Seirei Gensouki Volume 2 Bab 5: Kesalahpahaman Bahasa Indonesia
Bab 5: Kesalahpahaman
Sara dan para spirit folk lainnya membawa Rio dan Latifa yang tidak sadarkan diri kembali ke desa mereka. Rio dibelenggu dengan artefak sihir dan dikawal ke sel penjara yang jarang digunakan di balai desa, sementara kelompok Sara membawa Latifa ke kamar tamu di dalam gedung yang sama.
Seorang tetua werefox menunggu mereka di dalam ruangan untuk menerima laporan tentang insiden tersebut. Sebagai perwakilan kelompok mereka, Sara menjelaskan situasinya kepada sang tetua terlebih dahulu.
“…Hmm. Tidakkah kau rasa tindakanmu sedikit terlalu kasar, Uzuma sayang?” Tetua itu menatap Uzuma dengan dingin setelah mendengar laporan tersebut.
“T-Tapi itu adalah situasi darurat…”
“Yah, itu mungkin benar… namun, anak ini… aku belum pernah melihatnya berkeliaran di sekitar sini sebelumnya. Dan aku pasti akan mengingat anak seimut ini.”
“Ya. Mengenai hal itu, kami menemukan perbekalan di tempat perkemahan mereka yang kami yakini sebagai peralatan perjalanan milik anak perempuan ini. Ada kemungkinan bahwa dia bukan salah satu penduduk desa…” Sara memperjelas dari samping dengan wajah sedikit pucat.
“Orphia. Alma. Bawa anak laki-laki yang ditangkap itu ke sini sekarang juga.” Ekspresi wajah sang tetua berubah seketika, dan dia memberikan perintahnya dengan nada yang agak dingin.
Orphia dan Alma sama-sama menyetujui perkataan tetua itu dengan terbata-bata dan bergegas keluar ruangan.
Latifa membuka matanya tak lama kemudian.
◇◇◇
Latifa membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan yang tidak dikenal. Dia berada di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman, di bawah selimut yang hangat dan pas. Dibandingkan dengan berkemah di luar, tidur di sini jauh, jauh lebih nyaman dan menyenangkan. Namun —
“…Onii-chan?” gumam Latifa, melirik ke sekeliling ruangan dengan liar.
Orang yang sangat berharga baginya tidak ada di sini, tempat seharusnya dia berada. Sebagai gantinya, dia dikelilingi oleh orang-orang asing: manusia serigala perak Sara, siluman binatang bersayap Uzuma, dan sang tetua siluman rubah — seperti Latifa. Ketiganya duduk di kursi saling berhadapan, bercakap-cakap dengan ekspresi penuh pergulatan di wajah mereka yang langsung terhenti ketika mereka menyadari bahwa Latifa sudah bangun.
“Hmm, sepertinya kamu sudah bangun sekarang. Selamat pagi, saudaraku. Bagaimana perasaanmu?” Tetua siluman rubah itu tersenyum, berbicara dalam bahasa bangsa roh. Namun, Latifa tidak dapat memahami sepatah kata pun.
“…Apa yang kamu katakan? Onii-chan… Di mana Onii-chan?” Dia memiringkan kepalanya dan berbicara dalam bahasa umum wilayah Strahl. Ekspresi suram terpatri di wajah Sara dan sang tetua.
“Bahasa manusia. Tetua Ursula, anak ini benar-benar…”
“Rupanya begitu. Anak ini bukan berasal dari desa,” kata Sara dan sang tetua satu sama lain dengan penuh keyakinan.
Latifa, di sisi lain, tidak dapat memahami apa yang dikatakan keduanya, dan dengan penuh kewaspadaan melihat sekeliling ruangan. Dia menggerakkan hidungnya, diam-diam mengendus aroma Rio untuk menemukannya.
Tiba-tiba, hidung Latifa menangkap aromanya yang samar.
Tidak salah lagi. Itu Onii-chan — tidak sanggup menahannya lagi, Latifa melompat turun dari tempat tidur dan langsung berlari.
“Ah, hei! Berhenti di situ!” Perkembangan yang tiba-tiba ini membuat reaksi Sara terlambat, memungkinkan Latifa meloloskan diri dan kabur ke lorong.
“Augendae Corporis!”
Setelah berhasil mencapai lorong, dia merapalkan satu-satunya mantra sihir yang bisa dia gunakan. Tubuhnya seketika menjadi lebih ringan, kekuatan mengalir di dalam dirinya saat dia berlari ke arah aroma Rio. Sara dan Uzuma mengejarnya.
“Hmm. Situasi ini sepertinya berubah menjadi semakin buruk,” gumam Ursula pada dirinya sendiri, ekspresinya menggelap.
◇◇◇
Beberapa saat sebelumnya, sebelum Latifa membuka matanya…
Rio sadar kembali di atas ranjang reyot di sebuah ruangan yang tidak dikenal. Dengan kepala yang pusing, dia bertanya-tanya di mana dia berada; tubuhnya terasa lesu, seolah-olah dia masuk angin. Dalam upaya untuk menilai situasi, dia bergerak untuk duduk di atas tempat tidur, ketika rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk area perutnya.
Menerima kekalahannya, dia menyerah dan kembali berbaring.
Dia menggerakkan tangannya ke perutnya untuk mengobati dirinya sendiri dengan sihir, ketika dia menyadari ada belenggu yang menahan kedua tangannya.
Ini… Borgol Penyegel Sihir, ya. Mereka bahkan cukup berhati-hati untuk mengikat leher dan kakiku juga.
Rio mengatupkan giginya. Borgol Penyegel Sihir adalah artefak yang dapat menahan esensi sihir pemakainya. Biasanya, cukup dengan memasang satu saja, tetapi benda itu bisa rusak tergantung pada kemampuan pemakainya. Oleh karena itu, penyihir kelas atas akan dipaksa mengenakan beberapa borgol sekaligus.
Bahkan mengendalikan esensiku saja sudah terlalu sulit, apalagi menyembuhkan diriku sendiri. Sialan…
Rio mengerutkan kening saat menatap langit-langit di atasnya. Cahaya bulan yang redup dan angin dingin masuk dari jendela berjeruji besi di sudut ruangan. Pada suatu titik, mereka telah melucuti peralatan dan pakaiannya; Rio hanya mengenakan pakaian dalam tipis. Suhu ruangan itu kurang dari sepuluh derajat… Dia hampir dipastikan akan masuk angin dengan kondisi seperti ini.
Dia sebenarnya lebih suka bergerak sedikit dan menghangatkan diri semampu mungkin, tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk itu. Rio menahan rasa sakit yang menusuk di perutnya dan berfokus untuk memulihkan diri secara alami.
Kemudian, beberapa saat kemudian…
Rasa dingin di kulitnya telah melewati batas kemampuannya, membuat perasaan tidak menyenangkan meresap ke seluruh tubuhnya. Pada akhirnya, kesadarannya mulai melayang ke dalam kegelapan. Dia tahu tidur itu buruk, tetapi dia tidak dapat menemukan tenaga untuk menjaga matanya tetap terbuka.
Kemudian, beberapa menit setelah Rio benar-benar kehilangan kesadaran, dia mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang berwarna putih bersih. Dia sama sekali tidak tahu di mana dia berada, atau apa yang sedang terjadi.
“Haruto…” Sebuah suara yang jernih dan indah bergema.
Rio melihat sekeliling dengan terkejut. Sebelum dia menyadarinya, seorang gadis asing sudah berdiri di hadapannya.
Rambut panjang berwarna *rose-gold* miliknya berkibar di belakangnya saat dia menatap wajah Rio dengan mata bagaikan batu delima. Tidak ada emosi di ekspresinya, tetapi fitur wajahnya sangat luar biasa indah.
“Kamu…?” gerutu Rio.
Dia merasa seperti pernah melihat wajah itu di suatu tempat, tetapi apakah mungkin dia akan melupakan wajah seseorang yang begitu luar biasa cantik, wajah yang memancarkan aura keilahian?
“Siapa kamu?”
“Aku? Siapa aku… ya.” Gadis itu memiringkan kepalanya.
“Kamu tidak tahu?” tanya Rio.
“Ya…” gadis itu mengangguk dengan sedih.
“Tapi kamu tahu siapa aku, kan?”
“Haruto? Haruto… Haruto adalah… hanya Haruto.”
“Itu bukan jawaban yang jelas. Kalau begitu, kenapa kamu mengenalku?”
Jawaban gadis itu yang terkesan filosofis namun bertele-tele membuat Rio tersenyum kaku dan mengubah arah pertanyaannya. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Rio dengan lembut dan, setelah sesaat, menggenggam tangannya. Rasanya begitu wajar baginya melakukan hal itu… Rio hanya berdiri di sana dan membiarkan tangannya digenggam sesuai keinginannya. Tangannya terasa begitu tidak nyata, seolah-olah terkuras dari kehidupan secara buatan — namun di saat yang sama, tangan itu terasa hangat secara aneh.
“Aku… terhubung dengan Haruto.”
“Terhubung denganku?” Rio tidak begitu mengerti dengan apa yang dia katakan.
“Iya. Tapi sekarang bukan waktunya… Haruto, aku hanya milikmu, dan aku akan selalu berada di sisimu. Kelemahanmu, kekuatanmu, segalanya tentangmu — aku menerima semuanya. Jadi, jangan menyerah. Jangan takut. Dan percayalah pada dirimu sendiri sedikit saja.”
“K… Kenapa…?”
Ekspresi tercengang meliputi wajah Rio; dia hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya. Gadis itu tersenyum seolah dia telah mendapatkan kembali sebagian emosinya yang hilang.
“Karena kamulah satu-satunya yang tersisa untukku… untuk… untuk apa?” kata gadis itu, berkedip dengan ekspresi yang agak bingung dan terheran-heran. Kemudian, gadis itu membelalakkan matanya sembari menarik napas terengah-engah saat wujudnya tiba-tiba mulai memudar.
“…Maaf. Sepertinya… waktunya sudah habis.”
“Waktu?” tanya Rio kepada gadis itu, tetapi dia tidak menjawabnya.
“Maaf. Aku hanya bisa… melakukan ini… untukmu. Selamat… tidur…”
Dia memeluk Rio dengan lembut. Matanya dengan lesu berjuang untuk tetap terbuka, seolah kesadarannya sedang memudar. Rio pun menyusulnya ke dalam kegelapan itu tidak lama kemudian.
Kemudian, tidak lama setelah itu, suara lain —
“Haru-kun.”
Dia merasa mendengar suara yang familier. Seorang gadis. Rio mengenali suara gadis ini… Tidak, Amakawa Haruto mengenali suara gadis ini. Kenangan yang sudah mati-matian ia coba segel sejak lama kembali membanjirinya dengan jelas, seolah-olah semuanya baru saja terjadi kemarin.
“Bangun, Haru-kun!”
Teman masa kecil Haruto — Ayase Miharu — sedang mengguncang bahunya.
“…Aku sudah bangun.”
“Ah! Haru-kun sudah bangun!”
Haruto mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membukanya di bawah cahaya yang menyilaukan dan melihat Miharu sedang tersenyum lebar kepadanya. Senyuman Miharu… Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat Haruto bahagia, memenuhi hatinya dengan kehangatan.
“Ada apa…? Padahal aku sedang tidur dengan nyenyak.”
Dia melirik jam dinding. Hari masih pagi buta.
“Jangan bicara begitu! Hari ini kan hari karyawisata! Kamu harus bangun pagi!”
Karyawisata? Kenapa kami harus pergi karyawisata di usia seperti ini? Tunggu, benar juga! Hari itu adalah karyawisata pertama kelas satu — Haruto membelalakkan matanya sembari terkesiap saat mengingat hal itu. Namun setelah ragu sejenak…
“Hmm. Selamat malam, Mii-chan,” kata Haruto, kembali merokokkan diri ke dalam selimutnya, meskipun dia sudah sepenuhnya terbangun sekarang.
Dia benar-benar menantikan karyawisata itu — itulah kenapa dia tidak bisa tidur semalam. Tapi untuk suatu alasan, dia sangat ingin menghabiskan hari itu hanya berdua dengan Miharu. Akan tetapi, gadis itu sangat menantikan karyawisata tersebut, jadi dia merengek seperti anak kecil yang barang berharganya direbut.
“K-Kamu tidak boleh begitu! Kita sudah berjanji untuk duduk berdampingan di bus dan pergi bersama!”
Oh, itu juga terdengar cukup menggoda, pikir Haruto mendengar ucapan Miharu, namun dia sama sekali tidak bergerak untuk keluar dari selimut. Ingin melihat reaksinya, dia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengggodanya sedikit.
“Ayolah, Haru-kun, bangun. Kumohon ya?” Miharu mengguncang tubuh Haruto dengan lembut.
“Mmph…” gerutu Haruto sebagai tanggapan. Lalu, di suatu tempat di sebelah tempat tidur, Miharu mulai memainkan sesuatu.
Kurasa aku harus bangun sekarang, pikir Haruto, tetapi tepat saat dia melakukannya —
“Dih! Aku pasti akan membangunkanmu!” kata Miharu, melompat ke atas selimutnya.
“Wah, hah?! Tunggu! Tahan, Mii-chan! Aku menyerah! Aku akan bangun!”
Haruto buru-buru muncul dari balik selimutnya dan mendapati Miharu sedang tersenyum penuh kemenangan kepadanya.
“Fufu! Selamat pagi, Haru-kun.”
Sejujurnya, kegemasan itu sungguh tidak adil… Tapi Haruto juga tidak akan tinggal diam begitu saja.
“Hap!” Dengan usil Haruto menarik Miharu ke dalam selimut bersamanya.
“W-Wah! Haru-kun!” Miharu merona hebat karena dipeluk begitu erat olehnya di dalam selimut.
“Kau ingin aku melepaskannya?” tanya Haruto dengan nada menggoda. Miharu berada di hadapannya. Itu saja sudah cukup membuatnya sangat bahagia.
“Uugh… Ada apa, Haru-kun? Hari ini kamu berani sekali.”
“Itu karena aku mencintai Mii-chan. Nah? Kau ingin aku melepaskannya?”
Dia benar-benar bersikap berani hari ini, pikir Haruto tanpa ekspresi saat dia berbicara.
“K-Kau jahat, Haru-kun. Mana mungkin aku ingin kamu melepaskannya.” Miharu merona semakin merah padam sambil bergumam.
“Sungguh. …Kalau begitu, apa boleh kalau kita tetap seperti ini lebih lama lagi?”
Setidaknya untuk saat ini, pikir Haruto sambil memeluk Miharu.
Untuk sesaat, rasanya seolah-olah Miharu akan melayang ke suatu tempat yang jauh… Haruto terus menggoda Miharu untuk mengalihkan perhatian dari kekhawatirannya.
“Ya,” Miharu mengangguk dengan senyuman kecil.
Haruto dengan lembut menyibakkan helai-helai rambut Miharu, lalu mengelus pipinya dengan lembut.
…Namun tangannya tiba-tiba menolak bergerak, seolah-olah ditahan oleh sesuatu.
Sebelum dia menyadarinya, kehangatan Miharu menghilang.
“Tolong bangun.”
Haruto — bukan, Rio — kembali ke kenyataan, disadarkan oleh suara seseorang. Itu adalah suara yang asing; suara seorang gadis muda, tetapi pastinya bukan suara Miharu.
Biarkan aku tetap tertidur, aku ingin melihat mimpi ini sedikit lebih lama… Rio sangat mengharapkan itu dari lubuk hatinya. Namun, kesadarannya tidak mengizinkannya sekarang setelah dia terbangun.
“Um, tolong bangun.”
Rio dibangunkan dengan guncangan sambil mengerjap. Kemudian, ekspresinya langsung berubah menjadi keputusasaan. Tentu saja, bukan Miharu yang ada di hadapannya — melainkan gadis peri Orphia dan gadis kurcaci Alma.
Apakah tadi… itu mimpi? Pikir Rio dengan samar di tengah demam dan kelelahannya.
Perasaan kehilangan yang tak terlukiskan menyelimutinya, membuat air mata tiba-tiba jatuh dari matanya.
Amakawa Haruto sudah mati, dan dia tidak akan pernah bisa bertemu Miharu lagi. Itulah sebabnya dia berusaha sebaik mungkin untuk berhenti mengingat Miharu. Pikiran dan perasaan yang telah dia segel hingga sekarang mengalir keluar dari dirinya bersamaan dengan air matanya.
Rio masih menyimpan perasaan penyesalan terhadap Miharu di dalam dirinya; mimpinya tadi telah mempertegas hal itu dengan tajam. Namun, bahkan dengan kesadaran itu, Miharu tidak ada di dunia ini.
Kenyataan itu kejam.
“Umm… Selamat pagi,” ucap Orphia dengan ragu-ragu saat Rio meneteskan air matanya dengan sedih.
“Selamat… pagi,” balas Rio secara refleks, meskipun dia sama sekali tidak melihat Orphia dan Alma. Dia menggigit bibirnya dalam upaya untuk meredam emosinya.
Tiba-tiba, dia merasakan seseorang menyelimutinya dengan selimut. Mereka mungkin tidak tahan melihat anak laki-laki seumuran yang hanya mengenakan pakaian dalam, bahkan jika dia berasal dari ras yang berbeda. Yah, siapa peduli tentang itu, pikir Rio sambil lalu.
Keheningan yang canggung meliputi ruangan itu — lebih tepatnya, meliputi Orphia dan Alma. Saat itulah pintu terbuka lebar dengan suara gedebuk yang keras.
“Onii-chan!”
Latifa muncul di ambang pintu. Beberapa saat kemudian, Sara dan Uzuma juga masuk. Begitu Latifa memasuki ruangan, dia langsung menangis sesenggukan dan memeluk tubuh Rio yang berbaring di tempat tidur.
“…Kenapa kamu menangis, Latifa?”
“Karena Onii-chan tadi pergi. Aku tidak mau itu… Tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah berada di sisiku, ya?”
“Aku kan ada di sini, ya kan?” kata Rio dengan lembut disertai senyuman kaku. Melihat Latifa menangis entah bagaimana membuatnya langsung tenang; gejolak emosinya telah menghilang.
“Kalau begitu, apa kamu akan selalu bersamaku? Kamu tidak akan pernah pergi, kan?” tanya Latifa sambil memeluk tubuh Rio dengan lebih erat lagi.
“Aduh. Bisakah kamu memelukku sedikit lebih longgar? Ini sakit,” kata Rio dengan wajah bermasalah, menghindari pertanyaan tersebut.
Dia tidak bisa menjawab ya. Jika dia melakukannya, itu mungkin akan menjadi sebuah kebohongan. Rasanya agak memalukan untuk berbohong secara langsung di hadapan seorang gadis muda yang mengaguminya.
“Eh, kamu terluka? Kenapa — Apa ini?!” Latifa akhirnya menyadari borgol di tangan dan kaki Rio. Dia mencoba membukanya secara paksa, tetapi itu sia-sia.
“Jangan khawatirkan aku. Apakah mereka melakukan sesuatu yang buruk padamu, Latifa?”
“Ya. Mereka menyakiti Onii-chan-ku,” jawab Latifa seketika, membuat Rio mengerjap dengan ekspresi kosong.
“Kalau begitu semuanya baik-baik saja,” katanya, geli.
“Enggak! Itu tidak benar. Siapa yang melakukan ini padamu?”
Latifa menggelengkan kepalanya dengan penuh kemarahan diiringi air mata di matanya. Kemudian, dia melihat sekeliling ruangan dan melihat Sara, Orphia, Alma, dan Uzuma — keempat orang yang tampak mengetahui situasinya. Dia memelototi mereka dengan curiga, secara diam-diam menuntut mereka menjelaskan apa yang terjadi.
“U-Umm…”
Tidak yakin harus mulai dari mana, wajah Sara memucat saat dia membuka mulutnya. Ketiga orang lainnya memasang ekspresi serupa. Tiba-tiba —
“Ya ampun, kenapa kalian semua tidak bisa berjalan sedikit lebih lambat? Aku sudah di sini sekarang.”
Terlambat, Ursula pun tiba. Begitu dia melihat Latifa bergelayut pada Rio, dia menundukkan kepalanya dan menghela napas. “Sudah kuduga. Anak laki-laki manusia, terimalah permintaan maafku. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu tentang gadis itu. Maukah kamu bekerja sama dengan kami? Tentu saja, kita akan memilih tempat yang lebih baik untuk berbicara.”
“Siapa yang peduli dengan hal itu! Apakah kalian yang melakukan ini pada Onii-chan? Jawab aku.” Sebelum Rio sempat menanggapi pertanyaan Ursula, Latifa menyela dan mengajukan tuntutan yang terang-terangan menunjukkan permusuhan.
“Benar juga… hm?! Ini… niat membunuh yang cukup sengit.”
Begitu Ursula mengonfirmasi tuduhan Latifa, Latifa memasang sikap melindungi di hadapan Rio. Matanya setajam anjing penjaga, memelototi para penghuni ruangan.
“Kalian bersikap jahat kepada Onii-chan. Aku tidak akan memaafkan kalian.”
Tanpa mereka sadari, udara tebal yang mengintimidasi menyapu ruangan yang suram itu. Udara itu diarahkan kepada semua orang di dalam ruangan. Kecuali kepada Rio. Kelompok Sara langsung menegang seketika, berkeringat gugup. Manusia binatang bersayap, Uzuma, melangkah maju dan menanggung penuh efek dari tatapan Latifa yang seolah menguliti kulit.
“Hentikan, Uzuma.”
“Kamu juga, Latifa. Aku senang kamu merasa begitu, tapi hentikan. Aku baik-baik saja, jadi mari kita dengarkan apa yang ingin mereka katakan.”
Ursula dan Rio turun tangan, tidak ingin situasinya menjadi tak terkendali.
“Jika Onii-chan berkata begitu, kalau begitu…” Latifa dengan enggan mundur.
“Terima kasih kepada kalian berdua. Sebelum kita pindah, izinkan aku membuka borgol itu. Di mana kuncinya, Uzuma?”
“…Aku memberikannya kepada Nona Sara,” jawab Uzuma kepada Ursula dengan suara kaku.
“Kalau begitu, Sara. Lepaskan borgol-borgol itu segera.”
“B-Baik, Nona! …Permisi.” Sara mengangguk, berlari terburu-buru ke arah Rio. Borgol di leher, tangan, dan kakinya dilepaskan satu per satu.
“Terima kasih banyak.”
“T-Tidak! Kamilah yang seharusnya meminta maaf kepadamu! Terimalah permintaan maaf kami yang tulus!” Sara menundukkan kepalanya dengan gugup setelah Rio berterima kasih kepadanya.
“Kalau begitu, mari kita segera pindah. Ikuti aku.”
“Tentu saja. …Tapi bisakah kamu memberiku waktu sebentar? Aku ingin menyembuhkan diriku sedikit.”
Tepat saat Rio mencoba berdiri dan mengikuti Ursula, rasa sakit yang tajam menusuk perutnya. Wajahnya berubah menahan kesakitan saat ia meminta izin untuk mengobati dirinya sendiri.
“Hm? Apakah mereka melukaimu? Itu tidak bisa dimaafkan. Biar aku obati kamu sekarang juga.” Ursula menjawab sambil melemparkan tatapan dingin ke arah Sara dan yang lainnya.
“Tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Tolong jangan repot-repot.” Rio menolak tawaran wanita itu dan mulai mengobati dirinya sendiri.
“Itu… seni roh. Begitu ya, jadi kamu adalah manusia dari Yagumo. Sungguh tidak biasa…”
“Jadi ini memang seni roh?” gumam Ursula pada dirinya sendiri dengan penuh pemahaman, membuat Rio menanyainya.
Ia sangat sadar bahwa ia sedang menggunakan kemampuan tidak biasa yang mirip, tetapi tidak sama dengan sihir. Ia pernah mencoba meneliti identitas kemampuan itu di perpustakaan Akademi Kerajaan, dan hasilnya, ia menemukan sebuah buku yang membahas tentang teknik tiruan yang disebut “seni roh.” Namun, buku itu tidak memuat detail apa pun selain namanya saja, dan penelitiannya berakhir begitu saja tanpa memberinya kejelasan lebih lanjut tentang kemampuannya.
“Dari kelihatannya, kamu sepertinya tidak begitu memahami seni roh. Bagaimana kamu bisa mempelajarinya?”
“Aku tiba-tiba bisa menggunakannya suatu hari nanti.”
“…Apa?”
Kejujuran Rio yang blak-blakan membuat mata Ursula membelalak.
“Apakah itu tidak biasa?”
“Hm. Manusia pada dasarnya memiliki bakat yang jauh lebih sedikit terhadap seni roh daripada kaum roh… Mempelajarinya dalam waktu sehari seharusnya mustahil. Setidaknya dalam keadaan normal. Jangan bilang…” kata Ursula, sebelum menatap Rio penuh arti.
“Apakah ada masalah?”
“Tidak, ini bukan masalah… lagipula seharusnya tidak. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang itu juga, jika memungkinkan. Aku berjanji untuk menjawab pertanyaan apa pun yang kamu miliki tentang kami juga.”
“Tolong lakukan. Selain itu, aku akan sangat berterima kasih jika Anda bisa meminjamkan saya sesuatu untuk dipakai,” kata Rio, memperlihatkan sekilas sosoknya yang hanya mengenakan pakaian dalam di balik selimut. Ursula menghela napas dalam-dalam.
“…Aku minta maaf lagi. Pakaian itu akan segera dibawakan untukmu. Beserta sedikit obat, karena kamu mungkin sudah sakit. Orphia, Alma. Pergi siapkan sekarang.”
“B-Baik, Nyonya!”
Orphia dan Alma mengangguk bersamaan dan bergegas keluar ruangan.
◇◇◇
Setelah Rio berganti pakaian, pindah kamar, dan memperkenalkan dirinya, ia menjelaskan alasan mengapa ia membawa Latifa. Ia menjelaskan bahwa ia sedang dalam perjalanan dari Strahl ke Yagumo, bahwa ia diserang di tengah jalan oleh Latifa, seorang budak yang dikendalikan oleh Kalung Penurut, dan bahwa Latifa memutuskan untuk mengikutinya setelah ia membebaskannya, dan seterusnya.
Latifa — satu-satunya yang bisa membuktikan kebenaran ceritanya — mungkin merasa lelah atau bosan dengan obrolan ringan tersebut, karena ia telah tertidur di pangkuan Rio saat Rio berbicara. Namun, keterikatannya pada Rio adalah bukti terbesar yang bisa mereka berikan.
Seiring berjalannya diskusi, Rio menjelaskan alasan mengapa ia memutuskan untuk menginjakkan kaki ke hutan besar yang menjadi tempat tinggal desa kaum roh. Yaitu, fakta bahwa ia ingin kaum roh menerima kaum _werebeast_ — Latifa — dan melindunginya.
“Uzuma. Karena tindakan gegabahmu, kau telah melakukan penghinaan terbesar terhadap seorang dermawan yang berusaha melindungi salah satu dari kaum kita. Apa ada yang ingin kau katakan untuk membela diri?”
Setelah mendengar keseluruhan cerita, Ursula menoleh ke arah Uzuma dengan tatapan tajam.
“Umm… Ketika aku mendengar bahwa Nona Latifa telah ditidurkan oleh seni roh, aku pikir manusia itu… bahwa dia pasti telah menculiknya, dan aku langsung dikuasai amarah.”
Uzuma menjelaskan sisinya dari cerita tersebut dengan wajah memerah dan keringat bercucuran.
“Dari apa yang kudengar, kau menyerangnya di tengah-tengah negosiasi bahkan tanpa repot-repot mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Tuan Rio. Kenapa kau tidak menunggu sampai dia selesai berbicara?”
“A-Aku hanya terlalu marah… Dan selama ada kemungkinan penculikan, aku harus bersiap menghadapi skenario terburuk dan memastikan keselamatan penyelamatan Nona Latifa…” Uzuma meringkuk saat berbicara, menyusut ke belakang karena ketakutan.
Mengingat betapa mendesaknya situasi saat itu, tindakan Uzuma tidak bisa diabaikan begitu saja. Siapa pun akan langsung menyimpulkan telah terjadi penculikan jika mereka menemui orang asing bersenjata yang menerobos wilayah mereka, dengan seorang gadis muda dari spesies mereka sendiri yang ditidurkan oleh seni roh.
Selain itu, ada bahaya Latifa digunakan sebagai sandera jika mereka bergerak terlalu lambat… Dan jika Rio benar-benar seorang penculik, hal itu sangat mungkin terjadi.
Namun, bukan berarti reaksi Uzuma sepenuhnya salah, bukan berarti pula ia telah melakukan hal yang benar. Bagaimanapun juga, kenyataan tidak memiliki solusi yang jelas seperti rumus matematika.
“T-Tolong maafkan aku, Sesepuh Utama! K-Kau boleh menghukumku dengan cara apa pun yang kau anggap pantas, jika memang diperlukan!” Tidak mampu menahan suasana di dalam ruangan serta rasa bersalahnya sendiri, Uzuma akhirnya menyerah dan beralih meminta maaf.
“Hmph. Bukankah kau salah mengira kepada siapa permintaan maaf itu harus ditujukan?”
“T-Tuan Rio! Aku benar-benar sangat menyesal…”
Uzuma tiba-tiba berlutut di tanah, menempelkan dahinya ke lantai di hadapannya.
Dengan kata lain, sebuah dogeza memaksa.
Jadi kaum roh juga memiliki budaya dogeza… Mata Rio sedikit melebar melihat hal itu.
Meskipun dia tidak yakin apakah tindakannya memiliki bobot yang sama dengan dogeza di Jepang, niat meminta maafnya sudah sangat jelas.
“T-Tolong terima permintaan maafku juga. Tuan Rio, aku sangat menyesal atas apa yang terjadi!” Mengikuti jejak Uzuma, Sara, Orphia, dan Alma semuanya ikut berlutut secara berurutan.
“…Aku akan berbohong jika bilang aku tidak terusik, tapi aku menerima permintaan maaf kalian. Aku sendiri mungkin kurang pertimbangan saat memasuki wilayah kalian secara sembrono.” Merasa tidak nyaman melihat para gadis sebayanya dan yang lebih tua bersujud di kakinya, Rio memutuskan untuk menerima permintaan maaf mereka dan menyudahinya. Bukankah ide yang bagus juga untuk merusak hubungan mereka mulai sekarang.
“Tuan Rio, tolong terima permintaan maaf dariku juga. Aku berjanji akan membuat Uzuma bertanggung jawab atas ketergesa-gesaannya. Gadis-gadis di sana juga akan menghadapi omelan dariku,” kata Ursula, membuat Sara dan yang lainnya tersentak.
“Ya, aku mengerti. Jadi, kumohon semuanya, angkat kepala kalian. Aku akan merasa sangat cemas jika kalian terus seperti ini lebih lama lagi,” kata Rio dengan senyum dipaksakan kepada Sara dan yang lainnya yang masih membungkuk di lantai.
“Tuan Rio. Para tetua desa akan berkumpul besok pagi dan menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Anda. Anda pasti lelah malam ini. Silakan beristirahat bersama Nona Latifa di kamar ini,” saran Ursula sambil melirik ke arah para gadis yang perlahan bangkit berdiri.
“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”
“Baguslah. Aku juga akan menyiapkan seorang pelayan untuk Anda. Jangan ragu untuk memberi tahu kami jika Anda membutuhkan sesuatu.”
“Tidak, tidak ada. Terima kasih atas perhatian Anda.”
“Tentu saja. Sekarang, aku harus mengurus berbagai persiapan, jadi permisi dulu. Ayo ikuti aku, kalian semua.” Para gadis itu semuanya mengikuti Ursula keluar dari ruangan.
Dalam perjalanan keluar, Uzuma dan ketiga gadis itu membungkuk dalam-dalam, membuat Rio menganggukkan kepalanya dengan ringan kepada mereka. Tepat sebelum meninggalkan ruangan, Ursula menatap Latifa dengan pandangan yang meluap-luap penuh kasih sayang. Kemudian, Rio memindahkan Latifa dari pangkuannya ke atas tempat tidur, lalu berbaring di sebelah gadis itu.
◇◇◇
Sesaat setelah Rio tertidur…
Para tetua desa berkumpul di sebuah ruang dewan di lantai paling atas balai kota mereka.
“…Dan itulah rangkuman umum dari insiden ini. Aku yakin sudah sepantasnya kita menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Lord Rio dan memberikan hadiah sebagai bentuk rasa terima kasih kita karena telah menyelamatkan Latifa dan melindunginya. Apakah ada keberatan?” Setelah Ursula menjelaskan peristiwa yang terjadi, ia mengelilingi ruangan tempat para tetua berkumpul dari tempat duduknya. Ada dua tetua lain di dalam ruangan itu juga, yang duduk di sebelah kirinya. Yang lainnya memasang ekspresi penuh keraguan.
“Aku rasa tidak akan ada yang keberatan dengan permintaan maaf dan hadiah tersebut. Tapi, karena kita sama sekali tidak tahu bagaimana budaya manusia bekerja, kebiasaan umum kita mungkin tidak akan tersampaikan seperti yang kita maksudkan. Apa yang harus kita jadikan bahan permintaan maaf dan ucapan terima kasih adalah hal lain yang perlu dipertimbangkan,” kata tetua kepala elf — seorang pria paruh baya yang duduk di tengah-tengah dari ketiga kursi bersama Ursula.
Karena mereka sepenuhnya adalah ras yang berbeda dari manusia, ada perbedaan signifikan dalam sistem nilai fundamental mereka. Pada kenyataannya, perbedaan nilai itulah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari manusia sepanjang sejarah. Itulah sebabnya mereka ingin menghindari menyampaikan rasa terima kasih dengan cara yang salah dan menimbulkan ketidaksenangan tertentu.
“Kalau begitu, kenapa kita tidak tanyakan saja langsung pada anak itu? Kita bisa memberinya apa pun yang dia inginkan, selagi itu masih dalam batas kemampuan kita,” saran tetua kepala kurcaci dari tempat duduknya di sebelah kanan.
“Tidakkah kau pikir itu agak lancang, Dominic?” kata pria elf itu. Ia memandang kurcaci — Dominic — di sebelah.
Maksud Dominic adalah memberikan cek kosong bagi Rio untuk menulis jumlah yang diinginkannya. Namun jika jumlah itu tidak sanggup mereka penuhi, mereka akan berada dalam masalah karena tampak semakin tidak sopan dan tidak tahu terima kasih kepadanya.
Ruangan itu pun bergeming.
“Meskipun begitu, kita tidak bisa begitu saja mengungkapkan rasa terima kasih kita hanya dengan kata-kata. Kita berhutang budi yang besar kepada Lord Rio atas bagaimana kita telah merendahkannya. Aku yakin ada daya tarik tersendiri dari perkataan Dominic, semuanya,” kata Ursula, sambil menatap para tetua lainnya.
Tetua elf itu mengangguk dengan khidmat. “Yah… Kurasa begitu.”
Para tetua lain di ruangan itu dengan enggan menyuarakan persetujuan mereka juga. Semua orang yang hadir tentu saja merasa bahwa adalah hal yang benar untuk membalas kebaikan Rio dalam bentuk apa pun, namun alasan mengapa mereka begitu mewaspadai dirinya sebagian besar disebabkan oleh prasangka mereka terhadap manusia.
Dengan masalah antara ras mereka yang berakar mendalam dalam sejarah, ini adalah satu hal yang tidak dapat dihindari.
“Yups… kita harus menghindari manusia sebisa mungkin. Aku mengerti kenapa semua orang merasa waspada dan semacamnya, tapi yang satu ini cukup baik untuk menyelamatkan salah satu saudari kita dari perbudakan dan membimbingnya jauh-jauh sampai ke sini dari wilayah Strahl. Dari apa yang kudengar, kita membalas kebaikannya dengan niat buruk. Dia sama sekali tidak terlihat seperti tipe bocah yang menuntut kita untuk menawarkan seorang budak kepadanya… Bukankah begitu, Ursula?”
“Tentu saja, aku bisa menjamin hal itu. Dia adalah anak laki-laki yang penuh belas kasih dan masuk akal,” ucap Ursula menegaskan atas pertanyaan Dominic.
“Jadi bagaimana menurutmu, Syldora?”
“…Baiklah. Apakah ada yang punya keberatan?” Tetua elf Syldora mengangguk dan memandangi para tetua lainnya, tetapi tidak ada seorang pun yang maju, dan usulan tersebut disetujui.
“Kalau begitu, untuk menunjukkan rasa terima kasih kita, kita akan mengikuti ide yang disarankan oleh Dominic. Apakah ada orang lain yang ingin mengajukan hal lain?”
“Hmm. Kalau begitu bolehkah aku?” Ursula mengangkat tangan.
“Tentu saja. Kau adalah orang yang paling terlibat dalam insiden ini dari dewan tetua,” Syldora menyambutnya dengan mengangguk.
“Aku ingin membahas topik tentang Nona Latifa. Meskipun aku tidak sepenuhnya yakin, aku percaya bahwa masa pertumbuhannya sebagai seorang budak telah mengakibatkan apa yang kulihat sebagai kerapuhan mental. Kerapuhan itu telah memanifestasikan dirinya dalam bentuk ketergantungan terhadap Lord Rio. Jika kita ingin menerimanya di dalam komunitas kita, kita akan meminta Lord Rio untuk tinggal di desa juga — setidaknya sampai dia merasa tenang, kurasa begitu.”
“Ah… Kalau begitu, persiapan perlu dilakukan untuk tempat tinggal dan pengurusnya. Kita juga harus menjelaskan situasinya kepada para penduduk desa… dan mendapatkan persetujuan bocah itu juga, tentu saja.”
Dominic menggaruk kepalanya mendengar perkataan Ursula; Syldora dan Ursula membuka mulut mereka tanpa jeda.
“Kita bisa menyerahkan pengurusan kepada para gadis pelataran kuil magang. Untungnya, mereka sudah pernah bertemu dengannya. Itu bisa menjadi bentuk penebusan dosa mereka karena telah merepotkan seorang pelindung agung.”
“Hm. Mengenai tempat tinggal, ada sebuah rumah kosong di properti milikku. Mereka bisa tinggal di sana. Aku sukarela mengambil peran sebagai wali mereka untuk sementara waktu.”
Maka dari itu, diskusi berjalan dengan lancar, sampai…
“Hei. Apakah kalian punya waktu sebentar?”
Suara yang indah bergema dengan jelas di seluruh ruang dewan. Tiba-tiba, seorang wanita muncul begitu saja di tempat yang tadinya kosong. Dia adalah seorang wanita muda yang cantik, dan mengenakan gaun yang dihiasi bunga-bunga halus. Rambut hijau miliknya cukup panjang hingga menyapu lantai, dan matanya berwarna zamrud yang berkilauan. Wajahnya begitu sangat halus, hampir tampak tak bernyawa, namun dia juga memancarkan aura hangat di sekelilingnya.
“Y-Yang Mulia…”
Begitu mereka melihatnya, semua tetua di ruangan itu langsung berlutut secara serentak.
“Dryas Agung, Festival Roh Agung masih cukup lama di masa depan. Apa yang membawa Anda ke sini hari ini?” tanya Ursula dengan penuh rasa hormat.
“Yah, aku hanya memikirkan sesuatu. Aku datang untuk menanyakannya pada kalian.”
“Begitu ya. Ada yang bisa kami bantu?”
“Barusan, aku merasakan kehadiran roh asing di sekitar area ini. Sepertinya roh tingkat cukup tinggi, tapi langsung menghilang begitu saja. Aku hampir yakin itu adalah roh kontrak seseorang, tapi aku tidak tahu milik siapa. Ada ide?”
Tanya Dryas sambil melihat sekeliling ruang dewan.
“…Ya, sebenarnya ada,” jawab Ursula.
“Oh, benarkah? Di mana itu?”
“Saya yakin saat ini roh itu sedang beristirahat bersama anak laki-laki yang membuat kontrak dengannya. Kami berencana membawanya ke ruangan ini besok pagi. Apa yang ingin Anda lakukan, Yang Mulia?”
Jawaban Ursula membuat para tetua lainnya membelalakkan mata karena terkejut. Satu-satunya anak laki-laki yang terikat kontrak yang dia maksud adalah Rio.
“Huh… Jadi dia akan berada di ruangan ini? Kalau begitu, apa boleh jika aku ikut hadir juga?”
“Tentu saja, Yang Mulia. Namun, anak laki-laki itu sebenarnya adalah seorang anak manusia…”
“Oh, ampun… Sungguh tidak biasa. Manusia berkunjung ke desa ini?” Dryas sedikit melebarkan matanya.
“Ya, ada keadaan khusus yang terlibat…” Ursula ragu-ragu dengan ekspresi bermasalah.
“Hmm. Yah, itu bukan urusanku. Aku akan mampir lagi besok pagi. Sampai jumpa.”
“Baik, Yang Mulia,” aku Ursula dengan hormat.
Pada saat yang sama, sosok Dryas menghilang menjadi debu. Dia benar-benar jiwa yang bebas, muncul dan menghilang sesuka hatinya.
“…Dia pergi. Aku tidak pernah membayangkan dia akan muncul secara tiba-tiba seperti itu. Ini buruk bagi jantungku…” Ursula menghela napas lelah. Para tetua lainnya menunjukkan reaksi serupa.
“Gahaha! Bagaimanapun juga, dia adalah spirit peringkat tinggi yang hebat. Tentu saja dia akan bersikap berubah-ubah. Kita jarang sekali bisa menghadapnya di luar Festival Spirit Agung. Anggap saja ini sebagai keberuntungan kali ini,” kata Dominic.
“Itu mungkin benar… Tapi, Ursula, apa yang kamu bicarakan tadi? Apakah itu benar?” Syldora menyetujui perkataan Dominic sebelum menyipitkan matanya menatap Ursula.
“Hm. Perkataan Dryas yang Agung tadi memperkuat teoriku. Lord Rio telah menjalin kontrak dengan seorang spirit. Meskipun itu sedikit mengkhawatirkan karena dia sepertinya tidak menyadarinya sendiri.”
“Begitu ya… Datang silih berganti… Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi setelah dibangunkan secara paksa selarut ini. Ini benar-benar malam yang penuh peristiwa,” kata Syldora, memasang senyum kaku di wajahnya.
“Tepat sekali. Malam paling penuh peristiwa dalam hidupku.” Dominic mengangguk setuju dengan penuh semangat.
◇◇◇
Keesokan paginya, Rio terbangun dan mendapati Latifa sedang tidur di dalam pelukannya. Kemarin dia sempat merasakan gejala awal masuk angin, tetapi sekarang dia merasa sehat secara mengejutkan, dan itu semua berkat obat elf yang diberikan oleh Ursula. Saat dia sedang mengelus rambut Latifa di tengah tidurnya yang pulas, ketukan pintu terdengar dari luar.
“Ya? Aku sudah bangun.” Rio duduk dan menjawab, lalu memerhatikan saat pintu perlahan terbuka. Di ambang pintu berdiri tiga gadis — manusia serigala perak Sara, gadis elf Orphia, dan gadis dwarf Alma.
“Selamat pagi, Master Rio,” Ketiganya memanggil bersamaan sebelum membungkuk serentak.
“Selamat pagi. Ada apa?” Rio menundukkan kepalanya untuk membalas salam mereka sebelum mempersilakan mereka bertiga masuk ke dalam kamar.
“Persiapan sarapan sudah selesai, jadi kami datang untuk memanggilmu. Apa yang ingin kamu lakukan?” Sara menjawab mewakili mereka bertiga. Dia adalah yang tertua di kelompok itu dan sering kali akhirnya bertindak sebagai pemimpin mereka.
“Itu tawaran yang sangat menggiurkan, tapi aku ingin menunggu sampai Latifa bangun. Dia akan marah padaku jika aku makan duluan.” Rio tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya.
Ekspresi para gadis itu sedikit meredup. Melihat betapa pulasnya Latifa tidur sambil memeluk Rio membuat mereka merasa semakin bersalah atas apa yang telah mereka lakukan akibat salah penilaian.
“…Dimengerti,” kata Sara sambil membungkuk sopan.
“Oh! Bagaimana kalau minum teh dulu, Master Rio?” Orphia bertepuk tangan saat sebuah ide melintas di benaknya.
“Jika tidak merepotkan, kalau begitu tolong, Nona Orphia.”
“I-Ini adalah kehormatan bagiku! Silakan tunggu sebentar di sini.” Orphia berseri-seri sebelum berbalik.
“Ah, aku akan membantumu, Orphia!” Tanpa membuang waktu, Alma dengan penuh semangat mengikuti Orphia keluar. Tidak butuh waktu lama hingga Rio and Sara menjadi dua orang terakhir yang tersisa di dalam ruangan.
“A-Ah, umm…”
Sara hampir berpikir untuk pergi membantu mereka juga, tetapi akal sehatnya menyadari bahwa tiga orang tidak diperlukan hanya untuk menyiapkan teh. Dia menghentikan langkahnya, merasa agak canggung karena ditinggal sendirian dengan seseorang dari ras berbeda yang juga seusia dengannya. Kesiapsiagaan dan kesalahpahaman egois mereka telah merepotkan Rio begitu banyak.
“T-Terima kasih,” kata Sara sambil membungkuk tanpa berpikir. Kemudian, dia menyadari betapa tidak berarti tindakannya itu, dan wajahnya memerah. Sara menundukkan kepalanya, telinga dan ekornya bergerak-gerak gelisah. Mata Rio mau tidak mau tertarik pada gerakan-gerakan itu.
Apakah mereka bergerak sendiri begitu saja? tanyanya dalam hati sambil memiringkan kepalanya sedikit.
“U-Umm, Master Rio?” Sara tiba-tiba berseru dengan gugup, membuat Rio menegang secara refleks.
“Ya, ada apa?”
“Umm. Apakah Anda sudah mengenal Latifa sejak dia masih menjadi budak, Master Rio?” tanya Sara dengan ekspresi penuh pergulatan, tidak mampu menahan diri untuk tidak menanyakan pertanyaan yang sulit itu.
“Tidak. Tapi aku bisa membayangkan perlakuan seperti apa yang telah dia terima. Aku tidak pernah mengoreknya terlalu dalam karena aku tidak ingin memicu kenangan buruk apa pun.”
“…Begitu ya. Kalau begitu, umm, jika Anda tidak keberatan, Master Rio… Bisakah Anda menceritakan apa yang Anda ketahui?”
“Itu bukan cerita yang menyenangkan. Kau sadar akan hal itu, kan?” Kata-kata Rio menyiratkan bahwa itu bukanlah sesuatu yang ditanyakan karena rasa penasaran.
“…Ya, aku tahu. Tapi aku tetap ingin mendengarnya.” Sara menatap Rio, tekad kuatnya menyala-nyala di dalam matanya.
“Baiklah.”
Rio mulai menceritakan kepada Sara detail dari teorinya tentang bagaimana Latifa telah diperlakukan. Bagaimana dia begitu tanpa emosi yang mengerikan saat pertama kali mereka bertemu, dan bagaimana dia menyimpan trauma mendalam yang kadang-kadang bermanifestasi dalam bentuk perubahan suasana hati. Bahwa dia mungkin dipaksa menjalani pelatihan tempur yang keras, dan bahwa dia adalah seorang pembunuh bayaran yang telah mencoba membunuhnya. Bahwa dia tidak pernah menikmati makanan layak seumur hidupnya…
Kebenaran yang besar dan mengejutkan itu membuat Sara benar-benar tidak bisa berkata-kata. Namun setelah Rio selesai berbicara, darahnya mendidih karena marah hingga dia gemetar menahannya.
“Latifa itu… Dia jauh lebih luar biasa daripada kami semua! Mampu bertahan dari hal-hal seperti itu…”
“Ya, aku sangat setuju. Dia benar-benar luar biasa.”
Rio bersimpati dengan kekesalan Sara yang tertahan; sebagai anggota dari ras yang memiliki rasa kekeluargaan yang kuat di antara mereka sendiri, dia tentu saja akan merasakan kemarahan yang bahkan lebih besar daripada dirinya.
“…Tapi aku tidak bisa bilang kalau aku membenarkan hobi menguping.” Rio mengarahkannya ke sisi lain pintu.
Kata-katanya membuat Sara tersentak dan berbalik menghadap ke arah pintu. Di sana berdiri Ursula, Orphia, and Alma.
“Menyadari keberadaan kami, ya? Mohon maaf. Aku punya beberapa hal di pikiranku mengenai gadis itu,” kata Ursula meminta maaf, dengan ekspresi bingung di wajahnya.
“Ada apa dengan Latifa?” tanya Sara dengan penuh ketakutan.
“Ini hanya dugaanku sendiri, tapi… Latifa kemungkinan besar berasal dari garis keturunanku.”
Kata-kata Ursula membuat semua orang yang hadir terperanjat. Dia memberikan senyuman pahit yang tak berdaya, dan memilih kata-katanya dengan hati-hati saat dia melanjutkan perkataannya.
“Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, anak perempuan dari seorang kerabat sedarahku kabur dari rumah. Dia adalah gadis yang bebas dan tidak terkekang. Awalnya, aku pikir dia sudah bosan dengan desa dan mulai berkelana di sekitar sini, tapi dia tidak pernah pulang lagi. Dia menghilang tanpa jejak, jadi kami percaya bahwa dia telah diserang oleh monster atau binatang buas, tapi…”
Ursula menatap sosok Latifa yang sedang tidur sambil memeluk Rio.
“A-Apa itu benar?! Tetua Ursula?” tanya Sara dengan tercengang.
“Hmm. Itu terjadi jauh sebelum kamu lahir, Sara. Aku tidak yakin, tapi melihat Latifa membuatku merasa bernostalgia secara aneh. Aku ingin menanyakan nama ibunya, tapi di saat yang sama aku takut untuk melakukannya. Ibunya sudah tidak hidup lagi, bukan?” kata Ursula dengan ekspresi yang agak kesakitan.
“Sayangnya, aku mendengar bahwa ibu Latifa sudah tidak ada di dunia ini…”
“Begitukah…” Ekspresi sedih tersirat di wajah Ursula.
“Mm… Onii-chan? Pagi…” Latifa terbangun oleh percakapan yang terjadi tepat di sampingnya.
“Selamat pagi. Sepertinya sarapan sudah siap. Apa kamu mau makan?”
“Ya, mau!” Latifa mengangguk penuh semangat. Senyum damainya tidak menunjukkan tanda-tanda masa lalu yang kejam yang harus dia tanggung. Saat ini, dia hanyalah seorang gadis bahagia yang sesuai dengan usianya.
“Lord Rio, aku benar-benar berterima kasih kepadamu.” Ursula berterima kasih kepada Rio dengan tulus.
“Tidak, aku…” Ekspresi Rio meredup saat dia menggelengkan kepala dengan perasaan bersalah.
Aku hanya memikirkan diriku sendiri… dia menelan kata-kata itu tanpa mengucapkannya.
“…Hm. Lord Rio belum sarapan, kan? Aku juga belum makan. Jika kamu tidak keberatan, bolehkah aku makan bersama kalian?” usul Ursula untuk mencairkan suasana ruangan yang serius.
“Ya, tentu saja. Benar kan, Latifa?”
“Um… tentu saja. Kalau Onii-chan tidak keberatan.” Latifa mencengkeram pakaian Rio dan mengangguk malu-malu.
“Baguslah, itu membuat segalanya jauh lebih mudah. Aku akan memperkenalkan Lord Rio kepada dewan tetua pagi ini. Kalian semua, siapkan makanannya. Bawa porsi kalian sendiri sekalian.” Ursula tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
“Baik, segera! Kami akan membawanya kembali ke sini. Ayo Sara, Alma.” Orphia mengambil inisiatif dan bergerak lebih dulu. Dia berlari menuju pintu.
“Benar. Ayo, atau kamu akan tertinggal, Sara.” Alma menyusulnya tanpa membuang waktu, memanggil Sara yang bergerak lambat.
“A-Aku tahu.” Sara tersadar dari lamunan sesaatnya dan berlari keluar ruangan dengan terburu-buru.
◇◇◇
Setelah menitipkan Latifa kepada Sara dan Alma, Rio dipandu oleh Ursula dan Orphia menuju lantai tertinggi balai kota, tempat para tetua desa berkumpul.
Balai kota itu adalah sebuah rumah pohon yang dibangun di atas pohon besar yang terletak di pusat desa, bangunan yang sama tempat Rio menginap semalam. Rio menaiki tangga spiral yang melingkar di luar rumah pohon tersebut, menghadap ke arah bangunan-bangunan desa di bawahnya. Suku spirit telah mengintegrasikan gaya hidup mereka sepenuhnya dengan alam, membangun rumah dari kayu, batu, dan tanah liat di dalam hutan.
Itu adalah pemandangan yang magis untuk disaksikan.
Begitu mereka mencapai titik di atas pohon-pohon desa lainnya, mereka dapat melihat satu pohon yang sangat besar menjulang tinggi di atas segalanya.
“Itu…”
“Fufu. Itulah Pohon Dunia, tempat Great Dryas — roh dari pohon-pohon raksasa — bersemayam. Konon pohon itu sudah ada di sini jauh sebelum kami datang ke tanah ini. Besar sekali, bukan?” jelas Orphelia dengan bangga kepada Rio yang membelalakkan matanya.
“Ya. Aku sampai di sini dengan berjalan menuju ke arah pohon itu.”
“…Luar biasa. Penghalang sihir ilusi tingkat lanjut terbentang di sekeliling Pohon Dunia, jadi pohon itu tidak bisa dilihat tanpa pelatihan ekstensif dalam seni roh.” Komentar santai Rio membuat mata Orphia semakin membelalak.
“Begitu… kah?”
Rio tampak tidak sepenuhnya yakin, lalu memiringkan kepalanya. Karena dia belum pernah bertemu pengguna seni roh lain hingga saat ini, dia tidak punya pembanding untuk mengukur tingkat kemampuan seni roh miliknya sendiri. Namun, dia menyadari bahwa kemampuannya untuk meniru sebagian besar mantra sihir secara bebas hanya dengan mengurai aliran esensi dalam rumusnya adalah keuntungan yang tidak adil, bahkan bagi dirinya sendiri.
“Hm. Lord Rio, Anda bilang tidak belajar seni roh dari siapa pun. Apakah itu benar?” tanya Ursula tiba-tiba saat mereka berjalan.
“…Ya. Aku mendapat sedikit dorongan ke arah yang benar… tapi aku sebagian besar mempelajarinya sendiri.” Rio sempat ragu-ragu untuk menjawab pada awalnya, tetapi akhirnya mengiyakan.
“Begitu ya. Bakat yang luar biasa sekali. Mungkin…” kata Ursula dengan ekspresi termenung di wajahnya, lalu menggantungkan kalimatnya sebelum selesai.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di lantai paling atas.
“Kita sudah sampai, Lord Rio. Masuklah juga, Orphia.”
Ursula membuka pintu dan memberi isyarat agar mereka masuk. Rio masuk lebih dulu, diikuti oleh Orphia di belakangnya. Di dalam, berbagai sosok lanjut usia duduk di kursi mereka sambil menunggu.
“Lord Rio, silakan duduk di sebelah sini. Orphia, duduklah di sebelah Yang Mulia dan layani kebutuhannya.”
Ursula mengarahkan Rio ke sebuah kursi dekat pintu dan Orphia ke sudut ruangan. Di sana berdiri seorang wanita muda.
“…Eh?”
Untuk sesaat, Orphia meragukan matanya sendiri. Wanita muda itu adalah eksistensi yang jauh lebih superior daripada dirinya sendiri sebagai kerabat sedarah dari para anggota dewan di desa: roh pohon raksasa, Dryas, yang baru saja diceritakan Orphia kepada Rio. Dalam keadaan normal, dia tidak akan pernah ditemukan di tempat seperti ini, tetapi—
“Ada apa? Cepat bergerak.” Ursula tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut saat dia dengan santai memerintahkan Orphia untuk maju.
“A-Ah, tentu saja!” Orphia mengangguk canggung dan berjalan menuju Dryas. Ketika Dryas melihat Orphia, dia memeluknya dengan gembira. Namun Orphia merasa gugup, menciptakan satu titik ketegangan di ruangan yang damai itu. Para tetua lainnya di dewan tetap duduk tenang dan tersenyum puas ke arah mereka.
Setelah duduk lebih dulu, Rio mengamati Dryas dan Orphia dengan rasa penasaran, lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Di hadapannya terdapat tiga kursi untuk tiga kepala tetua: high elf Syldora, pemimpin kurcaci Dominic, dan wasian Ursula.
“Sekarang setelah semua persiapan selesai, saya ingin memulai rapat dewan tetua. Karena kita telah mengundang seorang anak laki-laki manusia sebagai tamu kita dalam kesempatan ini, kita akan melangsungkannya dalam bahasa manusia,” kata Syldora, menyatakan dimulainya rapat. Khusus untuk rapat ini, mereka akan mengadakan persidangan dalam bahasa umum wilayah Strahl milik manusia demi mempertimbangkan keberadaan Rio.
“Sekarang, anak laki-laki manusia. Aku ingin menyampaikan permintaan maafku karena telah memanggilmu ke sini hari ini. Dan aku berterima kasih dengan tulus atas kehadiranmu.”
“Seharusnya akulah yang mengatakan itu. Merupakan suatu kehormatan diundang ke sini.” Rio membungkuk ringan dari tempat duduknya.
“Aku adalah Syldora, salah satu kepala tetua di desa kaum spirit ini. Di sampingku adalah kepala tetua lainnya. Aku yakin kamu sudah mengenal Ursula. Pria kurcaci di sini adalah—” Syldora berdiri dan mulai memperkenalkan Dominic.
“Namaku Dominic. Senang bertemu denganmu, anak manusia.” Dominic memotong lebih dulu, memperkenalkan dirinya sendiri.
“…Seperti yang bisa kamu lihat, dia orangnya agak blak-blakan. Aku minta maaf jika dia menyinggungmu dalam hal apa pun. Aku akan mengenalkan para tetua lainnya kepadamu di lain kesempatan.” Syldora tersenyum pahit dengan senyuman kecil.
“Terima kasih atas perhatian Anda. Senang berkenalan dengan semuanya — namaku Rio.” Rio berdiri dan membungkuk dalam-dalam dengan perkenalan diri yang sederhana.
“Tidak perlu merendahkan diri, Tuan Rio. Anda adalah tamu dan dermawan kami. Atas masalah yang disebabkan oleh saudara-saudara kami karena kesalahpahaman mereka, serta karena telah membebaskan salah satu kaum kami dari perbudakan, aku menyampaikan rasa terima kasih dan permintaan maaf yang sebesar-besarnya,” kata Syldora, meminta semua tetua di ruangan itu untuk berdiri dan menundukkan kepala mereka ke arah Rio.
Dari sikap tulus mereka, Rio menilai bahwa kata-kata terima kasih dan permintaan maaf itu sungguh-sungguh. Namun, melihat orang-orang yang jelas-jelas memiliki pengalaman hidup jauh lebih banyak darinya membungkuk kepadanya secara bersamaan membuatnya merasa tidak nyaman, dan dia tersenyum pahit.
“Aku menerima kata-kata permintaan maaf dan terima kasih kalian. Mengenai permintaan maaf tersebut, aku juga bersalah karena telah menginjakkan kaki di wilayah kalian tanpa diundang. Aku tidak mengalami kerugian permanen atau jangka panjang apa pun, jadi selama kesalahpahaman itu telah diselesaikan, aku tidak menganggapnya sebagai masalah. Mari kita lupakan dan anggap itu sebagai musibah yang tak disengaja. Silakan, angkat kepala kalian,” kata Rio dengan sikap tenang dan sopan.
Para tetua menahan napas kagum melihat betapa dewasanya tindakan Rio, berbanding terbalik dengan penampilannya yang pastinya masih muda dan polos.
“Kami sangat berterima kasih atas ketidakegoisan Anda,” Syldora mulai dengan menundukkan kepalanya, “tetapi adalah fakta bahwa kami membalas kebaikan yang kami terima darimu dengan perlakuan buruk. Oleh karena itu, kami ingin melakukan sesuatu sebagai balasannya untuk mengekspresikan penyesalan kami. Adakah sesuatu yang Anda inginkan, Tuan Rio?” lanjutnya, merasa sedikit kesulitan untuk mengutarakan kata-katanya. Tatapan para tetua tertuju pada Rio.
“Keinginan… begitu?” Ekspresi bingung muncul di wajah Rio mendengar topik yang tiba-tiba itu.
Ursula menambahkan penjelasan tersebut sambil menghela napas.
“Anda bisa menyebutkan apa saja. Karena perbedaan spesies kita, kami tidak yakin bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan rasa terima kasih kami kepada Anda. Meskipun ada beberapa orang yang takut dengan apa yang akan Anda minta,” kata Ursula sambil tersenyum kaku. Ekspresi sedikit rasa bersalah muncul di wajah para tetua saat Rio mengangguk paham.
“Begitu ya… Kalau begitu, bisakah aku meminta agar kalian menerima Latifa dalam asuhan kalian? Tujuan atamaku adalah pergi menuju wilayah Yagumo di sebelah timur dari sini.”
Ekspresi serius muncul di wajah Rio saat ia menundukkan kepalanya ke arah Syldora, yang duduk di hadapannya. Para tetua tampak cukup terkejut.
“Hmm… Tapi Tuan Rio, itu adalah salah satu keinginan kami. Jika boleh dikata, itu adalah sesuatu yang seharusnya kami minta dari Anda, bukannya sebaliknya. Anda bisa meminta sesuatu yang lebih…” Ursula menghela napas, membiarkan tawa kecil yang kecut lolos. Rio menggelengkan kepalanya perlahan.
“Anda mungkin berkata begitu, tetapi akulah yang tidak bertanggung jawab ketika aku mencoba mengambil alih kehidupan orang lain ke dalam tanggung jawabku.”
“Tuan Rio…”
“Itulah mengapa, jika itu memungkinkan… Jika ini bukan hanya angan-anganku saja, tetapi saat ini, Latifa… Kurasa dia melekat padaku. Itulah sebabnya—”
“Aku mohon, Tuan Rio. Jangan berkata apa-apa lagi. Setidaknya biarkan kami yang mengajukan permintaan itu. Bagaimana? Apakah Anda ingin tinggal di desa ini bersama Latifa untuk sementara waktu?” Rio sedang kesulitan untuk menemukan kata-kata, jadi Ursula mengambil alih.
“Itu… sangat dermawan dari pihak Anda. Apakah sungguh tidak apa-apa?” kata Rio, menyiratkan bagaimana statusnya sebagai manusia mungkin akan menimbulkan masalah.
“Jangan khawatir. Kami telah mendiskusikan segalanya kemarin, dan semua tetua di sini sudah menyetujuinya. Kami akan sangat senang jika Anda berada di sini, demi anak itu juga,” tegas Ursula memastikan.
“Betul sekali! Tidak perlu sungkan. Aku menyukaimu, Nak. Ursula menceritakan kepada kami seperti apa dirimu sebagai manusia, tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa kau ketahui tanpa bertemu seseorang secara langsung. Dan, Nak, aku sangat setuju! Kau bahkan pria yang lebih hebat daripada yang diceritakan kepadaku, Nak.” Dominic tertawa terbahak-bahak, menyambut Rio.
“Sungguh, itu persis seperti apa yang dikatakan oleh Ursula dan Dominic. Kami akan mengerahkan upaya sebesar-besarnya untuk mengakomodasi masa tinggal Anda di desa dan memastikan itu nyaman. Jika Anda merasa membutuhkan sesuatu kapan pun, jangan ragu untuk memberitahu kami.”
“Betul. Kau bahkan bisa meminta sesuatu selain barang-barang materi, seperti tangan salah satu gadis desa untuk dinikahi. Karena kau juga anak yang tampan… jika kau berminat, bagaimana dengan Alma-ku?” pamer Dominic, menambahi perkataan Syldora dengan nada bercanda.
“Dominic, jangan terlalu terbawa suasana. Apa kau mabuk?”
“Gahaha!” Dominic tertawa meriah setelah Ursula menegurnya. Tawa kecil bergemuruh di antara para tetua lainnya, seketika mencerahkan suasana ruangan tersebut.
“Ya ampun. Tapi begitulah adanya, Tuan Rio. Tidak perlu sungkan. Cobalah mencari sesuatu yang Anda inginkan selama tinggal di desa. Mohon maaf, tapi aku harus bersikeras untuk mengekspresikan rasa terima kasihku dengan satu atau lain cara.”
“…Aku mengerti,” Rio terkekeh, berpikir sejenak sebelum akhirnya menyatakan apa yang diinginkannya. “Kalau begitu, aku ingin meminta dukungan Anda dalam mengajari tentang seni roh dan cara hidup kalian selama aku tinggal di desa.”
“Begitu ya… Seharusnya itu sama sekali bukan masalah.”
“Hm. Kami akan menyiapkan guru yang berbakat untukmu.” Ursula dan Syldora mengangguk bersamaan.
“Baiklah! Sekarang setelah pembicaraan kalian selesai urusannya, bisakah aku melanjutkan urusanku?” Suara ceria Dryas bergema di seluruh ruangan. Semua mata di ruangan itu beralih kepadanya.
“Tentu saja, Yang Mulia Dryas. Tapi, jika boleh, bisakah aku memperkenalkan Yang Mulia terlebih dahulu kepada Tuan Rio?” tanya Ursula.
“Tentu, silakan saja.” Dryas mengangguk dengan santai sebagai tanggapan.
“Tuan Rio, yang duduk di sana adalah roh pohon raksasa, Yang Mulia Dryas. Orphia baru saja membicarakannya tadi, jika Anda ingat.”
“Umm… Seekor roh?” Mata Rio terbelalak kaget. Dryas memancarkan aura dunia lain, tetapi penampilannya sangat mirip manusia… sulit untuk percaya bahwa dia adalah seorang roh.
“Aku Dryas. Senang berkenalan denganmu, Rio. Mari kita akur, ya?” Dengan senyum polos, Dryas melayang di udara menuju ke arah Rio.
“Aku juga sangat senang berkenalan denganmu.” Rio membalas salam itu dengan wajah bingung saat Dryas tiba-tiba menyalami tangannya.
“Hmm… Kuduga begitu. Meskipun sangat samar, aku bisa merasakan kehadiran roh di dalam dirimu. Mungkin dia sedang tidur?”
“…Seekor roh? Di dalam diriku?” tanya Rio dengan bingung.
“Yups. Apakah ada yang terlintas di pikiranmu? Kamu seharusnya sudah membuat kontrak dengannya.”
“Kontrak? Tidak, aku rasa aku tidak mengingat apa pun…” Rio menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, merasa heran. Dia sama sekali tidak punya ingatan pernah membuat kontrak dengan roh seumur hidupnya.
“Benarkah? Aneh sekali… Ah, tidak perlu khawatir. Aku bilang kontrak, tetapi tidak ada kewajiban merepotkan yang terlibat. Kalaupun ada, itu justru lebih menguntungkan bagimu.”
Tidak mampu mengikuti perkataannya, Rio mengeluarkan suara “Hah…” dengan linglung.
“Hei, apa kamu keberatan jika aku memeriksanya? Ini tidak akan merusak tubuhmu, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”
Setelah ragu sejenak, Rio mengangguk sekali. “…Baiklah, silakan.”
“Kalau begitu, permisi…” kata Dryas, sambil dengan lembut memegang wajah Rio. Seketika itu juga, Rio merasakan sensasi aneh dari sesuatu yang asing merasukinya, tetapi dia menerimanya tanpa perlawanan.

“Wah… Kamu menyembunyikan jumlah ode yang sangat luar biasa di dalam dirimu. Tampak lezat. Apakah kamu benar-benar manusia? Oh — sepertinya sebuah jalur terbentuk juga pada akhirnya. Itu artinya kamu benar-benar telah membuat kontrak, dan—?!”
Di tengah-tengah pemeriksaannya terhadap roh yang sedang tidur di dalam diri Rio, Dryas tiba-tiba tersentak. Matanya terbelalak kaget.
“Ada apa?” tanya Rio, merasakan ada keanehan pada diri Dryas. “Ini sungguh luar biasa… Ada roh berwujud manusia yang sedang tidur di dalam dirimu,” jawab Dryas dengan ekspresi bingung. Hal ini membuat ruangan itu menjadi riuh lebih dari sebelumnya.
Rio tetap tidak begitu memahaminya.
“Roh berwujud manusia?”
“Mm… Dilihat dari reaksimu itu, kamu tidak tahu betapa langkanya roh berwujud manusia. Orphia, jelaskan padanya.” Dryas melimpahkan tugas penjelasan itu kepada Orphia.
“Eh? Ah! B-Baik, Yang Mulia! Jadi, bagi para roh, hanya roh kelas tinggi ke atas yang mampu mengambil wujud manusia seperti Great Dryas. Tentu saja, roh semacam itu sangatlah langka. Ada yang bilang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.” Meskipun panik, Orphia memberikan informasi yang cukup.
“Dan begitulah kenyataannya. Singkatnya, roh yang sangat langka sedang tidur di dalam dirimu. Roh yang memiliki kekuatan yang sama — atau bahkan lebih — dariku.”
“…Great Dryas, apakah itu berarti ada kemungkinan roh kelas tinggi atas sedang tidur di dalam diri Lord Rio?”
“Kurang lebih begitu. Roh kelas tinggi atas yang dikenal sebagai ‘Enam Roh Agung’ semuanya menghilang lebih dari seribu tahun yang lalu dalam Perang Suci, tetapi bukan berarti aku tahu semua roh berwujud manusia di luar sana. Aku tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kemungkinan bahwa roh yang tertidur di dalam diri Rio adalah roh kelas tinggi atas,” jawab Dryas santai, yang memicu suara keterkejutan di seluruh ruangan.
“Um, apakah ada masalah dengan roh kelas tinggi atas?” tanya Rio kepada Dryas, melirik sekilas ke arah reaksi para tetua.
“Tidak ada yang khusus. Oh, tapi itu mungkin masalah besar bagi para penduduk desa yang memuja roh. Aku sendiri sudah diperlakukan sebagai dewa karena merupakan roh kelas tinggi, jadi jika roh kelas tinggi atas muncul, itu bisa menimbulkan kehebohan.”
“…Kalau begitu, kenapa kamu tidak membangunkan dan bertanya sendiri padanya apakah dia itu roh kelas atas atas?”
“Aku tidak menyarankannya. Roh itu pasti telah menghabiskan sebagian besar energinya karena ia sedang tidur lelap. Memangunkan dan menyuruhnya bangun secara sembarangan bisa membuatnya tidur lebih lama lagi, tapi jika kamu membiarkannya sendirian, ia pada akhirnya akan bangun dengan sendirinya.” Dryas menggelengkan kepalanya, memasukkan roh yang sedang tidur itu ke dalam diri Rio terlebih dahulu.
“Masuk akal juga… Aku mengerti.”
Ada beberapa hal yang masih membuat Rio penasaran, tetapi Dryas adalah makhluk yang disembah oleh para kaum roh, dan akan terlihat tidak sopan jika dia terus-menerus mencecarnya dengan pertanyaan. Dia memutuskan untuk menyimpannya untuk Ursula nanti, dan menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan lagi untuk saat ini.
“Hmm. Tapi jika roh di dalam diri Lord Rio adalah roh kelas atas minimum, maka kita mungkin perlu mempertimbangkan kembali sikap kita terhadap Lord Rio sendiri,” kata Ursula dengan ekspresi khawatir.
“Apa… maksudmu dengan itu?” tanya Rio penuh rasa ingin tahu.
“Secara garis besar, mungkin akan lebih bijaksana untuk memperlakukan Lord Rio dengan rasa hormat, seperti seorang orang suci. Kami tidak akan memintamu untuk memikul tugas apa pun; kami hanya akan menyesuaikan pandangan kami demi kebaikan kami sendiri. Kamu tidak akan dibebani,” jawab Syldora sambil tersenyum masam, merasakan kewaspadaan ragu-ragu Rio.
“Rasa hormat…? Tidak, aku merasa belum melakukan apa pun yang pantas mendapatkan itu. Tiba-tiba memperlakukanku seperti itu hanya akan membuatku repot,” kata Rio dengan canggung.
“Gahaha! Yah, jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja itu cara desa ini menyambutmu dengan lebih hangat lagi!” kata Dominic dengan tulus, seperti biasa.
“Haha… kurasa akan kulakukan.”
Rio tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk dengan senyum kaku.
◇◇◇
Setelah bertemu dengan para tetua dan Dryas di balai kota, Rio menemui Latifa dan makan siang sebelum Ursula mengantar mereka ke tempat tinggal baru mereka.
Jaraknya beberapa menit berjalan kaki dari balai kota, dekat dengan pusat desa. Banyak rumah anggota dewan desa yang terletak di sekitar sini.
Mereka tiba di sebuah rumah pohon yang ditopang oleh batang dari banyak pohon.
“Wah! Lihat Onii-chan, bahkan ada deknya! Luas sekali! Dan pemandangannya bagus banget!” Latifa berlari-lari dengan penuh semangat. Tidak bisa menyalahkannya—tempat itu terasa seperti markas rahasia. Rumah pohon yang lengkap tentu memiliki daya tarik yang bisa membuat hati anak kecil berdebar gembira.
“Hoho, sangat energetik ya. Rumah saya ada di sebelah — Lord Rio, silakan mampir kapan saja. Rumahnya sudah dilengkapi perabot, dan saya akan menyuruh Sara serta gadis-gadis lain membawakan makanan untuk kalian.”
“Terima kasih banyak. Anda benar-benar telah menyiapkan semuanya.”
“Oh, tidak perlu sungkan. Mari saya tunjukkan isi rumahnya.” Ursula tersenyum senang dan masuk ke dalam.
“Ayo, Latifa… Kita masuk. Ursula mau menunjukkan bagian dalam rumahnya.”
“Yey, baiklah!”
Rio dan Latifa mengikutinya masuk. Begitu Latifa melangkah masuk ke aula depan, dia mengeluarkan seruan gembira yang lantang.
“Wah!”
Pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah ruang tamu dan ruang makan yang luas serta terbuka. Perabotan elegan diletakkan di sekeliling ruangan, dan pintu geser terhubung ke dek di luar. Selain itu, terdapat beberapa kamar tidur beserta kamar tidur utama, dapur, dan kamar kecil, semuanya terisi penuh.
Sejujurnya, bagaimana pun cara kalian melihatnya, rumah itu terlalu besar untuk ditinggali oleh mereka berdua saja.
Sebagian besar artefak menutupi semua utilitas yang mereka butuhkan, memungkinkan mereka menjalani kehidupan yang hampir sama nyamannya dengan kehidupan di Jepang modern.
“Jika ada artefak yang tidak kalian tahu cara menggunakannya, tanyakan saja pada gadis-gadis itu nanti. Terakhir, biarkan saya tunjukkan kamar mandinya.”
“Kalian bahkan punya kamar mandi? Aku pasti sangat menyukainya.” Ekspresi Rio langsung cerah seketika saat mendengar tentang kamar mandi.
“Oh? Dari ekspresi wajahmu itu, sepertinya kamu sangat menikmati waktu mandimu, Lord Rio. Kalau begitu, kamu boleh menantikannya. Bathtub di rumah ini cukup luar biasa, kalau saya boleh membanggakannya,” kata Ursula bangga, senyum lebar terukir di wajahnya. Kepercayaannya tidak mengecewakan harapan Rio, karena dia mendapati dirinya diliputi rasa gembira saat melihatnya.
“Luar biasa. Jadi ini adalah bathtub milik kaum spirit folk.”
“Kan? Ini luar biasa, Onii-chan! Aku ingin langsung melompat masuk…”
Suasana hati Rio biasanya tidak naik atau turun terlalu drastis, tetapi aturan itu tidak berlaku jika menyangkut bathtub di rumah ini. Mata Latifa juga tampak berbinar-binar.
Pertama-tama, ada area ganti pakaian yang layak. Kedua, membuka pintu kamar mandi memperlihatkan area tersebut terbagi dengan jelas menjadi area berendam dan area mencuci, persis seperti pemandian bergaya Jepang. Hal ini memungkinkan seseorang untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum berendam di dalam air.
Lantai, dinding, dan bathtub semuanya terbuat dari kayu, bahan alami yang membantu ruangan tersebut memancarkan kualitas yang luar biasa dan tidak biasa yang cocok untuk menyegarkan diri. Terakhir, bagian terbaik dari semuanya adalah pintu yang mengarah ke dek luar, di mana satu bathtub kayu lagi ditempatkan. Dengan kata lain, sebuah bathtub terbuka — tentu saja tertutup rapat, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengintip.
“Hoho, saya senang kalian menyukainya,” Ursula tertawa gembira melihat kebahagiaan Rio dan Latifa.
“Umm, permisi?”
Sesaat sebelum matahari terbenam, setelah Ursula pergi, Rio dan Latifa sedang membagi kamar dan merapikan barang-barang mereka ketika mereka mendengar suara seorang gadis dari arah pintu masuk.
Itu mungkin Sara dan yang lainnya. Ursula tadi sempat menyebutkan bahwa mereka akan membawakan bahan makanan.
Rio bergegas ke pintu masuk dan membukanya, dan benar saja, Sara, Orphia, dan Alma berdiri di sana.
“Selamat malam semuanya.”
“M-Malam!” Rio menyapa mereka dengan ramah, yang dibalas oleh para gadis dengan ketegangan yang luar biasa.
Orphia berusaha tersenyum, tetapi senyumannya tampak agak dipaksakan. Alma memasang ekspresi dingin dan serius, lalu mengangguk sebagai salam.
“Aku sudah mendengar detailnya dari Ursula. Terima kasih atas semua yang telah kalian lakukan. Silakan masuk.” Meskipun merasa sedikit canggung dengan reaksi mereka, Rio tetap mempersilakan mereka masuk. Ketiga gadis itu berterima kasih kepadanya dan melangkah masuk dengan ragu-ragu.
“Latifa, Sara dan yang lainnya sudah datang.”
“Halo, Latifa.” Setelah diperkenalkan oleh Rio, para gadis itu menyapa Latifa yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Oh, halo lagi.”
Latifa menjawab dengan sopan sambil memperhatikan mereka dengan cermat untuk menilai suasana hati mereka. Tanpa disadari, ia sudah cukup dekat dengan mereka. Dia mungkin telah sedikit membuka diri ketika Sara dan Alma merawatnya saat Rio sedang berbicara dengan para tetua.
“Umm, Master Rio. Aku minta maaf atas gangguan ini, tapi apakah tidak apa-apa jika kami membawa barang-barangnya masuk?” tanya Sara dengan gugup, langsung membahas intinya.
“Tentu saja. Silakan,” balas Rio dengan ramah.
“Terima kasih banyak. Orphia, tolong bantu.”
“Baiklah. Mari kita mulai dengan memindahkan bahan makanan ke ruang penyimpanan. Barang-barang kita sendiri bisa menyusul nanti.” Sara dan Orphia saling bertukar kata.
Rio merasa mendengar sesuatu yang seharusnya ia komentari dalam percakapan mereka barusan, tetapi ia memutuskan itu pasti hanya perasaannya saja. Alasannya adalah fakta bahwa gadis-gadis itu tampak terlalu dengan tangan kosong untuk memindahkan barang.
“Umm, kalian semua tampak tidak membawa apa-apa… Di mana kira-kira barang-barangnya? Aku bisa membantu membawanya.”
“Oh, jangan khawatir. Kami membawanya bersama kami. Orphia, tolong.”
Sara terkikik mendengar pertanyaan Rio, lalu menanyakan lokasi ruang penyimpanan kepadanya dan berjalan ke sana. Rio mengikuti para gadis itu, penasaran dengan apa yang akan mereka simpan di sana. Latifa melompat-lompat kecil di samping Rio.
“Dissolvo.” Begitu mereka tiba di ruang penyimpanan, yang dijaga tetap bersuhu rendah menggunakan artefak, Orphia mengulurkan tangan dan merapal semacam mantra. Ruang di depan tangannya mulai melengkung, membengkok, dan berpilin hingga berbagai bahan makanan tiba-tiba muncul dari ketiadaan.
“Eh?!” Mata Rio dan Latifa terbelalak kaget.
“Apa yang digunakan Orphia barusan adalah artefak sihir… Penyimpanan Ruang-Waktu. Artefak itu menggunakan esensi penggunanya untuk menciptakan dimensi terisolasi dalam ruang dan waktu dengan sihir yang tertanam di dalamnya, lalu mengambil barang-barang dari dimensi tersebut saat pengguna merapal mantra tertentu,” sela Alma dengan penjelasan yang agak bangga, setelah menyimpulkan alasan keterkejutan mereka.
“Tidak disangka artefak semacam itu ada… itu luar biasa. Apakah spirit folk juga bisa menggunakan sihir ruang-waktu?”
“Ya. Namun, kami dibatasi oleh seberapa besar energi yang dikonsumsinya. Satu-satunya yang bisa menggunakannya adalah mereka yang memiliki jumlah ode yang besar… yang oleh manusia disebut sebagai esensi. Itulah sebabnya batu roh berkualitas tinggi diperlukan untuk menciptakan artefak dengan sihir ruang-waktu yang tertanam di dalamnya.”
“Batu roh? Bukan permata terpesona, atau kristal esensi?” Sambil Sara dan Orphia mulai merapikan barang-barang ke samping, Rio tidak dapat menahan rasa penasarannya saat dia bertanya kepada Alma.
“Ya. Itu adalah benda yang berbeda dari permata terpesona dan kristal esensi yang dibuat darinya. Secara garis besar, kamu bisa menganggapnya sebagai versi yang lebih unggul.”
“Begitu ya.”
Sambil mengangguk, Rio akhirnya bergabung dengan yang lain untuk menata makanan. Alma pun ikut membantu, dan untuk beberapa saat mereka bekerja sama dengan harmonis untuk menentukan tempat meletakkan berbagai barang.
Sesekali, Rio akan menemukan makanan atau bahan yang tidak ada di wilayah Strahl, tetapi ada di Bumi, membuatnya diam-diam bereaksi dalam keheranan.
“Apa ini…?” Setelah melihat benda yang benar-benar tidak bisa diabaikannya, dia berbalik untuk meminta Alma mengidentifikasinya.
“Itu adalah biji-bijian dari hasil penggilingan sekam padi. Itu adalah salah satu produk dari hasil penumbukan, dan kami memakannya dengan cara direbus atau digoreng.”
Kata yang digunakannya bukanlah pelafalan yang persis sama dengan kata bahasa Jepang untuk beras, tetapi dari deskripsi tentang cara penyiapannya, itu pasti tidak salah lagi.
“Meskipun kami memiliki bahan-bahan yang disiapkan dengan cara serupa, benda persis seperti ini tidak tersedia di Strahl.”
“Bagaimanapun juga, tanaman itu awalnya dibudidayakan di wilayah Yagumo. Jika aku tidak salah ingat, tanaman itu dibawa ke desa selama perjalanan sejarah yang panjang dan kami mulai membudidayakannya.”
“Aku menantikan saat memasak sekaligus memakannya.”
Dengan begitu, mereka mengobrol sambil bekerja sampai sebagian besar makanan disimpan di dalam pantri dan kembali ke ruang tamu. Latifa telah berbicara dengan Sara dan Orphia saat mereka membereskan semuanya, membuatnya lebih terbuka dan merasa sedikit lebih santai dibandingkan saat mereka pertama kali tiba.
“Jadi, umm… Master Rio. Di kamar mana sebaiknya kami tidur?”
Setelah teh disiapkan dan semua orang duduk di sofa untuk beristirahat sejenak, Sara mengangkat topik tersebut dengan agak ragu-ragu.
“…Hah?” Rio tertegun mendengar perkataan Sara.
“Eh? Umm, ketua sesepuh… Sesepuh Ursula tidak memberitahumu apa pun?”
“Uh, memberitahu apa?” Dia sudah memiliki firasat tentang apa yang sedang terjadi, tetapi tetap bertanya untuk menenangkan hatinya.
“Kami diminta untuk tinggal bersama Master Rio di rumah ini dan melayani kalian berdua…”
Benar saja, perkataan Sara persis seperti yang Rio duga.
“……Apaaa?! Kalian semua akan tinggal bersama kami di sini?” Latifa merespons dengan keheranan setelah beberapa detik berpikir.
“Ya. Apakah itu akan menjadi masalah?”
“A-Apakah akan menjadi masalah?” tanya Orphia, membuat Latifa mendongak menatap Rio yang duduk di sampingnya.
“Tidak, itu…”
Ekspresi Rio menyiratkan rasa keberatan. Meskipun mereka semua adalah anak laki-laki dan perempuan muda, situasinya adalah satu laki-laki berbanding empat perempuan — membayangkannya saja sudah membuatnya merasa lelah.
“Um, apakah permintaan ini terlalu berlebihan?” tanya Sara kepada Rio dengan wajah cemas.
“…Umm, apakah semua orang di sini baik-baik saja dengan hal itu?” tanya Rio. “Aku seorang pria — dan seorang manusia pula, tahu? Jika kalian datang ke sini karena sebuah perintah, maka kumohon jangan memaksakan diri untuk melakukan ini.”
Pemikirannya adalah bahwa Sara dan yang lainnya mungkin tidak ingin tinggal bersama dengan orang asing sepertinya.
“Kami sama sekali tidak keberatan! Master Rio adalah penyelamat. Dan kami tidak bisa cukup meminta maaf atas perlakuan buruk kami kepadamu. Jadi, kami ingin menebus kesalahan kami melalui hal ini!” desak Sara dengan penuh semangat, sementara Orphia dan Alma mengangguk di sampingnya.
“Ah, bukan, tapi… aku tidak butuh penebusan dosa atau semacamnya.” kata Rio, menarik diri.
“A-Aku mengerti bahwa kami mungkin merepotkanmu! Kami sebenarnya khawatir kalau Master Rio justru yang akan menentang hal ini… Memang benar kami diperintahkan untuk melakukan ini, tetapi kami senang bisa melaksanakannya! Kami juga ingin lebih akrab dengan Latifa!” ungkap Sara dengan sepenuh hati semampu dirinya. Rio dapat merasakan tekad di dalam diri Sara; dia tidak akan mudah mundur.
Keheningan di dalam ruangan itu berlanjut sejenak, hingga….
“Lord Rio, aku masuk.” Ursula muncul di ambang pintu.
“Ursula…” Rio menatapnya dengan pandangan penuh selidik, bertanya-tanya apakah semua ini adalah perbuatannya.
“Aku tidak sengaja mendengar sebagian percakapan kalian. Mengenai topik tinggal bersama para gadis, Lord Rio, aku ingin memohon hal ini dengan rendah hati kepadamu.”
“Meskipun kau berkata begitu… bukankah itu tidak diinginkan bagi mereka? Sara dan yang lainnya berasal dari garis keturunan yang sama dengan para anggota dewan desa, kan? Akan ada desas-desus buruk jika mereka tinggal bersama manusia sepertiku.” bisik Rio di telinga Ursula, setelah dengan cepat berdiri dan mendekatinya.
“Justru karena itulah alasannya. Desas-desus tentang Lord Rio dan Latifa sudah menyebar ke seluruh desa. Jika dewan desa memperlakukanmu seperti wabah, desas-desus negatif itu akan menjadi jauh lebih buruk.” Ursula menggelengkan kepalanya dengan tegas.
“Apakah itu benar-benar akan baik-baik saja?”
“Tentu saja. Sebagai sesepuh kepala, aku menjaminnya. Ini adalah tindakan yang kita ambil demi kebaikan Latifa. Lord Rio, kau berniat meninggalkan desa suatu hari nanti, bukan? Kalau begitu, tidak baik untuk melanjutkan ketergantungan yang telah ia kembangkan terhadapmu. Kau membutuhkan individu-individu di sisinya yang bisa menjadi pelindungnya, temannya. Meskipun gadis-gadis itu masih harus banyak belajar, mereka semua adalah gadis yang baik.”
Persis seperti yang dikatakan Ursula. Jika ia harus memikirkan masa depan Latifa, Rio harus lebih sedikit bersikap melindungi terhadapnya.
“…Kau benar. Baik Latifa maupun aku akan sangat diuntungkan dari hal ini.”
“Oho! Kalau begitu, bolehkah aku menganggapnya sebagai tanda penerimaan?”
“Ya. Jika itu tidak terlalu merepotkan Sara dan yang lainnya…”
Dengan demikian, diputuskan bahwa Rio dan Latifa akan tinggal bersama para gadis rakyat roh.
Malam itu, untuk merayakan kehidupan baru mereka bersama, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta sederhana. Yang hadir adalah para penghuni baru rumah itu — Rio, Latifa, Sara, Orphia, dan Alma — serta ketiga sesepuh kepala, Ursula, Syldora, dan Dominic, dengan total delapan orang. Menjelang malam, mereka bersiap-siap menyiapkan pesta di dapur. Sara, Orphia, dan Alma mengambil alih tugas memasak, sementara Rio meminta untuk membantu.
Namun, benar saja…
“Master Rio, silakan istirahat sejenak,” kata mereka semua kepadanya.
“Kita akan tinggal bersama mulai sekarang, jadi tidak perlu terlalu sungkan padaku. Kita semua hanya akan kelelahan dengan cara itu, bukan begitu? Dan aku lebih suka jika kalian berhenti memanggilku ‘Master’ juga,” kata Rio dengan senyum dipaksakan. Ketiga gadis itu saling berpandangan.
“Kalau begitu, umm… Apakah tidak apa-apa jika memanggilmu Rio saja?” tanya Sara mewakili kelompok itu.
“Ya, itu tidak masalah. Kalau begitu, mari kita lakukan pekerjaan rumah tangga dengan cara yang sama. Kita bisa memutuskan detailnya di lain hari, jadi mari kita memasak bersama untuk hari ini. Dengan cara ini kita juga bisa memeriksa tingkat keahlian memasak kita masing-masing.”
“Aku mau makan masakan Onii-chan!”
Usulan Rio membuat Latifa dengan antusias ikut bergabung dalam percakapan. Ketiga gadis itu — terutama Sara — tampak khawatir untuk membebani Rio dengan pekerjaan rumah, tetapi ucapan terakhir Latifa membuat mereka menuruti keinginannya. Kemudian, setelah berdiskusi siapa yang akan membuat apa, mereka akhirnya mulai menyiapkan makanan.
Kenyataannya, Rio sangat ingin memasak.
Ada begitu banyak bahan di dalam pantri yang tidak tersedia di Strahl, jadi dia ingin mencoba membuat ulang sebanyak mungkin makanan dari Bumi yang dia bisa. Latifa pasti akan sangat gembira juga. Dia hanya akan membuat makanan barat yang disukai anak-anak — pasta, telur dadar, dan patty daging.
Dengan tangan yang terampil, dia menyelesaikan masakan tersebut sambil tetap menghindari agar tidak menghalangi pekerjaan yang lain, membuat Sara dan Alma membelalakkan mata karena kagum.
“Fufu, ini menyenangkan… Memasak bersama semuanya,” kata Orphia, sambil menyiapkan makanan dan menyeringai senang.
“Rio… sama jagonya dalam memasak seperti Orphia,” kata Alma. Dia masih sedikit enggan memanggil Rio tanpa gelar.
“A-Aku juga tidak mau kalah!” kata Sara penuh semangat, menangani bahan-bahan makanan dengan lebih serius lagi.
Dalam sekejap mata, sebuah hidangan pesta telah tersaji di hadapan mereka. Ruang tamu rumah baru mereka pun langsung menjadi hidup dan semarak.
“Gahaha! Makananmu hebat, Nak!” Dominic tertawa terbahak-bahak, sambil menenggak alkohol di cangkir logamnya.
“Bahan-bahannya adalah barang-barang yang sangat kukenal, namun hidangannya benar-benar baru dan inovatif. Aku terkejut bisa merasakan sesuatu yang sebaik ini di usia tuaku.”
“Ya, kemampuan yang luar biasa. Favoritku adalah hidangan telur dengan tomat ini.”
Syldora dan Ursula mengecap bibir mereka menikmati masakan Rio.
“Aku lebih suka yang ini, yang pakai kentang dan keju. Ini sangat cocok dengan alkohol. Alma, bagaimana denganmu?”
“Aku paling suka hidangan dagingnya. Kelihatannya sangat sulit dibuat, tapi rasanya benar-benar sebanding,” jawab Alma sambil mengunyah patty.
“Ehehe, semua masakan Onii-chan itu enak!” Latifa berseri-seri bangga sambil memakan pasta.
“Rio, ajari aku cara membuatnya lain kali ya,” pinta Orphia dengan ramah.
“O-Orphia, bukankah itu tidak sopan?!” Sara memperingatkannya dengan panik.
“Tentu, aku tidak keberatan. Sebagai gantinya, ajari aku cara membuat beberapa hidangan dari desamu juga.”
Maka, dengan satu dan lain hal, kehidupan mereka di desa itu memiliki awal yang cukup baik.
Komentar