Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu Prologue Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu Prologue Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Prolag

Penerjemah: Soafp

Junjun

“Aku sudah memutuskan untuk berkencan dengan senpai.”

Langit yang diselimuti warna senja memulasnya menjadi kemerahan. Dia ragu-ragu, tetapi mengatakannya dengan jelas.

Mata merah menyala dari wanita muda di dalam foto itu diterangi cahaya, dan tanpa bisa membaca emosi yang terpantul di dalamnya, hanya kata-kata itulah yang membentuk realitas dari situasi tersebut.

Aku menyadari bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman ketika aku mendengar kata-kata itu dari teman masa kecilku. Hinagi Suzurikawa.

Seorang teman masa kecil yang sudah dekat denganku sejak taman kanak-kanak. Kenapa dia memutuskan untuk mengatakan hal itu kepadaku? Mungkin dia pikir itu adalah kewajibannya sebagai seorang teman masa kecil. Bukan, bukan itu. Ini adalah peringatannya dengan caranya sendiri. Jangan terus-menerus bergaul dengannya.

Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Aku tidak akan pernah bisa memahami isi kepala siapa pun.

Mungkin itulah alasannya. Untuk beberapa alasan, kata-katanya kepadaku menjadi kasar. Ini bukanlah jenis hubungan yang dia inginkan untuk terjalin di antara kami.

Tidak ada kisah impian mitis di antara kami, seperti yang sering terjadi pada teman masa kecil. Janji-janji yang kami buat saat kami masih kecil, jika memang pernah ada hal seperti itu, hanyalah masalah sepele.

Itu akan hilang bagaikan gelembung dalam sekejap. Tapi dia selalu menjadi orang yang spesial bagiku.

Sudah pasti berkat dialah aku mampu bertahan dalam situasi yang sulit.

Meskipun akhir-akhir ini situasinya terasa canggung, aku pikir kami telah akur dengan baik selama ini. Setidaknya, itulah yang kupikirkan sampai hari ini.

Di sekolah menengah pertama, Hinagi menjadi semakin cantik. Dia mulai memakai riasan wajah dan memperhatikan mode. Dia ramah dan ceria, serta merupakan seorang gadis yang populer.

Melihat punggung Hinagi, aku memutuskan untuk keluar dari hubungan sebagai teman masa kecil.

Aku berniat untuk menyatakan perasaanku pada festival musim panas yang kami datangi bersama setiap tahun.

Aku pikir aku jatuh cinta pada Hinagi. Aku berada dalam delusi bahwa dia akan menerima pengakuanku.

Namun, pandangan naif semacam itu runtuh berkeping-keping. Itu tidak lebih dari sebuah tindakan egoisme. Aku telah salah mengira bahwa perasaan yang dia tunjukkan kepadaku adalah “kasih sayang”. Aku senang karena seseorang “menyukaiku”. Ah, sungguh sial, itu sama sekali bukan “kasih sayang”.

Debar, sesuatu runtuh di dalam diriku. Kata-katanya menyadarkanku sendiri. Mungkin aku sudah menyadari bahwa hari ini pasti akan datang suatu saat nanti. Sebuah bayangan gelap melayang di atas hatiku. Perasaan yang kumiliki untuknya. Itu bukanlah kasih sayang, melainkan simpati, atau mungkin sentimen, jika boleh kukatakan begitu.

Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku tidak lebih dari sekadar teman masa kecil.

“Uhm, kurasa hubunganku denganmu sudah berakhir. Musim panas ini kita mungkin tidak bisa sering-sering jalan bareng seperti biasanya.”

“Begitu ya, selamat.”

Teman masa kecilku dengan kejamnya menumpuk kata demi kata kepada orang yang baru saja menghancurkan hatiku. Seolah-olah untuk menaburkan garam di atas luka, seolah-olah untuk memamerkannya. Itu sangat menjengkelkan.

Jika dia punya pacar, dia tidak bisa bersamaku. Dia bahkan tidak akan mau bersamaku. Aku tidak bisa memikirkan apa pun untuk dikatakan kepadanya dengan pikiranku yang kosong.

Mungkin itulah alasannya. Apa yang keluar dari mulutku adalah sebuah restu yang jujur. Aku begitu senang mendengarnya, dan itu adalah sebuah anugerah bisa meluapkan perasaan jelek yang sedang kutanggung saat ini.

Kata-kata yang menutupi semua perasaan jelek yang kurasakan sekarang. Wajah Hinagi berubah marah sejenak.

“! Tidak sepertimu, Senpai bisa diandalkan dan tampan, dan aku senang dia menyatakan perasaannya kepadaku!”

Orang yang dipanggil “Senpai” oleh Hinagi adalah anggota klub sepak bola kelas tiga yang telah menyatakan perasaannya kepadanya seminggu yang lalu.

Tidak sepertiku, Hinagi itu populer. Dia sering ditembak, tapi aku yakin dia tidak pernah menerima pernyataan cinta siapa pun sampai sekarang. Mungkin aku merasa lega melihat Hinagi seperti itu.

Aku berada di bawah ilusi yang nyaman bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan sisiku. Namun, tidak perlu repot-repot memojokkannya dengan membandingkannya denganku.

Aku bertanya-tanya sudah berapa lama dia sangat membenciku. Memang benar aku tidak pantas untuk Hinagi.

Baginya, aku mungkin telah menjadi keberadaan yang tidak diinginkan, yang hanya menempati posisi sebagai teman masa kecil. Ya, aku seharusnya tahu. Aku adalah gangguan dan kehadiran yang tidak perlu.

Aku seharusnya tahu hal itu lebih baik daripada siapa pun. Kenapa, kenapa aku malah menaruh harapan? Aku kehilangan tempat untuk perasaan yang hendak kinyatakan. Perasaan yang telah kupendam tumbuh semakin besar, dan aku menghabiskan hari-hariku seolah-olah perasaanku mulai berantakan. Saat aku menyadari bahwa hari ini adalah akhirnya, aku merasakan kelegaan sekaligus kesepian.

Seperti balon yang ditiup, perasaan yang kutahan selama ini meledak dan memudar. Inilah akhir cerita bagiku, dan jika aku tidak bisa menyampaikan perasaanku, biarlah ini menjadi yang terakhir.

Seharusnya aku memberitahunya bagaimana perasaanku yang sebenarnya.

“Hinagi, aku berencana menyatakan perasaanku kepadamu pada hari festival musim panas tahun ini.”

“…….Eh?”

Sejak hari itu tahun lalu, jawabannya sudah jelas. Aku sudah tahu kebenarannya sejak hari dia menepis uluran tanganku.

Satu-satunya hal yang penting adalah aku telah berpura-pura tidak menyadarinya, memalingkan muka darinya, membohongi diriku sendiri, and memanfaatkan hubungan ini sebagai teman masa kecil.

“Aku selalu mencintaimu. Aku hanya melihatmu. Aku bangga padamu saat kau menjadi semakin cantik. Itulah sebabnya aku ingin mengambil langkah pertama tahun ini. Aku tidak tahu apakah itu sudah terlambat, atau apakah kau memang tidak pernah tertarik padaku sejak awal.”

“Begitukah… begitu? Lalu apa yang sedang kulakukan…..”

Hinagi merasa terganggu. Matanya bergetar seolah-olah dia sedang mencari kebenaran. Dia merasa itu menjijikkan. Aku yakin. Ketidaknyamanan and rasa jijik karena dipandang dengan cara seperti itu olehku.

“Aku tadinya mengira perasaan yang kau tunjukkan kepadaku adalah sebuah kebaikan. Tidak mungkin hal itu terjadi.”

“K-kau salah paham! Aku juga—-.”

“Perasaan kita berbeda.”

Aku tidak tahu di mana kami mulai mengambil jalan yang berbeda, tetapi sekarang aku tidak tahu lagi. Tidak ada gunanya memikirkannya sekarang.

“Kenapa —— aku menjadi seperti ini!”

“Aku minta maaf. Maafkan aku jika ini merepotkan bagimu, tapi aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku untuk terakhir kalinya ketika semua ini sudah berakhir.”

“T-Terakhir kali… Apa ……? Hentikan….. apa yang coba kamu katakan?”

Wajah Hinagi menjadi pucat. Wajahnya kehilangan warnanya.

“Selamat tinggal, Hinagi. Mari kita akhiri persahabatan masa kecil kita hari ini. Aku mendoakan yang terbaik untukmu dan senpai.”

Peralatan taman bermain itu ternoda warna kuning. Taman tempat biasa kami bermain bersama itu akan menjadi tempat yang berbeda.

Aku merasa ironis bahwa taman tempat kami biasa bermain bersama kini menjadi tempat yang berbeda. Kami membangun kastil bersama di kotak pasir. Kami berlari-lari sampai matahari terbenam. Aku merasakan ikatan yang kuat dengannya.

Namun hubungan kami rapuh bagaikan menara istana pasir, dan mudah runtuh. Tapi tidak apa-apa. Begitu aku mengungkapkan perasaannya kepadaku—maksudku, perasaanku kepadanya—tidak mungkin bagi kami untuk tetap menjadi teman masa kecil dan terus bertindak seperti di masa lalu. Meskipun begitu, aku telah berencana untuk menyatakan perasaanku kepadanya dengan tekad itu. Tapi tidak ada lagi kebutuhan untuk melakukannya. Aku tidak ingin berada di sini lagi.

Aku hanya ingin menghilang. Sama seperti hari itu. Dari pandangan semua orang. Aku berlari pulang.

“T-Tunggu! Yukito, mohon tunggu dan bicaralah—”

Emosi manusia itu sulit. Kenapa aku begitu bodoh? Jika perasaan yang ditunjukkan Hinagi kepadaku bukanlah “Kebaikan,” maka aku tidak akan pernah bisa merasakan “Kebaikan” lagi.

Aku mungkin tidak akan pernah bisa memahami apa artinya.

Dengan demikian, anak laki-laki itu hancur lagi.

V1ch1

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *