Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch3_ The Price for Lying part 1 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch3_ The Price for Lying part 1 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V1Ch3: Harga untuk Sebuah Kebohongan bagian 1

Penerjemah: Soafp

TL: Aku biasanya tidak membagi ke dalam beberapa bagian jika tidak diperlukan, tapi bab ini terlalu panjang.

“Jangan ajak aku bicara di sekolah.”

“Haa. Kau membuatku kesal. Kenapa kau harus bersikap begitu akrab denganku seperti anak kecil?”

“Hentikan ini. Aku sibuk. –Apa kau bodoh.”

“Pembohong.”

Rasa jijik di matanya. Kukira kami akur.

Persahabatan, kasih sayang, ikatan. Aku percaya tanpa alasan apa pun bahwa hal-hal yang tak kasat mata dan pasti seperti itu memang ada. Pada saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Aku hanya menerima kenyataan itu, menyadari bahwa semuanya sudah terlambat, tetap berjuang dengan menyedihkan, dan kemudian semuanya berakhir begitu saja tanpa peduli pada dunia. Aku sudah terbiasa dibenci.

Sekarang gilirannya. Hanya itu saja. Entah di mana aku memiliki ilusi yang mustahil bahwa dialah satu-satunya yang spesial. Itu tidak mungkin benar. Jika itu yang dia inginkan, aku tidak bisa memberinya masalah lagi. Aku mendoakan kebahagiaannya di masa depan. Aku berharap begitu dan berpaling darinya.

“Kau mengecewakanku.”

“Kenapa kau–!”

“Aku tidak ingin kau berada di sisiku. Kau akan membuatku tidak bahagia.”

“—Jangan pernah kembali.”

Kekesalan, rasa frustrasi, tuduhan dalam kata-katanya. Ekspektasi yang telah dikhianati sebelum aku menyadarinya. Aku bahkan tidak tahu alasannya. Tapi aku tidak terkejut karena telah mengecewakannya.

Mungkin aku samar-samar sudah merasakan bahwa hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Kata-kata pertama yang diucapkan setelah sekian lama adalah perpisahan, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain mematuhinya.

Bagaimanapun, kami hampir kehilangan kontak satu sama lain. Hubungan kami didefinisikan ulang olehnya. Kami bukan lagi “teman masa kecil”, bukan lagi teman, melainkan orang asing yang tidak memiliki hubungan apa pun.

Umat manusia telah membuat kemajuan yang stabil dalam peradaban, tetapi beberapa hal tidak pernah berubah.

Asal usul payung konon sudah ada sejak empat ribu tahun yang lalu, tetapi siluet itu tetap tidak berubah.

Ini tidak berarti bahwa payung lipat tidak pernah berevolusi sejak diciptakan 120 tahun yang lalu.

Mengapa kita mengatakan “cheese” saat kita mengambil foto atau “yoo-hoo” saat kita mencoba Yamabiko?

[TL: Yamabiko (山彦) adalah dewa gunung, roh, dan yōkai dalam cerita rakyat Jepang. Secara harfiah diterjemahkan, “yamabiko” berarti “gema”. Ini adalah yōkai yang bertanggung jawab atas fenomena alam di gunung atau jurang.]

Saatnya bagi kita untuk berevolusi tanpa terikat oleh asal-usul kita. Dan karena itu, aku memanggil gunung-gunung di hadapanku untuk mengambil alih evolusi manusia.

“Tartaros!”

Yamabiko tidak pernah merespons. Sungguh mengecewakan. Ketegangannya langsung meresap ke dalam jurang.

Menyerah pada tantanganku terhadap sejarah umat manusia, aku mengajukan pertanyaan yang sedari tadi menggangguku.

“Jangan konyol, kau pria berwajah segar.”

“Apakah ada hal yang lebih seperti lelucon daripada kebiasaan eksentrikmu saat ini?”

“Aku hanya menantang potensi umat manusia. Jadi, ada apa ini sebenarnya?”

Langit tertutup oleh awan tebal dan tampak seolah-olah tidak menyambut.
Aku menarik napas dalam-dalam dan merasakan hembusan kehijauan yang segar.

Di depanku terdapat pemandangan alam megah yang jarang sekali terlihat di perkotaan.

Menurut ramalan cuaca, cuacanya seharusnya memburuk pada malam hari.

Saat aku menundukkan wajahku kembali, aku diserang oleh pancaran ketampanan yang 150% lebih kuat dari biasanya. Apakah pria ini dilengkapi dengan kilatan cahaya?

Dia bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi aku akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi.

“Nananano? Ada apa dengan kelompok ini?”

“‘Nananano’ diamlah. Apa kau ini robot rusak?”

Kami berempat, yang seharusnya menjadi kelompok paling tidak cocok di kelas—aku, Kouki Mihou, Hinagi Suzurikawa, dan Shiori Kamishiro, semuanya berada dalam kelompok yang sama.

Sebuah konspirasi orang-orang segar dan tampan.

Kami sedang menunggu di pintu masuk jalan pegunungan untuk keberangkatan kami, tetapi aku penuh dengan tanda tanya mengenai situasi ini.

Kami sedang menjalani karyawisata.

Studi luar kota adalah kegiatan mendaki gunung tahunan yang diadakan tidak lama setelah para siswa masuk sekolah untuk mempererat hubungan antar siswa. Perlu waktu dua jam untuk mendaki jalur pendakian gunung, makan siang, lalu turun gunung. Rasanya seolah para siswa sedang mencoba menambal lubang yang telah mereka gali sendiri.

“Ini gila! Kenapa aku berada di kelompok pendaki? Bukankah peran orang suram adalah disambut dengan tatapan jijik oleh sekelompok orang yang diperintahkan membentuk kelompok sesuka hati, dan kemudian, setelah dikucilkan, kami dipaksa bergabung dengan kelompok yang diminta oleh wali kelas mereka?”

“Kami punya satu tempat kosong”

Memang benar begitu, tapi kekhawatiran terbesar saat ini bukanlah pria ini.

“Kenapa kau tidak membantuku dan menolak saja?”

“Mana kutahu! Aku tadi kebetulan bersama mereka berdua.”

Sementara aku diam-diam berkonfrontasi dengan Kouki, tatapan Suzurikawa dan Kamishiro masih menusukku. Rasanya canggung. Aku diberitahu bahwa itu adalah pertemuan yang kasar, tetapi aku merasa canggung seperti karyawan baru yang membuat suasana hati bos memburuk karena mengajaknya bicara. Yah, aku sendiri tidak punya pengalaman kerja.

Aku tidak ingin mengganggu kehidupan sekolah mereka. Aku hanya ingin mereka menikmati kehidupan sekolah tanpa mengkhawatirkanku seperti sarung tangan yang tertinggal di jalan raya.
Aku tidak berniat membuat mereka merasa tidak nyaman. Tidak ada alasan untuk merasa tidak nyaman.

Peluit guru berbunyi, dan kami mendaki gunung selama dua jam. Jalurnya landai dan nyaman, tanpa kesulitan atau bahaya khusus.

Sebaliknya, suasananya di sepanjang perjalanan sangat buruk. Pria segar dan tampan itu adalah pembicara yang sangat handal. Dia berhati-hati agar percakapan tidak terputus saat dia membahas topik dengan suara lantang. Aku sebenarnya lebih suka jika mereka bertiga akrab saja, tetapi entah kenapa, dia juga sedikit mengajakku bicara. Setiap kali dia melakukan ini, aku mengulang, “Oh, ya,” “Bukan apa-apa,” atau “Sebaliknya,” dan aku pun menjadi seperti robot. Aku tahu orang sering mengatakannya secara terbalik, tetapi bukankah ada kebutuhan untuk mengatakannya secara mundur?

Sementara itu, kami tiba di tempat tujuan. Wajah banyak orang secara alami mulai berkaca-kaca karena rasa lelah yang menyenangkan serta pencapaian, dan karena pemandangan indah dari puncak.

Namun, tampaknya ada sejumlah orang yang tidak memiliki kekuatan fisik yang cukup, dan sekitar separuh dari kelompok tersebut duduk di atas rumput di puncak sambil berteriak kesakitan.

Haa……. Aku tidak berniat melakukannya. Tapi aku tidak bisa mengabaikan mereka, jadi dengan enggan aku memanggil mereka.

“Kamu tidak apa-apa, Suzurikawa?”

“Yukito? Ah, terima kasih. tapi kenapa?”

Aku menyerahkan minuman olahraga yang baru saja kubeli kepada Suzurikawa, yang duduk tidak jauh dariku.

Dia tampak kebingungan, mungkin terkejut karena diajak bicara, tetapi ekspresinya tidak bagus.

Wajar baginya untuk merasa curiga. Aku tidak pernah berbicara kepadanya sejak aku masuk sekolah.

Memang benar aku menjaga jarak darinya, tetapi entah kenapa, aku tidak bisa mengerti mengapa sekarang aku mengkhawatirkannya sebagai teman masa kecil. Aku menyangkalnya di masa lalu, meskipun Suzurikawa sendiri yang memilih untuk menolakku. Itulah sebabnya aku mencoba mengambil langkah pertama, namun pada akhirnya aku ditolak.

Aku teringat bahwa begitu aku masuk sekolah menengah pertama, Suzurikawa menyuruhku untuk tidak berbicara dengannya di sekolah.
Kurasa dia merasa repot menyeret hubungan lama dengannya ke lingkungan yang baru, karena dia sedang membangun hubungan baru dengan orang lain. Itu adalah kelanjutan alami dari kerenggangan kami. Mungkin itulah batas dari hubungan antarmanusia.

Bagi dia, aku lebih mirip sebagai penghalang. Hubungan kami, yang sudah tidak berarti apa-apa lagi, telah menjadi seperti orang asing dan seharusnya sudah berakhir sejak lama.

“Praktis sekali ada mesin penjual otomatis di mana-mana, ya?”

Napas Suzurikawa tersengal-sengal. Tapi bukan itu saja. Sebuah gestur melindungi dan menutupi pergelangan kakinya. Dia mencoba menyembunyikan pergelangan kakinya, tetapi itu sangat jelas terlihat. Kami hampir sama sekali tidak mengobrol di sepanjang perjalanan sampai titik ini, tapi tidak ada gunanya mencoba mencairkan suasana di tempat seperti ini. Dia cukup tahu untuk tidak membuat gestur seperti itu, dan ini bukanlah saat yang tepat untuk membicarakannya.

“Aku minta maaf. Aku tidak memikirkan kecepatan jalanmu.”

“Tidak, aku yang minta maaf karena sudah merepotkan kalian.”

“Jangan dipikirkan, Suzurikawa-san!”

“Aku akan lebih memerhatikan kecepatan jalannya dalam perjalanan pulang nanti.”

Kamishiro dan Kouki juga tampak khawatir. Aku sudah terlalu membebantunya. Kebetulan sekali, semua siswa itu berasal dari kelompok anak rumahan yang memilih pulang, tetapi aku tetaplah aku yang tidak pernah absen dari lari dan latihan ototku. Kamishiro, yang dulu berada di klub basket putri saat SMP, serta seorang pria tampan yang menyegarkan dan juga atlet serba bisa. Mungkin itulah sebabnya kecepatan kami cukup cepat untuk mendaki hingga sampai ke titik ini.

Hal ini memberikan beban yang berat bagi Suzurikawa. Dia tidak memiliki kebugaran fisik yang memadai. Dulu, aku pasti akan menyadari bahwa dia memaksakan dirinya terlalu keras. Namun, meskipun itulah jarak yang ada di antara kami sekarang, aku tidak sanggup melihat Suzurikawa berada dalam kondisi kesakitan seperti itu.

“Suzurikawa, buka bajumu.”

“……Eh? D-di tempat seperti ini!? Aku tidak mau diajak melakukan hal semacam itu di tempat lain—”

“Apa yang kamu bicarakan? Cepat perlihatkan kakimu.”

Di tempat lain? Aku mengeluarkan plester penahan dari ranselku dan duduk di hadapan Suzurikawa. Wajah Suzurikawa berubah menjadi merah padam saat menyadari kesalahannya, tetapi dia mengangguk dengan enggan lalu melepas sepatunya.

“A-apa begini sudah benar?”

“Kamu juga harus melepas kaus kakinya, kalau tidak, aku tidak bisa membalutnya.”

“T-tapi……”

“? Aah, baunya tidak menyengat kok, jangan khawatir.”

“K-kau tidak perlu mengatakannya seperti itu!”

Aku sama sekali tidak memiliki niat tersembunyi, tetapi kurasa memang memalukan jika harus berduaan dengan lawan jenis. Aku minta maaf untuk itu.

“Iya, iya. Aku kurang peka. Ini beraroma bunga kok, jadi tidak apa-apa.”

“Kau sama sekali tidak mengahamiku!”

“Tidak, tapi kupikir aku akan melukai perasaanmu jika aku bilang itu berbau……”

“B-Berbau?!”

“Sulit makan kue sus tanpa menumpahkan krimnya.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan! Apakah bau, hei!”

“Baiklah, baiklah. Aku akan menahan napas agar kau tidak menciumnya.”

“Itu sama saja dengan bilang kalau baunya sudah busuk!”

“Jika kau memaksa, aku akan menciumnya. Cium aromanya!”

“Ya, silakan cium! Eh, tunggu, tunggu! Jangan dicium!”

Sekarang, benar. Sekarang bukanlah saatnya untuk menikmati aroma kaki Suzurikawa.

“Jangan gegabah. Tenanglah. Aku akan menyentuhmu sedikit.”

“Nnn….”

Dia tiba-tiba menjadi pendiam, seolah-olah dia adalah gadis yang sedang dalam kesusahan. Dari luar, aku tampak seperti bajingan sesat yang sedang menyentuh kaki telanjang seorang anak SMA. Jika aku dilaporkan, aku akan menyerahkan diri secara jujur.

Namun, Suzurikawa tidak menunjukkan tanda-tanda akan melaporkan kejadian tersebut. Aman. Dengan hati-hati aku menempelkan plester di telapak kaki, dari pergelangan kaki hingga tumit, dari betis hingga tendon Achilles.

“Kau sangat terampil, Yukito. Apakah kau selalu membawanya?”

“Aku sering berlari.”

“Ayo kita gabung klub olahraga bersama.”

“Bagiku, perjalanan pulang adalah tim atletik.”

Aku tidak salah. Sebagai seorang penyendiri di bayang-bayang, satu-satunya hal yang kulakukan saat pulang ke rumah adalah belajar atau melatih ototku. Teman? Hahaha.

“Seberapa kencang ini? Bisakah kau menggerakkannya?”

“Y-ya. …… Kurasa tidak apa-apa.”

“Ini akan sedikit membantu. Pelan-pelan saja di jalan turun.”

“Terima kasih.”

“Beri tahu aku jika kau merasakan sakit. Sampai jumpa nanti.”

“T-tunggu!”

Saat aku hendak pergi, aku dihentikan, tapi seseorang menepuk pundakku dari samping. Ketika aku berbalik, aku melihat Sayuri-chan yang bertubuh mungil, wali kelas kami dengan ekspresi penuh semangat di wajahnya. Dia benar-benar berkeringat.

Zombie, orang ini. Seberapa sedikit staminanya?

“Kokonoe sangat berat …… maaf, tolong beri aku satu …….”

“Sensei, apa yang akan Sensei lakukan dengan hari olahraga anak-anak?”

“Aku belum menikah!”

“Kau akan mendapat masalah pada akhirnya, tahu. Paling tidak, kau harus aktif secara fisik.”

“Aku selalu sampai di rumah sekitar jam 11 malam. Aku terus-menerus makan di luar untuk makan malam, dan akhir-akhir ini alas bedakku tidak menempel dengan baik karena aku sangat kelelahan. Aku tidak punya waktu untuk berolahraga. Hidupku sudah berakhir! Aku akan layu!”

Sensei sangat terpukul. Dia terlalu rapuh untuk pilih-pilih.
Tapi aku merasa tidak nyaman menyentuh guru dewasa itu. Oh, sungguh!

“Kamishiro, tolong ajari Sensei cara memasang plester.”

“A-aku?!”

Aku memanggil Kamishiro, yang sedang memperhatikan dari jauh, dan menyerahkan alat-alatnya kepadanya.

“Kau tadi bilang sesuatu tentang menjadi manajer. Itu adalah pengetahuan yang sangat mendasar.”

“Begitu ya, benar. Un, mengerti. Aku akan melakukannya!”

Dengan ekspresi serius di wajahnya, dia mulai memasang plester dengan tangan yang gemetar.

“Kencang, kencang, kencang!”

“Wawa, maafkan aku!”

“Ah, Sensei, aku menemukan selulit. Ada satu di sini juga.”

“Kau bodoh! Itulah satu hal yang tidak boleh dikatakan kepada seorang wanita!”

“Tenang saja. Aku akan mengajarimu metode pijat yang efektif untuk menghilangkan selulit.”

“Kau bisa berharap mendapatkan nilai yang bagus.”

“Terima kasih. Kishashashasha”

“Aku terlalu takut saat kau tertawa dengan pasang muka datar begitu. Itu bukan ketawa.”

Jam kosong. Aku kembali dari toilet dan duduk di sebelah Suzurikawa.

Dia sedang mengusap pergelangan kakinya, seolah-olah plester itu mengganggunya.

“Benda-benda ini benar-benar ampuh, ya? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya, jadi aku penasaran.”

“Aku punya plester untuk lecet dan luka. Ada juga plester Band-Aid, jadi jangan ragu untuk memberitahuku.”

“Aku heran kenapa kau begitu siap. ……”

“Entah bagaimana, akhir-akhir ini ada banyak kejadian aneh. Aku punya banyak stoknya.”

“Omong-omong, Yukito, kau juga pernah terluka parah saat kelas sembilan.”

“Kau tahu soal itu?”

“Tentu saja aku tahu. Aku sudah mengamatimu sejak lama.”

Kau mengamatiku selama ini? Suzurikawa, dan aku? Untuk tujuan apa?

“Aku tidak mengamatimu. Bahkan hari ini, aku tidak menyadari kalau kau sedang kesakitan.”

“……Soal itu, kenapa kau membantuku?”

Dia tampak berpikir. Kalau dipikir-pikir lagi, Suzurikawa yang kukenal seharusnya jauh lebih agresif dan kasar kepadaku. Sekarang, suasana seperti itu telah memudar. Kesannya tidak cocok.

Seolah-olah dia telah kembali menjadi Suzurikawa yang lama dari masa lalu yang sangat, sangat jauh, tetapi bahkan bukan saat itu.

“Kita adalah teman sekelas di kelompok yang sama. Setidaknya aku harus mengkhawatirkanmu.”

“Teman sekelas…… Begitu ya. Benar juga.”

“Kuberi kau beberapa cokelat. Makanlah dan ceria kembali.”

“Eh? Terima kasih ……. Dulu kau selalu memberiku cokelat.”

Gula adalah obat terbaik untuk kelelahan. Rasanya agak menenangkan.

“Istirahat saja dan sebentar lagi kau akan baik-baik saja.”

Saat aku berbalik untuk pergi, sebuah tangan yang kurus mencekal.

“—-Aku minta maaf, jangan pergi.”

“Itu ……, kau masih melakukannya ya?”

“Eh? Ah, kau ingat …….”

“Aku percaya diri dengan ingatanku.”

Tiba-tiba, aku menyadari ada gantungan boneka beruang jelek yang menempel di casing ponsel Suzurikawa.
Warnanya sudah luntur dan compang-camping. Itu bahkan tidak terlihat bagus. Aku terkejut karena dia masih memakainya.

“Kita bersenang-senang waktu itu. ……”

“Apa kau dan pacarmu sedang bertengkar atau semacamnya?”

“Itu ……. Kau tahu, Hiori bilang dia ingin menemuimu.”

“Aku sudah lama tidak melihatnya. Bagaimana kabarnya?”

“Dia baik-baik saja, tapi kami sedang bertengkar.”

“Benarkah? Itu tidak biasa, mengingat kalian dulu berteman baik.”

“Ya, itu karena aku. Menurutmu apa yang harus kulakukan?”

“Kurasa kau hanya harus meminta maaf.”

Jadi, ternyata bukan pacarnya yang bertengkar dengannya, melainkan adik perempuannya. Tapi jika itu pertengkaran antar saudara, kurasa tidak akan begitu sulit untuk berbaikan. Aku tidak pernah bertengkar dengan Yuri-san.

Hiori-san adalah adik perempuan Hinagi.

Dia adalah seseorang yang memanggilku “Onii-chan,” dan bisa kubilang dia juga adalah seorang adik perempuan yang muda dan dekat bagiku. Aku mengingat Hiori sebagai gadis yang baik dan lembut, dipenuhi dengan kelucuan yang berharga.

“Dia tidak akan pernah memaafkanku. Karena aku juga telah menginjak-injak perasaannya.”

Seolah-olah sedang mengenang sesuatu dengan tatapan kosong, Suzurikawa hanya menatap ke arah alam bebas. Aku adalah orang luar, dan aku tidak bisa mencampuri pertengkaran antara saudara perempuan. Tapi entah bagaimana aku bisa merasakan bahwa dia sedang menugguku untuk mengatakan sesuatu.

“Jika kau tidak bisa kembali ke hubungan kalian yang semula, kau harus membuat hubungan yang baru, kan?”

“…… Eh?”

“Bahkan jika kalian tidak bisa kembali menjadi saudari yang dekat seperti dulu, hubungan persaudaraan yang baru itu terserah pada Suzurikawa dan Hiori-chan, bukan? Yah, apa yang kukatakan ini tidak terlalu meyakinkan mengingat Yuri membenciku.”

“Fufu. Itu tidak akan pernah terjadi. Tapi aku mengerti. Aku tahu. Terima kasih, Yukito, dan…”

Tiba-tiba, ekspresinya melembut sedikit. Tapi itu hanya sesaat, lalu dia mengembuskan napas seolah-olah telah mengambil keputusan, dan mengarahkan ekspresinya yang menegang ke arahku.
Suzurikawa perlahan berdiri, meluruskan punggungnya, dan membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat.

“Aku minta maaf atas semua hal buruk yang kukatakan. Aku pikir aku harus meminta maaf sesegera mungkin. Tapi aku sangat antusias berpikir kalau mungkin kita bisa kembali seperti dulu, dan bersama seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak bisa berpura-pura kalau itu tidak pernah terjadi.”

“Suzurikawa? Apa yang kau bicarakan?”

“Aku tahu aku bersikap egois sekarang. Aku arogan, mementingkan diri sendiri, jelek, dan yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri. Itulah sebabnya…… aku minta maaf!”

Bahunya bergetar dan dia mengulangi permintaan maafnya. Itulah penyesalan yang selama ini dipikul oleh Suzurikawa. Tanpa repot-repot melihat kerumunan orang, dia menyampaikan perasaannya kepadaku. Tapi

“Ehm……… Maaf. Aku tidak ingat kau pernah mengatakan hal buruk padaku.”

“…… Eh?”

Aku hanya merasa bingung. Aku tidak tahu apa yang sedang dimaafkan oleh Suzurikawa.

v1ch3p2

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *