Seirei Gensouki Volume 11 Bab 2: Keputusan Masato Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 11 Bab 2: Keputusan Masato Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 2: Keputusan Masato

“Aku punya sesuatu untuk dikatakan,” ucap Masato dengan pelan.

“…Baiklah. Masuklah, Masato.” Miharu bisa menebak bahwa Masato memiliki hal penting untuk dikatakan dari raut wajahnya dan mempersilakannya masuk dengan nada lembut. Masato mengangguk sebelum mengikuti Miharu masuk ke dalam ruangan.

“Mari—duduklah.”

“Baiklah.”

Satsuki meminta Masato untuk duduk di kursi di sebelah miliknya. Miharu kembali ke tempat asalnya di samping Rio sehingga mereka berempat duduk saling berhadapan secara berpasangan.

“Kamu ingin membicarakan tentang Takahisa dan Aki, kan?” tanya Satsuki sambil menatap Masato.

“Ya. Tidak satupun dari mereka berada dalam kondisi yang sanggup diajak bicara, jadi aku menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing bersama Putri Lilianna dan aku langsung ke sini…”

“Apakah sesuatu telah terjadi?”

“Tidak, tidak ada hal khusus yang terjadi, tapi…” Masato menunduk dan mengerutkan kening karena frustrasi. Ia berhenti sejenak sebelum mengangkat kepalanya. “Mereka berdua akan segera dibawa ke Kerajaan Centostella, kan?” tanyanya dengan gugup.

“Ya, kemungkinan besar begitu. Takahisa adalah pahlawan Centostella, jadi Putri Lilianna tidak punya pilihan selain membawanya kembali ke kerajaannya, kalau tidak ia akan dalam masalah. Jika Aki memilih untuk tinggal… aku bisa meminta kepada Raja agar dia bisa tinggal bersamaku di kastil ini untuk sementara waktu,” kata Satsuki.

“Begitu ya… Benar juga…” Bayangan muram melintas di wajah Masato.

Satsuki bertukar pandang dengan Rio dan Miharu. “Apakah kamu lebih suka jika mereka tidak pergi ke Centostella?”

“Tidak, itu tidak benar. Mereka mungkin telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh, tetapi bahkan kakakku yang bodoh itu dibutuhkan oleh Kerajaan Centostella—aku sangat tahu ini, karena Haruto sudah mengatakannya berkali-kali sekarang. Aku setuju dengan kalian bertiga… Aku juga tidak bisa memaafkan mereka begitu saja. Jika mereka tetap berada di sekitar Miharu and Haruto tanpa bahkan merefleksikan tindakan mereka, aku khawatir mereka akan mencoba sesuatu lagi di masa depan. Itulah sebabnya aku tahu yang terbaik adalah menjaga jarak dengan mereka. Tapi tetap saja, meskipun begitu…” Masato menghentikan kata-katanya, bertanya-tanya apakah benar mengatakan apa yang hendak diucapkannya. Ia tampak sangat kehabisan kata-kata.

“Jangan menahannya—katakan saja apa yang kamu pikirkan. Tidak seorang pun akan mengabaikanmu tanpa mendengarkan terlebih dahulu,” desak Rio.

“…Meskipun begitu, kedua saudara yang bodoh itu tetaplah saudaraku. Melihat Aki terisak dan Takahisa merajuk padahal semua itu adalah salahnya sejak awal membuatku merasa sangat menyedihkan sebagai saudara mereka. Aku tidak bisa hanya duduk diam dan melihat Putri Lilianna mengurus mereka berdua. Kenapa orang lain harus membereskan kekacauan setelah keluargaku jatuh? Sejujurnya, aku tidak ingin tinggal bersama mereka, tapi aku merasa harus melakukannya.” Masato meluapkan perasaan campur aduk yang bergejolak di dadanya dan mengatupkan giginya.

“Masato…” Miharu dan Satsuki sama-sama terdiam, wajah mereka tampak suram.

…Begitu ya. Jadi, apa yang ingin kamu lakukan, Masato?” tanya Rio dengan tenang agar tidak membuatnya takut.

