Saijo no Osewa Volume 3 Bab 4 Bahasa Indonesia – Litenovel

Saijo no Osewa Volume 3 Bab 4 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Bab 4: Festival Olahraga

Hanya tersisa lima hari lagi sampai festival olahraga.

Beberapa hari terakhir ini begitu padat hingga ingatanku sedikit kabur. Aku masih menjalankan tugas sebagai pengurus seperti biasa, tetapi di samping itu, aku berlatih tenis dan berusahan memperbaiki hubunganku. Jadi, saat waktunya tidur, aku sering kali ambruk seperti gumpalan tanah liat.

Jadwalnya cukup berat, tapi melihat hasilnya membuatku merasa luar biasa.

Itulah sebabnya, hari ini, aku pergi ke akademi dengan pola pikir positif.

“Omong-omong, Hinako.”

Aku memanggil Hinako yang sedang duduk dengan mengantuk di sampingku.

“Suminoe-san bilang dia ingin mengundangmu ke pesta teh.”

“Ngh… Aku kelelahan karena latihan untuk festival olahraga, jadi sebaiknya aku lewatkan saja…”

“Mengerti. Nanti akan kusampaikan secara halus untukmu. Kamu sebelumnya sudah pernah menolak undangan pesta teh, jadi kalau menolak lagi rasanya bakal canggung, kan?”

“Mmm… terima kasih.”

Setelah memastikan keinginan Hinako, aku mencatatnya di buku catatanku.

Akhir-akhir ini, karena ada banyak hal di pikiranku, aku jadi sering membawa-bawa buku catatan.

“…Rasanya mirip seorang CEO dan sekretarisnya.”

Aku seperti mendengar suara pelan Shizune-san dari kursi penumpang depan.

“Ada yang kamu katakan?”

“Tidak, cuma sedang memikirkan masa depan Konohana Group.”

Sebagai kepala pelayan, sepertinya dia memikirkan masa depan grup itu dengan serius.

Meskipun kita bekerja di lingkungan yang sama, beban yang dipikul Shizune-san beberapa kali lebih berat dariku. Apakah suatu saat aku bisa membalas kebaikannya?

Tepat saat itu, aku melihat secuil debu kecil di rambut Hinako.

“Hinako, ada debu di rambutmu…”

Saat aku mengatakan itu dan dengan ringan menyentuh rambutnya,

“Ngh…!?”

Hinako terperanjat, bahunya terangkat karena terkejut, tidak seperti biasanya.

“Fuh…!”

“Fuh?”

“Serangan diam-diam… itu tidak adil…!”

Mengatakan itu, Hinako sedikit menundukkan kepalanya.

Rupanya, sekarang tidak apa-apa untuk menyentuhnya karena itu tidak lagi mengejutkan.

Saat aku membersihkan debu dari rambutnya, telinga Hinako memerah, dan serangkaian tanda tanya seolah melayang di atas kepalanya, seolah dia tidak bisa memahami emosinya sendiri.

Melihatnya seperti itu, aku memiringkan kepalanya dengan bingung.

Ada apa dengan suasana ini?

Perasaan aneh dan canggung ini…

“…Saat dua orang yang tidak peka berada bersama, suasananya jadi cukup kacau, ya?”

Aku seperti mendengar Shizune-san bergumam sesuatu sambil menghela napas.

“Apakah kamu mengatakan sesuatu?”

“Tidak, hanya memikirkan potensi skandal di Konohana Group.”

“Ha?”

Apakah Konohana Group sedang mengalami masalah serius…?

“Omong-omong, Izuki-san.”

Shizune-san berbicara, melirikku melalui kaca spion tengah.

“Tentang usulanku sebelumnya—bahwa kamu bisa bekerja di perusahaan IT di masa depan… itu sudah disetujui.”

“Disetujui…?”

“Ini kartu nama.”

Shizune-san berbalik kepadaku dan menyerahkan sebuah kartu.

Kartu itu mencantumkan nama seseorang yang tampaknya berada di departemen SDM sebuah perusahaan.

“Setelah lulus dari akademi, jika kamu tidak keberatan, perusahaan ini bersedia mempekerjakanmu. Mereka bilang tidak apa-apa bahkan tanpa gelar universitas.”

“A-Apa…?”

Jadi, obrolan dari tadi itu benar-benar menjadi kenyataan?

“Bukankah itu tadi hanya pengandaian…?”

“Menjadikannya nyata seharusnya bisa mendongkrak motivasimu, kan?”

Yah, itu memang benar, tapi…

Aku sama sekali tidak menyangka dia akan berbuat sejauh ini untukku.

“Ini… aku pernah melihat perusahaan ini di iklan.”

“Mereka terutama mengembangkan perangkat lunak keamanan untuk penggunaan perkantoran. Mereka sudah meraup keuntungan selama bertahun-tahun, dan tingkat pergantian karyawannya cukup rendah.”

Terdengar seperti yang disebut sebagai “perusahaan putih” yang ideal.

“Namun, secara pribadi, kurasa kamu harus menunda jalan itu dulu.”

“Hah?”

“Jika, secara kebetulan, kamu mengasah kemampuanmu lebih jauh lagi, kita mungkin bisa mengamankan posisi yang bahkan lebih baik untukmu.”

Kemungkinan itu tidak pernah terlintas di benakku.

Aku sudah kewalahan dengan tawaran ini. Apa pun di luar itu tidak bisa dibayangkan.

“…Rasanya seperti aku sedang mencari pekerjaan.”

“Memang. Mulai sekarang, kamu mungkin ingin mendekati pekerjaanmu dengan pola pikir seperti itu. Misalnya, jika kamu bisa menangani tugas-tugas yang berhubungan dengan publik, kamu bisa menutupi kelemahan Ojou-sama, menjadikannya ajudan yang ideal…”

“Kelemahan Hinako…?”

“…Mohon maaf, aku berbicara di luar batas.”

Shizune-san dengan ringan menempelkan telapak tangannya ke bibirnya.

Mobil itu terus melaju dengan tenang menuju akademi.

(Jika diriku yang dulu bisa melihatku sekarang, dia mungkin akan pingsan karena kaget…)

Bagaimanapun juga, sebelum menjadi pengurus, aku adalah seorang siswa yang kesulitan dan hampir tidak bisa hadir ke sekolah.

Aku ingin pergi ke universitas jika memungkinkan, tetapi karena tahu itu akan sulit, aku sempat mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan langsung setelah SMA.

Itulah mengapa aku mengerti betapa berharganya kartu nama ini.

Dan sekarang, sepertinya dengan usaha yang cukup, aku bisa mengincar kesempatan yang bahkan lebih baik.

Apakah boleh merasa seberuntung ini?

Aku tidak bisa menahan diri untuk merasa sedikit kewalahan.

Seolah dapat melihat melalui pikiranku, Shizune-san berbicara.

“Itu berarti kami menaruh ekspektasi tinggi padamu.”

“…Terima kasih.”

Aku mengukir kata-katanya dalam-dalam di dalam hatiku.

◆

Setelah jam pelajaran kedua berakhir,

saat istirahat, aku sedang berjalan di koridor untuk meregangkan kaki ketika aku tanpa sengaja mendengar beberapa siswa sedang mengobrol.

“Miyakojima-san akhir-akhir ini memancarkan aura yang berbeda, ya?”

Seorang siswa Kelas B berkata dengan suara berbisik.

“Iya, dia lebih baik dari yang kuduga…”

“Benar. Dia tidak tampak seseram penampilannya…”

Karena tak sengaja menguping, aku segera meninggalkan tempat itu.

Jika aku terus mendengarkan, aku mungkin akan tersenyum lebar seperti orang bodoh.

“Izuki!”

Sebuah suara yang ceria memanggil namaku dari belakang.

Menoleh ke belakang, aku melihat seorang gadis berambut hitam.

“Narika… kau sedang bersemangat ya.”

“Yups! Hari ini aku diajak bicara oleh teman sekelas lagi!”

Dengan senyum cerah, Narika mendekatiku.

Dia tampak seperti anak anjing yang sedang mengibaskan ekornya, meskipun kukatakan itu dalam hati saja.

“Hehe… setelah merasakan kehangatan orang-orang, aku tak terhentikan!”

Narika mendeklarasikannya dengan bangga.

Dia mungkin mulai sedikit terbawa suasana.

Tentu saja, akhir-akhir ini segala sesuatunya berjalan lancar, tetapi pada kenyataannya, dia baru diterima oleh sebagian kecil siswa Kelas B.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kali ini kau coba mengajak orang lain bicara duluan?”

“A-Apa? Tidak, aku belum siap untuk mulai mengobrol…”

Narika langsung panik.

Aku tidak mengatakannya untuk menggodanya; aku benar-benar berpikir dia harus mencobanya.

“Citramu perlahan-lahan membaik, jadi sekarang mungkin kesempatan bagus untuk mencobanya.”

“…B-Benar juga. Baik, akan kulakukan!!”

Dia sudah ditakdirkan gagal…

Dengan ekspresi gugupnya yang biasa—hampir kaku—Narika memanggil seseorang yang lewat.

“H-Hei, kau di sana.”

“Hii!”

Siswa laki-laki yang diajak bicara itu tersentak dan buru-buru pergi.

“Kenapa…?”

Narika melorot, menempelkan keningnya ke dinding karena menyerah.

“Narika, apakah pria tadi itu teman sekelasmu?”

“…Bukan, sepertinya bukan.”

Dia juga bukan murid di kelasku, jadi mungkin seseorang dari kelas selain Kelas A atau B.

Sepertinya citra Narika belum membaik di seluruh angkatan.

(…Reputasinya yang sudah mendarah daging tidak akan mudah hilang begitu saja.)

Mereka yang paling sulit untuk diyakinkan adalah orang-orang yang hanya mengenal Narika melalui rumor.

Sebagai contoh, para siswa Kelas B dapat menilai Narika bukan hanya berdasarkan rumor akademi, tetapi juga berdasarkan sosok Narika asli yang mereka lihat secara langsung.

Namun, mereka yang hampir tidak mengenalnya hanya bisa mengandalkan rumor. Citra tentang dirinya praktis sudah terpahat mati. Karena mereka tidak bisa memperbarui persepsi mereka dengan melihat Narika yang sebenarnya, prasangka mereka justru semakin kuat seiring berjalannya waktu.

Hal itu sudah jelas jika dipikirkan.

Menghapus kesan yang sudah mengakar selama setahun hanya dalam beberapa hari bukanlah prestasi yang mudah.

“Kita mungkin butuh… semacam pemicu dramatis.”

Dengan hanya tersisa lima hari lagi sampai festival olahraga,

Aku memiliki firasat kuat bahwa usaha-usaha kecil saja tidak akan cukup.

Saat aku memutar otak untuk mencari ide, aku melihat ikal vertikal keemasan yang bergoyang.

“Tennouji-san.”

Di sanalah berdiri Ojou-sama yang anggun dari Grup Tennouji, sebuah keluarga yang menyaingi Grup Konohana milik Hinako.

“Oh, Tomonari-sa—”

Tennouji-san langsung menyadari keberadaan kami, tetapi…

“Hah.”

Seolah teringat sesuatu, dia memasang wajah cemberut dan membuang muka.

“…Ehm, ada apa?”

“Belakangan ini kamu selalu mengabaikanku, Tomonari-san. Jadi… hah!”

Aku belum pernah melihat seseorang benar-benar mengucapkan “hah” dengan suara keras.

Dia ternyata cukup ke kanak-kanakan dalam beberapa hal.

(Dalam situasi ini… meminta bantuan Tennouji-san mungkin adalah langkah yang bagus.)

Narika sudah melewati tahap di mana orang-orang terlalu takut untuk berbicara dengannya, jadi imajenya tidak akan mudah berubah.

Sekarang, kita butuh sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bisa mengubah imajenya dalam skala yang lebih luas.

Seseorang seperti Tennouji-san, yang selalu anggun dan menonjol, mungkin bisa memikirkan ide yang hebat.

“Tennouji-san, sebenarnya ada hal yang ingin kuonsultasikan denganmu…”

“Hmp.”

Dia tidak mau mendengarkan.

Ya ampun, aku tidak menyangka dia akan merajuk separah ini…

“…Pesta teh.”

Tennouji-san bergumam pelan.

“Jika kamu mengadakan pesta teh untukku lain kali, aku mungkin akan memaafkanmu.”

“…Paham. Aku senggang kapan saja.”

Mendengar itu, Tennouji-san memamerkan senyuman gembira.

“Baiklah kalau begitu. Sekarang, ceritakan apa yang ada di pikiranmu!”

Dia bilang “baiklah”, tetapi dia tampak sangat senang. Dia sepertinya suka diandalkan.

Aku melirik ke arah Narika, dan dia mengangguk. Karena ini adalah masalah yang sensitif baginya, aku ragu untuk berbicara mewakili dirinya, tetapi tampaknya itu tidak masalah.

Aku menjelaskan situasinya kepada Tennouji-san.

“…Begitu ya, jadi itu yang sedang terjadi.”

Tennouji-san dengan cepat memahami situasi tersebut.

“Jadi, masalah utamanya adalah, untuk lebih mengubah imahnya, aku merasa kita perlu mengambil semacam tindakan berani…”

Tennouji-san mengangguk penuh pertimbangan.

“Dengan kata lain, sesuatu yang menarik perhatian orang, ya?”

Tepat sekali.

Di sampingku, Narika tampak cemas saat aku mengangguk.

“Ugh… aku tidak pandai menjadi pusat perhatian.”

“…Kamu sudah menjadi pusat perhatian.”

Hanya saja… dengan cara yang buruk.

“Bagaimana dengan pelajaran olahraga? Kudengar Miyakojima-san selalu bersinar di sana.”

“Aku mungkin memang melakukannya dengan baik, tapi…”

kata Narika dengan ragu-ragu.

Aku tidak perlu menunggunya menyelesaikan kalimatnya. Karena Kelas B dan Kelas A-ku mengikuti pelajaran olahraga bersama, aku mengetahuinya. Narika memang unggul dalam olahraga, tetapi itu sama sekali tidak mengubah imejnya.

Mungkin fokusnya yang begitu intens pada sesuatu bisa terkesan mengintimidasi.

Bagi Narika, yang reputasi buruknya sudah telanjur meluas, intensitas itu kemungkinan besar memperkuat persepsi negatif tersebut.

“Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”

Tennouji-san membagikan sebuah ide kepada Narika.

Narika tampak terkejut pada awalnya, tetapi tak lama kemudian mengangguk dengan penuh tekad.

◆

Pelajaran olahraga hari itu adalah bulu tangkis.

Setiap orang diberi raket dan berpasangan untuk mulai melakukan reli.

“Tomonari, ayo kita mulai.”

“Baiklah.”

Menanggapi ajakan Taishou, kami mulai memukul kok bolak-balik.

Dengan bunyi pop yang nyaring, kok tersebut meluncur dalam lengkungan ke arah Taishou.

“Bagus sekali!”

“Belakangan ini aku sedang berlatih tenis, jadi kemampuan olahragaku dengan raket mungkin jadi lebih baik.”

Dibandingkan dengan bola tenis, kok bulu tangkis melesat cepat di awal namun melambat dengan cepat, sehingga lebih mudah untuk mempertahankan reli daripada tenis.

“Omong-omong, belakangan ini kita jarang ngobrol.”

kata Taishou sambil memukul kok.

Seketika, aku tertegun.

Itulah hal yang selama ini kupikirkan. Berusaha mencari teman baru mau tidak mau akan mengurangi waktu yang bisa kuhabiskan dengan teman-teman yang lama. Menjadi dekat dengan orang-orang yang berada di tingkat lebih tinggi dalam hierarki sosial sekolah berisiko menciptakan jarak dengan yang lain.

Jika aku berusaha menyeimbangkan keduanya dengan buruk, aku bisa-bisa malah mengasingkan semua orang.

Mungkin Taishou menganggapku sebagai seorang pemanjat sosial sekarang.

Tapi—

“Ada apa?”

Alih-alih menyalahkan, perkataan Taishou justru dipenuhi dengan kekhawatiran yang tulus.

Ketulusan semacam itu, yang terpancar melampaui segala kecurigaan, mencerminkan kepribadian Taishou yang ceria.

Bagiku, itu bagaikan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, menerbangkan kekhawatiran yang selama ini kutahan.

Aku mengembalikan kok itu.

Taishou telah bersikap baik kepadaku selama ini, jadi aku memutuskan untuk jujur.

“Sebenarnya, aku sedang berusaha menemui lebih banyak orang. Sejak aku pindah ke Akademi Kiou, aku ingin terhubung dengan berbagai macam orang.”

“Paham. Makanya akhir-akhir ini kamu ngobrol sama Kita, ya?”

Taishou mengangguk, mengerti.

Kok itu kembali meluncur.

“Tomonari, kamu ternyata cukup tegar juga, ya?”

“Benarkah?”

Aku memukul balik kok itu.

Dari sudut mataku, aku seperti melihat Taishou tersenyum masam.

“Yah, omong-omong, kalau begitulah keadaannya, aku akan mendukungmu. Ada beberapa orang lain yang mungkin bisa akur denganmu, jadi kalau kamu butuh bantuan, beri tahu saja ya.”

“Terima kasih banyak.”

Sungguh pria yang hebat.

Tapi sejujurnya, aku sudah mengandalkan bantuan Taishou dalam proses mendekati Kita.

Suatu hari nanti aku harus berterima kasih kepada Taishou dengan benar.

Pada saat itu, aku melihat Narika sedang berbicara dengan seseorang di kejauhan.

(Apa itu… Kita?)

Orang yang diajak bicara oleh Narika ternyata memang benar Kita.

“Jangan pukul tepat di atas kepalamu—pukul sedikit ke belakang. Dengan begitu, permukaan raket akan miring ke atas, dan kok akan terbang dalam lengkungan parabola.”

“B-Baik…! Terima kasih!”

Sepertinya Narika sedang menjelaskan cara memukul kok kepada Kita.

Melihat interaksi mereka, siswa-siswa lain di sekitar mulai mendekati Narika.

“Um, kalau boleh, bisakah kamu mengajariku juga…?”

“Eh!? Oh, tentu! Tentu saja!”

Narika terkejut karena didatangi, tetapi dengan cepat menyetujuinya dengan penuh antusias.

(Sepertinya semuanya berjalan lancar…)

Ini adalah strategi yang dirancang oleh Tennouji-san.

Daripada bersinar sendiri, dia membiarkan orang-orang di sekitarnya mengambil sorotan.

Tennouji-san berpendapat bahwa jika seseorang memiliki keahlian untuk unggul dalam olahraga, mereka juga bisa mengajar orang lain. Kenapa, karena Hinako dan aku sedang belajar tenis dari Narika, tidak ada cacat dalam penalaran itu.

Seperti yang kupikirkan sebelumnya, Narika benar-benar pandai mengajari orang lain.

Strategi Tennouji-san membuahkan hasil, dan segelintir siswa berkumpul di sekitar Narika.

Menurut Tennouji-san, dia menyebutnya sebagai “Strategi Noblesse Oblige!” Dia mungkin bermaksud bahwa mereka yang memiliki bakat harus memberikan kembali kepada sesama.

Sebuah peluit bergema di seluruh aula olahraga.

Istirahat selama lima menit diberikan.

“Narika.”

“Izuki!”

Ketika aku memanggil Narika, yang sedang menyeka keringat dengan handuk, dia berbalik dengan senyuman cerah.

“Dari apa yang kulihat, kamu melakukannya dengan sangat baik.”

“Ya… aku merasa tubuhku juga mulai berangsur-angsur lebih rileks.”

Itu adalah berita terbaik.

Perubahan di sekitarnya membantu Narika sendiri berubah menjadi lebih baik.

“Kamu tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?”

“Tidak, aku sempat memikirkannya, tapi… sampai sekarang, orang-orang selalu lari dariku.”

Narika menundukkan pandangannya, menjawab dengan nada sedih.

(Dia telah lepas dari citra lamanya, jadi pilihannya telah meluas…)

Narika yang dulu mungkin tidak akan bisa mengajari siapa pun.

Tapi akhir-akhir ini, Narika semakin diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Suasana baru yang muncul belakangan inilah yang mengarah pada kesuksesannya hari ini.

(Jika ini menyebarkan desas-desus bahwa Narika tidak mengerikan di seluruh akademi…)

Di kelas ini, kurasa citra itu sudah mulai berakar di Kelas A dan B.

Tapi mungkin butuh waktu lebih lama untuk menyebar ke kelas-kelas lainnya.

“…Festival olahraga sebentar lagi akan tiba. Aku tidak tahu seberapa banyak kita bisa mengubah citramu pada saat itu, tapi mari kita terus dorong sampai akhir.”

“Ya!”

Narika mengangguk, wajahnya memancarkan tekad yang kuat.

◆

Sepulang sekolah.

Sebelum menemui Narika, aku pergi menemui Tennouji-san terlebih dahulu.

“Tennouji-san.”

“Oh, Tomonari-san.”

Tennouji-san, yang berada di dalam kelas, menoleh ke arahku saat aku memanggilnya.

Bahkan gerakan sederhana itu terlihat sangat elegan. Akademi Kiou sudah menjadi tempat yang mewah dan berkelas dibandingkan sekolah biasa, namun udara di sekitar Tennouji-san terasa jauh lebih bermartabat.

“Terima kasih. Segalanya berjalan dengan baik bersama Narika.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Aku menduga dia mungkin akan merajuk jika aku tidak melapor dan berterima kasih padanya tepat sepulang sekolah, jadi aku menjadikannya prioritas. Tennouji-san tersenyum anggun.

“Apakah Izuki-san langsung pulang hari ini?”

“Tidak, aku berencana menemui Narika nanti untuk membahas apa selanjutnya.”

“Aku berharap bisa membantu lebih banyak, tapi aku punya urusan keluarga yang harus diurus hari jadi agak sulit.”

“Pikirannya saja sudah lebih dari cukup.”

Aku tahu betapa sibuknya Tennouji-san.

Saat Tennouji-san meninggalkan kelas, dia mulai berjalan menyusuri koridor—anehnya, ke arah yang berlawanan dengan lemari sepatu.

Karena penasaran, aku mengikutinya, berpikir bahwa laporan saja mungkin terasa terlalu singkat.

Ketika kami sampai di bordes tangga, Tennouji-san melirik sekeliling dengan gugup.

“Ehem. …Ngomong-ngomong, Izuki-san.”

“Ya?”

Sambil berdehem dengan sengaja, pipi Tennouji-san sedikit memerah.

“Kita sedang berdua saja sekarang, tahu.”

“Oh… ya, kamu benar.”

Kalau dipikir-pikir, kami memang sedang berdua.

Aku teringat janji kami untuk berbicara santai saat kami sedang berdua saja.

Tapi… apa dia benar-benar berjalan ke arah sebaliknya hanya agar bisa berdua saja denganku?

Merasa sedikit gelisah, aku dengan hati-hati mengecek untuk memastikan tidak ada orang yang menguping.

“Kamu bertingkah sangat mencurigakan.”

“T-Tidak, hanya saja… di akademi, aku jadi sedikit paranoid.”

“Tapi kamu bicara dengan Miyakojima-san secara santai, kan?”

“Narika adalah teman lama, jadi aku tidak punya hambatan seperti itu dengannya…”

Saat aku menyebut nama Narika, Tennouji-san terlarut dalam pemikirannya.

“…Mungkin kamu juga harus memanggilku Mirei. Itu mungkin bisa membuatmu tidak terlalu ragu.”

Usul Tennouji-san.

Tapi aku tidak bisa langsung menyetujuinya begitu saja.

“Hmm…”

“Ada apa dengan reaksi itu? Kalau… kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa…”

Melihat Tennouji-san tiba-tiba tampak sedih, aku buru-buru menggelengkan kepala.

“Bukannya aku tidak mau…”

“Bagiiku, Tennouji-san adalah lambang dari seorang Ojou-sama. Selalu anggun, bermartabat, dan menghadapi posisi Anda dengan tegap… Aku mengagumi hal itu dari diri Anda. Makanya aku ingin tetap memanggilmu Tennouji-san, sebagai bentuk rasa hormat.”

Memanggil seseorang sebagai Ojou-sama mungkin terdengar seperti stereotip bagi sebagian orang. Jika aku mengatakannya pada Hinako, dia mungkin akan menggerutu karena tidak ingin menjadi salah satunya.

Namun bagi Tennouji-san, itu adalah pujian tertinggi.

Tennouji-san berusaha keras untuk hidup pantas menyandang nama keluarganya sebagai seorang Ojou-sama sejati. Dulu ada masa di mana hal itu berarti mengabaikan kebahagiaannya sendiri, tetapi sekarang tidak lagi. Sekarang, dia mengejar kebahagiaannya sendiri sambil tetap mempertahankan sikap ningratnya.

Aku benar-benar mendukung sisi diri Tennouji-san yang seperti itu.

Itulah sebabnya memanggilnya Tennouji-san adalah caraku menunjukkan rasa hormat.

Aku ingin menegaskan bahwa dia benar-benar seorang Ojou-sama.

“Jika kamu merasa begitu yakin, kurasa aku tidak punya pilihan!”

kata Tennouji-san sambil membuang muka.

Dia mencoba bersikap tenang, tetapi pipinya jelas-jelas tampak rileks.

“Jika kamu sangat mengagumiku, aku tidak akan keberatan. …Kamu boleh terus memanggilku dengan nama itu.”

Setelah mengatakan itu, Tennouji-san menarik napas dalam-dalam,

“Selain itu, aku sendiri cukup menyukai nama Tennouji.”

Kata-kata itu mengandung perasaan yang mendalam.

Betapa berharganya Tennouji-san bisa mengatakannya dengan begitu percaya diri… setidaknya kami berdua mengerti. Bukan karena tugas atau kewajiban, melainkan perasaan tulusnyalah yang terpenting.

Berpisah dengan Tennouji-san, aku pergi menemui Narika lagi.

“Narika, maaf membuatmu menunggu.”

Hinako sudah berada di sisi Narika.

Pertemuan ini telah menjadi rutinitas, tetapi ini bukan sekadar pesta teh yang santai. Kita harus menghasilkan pencapaian.

“Strategi Tennouji-san berjalan dengan baik, jadi mari kita manfaatkan momentum ini.”

“Ya! Sekarang, aku merasa bisa melakukan apa saja!”

Narika meluap-luap dengan antusiasme.

Festival olahraga sudah di depan mata. Kita akan melakukan semua yang kita bisa. Sebagai contoh, strategi Tennouji-san mungkin akan berhasil di luar kelas olahraga juga.

Bertekad untuk tidak menyerahkan harapan, kami berbulat tekad untuk terus berjuang sampai akhir.

Tapi… keesokan harinya, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Narika tidak masuk akademi.

◆

“Tidak masuk?”

Keesokan harinya, saat istirahat.

Aku tidak melihat Narika sepanjang hari dan merasa aneh, jadi aku mengintip ke ruang kelas Kelas B.

Dia juga tidak ada di sana, jadi aku bertanya kepada siswa di dekat sana dan mengetahui—Narika tidak masuk akademi hari ini.

(Apa aku terlalu memaksanya…?)

Beberapa hari terakhir ini, aku telah mendorong Narika untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa dia lakukan.

Mungkin dia merasa kewalahan tetapi memilih diam.

Kecemasanku membuncah. Apakah yang kulakukan benar-benar hal yang tepat…?

Jam pelajaran berikutnya dimulai, jadi aku kembali ke kelas. Tapi aku sama sekali tidak bisa fokus.

Saat pelajaran selesai dan jam istirahat siang dimulai,

Hinako dan aku menuju ke gedung dewan siswa lama, di mana aku langsung menghubungi Shizune-san.

“Izuki-san, ada apa?”

“Sebenarnya—”

Aku menyalakan pengeras suara agar Hinako juga bisa mendengarnya.

Pertama-tama aku memberi tahu Shizune-san bahwa Narika tidak masuk, lalu menyampaikan sebuah permintaan.

“Jadi, aku ingin pergi menjenguk Narika untuk melihat kondisinya…”

“Dimengerti.”

Shizune-san langsung memberikan izinnya tanpa ragu.

“Aku… ingin ikut juga.”

“Jika Ojou-sama pergi, keluarga Miyakojima mungkin akan bersikap defensif.”

“Mm…”

Poin tenang Shizune-san membungkam Hinako.

Bahkan Hinako, yang dikagumi oleh semua orang di akademi, menghadapi kesulitan dalam situasi seperti ini. Statusnya yang tinggi terkadang bisa menjadi tidak fleksibel.

Hinako memahami situasi Narika, karena dia sendiri pernah menghadapi keadaan serupa. Jika ketidakhadiran Narika disebabkan oleh kelelahan mental… Hinako telah mengalami hal itu lebih dari siapa pun. Mengetahui rasa sakit itu membuatnya sangat mengkhawatirkan Narika.

“Kalau begitu, Izuki-san, tolong buat janji temu dengan Miyakojima-sama.”

“Baik… Ah!”

Tepat saat aku hendak menutup telepon, aku menyadari sebuah kelalaian besar.

“…Kalau dipikir-pikir, aku tidak punya informasi kontak Narika.”

Aku benar-benar lupa.

“Kalau begitu, ke kediaman Miyakojima…”

“Soal itu, ada sedikit hubungan buruk antara orang tuaku dan keluarga Narika…”

Aku juga melupakan hal itu.

Satu-satunya cara agar aku bisa menghubungi Narika adalah dengan meminta informasi kontaknya secara langsung. Itu karena ada keretakan antara aku dan keluarga Miyakojima.

Ibuku adalah seorang pecandu judi yang menghabiskan tabungan kami, memaksa kami untuk tinggal di rumah besar keluarga Miyakojima—kerabat kami—untuk sementara waktu. Aku ikut bersama mereka dan begitulah cara aku bertemu Narika.

Aku ingat sikap arogan ibuku selama kami tinggal di sana, yang memicu kebencian dari keluarga Miyakojima.

Jika keretakan itu masih ada, aku mungkin tidak akan disambut.

“Maaf, aku tahu aku yang mengangkat topik ini, tapi aku mungkin akan langsung diusir di gerbang.”

“…Aku akan menelepon atas nama Anda. Mohon tunggu sebentar.”

Dengan itu, Shizune-san mengakhiri panggilan tersebut.

Dia mungkin sedang menghubungi keluarga Miyakojima sekarang.

Aku memakan bepoku dengan perasaan gugup.

Saat Hinako membuka mulutnya dengan suara “Nn,” aku menyuapinya nasi. Melihatnya mengunyah dengan gembira sedikit mengurangi keteganganku.

Beberapa saat kemudian, ponselku berdering menandakan panggilan dari Shizune-san.

Itu lebih cepat dari yang kuduga. Aku langsung mengangkatnya.

“Shizune-san, bagaimana hasilnya?”

“Tidak ada masalah, jadi aku akan mengirimkan mobil untuk menjemputmu sepulang sekolah.”

Jawaban Shizune-san ternyata sangat langsung.

◆

Maka, sepulang sekolah—

Aku tiba di kediaman keluarga Miyakojima untuk menjenguk Narika.

“…Sudah lama ya.”

Sambil sedikit membungkuk kepada Shizune-san yang duduk di kursi penumpang, aku keluar dari mobil dan mendekati mansion megah di hadapanku.

Tempat ini memiliki pesona yang berbeda dari mansion keluarga Konohana, tempat yang biasanya kutempati, atau kediaman Tennouji-san. Mungkin dirancang berdasarkan model kediaman samurai, bangunan ini terbentang luas dan rendah dari bagian depan.

Pertama-tama, aku harus membunyikaninterkom di dekat gerbang.

Tepat saat aku berpikir begitu, gerbangnya terbuka dengan sendirinya.

“Anda Tomonari-san, ya? Kami sudah menantikan kedatangan Anda.”

“Ah, ya.”

Terkejut oleh kemunculan seorang pelayan wanita secara tiba-tiba, aku balas membungkuk.

Pelayan itu mengenakan kimono formal tanpa pola. Aku mengikutinya dalam diam, sarafku tegang.

Namun, alih-alih membawaku masuk ke dalam mansion,

“Ojou-sama sepertinya ada di taman sebelah sana.”

Dia berbalik kepadaku, membungkuk sedikit, dan memberitahuku.

“…Terima kasih.”

Jadi Narika setidaknya tidak terbaring di tempat tidur. Sepertinya ini bukan kasus kelelahan seperti kelelahan akting Hinako yang terjadi sesekali.

Ke arah yang ditunjukkan oleh pelayan itu, terdapat sebuah taman bergaya Jepang yang luas.

Aku berjalan menyusuri jalan batu yang diletakkan di atas kerikil halus. Dibandingkan dengan mansion Konohana bergaya Barat dan Akademi Kiou, tempat ini terasa menyegarkan dan baru.

(Ah… ingatan itu mulai kembali.)

Aku pernah ke taman ini sebelumnya.

Waktu aku kecil, aku dan Narika sering bermain di sini.

Pemandangannya telah berubah di beberapa bagian, tapi tidak salah lagi.

(Kalau tidak salah, ada jalan rahasia di sini…)

Tembok yang mengelilingi mansion Miyakojima tampak kokoh dan tinggi, tetapi jika kamu menerobos semak di depanku, ada sedikit cekungan di dinding di baliknya. Dengan mengaitkan kakimu ke sana, kamu bisa memanjat ke atas.

Itu adalah jalan rahasia yang biasa aku dan Narika gunakan untuk menyelinap keluar.

Cekungan itu begitu kecil sehingga hanya kaki anak kecil yang bisa menggunakannya, jadi tidak ada seorang pun yang pernah menyadarinya saat itu.

Tapi melihat tembok itu sekarang… tidak ada satupun cekungan.

Seperti yang diduga, tembok itu telah diperbaiki sejak saat itu.

“Hm?”

Tepat saat aku hendak kembali dari jalan memutar, aku mendengar suara seorang gadis.

Begitu berbalik, aku melihat Narika berdiri di sana, mengenakan hakama.

“I-Izuki!? Kenapa kamu ada di sini!?”

“Aku datang untuk memeriksakan keadaanmu.”

Saat aku mengatakan itu, mata Narika terbelalak kaget.

(Apa Narika tidak menerima pesannya…?)

Shizune-san seharusnya sudah membuat pengaturan sebelumnya, tetapi Narika tampak benar-benar terpana.

“M-memeriksakan keadaanku…? Ini kan cuma jari yang sedikit terkilir, tahu.”

“Jari yang terkilir…”

Narika mengangkat tangan kanannya.

Jari telunjuknya dibalut perban. Tidak ada luka lain yang terlihat jelas. …Rasanya memang benar-benar hanya jari yang terkilir.

Untuk sekarang, aku merasa lega karena itu bukanlah kelelahan mental.

Tapi jika dipikirkan dengan tenang, ini bukanlah hasil yang patut disyukuri juga.

“…Apa kamu akan baik-baik saja untuk festival olahraga?”

“Ya. Cedera seperti ini seharusnya bukan masalah.”

Kata Narika sambil menatap jarinya yang dibalut perban.

“Sejujurnya, aku bahkan tidak berniat bolos Akademi hari ini, tapi Ayahku itu terlalu cemas. Dia menyeretku ke rumah sakit.”

“…Begitu ya.”

Bagiku, ayah Narika selalu terlihat tegas, jadi penjelasan ini sedikit mengejutkan.

Bagaimanapun juga, aku senang dia baik-baik saja.

“Tetap saja, wah. Kamu begitu mengkhawatirkanku sampai-sampai datang jauh-jauh ke rumahku, ya?”

Narika bergumam dengan senyuman bangga yang aneh.

“Tentu saja aku khawatir. Apa kamu punya bayangan seberapa besar aku memikirkanmu akhir-akhir ini?”

“Ngh… K-kamu biasanya begitu santai padaku, jadi tidak adil rasanya kalau kamu tiba-tiba ngomong begitu…”

Narika mengalihkan pandangannya.

Profil wajah dan telinganya memerah.

“Oh, dan Hina… Konohana-san punya pesan untukmu. Katanya obat terbaik untuk perasaan tidak enak badan adalah beristirahat dengan tenang.”

“…Itu terdengar tulus banget secara aneh.”

Tepat sasaran.

Sebenarnya, Hinako mempercayakan pesan itu kepadaku berdasarkan pengalamannya sendiri.

“Sayangnya, cederaku ini benar-benar sepele. Aku sudah banyak tidur… dan karena aku tidak menggerakkan tubuhku sama sekali hari ini, tidak seperti biasanya, aku sejujurnya jadi gatal ingin melakukan sesuatu.”

Kata Narika sambil memainkan lengannya yang tidak cedera.

Yah, pesan itu tadinya dimaksudkan jika Narika kelelahan secara mental. Kalau cuma jarinya yang keseleo, dia tidak perlu beristirahat secara berlebihan.

“Apakah kamu biasanya berolahraga, Narika?”

“Ya. Aku bangun pagi-pagi setiap hari dan mengayunkan pedang bambu di dojo. Tapi karena aku pergi ke rumah sakit hari jadi aku tidak bisa melakukannya… makanya aku punya banyak energi yang tertahan ini.”

Begitu ya. Pantas saja dia berkeliaran di taman bahkan sampai sekarang.

Tetap saja, memikirkan dia berlatih di dojo setiap pagi… Pantas saja dia sangat jago dalam bidang olahraga. Pola pikirnya berada di tingkat yang berbeda dari siswa-siswi lainnya.

“Karena aku sudah datang jauh-jauh untuk menjenguk, beri tahu aku jika ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu.”

“M-mana, meskipun kamu berkata begitu… Oh!!”

Narika tiba-tiba mengeluarkan seruan keras.

“I-itu dia! Izuki! Apa kamu ingat waktu aku mengalahkan Konohana-san dalam tenis tempo hari!?”

“Y-yeah, aku ingat…”

“A-aku akan menggunakan itu seka… s-s-sekarang…!”

Dengan itu, Narika menatapku, wajahnya memerah padam.

“M-maukah kamu… berkencan denganku!?”

Sembari terbata-bata, Narika menundukkan kepalanya.

◆

Menyetujui permintaan Narika untuk pergi berkencan, kami meninggalkan kediaman Miyakojima.

“Apa kamu sudah mendapat izin dari orang tuamu?”

“Ya. Yah, secara umum, mereka tidak membatasi tindakanku.”

Saat kami berjalan menuruni lereng yang panjang dan sempit, aku mengobrol dengan Narika.

Sepertinya Narika diberi jauh lebih banyak kebebasan dibandingkan Hinako atau Tennouji-san.

“Kurasa aku sudah pernah bilang sebelumnya, tapi… keluargaku penuh dengan praktisi seni bela diri.”

Kata Narika saat kami berjalan.

“Kepala keluarga Miyakojima diwajibkan untuk menguasai segala bentuk seni bela diri. Dan keturunan mereka, selama mereka membuktikan kekuatan mereka kepada sang kepala keluarga, akan diberi tingkat kebebasan tertentu. …Aku mengalahkan ayahku dalam judo dan kendo, jadi aku diizinkan melakukan Sebagian besar hal.”

“…Itu peraturan keluarga yang tidak biasa.”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum masam.

Narika dipercaya oleh orang tuanya… atau lebih tepatnya, dia berhasil meyakinkan mereka dengan benar.

Mungkin, istilah “praktisi seni bela diri” menyebar di Akademi dengan konotasi negatif. Akibatnya, Narika terjebak dengan citra sebagai orang yang menakutkan.

Tidak ada anak nakal di Akademi Kiou. Jadi para siswa di sini tidak memiliki kekebalan terhadap aura “penuh kekerasan”.

Itulah sebabnya Narika menonjol dengan cara yang buruk.

“Ngomong-ngomong, Narika, kita mau ke mana?”

“Ke tempat yang sudah jelas… ke sini!”

Narika menunjuk ke depan dan mendeklarasikannya.

Di ujung jarinya terdapat sebuah toko kecil.

“Toko permen?”

“Iya! Tempat ini penuh dengan kenangan kita!”

Yah, aku sudah punya firasat tentang tujuan kita…

Itu adalah toko permen yang biasa kami kunjungi waktu kecil.

Melangkah ke dalam toko permen setelah sekian lama, pemandangannya terasa jauh lebih berbeda dari yang kuduga. Tempat itu dulunya terasa sedikit lebih kuno, tetapi dindingnya sekarang bersih, dan ada poster-poster film terbaru yang menghiasi tempat itu. Laju waktu menghantamku, dan aku berdiri diam sejenak.

“Apa kamu sering ke sini, Narika?”

“Ya, hampir setiap hari.”

Aku tidak tahu soal itu.

Sepertinya Narika benar-benar menyukai permen.

“Karena kita sudah di sini, biar kurekomendasikan beberapa hal untukmu. Pertama, Umaibou rasa Corn Potage klasik. Kalau kamu ingin sesuatu yang mengenyangkan, Kabayaki-san atau Jimejime Shitenja-nee-yo adalah pilihan terbaik. Jika kamu ingin bersantai, Ramune sangat bagus, tapi Ramune berbentuk kaleng ini membuatmu bisa menikmati berbagai macam rasa.”

“B-Begitu ya…”

Mendengarkan penjelasan penuh semangat dari Narika, aku hanya bisa mengangguk samar.

Dia tahu lebih banyak dariku…

Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku atas perkembangannya yang tak terduga.

“Baiklah, ayo kita ambil beberapa camilan dan makan di taman.”

“Ya!”

Mata Narika berbinar saat dia memilih permennya.

Dia membawa dompet kecil khusus untuk uang koin demi membeli permen. Di kasir, Narika menyerahkan uang kepada seorang wanita paruh baya.

Dibandingkan dengan Hinako atau Tennouji-san, Narika mungkin lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari orang biasa.

Mungkin itulah sebabnya dia bisa mengajari Kita tentang kesenangan berolahraga sebelumnya. Dia memahami hal-hal seperti TV dan permainan yang dinikmati kebanyakan orang setiap hari.

Aku juga membeli beberapa permen, dan kami berjalan bersama menuju taman.

“Sudah lama ya sejak terakhir kali kita makan permen bersama di taman ini, Izuki?”

“…Begitu kau mengatakannya, kita memang dulu sering makan di sini.”

Duduk di atas bangku, kami menikmati permen kami.

“Izuki… apa itu?”

Tiba-tiba, Narika menatap apa yang sedang kuamankan dan bertanya.

“Apa? Ini cuma Umaibou.”

“T-tidak, tapi aku belum pernah melihat rasa itu sebelumnya! Ini sepertinya produk baru…!”

Bagi Narika yang merupakan seorang penggemar permen, ini tampaknya menjadi masalah besar.

Umaibou rasa Matsumaezuke… Yah, aku juga belum pernah melihat yang ini sebelumnya. Jika Narika, yang datang ke sini hampir setiap hari, tidak mengetahuinya, ini pasti dirilis hari ini atau dalam beberapa hari terakhir. Kurangnya promosi untuk produk baru benar-benar menunjukkan suasana toko permen yang santai, entah itu bagus atau buruk.

Narika menatap permenku dengan ekspresi antusias.

“…Mau coba?”

“B-benarkah!?”

“Maksudku, aku tidak begitu pilih-pilih soal rasa.”

Aku hendak menyerahkan Umaibou yang baru saja dibuka itu kepadanya, tetapi…

“T-tunggu. Karena ini kesempatan khusus, um…”

Wajah Narika memerah saat dia berbicara.

“A-ahh…”

Membuang muka, Narika membuka mulutnya di hadapanku.

Aku mengerti apa yang dia inginkan, tetapi…

“…Bukankah kamu malu?”

“Aku tidak mawu.”

Dia terlihat sangat malu.

“C-cepatlah, kamu dulu pernah menyuapiku kan? Ini seperti mengenang masa-masa itu…!”

“…Baiklah, baiklah.”

Aku berhasil menahan rasa canggungku sendiri, mungkin karena aku sudah terbiasa melakukan ini dengan Hinako.

Perbedaan besarnya adalah Narika jelas-jelas sangat malu. Telinganya memerah terang saat aku mendekatkan Umaibou itu.

Tapi sebelum menyuapinya—aku menggeser Umaibou itu ke kanan.

“Muh?”

Narika menoleh ke kanan.

Lalu aku menggesernya ke kiri.

“M-muh?”

Narika menoleh ke kiri.

Dorongan usil yang aneh muncul, dan aku mulai mengayunkan Umaibou itu ke kiri dan ke kanan.

Setiap kali, kepala Narika mengikuti, berayun ke kiri dan ke kanan.

Setelah menggodanya sebentar…

“K-kau tidak mau memberikannya padaku…?”

Narika menatapku dengan mata memohon.

Melihat ekspresinya yang cemas, aku akhirnya mendekatkan Umaibou itu ke mulutnya.

“Baiklah.”

Begitu mendapat aba-aba itu, Narika menggigit Umaibou tersebut dengan bunyi renyah yang memuaskan.

(Dia benar-benar seperti anak anjing…)

Naluri tanpa beban ini, namun patuh pada niatku… aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya.

“Mmm! Ini juga enak!”

Narika mengunyah Umaibou itu dengan gembira.

(…Mungkin Hinako benar.)

Sebelumnya, Hinako pernah bilang kalau cara interaksiku dan Narika terasa “alami.”

Kata-kata itu mungkin benar.

Saat aku berdua saja dengan Hinako atau Tennouji-san, terkadang aku merasa gugup dan tidak bisa berbicara dengan lancar.

Tapi bersama Narika, aku merasa tenang. Aku bisa menghabiskan momen damai ini bersamanya selamanya.

“Hehe… Ini pastinya hak istimewaku, kan?”

Tiba-tiba, Narika bergumam sambil menatap ke kejauhan.

“Maksudmu apa?”

“Kamu selalu berada di sekitar Ojou-sama Akademi, tapi kamu hampir tidak pernah pergi keluar sendirian berdua seperti ini dengan mereka, kan? Konohana-san bilang dia pernah, tapi itu pasti gertakan belaka. Keluarga Tennouji-san sepertinya ketat, jadi kemungkinan besar dia juga tidak.”

Kukira keluarga Narika sama ketatnya, tapi mengesampingkan hal itu…

“Tidak, itu tidak benar. Aku pernah pergi bersama mereka berdua setidaknya sekali.”

“Apa!?”

Sejujurnya, bersama Hinako, sering kali ada orang seperti Shizune-san di dekat kami, jadi itu tidak sepenuhnya berdua saja, tapi rasanya mirip.

“K-k-kapan… di mana…!?”

“Aku tidak ingat waktu persisnya, tapi dengan Tennouji-san, itu sekitar sebulan lalu, dan dengan Konohana-san, beberapa saat setelah itu.”

Saat itulah aku secara tidak langsung meminta untuk membatalkan pertunangan.

“Tempatnya di pusat permainan arcade.”

“P-pusat arcade!? K-ke tempat yang mencolok seperti itu!?”

Bahkan Narika, seorang pecinta permen yang sedikit akrab dengan kehidupan orang biasa, tampak waspada terhadap pusat arcade.

“…Itu tidak adil.”

“Hah?”

Narika berdiri dan menyatakan.

“Itu tidak adil! Aku ikut juga!”

◆

Setelah menghubungi Shizune-san berjaga-jaga, aku tiba di pusat arcade bersama Narika.

Kami keluar dari mobil yang disiapkan oleh keluarga Miyakojima dan memasuki pusat arcade.

(Ini adalah ketiga kalinya aku ke sini.)

Pertama kali bersama Tennouji-san. Kedua kalinya bersama Hinako. Dan sekarang yang ketiga kalinya bersama Narika.

Aku tidak pernah membayangkan akan membawa tiga Ojou-sama papan atas Akademi Kiou ke pusat arcade yang sama.

Karena kami sudah di sini, aku harus tetap waspada.

Aku mengamati wajah orang-orang di sekitar kami.

“Ada apa, Izuki? Kamu melihat ke sekeliling begitu rupa.”

“Hanya mengecek apakah ada orang yang kukenal…”

Saat aku datang ke sini bersama Tennouji-san, aku berpapasan dengan seorang teman masa kecil.

Pada akhirnya, kami tidak berbicara, tapi rasanya sedikit canggung, jadi aku lebih memilih untuk tidak bertemu siapa pun kali ini.

Jika aku berencana menemui mereka, itu tidak masalah, tapi… mereka tidak membalas emailku setelah itu. Sejujurnya, aku sedikit takut untuk menghadapi mereka sekarang.

“Tapi, Izuki… Apakah Konohana-san dan Tennouji-san benar-benar datang ke sini?”

“Ya.”

“Itu… luar biasa. Ini pertama kalinya aku ke sini, tapi aku bahkan tidak bisa membayangkan mereka berdua berada di tempat seperti ini.”

Aku merasakan hal yang sama.

“Untuk sekarang, mari kita coba bermain sebentar.”

Seperti halnya Tennouji-san dan Hinako, aku memutuskan untuk membiarkan Narika mencoba berbagai permainan.

“Hm? …Begitu ya, jadi seperti itu cara kerjanya!”

Dibandingkan dengan dua Ojou-sama lainnya, Narika beradaptasi dengan permainan dengan sangat baik.

Pada putaran kedua dalam sebuah permainan balap, dia sudah bisa mengendalikan kemudi dasar. Dalam permainan irama, jika itu melibatkan gerakan fisik, dia mencetak skor di atas rata-rata pada percobaan pertamanya.

Mungkin inilah saatnya Narika bersinar.

Seorang Ojou-sama bersinar di pusat permainan agak tidak biasa, tapi…

“Izuki, apa ini!?”

“Itu hoki udara.”

Sejauh ini, setiap Ojou-sama yang kubawa ke sini selalu tertarik pada hoki udara.

Tennouji-san mengiranya sebagai piring terbang, dan Hinako mengira itu adalah alas cangkir…

“Begitu ya. Ini adalah permainan di mana kita memukul keping putih ini bolak-balik.”

Narika langsung memahami konsep permainan tersebut.

Dalam hal permainan fisik, instingnya sangat tajam.

“Izuki! Aku mau coba!”

“Ayo kalau berani.”

Aku memasukkan koin seratus yen ke dalam mesin dan berhadapan dengan Narika.

Kami asyik bermain hoki udara untuk beberapa saat, tetapi…

“…Tidak mungkin.”

Tanpa sadar, tiga puluh menit telah berlalu.

Dan hasil dari pertandingan kami membuatku tertegun.

“Itu kemenangan beruntunku yang ketiga!”

Kami baru saja menyelesaikan set ketiga.

Aku mampu bertahan hingga sekitar pertengahan set pertama. Setelah itu, Narika menguasai cara bermainnya, dan pertandingan berubah menjadi pembantaian sebelah pihak.

(Apa hoki udara benar-benar bisa sesebelah pihak ini…?)

Di set ketiga, aku bahkan tidak mencetak satu poin pun.

Ini bukan lagi permainan. Ini adalah pemusnahan.

“B-bisa kita main sekali lagi?”

“Tentu saja, aku akan melayanimu.”

Karena tidak ingin mengakhiri segalanya dengan rasa penasaran yang menjengkelkan, aku memutuskan untuk bermain satu set lagi.

(Seperti yang Hinako lakukan…)

Aku mencoba gerakan tipuan yang kulihat digunakan Hinako sebelumnya.

Berpura-pura memukul keping, aku menunggu saat Narika kehilangan keseimbangannya, lalu mengincar gawang dan memukul keping itu sungguhan kali ini—tapi…

“Ugh!”

Narika melancarkan serangan balasan dengan mudah.

“…Kupikir ini mirip dengan squash karena ini adalah permainan yang mengandalkan refleks, tapi ini benar-benar jenis permainan yang jauh berbeda. Bahkan dengan kekuatan anak-anak, jika kamu mengerahkan seluruh kemampuanmu, itu akan dengan mudah melampaui batas refleks dan penglihatan dinamis kita. Hanya ada sedikit ruang untuk penilaian strategis, jadi ini tidak terlalu kompetitif, tapi ini intuitif dan permainan yang dirancang dengan baik.”

Sebagai putri dari seorang produsen peralatan olahraga, Narika sedang menganalisis meja hoki udara tersebut.

Entahlah, mungkin keluarga Narika akan mulai menjual mesin hoki udara segera.

“Fiuh… aku puas!”

Setelah bermain beberapa ronde, Narika berkata dengan ekspresi segar.

“Ini pertama kalinya aku pergi ke pusat permainan, tapi ini cukup menyenangkan!”

“…Ya, memang.”

Karena kalah dengan telak, suasana hatiku jadi rumit.

Aku bertanya-tanya apakah Tennouji-san merasakan hal ini saat dia terus-menerus kalah dariku.

“…Lagi pula, ini impas karena tertinggal dari Konohana-san dan yang lainnya.”

Narika bergumam.

Tertinggal… Untuk sesaat, aku tidak menangkap maksudnya, tapi aku segera menyadarinya.

Dia mungkin membicarakan tentang bagaimana aku datang ke pusat permainan bersama kedua orang itu terlebih dahulu.

“Itu bukan sesuatu yang harus dijadikan ajang bersaing, kan?”

“…Oh, aku orang yang suka bersaing.”

Kata Narika dengan suara kecil.

“Karena… aku adalah orang pertama yang menemuimu, Izuki.”

Menundukkan pandangannya, Narika berbicara dengan terbata-bata.

“Aku menemuimu sebelum orang lain di akademi ini. Tapi sebelum aku menyadarinya, kau sudah menjadi dekat dengan berbagai macam orang…”

Narika tampak seperti anak kecil yang sedang ngambek saat mengatakan hal itu.

Bibirnya mengerucut, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang jelas.

Mungkin ini bukanlah jiwa kompetitif setelah semua—bisa jadi…

“…Jangan-jangan kau cemburu?”

“Apa—!?”

Mendengar pengamatanku, wajah Narika langsung memerah.

“C-cemburu!? T-tidak, bukan itu maksudku…!?”

“Baiklah, salahku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal yang aneh.”

Aku menurunkan kewaspadaanku karena kami sudah begitu santai satu sama lain.

Aku akhirnya keceplosan mengucapkan apa yang ku rasakan.

Namun, saat aku membungkuk cepat untuk meminta maaf, Narika entah kenapa memasang ekspresi rumit.

“…Tidak.”

Dengan suara bergetar, Narika menyangkalnya.

“Aku memang cemburu…”

“Ha?”

Seolah-olah dia memohon agar aku tidak mengabaikan perasaannya.

Narika menyatakan hal itu, hampir seperti sedang memprotesku.

“A… Aku memang cemburu…!”

Dengan telinga dan wajah yang memerah, Narika menatap lurus ke arahku.

“I-Itu…”

“…”

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Tidak seperti saat bersama Hinako atau Tennouji-san, aku pikir segalanya dengan Narika akan berjalan santai—tapi sekarang aku menyadari kalau itu sama sekali tidak benar.

Matanya yang berkilau. Pipi meronanya.

Saat Narika menatapku dari bawah, aku sama sekali tidak bisa tetap tenang ataupun bersikap biasa.

Saat ini, aku benar-benar, secara tulus memikirkan betapa imutnya Narika—

“Narika-ojou-sama.”

Pada saat itu, seseorang memanggil dari samping.

Tanpa kusadari, seorang pelayan keluarga Miyakojima yang mengenakan kimono sudah berdiri di dekat kami.

“Hari sudah hampir gelap, jadi saya datang untuk mengantar Anda pulang.”

“O-oh, begitu ya.”

Dengan adanya wanita cantik berkimono di pusat permainan arcade, kami berhasil menarik cukup banyak perhatian.

Kami bergegas keluar untuk menghindari tatapan orang-orang.

“Dan, Tomonari-sama.”

Setelah kami masuk ke dalam mobil keluarga Miyakojima, pelayan itu berbicara kepadaku.

“Tuan… Musashi-sama meminta kehadiran Anda.”

“…Ha?”

◆

Setelah kembali ke kediaman Miyakojima dengan mobil, aku berpisah dengan Narika dan menuju untuk menemui Musashi-san.

Aku masuk melalui pintu depan dan berjalan menyusuri lorong yang panjang.

Membuka pintu geser, aku melangkah ke dalam ruangan bergaya Jepang berlantai tatami, di mana seorang pria berwajah tegas dan tajam duduk di ujung ruangan.

“S-sudah lama sekali.”

“…Benar.”

Pria ini adalah Miyakojima Musashi—ayah Narika.

Dia adalah presiden dari produsen perlengkapan olahraga terkemuka di negeri ini, dan ketajaman bisnisnya konon luar biasa, dengan kinerja perusahaan yang terus meningkat.

Aku selalu merasa terintimidasi olehnya.

Saat aku masih anak-anak, aku pernah dimarahi habis-habisan karena membawa Narika keluar.

Itu adalah salahku, jadi aku tidak menyimpan dendam apa pun. Tapi ketakutan murni dari saat itu terukir begitu dalam di ingatanku sehingga hanya dengan menghadapinya sekarang saja sudah membuatku ciut.

Pelayan itu membungkuk dengan sopan dan meninggalkan ruangan.

Sendirian di tempat ini, Musashi-san dan aku sama-sama mengatupkan bibir rapat-rapat.

(…Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa?)

Tunggu, aku memang dipanggil ke sini, kan?

Untuk sesaat, aku meragukan diriku sendiri, tetapi Musashi-san sama sekali tidak tampak bingung.

Merasa semakin tidak nyaman saat menunggu, Musashi-san akhirnya berbicara perlahan.

“Belakangan ini, sepertinya kamu ikut campur dalam urusan sosial putriku.”

Suaranya bagaikan tabuhan gendang Jepang yang dipukul tepat di depanku, beresonansi jauh di dalam perutku. Suara itu tidak keras, namun membawa intensitas yang luar biasa. Kehadiran mutlak itu tidak salah lagi berasal dari pria yang duduk di hadapanku.

“Y-ya, aku telah membantu.”

“Membantu, ya…”

Musashi-san bergumam penuh arti.

Sejauh ini, dia tampaknya tidak sedang memarahiku.

Merasa lega, aku mendapati diriku memikirkan sesuatu.

“Um… apa Anda tahu tentang reputasi Narika di akademi?”

“Lumayan.”

Musashi-san menjawab tanpa perubahan ekspresi.

“Narika tidak perlu dilindungi sebesar yang kamu pikirkan.”

Suaranya yang jernih dan beresonansi menyatakan hal itu.

Tekanan besar yang tak kasat mata menghantam seluruh tubuhku.

Aku diliputi oleh dorongan untuk menundukkan kepala dan meminta maaf, untuk melarikan diri dari atmosfer yang menakutkan ini secepat mungkin.

Tapi ada hal lain yang mengusik pikiranku.

Percakapan barusan—jawaban “agak” dari Musashi-san… Mungkinkah dia tidak sepenuhnya tahu apa yang sedang diperjuangkan oleh Narika?

“…Aku tidak memikirkannya dengan cara yang merendahkan, seolah-olah aku sedang melindunginya. Tetap saja, aku pikir merupakan suatu fakta bahwa Narika sedang menghadapi beberapa masalah.”

Aku sama sekali tidak memiliki gagasan muluk-muluk tentang mendukungnya atau mengulurkan tangan.

Mungkin aku memilikinya di awal, tapi tidak lagi. Setelah melihat kelebihan-kelebihan Narika, aku ingin orang lain juga mengenalinya.

Ini bukan tentang kebaikan.

Ini adalah keinginanku pribadi, yang lahir dari rasa hormatku kepada Narika.

“Masalah, katamu.”

Mendengar tanggapanku, Musashi-san bergumam pelan.

“Dan itu semua karena kamu.”

“…Apa?”

Aku tidak bisa memahami maksud dari perkataannya.

Masalah Narika… disebabkan oleh aku?

“Sudah cukup.”

Begitu mengatakannya, Musashi-san berdiri dan membuka pintu geser di belakangnya.

Saat dia hendak pergi, aku tidak bisa menahan diri untuk memanggilnya.

“T-tunggu sebentar! Apa maksudmu dengan—”

“Keluar. Aku sibuk.”

Tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, Musashi-san meninggalkan ruangan itu.

Pintu geser itu tertutup, dan dia sudah pergi.

Pada saat yang sama, pintu di belakangku terbuka, dan pelayan itu muncul.

“Saya akan mengantar Anda ke pintu depan.”

Dengan susah payah menjawab, aku mengikuti pelayan tersebut menuju keluar kediaman.

Dalam perjalanan, aku mendengar suara langkah kaki yang mantap.

(…Dojo? )

Itu adalah dojo khusus di dalam area kediaman.

Gelombang nostalgia melanda diriku.

Itu adalah tempat di mana Narika dan aku pertama kali bertemu.

“…Um, bolehkah aku melihat Narika sekali lagi?”

“Itu bukan masalah.”

Aku terkejut, mengira akan ditolak.

Memberikan anggukan singkat kepada pelayan itu, aku berjalan menghampiri Narika.

Memasuki dojo, aku melihat Narika sedang memegang pedang bambu dalam posisi kuda-kuda.

Keringat berkilau di pipinya, memantulkan cahaya matahari sore. Dengan punggung tegak dan ekspresi bermartabat, Narika mengayunkan pedang bambu itu dengan tenang—hampir seperti dalam sebuah ritual.

“…Izuki?”

Menyadari kehadiranku, Narika perlahan berbalik.

Aku pasti sudah menatapnya cukup lama, benar-benar terpikat.

“Latihan?”

“Ya. Sebentar lagi ada turnamen.”

Dengan itu, Narika mengendurkan posenya.

“Apakah ayahku mengatakan sesuatu kepadamu?”

Pertanyaannya membuatku ragu sejenak.

Aku merasa terganggu dengan perkataannya bahwa itu adalah salahku, tetapi tidak perlu memberitahu Narika tentang hal itu.

“…Tidak, tidak ada yang khusus.”

“Begitu ya. Yah, ayahku selalu menyukaimu, jadi dia mungkin tidak akan mengatakan hal yang aneh-aneh.”

“Hah?”

Aku tidak mempercayai pendengaranku sendiri.

“Musashi-san… menyukaiku?”

“Ya, itu yang dia bilang.”

Narika mengatakannya dengan sedikit nada senang.

Tetapi aku justru merasa bingung.

(Apakah dia… berbohong kepada putrinya?)

Mungkin dia tidak ingin perasaan pribadinya mempengaruhi hubungan putrinya? Apakah itu cara dia bersikap pengertian?

Aku tidak dapat memahami niat sebenarnya dari Musashi-san, dan aku tidak memiliki keberanian untuk mengonfrontasinya mengenai hal itu.

Hari sudah semakin malam, dan aku mungkin harus segera pulang, tapi—

“…Narika, ada pedang bambu lagi?”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memanggil Narika saat dia bersiap untuk melanjutkan latihannya.

“Hm? Aku bisa mengambilkannya, tapi…”

“Mumpung aku di sini, biarkan aku bergabung latihan denganmu. Aku tidak tahu apakah aku akan banyak membantu, tapi…”

Ini adalah caraku berterima kasih padanya karena telah melatihku bermain tenis.

“Itu bagus sekali! Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan pedang bambu untukmu!”

Narika berlari kecil ke ruang penyimpanan dojo dan membawakanku sebuah pedang bambu.

Kami tidak repot-repot mengenakan perlengkapan pelindung. Matahari mulai terbenam, dan kami tidak berencana berlatih terlalu serius.

“Oh, ngomong-ngomong, Izuki. Satu hal sebelum kita mulai.”

“Ada apa?”

Saat kami berdua mengambil kuda-kuda dengan pedang bambu di tangan, Narika berkata,

“Aku sebenarnya kurang suka menahan diri.”

Ujung pedang bambu kami saling bersentuhan.

Sesaat kemudian, Narika memperkecil jarak di antara kami dengan kecepatan yang menyilaukan.

Langkahnya begitu mulus, hampir tidak menggeser tubuhnya ke atas atau ke bawah, membuat jaraknya sulit diperkirakan. Karena lengah, aku mundur, tapi pedang bambu Narika sudah mengancam di atas kepalaku.

Kehilangan keseimbangan, aku akhirnya jatuh duduk di tanah.

“O-oh…?”

“Tenang saja, aku akan berhenti sebelum mengenainya. Kamu bisa mengayunkan pedangmu sekuat tenaga, Izuki.”

Begitu mengatakannya, Narika mengulurkan tangannya kepadaku.

Menerima uluran tangannya untuk berdiri, aku kembali mengambil posisi.

(Kupikir aku sudah berlatih kendo…)

Aku tidak memberitahukannya kepada Narika, tetapi sebagai bagian dari pelatihan bela diri, aku sempat belajar kendo dari Shizune-san untuk beberapa waktu.

Meskipun begitu, kendo mengandalkan pedang—sebuah senjata khusus. Hal itu kurang cocok dengan bela diri, yang mengasumsikan kamu melindungi diri sendiri dalam keadaan darurat tanpa akses ke senjata. Jadi, aku tidak mempelajarinya secara mendalam.

Kemampuan kendoku paling-paling hanya sedikit lebih baik daripada seorang amatir.

Meskipun begitu—Narika sangat luar biasa.

“Ayo, sekali lagi!”

Setelah aku jatuh terduduk lagi, Narika mengulurkan tangannya dan berkata.

Aku memasang kuda-kuda dengan pedang bambu. Lalu, aku merasakan intensitas yang luar biasa dari sosok di depanku.

(Ini Narika…)

Menghadapinya saja sudah memberiku rasa intimidasi yang kuat.

Itu persis sama dengan tekanan yang kurasakan dari Musashi-san sebelumnya.

(Inilah Narika yang dilihat oleh semua orang…!)

Itu sangat menakutkan.

Dia mungkin sama sekali tidak bermaksud begitu, tapi rasanya seperti ada bilah pedang yang diarahkan ke tenggorokanku.

Pada akhirnya, aku hampir tidak bisa berbuat apa-apa dan kalah dari Narika.

Tidak mampu menangkis ayunan ke bawahnya, aku terhuyung.

“K-kamu tidak apa-apa, Izuki!?”

“Ya… entah bagaimana.”

Narika dengan terburu-buru mendekatiku.

“M-m-maaf… aku terbawa suasana saat sedang fokus… Tolong jangan benci aku…!”

Merasa dirinya sudah bertindak terlalu jauh, Narika meminta maaf dengan mata berkaca-kaca.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat pemandangan itu.

Sungguh kontras… Baru saja dia terlihat seperti iblis yang ganas, dan sekarang dia menjadi gadis yang pemalu. Kesenjangan yang besar ini mengingatkanku pada Hinako.

“…Itu tadi hebat sekali.”

Setelah tenang, yang kurasakan hanyalah rasa kagum.

“Kamu begitu kuat, Narika.”

“Aku cukup payah dalam hampir semua hal. Jadi, setidaknya dalam hal-hal yang kuuasai, aku ingin menegakkan kepalaku. …Aku sudah berlatih dengan putus asa.”

“Itu adalah bentuk kekuatan yang lain—mengetahui kelemahanmu.”

Karena dia tidak mahir di bidang lain, dia pasti telah mengasah satu keahlian ini hingga sempurna.

Itu adalah keyakinan yang tidak dapat kamu pertahankan tanpa mengenali kelemahanmu sendiri.

Saat aku terkesan dengan perkataan Narika… entah kenapa, dia malah merenggut.

“…Sudah kuduga, kamu lupa, kan?”

“Hah?”

“Kekuatan untuk mengetahui kelemahan—itu adalah sesuatu yang diajarkan oleh Izuki kepadaku.”

Narika menghela napas.

“Dulu sekali, saat aku bilang Izuki itu kuat, kamu mengucapkan kata-kata itu kepadaku.”

“…Oh.”

Kenangan dari masa lalu berkelebat hidup di dalam benakku.

‘Izuki… kamu lebih kuat dariku, bukan?’

Sebuah kenangan masa lalu, saat Narika mengatakan hal itu kepadaku.

Apakah itu saat aku mengusir serangga keluar ruangan untuknya, atau mungkin saat aku menghiburnya ketika dia menangis setelah dimarahi oleh Musashi-san? Detailnya samar, tapi…

Bagaimana cara aku menanggapi kata-kata itu?

Kurasa, saat itu, aku berkata—

“…Aku tidak kuat.”

Aku mengatakan padanya bahwa aku sama sekali tidak kuat, dan…

“Aku hanya tahu kelemahanku… makanya aku bisa mengerahkan seluruh kemampuanku.”

Itulah yang pasti kukatakan kepada Narika.

Saat aku mengingat kata-kata itu, Narika memberiku senyuman lembut.

“Tepat sekali. …Kata-kata itu masih terukir di dalam hatiku.”

Narika meletakkan satu tangan di dadanya, seolah-olah sedang menyimpan kenangan berharga.

Diriku yang dulu terhubung dengan diriku yang sekarang.

Tumbuh dalam keluarga miskin, aku menghadapi berbagai kesulitan sejak usia muda. Bahkan di SMA, aku menjalani pekerjaan paruh waktu setiap hari, dan belajar di tengah semua itu sangatlah melelahkan.

Sekarang, aku terjebak dalam badai adaptasi dengan lingkungan Akademi Kiou dan tugas-tugas-ku sebagai pengurus. Aku menyukai apa yang kulakukan, namun itu bukan berarti tanpa kesulitan.

Dulu dan sekarang, aku sama-sama putus asa. …Bahkan panik. Aku tidak punya waktu untuk menjaga gengsi, jadi ketika keadaan mendesak, aku mengandalkan orang lain.

Bagi orang luar, aku mungkin terlihat menyedihkan.

Namun, aku percaya justru karena sisi menyedihkan itulah aku berhasil mengatasi berbagai tantangan yang kuhadapi sejauh ini.

“Makanya aku tidak ingin menahan diri di festival olahraga ini. Hal ini… hal inilah yang kutemukan, berkat Izuki—sesuatu yang bisa kucurahkan seluruh tenaga.”

Dengan campuran rasa malu dan bangga, Narika menyatakan.

Narika juga telah berjuang dengan putus asa.

Jika memang begitu—maka, seperti yang kuduga, perasaan tersebut layak untuk dihargai.

Festival olahraga sudah di depan mata.

Namun citra Narika masih belum sepenuhnya dibersihkan.

Apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan…?

Menyembunyikan pemikiran itu, aku meninggalkan kediaman Miyakojima.

◆

Festival olahraga—hari H.

Kerumunan besar berkumpul di lapangan Akademi Kiou.

“Ramai banget orangnya.”

Lapangan tersebut, yang jauh lebih besar daripada lapangan SMA biasa, dipenuhi oleh para murid dan tamu. Namun, tempat itu tidak terasa kacau—ada udara keanggunan dan ketenangan, kemungkinan berkat suasana Akademi Kiou yang berkelas dan pakaian para tamu yang rapi.

“…Separuh dari mereka mungkin adalah pelayan.”

Hinako, yang berdiri di sampingku, berkomentar saat aku ternganga kagum.

“Bukannya keluarga para murid?”

“Mm. …Kebanyakan orang tua di sini sangat sibuk setiap hari.”

Hal itu memang masuk akal.

“Jadi Kagen-san tidak ada di sini?”

“Aku datang menggantikannya.”

Sebuah suara tiba-tiba memanggil dari belakang, membuatku sangat terkejut hingga aku hampir melompat.

“Sh-Shizune-san, sejak kapan kamu…?”

“Baru saja. Hari ini, Kagen-sama memberiku tugas untuk merekam Ojou-sama.”

“Ugh… itu memalukan, jadi tidak usah.”

Shizune, yang memegang kamera video, menjelaskan, sementara Hinako memasang ekspresi sedikit tidak suka.

Rasanya seperti jenis percakapan yang biasa kau dengar dari keluarga normal mana pun.

(Apakah mereka benar-benar melakukan hal-hal keluarga biasa seperti ini… ?

Mengingat sifat Kagen-san, dia mungkin hanya memeriksa untuk memastikan Hinako tidak melakukan kesalahan… tapi kuharap, sebagai seorang ayah, dia sedang mengawasinya.

“Tomonari! Pertunjukan divisi tari akan segera dimulai, jadi ayo kita maju ke depan!”

Suara Taisho terdengar dari kejauhan.

Shizune membungkuk dengan sopan dan berjalan menuju tempat duduk tamu.

Hinako dan aku berjalan menuju tempat yang telah diamankan oleh Taisho untuk kami.

“Itu Konohana-san…”

“B-Beri jalan…!!”

Kerumunan orang menyingkir di sekitar Hinako.

Di masa lalu, aku mungkin akan berdiri dengan canggung di saat-saat seperti ini, tapi—

“Tomonari-kun.”

Kita memanggil dengan lembut, dan aku melambaikan tangan sebagai balasan.

Agak di belakang, aku melihat Suminoe-san, salah satu elit papan atas Kelas A. Aku membalas anggukan pelan darinya dengan sedikit membungkuk.

Aku baik-baik saja sekarang.

Dibandingkan sebelumnya, aku bisa berdiri di sisi Hinako dengan sedikit lebih banyak kepercayaan diri.

“Ke sini, kalian berdua!”

Mendengar suara Tennouji, kami akhirnya menyusul yang lain.

Pada saat yang sama, penampilan divisi tari dimulai.

“Ada Asahi di depan.”

Seperti yang dikatakan Taishou, Asahi berada paling depan, mencuri perhatian.

Asahi dan kelompoknya menari mengenakan pakaian pemandu sorak.

Rupanya, sekarang ada beberapa tim pemandu sorak profesional, dan kali ini, seseorang dari salah satu tim tersebut membuat koreografi untuk rutinitas mereka. Mungkin karena itulah, kelompok Asahi menampilkan pertunjukan yang apik, menggemparkan penonton yang berkumpul di lapangan.

“…Melihatnya seperti itu, Asahi lumayan manis juga, ya?”

“Ya, pakaian pemandu soraknya juga sangat cocok untuknya…”

Aku keceplosan mengucapkan apa yang sejujurnya kupikirkan secara refleks, tetapi begitu aku melakukannya, aku merasakan tatapan tajam dari segala arah.

Hinako mendengus, “Hmph,” Tennouji berkata, “Wah, wah,” dan Narika berdecak, “Tch.”

Aku cukup yakin aku baru saja mengatakan sesuatu yang ceroboh.

‘Pertunjukan divisi tari selesai. Siswa-siswi, silakan mulai bergerak ke tempat masing-masing.’

Pertunjukan berakhir, dan kami semua bertepuk tangan dengan meriah.

Ekspresi Asahi, yang dipenuhi rasa puas saat berdiri di depan, meninggalkan kesan yang mendalam.

“Baiklah, aku berangkat untuk ski.”

“Aku juga menuju ke arena polo.”

Tennouji dan Taishou, yang cabang olahraganya berada di tempat berbeda, bergegas pergi karena jadwal mereka yang ketat.

“Narika, kamu tidak apa-apa?”

Aku memastikan keadaan Narika, yang berdiri tidak jauh dariku.

Acara utama festival olahraga akhirnya tiba. Bagaimana perasaan Narika, yang masih menanggung trauma dari tahun lalu?

“…Aku baik-baik saja.”

Narika meletakkan satu tangan di dadanya dan menjawab pelan.

“Pagi ini, seorang teman sekelas berbicara padaku lagi. Mereka bilang mereka mendukungku dalam pertandingan nanti. Mereka mungkin tidak tahu apa yang kulakukan tahun lalu… tapi berkat mereka, aku merasa bersemangat.”

Kata Narika dengan gembira, melirik ke arahku.

“Ini semua berkatmu, Izuki. Aku tidak takut lagi.”

“…Syukurlah kalau begitu.”

Sepertinya dia berhasil menghadapi festival olahraga dengan pola pikir yang positif.

Sejauh ini, Narika telah membersihkan citra lamanya di hadapan para siswa dari Kelas A dan B. Tapi bagaimana dengan Kelas C, D, dan E? Hal itu masih belum pasti.

Sejujurnya, aku ingin lebih banyak orang mengenali Narika apa adanya.

Tapi itu mungkin keegoisanku sendiri, jadi aku ragu untuk mengatakannya padanya.

“Mari kita sama-sama melakukan yang terbaik.”

“Ya! Semoga keberuntungan memihak kita!”

Berpisah jalan dengan Narika, aku dan Hinako menuju ke arena divisi tenis.

“Ruang ganti ada di sebelah sana.”

Divisi tenis dipisahkan berdasarkan gender, dengan lapangan yang terpisah.

Karena pertandingan akan segera dimulai, kami tidak akan berkumpul kembali sampai babak pertama selesai.

“Baiklah, Hinako, sampai jumpa nanti.”

“Mm… aku akan menang dengan santai.”

Hinako mengatakannya seolah itu adalah hal yang pasti dan berjalan menuju ruang ganti.

Aura kepercayaan diri itu… pantas saja dia adalah juara tahun lalu.

Aku berjalan ke ruang ganti, selesai bersiap-siap, dan melangkah menuju lapangan.

Sepatu dan raket sudah disediakan, tetapi karena aku berlatih bersama Narika, Shizune telah menyiapkan satu set lengkap perlengkapan untukku, jadi aku membawa peralatan itu saja.

Seperti yang diinstruksikan oleh Narika, aku berlatih berkali-kali melawan dinding di perkebunan Konohana.

Berkat itu, aku cukup percaya diri dengan kontrol bolaku.

Babak pertama. Melangkah ke atas lapangan, aku berhadapan dengan seorang pria yang tidak kukenal.

Aku memutar raket, menebak apakah itu akan mendarat di sisi atas atau bawah. Seperti tebakanku, itu adalah sisi atas, jadi aku bisa memilih antara melakukan servis atau menerima servis.

Aku memilih untuk melakukan servis.

“Pertandingan satu set, mulai!”

Wasit memberi tanda dimulainya pertandingan.

Servis kulakukan secara pas-pasan, tetapi lawanku kesulitan untuk mengembalikannya.

Shizune menyebutkan bahwa para siswa Akademi Kiou unggul dalam bidang akademik maupun atletik. Tapi beberapa orang, seperti Kita, memang tidak begitu jago dalam olahraga.

Lawanku sepertinya adalah salah satu dari mereka.

Tetap saja, dengan tingkat kemampuanku saat ini, aku tidak boleh lengah.

(Sebarkan bola ke kiri dan kanan untuk membuat mereka kelelahan…!)

Mengingat kembali dasar-dasar yang diajarkan oleh Narika, aku mengembalikan bola.

Fokusku adalah membuat lawanku berlari. Aku menghindari memukul ke arah tengah, melainkan mengarahkannya ke kiri dan kanan.

Seiring berjalannya pertandingan, lawanku terlihat jelas kelelahan, hingga akhirnya hampir tidak bisa bergerak.

“Game, set!”

Wasit mengumumkan akhir pertandingan.

Hasilnya: kemenanganku.

“—Yes!!”

Aku tidak bisa menahan diri untuk mengepalkan tangan.

Tanpa latihan dari Narika, aku pasti sudah kalah di babak pertama.

Ini adalah momen di mana kerja kerasku terbayar.

Meninggalkan lapangan, aku langsung menuju tempat pertemuan dengan Hinako.

Di sebuah bangku yang teduh di belakang gedung sekolah, seorang gadis cantik sedang duduk.

“Hinako, kamu sudah selesai?”

“Mm. …V.”

Hinako menunjukkan tanda V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Tanda V kemenangan… artinya dia menang.

“Mau ngapain sekarang? Masih ada waktu sebelum babak kedua. Mau jalan-jalan keliling?”

Hinako mengangguk kecil.

Duduk-duduk saja bisa membuat tubuh kita kaku, yang bisa berdampak buruk pada pertandingan berikutnya. Mari kita melakukan pendinginan sambil melihat-lihat acara lain.

“Ngomong-ngomong… Izuki.”

“Hm?”

Sambil berdiri, Hinako menatapku dengan ekspresi yang terasa agak kaku.

“…Menurutmu bagaimana?”

Dia berputar kecil di hadapanku.

Aku tidak yakin apa yang ingin dia komentari… tetapi setelah dipikir-pikir, aku baru menyadarinya.

“Oh, benar, kamu berhasil menurunkan berat badan.”

“Ngh…!?”

Gawat, aku salah bicara—saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat.

Hinako melangkah mendekat dan menendang tulang keringku dengan ujung kakinya.

“K-Kurang… peka…!!”

“M-Maaf. Kamu sepertinya ingin aku mengatakan sesuatu, jadi aku pikir itulah maksudnya…”

Setelah menendang tulang keringku, Hinako menyilangkan kedua tangan di depan lengan dan perutnya, menyembunyikan bentuk tubuhnya.

Aku memikirkan kembali apa yang mungkin diinginkan Hinako agar aku katakan.

Dia sengaja berputar tadi, jadi ini pasti tentang penampilannya.

Kalau begitu, mungkin—

“Ehm… pakaian itu terlihat bagus untukmu.”

“…Terlalu lambat.”

Rupanya, dia ingin aku mengomentari pakaian tenisnya.

Pakaian ini berbeda dari yang dia kenakan saat latihan kita. Kali ini, atasan dan bawahannya sama-sama berwarna putih, memancarkan kesan yang bersih dan elegan dibandingkan dengan perlengkapan latihan tadi.

“Kupikir aku sudah memujimu sebelumnya, jadi kurasa itu tidak masalah.”

Mendengar itu, pipi Hinako sedikit merona, dan dia bergumam dengan suara pelan,

“…Pujilah aku sebanyak yang kamu mau.”

Ada gestur pemalu, hampir seperti anak kecil, dari cara dia menahan diri tetapi tidak bisa menyembunyikan perasaannya, dan aku mengangguk.

Masih banyak hal tentang Hinako yang belum kutahu.

◆

“Banyak hal yang terjadi, ya.”

Membaur di tengah keramaian yang sibuk, Hinako dan aku menyaksikan berbagai acara.

Bisbol, bola basket, sepak bola—olahraga yang terasa akrab bagi orang biasa sepertiku—juga sedang berlangsung.

“Aku sebenarnya agak ingin melihat acara Tennouji dan Taishou…”

“…Kalau begitu, di sebelah sana.”

Hinako menunjuk ke arah gedung sekolah.

Markas operasional festival olahraga. Di depannya, sebaris monitor besar telah disiapkan.

“Siaran langsung, ya.”

Rupanya, acara di tempat lain bisa ditonton di monitor-monitor ini.

Monitor di kanan atas menampilkan lereng gunung yang luas. Jika diamati lebih dekat, tikar hijau menutupi permukaannya, dan para siswa sedang berski menuruninya.

‘Jangan remehkan Taishou Movers!!’

Suara Taishou yang menggelegar bergema dari pengeras suara.

‘Kumohon, Shiba Inu Yamato!!’

‘Sayama Express, berjuanglah!!’

Tiga cowok meluncur turun menuruni gunung dengan kecepatan tinggi.

Taishou bilang lereng musim panas tidak akan terlalu cepat, tapi menurutku ini tampak seperti kecepatan penuh.

“Ho, sepertinya pewarismu memegang pimpinan tahun ini.”

“Oh, tidak, pewarismu tampaknya terlatih dengan baik…”

“Ngomong-ngomong, kita masih berselisih paham soal lokasi cabang berikutnya. Bagaimana kalau begini? Pemenang pertandingan ini akan mendapatkan lokasi pilihan mereka.”

Para pria berjas mengamati monitor, terlibat dalam percakapan yang tegang.

Aku telah melangkah ke ruang yang mengerikan.

Aku menyingkir untuk memeriksa monitor lain.

Kemudian, sebuah suara yang khas menarik perhatianku.

‘Ohohohoho! Ohohohohohoho!!’

Seorang Ojou-sama berambut pirang dengan ikal menggantung berlari kencang dengan bebas di atas lapangan berumput menunggang kuda.

Tennouji mendominasi pertandingan polo tersebut.

“…Sepertinya mengasyikkan.”

“…Dia bersinar.”

Melihat Tennouji-san mendominasi lapangan, keringatnya berkilau di bawah sinar matahari, Hinako mengangguk kecil.

Semua orang tampak menikmati festival olahraga dengan cara mereka sendiri.

“Bagaimana kalau kita lihat keadaan Narika?”

Memikirkan satu gadis yang mungkin tidak menikmati acara ini, kami menuju ke gedung olahraga tempat pertandingan kendo diadakan.

“Kote, poin!”

Suara wasit bergema di seluruh gedung olahraga.

(Narika… sepertinya tidak ada di sini.)

Mengedarkan pandangan ke seluruh tempat, aku tidak bisa melihat Narika di mana pun.

Melihat bagan turnamen yang dipasang di dinding, sepertinya Narika melaju dengan mulus. Bukan berarti aku pernah meragukan kalau dia akan menang.

Yang kukhawatirkan adalah bagaimana orang lain memandangnya. Tapi karena Narika tidak ada di sini, dan pertandingan masih berada di babak-babak awal, belum ada yang bergosip tentangnya.

“Kita masih punya waktu sebelum pertandingan kita.”

kataku, melirik jam yang ada di dalam gedung.

Kami sudah meninggalkan bangku di belakang gedung sekolah. Kembali ke sana untuk beristirahat sekarang rasanya merepotkan.

“…Sepertinya kita bisa beristirahat di ruang kelas.”

“Benarkah? Baiklah, kalau begitu ayo pergi.”

Sambil mengangguk, aku melangkah masuk ke dalam gedung sekolah bersama Hinako.

Seperti yang dikatakan Hinako, beberapa siswa sedang beristirahat di ruang kelas. Tetap saja, sebagian besar mungkin seperti kami tadi, pergi menikmati festival olahraga. Ruang kelas itu terasa terisolasi dari kebisingan yang meriah di luar, menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang sudah puas menonton dan ingin bersantai.

“Um, Konohana-san!”

Saat kami berjalan menyusuri koridor, seorang siswi keluar dari ruang kelas dan memanggil Hinako.

Aku tidak mengenalinya. Reaksi Hinako tampak mirip dengan reaksimu—maksudku, reaksiku.

Tapi gadis itu menatap Hinako dengan ekspresi penuh tekad, seolah dia telah mengerahkan seluruh keberaniannya.

Kemungkinan besar dia adalah salah satu siswi yang mengagumi Hinako.

“Mau kubiarkan kalian berdua bicara?”

“…Tidak, aku akan ke sana.”

Saat aku bertanya dengan suara pelan, Hinako menggelengkan kepalanya.

“Miyakojima-san… dia juga sedang berusaha sebaik mungkin.”

Begitu mengatakannya, Hinako berjalan menghampiri gadis itu.

Aku bisa mendengar potongan-potongan percakapan mereka—Pertandinganmu luar biasa tadi! Aku sangat tersentuh! Apakah kamu mengincar kejuaraan lagi tahun ini?!—segala macam obrolan penuh semangat.

Karena tidak ingin mengganggu, aku menaiki tangga ke suatu tempat yang membuatku tidak bisa melihat Hinako dan yang lainnya.

“Izuki?”

Tepat saat aku hendak memandang pemandangan dari lorong lantai atas, seseorang memanggil namaku.

“Narika?”

Di sana berdiri Narika, mengenakan hakama kendo miliknya.

“Kamu juga sedang istirahat, Narika?”

“Ya. Ini adalah jeda antarpertandingan, jadi aku tadi hanya berjalan-jalan.”

Sepertinya kita berada dalam situasi yang mirip.

“Sepertinya kamu melaju tanpa hambatan. …Bagaimana keadaan jarimu yang terkilir itu?”

“Tidak ada masalah sama sekali. Aku mungkin akan merebut kejuaraan tahun ini.”

“Jangan besar kepala. Terlalu percaya diri bisa membuatmu terjatuh.”

“Aku tidak terlalu percaya diri. Secara objektif, aku sedang dalam kondisi terbaik hari ini.”

Yah, baguslah kalau begitu.

Saat kami berbicara, sebuah pikiran melintas di benakku.

“Sangat mudah berbicara seperti ini kalau hanya ada kita berdua, ya kan?”

“Ugh…”

Narika mengalihkan pandangannya dengan canggung.

“T-tapi aku benar-benar kemajuan! Tahun lalu, aku begitu sadar akan orang-orang yang melihatku, sampai-sampai aku tidak bisa berjalan-jalan seperti ini…”

“Apa yang kamu lakukan tahun lalu?”

“…Aku bersembunyi di kamar mandi.”

Seharusnya aku tidak bertanya…

Kisah yang sangat memilukan.

“Jika kamu punya waktu sebelum pertandingan berikutnya, mau jalan-jalan bersama? Hinako juga ada di sini.”

“Aku ingin sekali, tapi… pertandingan kendo berjalan cepat. Sepertinya itu tidak bisa dilakukan.”

Masuk akal.

Lagi pula, kami sudah cukup banyak menonton, dan kami hanya menghabiskan waktu untuk mengisi jeda yang canggung. Bagaimanapun juga, kami mungkin tidak akan bisa jalan-jalan dalam waktu lama.

“Aku benar-benar berhutang banyak padamu, Izuki. …Jika aku tidak berbicara denganmu, aku mungkin masih akan merasa ketakutan pada festival olahraga.”

Kata Narika, nada suaranya tiba-tiba berubah serius.

Namun, aku menggelengkan kepala melihat sikap formalnya itu.

“Ini bukan karena aku. Kamulah yang bekerja keras, Narika.”

Mata Narika membelalak.

“Hinako juga melihatnya—betapa keras usahamu. Bukan cuma aku; semua orang menyadari usaha yang telah kamu curahkan akhir-akhir ini. Jadi, tegakkan sedikit kepalamu—”

Aku menghentikan kalimatku di tengah jalan, sebuah perasaan aneh menarik-narik hatiku.

Apakah Narika hanya bekerja keras akhir-akhir ini saja?

“…Tidak, itu tidak benar.”

Aku meralat ucapanku.

“Kamu sudah bekerja keras selama ini, kan?”

“—!”

Mata Narika semakin membelalak lebar.

Kenapa aku tidak mengatakan hal ini dari dulu?

Ini bukan sekadar memujinya sekarang.

Narika pasti telah bekerja keras bahkan di saat-saat aku tidak melihatnya.

Justru karena dia telah berusaha sangat keras itulah dia bergulat dengan perjuangan ini sekarang.

“Itu justru semakin membuktikan kalau ini bukan karena aku. …Kamu sudah bekerja keras jauh sebelum aku mengenalmu, Narika. Semua usaha itu akhirnya membuahkan hasil sekarang.”

Dia bisa saja menyerah, berhenti mengharapkan apa pun dari orang lain, dan memilih jalan yang kesepian.

Namun Narika tidak melakukannya.

Apakah itu karena dia lemah?

Bukan. Justru sebaliknya.

Meskipun disalahpahami dan menghadapi perlakuan tidak adil, Narika tetap berpegang pada harapan bahwa usahanya akan membuahkan hasil. Itu menjadikannya sosok yang sangat kuat.

“Kamu sudah berjuang dengan sangat baik. …Bahkan dengan segala kesalahpahaman yang kamu hadapi, kamu tidak pernah menyerah.”

Emosi yang membuncah di dadaku mendorongku untuk bertindak.

Aku dengan lembut mengelus kepala kecil di hadapanku.

“U-ugh…”

Isakan tangis lolos dari bibir Narika.

“…Narika?”

“T-Tidak apa-apa… H-hanya saja, jangan lihat aku sebentar, ya?”

Begitu mengatakannya, Narika memunggungiku.

“Itu tidak adil… K-Kamu ini, Izuki, selalu membuatku lengah…”

“…Maaf.”

Aku tahu kata-katanya tidak dimaksudkan untuk menyalahkanku.

Bahu Narika bergetar tipis.

Setelah beberapa saat, dia berbalik untuk menghadapku lagi.

“Kamu sudah tidak apa-apa sekarang?”

“…Ya.”

Matanya sedikit merah, tapi dia tampak benar-benar tenang, menatap lurus ke arahku.

“Aku berharap, sedikit demi sedikit, kamu bisa menemukan lebih banyak orang yang terasa istimewa bagimu, Narika.”

“…Istimewa?”

“Sebelumnya kamu bilang kalau aku adalah satu-satunya orang yang terasa istimewa bagimu, kan? Jadi aku pikir alangkah baiknya jika kamu bisa menemukan lebih banyak orang seperti itu.”

Aku terkejut ketika Narika menyebutku istimewa, tapi itu mungkin tidak bermaksud mendalam. Untuk saat ini, akulah satu-satunya orang yang sepenuhnya dia percayai.

Jika memang begitu, aku berharap suatu hari nanti kepercayaan semacam itu menjadi hal yang biasa baginya, bukan sesuatu yang istimewa.

Dia tinggal selangkah lagi dari sana sekarang, tapi aku tahu Narika bisa mewujudkannya.

“Izuki, itu…”

Narika hendak mengatakan sesuatu.

Tapi kemudian aku teringat Hinako yang sedang menunggu di lantai bawah.

“Maaf, Hinako sedang menunggu di dekat sini. Aku harus kembali.”

Kami telah mengobrol lebih lama dari yang kuadwalkan.

Obrolan Hinako mungkin sudah selesai sekarang. Saatnya untuk berkumpul kembali.

Aku berbalik untuk berjalan ke lantai bawah.

Namun di tengah jalan… tarikan—piyamaku ditarik.

“…Tunggu.”

Narika mencengkeram bajuku dengan kedua tangannya.

“Narika…?”

◇

Narika tidak bisa menatap mata Izuki saat pemuda itu menyebut namanya.

Dia menghentikannya atas dorongan sesaat, dan begitu dia menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Dia bisa merasakan tatapan bingung Izuki, jadi dia buru-buru menunduk.

Biasanya, dia akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.

Bahkan sekarang pun, belum terlambat. Dia bisa bilang, “Bukan apa-apa, sampai jumpa nanti,” dan semuanya akan kembali normal, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Tapi… dia merasa dia harus menghentikannya.

Dia harus meluruskan kesalahpahaman itu.

“Eh, masih belum tenang?”

Tanya Izuki dengan nada bingung.

“…Tidak.”

Narika menggelengkan kepalanya, masih menunduk.

“Bukan itu, Izuki. …Kamu salah paham.”

Dia tidak sedang menyangkal kurangnya ketenangannya.

Narika ingin mengoreksi apa yang dikatakan Izuki sebelumnya.

“Karena kamu, Izuki, aku bisa berbicara dengan begitu banyak orang.”

Perlahan, dengan terbata-bata, Narika berbicara.

“Konohana-san, Tennouji-san, Taishou-kun, Asahi-san… dan akhir-akhir ini, bahkan Kita-kun—aku bisa berbicara dengan mereka sekarang.”

Izuki mengangguk.

“Tapi bagiku, Izuki, kamu adalah—”

Dia berhenti, sebuah kesadaran menghantamnya.

Ya, itu benar. Tentu saja.

Mengucapkan nama orang lain sama sekali tidak memicu perasaan ini.

Hanya dengan mengucapkan nama Izuki yang mampu menghangatkan hatinya.

Sebuah rasa nyaman, kepercayaan, dan—sesuatu yang sangat membahagiakan namun juga terasa begitu menyayat hati.

Rasa manis bercampur pahit itu mungkin berasal dari rasa tidak amannya sendiri.

Dia selalu saja merepotkan Izuki.

Dia selalu membuat pemuda itu khawatir.

Dia tidak ingin menjadi beban baginya lagi.

Makanya dia memutuskan untuk menahan perasaan ini sampai dirinya tumbuh sedikit lebih dewasa.

Tapi… dia tidak bisa menahannya lagi.

Tidak, sekarang pun, dia tidak boleh menahannya.

Dia memiliki firasat kuat bahwa jika dia tidak mengatakannya sekarang, dia akan menyesalinya selamanya.

Karena Izuki terkadang bisa sangat tidak peka.

Dia harus mengatakannya dengan jelas—atau itu tidak akan sampai padanya.

“I-Izuki! Aku… maksudku…!”

Dia mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu.

Ada begitu banyak hal yang ingin dia katakan, tetapi kata-kata itu tidak mau keluar.

Cara bicaranya yang canggung membuatnya sangat kesal hingga tiada tara.

Meski begitu, Izuki menunggu dengan sabar.

—Kebaikan itu.

Kebaikan itu hanya milik Izuki, tidak sama seperti orang lain.

Dia telah merasakannya sejak masa kanak-kanak hingga sekarang, dan dia tahu itu adalah sesuatu yang tak tergantikan.

Itulah sebabnya Miyakojima Narika begitu mendalam merasakan hal itu terhadap Izuki—.

“Aku… hanya kamu, Izuki!”

Emosinya mendahului kata-katanya.

Namun, dia percaya bahwa Izuki akan menunggunya.

Kepercayaannya memberinya keberanian untuk terus melangkah.

Perasaannya tumpah dalam bentuk kata-kata.

“Meskipun aku mendapatkan banyak sekali teman di masa depan… satu-satunya orang yang istimewa bagiku adalah kamu, Izuki! —Selamanya dan selalu, hanya kamu!”

Wajahnya terasa seperti terbakar.

Emosi yang terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata berubah menjadi air mata, tumpah membasahi pipinya.

“Jadi kumohon… jangan pernah lupa bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi kamu…!”

Badai emosi di dalam dadanya perlahan-lahan mulai mereda.

Dari masa lalu hingga sekarang, perasaan ini tidak pernah berubah. Dan itu pasti akan tetap sama di masa depan.

Izuki mungkin merasa bingung.

Dia merasa tidak enak tentang hal itu, tetapi dia sama sekali tidak menyesalinya.

Bagi Narika—ini adalah sesuatu yang mutlak harus dia katakan.

◆

Setelah berpisah dengan Narika, aku berhenti sejenak sebelum menuruni tangga dan menoleh ke belakang.

Narika sudah pergi. …Bahkan seandainya dia ada di sana, aku tidak akan tahu harus berkata apa.

Ekspresinya yang sungguh-sungguh terpatri di dalam benakku.

Saat aku melangkah turun satu per satu, aku merasa asing secara aneh, seperti sedang melayang. Rasanya seolah-olah aku telah mengembara ke dalam ruang berkabut di antara mimpi.

“…Izuki?”

Seseorang memanggil namaku.

“Hinako, ya.”

Tanpa kusadari, Hinako sudah berdiri di hadapanku.

Aku pasti telah berjalan ke tempatnya tanpa sadar.

“…Ada apa? Kamu tadi melamun.”

“Tidak, bukan apa-apa…”

Aku mulai menjawab tapi kemudian berhenti.

Ini bukan bukan apa-apa.

Aku tidak bisa menyebut ini bukan apa-apa.

“…Sesuatu yang penting baru saja terjadi.”

“Penting…?”

“Ya. …Sesuatu yang sangat penting.”

Baik bagiku maupun bagi Narika.

Percakapan singkat itu sangatlah bermakna.

(Kumohon, jangan pernah lupakan…)

Lupa? Mustahil.

Selamanya dan selamanya… aku akan mengingat hari ini.

“…Itu tanggung jawab yang besar.”

Satu-satunya yang spesial, ya.

Sepertinya, tanpa disadari, aku telah mengambil tempat duduk di barisan terdepan dari sesuatu yang luar biasa.

Tentu saja, bagi Narika, ini adalah emosi yang belum sepenuhnya ia pahami. Dan bahkan aku, setelah mendengar kata-katanya, masih belum bisa sepenuhnya memahami maknanya.

Meskipun begitu, Narika merasa dia harus mengatakannya, harus mengeluarkan kata-kata itu.

Perasaan itu bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja diabaikan olehku.

“…Baiklah.”

Aku mengubah pola pikirku.

Ada segunung hal yang harus aku hadapi secara langsung.

Saat ini, aku adalah pengurus Hinako. Mengalihkan pandanganku dari apa yang ada di depan mata bukanlah sebuah pilihan.

“Babak kedua akan segera dimulai, kan? Haruskah kita kembali?”

“Mm.”

Kami berjalan kembali ke arena tenis.

Seperti yang diduga, babak kedua baru saja akan dimulai. Jika kami terlambat sepuluh menit, kami mungkin akan didiskualifikasi karena tidak hadir. Itu bukanlah masalah besar bagiku, tetapi bagi Hinako, hal itu akan menimbulkan masalah bagi banyak orang.

“Baiklah, Hinako, sampai jumpa nanti.”

“Mm… semoga beruntung, Izuki.”

Aku berpisah dengan Hinako dan melangkah ke lapangan.

Sebelum pertandingan dimulai, sudah menjadi kebiasaan untuk bersalaman dengan lawan di seberang net. Aku berjalan ke arah sana, membawa raket di tangan.

“Masih akrab-akrabnya sama orang, ya?”

Yang berdiri di hadapanku adalah seorang pria yang sangat kukenal.

“Kau…”

Aku tidak akan pernah bisa melupakannya.

Ini adalah pria yang dulu bersikap dingin pada Narika… orang yang memicu pergulatanku dalam menavigasi hubungan di Akademi Kiou.

Dengan emosi yang bercampur aduk, aku menyalami tangannya, dan kami menentukan siapa yang akan melakukan servis terlebih dahulu.

“Pertandingan satu set, mulai!”

Aku mulai dari posisi menerima bola.

Saat aku hampir tidak bisa mengembalikan servis tajamnya, pikiranku melayang ke beberapa hari lalu.

Berkat pria ini, aku terpaksa memikirkan kembali posisiku di sini. Di satu sisi, aku sebenarnya berterima kasih untuk itu.

Tapi cara dia memperlakukan Narika begitu dingin… aku masih tidak bisa memaafkannya karena hal itu.

Meskipun itu dilakukan demi mempertimbangkan keadaan keluarganya, hal itu tetap tidak membenarkan tindakan menyakiti orang lain.

“Aku tidak akan kalah darimu, sama sekali tidak…!”

Dia merebut gim servis itu.

Baiklah kalau begitu—aku akan mempertahankan gim servisku bagaimanapun caranya.

Dia mungkin unggul dalam teknik, tapi aku sepertinya memiliki stamina yang lebih besar. Daripada melakukan pukulan berisiko, aku fokus pada reli, menguras tenaganya, dan memancing kesalahannya.

“Kamu benar-benar sangat gigih…!”

Dia mulai panik, dan kesalahannya pun menumpuk.

Staminaku juga sudah mendekati batasnya. Tapi tetap saja—

—Bagiku, satu-satunya orang yang spesial adalah kamu, Izuki!

Kata-kata Narika beremaung di dalam kepalaku.

Aku ingin setidaknya mendaratkan satu pukulan telak pada pria yang begitu dingin pada Narika ini—bukan demi dirinya, melainkan demi diriku sendiri. Itulah yang mendorongku.

Dan entah bagaimana, rasanya dia telah memberitahuku bahwa itu tidak apa-apa.

Aku tidak bisa terus bersikap formal saja dengan Narika.

Pertandingan itu berlangsung sangat sengit, berlanjut ke babak penentuan, dan kemudian—

“Game, set!”

Pertandingan telah berakhir.

Hasilnya… aku menang, dengan selisih sangat tipis.

“Haa, haa… kau lumayan juga…”

“Terima kasih…”

Pada akhirnya, kami saling membungkuk di seberang net.

Mungkin karena kami berdua telah mengerahkan seluruh kemampuan kami ke dalamnya, atau mungkin kelelahan telah meredakan kemarahanku, tapi aku tidak merasa benci lagi padanya.

“Hei, bisakah kau memberitahuku satu hal?”

Dia bersuara, bernapas tersengal-sengal dengan bahu naik turun.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Konohana-san?”

Pertanyaannya membuatku terdiam sesaat.

Ada sesuatu yang canggung, hampir seperti rasa malu, dari sikapnya… dan itu membuatku menyadari sesuatu.

“Eh, tunggu, jangan bilang… kau menyukai Konohana-san?”

“…Jawab saja pertanyaannya.”

Dia bergumam, berusaha mengabaikan kecanggungan itu.

Aku sangat kelelahan hingga bisa pingsan dan tidur di situ juga, tapi aku memaksa otakku untuk terus bekerja.

“Ini cuma hubungan lewat orang tua kami.”

“Aku tahu itu. Tapi ada banyak sekali orang yang terikat dengan Konohana Group. Jadi, kenapa kalian kelihatan begitu dekat?”

Fakta bahwa dia tahu tentang hubungan keluarga antara aku dan Hinako berarti dia mungkin telah menyelidikinya secara menyeluruh.

Firasatku mulai berubah menjadi kepastian.

Pria ini mungkin jatuh cinta pada Hinako.

Itulah kenapa dia tahu banyak tentang aku dan memperlakukanku seperti seorang rival.

“Jangan bilang siapa-siapa, tapi… aku sebenarnya bekerja untuk keluarga Konohana atas perintah orang tuaku.”

“Seperti pelayan?”

“Lebih mirip anak magang dalam hal etiket. Aku tidak begitu paham tata krama masyarakat kelas atas, jadi aku belajar di kediaman keluarga Konohana.”

Kenyataannya, akulah yang mengurus berbagai hal, tapi biarlah.

Itu sedikit kebohongan, tapi itu lebih mendekati kebenaran daripada tidak mengatakan apa-apa.

“…Begitu ya.”

Dia tampak puas dengan jawaban itu,

“Tomonari,” katanya dengan wajah serius.

“Aku akan langsung mengatakannya saja.”

“Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menyukaimu.”

“…Sayang sekali, tapi aku mengerti.”

Tidak masalah. Itu masuk akal.

Bagi orang ini, aku mungkin terlihat seperti saingan dalam percintaan.

“Tapi… aku akan meminta maaf kepada Miyakojima-san nanti.”

Dengan itu, dia berjalan meninggalkan lapangan.

Kata-kata terakhirnya membuatku lengah, tapi… dia pasti juga merasa sedikit bersalah. Mengetahui hal itu saja sudah cukup bagiku.

Sikap dingin terhadap Narika itu ternyata bukan berasal dari niat jahat murni.

Meninggalkan lapangan, aku menemui Hinako lagi di bangku di belakang gedung sekolah.

“Hinako, kamu juga menang?”

“Mm.”

Hinako menunjukkan tanda v dengan jarinya.

Tidak sepertiku, dia sepertinya masih memiliki banyak energi.

“Izuki… kamu tidak apa-apa?”

“Entahlah… tidak, sejujurnya, aku butuh istirahat…”

Aku merosot duduk di atas bangku, melepaskan napas pelan-pelan.

Tenis ternyata jauh lebih berat dari kelihatannya. Kamu harus menguasai lapangan yang sangat luas sendirian, berlari tanpa henti. Dan pertandingan terakhir tadi telah berlangsung selama satu jam, membuatku terkuras secara mental maupun fisik.

Aku sangat ingin beristirahat sebentar, tapi…

“…Babak ketiga akan segera dimulai.”

“…Hah?”

Wajahku membeku.

Belakangan aku baru menyadarinya, tetapi seiring majunya kamu dalam sebuah turnamen, pemain yang tersisa semakin sedikit, jadi pertandingannya datang lebih cepat.

Karena ada lapangan yang kosong, mau tak mau aku harus langsung menuju ke babak ketiga.

Hasil dari pertandingan itu—

“…Sial sekali.”

“Haa, haa, haa… sialan…”

Lawan di babak ketiga benar-benar petarung tangguh, dan aku dihancurkan tanpa sempat mendaratkan satu pukulan pun.

Omong-omong, beberapa jam kemudian, Hinako keluar sebagai juara umum seolah-olah itu bukan apa-apa.

◆

Divisi tenis festival olahraga pun berakhir.

Hinako, yang telah memenangkan divisi putri, menyerahkan sertifikatnya kepada Shizune-san dan kembali kepadaku.

“Fiuh… aku lelah.”

Dengan berakhirnya pertandingan, Hinako akhirnya membiarkan bahunya rileks.

Menghabiskan sisa hari dengan bersantai bersamanya terdengar tidak buruk… tapi hari ini, aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis lain.

“Hinako, apa kita boleh pergi melihat divisi kendo?”

“Mm… aku juga penasaran.”

Hinako sepertinya memikirkan Narika juga.

Biasanya, divisi kendo selesai lebih cepat daripada tenis, jadi mungkin pertandingan sudah usai, tapi kami memutuskan untuk memeriksanya berjaga-jaga.

Saat kami tiba di gimnasium, pertandingan kendo masih berlangsung.

(Pertandingan berjalan lebih lambat dari yang kuduga.)

Melihat bagan turnamen, sepertinya mereka sekarang berada di babak semifinal.

“Hei, apa terjadi sesuatu?”

Karena penasaran dengan keterlambatan itu, aku bertanya kepada seorang siswa laki-laki yang sedang menonton di dekat sana.

Dia tampak terkejut sedetik tetapi dengan cepat menjelaskannya.

“Tadi ada masalah dengan sistem pendingin udara, jadi mereka terpaksa menghentikan pertandingannya sementara. Makanya kendo jadi keteteran.”

Begitu ya…

Pantas saja penontonnya begitu ramai.

Sebagian besar pertandingan lain mungkin sudah selesai, jadi para siswa yang bosan berdatangan ke aula olahraga.

“—Pertandingan diputuskan!”

Sebuah pertandingan berakhir.

Pertandingan berikutnya adalah semifinal yang satu lagi.

Seorang gadis yang tidak asing lagi melangkah ke area pertandingan.

“…Narika.”

Dia ada di sana, rambut hitamnya diikat ke belakang, berdiri dengan ekspresi tajam dan penuh wibawa.

Namun kemudian, Narika melirik ke arah kami. Mungkin karena Hinako begitu mencolok, dia dengan mudah menemukanku di sampingnya.

“!”

Begitu mata kami saling bertatapan, Narika dengan cepat membuang muka.

Pipi gadis itu merona merah. …Tentu saja, wajahku juga mungkin terlihat kurang lebih sama.

“…Izuki. Ada apa sebenarnya antara kamu dan Miyakojima-san?”

“T-Tidak ada apa-apa, jangan dipikirkan.”

“Mencurigakan…”

Hinako menatapku tajam, tapi aku mengunci rapat mulutku dan menolak mengucapkan sepatah kata pun.

Di area pertandingan, Narika melilitkan tenugui di kepalanya dengan kemahiran yang terlatih.

Setelah menarik napas dalam-dalam, tatapannya yang tajam sedikit menyipit.

(…Fokus seperti itulah yang menjadi salah satu daya tarik Narika.)

Sebuah sakelar telah bergeser di dalam pikiran Narika.

Dia memancarkan aura yang berbeda dari keanggunan berkelas yang dimiliki Tennouji-san—kehadiran yang mendominasi, hampir seperti semangat yang tak terkalahkan. Saat ini, Narika memiliki wibawa yang membuatnya tampak jauh melampaui rekan-sebayanya.

“—Mulai!”

Wasit memberi isyarat dimulainya pertandingan.

Narika dan lawannya saling mengitari dengan hati-hati, mengukur kekuatan satu sama lain.

(Kondisinya… terlihat mantap.)

Aku teringat percakapan kami di koridor beberapa jam lalu.

Aku sempat khawatir hal itu akan mengganggunya, tetapi kekhawatiran itu tidak beralasan. Kalaupun ada, itu tampaknya justru membebaskannya—gerakannya begitu tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Hei, menurutmu apakah Miyakojima-san sebenarnya ingin berteman?”

Sebuah suara di dekatku menarik perhatianku.

“Huh, kenapa kamu bilang begitu?”

“Seseorang dari Kelas B bilang kalau dia bersikap lebih ramah akhir-akhir ini. Kalau dipikir-pikir, dia pernah menunjukkan tanda-tanda itu sebelumnya, jadi mungkin…”

“Hmm, entahlah…”

Lebih ramah? Narika selalu ramah sejak awal.

Namun, niat tulusnya tidak tersampaikan kepada kebanyakan orang.

“Apakah itu Miyakojima-san yang terkenal itu…?”

“Dia terlihat mengintimidasi seperti kata rumor…”

Narika benar-benar seorang selebriti di sekitar sini.

Hanya dengan berdiri diam saja, aku bisa mendengar berbagai macam obrolan tentangnya.

(Sial… kerumunan semakin padat, dan suasana di sekitar Narika jadi…)

Berkat usahanya selama beberapa hari terakhir, Narika mulai mengubah imejnya sedikit demi sedikit.

Tapi imej baru itu belum sepenuhnya menyebar ke seluruh akademi. Para siswa yang mulai bersikap hangat padanya masih menjadi minoritas.

Di dalam gimnasium yang sesak, Narika mengayunkan shinai-nya secara vertikal.

“Pertandingan diputuskan!”

Di tengah kerumunan yang meluber, Narika meraih kemenangan.

Untuk sesaat, dia melirik ke arah penonton.

Mungkin—hanya mungkin—dia mengharapkan reaksi yang berbeda dari tahun lalu. Tapi kenyataannya kejam. Kerumunan itu mulai merasa takut padanya.

Narika berjalan kembali ke ruang tunggu. Punggungnya terlihat begitu kesepian hingga menyedihkan untuk dilihat.

—Kenapa harus jadi seperti ini?

Narika berada dalam performa puncaknya, bukan?

Itu adalah kemenangan yang luar biasa, bukan?

Jadi kenapa suasananya malah jadi seperti ini…?

Pertandingan final adalah giliran berikutnya.

Apakah ini akan menjadi pengulangan dari tahun lalu?

(…Ada satu hal yang bisa kupikirkan.)

Aku memikirkan satu cara jitu untuk menghentikan orang-orang agar tidak takut pada Narika.

Aku teringat strategi “noblesse oblige” milik Tennouji-san. Kunci dari rencana itu adalah agar Narika mundur dan membiarkan orang lain bersinar alih-alih mendominasi sorotan.

Jadi… bagaimana jika kita melakukan hal yang sama sekarang?

Alasan Narika ditakuti di turnamen tahun lalu adalah karena dia menang dengan cara yang terlalu mendominasi.

Jika begitu, bagaimana jika dia… sengaja kalah?

“Jika dia merelakan kemenangan…”

“…Itu ide yang baru.”

Gumamanku yang tak sadar memancing tanggapan.

Karena terkejut, aku menoleh dan melihat Narika berdiri tepat di hadapanku.

“Narika, sejak kapan kamu—?”

“Aku sudah di sini sejak tadi. Kamu tadi tampak begitu serius dalam lamunan, jadi aku tidak ingin mengganggu…”

Narika tersenyum kaku.

“Sengaja kalah agar terlihat lebih lemah, ya? …Aku sama sekali tidak memikirkan itu.”

Narika mengangguk dengan suara “Hmm” yang terasa anehnya tenang, seolah dia bisa menerimanya dengan mudah.

Namun bagiku, itu tampak seperti dia hanya sedang memasang ekspresi tegar.

“Narika, itu cuma sebuah ide, tidak lebih…”

“Tidak apa-apa. Aku akan mengusahakannya. Menahan diri bukanlah hal yang mustahil bagiku.”

Begitu selesai berkata, dia berjalan menuju ruang tunggu.

Pertandingan final sudah dekat, dan aku bahkan tidak bisa merangkai sepatah kata pun untuk memberikan semangat.

Tentu saja, Narika sempat bilang saat latihan tanding di dojo bahwa dia tidak suka menahan diri. Bukan berarti dia tidak bisa—hanya saja dia tidak menikmatinya.

Namun bagiku, fakta bahwa dia tidak menyukainya itulah yang menjadi masalah.

Apakah aku benar-benar akan membuat Narika melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan…?

“—Mulai!”

Suara wasit menyadarkanku dari lamunanku, dan aku mendongak.

Saat aku sedang dilanda kegalauan, pertandingan final sudah terlanjur dimulai.

Di tengah suasana yang tegang, aku menyadari gerakan Narika lebih lambat dari biasanya.

“Tunggu, Miyakojima-san…”

“Kamu sepertinya tidak sedang dalam kondisi terbaik.”

Para penonton juga menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi Narika.

“…!!”

Narika terus-menerus didesak secara sepihak.

Tidak salah lagi.

Narika… berencana untuk mengalah.

(Apa yang harus kulakukan…akh?)

Lawan mencetak poin pertama. Namun kemudian, Narika berhasil membalas satu poin.

Dia membuatnya tampak seperti pertandingan yang sengit, tetapi apakah itu semua hanya akting? Kendo menggunakan sistem tiga poin terbaik. Jika dia kehilangan poin berikutnya, kekalahan Narika akan disegel.

Bagian rasional dalam diriku berbenturan dengan bagian insting.

Kesan bahwa Narika itu menakutkan berkaitan erat dengan kesan bahwa dia kuat. Jadi, jika kekuatannya terbukti hanya sekadar sandiwara, ketakutan yang ia timbulkan pasti akan memudar juga.

Dan—lagipula, Narika sedang merawat jarinya yang keseleo saat ini.

Aku hampir melupakannya karena dia memenangkan semifinal dengan begitu mudah, tetapi ada perban yang melingkari jari Narika. Jika dia cedera, tidak mengherankan jika dia kalah… Tentu saja, semua orang di sekitar akan berpikir hal yang sama.

Semua kondisi sudah terpenuhi bagi Narika untuk kalah.

Strategi ini mungkin akan berhasil dengan sempurna.

Namun, bagaimanapun juga, aku tidak bisa menghilangkan perasaan buruk ini.

Apa sebenarnya yang kusebutkan…?

Aku ingin Narika diakui oleh berbagai macam orang.

Perasaan itu sungguh-sungguh.

Aku tidak ingin Narika melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.

Perasaan itu juga sungguh-sungguh.

“Izuki… apa yang ingin kau lakukan?”

Tanya Hinako pelan, agar orang-orang di sekitar kita tidak bisa mendengarnya.

Seolah-olah dia bisa melihat tembus ke dalam hatiku… seolah-olah dia sedang mewakili hatiku untuk berbicara.

“Aku…”

Menyortir emosi yang bergejolak di dalam diriku, aku membuka mulutku.

“Aku menyukai betapa tulusnya Narika terhadap seni bela diri. Dia tahu kelemahannya, dan justru itulah sebabnya dia ingin bangga dengan apa yang dia kuasai… Aku menyukai cara hidup seperti itu.”

Menyebutnya sebagai cara hidup mungkin terdengar sedikit muluk-muluk.

Namun, merangkai kabut di dalam kepalaku menjadi kata-kata dan melepaskannya membuat pikiranku terasa agak lebih jernih.

(…Begitu ya.)

Kebangsawanan itu—terasa tidak asing.

Hinako, yang berjuang di bawah beban tanggung jawabnya namun tetap mencari kebahagiaannya sendiri dengan sungguh-sungguh. Tennouji-san, yang selalu membawa diri dengan penuh anggun demi menjaga martabat keluarganya.

Kebangsawanan Narika sama persis dengan milik mereka.

Dia menyadari kelemahannya yang biasa-biasa saja—atau bahkan mungkin di bawah rata-rata—dan justru itulah sebabnya dia berusaha keras untuk membanggakan kekuatan yang dimilikinya.

Kata-kataku mungkin menjadi pemicunya, tetapi Narika kini membuktikannya dengan kekuatannya sendiri.

Meskipun membawa kelemahannya, dia tetap bertekad untuk menjadi kuat.

Miyakojima Narika, dengan caranya sendiri, adalah seorang Ojou-sama.

“…Sepertinya akan baik-baik saja.”

kata Hinako, menatap tepat ke wajahku.

“Sekalipun Narika menang dan suasananya menjadi canggung… jika kau orang pertama yang memujinya, kurasa itu akan beres.”

“Apa maksudmu—”

Tanpa menjawab pertanyaanku, Hinako melanjutkan.

“Jadi, Izuki… pastikan kau menyampaikan kata-katamu kepadanya dengan jelas.”

kata Hinako dengan senyuman lembut.

Pada saat itu, tekadku semakin bulat.

Hinako benar. Aku masih belum mengatakan perasaan asliku kepada Narika.

Jika Narika ingin mencari teman mulai sekarang, kalah di sini mungkin adalah pilihan yang lebih baik.

Namun, bukan itu yang kuinginkan.

Narika yang kusukai tidaklah seperti itu.

—Sama seperti Narika yang telah memanggilku spesial.

—Aku ingin memberitahunya bahwa dia juga spesial bagiku.

Bahkan jika perasaan ini egois… tidak, karena ini egois, itu sudah pasti adalah perasaan asliku.

Aku tidak ingin Narika menjadi sekadar orang biasa.

Gadis yang kusukai, Miyakojima Narika, sangat luar biasa, keren—dan jauh lebih kuat dari itu.

“Narika!”

Aku meneriaki Narika, yang tampak begitu rapuh, seolah-olah dia bisa dirobohkan kapan saja meskipun sedang memegang pedang bambunya.

Ini mungkin akan merusak semua usaha kita sejauh ini.

Jika itu terjadi, aku hanya tinggal mengulangnya dari awal dan membantunya lagi.

Tapi strategi ini saja—aku tidak bisa menerimanya. Aku menolaknya.

Jadi—

“Keluarkan seluruh kemampuanmu dan hancurkan dia—!!”

Pada detik itu, semangat juang meluap dari seluruh keberadaan Narika.

Sikap rapuh beberapa saat yang lalu lenyap, dan dia melangkah maju dengan lincah serta berani.

“—!?”

Siswa lawan tertegun.

Dan tidak heran—Narika telah membalikkan keadaan yang merugikannya dalam sekejap.

Lawan dengan tergesa-gesa mengarah pada pergelangan tangannya, tetapi Narika langsung melihatnya dan menangkisnya.

Suara gedebuk yang keras bergema.

Narika, yang menjejakkan kakinya dengan kuat di lantai, mengayunkan pedang bambunya lurus ke bawah.

“Meeeeen—!!”

Disertai teriakan bersemangat yang merobek udara, pedang bambu Narika menghantam topeng lawannya.

Sesuatu di lubuk hatiku yang paling dalam bergetar. Itu bukan sekadar rasa takut. Itulah jenis kekuatan yang membuatmu merasakan ketakutan—ketulusan murninya. Itulah Narika saat ini.

Itulah pesona yang kulihat pada Narika.

Itulah keerenan Narika.

“Pertandingan diputuskan!”

Wasit mengumumkan.

Final divisi kendo turnamen tersebut… merupakan kemenangan telak Narika.

Kedua siswa, dengan pedang bambu di tangan, saling berhadapan dan membungkuk.

Bahkan seorang amatir pun bisa mengetahuinya. Kekuatan Narika berada di level yang berbeda.

Keahlian yang luar biasa itu berubah menjadi ketakutan, dan para siswa di arena pun terdiam.

Untuk memecahkan keheningan itu—aku bertepuk tangan.

Berada di sana untuk Narika jauh lebih penting bagiku saat ini daripada membaca situasi.

Bahkan jika yang lain tetap diam… aku akan menunjukkan kepada Narika bahwa setidaknya aku, berada di pihak,nya.

Tapi kemudian.

Dari sampingku, aku mendengar suara tepuk tangan.

Hinako sedang bertepuk tangan dengan anggun.

Kemudian, dari agak jauh, lebih banyak tepuk tangan yang ikut bergabung.

Asahi-san, Kita, Suminoe-san, pria yang kuahadapi dalam tenis… mereka semua bertepuk tangan.

Tak lama kemudian—seluruh tempat itu dipenuhi oleh suara tepuk tangan.

“Astaga, itu tadi… luar biasa, kan?”

“Ya, aku benar-benar kaget…”

“Awalnya aku sedikit takut, tapi…”

Di tengah-tengah tepuk tangan, aku bisa mendengar suara para murid.

Ini adalah saat yang telah kita nantikan—saat citra Narika mulai berubah.

“Miyakojima-san sungguh luar biasa.”

Tepuk tangan itu tidak berhenti.

Dan di antara keramaian itu, pasti ada suara-suara yang memuji Narika.

Di tengah ruangan, Narika, yang telah melepas topengnya, berdiri terpaku dengan mata terbelalak. Mulutnya yang menganga karena terkejut seolah tidak bisa menutup.

Tapi segera, air mata menggenang di sudut matanya,

“…Haha!”

Dan dia tersenyum, tampak benar-benar bahagia dari lubuk hatinya yang paling dalam.

“Lihat kan… sudah kubilang.”

Hinako berkata dengan dengusan bangga.

“Aku paling tahu Izuki lebih dari siapa pun…”

Aku tidak begitu mengerti maksudnya, tapi aku merasa dia benar.

Aku senang aku mempercayai Hinako dan berteriak.

Tidak ada suasana penolakan terhadap Narika di tempat ini.

Narika—telah menang.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted