Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 09 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ryoushin no Shakkin wo Katagawari Shite Morau Jouken wa Nihon’ichi Kawaii Joshikousei to Issho ni Kurasu Koto Deshita Volume 1 Bab 09 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Bab 09: Aku ingin mandi sendiri

Kejadian usil yang licik dan ke kanak-kanakan dengan mengocok kaleng Coca-Cola yang belum dibuka sebelum menyerahkannya membuat wajah dan pakaianku basah kuyup serta lengket. Aku ingin mengeluhkan seberapa kuat dia mengocoknya, tetapi melihat Hitotsuba-san yang tersenyum jahil atas keberhasilan keusilannya, pada akhirnya aku mengurungkan niat tersebut.

Bagaimanapun juga, kami memakan pizza kami selagi masih hangat. Ada dua pizza, satu dengan topping daging dan satu lagi dengan hidangan laut. Kami berdua sama-sama lapar, dan sudah cukup lama sejak terakhir kalinya salah satu dari kami memakan pizza. Berdua, kami menghabiskan pizza-pizza tersebut dalam waktu sekejap saja.

“Yah. Sekarang setelah aku kenyang, kurasa aku akan mandi. Aku boleh mandi, kan?”

“Tentu saja. Gas, listrik, dan air kita semuanya berfungsi, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.”

Yah, itu cukup melegakan. Dalam perjalanan menuju kamar mandi, aku menjelajahi rumah tersebut. Aku membuka pintu-pintunya satu per satu dengan rasa takjub tetapi sangat terkejut saat melihat kamar tidur. Di sana ada kasur ukuran king dengan dua bantal dan sebuah futon. Itu seperti kamar tidur pasangan yang sedang kasmaran. Apa aku harus tidur di sini bersama Hitotsuba-san?

Masih ada sedikit waktu tersisa sebelum waktu tidur, jadi aku menyingkirkan pertanyaan itu dari pikiranku dan berjalan ke kamar mandi. Bathtub di sini juga ternyata berukuran besar. Ada cukup ruang bagi kami berdua untuk meluruskan kaki dan bersantai bersama. Huh, apa aku barusan berpikir untuk mandi bersama Hitotsuba-san suatu hari nanti?

“Tidak, pikiran seperti ini… apa ada sesuatu di dalam diriku yang baru saja mati?”

Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai Nona Akal Sehat dan Tuan Kesusilaan bergabung dengan jajaran spesies yang terancam punah. Selain itu, tidak sulit untuk membayangkan mengapa delusi para remaja laki-laki bisa sangat berbahaya. Biasanya, aku tidak menganggap diriku sebagai orang yang seperti itu, tetapi ketika kamu tiba-tiba mulai tinggal bersama seorang gadis berwajah cantik bagaikan dewi seperti Hitotsuba-san, kamu tidak pernah tahu kesalahan apa yang pada akhirnya bisa kamu perbuat.

“Oh, aku tidak keberatan jika terjadi kesalahan. Bahkan, aku justru akan menyambutnya, bukan?”

Huh, itu bukanlah suaraku yang mengatakannya! Tanpa aku sadari, Hitotsuba-san sudah berdiri di belakangku. Kedua lengannya bersidekap, dan dia memasang ekspresi tenang, tetapi kakinya gemetar. Dia bilang dia akan menyambutnya, tetapi jelas dia merasa agak terintimidasi.

“…Aku tidak akan memaksakan kehendakku pada seseorang yang tidak bersedia. Kamu seharusnya hanya melakukan itu ketika kedua belah pihak saling mencintai.”

“Aku belum mengatakan apa-apa, tapi aku sangat senang kamu berpikir begitu, Yuya-kun. Tapi tetap saja, kamu selalu dipersilakan, jadi tolong ingat itu baik-baik.”

Jangan katakan hal-hal yang membuat debar jantungku meroket! Pada tingkat ini, tidak butuh waktu lama bagiku untuk jatuh cinta kepadamu! ‘Hah’, aku menghela napas kesal. Kejatuhanku dari martabat mungkin sudah ditakdirkan, tapi biarkan aku setidaknya melawan sedikit. Aku ingin mengenalmu sedikit lebih jauh, Hitotsuba Kaede.

“Jadi, Yuya-kun, apa kamu berencana untuk mandi sendirian?”

“…Hei, Hitotsuba-san. Apa gunanya mengatakan hal-hal ini jika kamu akan gemetar seperti itu?”

“…Huh, aku tidak gemetar, kan? Alasan kenapa hal itu terlihat seperti itu pasti karena bola mata Yuya-kun yang bergetar, bukan? Aku baik-baik saja, tahu?”

Suaranya bergetar, tetapi menunjukkan hal itu hanya akan membuatnya semakin gelisah. Aku mengangkat bahu. Membilas bathtub dengan showerhead, aku kemudian menyalakan keran dan menekan tombol pemanas. Suhu airnya adalah 41 derajat Celsius. Ini sangat pas untuk mandi yang santai.

“Tentu saja, aku akan masuk sendirian. Kamu bisa menonton TV, Hitotsuba-san. Jangan berani-berani mencoba mengintip!”

“Bukankah ini hanya psikologi terbalik? Jika kamu disuruh untuk tidak menekan, itu membuatmu ingin menekan. Jika kamu disuruh untuk tidak mengintip, itu membuatmu ingin menerobos masuk. Dengan kata lain, Yuya-kun, kamu sebenarnya ingin diintip. Kamu saja yang tidak jujur padaku.”

…Dan kamu justru tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Lagi pula, bukankah seharusnya justru sebaliknya? Biasanya Hitotsuba-san yang harus memperingatkan aku agar tidak mengintip saat dia sedang mandi, kan?

“Aku? Aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka, bukan?”

Jika memang begitu, lalu kenapa kamu memalingkan wajah dan menutupi tubuhmu dengan kedua lenganmu? Aku benar-benar bingung dengan tindakanmu yang saling bertentangan itu, jadi tolong samakan perkataanmu dengan perbuatanmu. Yah, pipi merahmu dan bibir yang mengerucut itu cukup menggemaskan sih.

“Ya, ya. Baiklah, terserah. Kalau begitu, aku akan pergi mengintipmu saat ada kesempatan. Tapi aku tidak suka diintip, jadi tolong jangan lakukan itu.”

Mengabaikan bibir Hitotsuba-san yang mengerucut dan terlihat cukup menggemaskan, aku mengeluarkan pakaian dalam, piyama, dan handuk mandi dari koper yang sudah kuemasi. Entah kenapa, rumah ini dilengkapi dengan televisi, perekam, penjernih udara berpelembap, dan peralatan lainnya, tetapi tidak ada mesin cuci atau kulkas. Ada panci, wajan, dan pisau, tetapi tidak ada peralatan makan. Apa yang harus kulakukan tanpa semua itu?

“Begini, kita harus pergi berbelanja besok. Kita akan pergi ke toko elektronik pagi-pagi untuk memilih mesin cuci dan kulkas. Lalu kita akan pergi ke 『Kappabashi』 untuk memilih beberapa peralatan makan. Aku sebenarnya bisa memilihnya sendiri, tapi aku ingin berbelanja bersama Yuya-kun…”

(Catatan: Sebuah distrik di Tokyo yang menjual produk-produk untuk keperluan dapur seperti perkakas dapur.)

Ketika aku menanyakannya sambil menunggu air mandinya siap, dia memberitahuku bahwa inilah yang sudah dia rencanakan. Aku bisa mengerti mengapa seorang pria dan wanita yang baru saja mulai tinggal bersama akan pergi berbelanja satu sama lain, tetapi apakah ini benar-benar harus diterapkan pada anak SMA? Dan bagaimana dengan uangnya? Maksudku, ayahmu adalah presiden sebuah perusahaan elektronik, kan? Kenapa kalian tidak mengambil semuanya dari sana saja?

“Ayahku bilang kita harus memilih barang-barang yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari kita seperti kulkas dan mesin cuci dengan cara melihatnya sendiri secara langsung dan mendengarkan rekomendasi dari penjaga tokonya. Bukankah begitu?”

Aku tidak punya pilihan dalam masalah ini, dan jika harus kukatakan, aku setuju dengannya. Kebanyakan orang berpikir apa pun akan berguna selama bisa menyelesaikan tugasnya, tetapi ketika menyangkut sesuatu yang kamu gunakan setiap hari, lebih baik memeriksa barang-barang tersebut secara langsung sebelum memilihnya. Lagi pula, bukankah sangat menyenangkan berbelanja peralatan rumah tanggamu sendiri?

“Ya, aku juga setuju. Kita akan tinggal bersama mulai sekarang, jadi ayo pilih sesuatu yang sama-sama kita sukai. Hmm. Aku sangat menantikan hari esok.”

Ini bagaikan mimpi. Aku tadinya berpikir aku akan menjadi adik laki-laki Taka-san ketika ayahku yang brengsek itu kabur ke luar negeri setelah terlilit utang. Tetapi Hitotsuba-san menyelamatkanku, dan sebagai imbalannya, kami memutuskan untuk tinggal bersama dan menikah di masa depan, terlepas dari niatku. Bagi orang luar, ini mungkin tampak seperti situasi yang saling menguntungkan. Dan kenyataannya, aku juga berpikir begitu.

“Karena air mandinya sudah siap, ayo kita masuk. Aku akan mencuci punggungmu.”

“Jangan mencoba masuk bersamaku begitu saja seolah itu hal yang wajar. Meskipun kamu tidak keberatan, aku tetap merasa malu. Jadi tolong tetaplah di luar.”

Aku dengan lembut menjentikkan jariku ke dahi dan melangkah masuk ke kamar mandi seorang diri sebelum dengan cepat mengunci pintu untuk mencegah penyusupan apa pun. Kenop pintu berderik.

“Aneh sekali! Yuya-kun! Apa yang harus kulakukan!? Pintunya tidak mau terbuka!”

Hitotsuba-san membuat banyak keributan, tetapi aku mengabaikannya. Suara derik itu akhirnya digantikan oleh ketukan yang kemudian berubah menjadi gedoran keras. Namun, aku juga mengabaikan semua kebisingan ini.

“Huh… Aku tidak ingin menjadi bergantung padamu.”

Aku bertanya-tanya sudah berapa hari aku bisa bertahan. Tidak, mungkin aku sudah…

Pikirku sambil perlahan merendam diri di dalam bathtub.

…Oh benar, ada juga masalah kamar tidur. Apa yang harus kulakukan? Apakah kita harus tidur berdampingan di ranjang yang sama?

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted