Tanin wo Yosetsukenai Buaisouna Joshi ni Sekkyou shitara Volume 1 Bab 05: Tekad Bahasa Indonesia
Bab 05: Tekad
—Semuanya hancur berantakan.
Aku pernah mengalami pengalaman itu sebelumnya.
Aku mulai tersesat. Aku diseret ke dalam kegelapan yang pekat. Di ruang kosong itu, aku tenggelam seolah-olah sedang dihancurkan.
Dunia memudar. Sama seperti tinta yang terkikis lagi dan lagi. Lapisannya mengelupas, memudar, menodai kekosongan. Hati terasa perih, emosi melayu, perasaan menjadi buram.
Di dalam diriku, pengalaman itu masih menyisakan luka yang mendalam.
Saat aku meringkuk di kamarku dengan lutut dipeluk ke dada. Aku menatap ujung-ujung helai karpet satu per satu. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa memahami betapa besar kehilangan yang kualami, dan kelopak mataku terasa panas bagai terbakar.
Penyesalan bukanlah kata yang bisa digunakan untuk menggambarkannya. Kata-kata tidak akan pernah bisa mengungkapkannya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain meronta-ronta di dalam lubang menganga itu.
Tidak ada seorang pun yang menyalahkanku. Aku diberi tahu dengan lembut bahwa itu bukan salahku. Namun, pemikiran yang diucapkan dengan lembut itu justru membebani diriku dengan sangat berat.
——Lebih baik aku dibunuh saja. Aku ingin seseorang mencekikku. Atau lebih baik lagi, kubur saja aku ke dalam tanah.
Meskipun aku menyalahkan diriku sendiri dalam hati, aku tidak bisa membuat diriku menderita. Sifat alamiah manusiaku yang tidak ingin menderita selalu menjadi penghalang.
Pikiranku benar-benar kacau.
Tidak ada cara bagiku untuk membereskan perasaanku. Setiap kali aku mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan pemikiranku, semuanya selalu diselingi oleh kebisingan.
——Sepertinya aku akan terus menderita seperti ini. Aku tidak akan pernah bisa melepaskan diri darinya.
Begitulah yang kupikirkan.
—Suatu hari, pintu kamarku terbuka.
Di sana, aku melihat adikku Sayaka dan ayahku.
Mereka tampak mengkhawatirkanku dan datang untuk melihat keadaanku.
Aku memperhatikan mereka dengan pikiran melayang.
Mereka mencoba berbicara kepadaku tentang sesuatu. Tapi aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa mengerti apa yang mereka katakan. Aku merasa seolah-olah mereka memanggilku dari tempat yang sangat jauh.
“——*———*——” Kata Sayaka.
“——*——*———” Ayahku juga berbicara.
Kata-kata itu diproses sebagai suara di dalam pikiranku.
Suara itu masih bergeming di telingaku, berulang-ulang. Mereka sedang berbicara kepadaku, dengan putus asa.
Aku harus mengatakan sesuatu. Jadi aku membuka mulutku.
Tapi itu tetap saja hanya sebuah suara. Suara itu lenyap ke udara tipis.
Mereka berdua tidak menyerah. Baik ayahku maupun Sayaka mengunjungi kamarku setiap hari, terkadang memegang bahuku, terkadang tanganku, dan berbicara kepadaku berulang-ulang.
Lambat laun, suara-suara itu berubah menjadi kata-kata.
“——Ini sama sekali——tidak seperti kakak.”
“——Kau adalah seorang——anak. Aku tahu itu…”
Pelan-pelan, perlahan.
Kebisingan itu mulai mereda. Dunia yang kacau dan terdistorsi itu mendapatkan kembali keteraturannya.
Aku sudah mencarinya sejak lama.
——Apa yang bisa kulakukan sekarang setelah aku Kehilangannya? Masih ada hal-hal yang harus kulakukan.
Sedikit demi sedikit, aku mulai menyadari hal ini.
Pada saat yang sama, aku merasakan hatiku menjadi lebih ringan.
Dunia mendapatkan kembali warnanya. Dari kedalaman kegelapan, dunia itu mulai bangkit.
Aku memandang ayahku dan Sayaka lalu berpikir.
Aku… Aku—
* * *
—Aku terbangun.
Aku keluar dari mimpi itu.
Hari ini Minggu pagi.
Matahari baru saja terbit, dan aku bisa mendengar suara burung berkicau tiada henti.
Cahaya merembes dari celah bawah tirai yang tertutup. Sebagian kecilnya menyusup ke atas tempat tidur, menutupi sebagian wajahku.
Aku berkedip. Mataku masih berkunang-kunang. Aku tidak bisa tidur lagi.
Saat aku duduk, aku menyadari bahwa kakiku terasa pegal. Pasti karena kemarin aku memaksakan diri menggendong Sayaka. Otot-ototku terasa nyeri.
Aku melirik ke arah meja belajarku dan melihat tempat itu masih berantakan dengan bahan-bahan pelajaran. Aku sempat melanjutkan belajar setelah itu, tetapi perlahan jatuh tertidur dan ambruk di atas tempat tidur.
Jam alarm menunjukkan pukul 7:30 pagi. Ayah dan Sayaka mungkin masih tidur.
Aku berjalan keluar kamar, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Lalu aku turun ke lantai bawah dan masuk ke ruang tamu.
Meskipun dia bangun terlambat, Sayaka tetap makan sarapan. Berpikir untuk membuatkan beberapa potong ham dan telur, aku berdiri di dapur dan mulai menyiapkannya.
Sayaka bangun sekitar pukul sembilan.
Dia pergi ke meja makan dengan mata yang masih mengantuk dan memasukkan makanan yang kubuat ke dalam mulutnya. Dia menguap berkali-kali sambil setengah melamun menonton acara pagi di TV. Lalu dia menatapku dan bertanya,
“Kapan aku tertidur?”
Rupanya, dia ingat bagian saat dia berbicara kepadaku, tetapi dia tidak dapat mengingat apa yang terjadi setelah itu.
“Oh, ayolah. Aku menggendongmu ke kamarmu, kan?”
“Eh? Benarkah?”
Dia menatapku dengan bingung.
“Itu tadi melelahkan, tahu. Dan setelah aku membaringkanmu, kamu menarik ujung bajuku dan memanggilku ‘Onii-chan.'”
“Tidak, aku tidak melakukannya.”
Yah, dia hanya memanggilku “Onii-chan” saat kami masih SD. Entah bagaimana, nama panggilan memalukan itu sudah kadung melekat.
“Tapi benar kok kalau kamu menarik ujung bajuku.”
“Heh.”
Dia menatapku dengan tatapan kosong. Dia sepertinya tidak mempercayaiku.
“Ngomong-ngomong, tolong jangan masuk ke kamarku tanpa izin.”
——Sebenarnya apa yang dia bicarakan padahal dia sendiri yang memintanya? Namun, sepertinya dia tetap tidak akan percaya meskipun aku mengatakannya, jadi aku mengurungkan niat.
Sayaka terus memakan sarapannya tanpa beban.
* * *
Ayahku bangun sekitar pukul 1 siang.
Aku menjadi lapar lagi. Jadi, aku membuat ramen untuk tiga orang. Ini mie segar, jadi rasanya lebih enak daripada ramen instan. Aku mereburnya bersama sayuran selama sekitar dua menit.
“Jangan beri tauge.”
Itulah yang dikatakan Ayah kepadaku, tapi aku mengabaikannya dan tetap memasukkan tauge, kol, dan telur rebus ke dalam mangkuk.
“Tauge dan ramen itu tidak cocok.”
“Padahal biasanya keduanya sangat cocok dengan ramen.”
Menurut ayahku, ramen dan tauge memiliki satu kesamaan: keduanya panjang dan tipis. Tapi teksturnya sangat berbeda, jadi saat kamu memakannya, keduanya justru saling meniadakan kelezatan satu sama lain.
“Keduanya benar-benar tidak cocok.”
Sebagai upaya terakhir, dia mencoba memakan tauge dan mienya secara terpisah. Itulah sebabnya dia makan dengan sangat lambat. Dia mengambil mie dengan sumpitnya dan menggerak-gerakkannya ke atas dan ke bawah untuk menyingkirkan tauge setiap kali sayuran itu menempel di piringnya.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau kamu tidak cepat makan, mienya akan melar.”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja dengan ini.”
Dia terus makan. Sementara itu, Sayaka sudah menghabiskan semua ramennya. Setelah menyeruput kuahnya beberapa kali, dia membawa mangkuk-mangkuk itu ke tempat cuci piring.
“Terima kasih atas makanannya.”
Dia menyikat giginya dan naik ke lantai atas. Aku selesai makan tak lama kemudian, tetapi ayahku bahkan belum menghabiskan setengah bagian dari makanannya.
“Tauge, tauge…”
“Sebenarnya seberapa besar kebencianmu padanya?”
Aku mencuci mangkuk milikku dan Sayaka lalu mengeringkannya dengan lap piring, namun dia masih terus memisahkan tauge dari mienya. Jika keadaannya seperti ini, seharusnya aku tidak perlu menambahkan tauge. Sejujurnya, aku juga merasa kasihan pada ayahku, yang membungkukkan punggungnya sambil menggerakkan sumpitnya.
Saat aku kembali ke ruang keluarga setelah menyikat giginya, dia akhirnya selesai makan. Aku dengan cepat membereskan mangkuknya, mencucinya, dan mengembalikannya ke dalam lemari.
“Ya ampun, tolong jangan masukkan tauge ke dalam sana.”
Dia berkata kepadaku sambil membersihkan sela-sela giginya dengan jarinya. Aku pikir itu kotor tetapi menjawab bahwa aku mengerti.
Ayahku menyalakan TV. Acara siang hari baru saja dimulai.
“Sikat gigimu nanti, Ayah.”
“Tentu saja.” Jawab ayahku. Dia tidak akan mengalami gigi berlubang, tapi terkadang dia lupa menyikat giginya setelah makan.
Aku kembali ke lantai atas dan masuk ke kamarku.
Aku harus belajar untuk ujian tengah semester, tapi aku juga harus memikirkan apa yang akan kulakukan setelahnya.
Aku teringat cerita Yamazaki.
“——Aku sering melihat mereka membuat keributan di tepi sungai. Mungkin berkumpul sekitar pukul 8.00 malam.”
Tempat yang dia beritahukan kepadaku berada di luar jalan utama. Yamazaki tidak tahu apa yang mereka lakukan. Dia bilang mereka mungkin sedang merokok atau minum alkohol yang mereka beli dengan uang hasil merampok.
Biasanya ada sekitar enam atau tujuh orang dari mereka yang berkumpul. Jumlah itu hampir sama dengan orang-orang yang membuat masalah dengan kami di pusat permainan. Itu mungkin kelompok orang yang sama yang selalu berkumpul. Jika mereka berulang kali merampok orang di sekolah dan tempat permainan, tidak heran jika mereka pernah ditangkap sebelumnya.
Pada akhirnya, dia tidak memberitahuku siapa nama mereka. Namun, aku merasa tidak ada gunanya bahkan jika aku mendengarnya. Aku sebenarnya tidak ingin terlibat dengan mereka bagaimanapun juga. Begitu urusan ini selesai, aku ingin memastikan bahwa kami tidak akan pernah harus berbicara lagi.
Prioritas utamaku adalah memastikan keselamatan Sayaka. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah mereka melakukan pembalasan.
Sampai batas tertentu, aku sudah memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang harus kulakukan.
Dasar sungai yang disuruh kutuju berjarak sekitar setengah jam berjalan kaki dari sini. Jaraknya lumayan jauh. Tempat itu juga jauh dari stasiun, jadi tidak akan ada orang yang mampir kecuali ada sesuatu yang salah.
Mungkin, jika aku membuat sedikit keributan, tidak akan ada yang berkomentar.
Aku sendiri yang menabur benih ini. Aku harus menuainya sendiri.
Aku mencoba mengenakan pakaian yang tidak masalah jika kotor. Aku sering mengenakan kemeja kasual dan jeans, tetapi hari ini aku harus memakai pakaian lain. Satu per satu, aku mengeluarkan pakaian yang kutaruh di bagian belakang.
—Dan kemudian aku menemukannya.
Itu adalah pakaian yang biasa kupakai ketika aku masih menjadi berandalan. Warnanya hitam dengan hiasan mencolok. Pakaian itu memiliki penutup kepala, jadi jika aku mengenakannya, orang-orang tidak akan bisa melihat wajahku terlalu jelas. Selain itu, aku tidak peduli jika pakaian itu kotor atau robek sekarang. Aku sama sekali tidak terikat pada pakaian ini.
——Ini seharusnya sudah cukup.
Aku pikir aku tidak akan pernah mengenakannya lagi. Aku bertanya-tanya mengapa aku belum membuangnya. Apakah karena aku berpikir bahwa suatu hari nanti hari ini akan tiba? Atau karena aku pikir aku tidak boleh membuangnya sebagai bukti dari dosa-dosaku di masa lalu?
Aku memejamkan mata. Aku biasa mengenakan pakaian ini dan menghabiskan seluruh waktuku untuk berkelahi. Perlahan-lahan, aku mulai ditakuti hanya karena mengenakannya. Aku merasa senang akan hal itu. Hal itu membuatku merasa seolah-olah aku istimewa.
Sekarang, aku merasa itu adalah ide yang bodoh.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Aku salah mengira bahwa semakin kuat aku dalam berkelahi, semakin aku akan merasa puas. Aku terbuai oleh khayalan keliru bahwa masa depan yang cerah menantiku saat aku terus maju.
Aku membuka mataku.
