Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V5Ch2_ Siblings Part 1 Bahasa Indonesia
V5Ch2: Kakak Beradik Bagian 1
Penerjemah: Soafp
[Sudut Pandang Kikyo]
Aku tidak pernah dipuji oleh ibuku. Itu adalah hal yang lumrah setiap hari. Di lingkungan seperti itu, tidak mungkin bagiku untuk mengembangkan rasa harga diri.
Seorang kegagalan. Sebuah noda. Sebuah rasa malu. Kata-kata ibuku merangkum keberadaanku dengan singkat.
Apa yang kulihat di matanya adalah rasa kasihan dan kepasrahan. Aku terus mengecewakannya, selalu diberi tahu bahwa aku tidak ada gunanya.
Pada akhirnya, aku mulai mempercayainya. Aku menjadi terbiasa menjadi sebuah kekecewaan, dan aku mengunci kesedihan itu di dalam hatiku.
Di sekolah dasar, aku mendapat nilai 90 pada sebuah tes. Aku sangat senang dan bersemangat untuk dipuji sehingga aku bergegas memberi tahu ibuku.
Aku menghampirinya dengan membawa lembar tes itu, merasa bangga, tetapi dia hanya bergumam, “Kamu harus berusaha lebih keras,” dengan nada jenuh. Saat itulah aku menyadari bahwa nilai 90 adalah nilai yang buruk.
Sejak saat itu, aku berusaha semampu yang kubisa. Aku belajar dengan tekun.
Aku tidak pernah lupa mengerjakan PR, dan aku selalu mengulang pelajaran serta mempersiapkan diri. Tentu saja, ada teman sekelas di sekitarku yang mendapat nilai lebih baik.
Nilai sembilan puluh bukanlah sesuatu yang patut dipuji. Siapa pun bisa mendapatkan nilai itu. Aku meyakinkan diriku sendiri akan hal ini.
Pada tes berikutnya, aku mendapat nilai 98. Aku merasa percaya diri. Melihat nilai itu, aku tidak bisa menahan senyum. Pastinya, ibuku akan memujiku untuk hal ini.
Aku bergegas pulang dan menunjukkan kertas ulangan itu kepadanya. Aku ingin dia mengakui usahaku dan menghargai kerja kerjaku. Aku hanya ingin melihatnya bahagia.
Aku sudah akan merasa puas dengan hanya satu patah kata pengakuan. Idealnya, tepukan di kepala akan membuatku jauh lebih bahagia. Itulah harapan kecilku sebagai seorang anak. Hatiku yang kecil penuh dengan ekspektasi.
Namun, apa yang kudapatkan justru sebuah celaan:
“Kenapa kamu menjawab ini dengan salah?”
Dia menunjuk ke arah dua poin yang hilang dariku.
Aku tahu jawaban yang benar—itu hanyalah kesalahan ceroboh.
Aku kehabisan kata-kata ketika ibuku bertanya kenapa aku melakukan kesalahan-kesalahan itu. Tidak ada alasan. Aku baru menyadari bahwa bahkan kecerobohan pun tidak dimaafkan.
Meski begitu, aku terus bekerja keras. Aku mulai pergi ke tempat bimbingan belajar dan mengambil les piano, renang, serta kaligrafi.
Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman. Aku tidak menginginkan hal-hal ini, tetapi aku tidak punya pilihan selain menuruti jika ibu yang mengatakannya.
Dia sangat bersemangat tentang pendidikanku demi kebaikanku sendiri, begitu aku percaya. Aku menghabiskan hari-hariku dengan bersabar, berpikir bahwa aku sedang memenuhi harapannya.
Aku selalu memandang dengan iri kepada teman sekelasku saat mereka berpisah jalan untuk bermain setelah sepulang sekolah. Suasana hatiku selalu suram, dipenuhi oleh hari-hari yang diisi dengan melakukan kegiatan tidak menarik yang tidak ingin kulakukan.
Tentu saja, aku tidak pernah menguasai satu pun dari keterampilan-keterampilan itu. Balet, senam, sempoa—tidak ada satupun. Kekecewaan ibuku adalah hal yang tak terelakkan. Yang tersisa bagiku hanyalah kenangan buruk terhadap kegiatan-kegiatan itu.
Apa pun yang dipaksakan kepadamu hanya akan bernilai sebesar itu. Aku tidak pernah menjadi apa pun. Tapi aku terus berusaha dengan pelajaran-pelajaran-ku—karena masih ada harapan di sana.
“Aku berhasil!”
Melihat lembar ujianku. Aku akhirnya mendapatkan nilai 100.
Nilai sempurna. Hasil terbaik yang mungkin didapat. Tidak ada pencapaian yang lebih tinggi lagi. Guru dan teman-temanku memujiku. Aku menitikkan air mata karena bahagia.
Aku bergegas memberi tahu ibuku. Tentu saja, kali ini dia akan memujiku. Bagaimanapun juga, aku adalah yang terbaik.
Mataku penuh dengan pengharapan, tetapi tatapan ibuku terasa dingin. Dia hanya berkata, “Ini sudah semestinya,” dan setelah itu tidak berkata apa-apa lagi. Tidak ada satu pun lirikan ke arahku. Aku berdiri di sana dalam kebingungan.
Usahaku diremehkan begitu saja. Itu tidak bisa dianggap wajar. Aku adalah satu-satunya orang di kelas yang mendapatkan nilai sempurna.
Dari sudut pandang ibuku, hal itu mungkin sepele dan tidak layak dipuji. Namun, itu sudah cukup untuk mematahkan semangatku.
Sejak saat itu, apa pun yang kurang dari nilai sempurna tidak dapat diterima. Tetapi bahkan ketika aku mendapatkan nilai sempurna, tidak ada pujian yang datang.
Aku kehilangan arah tujuanku, menyisakan kekosongan belaka. Tidak ada gunanya mencoba lagi. Aku kehilangan antusiasme untuk belajar dan mulai mengendur.
Mau tidak mau, nilai-niku mulai merosot. Hal ini justru semakin mengecewakan ibuku, menciptakan lingkaran setan.
Namun, tidak ada yang bisa kulakukan. Pada saat itu, aku sudah mulai memahami bahwa aku adalah seorang pecundang. Pada suatu titik, ibuku mulai lebih sering mengeluh—tentang ayahku, tentang aku.
Ayahku selalu memprioritaskan ibuku dan mendukungnya dengan tekun. Dia tidak pernah melalaikan pekerjaannya atau keluarganya. Bagiku, sangat jelas bahwa dia menyayangi ibuku, dan sejauh yang kuketahui, dia adalah seorang ayah yang baik.
Jadi, aku tidak bisa mengerti mengapa ibuku, yang punya segala alasan untuk merasa tidak puas kepadaku, malah menyimpan dendam kepada ayahku.
Saat aku masih di taman kanak-kanak, rumah tangga kami tampak dipenuhi dengan percakapan dan kehangatan. Mungkin aku masih mengejar ilusi itu, berharap ibuku kembali seperti dirinya dulu.
Tinggal di rumah menjadi sumber stres, dan aku tidak ingin kembali. Sekolah adalah satu-satunya tempat perlindungan yang damai bagiku. Untungnya, aku tidak pernah di-bully.
Berbagai kegiatan yang terpaksa kulakukan, meskipun dilakukan dengan setengah hati, entah bagaimana membantuku mengembangkan beberapa keterampilan sosial. Itulah satu-satunya hal yang mungkin bermanfaat.
Sekali lagi, aku harus menunjukkan hasil ujianku, mengetahui bahwa itu hanya akan memberiku lebih banyak omelan. Delapan puluh tiga poin. Itu adalah salah satu nilai tertinggi di kelas, tetapi itu tidak penting.
Bagi ibuku, bahkan nilai sempurna pun tidak ada artinya, jadi nilai apa pun selain sempurna sama tidak berharganya.
“Berhenti mempermalukan aku!”
Reaksi ibuku jauh lebih intens dari sebelumnya, sebuah kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Air mata kekesalan mengGenang di mataku atas ketidakmampuanku sendiri.
Mungkin ada jawaban yang benar pada sebuah tes, tetapi aku tidak punya cara untuk memuaskan ibuku.
Keabsurdan dan ketidakrasionalan dari semua itu membuatku merasa kosong.
“Kamu harus menang! Kamu tidak bisa—”
“Hentikan, Tsubaki!”
Ayahku, yang pulang lebih cepat dari biasanya, kebetulan mendengar percakapan itu dan dengan cepat melerai, wajahnya pucat karena panik. Melihat ekspresi ayahku, ibuku terdiam, menyadari kesalahannya.
“Menang melawan siapa? Siapa yang harus kukalahkan?”
Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa sadar. Apakah selama ini aku diadu dengan saingan yang tak terlihat dan tak dikenal? Jika aku harus menang, pasti ada lawannya. Tapi siapa itu?
“…Lakukan saja yang terbaik.”
Ibuku memalingkan wajahnya dan mundur ke kamarnya. Ayahku berdiri di sana dengan ekspresi bermasalah. Ruang tamu itu jatuh ke dalam keheningan yang tegang. Karena tidak sanggup menahannya lagi, aku bertanya kepada ayahku.
“Kumohon, beritahu aku, Ayah!”
Dia ragu-ragu untuk waktu yang lama. Akhirnya, dia berbicara, seolah-olah pasrah pada kenyataan. Apa yang dia ceritakan kepadaku berada di luar bayanganku.
Ayahku pernah bercerai sebelum menikahi ibuku, dan dia memiliki dua orang anak dari pernikahan sebelumnya.
“Maafkan aku, Kikyo. Tsubaki ingin membuktikan dirinya kepada semua orang, untuk menunjukkan bahwa dia lebih baik.”
Ayah meminta maaf, dan untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa ibuku bersikap seperti itu.
“Tapi itu…”
“Ya, itu adalah obsesi yang sepele. Tsubaki seharusnya tahu itu juga.”
Ayah tersenyum masam. Tentu saja, kakak-kakakku bukanlah pesaingku. Tapi Ibu tidak bisa mengabaikannya. Pengungkapan tentang keberadaan kakak laki-laki dan perempuan tiri itu sangat mengejutkanku.
“Apakah mereka… benar-benar luar biasa?”
“Entahlah. Aku adalah ayah yang tidak bertanggung jawab. Aku meninggalkan segalanya. Setelah perceraian, aku memutus semua kontak dengan mereka. Aku selalu berniat memberitahumu suatu hari nanti. Hari itu datang sedikit lebih cepat. Kamu bebas menyebutku ayah yang buruk. Tidak ada alasan untuk apa yang telah kulakukan.”
Bahu Ayah yang merosot tampak begitu kecil dan menyedihkan hingga aku ragu-ragu untuk berbicara.
“Jangan khawatirkan itu. Kamu baik-baik saja, Kikyo. Jadilah dirimu sendiri.”
Anehnya, aku tidak menyimpan perasaan benci apa pun terhadap kakak perempuan dan kakak laki-lakiku. Sebaliknya, aku merasa tertarik pada mereka.
Mungkin karena aku adalah anak tunggal, tetapi aku sangat tertarik dengan gagasan memiliki seorang kakak laki-laki. Barangkali itu disebabkan oleh pengalaman yang kulami sudah lama sekali, ketika seorang anak laki-laki membantuku di sebuah kota bersalju.
Aku selalu mencari seseorang yang bisa kuandalkan lebih daripada orang tuaku. Berlawanan dengan ekspektasi ibuku, aku tidak pernah menganggap mereka sebagai saingan.
Bagaimana mungkin aku bisa menang melawan seseorang yang bahkan nilai sempurna pun tidak dapat melampauinya? Bersaing melawan lawan imajiner ciptaan ibuku adalah hal yang sia-sia.
Seiring berjalannya waktu, rasa kagumku pada kakak laki-lakiku tumbuh semakin kuat. Imajinasiku mengidealkannya, melukiskan gambaran yang sesuai dengan kebutuhanku. Suatu hari nanti bertemu dengannya menjadi tujuan baruku.
“Ayah, kumohon beritahu aku. Siapa nama kakak perempuan dan kakak laki-lakiku—”
Ketika aku masuk SMP dan sudah terbiasa dengan lingkungan baru, aku tanpa sengaja menemukan sebuah nama tertentu di media sosial.
Nama itu begitu memukau, sebuah ke cemerlangan hidup yang berbeda dari diriku yang membara, yang kurang percaya diri dalam segala hal. Kakakku ada di sana, seseorang yang telah menjadi apa yang tidak pernah bisa kugapai, hidup dengan bebas dan tanpa beban.
Aku terpikat oleh kilaunya. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan rasa hormat dan kekaguman yang mendalam kepadanya. Iri hatiku berubah menjadi rasa takzim, dan citra ideal tentang dirinya menjadi objek pemujaan.
Setiap hari terasa menyenangkan dan dipenuhi dengan pesona yang tak tertahankan. Seiring berkembangnya perasaanku, aku jadi mengenal seseorang yang merupakan pendukung antusias kakakku. Usia mereka sebaya, orang ini memanggilnya “Onii-chan.” Aku tidak bisa menahan perasaan iri.
Kami menjadi teman, dan aku mendengar banyak cerita tentang kakakku—baik yang bagus maupun yang buruk. Citra glamor yang kulihat di media sosial sangat jauh berbeda dari kehidupan nyatanya. Hal itu juga merupakan sebuah kejutan bagiku.
Kakakku juga pernah berjuang. Hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Dia bukan seorang idola melainkan manusia seutuhnya.
Kesenjangan antara kenyataan dan citra ideal yang kubayangkan justru semakin memperkuat perasaanku. Sekitar waktu ini, kondisi ibuku memburuk.
Dia menjadi semakin tidak stabil secara emosional, sering jatuh sakit, dan hubungannya dengan ayahku mulai memburuk. Ibu mulai menolak ayah secara terang-terangan.
Aku mendengar mereka bertengkar berkali-kali. Meskipun hanya ibuku yang meninggikan suara, ayahku juga semakin kelelahan menghadapi ledakan histeris ibuku.
Pada saat yang sama, sikap ibu terhadapku berubah. Rasanya seolah-olah dia telah kehilangan minat sama sekali padaku. Dia tidak lagi mengatakan apa pun tentang pendidikanku, hal yang dulunya sangat ia pedulikan.
Nilaiku mandek. Mungkin dia akhirnya menyerah padaku. Namun, mata ibu dipenuhi dengan kesedihan yang luar biasa, dan aku merasa frustrasi pada diri sendiri karena tidak mampu memenuhi harapannya.
Ketegangan yang konstan merasuki rumah kami. Ibu menderita dan berjuang. Dia menolak upaya putus asa ayah untuk membantunya, memunggungi diriku, dan terus meratap dalam penderitaan.
Keluargaku, rumah kami, hancur total. Kehidupan sehari-hari kami runtuh di sekitar kami. Itu adalah penjara yang menyesakkan, mimpi buruk yang tak ada habisnya bagi kami bertiga.
Ayahku juga menderita. Dia mulai sering minum-minum, sesuatu yang jarang dilakukannya dulu. Takaran minumnya terus meningkat dari hari ke hari.
Baik ayah maupun ibuku sama-sama merana. Aku tidak berdaya untuk melakukan apa pun. Aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun.
“Seandainya saja Yukito ada di sini…”
Ayahku bergumam.
Dia tampaknya percaya bahwa kakakku entah bagaimana bisa menarik kami keluar dari mimpi buruk ini. Tapi apa yang bisa kakak lakukan? Dia tidak memiliki hubungan dengan kami dan benar-benar absen dari kehidupan kami.
Kata-kata ayahku bergema di telingaku, tertinggal dan berulang-ulang.
“Apakah Onii-sama akan menyelamatkan kita?”
Aku bertanya-tanya, menatap keluar ke arah langit yang gelap dari kamarku, berharap pikiranku entah bagaimana akan sampai kepadanya.
[Sudut Pandang Kikyo]
“Tapi kenapa kondisi ibumu tiba-tiba berubah?”
“…Aku tidak tahu. Ayahku menutup rapat mulutnya tentang hal itu.”
Setelah menyelesaikan ceritanya, Hiori memiringkan kepalanya. Mata bulatnya yang besar tampak sangat menggemaskan. Kami sudah sering bertukar kata sebelumnya, namun ini adalah pertama kalinya kami bertemu secara langsung.
Awalnya aku merasa gugup, tetapi temanku ini, yang juga sesama saudari, sangat ramah sehingga aku dengan cepat merasa tenang. Sambil menghargai teman yang telah membawaku keluar untuk melihat pemandangan Tokyo, aku merasakan sedikit rasa kagum.
Hiori-san sangat memesona. Dia memiliki cara mengekspresikan emosi secara terbuka, sesuatu yang tidak kumiliki. Aku bertanya-tanya apakah ibuku akan lebih bahagia jika aku menjadi gadis yang memesona seperti Hiori-san.
“Begitu ya… Ini rumit, kan? Jangan khawatir! Onii-chan akan mencari jalan keluar!”
Dia mengulangi apa yang telah dia katakan semalam. Semua yang kutahu. Memang tidak banyak, tetapi Hiori-san tertawa ceria dan menganggapnya remeh, sikap acuh tak acuhnya membuatku merasa sedikit berkecil hati.
“Kamu benar-benar mempercayai Onii-sama, ya?”
Aku merasakan sedikit rasa cemburu. Sebuah emosi picik yang membuatku menyadari kekerdilanku sendiri, membuat semangatku tenggelam.
Menyadari perasaanku, Hiori-san tertawa riang.
“Yup! Onii-chan itu luar biasa! Jadi, Kikyo-chan, santai saja dan biarkan dia yang mengurusnya. Santai saja!”
Dia membusungkan dadanya yang sederhana dengan bangga. Dalam hal itu, aku mungkin benar-benar memiliki keunggulan darinya. Saat memikirkan hal ini, perkataan Hiori-san berubah menjadi sedikit muram.
“…Kalau tidak, Onii-chan tidak akan bisa memberikan yang terbaik.”
“Eh?”
Aku merasa sedikit tidak nyaman dengan kata-kata itu. Untuk mengusirnya, Hiori-san menggenggam tanganku.
“Ayo pergi! Lihat ke sana! Tinggi sekali!”
“…Uuuwa, sedikit menyeramkan.”
Rasa kehilangan. Berdiri di atas lantai transparan, aku merasakan pusing sesaat. Emosi dasar berupa ketakutan.
“Tidak apa-apa! Ada banyak orang yang bekerja di sini, dan kecuali ada monster yang muncul, kita akan baik-baik saja. Tapi, tahu tidak, ketika orang-orang mengatakan hal seperti ‘orang-orang terlihat seperti semut’ pada saat seperti ini, itu sangat klise dan membosankan.”
“Orang kota mengucapkan hal-hal yang tidak begitu kutahami.”
Kota di bawah kami dari dek observasi membentang tanpa henti tanpa jeda. Sulit dipercaya bahwa tempat itu dulunya adalah ladang hangus di masa lalu.
Kotaku sendiri juga perkotaan, tetapi dibandingkan dengan pembangunan berkepadatan tinggi ini, tampaknya meragukan. Satu-satunya keuntungannya mungkin adalah sejarahnya yang panjang.
Ibu kota ini sangat luas dalam segala hal—orang-orangnya, konsentrasi kekayaannya.
“Sebenarnya ini pertama kalinya aku ke sini juga!”

“Begitukah?”
Aku membelalakkan mataku mendengar kata-katanya yang tak terduga. Kalau soal tempat wisata Tokyo, tempat ini selalu menduduki peringkat teratas. Bahkan aku pun ingin mengunjunginya setidaknya sekali. Meskipun harga tiket masuknya agak mahal…
“Tempat yang bisa kau Kunjungi kapan saja biasanya memang seperti itu, kan?”
“Ehem… Mungkin itu bukan cara penyampaian yang paling bijak, tapi kau mungkin benar.”
“Bukankah kau juga berpikir hal yang sama tentang kuil-kuil di daerahmu, Kikyo-chan? Seperti, ‘Duh, cuma kuil lagi, membosankan sekali’?”
“Tolong jangan katakan hal-hal yang tidak dapat dipahami seperti itu!”
Mendengar nada usil Hiori-san, aku tidak bisa menahan senyum. Ada benarnya juga apa yang dikatakannya. Apa yang tampak istimewa bagi para pelancong belum tentu istimewa bagi mereka yang tinggal di sekitarnya.
Seseorang yang tinggal di tempat tanpa salju mungkin akan terpesona olehnya, tetapi mereka yang berada di daerah dengan curah salju tinggi menganggapnya sebagai gangguan, karena harus berurusan dengan pembersihan salju. Hubungan antara yang luar biasa dan keseharian memang seperti itu.
“Tapi tempat ini cuma tinggi doang. Jujur saja, aku sudah bosan!”
“Sst! Sst!”
Dia merusak suasana. Untuk mengalihkan perhatian temanku agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak pantas, aku mengalihkan pembicaraan.
“Yuri Onee-sama bilang dia tidak menyukaiku.”
“Yuri Onee-chan memang seperti itu orangnya. Mau bagaimana lagi.”
Hiori-san berlari ke koridor anjungan pengamatan dan mengintip ke bawah. Mau bagaimana lagi. Ungkapan itu terasa masuk akal secara alami.
Semuanya mau bagaimana lagi. Tiba-tiba mendapati saudari tiri muncul pasti akan sangat meresahkan. Keberadaanku sendiri sepertinya tidak dapat diterima.
“Bukannya begitu.”
Tanpa kusadari, mata Hiori-san sudah tertuju padaku.
“Onii-chan itu benar-benar bisa diandalkan!”
Mengalihkan pandangannya kembali ke arah kota megapolitan tersebut, dia melanjutkan.
“Dia selalu membantu saat kita dalam kesulitan, entah itu aku atau Onee-chan. Dia akan membantumu juga, Kikyo-chan. Makanya Yuri Onee-chan tidak suka pada orang-orang yang terlalu mengandalkannya. Bukan cuma kamu saja.”
Kata-katanya yang tak terduga membuatku bingung.
“Onii-chan itu bisa diandalkan. Itu separuh benar dan separuh salah.”
Kata-katanya membuatnya terdengar seolah-olah bisa diandalkan adalah hal yang buruk, yang membuatku merasa tidak tenang.
“Onii-chan telah melewati banyak kesulitan dan kesedihan. Tapi dia tidak pernah mengandalkan siapa pun. Bukan, itu tidak benar. Dia tidak pernah mencoba mengandalkan siapa pun. Onii-chan bisa diandalkan karena dia harus menjadi seperti itu. Dia tidak bisa tetap menjadi anak-anak dan terpaksa tumbuh dewasa lebih cepat daripada orang lain.”
Ada rasa kepedihan dalam kata-kata Hiori-san. Onii-sama mengulurkan tangan untuk membantuku. Tapi siapa yang mengulurkan tangan untuk membantunya? Jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, dia pasti tidak punya pilihan selain menjadi kuat. Jika itu masalahnya, itu sungguh sangat—”
“Itu hal yang menyedihkan, bukan?”
Senyumannya berbeda dari senyuman polosnya biasanya; senyuman itu dipenuhi dengan kesedihan.
“Semakin banyak orang mengandalkannya, dia malah semakin merasa sendirian. Pantas saja Yuri Onee-chan membencinya. Onii-chan itu baik, tapi kebaikannya adalah racun. Kebaikan itu tidak mengizinkan adanya ketergantungan.”
Aku ingin mengandalkannya. Ketika aku mengetahui tentang dirinya, aku pikir dia mungkin bisa memahamiku.
“Aku sangat mencintai Onee-chan, tapi aku juga membencinya.”
Emosi yang saling bertentangan. Mungkin perasaan itu mirip dengan perasaan yang aku pendam terhadap ibuku.
“Dia tidak menyadari betapa besar pria itu mencintainya. Dia dengan serakah menuntut lebih, memaksakan pemahamannya pada pria itu, bergantung kepadanya, dan dalam prosesnya, dia menyakitinya.”
Kata-kata pelan itu menyiratkan kemarahan yang amat dalam. Hubunganku dengan Hiori-san masih tergolong baru. Ada begitu banyak hal tentang Onii-sama yang belum aku ketahui. Ada sejarah di balik semua itu yang tidak aku sadari.
“Tapi dia tidak ingin membebaninya dengan perselisihan yang dihadapinya. Yah, Onee-chan sedang merenungkannya sekarang.”
Suasana tegang itu mencair seiring dengan ucapannya.
“Onii-chan, tahukah kamu, tidak pernah mengalami masa pemberontakan. Agak luar biasa memang, tapi mungkin itu karena dia sudah memberontak dengan caranya sendiri selama ini, dan itu belum berakhir?”
Saat aku melihat Hiori-san yang tengah merenung dalam-dalam, aku teringat akan apa yang dikatakan oleh saudari tiri-ku kepadaku. Bukannya dia tidak memiliki masa pemberontakan; hanya saja pemberontakannya ditujukan terhadap sesuatu yang tidak masuk akal.
“Andai saja aku bisa menjadi sekuat dia—”
“Itu tidak boleh.”
Penolakan tiba-tiba dari Hiori-san membuat punggungku merinding.
“Kamu tidak boleh iri padanya. Hidup seperti itu sangatlah berat.”
Seberapa banyak sebenarnya yang kuketahui tentang Onii-sama? Semalam, dia mendengarkan kata-kataku yang terbata-bata. Dia memperhatikan dengan tulus. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, begitu banyak hal yang ingin didengarnya dariku. Namun, aku sama sekali tidak tahu apa pun tentang dirinya. Kesadaran itu terasa seperti sebuah dosa.
“…Mungkin, jangan-jangan, ibumu—”
Hiori-san sepertinya menyadari sesuatu.
“Apa kamu tahu sesuatu!?”
Aku bergerak mendekat secara impulsif, mencari petunjuk apa pun untuk memperbaiki hubunganku dengan ibuku.
“Tidak, maaf. Bukan apa-apa. Lagipula, meski itu masalahnya, hanya Onii-chan yang bisa berbuat sesuatu tentang hal itu. Mari kita percaya padanya.”
Dia tersenyum hangat, lalu menggenggam tanganku.
“Ayo kita beli oleh-oleh! Onii-chan memberi kita uang saku!”
“Tunggu, Hiori-san!”
“Onii-chan bilang dia punya hutang dua ratus juta yen, tapi dia masih sangat dermawan.”
“Bukankah itu jalan menuju kebangkrutan!?”
“Itu Onii-chan. Dia akan mengaturnya! Dan kalau tidak, yah…”
Pengungkapan lain tentang Onii-sama membuatku terkejut. Jumlah sebesar itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
“Andai saja Onii-chan bisa ikut dengan kita. Bukankah begitu juga, Kikyo-chan?”
Memang mengecewakan, tapi mau bagaimana lagi. Dia punya urusannya sendiri. Tapi meskipun begitu—
“Mau bagaimana lagi. Biarkan Onee-chan memilikinya hari ini! Tapi lain kali, kita juga akan pergi bersama Onii-chan!”
“Ya!”
Kakak perempuan Hiori-san dan Onii-sama adalah teman masa kecil seumuran. Hubungan mereka tampak seperti sesuatu yang dibimbing oleh takdir, memunculkan cita-cita yang mengingatkan kita pada cerita di buku. Itu adalah kerindukan akan sesuatu yang murni dan indah.
“Kira-kira apa yang sedang dilakukan Onii-chan dan yang lainnya sekarang?”
Mengikuti percakapan itu, aku berjalan mengikuti Hiori-san saat kami menuju ke Asakusa.
[Sudut Pandang Yukito]
“Terima kasih sudah mau ikut hari ini, Yukito.”
“Kamu sepertinya tidak terlihat layu sama sekali.”
“Apa yang kamu bicarakan?”
“Mungkin aku sebenarnya tidak butuh gembor air.”
Aku memasukkan gembor air berbentuk gajah itu ke dalam ranselku.
“Jadi, sebenarnya ada apa ini?”
Aku telah menerima pesan dari Hiori-chan yang berbunyi, “Onee-chan berubah menjadi wanita layu! Sepertinya Onii-chan kekurangan nutrisi,” tetapi apakah aku benar-benar sosok yang bisa diperas untuk diambil sarinya?
Mengabaikan protes Hiori-chan, aku membalik-balik katalog yang kubeli di meja resepsi. Ada banyak lingkaran minat yang menarik terdaftar di sana. Sebagian besar berupa karya sastra, tetapi beberapa mencakup penelitian langka, kritik, dan materi lain yang bernilai akademis. Rasa ingin tahu intelektualku terus-menerus dirangsang.
“Editor menyarankan agar aku melihatnya sendiri untuk memahami tentang apa semua ini.”
“Melihat adalah percaya, seperti kata pepatah.”
“Ya… aku jadi sedikit gugup.”
Teman masa kecilku itu sangat bertekad. Matanya serius. Menurut Hiori-chan, dia telah bekerja sangat keras untuk hal ini. Kupikir tidak apa-apa jika ini juga berfungsi sebagai waktu istirahat baginya, tetapi sepertinya aku juga akan menikmati ini.
Di akhir pekan, kami berada di Balai Industri untuk pameran dan acara penjualan karya sastra.
Semua buku di sini dijual oleh para amatir. Tidak ada ISBN pada satupun dari buku-buku itu. Meskipun beberapa penulis profesional ikut bercampur di dalamnya, aku tidak bisa menebak siapa mereka, dan bahkan buku-buku yang dijual oleh para profesional pun merupakan karya hobi.
Ini pada dasarnya adalah festival amatir. Itulah mengapa konten khusus tersebut begitu memikat.
“—Memang ada pembaca di balik karya-karya tersebut.”
Novel daring Hinagi sedang diterbitkan dalam bentuk buku. Meskipun dia pernah bertemu editornya sekali, sebagian besar komunikasi dilakukan melalui email, dan umpan balik pembaca juga datang melalui email.
Sebuah usaha yang sepi tanpa interaksi langsung dengan orang-orang. Hiori-chan tadi bilang bahwa Hinagi itu gersang, tapi sekarang dia tampak bersinar bagaikan ikan yang mendapatkan airnya. Mungkin dia merasakan hubungan nyata dengan para pembaca yang sedang membaca karyanya melalui acara ini. Itu adalah sensasi yang tidak kudiskusikan.
“Kamu juga tampaknya suka bekerja dalam berbagai proyek bersamaku. Kamu sepertinya cocok untuk acara-acara semacam ini.”
“Begitukah?”
Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkannya, tetapi aku mengeluarkan sesuatu yang telah kubuat dari dalam ranselku untuk diberikan kepada Hinagi.
“Apa itu?”
Aku meraih tangan Hinagi-chan yang tampak kebingungan, lalu meletakkan sebuah benda di telapak tangannya.
“Aku ingin memberimu ini. Ini Hinagi-chan versi SD.”
Itu adalah versi chibi dari Hinagi-chan, dengan ukuran sekitar sejempolku. Aku cukup bangga dengan hasil buatannya.
“Kamu membuat hal aneh lagi… Yah, tapi ini lucu sih.”
Hinagi-chan mengamati Hinagi-chan versi SD itu dengan ekspresi yang agak jengkel.
“Ini bukan sembarang Hinagi-chan SD. Coba lihat ini.”
Aku mengambil kembali Hinagi-chan versi SD itu dari tangan Hinagi-chan dan meletakkannya di atas tanah.
“Sudah lihat? Kalau kamu menariknya pelan-pelan ke belakang seperti ini…”
Ada suara klik dan sedikit perlawanan saat Hinagi-chan versi SD itu digerakkan.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Yukito?”
Aku melepaskan Hinagi-chan versi SD itu dan, seolah ingin memamerkannya kepada Hinagi-chan yang tampak bingung, benda itu menderu dan berakselerasi dengan suara “ngik-ngik”, melaju sekitar satu meter sebelum berjalan ke depan.
“Ini dilengkapi dengan per tarik ke belakang.”
“Apakah ini jenis mobil-mobilan mainan yang biasa kamu lihat waktu masih kecil!?”
Hinagi-chan versi SD itu terjungkal saat Hinagi-chan menghentakkan kakinya karena kesal.
“Iya. Mainkan ini saat kamu sedang bosan di rumah.”
Aku memungutnya dan meletakkannya kembali ke telapak tangan Hinagi-chan.
“Aku tidak akan memainkannya! Berhentilah bersikap begitu terobsesi.”
“Yang satu ini benar-benar menjadi seru saat kamu memainkannya, tahu? Ini adalah serangkaian pertarungan sengit. Meskipun aku sempat kalah sekali.”
“Tempatmu selalu terlihat begitu menyenangkan akhir-akhir ini…”
Kami menyiapkan sebuah lintasan di ruang tamu dan mengadakan balapan dengan empat figur SD: SD Ouka, SD Yuri, SD Sekka, dan SD Yukito.
Itu adalah acara yang mendebarkan, hampir seolah-olah itu adalah balapan profesional. Namun, entah kenapa, SD Yukito milikku terus berbelok ke kiri dan terjatuh dari meja, berulang kali kalah. Itu adalah pengingat yang menyakitkan tentang pentingnya perawatan.
“Dan bagian akhir balapannya sangat mengerikan. Yuri-san bilang lintasan itu akan menjadi ‘jalan tol’ atau semacamnya.”
“Aku tidak ingin mendengarnya, tapi itu terdengar tidak manusiawi!”
“Dia berbaring dan menggunakan itu sebagai lintasan—”
“Seharusnya aku tahu untuk tidak bertanya!”
“Piala Rumah Kokonoe (dengan makna yang mendalam).” [TL: You know cup as in…]
“Jangan mempermainkan hal dewasa dengan mainan anak-anak!”
Hinagi-chan buru-buru menutup telinganya. Salut untuk jiwa kekanak-kanakan yang menolak untuk dilupakan. Aku benar-benar kalah telak.
“…Yah, mungkin itu lebih baik daripada memiliki rumah yang dingin dan sunyi tanpa ada percakapan.”
“Aku juga punya Hiori-chan versi SD.”
Sambil mengucapkannya dengan desahan panjang, Hinagi-chan memasukkannya ke dalam tasnya.
Antrean bergerak, dan akhirnya giliran kami untuk masuk. Saat aku hendak melangkah masuk ke dalam area acara, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berhenti di tempat. Melihat ke sampingku, Hinagi juga sedang menahan napasnya.
“………………Luar biasa.”
“Ya.”
Hal yang mengejutkanku adalah tekanan murni dari tempat itu. Kewalahan oleh hawa panas yang luar biasa, aku tahu aku tidak bisa terus berdiri diam. Dengan tekad bulat, aku melangkah masuk. Tempat itu dipenuhi oleh banyak orang.
Tempat itu sangat ramai. Meskipun kereta yang padat terlintas di pikiran saat memikirkan kepadatan, yang membedakannya di sini adalah ekspresi di wajah orang-orang.
“Semua orang tampak bersenang-senang.”
Aku mengangguk kecil menanggapi gumaman Hinagi. Wajah-wajah di dalam kereta yang padat saat jam berangkat kerja dipenuhi dengan suram.
Tapi tempat ini penuh dengan vitalitas. Tempat ini memiliki energi yang begitu kuat, seperti titik kekuatan spiritual yang bisa membuatmu kelelahan hanya dengan berada di sana. Orang-orang yang menjual buku dengan aktif memanggil para pelanggan. Suasana penuh energi itu terasa berbeda dari ritel biasa.
“Itulah keunikan dari produsen primer.”
Biasanya, pegawai toko ritel tidak memiliki keterikatan pribadi atau tanggung jawab yang besar terhadap produk-produk tersebut.
Tapi di sini, keadaannya berbeda. Meskipun ada beberapa karya sekunder, hal yang umum di antara mereka adalah proses primitif memilih sendiri subjek yang akan dibuat, mencetak buku dengan biaya sendiri, dan menjualnya sendiri.
Apa yang dijual adalah kristalisasi dari “hal yang disukai” setiap orang. Dan mereka yang menjualnya adalah para penciptanya sendiri. Oleh karena itu, antusiasme yang dicurahkan ke dalamnya sangat berbeda.
“Kurasa editor ingin kau merasakan energi ini.”
“Aku bisa memahaminya. Kau tidak akan bisa memahaminya hanya dengan menatap layar komputer.”
Ekspresi rasa iri. Esensi dari penciptaan. Pengalaman ini tanpa ragu akan menjadi asupan berharga bagi Hinagi.
“Yukito?”
“Ada apa? Apa kau merasa kewalahan?”
“Ya, tapi bukan itu maksudnya…”
Hinagi-chan mendekat dan dengan lembut meraih tanganku.
“Tempat ini dipenuhi dengan ‘Cinta,’ ya kan?”
“Tadi aku sempat mencarinya, dan sepertinya sebagian besar dilingkaran ini beroperasi dengan mengalami kerugian.”
Karya yang lahir dari fokus pada keuntungan tidak akan pernah terwujud. Mencintai sesuatu saja tidak cukup untuk bertahan secara ekonomi. Meskipun begitu, ada kebanggaan dalam bersikap tulus pada gairah seseorang, bahkan jika itu berarti mengabaikan keuntungan.
“Yukito, kau juga memilikinya. ‘Kasih sayang.’”
“Hinagi?”
Saat Hinagi berbicara dengan pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri, aku masih bisa mendengar kata-katanya di tengah kebisingan tempat itu.
“Perasaan cinta tidak bisa ditekan, dan perasaan itu mengambil wujud. Begitu juga dengan apa yang kau ciptakan. Kau belum Kehilangannya. Kau belum menyerah. Kau memiliki ‘Cinta’ milikmu sendiri.”
Genggamannya pada tanganku tiba-tiba menguat. Aku bisa merasakan kehangatannya.
“Sebelum kita bertemu kembali dan bahkan setelahnya, aku selalu terburu-buru, hanya berhasil menyampaikan perasaanku sendiri. Aku selalu dengan egois memaksakan keinginanku kepadamu, mengharapkanmu untuk memenuhinya. Kau telah membantuku. Kau telah menyelamatkanku. …Lucu, bukan? Pada akhirnya aku menerima begitu banyak hal. Aku terus memikirkan apa yang bisa kulakukan untukmu, apa yang harus kulakukan, dan itu sendiri adalah egoku. Jadi sekarang, aku memutuskan berhenti mengejarnya. Mari kita cari bersama-sama, pelan-pelan. Dengan melakukan apa yang ingin kau lakukan, menemukan banyak hal yang kau sukai, dan menghabiskan hari-hari seperti itu, kau pasti akan bisa menemukannya suatu hari nanti.”
Temasa kecil yang berjalan di sampingku ini tampaknya telah tumbuh menjadi wanita yang sangat dewasa tanpa aku sadari.
“Apa yang harus ku temukan?”
Aku secara alami bertanya balik. Apa sebenarnya yang bisa kutemukan?
Seolah mengantisipasi pertanyaan ini, Hinagi langsung melanjutkan.
“—Masa depan.”
Untuk sesaat, kami diselimuti oleh keheningan yang mendalam.
“Aku harus bekerja keras agar bisa berada di sana bersamamu. Aku telah memperbarui tekadku. Karena jika aku hanya menjadi seseorang yang mengandalkan kebaikanmu, aku tidak akan pantas menjadi teman masa kecil, bukan?”
Senyumnya yang lembut dan hampir tercerahkan adalah ekspresi baru bagiku. Sisi dari Hinagi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dia tampak berada di ambang metamorfosis. Siap membumbung tinggi ke angkasa, bersiap untuk terbang.
“Aku ingin menjadi dewasa—”
“Tidak.”
Dia dengan lembut meletakkan jari telunjuknya di bibirku, membuatku terdiam.
“Menjadi dewasa bisa menunggu sedikit lebih lama. Tidak apa-apa untuk tetap belum dewasa untuk saat ini. Waktu ini adalah sesuatu yang berharga yang hanya kita miliki sekarang. Jadi, mari kita lupakan hal-hal yang sulit dan nikmati waktu kita!”
Aku telah mencuri dan menyia-nyiakan waktu mereka. Aku telah merampas kemungkinan-kemungkinan mereka, menganggap tindakan mereka sebagai hal yang sia-sia.
Aku telah berjuang berulang kali, mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar bisa ditinggalkan oleh mereka.
Namun, mereka mungkin menjadi lebih mandiri dari yang kukira. Mungkin tidak apa-apa untuk sedikit mengandalkan kebaikan yang telah mereka berikan kepadaku. Sekalipun jalan kita kelak berpisah, untuk periode singkat saat kita belum sepenuhnya menjadi dewasa ini, tidak apa-apa untuk tetap polos seperti anak-anak.
Lagipula, bukankah itu juga yang dikatakan oleh Sekka-san?
Ini adalah sebuah moratorium. Meskipun aku memahami hal itu, dia tetap membiarkannya aku mengandalkannya.

“Bagaimana kalau kita lanjutkan melihat-lihat?”
Aku merasa dihibur oleh senyuman yang tidak berubah dari teman masa kecilku yang telah berubah bentuk.
Aku juga menerima sesuatu dari Hinagi.
–Rasa aman ini.
Komentar