Seirei Gensouki Volume 15 Bab 6: Kepulangan Bahasa Indonesia
Bab 6: Kepulangan
Di Kerajaan Galarc, sepuluh hari setelah Christina dan Flora pertama kali menghilang, Liselotte menaiki kapal sihir bersama Roanna, yang telah berkunjung ke Amande untuk membawa pesan lamaran Hiroaki. Mereka sekarang berada di Galtuuk, ibu kota kerajaan.
Setelah tiba di pelabuhan, mereka beralih dari kapal sihir ke kereta kuda dan menuju ke kastil. Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka tiba di halaman kastil dan melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki.
Dua putri adipati yang berjalan berdampingan adalah pemandangan yang benar-benar anggun. Mereka membawa diri dengan keanggunan tertinggi, menarik perhatian semua pengawal dan pelayan di sekitar.
“Ya ampun, itu Lady Liselotte.”
“Sepertinya desas-desus tentang pertunangannya dengan sang pahlawan itu benar.”
“Sudah bertahun-tahun tidak ada desas-desus tentang pernikahan Liselotte…”
“Mungkinkah itu…?”
Suara orang-orang bergosip dapat terdengar di sana-sini. Tampaknya berita tentang pertemuan Liselotte dengan Hiroaki telah menyebar ke seluruh kastil. Menurut obrolan tersebut, Liselotte menerima lamaran pernikahan secara berkala, tetapi ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun dia menghadiri pertemuan mengenai hal itu. Dia biasanya menolak semuanya dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya. Dan sekarang, dia berada di sini untuk menemui sang pahlawan. Jika dia sampai repot-repot melakukan perjalanan ke kastil, tentu ini hanya bisa berarti satu hal.
Begitulah suasana di kastil—hal itu membuat penolakan menjadi cukup sulit dan memberikan tekanan kepada Liselotte.
Semua orang benar-benar berbicara semaunya sendiri.
Liselotte mungkin tampak berjalan dengan elegan, tetapi kakinya terasa berat seiring semakin dekatnya tempat tujuan mereka. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruang tamu yang disediakan khusus untuk para bangsawan. Kedua ksatria di depan ruangan membukakan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebagai utusan, Roanna adalah orang pertama yang melangkah masuk.
“Saya telah membawa Liselotte Cretia dari Amande ke sini,” lapornya sambil membungkuk anggun.
“Permisi.” Liselotte masuk mengikuti Roanna dan membungkuk dalam-dalam.
Yang menunggu di dalam adalah calon pasangan pernikahannya, Sakata Hiroaki, kandidat istri pertamanya yaitu Putri Ketiga Rosalie dari Galarc, serta Raja Francois, orang tua Liselotte, dan Duke Huguenot.
Formasi yang lengkap. Aku tidak menyangka urusannya akan diselesaikan hanya dengan salam perkenalan saja, tapi apakah mereka berniat mengadakan pertemuan ini di sini?
Liselotte melirik sekeliling ruangan untuk memastikan siapa saja yang hadir. Tepat pada saat itu, Duke Huguenot, yang duduk secara diagonal dari Duke Cretia dan istrinya, berdiri lalu mendekati Roanna.
“Kerja bagus, Roanna. Kamu bisa menunggu di belakang Sir Hiroaki,” ujarnya.
“Baik, milord.” Roanna mengangguk hormat dan berjalan untuk berdiri di belakang Hiroaki, yang duduk di kursi utama. Di samping Hiroaki adalah Putri Ketiga Rosalie, yang akan menjadi istri pertamanya.
“Selamat datang, Liselotte. Mari, duduk di sini.” Raja Francois mempersilakan Liselotte duduk di kursi di sebelah kirinya. Posisi itu tepat berhadapan dengan Hiroaki.
“Baik, Yang Mulia.” Liselotte mengangguk dengan ceria dan mulai berjalan menuju sofa yang berada di seberang Hiroaki.
“Permisi,” ucapnya saat ia duduk.
“Liselotte. Pasti sangat melelahkan harus meninggalkan Amande pada hari yang sama saat kamu menerima panggilan. Aku meminta maaf padamu,” ucap Francois dengan ekspresi penuh penyesalan. Apakah itu karena Liselotte adalah pihak yang paling dirugikan di ruangan ini? Sangat jarang seorang raja mengucapkan kata-kata permintaan maaf, jadi kata-kata itu memiliki bobot yang sangat besar.
“Sama sekali tidak, Yang Mulia. Aku tidak ingin membuat siapapun menunggu—lagipula aku bisa bertemu kembali dengan Ayah dan Ibu dengan cara ini.” Liselotte menggelengkan kepalanya dengan ramah, lalu menatap kedua orang tuanya. Keduanya balas menatapnya dengan kerutan di dahi mereka.
“Sekarang setelah semua orang berkumpul, mari kita langsung ke pokok permasalahan. Kita mengumpulkan semua orang di sini hari ini untuk satu alasan—untuk mengadakan pertemuan pernikahan resmi antara Lord Hiroaki dan Liselotte. Jika kesepakatan ini tercapai, kedua keluarga akan… Ah, Lord Hiroaki adalah kasus yang sedikit spesial.” Francois menatap Hiroaki dan Duke Huguenot. Hiroaki tidak memiliki keluarga, jadi sebagai perwakilan dari pihak Restorasi, Duke Huguenot hadir sebagai wali,nya.
“Jika kesepakatan ini tercapai, organisasi wali Lord Hiroaki—pihak Restorasi—dan keluarga Duke Cretia akan terikat bersama. Mengingat pengaruh besar dari masing-masing pihak, akan ada konsekuensi politik tidak peduli bagaimana jalannya diskusi nanti. Oleh karena itu, aku akan hadir sebagai mediator. Keluarga Cretia juga sangat berharga bagi Kerajaan Galarc. Apapun hasilnya, aku ingin kalian mengingat bahwa aku berharap kedua belah pihak dapat mengakhiri ini dengan nada yang damai. Mengerti?” Francois meralat ucapannya agar mencakup kedua belah pihak secara tepat, lalu melihat sekeliling ke arah semua orang untuk menekankan maksudnya.
“Sekarang, bagaimana sebaiknya kita melakukannya? Mengingat situasinya seperti ini, ini adalah masalah yang cukup mendesak. Semua orang sudah berkumpul, jadi selama Liselotte tidak keberatan, kita bisa melanjutkan pertemuan ini seperti ini…” Ia menatap Liselotte.
“Aku tidak keberatan. Aku datang dengan membawa jawaban yang sudah disiapkan,” jawab Liselotte dengan tegas.
“Dimengerti. Jika ini adalah pertemuan pertama antara kedua belah pihak, sudah menjadi kebiasaan bagi pertemuan untuk dimulai dengan semua orang hadir, lalu dilanjutkan dengan kalian berdua untuk saling mengenal satu sama lain. Namun, aku dengar Lord Hiroaki sudah menemuimu berkali-kali—mungkin ada hal-hal yang tidak dapat kalian bicarakan secara terbuka di hadapan kami. Bagaimana kalau? Apakah kalian ingin berjalan-jalan di taman atap bersama?” usul Francois kepada mereka.
“Oh… Yah, kurasa begitu. Agak pengap rasanya kalau ada terlalu banyak orang di sini. Biar saja. Mari kita mengobrol berdua saja, Liselotte.” Hiroaki mulai berbicara dengan sedikit rasa malu, kata-katanya terdengar agak dipaksakan saat ia mengarahkannya kepada Liselotte.
Begitu ya… Jadi situasi ini diciptakan atas permintaannya, pikir Liselotte, langsung memahami apa yang telah terjadi hingga menciptakan skenario ini.
“Baiklah,” jawabnya singkat.
◇ ◇ ◇
Setelah itu, Hiroaki dan Liselotte naik ke taman atap. Tidak ada pengawal di dekat sana—mereka benar-benar sendirian.
“Huh, aku tidak tahu Kastil Galarc punya tempat seperti ini. Mewah sekali. Bagaimana menurutmu, Liselotte?” Hiroaki berjalan di depan, berbicara kepada Liselotte tanpa menoleh ke belakang.
“Penggunaan area ini biasanya dibatasi untuk keluarga kerajaan. Aku sendiri baru beberapa kali saja datang ke sini.”
“Huh, begitu ya?” Hiroaki bergumam.
“…”
Percakapan itu pun terhenti sampai di situ.
Ah, sial. Aku jadi gugup—bukan, aku memang gugup. Ini adalah momen paling gugup yang kurasakan sejak datang ke dunia ini.
Hiroaki panik. Ditinggal berdua saja dengan Liselotte, dia merasa jauh lebih salah tingkah daripada sebelumnya. Dia teringat percakapannya dengan Duke Huguenot beberapa hari yang lalu di Rodania.
“Sebenarnya bukan urusanku untuk menegosiasikannya, jadi aku serahkan itu padamu, tapi… aku ingin Liselotte menjadi istri ketigaku. Bisa kauwujudkan itu?”
Inilah syarat yang diajukan kepada Duke Huguenot sebagai imbalan atas pertunangannya dengan Rosalie dan Roanna. Alhasil, Duke Huguenot bergerak secepat mungkin untuk mempersiapkan landasan di Kerajaan Galarc agar Hiroaki bisa menemui Liselotte.
Maka terjadilah situasi hari ini.
Aku dengar Liselotte menolak setiap lamaran yang diterimanya dengan alasan kesibukan kerja dan tidak pernah mengirimkan tawaran apa pun sendiri, jadi aku tadinya penasaran akan jadi apa, tapi… Duke Huguenot benar-benar bisa mewujudkannya. Dia luar biasa, pikir Hiroaki. Kendati demikian, masih ada masalah tertentu dari pertemuan ini yang harus diatasi—masalah utamanya adalah kenyataan bahwa Duke Huguenot hanya bisa menyiapkan pertemuannya saja dan tidak lebih.
Masalahnya adalah bagaimana dia menyerahkan sisanya sepenuhnya kepadaku. Aku bahkan memintanya mengurus berbagai hal agar aku tidak perlu menjadi orang yang menyatakan perasaan… Sialan, bukan gaya-ku untuk mengambil risiko di mana kemenanganku tidak dijamin…
Hingga saat ini, Hiroaki hanya pernah menjalani wawancara pernikahan yang hasil yang diinginkannya sudah pasti terjamin. Dengan kata lain, dia hanya menghadiri pertemuan di mana pihak lain mendekatinya terlebih dahulu. Akibatnya, dia sangat kurang pengalaman dalam hal mengambil langkah pendekatan pertama sendiri.
Apa yang biasanya kubicarakan di pertemuan-pertemuan itu? Aku tidak bisa menjaga percakapan ini tetap berjalan.
Pikirannya melambat, menghambat kemampuannya untuk memikirkan suatu topik.
Tapi Liselotte juga tidak berbicara… Padahal biasanya dia mengobrol tentang berbagai hal untuk menjaga percakapan tetap hidup. Hari ini dia diam secara aneh—tunggu, apakah itu berarti dia juga gugup? Itu berarti… Apakah dia memiliki perasaan padaku juga? Begitu pikiran itu terlintas di benak Hiroaki, dia terkekeh pada dirinya sendiri dengan semangat yang bangkit.
Yah, itu masuk akal. Kalau dipikir-pikir, Duke Huguenot lah yang mengatur pertemuan ini, bukan aku. Karena belum ada di antara kita yang mengungkapkan perasaan, kita berada di posisi yang seimbang. Duke Huguenot mempersiapkan segalanya dengan sempurna, menyeret Liselotte ke pertemuan pernikahan yang biasanya dia hindari. Karena dia benar-benar ada di sini secara langsung, dia pasti merasakan ketertarikan padaku—itulah yang dikatakan Duke Huguenot tadi. Tapi untuk mengangkat topik pernikahan, kemampuan komunikasiku akan diuji. Bagaimana aku bisa goyah di sini? Hiroaki memperingatkan dirinya sendiri.
“Uh…” ucapnya lalu berbalik, bertatapan dengan Liselotte, yang memiringkan kepalanya dengan penuh tanya.
Dia sangat manis… Mengikutiku dari belakang secara diam-diam, begitu penurut… Benar-benar bahan istri. Hiroaki telah mendapatkan kembali sifat optimis bawaannya.
“Ehm, maaf soal ini. Kamu pasti terkejut menerima kabar itu secara tiba-tiba, kan? Itu ulah Duke Huguenot—dia sangat ingin kita menikah.”
Agenda pertama adalah memperjelas posisinya secara mutlak. Dengan melakukan itu, dia bisa menciptakan situasi yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, dia memperjelas hubungannya dengan Liselotte sebagai premis.
Bukannya aku yang ingin menikah.
“Aku terkejut bagaimana hal itu muncul secara tiba-tiba. Jadi Duke Huguenot lah yang memprakarsai wawancara pernikahan ini?” tanya Liselotte, sambil berusaha mengonfirmasi faktanya dengan santai.
“Mm. Yah, benar.” Jawaban Hiroaki terdengar kurang jelas karena dialah yang menetapkan syarat untuk menjadikan Liselotte sebagai istri ketiga sebelum menikahi Rosalie dan Roanna. Namun, selama Duke Huguenot ingin dia menikahi Rosalie dan Roanna, dia akan berusaha memenuhi syarat itu apapun yang terjadi. Karena orang yang telah mengatur pertemuan itu adalah Duke Huguenot, Hiroaki memutuskan bahwa ini sesuai dengan kebenaran.
“Kamu diam saja hari ini, Liselotte. Kamu pasti merasa gugup, ya?”
Kali ini, Hiroaki mencoba memahami posisi Liselotte. Pada kenyataannya, Hiroaki sama pendiamnya dengan dirinya, tetapi dia mengabaikan hal itu.
“Hmm? Oh, ya. Mungkin.” Liselotte sebenarnya merasa kesal alih-alih gugup, tetapi dia tetap mengangguk.
“Begitu ya.” Hiroaki terkekeh dengan penuh rasa bangga.
Dia pasti naksir berat padaku.
“Kita belum pernah benar-benar punya kesempatan untuk mengobrol berdua seperti ini sebelumnya, kan? Selalu saja saat kita bersama orang lain.”
“Itu benar… Makan malam kita di Amande bersama Putri Flora dan Lady Roanna adalah kenangan indah bagiku. Meskipun sangat disayangkan apa yang terjadi pada Putri Flora…” kata Liselotte dengan pandangan menerawang, mengenang menghilangnya Flora sambil mengerutkan kening.
“Hmm? Oh, ya, benar juga,” setuju Hiroaki.
“Jika Anda tidak keberatan aku bertanya… Jika Putri Flora kembali dalam keadaan hidup setelah Anda menjadikan Putri Rosalie sebagai istri pertama Anda, apa yang akan terjadi?”
“Ah… Kurasa pertunangan dengan Rosalie akan dibatalkan dalam kasus itu?”
“Aku yakin sangat sulit untuk membatalkan pertunangan begitu pertunangan itu diumumkan secara publik, sih…”
Bukannya tidak ada preseden pertunangan yang dibatalkan setelah diumumkan, tetapi penampilan luar sangat penting dalam masyarakat mereka. Kapan pun sebuah pertunangan dibatalkan, hal itu biasanya menyiratkan bahwa salah satu pihak telah membuat masalah. Tentu saja, jika tunangan aslinya ditemukan masih hidup, rumor semacam itu mungkin dapat dengan mudah ditepis, tetapi itu tidak membuat masalahnya menjadi lebih sederhana.
“Hah. Kalau begitu, kurasa Flora akan menjadi istri keempatku?”
“Jika Lady Roanna akan menjadi istri kedua Anda, akan sulit pula untuk menempatkan bangsawan seperti Putri Flora di bawah peringkatnya.” Kenyataannya, itu adalah hal yang tidak mungkin.
“Hmm. Secara pribadi, aku tidak begitu ingin memberikan makna apa pun pada peringkat-peringkat itu. Bukankah kalian bisa mengubah peringkat itu sesudahnya?” tanya Hiroaki disertai desahan kesal.
“Hal itu sebenarnya jarang terdengar, tetapi seharusnya itu mungkin dilakukan jika semua keluarga yang terlibat menyetujuinya.”
Sebagian besar keluarga tidak ingin peringkat mereka diturunkan, tetapi jika itu dilakukan karena alasan yang logis, maka kebanyakan orang akan memahaminya. Mengingat kesetiaan Roanna kepada keluarga kerajaan, ada kemungkinan besar dia akan dengan sukarela bertukar peringkat dengan Flora.
“Begitu ya. Oh, tapi dalam kasus itu, posisimu sebagai istri ketiga mungkin akan ikut terpengaruh juga. Meskipun mungkin akan ada beberapa pembuat onar yang akan mengeluh jika Roanna melompat dari posisi kedua ke posisi keempat juga.” Hiroaki berbicara seolah-olah Liselotte sudah menjadi istri ketiganya di dalam pikirannya.
Liselotte mengangguk setelah jeda sejenak. “Mungkin saja.”
“Pada akhirnya, aku benar-benar tidak suka dengan gagasan perankingan berdasarkan urutan. Bukan berarti kalian lebih rendah daripada Rosalie atau Roanna hanya karena kalian adalah istri ketigaku—aku ingin menegaskan hal itu.”
“Pahlawan benar-benar orang yang sangat tak terduga.”
Liselotte tidak bisa berbuat apa-apa selain terkikik. Masalahnya, tidak ada preseden untuk hal seperti ini.
“‘Pahlawan’ ya…” Hiroaki menghela napas sambil mengerutkan kening, menatap Liselotte dengan keberatan.
“Ada apa?” Liselotte memiringkan kepalanya.
Hiroaki menatapnya lekat-lekat. “Begini, Liselotte… Bukankah sudah waktunya kita lepas dari hubungan bisnis kita?” ucapnya tiba-tiba.
“‘Hubungan bisnis’…?” Perubahan topik pembicaraan yang mendadak itu membuat Liselotte bingung, tetapi ia mampu balik bertanya tanpa membiarkan kebingungan itu nampak dalam suaranya.
“Aku hanya berpikir tentang bagaimana aku belum pernah menemuimu secara pribadi sebelumnya.”
“Begitukah…?” Jika ingatan Liselotte tidak salah, Hiroaki terus-menerus mengunjungi Amande tanpa alasan khusus.
“Dan kau selalu memanggilku ‘pahlawan’. Kau tidak pernah memanggilku dengan namaku. Aku menyadari itu karena kau selalu menganggap pertemuan kita hingga sekarang sebagai bagian dari pekerjaanmu—kau sedang menarik garis batas sebagai bentuk pelayanan. Aku baru menyadarinya.” Hiroaki menatap Liselotte.
Ya ampun, kurasa bahkan dia bisa menyadari hal sebanyak itu, pikir Liselotte, sedikit terkesan.
“Aku menghargai profesionalismemu terhadap pekerjaanmu, tapi kau tidak perlu memanggilku ‘pahlawan’ selamanya, tahu? Terutama jika kau akan menjadi tunanganku.”
Dia bisa memanggilnya “Tuan Hiroaki,” itulah yang coba dia sampaikan kepada Liselotte melalui tatapannya.
“Eum… Haruskah aku menganggap ucapan itu sebagai lamaran pernikahan?” tanya Liselotte.
“Oh… Bukan?” Tatapan Hiroaki bergeser saat dia menyangkal hal itu.
Hah? Lalu apa maksudnya itu? batin Liselotte spontan. Apakah dia tiba-tiba menarik kembali kata-katanya?
“Yah, begitulah. Kudengar kau telah menolak lamaran pernikahan karena pekerjaanmu. Aku paham kalau kau sibuk dengan berbagai peranmu, tapi itu berarti kau hampir tidak punya waktu untuk berkencan dengan pria di luar pekerjaan, kan?” lanjut Hiroaki. Sebagian besar hal yang dia ucapkan sama sekali tidak diperlukan.
“Kau benar sekali…” Liselotte tetap mengangguk.
“Pernikahan bukanlah sesuatu yang dilakukan sebagai urusan bisnis. Itulah kenapa kupikir kau butuh seorang pria yang bisa kau kencani di luar pekerjaanmu. Jadi, aku menawarkan agar hubungan kita berkembang dari hubungan bisnis. Tentu saja, itu kalau kau tertarik…” Hiroaki menjelaskan alasannya.
“Dengan kata lain, kau ingin kita berpacaran dengan niat untuk menikah?” Kata-kata Hiroaki begitu samar, rasanya seolah dia menghindari inti dari apa yang ingin dia tuju—jadi Liselotte memutuskan untuk memperjelas rinciannya.
“Ya. Jika kau tidak bisa langsung menikah karena pekerjaanmu, kita bisa bertunangan dulu dan menunggu situasinya mereda. Semuanya terserah padamu,” kata Hiroaki, mencoba memberikan pilihan kepada Liselotte.
Tunggu, apa dia ingin membuat keadaan seolah-olah akulah yang meminta pernikahan ini?
Pada titik inilah Liselotte akhirnya menarik kesimpulan tersebut. Jika ini benar…
“Begitu ya… Namun, meskipun itu pertunangan, aku tidak berniat untuk menikah dengan siapa pun saat ini. Maafkan aku,” ucap Liselotte dengan jelas. Dia menolak lamaran tersebut dengan cara yang bahkan bisa dipahami oleh Hiroaki.
“Jadi, kau tidak mau bertunangan denganku…?”
Hiroaki hampir tidak bisa berkata-kata, tetapi dia bertanya lagi sambil merengut.
“Ya. Aku sama sekali tidak berniat melakukannya untuk saat ini,” kata Liselotte terus terang.

“Oh, begitu ya… Ada banyak orang yang menantikan pertunangan kita, jadi kurasa akan lebih baik jika kita memenuhi harapan mereka…” Terguncang karena ditolak secara langsung, suara Hiroaki bergetar.
“Memangnya siapa orang-orang itu?” tanya Liselotte dengan tenang.
“Kau tahu, seperti Kerajaan Galarc dan kaum Restorasi. Menghilangnya Christina dan Flora telah membuat keadaan menjadi kacau balau, lho. Jika kita menikah demi kepentingan pihak kita masing-masing, kita akan membuka masa depan bagi semua orang.”
“Kalau begitu, kau akan menemukan masa depan yang lebih cerah bagi Restorasi dan Galarc jika menikahi Putri Rosalie alih-alih putri seorang adipati sepertiku.” Bagaimanapun juga, itu akan menjadi pertunangan antara seorang pahlawan dan seorang putri. Mereka tentu saja akan memiliki pengaruh yang lebih besar daripada pertunangan dengan putri seorang adipati sebagai istri ketiga.
“Begitu ya… Kalau begitu, pertemuannya sudah selesai.”
Hiroaki mencucurkan bibirnya dengan tidak senang. Pembicaraan pernikahan dengan Liselotte telah berakhir dengan kegagalan.
Setelah itu, Hiroaki dan Liselotte kembali ke ruang tamu bersama Raja Francois dan Duke Huguenot untuk memberitahu mereka tentang keputusan tersebut. Suasana canggung menyelimuti ruangan setelah mereka mendengar hasilnya.
“Yah, sepertinya tidak ada gunanya bertunangan saat kita tidak memiliki ketertarikan romantis satu sama lain,” ucap Hiroaki dengan nada jengkel, memberikan alasan singkat mengapa lamaran itu gagal. Orang yang paling terkejut adalah Duke Huguenot—pertunangan dengan Liselotte adalah syarat yang diminta oleh Hiroaki, sehingga ketenangannya goyah karena dorongan untuk segera berbicara kepadanya.
Francois tampak membaca situasi. “Tidak ada yang bisa dilakukan jika memang bukan jodohnya. Mari kita akhiri pertemuan ini sampai di sini,” umum beliau.
“Sir Hiroaki, apakah Anda punya waktu sebentar? Kau ikut juga, Roanna. Kami akan menemuimu lagi nanti, Putri Rosalie.”
Duke Huguenot langsung meninggalkan ruangan bersama Hiroaki dan Roanna.
◇ ◇ ◇
“Rosalie, kau boleh kembali ke kamar-mu,” kata Francois setelah para anggota kaum Restorasi meninggalkan ruangan.
“Baik, Ayah.”
Putri Ketiga Rosalie pergi, meninggalkan Francois, Liselotte, dan orang tuanya. Saat berikutnya, dua sosok berdiri di ambang pintu ruangan. Raja Galarc telah memanggil sang pahlawan, Sumeragi Satsuki, dan Putri Kedua Charlotte.
“Bolehkah kami masuk sekarang?”
“Menunggu yang membosankan.”
Satsuki dan Charlotte masing-masing bersuara.

“Terima kasih telah menunggu. Silakan masuk, Lady Satsuki. Semuanya, silakan duduk. Para pelayan boleh pergi.” Francois mempersilakan Satsuki masuk ke dalam ruangan dan duduk sendiri di atas sofa.
Apakah kita akan membahas sesuatu yang bersifat rahasia? pikir Liselotte.
“Hei, Liselotte. Sudah lama… Sejak jamuan makan malam di tempatmu, kurasa?” kata Satsuki kepada-nya dengan ceria.
“Ya. Lama tak jumpa, Nona Satsuki.” Liselotte tersenyum sambil menghela napas lega.
“Sejujurnya, aku sangat ingin menghadiri jamuan makan malam itu. Ayolah, sekarang. Lady Satsuki. Duduklah di sini.” Charlotte merengut dengan manis dan mendesak Satsuki ke kursi kepala. Mereka melewati para pelayan dalam perjalanan masuk ke dalam ruangan dan duduk. Duke Cretia dan istrinya memilih kursi yang terletak secara diagonal dari mereka dan duduk.
“Yang Mulia. Terimalah permohonan maaf saya yang tulus karena telah menolak lamaran pernikahan sang pahlawan,” kata Liselotte kepada Raja Francois, sambil membungkuk di tempatnya berdiri.
“Jangan khawatir tentang itu. Kamu telah mencapai hal yang cukup untuk mendapatkan kebebasan-mu dalam pernikahan. Itu adalah sesuatu yang telah kuakui sendiri, dan aku sudah menduga kamu akan menolak tawaran ini sejak awal. Namun, keadaan kaum Restorasi saat ini membuat segalanya menjadi rumit. Aku harus memberi kesempatan kepada pihak lain untuk menemui-mu guna menghindari memburuknya hubungan. Aku yakin itu membuat-mu lebih sulit untuk menolak. Aku minta maaf atas hal itu,” kata Francois, menghela napas lelah.
“Tidak, saya sangat berterima kasih atas pertimbangan Anda, Yang Mulia.”
Pada saat inilah Liselotte akhirnya bisa bernapas lega. Dia telah merasakan bahwa berbagai hal telah diatur untuk membuatnya semakin sulit menolak ketika dia tidak memiliki kesempatan untuk memastikan pemikiran Francois dan orang tuanya mengenai masalah tersebut. Dia menduga Duke Huguenot telah mengatur hal itu bersama Francois, namun kata-kata pria itu barusan telah mengonfirmasi pemikirannya. Dan fakta bahwa dia telah mengungkapkan hal ini kepadanya berarti tidak ada masalah bagi dirinya untuk menolak lamaran tersebut.
“Sepertinya kekhawatiran kami sia-sia belaka, Lady Satsuki,” cengir Charlotte.
“Sepertinya begitu,” balas Satsuki sambil sedikit merengut.
“Kalian berdua tadi khawatir…?” Liselotte memiringkan kepalanya.
“Bukankah keyakinanmu adalah bahwa pernikahan seharusnya hanya dilakukan atas dasar cinta? Jika kamu begitu mudah menyetujui pernikahan yang dijodohkan, kamu akan membuang keyakinan itu. Lady Satsuki dan aku khawatir kamu dipaksa untuk bertunangan.”
“B-Begitu ya… Aku menghargainya,” kata Liselotte dengan rona tipis di pipinya.
“Tapi tenang saja, jika pria itu mencoba memaksamu masuk ke dalam pertunangan, aku akan menghentikannya dengan otoritasku sendiri sebagai pahlawan,” ujar Satsuki dengan tegas.
“Aha ha. Kalau begitu, aku senang ketakutan kalian tidak beralasan.” Liselotte mengeluarkan keringat dingin memikirkan masalah yang akan ditimbulkannya. Francois pasti merasa tidak tenang juga mendengarnya.
“Tapi kamu juga tidak bisa terus-menerus tanpa pasangan hidup di usiamu ini, Liselotte—itu sama saja mengundang masalah menghampirimu, tahu?” tandas Charlotte sambil menghela napas berat.
“Aku yakin sulit sekali mencari anak laki-laki yang pantas bersanding dengan seseorang seperti Liselotte,” ujar Satsuki sambil terkikik.
“I-Itu tidak benar…” gerutu Liselotte terbata-bata. Orang tuanya memperhatikan pemandangan langka itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Mereka terkesan karena sang putri dan pahlawan bisa membuat putri mereka bereaksi dengan cara yang sesuai usianya untuk sekali ini.
“Oh, ngomong-ngomong soal pria budiman yang pantas bagi Liselotte, sepertinya aku tahu seseorang…” Charlotte memasang wajah usil.
“I-Ini darurat! Aku punya laporan mendesak! Mohon maaf karena telah mengganggu!” Terdengar ketukan keras dari arah pintu sesaat sebelum pintu itu terbuka dan menampakkan seorang ksatria yang kehabisan napas.
“Berani sekali kamu masuk tanpa menunggu jawaban?! Ada apa? Semoga ini hal yang penting!” pringatan Francois dengan alis bertaut.
“Ksatria Kehormatan Sir Amakawa telah tiba! D-Dia meminta audiensi secepatnya dengan Yang Mulia!” Ksatria itu begitu panik hingga dia menyampaikan laporannya tanpa memikirkan kemarahan Francois.
“Haruto, katamu? Kalau begitu, kamu boleh membawanya ke sini. Apa alasan di balik urgensi ini?”
“I-Itu karena dia datang bersama…” Ksatria itu tersengal-sengal, kehabisan napas karena berlari sepanjang jalan ke sini.
“Ada apa? Tenangkan dirimu dan bicaralah. Ada apa dengan rekan-rekannya?” tanya Francois tidak senang.
“Dia datang bersama Putri Pertama Kerajaan Beltrum, Christina, dan Putri Kedua, Flora!”
Kedua putri yang hilang itu masih hidup.
“Apa…?” Pada saat itu, bahkan Francois pun tercengang sama seperti orang-orang lain yang hadir di sana.
Komentar