Hell Mode: Yarikomi Suki No Gamer Wa Haisettei No Isekai De Musou Suru Volume 4 Kata Penutup Bahasa Indonesia
Kata Penutup
Terima kasih telah membeli buku ini! Berkat dukungan kalian, volume keempat dari Hell Mode ini sekarang sudah rilis di toko-toko. Aku tidak dapat sepenuhnya mengungkapkan betapa bersyukurnya aku. Terima kasih banyak.
Meskipun aku terus membicarakan betapa tebalnya setiap buku di kata penutupku, volume keempat ini ternyata sama tebalnya. Selain volume utama yang sudah sangat tebal, aku juga mendapat izin untuk menyertakan dua cerita sampingan yang cukup panjang. Terima kasih kepada editor-ku karena begitu pengertian!
Kali ini, aku menggunakan cerita sampingan untuk memasukkan detail-detail yang tidak sempat aku masukkan ke dalam cerita utama.
Cerita pertama adalah apa yang terjadi pada Rehzel di masa lalu. Aku sangat ingin memperkenalkan seperti apa dia sebelum menjadi Demonic Deity. Harapanku adalah episode ini dapat memberikan sedikit pencerahan tentang arti pertempuran di Rohzenheim baginya.
Cerita kedua adalah kisah tentang para roh. Para elf dan para roh adalah fokus dari volume keempat ini, tetapi Sovereign of Spirits hampir menjadi satu-satunya roh yang akhirnya ditampilkan, dan aku ingin sedikit memperbaikinya. Kuharap kalian menganggap cerita sampingan ini sebagai penutup yang bagus untuk volume ini.
Sekarang, karena ini adalah kata penutup, kurasa aku akan berbicara sedikit lebih banyak tentang diriku lagi. Di kata penutup volume pertama, aku menceritakan tentang bagaimana aku mulai mengunggah ke Shosetsuka ni Naro. Kali ini, aku ingin membagikan bagian dari hidupku yang menurutku benar-benar meletakkan fondasi bagiku untuk akhirnya menulis novel ringan. Pada akhirnya, ini hanyalah pemikiranku pribadi, jadi tolong anggap ini sebagai sebuah cerita saja.
Ayahku adalah salah satu dari tipe pekerja kantoran biasa yang ditugaskan ke lokasi berbeda setiap beberapa waktu sekali. Akibatnya, keluarga kami pindah ke tempat lain di Kyushu setiap beberapa tahun sekali saat aku berada di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
Secara pribadi aku tidak punya keluhan tentang hal ini, tetapi sebuah insiden memang terjadi ketika aku masih berada di kelas bawah sekolah dasar. Setelah insiden ini, keluargaku tidak pernah pindah lagi selama masa sekolahku.
Karena perusahaan ayahku sering merotasi karyawannya ke berbagai kantor cabang, mereka menyediakan perumahan perusahaan sebagai bagian dari program kesejahteraan. Di beberapa tempat, perumahan perusahaan itu praktis masih baru; di tempat lain, sama sekali tidak.
Ketika kami terpaksa tinggal di salah satu tempat yang disebut terakhir, ibuku akhirnya kehabisan kesabaran dan, bagaikan gunung berapi yang meletus, berteriak, “Aku tidak mau lagi tinggal di perumahan perusahaan yang ba**sat seperti ini! Ayah, beli rumah! Sekarang!”
“B-Baik, Bu. Mari kita kunjungi pameran pembangunan rumah akhir pekan ini. Tolong jangan marah, Bu!”
Aku sengaja menyensor kata persis yang digunakan ibuku untuk melindungi perusahaan tempat ayahku bekerja, tetapi ya, percakapan ini benar-benar terjadi suatu hari di meja makan kami. Inilah insiden “keluarga Hamuo muak dengan perumahan perusahaan dan membeli rumah”.
Setelah itu, kami pergi ke pameran dan memilih sebidang tanah di area yang baru zonanya dikhususkan untuk tempat tinggal keluarga tunggal. Dua tahun kemudian, kami pindah.
Aku tidak punya apa pun selain rasa terima kasih kepada orang tuaku karena telah membangun rumah keluarga kami, melindungi keluarga kami, dan membesarkan kami banyak bersaudara. Namun, setelah kami pindah dari perumahan perusahaan ke rumah kami sendiri, aku mendapati diriku menghadapi sebuah masalah. Yaitu, rumah kami sangat jauh dari sekolahku.
Kami tinggal di tengah lereng bukit, dan sekolah dasarnya berada jauh di bawah. Tentu saja, aku bilang itu jauh, tapi sebenarnya jaraknya hanya sekitar satu setengah kilometer. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan anak-anak yang harus naik kereta atau feri untuk pergi ke sekolah, tetapi itu sudah cukup untuk memengaruhi apa yang kulakukan. Atau lebih tepatnya, cara aku menggunakan kepalaku.
Aku mulai menggunakan waktu perjalananku untuk berfantasi tentang manga dan anime yang aku konsumsi sehari-hari. Aku akan merenungkan adegan-adegan yang meninggalkan kesan padaku dan merenungkan bagian-bagian yang sangat aku sukai. Aku bersenang-senang menggerakkan para karakter di dalam benakku dan membayangkan bagaimana aku akan melanjutkan ceritanya jika aku adalah penulisnya.
Kebiasaanku ini berlanjut cukup lama, karena SMP dan SMA-ku juga cukup jauh dari rumahku. Aku yakin inilah bagian dari hidupku di mana aku mengembangkan kemampuan untuk menulis cerita.
Jika ada orang yang berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi penulis novel ringan, aku sangat menyarankan agar kalian tinggal di perumahan perusahaan yang sudah tua.
Baiklah, kurikulum penutup ini cukup sampai di sini.
Versi manga dari Hell Mode saat ini sedang diserialisasikan. Halaman-halamannya menggambarkan adegan-adegan seru dari cerita ini secara mendetail dan memikat. Dan yang membuatku senang, aku diberitahu bahwa mereka bahkan akan mempercepat jadwal rilisnya! Sang mangaka, Tetta Enji-sensei, melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan aku sangat berterima kasih kepadanya. Pembaca sekalian, aku berharap kalian juga menikmati dunia Hell Mode dalam bentuk manga.
Mari kita bertemu lagi di jilid 5. Aku akan sangat berterima kasih jika kalian terus memberikan dukungan kepadaku. Kalau begitu, sampai jumpa!
Komentar