Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 11 Prologue: Kecemasan Seorang Pahlawan Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 11 Prologue: Kecemasan Seorang Pahlawan Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi
Cover
Back Image1
Back Image2
Back Image3
Characters1
Characters2
Map
TOC

Prologue: Kecemasan Seorang Pahlawan

◇ Sudut Pandang Pahlawan Abel ◇

Dua hari telah berlalu sejak Makoto dan Lady Helemmelk berangkat ke Labyrinthos, dan latihanku sama sekali tidak membuahkan hasil. Aku terus berdoa dan berdoa, tetapi aku tidak bisa mendengar jawaban apa pun dari sang dewi.

Aku menghela napas. Untuk mencoba menjernihkan pikiran, aku mengambil pedangku dan mulai berlatih. Dari suatu tempat di dekat sana, aku mendengar Momo bersorak. “Yay! Aku berhasil!” Aku melirik ke arahnya dan melihat bahwa dia baru saja berhasil melakukan teleportasi jarak pendek.

“Kamu luar biasa, Momo. Hanya butuh sedikit waktu bagimu untuk mempelajari mantra baru.”

Dia menggelengkan kepalanya. “Aku masih harus menempuh jalan panjang. Aku tidak bisa melakukannya kecuali menggunakan mantra, jadi teleportasiku tidak akan berguna dalam pertarungan sungguhan. Tuan Makoto bilang kalau kamu tidak bisa merapalkan mantra tanpa pelafalan, itu tidak ada gunanya.”

“Mungkin dia sedikit terlalu keras,” renungku. Pikirku, pencapaiannya sangat mengesankan untuk anak seusi Momo—Makoto memberinya target yang cukup tinggi.

“Setelah itu,” lanjutnya, “aku sedang mempelajari Serenity dan Stealth. Selain itu, karena aku seorang vampir, aku seharusnya bisa menggunakan Transform untuk berubah menjadi kabut atau kelelawar, jadi aku harus mempelajari itu juga.”

“Latihan yang aneh.” Bukankah dia akan mempelajari sesuatu yang bersifat menyerang? Lagipula, dia memiliki keterampilan Sage, yang seharusnya membuatnya sangat cocok untuk peran tersebut.

Namun ketika aku menunjukkan hal ini, dia tidak sependapat.

“Menurut Tuan Makoto, aku harus bisa melarikan diri dari lawan yang lebih kuat terlebih dahulu.”

“Tapi dia begitu kuat, jadi kenapa…?” suaraku perlahan menghilang, setengah bertanya.

“Aku tahu,” kata gadis itu. “Tetap saja, aku yakin bahwa melakukan apa yang dia perintahkan adalah pilihan terbaik!”

Momo tampak sangat mempercayai kata-katanya. Aku merasa cemburu.

“Dia juga bisa memberiku sedikit bimbingan…” gumamku. Sebelum dia pergi, aku sempat bertanya apa yang harus kulakukan. Namun, dia malah membiarkannya begitu saja, menegaskan bahwa tidak ada yang bisa dia sarankan. Mungkin itu karena dia mempercayaiku? Tetapi aku juga ingin mengandalkannya.

“Aku akan mendengarkan apa pun yang dia katakan.” Aku sempat terhanyut dalam pikiranku sejenak, tetapi ketika aku merasa ada yang menatapku, aku langsung sadar kembali. “Momo?”

Dia menatapku dalam keheningan selama beberapa detik. “Kenapa kamu jadi perempuan sekarang?”

“Hah?” Aku menunduk dan mendapati bahwa aku telah berubah menjadi Anna.

“Kamu memikirkannya dan berubah menjadi perempuan,” kata Momo. “Aku tahu, kamu—”

“U-Um, Momo?” Ekspresi di wajahnya membuatku merasa tidak nyaman.

“Kamu mencintai Sir Makoto, bukan?”

“Apa?!” Pertanyaannya membuatku menjatuhkan pedang latihanku.

“Aku tahu…”

“K-Kamu salah paham, Momo!” Aku melambaikan tangan dengan panik, tetapi Momo hanya menatapku tajam.

insert1

Tepat saat aku mencoba memikirkan suatu alasan, seekor naga putih besar melayang masuk ke halaman kuil.

Lady Helemmelk! Mereka sudah kembali?

Namun, ketika aku menoleh untuk menyambut mereka, aku menyadari ketidakhadiran Makoto.

“Selamat datang kembali, Guru,” kata Momo.

Aku memiringkan kepalaku. “Lady Helemmelk, bukankah Makoto bersamamu?”

Berbeda dengan salam kami yang tenang, Mel berteriak panik, “Hero, ikut denganku! Elementalist diserang oleh Demon Lord Cain!”

Momo dan aku sama-sama tersentak kaget saat ekspresi kami menegang karena ketakutan.

Tanpa buang waktu, Lady Helemmelk dan aku langsung berangkat, bergegas menuju tempat Makoto.

“Apakah bijaksana meninggalkan Momo?” tanyaku. Gadis itu tadinya memohon sambil berlinang air mata agar kami membawanya serta. Namun, Lady Helemmelk telah menolaknya.

“Kita tidak punya pilihan lain—Makoto sedang menghadapi seorang demon lord. Yang lebih penting, apakah kamu sudah bisa mengendalikan sedikit serangan yang melukai Demon Lord Cain di Labyrinthos?”

“I-itu…” geragapku. Kenyataannya, aku belum pernah berhasil menggunakannya lagi kecuali pada satu kesempatan itu. Itu adalah teknik pedang sihir yang kualirkan hanya secara kebetulan. Bisakah aku memanggilnya lagi entah bagaimana untuk melancarkan serangan terhadap Demon Lord Cain?

“Kamu adalah satu-satunya yang mampu melukai demon lord itu!” seru Mel. “Kita harus cepat!”

“B-Baiklah!”

Cengkeramanku semakin erat pada pedang yang baru kudapatkan.

Makoto… kumohon, tetaplah selamat.

Beberapa jam berlalu sebelum Lady Helemmelk memanggilku. “Kita sudah sampai! Seharusnya di sinilah tempatnya.”

Aku menegang, tiba-tiba merasa waspada. Aku hanya bisa melihat dampak dari berbagai serangan sihir—petak-petak tanah yang hancur dan semacamnya. Tidak ada tanda-tanda dari kedua orang yang bertarung itu. Jangan-jangan dia sudah…

“Hero, lihat!”

Aku menoleh dengan cepat dan membelalakkan mata. Seseorang berada di sebelah sana.

“Aku melihat asap,” gumamku.

Mel mengangguk suram. “Ayo pergi.”

“Kita harus berhati-hati.”

Dengan napas tertahan, kami mendekati arah kepulan asap tersebut.

“Bau ini…” Dahi Mel berkerut saat kami melihat sesosok figur yang membelakangi kami.

Itu… Makoto! Syukurlah, dia selamat.

“Apa yang sedang kau lakukan, Elementalist?” tanya Lady Helemmelk dengan nada tajam. Awalnya, aku tidak mengerti mengapa dia marah. Namun, setelah diamati lebih dekat, kulihat Makoto sedang…

“Oh, Mel, Abel. Aku sedang menunggu kalian berdua,” katanya, berbalik dari tempatnya sedang memanggang beberapa ekor ikan di dekat api unggun. “Mau makan?”

Aku merasakan seluruh tenagaku lenyap saat aku jatuh lemas berlutut.

“Kamu tidak apa-apa?! Kamu tidak terluka?!”

Momo memeluknya erat, air mata mengalir di pipinya.

“Aku sudah kembali, Momo,” ucapnya, menenangkannya.

“Bagaimana dengan Demon Lord?!” serunya. “Aku dengar kamu diserang oleh Demon Lord Cain!”

“Ya, tapi Dia dan aku berhasil memukul mundurnya.”

Momo kini kembali bersemangat dan melompat-lompat kegirangan. “L-Luar biasa! Aku tahu kamu memang kuat!”

Memang benar, Makoto tidak mengalami luka sedikit pun dari pertempuran itu.

Kenapa aku malah terburu-buru menyusulnya…?

“Jangan terlalu memaksakan diri, Elementalist,” kata Lady Melemmelk. Suaranya terdengar lelah. “Aku mau istirahat sekarang.” Begitu selesai, dia pun pergi ke tempat tidurnya. Yah, dia memang telah bolak-balik bergegas ke sana tanpa tidur.

“Bagaimana latihanmu selama ini, Momo?” tanya Makoto.

Momo terkikik. “Lihat! Aku bisa menggunakan Teleport! Setidaknya, kalau aku pakai mantranya!”

“Wah! Bagus sekali! Itu akan sangat berguna saat kita melawan para demon lord. Kita bisa menambahkannya ke dalam strategi kita.”

“Puji aku lagi!” Dia terus terkikik. “Selain itu, beri aku pelukan!”

“Bagus sekali, bagus sekali.”

Mereka berdua terus bermain-main untuk beberapa saat. Mereka punya banyak energi… Padahal yang kulakukan hanya menunggangi punggung Lady Helemmelk dan aku sudah merasa kelelahan. Jadi, aku memutuskan untuk mengikuti teladannya dan tidur siang.

Hari sudah gelap ketika aku terbangun. Lady Helemmelk and Momo sedang tidur di tempat tidur mereka masing-masing. Namun, Makoto sama sekali tidak kelihatan. Aku bangkit dan meninggalkan kuil, mencarinya.

Dia ada di sana…

Ribuan kupu-kupu yang diciptakan menggunakan sihir air beterbangan di udara. Apakah dia bahkan tidak repot-repot beristirahat? Apakah dia selalu menjaga latihannya seperti ini? Meskipun dia baru saja bertarung melawan Raja Iblis?

“Kamu sudah bangun, Abel?”

Seharusnya dia tidak bisa melihatku, tapi entah bagaimana dia berhasil menyapaku sebelum aku sempat membuka mulut.

“Aku baru saja bangun. Lagi pula, tolong panggil aku Anna saat aku dalam wujud ini.” Baru-baru ini, aku menghabiskan seluruh waktuku dalam wujud burungku, jadi aku memang adalah Anna.

Aku berjalan mendekat dan duduk di sisinya.

“Terima kasih sudah datang hari ini, Anna.”

“Padahal aku tidak melakukan apa-apa.” Raja Iblis itu sudah lenyap saat Mel dan aku tiba… dan aku merasa lega. Meskipun monster itu telah merenggut mentor dariku.

“Oh, benar,” kata Makoto. “Ada sesuatu yang harus kukatakan kepadamu.”

Punggungku mengeras karena rasa takut dan antisipasi tentang apa yang mungkin dia katakan. “B-Baiklah, ada apa?”

Pada akhirnya, itu bukanlah hal yang terlalu buruk. Rupanya, dalam waktu seminggu, dia akan melakukan beberapa pelatihan di tempat yang disebut Kuil Dasar Laut.

“Um… bukankah kamu bisa berlatih di sini?” tanyaku dengan ragu-ragu.

“Tidak ada banyak air di sini,” katanya dengan santai, “jadi aku sebaiknya mencoba tempat lain. Tempat dengan banyak air.”

Dia sengaja pergi keluar untuk berlatih di dalam dungeon? Salah satu dungeon terakhir?

“Kita hanya punya waktu satu tahun untuk menjadi lebih kuat, jadi aku harus berlatih keras,” desaknya, matanya bersinar penuh semangat.

Benar… Dia akan pergi lagi. Jauh sekali. Dia tidak pernah bisa duduk tenang. Dan sekarang aku hanya akan menunggunya.

“Eh, Makoto, kumohon dengarkan aku.”

Tanpa kuadari, aku sedang meremas kain bajunya di antara jari-jariku dan memohon.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted