Seirei Gensouki Volume 14 Bab 3: Taring Sang Pembalas Bahasa Indonesia
Bab 3: Taring Sang Pembalas
Beberapa bulan telah berlalu sejak kedatangan Renji. Dia tidak pernah kembali ke desa Rhea di Kerajaan Vilkis setelah insiden itu, melainkan bertindak sebagai seorang petualang di Kerajaan Rubia.
Sebagai catatan, guild petualang adalah organisasi internasional yang didirikan dan dipercayakan oleh masing-masing negara. Tujuan awal pendiriannya adalah untuk melimpahkan sebagian pertahanan kerajaan yang tak terkendali kepada mereka yang secara sosial tidak layak untuk pekerjaan yang layak, sehingga kerajaan dapat mengelolahnya secara tidak langsung dan memanfaatkan mereka secara efektif sebagai tenaga kerja.
Tentu saja, organisasi itu hampir hanya sekadar nama internasional secara formal. Markas besar organisasi itu memang ada dalam bentuk fisik, tetapi tidak ada basis yang dilengkapi dengan fungsi tersebut, dan manajemennya dijalankan secara praktis secara independen oleh cabang-cabang di ibu kota setiap kerajaan. Hal ini karena para pejabat dari setiap kerajaan dikirim untuk mengawasi operasional cabang, sehingga mereka tidak dapat melintasi perbatasan kerajaan.
Selain itu, untuk menjadi seorang petualang, diperlukan pendaftaran di markas besar atau cabang, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Misalnya, bernaung di bawah suatu cabang membatasi aktivitas di bawah yurisdiksi cabang lain (dalam hal ini, bernaung di bawah markas besar memberi seseorang kebebasan untuk bertindak di setiap cabang, tetapi dukungan dari cabang regional lebih lemah).
Renji bernaung di bawah cabang regional Kerajaan Rubia. Pada awalnya, kepribadiannya yang kurang ajar ditambah dengan posturnya yang kecil dan penampilannya yang muda membuat para petualang lain di sekitarnya memperlakukannya dengan meremehkan dan agresif.
Namun, dia membalikkan keadaan pada setiap petualang yang mencari masalah dengannya terlepas dari peringkat mereka, menyelesaikan permintaan penaklukan yang sangat sulit seorang diri hingga akhirnya, semua orang menjauhinya karena ketakutan.
Sebaliknya, dia mendapatkan ketenaran sebagai pendatang baru dengan kenaikan tercepat dalam sejarah, memperoleh julukan seperti “Menyendiri” dari aktivitas solonya atau “Kaisar Es” dari pedang pusaka berlapis sihir es yang kuat (nama generik untuk senjata yang berisi sihir kuno di dalamnya).
Namanya bahkan menyebar ke istana kerajaan, mencapai telinga sang Putri Ksatria, putri pertama Sylvie Rubia. Dia secara pribadi mengundang Renji ke istana untuk menilai kemampuannya, bertanding tanding pedang dengannya sebelum merekrutnya sebagai ksatria pribadi.
“Aku tidak punya niat untuk bekerja di bawah siapa pun. Kaum bangsawan dan keluarga kerajaan terutama tidak masuk dalam hitungan.”
Renji dengan lancang menolak tawaran Sylvie untuk menjadi seorang ksatria, tetapi keangkuhan dalam jawabannya menunjukkan kurangnya pemahaman tentang dunia. Hal ini justru memenangkan hati Sylvie, sehingga mereka membentuk hubungan pertemanan alih-alih hubungan antara tuan dan pelayan.
“Hei, itu si Menyendiri.”
Begitu ia muncul di guild petualang di ibu kota Kerajaan Rubia, para petualang di lobi langsung bergemuruh ribut. Ada beberapa tatapan penuh iri dan kebencian yang kuat di antara mereka.
“Hmph.” Namun, Renji melangkah melewati tatapan-tatapan itu dengan senyuman santai saat dia menuju ke konter. Dia tidak benci dipandang dengan rasa iri. Rasanya tidak buruk dipanggil si Menyendiri dan Kaisar Es—bagaimanapun juga, dia memang bertingkah laku seperti itu.
Setelah melupakan kejadian-kejadian di desa itu—tidak, demi menghindari mengingat kejadian-kejadian yang telah terjadi di desa itu—Renji terus menikmati kehidupan barunya sebagai petualang sepenuhnya.
◇ ◇ ◇
Begitulah kehidupan dunia lain Renji sebelum segalanya berubah. Hari itu adalah sehari setelah pertempuran sengit Rio dengan Nidoll di Kastil Proxia—dua hari sebelum Christina dan Flora menghilang dari kapal udara berhulu sihir. Putri pertama, Sylvie Rubia, sedang berkunjung ke kamar penginapan mahal yang disewa Renji secara sembunyi-sembunyi.
“Lama tak jumpa, Renji.” Sylvie duduk di sofa di seberang Renji dan tersenyum.
“Kamu yakin soal ini? Meskipun kamu datang secara diam-diam, kamu tetap mengunjungi penginapan seperti ini,” tanya Renji sambil terkekeh.
“Kamu benar-benar punya nyali menyebut penginapan dengan kualitas terbaik di kerajaan ini ‘penginapan seperti ini’.”
“Tempat ini tetap saja bukan tempat yang bisa dikunjungi seorang putri dengan santainya, kan?”
“Apakah kamu tidak ingin aku datang?”
“Bukannya begitu. Aku hanya tidak bisa menyambutmu dengan layak.”
“Oh? Aku terkejut kamu mengerti konsep menyambut tamu,” ujar Sylvie dengan ceria.
“Menurutmu aku ini siapa? Yah, terserahlah. Akhir-akhir ini aku tidak melihat wajahmu, jadi kebetulan aku juga penasaran dengan apa saja yang sudah kamu lakukan.” Renji menghela napas lelah saat ia menanyakan perkembangan terbaru Sylvie.
“Belum lama ini, ada sebuah perjamuan di Kerajaan Galarc tempat para pahlawan dari setiap negara berkumpul. Aku meninggalkan ibu kota untuk sementara waktu karena aku diundang sebagai perwakilan dari kerajaan ini. Lalu ada berbagai hal yang harus diurus begitu aku kembali juga,” jawab Sylvie, keletihan tampak samar di wajahnya.
“Kamu bertemu dengan para pahlawan dari setiap negara…?” tanya Renji.
“Ya. Aku sedikit mengobrol dengan mereka,” balas Sylvie sambil mengamati wajah Renji.
“Seperti apa orang-orang itu?”
Rumor bahwa para pahlawan telah dipanggil di seluruh wilayah Strahl juga telah sampai ke Kerajaan Rubia, yang sudah disadari oleh Renji. Dia belum menceritakan kepada siapa pun tentang statusnya sebagai pahlawan, tetapi dia tampaknya tertarik pada pahlawan-pahlawan lainnya.
“…Mereka adalah anak laki-laki dan perempuan seusia kamu dan aku,” jawab Sylvie sederhana setelah sedikit jeda.
“Begitu ya… Ngomong-ngomong, apakah Estelle sehat-sehat saja?”
Renji tampak merasa canggung karena menyembunyikan status pahlawannya sendiri, jadi dia tidak bertanya lebih jauh tentang mereka. Sebagai gantinya, dia mengalihkan topik ke adik perempuan Sylvie, sang putri kedua Estelle. Terakhir kali dia diundang ke kastil, Renji sempat menghabiskan waktu berinteraksi dengan Estelle. Berbeda dengan Sylvie, seorang wanita gagah berani yang dikenal sebagai Putri Ksatria, adik perempuannya adalah gadis yang rendah hati dan bersikap lembut. Karena alasan inilah mereka sering dikatakan memiliki kepribadian yang bertolak belakang sebagai saudara.
“…Estelle sedang dalam masa pemulihan saat ini.” Sebuah bayangan mendung terbesit di wajah Sylvie saat dia berbicara.
Ini adalah masalah rahasia kerajaan. Aku tidak bisa memberitahunya bahwa dia dijadikan sandera sebagai alat untuk diplomasi, itulah yang dipikirkan oleh Sylvie.
“Apakah dia sakit?”
“Yah, semacam itulah.”
“Jika kamu butuh ramuan obat apa pun, aku bisa pergi mengambilnya.”
“Tidak, tidak apa-apa. Dia akan pulih seiring berjalannya waktu, jadi jangan khawatirkan itu. Dia pasti akan bisa menemuimu lagi suatu hari nanti. Ketika hari itu tiba, mari kita bawa dia ke penginapan ini,” kata Sylvie sambil tersenyum untuk meredakan kekhawatiran Renji.
“Begitu ya…” Untuk sesaat, mata Renji terpaku pada wajah tersenyum Sylvie, tetapi dia segera terkekeh dan berkata, “Tapi Estelle adalah seorang putri. Akan lebih baik bagiku untuk pergi ke kastil.”
“Hei… Apa maksudmu dia seorang putri? Bagaimana dengan aku? Aku juga seorang putri!” Sylvie berkedip, lalu memprotes dengan wajah tidak puas.
“Ya, kamu adalah Ksatria Putri.”
“Hentikan itu. Aku tidak suka julukan itu.”
“Hei, kamulah yang memperkenalkan diri sebagai Ksatria Putri saat pertama kali kita bertemu. Kita bahkan bertanding setelah itu, ingat?”
“Kupikir memperkenalkan diri seperti itu akan mengarah ke pertandingan secara lebih natural.”
Suasana akrab dalam obrolan mereka adalah sesuatu yang tidak terpikirkan untuk seorang putri pertama dan seorang petualang biasa. Waktu berlalu begitu saja saat mereka mengobrol dengan santai.
“Sungguh menyenangkan bisa mengobrol denganmu seperti ini; tidak perlu terlalu kaku. Ini sangat menenangkan,” gumam Sylvie.
“Ada apa denganmu tiba-tiba?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya harus menjaga ketegangan sarafku akhir-akhir ini. Aku tadi sedang memikirkan betapa berharganya mengunjungimu, karena aku merasa cukup kelelahan secara mental.”
“Apakah kamu terlalu banyak bekerja? Sebenarnya bukan tempatku untuk mengatakan ini sebagai seorang petualang yang hidup santai, tapi bekerja terlalu keras adalah sebuah masalah. Kamu juga harus meluangkan waktu untuk bersantai secukupnya,” saran Renji.
Pada saat itu, pintu kamar diketuk sebelum akhirnya terbuka.
“Putri Sylvie, apakah Anda memiliki waktu luang?”
Orang yang masuk adalah kesatria wanita di bawah komando Sylvie, Elena Broman. Dia telah berjaga di luar ruangan sementara Sylvie dan Renji mengobrol.
“…Aku sudah menginstruksikanmu untuk menunggu di luar ruangan sampai aku pergi, bukan?” tanya Sylvie dengan nada menegur.
“Ya, tapi—Jean Bernard meminta audiensi dengan Anda.”
Elena dengan ragu-ragu menyebutkan nama tamu tersebut. Jean Bernard adalah nama samaran dari Duta Besar Kekaisaran Proxia, Reiss, ketika dia sedang bertindak di Kerajaan Rubia.
“Audiensi denganku? Baiklah. Aku akan segera kembali ke kastil. Maaf, Renji, kita akhiri sampai di sini saja untuk hari ini—”
Sylvie sedang mengakhiri obrolannya dengan Renji dengan meringis ketika Elena menyela untuk menghentikannya. “Putri. Mengenai hal itu… Jean Bernard sebenarnya telah datang ke sini…”
“Di sini? Ngg, bagaimana dia bisa tahu…?” Ekspresi Sylvie semakin bertambah muram.
Apakah dia tahu tentang Renji? Dia adalah seorang petualang terkenal, jadi tidak aneh jika dia mengetahuinya… Apa yang dia inginkan? Segala macam kemungkinan muncul di benaknya.
Renji melihat ekspresi wajah Sylvie dan memiringkan kepalanya karena curiga. Tepat pada saat itu, Jean Bernard yang disebutkan tadi—atau yang dikenal sebagai Reiss—muncul di samping Elena di depan pintu.
“Mohon maaf atas penyusupan yang mendadak ini.” Reiss meletakkan satu tangan di dadanya dan menundukkan kepalanya dengan hormat kepada Sylvie dan Renji.
Aku belum pernah melihat wajah ini sebelumnya… Belum pernah mendengar namanya juga. Bukankah tidak sopan bagi seorang pelayan biasa untuk mengunjungi seorang putri secara sembunyi-sembunyi tanpa peringatan apa pun? Renji memikirkan hal-hal seperti itu saat ia mengamati Reiss dengan cermat.
“…Apa yang kamu inginkan?” tanya Sylvie dengan nada tidak senang.
“Aku mendengar bahwa Anda berada di sini, jadi aku datang berkunjung. Sebelum aku menyampaikan urusanku, bolehkah aku terlebih dahulu menyampaikan salamku kepada Tuan Renji yang Menyendiri?” Reiss menatap Renji dengan senyuman ceria yang nyaris menyeramkan.
“Yah, aku tidak keberatan. Tapi kau sedang menyita waktu pribadiku saat ini. Urusanmu sebaiknya memang penting.” Renji bersandar di sofa, menyilangkan kakinya saat ia berbicara dengan nada mengancam.
“Ya, kemungkinan besar memang penting. Kalau begitu, jika aku boleh memberikan salam singkat: aku adalah Jean Bernard, seorang bangsawan Rubia rendahan dari peringkat terendah.”
“Aku belum pernah mendengar nama atau keluargamu.” Renji tidak tertarik dengan para bangsawan Kerajaan Rubia, jadi itu sudah pasti. Seorang bangsawan biasa akan merasa tersinggung dengan perkataan Renji pada titik ini, tetapi—
“Tentu saja, karena kami berada di anak tangga paling bawah dalam tangga sosial. Merupakan suatu kehormatan besar bisa bertemu dengan sosok Yang Menyendiri yang terkenal.” Reiss menghindari topik tersebut dengan senyuman yang benar-benar menyenangkan.
“…” Renji mengamati Reiss dengan mata menyipit.
Sungguh pria yang menyeramkan. Raut wajah Sylvie yang suram itu juga menggangguku.
Dia mencoba mencari perubahan ekspresi apa pun, tetapi rasanya pria itu sedang mengenakan topeng. Ada sesuatu yang aneh tentang dirinya.
“Hei. Apa maksud dari semua ini, Bernard?” Sylvie menyela dengan nada jengkel.
“Aku punya hal untuk didiskusikan dengan Yang Mulia mengenai Putri Estelle yang sangat, sangat menggemaskan itu. Bukankah sudah waktunya Anda pergi menemuinya?”
“…Apa maksudmu?”
“Maksudku persis seperti apa yang baru saja kukatakan…” Reiss memiringkan kepalanya dengan tenang.
“…Aku bisa menemuinya?”
“Ya. Itulah kesepakatan kita sebelumnya, bukan? Bahwa Anda pada akhirnya akan bisa melihatnya lagi. Namun, aku sendiri cukup sibuk dan akan merasa kerepotan jika ada hal aneh yang menghalangi, jadi jika Anda ingin menemuinya, sekarang adalah waktu terbaik.”
“…Baiklah.” Setelah ragu-ragu sejenak, Sylvie mengangguk.
“Ada apa sebenarnya, Sylvie? Bukankah Estelle sedang dalam pemulihan?” tanya Renji dengan nada ragu.
“Aku akan pergi ke tempatnya beristirahat. Maaf, tapi aku harus pergi untuk hari ini. Aku akan mengunjungimu lagi suatu saat nanti, Renji.” Sylvie menampilkan ekspresi tenang dengan senyuman sekilas lalu berdiri.
“Baiklah, tidak apa-apa…” Renji menatap Sylvie, tidak sepenuhnya yakin. Namun, wanita itu sudah setengah jalan keluar pintu sebelum ia sempat berbuat apa-apa.
“Kalau begitu, tunjukkan jalannya, Bernard,” kata Sylvie kepada Reiss.
“Baiklah, Yang Mulia.”
Reiss memasang senyuman lebar di wajahnya lalu berbalik untuk keluar ruangan dan menyusuri koridor. Sylvie mengikutinya keluar. Tepat sebelum Reiss pergi, ia melirik Renji. Ia melemparkan senyuman penuh kecurigaan yang menyiratkan sesuatu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Cara Sylvie bersikap… Apakah sesuatu yang aneh sedang terjadi? Pria itu benar-benar mencurigakan…
Naluri Renji semakin tajam. Senyuman mencurigakan Reiss terlintas di benaknya, memberinya perasaan tidak nyaman saat ia melihat ke luar jendela ke arah pintu masuk penginapan di bawah. Reiss dan Sylvie sama-sama menaiki kereta kuda. Ada sesuatu yang mengancam dari kedua orang itu.
Aneh. Haruskah aku mengikuti mereka dan menyelidikinya?
Setelah mengambil keputusan, Renji dengan cepat menyiapkan barang-barangnya dan melangkah keluar penginapan.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, di dalam kereta kuda yang ditumpangi Sylvie dan Elena…
Tidak tahu sudah berapa lama sejak mereka berangkat. Keheningan yang menyesakkan terus berlanjut di dalam kereta kuda.
“Hei, Reiss. Siapa pria ini?” Sylvie menanyakan identitas pihak ketiga yang duduk secara diagonal di seberangnya di dalam kereta kuda yang sempit itu. Mata kiri pria itu tersembunyi di balik penutup mata hitam pekat, lengan kirinya dibalut perban dengan semacam formula mantra yang tertulis di atasnya. Ada aura niat membunuh yang mengkhawatirkan memancar darinya.
“Dia pengawalku, karena akan sangat menegangkan jika seseorang yang tidak berdaya sepertiku harus bepergian sendirian. Namanya Lucius. Dia sedang berada dalam suasana hati yang agak teriritasi saat ini, jadi jangan coba-coba melakukan hal aneh. Aku tidak bisa menjamin nyawamu jika kamu melakukannya,” jawab Reiss dengan ekspresi segar, sambil mengangkat bahunya.
“Lucius?”
“Oh, apakah kamu mengenalnya?”
“Jika itu adalah komandan dari Heavenly Lions, maka aku pernah mendengar namanya. Namun, aku tidak merasa melakukan sesuatu yang membenarkan diarahkannya niat membunuh sebanyak ini padaku. Itu membuatku ingin menebasnya sebelum aku diserang duluan,” kata Sylvie, menatap tajam ke arah Lucius.
“Ha!” Lucius tiba-tiba mengeluarkan tawa gembira.
“Ada apa?” Sylvie mengerutkan alisnya.
“Niat membunuh ini tidak diarahkan kepadamu, tahu? Keparat yang sangat ingin kubunuh ada di tempat lain. Bahkan, aku tidak ingin apa pun selain pergi dan membunuhnya detik ini juga,” kata Lucius dengan mata kosong dan gelap.
“Hei, Reiss. Apakah orang ini sudah gila atau apa?” Sylvie menyipitkan matanya penuh kecurigaan dan bertanya kepada Reiss. Namun, Reiss hanya mengangkat bahu ringan tanpa menjawab.
“Dengar, Putri.”
“…” Lucius telah memanggilnya, tetapi Sylvie dengan teguh mengabaikannya.
“Bayangkan ini. Adikmu—Estelle, bukan? Seorang wanita yang begitu cantik dijadikan sandera. Apakah kamu benar-benar berpikir dia masih aman sekarang?”
“K-Kau!” Sylvie bereaksi keras ketika keselamatan adik perempuannya disinggung, sebuah urat menonjol di dahi.
“Heh.” Lucius mencibir.
“Apakah pernyataan tadi merupakan deklarasi bahwa kalian tidak memperlakukan sandera sebagai sandera? Jika iya, urusan ini sampai di sini saja,” Sylvie meraih sarung pedang di pinggangnya.
“Hei sekarang, apa kamu berencana menghunus benda itu di ruang sempit seperti ini?” Berlawanan dengan ucapannya, senyum miring di wajah Lucius justru sangat menantikan dia melakukan hal tersebut.
“Kamu pikir aku tidak mampu menebasmu dan pelat besi kereta ini secara bersamaan?” bentak Sylvie.
Suasana tegang memenuhi bagian dalam kereta. Di samping Sylvie, Elena juga bersiap untuk bertempur dengan ekspresi muram. Dia sudah bersiap untuk bertindak jika sesuatu terjadi.
Lucius bersandar dengan angkuh, terus memprovokasi mereka dengan tatapannya. Laju seperti ini membuat orang mengira perkelahian akan pecah kapan saja, tetapi Reiss menyela dengan ekspresi muak. “Hentikan itu. Kami bertindak secara formal atas nama negara kami. Kami tidak sama dengan bandit atau tentara bayaran pada umumnya, jadi kami tidak akan melakukan apa pun yang membahayakan sandera yang kami dapatkan. Putri Estelle sama sekali tidak terluka,” kata Reiss kepada Sylvie.
“Bertindak secara formal untuk negara kalian? Maksudmu negara yang bangkit dari kaum tentara bayaran?” Sylvie meluap-luap dalam kemarahan, mengerutkan kening saat dia membantahnya.
“Betapa anehnya. Bukankah justru karena kalian menganggap kami sebagai negara formal makanya kalian menyetujui aliansi rahasia ini?”
“Kata-kata yang tidak tahu malu untuk seseorang yang menjadikan Estelle sebagai sandera sebelum memaksa melakukan negosiasi…”
“Itu pernyataan yang aneh lagi. Sandera telah digunakan dalam negosiasi antarnegara sejak zaman kuno, bukan? Bahkan untuk politik internal, bukanlah hal yang langka bagi para penguasa untuk meminta sandera dari para pengikut mereka sebagai jaminan kepatuhan…” Reiss memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.
“Jangan berpikir bahwa sebuah negara yang menyandera akan benar-benar dipercaya dalam sebuah aliansi.”
“Akan kuingat itu. Namun, sebuah pakta tetaplah pakta. Kami akan berusaha dalam hal-hal di luar urusan sandera demi membentuk hubungan yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, pihak kalian juga harus mengingat untuk tidak merusak hubungan yang didasari kepercayaan timbal balik ini. Yah, beberapa keluhan di sana-sini masih bisa diabaikan,” balas Reiss dengan tenang menanggapi tatapan tajam yang dikirimkan Sylvie kepadanya.
“…”
Sylvie mendengus pelan dan menahan diri untuk tidak berbicara lebih jauh. Meskipun enggan, itu adalah tanda persetujuan diam-diam atas perkataan Reiss. Beberapa menit kemudian, kereta kuda itu berhenti.
“Apakah kita akan turun dari kereta sekarang?” usul Reiss. Sylvie dan Elena turun terlebih dahulu, diikuti oleh Reiss dan Lucius di belakang mereka.
Jadi kita dibawa keluar dari ibu kota juga rupanya?
Demi memeriksa keselamatan Estelle, sebelum naik ke kereta, dia telah menyetujui syarat bahwa tujuannya tidak akan diungkapkan sampai mereka tiba. Jendela kereta ditutup selama perjalanan, jadi dia juga tidak tahu rute apa yang mereka ambil, tetapi dia memiliki kecurigaan samar bahwa mereka sedang menuju ke luar ibu kota. Ibu kota Kerajaan Rubia adalah wilayah Sylvie, dan Reiss tidak cukup pikun untuk membiarkannya bersatu kembali dengan Estelle di tempat seperti itu.
Benar saja, lokasi mereka saat ini berada di sepanjang jalan yang membentang dari ibu kota, cukup jauh hingga kastil kerajaan tertinggi di ibu kota masih dapat terlihat di kejauhan.
“Aku tidak melihat Estelle.” Sylvie melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda orang lain di jalan selain mereka, dan mereka dikelilingi oleh padang rumput tak berpenghuni di kedua sisi jalan. Tampaknya rumput-rumput itu kekurangan nutrisi, karena warnanya yang buruk dan ukurannya yang pendek. Ada batu-batu besar yang cukup besar untuk menyembunyikan seseorang yang tersebar di tempat itu.
“Silakan, lewat sini.” Reiss memberi isyarat dengan tangannya dan mengajak Sylvie meninggalkan jalan raya. Meninggalkan kereta dan kusirnya di jalan, ia memimpin jalan ke depan.
“Putri Sylvie, saya akan berada di belakang Anda.”
“Baiklah.”
Sylvie berjalan mengikuti Reiss terlebih dahulu, dengan Elena berjalan di belakangnya. Lebih jauh di belakangnya adalah Lucius, dan mereka berempat berjalan dalam satu barisan. Sylvie dengan waspada mengawasi Reiss di depannya, sementara Elena dengan waspada mengawasi Lucius di bagian belakang saat mereka berjalan.
“Anda memberi tahu bawahan Anda yang lain bahwa Anda akan pergi bersama saya ketika kita berangkat dari penginapan, jadi tidak perlu terlalu waspada. Selama Anda sendiri tidak mencoba melakukan macam-macam, tentu saja.” Reiss terkekeh saat berbicara kepada kedua orang yang berjalan di belakangnya.
“Aku tidak berniat melakukan apa pun selama aku bisa memastikan keselamatan Estelle. Namun, aku harap kau siap menghadapi kemungkinan terburuk jika aku mendapati Estelle telah disakiti.”
“Kalau begitu, kita berdua tidak perlu khawatir tentang apa pun. Silakan berhenti di sini,” kata Reiss, sambil menunjuk ke sebuah batu besar di depannya. Tiga pria berkerudung dan seorang gadis muncul dari balik batu besar itu. Sepertinya dia mengenakan kalung penyegel sihir, tetapi tidak ada tanda-tanda cedera apa pun. Dia memasang ekspresi sedih di matanya saat melihat kakak perempuannya berada seratus meter di depannya.
“Estelle!” Sylvie secara refleks langsung berlari. Namun—”
“Ah, ah, tolong jangan mendekat lagi dari jarak ini.” Reiss menghalangi jalannya.
“Ngh…”
“Seperti yang dijanjikan, Anda telah memastikan keselamatannya. Sudah waktunya kita kembali,” kata Reiss tanpa perasaan, dengan ekspresi yang dingin. Sylvie memelototinya dengan tatapan membunuh.
“Apa?! Aku baru melihat wajahnya! Dan itu dari jarak sejauh ini!”
“Tapi Anda sudah melihatnya, bukan? Anda telah mencapai tujuan untuk memastikan keselamatannya.”
“Mana bisa aku yakin dia tidak terluka hanya dengan sekali lihat. Setidaknya biarkan aku berbicara dengannya,” mohon Sylvie dengan putus asa.
“Kita akan menanggung risiko yang cukup tinggi jika aku mengizinkan hal itu… Tapi baiklah. Salah satu alasan mengapa pertemuan ini diadakan adalah untuk memastikan stres Anda tidak membuat Anda bertindak di luar batas,” kata Reiss, sambil meletakkan tangannya di dekat mulutnya seolah sedang berpikir.
“Kalau begitu…”
“Namun, ada satu syarat yang harus Anda terima. Jika Anda menerima syarat itu, aku akan mengizinkan Anda melakukan percakapan tanpa gangguan selama beberapa detik.”
“Katakanlah.” Meskipun itu hanya berlangsung selama beberapa saat yang singkat, gagasan bisa berbicara dengan Estelle sudah cukup memikat bagi Sylvie untuk setidaknya mendengarkan syarat tersebut.
“Yang Mulia harus menyerahkan pedang terpesona itu kepada kesatria pengawalmu.”
…Apakah hanya itu?” tanya Sylvie dengan terkejut. Ia menduga Reiss akan memberikan syarat yang lebih menuntut di saat yang begitu tepat.
Pedang terpesona yang digunakan Sylvie juga merupakan harta nasional berupa artefak kuno. Ia tidak akan membiarkan Reiss atau Lucius memegangnya, dan bahkan jika dibandingkan dengan rekan aliansi yang tidak dapat dipercaya itu, ia hampir tidak keberatan untuk mempercayakannya kepada orang terdekatnya, Elena.
“Ya. Untuk seseorang yang sekuat Sang Puteri Kesatria, sebenarnya aku lebih suka mengenakan belenggu penyegel sihir pada Anda, tetapi aku akan menaruh kepercayaan padamu. Anggaplah ini sebagai tindakan untuk memperdalam kepercayaan kita satu sama lain,” pinta Reiss dengan nada yang tumben sekali terdengar sangat serius.
“Baiklah… Elena, tolong pegang ini sebentar.” Sylvie melepaskan sarung pedang di pinggangnya dan menyerahkannya kepada Elena.
“Saya akan menjaganya dengan sangat hati-hati.” Elena berlutut dan menerima pedang terpesona itu dengan penuh rasa hormat.
“Kalau begitu, silakan,” desak Reiss.
Sylvie berjalan ke arah Estelle. Estelle sendiri telah dibebaskan untuk sementara dan mulai berjalan mendekati Sylvie dengan ragu-ragu. Semakin dekat keduanya satu sama lain, semakin cepat pula langkah kaki mereka.
“Apa kamu tidak terluka, Estelle?”
“Ya. Aku sangat meminta maaf atas semua masalah yang telah kutimbulkan, Sylvie.”
Mereka berdua saling mengaitkan tangan dan bertukar kata-kata kelegaan setelah bertemu kembali. Sylvie tersenyum gembira karena melihat adik perempuannya selamat, tetapi ekspresi Estelle tampak suram karena kenyataan bahwa keberadaannya sendiri kini telah menjadi sebuah beban bagi saudari dan kerajaannya.
“Jangan ambil pusing—kamu tidak salah di sini. Jangan gegabah dan melakukan hal-hal aneh.” Sylvie menggenggam tangan Estelle erat-erat.
“Baiklah…” Estelle mengangguk disertai kilasan senyuman manis.
“Apa mereka melakukan sesuatu yang aneh padamu?”
“Tidak ada yang khusus. Aku memang dikurung, tetapi kondisi tempat tinggalku tidak begitu berbeda dari tinggal di istana.”
Ş“Begitu ya… Apa ada hal lain yang mengganggumu?”
“Tidak ada. Aku yakin keadaanmu jauh lebih buruk daripada keadaanku. Jika situasinya mendesak, kumohon singkirkan saja aku.”
“Situasi seperti itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah,” kata Sylvie dengan ekspresi tegang.
“Terima kasih…” Estelle meletakkan kedua tangan di dadanya dan menundukkan kepala dengan senyuman sekilas.
“Waktunya habis.” Reiss mendekati Sylvie dari belakang, ditemani oleh Elena dan Lucius.
“Baiklah.” Sylvie berbalik sambil menghela napas dan mendekati Elena yang berdiri di samping Reiss.
“Terimalah ini, Yang Mulia.”
“Baik.”
Elena berlutut di tanah, mengembalikan pedang sihir itu kepada Sylvie. Sambil melakukannya, dia melihat sekilas wujud Estelle yang tidak terluka dan mengembuskan napas lega yang pelan.
“Sekarang, Putri Estelle. Silakan kembali kepada orang-orang itu,” ujar Reiss sambil menatap ketiga pria bertudung di dekat batu besar.
“Baiklah.” Estelle mengangguk. Dia memisahkan diri dari Sylvie dan yang lainnya lalu mulai berjalan kembali.
Lalu, dari sebuah batu besar yang terletak secara diagonal di samping Estelle dan para pria itu, sesosok bayangan melompat keluar dengan kecepatan manusia super. Sosok tersebut melesat untuk memotong jarak antara Estelle dan para penculiknya, dan tampak siluet senjata mirip tombak bergagang panjang di tangan mereka. Sosok misterius itu mengangkat senjata panjangnya dengan mudah menggunakan satu tangan, menghalangi jalan para pria tersebut dan menghantamkan senjata itu ke tanah.
“Apa…?!?”
Sebuah dinding es raksasa muncul di antara Estelle dan para pria bertudung itu. Tingginya beberapa meter dan muncul tepat di hadapan Estelle, membuatnya menciut ketakutan. Sylvie dan Elena tampak terkejut. Namun, di sisi lain…
Hehe. Seperti kata rumor, dia tampaknya adalah anak yang tegas. Berkat itu, aku terhindar dari kerumitan untuk menunjuk sendiri tempat persembunyiannya.
Reiss menyeringai ngeri sambil menatap punggung sosok yang berdiri di hadapan Estelle.
◇ ◇ ◇
Sesosok sosok misterius tiba-tiba berdiri di antara ketiga pria bertudung itu dan Estelle, membentuk dinding es untuk memisahkan mereka.
“K-Renji?!”
Pahlawan yang bisa mengendalikan senjata ilahi Cocytus: Kikuchi Renji.
“Oh? Apa arti semua ini, Putri Sylvie?” Reiss menarik bibirnya sambil terkekeh dan langsung mempertanyakan Sylvie di sampingnya.
“T-Tidak, ini…” Sylvie dilanda kepanikan, mengira Renji telah mengikuti mereka dari penginapan, ketika—
“Harusnya aku yang bilang begitu.” Renji memanggul halberd-nya di bahu saat ia mendekat. Lalu, ia berdiri seolah untuk melindungi Estelle dari Reiss dan yang lainnya.
“Renji…” Estelle mengerjap dan menatapnya.
“Wah, bukankah ini Tuan Renji yang Menyendiri. Kita baru saja bertemu tadi. Kalau begitu, aku yang akan balik bertanya kepadamu: apa arti semua ini?” tanya Reiss dengan senyuman tanpa rasa takut.
“Apa kau tidak dengar? Akulah yang seharusnya menanyakan itu. Sylvie bilang Estelle sedang memulihkan diri. Kenapa dia diperlakukan seolah-olah sandera kalian? Mari kita dengar apa penjelasanmu soal itu.”
Renji mengerutkan kening, balas menatap tajam ke arah Reiss.
“Yah, itu karena dia memang seorang sandera,” aku Reiss tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Oh? Jadi kau bahkan tidak mau membuat alasan apa pun? Nyali mu besar juga.”
“Itu karena aku tidak perlu membuat alasan apa pun sejak awal. Kaulah yang menyela kami tanpa tahu situasi yang sedang terjadi, mencoba memegang kendali seolah-olah kau menguasai keadaan. Bukankah justru nyalimu yang besar di sini?”
“Pemahamanku tentang situasi ini sudah benar. Bagaimanapun aku melihatnya, kau menggunakan Estelle sebagai sandera untuk mengendalikan Sylvie. Itulah yang kau akui sendiri,” cibir Renji sambil balas berdebat.
“Memang benar. Kau kebetulan menyaksikan adegan diplomasi sandera.”
“Sungguh sampah… Sylvie, Elena, kemarilah. Estelle sekarang sudah aman, jadi tidak ada alasan lagi untuk mematuhi mereka.” Renji menatap tajam ke arah Reiss dengan tatapan penuh penghinaan.
“Kau yakin soal itu?” Reiss terkekeh sombong.
“Aku tidak sedang bertanya padamu.”
“Begitu ya. Tapi, apa kau pikir kami akan membiarkan hal itu begitu saja?” tanya Reiss.
Ketiga pria berkerudung itu muncul dari kedua sisi dinding es yang telah diciptakan Renji; pedang mereka sudah terhunus dan siap siaga.
Aku membuat dinding itu dengan niat menjebak mereka di dalam, tapi sepertinya mereka berhasil menghindar pada saat-saat terakhir, ya? Tampaknya mereka cukup lincah. Selain itu, kenapa Sylvie dan Elena terlihat begitu ketakutan? Renji mengamati orang-orang di sekitarnya dengan cepat. “Jika kalian tidak ingin menjadi musuhku, orang yang dijuluki si Penyendiri dan Kaisar Es, kalian sebaiknya mundur. Aku tidak tahu siapa kalian atau dari mana asal kalian, tapi kalian tidak ingin mati di tempat seperti ini, kan?” katanya kepada Reiss, yang berdiri di garis bidiknya.
“Provokasi yang murahan.”
“Aku tidak merasa sedang memprovokasi siapa pun.”
“Begitu ya. Jadi kau ini orang linglung yang alami, ya?”
“Baguslah, sepertinya kau memang ingin menjadi musuhku…” Untuk mengintimidasi Reiss, Renji sengaja melihat ke arah halberd-nya dan mengangkatnya agar siap.
“Begitu ya, begitu ya. Sepertinya kau bahkan lebih egois daripada apa yang dikatakan rumor tentangmu. Ceroboh, gegabah, dan arogan. Tipe kepribadian yang tidak cocok untuk bernegosiasi, namun tampaknya kau memiliki bakat yang cukup lumayan untuk hal itu.” Tanpa menunjukkan tanda-tanda ciut sedikit pun, Reiss bertepuk tangan ke arah Renji dengan ekspresi tak peduli.
“Kau meremehkan aku?”
“Aku sedang memujimu. Cara memamerkan kekuatan dahsyatmu demi memaksakan kehendakmu secara sepihak persis seperti sebuah negara besar yang berurusan dengan negara kecil. Keberanian yang kau miliki dalam memaksakan segala sesuatunya menuruti kemauanmu benar-benar luar biasa.”
“Maksudmu dia hanyalah seorang bodoh yang tidak tahu cara kerja dunia ini?” Lucius menyela sambil tertawa mengejek.
“Sepertinya pria itu ingin mati lebih dulu.”
Renji mengangkat halberd-nya dengan satu tangan, mengarahkan ujungnya ke arah Lucius.
“Hei, Reiss. Bolehkah aku membunuh bocah kurang ajar ini?” tanya Lucius.
Reiss terkekeh. “Apakah ketertarikanmu akhirnya terusik?”
“…Apa kau barusan memanggilku bocah?” Renji mengerutkan kening tidak suka. Sudah jarang ada orang yang merendahkannya dengan memanggilnya pendek atau seperti anak kecil akhir-akhir ini, tetapi hal semacam itu sering terjadi dulu saat dia pertama kali menjadi seorang petualang. Oleh karena itu, bagi Renji, kata-kata meremehkan seperti “bocah” adalah hal yang tabu. Dia telah memberi pelajaran yang menyakitkan kepada setiap orang yang merendahkannya seperti itu, tanpa terkecuali.
“Aku tidak tahu siapa yang kau pikirkan tentang dirimu sendiri, tapi dari sudut pandang mana pun, kau tetaplah seorang bocah. Terutama bagian di mana kau terlalu meninggikan dirimu sendiri hanya karena kau mendapatkan sedikit ketenaran sebagai petualang.” Lucius mencemooh Renji dengan penuh penghinaan.
“Aku telah memberi pelajaran kepada semua orang yang meremehkan penampilanku. Kau mungkin akan berakhir di nasib yang sama.”
“Jadi, kau diremehkan karena penampilan dan sikapmu. Menakutkan sekali. Maafkan aku, si egois kecil.”
“Kau terus saja bicara…” Renji meluap dengan kemarahan yang cukup untuk menyerang kapan saja, memelototi Lucius dengan mata yang berbahaya.
“T-Tunggu, Renji. Jangan gegabah,” seru Sylvie buru-buru kepadanya.
…Apa yang kau katakan, Sylvie? Orang-orang ini menjadikan Estelle sandera supaya kau tidak bisa melawan mereka, kan?” tanya Renji dengan bingung.
“Itu…” Sylvie terdiam dengan ekspresi yang dilema.
Memang benar situasi ini tampak menguntungkan. Namun, Kerajaan Rubia saat ini tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Kekaisaran Proxia. Jika aku mengikuti alur keadaan dan memihak Renji, Kekaisaran Proxia mungkin akan benar-benar mulai menyerang kita sebagai bentuk balasan. Jika itu terjadi, kerajaan kita akan runtuh dalam hitungan bulan. Jika fakta bahwa aku membantu Kekaisaran Proxia pada perjamuan terakhir tersebar, kita bisa terisolasi dari negara-negara di sekitar kita. Akan berbeda cerita jika penyelamatan itu dilakukan secara diam-diam, tetapi situasi ini…
Bisa jadi dia terlalu banyak berpikir, tetapi bagaimana jika situasi ini adalah jebakan dari Reiss? Perhatiannya tadinya sepenuhnya terfokus pada pertemuannya kembali dengan Estelle, tetapi ketika dia memikirkannya kembali sekarang, dia punya banyak alasan untuk takut bahwa percakapan di penginapan itu sengaja dibuat untuk memancing Renji agar mengikuti mereka.
Jika memang begitu, situasi ini mungkin telah diatur oleh Reiss untuk memastikan niat asli Sylvie. Itulah asumsi yang paling wajar untuk dibuat. Meskipun masih terguncang oleh situasi ini, Sylvie dengan putus asa memutar otaknya.
“Ada apa? Tolong katakan sesuatu, Sylvie,” panggil Renji, sedikit cemas.
“Hehe. Sepertinya hubungan kami sudah cukup kuat untuk menahan sesuatu yang sesederhana memindahkan sandera,” jawab Reiss mewakili Sylvie.
“Apa…?” Renji mengerutkan kening. Dia sudah bisa membayangkan bahwa itu karena mereka sedang mengancam wanita itu dengan alasan lain.
“Renji. Aku menghargai niat di balik tindakanmu yang bertindak demi diriku, tetapi ini adalah masalah kerajaan kami. Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan kepulanganku ke kerajaan pada tahap ini.”
Estelle, yang sedari tadi terdiam di samping Renji, akhirnya membulatkan tekad dan bersuara. Ekspresi dan kata-katanya sama-sama lembut, tetapi di saat yang sama menyiratkan sedikit kepasrahan.
“Lihat? Inilah alasannya kenapa aku menyebutmu gegabah, terburu-buru, dan arogan. Kamu telah melangkah ke dalam masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatanmu,” cibir Reiss.
“Sudah kubilang juga. Bahwa kamu adalah seorang idiot yang tidak mengerti cara kerja dunia,” sergah Lucius sambil tertawa terbahak-bahak untuk mengejek Renji.
“…” Renji berdiri di tempatnya, gemetar karena marah. Setelah membuat deklarasi dramatis tentang niatnya untuk menyelamatkannya, sang sandera sendiri justru menolak untuk diselamatkan. Itu pasti sungguh merupakan pemandangan yang menggelikan.
…Jangan meremehkanku,” gumam Renji setelah beberapa saat.
“Ha?” balas Lucius tanpa menyisakan rasa tertarik sedikit pun.
“Apa kalian benar-benar berpikir kekuatanku tidak bisa menyelesaikan ini?” tanya Renji kepada Reiss dan Lucius dengan kilatan kemarahan di matanya yang tidak tahu harus disalurkan ke mana.
“Bwahaha, kau benar-benar bocah ingusan ternyata. Kenapa kamu tidak beralih profesi dari seorang petualang menjadi badut magang saja?” kata Lucius sambil menahan tawanya.
“Akan kukatakan sekali lagi: jangan meremehkanku.”
“Bagaimana kalau aku tetap meremehkanmu?”
“Kau punya dua pilihan: cium tanah dan minta maaflah kepadaku dengan darah yang mengalir di dahimu, bersumpahlah untuk menjauh dari Sylvie dan Estelle, atau mati di tanganku di tempat ini juga. Nah? Pilihlah.”
“Namun, kurasa masih ada jauh lebih banyak pilihan lain selain itu.”
“Oh?”
Ketegangan antara Lucius dan Renji bagaikan berjalan di atas es tipis.
“H-Hei. Hentikan, Renji! Jangan lakukan hal bodoh!” Sylvie buru-buru mencoba menghentikannya, tetapi—
“Maaf, tapi ini bukan masalahmu lagi. Ini sudah jadi masalahku. Aku tidak bisa memaafkan siapa pun yang meremehkanku. Aku harus menyelesaikan ini dengan caraku sebagai petualang—terutama terhadap Tuan Penutup Mata di sana itu. Kau sudah siap?”
Diremehkan adalah sebuah kekalahan. Itulah arti dari seorang petualang, itulah sebabnya dia menolak untuk mendengarkan lebih jauh. Kepalanya kini dipenuhi oleh amarah yang meluap-luap terhadap Lucius dan Reiss.
“Yah, aku tidak pernah berniat membiarkan kalian pulang dengan tenang sekarang setelah kalian menyaksikan adegan ini bagaimanapun juga. Yang berarti…” Reiss sengaja menatap Lucius, yang menemaninya sebagai pengawal. Lucius mengangkat bahu sedikit sebelum meletakkan tangannya di gagang pedang yang tersarung di pinggangnya.
“Tolong tunggu, Reiss! Aku akan membicarakan segalanya dengan Renji sendiri.” Sylvie mencoba menyelesaikan masalah secara damai.
“…Apa kau pikir aku akan kalah dari orang-orang ini, Sylvie?” tanya Renji dengan nada pahit.
“Aku tahu betul kalau kau adalah petualang yang belum terkalahkan di sini. Namun, bahkan jika kau membunuh mereka, itu akan menjadi masalah bagi kami juga. Mohon mengertilah,” mohon Sylvie.
“Itu luar biasa. Belum terkalahkan di kandang sendiri, ya?”
“Tolong jangan provokasi Renji!” Sylvie menegur Lucius atas ucapannya yang mengejek.
“Kau berkata begitu, tapi dia sudah sangat bersemangat untuk maju.”
“Ya, aku tidak menuruti perintah siapa pun,” deklarasi Renji penuh semangat.
“Ngh…” Sylvie merasa cemas.
“Hmm. Tampaknya Putri Sylvie memiliki pandangan yang cukup tinggi terhadap kemampuan Aloof. Yang menjadikan ini kesempatan sempurna bagi kita untuk menunjukkan kemampuan kita sebagai mitra kerja sama. Dan karena itu, jika aku boleh memberi us bagaimana kalau kita bertaruh?” ucap Reiss seolah-olah dia baru saja memikirkan sebuah ide.
“Bertaruh?” Sylvie mengerutkan kening, bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakannya dalam situasi seperti ini.
“Ini seharusnya bukan kesepakatan yang buruk bagimu, Putri Sylvie. Kita akan mengadakan duel satu lawan satu antara pengawalku Lucius dan Aloof di sana, dan pihak yang kalah harus menerima syarat dari sang pemenang. Coba kulihat… jika si Aloof itu menang, aku berjanji untuk membebaskan Putri Estelle tanpa syarat. Aku akan mengabaikan campur tangannya di sini.”
“Kenapa kamu tiba-tiba mengangkat masalah ini…?” tanya Sylvie dengan tatapan waspada.
“Kenapa, kau tanya? Karena aku sangat menghargai fakta bahwa kau tidak mengkhianati kami saat si Aloof itu pertama kali ikut campur. Sebagai bukti bahwa hal itu telah memberikan kontribusi besar pada hubungan kepercayaan kita, aku hanya ingin menyiapkan sesuatu yang pantas.”
“Kalau begitu, aku saja yang bertarung—”
“Tidak, aku yang akan bertarung.” Renji memotong protes Sylvie terhadap duel tersebut.
“Renji…”
“Seperti yang kubilang, ini pertarunganku sekarang. Aku tidak berniat untuk mundur setelah dipermalukan separah ini.”
“Kalau begitu sudah diputuskan.” Reiss tersenyum ramah.
“Aku tidak punya keberatan soal taruhan itu, tapi pertarungan ini adalah milikku. Aku ingin syarat tambahan.”
“Terserah kamu.” Reiss dengan mudah menyetujui Renji yang ingin menambahkan syarat. Wajah Sylvie berubah masam.
“Hil. Tapi sebelum aku menyebutkan syaratku, biarkan aku mendengar syaratmu kalau-kalau Tuan Penutup Mata yang menang,” kata Renji.
“Aku hanya punya satu permintaan jika Lucius menang: bahwa mulai saat itu seterusnya, kamu akan menjadi bawahanku dan mengikuti perintahku. Contohnya, jika aku menyuruhmu melawan seseorang yang kuutus,” jelas Reiss.
“…Baiklah. Sebagai gantinya, jika Tuan Penutup Mata kalah dariku, kalian harus memberikan semua uang kalian dan menjadi budakku.”
“Hehehe, baiklah kalau begitu. Kalau begitu sudah diputuskan. Jika ada hal yang ingin kamu katakan sebelum duel, silakan saja. Kamu juga boleh untuk sementara membiarkan Putri Estelle tetap bersamamu.” Jelas sekali bahwa isi persyaratan Renji lebih kejam daripada persyaratan Reiss, namun Reiss langsung menyetujuinya dengan senyuman tanpa rasa takut. Kemudian, dia mulai berjalan menjauh dari jangkauan pendengaran percakapan Sylvie dan menuju ke arah Lucius.
“…Hei, Reiss,” kata Lucius kepada punggung Reiss dengan nada tidak senang.
“Oh? Apa kamu meragukan kemampuanmu untuk menang?”
“Bukan itu.”
“Tenang saja. Bahkan jika kamu menang, aku tidak akan melakukan hal seperti menggunakan si Penyendiri itu untuk menyiram dahagamu akan balas dendam. Aku akan kecewa jika kamu kalah, jadi aku berniat memberimu cadangan yang ekstensif,” tambah Reiss sambil mengangkat bahu, merasakan ketidakpuasan Lucius.
“Maksudku, aku tidak butuh cadangan itu.”
Mungkin karena mereka sekarang sedang membicarakan Rio, atmosfer di sekitar Lucius telah berubah total. Suaranya berubah menjadi sangat dingin tanpa menyisakan secercah kehangatan pun.
“Oh? Tapi mata dan tanganmu itu adalah produk dari bentuk bantuan ku yang paling berdedikasi, bukan? Apa kamu bilang kamu akan melaksanakan balas dendammu tanpa menggunakannya?”
“…Diamlah.” Lucius memancarkan lebih banyak kemarahan menghadapi sikap Reiss yang acuh tak acuh.
“Ya ampun. Sungguh orang yang berubah-ubah. Namun, kamu perlu menemukan keberadaan bocah itu, bukan? Aku akan sangat menghargainya jika kamu mempercayaiku sedikit lagi.”
“Aku mengenalmu dengan baik. Kamu tidak punya masalah untuk berbohong di depan orang—dengan mudah mengkhianati orang setelah mendapatkan kepercayaan mereka.”
“Kejam sekali.”
“Tapi aku tidak peduli orang seperti apa dirimu di luar urusanku dengan bajingan itu. Jadi cepat beritahu aku lokasinya.”
“Sudah kubilang berkali-kali, lokasinya sedang diselidiki. Aku belum bisa melacak jejaknya setelah dia mengantar putri pertama Kerajaan Beltrum ke Restorasi. Lagipula, dia tipe orang yang suka berkelana ke mana-mana,” kata Reiss sambil menghela napas.
“Kalau begitu, aku tidak punya alasan untuk bekerja sama denganmu,” ujar Lucius, menyiratkan bahwa dia bebas bertindak secara mandiri.
“Aku punya rencana. Dan metodeku seharusnya sesuai dengan keinginanmu. Aku yakin itu akan jauh lebih efisien daripada mencarinya sendirian. Akan lain cerita jika kamu menemaniku, tapi jika kamu tidak menemaniku maka aku harus mengecualikanmu saat aku bergerak, kan?”
“Apakah itu sebuah deklarasi perang?”
“Aku terluka. Aku bahkan menyiapkan pertarungan ini untukmu sebagai prelude dari pertarunganmu dengan orang yang kamu kasihi. Kamu baru-baru ini telah beristirahat untuk pemulihan, jadi indra bertarungmu sedikit tumpul, bukan?”
“…Aku mulai kehilangan minat pada hal ini.”
Memang benar bahwa kemampuan Lucius telah tumpul setelah masa pemulihannya yang panjang. Ditambah lagi, dia memang berpikir bahwa menghancurkan Renji akan bertindak sebagai pengalih perhatian yang bagus. Namun, ketika dia memikirkan bagaimana perkembangan ini sepenuhnya direncanakan oleh Reiss, minatnya langsung meredup.
“Sekarang, jangan berkata begitu. Silakan gunakan pertarungan ini untuk menguji kemampuan mata dan lengan itu. Jika kamu kalah, kita akan menjadi budak bajingan itu, lho,” Reiss terkekeh.
“Apa maksudmu aku akan kalah?”
“Sama sekali tidak. Selama dia belum bangkit sebagai pahlawan, tidak ada sedikit pun peluang bagimu untuk kalah darinya.”
“Hih. Kalau begitu, saatnya mengakhiri ini dengan cepat. Sepertinya mereka juga sudah siap.” Lucius menghentikan langkahnya dan berbalik saat dia berbicara. Renji juga telah selesai mengatakan apa yang perlu dia katakan kepada Sylvie dan yang lainnya, serta sedang mengamati Lucius dan Reiss dengan tatapan tajam.
“Kalau begitu, bisakah kita mulai?” Reiss dan Lucius mendekati Renji sekali lagi.
◇ ◇ ◇
Renji dan Lucius saling memelototi saat mereka berdiri di padang rumput liar yang dipenuhi bebatuan. Di samping mereka ada Reiss dan Sylvie, dan beberapa puluh meter di kejauhan terdapat Estelle, Elena, serta ketiga pria bertudung.
“Sekarang, untuk beberapa aturan sederhana. Kemenangan akan ditentukan dengan membuat lawanmu menyerah atau membuat mereka tidak dapat bertarung lebih jauh lagi. Membunuh secara teknis melanggar aturan, tetapi sebenarnya tidak ada hukuman untuk melakukannya. Ada keberatan?” Reiss menjelaskan secara singkat.
“Oh? Kemampuanku tidak cocok untuk membuat musuh pingsan, tetapi kau bilang tidak apa-apa jika aku akhirnya membunuhnya? Betapa praktisnya.” Renji tersenyum miring, suasananya hatinya membaik karena kesempatan untuk akhirnya membungkam pria di hadapannya. Dia sama sekali tidak meragukan kemampuannya sendiri untuk menang, yang anehnya menenangkan amarahnya dan mengangkat semangatnya. Dia tak diragukan lagi berada dalam kondisi terbaiknya.
“Aku tidak keberatan jika kau menyerangku dengan niat untuk membunuhku. Gunakan kekuatan halberd itu sesukamu. Jangan menahan diri,” jawab Lucius dengan berani.
“Itu memang niatku sejak awal… Setelah semua bualanmu, sebaiknya kau selamat dari serangan pertama. Aku sudah sangat bosan menghabisi semua musuhku dalam sekali pukul,” keluh Renji sambil menghela napas secara dramatis.
“Tentu. Nantikan saja.” Lucius mencabut pedang hitam di pinggangnya dengan tangan kiri saat dia berbicara. Kemudian, dia melepas penutup matanya. Di baliknya terdapat bola mata berwarna kegelapan yang menelan segalanya. Tidak ada perbedaan antara pupil, iris, atau konjungtiva. Seolah-olah dia memiliki kegelapan pekat sebagai pengganti mata kiri.
Tangan kiri, ya… Lengan kirinya yang dibalut perban juga tampak mencolok secara aneh… Apakah dia menderita sindrom anak kelas dua SMP versi dunia lain? Belum lagi pedang hitam itu… dan ada apa dengan mata hitam yang menyeramkan itu? Apa dia bahkan bisa melihat dengan mata itu?
Renji menatap Lucius dengan jijik.
“Hei, kenapa kau berdiri saja? Ciut ya?” tanya Lucius sambil menyeringai.
“Tidak, aku sedang melihat mata kiri dan lenganmu, serta pedang itu. Semuanya tampak mencolok secara aneh, jadi sungguh menggelikan kalau benda-benda itu ternyata hanya untuk pamer,” cibir Renji dengan nada mengejek.
“Sudahlah, hentikan basa-basinya. Begitu kerikil yang kulempar ini menyentuh tanah, pertandingan akan dimulai. Sekarang, kalian berdua ambil posisi masing-masing. Kami juga akan mundur,” kata Reiss sambil berjalan menghampiri tempat Estelle bersama Sylvie. Begitu jaraknya sekitar dua puluh meter, dia melempar sebuah batu sebesar telapak tangan. Batu itu terbang dalam garis parabola dan mendarat di antara Renji dan Lucius. Begitu batu itu mendarat, Renji memperkecil jarak sepuluh meter menuju Lucius dalam sekejap mata, lalu mengayunkan tombak halberd-nya ke bawah dengan tenaga besar.
Lucius merespons kecepatan itu dengan bergerak mundur sejauh mungkin yang diperlukan. Sisi tajam kapak itu meleset dari wajah Lucius hanya sehelai rambut.
“Hmm, jadi kau bisa bereaksi dengan baik terhadap kecepatan ini,” ujar Renji seolah-olah terkesan. “Tapi sekarang saatnya kau mati.” Seketika itu juga, area seluas sepuluh meter di depannya membeku, menciptakan sebuah balok es setinggi beberapa meter yang menelan Lucius.
“Hih. Sepertinya kau hanya banyak bicara saja…” gumam Renji, melampiaskan amarahnya yang selama ini tertahan. Dia mengalirkan esensi sihir ke Senjata Ilahinya untuk memperkuat fisik tubuhnya dan mengayunkan halberd-nya ke balok es itu dengan sekuat tenaga. “Haaah!”
Itu adalah ayunan yang penuh semangat. Benturan tersebut menghasilkan suara pecahan yang luar biasa, dengan halberd yang menghancurkan sebagian es tanpa berhenti, membuat serpihan es berhamburan ke mana-mana.
Renji memejamkan mata dan tersenyum miring, lalu mengangkat halberd-nya untuk disandarkan di bahu kanannya.
“Semuanya sudah berakhir. Setelah semua omong kosong yang harus kudengarkan, ternyata kau tidak ada bedanya dengan preman biasa di guild petualang… Sungguh mengecewakan. Jauh lebih menarik seandainya kau benar-benar meminta maaf sebagai budakku,” katanya seolah sangat yakin akan kemenangannya. Akan tetapi—
“Benar. Siapa yang sangka ada orang bodoh yang sebodoh ini.”
Suara seseorang yang seharusnya tidak berada di sana terdengar. Dia seharusnya sudah mati.
“Ap-Apa…?” Renji berbalik dengan cepat.
Bruk. Suara sesuatu yang menghantam lantai.
Pada saat berikutnya, Renji merasa sisi kirinya terasa ringan dengan cara yang aneh. Dia berbalik dan melihat Lucius berdiri dengan pedang hitam di tangannya.
“Kau benar-benar mengecewakan, aku benar-benar kehilangan minat. Ini bahkan tidak bisa disebut sebagai pemanasan untuk pertandinganku dengan keparat itu,” kata Lucius dengan ekspresi bosan.
Renji menatap Lucius dengan wajah tak percaya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke lantai tempat suara itu berasal. Ada sebuah lengan di lantai yang mengenakan pakaian yang sangat familiar. Apa artinya ini?
“…Sebuah lengan? Tunggu… Lengan kiriku?”
Renji sangat bingung saat melihat ke bagian di mana lengan kirinya seharusnya berada. Namun, tidak ada apa-apa di sana melewati bahunya. Sebagai gantinya, cairan merah dalam jumlah yang luar biasa menyembur keluar, mengalir ke lantai.
“RENJI!”
Satu ketukan kemudian, jeritan dari suara seorang gadis yang akrab terdengar dari kejauhan. Renji mendongak dan melihat Sylvie Pucat pasi, Reiss dan ketiga pria bertudung menghalanginya untuk berlari menghampirinya.
“Hei.” Lucius mencengkeram leher Renji dengan tangan kanannya, dengan mudah mengangkat tubuh kecilnya ke udara.
“Ugh…” Renji mengerang kesakitan. Berjuang untuk bernapas, dia akhirnya menyadari kenyataan dari apa yang sedang terjadi.
“Kenapa kamu malah melamun hanya karena satu tangan? Hah?”
“Ngh… Ugh…”
Lucius mempererat cengkeramannya, membuat wajah Renji terpuntir kesakitan. Kehilangan tenaganya, tombak halberd di tangannya jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk yang tumpul.
“Apakah kamu frustrasi? Kamu pasti merasakannya. Aku mengerti. Aku juga melihat wajah keparat itu setiap kali aku melihat tangan kiri milikku ini. Itulah kenapa aku tidak akan puas hanya dengan mengambil tangan kiri keparat itu. Aku tidak akan puas hanya dengan mencungkil mata kirinya. Aku tidak akan terima jika dia mati hanya dengan hal semacam itu. Itulah kenapa aku akan merenggut segalanya darinya, tepat di depan matanya. Aku akan membuatnya sekarat dan menyeretnya ke sana kemari, lalu menyeret semua orang yang berharga baginya dan membuatnya menonton.” Lucius melampiaskan kebenciannya dengan mata merah karena amarah, sangat gelisah.
“Uhh… Ah… Ugh…” Kesadaran Renji mulai memudar, cahaya di matanya semakin melemah dari detik ke detik.
“Melihat wajahmu tadi mengingatkanku lagi pada keparat itu. Itulah kenapa aku memanfaatkanmu sebagai uji coba untuk hal yang sebenarnya—jadi jangan harap aku akan membiarkanmu pingsan semudah ini. Hei, kamu dengar tidak? Untuk apa kamu pingsan?!” Lucius membentak Renji dengan kasar, lalu melemparkan tubuh Renji ke dalam lubang yang terukir di blok es. Es yang melemah itu hancur dan menghujani Renji dari atas.
“…”
Keheningan total terjadi selama beberapa detik, tetapi sesaat kemudian, tombak halberd Renji lenyap dari tempatnya tergeletak di atas tanah.
“Persetan…denganku…!” Renji melompat keluar dari es. Tombak halberd tergenggam erat di tangan kanannya saat dia menyerang Lucius, membiarkan dirinya dikuasai oleh kemarahan.
“Hil.” Meskipun jarak di antara mereka masih ada, Lucius mengibaskan pedang di tangan kirinya. Renji kemudian kehilangan keseimbangan dan jatuh terbanting ke tanah.
“Guh?!” Renji mencoba bangkit berdiri, tetapi dia kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab ke depan. Dia berusaha berdiri lagi, namun terjatuh sekali lagi.
Seolah-olah dia sama sekali tidak bisa berpijak. Kedua kaki Renji telah terpotong di bagian lutut.
“Coba lihat kakimu,” cibir Lucius.
Renji melihat ke arah tubuh bagian bawahnya. “K-Kapan…?! Argh!”
Segera setelah itu, Lucius berdiri di hadapannya dan menendang wajahnya dengan sekuat tenaga. Tubuh Renji melayang beberapa meter ke udara.
“Hei! Ini pasti bukan kemampuan terbaikmu!” Lucius melesat ke bawah Renji dan melancarkan tendangan ke atas yang tajam ke arah tubuhnya yang sedang jatuh.
“Gngh…!” Tubuh Renji melayang ke udara sekali lagi. Dia bisa melihat sosok Lucius semakin menjauh di bawahnya, tetapi sebelum dia menyadarinya, Lucius telah menghilang. Atau begitulah pikirnya—
“Ke mana kau melihat?”
Suara Lucius datang dari atas kepalanya, diikuti oleh benturan keras di punggungnya. Lucius telah mendaratkan tendangan kapak dengan sekuat tenaga.
“Apa…?!’
Tubuh Renji melesat turun ke bawah. Dia menghantam tanah, tidak mampu menahan diri dari benturan tersebut. Halberd miliknya kembali terjatuh dari tangan kanannya. Saat tubuhnya memantul kembali ke atas akibat benturan itu, Lucius muncul di hadapannya.
“Yo,” ucapnya dengan ceria, mencengkeram leher Renji dengan tangan kanannya. Kemudian dia mempererat cengkeramannya.
“Aah…”
Pada saat itu, ketakutan memenuhi mata Renji untuk pertama kalinya. Seolah mendukung hal tersebut, Cocytus menghilang dari tempatnya tergeletak di tanah. Lucius pun tidak luput menyadari hal itu.
“Sepertinya kau salah memilih orang untuk dilawan, ya?” katanya sambil melemparkan tubuh Renji ke tanah.
“Ugh… Urgh… A-aku menyer… Gah?!”
Terbaring dengan wajah menghadap ke bawah, Renji menggunakan tangan kanannya untuk merangkak menjauh dari Lucius dengan putus asa saat dia mencoba mengatakan bahwa dia menyerah.
Namun, Lucius menginjak punggung Renji sebelum dia sempat melakukannya.

“Hmm? Apa kau bilang sesuatu?”
“A-Aku menyerr—aaah…!”
Beban di punggungnya bertambah, membuat Renji menjerit. Saat itu juga, beberapa sambaran cahaya melesat lurus ke arah Lucius dari sisi depannya. Setiap sambaran diarahkan secara akurat untuk menembus tubuh Lucius.
Sambaran cahaya itu berasal dari Sylvie, yang berdiri dengan postur seolah-olah dia baru saja menarik dan menusukkan pedang sihir berbentuk rapier.
“Huh?” Lucius mengayunkan pedang di tangan kirinya. Seketika itu juga, kegelapan membengkak dan menelan sambaran-sambaran cahaya tersebut. Sylvie mulai menerjang ke arah Lucius, menusuk ke ruang kosong dari jarak beberapa meter. Setiap tusukan melepaskan beberapa sambaran cahaya dari ujung rapiernya, setiap sambaran diarahkan untuk membidik torso Lucius dengan presisi.
“Ha!” Lucius mencibir, menghadapi sambaran Sylvie secara langsung. Dia mengayunkan pedangnya dengan ringan, melepaskan kegelapan yang menelan berkas-berkas cahaya itu. Meskipun begitu, Sylvie terus menembakkan cahaya dari pedang sihirnya. Lalu, begitu jarak di antara mereka menyusut menjadi sekitar sepuluh meter—
“Nih, biar kuembalikannya,” kata Lucius sambil mengarahkan pedangnya ke arah Sylvie.
“Huh?!”
Serangan yang sama persis dengan yang telah ditembakkan Sylvie kini melesat ke arahnya dari segala penjuru. Kecepatannya menurun akibat terjangannya yang terus-menerus. Dia mencoba mengubah arah dengan cepat, tetapi cahaya itu terbang ke tempat yang coba dia tuju untuk menghindar. Ketika dia mencoba mencari jalur pelarian lain, dia menyadari untuk pertama kalinya bahwa sambaran-sambaran itu datang dari segala arah. Karena itulah, reaksi Sylvie menjadi terlambat.
“Ngh…”
Dia mencoba menghindari sambaran cahaya tersebut untuk meminimalkan kerusakan semaksimal mungkin. Namun, sebelum Sylvie menyadarinya, dia sudah berdiri terhindar dari kepungan sambaran cahaya itu.
“Apa…?”
Bagaimana bisa dia bergerak secara instan? Sylvie tertegun tak bisa berkata-kata. Kemudian, Reiss melangkah ke sampingnya.
“Leluconmu sudah keterlaluan. Apa kau berusaha membunuh Putri Sylvie?” tanya Reiss kepada Lucius dengan nada jenuh.
“Jangan ikut campur. Kau sengaja membiarkan wanita itu melewati dirimu,” tunjuk Lucius disertai dengusan.
“Itu karena kau terlalu menyakitinya. Lagipula, pertandingan ini akan tetap dihitung sebagai kekalahan Renji si Menyendiri akibat campur tangan Putri Sylvie,” ujar Reiss sambil menatap ke bawah ke arah Renji yang berada di tanah.
“Ah… Aah…” Renji nyaris tidak sadarkan diri, merintih dengan mata terbuka sedikit.
“R-Renji! Ngh…” Sylvie sadar kembali dan berlari menghampiri Renji. Tubuh fisiknya telah diperkuat selama pertarungan, tetapi sulit dibayangkan dia bisa mempertahankan hal itu dalam keadaan tidak sadar.
Kerusakan pada tubuhnya dan jumlah darah yang hilang tampak begitu parah, sepertinya tidak ada cara baginya untuk bertahan hidup. Sylvie gemetar melihat kondisi tragis tubuh Renji dan memelototi Lucius.
“Hei, ini adalah pertandingan atas persetujuan bersama. Kurasa aku tidak layak untuk dipelototi karena hal itu. Dia juga tidak pernah bilang menyerah, tahu?”
Bukannya Renji tidak mengatakannya, melainkan dia tidak bisa melakukannya. Lucius menatap Renji dan terkekeh puas.
“Pertandingan itu sudah diputuskan sejak detik kau memotong tangan dan kakinya! Kau memang berniat penuh untuk membunuhnya!”
“Meskipun begitu, itu berlaku untuk kami berdua. Dia mencoba membunuhku tanpa ragu-ragu sejak serangan pertama.”
“Guh…”
Memang benar, karena Renji telah mencoba mengakhiri pertandingan pada serangan pertama dengan membunuh Lucius, Sylvie tidak dapat mendebatnya lagi.
“Kalian berdua sudahi saja perdebatan itu sampai di situ. Dia tidak akan mati dengan cara seperti ini—atau lebih tepatnya, aku tidak akan membiarkannya mati seperti ini.” Reiss telah memungut anggota tubuh Renji yang terpotong sementara keduanya berdebat sengit.
“Dia tidak akan mati…?” Sylvie menatap anggota tubuh yang terpotong itu dengan kemarahan.
“Ya. Karena dia adalah seorang pahlawan.”
“Apa…” Sylvie terkejut hingga tidak bisa berkata-kata oleh perkataan Reiss.
Kenapa… dia bisa tahu…? Pikiran Renji bergejolak dalam keadaan linglung. Namun, dengan pertanyaan itu sebagai pemikiran terakhirnya, kesadarannya memudar.
“Pingsan karena hal seperti ini… Kurasa ini adalah bukti bahwa dia masih belum bangkit sebagai seorang pahlawan. Tampaknya dia masih belum berpengalaman,” kata Reiss, sambil menyatukan kembali anggota tubuh yang terpotong ke posisi semula. Anggota tubuh Renji mulai tersambung kembali secara kasat mata seolah-olah ditarik untuk menyatu.
“Apa…?! Sylvie tercekat karena terkejut.
“Lihat? Dia tidak akan mati.” Reiss tersenyum seolah dia tahu segalanya sejak awal. Yah, dia masih belum bangkit sebagai pahlawan, jadi kecepatan pemulihannya agak lambat… Dan sebagai manusia, dia masih terikat oleh emosi kemanusiaannya.
“A-Apa maksudnya ini?! Apa?! Reiss! Kau sudah tahu bahwa Renji adalah seorang pahlawan sejak awal, bukan?!” protes Sylvie kebingungan.
“Kau sendiri sedikit banyak menyadari identitas si Aloof, bukan? Dan kuduga itu karena kau juga melihat para pahlawan di jamuan makan di Kerajaan Galarc?”
…Apa yang ingin kau lakukan pada Renji?” tanya Sylvie dengan ekspresi jijik. Melihat betapa tenangnya Reiss membantunya mendapatkan kembali ketenangannya sedikit.
“Seperti yang telah disepakati, dia akan menjadi bawahanku.”
“Kau akan menjadikan seorang pahlawan sebagai bawahanmu?”
“Apa kau menganggap itu tidak sopan? Asal tahu saja, aku menghargainya karena potensi bertarung yang terpendam daripada kegunaan politisnya. Bagaimanapun juga, kita tidak akan pernah punya cukup petarung hebat,” jawab Reiss menanggapi kerutan di dahi Sylvie dengan senyuman menyeramkan.
“…” Sylvie terdiam.
“Kau tidak perlu terlalu waspada—aku tidak akan mengarahkan kekuatannya kepadamu. Asalkan kita bersekutu, tentu saja.” Dengan kata lain, cerita akan berbeda jika mereka menjadi musuh.
“Sekarang, bisakah kita berangkat? Putri Estelle akan tetap tinggal bersama kita, tetapi sebagai tanda kepercayaan kita, kau boleh merawat temanmu untuk saat ini. Tolong jelaskan posisinya kepadanya dengan jelas.” Meninggalkan kata-kata itu, Reiss berjalan pergi. Lucius, yang telah kehilangan minat sepenuhnya pada Renji, mengikuti di belakangnya.
Anggota tubuh Renji yang terpotong telah disambung kembali dan pendarahannya sudah berhenti.
Renji…
Sylvie memungut pemuda yang tidak sadarkan diri itu dengan ekspresi muram dan mengikuti di belakang Reiss serta yang lainnya.
◇ ◇ ◇
Malam itu, Lucius dan Reiss kembali ke Kastil Proxia bersama Putri Kedua Estelle. Renji, yang masih pingsan, dibawa ke kastil kerajaan oleh Putri Sylvie.
Lucius mengurung diri di kamarnya dan duduk di dekat jendela untuk memelototi beberapa dokumen. Ini adalah laporan mengenai Rio yang diserahkan Reiss kepadanya untuk dibaca sementara dia pergi berbicara dengan Nidoll. Lucius membaca ulang laporan-laporan itu berulang kali untuk mencari informasi yang bisa dia gunakan.
“Maaf membuatmu menunggu.”
Reiss telah menyelesaikan urusannya dengan Nidoll dan tiba di kamar Lucius. Dia menghentikan langkahnya begitu memasuki kamar dan melihat Lucius sedang duduk di dekat jendela.
“Seseorang di dalam kastil menggunakan kristal teleportasi,” ujar Lucius tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan-laporan tersebut. Sesaat lalu, dia telah mendeteksi sisa-sisa ode dan mana yang menjadi ciri khas sihir ruang.
“Luar biasa. Arein, Lucci, dan Ven baru saja berangkat untuk sebuah tugas. Aku menyuruh mereka menuju Rodania di Kerajaan Beltrum.”
Lucius mengangkat kepalanya untuk pertama kalinya dan menatap Reiss dengan tajam. “Apa lagi yang sedang kau rencanakan sekarang?”
“Sepertinya kau masih tidak mempercayaikanku. Tidak ada rencana apa pun—aku mengirim mereka bertiga untuk mencari keberadaan rekan takdirmu, Ksatria Hitam. Aku telah menyerahkan laporan kepadamu yang berisi semua informasi tentangnya, mengirim bawahan-bawahan ku menggunakan kristal teleportasi berharga yang tidak bisa diproduksi secara massal hanya untuk mengumpulkan informasi. Sudah saatnya kau mempercayaiku sedikit.”
“Itu tergantung pada apa yang akan kau katakan selanjutnya. Kau bilang kau akan menyiapkan panggung bagiku untuk melawan bajingan Rio itu sendirian jika aku pergi bersamamu ke Kerajaan Rubia, kan?”
“Tentu saja, aku sama sekali tidak berniat mengingkari janji itu.” Reiss mengangguk tanpa ragu.
“Tapi kau ikut campur di akhir pertarunganku dengan bocah sialan itu hari ini.” Lucius teringat saat Putri Sylvie campur tangan.
“Orang yang campur tangan adalah Putri Sylvie dan bukan diriku.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau seharusnya bisa menghentikan wanita itu.”
“Aku tidak menyangkalnya. Namun, aku memang sudah memberitahumu sebelum kita memasuki kerajaan itu bahwa aku akan turun tangan jika kau bertindak terlalu jauh. Aku membiarkan Putri Sylvie bertindak karena tindakan cerobohmu bisa saja memojokkan sang pahlawan hingga titik kebangkitan.”
“…Lalu, apa yang berniat kau lakukan selama pertarunganku dengan Rio nanti? Bahkan jika kau menyiapkan panggung bagiku untuk melawan bajingan itu, apakah kau akan ikut campur saat aku tengah bertarung dengannya?” Bahkan jika Reiss sendiri tidak ikut campur dalam pertarungan itu, dia bisa dengan mudah membiarkan orang lain melakukannya seperti yang dia lakukan pada Sylvie. Lucius mewaspadai hal tersebut.
“Seperti yang kubilang sebelumnya, aku akan menyiapkan panggung untukmu di mana tidak seorang pun bisa ikut campur sama sekali.”
“Tapi kau yakin aku akan kalah jika bertarung ulang dengannya.” Itulah hal yang paling membuat Lucius tidak senang. Hal itu juga yang menjadi dasar kecurigaannya bahwa Reiss akan ikut campur.
“…Aku akui, aku yakin kau berada dalam posisi yang dirugikan. Namun, selama dia adalah manusia, dia pasti memiliki celah sebanyak yang kau butuhkan. Kurasa aku sudah mengatakannya—jika kau membantuku dalam urusanku di Kerajaan Rubia, aku akan menjelaskan seluruh rencanaku padamu. Aku juga sudah menyebutkannya sebelum kau bertarung melawan Renji, tapi aku yakin itu akan sesuai dengan seleramu.”
“Kalau begitu, biarkan aku mendengarnya.”
“Tentu saja.”
“Tapi pertama-tama, aku ingin memastikan sesuatu.”
“Katakan apa pun yang kau inginkan,” jawab Reiss sambil mengangguk dan mengangkat bahu.
“Kau sudah tahu keberadaan Rio, bukan?” tanya Lucius langsung pada intinya.
“Tidak, sayangnya aku tidak tahu lokasi persisnya… Seperti yang kau tahu, dia bisa terbang bebas di langit. Dia juga bergerak dengan kecepatan yang luar biasa,” ucap Reiss tanpa berkedip sedikit pun, penjelasannya sama persis seperti sebelumnya.
“Jadi kau tidak tahu lokasi bajingan itu, tapi kau bilang bisa menyiapkan panggung pertarungan untukku. Jika pada akhirnya kau mengatakan sesuatu yang salah, aku akan bergerak sendiri. Aku tidak akan mau menuruti ulahmu mengulur waktu lagi,” ancam Lucius.
“Aku mengerti. Namun, aku ingin kau mendengarkan penjelasanku mengenai alasan mengapa waktu tunggu ini bukanlah hal yang sia-sia. Jika kau bisa memahami alasanku, kuharap kau bersedia menunggu hingga saat yang tepat tiba. Jika kau bersikeras untuk terburu-buru menjemput ajal, maka aku sendiri yang akan membatalkan pengaturannya.” Nada bicara Reiss terdengar sangat serius untuk pertama kalinya.
Keduanya saling bertatapan.
“…Baiklah,” jawab Lucius sambil mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
“Kalau begitu, penjelasanku adalah: sebagai jaminan untuk skenario terburuk, aku berencana menculik orang-orang yang dekat dengan Black Knight. Begitu aku mengamankan jaminan itu, aku bisa berjanji untuk tidak ikut campur dalam pertarunganmu dengannya,” jelas Reiss.
“Begitu ya. Mereka mungkin juga tahu di mana keberadaan Rio. Itu bukan ide yang buruk.” Tentu saja, Lucius juga sempat memikirkan untuk mengambil sandera.
“Namun, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ada satu masalah dengan rencana ini.”
“Tentu saja.” Balasan Lucius langsung terlontar. Dia tahu Reiss tidak cukup bodoh untuk melewatkan kesempatan dengan tingkat keberhasilan yang dijamin. Dalam hal ini, dia mempercayainya sepenuhnya.
“Aku telah mengidentifikasi beberapa kandidat yang bisa dijadikan sandera dan melacak lokasi mereka. Seperti yang mungkin sudah kau lihat dalam dokumen tentang Black Knight, para kandidat tersebut entah kuat dalam diri mereka sendiri, atau memiliki orang-orang kuat di sekitar mereka… Mencari sasaran empuk untuk diculik bukanlah hal yang mudah. Jika aku melakukan kesalahan, aku akan menjadikannya musuh di masa depan, jadi satu-satunya waktu aku bisa bertindak adalah ketika aku yakin akan keberhasilanku. Itulah sebabnya aku ingin kerja samamu dalam mengamankan para sandera,” ucap Reiss sambil menghela napas dramatis.
“…Siapa targetnya?”
“Kandidat pertama adalah Celia Claire. Seperti yang kau tahu, dia adalah mantan gurunya di Akademi Beltrum dulu saat dia masih bersekolah. Dia saat penuturan ini berafiliasi dengan faksi Restorasi di Rodania. Kendati demikian, aku tidak bisa membayangkan Black Knight akan membiarkannya tanpa perlindungan sama sekali, jadi ada kemungkinan besar roh kontraknya bertindak sebagai pengawalnya… Meskipun begitu, dia mungkin akan tetap menjadi target terbaik.”
“Atas alasan apa? Bukankah roh kontraknya memiliki kekuatan tersembunyi yang cukup besar?”
“Alasannya jelas dan sederhana—wanita yang tak berdaya adalah sandera terbaik, bukan? Dan tidak peduli seberapa kuat roh humanoid itu, ada batasan untuk apa yang bisa ditangani sendirian. Ada banyak cara untuk menghadapi roh yang terbebani oleh beban sandera.”
“…Begitu ya.” Meskipun samar, Lucius menunjukkan senyuman puas untuk pertama kalinya pada saat itu.
“Roh kontraknya memang mengancam, tapi selama tidak ada hal lain yang menghalangi, kita berdua seharusnya bisa melakukannya; kita seharusnya bisa menculik Celia. Dia juga akan menjadi alat tawar politik yang bagus di masa depan,” kata Reiss dengan senyuman sinis.
“Ha, kau sendiri bajingan yang serakah,” cibir Lucius, yang dapat melihat melalui niatnya.
“Jika aku tidak mendapatkan keuntungan juga, kau toh tidak akan mempercayaiku,” kata Reiss, yang sangat memahami Lucius.
“Yah, benar juga…”
“Bagaimana menurutmu? Aku minta maaf karena bersikap sok agung dengan cara yang begitu blak-blakan, tapi aku yakin sandera adalah metode yang juga suka kau gunakan. Selama ada sandera, tidak perlu ada rasa takut akan campur tanganku. Itu bukan ide yang buruk—bahkan, aku yakin itu adalah usulan yang sangat masuk akal…”
“…Baiklah. Kita akan mengambil sandera.” Meskipun ada sedikit ketidaksenangan di wajahnya, Lucius mengangguk.
“Bagus sekali.” Sudut bibir Reiss terangkat ke atas.
“Hmph. Kapan kau berencana untuk melaksanakan ini?” Lucius mendengus dan bertanya.
“Ini memang mendadak, tapi dalam waktu dua hari ke depan. Itulah sebabnya aku mengirim Arein dan yang lainnya pergi lebih dulu. Mereka akan menghabiskan waktu satu hari untuk mengumpulkan informasi tentang Celia Claire, dan jika situasinya terlihat mendukung, maka kita akan melanjutkan rencananya.”
“Terdengar seolah-olah semuanya sudah direncanakan dari awal sampai akhir. Tepat seperti yang kau inginkan.” Kerutan di dahi Lucius menunjukkan ketidaksenangannya terhadap hal itu.
“Kau terlalu melebih-lebihkanku. Lagi pula, aku telah mengalami salah perhitungan berturut-turut terkait Black Knight. Lagipula, sebuah salah perhitungan baru terjadi tepat saat kita tidak berada di kastil…” keluh Reiss.
“Aku dengar ada penyusup yang menyelinap ke dalam kastil semalam. Dan bahwa dia bertarung melawan Nidoll lalu melarikan diri,” ucap Lucius tiba-tiba.
“…Oh? Kau sudah mengetahuinya. Nidoll bilang dia memberlakukan larangan bicara tentang topik itu, jadi aku tadinya berencana memberitahumu sebagai wujud kerja sama kita.” Mata Reiss terbelalak kaget.
“Jangan berpura-pura bodoh. Kau memperkirakan Rio akan datang ke kastil ini juga, bukan? Meskipun tadi kau bilang tidak tahu keberadaannya…” Lucius mempertanyakannya dengan penuh penekanan pada kata-katanya.
“Hal yang pertama adalah salah perhitungan. Dia mungkin memperhitungkan posisiku sebagai duta besar Kekaisaran Proxia dan menyelinap ke sini karena mencurigai hubunganku denganmu,” ujar Reiss dengan ekspresi acuh tak acuh.
Lucius tahu bahwa Reiss rutin melakukan kontak dengan ibu kota kekaisaran. Dia mungkin menerima kabar bahwa Rio telah menyerbu kastil sebelum memutuskan untuk kembali pada saat ini.
“…Lalu bagaimana dengan yang kedua?”
Menyadari bahwa dirinya bagaimanapun juga hanya akan dibohongi, Lucius tidak mengorek lebih jauh perihal hal yang pertama. Dia merasa tidak puas, tetapi diam saja di sini adalah ide yang lebih baik.
“Aku tidak berbohong kepadamu. Saat ini, aku tidak tahu lokasi persisnya. Namun, berkat ketekunan Nidoll yang cerdik secara mendadak, aku memang memiliki gambaran tentang tujuannya.”
“Di mana itu?” tanya Lucius segera dengan kebencian yang membara di matanya.
“Kau tidak perlu memelototiku dengan mata yang menakutkan itu—aku tidak akan menyembunyikan apa pun pada titik ini. Dia menuju ke tempat Pangeran Duran di Kerajaan Paladia, karena Nidoll menerima informasi bahwa kau baru-baru ini bekerja di sana.”
“Paladia, ya… Lumayan juga. Akhirnya keberuntungan memihak kita.” Lucius tersenyum tipis mendengar petunjuk tentang keberadaan Rio yang akhirnya ia dapatkan.
“Oleh karena itu, aku akan pergi ke Kerajaan Paladia sekarang untuk mempersiapkan Pangeran Duran agar bisa melakukan kontak dengannya. Aku akan meminta Pangeran Duran membimbingnya menuju lokasi yang telah ditentukan, jadi kau harus tetap di sini dan menghemat tenagamu. Aku akan segera kembali. Jika kau menghilang begitu saja tanpa pemberitahuan di masa mendatang, aku akan menganggap kemitraan kolaboratif kita berakhir, jadi jangan mencoba hal aneh-aneh,” tegas Reiss. Sebagai langkah pengamanan, dia mungkin tidak berniat memberi tahu Lucius di mana tepatnya di Paladia mereka akan mengadakan pertarungan.
“Hmp.” Lucius mendengus tidak puas karena diperintahkan untuk menunggu.
“Ketergesaan akan mengundang kesalahan. Aku yakin kau merasa tidak sabar karena tahu dia sedang menuju ke Paladia, tetapi mengamankan para sandera adalah yang utama. Kita perlu mengonfirmasi situasi Celia Claire di Rodania dan kehadiran roh humanoid itu, jadi tunggulah satu hari lagi. Sebenarnya aku lebih suka menghabiskan waktu beberapa hari mengamatinya, jadi aku sudah memajukan jadwalnya demi kepentinganmu,” kata Reiss sambil menghela napas, merasakan ketidaksenangan Lucius.
“Enyah dari pandanganku dan pergi ke tempat yang seharusnya kau tuju,” sembur Lucius dengan penuh kebencian. Dia melambaikan tangannya seolah-olah sedang mengusir serangga yang mengganggu.
“Dimengerti.” Reiss mengangkat bahu dengan ekspresi bermasalah lalu berbalik, keluar melalui pintu.
“Keparat sombong… Kau tidak tahu apa-apa,” gumam Lucius pada dirinya sendiri di dalam kamar yang kosong, berdiri untuk membuka pintu yang mengarah ke kamar tidurnya. Dia kemudian memanggil ketiga pria yang menunggu di dalam. “Hei. Arein, Lucci, Ven.”
Ketiga orang yang dikira Reiss telah dikirim ke Rodania ternyata ada di sini. Secara teknis mereka adalah bawahan Lucius di Heavenly Lions, tetapi saat ini dipinjamkan kepada Reiss sebagai agen Kekaisaran Proxia.
“Aku sangat cemas Reiss akan menyadarinya. Itu buruk bagi jantungku,” kata Arein dengan senyum tegang, mengeluarkan keringat dingin.
“Bahkan Reiss tidak akan menyadari bahwa koordinat kristal teleportasi yang kalian gunakan mengarah ke kamarku. Menggunakannya dari persediaannya adalah langkah yang tepat,” gerutu Lucius terkekeh. Karena artefak sihir diperlukan untuk mengatur koordinat tujuan pada kristal teleportasi, kristal dan artefak harus dalam satu set.
Selain itu, ada juga artefak sihir yang menciptakan penghalang untuk mencegah pendeteksian fluktuasi ode dan mana dari teleportasi. Lucius menggunakan artefak semacam itu untuk mengundang Arein dan yang lainnya ke kamarnya tanpa diketahui Reiss.
“Tapi sediaan kita yang tersisa sekarang sangat sedikit. Reiss telah mengelola kristal teleportasi dan artefak koordinat dengan hati-hati,” kata Ven.
“Beri tahu aku berapa banyak yang tersisa, termasuk yang kita curi,” perintah Lucius, mengambil peta wilayah Strahl dari raknya dan membentangnya di atas tempat tidurnya.
“Satu kristal teleportasi yang diberikan Reiss kepada kita untuk pergi ke Rodania tadi. Satu yang mengarah ke ibu kota Kerajaan Galarc. Satu ke hutan di sebelah timur Beltrum tempat kita bersembunyi untuk mengumpulkan informasi. Lalu ada tujuh set kristal teleportasi bebas yang kita kantongi dari misi-misi kita sampai sekarang.” Ven mengeluarkan kantong kecil berisi kristal teleportasi dari saku dadanya, meletakkan masing-masing di atas peta pada titik tujuan yang tertera di kantong tersebut. Dia meninggalkan tujuh kantong dengan kristal tujuan bebas di atas ibu kota kekaisaran tempat mereka berada saat ini.
“…Aku memiliki dua kristal teleportasi ke tempat persembunyianku di Kerajaan Paladia, dan satu ke ibu kota kerajaan di sana.”
Lucius mengeluarkan dua kantong kristal teleportasi dan meletakkannya di atas peta juga.
“Apakah kamu akan mendahului langkah Reiss dengan ini, Kapten?” tanya Lucci.
“Aku sedang mempertimbangkannya. Selama kita bisa mengamankan sandera lain selain Reiss dalam sehari ke depan, cara apa pun bisa dipakai. Masalahnya adalah apakah masih ada wanita berpotensi sandera yang belum diincarnya…” kata Lucius, menatap dokumen-dokumen tentang Rio. Kertas-kertas itu mencatat masa lalu dan hubungan antarmanusia Rio, merinci bagaimana mantan anak yatim piatu dari daerah kumuh itu telah mendapatkan orang-orang baru yang berharga baginya dan hidup dengan bahagia. Itu benar-benar laporan yang semakin membuatnya murka semakin dia membacanya, tetapi justru itulah sebabnya dia memeriksanya dengan cermat dari awal sampai akhir.
Orang-orang yang berkaitan erat dengan Rio dicatat beserta nama dan detail mereka, tetapi selain Celia, lokasi mereka tidak ada yang diketahui. Orang-orang berikutnya yang paling dekat dengannya juga terdaftar, tetapi lokasi mereka entah berada di luar jangkauan kristal atau dijaga terlalu ketat di dalam kastil.
Haruskah kita menculik pahlawan di Kastil Galarc? Tapi dengan mata Reiss yang mengawasiku, aku tidak bisa pergi.
Orang-orang yang sebenarnya akan melakukan penculikan itu adalah Arein dan yang lainnya. Mereka semua adalah petarung hebat yang dilatih secara pribadi oleh Lucius sendiri, tetapi tidak ada jaminan mereka bisa menyusup ke dalam kastil dengan sukses dan menghadapi pahlawan yang setidaknya setara dengan Renji. Jika mereka gagal, mereka bisa berisiko tertangkap sendiri.
“…Mungkin kita bisa menculik saudari Beltrum saja?” gumam Lucius sambil membaca kembali dokumen-dokumen tersebut. Laporan itu mencatat hubungan antara Rio dan para putri kerajaan—bahwa Rio bersekolah di Akademi Kerajaan Beltrum bertahun-tahun yang lalu, bagaimana dia diperlakukan di sana, dan seterusnya…
Aku tidak tahu soal yang kakak, tapi yang adik sudah terbukti memiliki nilai sandera saat kita bertempur di Amande.
Lucius melihat tulisan tentang Rio dan para saudari kerajaan itu sambil mengenang pertempuran di Amande dengan senyum sinis.
Saat itu, Rio jelas-jelas berusaha melindungi Flora. Dengan kata lain, bahkan jika Rio memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan dengan mereka, mereka tetap bisa digunakan sebagai sandera.
Berkat mata kiri ini, aku bisa bergerak dalam jarak pendek dengan lebih mudah daripada sebelumnya, tetapi aku tetap tidak boleh meremehkan mobilitas bajingan itu dalam memperpendek jarak dengan kecepatan instan. Aku harus melumpuhkannya dengan sandera untuk menyegel pergerakannya. Akan baik-baik saja selama dia memiliki beban di pihak keluarganya. Akan kutunjukkan padanya rasanya mendapatkan kekuatan untuk melindungi orang lain tetapi tidak bisa menggunakannya. Itu akan membuatnya murka.
Dia adalah seorang pendendam, namun dia dikelilingi oleh orang-orang yang berharga baginya. Dia mencoba melindungi orang asing yang tidak ada hubungannya. Alasan apa yang dia miliki untuk melakukan itu?
Apakah seorang manusia yang mencari balas dendam benar-benar berusaha untuk tetap menjaga standar etika yang tinggi pada saat yang sama? Jika seseorang yang membawa ketidakmurnian seperti itu benar-benar datang untuk membunuhnya, Lucius akan tertawa. Setelah itu, dia akan benar-benar murka.
Itu adalah kepalsuan murni. Itu adalah kemunafikan—ulah seorang bodoh. Mengorbankan diri sendiri untuk melindungi yang lemah adalah hal yang tidak terpikirkan. Hal itu seharusnya tidak terjadi.
Tidak ada keuntungan yang didapat dengan mempertahankan perilaku seperti itu. Yang ada hanya kerugian. Seseorang yang lahir di daerah kumuh dan memilih jalan balas dendam seharusnya tahu betul hal itu, namun Rio malah berusaha menjaga penampilannya. Itu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Bahkan menjijikkan.
Wajah Rio—mata Rio ketika dia muncul di Amande untuk membalas dendam benar-benar tak terlupakan, bahkan hingga sekarang. Sikap yang menahan kebencian itu demi tetap bersikap rasional…
Kau dan aku adalah burung dengan bulu yang sama.
Itulah sebabnya dia akan membongkar sifat menjijikkan Rio itu dan membuatnya merasakan keputusasaan. Selain itu, dia akan menyeret tubuh Rio yang setengah mati ke hadapan orang-orang berharganya, dan merebut mereka darinya.
Itu akan menjadi pembalasan Lucius terhadap Rio. Dia akan mengambil sandera untuk menjebak Rio, tetapi dia tidak akan membiarkan orang lain ikut campur.
Aku akan mengambil sandera. Tapi aku tidak pernah bilang akan melakukannya bekerja sama denganmu, Reiss. Sudah kubilang bajingan itu adalah mangsaku. Aku akan mengambil sandera atas kemauanku sendiri, tapi tidak ada yang bilang aku akan menggunakan sandera yang kausiapkan.
Tidak ada binatang buas yang memburu mangsa yang disajikan dengan siap di hadapan mereka. Paling tidak, Lucius tidak akan menerima hal itu. Itu adalah masalah lain ketika dia bergerak atas kemauannya sendiri, tetapi dia tidak tahan dimanfaatkan oleh orang lain. Satu-satunya alasan mengapa dia bergerak sesuai perintah Reiss hingga sekarang adalah untuk menemukan lokasi Rio.
Setelah itu, Lucius menghabiskan waktu beberapa saat menatap dokumen-dokumen itu dengan wajah serius. Arein dan yang lainnya mengamati dalam keheningan.
Begitu ia merapikan pikirannya, Lucius membuka mulutnya dan berkata, “Reiss sedang menuju ke Duran di Kerajaan Paladia sekarang. Aku tidak bisa bergerak dari kastil ini. Agar bisa mendahuluinya, kalian harus bergerak untukku.”
“Sesuka Anda,” ketiganya mengangguk dengan senyuman lebar.
“Pertama, kandidat sandera adalah para saudari kerajaan dari Beltrum. Kalian akan mengirim mereka ke tempat persembunyianku di Hutan Paladia. Bahkan Reiss pun tidak tahu lokasi persisnya—itu akan sangat sempurna untuk mengecohnya,” Lucius terkekeh meremehkan. “Ven, kau berteleportasi ke Rodania segera setelah ini dan cari tahu di mana para bersaudara itu berada paling lambat besok malam. Ambil kristal teleportasi bebas dan atur koordinatnya sebelum kembali.”
“Dimengerti.” Ven mengambil kantong berisi kristal yang mengarah ke Rodania, serta salah satu kantong kristal tujuan bebas.
“Lantas apa yang harus Arein dan aku lakukan?” tanya Lucci dengan senyum lebar penuh antusias.
“Begitu kalian mengonfirmasi kembalinya Reiss, Lucci akan pergi ke ibu kota Paladia. Beli perbekalan yang cukup agar para putri tidak sampai mati kelamaan, lalu berteleportasilah ke hutan dan stok kabin tersebut. Kembalilah ke sini besok malam.”
“Paham.”
“Arein, kau akan pergi bersama Lucci ke ibu kota Paladia. Namun, kalian akan bergerak secara terpisah begitu sampai di sana. Hubungi pangeran pertama Duran sebagai utusanku—katakan padanya untuk bersikap seolah-olah dia mengikuti instruksi Reiss padahal sebenarnya mengikuti instruksiku. Duran akan menjadi utusan yang memancing bajingan itu ke hutan. Kembalilah besok malam.”
“Dimengerti.”
Lucius memberikan perintahnya satu demi satu. Lucci dan Arein masing-masing mengambil kristal teleportasi yang mereka butuhkan.
“Begitu kalian selesai dengan urusan kalian, kalian semua akan pergi ke Rodania bersama-sama. Agar terlihat seperti kalian mengikuti perintah Reiss, begitu. Kita akan menghadapi apa pun setelah itu sambil berjalan, tetapi dalam waktu dua hari, aku akan mencari waktu untuk meninggalkan Reiss dan pergi ke Paladia. Sebelum itu terjadi, kalian harus menculik para putri dan kembali ke Rodania tanpa sepengetahuan Reiss.”
“Kami hanya meninggalkan saudari kerajaan itu di hutan setelah menculik mereka?” tanya Lucci.
“Ya. Jika aku menugaskan salah satu dari kalian sebagai pengawal, Reiss akan menyadari ketidakhadiran kalian dan mencurigai pergerakan kita. Dengan kurangnya personel kita, aku harus menjadi orang yang menjemput para putri setelah aku mengecohnya. Jika Reiss mencoba menginterogasi kalian untuk mendapatkan jawaban, berpura-lah tidak tahu apa-apa dan buatlah itu menguntungkanku. Kalian bahkan mungkin bisa melihat ekspresinya yang panik, tahu?”
Lucius tidak akan bisa melihat wajah itu. Namun, membayangkannya saja sudah cukup untuk membuat sudut bibirnya terangkat ke atas dengan ceria.
Komentar