Seirei Gensouki Volume 2 Bab 4: Pertemuan Bahasa Indonesia – Litenovel

Seirei Gensouki Volume 2 Bab 4: Pertemuan Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 4: Pertemuan

Dua minggu berlalu sejak hari di mana mereka diserang oleh para demi-dragon.

“Onii-chan, apa menu sarapan kita hari ini?” Latifa menanyakan menu tersebut suatu pagi, bermain sendirian di ruang tempat perlindungan yang sempit sementara Rio berbaring di sampingnya.

“Kamu mau makan apa, Latifa?” tanya Rio dengan senyuman kecil yang gelisah.

“Aku mau makan risotto! Yang pakai keju!” beri tahunya dengan ceria. Sesuai namanya, itu adalah makanan yang persis sama dengan risotto Italia yang ada di Bumi.

“Risotto… itu dibuat dari gandum dalam kaldu, kan?”

“Yups, betul sekali!”

Rio tahu apa arti kata risotto, tapi dia bereaksi seolah-olah itu adalah istilah yang tidak begitu akrab baginya. Hal ini karena dia belum memberitahu Latifa bahwa dia memiliki ingatan tentang kehidupan masa lalunya di Bumi. Latifa berada di situasi yang sama dengannya, tetapi dia akan meneriakkan nama makanan itu setiap kali dia mengenali sesuatu yang tidak asing dari Bumi. Keterikatannya pada Rio mungkin telah menurunkan kewaspadaannya cukup untuk melakukan hal itu.

Rio sudah menduga bahwa Latifa adalah seorang orang Jepang di kehidupan sebelumnya, tetapi dia tidak mendesak topik tersebut, karena dia tidak ingin menimbulkan drama yang tidak perlu bagi dirinya sendiri.

“Baiklah. Kalau begitu aku akan membuatnya secepat mungkin. Kamu bisa tidur sebentar lagi, Latifa,” kata Rio sambil bangkit duduk.

“Tidak, aku ingin melihat Onii-chan memasak.” Latifa mengembangkan senyuman ceria di bibirnya dan menggelengkan kepala.

“Padahal tidak ada hal yang seru untuk ditonton, lho.”

“Aku merasa senang hanya dengan bersama Onii-chan, tahu?”

“Begitu ya? Kalau begitu ayo kita pergi.” Sambil tersenyum kaku, Rio meninggalkan tempat perlindungan itu.

Saat ini, Rio dan Latifa berada di kawasan berbukit dekat pusat Hantara. Mereka telah mendirikan tenda di puncak sebuah bukit kecil semalam, memberi mereka pemandangan daerah sekitar yang luar biasa. Jika mereka melihat ke arah timur, padang rumput yang membentang hingga ke cakrawala memenuhi pandangan mereka.

Saat Rio mulai memasak risotto, dia menatap ke luar batas cakrawala itu.

“Hei, Latifa. Apa kamu benar-benar tidak bisa melihat pohon besar di sana?” tanya Rio kepada Latifa, yang sedang duduk tepat di sebelah.

“Hm? Yang kamu sebutkan kemarin? Aku hanya melihat padang rumput… kenapa?” Latifa tadinya memperhatikan Rio memasak dengan ceria, sambil tetap waspada terhadap lingkungan sekitar mereka. Atas pertanyaan Rio, dia memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.

“Jika kamu tidak bisa melihatnya, tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Rio menggelengkan kepala dengan senyuman mengelak. Dia melirik sekali lagi ke arah timur, tempat sebuah pohon raksasa berdiri di sepanjang cakrawala, terlihat sangat jelas.

Dia pertama kali melihat pohon itu kemarin.

Mereka sedang menuju ke timur ketika dia melihat sesuatu berfluktuasi di udara dari kejauhan. Merasa curiga, dia memicingkan matanya untuk memvisualisasikan esensi dan udara pun menjadi jernih, menampakkan sebuah pohon raksasa yang menembus langit.

Jadi, pasti ada semacam penghalang yang membuatnya hanya bisa dilihat melalui sihir. Pohon itu bisa dideteksi jika kamu bisa memvisualisasikan esensi, tetapi tampaknya tidak terlihat oleh orang lain.

Rio menyimpulkan itulah alasan mengapa dia bisa melihat pohon tersebut, sementara Latifa tidak.

Masalahnya adalah… siapa yang merapal sihir itu? Sangat mungkin kalau para demi-human yang melakukannya. Berdasarkan literatur yang kubaca di perpustakaan Akademi, mereka sangat menyayangi bangsa mereka sendiri…

Rio teringat literatur yang dibacanya selama masa-masanya di Akademi. Di suatu tempat di Alam Liar, para demi-human — peri, kurcaci, dan beastmen — tinggal bersama. Mereka memiliki rasa kekerabatan yang kuat terhadap bangsa mereka sendiri. Di sisi lain, mereka menyimpan kebencian yang mendalam terhadap manusia yang menindas kaum demi-human, dan memilih untuk tinggal jauh di dalam Alam Liar sendirian.

Rio melirik ke arah Latifa. Gadis itu menyadari tatapannya dan bersuara.

“Hm? Ada apa, Onii-chan?”

“…Tidak apa-apa. Sebentar lagi matang. Kamu mau jamur di dalamnya?”

“Ya! Tapi jangan pakai rumput liar, ya.”

“Aku tahu.” Rio mengangguk sambil tersenyum.

Bukannya Latifa tidak bisa memakan rumput liar, hanya saja rasanya cukup pahit hingga bisa merusak cita rasa jika dicampurkan ke dalam risotto. Begitu saja, dia selalu mengingat preferensi rasa gadis itu dan memanjakannya.

Bagaimanapun juga, kita harus pergi ke hutan itu terlebih dahulu dan melihat apa yang terjadi.

Mungkin, dalam waktu dekat, akan tiba saat di mana dia harus berpisah dengan Latifa. Pada akhirnya, itu akan menjadi yang terbaik bagi masa depan Latifa, karena dia akan lebih bahagia hidup bersama kaumnya sendiri — setidaknya, itulah yang Rio katakan pada dirinya sendiri. Meskipun dia menyimpan beberapa keraguan di lubuk hatinya yang paling dalam, itulah yang akhirnya diautuskan.

“Baiklah, sudah selesai. Hari ini kita juga akan banyak berpindah tempat, jadi pastikan kamu makan yang banyak.”

Hari itu, mereka meninggalkan daerah perbukitan dan mencapai hutan besar di seberangnya.

Pohon itu berada jauh di dalam hutan ini. Aku tidak yakin bagaimana kita bisa menemukannya, tapi kita hanya bisa mencobanya. Berdiri di pintu masuk — meskipun sebenarnya mereka bisa masuk dari titik mana saja — Rio memandangi pepohonan di sekitar mereka dan memutuskan untuk melangkah maju. Di sampingnya, Latifa mengamati dengan gugup.

“Onii-chan, apa kita benar-benar akan masuk ke sini? Apa kita tidak akan tersesat?”

“Tidak apa-apa — aku tahu jalannya. Kita akan berkemah di sini dan masuk ke hutan besok pagi,” jawab Rio dengan senyuman tipis yang menyiratkan sedikit keraguan.

Namun, itu tampaknya sudah cukup meyakinkan bagi Latifa, yang mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Baik!”

Keesokan paginya, keduanya melangkah masuk ke dalam hutan besar itu. Pintu masuk hutan sudah jauh tertinggal di belakang setelah berjalan selama beberapa menit.

Tumbuhan yang tumbuh sangat lebat membuat segalanya tampak gelap bahkan di tengah hari, karena sinar matahari disaring oleh kanopi pohon di atas. Permukaan tanahnya tidak rata, membuat perjalanan menjadi sulit, dan sukar untuk berjalan dalam garis lurus. Rio dan Latifa menggunakan kemampuan fisik alami mereka untuk melanjutkan perjalanan menyusuri rute tanpa jalur itu dengan mudah.

Ada pepohonan dan tanaman sejauh mata memandang — pemandangan serupa terlihat ke mana pun mereka menoleh. Biasanya, seseorang akan langsung kehilangan arah dan kesulitan mencari jalan keluar, tetapi Rio sama sekali tidak ragu dalam melangkah. Kadang-kadang, dia memanjat ke puncak pohon tinggi dan memeriksa ulang arah mereka, lalu menyesuaikannya saat mereka berjalan. Melihat sosok Rio yang dapat diandalkan seperti itu membuat segala kecemasan Latifa sirna.

Meski begitu, mereka memang sempat menemui beberapa hewan buas di perjalanan.

Sebagai contoh, sekawanan serigala yang cerdas dan gigih serta seekor hewan mirip harimau sepanjang empat meter dengan taring seajam pisau sempat muncul, tetapi kedua pelancong itu berhasil mengusir mereka berkat kekuatan Rio. Setelah maju sepanjang hari, hari pertama penjelajahan hutan mereka berakhir tanpa ada kejadian berarti.

Insiden itu terjadi pada hari kedua mereka berada di hutan.

“Onii-chan… baunya sangat samar, tapi aku bisa mencium aroma sesuatu yang asing di sekitar sini. Ada beberapa aroma yang berbeda.”

Di dalam hutan yang gelap, malam turun dengan cepat. Hari hampir malam ketika Latifa memberitahu Rio sambil mengernyitkan hidungnya.

“…Dan itu bukan sesuatu yang pernah kaucium sebelumnya?”

“Yups! Aku ingat semua bau hewan buas yang kita temui sejak masuk hutan. Aromanya tidak sekuat yang lain, jadi mungkin itu bukan hewan buas? Tapi itu mungkin karena baunya yang lemah…? Aku ingin tahu…” Latifa memiringkan kepalanya dengan bingung.

“Kalau begitu, pemilik bau itu tidak ada di dekat sini, kan?”

“Kemungkinan besar. Ya, kurasa begitu.”

“Kalau begitu, kita akan beristirahat di sekitar sini untuk hari ini. Lagipula kita sudah hampir sampai di tujuan.”

“Benarkah? Kita akhirnya akan keluar dari hutan!” Latifa menyengir gembira, sementara Rio tersenyum dengan ekspresi yang sedikit bermasalah.

Malam itu, mereka berdua berdesakan di tempat perlindungan mereka yang sempit seperti biasa, berbaring berdampingan.

“Onii-chan, bolehkah aku memegang tanganmu?”

“Tentu,” jawab Rio, mengulurkan tangannya meskipun tersenyum kaku di wajahnya.

Begitu tangan mereka tertaut, Latifa dapat tidur dengan nyenyak di malam hari. Jika tidak, terkadang dia akan mulai menangis di tengah malam.

“Ehehe. Selamat malam, Onii-chan.” Kata Latifa, tertidur tidak lama kemudian.

Setelah yakin bahwa Latifa sudah tertidur, Rio ikut menutup matanya. Sambil perlahan-lahan terlelap, dia merentangkan sebagian kesadarannya ke sekeliling mereka agar dia bisa bereaksi terhadap kelainan apa pun di dekatnya.

Lalu, beberapa jam kemudian…

Rio membuka matanya secara tiba-tiba.

Dia melihat ke sisinya dan mendapati Latifa sedang tidur pulas. Dengan lembut melepaskan tangannya dari genggaman Latifa, dia menyingkirkan pintu darurat di pintu masuk tenda mereka dan pergi ke luar. Ada perasaan aneh dan gelisah di dadanya entah kenapa, tetapi hutan itu sangat gelap gulita, dan tidak ada tanda-tanda makhluk hidup lain di sekitar. Lingkungan sekitar mereka terasa sunyi yang hampir mengerikan.

Tiba-tiba, angin dingin berembus menerpa kulitnya; hari ini terasa lebih dingin dari biasanya. Dia menyalakan api unggun di dekat pintu masuk tempat perlindungan itu agar Latifa tidak masuk angin.

“Onii-chan…?” Suara gugup Latifa terdengar dari dalam tenda.

“Aku di sini. Tidurlah.”

Rio mengusap kepala Latifa dan berbicara dengan lembut kepadanya. Untuk memberikannya istirahat yang damai tanpa menangis di tengah malam, dia memanipulasi esensinya untuk meniru sihir tidur.

Disertai desahan lelah, Rio mendongak menatap langit. Dia tidak bisa melihat terlalu jauh, bahkan dengan api unggun dan penglihatannya yang sudah menyesuaikan diri dengan kegelapan, tetapi dia bisa mengintip langit yang penuh bintang melalui celah-celah pepohonan.

Dengan rasa mengantuknya yang telah hilang sepenuhnya, Rio menghangatkan diri di dekat api unggun dan merebus air untuk diminum. Nyala api berkedip-kedip, menerangi wajahnya. Sambil mengaduk bara api yang mulai meredup dengan sebatang kayu, angin lembut berembus perlahan menerpa tubuhnya.

Hm? Rio menoleh ke arah datangnya angin.

Di sana berdiri seekor serigala perak; ukurannya sangat besar — panjangnya dengan mudah mencapai beberapa meter dari kepala sampai ekor.

Sejak kapan dia mendekat begitu?!

Rio menggeretakkan giginya, lalu melompat berdiri, mencabut pedangnya dari sarungnya. Serigala perak di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan yang biasa diharapkan dari seekor monster; keberadaannya sangatlah lemah. Meskipun bentuknya seperti serigala, ada sesuatu yang tidak wajar pada dirinya — hampir seperti dia tidak benar-benar ada.

Rio memfokuskan pandangannya pada serigala perak itu, enggan membiarkannya lepas dari pengawasannya. Rasanya begitu dia mengalihkan pandangannya, serigala itu akan buyar menjadi ketiadaan.

Tiba-tiba, serigala perak itu mulai bersinar; terjangan cahaya menyebar ke seluruh sekitarnya. Cahaya putih membanjiri penglihatan Rio, membuatnya menutup matanya secara refleks.

Gawat… penglihatanku diambil — tepat saat pikiran itu melintas di benaknya, Rio merasakan beberapa kehadiran muncul di sekitarnya, satu demi satu.

Mereka bersembunyi! Apakah mereka bangsa demi-human?! Bagaimana mereka bisa tahu kalau kita ada di sini?

Meskipun terkejut, Rio tetap dengan tenang menganalisis situasi saat ini. Namun, bahkan saat dia melakukannya, kelompok demi-human itu terus mendekat.

Waktu sudah habis — dia tidak punya waktu lagi untuk berpikir.

Rio menghentakkan kakinya dengan ringan ke tanah, membanjiri esensi ke dalam tanah di sekitarnya. Tanah di sekitar tempat perkemahan naik dari permukaan, membentuk sebuah dinding di tempat Latifa sedang tidur. Dia bisa merasakan para penyerang sedikit kebingungan dari cara mereka bergerak sebagai tanggapan, tetapi mereka tidak cukup naif untuk menurunkan kewaspadaan begitu saja.

Penglihatan Rio belum pulih sepenuhnya, tetapi dia bisa tahu bahwa mereka telah mengepungnya sepenuhnya. Dia merasakan salah satu dari mereka sedang mendekatinya dengan cepat, yang mendorongnya untuk menghindar dengan melompat ke samping. Begitu dia membuktikan bahwa dia bisa merespons serangan mendadak itu bahkan dalam keadaan buta, udara di sekitar para penyerang langsung mengental seketika.

Rio meningkatkan pertahanannya lebih jauh lagi.

Dia mungkin berhasil menghindari serangan pertama, tetapi penglihatannya masih kabur, dan dia tidak bisa membaca kekuatan lawannya — siapa pun bisa melihat bahwa situasi ini buruk. Satu-satunya penyelamatannya adalah kenyataan bahwa mereka berniat untuk menangkapnya hidup-hidup… mungkin. Bagaimanapun juga, ada banyak cara lain yang bisa mereka gunakan untuk mendekatinya jika mereka berniat membunuhnya.

Yang berarti negosiasi seharusnya bisa dilakukan.

Dengan pemikiran itu, Rio membuka mulutnya — tetapi kehadiran pertama yang telah menyerangnya berdecak kesal dan melancarkan serangan kedua.

“Hei, tunggu sebentar!” seru Rio terburu-buru, tetapi lawannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Tidak punya pilihan lain, Rio bersiap mengaktifkan kemampuan abnormal peniru sihir lainnya, sambil menjaga intensitas situasi tetap terkendali.

Itu bukanlah teknik ofensif: itu adalah tiruan dari sihir Zona Revelare yang memungkinkannya menuangkan esensinya ke lingkungan sekitar dan mendeteksi esensi yang bereaksi, mirip seperti sonar. Tujuan utamanya adalah menggunakannya sebagai pengganti sementara untuk penglihatannya yang hilang. Dia akan dapat mendeteksi jumlah dan posisi musuh-musuhnya.

“Uzuma, mundur! Orang ini menggunakan semacam seni roh!”

Seorang gadis yang berdiri di tepi lingkaran yang mengelilingi Rio — yang tampak seusia dengannya, dengan rambut pirang keperakan panjang dan telinga serigala yang menyembul dari kepalanya — berteriak dalam bahasa yang tidak Rio pahami. Menanggapi suara gadis pertama itu, gadis bernama Uzuma — yang tampak berusia pertengahan dua puluhan dan menumbuhkan sayap burung yang indah dari punggungnya — menghentikan langkahnya.

“Tidak apa-apa… itu hanya seni roh yang mendeteksi ode di sekitar!” Gadis lain di dalam lingkaran — juga seusia dengan Rio tetapi memiliki rambut hijau keemasan yang sangat panjang dan telinga peri yang agak bulat — segera menimpali.

“Dia seharusnya belum bisa melihat, tapi akan bijaksana jika berasumsi dia tahu jumlah dan posisi kita sekarang. Ya ampun…” gumam seorang gadis bertubuh pendek yang berdiri di sebelah gadis peri itu sambil menghela napas. Dia tampak sedikit lebih muda dari Rio, dengan rambut merah pendek yang berapi-api, dan telinga kurcaci yang bentuknya mirip dengan milik gadis lainnya.

Aku tidak tahu apa yang mereka katakan, tapi suasananya sedikit berubah. Ini kesempatan ku.

Setelah membuat penilaian itu, Rio memanfaatkan kesempatan untuk memulai percakapan dengan maksud mengulur waktu.

“Tunggu, kumohon! Apakah kalian kaum demi-human? Jika iya, aku ingin berbicara dengan kalian.”

Semua orang yang hadir mengerutkan kening sebagai reaksi atas kata “demi-human”.

“Lady Sara, manusia adalah penjarah yang keji. Dia mungkin terlihat seperti anak-anak, tetapi dia memiliki keterampilan untuk bisa masuk jauh ke dalam wilayah ini. Dia pasti tidak berniat baik,” saran Uzuma dengan nada tegas, sambil memandang ke arah gadis manusia serigala perak bernama Sara.

“…Aku tahu. Namun, kita perlu tahu apa tujuannya,” kata Sara, mengerutkan keningnya dengan gelisah.

“Jika begitu, kita harus menganggap yang terburuk dan langsung melumpuhkannya. Dia bisa menjelaskan ceritanya setelah itu. Lagipula, kita sudah punya alasan untuk percaya bahwa dia telah menculik salah satu dari kaum kita,” desak Uzuma dengan keras kepala.

“…Orphia, apakah ada reaksi esensi selain kita di sekitar sini?” Setelah mempertimbangkan perkataan Uzuma, Sara menatap gadis peri bernama Orphia.

“Ya, satu di dalam dinding tanah itu. Itu tidak bergerak, jadi itu mungkin artifak sihir.”

“Tapi jika itu adalah salah satu dari kaum kita, ada kemungkinan dia akan menggunakan mereka sebagai sandera,” kata Uzuma dengan dingin menanggapi perkataan Orphia. Sara dan yang lainnya sedikit meringis, meningkatkan ketegangan dalam situasi tersebut.

insert5

Sementara itu…

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya kita tidak akan bisa berkomunikasi. Haruskah aku memberi tahu mereka tentang Latifa segera? Tidak… akan menjadi masalah jika ada diskriminasi antarspesies di antara para demi-human. Paling buruk, mereka bisa mengubah tempat ini menjadi medan perang. Aku sebaiknya menunggu penglihatanku pulih…

Sepenuhnya tersingkir dari percakapan mereka, Rio mengamati mereka secara pasif tanpa menyela. Jika dia secara proaktif mengungkapkan informasi kepada mereka, ada kemungkinan mereka akan langsung menerima Latifa ke dalam perlindungan mereka — tapi itu hanyalah angan-angannya saja.

Latifa lahir dari percampuran antara manusia dan werebeast, jadi ada kemungkinan dia akan didiskriminasi, dan dia juga bisa diperlakukan sebagai musuh oleh demi-human lain karena merupakan seorang werefox.

Karena kondisi Rio yang sedang tidak prima, dia tidak punya pilihan selain mengambil rencana yang lebih aman. Oleh karena itu, penglihatannya perlahan-lahan pulih, dan dia bisa melihat jauh lebih jelas dari sebelumnya.

Selama waktu itu, Sara dan yang lainnya menyelesaikan percakapan mereka.

“Kalau begitu, sebagai wakil kita, aku akan mendekati dan mengalihkan perhatiannya dengan obrolan. Orphia, bisakah kau meminta Ariel untuk mencari ke dalam dinding tanah itu? Alma akan mendukungmu. Jika salah satu dari kaum kita ada di dalam, kita harus menyelamatkan mereka bagaimanapun caranya.”

“Mengerti, Sara!”

“Baik, Nona Sara.”

Gadis elf bernama Orphia dan gadis kurcaci bernama Alma masing-masing mengangguk sebagai tanggapan atas perintah Sara.

“Uzuma, buatlah persiapan yang diperlukan untuk menahan anak laki-laki itu sewaktu-waktu.”

“Dimengerti,” Uzuma menerima perintah Sara dengan penuh semangat.

Setelah mereka menyusun rencana tindakan yang sederhana itu, Sara dengan hati-hati mendekati Rio.

“…Aku akan menerima permintaanmu untuk berbicara. Namun, aku meminta agar kau tidak menyebut kami dengan sebutan kasar ‘demi-human’,” ucap Sara dengan nada yang sedikit beraksen, menggunakan bahasa umum dari wilayah Strahl.

“Terima kasih banyak karena telah menerima permintaanku. Mengenai penggunaan nama tersebut, aku dengan tulus meminta maaf atas ketidaksopanan yang tidak disengaja ini. Namun, tidak ada kata dalam bahasa Strahl yang dapat digunakan sebagai pengganti istilah umum untuk kaum kalian… Aku harus menyebut kalian secara terpisah sebagai elf, kurcaci, dan werebeast. Jadi, jika tidak merepotkan, bisakah kau memberitahuku spesies individu dari setiap orang di sini?”

Rio menyampaikan kata-kata terima kasih dan permintaan maaf dengan nada yang hormat, serta menyertakan pertanyaan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.

“…Aku adalah werebeast serigala perak, dan kelompok kami di sini terdiri dari berbagai spesies termasuk elf dan kurcaci. Saat merujuk pada kami sebagai sebuah kelompok, tolong panggil kami kaum roh,” jelas Sara.

“Begitu ya. Terima kasih telah memperjelas hal itu untukku.”

Mendengar bahwa mereka terdiri dari berbagai spesies membuat Rio terkekeh dalam hati. Hal itu menurunkan kemungkinan adanya sikap rasis antar spesies di kalangan demi-human secara signifikan. Yang tersisa untuk dikhawatirkannya hanyalah darah manusia yang mengalir di dalam tubuh Latifa.

“Sara, ada seorang anak werebeast di dalam sini! Dia dibuat tertidur melalui seni roh!” Elf bernama Orphia berteriak kencang, sekali lagi menggunakan bahasa yang tidak Rio pahami.

Uzuma, yang tadinya berada di dekat Rio dan bersiap untuk melompat serta mengekangnya sewaktu-waktu, langsung diliputi amarah yang meluap-luap. Dia menerjang Rio dari samping, dan menghujamkan kepalan tangannya ke perut Rio tanpa menahan diri. Karena dia tidak menduga percakapan mereka akan diserang secara tiba-tiba, reaksi Rio pun menjadi terlambat. Dia meredam pukulan itu dengan melompat ke belakang, tetapi dia tidak mampu menangkisnya sepenuhnya. Dia melayang sejenak setelah terhempas beberapa meter ke udara, lalu mendarat di tanah dan berguling menjauh.

“Uzuma, aku belum memberikan perintah apa pun! Tindakanmu sudah keterlaluan! Perintahku adalah untuk mengekangnya. Apakah kau berniat membunuhnya?!” Sara menegur Uzuma karena bertindak gegabah.

“Kekuatan aslinya tidak diketahui, dan dia telah memperkuat tubuh fisiknya dengan seni roh. Itulah sebabnya aku mengambil cara yang paling aman. Aku mungkin membuatnya pingsan, tetapi tidak ada bahaya bagi nyawany—”

“Awas, dia menggunakan semacam seni roh!” Alma — yang merupakan kurcaci dari kelompok tersebut — berteriak di tengah-tengah penjelasan Uzuma.

“Apa?!” Uzuma bereaksi cepat, menoleh ke arah Rio. Rio sedang berusaha bangkit berdiri dengan satu tangan menekan perutnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya.

“Itu adalah seni roh penyembuhan.”

“Cih, akan kubuat dia pingsan!”

Begitu Orphia menebak dengan tepat seni roh yang digunakan Rio, Uzuma kembali menerjang ke arah Rio. Di tangannya, dia menggenggam sebuah tombak pendek.

“Hei, tunggu sebentar! Apa maksudnya ini?! Kuh!” teriak Rio sambil menghunus pedangnya dan menahan serangan Uzuma. Rasa sakit yang tajam menusuk perutnya, membuat wajahnya mengernyit.

“Aku minta maaf karena menyerang secara tiba-tiba. Namun, kami telah memastikan bahwa salah satu dari bangsa kami berada di dalam dinding tanah itu. Karena kami mencurigaimu telah menculik salah satu dari kaum kami, aku sekarang akan melanjutkan untuk menahanmu guna keperluan interogasi. Tolong jangan melawan!” jelas Sara dengan ekspresi pahit, hampir seolah-olah ini bukanlah niat aslinya.

“Ini adalah kesalahpahaman! Anak itu berada di bawah perlindunganku—”

“Tidak ada seorang pun yang akan mempercayai perkataan seorang manusia, apalagi perkataan seorang penculik. Menyerahlah!”

Bahkan saat Sara dan Rio bercakap-cakap, Uzuma tidak mengendurkan serangannya. Dia terus mengayunkan tombaknya, memojokkannya. Di sisi lain, karena telah mengalami banyak kerusakan pada perutnya, dan belum sepenuhnya memulihkan penglihatannya, gerakan Rio menjadi agak lamban. Itu adalah situasi yang paling buruk.

“Aku tidak menculik gadis itu… Dengarkan saja apa yang ingin kukatakan! …A-Apa?!”

Setelah nyaris mengatasi serangan Uzuma, kaki Rio tertahan oleh sesuatu yang membuatnya berhenti total. Saat dia menunduk, dia bisa melihat bentuk samar tanah yang mencuat dari permukaan tanah, menahan kakinya secara tidak wajar.

“Cih, bantuanmu tidak diperlukan.”

Uzuma bergumam sesuatu, melirik salah satu para spirit folk di dalam lingkaran di belakangnya dengan tidak senang. Wanita kurcaci yang lebih tua itu berlutut dengan tangan menempel di tanah. Uzuma memutar tombak di tangannya sebelum melancarkan satu pukulan ke arah Rio dengan sekuat tenaga. Rio menerima serangan itu secara langsung.

Kekuatan yang konyol! Benturan itu lebih kuat daripada apa pun yang pernah dia rasakan hingga saat ini, membuat pedang yang digenggam di tangannya terpelanting terbang.

“Gah…!” Rio merasakan sakit yang tajam dan menyiksa menjalar ke seluruh tubuhnya bagaikan kilat. Uzuma telah menempelkan tangannya ke tubuh Rio dan melepaskan arus listrik bertegangan tinggi. Dengan tubuhnya yang lumpuh, penglihatan Rio tak lama kemudian menjadi gelap saat dia pingsan ke tanah. Hal terakhir yang dia lihat adalah sosok Orphia yang panik berlari kearahnya, serta tatapan tajam penuh amarah dari para spirit folk yang menatapnya dari atas.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted