduh, berhenti menjawabku dengan begitu tenang! Tanyakan padaku kenapa aku memakai pakaian seperti ini atau semacamnya!” Tidak sanggup menahan rasa malu lagi, Celia menggembungkan pipinya sebagai bentuk protes.
“Kiraanku adalah kamu kalah dari Satsuki atau Suzune dalam sebuah permainan dan harus mengenakan ini sebagai hukuman. Apakah aku salah?” tebak Haruto berdasarkan dua orang yang sedang mengintai mereka dari ujung lorong.
“P-Pemahamanmu tentang situasinya sangat tepat sasaran…”
“Sekarang, aku harus pergi membuat camilan-camilan itu sebelum kamu mengerjaiku,” kata Haruto.
“Miharu belum ada di sini, jadi bagaimana kalau kita tunggu dia dulu? Untuk sekarang, Profesor Celia harus mengerjai Haruto dan menggigitnya!” panggil Satsuki dari ujung lorong.
“Aku tidak mau!” seru Celia dengan wajah memerah.

Komentar