Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 10 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia
Cerita Pendek Bonus
Pelajaran Memasak di Dunia Lain
“Jadi…” Mel melirik bergantian ke arah kami bertiga. “Ada makanan di kuil, tapi siapa yang bisa memasak dengan baik?”
“Aku setidaknya bisa memanaskan makanan,” kata Momo.
“Jika ada instruksi, aku bisa mengatasinya…” jawab Anna dengan ekspresi meminta maaf.
Aku mengangkat bahu. “Biasanya, aku hanya makan apa pun yang kudapat.”
Mel menghela napas panjang. “Baiklah. Aku akan membuat sesuatu. Makanan yang kita beli di Cornet tadi sangat enak, sih…”
Ah, yah, dia hidup di bawah tanah begitu lama, jadi kurasa wajar saja jika dia masih memikirkan berbagai hidangan yang sempat dia cicipi di Laphroaig. Mel selalu merawat kami, jadi aku ingin membalas budinya dengan suatu cara… Aku melayangkan pandangan ke sekeliling ladang dan melihat berbagai macam tanaman tumbuh. Ada begitu banyak variasi makanan di Bumi. Mungkin, sebagai seorang penghuni dunia lain, aku bisa menawarkan sesuatu kepadanya yang biasanya tidak ditemukan di dunia ini.
“Eh? Itu kan…”
Di sana—aku telah menemukan beberapa bahan yang familier bagiku.
◇
“Elementalist, apa kamu yakin ini akan terasa enak?”
“Makoto, apa kita benar-benar harus makan minyak sebanyak itu?”
“Apakah suhunya sudah tepat, Tuan Makoto?!”
Mel dan Anna menatapku dengan penuh curiga, dan Momo menjadi asistenku. Aku tidak begitu jago memasak, tetapi aku bisa mengandalkan ingatanku dari Bumi untuk menyiapkan sesuatu.
Bahan-bahannya adalah:
Kentang (yah, sesuatu yang mirip)
Ikan (ditangkap dari kolam air di puncak gunung)
Minyak (dari beberapa buah yang tampak seperti zaitun—sudah kutumbuk dan kuperas)
Garam (dari persediaan kuil)
Tepung (dari menggiling gandum di ladang)
Kelima bahan itulah yang kubutuhkan untuk memasak makanan tradisional Inggris: fish and chips.
Ini adalah hal terbaik yang bisa kuciptakan.
Beberapa potong kentang dan filet ikan bertepung mendesis di dalam minyak panas yang menggelegak. Gelembung-gelembungnya tadinya sangat besar, tapi perlahan-lahan mulai mengecil. Sementara itu, kentang dan ikannya berubah menjadi warna cokelat keemasan yang cantik.
Hampir matang…
Menggunakan sumpit darurat—ranting pohon yang dipetik—aku mengangkat kentang goreng dan filet itu dari minyak. Aku meletakkannya di atas daun-daun lebar yang kami gunakan sebagai piring. Sentuhan akhirnya? Taburan garam.
“Tuan Makoto? Kenapa Anda menaburkan garam pada makanannya dengan tangan yang begitu tinggi?”
“Rasanya jadi lebih enak begitu.”
“Oh, begitu ya!”
Sebenarnya, aku hanya menirukan apa yang kulihat di sebuah acara memasak. Kalau dipikir-pikir lagi, acara itu cukup sering menggunakan minyak zaitun. Aku membuat hidangan ini dengan cara yang sama secara tidak sengaja.
“Sudah matang,” umumku. “Fish and chips.” Aku tidak bisa memberi tahu mereka bahwa hidangan ini berasal dari dunia lain, jadi aku bilang saja kalau ini dari kampung halamanku.
“Hm…” Mel mengamat-amati makanan itu. “Kamu cuma menggorengnya dan memberi garam.”
“B-Baguslah,” gerutu Anna terbata-bata. “Dia sudah membuatnya untuk kita, jadi…”
Mereka berdua dengan ragu-ragu mulai makan. Setelah menggigitnya, mata mereka membelalak.
“Enak sekali!”
“Ini lezat?!”
Mereka berdua dengan cepat mengambil suapan lagi.
Yups, makanan digoreng memang yang terbaik!
Berbanding terbalik dengan antusiasme mereka, Momo malah menatapku.
“Kamu tidak akan makan?” tanyaku.
“Aku…” Tatapannya turun ke arah leherku.
Ah. Rupanya, dia lebih menyukai makanannya dalam keadaan mentah.
“Nih,” kataku sambil membuka beberapa kancing kemejaku dan menepuk leherku.
“Te-Terima kasih atas makanannya,” ucapnya sebelum mulai minum.
Saat dia melakukan itu, aku mengambil sepotong keripik dan menggigitnya. Lebih baik dari yang kubayangkan. Mungkin bahkan makanan terbaik yang pernah kucium di era ini.
Makanan cepat saji secara resmi ditambahkan ke dalam daftar menu kelompok kami.
Kisah Melankolis Santa Anna
◇ Sudut Pandang Anna ◇
Dengan bimbingan Dewi Takdir, kami tiba di Kuil Matahari. Hal pertama yang kami lakukan adalah memeriksa bangunan-bangunan dan mengecek persediaan. Tentu saja, tempat persembunyian ini telah direkomendasikan oleh seorang dewi, jadi semua yang kami butuhkan ada di sini. Setelah menetap, Makoto memasak untuk kami. Kami semua makan, dan akhirnya, kami punya waktu untuk menarik napas.
Tidak disangka ada tempat seperti ini… Aku hampir ingin tinggal di sini dengan aman selamanya.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar Makoto dan Momo sedang berbicara.
“Momo, ayo kita mulai latihan sihir. Kamu ikuti apa kata Mel, dan kalau kamu punya pertanyaan tentang sihir air, datanglah kepadaku.”
“Apa?! Mari kita bersantai lebih lama lagi, Tuan Makoto!”
Tunggu, dia sudah mulai berlatih?!️
Tak terhitung banyaknya kupu-kupu dan ikan yang tercipta dari sihir air melayang di udara di sekelilingnya. Ada banyak burung kecil juga. Aku memang bukan penyihir yang mahir, tetapi aku tahu betapa sulitnya pencapaian itu. Bahkan naga putih, seorang ahli dalam segala hal, tampak tercengang melihatnya—ini adalah bukti lebih lanjut dari keahliannya.
“Kurasa kamu bisa istirahat untuk hari ini,” aku Makoto mengalah. “Latihan akan dimulai besok.” Dia berbalik dan berjalan ke tepi mata air.
“Mau ke mana kamu?” tanya Momo.
“Ada elemental air di dekat mata air, jadi aku akan berlatih di sana.”
Momo memasang ekspresi aneh di wajahnya. Dia mungkin ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai bersama pria itu. Aku ragu-ragu sejenak sebelum memutuskan untuk menyusulnya ke tepi mata air. Dia sedang bermeditasi di dekat air, dan aku duduk di sisinya.
“Ada apa, Anna?” tanya dia. Nada suaranya terdengar seperti pertanyaan yang sangat normal, kecuali satu hal kecil—matanya terpejam, jadi seharusnya dia tidak bisa melihat ekspresiku.
“Kamu seharusnya tidak memforsir diri terlalu keras,” gumamku. “Bagaimanapun juga, kamu diserang oleh demon lord di Laphroaig.”
Demon Lord Cain telah menyergap kami semua tepat sebelum kami berhasil melarikan diri dari negara itu. Mengingat saat-saat kritis itu membuat tubuhku gemetar dengan emosi yang bercampur aduk: kemarahan atas kematian mentor ku dan ketakutan akan menghadapi demon lord. Sejujurnya, fisik dan mentalku sangat kelelahan, jadi aku merasa sangat mirip dengan Momo. Aku tidak mengerti apa merasuki Makoto hingga mulai berlatih nyaris seketika setelah kami tiba di sini.
“Memforsir diri?” tanya dia dengan nada penasaran. Dia membuka matanya dan menatapku dengan ekspresi aneh.
“Maksudku…” suaraku melemah, mencari-cari kata yang tepat. “Dengar, kita mungkin punya waktu setahun penuh, tapi kita harus memanfaatkannya untuk menjadi lebih kuat agar bisa mengalahkan para demon lord! Kamu tidak boleh begitu saja memaksakan diri berlatih tanpa istirahat sedetik pun! Kalau kamu melakukannya, kamu akan—”
“Ini hal yang normal bagiku.”
Semangatku langsung ciut seketika.
“Apa?”
Aku tidak bisa memahami apa baru saja dia katakan.
“Tidak ada sedetik pun yang tidak kupergunakan untuk melatih sihir airku,” jelasnya. “Bahkan saat aku sedang tidur.”
“Wh…”
Oh, benar juga. Dia bahkan merapal mantra saat sedang tidur.
“Kamu juga tampak lelah, Anna. Sebaiknya kamu istirahat bersama Momo.” Dia memberiku senyuman yang ramah.
Dia memperlakukanku sama persis sepertinya?! Seperti anak kecil?! Jika terus begini, aku hampir tidak bisa menyebut diriku sebagai pahlawan atau orang suci.
Jadi, sebagai gantinya, aku berdiri di sampingnya dan mulai berlatih ayunan pedang.
Dia mengamatiku dengan lekat. Rasanya agak mengganggu.
◇
Kami berdua terus berlatih selama beberapa waktu.
“Um… Makoto?” tanyaku. “Berapa lama lagi kamu akan terus berlatih? Hari sudah mulai gelap.”
“Kurasa… sekitar enam jam lagi.”
“A-Apa… apa kamu serius?!”
Dia memiringkan kepalanya, bingung dengan pertanyaanku.
Aku menghela napas. “Sepertinya aku mau istirahat saja.”
“Istirahatlah dengan baik,” jawabnya sambil melambaikan tangan.
Dia tidak sendirian untuk waktu yang lama—Dia, elemental agung, segera muncul di sisinya. Mereka mulai mengobrol, dan aku yakin mereka terus melakukannya selama penuh enam jam.
Apakah aku… akan bisa mengimbanginya? pikirku dengan gelisah.
Mengobrol dengan Dewi Takdir dan Orang Yang Tidak Percaya Padanya
“Kamu akhirnya datang juga, Makoto Takatsuki!”
“Ha? Ira?”
Aku sangat yakin kalau aku baru saja tertidur di Kuil Matahari. Tapi sekarang… aku berada di domain Dewi Takdir. Dia pasti telah memanggilku.
“Makoto Takatsuki! Apa kamu akur dengan Annie?!” Dia memasang ekspresi penuh tekad sambil mengacungkan jarinya dan menudingkannya tepat di dekat wajahku.
Akur? Kenapa dia memikirkan hal itu? Kami semua baru saja tiba di kuil, dan kami belum akan mulai berlatih secara aktif sampai besok. Meskipun… kurasa aku memang akhirnya punya waktu untuk duduk dan mengobrol dengan benar bersama Anna.
“Pelan tapi pasti, kami semakin akrab,” jawabku.
“Kuraaaang!” teriak Ira.
“Eh?”
“Apa kamu mendengarkan? Saint Anna dan Savior Abel adalah orang yang sama—kamu tahu itu. Yang berarti kamu harus bekerja sama dalam waktu lama dengan Annie untuk mengalahkan Great Demon Lord!”
“Maksudku, aku tahu itu, tapi—”
“Kamu sama sekali tidak bertindak seperti itu! Kamu juga punya cewek-cewek imut di masa depan, namun kamu sama sekali tidak mengambil tindakan apa pun! Kamu cowok payah!”
“Apa hubungannya hal itu dengan masalah ini?!” Bukan berarti aku berniat pacaran dengan Anna atau semacamnya!
“Untungnya, aku punya kabar baik untukmu, Makoto yang Payah! Aku, Ira, yang juga dikenal sebagai Goddess of Love, secara pribadi akan memberitahumu cara menaikkan poin kasih sayangnya!” Dia membusungkan dadanya—yang sebenarnya tidak ada—sambil mengatakan itu.
Hei, maksudmu apa dengan “Makoto yang Payah”?!u
“Bisa tidak berhenti memanggilku seperti itu?!” seruku, berusaha membuatnya menyudahi percakapan ini. Lagipula… Sungguh? Poin kasih sayang? Dia terdengar tidak seperti Goddess of Love, melainkan lebih mirip Goddess of Waifu Games.
“Makoto Takatsuki! Kamu sedang menghinaku di dalam hati, kan?!”
“Maafkan aku,” gumamku meminta maaf. Namun, sesuatu yang dia katakan telah membuatku penasaran. “Jika kamu adalah Goddess of Love, maka kamu pasti punya banyak pengalaman dalam hal percintaan, kan?”
Terjadi hening yang cukup lama.
“T-Tentu saja aku punya pengalaman.”
Benarkah?
“Apa?! Kamu meragukanku?! Aku adalah Goddess of Fate! Aku bahkan tidak bisa menghitung jumlah pria yang pernah berkencan denganku menggunakan jari tangan dan kakiku!”
“Wah, itu luar biasa.” Itu berarti dia pasti punya lebih dari dua puluh—minimal. Dengan angka sebanyak itu, aku bisa mengerti kenapa dia memandang rendah diriku karena kemajuanku yang lambat.
“Jadi, seperti apa pacar terakhirmu?”
Keheningan panjang kembali terjadi.
“Hah? Um, begini…”
“Ira?” Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa? “Kamu tidak berbohong tentang punya lebih dari dua puluh mantan… kan?”
“Bagaimana kamu bisa bilang begitu?! Tentu saja mereka nyata! Benar, yang terbaru! Ya, aku ingat! Dia punya rambut pirang dan mata yang tajam!”
“Hah. Jadi, di mana kalian bertemu?”
“D-Di mana? U-Um… Kami bertemu… d-di tempat kerja! Itu adalah percintaan di tempat kerja!”
“Di tempat kerja. Jadi, di sini?”
Aku melihat sekeliling wilayahnya. Sebuah karpet merah muda menghiasi lantai, dan di atasnya terdapat beberapa makhluk berbulu mewah yang tampak megah, semuanya hidup dan bekerja tanpa kenal lelah.
Namun, tidak ada satupun dewa yang terlihat.
“T-Tidak! Aku tidak hanya bekerja di sini. Aku menghadiri rapat rutin dengan para dewi lainnya, dan aku harus pergi ke surga dan melaporkan keadaan benua barat setidaknya setahun sekali, dan…”
“Dan sama sekali tidak ada tempat-tempat itu yang terdengar seperti tempatmu akan bertemu dengan seorang pria.” Apakah dia benar-benar mengalami romansa di tempat kerja? “Jadi, bagaimana dia menyatakan cintanya?”
“Apa?! Pernyataan cintanya? Eh, begini…”
Aku hampir tidak bisa mengerti apa yang dia katakan. Yaps… hal itu sudah pasti.
“Itu bohong, kan?”
Ada jeda panjang yang ketiga kalinya.
“Memang,” akunya. “Aku tidak pernah punya pacar.”
“Tidak pernah?!” Kalau begitu, dia sama sekali tidak punya hak untuk menceramahi-ku! “Yah, kurasa kau tidak akan bisa menceritakan banyak hal padaku tentang romansa.”
“Apa katamu?!” Dia menindaklanjuti seruan ini dengan rentetan pukulan yang sama sekali tidak adil.
Setelah malam itu, Ira sesekali muncul di dalam mimpiku dan memberiku banyak saran (meskipun dia sama sekali tidak punya pengalaman romantis).
Makoto Takatsuki Berbincang dengan Pahlawan Peri
“Mari kita minum, Sir Makoto.”
“Terdengar bagus, Johnnie.”
Setelah tiba di kuil, Mel dan aku terbang kembali ke kota dungeon untuk melapor. Johnnie langsung mengajakku minum. Dia adalah salah satu anggota dari party legendaris yang suatu hari nanti akan mengalahkan Great Demon Lord, jadi aku pikir tidak ada salahnya untuk berkenalan dengannya.
Kota itu memiliki sebuah kedai minum besar di bagian tengah, yang menyediakan makanan dan minuman berlimpah. Aku merasa sedikit canggung—gadis-gadis cantik duduk di kedua sisiku, menuangkan minuman dan menyajikan makanan. Mel berada agak jauh, bersenang-senang dengan keluarganya.
Malam sudah hampir berjalan setengahnya ketika topik pembicaraan bergeser—suara Johnnie menjadi lebih serius.
“Ngomong-ngomong… aku berbicara dengan Lady White Dragon.”
Oh… ini pasti hal yang penting.
“Tentang apa?” tanyaku, menegakkan dudukku. Aku sama sekali tidak tahu tentang apa itu.
“Aku dengar darinya bahwa kau masih perjaka. Apakah itu benar?”
Aku tersedak minumanku. Mel?! Apakah dia punya sedikit saja konsep privasi?!
Aku menatap tajam ke arahnya, tapi dia membuang muka dan pura-pura tidak menyadarinya. Dia pasti mendengarnya—aku tahu betapa tajam pendengarannya.
“Begitu ya. Jadi memang benar. Itu tidak boleh dibiarkan.”
“Eh… Johnnie?” Apa maksudmu sebenarnya dengan itu?
Aku melihatnya membuat gestur memanggil. Seketika itu juga, wanita cantik demi wanita cantik muncul di samping kami.
“Um… sebenarnya siapa orang-orang ini?” tanyaku.
“Aku harus memperkenalkan mereka padamu. Mereka adalah wanita yang bekerja di rumah bordil kota. Ketika mereka mendengar bahwa Tuan Makoto—terlepas dari semua jasanya—belum berpengalaman dengan wanita, mereka sangat bersemangat untuk memberikan pelayanan mereka. Tentu saja, pembayarannya tidak diperlukan. Nikmati malammu.”
Aku tidak bisa langsung merespons. Butuh waktu beberapa detik yang terasa lama bagiku untuk mengucapkan satu patah kata pun.
“Apa?”
“Kami akan melayanimu malam ini, Tuan Makoto,” ucap salah satu wanita itu.
“Lewat sini,” tambah yang lain sambil dengan santai meletakkan tangannya di pipiku. Aroma bunga yang lembut menguar dari kulitnya.
Kepalaku terasa pusing.
“Hei! Apa yang sedang kau lakukan, Kepala?!”
Julietta—Hero of Wood—tampaknya mendengar percakapan kami. Dia berlari mendekat dengan penuh semangat.
“Ada apa, Julietta?” tanya pria itu.
“Jangan ‘ada apa’ padaku! Makoto memiliki kekasih yang sedang menunggunya di kampung halamannya!”
Oh ya—aku sempat menceritakan sedikit tentang Lucy dan Sasa kepadanya. Merasa sedikit didukung oleh kehadiran Julietta, aku segera bersuara. “Johnnie! Aku sangat menghargai tawaranmu, tapi aku berjanji aku baik-baik saja!”
“Begitu ya…” Dia tampak sedikit lemas.
E-Eh? Apakah aku telah menyinggung perasaannya?
“Ehm, aku benar-benar berterima kasih, tapi Momo dan An—Abel sedang menunggu di kuil. Aku juga lebih suka membicarakan tentangmu. Aku ingin mendengar tentang aksi-aksimu!”
“Hm… tentang aku?”
Hal itu sepertinya berhasil sedikit menghiburnya. Alkohol melonggarkan lidahnya, dan tak lama kemudian aku mendengarnya dengan penuh semangat menceritakan kesulitan-kesulitan masa lalunya. Dia telah hidup di masa kegelapan saat Raja Iblis Agung berkuasa, jadi sekadar bertahan hidup pun merupakan perjuangan tiada henti.
Aku mendengarkan dengan antusias, tetapi Julietta dengan cepat menghentikannya.
“Sudah cukup! Ini semua hanyalah sejarah kuno.”
Hah. Meskipun mereka sama-sama peri, mereka sepertinya tidak akur.
Namun kemudian, kata-kata Johnnie selanjutnya benar-benar mengubah suasana.
“Kurasa itu terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Aku menemukan Julietta, yang menjadi yatim piatu akibat serangan iblis.”
“Ahh! Ketua! Jangan!”
“Meskipun dia terlahir dengan skill pahlawan, Julietta dulunya sangat penakut. Dia bahkan tidak bisa tidur sendirian—dia sering menyelinap ke tempat tidurku.”
“Kapan itu terjadi?!”
“Tapi di pagi hari, aku sering mendapati bahwa dia mengalami… kecelakaan kecil selama tidur.”
“Hentikan! Tutup mulutmu sekarang juga!” tuntut Julietta sambil menutup mulut pria itu dengan satu tangan. Pria itu pasti sudah agak mabuk karena dia hanya tertawa senang.
Ah, bukan berarti mereka tidak akur. Dia seperti anak perempuan yang sedang memberontak kepada ayahnya.
Aku memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang, kehangatan menjalar di dadaku.
Perayaan itu berlanjut hingga larut malam, dan sebelum aku menyadarinya, aku terbangun di lantai dengan tatapan jengkel dari Mel.
Komentar