Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V4Ch3_ Struggle in the Hot Water Part 1 Bahasa Indonesia
V4Ch3: Perjuangan di Air Panas Bagian 1
Penerjemah: Soafp
[Sudut Pandang Himiyama] *Ini terjadi di masa lalu.
Aku membuka pintu kelas dengan tangan yang gemetar. Yang menanti bukanlah sambutan, melainkan cemoohan.
Aku tahu ini akan terjadi. Aku sudah siap. Mungkin sedikit lebih baik karena tidak ada caci maki yang dilontarkan kepadaku.
Enggan untuk melangkah masuk, kakiku melemas, tapi aku tidak bisa terus berdiri diam. Aku memasuki kelas, menundukkan kepalaku, menghindari kontak mata dengan para murid. Tatapan mereka membuatku gemetar.
Gelombang kebencian yang sangat besar melonjak. Aku, yang hanya seorang guru magang, tidak akan dihormati. Baru beberapa hari yang lalu, ada kehangatan terhadapku, bahkan sedikit rasa sayang dari para murid. Sekarang rasanya seperti masa lalu yang begitu jauh. Cita-cita yang kujunjung tinggi, bayangan masa depanku, semuanya hancur berkeping-keping. Aku berdiri di sini di atas podium, terlalu malu untuk bahkan disebut sebagai seorang guru.
Aku tidak dibutuhkan oleh siapa pun, tidak diinginkan oleh siapa pun. Bagaimana bisa seseorang sepertiku membimbing anak-anak? Sebaliknya, aku justru bisa berakhir menyakiti mereka, sudutkan mereka, dan menghadapi pembalasan.
Ada perbedaan besar dalam kepekaan antara orang dewasa dan anak-anak. Luka yang ditorehkan di hati bertahan seumur hidup. Luka yang kurasakan saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang pasti telah ia lalui. Aku tidak punya hak untuk mengeluhkan situasi ini. Itulah sebabnya berdiri di sini terasa seperti hukuman.
Melarikan diri bukanlah pilihan. Dia tidak pernah lari. Dia menghadapi semuanya, bahkan jika itu berarti membuat semua orang menentangnya, demi membuktikan kebenarannya. Betapa tangguh hatinya.
Tanpa bahkan mampu melihat ekspresi anak-anak, aku mulai menulis di papan tulis.
Aku merasakan sesuatu menghantam punggungku. Itu adalah sensasi dari potongan penghapus kecil yang berserakan.
Cengkeramanku menguat pada kapur tulis, dan kapur itu patah. Kapur itu hancur berkeping-keping, dan debu putih berterbangan di udara.
Hatiku, seperti kapur ini, dengan mudahnya hancur. Dia pergi tanpa mengakui surat permintaan maaf itu, tanpa bahkan melirikku, dan pada saat itu, aku menyerah pada impianku.
Kekecewaan yang begitu mendalam pada diri sendiri karena merasa begitu tersesat dan hancur. Aku adalah wanita yang konyol dan menyedihkan. Jenis pendidik terburuk. Hanya orang dewasa yang berbahaya, menanamkan niat jahat, dan hanya meninggalkan kebencian di belakang.
Tawa bergema. Entah itu halusinasi atau nyata, itu tidak masalah. Aku akan menerimanya begitu saja dengan rela.
Aku tidak bisa menutup telingaku. Tapi aku juga tidak sanggup menghadapinya.
[Ini semua salahmu. Andai saja kau tidak ada di sini. Kuberharap kau tidak pernah datang.]
[Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah. Menghilanglah.]
[Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati.]
Apakah ini kutukan? Bukan. Ini adalah harapan yang sebenarnya dari para murid. Keinginan tulus mereka.
Aku menggigit bibirku. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangis, tapi aku tidak bisa menahan air mata yang meluap.
Jika aku berbalik sekarang, aku akan dibunuh. Jika itu adalah harga untuk pengampunan, jika itu yang membuat segalanya lebih mudah, aku mendapati diriku hampir ingin berpegang pada pemikiran itu. Sungguh menyebalkan betapa pengecutnya diriku. Anak-anak yang dulu kusebut kini merasa ketakutan padaku, dan yang bisa kulakukan hanyalah gemetar ketakutan.
“—Pengecut.”
Kata-kata itu menusuk dari belakang. Aku tidak salah dengar suara itu. Itu adalah dia.
Menyalahkanku, mencoreng kehormatanku, merenggut tempatku, mencoba menyeretku ke dalam rawa kebencian.
Tidak peduli betapa aku dibenci, aku bahkan tidak bisa membuat alasan. Bahkan ibunya pun tidak mempercayainya.
Aku bertanya-tanya, apakah dia merasa putus asa pada saat itu? Pertemanan yang telah ia bangun di kelas ini, ikatan yang telah ia bina dengan keluarganya, dan ikatan yang telah ia bentuk dengan mereka, semuanya hancur dan dihancurkan olehku setelah hanya seminggu mengenalnya.
Betapa berat dosa itu, aku bahkan tidak bisa mulai membayangkannya.
“…Ah… Ah…”
Tidak sanggup menahannya lagi, merasa ingin menyerah pada segalanya, aku berbalik karena dorongan sesaat.
Dia hanya sedang menatapku. Dengan mata yang tanpa kehidupan dan transparan itu.
Kata-kata tertahan di tenggorokanku. Aku lupa cara bernapas, bahkan kesulitan untuk menghirup udara. Aku mengulurkan tangan, mencari penyelamatan, dan kemudian aku kehilangan kesadaranku.
Penglihatanku menggelap. Suara bising bergemuruh, dan kesadaranku kembali.
Benar, ini adalah bagian obstetri. Persalinan pertamaku. Kegugupan dan kegembiraan yang luar biasa.
Aku merasa bangga atas apa yang telah kulakukan. Bayiku, akhirnya berada di dalam pelukanku.
Selama sepuluh bulan, aku merasa sangat bahagia. Setiap hari terasa seperti keabadian. Aku tidak pernah tahu bisa ada momen yang begitu membahagiakan dan dinanti-nantikan. Setiap hari, ada perubahan pada tubuhku. Perutku yang semakin membesar.
—Gerakan kehidupan. Mengalami keajaiban yang mirip dengan misteri, meskipun itu adalah tubuhku sendiri.
“Aku… aku telah menjadi seorang ibu, bukan?”
Kata-kata terucap begitu saja. Aku diselimuti oleh rasa lega. Emosi yang meluap-luap. Aku tidak cacat.
Naluri memahami perasaan ini sebagai keibuan. Dadaku terasa nyeri. Nutrisi untuk sang bayi.
Terguyur oleh rasa puas dan pencapaian, bahkan setelah kehilangan impian-impianku, harapan masih tetap ada di dalam diriku.
Aku didorong oleh sebuah dorongan untuk segera memeluk bayi ini. Ada sebuah fenomena yang disebut imprinting di mana seekor anak ayam menganggap makhluk pertama yang dilihatnya sebagai induknya; aku ingin menjadi sosok itu bagi bayiku. Karena dia sangat berharga bagiku. Jika aku menyentuh eksistensi mereka, aku seharusnya bisa memberikan semua kasih sayang dan cinta yang lebih dari siapa pun di dunia ini.
“Kenapa… Tidak ada seorang pun di sini…?”
Memindai ruangan dengan panik, tetapi tidak ada siapa pun di kamar rumah sakit kecuali aku. Tidak ada suara-suara sambutan. Terlebih lagi, tidak ada satupun anggota keluarga, bahkan pasangan yang seharusnya menantikan momen ini dengan penuh semangat, yang berada di sini. Aku bahkan tidak bisa mengingat wajah pasanganku.
Dinding putih yang steril itu memperparah kecemasanku luar biasa. Hanya ada kesepian di sana.
Pintu kamar rumah sakit terbuka. Seorang bayi baru lahir digendong oleh seorang suster.
Aku mengambil bayi itu ke dalam pelukanku, merasakan debaran kegembiraan dan kecemasan.
“…Eh?”
Benda itu hanyalah gumpalan merah kehitaman. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Benda itu hidup, tapi bagaikan… monster.
Ciptaan gagal yang lahir dari produk yang cacat. Matanya yang aneh, menggeliat, dan mengerikan mengenali diriku.
“Apa… ini…? Tidak, tidak, TIIIIIIDAAAAAAAK!”
Mengeluarkan jeritan kesakitan yang hampir seperti jeritan primal, aku kembali kehilangan kesadaran.
“Aku bermimpi tentang masa lalu. Sudah lama sekali aku tidak memimpikannya.”
Aku bangkit duduk di atas tempat tidur. Kulitku terasa tidak nyaman, basah oleh keringat.
Mimpi buruk yang berulang itu selalu meninggalkan rasa pahit yang tertinggal, sangat merusak suasana hatiku.
“Diriku di dalam mimpi tampak lebih normal… ironis, bukan?”
Setidaknya di dalam mimpi, aku mampu menikah dan memiliki anak. Hal itu saja sudah membuat diriku versi mimpi jauh lebih normal daripada kondisiku saat ini. Aku tersenyum ironis.
Ekspresi yang terpantul di cermin itu membuatku jijik. Aku tidak ingin melihat wajah ini—atas penilaian siapa?
Oh benar. Alasan aku tidak disiksa oleh mimpi buruk adalah karena reuni dengan Yukito-kun.
Sampai saat itu, aku biasa mengalami mimpi buruk yang berulang. Mimpi-mimpi itu melumpuhkanku.
Karier yang kucita-citakan, impian untuk memiliki keluarga melalui pernikahan, semuanya lenyap.
“Jika terus begini, aku hanya akan menjadi perawan tua yang terkurung di kamar anak-anak, ya kan, Yukito-kun?”
Seorang wanita yang kelelahan dan tak bersemangat. Berjalannya waktu berbanding terbalik dengan kepadatannya. Menghabiskan waktu selama setahun dengan konten yang bermakna dan memuaskan membuatnya terasa panjang, tetapi menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan membuatnya berlalu dalam sekejap mata.
Sudah bertahun-tahun sejak aku membuat kenangan baru. Aku berpegang teguh pada ingatan yang pudar, bertahan hidup melaluinya.
Seorang pecundang sosial yang mengalami kegagalan dan terus mengalami stagnasi. Mayat hidup.
“Kau, kau… Kau harus—”
Aku mengulurkan tangan ke arah pantulan di cermin. Misaki, kau—diriku sendiri, maksudnya—mengajukan pertanyaan itu.
Kau memberiku keberanian untuk bangkit. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini selamanya.
Aku mandi untuk membersihkan keringat, memeluk tubuhku yang gemetar, mencoba membasuh rasa takut.
“Tidak apa-apa untuk bahagia, kan? Ini adalah kesempatan yang diberikan Yukito-kun kepadaku. Semuanya akan baik-baik saja—”
Aku tidak melakukan perzinahan, tetapi Yukito-kun-lah yang mengatakannya. Dia mengkhawatirkanku. Dia tidak ingin aku tidak bahagia. Dia bilang tidak apa-apa bagiku untuk merasa bahagia. Jika memang begitu—
Itu adalah pengampunan. Itulah yang paling kucari-cari selama ini, sesuatu yang hanya bisa kukatakan kepadanya, sesuatu yang hanya bisa ia berikan kepadaku.
Alasan aku mengalami mimpi buruk ini setelah sekian lama adalah karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya.
Dengan mengungkapkan segalanya, aku akan menjalani hidup dengan kedua kakiku sendiri sekali lagi. Aku akan merebut kembali masa depanku.
Aku mengeringkan tubuhku dengan handuk, lalu mengeringkan rambutku dengan pengering rambut. Dari sebuah kotak terkunci, aku mengeluarkan sepucuk surat yang sudah menguning. Surat yang tidak bisa kusampaikan. Aku tidak bisa membuangnya. Sama sekali tidak.
Wajah Suzuka Sensei menjadi begitu tenang dan lembut, seolah sebuah beban telah terangkat. Dia membawa kegelapan yang sama sepertiku. Namun, setelah itu, dia terus menghadapi anak-anak, bangkit tanpa lari dari kenyataan. Seorang wanita yang sangat kuat dan patut dikagumi.
“Aku tidak bisa meniru tekad atau semangatnya.”
Meskipun begitu, karena percaya bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan, aku akan melangkah maju.
“Aku tidak harus percaya pada diriku sendiri. Tapi aku telah memutuskan untuk percaya pada kata-katanya saja.”
—Menuju arah yang ditunjuk oleh tangan itu.
[Sudut Pandang Yukito]
Aku melipat surat yang sudah selesai dengan hati-hati dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Perasaan yang tertulis di dalam surat itu tetap terkunci rapat, tidak akan pernah dibuka.
Selama bertahun-tahun, perasaan yang tak terungkapkan pada hari itu tidak pernah memudar. Dan di dalam penjara momen itu, dia—Himiyama-san—tetap terkurung.
Ketika Sanjoji-sensei mengungkitnya, aku sedikit banyak menyadarinya. Namun aku memilih untuk tidak membahasnya karena Himiyama-san tampak menghindarinya. Jika dia bersikap ramah karena itu adalah pertemuan pertama kami, maka itu tidak masalah bagiku.
Sekarang kalau dipikir-pikir, ada kemiripan samar. Kenangan yang sudah lama terlupakan. Hanya satu dari sekian banyak episode biasa dari masa lalu. Tapi hal itu menghantuinya seperti kutukan. Dia menyesali kedalaman kesalahannya sendiri. Meskipun itu adalah hal biasa bagiku, tidak demikian bagi Himiyama-san.
“Aku minta maaf!”
Aku menundukkan kepalaku. Hanya itu yang bisa kulakukan. Waktu yang begitu banyak yang terbuang sia-sia, hari-hari yang dicurahkan untuk impiannya, harapan yang dia pendam, cita-cita yang dia junjung tinggi—semuanya diinjak-injak olehku. Aku telah memutarbalikkan masa depan Himiyama-san. Tidak ada alasan yang bisa kukatakan.
“Berhentilah, Yukito-kun. Akulah yang seharusnya meminta maaf. Aku pikir segalanya bisa tetap seperti ini. Aku percaya bahwa jika aku bisa akur denganmu tanpa menyadarinya, aku akan puas. Tapi aku tidak bisa melangkah maju dengan cara seperti ini…”
Himiyama-san membungkuk dalam-dalam. Sebuah kenangan kabur. Hari itu, aku tidak menerima surat yang dia ulurkan kepadaku.
Tidak ada alasan penting. Aku tidak peduli dengan isi surat itu, dan itu tidak akan mengubah apa pun. Bagaimanapun juga, dia akan meninggalkan sekolah. Aku sama sekali tidak tertarik.
Namun, kenyataannya berbeda. Surat itu memuat perasaan Himiyama-san. Bagaimana pun juga, itu tidak masalah. Bagaikan seorang hakim yang menjatuhkan vonis, entah untuk memaafkan atau menghukum adalah pilihanku, tetapi yang dibutuhkan adalah sebuah jawaban.
Namun, aku menundanya bahkan tanpa menerimanya. Aku melemparkannya ke dalam ketidakpastian.
Jika aku menerimanya, masa depan Himiyama-san pasti akan berubah. Dengan mengabaikan hal itu, aku tidak lebih dari seorang bajingan yang melakukan kekerasan emosional, yang mengikat Himiyama-san pada masa lalu.
“Jika aku menerimanya, Himiyama-san. Kamu pasti sudah mewujudkan impianmu dan sekarang, kamu sudah menjadi seorang guru, bukan?”
“Itu tidak benar! Pada saat itu, pada akhirnya aku ditakdirkan untuk gagal dalam hal lain. Jurang pemisah antara kenyataan dan cita-cita tidak dapat dijembatani, dan aku menyakiti seseorang. Sayangnya, orang itu adalah kamu, Yukito-kun. Aku, dengan ketidakdewasaanku, sama sekali tidak memenuhi syarat untuk mengajar anak-anak.”
“Meskipun demikian, jika kamu tidak bertemu denganku, ini tidak akan terjadi…”
“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan melebihi apa pun. …Ini adalah masa depan yang kupilih. Jadi kumohon jangan katakan itu. Tidak ada perlunya bagimu, Yukito-kun, untuk merasa khawatir.”
“…Begitukah?”
“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa percaya padamu pada saat itu. Seandainya aku lebih yakin, pastinya tidak akan ada seorang pun yang terluka. Jadi, mari kita akhiri pembicaraan suram ini sampai di sini!”
Himiyama-san mencoba mengubah suasananya dengan bertingkah ceria.
Hubungan yang kita miliki di masa lalu. Aku sudah merasa curiga terhadap tingkat kesukaan Himiyama-san yang terlalu tinggi sejak awal, tetapi alasannya sama sekali bukan sesuatu yang patut disyukuri.
Meskipun demikian, Himiyama-san berusaha untuk mengatasinya. Sosok orang dewasa yang patut dihormati ada di sana.
Aku dipanggil oleh Himiyama-san ke sebuah ruang rapat sewaan. Aku dipanggil karena dia ingin berlatih sebelum bekerja sebagai pengajar les privat.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Materi kelasnya ditujukan untuk anak sekolah dasar, jadi mungkin akan membosankan bagimu, Yukito-kun, tapi aku ingin kamu memerankan seorang murid.”
“Sikap itu, sungguh membuat bernostalgia.”
“Ini sedikit sentimental, ya? Aku tidak bisa melepaskannya… Aku yakin ada rasa penyesalan. Tapi aku merasa ingin mulai lagi dari sini.”
Sambil mengatakan itu, aku bisa melihat tangan Himiyama-san sedikit gemetar saat dia berdiri di depan papan tulis. Ketakutan atau gugup. Bisa jadi keduanya. Himiyama-san sedang berusaha mendapatkan kembali ketenangannya di hadapanku, penyebab dari situasi itu, dalam balutan setelan naif yang sama seperti yang ia kenakan hari itu.
Jika memang begitu, yang bisa kulakukan adalah… Berpikir seperti itu, mencoba meredakan ketegangan, mengusir ketakutan, aku bercanda seperti biasanya.
“Sepertinya pakaianmu hampir robek karena sesak, ya?”
Sangat menonjol sampai-sampai nyaris meledak. Jika ada guru seperti ini, pihak Komite Orang Tua dan Guru (PTA) pasti akan mengamuk.
“Ufufufu. Maksudmu aku sudah bertambah gemuk? Yah, kurasa mau bagaimana lagi. Sudah lama sekali. Bentuk tubuhku telah berubah, namun aku memaksakan diri mengenakannya. Hanya untuk hari ini.”
“Aku jadi bingung harus melihat ke mana.”
“Ara ara, kau ini murid yang bermasalah, ya? Kalau begitu, bisa kita mulai?”

Suasana pun mencair, dan aku dengan tenang mengikuti kelas Himiyama-san. Materinya adalah dasar-dasar yang sederhana, tetapi sesekali mengulang pelajaran seperti ini ternyata cukup menyenangkan. Terlebih lagi, karena ada perubahan dalam kurikulum, ada banyak topik yang menarik. Saat aku berkonsentrasi, aku menyadari ada ekspresi yang tak bisa dijelaskan di wajah Himiyama-san.
“Hei, Yukito-kun.”
“Ya?”
“Sungguh luar biasa memiliki murid yang begitu serius, tapi kalau kamu terlalu serius dan pendiam, itu justru membuatku cemas. Dan bersikap terlalu lihai juga tidak membantu untuk latihan.”
“Begitu ya. Masuk akal juga.”
Itu adalah pemikiran yang wajar. Tidak semua orang bersikap pendiam. Karena dia akan menghadapi berbagai tipe murid, mungkin ada beberapa yang memiliki kepribadian menyebalkan. Ini tidak membantu untuk latihan Himiyama-san. Yang diperlukan di sini adalah kemampuan akting.
“Aku mengerti. Kalau begitu, biarkan aku mencoba sesuatu. Sketsa murid: ‘Murid Menyebalkan.’”
“Kenapa kamu tiba-tiba membahas komedi?”
“Ya ya! Sensei, apa kamu punya pacar? Sekarang jomblo? Mau ngeteh bareng? Oh, apa orang-orang sudah tidak pakai kalimat itu lagi ya? Guehehe. Beritahu aku ukuran tiga bagian tubuhmu! Guehehe.”
“Perubahan karakternya yang begitu cepat sungguh mengesankan.”
“Serius deh, apa gunanya belajar? Kamu tidak akan pernah menggunakan pemfaktoran setelah terjun ke masyarakat nanti. Aku mau jadi rapper di masa depan. Cekidot!”
“Kamu benar-benar menyebalkan, Yukito-kun.”
“YO! YO!”
Aku telah berubah menjadi anak SD yang menyebalkan. Dunia ini kejam. Kadang-kadang kamu mungkin akan menemui murid-murid yang merepotkan. Jika kamu tidak bisa menangani situasi seperti ini, itu akan merepotkan di masa depan.
“Fufu… Fufufu. Benar. Jika kamu benar-benar ingin tahu tentang aku, mungkin hari ini adalah hari istimewa untuk kelas kesehatan dan pendidikan jasmani. Temanya adalah tubuh wanita. Fufufufufufufufufu.”
“Hah?”
“Jika kamu bertanya, aku pasti akan memberitahumu kapan saja.”
“Bukan, tunggu sebentar. Apaan?”
“Kalau begitu, ayo kita adakan pelajaran pribadi rahasia.”
“Itu jebakan!”
Kecerdasan Yukito sepertinya meningkat ▲
Stamina Yukito sepertinya menurun ▼
Lintasan Yukito sepertinya meningkat ▲
“Apaan itu lintasan!”
“Kamu tahu apa ini?”
“J-jangan sentuh-sentuh!”
Motivasi Yukito merosot tajam ▼
Ini neraka. Tidak ada ruang untuk bersikap ceroboh di sini.
Aku diam-diam mempelajari berbagai hal selama pelajaran kesehatan dan jasmani. Aku tidak bisa bilang apa, tapi itu sungguh mengesankan…
“Aku jadi khawatir dengan cara yang berbeda sekarang.”
“Jangan khawatir, Yukito-kun. Murid-murid di lembaga bimbingan belajar ini adalah anak-anak sekolah dasar. Masih terlalu dini untuk pelajaran kesehatan dan jasmani.”
Berbisik pelan di telingaku, ‘Ini khusus untukmu.’ Tidak ada rasa lega sama sekali di situ.
“Ngomong-ngomong, kapan kamu akan mulai mengajar?”
“Dalam tiga hari. Ini adalah lembaga bimbingan belajar swasta kecil, tapi reputasinya bagus.”
Tiga hari… Aku sempat berpikir untuk mengintip karena khawatir, tapi sayangnya, hari itu bentrok dengan liburan keluarga.
“Aku ingin merayakan debut Himiyama-san, tapi aku sudah punya rencana hari itu. Aku minta maaf. Mari kita adakan pesta besar setelah semuanya selesai. Sebuah pesta.”
Kalau dipikir-pikir, aku sangat bergantung pada Himiyama-san. Selalu ditraktir kue dan buah, bahkan keluarganya juga menjamuku. Rasanya canggung jika terus-menerus menerima kebaikan. Bagaimana kalau kita merayakan dimulainya pekerjaan barunya?
“…Hanya untuk sebentar saja, seperti ini. Aku tidak ingin kamu melihat wajahku sekarang.”
Dipeluk dengan lembut dari belakang. Entah itu keringat atau air mata, aku bisa merasakannya menempel di punggungku.
Aku tidak tahu seberapa besar tekad yang dimiliki Himiyama-san saat membuat keputusan itu. Aku tidak pernah memahami orang lain. Tapi aku tahu bahwa kehadiran seseorang di sisimu, yang menghiburmu, bisa mendatangkan ketenangan. Karena begitulah keadaannya dulu bagiku.
“Apakah kamu akan merayakannya?”
“Ya.”
“Apakah kamu akan mengabulkan permintaanku?”
“Ya, selama aku bisa.”
“—Cium aku?”
“Ciuman ketahanan agak… Itu terlalu membuat kehabisan napas…”
“Jika itu bukan ciuman ketahanan?”
“Itu adalah wilayah yang belum terpetakan.”
“Bagaimana kalau kita mengalaminya bersama?”
“Jika aku menjawab ini, apakah ini akan mengarah ke rute yang berbeda?”
Pintu terbuka dengan bantingan keras. Sanjoji-Sensei masuk.
“Misaki-san, sudah lama tidak jumpa. —Tunggu, sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan!?”
“Pelajaran privat rahasia. Guehehehe.”
“Ini sama sekali tidak pantas!”
Setelah itu, Sanjoji-Sensei menceramahi kami dengan keras, tapi sepertinya Himiyama-san dan Sanjoji-Sensei kini telah menjadi teman dekat. Aku dengar dia datang untuk mendukung kembalinya Himiyama-san sebagai instruktur les. Sanjoji-Sensei akan bergabung dengan kami untuk merayakan dimulainya pekerjaan tersebut.
Kalau dipikir-pikir, bukan hanya Himiyama-san, tapi aku juga telah menimbulkan banyak sekali masalah bagi Sanjoji-Sensei.
Dan bukan itu saja. Sepertinya aku selalu saja merepotkan orang-orang di sekitarku.
—Rasanya hampir seolah-olah keberadaanku membawa kesialan.
“Aku sudah muak dengan permainan sederhana ini. Mari kita berhenti.”
Aku menghapus instalasi permainan aplikasi ponsel pintar yang sedang kumainkan untuk membunuh waktu. Aku tidak bisa terus melakukan ini. Yang benar saja, permainan tentang mengumpulkan pahlawan wanita daerah dari seluruh penjuru negeri?
“Dapat ‘Kanhen’ lagi? Aku sudah selesai.”
“Kanhen” adalah kesalahan umum dalam penyesuaian tingkat kesulitan permainan. Di permukaan, hal itu tampak seperti argumen yang masuk akal, karena para kreator ingin para pemain menikmati sepenuhnya apa yang telah mereka buat. Namun, pada kenyataannya, hal itu sering kali berujung menjadi elemen yang tidak dapat dibenarkan atau berlebihan yang memaksakan stres dan kerumitan yang tidak perlu. Akibatnya, itu menjadi pola kegagalan yang tidak populer. Maraknya penyesuaian yang merepotkan seperti itu sangatlah bermasalah. Sederhana itu lebih baik, bukan?
Aku dengan santai memasukkan ponselku ke dalam saku. Ketika aku mendongak, seorang wanita yang sedikit lebih tua yang luar biasa cantik sedang menatap tajam ke arahku dengan ekspresi pahit. Itu benar-benar tatapan tajam 45 derajat.
Hii! Dia mencoba membunuhku dengan kekuatan matanya.
“Kenapa kamu tidak menyentuhnya?”
“Aku akan sangat berterima kasih jika kamu bisa menjelaskan sedikit lagi…”
“Kita sudah sampai?”
“Ayo, kita pergi?”
Ibu mendesakku untuk turun, dan kakakku menurunkan kakinya, yang tadinya berada di atasku pangkuanku, kembali ke lantai.
Kami berada di dalam kereta. Kereta cepat. Cepat sekali!
Hari ini adalah liburan keluarga yang sangat dinanti-nanti dan menyenangkan.
Ibu dan kakakku duduk berdampingan di deretan empat kursi, menghadap ke arahku. Dan di sebelahku ada bagasi kami. Tidak apa-apa, tapi entah kenapa, begitu kereta mulai bergerak, kakakku yang duduk tepat di hadapanku, melepas sepatunya dan meletakkan kedua kakinya di atasku pangkuanku.
Apa aku ini sandaran sumpit?
Dia adalah malaikat agung. Kontribusiku tidak pernah cukup. Bukan sandaran kaki, melainkan bangku kaki, diam-diam mengabaikannya, meskipun aku merasa ada ketidakpuasan.
“Aku menaruhnya di sana karena aku pikir kamu ingin menyentuhnya.”
“Bagaimana sebenarnya caramu melihatku?”
“Fufu, Yuri itu, tahu sendiri, sebenarnya pemalu.”
“Aku tidak pernah mendengar cerita seperti itu di sekolah.”
“Ini khusus untukmu.”
Ibu, yang tertawa dengan ceria, membocorkan rahasia itu kepadaku.
Tanpa diduga, sebuah fakta baru terungkap. Bodohnya, aku bertanya kepada kakakku.
“Begitukah?”
“Benar.”
“Aku tidak tahu soal itu.”
“Memang.”
“Kenapa kau berasumsi aku ingin menyentuh?”
“Ha?”
“Aku ingin meraba, tahu!”
“Jujur saja pada diri sendiri.”
“Ya.”
“Kalian berdua, berhenti bermain-main dan cepat turun.”
Didorong oleh ibuku, aku tak berdaya menghadapi hati mulia sang malaikat agung, yang tak mampu kugapai.
Setelah melewati gerbang tiket, itu adalah area bersalju.
Yah, tidak juga—hari itu cerah seperti hari musim panas biasa, tetapi udara segar dan pemandangan yang asing menghadirkan pengalaman yang benar-benar berbeda dari kehidupanku sehari-hari.
“Aku bisa merasakan suasananya begitu kita keluar dari stasiun.”
“Berapa jauh lagi dari sini?”
Ibu dan adik perempuanku mengobrol bolak-balik.
Kali ini, ini adalah perjalanan pemandian air panas tiga hari dua malam. Karena Ibu tiba-tiba mendapatkan libur panjang, kami memutuskan untuk merencanakan berbagai hal demi memanfaatkannya sebaik mungkin. Secara pribadi, aku punya banyak hal yang harus kulakukan.
Meskipun menginap di Ryokan sangat menyenangkan, untuk saat ini, tujuannya adalah bersantai di pemandian air panas dan melepas stres sehari-hari. Aku ingin Ibu menyegarkan kembali dirinya.
Sambil mengamati dari kejauhan, aku melihat es krim lembut berwarna mencolok yang sering ditemukan di tempat-tempat wisata dan langsung pergi untuk membelinya. Aku harus membeli tiga, satu untuk masing-masing dari kami.
Area stasiun dipadati oleh kerumunan orang, hal yang wajar mengingat saat itu adalah periode liburan musim panas.
Aku sekilas melihat pelancong lain yang mirip dengan kami, dan ada kehebohan yang meluap-luap di sekeliling.
Saat aku kembali ke dekat ibu dan adikku, entah bagaimana mereka membentuk kelompok beranggotakan 2 orang. Dua mahasiswa berpenampilan keren sedang mengobrol dengan mereka dengan akrab.
Apakah itu… jangan-jangan mereka sedang mencoba mendekati mereka? Dalam waktu singkat ini, sungguh mengesankan…
Baik ibu maupun adikku sangat cantik. Saat mereka berdiri berdampingan, mereka tampak seperti sepasang saudari yang cantik. Kalau dipikir-pikir, pertemuan semacam ini selama perjalanan mungkin adalah esensi dari bepergian. Mengingat ibuku seorang *single*, dia mungkin secara tak terduga akan menemukan pasangan yang baik. Aku belum pernah pergi liburan keluarga sebelumnya, jadi aku tidak tahu pasti, tapi ibu dan adikku tampaknya cukup berpengalaman dalam hal ini.
Haruskah aku tidak ikut campur? Kamu tidak pernah tahu di mana pertemuan takdir mungkin sedang menunggu.
Saat aku merenung sambil menjilat es krim lembut, ibuku menampilkan senyum sopan di wajahnya, tetapi adikku tampak terang-terangan tidak senang. Fumu.
“Aku membelinya.”
“Dari mana saja kamu, Yukito?”
“Aku pergi membeli ini. Ini untuk kalian.”
Aku mengulurkan es krim lembut yang kupegang di kedua tangan. Milikku sendiri sudah habis kuukus.
“Tunggu, apa kamu pacarnya?”
Dua pemuda yang mirip mahasiswa tiba-tiba menyela dan terkejut.
“Tempat sumpitnya.”
“—Eh, apa…?”
“Ya, pacarnya. Bukan urusan kalian. Ayo pergi, Yukito.”
“Maaf, tapi anak-anak sepertinya bukan tipeku.”
“Hei, tunggu sebentar!”
Ibu dan adikku mendorongku untuk berjalan.
Terjepit di kedua sisi membuatku merasa seolah-olah sedang dikawal. Bahkan UMA yang dibedah pun mungkin merasakan hal ini.
“Kami khawatir tentang kemana kamu pergi.”
“Kamu selalu menghilang begitu kami mengalihkan pandangan.”
“Aku melihat es krim lembut ini yang tampak tidak baik untuk tubuh dan secara impulsif membelinya.”
Aku membelinya dengan ketegangan turis yang biasa, tetapi rasanya tidak begitu enak. Sayang sekali.
“Itu kamu, Yukito. Kalau kita memperpanjang masalah ini, itu akan menimbulkan keributan.”
“Aku senang kedua orang itu baik-baik saja. Aku tidak mau perjalanan keluarga kita hancur.”
“Kamu bertingkah seolah-olah aku akan melakukan sesuatu.”
“Jangan melakukan hal yang berbahaya, ya?”
Ibuku tampak khawatir, dan adik perempuanku tampak bingung. Mereka sepertinya telah memastikan suatu hal. Aku sama sekali tidak dipercaya.
Yah, bahkan aku pun tidak akan tiba-tiba membuat keributan seperti itu!
Sejujurnya, aku sudah terlalu terbiasa menangani masalah semacam ini dengan lancar, jadi aku tidak bisa benar-benar membela diri.
“Aku sedang merenungkannya.”
“Orang yang tidak merenungkannya adalah orang yang mengatakan hal itu.”
“Baiklah, baiklah. Mari kita nikmati waktu kita!”
Setelah menunggu beberapa menit di halte, bus pun tiba.
Sesuai dengan reputasinya sebagai tempat wisata, bus-bus datang dengan sering di sini.
Saat aku melirik ke luar jendela bus, pemandangan pinggiran kota tampak agak seragam. Deretan toko besar seperti toko elektronik, pusat perbelanjaan, dan apotek berlalu secara berkala. Ini seperti sekilas bayangan dari masyarakat yang berpusat pada mobil. Kawasan perbelanjaan tampaknya ditakdirkan untuk mengalami kemunduran.
Namun setelah beberapa saat, pemandangan itu mulai berubah, menyingkapkan pola uniknya.
“Kita sudah sampai.”
Ibu berbisik pelan.
Di depan kami berdiri sebuah penginapan bergaya kuno namun menakjubkan.
Lingkungan sekitar dipenuhi dengan keunikan kuno yang terasa agak melintasi waktu.
Setelah turun dari bus, kami berjalan melalui kota pemandian air panas yang menawan selama beberapa menit.
Dan di sanalah kami, akhirnya tiba di tempat tujuan—‘Penginapan Kaihara’.
“Lihat, Yuri. Tempat ini indah, bukan?”
“Dan kamarnya bahkan memiliki pemandian air panas terbuka.”
Hmm, pemandangan ini sungguh menakjubkan. Aroma tatami-nya sangat menyenangkan.
Setibanya di kamar yang telah ditentukan, kami langsung meletakkan bagasi dan menjelajahi bagian dalam yang luas. Kamar bergaya Jepang ini dapat menampung hingga enam orang, memiliki ruangan berukuran sepuluh dan enam tatami, serta dilengkapi dengan kemewahan pemandian luar ruangan.
“Kita mendapatkan kamar yang luar biasa. Dan harganya bahkan tidak terlalu mahal.”
“Oh, benarkah? Apakah ada alasan khusus untuk itu?”
Kakakku melemparkan tatapan penuh tanya kepadaku.
Aku mengerti. Aku, Yukito Kokonoe, selalu mencari tahu tentang segalanya.
Rupanya, ‘Penginapan Kaihara’ telah mengalihkan fokusnya untuk lebih melayani wisatawan asing, mengantisipasi peningkatan permintaan kunjungan wisatawan. Sejumlah besar staf dapat berbicara dalam bahasa asing. Di seluruh penginapan, terdapat banyak papan petunjuk dalam bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Bahkan etika berendam di pemandian air panas ditulis dalam bahasa Inggris.
Meskipun memancarkan pesona kuno dari pemandian air panas tradisional, penginapan ini terasa sangat mengglobal. Ketidakseimbangan yang aneh semacam itu memiliki daya tariknya sendiri. Namun, bagi para pelanggan Jepang, pemandian air panas yang dipenuhi dengan bahasa asing mungkin terasa kurang memiliki suasana dan emosi.
Namun, dengan terhentinya perjalanan internasional saat ini, mereka tidak punya pilihan selain beralih menyasar pelanggan domestik. Kendati demikian, setelah melayani pasar internasional begitu lama, perubahan pendekatan yang mendadak tampaknya menjadi tantangan tersendiri, dan mereka sedang berjuang menghadapinya. Itulah kesimpulan dari penjelasan panjang tadi.
“Luar biasa juga ya.”
“Yah, kamarnya fantastis, dan pemandian air panasnya tanpa cela, kan?”
“Benar. Mungkin itu sedikit merusak suasana, tapi mari kita abaikan saja dan nikmati waktu santai.”
Kami duduk di atas bantal tatami, mengambil waktu sejenak untuk bernapas. Menyeruput teh perlahan-lahan.
“Pemandian umumnya bagus, tapi pemandian di kamar ini juga cukup luas dan sepertinya kita semua bisa muat di sana. Bukankah begitu?”
Entah kenapa, Ibu mengedipkan sebelah matanya, tetapi aku tidak dapat menangkap niat tersembunyi beliau, jadi aku hanya menanggapinya secara netral. Mungkin beliau berencana mandi bersama Kakak?
“Ya, mungkin saja.”
Mereka pasti sangat menantikan waktu mandi; perempuan benar-benar sangat menyukai pemandian.
Sambil dengan santai memeriksa khasiatnya, tampaknya pemandian air panas tidak hanya efektif untuk menghilangkan kelelahan dan menghangatkan badan, tetapi juga untuk neuralgia, nyeri otot, dan insomnia. Pemandian air panas sungguh luar biasa.
“Bagaimana kalau kita berfoto kenang-kenangan dulu?”
Kakak mengeluarkan ponsel cerdasnya. Membawa kamera DSLR akan terlalu berat untuk perjalanan. Itu hanya akan menjadi beban, dan kegunaannya pun akan terbatas.
“Aku akan mengajarimu pose yang sedang tren di kalangan anak SMA akhir-akhir ini.”
“Kamu bersikap persis seperti siswi SMA pada umumnya, Yuri-san…”
“Hah? Aku marah sekarang. Kalau kamu terus bersikap begitu, aku tidak akan segan-segan padamu.”
Mengikuti instruksi Yuri, aku mengambil berbagai macam pose.
“Kalau begitu, dari belakang, dekap aku erat-erat seolah kamu sedang memelukku, lalu remas pay*daraku dengan satu tangan. Tangan yang satunya lagi di sini …… dan kamu jangan lari. Lalu pasang senyuman jahatmu itu.”
“Pose macam apa ini? Aku punya firasat ini sangat tidak etis!”
“Apaan sih? Ini pose mirip sampul majalah *rotic doujinshi yang sedang sangat digandrungi di kalangan anak SMA zaman sekarang.”
“Ini adalah tanda pelanggaran moral publik yang serius!”
Alasannya adalah posisiku terpojok di dinding dan aku tidak bisa lari. Posisi tangannya benar-benar sangat buruk!
“Kalau begitu, ambillah foto, Ibu.”
“Ibu tidak tahu kalau pose itu begitu populer di kalangan gadis muda. Mungkin Ibu akan minta difoto juga.”
Ibu sama sekali tidak menaruh curiga. Betapa murninya dia…… Tapi berhati-hatilah terhadap penipuan dan semacamnya, ya?
“Entahlah, akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menyatakan cinta padaku lagi, dan kurasa aku harus menghancurkan otak mereka.”
“Tentu saja, ini sangat rahasia.”
“Entah kenapa aku merasa harus menghancurkan beberapa otak, mengingat ada peningkatan pernyataan cinta belakangan ini.”
“Tentu saja, ini sangat rahasia.”
Kira-kira apa kabar Mizuguchi-Senpai, yang bertekad untuk menyatakan cinta lagi?
“Ada apa? Kamu tidak ingin orang lain melihatku seperti ini?”
“Aku tidak masalah dengan itu. Ya.”
Yuri sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Aku akan melindungi kewarasan Senpai!
“Baiklah, giliran aku selanjutnya? Aku akan pamer di depan bawahanku.”
“Sebaiknya jangan.”
Pada akhirnya, kami juga berfoto bersama Ibu. Kira-kira apakah dia berniat menghancurkan kewarasan bawahannya juga…
Komentar