“Aku rasa aku ingin mengikuti mereka berdua ke Centostella dan membantu mereka mengembalikan hidup mereka ke jalur yang benar. Aku memang ragu apakah membuat perubahan pikiran yang begitu mendadak akan menguntungkan mereka atau tidak, jadi aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat, tapi…”

Dia bahkan sempat berdebat dengan saudaranya demi mempertahankan keputusannya semula untuk tetap tinggal bersama Rio, tetapi sekarang dia mengambil keputusan yang sepenuhnya berlawanan. Masato merasa sangat cemas dalam memilih jalan mana yang harus dia tempuh.

“Mereka berdua terhubung dengan semua orang di sini dengan cara yang serupa tetapi sangat berbeda. Situasi kita sepenuhnya berbeda. Sudah jelas bahwa keputusan akan berbeda pada tingkat individu, dan apa yang benar atau tidak juga akan berbeda—bahkan bisa dibilang, lebih lumrah jika merasa ragu tentang apa yang benar. Tidak ada jaminan bahwa apa yang ingin kamu lakukan akan menjadi hal yang benar. Sejujurnya, kamu seharusnya menghargai keinginanmu sendiri dan melakukan apa yang tidak akan kamu sesali nantinya. Selama kamu tidak melangkah ke jalan yang jelas-jelas berbahaya, kami akan mendukung keputusanmu. Jika kamu ingin kami memberikan pendapat, katakan saja,” ucap Rio, menasihati Masato sebagai seseorang yang lebih tua.

“Kalau begitu, bisakah kamu memberitahuku apa pendapat kalian tentang ini…?” tanya Masato dengan tatapan memohon.

“Menurutku tidak ada pilihan yang salah. Kamu adalah satu-satunya orang di sini yang sekaligus menjadi keluarga mereka dan pihak luar dari insiden tersebut. Tidak aneh jika kamu merasa harus melakukan sesuatu tentang hal ini, dan kamu tidak akan menjadi pengaruh buruk hanya dengan berada di dekat mereka, tidak sepertiku dan Miharu,” kata Rio.

Poin yang dimaksud adalah bagaimana Miharu memang merupakan sosok seperti saudari bagi Aki, tetapi dia telah menjadi korban dari insiden ini dan bagian terbesar dari motif di balik kejahatan tersebut. Sangat mudah untuk menarik kesimpulan bahwa dia seharusnya tidak berada di dekat mereka.

“Aku pada umumnya setuju dengan Haruto. Namun, Takahisa tidak akan bisa menjaga kamu dan Aki dengan kondisinya yang sekarang, jadi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri. Aku tidak bisa meninggalkan Kerajaan Galarc dan kamu tidak akan bersama Haruto atau Miharu. Kamu harus lebih bertanggung jawab pada diri sendiri daripada sebelumnya.” Satsuki sependapat dengan Rio, tetapi mengkhawatirkan Masato.

Masato mengangguk. “Ya, aku tahu itu.”

“…” Sementara itu, Miharu menutup rapat mulutnya saat memperhatikan mereka dengan ekspresi khawatir.

“Apakah kamu bertanya-tanya apakah akan lebih baik jika kamu ikut pergi juga, Miharu?” tanya Satsuki.

“…Tidak, aku masih merasa harus menjauh dari mereka berdua.” Miharu menggelengkan kepalanya pelan. Hatinya terasa berat setiap kali memikirkan Aki, tetapi menuruti apa yang diinginkan Aki sama saja dengan memanjakannya lagi. Tidak melakukan apa pun adalah hal terbaik yang bisa Miharu lakukan untuk Aki saat ini.

“Begitu ya…” Satsuki tampak bermasalah, tetapi di saat yang sama, terlihat sedikit senang.

“Yah, kamu tidak perlu memberikan jawabannya sekarang. Kamu bisa menggunakan sisa waktu sampai mereka berdua berangkat ke Centostella. Kamu juga belum memberi tahu Putri Lilianna, kan?” kata Rio kepada Masato untuk membantunya merasa lebih santai.

“Ya. Aku masih merasa bimbang tentang ini setelah mengantar mereka ke kamar mereka… Tapi aku merasa sedikit lebih baik setelah berbicara dengan kalian. Terima kasih.” Masato terkekeh seperti dirinya yang biasanya.

“Hehe, aku lega melihatmu tersenyum seperti itu. Ini adalah masa-masa sulit bagi kita semua, tetapi justru karena itulah kita harus tetap positif. Bersikap suram hanya akan membuat perasaanmu ikut suram,” kata Satsuki dengan senyuman lembut.

“Ya. Kalau bisa, aku ingin menunjukkan kepada Takahisa dan Aki bahwa kita semua bisa tertawa dengan bahagia. Itu akan memberikan dampak yang lebih besar pada mereka berdua.” Masato terkikik licik.

“Hehe.” Miharu dan Rio sama-sama terkekeh.

“Ngomong-ngomong, Haruto—aku punya permintaan lain…” kata Masato tiba-tiba.

“Ada apa?”

“Bisakah kamu membawaku ke rumah batu malam ini? Yang lain mungkin akan berangkat dari kerajaan paling cepat besok, dan aku ingin menemui semua orang sebelum itu. Ini mungkin perpisahan untuk sementara waktu, dan aku juga ingin memberi tahu mereka tentang Aki…”

Dia menyampaikannya seolah-olah itu adalah sebuah kemungkinan, tetapi Masato sepertinya sudah membuat keputusan. Wajahnya yang tersenyum tampak sedikit menyedihkan.

Rio pura-pura tidak melihatnya dan mengangguk dengan ekspresi sedikit bermasalah. “…Baiklah.”

Miharu dan Satsuki sepertinya juga menyadari hal itu, tetapi memilih untuk mengamati percakapan mereka alih-alih ikut berbicara.

“Ah, aku tidak suka suasana suram. Setelah kita selesai bicara dengan semuanya, ayo kita mandi bersama. Aku akan membasuh punggungmu,” kata Masato kepada Rio untuk mencairkan suasana berat di antara mereka.

“Tentu, ayo kita lakukan.”

“Yeah,” jawab Masato dengan gembira.

“Hmm, mandi. Terdengar menyenangkan… Benar kan, Miharu?” Satsuki ikut bergabung dalam percakapan dengan nada penasaran yang bernada menggoda, seolah dia menanggapi permintaan Masato untuk meredakan suasana suram.

“Ya. Aku juga ingin mandi,” jawab Miharu sambil terkikik.

Rio berpikir sejenak. “…Kalau begitu, bagaimana kalau kita semua pergi ke rumah batu?” usulnya.

“Eh? Tapi bukankah sebaiknya aku berjaga di sini…?” Dia mengatakannya dengan nada setengah bercanda, jadi Satsuki sedikit terkejut karena izin diberikan dengan begitu mudahnya.

“Keamanan di sekitar kastil belum mengendur setelah serangan pada perjamuan itu, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan soal itu. Kita butuh ini untuk menyegarkan pikiran, seperti yang Masato katakan. Sebagai gantinya, kita bisa kembali sedikit lebih awal. Tentu saja, jika kamu masih khawatir, kamu boleh tinggal…” kata Rio, memberi Satsuki kebebasan untuk memilih.

“Ugh… Aku ikut!”

Satsuki sempat berjuang dengan pikirannya sejenak sebelum akhirnya kalah oleh godaan untuk mandi di rumah batu. Karena tak sanggup melewatkan kesempatan itu, diputuskanlah bahwa mereka keempatnya akan pergi ke rumah batu malam itu.

◇ ◇ ◇

Malam itu, setelah semua orang seharusnya sudah tertidur, Rio dan yang lainnya berangkat dari balkon Satsuki dalam kegelapan pekat untuk menuju ke rumah batu.

Mereka bergerak dengan bantuan biasa dari Aishia, di mana Rio menggendong Satsuki cara pengantin dengan Masato di punggungnya, sementara Aishia menggendong Miharu. Mereka meninggalkan ibu kota dan tiba di rumah batu dalam sekejap mata. Aishia telah memperingatkan semuanya sebelumnya, jadi Celia, Latifa, Sara, Orphia, dan Alma semuanya menunggu di luar.

“Selamat datang kembali!” Latifa memimpin dengan penuh semangat menyambut kepulangan mereka. Ketika dia menyadari Masato ada di sana dan Aki tidak, dia memasang ekspresi sedikit bingung.

“Dan selamat datang, Satsuki,” kata Latifa kepada Satsuki dengan nada akrab.

“Halo, Latifa—aku akan menumpang sebentar. Selamat malam semuanya,” Satsuki membalas sapaan mereka dengan senyuman anggun.

“Selamat malam,” jawab Celia dan yang lainnya dengan hangat. “Tidak ada gunanya berdiri terus di sini, jadi ayo kita masuk.”

Begitu mereka tiba di ruang tamu…

“Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan kepada semuanya hari ini, dan ini berkaitan dengan alasan kenapa Aki tidak ada di sini. Apa sebaiknya kita duduk dulu?” Rio mulai berbicara, mengajak mereka untuk duduk.

Aishia telah memberi tahu mereka bahwa Rio dan yang lainnya akan datang, tetapi tidak menyebutkan alasannya, jadi Celia dan yang lainnya sedikit menegang dan saling berpandangan sebelum duduk berderet di sofa. Di seberang mereka duduk Rio, Miharu, Satsuki, Masato, and Aishia, sehingga mereka duduk berhadap-hadapan.

“Sebagai kesimpulan awal, Aki akan pergi bersama Takahisa ke kerajaan Centostella. Atau, yah, itulah yang kemungkinan besar akan terjadi saat ini. Jika dia bilang ingin tinggal, maka ada kemungkinan dia bisa tetap tinggal di kastil Galarc, tapi…” Rio menggantungkan kalimatnya.

“Kamu bersikap menghindar aneh sekali. Apakah sesuatu terjadi?” tanya Celia pelan, sambil memerhatikan wajah Rio.

“Masato ingin menjelaskan hal itu, sebagai adik laki-laki mereka.” Rio menyerahkan pembicaraan kepada Masato.

“Umm, berkat Haruto dan semua orang di sini, kami yang datang ke sini dari Bumi dapat berkumpul kembali dengan aman satu sama lain, tapi… Meskipun kami sudah berkumpul kembali, kami tetap saja berdebat tentang siapa yang akan pergi ke mana. Antara Miharu, Aki, dan aku sendiri… Serta kakakku…” Masato sedikit gugup, saat dia memulai penjelasannya dengan susah payah. “Kami semua membicarakannya di kastil. Faktor terbesarnya adalah Satsuki dan kakakku adalah pahlawan, jadi mereka tidak bisa meninggalkan kerajaan masing-masing. Dalam situasi seperti itu, Miharu dan aku ingin tetap tinggal bersama Haruto, tapi kakakku ingin kami pergi bersamanya… Aki ingin tinggal bersamanya, jadi dia menurut…”

Celia dan yang lainnya mendengarkan Masato berbicara dalam keheningan. Mereka tahu bahwa Aki memiliki keterikatan yang kuat dengan kakaknya, karena mereka telah menyaksikannya sendiri, dan mereka juga tahu bahwa Aki sangat menyayangi Miharu—jika tidak bisa dibilang lebih. Itulah sebabnya mereka tidak terlalu terkejut mendengar ada pertengkaran tentang siapa yang akan pergi ke mana, akan tetapi…

“Terus terang saja, kakakku jatuh cinta pada Miharu. Tapi Miharu tidak membalas perasaan itu, karena perasaannya untuk Haruto, jadi kakakku menjadi sangat cemburu. Itu begitu jelas, bahkan orang yang melihatnya pun bisa tahu.”

Informasi tak terduga dari Masato membuat Celia dan yang lainnya terkejut. Setiap dari mereka menoleh untuk menatap Miharu. Begitu dia memahami kata-kata Masato, wajahnya langsung menjadi merah padam.

“…T-Tunggu, apa yang kamu katakan, Masato?!”

“Huh…?” Masato memasang wajah bingung sejenak, sebelum segera meralat kesalahannya. “Ah, aku tadi bicara soal bagaimana kakakku cemburu pada Haruto, itulah alasan kenapa dia membuat keributan sebesar itu…”

Dia tampaknya menyadari ada yang salah dengan ucapannya mengenai perasaan Miharu terhadap Rio. Kepalanya tadinya dipenuhi dengan penjelasan situasinya, jadi itu benar-benar sebuah keseleo lidah yang tidak sengaja. “H-Huh? Apa aku salah?” Dia mencoba mencari jalan keluar, tapi sudah terlambat untuk menutupi hal yang sudah sangat jelas itu.

“T-Tentang apa?” Mata Miharu melirik ke sana kemari saat dia mencoba pura-pura bodoh. Rio mempertahankan keheningan yang canggung setelah terseret ke dalam situasi ini.

“Hrrmmm…” Latifa sedang mendelik tajam ke arah Rio.

Sementara itu, Sara, Orphia, dan Alma saling bertukar pandang penuh makna. Ngomong-ngomong, Celia benar-benar membeku dengan mata membelalak lebar.

Sungguh pria yang penuh dosa kamu ini, Haruto…

Satsuki melihat reaksi dari para wanita di rumah batu itu dan menghela napas lelah. Dia menatap Rio dengan bibir terpaut tidak setuju.

“B-Bagaimanapun, biarkan aku melanjutkan.” Masato menyesali kata-katanya yang tidak tepat waktu dan dengan paksa mengganti topik.

“It… Itulah…” Miharu bergumam pelan, terkejut. Itu adalah serangkaian keseleo lidah di pihak Masato.

“P-Pokoknya, kakakku mengamuk karena cemburu. Dia menantang Haruto dalam duel sepele gara-gara Miharu dan akhirnya babak belur, tapi…” Masato mempercepat kelanjutannya, terus berbicara cepat sampai dia mencapai tempat yang pas untuk berhenti sejenak.

Nuansanya sedikit melenceng kalau kau bilang kami berduel demi memperebutkan Miharu, yah, pikir Rio dengan ragu. Dia sebenarnya bertarung untuk menghentikan Takahisa yang mengekang kebebasan Miharu untuk memilih apa yang ingin dia lakukan, namun cara Masato mengatakannya membuatnya terdengar seperti kisah klasik di mana pemenang mendapatkan tangan Miharu sebagai istri…

Namun, entah keraguan itu benar atau tidak, Celia dan yang lainnya bereaksi dengan sedikit tersentak mendengar cerita Rio tentang duel demi Miharu itu.

“Untuk alasan yang sama sekali tidak masuk akal, setelah kalah dalam duel itu kakakku memutuskan untuk menculik Miharu dan membawanya ke Kerajaan Centostella secara paksa.”

“Hah?!” Semua orang langsung menegang mendengar berita bahwa Miharu diculik.

“Kamu tidak apa-apa, Miharu?!” tanya Sara dengan panik.

Miharu tersenyum lembut untuk meyakinkan semuanya. “Ya. Haruto langsung menyelamatkanku. Aku bahkan tidak terluka—semuanya baik-baik saja.”

“Syukurlah…” Celia, Sara, Orphia, Alma, dan Latifa semuanya menghela napas lega.

“Tapi kurasa Aki mengalami nasib yang lebih buruk dariku, jadi…” Miharu menatap Masato dengan cemberut, mendorongnya untuk melanjutkan.

“Seperti kata Miharu, masalahnya ada pada Aki. Aku tahu ini akan mengejutkan saat mendengarnya, tapi Aki membantu kakakku dalam upaya penculikan Miharu,” kata Masato dengan ekspresi kaku.

“Apa…” Semua orang terdiam seribu bahasa; orang pertama yang bersuara adalah Celia.

“…Apa yang sedang dilakukan Aki sekarang?”

“Dia berada di kastil bersama kakakku.”

“Insiden penculikan di dalam tembok kastil biasanya sudah cukup menjadi alasan untuk hukuman mati. Apakah mereka dihukum dengan cara tertentu…?”

“Itu tidak akan terjadi… Kurasa. Benar kan, Haruto?” Mendengar kata “hukuman mati” membuat Masato sedikit gugup.

“Hukumannya terbatas pada penempatan di bawah pengawasan karena dia adalah adik perempuan sang pahlawan. Begitu pula, selama Satsuki dan Miharu tidak meminta hukuman yang lebih berat, Raja Kerajaan Galarc telah memutuskan untuk tidak mengambil bentuk hukuman yang agresif terhadap Takahisa. Dan Kerajaan Centostella juga tidak akan bertindak terhadap pahlawan mereka sendiri,” jawab Rio, menenangkan semua orang.

“Begitu ya… Jadi, apa yang akan kalian lakukan pada Aki?” tanya Celia.

“Terlepas dari apa motifnya, faktanya adalah dia mencoba menculik Miharu. Itu bukan sesuatu yang harus dimaafkan dengan mudah, dan melakukannya tidak akan menguntungkan Aki. Itulah sebabnya kami berdiskusi dan sepakat bahwa pihak korban tidak seharusnya menjadi pihak yang mengulurkan tangan terlebih dahulu tanpa adanya semacam tindakan dari Aki,” jawab Rio dengan kaku.

Celia mengerutkan kening, ekspresinya tampak sedih. “Begitu ya…”

“Tentu saja, ada banyak hal yang ingin kami katakan kepada mereka. Tapi Aki terlalu bergantung pada Miharu, jadi kami memutuskan bahwa kami harus sedikit mengeraskan hati di sini. Kita harus membuatnya memikirkan kesalahannya dan meminta maaf atas kemauannya sendiri.” Satsuki mengerucutkan bibirnya seolah-olah dia baru saja menelan sesuatu yang pahit. Jika Miharu memaafkan Aki di sini, kemungkinan besar Aki akan terus bergantung pada kebaikan hati Miharu…

“…Meskipun aku tidak mengenalnya selama Miharu mengenalnya, aku tahu bahwa Aki bukan anak yang buruk tanpa harapan. Makanya aku yakin dia pasti sedang merenungkan perbuatannya sekarang. Dia pasti ingin meminta maaf. Saat dia melakukannya, kuharap kalian mau memarahinya habis-habisan, berbicara banyak dengannya, lalu berbaikan,” kata Sara, dengan perasaan jengkel dan frustrasi.

“Kita semua merasakan hal yang sama, Sara,” kata Orphia dengan senyuman lembut.

“Benar. Perasaan tidak suka miliknya terhadap Haruto telah memburuk dari tahun ke tahun, jadi akan sulit baginya untuk maju dengan jujur, tetapi jika dia bisa berdamai dengan perasaan itu dan meminta maaf secara tulus kepada Miharu dan Haruto, kurasa kita semua akan bisa kembali normal. Jika itu yang diinginkan Aki,” kata Satsuki dengan ekspresi lembut.

Masato memejamkan mata sambil berpikir. “…Yah, saat aku pergi menemuinya, dia menangis begitu hebat sampai-sampai dia bahkan tidak bisa bicara, jadi aku yakin dia sedang merenungkan perbuatannya. Tapi kakakku bahkan lebih parah daripada Aki dalam banyak hal, jadi kurasa akan buruk jika kedua orang itu dibiarkan berdua saja,” katanya dengan nada letih.

“…Itu mungkin benar,” setuju Satsuki dengan susah payah.

Wajah Masato mengerut masam. “Tapi kurasa bukan berarti kakakku harus dibiarkan sendirian juga. Dia akan merajuk dan menjadi keras kepala, jadi itu tidak akan bagus. Jika kalian menjauhkan Aki secara paksa darinya, dia mungkin akan memberontak juga. Itu hanya akan menciptakan lebih banyak masalah. Jujur saja, aku merasa tidak enak karena memiliki saudara-saudara yang sangat merepotkan…” Dia menundukkan kepala kepada mereka semua.

“Tidak perlu meminta maaf,” ujar Rio, yang langsung disetujui oleh yang lainnya dengan mengangguk.

“Karena Aki bilang dia ingin tinggal atas kemauannya sendiri, ada kemungkinan besar mereka berdua akan tetap bersama… Kurasa akan lebih baik jika ada seseorang yang mendampingi mereka, memarahi mereka agar mereka tidak sampai menyimpang dari jalan yang benar. Itu haruslah seseorang yang bisa menghadapi saudara-saudaraku tanpa mundur. Jadi artinya… artinya…” Masato berhenti sejenak untuk waktu yang lama, seolah-olah untuk memantapkan perasaannya. Kemudian, dia berkata dengan tegas: “Artinya satu-satunya orang yang mungkin adalah aku, saudara mereka.”

“Itu tidak bisa Miharu, yang sangat disayangi oleh mereka berdua. Atau Satsuki, yang dikagumi oleh mereka berdua. Atau Haruto, yang dicemburui dan diresahkan oleh mereka. Itu haruslah seseorang yang bisa berdebat dengan mereka di tingkat keluarga, sebagai seorang saudara. Tidak ada orang lain yang bisa. Aku tidak bisa benar-benar mengungkapkan alasannya dengan kata-kata, tapi aku merasa akulah yang harus melakukan ini. Makanya…”

Dia tidak bisa menjelaskan alasannya dengan baik, tetapi semua orang yang hadir memahami apa yang ada di dalam hatinya. Sebagai buktinya, mereka semua mendengarkan perkataan Masato dengan serius dan menatapnya dengan rasa hormat.

“Makanya aku berbicara dengan Haruto dan yang lainnya serta memikirkan hal ini baik-baik. Aku akan pergi. Jika aku harus membiarkan mereka berdua pergi ke Kerajaan Centostella seperti ini, maka aku akan pergi bersama mereka. Aku ingin menceritakan semua ini kepada kalian, jadi aku meminta diri untuk menyampaikan penjelasan mengenai insiden tersebut kepada kalian semua. Begitulah keadaannya, jadi…” Masato menghentikan kalimatnya, tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan jalan pikirannya. Dia tampak sedikit gelisah.

“Apa kamu masih meragukan keputusanmu?” tanya Rio kepada Masato.

“Bukannya begitu, sepertinya. Hanya saja… aku tidak bisa tidak memikirkan apa pendapat semua orang tentang hal ini…” kata Masato, sambil menatap wajah setiap orang. Usianya saat ini baru dua belas tahun—wajar saja jika dia merasa gelisah.

“Menurutku kamu luar biasa,” kata Rio seketika.

“…Eh?”

“Menurutku kamu luar biasa, Masato. Aku adalah tipe orang yang ragu-ragu dan menjaga jarak, jadi aku mengagumi kepositifan yang sungguh-sungguh itu. Aku menghormatinya. Rasanya hampir menyilaukan untuk dilihat…” kata Rio, memuji Masato dari lubuk hatinya yang paling dalam. Aki adalah adik perempuan Amakawa Haruto, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa layaknya seorang kakak. Bahkan setelah bersatu kembali di dunia ini, dia tidak mampu memahami jarak di antara mereka dan mengabaikan masalah itu seperti yang telah dilakukan Miharu.

“Menurutku kamu juga luar biasa,” kata Satsuki. “Sebagai teman dan senior mereka, aku ingin melakukan sesuatu terhadap mereka berdua… Tapi ada batasan yang tidak boleh kulewati. Aku tidak tahu di mana batas itu berada, jadi aku yakin pilihan terbaik bagiku saat ini adalah menjaga jarak dan menahan diri untuk tidak memaafkan mereka begitu saja. Aku menyadari ada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan untuk mereka meskipun kita tetap bersama mereka. Aku tidak punya keberanian untuk melangkah sejauh itu, aku kurang mempertimbangkan segalanya. Tapi, Masato, kamu sanggup melakukan semua itu. Itulah sebabnya kamu luar biasa.”

“Aku setuju. Masato tampak bersinar karena bisa melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan. Aku… Aki sangat menyayangiku sebagai seorang kakak perempuan, tetapi aku selalu menahan diri ketika harus menyebut nama Haruto di depannya. Aku tidak bisa menjadi kakak perempuannya dalam arti yang sesungguhnya. Masato, meskipun kamu bertemu dengan Aki setelah aku, kamu telah menjadi keluarganya lebih daripada aku. Aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri… Itulah kenapa kamu terlihat begitu menyilaukan, Masato,” kata Miharu, menatap Masato dengan penuh kagum.

“Kamu sudah menjadi orang dewasa yang luar biasa, Masato,” Sara terkikik.

“Benar, kan?”

“Yups.”

Orphia dan Alma sama-sama mengangguk setuju.

“Itu benar. Kamu sudah menjadi lebih kuat dan lebih mengagumkan dariku, yang tertua di sini.” Celia juga melihat Masato sebagai sosok yang bersinar, meskipun ada bayangan tipis di wajahnya.

“Masato adalah seorang pria dewasa,” ucap Aishia.

“Hehe, kamu sangat keren, Masato,” puji Latifa dengan senyuman tanpa beban.

“A-Apa yang kalian bicarakan sih? Astaga…” Pujian bertubi-tubi dan tatapan penuh kekaguman dari semua orang membuat wajah Masato merona karena malu.

“Kalau itu kamu, Masato, kami bisa menyerahkannya padamu tanpa perlu khawatir. Begitulah maksudnya,” Satsuki terkikik sambil mengedipkan mata usil.

“K-Kalau begitu, kalian semua bisa tenang dan serahkan semuanya padaku! Aku tidak ingin insiden ini menjadi alasan bagi semua orang untuk bersedih. Duduk santai saja dan jalani hidup seperti biasa. B-Benar juga—Haruto, ayo kita pergi mandi. Aku sudah menantikan itu sejak tadi. Ayo, ya? Aku akan memandikan punggungmu!”

Tidak tahan lagi menanggung rasa malu, Masato mulai berbicara ngawur dengan cepat. Dia berdiri dan menarik tangan Rio, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted