Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 10 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 10 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 10: Serangan waktu tidur?

“Kenapa kamu bersikeras tidur sendirian, Yuya-kun?”

Setelah Hitotsuba-san selesai mandi, tibalah waktunya tidur. Akhirnya, aku harus menghadapi masalah terbesar dari semuanya.

Eh? Apa yang kulakukan saat Hitotsuba-san sedang mandi? Yah, aku sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton film. Dan dari kamar mandi…

“Yuya-kun… Bukankah kamu mau mengintip? Pintunya tidak dikunci, lho?”

Jangan bertingkah seperti seorang pelawak tertentu berompi pink yang berkata, ‘Hei, siapa yang mau masuk ke kamar kosongku?’ Terutama tidak dengan cara santai seperti itu. Biasanya, lelucon komedi rutin itu akan berakhir dengan ‘Tidak ada yang mau ke sana’, tetapi dalam kasus ini, rasanya justru sebaliknya. Aku mencoba yang terbaik untuk menepis dorongan agar melompat menyambut kesempatan ini.

Aku memikirkan masalah mengenai kamar tidur bersama itu bukan hanya saat aku menunggu di ruang keluarga, tetapi juga selama aku berendam di dalam bathtub. Masalah itu sangat membingungkan, membuatku merasa seperti seorang filsof yang bertanya-tanya mengapa dunia tidak bisa bebas dari konflik.

Jadi, ketika saat itu tiba, alih-alih menyia-nyiakan waktu dan usahaku untuk berdebat tanpa tujuan mengenainya, aku memutuskan untuk dengan tanpa pamrih menyatakan bahwa aku akan tidur di sofa ruang keluarga.

“Tidak, Yuya-kun, tidak perlu terlalu khawatir. Kenapa kamu ingin tidur di sofa padahal ada ranjang yang cukup besar untuk dua orang tidur berdampingan? Apakah kamu berniat mengajukan pisah ranjang pada hari pertama kita tinggal bersama? Aku akan menangis, tahu?”

Dan sekarang, Hitotsuba-san dan aku sedang duduk di kedua sisi ranjang, melakukan percakapan seperti itu. Hitotsuba-san, yang baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat dua kali lebih menarik dari biasanya. Rasanya jika aku mendekat lagi, aku mungkin akan mati karena pesona Hitotsuba-san. Aku bisa merasakan kejatuhanku yang sudah di ambang pintu.

“Aku tentu ingin tidur di ranjang berkualitas tinggi ini kalau bisa, tahu? Tapi ya, kurasa bukan ide yang bagus bagi pria dan wanita yang tidak berpacaran untuk tiba-tiba tidur di ranjang yang sama. Tidak peduli seberapa bagus itu untukmu, itu tidak bagus untukku.”

“Kenapa tidak? … Oh, aku mengerti! Kamu khawatir kalau kamu akan menyerangku, kan? Bukankah begitu?”

Kenapa wajahmu memasang ekspresi senang saat mengatakan bahwa kamu mungkin akan diserang olehku? Dan kenapa kamu bergerak begitu dekat denganku!

Aku sangat salah tingkah sampai terjatuh dari ranjang. Sakitnya bukan main.

“Yuya-kun! Kamu tidak apa-apa!?”

“Tidak apa-apa… Aku baik-baik saja, menjauhlah dariku. Wangimu sangat enak, aku bisa gila.”

Aroma jeruk segar dari Hitotsuba-san menggelitik hidungku. Aku bertanya-tanya apakah dia tahu aku menyukai bau seperti ini dan telah memakainya untukku. Jika itu masalahnya, maka aku harus akui, dia sehebat seorang ahli strategi seperti Zhuge Liang. Aroma sampo dan sabun mandinya bercampur dengan sempurna satu sama lain. Jika aku merasa ingin menyerah pada doronganku, aku akan memeluknya erat-erat.

“Tidak apa-apa, kan? Bagaimana kalau kamu memelukku dan bermanja-manjaan denganku seperti anak anjing? Meskipun aku sedikit malu, aku bahkan akan mengusap dan memanjakanmu, Yuya-kun.”

“…Apakah kamu seorang esper?”

“Aku mengerti segalanya tentang Yuya-kun, tahu?

“Yah, aku hanya bercanda. Sangat mudah menebaknya dari ekspresi wajahmu, Yuya-kun.”

Seriusan? Apakah ekspresiku sedemikian jelas? Rasanya sangat memalukan membiarkan Hitotsuba-san tahu bahwa aku sedang menahan diri untuk tidak memeluknya! Tidak, aku tidak akan menyerah pada nafsuku begitu saja! Aku tidak akan menyerah!

“…Aku mengerti. Jika terserah padaku, aku ingin tertidur sambil bergelung denganmu, tapi sepertinya aku harus menyerah. Tapi! Aku tetap ingin Yuya-kun tidur di ranjang yang sama denganku. Jika kamu tidur di sofa ruang tamu yang dingin tanpa futon, kamu akan mudah masuk angin. Oh, tapi jika kamu ingin aku merawatmu saat kamu sakit, itu cerita yang berbeda. Hmmm, kurasa itu juga hal yang bagus…”

Terhanyut dalam lamunan, waktu berkhayal Hitotsuba-san pun dimulai. Awalnya, wajahnya tampak kaku, tetapi perlahan-lahan, seperti saat dia mengulurkan tangan untuk membantuku mengatasi utang ayahku, bibirnya melunak dan akhirnya, membentuk senyuman lebar yang bodoh. Aku bertanya-tanyakan cerita aneh seperti apa yang sedang digambarkan gadis itu di dalam kepalanya hingga dia memejamkan mata dan memasang ekspresi seperti itu.

“Hehe… hehe… Yuya, kamu berkeringat. Aku akan menyekanya untukmu. Jadi kumohon, jangan bertingkah seperti anak kecil dan lepaskan pakaianmu… Ah, punggung yang bagus… hehehe…”

“Aku tidak akan melepas pakaianku dan juga tidak akan membiarkanmu mendekatiku dalam khayalanmu!”

Aku berteriak dan dengan lembut memukul kepalanya dengan sisi tangannya, membawanya kembali ke dunia nyata, karena dia mulai terlalu tenggelam dalam dunia khayalannya. Ah, kumohon jangan mengeluarkan suara menggemaskan saat dipukul.

“Aduh, aku sedang bersenang-senang denganmu… Kenapa kamu melakukan ini? Itu keterlaluan, Yuya-kun. Ayo tidur bersama sebagai hukuman. Aku tidak akan memaafkanmu kalau tidak mau.”

“…Baiklah, baiklah, baiklah. Kita bisa tidur bersama, kan? Tapi aku akan menjaga jarak sejauh mungkin. Aku bukan tipe orang yang tidurnya pecicilan atau suka memeluk, jadi kurasa kamu akan baik-baik saja, tapi aku tidak ingin terjadi apa-apa padaku.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang tidurnya tenang dan aku punya kecenderungan untuk memeluk orang, jadi kalau itu terjadi saat aku tidur, mohon maafkan aku ya!”

“Kalau kamu melakukannya, aku akan memisahkan kita tanpa ampun. Aku serius.”

“Hih. Kelembutan Yuya-kun terletak pada kenyataan bahwa kamu tidak akan begitu saja menendangku turun dari kasur. Aku suka sisi dirimu itu.”

Aku memalingkan wajahku saat dia tersenyum kepadaku dan sekali lagi mengucapkan sesuatu yang membuat pipiku merona. Bagaimana bisa dia begitu santai menggunakan kata ‘suka’?

“Selain keluargaku, aku hanya pernah bilang ‘aku suka’ ke Yuya-kun. Itu bukan kata yang sepele bagiku, jadi kumohon jangan salah paham.”

Sepertinya ekspresiku sangat mudah ditebak. Ucapannya justru membuat pipiku terasa semakin panas. Karena tidak ingin wajahku terlihat lagi, aku setengah merangkak dengan putus asa ke dalam selimut. Ada saat-saat di mana seorang pria diharuskan melakukan mundur taktis.

“Yuya-kun, silakan tidur duluan. Aku mau mengeringkan rambutku dulu. Kalau begitu, selamat malam.”

“…Selamat malam.”

Mematikan lampu kamar tidur, Hitotsuba-san pergi. Aku berusaha keras memejamkan mata dan hanyut dalam tidur, tapi aku terlalu gugup untuk melakukannya. Suara samar pengering rambut terdengar sangat bising. Ketika suara itu berhenti, Hitotsuba-san kembali dan naik ke tempat tidur, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Namun, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia langsung mulai bernapas dengan lembut dalam tidurnya yang pulas.

“…Ampun deh. Bagaimana aku bisa menahan diri…”

Aku tidak cukup tenang untuk bisa langsung tertidur pulas tanpa masalah ketika gadis SMA paling manis di Jepang sedang tidur tepat di sebelahku. Baru ketika matahari mulai terbit, akhirnya aku menyerah pada kantuk.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted