Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 4 Bab 08: Hari Kedua Festival Budaya: “Kencan Festival Budaya Masing-Masing” Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 4 Bab 08: Hari Kedua Festival Budaya: “Kencan Festival Budaya Masing-Masing” Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 08: Hari Kedua Festival Budaya: “Kencan Festival Budaya Masing-Masing”

Berkat usaha Kaede-san dan Nikaido, hari pertama berakhir dengan kesuksesan besar, dengan aliran pelanggan yang konstan hingga pengumuman penutupan. Seperti yang diduga, kue kering dan biji kopi kami habis, tapi untungnya kami sudah bersiap untuk kemungkinan tersebut.

“Ehehe. Ayo nikmati hari ini sepuasnya, Yuya-kun!”

Maka, hari kedua pun tiba. Kaede-san dan aku, meskipun mengenakan pakaian pelayan pria dan wanita, sedang libur tugas sepanjang hari, jadi kami berencana untuk bersenang-senang. Tentu saja, kami akan merespons jika situasi tak terduga seperti kemarin muncul, tapi Otsuki-san bilang jika bahan-bahannya habis, kami akan langsung menutup toko, jadi sepertinya tidak akan ada masalah.

“Pertama adalah rumah hantu di kelas Yui-chan! Kudengar itu cukup menakutkan, jadi aku tidak sabar! Setelah itu, ayo makan yakisoba dan crepe lalu bersantai sambil menonton acara di lapangan!”

“Alangkah baiknya jika kita bisa menonton lapangan dari tempat yang tenang di dalam sekolah. Aku ingin tahu apakah ada ruang kelas kosong di suatu tempat.”

“Fufu. Apa maksudmu dengan itu, Yuya-kun?”

Kaede-san condong ke depan, senyum penuh kenakalan tersungging di bibirnya. Aku tahu persis apa yang ada di dalam pikirannya, tapi aku tidak berencana melakukan hal yang tidak senonoh, ya?

“Apa kamu yakin tentang itu? Kamu tidak mencari tempat yang tenang di mana kita bisa berduaan dan melakukan ini dan itu? Untuk menikmati perselingkuhan sementara orang lain menikmati festival budaya… ehehe. Bukankah itu yang terbaik?”

“Aku akui itu menggiurkan, tapi bukan itu alasannya. Aku hanya tidak ingin membawa Kaede-san dengan pakaian pelayannya ke tempat yang ramai seperti lapangan.”

Kaede-san, yang sudah sangat manis bahkan dalam seragamnya, mengenakan pakaian pelayan rok mini yang cukup terbuka. Kemarin, dia hanya melayani pelanggan di dalam kelas, jadi dia tidak terekspos di hadapan publik, tapi hari ini berbeda.

Semakin sering kami berjalan-jalan, semakin banyak orang yang akan melihatnya, dan meskipun tidak apa-apa jika mereka hanya menyapanya, mereka bahkan mungkin meminta untuk berfoto. Selama aku ada di sini, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

“Jadi, apa maksudnya itu?”

“Artinya aku ingin memiliki Kaede-san yang berdandan sebagai pelayan untuk diriku sendiri. Sejujurnya, aku tidak ingin memperlihatkannya kepada pria lain, bahkan jika mereka menawarkan uang kepadaku.” Kataku singkat sambil mengalihkan pandangan.

Aku tahu egois rasanya tidak ingin memperlihatkan pacarku kepada pria lain, tetapi itu hanya karena dia mengenakan pakaian yang tidak biasanya bisa kulihat. Kekuatan seorang pelayan benar-benar menakutkan. Saat aku memikirkan hal itu, Kaede-san menarik Lengan bajuku, mendekatkan wajahnya ke telinganya, dan berkata,

“Ya ampun… kamu tidak perlu memberitahuku. Aku adalah pelayanmu dan pelayanmu seorang. Jadi malam nanti, maukah aku menjadi pelayan spesial dan eksklusif, khusus untukmu, yang tidak diketahui orang lain?”

Dia berbisik dengan suara manis nan menggoda, dan sebagai puncaknya, dia meniupkan napas lembut ke arahku, membuat bulu kudukku merinding. Hari baru saja dimulai, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan malam ini!

“Fufu. Mari kita adakan pesta penutup yang spesial dan intim, hanya kita berdua. Kamu bisa menantikannya.”

“B-Baiklah… tapi kumohon, secukupnya saja. Sampai-sampai akal sehatku tidak mati.”

“Aku tidak bisa berjanji soal itu. Kalau begitu, Yuya-kun. Mari kita kesampingkan pembicaraan tentang malam ini dan nikmati festival budaya di hadapan kita! Maju ke rumah hantu!”

Kaede-san menggandeng tanganku dan mulai berlari menuju rumah hantu tempat Yui-chan menunggu. Melihat seorang pelayan wanita dan pelayan pria berlari menyusuri lorong dan menaiki tangga, orang-orang yang kami lewati mau tidak mau berhenti dan menahan napas, tapi kami tidak memedulikan mereka dan langsung meluncur menuju rumah hantu yang diproduksi oleh Yui-chan.

“Apa, kamu datang lagi hari ini, Yoshizumi-senpai? Dan bahkan bersama pelayan Kaede-nee. Apa ini semacam sindiran untukku?”

Orang yang langsung merajuk pada kami adalah Yui-chan, yang berada di meja resepsionis, sama seperti kemarin. Apakah dia berencana untuk menjadi resepsionis sepanjang hari ini juga?

“Hanya untuk pagi hari. Aku berencana untuk berkeliling di sore hari juga. Meskipun aku mungkin pada akhirnya hanya akan menguntit Yasaka-kun dan Nikaido-senpai.”

Kaede-san tersenyum kecut mendengar pernyataan keterlaluan Yui-chan, yang diucapkannya dengan memasang wajah datar, dan aku mengangkat bahu karena jengkel.

“Menurutku akan lebih baik jika kamu membiarkan mereka saja, tahu?”

“Kamu naif, Kaede-nee. Aku punya tugas untuk mengawal mereka sampai akhir. Lagi pula, akulah yang menghajar pantat Yasaka-kun!”

Tapi Nikaido-senpai juga, gumamnya dengan suara pelan, dan aku tidak melewatkannya. Karena Nikaido adalah orang yang membuat keputusan itu, aku tidak akan mengatakan apa pun kepada Yui-chan.

“Secukupnya saja, ya? Kamu tidak boleh mengganggu waktu kebersamaan mereka.”

“Tidak apa-apa, aku akan berhati-hati agar mereka tidak sadar! Lagipula, Kaede-nee, apa kamu sudah siap secara mental? Kurasa Yoshizumi-senpai akan baik-baik saja karena dia sudah pernah mengalaminya, tapi kamu harus bersiap.”

“Heheheh. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku! Selama Yuya-kun ada di sisiku, aku tak terkalahkan! Sekarang, aku bahkan bisa menerobos rumah hantu paling menyeramkan di Jepang!”

Kaede-san mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat, tetapi aku penasaran apa yang akan terjadi jika aku tidak berada di sisinya. Namun, jika aku melakukan itu, dia mungkin akan menangis dan marah kepadaku.

“Aku tidak sabar ingin melihat berapa lama rasa percaya diri itu bertahan. Yoshizumi-senpai, mohon jaga Kaede-nee.”

“…Akan kulakukan yang terbaik.”

Ini sudah kedua kalinya bagiku, tapi yang namanya seram tetap saja seram.

Mengabaikan perasaanku, Kaede-san membayar biaya masuk untuk dua orang kepada Yui-chan dan masuk dengan semangat tinggi.

Di dalam, suasananya cukup redup untuk berjalan tanpa senter, dan untuk menciptakan suasana seram, AC dipasang secara maksimal meskipun saat ini musim gugur, jadi udaranya terasa dingin. Khususnya Kaede-san, dalam balutan kostum pelayan yang terbuka, sudah mulai sedikit menggigil.

“Um… jadi ini rumah sakit, dan aku hanya perlu mengantarkan buku bergambar ke seorang anak?”

Kaede-san mengambil sebuah buku yang diletakkan tepat di dekat pintu masuk. Premis dari rumah sakit hantu ini adalah mengantarkan buku bergambar yang sangat disukai oleh seorang anak di rumah sakit. Namun pada kenyataannya, rumah sakit ini sudah lama ditutup dan sekarang menjadi tempat tinggal para hantu. Untuk bisa keluar, kamu harus mengantarkan buku bergambar tersebut kepada anak yang menjadi penguasa tempat ini. Jika kamu tidak bisa melakukannya…”

“Hadanglah aku, fenomena paranormal¹! Yuya-kun, ayo kita maju!”

Meskipun kau mengucapkan kalimat terkenal seorang profesor tertentu dengan begitu bersemangat, itu tidak ada artinya jika tubuhmu gemetar. Gemetaran itu bukan hanya karena dingin, kan?

“Tidak kok! Nah, Yuya-kun. Genggam tanganku erat-erat! Dan jangan berani-berani melepaskannya!”

Saat dia mengatakannya dengan suara yang hampir menangis, itu membuatku ingin menjahilinya karena dia sangat imut, tapi aku menahan diri dan meremas tangannya erat-erat. Kaede-san menarik napas dalam-dalam lalu perlahan mulai berjalan, dan pada saat itu—

“P~U~L~A~N~G~L~A~H~”

Seorang perawat lumuran darah yang muncul entah dari mana mengeluarkan suara yang mencekam dan mencengkeram bahu Kaede-san dari belakang.

“Kyaaaaaaaah—!!?”

Terkejut oleh serangan mendadak itu, Kaede-san mengeluarkan jeritan kencang yang mungkin bisa terdengar sampai di luar kelas dan memelukku erat. Ini tidak terduga baik bagiku maupun hantu perawat itu, dan kami berdua langsung tertegun. Hantu Perawat-san, biasanya kamu akan kabur pada saat seperti ini, kan? Kenapa malah mulai bermanja-manja? Tolong jangan beri aku tatapan seperti itu. Aku juga merasa salah tingkah karena sensasi yang lembut ini.

“Ugh… ini benar-benar menyeramkan. Yuya-kun, aku akan menutup mata saja dan berjalan! Jika hantu lain muncul, kakiku bisa lemas dan aku tidak akan bisa berjalan.”

“Kalau kamu takut, kamu tidak perlu memaksakan diri masuk…”

“Tapi kupikir aku akan baik-baik saja kalau bersamamu. Dan juga… efek jembatan gantung?”

Bukankah itu efek yang diharapkan oleh pria dan wanita yang belum menjadi kekasih? Lagi pula, meskipun kamu berniat berjalan dengan mata tertutup, bukankah akan sulit berjalan kalau jarak kita tidak sedikit lebih jauh?

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa berjalan kalau tidak berpegangan erat padamu! Jadi kita jalan seperti ini!”

“…Baiklah. Kalau begitu, kita jalan pelan-pelan.”

Aku menundukkan kepala kepada hantu perawat, yang tadi berdiri tanpa melakukan apa-apa, sebagai tanda permintaan maaf. Sungguh, aku minta maaf atas kelakuan pelayan kami.

“…Pasangan suami istri, sana pulang.”

Hantu itu melontarkan umpatan lalu menghilang. Begitu ya, rupanya jalur-jalur itu tidak semuanya sekat, beberapa di antaranya hanyalah kain. Jadi dia muncul tanpa suara dari celah.

“A-Ada apa, Yuya-kun? Ayo kita cepat pergi…”

Tepat saat aku memahami trik hantu itu, sang pelayan memohon padaku dengan suara hampir menangis. Aku mengelus kepalanya lalu mulai berjalan menuju pintu keluar.

Namun, setelah itu, kami tidak menjumpai satu hantu pun dan mencapai garis akhir dengan mulus. Saat kami keluar, Yui-chan sedang menunggu dengan tangan bersilang, berdiri bagaikan dewa penjaga, dan—

“Bisakah kalian tidak memamerkan kemesraan di dalam rumah hantu?!”

—dia marah kepada kami. Omong-omong, sebagai catatan tambahan, Kaede-san tidak melepaskan lenganku selama beberapa waktu setelah kami keluar dari rumah hantu. Berkat itu, aku menjadi sasaran tatapan penuh kebencian dari para anak laki-laki dan tatapan iri dari para anak perempuan, dan aku merasa sangat tidak nyaman.

***

Aku ingin tahu apakah Yoshizumi sedang menikmati kencan festival budaya bersama Hitotsuba-san sekarang, bermesraan dan segala macam. Mereka selalu bersama; apa dia tidak bisa meminjamkannya kepadaku hanya selama satu jam? Saat aku memikirkan hal-hal konyol seperti itu, aku, Nikaido Ai, sedang bersandar di dinding, menunggu seorang anak laki-laki tertentu.

“Memikirkan Yoshizumi saat aku akan berkeliling festival budaya bersama Yasaka-kun adalah hal yang tidak sopan kepadanya, ya kan?”

Aku menghela napas mencela diri sendiri lalu melihat sekeliling, mencari kouhai-ku yang serius itu, tetapi ada terlalu banyak orang. Terlebih lagi, ada beberapa anak laki-laki yang saling berbisik sambil melihatku sejak tadi, jadi suasana hatiku sedang tidak begitu baik. Penyebab dari hal itu sudah pasti adalah pakaian yang sedang kuenakan ini.

“…Cepatlah datang, Yasaka-kun.”

Aku tidak ingin ada orang asing yang berbicara kepadaku, jadi aku melemparkan tatapan mengintimidasi, tetapi dia tetap terlambat. Yasaka-kun adalah orang yang menetapkan waktu pertemuan, namun dia malah terlambat. Aku harus memberinya ceramah.

“Aku sangat minta maaf karena terlambat, Nikaido-senpai!”

Tepat saat tatapanku hampir mencapai batasnya, Yasaka-kun akhirnya tiba. Dia pasti berlari ke mari; dia bernapas dengan berat, dahinya dipenuhi butiran keringat, dan seragamnya tampak cukup berantakan.

“Ya ampun, tidak apa-apa karena ini aku, tapi kamu seharusnya tidak membiarkan seorang gadis menunggu, Yasaka-kun. Dan jika kamu tidak mengenakan seragammu dengan benar, kamu akan mendapat masalah.”

“Sungguh, aku minta maaf karena terlambat. Jagaanku di rumah hantu berlangsung lebih lama dari yang kuduga…”

“Aku sempat khawatir kamu akan membatalkan janji kita secara sepihak, tapi jika itu alasannya, maka mau bagaimana lagi. Aku minta maaf karena sudah bersikap galak.”

“Mana mungkin aku membatalkan janji saat aku bisa berkeliling festival budaya bersama Nikaido-senpai yang sangat kukagumi! Ngomong-ngomong, yang lebih penting! Pakaian pelayan itu terlihat sangat luar biasa di tubuhmu, kamu sangat manis!” kata Yasaka-kun, matanya berbinar-binar saat dia menyampaikan kesan murninya 100%.

Aku senang dia mengatakannya, tapi itu sedikit memalukan.

“Aku selalu punya bayangan bahwa pakaian pelayan itu terdiri dari blus putih dan rok hitam, tapi warna merah muda gelap itu sangat modis! Itu sama sekali tidak mengurangi kesan gagahmu, Nikaido-senpai, dan kurasa itu juga menonjolkan keimutannmu! Aku akan sangat bahagia jika dilayani oleh pelayan sepertimu…”

“Ah, Yasaka-kun. Aku menghargai niat baikmu, tapi bagaimana kalau kamu berusaha menahan hasratmu agar tidak meluap-luap? Dan lagi, kamulah yang seharusnya mengawalku hari ini, kan? Bisakah aku mempercayakan hal itu kepadamu?”

Saat aku bertanya dengan nada jengkel, wajah Yasaka-kun berubah menjadi merah padam dan dia langsung sadar kembali. Yah, aku memikirkan hal serupa saat melihat Yoshizumi mengenakan pakaian pelayannya, jadi aku bisa sedikit memahami apa yang dia rasakan.

“Ya, aku baik-baik saja! Kamu bisa mengandalkanku! …begitu sih yang ingin kukatakan, tapi… aku tidak tahu makanan kesukaanmu atau apa pun, Nikaido-senpai…”

“Begitu ya. Jadi kamu tidak punya rencana sama sekali, begitu?”

“Aku sangat malu, ya.”

Bahu Yasaka-kun terkulai lemas karena putus asa saat dia meminta maaf. Melihatnya, aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa dia adalah anak yang jujur dan menggemaskan, dan itu juga membangkitkan naluri pelindungku. Rasanya sedikit berbeda dari memanjakannya, tapi aku hanya ingin mengelus kepalanya.

“Heh. Aku tidak benci sisi jujurmu itu. Jadi, bagaimana kalau hari ini kita pergi makan hal-hal yang aku sukai bersama-sama?”

“—Baik! Aku akan sangat senang jika Nikaido-senpai mau memberitahuku semua hal kesukaanmu!”

“Baiklah. Kalau begitu yang pertama, ayo kita pergi ke kedai krep. Krep yang dijual oleh tim bola voli setiap tahun sangat terkenal kelezatannya.”

Profil samping Yasaka-kun yang berjalan di sebelahku terlihat begitu bahagia, begitu penuh kebahagiaan. Dan ketika aku memikirkan bagaimana aku harus memberikan jawaban atas pernyataan cintanya di musim panas setelah ini, rasa sakit yang tajam menusuk dadaku. Aku ingin tahu apakah seperti ini juga yang dirasakan oleh Yoshizumi.

“…Aku tahu apa jawabanmu, Nikaido-senpai. Tapi untuk sekarang… bisakah kamu hanya melihatku… melihatku saja?”

“Yasaka-kun…”

“Ini adalah festival budaya yang menyenangkan, jadi mari kita tersenyum dan menikmatinya! Nah, ayo kita cepat-cepat pergi! Krep, es krim, apa pun yang kamu mau, aku yang traktir!”

Yasaka-kun dengan sengaja berkata dengan suara ceria, lalu meraih tanganku dan mulai berlari. Aku memakai sepatu hak tinggi yang tidak biasa kukenakan, jadi aku berharap kami bisa berjalan saja. Dan berlari di tengah kerumunan itu berbahaya, serta memalukan saat orang-orang yang lewat berkata, “Ah, cinta masa muda.”

Tapi benar juga kalau ada bagian dari diriku yang berpikir ini tidak begitu buruk. Berkeliling festival budaya bersama seorang anak laki-laki yang mengagumiku. Ini sedikit berbeda dari idealku, tetapi bersama Yasaka-kun memberiku energi dan terasa menyenangkan.

“Wah… ada banyak sekali jenisnya. Mana yang kamu rekomendasikan, Nikaido-senpai?”

Setelah tiba di area stan makanan di lapangan, kami sekarang berada di depan toko krep yang menjadi tujuan kami. Jangan remehkan stan makanan festival budaya. Toko krep yang dikelola oleh tim bola voli SMA Meiwadai adalah yang asli, karena mereka belajar cara membuat dan membungkus adonannya langsung dari para profesional. Dilarang keras menunjukkan bahwa mereka seharusnya mengerahkan usaha itu ke kegiatan klub mereka yang sebenarnya.

“Rekomendasiku adalah cokelat pisang yang simpel. Kombinasi stroberi dan kustar juga sulit untuk dilewatkan, tapi kurasa kamu pilih saja apa pun yang kamu suka, Yasaka-kun. Semuanya enak.”

“Begitu ya… tapi aku akan memesan cokelat pisang yang kamu rekomendasikan, Nikaido-senpai. Aku ingin mencoba apa yang kamu sukai.”

“…Sungguh. Jangan mengucapkan hal seperti itu begitu saja dengan santainya.”

Kenapa anak laki-laki di sekitarku bisa mengucapkan kalimat gombal yang memalukan dengan begitu santai? Dan fakta bahwa mereka mengatakannya dengan begitu natural justru membuatku semakin tersipu.

“Kurasa aku akan memesan krep stroberi kustar. Oh, bolehkah aku minta tambahan kustar?”

“Ya, tentu saja! Karena ini Nikaido-senpai, kami akan memberikan sedikit bonus pelayanan!”

Aku berusaha sebaik mungkin untuk memesan dengan suara tenang agar dia tidak menyadari rona panas di pipiku. Kouhai dari klub yang menerima pesananku itu menjawab dengan ceria dan mulai bekerja. Dia dengan mudah memasak adonan yang tipis dan cantik, lalu diatasnya diberi pisang dan stroberi sebelum disiram dengan krim kocok dalam jumlah banyak. Tepat saat buahnya benar-benar tertutup putih, dia menambahkan sedikit saus cokelat, membungkus adonannya dengan hati-hati, dan pesanan itu pun selesai. Dalam kasusku, krim kustar dituangkan sebagai pengganti saus cokelat.

“Apa ini? Adonannya benar-benar penuh. Kalau aku menggigitnya, krimnya pasti akan tumpah keluar, kan?”

“Apa yang kamu bicarakan, Yasaka-kun? Pas banget saat hampir mau tumpah! Sekarang, ayo kita cari bangku kosong dan makan cepat-cepat!”

Aku menggenggam tangan Yasaka-kun hampir tanpa sadar.

Aku pikir itu ide yang buruk dan berniat melepaskannya, tetapi kouhai yang seperti anak anjing itu, wajahnya langsung memerah seketika, balas menggenggam tanganku. Itu bukanlah jenis berpegangan tangan di mana jari-jari kita saling bertaut, tetapi ini adalah pertama kalinya aku memegang tangan seorang anak laki-laki atas kemampuanku sendiri, dan begitu aku menyadarinya, aku tiba-tiba merasa malu.

Kami berjalan dalam keheningan, dan sebelum aku sadari, kami telah tiba di tempat yang sepi di belakang gedung olahraga, terisolasi dari kebisingan di sekitarnya. Ini juga merupakan tempat bersejarah di mana aku menghibur Yasaka-kun saat dia menangis sekuat tenaga sendirian selama turnamen pertandingan bola.

“Heh. Ini agak membuat bernostalgia.”

“Aku sangat malu karena Senpai melihatku menangis, Nikaido-senpai… tapi aku bahkan jauh lebih bahagia karena senpai yang kukagumi mengelus kepalaku untuk pertama kalinya.”

Kata Yasaka-kun sambil tersenyum, duduk di bangku yang secara sembarangan ditempatkan oleh tim bisbol di depan ruang klub. Aku duduk dengan tenang di sampingnya.

Di dalam keheningan, yang membuat orang hampir tidak percaya bahwa festival budaya sedang berlangsung tepat di dekat sana, kami memakan krep kami tanpa berkata apa-apa. Aku memesan hal yang sama seperti tahun lalu, dan bahkan meminta tambahan krim, tetapi entah kenapa, rasanya jadi pahit.

“Nikaido-senpai… kamu masih menyukai Yoshizumi-senpai, kan?”

Tidak tahan lagi dengan suasana yang berat, Yasaka-kun bersuara. Mendengar pertanyaannya yang begitu apa adanya seperti biasa, aku mau tidak mau tersenyum masam dan memberikan jawaban yang sama jujurnya.

“…Ya, benar. Sudah hampir setahun sejak aku jatuh cinta padanya. Dia adalah cinta pertamaku.”

“Tapi Yoshizumi-senpai sedang berkencan dengan Hitotsuba-senpai, kan? Dan kamu masih menyukainya?”

“Aku masih menyukainya. Sebenarnya, Yasaka-kun. Aku menyatakan cintaku pada Yoshizumi saat festival musim panas.”

“…Eh?”

“Kurasa aku tidak perlu memberitahumu jawabannya, tapi dia menolakku dengan begitu sportif.”

Mata Yasaka-kun terbelalak kaget, seolah-olah dia tidak pernah menyangka aku akan menyatakan cinta kepada Yoshizumi. Mengabaikannya, aku melanjutkan.

“Aku tidak menyesal menyatakan cinta. Faktanya, kurasa aku akan jauh lebih menyesal jika tidak melakukannya. Dan orang yang membuatku berpikir begitu tidak lain adalah kamu, Yasaka-kun.”

“Apakah aku alasannya? Tidak mungkin, aku tidak melakukan apa-apa…”

“Hei, Yasaka-kun. Kenapa kamu menyatakan cinta padaku? Kamu sudah tahu kalau aku menyukai Yoshizumi waktu itu, kan?”

Mendengar pertanyaanku, Yasaka-kun membuang muka dengan malu-malu, dan dengan wajah yang memerah padam, dia menjawab dengan suara pelan.

“Aku sebenarnya tidak berencana untuk menyatakan cinta. Hanya saja, perasaanku padamu begitu meluap-luap, dan sebelum aku sadar, mulutku begitu saja bergerak dan mengucapkan, ‘Aku menyukaimu.’” Kata Yasaka-kun, sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu. Namun matanya tampak serius, menegaskan bahwa tidak ada satu pun kebohongan dalam kata-katanya waktu itu.

“Heh. Alasan aku menyatakan cinta pada Yoshizumi juga sama. Untuk melangkah maju, meskipun aku tahu kita tidak bisa bersama, aku memutuskan untuk memberitahunya, ‘Aku mencintaimu.’”

“Dengan menyampaikan perasaanmu kepada Yoshizumi-senpai… apakah menurutmu kamu akan bisa melangkah maju, Nikaido-senpai?”

Kamu benar-benar pandai mengenai titik lemahku, Yasaka-kun. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap langit tanpa awan, dan mengungkapkan perasaanku yang jujur.

“Entahlah, aku jujur tidak yakin. Hatiku terasa jauh lebih ringan sekarang setelah aku memberitahunya, tapi perasaanku padanya masih ada. Kurasa masih butuh waktu bagiku untuk bisa menerima dan berdamai dengannya.”

Daripada memaksa melupakan perasaanku pada Yoshizumi dan mengubahnya menjadi luka yang tidak akan pernah pudar, aku akan meluangkan waktuku dan membiarkannya melebur menjadi bagian dari hatiku. Ini adalah tugas yang sangat sulit, tapi aku akan melakukan yang terbaik agar kami bisa terus menjadi teman baik.

“Jadi maafkan aku, Yasaka-kun. Aku tidak bisa membalas perasaanmu sekarang.”

Yasaka-kun, yang datang ke SMA Meiwadai karena mengagumiku. Akan sangat tidak sopan jika aku membalas perasaan Yasaka-kun, yang selalu menembakku dengan perasaan jujurnya yang menyegarkan, sementara aku masih membawa emosi-emosi ini. Aku tidak ingin mempermainkan rasa sayangnya.

“Terima kasih, Nikaido-senpai. Aku takut mendengar jawaban yang sudah jelas dan terus lari, tapi sekarang kurasa aku akhirnya bisa melangkah maju.”

“Yasaka-kun…?”

Wajah Yasaka-kun, yang kukira selama ini hanyalah anak laki-laki yang sungguh-sungguh dan mirip anak anjing, telah berubah menjadi wajah seorang pria yang telah menanamkan tekad kuat di dalam jiwanya.

“Aku juga tidak akan menyerah padamu, Nikaido-senpai. Aku akan bekerja lebih keras lagi mulai sekarang agar kau mau melirikku!”

“Apa kau mendengarkanku? Kubilang aku tidak bisa membalas perasaanmu.”

“Bukannya begitu. Kau salah, Nikaido-senpai. Kau bilang ‘sekarang.’ Jadi, aku akan memperbaiki diriku dan menunggu sampai hari itu tiba.”

Jantungku berdegup kencang melihat tatapannya yang serius. Tidak adil rasanya jika tiba-tiba bersikap seperti pria dewasa padahal kukira kau hanyalah kouhai yang manis, Yasaka-kun.

“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak sebelum aku datang ke SMA Meiwadai. Perasaanku padamu tidak begitu ringan sampai-sampai aku bisa mencari cinta baru setelah ditolak, dan lebih dari segalanya, aku adalah orang yang benci kekalahan.” Kata Yasaka-kun sambil tersenyum. Jika dia mengatakannya dengan begitu jelas, maka aku tidak bisa berkata apa-apa lagi—seperti ucapan “menyerahlah padaku.”

“Dengan sukarela menempuh jalan yang berduri… jangan-jangan kau seorang masokis, Yasaka-kun?”

“T-Tidak, aku bukan! Tapi jika itu demi dirimu, Nikaido-senpai, maka mungkin… aku memang begitu.”

“Heh. Isi hatimu yang sebenarnya bocor. Yah, tapi aku juga tidak bisa banyak protes, sih.”

“Eh?! Kau juga seorang M, Nikaido-senpai?!”

“Baiklah, Yasaka-kun. Tahanlah gigimu sebentar, ya?”

Saat aku mengepalkan tangan sambil tertawa, Yasaka-kun langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sungguh. Kenapa pembicaraannya selalu berakhir seperti ini?

“Maksudku adalah kita ini orang yang sepemikiran, sama-sama merindukan cinta yang peluang terwujudnya 99%. Baik kamu maupun aku.”

“Tapi masih ada peluang 1% untuk terwujud, kan? Kalau begitu, aku akan bertaruh pada kemungkinan itu! Dan tentu saja, aku akan berhati-hati agar tidak menjadi beban bagimu, jadi kumohon jangan khawatir!”

“…Terima kasih, Yasaka-kun.”

Aku adalah orang yang beruntung karena dicintai sebesar ini. Kuharap aku bisa membalas perasaannya dengan layak suatu hari nanti, tapi itu adalah masa depan yang hanya diketahui oleh Tuhan.

“Yah. Waktu yang menyenangkan berlalu begitu cepat. Sudah hampir waktunya pergi, jadi ayo kita kembali.”

“Kamu benar. Matahari sudah terbenam dan udaranya semakin dingin. Jika kamu mau, kamu bisa mengenakan ini.”

Yasaka-kun, dengan pipinya yang sedikit merona, melepas blazer seragam sekolahnya dan menyerahkannya kepadaku.

“Terima kasih atas perhatianmu, Yasaka-kun. Tapi sayangnya, jika kamu memakaikannya kepadaku dari belakang, jantungku pasti sudah berdegup kencang.”

“…Nikaido-senpai, bisakah aku mengulanginya? Atau lebih tepatnya, kumohon biarkan aku melakukannya, aku mohon padamu!”

“Tidak. Hal seperti itu hanya keren jika dilakukan dengan santai. Kamu harus lebih banyak membaca manga shoujo dan belajar.”

“Mana bisa begitu!” ratap Yasaka-kun. Sejujurnya, kamu ini kouhai yang sangat menyenangkan untuk dijahili dan imut, kau tahu itu? Mungkin hari saat dia berhasil memenangkanku tidak akan terlalu lama lagi. Sambil berpikir samar-samar tentang hal itu, kami berjalan kembali ke gedung sekolah.

Catatan Kaki

1. Sebuah referensi untuk judul buku fiksi, 「どんと来い、超常現象」 (Donto koi, Chōjō Genshō—“Hadapi Saja, Fenomena Paranormal”), yang ditulis oleh Profesor Jiro Ueda, karakter utama dalam drama misteri komedi Jepang yang populer, TRICK.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted