Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V4Ch2_ Midsummer Intruder Part 1 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V4Ch2_ Midsummer Intruder Part 1 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V4Ch2: Penyusup Pertengahan Musim Panas Bagian 1

Penerjemah: Soafp

[Sudut Pandang Misaki Himiyama]

Meleleh.

Kehidupan sehari-hari yang seharusnya membeku. Keseharian yang kukira tidak akan pernah berubah.

Aku telah menyerah. Impian yang tak terwujud, harapan yang tak terjawab.

Meskipun waktuku seharusnya tetap dingin dan membeku, emosi perlahan-lahan memudar, dan aku mendapati diriku semakin jarang tersenyum serta semakin jarang meratapi.

Aku kehilangan pandangan akan masa depan dan telah hidup tanpa tujuan begitu lama. Aku telah menerima kenyataan bahwa hal itu mungkin akan terus berlanjut seperti itu. Namun, hanya karena satu pertemuan.

Tidak, sebuah “pertemuan kembali.”

Sebuah panas, yang menyembur keluar, perlahan-lahan melelehkanku, mempercepat hari-hari yang telah mandek.

Perubahan iklim yang cepat selama zaman es. Peristiwa Dansgaard-Oeschger. [TL: Peristiwa Dansgaard–Oeschger (sering disingkat peristiwa D–O), dinamai dari para paleoklimatolog Willi Dansgaard dan Hans Oeschger, adalah fluktuasi iklim cepat yang terjadi sebanyak 25 kali selama periode glasial terakhir.]

Seolah-olah perubahan yang begitu dahsyat sedang terjadi dalam hidupku.

Panas yang membara. Apakah pertemuan kembali dengannya membawa perubahan bagiku?

Jika demikian, panas ini pasti adalah sesuatu yang tadinya tertidur di dalam diriku. Sesuatu yang telah kurungkup.

Aku tadinya mengira aku telah meninggalkan dan membuangnya. Tapi aku salah. Aku masih memilikinya di dalam diriku.

Seperti CO2 yang terperangkap di dalam air, panas semacam itu tertinggal di dalam diriku. Panas itu membara. Aku telah dengan sabar menunggu di lubuk hatiku yang paling dalam untuk hari di mana es itu akan mencair.

Es tebal sedang mencair. Zaman es akan segera berakhir.

Apakah boleh bagiku untuk bermimpi sekali lagi, untuk mengejar sebuah harapan?

Masa pencairan. Aku, yang seharusnya berada dalam keadaan terhenti.

—Gigigi, dengan suara berderit dan berkarat, jarum jam mulai bergerak.

“Sudah lama… bukan, Misaki? Apa kamu baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja. Meskipun Mikiya-san terlihat sedikit lelah.”

Persis seperti yang terlihat. Kata-kata pertama bukanlah tentang kegembiraan karena bisa bersatu kembali, melainkan kekhawatiran akan kesehatannya.

Mungkin itu karena kami berdua telah bertambah tua. Semuanya berbeda dari masa ketika kami hidup begitu sembrono. Tersesat dalam rentang waktu yang telah berlalu, aku mendapati diriku tenggelam dalam kenangan.

Aku menyambutnya masuk dari pintu depan. Aku tadinya berpikir tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Merasa canggung karena orang seperti itu berada tepat di hadapanku.

Mantan tunanganku yang sudah lama hilang, Mikiya Unabara, tampak sibuk atau agak kelelahan. Wajah dalam ingatanku tampak lebih bersemangat dan hidup, tapi aku akan menerima kenyataan bahwa dia juga telah melalui berbagai pengalaman. Aku tidak berniat menanyakan segalanya, tetapi sekarang setelah kami bertemu lagi, kenangan akan hari-hari yang kuhabiskan bersamanya bangkit kembali.

Seorang pemilik, presiden saat ini dari Penginapan Unabara. Dulu, dia masih seorang magang.

Putra sang pemilik penginapan, namun dia sudah menikah, agaknya dengan pemilik penginapan yang sekarang. Aku ingin tahu apakah ibunya dianggap sebagai pemilik penginapan utama sekarang.

Aku mungkin telah dipanggil dengan sebutan itu juga… Sulit bahkan untuk membayangkannya sekarang. Mungkin ada masa depan seperti itu, tetapi itu adalah masa depan yang tidak bisa kugapai.

Bagaimanapun, semuanya sudah berakhir. Hubungan dengannya telah lama terputus.

“Kupikir kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

“Kejam sekali.”

Dia tersenyum masam. Waktu yang cukup lama telah berlalu. Ada perasaan penyesalan yang tersisa, hal-hal yang belum diselesaikan, serta perasaan yang telah dibereskan dengan baik.

Emosi yang kukenakan untuk Mikiya kini telah menjadi cukup netral, tidak berdebar-debar maupun mengesalkan. Terutama tidak menyimpan emosi khusus apa pun.

“Tapi, aku terkejut. Menerima pesan darimu.”

“Aku hanya ingin melihatmu.”

Mendengar kata-kata yang sulit dipercaya itu, aku menatap lurus ke dalam matanya.

Sebuah jawaban ambigu yang tampaknya tidak sepenuhnya benar atau salah. Aku tidak cukup naif untuk menerimanya begitu saja.

“Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?”

“Aku memikirkannya! Tapi tetap saja, aku ingin melihatmu. Itulah kenapa aku datang ke sini.”

Aku dapat merasakan ketegangan pada ekspresinya yang kaku; dia pasti telah berjuang dengan caranya sendiri.

Beberapa hari yang lalu, dia meneleponku. Dia ingin bertemu dan berbicara. Dia mengatakan itu.

Betapa konyolnya. Jika itu terjadi beberapa waktu lalu, aku tidak akan pernah berpikir untuk menemuinya.

Kemarahan, kesedihan, dan bahkan kenangan yang menyenangkan telah berubah menjadi masa lalu berwarna sepia.

Sekarang, aku hanya penasaran kenapa dia, yang telah meninggalkanku, tiba-tiba ingin bertemu.

Aku ragu-ragu sejenak, tetapi aku memutuskan untuk menemuinya.

Dan baru saja, dia tiba-tiba mengirim pesan, “Bisakah kita bertemu karena aku sedang berada di dekat sini?”

Idealnya, bertemu di luar akan lebih baik, tetapi aku punya rencana, jadi aku tidak bisa pergi keluar, sehingga memutuskan untuk bertemu di rumah. Waktu kedatangan Mikiya benar-benar tidak tepat.

“Jadi, ada apa ini? Aku punya rencana hari ini. Aku tidak punya banyak waktu luang.”

“Begitu ya? Maafkan aku. Aku benar-benar sibuk, menghubungimu karena ingin bertemu, tapi aku tidak bisa menemukan waktu. Aku kebetulan sedang berada di dekat sini untuk suatu urusan, jadi aku pikir aku akan meluangkan waktu sejenak untuk melihat apakah kita bisa bertemu.”

Sambil tersenyum masam, dia menyeruput kopi tersebut. Aku menyeduhnya sedikit lebih kuat, sesuai dengan selera.

“Rasanya tidak asing.”

“Indra perasamu tidak berubah.”

Dulu, kami sering menyeduh kopi seperti ini. Kenangan tentang waktu yang dihabiskan bersama muncul kembali.

Meskipun perkataan Mikiya bukan merupakan sebuah jawaban, tidak ada gunanya menunjukkannya. Aku merelakannya dan mengarahkan pembicaraan. Hanya menikmati kenangan sedikit saja.

“Bagaimana kabar ibumu?”

“Dia baik-baik saja. Meskipun sekarang menjadi presiden, dia terus didesak keras setiap hari.”

“Dia tidak berubah. Itu cukup menenangkan.”

Percakapan terus berlanjut, berputar-putar tanpa arah. Tak satu pun dari kami benar-benar ingin membahas masalah semacam itu. Meskipun demikian, ada kebutuhan yang aneh untuk itu. Menjadi orang dewasa sungguh merepotkan; seseorang tidak dapat hidup tanpa kepura-puraan.

Aku tidak begitu ingin bertukar kabar terbaru, tetapi ini adalah sebuah formalitas. Meskipun sudah hancur berkeping-keping, mereka dulunya adalah orang-orang yang mungkin bisa menjadi keluarga. Bertemu seperti ini membuatku sulit untuk tetap bersikap acuh tak acuh.

“Kau tinggal di sini sendirian?”

“Ini apartemen satu orang. Tentu saja.”

“Benar juga… Eh?”

Matanya tertuju pada sebuah cangkir yang diletakkan di sudut meja.

Itu disiapkan untuk tamu asli yang kuperkirakan akan datang nanti. Karena kunjungan Mikiya adalah suatu ketidakberesan yang tak terduga, tidak ada waktu untuk merapikannya.

“Apa ini…?”

Dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Serta-merta, aku meninggikan suara karena khawatir.

“Jangan sentuh itu!”

Aku bingung dengan volume suaraku sendiri.

Dia tersentak dan mengembalikan cangkir itu ke meja.

“Maaf! …Apa kamu mau bertemu pacarmu nanti? Terakhir kali kamu bilang masih sendiri, makanya aku pikir aku boleh datang.”

“Bukan, bukan begitu. Lihat kotak kardus di sana itu? Komputer baru datang hari ini. Aku tidak mahir menggunakan mesin, jadi aku meminta seorang teman untuk merakitnya untukku.”

“Ah, begitu ya. Syukurlah.”

Dia tampak terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba, berusaha merangkai kata-katanya sambil melirikku.

Seorang teman. Aku mengatakannya, tetapi aku tidak dapat membayangkan dia akan menganggapku seperti itu. Lagi pula, usia kami terpaut terlalu jauh. Jadi, hubungan macam apa sebenarnya ini?

Tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya, tidak ada jawaban. Keadaan saat ini di mana Mikiya dan Yukito telah melupakanku; hubungan kami saat ini pada akhirnya hanyalah sebuah kepura-puraan. Berpura-pura, menyombongkan diri, menipu, menjadi tetangga yang tidak tahu apa-apa.

Lalu, tiba-tiba, kata-kata Mikiya terdengar ganjil di telingaku.

“Kenapa lega? Kenapa kamu merasa lega, Mikiya? Itu bukan urusanmu. Lagipula, apakah Istrimu tahu kalau kamu menemuiku seperti ini? Dia pasti tidak akan senang.”

Mikiya Unabara sudah menikah. Setelah dia meninggalkanku, dia diperkenalkan dengan seorang wanita melalui sang pemilik penginapan dan makcomblang mereka, wanita yang kemudian dinikahinya. Mereka telah memiliki anak dan semuanya berjalan mulus. Tidak ada kekhawatiran tentang pewaris.

Aku tidak membencinya, tetapi sebuah rumah, anak-anak, pekerjaan. Semua yang kuinginkan, dia memilikinya.

Itulah sebabnya aku bisa bilang bahwa aku memutuskan untuk menemui Mikiya seperti ini.

Semuanya sudah berakhir di masa lalu. Tidak ada yang akan berubah sekarang.

Namun, itu hanya sudut pandangku saja. Dari sudut pandang istrinya, suaminya yang menemui mantan tunangannya bukanlah sesuatu yang patut disyukuri. Dia mungkin akan mencurigai adanya perselingkuhan.

Sebagai seorang wanita, aku tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu. Aku tidak tahu untuk apa dia ada di sini, tetapi begitu urusannya selesai, aku mendapati diriku berharap agar dia segera pergi.

Namun kemudian, hal berikutnya yang dia katakan berada di luar bayanganku.

“Dia dan aku bercerai tiga tahun lalu. Kami mengalami masalah sampai akhir dengan ibuku. Anak-anak ikut dengannya. Aku ini seorang bodoh. Jika memang begitu, apa yang kulakukan bersamamu dulu…”

“Eh?”

Mikiya Unabara memusatkan tatapannya langsung kepadaku.

Dengan rasa penyesalan, dengan rasa bersalah, dia melontarkan kata-kata itu.

“Misaki, tidak bisakah kita mulai dari awal lagi?”

[Sudut Pandang Yukito]

Aku bangga menjadi seorang anak SMA yang sehat, tetapi bahkan saat liburan musim panas, apakah seorang anak SMA yang sehat benar-benar akan mengunjungi wanita kesepian di siang bolong? Tidak, mereka tidak akan melakukannya! Ah, tapi sekali lagi, Himiyama-san belum menikah, jadi dia bukan seorang “nyonya,” melainkan seorang “nona.” Fiuh, hampir saja.

Kecerobohan dalam hal semacam ini bisa memicu kemarahan wanita. Jika itu terjadi, akulah yang akan menerima kerusakan berat dengan kekuatan serangannya yang tinggi. Dia hanya akan kebingungan setelahnya (tidak juga).

Bagaimana pun juga, bagiku, Himiyama-san adalah musuh bebuyutan berating X.

Aku baru berada di batas maksimum rating-R, secara harfiah berada di kelas yang berbeda, dan sejak pertama kali kami bertemu, ini adalah rentetan kekalahan yang terus-menerus. Pertempuran yang benar-benar kalah telak. Terlebih lagi, tingkat pertemuan kami terlalu tinggi.

Suatu ketika, aku sempat berpikir untuk menulis jumlah kekalahan beruntun di paha ku, tapi aku adalah anak SMA yang sehat, jadi aku akan menahan diri dari hal itu. Yuri-san tidak sehat, jadi dia menulisnya dengan spidol permanen.

Meskipun sedang melangkah ke zona berbahaya seperti itu, hari ini hanyalah kunjungan santai.

Karena, rupanya, komputer yang kupesan tiba hari ini. Meskipun Himiyama-san yang memintanya, akulah yang memilih rakitan sesuai pesanan dan melakukan pemesanannya. Jika aku diminta untuk melakukan pekerjaan penyiapan, sudah menjadi tanggung jawabku untuk menyelesaikannya hingga akhir.

Kapan pun aku pergi, dia selalu menjamu kue dan biskuit, jadi aku pikir akan tidak sopan jika tidak membawa apa pun hari ini, maka dari itu aku membawakan mizu-yokan (jeli kacang manis berair. Enak sekali, kan, mizu-yokan?

Salah satu dari sedikit hobi yang kumiliki adalah menjelajahi makanan manis, tetapi akhir-akhir ini, karena liburan musim panas dan minatku yang semakin besar, aku mengabdikan diri untuk membuat makanan manis. Ini juga disebabkan oleh fakta bahwa dengan ibu yang mengambil alih memasak karena bekerja dari rumah, aku menjadi malas. Tapi, sudahlah.

Seperti biasa, cahaya matahari di luar sangat menyilaukan. Hanya berjalan-jalan sebentar saja keringat sudah mulai merembes. Untungnya, tempatnya dekat, dan apartemen tempat Himiyama-san tinggal hanya sepelemparan batu dari sini.

Betapa pun panasnya, sebagai bagian dari latihanku, aku tidak pernah menggunakan lift dan selalu menggunakan tangga. Itulah aku, Yukito Kokonoe. Meskipun, dengan keringat yang bercucuran, aku menyekanya dengan tisu antiperspirant dan mengatur napas.

Sial, seharusnya aku melakukan latihan itu nanti saja. Siapa orang bodoh yang berkeringat deras sebelum berkunjung ke rumah seseorang? Meskipun Himiyama-san sudah menjadi lawan yang tangguh dengan jarak fisik nol, dia sekarang juga telah mengadopsi gaya JK. Aku tidak akan menyerah pada godaan. Ohh!

Dengan penuh tekad, aku tiba di depan pintu Himiyama-san, mengatur napas, dan menekan bel pintu.

[Sudut Pandang Himiyama]

Begitu mendengar kata-kata itu, yang terlintas di benakku hanyalah rasa tidak percaya. Kenapa dia mengatakan hal itu? Mengulang dari awal. Apa persisnya?

Hubungan kami? Sekarang? Setelah jalan hidup kita berpisah, dan kemudian bertemu lagi, semuanya dalam waktu beberapa menit.

Apa yang mungkin bisa diulangi? Aku tidak cukup muda untuk dengan mudah mengangguk menyetujui kata-kata itu. Bahkan jika dua orang saling mencintai, ada hal-hal yang tidak dapat diatasi.

Aku sudah merasakan perasaan tidak berdaya itu lebih dari cukup. Berbeda dengan saat menjadi pasangan kekasih, dalam hal pernikahan, hal itu melampaui sekadar hubungan antara keduanya. Saat menjadi sebuah keluarga, kualifikasi untuk peran tersebut dipertanyakan.

Itu adalah hal yang wajar. Dan aku tidak memiliki kualifikasi itu.

“Aku tidak pernah menyangka kau akan mengatakan hal seperti itu sekarang…”

“Maafkan aku, tapi aku serius! Jika kau sedang tidak punya siapa-siapa sekarang, bisakah kau mempertimbangkannya? Sekali lagi, bersama-sama, hanya kita berdua.”

Sesuatu bergeming di dalam kehampaan. Di balik kata-katanya yang penuh semangat, tersisa rasa tidak nyaman yang mengalahkan segala kegembiraan atau kebahagiaan. Dia tidak tampak sedang berbohong. Jika dia sudah bercerai dan hubungannya telah beres, dia bebas memilih siapa pun yang ingin dia ajak bersama.

Apakah aku dipilih sebagai seseorang itu?

Kenapa—? Karena dia mencintaiku? Tapi, tapi, tapi!

Itulah alasannya kenapa aku tidak bisa mempercayainya.

“Kenapa?”

Kata-kata yang sama yang melayang di benakku meluncur keluar begitu saja dari mulutku.

“Karena aku mencintaimu. Karena aku tidak bisa melupakanmu, Misaki—”

“Kalau begitu, kenapa!”

Aku hampir meninggikan suara, tapi aku menahannya.

Aku sudah lama merapikan perasaanku. Namun, kenapa hatiku begitu bergolak sekarang? Aku sudah menerimanya. Itu adalah masa depan yang telah kulepaskan.

Membandingkan keduanya adalah hal yang mustahil. Meskipun begitu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir.

Tentang anak yang bertarung seorang diri, menentang segalanya, terluka, namun terus mendesak maju dengan gigih. Bahkan dengan hatinya yang tercabik-cabik oleh bilah pedang itu.

Orang biasa tidak bisa bertindak seperti itu. Manusia semakin terikat oleh sesuatu yang berharga, sesuatu yang tidak bisa mereka buang. Ada rasa takut akan kehilangan.

Namun, ada seorang anak laki-laki seperti itu. Bahkan jika dia tidak bisa bertarung sendirian, mungkin, jika mereka bersama, mereka bisa mengatasinya. Meskipun begitu, kami memilih jalan perpisahan.

Aku percaya itu adalah pilihan terbaik. Kami tidak bertengkar, kami mengikuti keadaan sekitar, dan menyesuaikan diri. Namun…

“Bukan itu! Kali ini, semuanya akan baik-baik saja. Bahkan Ibu pun—”

Ibunya peduli padaku?

Mustahil. Secara naluriah aku merasakan kejanggalan.

Ibunya tidak menyukaiku. Dia menentang pernikahan kami, dan aku tidak bisa membalikkan keadaan itu. Aku tidak bisa memberikan keturunan. Itu adalah kekurangan yang fatal. Aku cacat dan tidak ada harapan. Jadi, ini aneh. Sekalipun dia bercerai, dia seharusnya bisa mencari pasangan lain. Ibunya tidak akan peduli padaku, seseorang yang tidak mampu memiliki anak.

Namun, kenapa?

Pikiranku kembali ke titik itu.

Kalau dipikir-pikir, “Kaihara Ryokan” telah beralih fokus ke permintaan wisatawan asing untuk meningkatkan keuntungan.

Wisatawan asing ke Jepang melampaui 30 juta orang, dan destinasi wisata dipenuhi oleh orang asing. Dengan ekspektasi peningkatan lebih lanjut, Badan Pariwisata Jepang menetapkan target untuk melampaui 40 juta pengunjung, memanfaatkan gelombang tren ini.

Namun, dunia berubah dalam sekejap. Perjalanan antarnegara dibatasi, regulasi masuk diterapkan, dan perjalanan internasional terhenti. Situasi ini seharusnya berdampak signifikan pada ryokan, penginapan tradisional Jepang.

“Apakah bisnis penginapan itu aman?”

Selain itu, begitu kamu condong melayani wisatawan asing, ada risiko orang Jepang menjauh. Meskipun sangat wajar jika perbedaan budaya berujung pada pemisahan, tempat yang sangat condong ke pariwisata asing tidak hanya menerima keuntungan tetapi juga menanggung risiko.

“Y-ya, itu cukup menantang, tahukah kamu. Tapi lambat laun, permintaannya mulai kembali. Diberi sedikit waktu lagi, kita bisa pulih. Kami sedang mengambil langkah-langkah. Kami bahkan telah mengajukan pinjaman ke bank…”

Meskipun dalam keadaan seperti itu, apakah dia datang sejauh ini untuk berbaikan denganku?

Rasa ketidakwajaran itu semakin cepat, dan aku menjadi sadar akan ketidaknyamanan tersebut.

“Tidak mungkin, Mikiya-san. Apakah ibumu yang menyuruhmu datang ke sini?”

“! Bukan, bukan begitu. Aku tidak—”

“Apakah kamu berencana untuk memanfaatkanku?”

Aku tahu betul nilai dari kekuasaan. Dalam hal itu, aku mungkin sudah diistimewakan sejak dulu. Banyak orang mendekatiku dengan suatu tujuan tertentu. Mungkin itulah sebabnya aku menjadi peka terhadap hal-hal semacam itu.

“Say sekali, karena kamu dulunya bukan orang seperti itu.”

“Aku tidak berbohong saat bilang aku masih menyukaimu! Aku hanya butuh sedikit bantuan.”

“Tapi bukan aku yang kamu inginkan, bukan?”

“Tidak! Aku benar-benar peduli pada Misaki—”

Bel pintu berbunyi.

Menyelak perkataan Mikiya, bel pintu berdering.

“Maaf, aku sedang sedikit sibuk sekarang.”

“Apakah kamu sedang menerima tamu? Haruskah aku datang di lain hari?”

“Tidak, tidak apa-apa. Ini sudah selesai.”

Himiyama-san menyambutku masuk dengan senyuman yang sedikit sedih.

Ada sepatu pria di pintu masuk. Dia sedang kedatangan tamu, tapi apakah mereka kenalan?

Atau mungkin itu pemuka agama yang sedang berdakwah atau sales asuransi.

Kalau dipikir-pikir, beberapa hari lalu, ada seorang pria tua yang berkeliaran di depan apartemen, dan Himiyama-san tinggal sendirian. Lebih baik berhati-hati, terutama akhir-akhir ini.

“Dan kamu adalah…?”

Begitu masuk, ada seorang pria yang duduk di sofa ruang tamu. Ada aura keseriusan tentang dirinya. Situasinya tidak tampak nyaman. Ada juga ketegangan antara Himiyama-san dan pria itu. Ini canggung! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Tanpa memahami situasinya, aku memberikan tanggapan yang paling tidak mencurigakan.

“Aku dari layanan kelistrikan kota.”

“Layanan kelistrikan?”

“Aku di sini untuk menyiapkan PC.”

“Kenapa kamu mengubah cara bicaramu, Yukito-kun?”

“Kurasa itu terdengar lebih mirip tukang listrik kota.”

“Yah, sama sekali tidak.”

“Ah, begitu ya. Kalau begitu aku berhenti.”

Terdengar seperti itu atau tidak, pria tersebut tampaknya menerima ucapanku.

“Begitu ya, kamukah orang yang dibicarakan Misaki untuk pekerjaan kelistrikan itu?”

“Aku tukang listriknya. Maaf karena mengganggu. Aku tidak keberatan datang lagi nanti.”

“Tidak apa-apa, Yukito-kun. Aku juga ingin segera menggunakannya. Maaf sudah membuatmu datang. Mikiya-san, apa kamu akan pergi sekarang?”

“Ah, ya. Tapi Misaki, aku serius. Aku serius tentang kamu dan—”

“Mikiya-san, kumohon hentikan!”

Suara tajam Himiyama-san memotong perkataannya.

Tampak terkejut dengan ketegasannya, pria itu berdiri dan berjalan menuju pintu masuk.

“Aku akan datang lagi, Misaki.”

“Tapi Mikiya-san mengerti, kan? Kita sudah selesai.”

Keduanya sedang membicarakan sesuatu di pintu masuk. Itu bukan pertengkaran, tetapi suasananya terasa tidak nyaman.

Aku tidak bisa menyela tanpa menimbulkan keributan lebih lanjut, jadi aku melirik ke sekitar dan melihat sepasang cangkir yang tampak akrab di atas meja. Cangkir-cangkir itu tampak cukup intim, dan hanya ada satu implikasi di baliknya.

Aha, begitu ya. Ini adalah adegan perselingkuhan, bukan?

Tidak, bukan begitu! Kenapa aku harus menerobos masuk ke situasi seperti ini?

Kuharap aku tidak dibungkam sebagai saksi. Aku lebih suka menjauh dari skenario mirip sinetron. Aku hanya ingin pulang.

Himiyama-san kembali, tetapi begitu dia menyadari tatapanku, dia menjadi bingung.

“Jangan salah paham! Cangkir-cangkir ini bukan untuk Mikiya-san, hanya saja—”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti tanpa harus semua orang menjelaskannya.”

“Aku akan memberitahumu ini karena kamu tampak tidak tahu apa-apa, ini benar. Kedatangan Mikiya-san hari ini adalah kebetulan, dan apa yang ada di sini disiapkan untukmu, Yukito-kun.”

“Aku cukup peka, jadi jangan khawatir.”

“Jangan bilang kamu peka. Apakah kamu benar-benar mengerti?”

Aku bisa memahami perasaan bersalah itu. Tapi aku tidak mengira perselingkuhan adalah hal yang baik…

Sambil memikirkan hal itu, aku mulai merobek kemasannya untuk mulai bekerja.

BTO adalah singkatan dari “Build To Order,” yang berada di antara produk siap pakai dan buatan khusus. Kamu hanya perlu menyesuaikan komponennya sesuai kebutuhan, tidak perlu merakit.

Jadi, dalam waktu sekitar satu jam, bukan hanya pengaturan PC tetapi juga instalasi perangkat periferal seperti printer akan selesai. Ngomong-ngomong, ini adalah model serbaguna yang dilengkapi dengan pemindai.

Himiyama-san tidak pelit dalam investasi awal. Dia sangat dermawan sekaligus akomodatif.

“Sepertinya itu saja untuk sekarang. Apakah kamu baik-baik saja menggunakannya?”

“Terima kasih. Aku sudah sering menggunakan komputer, jadi aku baik-baik saja.”

Himiyama-san menuangkan kopi ke dalam cangkir untukku. Dia menambahkan banyak susu dan gula agar sesuai dengan seleraku. Saat aku duduk di sofa, dia secara alami mengambil tempat duduk di sebelahku.

Aku tidak bisa kabur… Seorang profesional yang dengan lihai menghalangi jalur pelarianku ada tepat di sana.

“Meskipun demikian, ini cukup canggih.”

“Aku sendiri sudah berpikir untuk berusaha lebih keras.”

“Begitu ya.”

“Ya.”

Aku tidak menyelaminya lebih dalam. Ada hal-hal yang tidak ingin dibicarakan oleh seseorang.

Kalau dipikir-pikir, dia sempat menyebutkan akan mulai bekerja sebagai tutor bimbingan belajar. Himiyama-san pasti akan menjadi guru luar biasa yang sangat populer di kalangan para siswa. Setidaknya, aku pasti akan ikut hadir☆

Namun, aku merasa harus mengatakan ini bagaimanapun caranya.

“Maafkan aku karena lancang, tapi sepertinya lebih baik menghentikan perselingkuhan itu.”

“Sepertinya kamu masih belum mengerti, Yukito-kun.”

Wajah tersenyumnya terasa agak menyeramkan.

Namun, jika aku tidak bersuara sekarang, dialah yang pada akhirnya akan terluka. Karena Himiyama-san pernah membantuku sebelumnya, aku harus mengatakannya meskipun itu berarti dia mungkin akan membenciku.

“Perselingkuhan itu berujung pada ketidakbahagiaan.”

“Bukan itu maksudnya…”

“Himiyama-san!”

Aku berbalik dengan tiba-tiba, menggenggam kedua tangan Himiyama-san di tanganku, menyatukannya seolah-olah kami adalah sepasang kekasih, lalu mendorongnya ke atas sofa. Dia mengeluarkan suara terkejut, tapi aku tidak peduli.

“Aku tidak ingin kamu tidak bahagia, Himiyama-san!”

“B-baiklah. Aku mengerti. Aku mengerti. Tolong jangan buat jantungku berdegup lebih kencang lagi. Aku tidak akan bisa mengendalikannya. Aku akan menghadapi Mikiya-san dengan benar. Terima kasih.”

Apakah aku berhasil menyelamatkan Himiyama-san dari dunia sinetron? Berselingkuh atau tidak setia itu tidak baik.

Aku tahu tidak akan ada orang yang bahagia. Jika kamu melanjutkan hubungan seperti itu, pada akhirnya itu akan hancur. Kedua belah pihak akan berakhir dalam situasi yang tidak dapat diperbaiki.

Jadi, meskipun itu menyakitkan sekarang, menghentikannya adalah hal yang perlu dilakukan. Tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang ditimbulkannya.

Aku menatap tepat ke mata Himiyama-san, tetapi entah kenapa, pipinya merona merah.

“Aku tidak menyangka kamu akan peduli padaku. Ketegasanmu itu sangat manis.”

Perlahan-lahan, tangan Himiyama-san melingkar di punggungku.

Bibirnya yang dihiasi lipstik berkilau basah.

Tunggu, sepertinya ada yang aneh dengan situasi ini, bukan?”

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *