Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch3_ The Price For Lying part 2 Bahasa Indonesia – Litenovel

Ore ni Trauma o Ataeta Joshi-tachi ga Chirachira Mite Kuru kedo, Zannen desu ga Teokure desu V1Ch3_ The Price For Lying part 2 Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

V1Ch3: Harga dari Kebohongan Bagian 2

Penerjemah: Soafp

“Jika ada, akulah yang seharusnya meminta maaf. Maafkan aku, Suzurikawa. Aku tidak bermaksud menceritakan tentangmu kepada semua orang.”

Tadi, ketika Suzurikawa berbicara kepadaku, aku tanpa sengaja keceplosan bahwa Suzurikawa memiliki seorang pacar. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya tentang hal itu, tetapi setidaknya dia merasa tidak enak karena orang lain membocorkan informasi pribadinya.

“Aku menghargai semua yang telah kaulakukan untukku. Aku …… harus diberitahu baru bisa mengerti.”

“K-Kenapa kau malah meminta maaf kepadaku? Akulah yang patut disalahkan! Bahkan pada waktu itu—”

Memang benar ada saat-saat di mana aku pernah mendengar hal-hal kasar dari Suzurikawa. Namun, itu hanyalah sebuah fakta. Aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang kasar. Aku tidak pernah merasa bahwa hal itu tidak masuk akal.

Karena dia dengan jelas mengatakan kepadaku bahwa aku ini menyebalkan, aku jadi bisa tahu diri. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Itu jauh lebih sehat daripada harus menjalani hubungan yang dangkal dengan seseorang yang tidak ingin bersamamu.

“Kita tidak sedang bertengkar. Aku tidak marah, dan tidak ada alasan bagimu untuk meminta maaf.”

Kami berdua tidak berakhir seperti ini karena kami berada di jalan yang berbeda. Satu-satunya hal yang terjadi adalah kami mengambil jalan yang berbeda dan aku tidak bisa berdiri di sampingnya. Aku tidak memiliki penyesalan atau kebencian tentang hal itu.

“—Kau ini baik. Itulah sebabnya aku…… berharap kita tidak pernah bertemu.”

Reuni adalah sebuah tragedi. Jika aku tidak pernah mengenalnya, aku tidak akan membuatnya menunjukkan ekspresi seperti ini pada saat ini juga. Itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah orang yang penting bagiku. Itulah sebabnya.

Aku hanya mengharapkan kebahagiaannya agar aku tidak menjadi penghalang baginya lagi.

Kita sekarang hanya sebatas teman sekelas, didiskualifikasi sebagai teman masa kecil dan bahkan bukan teman biasa.

Aku membasahi handuk di bawah keran dan melilitkannya di atas perban untuk mendinginkan bagian yang sakit. Aku menyuruh Suzurikawa agar tetap tenang dan meninggalkan tempat itu.

“Yuki!”

Kamishiro memanggilku seolah-olah dia sudah tahu kedatanganku. Hal ini membuatku sangat tertekan.

“Apa yang kalian bicarakan dengan Suzurikawa-san?”

“Tiga hal: bau kaki, pertengkaran antar saudari, dan konsultasi tentang jalan masa depan.”

“Uhm…. Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

Itu aneh. Aku sudah menceritakan semuanya kepadanya, tetapi dia sama sekali tidak menangkap maksudnya.

“Kita semua akan pergi bersama-sama lain kali. Yuki tidak bisa datang sebelumnya, jadi bagaimana kalau kamu ikut dengan kami? Aku yakin itu akan menyenangkan. Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi?”

“Suasananya akan terasa canggung, jadi aku lewat saja.”

“…B-Begitu ya. Aku senang kamu memikirkannya!”

Cara dia merosotkan bahunya terasa begitu menyedihkan. Kamishiro memiliki kepribadian yang bagaikan malaikat.

Dia populer karena memperlakukan setiap orang dengan tangan terbuka. Namun sekarang, keceriaan biasanyanya telah hilang. Akulah penyebabnya.
Matanya bergetar seolah-olah dia sedang bergantung padaku. Tidak ada lagi jejak dari kepolosannya.

“Bolehkah aku menanyakan satu hal? Mengapa kamu memilih Shoyo?”

“Karena….. aku tahu Yuki akan pergi ke sana.”

Jawaban terburuk. Meskipun begitu, aku melakukan apa yang harus kulakukan. Kamishiro datang untuk meminta maaf, tetapi aku mengatakan kepadanya bahwa dia tidak perlu datang lagi. Jika aku tidak memberitahunya, dia pasti akan datang ke rumah sakit setiap hari, dan hal itu mungkin akan memicu perhatian yang tidak perlu.

Aku ingin menghindari hal itu. Aku bertanggung jawab atas segalanya, termasuk keputusan yang kubuat sejak awal. Tidak ada alasan bagi Kamishiro untuk mengkhawatirkanku.
Lagipula, jika seandainya dia berpapasan dengan Yuri di kamar rumah sakit, itu akan menjadi insiden besar.

Aku tidak punya niat untuk menemuinya lagi. Namun, dia malah mengejarku.

“Hei, Kamishiro. Kamu benar-benar gadis kecil yang menyedihkan. Apakah kamu pikir aku begitu menyedihkan? Apakah kamu separah itu merasa kasihan padaku?”

“Aku tidak berpikir begitu! Aku tahu kamu tidak menyukaiku. Aku tidak bisa menceritakannya kepada siapa pun di sekolah, dan aku bahkan tidak bisa membantu Yuki dalam rehabilitasimu. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk Yuki. Hanya itu yang bisa kulakukan. …… Kumohon, biarkan aku melakukan sesuatu juga! Kalau tidak,…….”

“Meskipun aku tidak mengingbannya?”

“……Aku tahu Yuki tidak ingin melihatku. Aku hanya menggunakan Yuki untuk kepuasan pribadiku sendiri. Tapi aku benci harus berpisah begitu saja,…….”

Air mata mulai menggenang di matanya yang besar, nyaris tumpah kapan saja.

“Haa ……. Kamishiro. Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Bergabunglah saja dengan klub. Semua orang sedang mencarimu. Tidak cocok bagimu menjadi anak rumahan setelah sekolah.”

“Itu …… maaf. Tapi aku ingin bersamamu!”

“Tidak ada gunanya bersikap keras kepala seperti itu,”

Selama aku ada di sekitar, Kamishiro akan terus disiksa. Aku tidak ingin melihat Kamishiro menderita seperti ini. Lebih baik pergi, dan aku senang melihatnya tersenyum di suatu tempat yang tidak diketahui.

“…… Yuki, apa kamu benar-benar tidak akan bermain basket lagi?”

“Aku bahkan tidak punya penyesalan apa pun sekarang.”

Awalnya aku hanya mendedikasikan diri untuk meredakan patah hatiku. Itu bukanlah sesuatu yang patut dikagumi.

Tetapi kebiasaan yang kudapatkan selama masa itu masih melekat hingga hari ini.

“Tapi aku kadang-kadang masih bermain basket jalanan.”

“B-Benarkah!?”

Saat aku tanpa sadar mengatakan sesuatu yang tidak perlu, reaksi Kamishiro berubah secara drastis.

“Tubuhku semakin melemah dan melambat, ini semacam kebiasaan saja.”

“Kapan!? Di mana?”

“Itu lapangan umum di taman……”

Hei, hei, ada apa ini, Kamishiro? Menyeka air matanya dengan lengan baju, cahaya kembali terpancar di matanya seolah-olah baru saja diisi ulang dengan cepat, dan ketegangan khas Kamishiro pun kembali pulih. Percakapannya terasa agak bersemangat, kontras dengan keadaannya sesaat yang lalu. Perbedaannya sangat drastis sampai-sampai pemutus arus pun sepertinya terpicu.

“A-Aku akan pergi juga! Bolehkah aku ikut?”

“Terserah kau saja, kan?”

“Ya!”

Aku sama sekali tidak bisa menolaknya. Jarak di antara kami terlalu dekat! Matanya yang berbinar-binar mengingatkanku pada seekor anjing yang memohon untuk diajak jalan-jalan. Seandainya dia punya ekor, dia pasti sudah mengibaskannya.

Kamishiro terlihat paling cantik saat bersemangat ketimbang saat sedang murung. Hal itu tidak berubah sejak dulu. Jati dirinya adalah seorang yang gemar berolahraga.

Dia mungkin ingin aktif secara fisik. Saat aku memasukkan kata “klub pulang cepat” ke dalam kolom pencarian, kata-kata yang muncul di kotak saran adalah “pengangguran” dan “penyesalan”, yang mana itu bukan kata-kata yang bagus. Tidak ada alasan untuk membuat Kamishiro terus bersamaku bagaimanapun caranya. Tempatnya bukan di sini. Namun, dorongan itu begitu tak tertahankan, dan pada akhirnya aku malah melakukannya.

“Kamishiro, ulurkan tangan.”

“Guk”

“Baiklah, Kamishiro, kejar.”

Aku mengeluarkan sebungkus permen bola dari camilan yang selalu kubawa sebagai ransum darurat lalu melemparkannya. Kamishiro langsung berlari untuk mengambilnya. Eh, kamu benar-benar mengejarnya? Ah, dia kembali.
Kamishiro, yang kembali membawa permen bola itu, menatapku penuh harap dengan pipi yang sedikit merona. Apa yang harus kulakukan?

“B-Bisakah kamu mengelusku?”

“Dengarkan aku baik-baik, Kamishiro. Kamu bukan anjing. Kamu adalah manusia. Sadarilah itu.”

“Kamu yang menyuruhku melakukannya, Yuki! Aku terpaksa mengambilnya untukmu!”

Apa yang kamu bicarakan? Mengelus anak SMA perempuan, itu perbuatan brengsek mesum…
Bukankah sudah kubilang tadi? Ampun deh, rasanya sudah terlambat untuk itu.

Yah, kalau begitu, mau bagaimana lagi! Aku mengamati Kamishiro lagi selama sekitar 10 detik.

Dia terlihat lebih feminin dari sebelumnya, namun tetap memancarkan kesan polos. Tapi aku tidak bisa berhenti.

Akan kulakukan! Ayo kita lakukan!

“Aku mengerti. Jika kamu merasa seperti seekor anjing, maka aku akan bertindak sebagai pemiliknya.”

“B-bukan itu maksudku, tapi kalau kamu mengelusku, aku tetap akan……”

“Aku siap melakukannya. Anak baik, anak baik, anak baik, anak baik.”

“Y-Yuki!? Kepalanya saja! Itu……Kamu tidak boleh mengelus perutku di situ!”

“Anak baik, anak baik, anak baik, anak baik. Kerja bagus ~ kerja bagus karena sudah mendapatkannya.”

“Hiyan! Jangan sentuh di situ…Ah ……, aku sudah tidak tahan lagi………, hentikan!….”

Kamishiro meronta-ronta kesakitan. Kira-kira berapa tahun penjara ya? Kuharap ada hal-hal yang meringankan. ……

“Apakah kamu sudah ingat kalau kamu adalah seorang manusia?”

“Aku adalah manusia.”

“Fuu. Pengorbananku tidak sia-sia.”

“Yuki! J-Jika kamu melakukan ini pada orang lain, itu namanya pelecehan seksual!”

“Tidak, itu tetap pelecehan seksual bahkan jika itu kulakukan padamu.”

“Kamu menyadarinya?!”

“Bukankah gawat kalau aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan?”

“Meskipun kamu menyadarinya, itu tetap saja gawat!”

Situasinya tetap sama ke mana pun aku melihat. Kamishiro tiba-tiba mulai tertawa.

“Hahahaha…… m-maaf. Tanpa sadar aku jadi mau menangis.……”

“Alergi serbuk bunga?”

“Bukan itu, maaf. Yuki, lenganmu baik-baik saja, kan?”

“Hah. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.”

“Bukan begitu cara kerjanya.……”

Seolah-olah sedang menyentuh tumor, Kamishiro dengan lembut menyentuh lenganku. Bukan hal yang aneh bagiku untuk menjadi curiga. Entah bagaimana, hal itu bisa disebut sebagai kejadian sehari-hari. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.

Obrolan santai dengan Kamishiro. Waktu di antara kami sedikit mundur ke setahun yang lalu.

Meskipun begitu, situasinya jelas berbeda dari setahun yang lalu. Hubungan antara aku dan Kamishiro sekarang tidak setara.

Tidak peduli seberapa banyak aku melecehkannya secara seksual, dia tidak akan pernah menuntutku.

Dan selama hal itu berlaku, hubungan antara aku dan Kamishiro akan terus terjebak dalam keadaan stagnasi yang membeku.

“Apa……! Kenapa?! Aku menjatuhkannya…… ini tidak mungkin benar…… Gak mungkin……–!”

“Ada apa, Suzurikawa-san?”

“Hilang, itu hilang! Tali gantungan……”

Saat kami turun ke kaki gunung dan hendak naik bus, Suzurikawa mulai mengaduk-aduk barang bawaannya seolah-olah sedang panik. Hanya tali tipisnya saja yang tergenggam di tangan Suzurikawa, sementara maskot beruang jelek yang seharusnya terpasang di ujung tali itu telah hilang.

“Barang itu, ya? Benda itu ada di atas sana, kan?”

“Ya. Aku menjatuhkannya di dalam perjalanan turun gunung! Apa yang harus kulakukan…… tanpa benda itu……!”

“Tidak punya pilihan selain menyerah, kan?”

“Tidak!…… Aku akan pergi mencarinya!”

“Jangan konyol. Busnya akan segera berangkat.”

“Tapi–!”

“Talinya putus, itu artinya benda itu sudah berumur panjang. Kamu sudah memilikinya cukup lama, bukan?”

“Tapi…… tapi itu adalah hal terakhir yang diberikan Yukito kepadaku……”

“Aku yakin pacarmu akan membelikanmu yang seperti itu lagi.”

“Hentikan! Aku tidak mau dengar lagi!”

Suzurikawa tampak sangat terpukul. Selera perempuan memang sulit dimengerti. Tapi bukan berarti dia bisa pergi mencarinya. Selama rombongan masih bergerak bersama, sama sekali tidak mungkin baginya untuk menunda kepulangan semua orang hanya demi satu orang saja.

Hal itu tidak tampak begitu penting. Entah bagaimana, aku berhasil membujuk dan menenangkannya saat kami naik bus, tapi dia tampak murung seperti boneka dengan tali yang putus.

[Sudut Pandang Suzurikawa]

Apakah ini juga hukuman dari Tuhan? Apakah ini karena aku begitu bersemangat bisa berbicara dengan Yukito untuk pertama kalinya setelah sekian lama?

Jika iya, ini terlalu kejam. Saat aku terayun-ayun di dalam bus, rasa frustrasi yang tak berdaya menumpuk di dalam diriku. Tali gantungan itu adalah ikatan yang menyatukan kami. Itu adalah benda berharga yang membuktikan keberadaan waktu yang tak tergantikan.

Itu juga merupakan hadiah terakhir yang diberikan Yukito kepadaku. Aku yakin bahkan sekarang, jika aku memintanya, dia mungkin akan memberiku sesuatu sebagai gantinya. Tapi bukan itu yang kuinginkan.

Yang kuinginkan adalah aku sudah tidak lagi memiliki apa yang benar-benar kuinginkan.

Apa yang harus kulakukan…… Apa yang harus kulakukan……? Haruskah aku pergi mencarinya begitu aku kembali? Jaraknya tidak terlalu jauh. Mungkin aku bisa menemukannya sebelum hari gelap.

Tapi aku segera menepis pemikiran itu. Aku lelah. Berkeliling seharian ini sudah terlalu merepotkan. Cuaca mulai memburuk. Akan berbahaya jika pergi sendirian dalam kondisi seperti ini. Tapi bukan berarti aku bisa melibatkan orang lain dalam hal semacam ini.

Jadi, haruskah aku pergi besok? Semakin banyak waktu berlalu, semakin kecil kemungkinan barang itu akan ditemukan.

Tanpa ada jawaban yang jelas, aku berhasil kembali ke sekolah, dan jam wali kelas pun dimulai.
Wali kelasku, Sayuri-sensei, mengatakan sesuatu kepadaku, tetapi aku tidak dapat memikirkan hal lain. Namun, aku tidak boleh mengabaikan apa yang beliau katakan.

“Hei, Kokonoe, di mana dia?”

“Kalau dipikir-pikir, tadi dia bilang kalau dia merasa tidak enak badan dan ingin pulang.”

“Aku tidak dengar apa pun soal itu. Mihou, apa itu benar?”

“Tidak, aku juga tidak tahu.”

“Aku tidak keberatan kalau dia langsung pulang sekarang, …… si pembuat masalah itu. Setidaknya dia bisa memberitahuku.”

Kursinya kosong. Entahlah, aku tidak melihatnya sejak dia tiba di sekolah. Padahal kukira kami naik bus bersama. Apa maksudnya ini? Dia tidak terlihat sakit. Apakah dia tiba-tiba sakit perut…… Mungkin aku harus menghubunginya nanti. Aku yakin dia tidak akan menjawab, tapi aku khawatir.

Rasa gelisah yang tak terkatakan semakin membesar. Entah kenapa, firasat burukku terus bertambah.

[Sudut Pandang Yukito]

“Aku pulang!”

Aku berteriak dengan lantang, tetapi tidak ada balasan. Itu adalah monolog yang menyedihkan.
Hanya satu jam yang lalu, tempat ini dipenuhi oleh keriuhan para siswa, tetapi sekarang aku adalah satu-satunya orang di sana.

Aku berfantasi untuk menjalani kehidupan yang santai di pedesaan di masa depan, tetapi itu hampir tidak mungkin bagi orang-orang modern. Aku, Yukito Kokonoe, hidup dan mati bergantung pada toko serba ada yang berjarak satu menit berjalan kaki dari sini. Aku sudah sangat sering datang sampai-sampai para staf mungkin memberiku julukan yang aneh. Ketidaktahuan adalah kebahagiaan.

Tapi aku tidak bisa begitu saja membiarkannya sendirian, bukan?

Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dengan wajah seperti itu, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Meskipun sekarang kami hanya sebatas teman sekelas, setidaknya aku harus bisa membantunya jika dia sedang dalam kesulitan.

Aku membuat alasan entah kepada siapa dan mulai bersemangat.

Aku membayangkan langkah-langkahnya di dalam kepalaku. Tidak diragukan lagi benda itu ada di sana saat aku berbicara dengan Suzurikawa di puncak gunung. Jika demikian, benda itu pasti terjatuh di suatu tempat sepanjang jalur tersebut. Anginnya tidak kencang. Mungkin benda itu tidak diterbangkan angin, tetapi jika hewan kecil seperti tupai membawanya dengan mulut, benda itu akan hilang. Tidak punya pilihan selain bergegas. Aku segera kembali, saat itu sekitar pukul tujuh belas. Awan tebal menutupi langit dan suhu turun dengan cepat. Waktu tersisa kurang dari satu jam sebelum matahari terbenam.

“Jika aku tidak menemukannya setelah bolak-balik, aku akan menyerah, Suzurikawa….”

[Sudut Pandang Suzurikawa]

Aku dengan sembarangan meletakkan tasku di kamar dan merebahkan diri ke atas tempat tidur. Dengan gerakan tangan yang sudah biasa, aku mengoperasikan ponselku dan membuka galeri foto. Itu adalah rutinitas biasaku.

Ada banyak kenangan tentang saat-saat indah yang kami miliki bersama. Namun, itu berhenti setelah tahun kedua sekolah menengah pertama. Sejak saat itu, semakin sedikit foto yang ada, hari-hari bahagia pun memudar dan hari-hari yang suram terus berlanjut. Foto-foto wajahku di dalamnya terlihat lelah dan kesepian.

“Bisakah kita kembali? ……Aku benci ini”

Aku selalu tersenyum pada masa-masa itu. Pertama kali aku melihatnya, aku pikir dia adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat senang bisa melihatnya. Di sebelahku ada seseorang yang kucintai dan mencintaiku. Kapan pun aku mencoba mendekat untuk mengambil fotonya, dia selalu merespons dengan wajah yang bermasalah, malu-malu, tetapi tetap tanpa ekspresi. Semuanya adalah kenangan berharga, kenangan yang sungguh berharga.

—-Dan sekarang aku telah kehilangan salah satu dari kenangan berharga itu.

Itu adalah foto diriku mengenakan yukata. Setiap tahun, aku biasa pergi ke festival musim panas bersamanya.

Awalnya kami pergi bersama sebagai keluarga, tetapi pada suatu titik kami mulai pergi berdua saja.

Semuanya adalah kenangan yang samar, fana, indah, dan lembut yang kembali padaku. Tetapi semuanya hancur. Aku menghancurkannya sendiri.

Aku bertanya-tanya apakah kami masih bisa pergi bersama seperti ini? Aku bertanya-tanya apakah kami bisa memiliki hubungan yang lebih dalam, pergi bersama ke festival musim panas, bergandengan tangan, berciuman, lalu pulang bersama—- Air mata menggenang di mataku. Aku sangat bodoh, dan aku telah kehilangan sesuatu yang berharga bagiku.

Kenapa? Adalah dosa untuk mengajukan pertanyaan seperti itu. Ini semua salahku. Aku telah membuangnya. Aku, si wanita jelek, picik, dan pengecut, tidak tahan dengan kebahagiaan itu dan menghancurkannya. Apakah kita akan pernah bisa berbicara lagi seperti dulu?
Aku benci ini…… Aku ingin berbicara lebih banyak dengannya…….menyentuhnya seperti dulu…——

Hari itu di festival musim panas, ketika dia mencoba memegang tanganku, aku merasa begitu malu hingga aku menarik tanganku menjauh dan menepisnya secara spontan. Aku tidak ingin dia menyadari betapa gugupnya aku. [TL: Terlalu senonoh]

Aku bertanya-tanya apakah tanganku berkeringat. Aku berpikir dengan putus asa, dan diam-diam menyeka tanganku dengan sapu tangan.
Tetapi dia tidak memegang tanganku lagi. Bukan. Bukan itu masalahnya. Seharusnya aku menyambut uluran tangannya.

Perasaan yang tidak bisa kuraih. Kata-kata yang tidak akan pernah tersampaikan. Aku ingin dia tahu kebenarannya, tetapi aku tidak bisa mengatakannya padanya, dan aku telah sampai sejauh ini tanpa memberitahunya. Andaikan saja aku bisa mengungkapkan perasaanku kepadanya lebih cepat. Penyesalan semacam itu menumpuk dari hari ke hari.
Ketika aku berdiri di hadapannya, kakiku gemetar. Ketika aku menatap matanya, aku takut untuk mengatakan apa pun. Aku merasa seolah-olah dia menganggap bahwa aku tidak lagi penting baginya.
Bukan lagi seorang teman masa kecil, bukan lagi seorang teman, bahkan bukan seorang teman sekelas, melainkan orang asing yang tidak tertarik dan tidak relevan. Aku mungkin dianggap seperti itu. Itu sangat kejam dan mengerikan.

Tetapi aku bisa tahu dari kata-katanya bahwa itu karena dia masih peduli padaku. Aku ingin percaya bahwa dia masih menganggapku penting setelah mengkhianatinya seperti sebuah lelucon. Percaya bahwa itulah alasan mengapa dia bersikap seperti itu adalah satu-satunya hal yang menopang hatiku. Aku tidak tahu bahwa ini akan memberiku lebih banyak rasa sakit.

Namun aku telah mencapai batasku. Aku tidak tahan lagi. Aku senang karena kami berada di kelas yang sama dan itu mungkin menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami. Tetapi itu sangat sulit, dan jarak antara aku dan dia, yang seharusnya begitu dekat, sangatlah jauh.

Bahkan di kelas sembilan, dia terluka parah. Dalam ingatannya, dia selalu terluka. Dia selalu terluka oleh sesuatu. Dan dia tidak pernah sekalipun memberitahuku alasannya. Yang selalu dia katakan adalah bahwa itu adalah salahnya. Dia tidak pernah mengatakan apa pun kepada siapa pun.
Kenapa, kenapa dia harus bertindak sejauh itu—

Hari ini, setelah baru saja berbicara dengannya untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perasaanku menjadi tak terkendali. Perasaan yang telah kutahan berputar-putar bagaikan badai dan mengancam akan meletus.
Aku mendekap lututku, memeluk tubuhku erat-erat, dan dengan lembut mengelus plester penahan yang melilit tubuhku.

Berjalan jauh lebih mudah sekarang. Dia menyadarinya. Dia selalu, selalu, akan menyelamatkanku jika aku meminta bantuan. Tapi dia tidak melakukannya saat itu.
Aku harus mengikuti perasaan ini dengan jujur. Aku teringat kata-kata Yukito.

Bahkan jika kita tidak bisa kembali seperti dulu, kita mungkin bisa menciptakan hubungan yang baru. Jika aku tidak melangkah maju di sini, jika aku tidak melangkah maju sekarang, seluruh tahun ini akan sia-sia.

Aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lain seperti ini. Kalau begitu, aku mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi. Aku bahkan tidak akan diizinkan untuk mendekatinya. Apakah aku benar-benar akan berakhir seperti ini, seorang pengecut? Apakah boleh tetap seperti ini? Tentu saja itu tidak baik.

“—-Kumohon. Satu kesempatan lagi, kumohon.”

Aku mengepalkan tangan yang gemetar seolah memohon pengampunan, berharap seseorang memaafkanku. Seolah untuk menebus hari-hari yang telah berlalu di antara kita.

Aku mengumpulkan seluruh keberanianku dan meminta maaf. Namun ada rasa ketidaknyamanan. Sebuah ketidakcocokan yang tidak akan bisa terisi.
Aku tadinya hanya memikirkan tentang meminta maaf, tetapi kata-katanya membuat pikiranku benar-benar kosong.

“……Apa yang ingin kulakukan pada Yukito”

Aku belum pernah bertengkar dengannya sebelumnya. Dia tidak pernah marah padaku. Selalu hanya aku yang mengatakan sesuatu secara sepihak kepadanya.

Katakan semuanya padanya. Beritahu dia apa yang telah terjadi, mengapa aku melakukan hal-hal yang kulakukan. Aku akan memberitahunya bagaimana perasaanku, secara terbuka dan jujur, dan aku akan menceritakan segalanya tentang diriku, tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang pengecut.
Dan aku akan memberikan semua yang kumiliki. Jadi kumohon, hanya sekali lagi—-.

[Sudut Pandang Yukito]

“Bagaimana mungkin aku bisa menemukan benda seperti ini ……”

Ya, aku menemukannya! Aku sempat kehilangan fokus dan duduk di bawah naungan pohon. Aku sudah bolak-balik sebanyak tiga kali. Meskipun aku percaya diri dengan kekuatan fisikku, aku merasa lelah. Hujan yang mulai turun merenggut tenaga serta suhu tubuhku. Lututku gemetar dan aku tidak bisa berdiri dengan tegak. Hari sudah gelap! Aku mulai terbiasa dengan penglihatan malam, tapi aku mendengar suara burung hantu berhambut dari suatu tempat. Sangat elegan, bukan? Aku senang itu bukan anjing liar. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.

Itu berada di dekat pos enam. Benda itu pasti menggelinding saat dia menjatuhkannya, atau tersangkut di lereng yang sedikit di luar jalur. Aku melihatnya lagi, dan ekspresi di wajah beruang jelek itu sangat menyebalkan. Berapa lama kamu akan menghargai barang seperti ini ……?

Aku membuang semua barang dan kenangan yang diberikan oleh Suzurikawa saat itu. Tidak ada yang tersisa sekarang. Namun, milik Suzurikawa…

Aku menepis pikiranku. Waktunya hampir habis. Jika aku tidak cepat, aku tidak akan bisa pulang tepat waktu. Aku menyeret tubuhku yang berat menuruni lereng—-.

Haa……. Aku senang berhasil menemukannya. Suzurikawa begitu sedih hingga dia pasti akan pergi mencarinya sendiri jika aku tidak melakukannya. Ini hanyalah bentuk kepuasan diriku sendiri.

Selama aku menikmati alam sebanyak ini, aku sudah cukup menikmatinya untuk sementara waktu. Orang kota modern tidak cocok dengan alam.

Sepertinya aku akan pergi ke pemandian umum nanti. ……eh? Kakiku tersangkut di tanah berlumpur.

“Ini sudah berakhir.”

Lututku lemas dan aku kehilangan keseimbangan.

Aah, ini benar-benar buruk. Aku terjatuh ya.

Waktu berlalu dengan lambat. Kredit akhir mulai berputar, dan hidupku sangatlah singkat.

“Bukankah aku kurang dalam memahami orang lain?”

Aku begitu kecewa pada betapa sedikitnya yang kutahu tentang orang lain hingga aku hanya menggelinding menuruni lereng.

V1ch3p3

Daftar Isi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *