Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V4Ch7_ Lingering Summer Part 1 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V4Ch7_ Lingering Summer Part 1 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V4Ch7: Musim Panas yang Belum Berakhir Bagian 1

Penerjemah: Soafp

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Himiyama-san, jadi aku dipanggil ke ‘Imachiduki,’ tetapi pemiliknya sedang tidak ada.

Tempat ini sepertinya dibooking sepenuhnya, dan dia mentraktirku shabu-shabu. Wah!

Meja itu dipenuhi dengan daging marmer berkualitas tinggi, kerang, jamur shiitake, sayuran hangat, ikan air tawar, dan belut laut. Ada beberapa jenis saus yang berjajar, merangsang nafsu makan tanpa henti. Panci yang menyala sudah siap dan menunggu. Aku biasanya tidak makan shabu-shabu di rumah, tapi aku akan mencobanya kali ini. Catatan untuk diri sendiri.

Diam-diam menunggu persiapannya selesai. Aku benar-benar lapar. Apakah sudah siap?

“Terima kasih atas permintaannya ♡.”

“Ganti.”

Kemunculan Himiyama-san memperlihatkan dirinya mengenakan pakaian berani yang mengekspos bahu dan punggungnya. Itulah yang mereka sebut bodycon. Gaun terusan ketat dengan panjang yang sangat pendek, memperlihatkan pahanya.

“Ara, Yukito-kun. Apakah kamu menyukainya?”

“Pakaian itu sangat cocok untukmu. —Tunggu, bukan itu masalahnya!”

“Aku senang. Tapi jika kamu ingin aku menggantinya, mau bagaimana lagi.”

Ketika Himiyama-san mundur, orang lain muncul dengan malu-malu.

“T-Terima kasih atas permintaannya?”

“A-Apa yang sedang Anda lakukan, Sensei!?”

“Ahhhh, ini hanya kesalahpahaman! Jangan dilihat, Kokonoe-kun! Aku tidak berniat melakukan hal separonografi ini! Aku dipaksa memakai pakaian ini oleh Misaki-san—”

Entah kenapa, Sanjoji-sensei telah berubah menjadi seorang gadis kelinci. Penjelmaan dari keseksian. Belahan dada melimpah yang seakan mau meledak, manset di pergelangan tangan, stoking jaring ikan yang memperindah kaki jenjangnya, serta sepatu hak tinggi — sangat berbeda dari penampilannya yang biasanya bersahaja.

“Bagaimana menurutmu, Kokonoe-kun?”

“Jangan diganti.”

“Baguslah itu, Suzuka-sensei.”

“Tidak bagus sama sekali! Maafkan aku, Ibu, Ayah! Aku tidak pernah berniat menjadi pendidik yang begitu bejat… Aku tidak bisa menunjukkan wajahku di hadapan para murid dengan rupa seperti ini! Uuu…”

Sambil berkata begitu, Sanjoji-sensei berbalik dan berjongkok, membelakangi kami. Meskipun mengaku tidak bisa menunjukkan wajahnya, dia justru dengan mantap menyodorkan bokongnya yang montok ke arah kami — sungguh melayani dengan penuh totalitas.

“Tapi, Suzuka-sensei, bukankah Anda sendiri yang memilih pakaian itu?”

“Tidak ada pilihan lain! S-Sebenarnya apa-apan pakaian kelinci terbalik ini! Siapa juga yang mau pakai pakaian yang… yang begitu terbuka begini!?”

“Aah, itu seragam keluarga kami.”

“Ada apa dengan keluargamu!?”

“Aku juga ingin menanyakannya pada diriku sendiri! Ada apa dengan keluargaku!?”

“Mana kutahu!?”

Diputuskan dalam rapat pimpinan, hal itu telah menjadi lumrah di keluargaku, tetapi ada banyak misteri di keluarga Kokonoe yang tidak kuketahui. Tapi aku senang, jadi aku menyetujuinya dalam diam.

“Omong-omong, berapa harga fotonya? Apa aku bisa pakai kartu IC transportasi?”

“Hari ini sebagai ucapan terima kasih, jadi gratis. Jangan khawatir.”

“Negosiasi macam apa yang sedang kalian lakukan!? Mana mungkin foto diambil begitu saja!”

“Kami akan mengaturnya bagaimanapun caranya.”

Aku mencoba bertahan.

“Itu tidak mungkin! Bahkan sekarang pun wajahku rasanya terbakar!?”

“Hahaha. Kamu bukan raja iblis itu, kan?”

“Jangan membuat lelucon sembarangan!”

“Jangan khawatir, Suzuka-sensei. Ini adalah ruang privat. Apa pun yang terjadi di sini tidak akan pernah bocor ke luar. Sekarang, kita hanyalah wanita mesum.”

“Wanita… mesum?”

Entah kenapa, Himiyama-san yang tampak mencurigakan itu sedang berusaha membujuk Sanjoji-sensei.

Sepertinya mereka sedang sibuk di sana, jadi aku memutuskan untuk membiarkan mereka sendiri.

“Daging marmer ini terlihat sangat indah. Daging apa ini dan dari mana?”

“Ini adalah daging sapi Wakasa peringkat A5.”

Oh, Wakasa, itu di Prefektur Fukui, kan? Aku belum pernah mencobanya sebelumnya, jadi aku sangat menantikannya.

“Kita membuat janji, untuk berterima kasih kepada Yukito-kun. Suzuka-sensei sangat antusias tentang hal ini, kan? Dan semuanya sudah siap. Ini baru permulaan, tahu?”

“…Permulaan? Apakah masih ada lagi?”

“Tentu saja. Suzuka-sensei lahir di Tahun Kerbau, kan?”

“Ya, tapi…”

“Aku juga telah menyiapkan bikini bermotif sapi untuknya.”

“Aku tidak butuh itu! Memangnya di mana kamu berencana memakai pakaian seperti itu!?”

Negosiasi terbukti sulit, tapi bukan tempatku untuk ikut campur.

“*Gulp*. Air ini sangat enak.”

“Itu adalah air pegunungan alami dari suatu gunung yang tidak kukenal.”

“Rasa apresiasinya langsung lenyap seketika.”

Entah di mana, air dari gunung yang tidak diketahui. Kekuatan misteriusnya berkurang setengah.

“Bisakah kamu membantu alih-alih memeriksa bahan-bahannya?”

“Aku sangat menantikan daging sapinya.”

“Aku tidak akan memakainya, ya? Sungguh, pastinya, aku tidak akan memakainya!”

“Aku jadi penasaran bagaimana rasanya peringkat A5.”

“Yah, aku tidak peduli rasanya enak atau tidak…”

Sementara Bunny Sanjoji-sensei yang berperingkat A5 memprotes, perutku berkeroncongan.

“Himiyama-san, aku lapar.”

“Ara, maaf soal itu. Ayo kita makan.”

Himiyama-san, yang tiba-tiba tersenyum lebar, duduk di sebelahku. Entah kenapa, Sanjoji-sensei juga ikut duduk di sisi yang sama. Meskipun kami berada di meja, tidak mudah untuk makan secara normal ketika semua orang berada di sisi yang sama.

“Kamu mau yang mana, Yukito-kun? Katakan ‘aah,’ dan aku akan menyuapinya untukmu.”

Sepertinya Himiyama-san ingin menyuapiku. Pelayanan yang cukup luar biasa. Namun, aku menolaknya!

“Tidak, itu tidak perlu. Ini terlihat lezat, jadi mari kita makan bersama-sama saja.”

Aku mengambil alih kendali atas makanan tersebut terlepas dari apa yang baru saja kukatakan. Meskipun skenario ‘aah’ mungkin tampak romantis, pada kenyataannya, orang-orang ingin makan sesuai dengan kecepatan mereka sendiri dan memilih bahan favorit mereka dalam hal shabu-shabu. Itu bukanlah situasi yang cocok.

“Kamu salah paham tentang cara makan shabu-shabu.”

“Seriusan?”

“Biasanya, mungkin memang benar begitu. Tapi ini adalah shabu-shabu spesial!”

Himiyama-san bersikeras. Sanjoji-sensei juga memiringkan kepalanya, tampak bingung. Spesial?

“Baiklah, Yukito-kun? Karena kamu adalah tamu, peraturannya adalah menggunakan kedua tanganmu yang sedang menganggur itu untuk membelai paha orang yang duduk di sebelahmu dengan penuh gairah!”

“Ap-apaan!? (AA dihilangkan)”

Aku terkejut, dan seluruh tubuhku terasa dialiri listrik. Aku menatap kedua tanganku dengan takjub.

“A-apa benar begitu…? Apakah aku keliru…?”

“Kenapa kamu malah langsung menerimanya dengan mudah!? Tolonglah sedikit curiga!”

Sanjoji-sensei yang memakai telinga kelinci memprotes, dan meja bergetar karena gerakannya, membuat sumpah terjatuh.

“Biar aku ambilkan.”

Aku dengan cepat menyelam ke bawah meja untuk memungut sumpit tersebut. Ada sebuah cermin tangan yang diletakkan begitu saja di lantai.

“Apakah ini barang yang tertinggal milik seseorang?”

Aku mencoba memungut sumpit itu tetapi bahuku ditepuk. Saat aku menoleh, aku melihat ke bawah rok Himiyama-san.

“Ada apa—tunggu, apa yang sedang kamuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu lakukan!”

“Jangan khawatir, Yukito-kun. Aku tidak pakai apa-apa.”

“Pakailah sesuatu!”

Himiyama-san, kelihatannya baik tapi sama sekali tidak bisa diandalkan. Kepalaku membentur meja karena keterkejutan itu. Aduh…

“Sudah kubilang, shabu-shabu hari ini spesial. Namanya ‘Shabu-Shabu Tanpa Celana Dalam.’ Aku mendengarnya dari Kakek. Saat kamu ingin menjamu seseorang yang berhutang budi padamu, inilah caranya.”

“Kamu aspek budaya Jepang yang terkutuk!”

Kebiasaan jahat ini harus segera diberantas! Aku dengan tegas menolak. TIDAK pakai celana dalam!

“Kakek sering sekali pergi ke tempat ini dulu. Nikmati ya, Yukito-kun.♡”

“Jangan-jangan cermin ini… ada satu lagi di sini…!? Gawat!”

Berbahaya. Jika aku membiarkan keadaan berjalan sesuai keinginan Himiyama-san, tubuhku pasti akan takluk pada permintaannya, dan acara rumahan ini akan berubah menjadi sebuah krisis.

Untuk menghindari tragedi ini, aku memutar otak. Apakah ada sesuatu, sebuah terobosan…?

Aku melakukan kontak mata dengan Bunny Sanjoji-sensei, yang diam-diam sedang menikmati tahu panas. Itu dia!

“Kukuku. Sungguh, Himiyama-san, aku benar-benar kecewa padamu. Di mana letak ‘Shabu-Shabu Tanpa Celana Dalam’ dari semua ini? Rencanamu benar-benar gagal total. Dengan Sanjoji-sensei mengenakan kostum kelinci, ini jauh dari kata memenuhi syarat sebagai ‘Shabu-Shabu Tanpa Celana Dalam.’ Ini tidak lebih dari omong kosong belaka!”

“Uhuk, uhuk! Panas! Tahunya tersangkut di tenggorokanku…”

Aku dengan tegas menghadapi mereka dengan kenyataan. Sanjoji-sensei sedang tersedak. Nikmati saja makan bersama tanpa membuat keributan. Mari kita akur. Aku menawarkan persahabatan kepada Himiyama-san.

“Huh… menyebalkan sekali!”

“Aku baru pertama kali melihat seseorang mengucapkan kalimat seperti itu di kehidupan nyata.”

“Bisakah kamu tetap diam ketika diperlakukan dengan ketulusan seperti itu!? Suzuka-sensei, gantian. Ayo kita pakai kelinci terbalik. Tidak, itu masih kurang. Kalau sudah begini, jurus pamungkas: ‘Shabu-Shabu Telanjang’!”

“Ap-apa? Sedikit… mohon, Shirataki—tidaaaaaak!”

Diiringi teriakan, dia diseret ke bagian belakang. Cepatlah, aku ingin makan dagingnya.

Di Jepang, asal-usul “shabu-shabu” konon berada di Prefektur Tottori selama Perang Dunia II. Hidangan itu kemudian menyebar dari Kyoto ke wilayah Kansai.

Jadi hari ini, dari “Iramizuki,” tempat kelahiran “Shabu-Shabu Tanpa Celana Dalam,” tren ini mungkin akan menyebar ke seluruh negeri. Aku adalah saksi sejarah.

“Bagaimana kalau kita makan makanan penutup setelah makan? Aku sudah menyiapkan puding spesial.”

“Tapi kemana shabu-shabu tadi pergi…?”

Meja itu dibersihkan dengan rapi. Aku yakin aku baru saja makan shabu-shabu beberapa saat lalu, tetapi aku sama sekali tidak mengingatnya. Ini semua karena Himiyama-san dan Sanjoji-sensei bertelanjang. Meskipun bukan telanjang bulat sepenuhnya, keduanya hanya mengenakan sepatu hak tinggi.

Pemandangan yang amoral dan memikat ini sangat luar biasa, tapi aku hanya ingin melarikan diri. Himiyama-san tampak bermartabat, sementara Sanjoji-sensei tampak malu-malu. Kontrasnya sangat menakjubkan.

Dalam keadaan membeku, aku menatap satu titik di lantai dan makan secara mekanis. Indera perasaku telah runtuh, dan perutku membunyikan lonceng akhir. Aku bahkan tidak tahu sudah menghabiskan berapa porsi.

Detak jantungku, yang berdegup kencang mengikuti irama ketegangan, masih bergemuruh penuh kegembiraan.

“Misaki-san, apa kamu benar-benar akan melakukan itu!?”

“Pada titik ini, kumohon bersiaplah.”

“T-tapi, seharusnya ada cara lain untuk mengungkapkan rasa terima kasih tanpa harus menggunakan tiruan seperti itu!”

“Bicara soal cara lain, Suzuka-sensei, apa yang akan kamu sarankan?”

“Um, yah… bagaimana kalau membuat burung bangau origami?”

“Bukankah itu puncak dari rasa terima kasih yang tidak diinginkan? Yukito-kun, apa kamu ingin seribu burung bangau origami?”

Burung bangau origami? Itu memang pilihan yang meragukan apakah menerimanya akan membawa kebahagiaan.

“Aku mungkin akan kesulitan mencari tempat untuk menyimpannya. Jika aku harus mengirim seribu burung bangau origami kepada seseorang, aku akan melipat burung bangau dengan uang kertas 10.000 yen sehingga mereka bisa merobek seekor burung bangau saat mereka butuh uang. Mari kita sebut itu ‘Bangau 10.000 Yen!’”

“Ide-idemu terlalu ekstrem, Yukito-kun.”

Burung bangau origami memang terasa agak meregukan untuk dibuang, seperti semacam barang terkutuk.

“Tunggu sebentar! Kalau begitu, bagaimana dengan gantungan kunci pedang dan naga yang kubeli di tempat wisata tempo dulu?”

“Suzuka-sensei, tolong hentikan perlawanan yang tidak perlu. Kenapa Anda malah membeli benda seperti itu?”

Bunny Sanjoji-sensei dan Himiyama-san merengek sambil berjalan menuju dapur.

Puding spesial. Sebagai seseorang yang sangat menyukai makanan manis, harapanku setinggi Menara Babel.

“Yukito-kun, maaf sudah membuatmu menunggu. Ini puding spesialnya♪”

Himiyama-san membawakan sebuah nampan. … Puding? Aku memiringkan kepalaku dengan ekspresi bingung.

“Aku hanya melihat saus karamel… Apa ini puding yang memperdaya si bodoh!?”

Tidak peduli seberapa lama aku menatapnya, yang bisa kulihat di atas nampan hanyalah saus karamel.

“…Apa aku bertindak bodoh?”

“Samurai menertawakan kita yang telanjang, sang raja. Tunggu sebentar. Akan kulihatkan sekarang juga.”

Himiyama-san berkata begitu dan mengangkat dadanya dengan satu lengan di bawahnya.

Dari sana, dia menuangkan saus karamel di atasnya.

“Ayo, Suzuka-sensei juga.”

“Bagaimana caraku—!? Jika hal semacam ini terungkap, aku pasti akan dipecat!”

“Itu tidak akan terungkap.”

Sambil meratap, dia mengangkatnya. Sebuah troli dan saus karamel dituangkan di atasnya.

“Nah, Yukito-kun. Ini puding spesial. Silakan nikmati♡”

“Jika sudah begini, aku tidak peduli lagi! …Jika kamu ingin menikmatinya, s-silakan…”

Puding spesial raksasa yang megah (total empat buah) telah selesai dibuat.

Dengan warna kulit yang mengilap dan kencang, saus karamel yang harum, serta sedikit campuran buah persik di dalamnya, semuanya menciptakan pola marmer yang memukau. Aku bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa ini pasti sangat lezat!

“…Um, begini, sebenarnya, aku lebih suka puding panggang.”

“Begitukah? Kalau begitu aku harus pergi ke salon penyamakan kulit.”

Himiyama-san dengan kulit kecokelatan mungkin juga luar biasa, tapi bukan itu maksudku!

“…Ah, sudah waktunya aku makan puding buatan ibu. Aku harus pulang.”

“Katanya selalu ada ruang untuk makanan manis, bukan?”

“Makanan manis memiliki lambung yang sama! Bisakah aku melahap puding yang tampak lezat dan matang sempurna itu sekarang aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

“Akulah yang ingin berteriak…”

Wajah Sanjoji-sensei berubah menjadi merah padam saat dia mengerang.

Insiden kerusuhan Puding, alih-alih kekacauan beras, untuk sementara telah mereda.

Eh, apa itu tadi lezat? Jika kamu ingin tahu, silakan transfer jumlah yang ditentukan ke rekeningku.

“Omong-omong, aku sedang berpikir untuk melanjutkan perawatan kesuburan.”

Aku merasa lega mendengar perkataan Himiyama-san. Ini adalah satu lagi penyesalannya yang belum terselesaikan. Apa yang bisa kulakukan untuknya hanya sebatas satu aspek saja. Itulah mengapa aku menyiapkan panggung di penginapan dan meminta kerja sama dari Presiden Urahara. Jika itu telah membuahkan hasil, maka itu jauh lebih baik.

Sejak saat itu, Himiyama-san mampu menangani tugas bimbingan belajarnya dengan baik. Dia tampaknya bercita-cita menjadi seorang guru di masa depan. Himiyama-san telah merebut kembali impiannya. Sekarang saatnya mendapatkan kembali harapan.

“Baguslah. Kudengar kamu sudah kembali ke jalur yang benar.”

Aku tidak tahu tentang masa lalu antara Himiyama-san dan Presiden Urahara. Saat aku sedang melakukan kerja sukarela, dia sempat menyebutkan bahwa dia mungkin tidak benar-benar menginginkan seorang anak.

Mungkin itulah alasan dia tidak bisa hamil. Entah itu hal gaib atau kenyataan, aku tidak tahu.

Tapi sekarang, jika dia telah mengatasi masa lalu, kali ini, dia mungkin benar-benar memiliki perasaan tersebut.

“Yukito-kun, maukah kamu menemaniku untuk menjalani perawatan kesuburan?”

“Tentu saja, itu hal sepele.”

Aku tidak tahu apa saja yang terlibat dalam perawatan kesuburan, tapi Presiden Urabara adalah pemilik sebuah penginapan mapan di Kyoto.

Bagaimanapun juga, jaraknya cukup jauh. Sulit untuk selalu berada di sisi Himiyama-san. Meski begitu, hal terbaik yang bisa kulakukan adalah menemaninya ke rumah sakit.

“…Bagaimana bisa kamu menjawabnya dengan begitu mudah, Yukito-kun?”

“Eh?”

Sanjoji-sensei tersipu. Ada apa? Jika ada sesuatu yang bisa kulakukan, aku tidak akan menolak untuk membantu, kan?

“Yukito-kun, aku belum berbaikan dengan Mikiya-san.”

“Begitukah? Huh? Kalau begitu, bagaimana dengan perawatan kesuburannya, apa maksudnya—”

Himiyama-san mengangkangi pangkuanku dan duduk. Kami berada dalam jarak yang cukup dekat untuk saling berhadapan secara intim.

Tubuhnya yang memikat merenggut pandanganku. Aku dibuat bingung harus mengarahkan pandangan ke mana dan akhirnya menjadi pengamat yang canggung.

Dalam jarak yang sangat dekat hingga hidungku bahkan hampir menyentuh dadanya. Feromon yang pekat melumpuhkan pikiranku.

“Kalau begitu, apa kamu akan memberiku hadiah?”

“Sudah kubilang begitu. A-Ada apa, Himiyama-san? Kamu tampak lebih dekat dari biasanya…”

Segala sesuatu ada batasnya. Mengatakan sesuatu seperti ingin cetak ulang atau adaptasi anime itu merepotkan.

“Aku menginginkannya… anakmu.”

“Apa?”

Bahkan dengan pendengaranku yang tajam terhadap suara nyamuk sekalipun, aku tidak dapat mendengarnya.

“Bisa katakan sekali lagi?”

“Kubilang, aku menginginkannya.”

“Apa yang sedang kamu bicarakan?”

“Seorang anak.”

“Milik siapa?”

“Milikmu.”

“Hmm?”

Himiyama-san tersenyum dengan kecantikan yang mampu menjungkirbalikkan negara. Akal sehatku membunyikan alarm.

“Sanjoji-sensei, bisakah Anda menerjemahkan untukku—nnn—!”

Himiyama-san menciumku setelah meminta bantuan kepada sang penutur bahasa. Saling bertukar air liur. 1 HIT

“Puh! A-Apa yang sedang terjadi, Himiyama-san――!”

Dicium. 2 HIT

“Pertama, tenanglah――Chu, n――Lidahmu――!”

Dicium. 3 HIT

“Baiklah, aku mengerti. Akan kuberikan keuntungan pemegang saham ini kepadamu――Nn――!”

Dicium. 4 HIT

“Hei, Yukito-kun. Apakah kamu memahami perasaanku?”

Kedua tangannya memegang wajahku, dan aku dicium dengan penuh gairah lagi. 5 HIT KO! Bang, bang, bang.

“Haa, haa… Sebenarnya apa…?”

Jika aku tidak dilatih oleh ibu dan kakak perempuanku, aku pasti sudah pingsan. Mata Himiyama-san basah, bibirnya berkilau, dan pipinya merona merah.

Ekspresi seperti orang yang melayang dalam demam. Warna dan aroma yang pekat memenuhi ruangan di setiap detiknya.

“Aku mencintaimu… Ini salahmu, Yukito-kun. Karena kamu berusaha sangat keras untuk menyelamatkanku. Andai saja kamu membiarkanku sendirian, aku akan baik-baik saja. Tapi kamu menunjukkan padaku harapan yang telah kulepaskan――”

Air mata mengalir. Air mata hangat, berbeda dari yang kulihat di kamar rumah sakit itu.

“Andai kita tidak pernah bertemu.――Aku sempat berpikir begitu. Karena jika aku sangat mencintaimu, emosiku, tubuhku, semuanya menginginkan kehangatanmu. Aku ingin menunjukkan segalanya tentang diriku kepadamu.”

Di balik senyuman yang runtuh terdapat wajah yang selama ini ia sembunyikan. Menelanjangi hati dan tubuhnya. Himiyama-san benar-benar telah menyerahkan segalanya. Itu adalah tekad yang kuat.

“Di sini, hal-hal hangat disuntikkan ke sini, dan kehidupan yang tercipta di antara orang-orang yang saling mencintai berakar. Tidakkah kamu pikir itu sangat misterius dan merupakan anugerah dari Tuhan? Aku percaya pada keajaiban bersamamu――”

Dia dengan lembut menyentuh perut bagian bawahku dengan tanganku, dan itu tanpa diragukan lagi adalah sebuah keajaiban.

Aku kehabisan kata-kata. Seorang pria yang lemah dan tidak berpengalaman sepertiku, Yukito Kokonoe, tidak bisa membalas hal ini.

“Kamu masih di bawah umur, dan melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab seperti itu… Seharusnya hal itu tidak diperbolehkan.”

Hal itu seharusnya tidak diperbolehkan. Di balik semua itu bukanlah sebuah berkah, melainkan hanya kesedihan yang meluas.

“Itulah sebabnya aku mempercayaimu, Yukito-kun. Kamu boleh menikmati tubuhku, tetapi kamu memikirkan kebahagiaanku. Kamu tidak memilih jalan yang membuat seseorang tidak bahagia. Tapi, kau tahu, sama seperti kamu yang mengabdikan dirimu padaku, aku ingin mengabdikan diriku padamu. Aku ingin membuatmu lebih bahagia daripada orang lain.”

Aku telah dimanjakan oleh Himiyama-san selama ini. Hubungan yang melangkah lebih jauh dari itu.

“Yukito-kun. Hari ini aku sedang berada di hari yang berbahaya.”

“Apakah itu hari pembayaran cicilanmu? Aku sudah bilang padamu untuk berhenti menggunakan sistem pembayaran cicilan.”

“Bukan, bukan itu maksudnya. Hari ini adalah hari di mana aku sangat subur dan mudah hamil. Tapi, kamu kan masih di bawah umur. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu dua tahun lagi. Aku tidak akan menahan diri lagi begitu kamu sudah dewasa, Yukito-kun.”

Usia dewasa baru saja diturunkan dari dua puluh menjadi delapan belas tahun. Dengan kata lain, jalur pelarianku telah ditutup oleh negara. Negara ini benar-benar busuk!

“Aku adalah pasanganmu, Yukito-kun. Jadi, kumohon. Kumohonhamili aku?”

Mulut adalah sumber malapetaka. Diriku di masa lalu telah melintasi ruang dan waktu untuk melenyapkanku.

“Jangan khawatir. Aku tidak akan membebanimu, Yukito-kun. Aku ingin kamu mengakuiku, kakekku juga akan menyambutmu, dan yang terpenting, ini adalah wujud cinta kita. Seorang bayi yang bagaikan malaikat pasti akan lahir.”

Fufufufu, Himiyama-san tertawa kecil sambil cekikikan. Masa depan tampak begitu cerah.

“Tapi, kau tahu, Yukito-kun. Dua tahun adalah waktu yang mencemaskan bagi kita. Bahkan Suzuka-sensei benar-benar akan berusia kepala empat. Aku tidak punya waktu luang untuk bersantai, tahu?”

Sanoji-sensei bergetar seolah sedang menggigil. Hmm? Aku merasakan kejanggalan. Kita?

“Kenapa Sensei?”

“Meskipun kamu menunjukkan ciuman yang melelehkan hati seperti itu, aku tidak akan goyah! Apakah aku sedang berjalan sesuai dengan harapan Misaki…? Aku akan bertemu pria hebat melalui kegiatan mencari jodoh dalam dua tahun! Jangan remehkan kemampuan mencocokkan jodohku!”

“Jika yang dicari pria hebat, dia ada tepat di depanmu. Benarkan, Yukito-kun?”

Dicium di sekujur wajah.

“E-Ehm, ya.”

Tidak mampu melawan Himiyama-san, daun telingaku digigit dan dikulum dengan manis olehnya.

“Ngomong-ngomong, ibuku bilang kalau pasar pencarian jodoh sedang dipenuhi oleh wanita yang jumlahnya belum pernah terjadi sebelumnya, terutama para wanita berusia kepala empat, dan keadaannya jadi menyedihkan. Batas usia wanita yang dipotong oleh pria yang mencari jodoh adalah tiga puluh empat tahun, dan itu karena sebagian besar pria yang berpartisipasi dalam kegiatan mencari jodoh menginginkan keluarga dan anak.”

Pasar pernikahan akhir-akhir ini tampaknya dipenuhi oleh wanita paruh baya berusia kepala empat. Para wanita paruh baya yang berharap menjadi ibu rumah tangga tidak bisa berkompromi soal penghasilan yang mereka cari dari pria, itulah sebabnya mereka adalah batasan usia terakhir yang diinginkan oleh pria yang mencari jodoh, begitu katanya. Tapi bekerjalah!

Dalam hal itu, Sanjoji-sensei mungkin bisa menemukan pasangan dengan mudah.

“B-Begitu ya… Jangan-jangan aku sudah habis――…”

Terkejut dengan mata terbelalak, Sanjoji-sensei merosot, tampak begitu tertekan. Dia terlihat sangat menyedihkan dan nelangsa.

Sambil bergeser pelan, Himiyama-san berdiri dari pangkuanku.

“Ara ara, ini hanya dua tahun, Suzuka-Sensei. Aku penasaran apakah kamu benar-benar akan menemukan pasangan ideal yang bisa melewati rintangan setinggi itu. Aku menantikan untuk membesarkan anak bersama dalam dua tahun♪”

“Kuuuuuuu! Tapi, meskipun aku punya hubungan seperti itu dengan seorang murid…”

“Dulu, ya. Lagipula, begitu kamu menjadi orang dewasa, tidak ada yang peduli tentang hal semacam itu. Selain itu, mengingat usia untuk program kehamilan, secara biologis sudah wajar jika pasangan yang lebih muda itu lebih disukai. Dan pemuda ini sangat menarik. Jika kamu melepaskannya, kamu akan menyesal, bukan?”

“…Kuh! Jangan goyah oleh Misaki-san, Suzuka! Kuasai dirimu…!” (Sanjoji)

“Kalau begitu, bagaimana kalau berciuman untuk menegaskan perasaan kalian?”

“H-Hal seperti itu…”

Teknik door-in-the-face yang lihai: mengajukan permintaan yang besar, lalu menyusulnya dengan permintaan yang lebih kecil setelah ada perlawanan. Sanjoji-sensei menolak dengan putus asa. Aku memutuskan untuk melupakan segala hal yang terjadi di tempat ini.

Hahahaha. Aku masih punya dua tahun. Dua tahun, itu sudah cukup! Dalam dua tahun, aku pasti bisa mengaturnya entah bagaimana.

Begitu aku sampai di rumah, aku akan menangis dan mencari pelipur lara dari Ibu. Aku ingin dia mengelusku dengan lembut.

Uwaaaaaaan! Aku takuuuuuuut sekali!

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *