Saijo no Osewa Volume 1 Bab 4 Bahasa Indonesia
Bab 4 – Pengurus.
Sakit Hinako berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Menurut asumsi Shizune-san, Hinako seharusnya sudah sembuh pada hari Sabtu, tetapi demamnya tidak kunjung turun sampai hari Minggu pagi. Untuk sementara waktu, dia telah beristirahat sepanjang hari, dan jika demamnya tetap turun sampai keesokan paginya, dia akan kembali ke akademi.
Senin pagi. Hinako, yang sudah sembuh, masuk ke dalam mobil dengan memasang ekspresi malas.
[Kamu mengantuk?]
[Nn… aku ketiduran di tengah malam]
Saat aku memerhatikan Hinako yang tidur di sebelahku, aku teringat akan apa yang aku putuskan pada hari Jumat lalu.
Sebagai seorang pengurus, aku ingin mengurangi beban Hinako semaksimal mungkin. Tidak ada perubahan dalam hal itu.
[…Pangku aku]
[Iya-iya]
Hinako meletakkan kepalanya di atasku pangkuanku.
Aku dengan lembut mengelus kepala Hinako yang mengantuk. Karena terkejut, Hinako membuka matanya lebar-lebar.
[Itsuki… ada sesuatu yang berubah?]
[Apa yang membuatmu berpikir begitu?]
[…Entah kenapa, rasanya lebih baik hati]
“Aku senang mendengarnya.” Aku terus mengelus kepala Hinako, tanpa membenarkan maupun menyangkal pertanyaannya.
[Hangat…]
Terlihat lebih nyaman dari biasanya, Hinako berangkat ke akademi.
Namun, ada sebuah pandangan yang datang dari kursi penumpang. Shizune-san sedang mengawasi kami dalam diam.
♢♢♢
Kami tiba di ruang kelas dan aku duduk di tempatku.
Para siswa akademi sangat bersemangat pada Senin pagi. Mereka pasti memiliki gaya hidup yang teratur karena mereka sangat berbeda dari teman-sekelasku di sekolah lamaku.
[Yo, Tomonari!]
[Selamat pagi, Taisho-kun]
Saat aku meletakkan tasku di sebelah mejaku, Taisho memanggilku.
Sejak pesta teh itu, aku merasa lebih dekat dengan Taisho. Meskipun aku butuh izin Shizune-san, aku diingatkan sekali lagi bahwa penting untuk memperdalam interaksiku dengan teman-teman sekelas.
[Konohana-san juga, selamat pagi! Kamu mengambil cuti hari Jumat, apa yang kamu lakukan?]
[Selamat pagi, Asahi-san. Aku membantu beberapa pekerjaan rumah pada hari Jumat]
[Begitu ya. Itu melelahkan]
Aku mendengarkan percakapan Asahi-san dan Hinako saat mereka membicarakan Taisho dan hal-hal sepele lainnya.
Rupanya, ketidakhadiran Hinako sama sekali tidak dianggap sebagai akibat sakit. Itu mungkin benar demi penampilan, tapi bagiku tetap saja perasaan ini rumit.
―Jam istirahat siang.
Aku menyelinap keluar kelas seperti biasa dan sedang makan siang bersama Hinako.
[Hinako, buka mulutmu sedikit lagi]
[Nn~]
Aku menyuapi Hinako, yang membuka mulutnya sedikit lebih lebar, dengan lauk dari kotak bekalnya.
Seperti biasa, aku sedang menyuapi Hinako makan siangnya.
…Aku merasa kalau hanya hal ini saja yang terasa tidak biasa dari ritme normal ku.
Aku hanya pernah disuapi seperti ini saat aku masih kecil. Bagaimanapun juga, jika ini adalah cara bagi Hinako untuk bersantai, aku akan melakukan yang terbaik untuk melakukannya demi dia.
[…Muu]
Hinako menatap kotak bekalnya dan mengeluarkan gumaman kecil.
[Itsuki… ini untukmu]
Hinako mengarahkan sumpit ke arah mulutku.
Apa yang dia berikan padaku adalah sepotong paprika hijau yang segar dan berair.
[…Tidak bisa. Meskipun kamu tidak menyukainya, kamu harus memakannya]
[Muuuu…]
Aku sebenarnya bisa saja menuruti perintah Hinako, aku yakin pengasuh mana pun bisa melakukan hal yang sama. Tapi ini tidak pernah semudah itu.
Yang dibutuhkan Hinako adalah kehangatan sebuah keluarga.
Kamu harus memperlakukan mereka seperti anggota keluargamu sendiri, dan tidak mengalah dalam kasus seperti ini.
Untuk melakukan itu, aku harus lebih peduli pada Hinako daripada Hinako pada dirinya sendiri.
[Jika nutrisimu tidak seimbang, kamu akan jatuh sakit]
[…Bukan masalah besar, aku tinggal tidur di mansion saja kalau sakit. Mungkin akan lebih mudah begitu…]
[Jangan katakan itu]
Aku tidak ingin dia merasa seperti itu, jadi aku memberinya sedikit motivasi.
[Aku akan senang jika Hinako sehat dan baik-baik saja]
Mendengar itu, Hinako menunduk dan memasukkan kembali sumpitnya ke dalam bento.
[…Akan kuakan]
Dengan rasa ngeri, Hinako memakan paprika hijau.
Aku tidak bisa menahan rasa kagum melihat Hinako memakan paprika hijau dengan ekspresi wajah yang tampak kesulitan.
♢♢♢
Sepulang sekolah. Aku kembali ke mansion bersama Hinako dan menjalani latihan dari Shizune-san seperti biasa.
[Terima kasih atas makanannya]
Setelah selesai makan malam di meja di kamarku, aku menyeka mulutku dan duduk.
Hari ini, kami berlatih etika meja makan. Aku menyantap semua hidangan yang disajikan dengan pengetahuan yang telah kudapatkan, sementara Shizune-san berdiri di sisiku, dengan tenang memberikan penilaian.
[Gerakanmu masih kaku, tapi… kamu sudah menguasai pengetahuan paling dasar]
[Terima kasih]
[Meskipun begitu, kamu masih terlalu ceroboh. Sudah kubilang untuk bangkit dari sisi kiri meja saat kamu berdiri]
[Ah… Maaf. Aku lupa]
Aku teringat saat aku sedang duduk. Tapi, setelah selesai makan, aku menjadi santai dan melupakannya.
Aku masih harus banyak belajar. Aku harus bekerja lebih keras agar bisa diandalkan oleh Hinako.
[…Omong-omong, apa yang biasanya Hinako lakukan untuk makan malam?]
Aku tiba-tiba bertanya kepada Shizune-san tentang hal yang membuatku penasaran.
[Aku selalu makan di kamarku sambil diajari tata krama, tapi di mana… bukan, dengan siapa Hinako makan?]
[Ojou-sama sudah selesai makan malam di ruang makan utama rumah besar ini]
Shizune-san menjawab dengan singkat.
[…Sendirian saja?]
[Ya. Para pelayan membantu membawakan makanannya, tapi hanya Ojou-sama yang diizinkan makan]
Aku sudah punya firasat kalau memang begitulah kenyataannya, tapi aku tetap merasakan perasaan yang rumit.
[Um… kalau begitu, bolehkah aku makan malam bersama Hinako mulai sekarang?]
[Itu artinya tidak]
Dengan tegas, aku menerima penolakan yang telak.
[[Itsuki-san belum selesai mempelajari tata krama. Kami akan mempertimbangkannya kembali setelah Itsuki-san menguasainya]]
[…Baik]
Jika aku bisa berada di sisi Hinako dengan mempelajari tata krama, aku harus bekerja lebih keras lagi.
[[Dan, Itsuki-san. Tolong bangunkan Ojou-sama besok pagi]]
[[Membangunkannya… Aku?]]
[[Seperti yang sudah kubilang pada hari pertama, kami akan meningkatkan pekerjaan Itsuki-san selangkah demi selangkah. Pengurus rumah nantinya akan bertanggung jawab atas setiap aspek dalam kehidupan Ojou-sama, mulai dari membangunkannya hingga menidurkannya kembali]]
[…Aku mengerti]
Mendengar penjelasan Shizune-san, aku mengangguk.
♢♢♢
Keesokan paginya.
Pagi datang lebih awal di kediaman Konohana. Aku bangun pukul 6 pagi, mengenakan seragam sekolahku, dan langsung meninggalkan kamarku.
Pertama, menyapu dan membersihkan area luar kamar. Setelah dengan hati-hati menyeka kotoran di depan pintu, di bawah koridor, dan dekat tangga, alat-alat pembersih diletakkan di tengah lantai pertama. Meskipun tamu jarang mengunjungi tempat para pelayan, jika kotor, debu dan kotoran bisa menempel pada seragam pelayan. Kami diberitahu untuk teliti dalam membersihkan, karena tidak sopan berdiri di hadapan tamu dengan pakaian kotor.
Aku sedang bertugas membersihkan hari ini. Di hari-hari lain, aku bisa tidur sedikit lebih lama.
Pukul 7 pagi. Para pelayan berkumpul di ruang makan untuk makan dan memulai rapat.
Ada sekitar 30 pelayan yang berkumpul di ruang makan. Pelayan yang mendapat giliran jaga malam atau libur tidak hadir.
[Tidak ada perubahan jadwal untuk hari ini. Mari kita patuhi saja dan selesaikan pekerjaan dengan baik]
Para pelayan menjawab [Baik] atas perkataan Shizune-san.
Seperti yang kupelajari saat aku mulai bekerja di sini, Shizune-san adalah kepala pelayan wanita, yang merupakan posisi paling bergengsi di antara para pelayan wanita di keluarga Konohana. Para pelayan keluarga Konohana dipimpin oleh 2 orang, kepala pelayan wanita dan kepala pelayan pria.
Pukul 07.30 pagi. Para pelayan selesai makan dan berpindah ke pos masing-masing.
Aku juga menuju ke kamar Hinako.
[Itsuki-san, selamat pagi]
Dalam perjalanan ke kamar Hinako, aku dipanggil oleh salah satu pelayan wanita.
[Selamat pagi]
[Aku tahu menjadi seorang pengurus itu sulit, tapi aku mendoakan yang terbaik untukmu]
[Ya, terima kasih]
Wanita yang menyemangatiku itu pergi dengan cepat.
[…Sedikit demi sedikit, aku mulai diterima]
Aku sudah menjadi pengurus selama seminggu sekarang. Wajahku kini sudah dikenal baik oleh para pelayan di rumah ini.
Saat aku tiba di depan kamar Hinako, aku berhenti.
[…Aku hanya perlu membangunkannya, kan?]
Jika dipikir-pikir dengan matang, aku belum pernah membangunkan seorang wanita sebelumnya.
Namun, Shizune-san bukanlah seseorang yang memberikan perintah tidak masuk akal. Aku akan menganggap bahwa dia mempercayakan tugas ini padaku karena aku mampu melakukannya.
[Permisi]
Aku mengetuk dan masuk.
Konon para pelayan bisa masuk tanpa mengetuk. Namun, keluarga Konohana memiliki aturan bahwa pelayan baru harus mengetuk terlebih dahulu. Seiring dengan perkembangan PC dan perangkat elektronik lainnya baru-baru ini, privasi telah menjadi hal yang lebih penting, dan mereka perlu mengubah aturan agar lebih fleksibel.
Saat aku memasuki ruangan, Hinako sedang tidur dengan nyenyak di atas ranjang bersprei mewah.
[Hinako, sudah pagi]
[Nuuu…. 3 jam lagi]
Angkanya terlalu jauh berbeda. Aku tadinya mengira 3 menit, tapi aku tidak bisa menunggu selama 3 jam.
[Bangun atau kamu akan terlambat]
[…Aku ingin terlambat]
[Tidak boleh!]
Jika kamu melakukannya, semua aktingmu akan sia-sia.
Jika citra publik Hinako hancur karena aku, aku akan dipecat sebagai pengurusnya. Kalau begitu, aku tidak akan bisa berada di sisi Hinako.
[Ayo, bangun]
Saat penutup jendela dan tirai dibuka, ruangan tersebut dibanjiri oleh cahaya matahari yang menyilaukan.
[Muuuuu…]
Sambil menggosok matanya dengan punggung tangan, Hinako mengangkat tubuhnya.
[…Eh, I-Itsuki…?]
[Ya. Selamat pagi]
Setelah aku menyapanya, Hinako menatapku dengan linglung…. Dan kembali tidur.
Kenapa kamu malah tidur lagi…
[….Bangunkan aku]
Kata Hinako sambil mengarahkan kedua tangannya ke atas.
Kamu ingin aku membangunkanmu? …Aku tersenyum kecut melihat Hinako yang bermanja-manja.
[Iya-iya]
Aku menarik tangan Hinako dan mengangkat tubuhnya.

Sambil memeluk ringan tubuh bagian atasnya, Hinako tersenyum tipis.
[Itsuki… selamat pagi]
[Selamat pagi]
Setelah bertukar sapaan pagi sekali lagi, aku mengambil seragamnya dari gantungan.
[Aku taruh pakaianmu di sini ya. Aku tunggu di luar]
[… Bantu aku]
[… Eh?]
[Bantu aku… Memakai baju]
Kata Hinako sambil mengulurkan tangannya, yang menyiratkan “lepaskan bajuku”.
[Tidak, kalau membantu berpakaian rasanya agak…]
[Ceeーpatー]
Tugasku adalah membangunkan Hinako dan membawanya ke ruang makan. …Aku bertanya-tanya apakah itu juga termasuk membantunya mengenakan pakaian.
Perlahan-lahan, aku membuka kancing baju Hinako.
Aku bisa melihat kulit Hinako melalui celah di kemejanya.
[…!]
Itu adalah pemandangan yang sangat merangsang, dan itu membuatku merasa tidak nyaman.
Hinako memejamkan matanya dengan santai dan menyerahkan dirinya kepadaku.
[Tenanglah… tenanglah, diriku] (TN: bukan, bukan si kecil)
Aku membantu Hinako berpakaian sambil membatin. Aku membuka semua kancing kemejanya untuk memperlihatkan pakaian dalamnya yang berwarna buah persik. Menyipitkan mataku selebar-lebarnya, aku membantunya mengenakan seragam.
。
…Hinako tidak melihatku dengan cara pandang seperti itu.
Aku yakin Hinako sedang mencari seseorang yang bisa memberinya kehangatan keluarga yang ia percayai.
Untuk mencapai hal itu, aku harus membuang pikiran-pikiranku yang berlebihan. Begitulah pemikiranku—
[Itsuki-san, apa kamu ada di sana?]
[Y-ya!?]
Aku mendengar suara Shizune-san dari luar kamar.
Aku sangat terkejut dan kaget sampai-sampai aku mengeluarkan suara yang aneh. (TN: di teks asli, itu adalah ucapan “Hai” yang tidak jelas, mungkin dengan nada tinggi)
[Aku lupa menyebutkan bahwa Ojou-sama sering mengigau. Misalnya, terkadang dia meminta tolong untuk dipakaikan baju… Tapi kamu kan seorang pria, jadi kamu tidak akan menganggapnya serius, kan?]
Aku menganggapnya serius!!
Apa yang harus kulakukan!!
Apakah aku harus meminta maaf? Akan lebih baik jika aku menyuruhnya datang ke sini untuk membantu… tidak, sudah terlambat untuk itu. Jika Shizune-san melihatku seperti ini, hidupku sebagai seorang pria akan berakhir.
[T-t-tentu saja! Tidak memiliki akal sehat sebanyak itu bukanlah kebiasaanku!]
[Begitu ya. Mohon maaf, Anda bukanlah kera yang sedang berkembang biak. …Selama beberapa hari terakhir, aku jadi mengerti bahwa Itsuki-san memiliki kepribadian yang jujur dan berdedikasi. Seperti Ojou-sama, aku juga akan menaruh kepercayaanku pada Itsuki-san]
Sakit, sakit, sakit… Ini benar-benar sakit.
Shizune-san, kenapa kau memberiku pujian hanya di saat-saat seperti ini?
[Um… Hinako]
[Apaaa~?]
[…Bisakah kamu tidak memberitahu Shizune-san bahwa aku membantumu mengganti pakaian hari ini?]
Saat aku memintanya sambil keringat dingin bercucuran di wajahku, Hinako berpikir sejenak sebelum menjawab.
[…Jika kau menjadikannya bagian dari rutinitas harianmu, boleh saja]
[Eh…]
[Mulai sekarang, aku akan menemuimu setiap pagi…]
YANG BENAR SAJA. Itulah yang kukatakan dalam hati.
♢♢♢
[Ujian tengah semester?]
Saat ini aku berada di ruang kelas Akademi, tempat yang sudah mulai aku terbiasa.
Aku bertanya kepada Taisho sambil duduk di bangku.
[Ah. Tomonari baru saja pindah, jadi kupikir aku sudah memberitahukannya. Ujian tengah semester dimulai minggu depan]
[Minggu depan… Terlalu cepat untuk ujian tengah semester]
[Kita juga memiliki upacara pembukaan yang lebih awal dibandingkan sekolah lain]
Aku diyakinkan oleh perkataan Taisho.
Aku belum mendengar apa pun dari Shizune-san… tapi bagaimanapun juga, aku tidak pernah absen mempersiapkan diri dan mengulang pelajaran setiap hari. Meskipun aku tahu ini sudah persis sebelum ujian, aku akan melakukan hal yang sama seperti biasanya.
[Omong-omong, ini ada beberapa soal dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau mau, kamu bisa coba kerjakan]
Taisho lalu menunjukkan tumpukan kertas kepadaku.
Aku membaca isinya dan… keringat dingin mulai bercucuran di tubuhku.
…Aku bisa dalam masalah.
Ini adalah sesuatu yang hampir tidak kutahu cara menyelesaikannya. Meskipun aku mendapatkan bimbingan dari Shizune-san, aku bertanya-tanya apakah aku akan mampu menyelesaikannya sebelum minggu depan.
Bukannya aku tidak pernah mengambil jalan pintas sebelumnya, tetapi aku merasakan desakan urgensi.
♢♢♢
Jam istirahat siang. Seperti biasa, aku sedang makan siang bersama Hinako.
[Itsuki… Aku mau yang itu berikutnya]
kata Hinako sambil melihat ke kotak bekalnya.
Namun, aku mengatupkan mulutku rapat-rapat, tenggelam dalam pikiran.
[…Itsuki?]
[…E, Ah, maaf. Steakハンバーグ?] -> […E, Ah, maaf. Steak daging cincang?]
Aku mengambil steak daging sapi Jepang dengan sumpit dan membawanya ke mulut Hinako.
[Ishuki… ada apa?] -> [Ishuki… ada apa?]
[…Telan dulu sebelum bicara]
Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.
Hinako menelan makanannya lalu berbicara lagi.
[Itsuki… Ada apa?]
Sepertinya Hinako merasakan bahwa aku bertingkah aneh.
Aku menjawab sambil menghela napas.
[Bukan masalah besar, hanya saja ujian tengah semester sepertinya lebih sulit dari yang kuduga. Aku merasa sedikit sedih]
Sejatinya, itu adalah masalah besar. Bagaimanapun juga, nilai yang buruk bisa membahayakan posisiku.
Ilmu Pengetahuan Sosial, Ekonomi, dan Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang bisa diatasi dengan menghafal. Ini bisa diatasi seiring berjalannya waktu…. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain itu.
[Aku bisa mengajarimu, kalau kamu mau…?]
[Eh?]
[Aku mungkin terlihat begini, tapi aku tetap berada di peringkat teratas kelas… Doya?] (TN: Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan Doya sekarang, bukan, atau dewa Doya tertentu akan membunuhku) (EDN: Pada dasarnya ini adalah wajah sombong jika kamu tidak tahu)
Hinako membusungkan dadanya dan berkata dengan penuh keyakinan dan kebanggaan.
[…Kalau dipikir-pikir, kamu selalu berada di dalam kelas mengajari berbagai macam orang cara belajar]
[Nn. Kemampuanku sudah terkenal. …Doya~?]
Hinako tampak sangat bangga akan hal itu.
Rasanya aneh bagiku, yang mengenal Hinako yang sebenarnya, bahwa Hinako adalah murid peringkat atas di akademi.
Aku mencoba menjadi seseorang yang bisa dipercaya oleh Hinako, tapi… aku merasa rumit karena harus meminta bantuan darinya, tapi aku tidak bisa mundur lagi sekarang.
[Bisa aku minta tolong kalau begitu?]
[Serahkan padaku~]
Sebagai tanda terima kasih, aku menyuapi Hinako, yang sekarang sedang dalam suasana hati yang baik, dengan lauk dari kotak bekalnya.
Setelah selesai makan siang, aku kembali ke kelas dan duduk di bangku milikku.
Saat aku merasa lega karena aku memiliki cara untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian, Taisho dan Asahi-san mendekatiku.
[Tomonari-kun, aku dengar tentang itu. Kamu cemas tentang ujian tengah semester?]
Kata Asahi. Rupanya Taisho yang memberitahunya.
[Ya… Sebagai referensi, aku ingin bertanya kepada kalian berdua, apakah kalian punya hal khusus yang kalian lakukan untuk belajar menghadapi ujian?]
[Yah, aku sebenarnya tidak punya apa-apa. Kalau harus aku katakan, itu mungkin hanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dari biasanya, atau semacamnya?]
[Aku sama seperti Asahi. Alih-alih persiapan awal, aku melakukan ulasan materi]
Para siswa di Akademi Kiou biasanya belajar sepulang sekolah agar mereka bisa mengikuti pelajaran tanpa harus melakukan hal yang tidak biasa.
[Lalu di sisi lain, bagaimana cara kamu belajar di sekolah lamamu?]
[Begitulah… terkadang aku begadang semalaman, dan ada juga kelompok belajar]
[Kelompok belajar?]
Aku menjelaskan kepada Asahi-san, yang memiringkan kepalanya.
[Kita semua berkumpul untuk belajar. Saat ada lebih banyak orang yang belajar bersama, itu memberiku motivasi untuk melakukan yang terbaik, dan terkadang kita bekerja sama dengan mengajari orang lain tentang bidang keahlian kita]
Namun, jenis kerja sama ini sebenarnya lebih banyak diisi dengan ngobrol satu sama lain daripada benar-benar belajar.
[Kalau begitu, kenapa kita tidak mencobanya?]
[Eh?]
Asahi-san menanggapi penjelasanku dengan gembira.
[Kelompok belajar! Ayo kita lakukan, kedengarannya seru dan menarik]
Entah kenapa, mata Taisho dan Asahi-san sama-sama bersinar terang.
[Mari kita ajak anggota yang sama seperti saat pesta teh. Kamu tahu banyak orang dengan nilai yang bagus]
[Ide bagus! Aku akan coba mengundang mereka!]
Awalnya itu hanya dimaksudkan sebagai obrolan biasa, tetapi tidak lama kemudian, mereka berdua benar-benar menyetujuinya.
Tapi… bagaimana ini. Padahal aku berencana meminta Hinako untuk mengajarku sebagai gantinya….
[Tomonari-kun, kapan kamu luang?]
[Bukannya begitu… aku belum memutuskan untuk ikut]
[Ehhh~ Kamu tidak ikut, Tomonari-kun!? Padahal kamu yang mengusulkannya!]
[Benar! Tomonari yang menjelaskannya, jadi ikutlah juga!]
Suasana saat itu membuatku kesulitan untuk menolak.
Yah… kita bisa mengadakan kelompok belajar dan membiarkan Hinako mengajari kita.
[…Aku mengerti]
♢♢♢
Sepulang sekolah. Aku berbicara dengan Shizune-san tentang kelompok belajar setelah pelajaran selesai. (TN: Pelajaran biasa dengan Shizune)
[Kelompok belajar, ya?]
[Ya. Untuk persiapan ujian, kami memutuskan untuk belajar bersama dengan anggota pesta teh yang sama…]
[Belum terlalu lama sejak pesta teh itu… Apakah benar-benar perlu belajar dalam kelompok?]
Shizune-san menatapku dengan tajam.
[Karena ini hanya persiapan untuk ujian akademi, kupikir akan berguna untuk belajar dari seseorang yang berpengalaman]
Tapi jika memang begitu, aku selalu bisa meminta bantuan Hinako.
Kenapa kita belajar dengan anggota pesta teh yang sama? Aku punya pemikiranku sendiri.
[Ini hanya pemikiranku yang egois tapi… Semua orang yang aku undang ke pesta teh adalah orang-orang yang aku Andalkan. Asahi-san, Taisho, Tennouji-san, dan Naruka sangat berharga bagiku dan aku ingin menghargainya]
Jadi kumohon, izinkan aku untuk berinteraksi lebih banyak dengan mereka.
Saat aku mengisyaratkan hal ini, Shizune-san mengangguk kecil.
[Aku mengerti. Aku juga berencana untuk memulai kurikulum ujian yang sebenarnya besok, tapi jika memang begitu, kita bisa menyesuaikan jadwalnya]
Aku membelalakkan mataku pada Shizune-san, yang mengatakan hal itu padaku dengan acuh tak acuh.
[Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau Anda sudah mempersiapkannya untukku]
[Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Bagaimanapun juga, saya adalah orang luar. Seperti yang dikatakan Itsuki-san beberapa saat yang lalu, sesama siswa akan dapat memikirkan lebih banyak tindakan penanggulangan]
Meskipun demikian, akan sangat disayangkan jika aku tidak menggunakan waktu dan usaha yang telah dihabiskan.
Seiring dengan kelompok belajar, mari kita selesaikan juga kurikulum yang telah disiapkan oleh Shizune-san.
[Saya pikir latihan hari ini cukup sampai di sini. Ojou-sama sedang menunggu Anda, jadi silakan pergi ke kamar Anda sesegera mungkin]
Aku berterima kasih kepada Shizune-san dan meninggalkan dojo.
Jadwal sepulang sekolah bagi seorang pengurus cukup padat. Setelah menyelesaikan persiapan dan ulasan kelas, aku juga diberi pelajaran etiket makan malam, belajar lagi setelahnya, dan yang terakhir adalah pelatihan bela diri.
Setelah latihan, aku kemudian pergi ke kamar Hinako dan kami masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama.
Jadwalnya memang berat pada awalnya, tapi aku akhirnya terbiasa juga.
[…Tapi, pertama-tama]
Mengingat urusanku, aku pergi ke kamarku terlebih dahulu.
Setelah mengambil barang-barang yang tertinggal, aku pergi ke kamar Hinako lagi.
[Muuu…]
Aku bergabung dengan Hinako, yang sudah berada di kamar mandi, dan mencuci rambutnya.
Sementara itu, Hinako merengek dan mengeluh.
[…Apa kamu masih merajuk?]
[Padahal harusnya akulah yang mengajarimu… muuuu…] (EDN:MANA WAJAH CEMBERUTNYA)
[Maaf aku memutuskan melakukan ini sendirian. Tapi bukan berarti aku akan berhenti belajar dengan Hinako hanya karena kita ikut kelompok belajar]
[…Apa kamu tidak puas denganku?]
[Bukannya maksudku begitu, tapi…]
Dia sepertinya sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.
Jadi aku membilas sampo itu dan bangkit.
[…Tunggu sebentar]
Aku kembali ke ruang ganti dan mengambil barang-barang yang sudah ku siapkan sebelumnya.
[Jangan beri tahu Shizune-san]
Aku mengeluarkan sesuatu dari tas pendingin, lalu menyerahkannya kepada Hinako.
[Ini…?]
[Ini es krim. Tadi aku diam-diam membelinya sebelum naik ke mobil]
Karena Hinako dan aku dianggap tinggal di rumah yang berbeda, dia seharusnya naik mobil sendirian terlebih dahulu, lalu aku pergi ke tempat yang agak sepi untuk dijemput. Selepas sekolah hari ini, aku diam-diam membeli tas pendingin dan es krim sebelum pergi ke titik pertemuan dan menyembunyikannya di dalam tasku. Shizune-san memberiku uang secukupnya saat aku pergi ke sekolah, jadi aku menggunakan uang itu.
[Hinako, apa kamu pernah makan es krim di dalam bathtub?]
[Belum, tapi…]
[Itu adalah hal terbaik yang pernah kamu cicipi]
Aku juga membelinya satu untuk diriku sendiri, jadi aku akan memakannya duluan.
Kemudian Hinako melakukan hal yang sama dan memakannya sambil berendam di bathtub.
[!! Enak sekali! Sangat lezat…!!]
[Kan?]
Dengan binar di matanya, Hinako benar-benar terkesan.
Melihat ekspresi bahagianya, aku tidak bisa menahan senyum.
…Aku berhasil mengembalikan suasana hatinya menjadi baik.
Ini tadinya disiapkan agar Hinako bisa beristirahat.
Sebagai pengurusnya, tujuanku adalah membuat hari-hari Hinako cerah tanpa jatuh pingsan. Jika dia terus-menerus pingsan, itu berarti cara yang dia lakukan selama ini tidak efektif.
Langkah-langkah kecil ini menjadi penting. Hal-hal yang kuisiapkan dengan pemikiran ini terbayar sudah.
[Ah…]
Sejumput es krim jatuh ke lantai. Lantainya hangat dan es krim itu dengan cepat mencair. …Hinako dengan cepat menyendok sisa cairan itu dengan telapak tangannya.
[Aturan 3 detik]
Aku mengerutkan kening mendengar omongan berlebihan Hinako.
[Jangan, jangan lakukan itu pada cairan…]
[…Aturan 3 detik]
Aturan itu tidak berlaku di sini. Hinako tampak kecewa dan menaruh kembali cairan itu ke lantai.
[Asal tahu saja, jangan lakukan aturan 3 detik di tempat umum terlalu sering, ya?]
[Hm… Aku akan berhati-hati]
Aku tidak yakin apakah dia memerhatikannya atau tidak, karena jawabannya terdengar samar dan ambigu.
[Itsuki… kelompok belajar itu, kapan kalian akan diadakannya?]
[Kami belum menentukan tanggalnya, tapi lebih cepat lebih baik. Mungkin besok atau lusa…]
[..Aku akan ikut]
Dari arah pembicaraan tadi, aku sudah tahu dia akan mengatakan itu.
Namun, tidak seperti saat pesta teh, aku merasa gelisah sekarang.
[Aku lupa bertanya, tapi… mungkin alasan Hinako jatuh sakit sebelumnya adalah karena Hinako datang ke pesta teh?]
Merasa bersalah, aku menanyakan hal itu.
[Jika begitu, kurasa sesi belajar ini akan menjadi beban bagi Hinako. Kurasa akan lebih mudah bagi Hinako jika dia kembali ke mansion lebih dulu]
[Nn….]
Menanggapi ucapanku, Hinako menjawab sambil berpikir.
[Bukannya… itu jauh lebih baik]
kata Hinako. Dia tidak banyak bicara, tapi aku mungkin bisa mengerti apa maksudnya.
[…Begitu ya]
Lebih mudah baginya untuk sendirian, tapi itu tidak berarti dia senang dengan hal tersebut.
Sejujurnya, aku juga ingin Hinako berinteraksi dengan sebanyak mungkin orang yang berbeda. Mengingat contoh dari Naruka dan Tennoji-san, aku merasa Hinako juga harus memiliki teman-teman yang baik.
[Selain itu… aku lebih benci jika tidak ada Itsuki di sisiku]
Aku menertawakan Hinako ketika dia mengatakan hal itu kepadaku.
[Kalau begitu, mau bergabung dengan kami?]
[Nn]
♢♢♢
Sepulang sekolah. Kataku dalam hati saat mengenali wajah para siswa yang berkumpul di meja bundar.
[Kalau begitu, mari kita mulai sesi belajar ini]
[Yeay!]
Asahi-san adalah orang pertama yang berseru gembira.
Suasananya tidak setegang kelompok belajar biasa, tapi aku merasa menegur mereka adalah ide yang buruk, jadi aku akan tutup mulut saja.
Kami berada di kafe yang kami gunakan saat pesta teh. Anggota di sekitar meja sama seperti terakhir kali: Aku, Asahi-san, Taisho, Hinako, Naruka, dan Tennouji-san.
[Tapi… sekali lagi, ini wajah-wajah yang luar biasa. Sangat bisa diandalkan memiliki 2 juara kelas di sekolah untuk membantu]
Kata-kata Taisho itu membuatku bertanya-tanya.
[Kurasa Konohana-san berada di peringkat pertama, tapi siapa yang kedua…?]
[…Aku berada di peringkat kedua]
Tennouji-san, yang duduk di sebelah kananku, menjawab dengan nada cemberut.
Tennouji-san memiliki rasa persaingan yang kuat terhadap Hinako. Aku meminta maaf kepadanya dengan berbisik.
[Asahi-san juga punya nilai yang bagus, kan?]
[Yah~. Dari antara kita semua. Aku yakin Miyakojima-san akan mendapatkan hasil yang lebih baik]
[!?]
Ketika Asahi-san mengatakan itu, wajah Naruka berkedut.
[A-Aku hanya mendapat nilai bagus di pelajaran olahraga dan sejarah…]
[Sejarah?]
[Keluarga Miyakojima adalah keluarga yang menjunjung tinggi semangat bushidou. Karena itulah, aku dipaksa untuk belajar sejarah sejak usia muda] (TN: Bushido adalah kode moral mengenai sikap, perilaku, dan gaya hidup samurai.)
Naruka memberitahu kami, seolah-olah hal itu sulit untuk diucapkan.
[Tapi, di hampir semua mata pelajaran lainnya… aku hampir saja tidak lulus nilai merah]
Meja itu menjadi sunyi, dan wajah Naruka memerah karena malu.
Tidak seperti Hinako, yang mahir dalam bidang akademik maupun olahraga, Naruka hanya ahli dalam bidang olahraga.
[Um, bagaimana ya… maaf]
[…Tidak, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan]
Naruka berkata dengan sedih. Naruka ditakuti dan dihormati karena berbagai kesalahpahaman, tetapi karena hal itu, dia memiliki banyak kekurangan yang sering kali diabaikan. Asahi-san dan Taisho tadinya memandang Naruka dengan penuh rasa hormat di pesta teh, tetapi sekarang mereka menatapnya dengan pandangan akrab.
[Ini…. Yah, sepertinya aku harus melakukan yang terbaik]
Tennouji-san bergumam dengan ekspresi sulit di wajahnya, lalu menatapku.
[Tomonari-san. Apakah kamu punya gambaran bagaimana kelompok belajar ini akan berjalan?]
[Tidak… kami tadinya hanya berencana berkumpul dan belajar bersama]
[Kalau begitu, bagaimana kalau kita membaginya menjadi 2 kelompok, pihak yang mengajar dan pihak yang diajar? Itu seharusnya jauh lebih efisien. …Aku, Konohana-san, dan Asahi-san akan berada di pihak pengajar.]
Dengan kata lain, ada 3 orang yang diajar: Aku, Taisho, dan Naruka.
[Mata pelajaran apa saja yang kamu kuasai dengan lemah, Tomonari-san?]
[Apa pun yang bukan sekadar menghafal. …Aku rasa matematika akan sangat sulit]
Aku dengan jujur mencurahkan isi hatiku mengenainya pada mata pelajaran yang kusebutkan. Hinako, yang duduk di sebelah kiriku, kemudian menanggapi.
[Jika kamu mau, aku akan—]
[—Kalau begitu, aku yang akan membantumu belajar. Aku jago dalam matematika]
Hinako hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Tennouji-san yang lantang dan jelas langsung menenggelamkannya.
Dalam sekejap mata, senyuman Hinako mengeras.
[Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang mengajari Miyakojima-san? Aku tidak punya mata pelajaran khusus yang tidak kuasai, jadi kurasa aku bisa membantu menaikkan nilai rata-ratamu] (TN: Sekadar memperjelas, ini adalah Asahi-san)
[T-Tolong lakukan!]
Naruka menjawab dengan suara kaku.
[I-Itu artinya, aku sekelompok dengan Konohana-san…?]
[…Ya. Aku menantikan kerja samanya, Taisho-kun]
[B-Baik, aku juga!!]
Taisho tampak tegang, tetapi dia jelas-jelas merasa senang.
Di sisi lain, Hinako tersenyum ramah—sambil menginjak kakiku dengan kuat.
Sakit, sakit, sakit…
Kalau dipikir-pikir, Hinako ingin mengajariku sejak kemarin. Jadi, karena Tennouji-san yang akan mengajariku alih-alih dirinya, dia pasti sedang bad mood.
Bukannya aku dan Hinako tidak bisa belajar bersama setelah kita kembali ke mansion… Aduh, aduh, sakit, berhentilah menjejali kakiku dengan hak sepatumu.
[Kalau begitu, mari kita mulai]
Atas ucapan Tennouji-san, kami semua mulai belajar.
♢♢♢
2 jam telah berlalu sejak kami mulai belajar dalam kelompok masing-masing.
Di sekolahku sebelumnya, sesi belajar akan penuh dengan obrolan setelah 30 menit, tetapi di sini, para siswa berkonsentrasi pada pelajaran mereka dalam keheningan. Kurang lebih inilah arti dari tumbuh dewasa dengan cara yang berbeda. Aku benar-benar merasakan urgensi tentang ujian tersebut, dan aku bersyukur bisa memanfaatkan kesempatan ini.
[Kamu tidak apa-apa, Miyakojima-san? Apa kita harus istirahat?]
[Y-yah… tolonglah. Terus terang, kepalaku hampir mau pecah…]
Naruka memegangi kepalanya dan merintih lemah.
[Taisho-kun. Mari kita istirahat sebentar juga]
[Ah, baiklah~]
Taisho, yang masih merasa gugup, menjawab usulan Hinako dengan suara pelan.
[Apa kita mau istirahat sebentar juga?]
Tennouji-san, yang mengajariku matematika, memberikan usulan.
Namun, aku menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatan di tanganku.
[…Tidak, sebentar lagi saja, kumohon]
Berkat Tennouji-san, aku bisa perlahan-lahan memecahkan soal-soal yang sebelumnya tidak ku mengerti. Aku tidak begitu suka belajar sampai menganggapnya menyenangkan… tapi saat-saat seperti inilah aku bisa melihat pertumbuhanku dan merasa kerja kerasku terbayar. …Itulah sebabnya, aku ingin terus melanjutkan ini sedikit lebih lama lagi.
[…Tomonari-kun adalah orang yang sangat serius, ya]
Tiba-tiba, Asahi-san menatapku dan berkata,
[Ah, bukan, aku tidak bermaksud untuk mengolok-olokmu. Aku serius]
[Begitulah. Aku suka fakta bahwa kamu memiliki keinginan untuk memperbaiki diri]
Tennoji-san menyetujui.
[Aku yakin Tomonari-san juga yang merencanakan dan memulai sesi belajar ini, kan? Tomonari tidak sepenuhnya sadar akan posisinya sebagai pemimpin, tapi… di sisi lain, dia sangat pandai mendukung dan mendorong orang lain maju]
Karena aku sama sekali tidak berniat untuk berada di atas orang lain, tadinya aku berniat membiarkan ucapan itu berlalu, tapi… aku sedikit terkejut mendengar pujian yang dia berikan pada paruh kedua kalimatnya.
[Ada apa dengan ekspresi wajah itu?]
[Tidak, aku hanya terkejut, atau lebih tepatnya senang, karena menerima pujian seperti itu…]
[Ara, aku ini pandai menilai karakter seseorang, tahu. Faktanya, aku memilih semua pelayanku sendiri]
Tennoji-san berkata dengan bangga.
[Pelayan Tennouji-san cenderung merupakan sekelompok orang yang cukup tangguh, ya kan?]
[Saat aku di luar, aku… Di rumah, aku memiliki pelayan yang berbeda di sisiku]
Para pelayan di keluarga Konohana pada dasarnya dipekerjakan oleh Keigon-san, tetapi di keluarga Tennouji, tampaknya putri mereka, Tennouji-san, memiliki hak untuk memilih pengikutnya sendiri.
[Kalau begitu, Tomonari-kun, yang berhasil menarik perhatian Tennouji-san, memiliki masa depan yang cerah, bukan?]
[Ya, kurasa begitu. Kurasa agak kasar jika melihat seorang teman sekelas sebagai pelayan, tapi… jika dia sanggup, kurasa dia cukup menjanjikan untuk dipertimbangkan agar direkrut]
[Menjadi pelayan bagi keluarga Tennouji, kondisinya juga tidak terlalu buruk… Tomonari-kun, ini patut dipikirkan, ya?]
Asahi-san berkata dengan gembira.
Namun kemudian, niat membunuh diarahkan kepadaku.
Baik Hinako maupun Naruka menatapku dengan tajam. (EDN: Waktunya harem?)
[…M-Meskipun begitu, untuk saat ini aku masih belum punya niat untuk melakukannya]
[Ara, sayang sekali]
Tennouji-san, tentu saja, tidak terlalu kecewa, karena itu adalah percakapan yang tidak penting.
[…Kurasa kita juga harus istirahat. Ada batas konsentrasi kita, dan kita akan berpikir lebih baik setelah beristirahat]
[…Aku mengerti]
Bagaimanapun juga, aku berencana untuk melanjutkan belajar setelah kembali ke mansion.
Aku perlu mengatur tenaga agar tidak menghabiskan seluruh energiku di sini.
[Ah, Tomonari. Mau ke mana?]
[Aku mau istirahat, dan ingin sedikit peregangan… jadi aku akan pergi berjalan-jalan sebentar]
Aku memberi tahu Taisho lalu meninggalkan kafe.
Aku ingin melakukan sedikit peregangan untuk mengubah suasan hati, tetapi aku enggan melakukannya di tempat yang mencolok, jadi aku pindah ke bagian belakang gedung sekolah yang hanya didatangi sedikit orang. Bagian belakang gedung itu juga dibersihkan dengan baik. Aku mulai melakukan peregangan perlahan saat angin bertiup di luar.
[…Aku sangat beruntung, ya]
Aku mengenang kembali para anggota kelompok belajar.
Hinako, Naruka, Taisho, Asahi-san, dan Tennouji-san. …Dulu aku punya teman di sekolah lamaku, tetapi hubunganku saat ini tidak buruk. Mereka semua baik dan bisa diandalkan.
Awalnya aku pikir menjadi seorang pengurus akan sulit dan menjadi beban, tetapi tanpa kusadari, aku merasa sangat nyaman dengan situasiku saat ini. Aku ingin mendukung Hinako, tetapi aku juga ingin melindungi lingkungan di sekitarnya saat ini.
—Mari kita lakukan yang terbaik dalam belajar.
Tepat saat aku membulatkan tekad untuk melakukannya, aku tiba-tiba mendengar suara langkah kaki di belakangku.
[Tomonari-san]
Aku berbalik ketika mendengar namaku dipanggil. Dan aku mendapati Tennouji-san berdiri di belakangku.
[Hm? Apa kamu sedang berjalan-jalan, Tennouji-san?]
[Ya. Aku juga ingin melakukan sedikit peregangan]
Begitu ya, aku berniat menjawab, tetapi sebelum aku sempat melakukannya, dia berkata,
[―Itu tadi hanya alasan]
Ucap Tennouji-san kepadaku.
[Aku punya beberapa pertanyaan untukmu, Tomonari-san]
[Apa yang ingin kamu tanyakan…?]
Aku sama sekali tidak tahu apa yang hendak dia tanyakan, dan kemudian dia membuka mulutnya.
[Tomonari-san. Apakah kamu benar-benar anak dari seorang paruh baya dengan rencana bisnis yang matang?]
Pertanyaan itu menghantam hatiku.
Suasana santai di diriku memudar dan keringat dingin mulai mengucur dari seluruh tubuhku.
―Apa dia sudah tahu?
Kenapa? Kenapa? Apakah informasinya bocor?
―Tenanglah.
Aku menekan rasa gelisahku, dan mencoba setenang mungkin.
[…Apa yang membuatmu berpikir begitu?]
Aku tidak bisa menebak maksudnya mengajukan pertanyaan ini. Apakah Tennouji-san yakin kalau identitasku palsu? …Jika iya, tidak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang.
[Tata krama di meja makan]
Ucap Tennouji-san singkat.
[…Kurang lebih maksudnya tata kramaku kurang baik, ya]
[Tidak, ada beberapa bagian yang kurang, tapi itu dilakukan dengan cara yang bisa diterima. Tapi di mataku, itu terlihat… palsu]
Kata Tennouji-san sambil menatapku dengan penuh pengamatan.
[Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara bertindakmu. Tata kramamu… rasanya seperti kau jejalkan begitu saja ke dalam pikiranmu, meskipun itu hanya sedikit. Setidaknya, itu bukanlah tindakan seseorang yang telah dididik sejak usia dini sebagai kandidat pewaris]
Aku teringat bahwa Tennouji-san tadi sempat bilang kalau dia memiliki mata yang tajam dalam menilai orang. Bahkan Shizune-san pun tidak menunjukkan hal itu padaku. Tentu saja, aku sendiri juga tidak menyadarinya.
[Jangan salah paham, aku tidak sedang menuduhmu apa pun]
Saat aku tenggelam dalam pemikiran, Tennouji-san memasang ekspresi yang lebih tenang dan berkata kepadaku.
[Aku hanya merasa sedikit penasaran, kan. Tomonari-san adalah seorang anak pindahan, jadi dia mungkin tidak pernah harus belajar tata krama sebelumnya. Masuk akal jika aku memikirkannya seperti itu, tapi… ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan]
[…Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan?]
[Artinya, hanya pengetahuanmu saja yang mendahului. Kau telah mengerahkan banyak usaha selama beberapa hari terakhir ini, bukan?]
Meskipun nada suaranya bernada menanyai diriku, Tennouji-san jelas-jelas sangat yakin akan hal ini.
[Kenapa Tomonari-san sampai berusaHA separah itu? Aku hanya berpikir bahwa jawabannya mungkin terletak pada statusmu. …Jika kau tidak ingin membicarakannya, aku tidak akan mengoreknya lebih jauh]

(EDN: UWOOO OJOU)
Bukannya mengorek. Aku menghargai kepedulianmu, tapi aku tetap merasa ragu.
[…Kau tidak menganggapnya mencurigakan?]
Tennouji-san menjawab pertanyaanku yang dipenuhi kekhawatiran dengan senyuman lembut.
[Menurutku tidak mungkin ada orang yang mencurigakan bisa mendaftar di akademi ini. Latar belakang Tomonari-san pasti sudah diperiksa oleh pihak akademi saat dia pindah]
Kalau dipikir-pikir, Naruka juga sempat mengatakan hal itu beberapa waktu lalu.
Namun kalau begitu, kenapa Tennouji-san mengangkat topik ini?
[…Aku hanya, bertanya murni karena rasa penasaranku sendiri]
Seolah bisa membaca pikiranku, Tennouji-san berucap.
[Mungkinkah, kau juga…]
Dengan suara yang sangat pelan, Tennouji-san bergumam sesuatu.
Aku memiringkan kepala, tidak bisa mendengar apa pun yang dia katakan, dan Tennouji-san menatapku seolah dia mendapatkan kembali ketenangannya.
[Bukan apa-apa. …kita harus segera kembali]
[…Itu benar]
♢♢♢
Saat aku kembali ke kafe bersama Tennouji-san, Asahi-san dan yang lainnya sedang mengobrol dan tertawa dengan gembira.
[Suasananya sangat ramai di sini ya]
Tennouji-san memanggil mereka sambil duduk di tempat duduknya.
[Ah, Tennouji-san. Aku tadi sedang membicarakan tentang pesta teh di rumah Konohana-san]
[Pesta teh? …Oh, maksudmu perkumpulan sosial Konohana tahunan, yang diadakan sekitar awal musim semi setiap tahunnya?]
[Seperti yang diduga, Tennouji-san sudah mengetahuinya]
[Yah, acara itu terkenal, kan. Kurang lebih acaranya diadakan pada minggu setelah ujian tengah semester. Aku dengar itu adalah acara sosial besar dengan banyak selebritas yang hadir]
Rupanya akan ada acara sosial yang diselenggarakan oleh keluarga Konohana dalam waktu dekat. Aku sama sekali tidak tahu.
[Apakah kamu pernah ikut berpartisipasi, Tennouji-san?]
[Ayahku pernah hadir beberapa kali, tapi aku tidak. Pertemuan sosial itu untuk orang dewasa, dan lagi pula… keluarga Tennouji dan Konohana memiliki hubungan yang pelik]
[Ah…]
Asahi-san bisa menebak apa yang dimaksud oleh Tennouji-san.
[Bukan berarti kami tidak akur. Hanya saja, meraba niat orang lain bukanlah keahlianku, jadi aku menolaknya sampai sekarang]
Sebelum suasananya menjadi canggung, Tennouji-san memberitahu kami dengan nada biasa. Sebagai seorang rakyat jelata, aku tidak mengerti apa arti dari “meraba niat orang lain”, tetapi yang lain tampaknya puas dengan jawabannya.
[Apakah kamu pernah berpartisipasi, Miyakojima-san?]
[T-tidak, maksudku, aku yakin undangannya datang… tapi, aku tidak pandai bersosialisasi…]
Naruka menjawab pertanyaan Tennouji-san seolah-olah itu sulit untuk diucapkan.
[Aku tahu bahwa undangan datang ke keluarga Tennouji-san dan Miyakojima-san. …Enak sekali ya. Jika itu adalah pesta dansa yang cukup besar untuk diselenggarakan oleh keluarga Konohana, mereka pasti akan mengadakan acara seperti berdansa, kan? Aku suka mengenakan gaun, jadi jika ada pertemuan sosial, aku selalu bersedia untuk berpartisipasi]
Asahi-san berkata dengan nada iri.
Kemudian Hinako tersenyum lembut.
[Asahi-san. Aku bisa mengirimkanmu undangan, jika kamu mau?]
[Eh, benarkah!?]
[Ya. Seperti yang dikatakan Tennouji-san, meskipun acara itu diakui sebagai pertemuan sosial untuk orang dewasa, kami tidak memiliki niat seperti itu di pihak kami, jadi silakan bergabung dengan kami. Akan ada pesta dansa, dan kami memiliki beberapa tamu yang seusia dengan kita]
[A-apa yang harus kulakukan… Aku merasa gugup ketika diberitahu bahwa tidak apa-apa untuk berpartisipasi. Tapi mungkin ini adalah kesempatan yang berharga… Bolehkah aku mendapatkannya? Undangan itu]
[Ya. Aku akan mengaturnya agar tiba dalam waktu 3 hari]
[Yosh… Kalau begitu aku akan berdandan dan siap pergi pada hari acara! Aku serahkan padamu ya, Konohana-san!]
[Ya]
Hinako dengan mudahnya berjanji untuk memberikan sebuah undangan.
Aku bertanya kepada Hinako, berbisik diam-diam di telinganya.
[…Apakah benar-benar tidak apa-apa? Memutuskan hal ini sendirian]
[Nn. …Aku diminta untuk mengundang mereka karena acara sosial ini bertujuan untuk menunjukkan martabat keluarga Konohana. …Meskipun aku belum pernah melakukan ini sebelumnya]
Kamu belum pernah mengundang siapa pun sebelumnya?
Tetapi, para siswa di akademi semuanya adalah anak-anak dari keluarga kaya. Keluarga Konohana tidak akan rugi apa pun dengan mengundang mereka.
[K-Konohana-san! Apakah itu berarti aku juga bisa ikut?]
[Ya. Aku juga akan mengirimkan Taisho-kun sebuah undangan]
Taisho menunjukkan antusiasmenya.
[…Ini juga bagian dari rencana]
gumam Tennouji-san.
[Konohana-san, aku akan ikut berpartisipasi kali ini. …Begitulah cara kami akhirnya bisa berada di meja yang sama pada pesta teh dan kelompok belajar, dan sekarang aku bisa menerima undangan ini bukan sebagai putri dari keluarga Tennouji, melainkan sebagai seorang teman]
kata Tennouji-san sambil tersenyum.
[Tomonari-kun, apakah kamu ingin bergabung dengan kami?]
[Biarlah kulihat, aku akan…]
Tennouji-san bertanya kepadaku, dan aku melirik sekilas ke arah Hinako.
Hinako tersenyum lembut. Sebagai seorang pengurus, kami pergi ke akademi bersama-sama. Tapi kurasa aku seharusnya tidak diizinkan untuk menghadiri acara perkumpulan sosial…
[…Benar juga. Aku yakin ini adalah kesempatan yang bagus, jadi aku ingin berpartisipasi]
Aku secara tersirat menyampaikan nuansa bahwa tidak ada janji yang bisa dibuat.
[…Bagaimana denganmu, Miyakojima-san?]
[T-tunggu, aku!?]
Ketika mereka bertanya kepada Naruka, dia terkejut dan bahunya tersentak kaget.
[A-aku akan pergi… Jika aku bisa]
Semua orang kecuali Naruka, memasang ekspresi sulit menghadapi omongan klisenya yang asal bunyi itu.
Yah, aku akan membiarkannya sampai di situ saja, karena aku yakin dia akan merasa bingung dan kewalahan jika kita memaksanya untuk bergabung dengan kita.
Kelompok belajar itu berlanjut— dan beberapa hari kemudian, ujian tengah semester Akademi Kiou pun dimulai.
♢♢♢
Ujian tengah semester di Akademi Kiou disusun sedikit berbeda dari sekolah lamaku. Waktu ujian untuk satu mata pelajaran adalah sembilan puluh hari— eh, sembilan puluh menit. Durasinya memang lebih lama karena ada lebih banyak soal. Selain itu, mata pelajaran yang tidak ditemukan di sekolah lain, seperti ekonomi, juga ditambahkan.
Ujian tengah semester tersebut berlangsung selama tiga hari.
Akhirnya, pada hari terakhir, setelah ujian terakhir selesai… aku akhirnya bisa sedikit melampiaskan kelegaan.
[…Bagaimanapun caranya, akhirnya selesai juga]
Begitu bel ujian berbunyi, aku menghela napas lega.
Para siswa meninggalkan sekolah dengan ekspresi kelelahan karena tidak ada kelas hari ini.
Aku melirik sekilas ke arah Hinako. Hinako dikelilingi oleh teman sekelasnya, mengobrol tentang seberapa baik dia mengerjakan ujian tersebut. Sepertinya itu akan memakan waktu cukup lama, jadi aku pergi ke toilet.
Saat aku sedang berjalan kembali ke kelas setelah dari toilet, aku berpapasan dengan seseorang yang kukenal.
[Naruka?]
[…Itsuki ya]
Naruka, yang berjalan di koridor dengan langkah tidak stabil, menoleh.
Matanya tampak kosong tanpa binar kehidupan.
[Haha, semuanya sudah selesai. …ujian itu dan aku]
[…Kurasa usahaku tadi sia-sia]
Meskipun aku sudah menduganya dari sesi belajar bersama, tampaknya Naruka cukup payah dalam belajar. Kecuali mata pelajaran Penjas dan sejarah, nilainya tampaknya di bawah rata-rata.
[Bagaimana dengan nilai Itsuki?]
[…Setidaknya kurasa aku bisa menghindari nilai merah]
[Pffft, tentu saja kau berhasil. Aku sudah menduga hal itu akan terjadi. …Karena kau adalah seorang pengkhianat]
[Apa maksudmu dengan pengkhianat….]
[Kau bekerja di rumah Konohana-san, menjauh dariku, dan punya nilai yang lebih baik dariku…. Bagaimanapun juga, Itsuki adalah dermawanku. Hal itu mengingatkanku pada betapa buruknya diriku ini. …Apa jangan-jangan Itsuki membenciku?]
[Tidak, aku tidak membencimu….]
[……..Curang]
Bisiknya.
Tak ingin terjebak lebih jauh dalam aura negatif yang meluap-luap itu, aku segera berbalik.
[K-kalau begitu, aku pergi dulu… sampai jumpa besok]
[Besok… aku berharap bisa libur saja…]
Kamu terdengar seperti Hinako.
Aku berpisah dengan Naruka, yang menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong, lalu kembali ke kelas.
Tepat pada saat itu, Hinako juga sepertinya baru selesai mengobrol dengan teman sekelasnya dan bersiap-siap untuk pulang sekolah.
Seperti biasa, setelah Hinako masuk ke dalam mobil, aku masuk di titik penjemputan yang agak jauh.
[Kerja bagus atas ujiannya]
Begitu aku masuk ke dalam mobil, Shizune-san menyapaku.
[Bagaimana hasilnya?]
[Berkat bantuan Anda, aku bisa mengerjakannya dengan cukup baik]
[Aku tidak yakin seberapa besar arti “cukup baik” itu, tapi mengingat hasil ujian percobaan sehari sebelumnya… Itu tidak terlalu buruk. Belajar dengan giat memang ada hasilnya, bukan?]
[…Terima kasih banyak]
Pujian Shizune-san membuatku merasa kalau ujiannya akhirnya benar-benar selesai.
―Kurasa aku berhasil mengatasinya.
―Aku lulus satu. Tapi aku tidak boleh lengah. Aku akan terus belajar.
Mobil itu melaju menuju kediaman keluarga Konohana. Tidak banyak percakapan hari ini karena aku juga merasa lelah.
[Ngomong-ngomong, Ojou-sama. Lusa, pada hari Sabtu, saya diminta untuk menyampaikan kepada Anda agar menghadiri jamuan makan bersama dengan Keigon-sama]
Kata Shizune-san dari kursi penumpang depan.
[Tamu-tamunya adalah CEO perusahaan galangan kapal Chikamoto, serta direktur dari beberapa anggota lain Sea Japan United. Rencana galangan kapal Chikamoto adalah bermitra dengan perusahaan-perusahaan di bawah grup Konohana. Sea Japan United bermitra dengan galangan kapal Chikamoto untuk tujuan ekonomi, dan hubungan semacam itu sedang bermunculan]
Sambil melihat-lihat dokumen, Shizune-san terus memberikan penjelasan.
[Saat usianya 7 tahun, Ojou-sama menyapa CEO Galangan Kapal Chikamoto di sebuah pertemuan sosial. Saat mengatur jamuan makan baru-baru ini, pihak lain ingin melihat sekilas Ojou-sama yang sudah dewasa, dan saya telah diberi tahu bahwa Ojou-sama telah diputuskan untuk hadir. Tolong jangan berbuat ulah]
[Nnnー… menyebalkan sekali]
[Mohon kerjasamanya]
Mungkin sudah terbiasa dengan percakapan semacam ini, Shizune-san melanjutkan tanpa ragu-ragu.
Hinako sedang duduk di sebelah kananku, merengut.
[Dan, Itsuki-san]
[Ya]
[Saya akan meminta Itsuki-san untuk datang mendekati lokasi acara pada hari pelaksanaan]
[Ya?]
Aku memiringkan kepalaku mendengar kata-kata yang tak terduga itu.
[Aku yakin kamu akan memiliki kesempatan untuk menghadiri lingkaran sosial di masa depan, jadi tidak ada salahnya membiasakan diri dengan suasananya sekarang. Jamuan makan itu akan diadakan di luar ruangan, jadi tolong amati dari jauh sebagai pelayan keluarga Konohana pada hari acara tersebut]
[…Saya mengerti]
♢♢♢
Hari Sabtu. Pada hari di mana Hinako akan menghadiri jamuan makan bersama Keigon-san, aku telah mengenakan pakaian yang diberikan Shizune-san kepadanya untuk menemaninya sebagai pelayan.
[Jas, ya?]
Aku bergumam pada diri sendiri sambil meminta Shizune-san memeriksa penampilanku.
[Apakah kamu tidak menyukainya?]
[Bukan, bukan itu maksudku… Aku hanya tidak terbiasa mengenakannya]
Tidak seperti seragam sekolah dan pakaian paruh waktuku, pakaian ini terasa sedikit ketat dan tidak nyaman. Meskipun demikian, penampilanku di dalam cermin terlihat bagus dibandingkan seragam sekolahku biasanya. Mungkin itu karena rambutku ditata, tapi kurasa itu karena kualitas jasnya yang tinggi.
[Omong-omong, jas itu adalah merek Italia papan atas, harganya 700.000 yen]
[Eh!?]
[Tolong perlakukan itu dengan sangat hati-hati]
Bahkan lebih mahal dari yang kubayangkan.
Jangan tinggalkan satu noda pun di jas itu. Dengan misi tersebut di benakku, aku meninggalkan mansion bersama Shizune-san.
♢♢♢
[Ini tempat acaranya]
Butuh waktu sekitar satu jam berkendara ke sana, tetapi akhirnya kami tiba di tempat tujuan, sebuah wisma.
[Shizune-san. Apakah ini kediaman keluarga Konohana yang lain?]
[Ini lebih mirip tempat acara daripada vila. Tempat ini terutama digunakan untuk acara-acara seperti ini]
Sebuah rumah bergaya Barat yang besar dan terawat dengan baik berdiri di hadapan kami. Meja depannya didekorasi dengan gaya mewah yang sama seperti hotel kelas satu, dan ada lapangan golf yang luas di sebelah bangunan tersebut.
[Kalau begitu, silakan pergi ke meja depan, Ojou-sama. Kami akan menunggu di luar]
[…Nn]
Hinako, yang mengenakan pakaian rapi dan pantas untuk acara jamuan makan, mengangguk.
Mulai dari sini, kami akan berpisah dari Hinako.
[…Itsuki]
[Ada apa?]
[Aku… akan pergi menemui seorang paman yang tidak ku kenal]
[Berhentilah membuatnya terdengar seperti sebuah kejahatan]
Itu adalah kalimat mendadak yang sulit untuk ditanggapi dari posisiku.
Aku pikir itu sudah akhir dari pembicaraan tersebut, tetapi… Hinako masih ada di sini.
[…Itsuki]
[Ada apa lagi sekarang?]
[…Aku pergi untuk melakukan yang terbaik]
Hinako menatapku dengan tatapan yang sedikit penuh harap di matanya.
Seharusnya kau mengatakannya, sebaiknya dari awal…
[Ya, aku mendukungmu. Saat ini selesai, kita bisa bersantai di mansion bersama]
Hinako tersenyum saat aku mengatakan itu.
[…Nn. Es krim, aku ingin lagi]
Setelah mengatakan itu, Hinako menghampiri Keigon-san.
Setelah dia berjarak sekitar 5 meter.
[…Es krim?]
Shizune-san bergumam.
[Itsuki-san, apa maksudnya dengan es krim?]
[…]
Aku memalingkan wajah dari tatapan dingin yang dilemparkan kepadaku.
♢♢♢
Hinako meninggalkan Itsuki dan yang lainnya, lalu berjalan menuju meja resepsionis vila itu sendirian.
Ayahnya, Keigon, sangat mudah dikenali. Seperti Itsuki, pakaiannya adalah setelan jas hitam, tetapi yang ini berasal dari merek papan atas dan dibuat khusus.
Para pelayan keluarga Konohana diwajibkan mengenakan seragam mahal agar tidak merusak martabat keluarga, tetapi pada saat yang sama, ada aturan bahwa mereka tidak boleh mengenakan pakaian yang lebih mahal daripada kepala keluarga demi mengangkat derajat kepala keluarga tersebut. Sementara setelan jas Itsuki adalah produk siap pakai seharga sekitar 700.000 yen, setelan jas Keigon jauh lebih mahal, mencapai lebih dari 1 juta yen.
[Sudah lama tidak ketemu, Hinako]
[Nn… iya]
Hinako menanggapi perkataan ayahnya dengan sikap paling minimal yang diharapkan darinya.
[Bagaimana hasil ujianmu?]
[…Tidak ada masalah]
[Baguslah. Pertahankan nilai-nilaimu, sebagai putri dari keluarga Konohana]
Keigon memberitahunya seolah-olah itu adalah panggilan bisnis, sama sekali tidak ada rasa senang, marah, atau sedih dalam suaranya.
[Bagaimana dengan Itsuki-san? Sudah sekitar sebulan sejak dia menjadi pengurus…]
[…Sangat baik]
Hinako menjawab dengan sedikit antusias, dan Keigon membuka matanya karena terkejut.
[Itu langka. Aku tidak menyangka Hinako akan memuji seorang pengurus sampai segitunya]
[…Aku ingin terus bekerja dengan Itsuki]
[Begitu ya. Itu adalah percobaan untuk merekrut orang biasa yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Konohana, tapi… aku senang melihatnya berjalan dengan baik]
Keigon tidak tersenyum, persis seperti seorang peneliti yang telah memastikan keberhasilan sebuah eksperimen. Dia kemudian hanya menggerakkan matanya dan menatap Hinako.
[Kamu tidak berada di bawah pengaruh apa pun, kan?]
[…Pengaruh?]
[Aku yakin kepribadian Hinako cocok dengan dirinya, tapi Itsuki adalah orang biasa. Tidak perlu bagimu untuk terpikat olehnya dan menjadi bagian dari dunia duniawi]
(TN: terjemahan asli adalah orang biasa/reguler, tapi rakyat jelata terdengar lebih baik karena dia sedang menilai situasinya)
Hinako menatapnya dengan aneh, tidak begitu mengerti apa maksudnya.
[Ayo kita bergerak. Hinako, kumohon jangan lakukan hal yang gegabah]
Dengan ekspresi serius di wajahnya, Keigon memberikan pukulan telak.
Sesaat setelah itu, Hinako langsung mengenakan topengnya.
[Baik, Ayah]
[…Anak baik]
Sebagai seorang wanita di antara para wanita. Sebagai gadis paling berbakat di Akademi Kiou, Hinako memulai aktingnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan vila dan para tamu untuk jamuan makan pun tiba.
[Terima kasih telah datang jauh-jauh]
[Hahaha, aku suka datang ke sini, jadi jangan berkata begitu. Aku diberitahu bahwa hari ini adalah pertemuan santai]
Para tamu mencairkan suasana, sementara Keigon menyambut para tamu dengan khidmat.
Ada 5 tamu. 2 dari mereka adalah direktur galangan kapal Chikamoto, dan sisanya adalah direktur Sea Japan United. Semuanya tampak lebih tua daripada Keigon. Keluarga Konohana seharusnya menjadi yang paling bergengsi di antara keluarga-keluarga ini, tetapi alasan mereka memiliki waktu luang untuk bersantai adalah karena perbedaan usia dan pengalaman mereka.
[Hei, sudah lama sekali. Apakah kamu mengingatku?]
CEO galangan kapal Chikamoto memanggil Hinako.
[Ya. Saat aku berusia 7 tahun, aku menyambut Anda di sebuah acara berkumpul]
[Aku senang kamu masih mengingatku, bahkan setelah sekian lama. Kamu masih sopan seperti biasanya]
CEO galangan kapal Chikamoto merasa terkesan.
[Hoo, apakah ini putri Konohana-san?]
[Ya. Namanya Hinako]
Hinako membungkuk dengan anggun atas perkenalan Keigon.
[Aku pernah mendengar desas-desus. Aku punya kenalan yang anaknya bersekolah di Akademi Kiou. Aku mendengar dari temanku bahwa kamu dijuluki wanita Sempurna di akademi]
[Aku tersanjung]
Hinako membungkuk dengan sopan.
[Dia juga sangat menjanjikan, dengan nilai yang luar biasa. …Aku yakin Konohana-san pasti sangat bangga memiliki seorang putri dengan reputasi sebaik itu]
[Ya. Aku bersyukur putriku sendiri telah tumbuh menjadi anak yang jujur dan lurus]
Keigon kemudian melirik sekilas ke arah wajah para tamu.
[Aku yakin kalian pasti lelah mengobrol sambil berdiri, jadi mari kita pindah ke tempat acara. Kami telah menyiapkan meja di luar atas permintaan Chikamoto-san, jika tidak keberatan]
[Ya. Hari ini cuacanya bagus. Dan kita tidak mengadakan pertemuan besar, jadi kita bisa bersantai dan mengobrol di bawah sepoi-sepoi angin]
♢♢♢
Aku sedang mengamati Hinako dan yang lainnya sedang menikmati makan bersama Shizune-san.
[Bagaimana rasanya, Itsuki-san? Suasananya]
[Mari kita lihat…] (TN: soudesune. Saya tidak tahu harus menaruh apa)
Aku menjawab pertanyaan Shizune-san tanpa mengalihkan pandanganku.
[Entah bagaimana, tata krama mereka sangat santai. Setiap gerakan terasa natural… tapi kamu bisa tahu bahwa mereka tetap memperhatikan…]
[Itu adalah tata krama yang baik]
Shizune-san menjelaskan.
[Rasanya begitu natural hingga tidak ada yang merasa tertekan, namun cukup untuk memperjelas bahwa setiap orang menunjukkan tata krama dan perilaku sopan mereka. Sekilas hal itu mungkin tampak sekadar formalitas, tetapi rasa kerja sama yang tercipta dari kepatuhan bersama terhadap aturan umum membangun hubungan kepercayaan yang lebih kuat]
[Kepercayaan, ya…]
[Meskipun tata krama sering kali diremehkan akhir-akhir ini, ada banyak situasi di mana hal itu diperlukan. Itu diperlukan, terutama bagi kalangan petinggi. …Tata krama bukan tentang kata-kata, melainkan tentang sikap. Hal itu menjadi perlu karena kita berada dalam posisi di mana kita tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan]
Itu terdengar kejam. Ada kalanya aku tidak dapat memahaminya sebagai orang biasa.
[…Itulah sebabnya sangat tidak sopan untuk melanggarnya]
Setelah mengatakan itu, Shizune-san menutup bibirnya.
Aku juga mengatupkan mulutku dan mengamati Hinako, Keigon-san, dan yang lainnya saat makan.
Sejauh ini jamuan makan itu tampak berjalan dengan lancar.
♢♢♢
[Oh, kamu masih belajar bahkan setelah sampai di rumah?]
[Ya. Meskipun begitu, aku tidak belajar sepanjang waktu]
Hinako sedang berbicara dengan para eksekutif setelah menelan sesuap sayuran yang dicincang halus menggunakan pisau.
Mereka memusatkan perhatian pada Hinako, yang awalnya mengawasinya dengan hangat seperti putri tercinta, dan perasaan batin mereka perlahan-lahan mulai muncul ke permukaan. Seorang wanita dengan wajah dan bentuk tubuh yang begitu indah, serta Hinako yang sangat sopan, gelar seorang Ojou-sama yang sempurna benar-benar sangat cocok untuk perwujudan semacam itu.
[Dia gadis yang sangat baik. Aku ingin menukarnya dengan putraku yang merupakan seorang bodoh total]
CEO galangan kapal Chikamoto berkata kepada Keigon sambil tertawa.
[Anda pasti bercanda. Putra CEO juga lulusan universitas unggulan, bukan?]
[Pendidikan dan kemampuan adalah 2 hal yang berbeda. Dia masih belum dewasa, dan kurasa aku belum bisa membiarkannya mengambil alih untuk saat ini]
Kata CEO dengan nada menyesal.
Seorang pelayan dari keluarga Konohana mengumpulkan piring-piring kosong dan membagikan hidangan baru.
[Oh, tidak ada daging?]
[Menu hari ini sedikit lebih ringan karena ini masih jam makan siang. Jika ini waktu makan malam, aku akan membuat sesuatu yang sedikit lebih megah…]
[Aku ada urusan lain yang harus dihadiri di malam hari. Sebenarnya aku lebih memilih makan malam jika bisa]
Hahaha, CEO dan para eksekutif tertawa.
[Hinako-chan di usianya sekarang masih seorang pelajar. Mungkin dia ingin makan sesuatu yang lebih?]
[Tidak, aku pemakan porsi kecil, aku sudah cukup]
Dengan senyuman palsu, Hinako menjawab mereka.
CEO galangan kapal Chikamoto meletakkan jarinya di dagu saat melihat perilakunya yang cantik dan sopan.
[Ya ampun, dia sebaik seperti yang mereka katakan. Aku yakin dia akan memiliki banyak pilihan untuk menikah nanti]
[Sebagai orang tua, aku akan sangat senang jika itu terjadi, tapi sayangnya belum ada rencana seperti itu]
Ketika Keigon mengatakan itu, sang CEO sedikit terkejut.
[Oh, begitu ya? Jika itu adalah putri Konohana-san, tidak mengejutkan jika dia sudah bertunangan…]
[Dulu memang ada, tapi karena berbagai alasan kami mengakhiri hubungan itu. Dia sudah tidak ada lagi]
[Hooo]
Mata sang CEO menyipit.
[Sebenarnya, aku punya kenalan yang sedang mencari pendamping hidup]
Keigon nyaris tersenyum, tapi dengan cepat menahannya.
[Bolehkah aku meminta detail lebih lanjut?]
[Tentu. Kenalanku berasal dari keluarga yang banyak berbisnis dengan luar negeri. Skala bisnis mereka lumayan, tapi ini adalah bisnis yang melibatkan klien para pesohor, jadi mereka berharap mendapatkan seseorang yang sopan dan penuh hormat. Yah, ini kan hanya gagasanku saja, tapi… aku pikir putri Anda mungkin adalah tipe orang yang akan dia sukai]
[…Begitu ya. Pihak seberang adalah putra dari kenalan yang Anda maksud]
[Benar sekali. Aku cukup yakin usianya baru awal dua puluhan]
Saat diberikan informasi ini, Keigon mulai memikirkan masa depan keluarga Konohana.
Seorang kenalan dari CEO perusahaan pembuatan kapal. Sebuah keluarga dengan urusan bisnis luar negeri yang luas. Jika demikian, bisnis itu pasti berkaitan dengan perdagangan. Meskipun ukurannya tidak begitu besar, fakta bahwa bisnis tersebut ditujukan untuk segmen pasar para pesohor menunjukkan bahwa itu adalah pasar yang unik.
[Akan saya pertimbangkan]
[Hahaha, ini semacam lemparan asal-asalan, ya?]
[Anda bisa saja. Saya akan mempertimbangkannya dengan serius]
Mengatakan kepada sang CEO bahwa itu bukanlah sanjungan, Keigon miringkan cangkirnya ke mulut.
Tak lama kemudian, piring-piring mereka diambil dan hidangan penutup terakhir diletakkan di atas meja.
[Ini hidangan penutupnya]
[Oh, kue panggang? Hidangan penutup yang elegan seperti ini tidak buruk juga sesekali]
CEO Chikamoto Shipbuilding mengatakan [betapa kebetulannya]… Namun sebenarnya, Keigon telah menyelidiki bahwa pria itu menyukai kue panggang. Benar saja, sang CEO sedang berada dalam suasana hati yang baik dan menikmati kue tersebut.
[Konohana-san. Mengenai apa yang baru saja Anda katakan, bolehkah saya memberitahu kenalan saya tentang hal itu?]
[Tentu saja. Sebagai seorang ayah, saya bisa menjamin kemampuan putri saya]
Apakah putra dari kenalan tersebut layak bersanding dengan Hinako atau tidak, itu bukanlah hal yang penting saat ini.
Yang penting adalah membangun koneksi. Sekalipun ini tidak berhasil, kesempatan lain mungkin akan datang, seperti halnya kali ini.
[Hinako, itulah sebabnya—]
Tepat saat Keigon berbalik, memanggil nama Hinako.
Hinako sedang berada di tengah-tengah memungut sepotong barang yang jatuh ke atas meja dengan kedua tangannya.
Para eksekutif tertegun dan terkejut, dengan mulut menganga. Hinako, yang tidak menyadari udara yang membeku dengan cepat, dengan sigap memasukkan sepotong makanan itu ke dalam mulutnya.
—Aturan 3 detik.
Ya, tepat setelah dia hendak berbicara.
Hinako teringat bahwa Itsuki tidak ada di sana, dan bahwa mereka sedang berada di tengah-tengah jamuan makan.
[…Ah]
Suara kecil lolos dari bibir Hinako.
[…Hmm]
CEO galangan kapal Chikamoto mengelus jenggotnya dengan ringan.
[…Mungkin sedikit di bawah reputasinya]
Pada saat itu, aku tahu Hinako telah melakukannya.
…Ahhh.
Mungkin aku mengeluarkan suaraku bersamaan dengan Hinako.
Hinako pasti juga menyadari kesalahannya. Tapi sekarang sudah terlambat.
Jamuan makan dilanjutkan tanpa hambatan. Sekilas, semuanya tampak baik-baik saja, tapi… aku menyadari bahwa ekspresi Keigon-san berubah muram sejenak.
[Itu tidak bagus]
Shizune-san bergumam di sebelahku.
[Apa yang akan terjadi…?]
(masukkan gambar hinako di atas meja)
[Entahlah. Tapi… mengingat kepribadian Keigon-sama, ini sudah mendekati skenario terburuk]
Shizune-san, yang biasanya tenang, berbicara dengan suara tegang.
Dengan napas tertahan, kami menunggu akhir dari jamuan makan tersebut. Sekitar 10 menit kemudian, para peserta keluar dari vila, bersiap untuk pergi.
[Terima kasih telah datang hari ini]
[Tidak, aku sangat menikmati hari ini. Terkadang mengambil waktu sejenak untuk bernapas seperti ini sangatlah diperlukan]
Direktur utama dan para eksekutif, yang merupakan tamu Keigon-san, menyapanya dalam suasana hati yang baik karena mereka merasa kagum. (TN: Aku sama sekali tidak tahu kenapa dia merasa kagum)
Situasinya tidak terlihat kacau… Namun, direktur utama Chikamoto Shipbuilding membuka mulutnya seolah-olah dia baru saja teringat.
[Oh, dan Konohana-san. Aku tidak yakin harus berbuat apa mengenai lamaran pernikahan itu, tapi tolong pura-pura saja hal itu tidak pernah terjadi. Untuk saat ini, jika aku memperkenalkan mereka, itu akan memengaruhi reputasiku]
[…Baik]
[Hahaha, aku tidak terlalu ambil pusing soal itu. Entah bagaimana harus mengatakannya, tapi itu hanyalah pihak ketiga yang tidak ada di acara ini. Bagiku pribadi, aku ingin terus akur dengan Konohana-san baik secara publik maupun pribadi]
[Ya, aku juga berpikir begitu]
Para tamu masuk ke mobil mereka dan meninggalkan vila.
♢♢♢
Akhirnya, setelah mengantar semua tamu pergi, Keigon-san berbalik ke arah kami.
[Shizune]
[Ya]
[Siapa yang mengajari Hinako gestur tidak sedap dipandang itu?]
[Itu adalah…]
Shizune-san tergagap.
Tidak sanggup menahan suasana tersebut, aku memutuskan untuk mengaku.
[…Permisi. Aku yang mengajarinya]
Ketika aku mengatakannya secara jujur, dia mengembuskan napas lega.
Seolah-olah dia sudah tahu memang begitulah kenyataannya.
[Aku selalu bertanya-tanya. Apakah memiliki seorang pengurus itu memang diperlukan]
Kata Keigon-san.
[Seperti yang kamu tahu, Hinako memiliki kesenjangan yang besar antara jati dirinya yang sebenarnya dan aktingnya. Peran seorang pengurus adalah menyembunyikan kecerobohan dan menindaklanjutinya sebaik mungkin. …Namun, ini adalah cara yang bertele-tele]
Sambil melirik sekilas ke arah Hinako, Keigon-san melanjutkan.
Matanya begitu dingin hingga aku hampir tidak percaya kalau itu adalah mata seorang ayah yang sedang menatap putrinya sendiri.
[Seharusnya kita tidak membiarkan kecerobohan apa pun sejak awal. …Inilah yang terjadi ketika dia memiliki kepribadian yang sesungguhnya. Pengurus adalah orang yang menyemangati Hinako dan memanjakannya]
Bergumam pada dirinya sendiri, Keigon-san menatap Shizune-san.
[Shizune. Mulai sekarang, pastikan Hinako selalu berakting, baik di depan umum maupun secara pribadi] (TN: bisakah kita melenyapkan pria ini?) (EDN: Mandi Pemanggang Roti sepertinya pilihan bagus)
[Sepanjang waktu, begitu?]y
[Benar. Buat dia terus berakting setiap saat, bukan hanya di depan umum, tapi juga di dalam mansion]
[…Saya khawatir itu akan membuat Ojou-sama lebih cepat pingsan]
[Atasi itu]
Singkat dan padat, kata Keigon-san dengan tajam.
[Ini adalah hasil dari memanjakannya hanya karena dia pingsan. Bukannya kamu punya penyakit kronis…. Aku sudah tidak tahan lagi. Kami akan menyediakan waktu dan arahan jika diperlukan. …Karena dia lahir di keluarga Konohana, sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga nama baik keluarga]
Saat aku mendengar kata-kata itu, masa depan terburuk yang bisa dibayangkan melintas di benakku.
―Ini bukan masalah pingsan atau tidak.
Berakting setiap saat berarti…
Jati diri Hinako… benar-benar disegel rapat-rapat.
[T-tunggu sebentar!]
Aku menghentikannya tanpa berpikir. Dia menoleh ke arahku dengan ekspresi dingin. Untuk sesaat, aku merasa hidungku seperti membeku, tapi aku mengucapkan kata-kata ini dengan suara yang gemetar.
[Itu… aku minta maaf karena telah merusak waktu makan ini karenaku. Tapi berapa pun harganya, aku akan―]
[Ini bukan salahmu]
[…Eh?]
[Awalnya, banyak pengurus yang berhenti setelah bekerja dalam waktu singkat. Jadi aku pikir kamu juga akan begitu. …Aku mengira pengaruhmu tidak akan berarti dan tidak penting. Bukan kamu yang patut disalahkan, melainkan aku yang membuat penilaian seperti itu, dan Hinako yang begitu mudah tertipu]
Dengan ekspresi penyesalan yang terlihat jelas di wajahnya, Keigon-san berkata.
[Shizune. Saat kamu kembali ke mansion, berikan bayaran kepada Itsuki-kun]
[…Saya mengerti]
Aku memiringkan kepalaku di akhir percakapan singkat kami.
[Gaji… ku?]
Tentu saja, ini hampir waktunya tanggal gajian.
Tapi, alasan di balik pembayaran yang tiba-tiba ini…
[Mulai sekarang, Hinako tidak lagi membutuhkan seorang pengasuh]
Keigon-san berkata sambil menatap tajam ke arahku.
[Itsuki-san. Terhitung mulai hari ini, kamu diberhentikan dari tugas sebagai pengasuh]
JEEEEEEEEEEEEEEERRRRR
2 jam kemudian. Aku tertegun, menatap gerbang besar yang tertutup rapat.
[…Ini bohong, kan]
Sebagai kepala kelompok Konohana, ketangkasan Keigon-san tidak biasa.
Sekembalinya ke mansion, aku langsung diperintahkan oleh Keigon-san untuk mengemas barang-barangku. Karena pemecatan yang mendadak dan tiba-tiba itu, aku diberi tambahan sebagai gajiku. [Jika kamu tidak punya tempat untuk pergi, kamu harus puas dengan jumlah uang ini untuk sementara waktu], katanya, dengan ekspresi yang membekukan dan menembus, mengerahkan dominasinya.
Aku diberi sejumlah uang yang luar biasa untuk jasaku, dan aku diusir keluar dari mansion.
Hanya dalam sehari…. Dalam beberapa jam, kehidupan sehari-hariku runtuh.
Aku tidak akan lagi bersekolah di Akademi Kiou. Mengenai prosedur pengunduran diri, aku yakin itu akan cepat dan kilat. Keluarga Konohana sangat berkuasa. Mereka bisa membereskan masalah mereka sendiri sepuasnya.
[Haha…]
Tawa hampa keluar dari mulutku.
[…Yah, padahal aku sedang menjalani kehidupan yang selalu kuimpikan]
Pikiran untuk menyerah mulai menguasai kepalaku.
Andai semuanya hanya mimpi. Jika begitu―maka Hinako tidak akan menderita separah itu.
[…Hinako]
Jika ini terus berlanjut, Hinako akan terpaksa menjalani kehidupan yang bahkan lebih keras dan menyakitkan daripada sebelumnya.
Namun dengan situasi seperti ini, aku bahkan tidak bisa mengeluh kepada Keigon-san.
―Akulah penyebab dari semua ini.
Keigon-san bilang aku tidak bertanggung jawab, tapi itu tidak benar. Semua ini karena aku mengajari Hinako aturan 3 detik yang bodoh itu. Terlebih lagi, aku tahu bahwa Hinako memiliki ketertarikan yang luar biasa pada budaya rakyat jelata, dan membiarkan begitu saja.
Tanggung jawab itu ada padaku. Saat aku memikirkannya… aku tidak bisa berbuat apa-apa.
[Itsuki…?]
Saat aku berjalan tanpa tujuan di sekitar kota, seseorang memanggilku.
Aku perlahan berbalik. Ada seorang gadis yang kukenal.
[…Naruka]
Berdiri di sana adalah seorang gadis dengan rambut hitamnya yang tergerai hingga ke paha.
[Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?]
[Aku sedang jalan-jalan. Sudah kubilang, aku mendapatkan kebebasan dengan mengalahkan ayahku. Sekarang aku sudah agak diizinkan untuk keluar—]
Naruka, yang bertanya kepadaku, tiba-tiba menatapku dan berhenti.
Ekspresinya berubah gelisah,
[…Itsuki, ada apa? Apakah sesuatu terjadi?]
Tanya Naruka dengan cemas.
Aku berusaha tetap tenang… tapi sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan perasaan di dadaku ini.
[Sebenarnya—]
Karena aku tidak ingin merepotkan keluarga Konohana, aku akan menjelaskan apa yang bukan merupakan sebuah rahasia.
Akulah penyebab Hinako bertindak kasar di depan umum. Bahwa aku diusir dari kediaman Konohana karena hal itu. Dan pengawasan terhadap Hinako akan diperketat. Itulah hal-hal yang kukatakan kepada Naruka.
[…Begitu ya]
Naruka, yang mendengarkan ceritaku, berkata dengan ekspresi aneh.
[Aku merasa sulit percaya kalau Konohana-san akan melakukan hal segamblang itu di tempat umum, tapi… dari kelihatannya, aku yakin itu benar]
Naruka menatapku dengan wajah khawatir, seolah-olah aku menunjukkan sikap yang sangat muram.
[Meskipun tidak sebesar keluarga Konohana, keluarga Miyakojima juga keluarga besar. Jadi, aku sedikit banyak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku yakin Konohana-san juga berjuang dengan cara-cara tertentu yang tidak kuketahui]
[…Yah]
Meskipun aku tidak menceritakan semuanya kepadanya, dia mampu memahami situasinya.
[Apa yang terjadi pada Konohana-san?]
[Aku tidak tahu detailnya. Tapi dari kelihatannya, dia akan semakin dibatasi mulai sekarang. Kita mungkin tidak bisa lagi melakukan hal-hal seperti pesta teh dan kelompok belajar]
[Begitu ya… Keluarga Konohana benar-benar keras. Bagaimana bisa mereka mengikat putri mereka sendiri hanya karena satu kesalahan, dan juga mengusir Itsuki keluar]
Keigon-san bahkan mungkin tidak menganggap Hinako sebagai anak kandungnya sendiri. Setidaknya hingga saat ini, perkataan dan tindakan Keigon-san sama sekali tidak pernah mencerminkan rasa peduli terhadap Hinako sebagai seorang anak.
[Ini semua… salahku]
Tanpa sengaja, aku mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya.
[Jika aku tidak mengajarinya hal-hal yang tidak perlu itu, semua ini tidak akan pernah terjadi]
Sekarang aku hanya merasakan penyesalan. Aku bertekad untuk melakukan yang terbaik demi menyembuhkan rasa kesepian Hinako. Dan inilah hasilnya. Aku malah membuat Hinako menderita lebih parah dari sebelumnya.
[Bagaimanapun juga, aku hanyalah orang biasa yang tidak tahu sopan santun. …Jika aku tahu hal ini akan terjadi, seharusnya aku tidak pernah ikut campur sejak awal―]
[―Itu tidak benar!]
Naruka berseru dengan lantang.
Aku terkejut dan heran mendengar ledakan emosi yang tak terduga dari Naruka yang biasanya tenang.
[Itsuki, itu tidak benar! Itsuki tidak pernah salah!]
[Naruka…?]
[Ingatlah diriku yang dulu!]
Naruka berkata sambil menatap lurus ke mataku.
[Dulu aku dilarang keluar sendirian! Tapi Itsuki mengubah itu dan duniaku! Aku masih mengingat hari itu dengan jelas! Hari itu membuatku menyadari betapa kecilnya dunia tempatku tinggal selama ini!]
Naruka melanjutkan, dengan ekspresi yang terlihat sangat terharu.
[Jika bukan karena Itsuki, aku mungkin akan tetap takut pada dunia luar. Aku tidak akan tahu rasa batangan permen, cara berbelanja… keramaian jalanan, atau suasana taman yang tenang. …Itulah sebabnya aku sangat berterima kasih kepada Itsuki, lebih dari yang bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku merasa sangat berterima kasih kepadamu]
Naruka lalu menurunkan pandangannya.
[Dan aku yakin Konohana-san juga merasakan hal yang sama]
Gumam Naruka dengan sedih.
[Dia dibesarkan tanpa mengetahui apa pun kecuali apa yang perlu dia ketahui. Itu sangat sepi. Aku yakin Itsuki tidak hanya menyelamatkanku, tetapi juga Konohana-san dari kesepian itu]
Setelah mengatakan sebanyak itu, Naruka menatap mataku lagi.
[Lebih percaya dirilah. Karena alasan itulah… I-Itsuki adalah orang y-yang a-aku…]
Pipi Naruka langsung memerah begitu dia mengucapkan kalimat berikutnya, dan saat dia melanjutkan, dia mengalihkan pandangannya.
[Aku… M-Mengagumi bagian itu dari dirimu…]
Entah kenapa, suara Naruka terdengar murung saat dia mengucapkan kalimat terakhir.
Rasanya seolah-olah dia mencoba menyampaikan sesuatu tetapi malah mengubahnya menjadi hal lain… Meskipun begitu, perkataan Naruka sudah cukup untuk membuat hatiku berdebar.
―Benar.
Meskipun itu hal sepele bagiku.
Meskipun itu adalah sesuatu seperti akal sehat bagiku, atau tidak begitu menarik bagiku.
Bagi Hinako dan Naruka, itu bisa menjadi sesuatu yang mengubah hidup.
[Naruka… Terima kasih]
Saat aku berterima kasih kepadanya, aku teringat kembali pada masa-masa ku di kediaman Konohana.
Ini sama sekali bukan bentuk memanjakan diri sendiri.
Secara objektif, hal ini bisa dilihat tidak sepenuhnya salah.
―Hinako tidak merasa tersesat dan bingung dengan keberadaanku di sisinya.
Hinako telah menaruh kepercayaan tertentu kepadaku.
Maka aku ingin membuktikan kepercayaan itu.
Aku masih belum membalas perasaan Hinako.
[…Baiklah]
Aku ingat hari ketika aku membulatkan tekadku.
Hinako memikul beban yang sangat berat di tubuhnya yang begitu kecil.
Seseorang harus berbaik hati dan bersikap lembut padanya.
Jika orang tua dan para pelayannya tidak menjalankan peran itu… Kalau begitu, aku sendiri yang akan melakukannya.
[Aku berangkat] (TN: ittekimasu)
[…Mau ke mana?]
[Ke kediaman keluarga Konohana]
Kataku kepada Naruka yang menyemangatiku.
[Aku hanya ingin sedikit mengobrol secara empat mata]
Suasana hatiku yang suram kini telah hilang.
Dengan rasa percayaku yang dikembalikan oleh Naruka, aku berangkat menuju ke kediaman keluarga Konohana.
♢♢♢
Naruka memperhatikan dengan senyuman tipis di wajahnya saat punggung Itsuki menghilang tanpa menoleh ke belakang sekalipun.
[…Hinako, ya]
[Kurasa dia sedang terburu-buru.]
Pada akhirnya, Itsuki tidak menyadari sedikit pun ucapan keceplosannya.
[Aaahhhhh… sekarang aku malah mengirim garam ke musuh…]
Dermawannya sedang dalam masalah, jadi sudah wajar baginya untuk membantu pria itu.
Dia tidak menyesalinya. Tapi perasaannya adalah cerita yang berbeda.
Naruka memegangi kepalanya.
Mereka berdua… sungguh, sebenarnya apa hubungan mereka?
♢♢♢
Saat Itsuki sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Konohana.
Pintu tiba-tiba terbuka di depan Hinako, yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
[Permisi]
Seorang pelayan, Shizune, masuk dari balik pintu.
[Ojou-sama. Bagaimana perasaan Anda?]
[…seperti biasa]
Hinako menjawab dengan malas dan berbaring di tempat tidurnya.
Dia tidak pergi ke sekolah karena hari libur, dia hanya menghadiri satu kali waktu makan. Waktu yang dia habiskan untuk berakting juga lebih singkat dari biasanya. Meskipun begitu, dia terkadang pingsan karena stres yang dialaminya.
Secara khusus, ada sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan bagi Hinako hari ini.
Itulah sebabnya Shizune menghentikan pekerjaannya dan mengunjungi kamar Hinako. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Hinako, jadi dia pergi untuk memeriksanya.
[Shizune. …Di mana Itsuki?]
[…Itsuki-san sudah meninggalkan mansion]
Ketika Shizune menjawab, Hinako menurunkan pandangannya.
[Itsuki… dia baru menjadi pengurus rumah tangga selama sebulan]
[Benar]
[…Itu waktu yang lama]
[Benar]
Shizune memberikan tanggapan acuh tak acuh atas perkataan Hinako, tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya.
Suara Hinako terdengar kaku, sedih, dan tidak tertarik.
Mungkin Hinako tidak begitu peduli dengan pemecatan Itsuki. Itulah yang dipikirkan Shizune, tapi—
[…Jika pengurus rumah tangga tidak dibutuhkan, kenapa tidak mempekerjakan mereka sebagai pelayan?]
tanya Hinako.
Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia tanyakan tentang pengurus rumah tangga lain sebelum Itsuki.
[Aku dengar sedang ada kekurangan tukang kebun… ya?]
[…Ojou-sama?]
[Bagaimana dengan koki…? Atau seseorang yang hanya menyapu dan membersihkan…. Sebenarnya, ada banyak… ya?]
[Ojou-sama]
Shizune berkata dengan lebih tegas.
[Keigon-sama tidak berniat untuk mempekerjakan Itsuki-san]
Hinako seharusnya bisa memahami hal semacam itu sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya.
Meskipun Hinako berakting dengan sangat baik, Hinako yang asli mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosinya. Saat itulah Shizune menyadarinya. Hinako begitu terpukul hingga ia berpaling dari kenyataan.
[…Tidak]
Dengan pelan, Hinako berkata
[…Aku ingin menemui Itsuki]
Mendengar keinginan kecilnya itu, Shizune menggigit bibirnya dan perlahan membuka mulutnya.
[Itu tidak akan diizinkan oleh Keigon-sama. …Anda sebaiknya menyerah, untuk kali ini saja. Bukan ide yang bagus untuk membuat Keigon-sama semakin tersinggung]
Mendengar perkataan Shizune, bibir Hinako berkedut.
[Shizune… sebenarnya di pihak siapa kamu?]
[Aku hanyalah seseorang yang dipekerjakan oleh Keigon-sama]
Hinako menjadi semakin kesal.
[…Cukup. Kalau begitu, aku akan pergi menemuinya]
[Jangan]
Shizune mengabaikan tatapan tajam yang diterimanya dan membungkuk.
[Aku harus membantu pekerjaan Keigon-sama, jadi aku akan meninggalkan Anda sekarang. Aku akan menempatkan seorang pengawal di dekat pintu, berjaga-jaga kalau… jadi tolong jangan lakukan tindakan gegabah apa pun]
Begitu selesai berkata, Shizune berbalik dan meninggalkan ruangan.
Hinako menarik napas terkesiap ketika melihat pintu itu terbanting menutup di belakangnya.
[…Shizune tidak mengerti]
Seolah bertekad untuk melakukan sesuatu, Hinako mempererat genggamannya pada futon dengan kedua tangannya.
[Aku adalah wanita yang bisa melakukan apa pun yang kuinginkan…]
Dengan mata yang berbinar, Hinako langsung beraksi.
♢♢♢
Setelah berpisah dengan Naruka, aku langsung pergi ke mansion Konohana tempat Hinako berada.
Keigon-san sekarang berada di mansion itu. Setelah makan malam selesai, dia awalnya berencana untuk kembali ke kediaman utama, tapi dia mampir untuk memeriksa siklus hidup Hinako. Dia juga bilang kalau dia akan bekerja di kantor, jadi dia mungkin berniat untuk tinggal beberapa lama. Karena aku tidak tahu di mana lokasi kediaman utama, aku harus menemui Keigon-san sebelum hari berakhir.
Ketika aku kembali ke mansion itu lagi, aku ديpertajam dengan tatapan dari 2 penjaga yang berdiri di depan gerbang.
[Sedang apa kamu kembali ke sini?]
Nadanya dingin… tapi tatapannya dipenuhi dengan rasa simpati.
Setelah sebulan bekerja sebagai pengurus, aku diakui oleh para pelayan keluarga Konohana. Kedua penjaga gerbang di hadapanku melihatku setiap hari saat aku dan Hinako pergi dan pulang sekolah.
[Tolong biarkan aku masuk]
[…Aku menolak. Jika kamu ingin masuk, silakan ikuti prosedur yang benar]
Kokuh rasa dia ingin aku membuat janji temu dengan Keigon-san sebelum aku masuk.
Tapi aku tidak bisa begitu saja menerima dan mundur.
―Mana mungkin Keigon-san akan mengizinkanku melakukannya meskipun aku mengikuti prosedur yang benar.
Aku mengabaikan kedua penjaga gerbang itu dan berjalan menuju gerbang. Gerbangnya sangat tinggi, tapi ada tonjolan dan pinggiran di permukaannya. Memanjatnya adalah hal yang mungkin dilakukan.
[Tunggu]
Begitu aku melangkah satu langkah menuju gerbang, para penjaga gerbang mendekatiku.
[Jika kamu melangkah lebih jauh, kamu adalah ancaman bagi kami. Kami akan mengambil tindakan yang sesuai]
Itu adalah cara berputar-putar untuk mengatakan bahwa mereka mengkhawatirkanku.
Tapi ada alasan mengapa aku tidak bisa mundur.
[Permis―i!]
Dengan penuh tekad, aku berlari ke arah gerbang.
[Apa!?]
Ke-2 penjaga gerbang itu terkejut dan bergegas menghampiriku saat aku mencoba memanjat gerbang.
[Anak bodoh ini!]」
[Jangan meremehkan para penjaga gerbang keluarga Konohana]
Para penjaga mencengkeramku dari kedua sisi.
Jika aku tertangkap di sini, aku mungkin tidak akan pernah melihat Hinako lagi. Pikiran semacam itu muncul, dan pikiranku menjadi kacau.
Namun, di tengah situasi tersebut, aku justru merasa sangat tenang.
[―Eh?]
Akulah yang terkejut.
Namun, pihak seberang justru jauh lebih panik.
Aku dengan cepat menerjang ke dada penjaga gerbang itu dan melompatkan lututku untuk menjatuhkannya. Punggung penjaga gerbang itu membentur tanah dan, brugh! Suara benturan keras pun bergema.
[Gah!?]
Aku mengalihkan pandangan dari penjaga gerbang yang menjerit di kakiku dan menatap satu penjaga lagi.
[A-Apa-apaan tadi..!?]
Mungkin karena tidak menyangka akan mendapat serangan balik, penjaga gerbang yang tersisa itu pun gemetar.
Tidak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini.
―Tubuhku bergerak dengan sendirinya.
Di dalam benakku, teknik-teknik bela diri yang diajarkan oleh Shizune-san melintas membanjiri pikiranku dengan kecepatan yang memusingkan.
Penjaga gerbang itu sadar kembali dan mendekatiku, tetapi sudah terlambat. Aku dengan cepat meraih lengannya dan memutarnya ke luar. Begitu dia kehilangan keseimbangan, aku menjatuhkan kakinya dan membuatnya tersungkur.
[Gahk!?]
Penjaga gerbang kedua terjatuh, begitu pula yang pertama.
[H-Hei kau… di mana kau mempelajari teknik-teknik itu…?]
Saat penjaga gerbang itu merintih dan mengerang, aku menatap kepalanku dan mengenang kembali bulan lalu.
Aku teringat apa yang pernah dikatakan oleh Shizune-san.
Aku memiliki bakat yang luar biasa dalam bela diri.
[Maafkan aku… aku sedang terburu-buru]
Aku memanjat gerbang itu dan mendarat di tanah di sisi seberangnya.
Penjaga gerbang yang tumbang itu berteriak dengan kencang
[Penyusup! Tangkap dia!]
♢♢♢
Aku sudah bekerja di sini selama sekitar sebulan dan memiliki pemahaman tertentu tentang struktur kediaman ini.
Begitu aku melewati gerbang, aku langsung bersembunyi di balik semak-semak dan berputar menuju bagian belakang kediaman tanpa mengeluarkan suara. Mengingat rute patroli para pelayan dan memperkirakan posisi mereka, aku bergerak melalui tanah yang ditata oleh keluarga Konohana.
[Sebenarnya di mana dia!?]
[Geledah gerbang utama lagi!]
Aku bisa mendengar suara para pelayan dari kejauhan. Aku diam-diam menahan napas agar mereka tidak menemukanku.
[Sekarang, di mana aku harus masuk…?]
Pertama, aku harus masuk ke dalam kediaman, tetapi bukan melalui jalan yang biasa.
Aku sedang memikirkan apa yang harus kulakukan ― Lalu aku teringat jalan-jalan malam yang kulakukan bersama Hinako.
Pintu dapur di bagian belakang kediaman itu terbuka. Koridor yang sempit dan sepi itu mengarah ke bagian bawah rumah.
[…Terima kasih, Hinako]
Secepat mungkin, aku bergerak cepat menuju tempat favorit Hinako.
[Apa kalian menemukannya!?]
[Tidak, dia tidak ada di sini!]
Saat aku memasuki kediaman itu, banyak pelayan sedang berteriak-teriak.
Itu adalah keributan besar, tetapi aku tidak berniat untuk mundur. Keigon-san toh tidak akan mau bicara denganku. Jika memang begitu, aku akan menerobos masuk.
[Aku menemukannya!!]
[Keparat]
Para pelayan keluarga Konohana, yang berpakaian serba hitam, datang dari seberang koridor.
Dengan panik, aku berbalik dan menaiki tangga ke lantai dua, di mana aku berpapasan dengan kelompok pelayan lainnya.
[Tangkap dia!]
Sebuah terjangan gigih yang tak kenal ampun. (TN: hah?)
[Aku tidak boleh―sampai―tertangkap!!]
Aku melompat ke belakang untuk menghindari terjangan itu dan balas menendangnya.
[U-Ugh, Waaah!?]
Pelayan itu jatuh terpelanting menuruni tangga dengan momentum yang kuat.
Karena itu adalah tangga yang pendek, dia tidak terluka parah.
[O-Orang ini! Dia tangguh!]
[Kepung dia dan tahan dia!]
Saat para pria itu mendekat, aku dengan tenang mengingatkan diriku pada ajaran Shizune-san.
Jika lawannya mengayunkan lengannya maka—
[A-Apa-!?]
Sebelum dia sempat menangkapku, aku menyelinap di bawahnya dan bergerak ke belakangnya sambil mempertahankan kuncian. Sambil menghalangi tindakan lawan, aku dengan cepat menepuk lututnya dengan kakinya, memaksanya berlutut.
[Kau, diamlah!]
Menghindari kepalan tangannya, aku meraih lengannya. Memutar pergelangan tangannya ke luar, aku mendorong persendiannya agar dia mencoba melepaskan diri dari rasa sakit dan secara alami terjatuh.
[Gohk-!?]
Itu adalah teknik yang disebut kotegaeshi. (TN: kuncian pergelangan tangan, tetap memakai bahasa Jepang karena kata baru untuk dipelajari xD)
Aku mengangkangi pelayan yang berguling di lantai itu dan dengan cepat berlari ke lantai 4.
[Shizune-san… Terima kasih banyak]
Bela diri bukanlah teknik untuk mengalahkan seseorang, melainkan untuk melindungi diri sendiri.
Dengan kata lain, esensi sejatinya adalah untuk melarikan diri dari musuh. Itu adalah teknik yang sempurna bagiku saat ini.
[Kalau tidak salah, jalan ke ruang kerja adalah…]
Aku menuju ke ruangan tempat Keigon-san berada.
Ruang kerja itu juga merupakan tempat pertama kalinya aku berbicara dengan Keigon-san. Aku tidak bisa mengingat seluruh tata letaknya secara detail, tetapi aku memiliki ingatan samar tentang rutenya.
[…Nn?]
Saat itu, aku merasa melihat sesuatu yang aneh dari sudut mataku.
Aku berhenti dan memeriksa apakah aku bisa mengenalinya.
[…Nnnn?]
Sebuah benda panjang dan tipis mirip kain menjuntai di luar jendela.
Kain itu… tirai. Entah kenapa, tirai itu tergantung dari lantai atas, menjuntai dan bergoyang-goyang.
Apakah mereka sedang menjemur pakaian? Sepertinya bukan begitu…
Saat aku memiringkan kepalaku―Seorang gadis turun melewati tirai itu.
Itu Hinako.
[Nnnn~~~!?]
Apa yang sedang dia lakukan!
Aku bergegas menghentikannya, tetapi sebelum aku sempat melakukannya, Hinako sudah pergi ke lantai bawah.
Gawat―Jika dia jatuh, kita dalam masalah.
Aku sebenarnya bisa sampai ke kantor, tapi bukan itu poinnya sekarang.
Aku berlari menuruni tangga dan keluar dari mansion, lalu memanggil Hinako yang berada di atasku. (EDN: Guards doko?)
[Hinako! Apa yang sedang kau lakukan!?]
Hinako menatapku sambil bergelantungan pada tirai yang diikat seperti tali.
[Itu tidak aman, ayo turun―]
[…Batas]
[Hah?]
Aku punya firasat buruk tentang ini.
[Tidak bisa, bertahanlah…]
[ Tunggu―]
Hinako melepaskan pegangannya pada tirai.
Tubuhnya yang indah dan langsing melayang di udara dan jatuh ke bawah.
Aku membuka kedua lenganku dan menangkap Hinako ke dalam pelukannya.
[―Ugh!?]
Hantaman keras dari benturan itu membuatku mengembuskan seluruh oksigen dari paru-paruku.
[…Tangkapan yang bagus]
[K-Kau, sebenarnya apa yang… sedang kau lakukan…]
[Aku hanya ingin melihat Itsuki]
Hinako, yang sedang tersenyum, tampak lega saat mengatakan hal itu kepadaku.
Jika kau mengucapkan kalimat seperti itu dengan wajah seperti itu… aku tidak bisa marah.
[Aku punya sebuah usulan]
[Usulan?]
Aku memiringkan kepalaku mendengar perkataan Hinako.
Aku hendak bertanya apa yang dia maksud ketika,
[O-Ojou-sama telah diculikー!!]
Seorang pelayan yang melihat kami lewat jendela berteriak.
[Sialan!]
Sebenarnya aku enggan, tapi… aku tidak tega meninggalkan Hinako sendirian di sini.
Aku penasaran dengan usulannya, jadi aku kabur sambil menggendong Hinako di dalam pelukannya.
(masukkan gaya gendong pengantin) keren sekali
[…Aku diculik lagi]
[…Aku tidak menyangka akulah yang akan menculikmu]
Omong-omong, kita bertemu karena penculikan.
Saat itu, aku tidak tahu sama sekali bahwa aku akan menjadi penculiknya.
[…Entah bagaimana, kamu memang melakukannya]
♢♢♢
Aku bersembunyi di dalam semak-semak dan merasa lega karena melihat tidak ada satu jiwa pun di sekitar.
[Jadi, apa usulmu?]
[…Aku akan menjadi sandera]
kata Hinako.
[Supaya Itsuki bisa meyakinkan Ayahku]
[…Kalau begitu, itu lebih mirip ancaman daripada bujukan]
[Kalau begitu, lakukan saja seperti itu]
Aku ragu-ragu sejenak sebelum memberikan jawabanku kepada Hinako, yang mengusulkan rencana semacam itu tanpa ragu.
Setelah memikirkannya, aku menyadari aku tidak bisa begitu saja menyetujui rencana itu.
[…Itu tidak bagus]
[Kenapa…?]
[Itu tidak akan menyelesaikan apa pun]
Tidak ada gunanya bersikap damai di permukaan saja, sementara akar masalahnya dibiarkan begitu saja.
Selain itu, Keigon-san adalah orang yang berkuasa. Bahkan jika aku mencoba menyelesaikannya dengan kekuatan, dia juga akan mengalahkanku dengan kekuatan.
[Aku akan mencoba meyakinkan Keigon-san entah bagaimana caranya. Itulah satu-satunya cara]
[Meyakinkan… Apa kamu bisa?]
[Aku akan melakukannya]
Itu adalah keyakinan yang tidak berdasar.
Meski begitu, aku meyakinkannya.
[Aku akan membuatnya mengurungkan niat itu, aku berjanji]
Aku ingin membuat Hinako merasa tenang.
Aku tidak ingin Hinako merasa terbebani.
Aku ingin membalas kebaikan Hinako karena telah memberiku tempat tinggal setelah aku kehilangan rumahku.
Karena alasan itulah, aku akan berjuang dengan gigih seberapa jauh pun aku melangkah.
[Mau ke mana kamu dengan Ojou-sama?]
Aku mendongak mendengar suara yang tidak asing itu… dan keringat dingin langsung bercucuran membasahi tubuhku.
[…Shizune-san]
Kepala pelayan keluarga Konohana, seorang pelayan yang bisa melakukan apa saja. (TN: Seseorang tolong panggil Ein)
Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa aku menangkan dalam pelajaran bela diri―berdiri tepat di hadapanku.
[Amankan]
Tepat setelah pengumuman singkat Shizune-san, para pelayan mendekat dari segala arah secara bersamaan.
[Kuuuuh!?]
Jika mereka semua menangkapku sekaligus, aku tidak akan bisa bergerak.
Aku mendekati pelayan yang paling kurus, menghindari kepalan tangan yang mengayun sambil melarikan diri dari kepungan. Teknik bertahan yang telah mereka pelajari sejauh ini berbeda dari pelayan lainnya. Mereka semua kini mendapatkan ketenangan pikiran dan kerja sama. Fakta bahwa Shizune-san membawa mereka ke sini berarti mereka pasti adalah pelayan-pelayan yang terlatih dengan baik.
Dari keempat orang itu, setidaknya selalu ada satu orang yang mencoba memutari titik butaku. Merasakan gerakan ini, aku melancarkan tendangan ke belakang tanpa membalikkan badan. Telapak kakiku mengenai dada seorang pelayan. Orang yang ditendang menjerit dan tiga orang sisanya mengeluarkan teriakan kaget. Memanfaatkan kesempatan itu, aku menerjang orang di depannya dan menjatuhkannya dengan bantingan tangan atas.
Namun pada detik berikutnya, aku dicengkeram dari belakang.
[Gawat—!?]
Aku menyadari bahwa ada orang kelima, yang mendekat tanpa suara.
Sepertinya keempat orang pertama tadi adalah pengalih perhatian.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungan itu, karena itu tidak terlalu menakutkan.
Aku mencoba melepaskan diri dari cengkeraman itu dengan sekuat tenaga, tetapi itu tidak bergeming sama sekali.
Aku menggeretakkan gigiku, sementara Shizune-san berjalan menghampiriku dengan tenang.
[Aku kagum melihat betapa pesatnya perkembanganmu dalam waktu singkat. Kamu menyerap pelajaran dengan sangat baik hingga terlihat jelas bahwa kamu bekerja keras, akan tetapi… ini di luar perkiraanku]
[…Jika kamu sedang memujiku, aku ingin kamu mundur dulu]
[Hal itu tidak bisa kulakukan]
Aku diberitahu begitu saja.
[…Shizune]
Hinako lalu membuka mulutnya.
[Aku… akan terus berakting]
kata Hinako sambil perlahan mendekatiku, yang tidak bisa bergerak.
[Aku tidak akan pernah berhenti berakting lagi. Aku akan melakukannya dengan sempurna kapan pun, di mana pun. Jadi kumohon… Biarkan aku bersama Itsuki]
Shizune-san terkejut dalam diam mendengar permintaannya Hinako.
Mengingat sikap Hinako selama ini, permintaan itu adalah sesuatu yang tidak terpikirkan. Beban berakting seharusnya paling dipahami oleh Hinako sendiri. Meskipun ia memiliki waktu luang yang terbatas, ia rela mengorbankan semuanya demi bersamaku.
Itulah sebabnya—aku harus menolak permintaannya.
[…Hinako, hentikan]
Kukatakan padanya dengan jelas.
[Aku tidak ingin Hinako menanggung terlalu banyak beban. Untuk itu, aku ingin berada di sisimu. Jika tidak ada orang lain di sana, setidaknya aku ingin menjadi orang yang ada di sana—Ada di sana untuk membuat Hinako tidak memaksakan dirinya terlalu keras]
[…Itsu… ki…]
Aku tidak ingin kau dipaksa untuk tetap tinggal bersamaku.
Gagasan Hinako, seperti yang kusebutkan tadi… Adalah akhir dari cerita bagiku.
[Aku mohon, jangan mencoba membuang apa yang kucoba lindungi, sendirian saja]
Bagi Hinako, kata-kata itu pasti sangat tidak terduga.
Gadis yang berdiri di hadapanku adalah seseorang yang selalu tampak mengantuk.
[…Nnn]
Hinako menganggukkan kepalanya dengan gerakan kecil namun jelas.
[Aku mengerti. …Aku percaya pada Itsuki]
Nada suaranya yang bergumam jelas sampai ke telingaku.
Hinako menatapku lekat-lekat. Di matanya, dia melihatku menatapnya kembali dengan cara yang sama. ―Itu adalah perasaan yang aneh. Aku merasa seolah-olah bisa berkomunikasi dengan Hinako tanpa harus bertukar kata.
[Aku minta maaf karena terlalu terbawa emosi]
Shizune-san membuka mulutnya.
Nah, masalahnya datang. Aku memelototi Shizune-san untuk menunjukkan tekadku untuk melawan, tetapi…
[Itsuki-san. Jangan khawatir, semuanya tidak akan berakhir seperti yang kamu pikirkan]
[…Eh?]
Aku memutar bola mataku dengan bingung mendengar perkataan Shizune-san.
[Pencapaianmu sebagai pengurus akan segera sampai ke telinga Keigon-sama. Sampai saat itu tiba, mohon bersabarlah]
[Yah, aku akan menunggu…]
Aku tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Shizune-san.
Pada saat itu, aku mendengar dering elektronik dari arah Shizune-san. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya dan melihat ke layar.
[Waktunya pas]
Mengatakan itu, Shizune-san mendekatkan ponselnya ke telinga.
Setelah percakapan singkat dengan seseorang, Shizune-san menatapku.
[Aku telah dipanggil oleh Keigon-sama, jadi aku akan meninggalkan kalian sekarang. Mohon tunggu di sini sebentar lagi, kalian berdua]
Ekspresi tegas Shizune-san memudar dan kembali ke pembawaannya yang tenang seperti biasa.
[Shizune-san. …Di pihak siapa sebenarnya kamu?]
[Aku hanya seseorang yang dipekerjakan oleh Keigon-sama]
Melanjutkan ucapannya, Shizune-san memberitahu kami.
[Namun… aku berada di pihakmu, Ojou-sama]
♢♢♢
Dipanggil oleh Keigon, Shizune mengetuk pintu kantor.
[Permisi]
Membuka pintu, Shizune memasuki ruangan.
Keigon sedang duduk di balik meja kerja yang besar.
[Keigon-sama, ada yang bisa diban―]
[―Marilah]
Shizune mengangguk kecil kepada Keigon, yang menyuruhnya dengan singkat, dan dia pun menurutinya.
[Apa-apaan,, sebenarnya ini?]
Mengatakan itu, Keigon memperlihatkan beberapa dokumen yang bertumpuk di atas meja kerjanya.
[Undangan ke lingkaran sosial yang diselenggarakan oleh keluarga Konohana… Ini undangannya. Kami diberitahu bahwa Anda akan tinggal di sini untuk sementara waktu, jadi saya telah memesan undangan yang dikirimkan dari kediaman utama. Saya ingin Keigon-sama memeriksanya sesegera mungkin]
[Tidak ada kesalahan dalam keputusan itu. Tapi…]
Kata Keigon sambil memeriksa dokumen-dokumen tersebut.
[…Jelaskan ke-4 tamu yang diundang ini]
Keigon menyerahkan 4 undangan kepada Shizune.
Shizune mengangguk, [Baik, Tuan] dan mulai menjelaskan.
[Asahi Karen-sama tampaknya adalah putri dari J’s Holdings Inc. J’s Holdings adalah salah satu dari 5 peritel elektronik teratas di Jepang, dan merupakan mitra bisnis utama bagi Grup Konohana]
Penjelasan pertama selesai.
[Taisho Katsuya-sama adalah putra dari sebuah perusahaan transportasi besar yang terkenal dengan layanan pindahannya. Ini juga merupakan salah satu perusahaan berperingkat teratas di industrinya, dan di antara klien Grup Konohana, bank serta perusahaan yang bergerak di bidang real estat telah memilih Konohana sebagai mitra bisnis mereka]
l
Penjelasan kedua selesai.
l
[Keluarga Miyakojima Naruka-sama mengelola salah satu produsen perlengkapan olahraga terbesar di Jepang. Saat ini, Grup Konohana tidak terlibat dalam industri perlengkapan olahraga, tetapi jika kita bisa mendapatkan hubungan di sini, ini bisa menjadi titik awal yang baik]
Penjelasan ketiga selesai.
[Dan seperti yang Anda tahu, Tennouji Mirei-sama adalah putri dari Grup Tennouji. Mereka sedang bersaing dengan Grup Konohana, tetapi sebagai grup dengan ukuran yang sama, kami pikir ini akan menjadi hubungan yang sangat penting. Jika kita bekerja sama, hal itu tentu akan menghasilkan keuntungan yang signifikan]
Penjelasan keempat selesai.
Setelah semua penjelasan, Shizune menambahkan satu kalimat terakhir.
[Selain itu, mereka berempat――adalah teman seakademi Ojou-sama]
Mendengar penjelasan Shizune, Keigon meletakkan tangannya di dahi.
Ekspresinya jelas terlihat bingung dan kebingungan.
[…Baik Asahi maupun Taisho belum pernah diundang sebelumnya, tapi mereka bukanlah rekan bisnis yang buruk]
Gumam Keigon.
[Miyakojima sudah mengenal sang presiden, tetapi mereka tidak terlalu berpartisipasi dalam acara sosial. Namun, beberapa menit yang lalu, presiden perusahaan itu berkata kepadaku, “Jika putriku ikut berpartisipasi, aku juga akan ikut”, dan mereka setuju untuk bergabung dengan kita dalam acara perkumpulan tahun ini]
Ini adalah sebuah kebetulan yang beruntung. Shizune mengangguk, berpikir dalam hati. (TN: fortuitous pada dasarnya berarti beruntung)
[Tentang Tennouji… Tentu saja, aku mengenal kepala keluarganya, tetapi ini adalah pertama kalinya putrinya berpartisipasi dalam acara kita. Selama ini, hubungan kita hanya sebatas permukaan, baik atau buruk, namun ini bisa menjadi kesempatan untuk membangun hubungan kepercayaan yang lebih kuat. Keluarga Tennouji lebih mementingkan orang daripada angka… Kuharap kita bisa mengambil inisiatif terlebih dahulu]
Paruh kedua dari penjelasan tersebut terdengar seperti monolog saat Keigon berbicara.
Setelah melihat kembali 4 undangan tersebut, Keigon menghela napas panjang sebelum menatap Shizune.
[Mereka semua adalah relasi yang berharga. …Semua ini, apakah Hinako yang mengundang mereka?]
[Benar]
[Dia tidak pernah mengundang siapa pun sebelumnya… namun, di sinilah kita dengan semua koneksi konyol ini]
kata Keigon dengan nada kebingungan yang dalam.
[Saya ingin menyampaikan sesuatu, Tuan]
kata Shizune kepada Keigon, yang tetap terdiam.
[Jika Anda senang dengan perubahan Ojou-sama… saya rasa adalah suatu tindakan yang tidak bijaksana untuk melepaskan seseorang yang telah berbuat banyak bagi kita]
[…Seseorang yang telah berbuat banyak?]
Keigon menebak maksud Shizune.
[Meskipun kita sedang dalam proses mengembangkan hubungan bisnis dengan sebuah perusahaan pembuatan kapal, kita memiliki sedikit koneksi dengan 4 perusahaan besar yang bisa menjadi penting dalam waktu dekat…]
Keigon menimbang apa yang didapat dan apa yang hilang.
Hal itu mengingatkannya pada seorang anak laki-laki yang baru ditemuinya sebulan lalu, yang ia pekerjakan secara percobaan. Kesannya terhadap anak itu entah bagaimana telah berubah—Dari rasa heran menjadi kagum.
[…Sudah cukup jelas mana yang harus diprioritaskan]
Jawabannya datang dengan cepat.
Sambil mengembuskan napas, Keigon berkata.
[Panggil kembali Itsuki-kun]
Komentar