Tapi sekarang sudah berbeda. Aku bisa melihat apa yang harus kulakukan. Aku tahu bahwa ada hal-hal yang perlu kulakukan.
Di malam hari, aku akan mulai bergerak.
Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi malam ini. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya.
Waktu kami selesai makan malam dan membereskan semuanya, hari sudah lewat pukul delapan.
Matahari sudah terbenam. Keadaan sudah gelap di balik tirai renda. Aku mengangkat cucian yang tadinya dijemur di luar. Berkat terik matahari sepanjang hari, cucian itu sudah kering.
Sayaka sedang mandi, dan ayahku sedang berbaring di sofa. Aku melipat cucian yang kubawa masuk dalam diam, menumpuk bagian milik ayahku, Sayaka, dan milikku secara terpisah.
Setelah itu, aku kembali ke kamarku.
Di kamarku, pakaian dari masa-masa nakal yang kulihat tadi sudah terbentang di atas tempat tidur. Aku mencobanya sekali dan mendapati bahwa aku masih bisa memakainya. Tubuhku sudah bertambah besar sejak saat itu, tetapi ukuran aslinya yang besar serta karet elastisnya yang melar membuat pakaian itu pas di tubuhku yang sekarang.
Aku melepas pakaian yang sedang kupakai.
Lalu, aku mengenakan pakaian baruku dari masa-masa nakal.
Lengan kiri, lengan kanan. Kaki kiri, kaki kanan. Aku menarik ritsleting bagian depannya dan berbalik untuk melihat pantulan sosok itu.
Terlihatlah bayangan diriku yang dulu.
—Diriku yang dulu saat aku kehilangan segalanya.
Aku berjalan turun ke lantai bawah dengan mengenakan pakaian itu.
Ayahku masih bersantai di ruang tamu. Sayaka belum keluar dari kamar mandi.
Aku hanya menampakkan wajahku dan berkata,
“Aku pergi ke minimarket dulu.”
Ayahku melirikku dan menjawab, “Oh.”
Aku mengenakan sepatuku, membuka pintu depan, dan pergi keluar.
Udaranya sedikit dingin. Musim gugur semakin mendalam. Suhu udara turun drastis akhir-akhir ini.
Menjejalkan tangan ke dalam saku, aku mulai berjalan.
Lampu jalan menerangi kakiku. Saat aku melangkah maju, bayangan-bayangan terbentuk di sekelilingku. Kadang bayangan itu menghilang, dan kadang mereka lahir kembali, berputar-putar tanpa henti.
Bulan tidak tampak hari ini. Malam terasa lebih gelap dari biasanya.
Suasananya sunyi. Aku bisa mendengar suara gongan anjing. Tidak banyak orang di jalanan. Sebagian besar toko tutup. Tempat ini memang bukan tempat yang terlalu ramai sejak awal. Tapi hari ini, sepertinya orang-orang bahkan lebih sedikit dari biasanya.
Aku meraba bagian dalam sakuku. Ponselku masih ada di sana.
Aku melewati sebuah minimarket dan berjalan lebih jauh ke dalam.
Dari sudut mataku, aku melihat sebuah sungai. Bantaran sungai tempat anak-anak nakal berkumpul letaknya lebih jauh lagi.
Aku bisa mendengar suara langkah kakiku sendiri. Semakin jauh aku dari stasiun, semakin sedikit lampu jalan yang ada. Tidak ada lagi bayangan di bawah kakiku.
Saat aku mendekati sungai, aku mendengar samar-samar suara aliran air. Aku menyeberangi jembatan dan sampai di seberang. Kemudian aku berjalan lebih jauh ke hilir menyusuri sungai.
——Sebentar lagi aku sampai. Sebentar lagi aku akan melihat mereka.
Aku mengepalkan tangan di dalam sakuku.
* * *
Anak-anak nakal itu berada di bantaran sungai sesuai dengan informasi yang kudapatkan.
Informasi Yamazaki benar. Ada total enam orang dari mereka, termasuk pria berkaus ungu yang kulihat di pusat permainan arcade. Dia masih memiliki bekas luka di wajahnya dari saat aku menghajarnya.
Sisa kelompok itu orangnya sama seperti saat aku melihat mereka di arcade.
Keenam orang itu berteriak-teriak sambil meminum bir kaleng dan chuhai. Sekitar setengah dari mereka juga merokok. Mereka duduk di atas rumput, bertepuk tangan, dan saling mempermalukan satu sama lain, meskipun tidak banyak orang di sekitar.
Meskipun tidak banyak orang, masih ada rumah-rumah di dekat sana. Aku yakin mereka bisa mendengarnya. Itu pasti akan mengganggu para tetangga. Tapi sudah jelas kalau mereka adalah sekumpulan bajingan, jadi kurasa mustahil untuk memperingatkan mereka.
Aku mengenakan tudung jaketku dan bersembunyi di balik jembatan di depan bantaran sungai.
Aku harus mencari tahu apakah perkataan Yamazaki itu benar atau tidak. Sambil mendengarkan, aku berhasil menangkap beberapa percakapan.
“Hei, akan kadorong kau ke sungai!”
Suara itu berasal dari pemimpin kelompok tersebut, yang tadinya biasa mengenakan kaus ungu di balik seragam sekolahnya, namun sekarang mengenakan jaket kulit merah.
Dia sedang menatap rekan sesama berandalannya yang bertubuh sedikit lebih pendek. Mungkin ada hierarki kekuasaan di antara para berandalan itu. Cara dia tertawa dan mengancam mereka hampir mirip seperti tindakan perundungan.
Sang pemimpin merangkul pria bertubuh kecil itu. Kemudian dia menempelkan rokok yang tadi dia pegang di antara jari-jarinya ke pipi orang tersebut.
“Sa… kit…!”
“Kau main-main ya? Ha? Coba katakan hal itu sekali lagi.”
Para berandalan di sekitarnya terkikik menyaksikan pemandangan itu. Aku tidak bisa mengerti apa yang lucu dari hal tersebut. Mereka pasti adalah kera atau semacamnya. Mereka sama sekali tidak terlihat beradab di mataku.
Dia membuang rokoknya ke belakang. Untungnya, api rokok itu sepertinya sudah padam dan tidak ada kemungkinan api itu menjalar. Sang pemimpin kemudian menendang punggung pria bertubuh kecil itu sekuat tenaga.
Pria bertubuh kecil itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam sungai, lalu berguling.
Terdengar cipratan air. Suara derasnya air bisa terdengar.
Arus sungainya lemah. Namun, jika arusnya deras, itu akan sangat berbahaya. Pria bertubuh kecil itu dengan cepat keluar dari sungai, tetapi ditendang lagi dan jatuh kembali ke dalam sungai.
Tawa mereka semakin keras.
Mereka bersenang-senang dan menikmati diri mereka sendiri.
Sungguh sekumpulan keparat. Tapi aku tidak punya kewajiban untuk membantunya.
Pria bertubuh kecil itu, yang basah kuyup, keluar dari sungai dengan merangkak.
Sang pemimpin menjambak rambut pria bertubuh kecil itu. Dia membisikkan sesuatu.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya dia bicarakan.
Namun tak lama kemudian, pria bertubuh kecil itu berteriak.
“Aku tidak bisa! Bukankah itu sebuah kejahatan?”
Suara yang memilukan. Kemudian kepala pria bertubuh kecil itu ditekan ke lantai sekuat tenaga.
“Hah?”
Tampaknya hal itu membuatnya kesal. Sang pemimpin berbicara dengan suara yang cukup keras hingga bisa kudengar.
“Kira-kira kau ini siapa, sialan?”
Dia menindihnya dengan seluruh berat badannya. Pria bertubuh kecil itu meronta-ronta. Dia pasti kesulitan bernapas. Aku bisa mendengar suara teredamnya. Sungguh menyakitkan untuk dilihat.
Beberapa saat kemudian, sang pemimpin melonggarkan tekanannya. Pada saat itu, pria bertubuh kecil itu mendongak dan mengambil napas dalam-dalam. Setelah mengatur napasnya, dia berteriak.
“Hei, kalau aku mengacau, aku akan tertangkap! Sama sekali tidak mungkin!”
“Ha! Bodoh sekali kau! Kau tidak akan semudah itu tertangkap! Bukan berarti kau membiarkan mereka menangkapmu begitu saja dengan barang itu! Hah?”
“Bukan itu maksudku…”
Wajahnya kembali merosot ke tanah. Kata-kata “kejahatan” dan “tertangkap” semuanya begitu meresahkan.
Empat orang lainnya yang mengepung mereka tidak melakukan gerakan khusus. Mereka hanya mengamati kedua orang itu dalam diam. Mereka hanya mengangguk sesekali mendengar perkataan sang pemimpin.
“…Wah—ha…!”
Pria bertubuh kecil itu, yang kepalanya sudah dibebaskan, memegangi dadanya dan bernapas dengan berat.
Namun, sikap membangkangnya sama sekali tidak berubah. Dia terus memelototi wajah sang pemimpin.
Lalu dia berkata.
“Menyerang seorang wanita benar-benar tindakan gila!
——Oh, jadi itu maksudnya.
Begitu aku mendengar kata-kata itu, semuanya terhubung di dalam pikiranku.
Yamazaki tidak berbohong ketika dia mengatakan hal itu.
Aku yakin, tapi pada saat yang sama, aku sangat kesal.
Dia bajingan. Dia benar-benar orang yang menyebalkan.
Pemimpin itu berkata sambil tertawa.
“Bodoh. Itu tidak masalah bagi pengecut sepertimu. Kami akan bersenang-senang sendiri, ya?”
Para anak buah tersenyum kepada pemimpin yang memunggungi mereka.
“Aku ingin melihat wajah pria Ookusu itu saat merintih. Aku ingin tahu seperti apa ekspresinya nanti.”
Aku tertawa dalam hati.
Hahahaha. Apakah kalian ingin melihat wajahku sekarang?
Aku tidak bisa melihat wajahku sendiri, tapi aku tahu seperti apa rupanya.
——Aku ingin membunuh.
Aku yakin aku akan tampak seperti iblis, yang dikuasai oleh niat membunuh dan amarah.
Aku sudah berada di batas kesenanganku. Apa yang dikatakan Yamazaki 100% benar. Jadi, aku tidak perlu ragu lagi. Aku hanya bilang pada Ayah kalau aku mau pergi ke minimarket. Aku harus cepat pulang sebelum dia curiga.
Aku mematikan ponsel di saku dan menyembunyikannya di dalam rumput.
Aku mendekati para preman itu, sambil menghasilkan suara langkah kaki yang kasar.
Punggungku terasa seperti melayang. Aku kembali ke dunia sialan yang pernah aku masuki dulu. Tempat yang seharusnya tidak aku datangi. Tempat yang telah kukeputusan untuk tidak kuDatangi lagi. Tetap saja, aku harus terus melangkah.
Pada akhirnya, para preman itu menyadari kehadiranku.
“Apa, kau…!”
Salah satu dari mereka mencengkeram bahuku. Salah satu dari mereka mencengkeram bahuku, tapi aku menepisnya dan terus berjalan.
“Oi!”
Aku mengabaikan suara di belakangku.
Saat aku berjalan keluar dari kegelapan ke tempat lampu jalan bersinar, pemimpin kelompok itu menoleh padaku.
Dia menatapku dan membelalakkan matanya.
Satu langkah. Dua langkah. Mundur.
Aku tidak peduli, aku terus maju.
“Kau, kau ini, Ookusu…!”
Orang satunya terus bergerak mundur. Aku terus berjalan.
Lambat laun, sang pemimpin terdesak hingga tepi sungai. Tapi dia tidak berhenti. Pada akhirnya, kami berada dalam jangkauan serang satu sama lain.
“K-Kenapa kau ada di tempat seperti ini?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap wajahnya dalam diam.
“Apa kau dengar apa yang baru saja kukatakan? Naa, oi!”
Dia jelas-jelas ketakutan. Dia pasti sedang mengingat saat aku menghajarnya dulu.
“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Oi. Hentikan, kawan. Apa-apaan… sebenarnya kau ini apa?”
Napasnya masih bau, pikirku. Saat aku melihat lebih dekat, aku melihat giginya sangat kotor. Beberapa giginya tanggal. Ada juga bau rokok dan alkohol yang bercampur jadi satu, membuatku ingin mencubit hidungku.
Aku berkata,
“Tidak ada apa-apa khusus. Aku tadi hanya penasaran apa yang sedang terjadi karena tempat ini sangat bising.”
Tapi sekarang tempat ini sunyi senyap seolah-olah itu hanya kebohongan. Para anak nakal lainnya sepertinya sudah menyadarinya. Aku melihat sekeliling dan bertanya.
“Jadi… apa tujuannya?”
“Maksudmu apa?”
“Apa yang ingin kau capai dengan rencana kriminal bodohmu itu?”
Wajah di depanku berkerut gelisah seolah-olah dia menyadari aku telah mendengar semuanya.
“Sial.”
Matanya sudah berbinar-binar sejak tadi. Aku yakin dia sudah tahu di dalam lubuk hatinya bahwa aku lebih kuat darinya. Itulah sebabnya dia tidak bisa memukulku.
Dia menolehkan kepalanya ke samping dan memalingkan muka. Lalu dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Dia melakukan ini beberapa saat, tetapi kemudian bahunya mulai bergetar sedikit.
Aku bertanya-tanya apakah dia mulai putus asa. Dia mulai terkekeh.
“Oh, kau benar-benar sangat menyebalkan!”
Bahkan saat dia mulai berbicara, matanya tidak menatapku. Dia sedang melihat sesuatu di belakangku.
“Akan kujawab jika kau memaksa.”
Suara langkah kaki terdengar dari belakangku. Aku pura-pura tidak mendengarnya.
Wajahnya berubah jelek. Itu adalah senyum cabul dari seorang pria yang yakin akan kemenangan.
Pemimpin kelompok itu berteriak dengan lantang.
“Tujuannya adalah melihatmu menangis dan menyesalinya!”
Pada saat yang sama, langkah kaki di belakangku tiba-tiba melesat maju.
Aku melirik ke samping dan melihat berandalan lain di sana.
Dia sedang memegang sebatang tongkat kayu yang sepertinya baru dia pungut dan hendak mengayunkannya ke arahku.
“…!”
Pikiranku sudah bulat tentang apa yang harus kulakukan.
Gerakan itu tampak seperti dalam gerak lambat.
Sebuah tongkat kayu semakin mendekat. Sosok itu semakin membesar. Berandalan itu mengatupkan giginya saat dia melompat untuk menghantamkannya kepadaku.
Aku bergeser sedikit ke samping dan merentangkan kedua tanganku di depanku.
Tongkat itu menghantamku tepat di lenganku.
“…”
Rasanya tidak separah yang kubayangkan. Orang-orang ini tidak terbiasa berkelahi. Bahkan ketika mereka menindas anak kecil tadi, mereka hanya memanfaatkan rokok dan sungai.
Namun, aku langsung dihantam dengan telak di bagian lambungku.
Aku berguling ke samping dengan berlebihan. Ada lebih dari satu orang yang menyerangku. Aku menarik diri dan menoleh ke belakang ke tempatku semula, lalu melihat dua berandalan lain berdiri di sana.
“Oh?”
Aku berbaring telentang di atas rumput. Rasanya tidak sampai membuatku tidak bisa bangun. Tapi aku langsung mengerutkan kening dan mengusap tanganku di bagian yang baru saja ditendang karena kesakitan.
“Hei, hei, orang apa ini? Bukankah dia benar-benar ikan kecil sialan?”
Pemimpin kelompok itu tersenyum gembira seolah-olah dia baru saja berbohong sebelumnya.
“Ha, ha. Baguslah. Rasanya dia datang jauh-jauh dari seberang hanya untuk dipukuli. Terima kasih banyak, Oi.”
Dia perlahan mendekatiku. Aku meliriknya dengan ekor mata dan meringkuk kesakitan. Aku menarik dan mengembuskan napas, air liur menetes dari mulutku.
“Beraninya kau bersikap begitu angkuh tadi!”
Kaki sang pemimpin diinjakkan ke perutku.
“Aku…!”
…Itu tepat mengenai ulu hati.
Itu benar-benar sakit. Berat sekali rasanya.
Penglihatanku menjadi gelap sesaat. Rasa sakit itu mengaburkan pandanganku.
“Hei, hei, ada apa itu? Kenapa? Kenapa kau tidak coba mengatakan sesuatu?”
Kali ini, sebuah kaki menghantam wajahku.
Rasanya seolah-olah hidungku hancur. Sepatu bot yang licin itu menggores pipiku.
“Ayolah, ayolah, ayolah!”
Lagi dan lagi.
Wajahku diinjak-injak.
——Sakit. Ini sakit. Sakit sekali.
Setiap kali aku diinjak, rasa sakit yang hebat menghantamku.
Mungkin dia menikmati pemandangan diriku yang menderita, kekuatan injakannya perlahan-lahan menjadi semakin kuat. Aku bahkan tidak bisa memikirkan tentang rasa sakit atau penderitaan.
“….ugh.”
“Ini salahmu karena sudah mempermalukanku. Kau akan mati.”
Pemimpin itu berteriak, dan para anak buahnya mengangguk.
Dia mencengkeram kerah bajuku dan memaksaku untuk berdiri.
Aku kesakitan setengah mati sampai-sampai tidak bisa mendongak. Wajahku pasti sudah bengkak. Aku mengangkat mataku untuk melihat wajah sang pemimpin.
Pemimpin itu tersenyum kepadaku.
“Aku dengar tentangmu, tentang masa-masa lalu.”
Dia menjambak rambutku.
Dia mengangkat wajahku secara paksa. Setiap kali angin bertiup, bekas luka di wajahku terasa sakit.
“Kudengar kau cukup tangguh beberapa tahun yang lalu.”
——Diamlah. Aku mendelik ke arahnya.
“Tapi setelah ibumu meninggal, kudengar kau menjadi pengecut.”
Aku mendengar tawa kotor.
Bukan hanya satu orang yang tertawa. Hampir semua orang di tempat itu tertawa.
Anak kecil yang tadi dipukuli itu dibungkukkan oleh para berandal lainnya.
“Kubiarin kau ketemu sama ibumu tersayang~”
Aku tahu itu adalah sebuah provokasi. Faktanya, hatiku diliputi oleh kemarahan.
Apa yang kau tahu?
Rasa sakit itu. Kesedihan itu. Perasaan bahwa segalanya hancur berantakan.
Duniaku telah berubah banyak sejak hari itu. Tidak ada satu hari pun yang tidak kutyesalkan.
Tapi justru karena itulah aku menemukan sesuatu yang harus kulakukan.
Aku tidak mengangkat tanganku dan terus mendelik ke arahnya.
Dia sepertinya tidak menyukai hal itu. Berandal tersebut berdecak.
“Oh, tidak. Kalau saja kau tadi menangis dan memohon pengampunan, aku akan memaafkanmu. Sepertinya kau masih belum cukup dipukuli ya.”
Dia mencengkeram pipiku dengan satu tangan.
Aku akan tetap bungkam.
“Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu!”
Lalu dia melompat dan menendang perutku sekuat tenaganya.
“Ugh…!”
Sebuah erangan tertahan lolos dariku. Punggungku menghantam tanah dengan keras.
Aku tidak bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi selanjutnya.
Tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi. Hanya rasa sakit yang menyiksa otakku berulang kali.
Penglihatanku berbinar-binar. Aku tidak bisa membedakan mana yang atas dan mana yang bawah. Dunia terus berputar.
Aku mendengar sebuah suara. Itu suara yang menyeramkan. Setiap kali suara itu terdengar, tubuhku terasa nyeri. Aku pikir aku sedang menatap langit, tapi sekarang aku mencium bau tanah. Wajahku menempel di tanah, lalu tubuhku melayang di udara. Tinju keras menghantamku. Sepatu kasar menusukku. Aku merasa pusing. Aku bahkan tidak tahu apakah aku kesakitan atau tidak. Tapi penglihatanku terus-menerus terpental. Aku memakan tanah. Air liur keluar dari mulutku. Rasa keseimbanganku sudah lama mati. Aku bahkan tidak tahu apakah ini tubuhku lagi. Aku tidak tahu bagaimana menggerakkan tubuhku. Aku tidak tahu cara berbicara. Aku hanya bisa menatap dunia yang berputar itu dengan linglung untuk waktu yang lama.
Pada akhirnya, dunia berhenti berputar.
Sepertinya semuanya telah berakhir.
Aku bahkan tidak tahu sudah berapa banyak waktu yang berlalu. Penglihatanku hampir benar-benar kabur, dan aku ragu apakah pendengaranku masih berfungsi.
Satu-satunya hal yang bisa kulihat adalah wajah para berandalan itu.
Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengatasinya.
“Terimalah nasibmu. Rempong sepertimu seharusnya tidak usah berurusan denganku.”
Rupanya, telingaku masih berfungsi.
“Sampai jumpa lagi.”
Pemandangan itu sudah tidak asing lagi. Begitu sol sepatu memenuhi bidang penglihatanku, aku merasakan hantaman keras di wajahku.
Aku tidak bisa menjaga keseimbanganku lagi. Aku jatuh tersungkur kembali.
Suara air. Sesak napas. Sensasi air yang meresap ke dalam luka-lukaku. Sesuatu yang hitam dan berkilauan memenuhi udara di hadapanku.
Begitulah cara aku tahu bahwa aku telah didorong ke dalam sungai.
Saat aku mengulurkan tanganku, aku berpikir.
——Ini adalah hukumanku. Aku membuat kesalahan, dan ini adalah dosaku.
——Saat aku kehilangan ibuku, dan kemudian ketika aku menyadari bahwa Sayaka berada dalam bahaya. Aku menyadari bahwa keduanya adalah kesalahanku.
——Aku benar-benar bodoh, bukan? Kenapa aku menjadi orang yang tidak berdaya seperti ini? Aku mencoba melakukan segalanya dengan sempurna, tetapi aku selalu berakhir dengan kegagalan.
Pada saat itu, aku teringat apa yang terjadi empat tahun lalu.
* * *
Seiring aku mulai bergaul dengan Yamazaki, perilakuku menjadi semakin buruk.
Yamazaki selalu terlibat perkelahian. Aku pun secara alami ikut terseret di tengah-tengahnya.
Rupanya, aku adalah seorang petarung yang tangguh.
Semakin sering aku berkelahi, semakin namaku dikenal. Yamazaki juga mengalami hal yang sama.
Kami berdua selalu berkelahi dengan orang lain. Aku tidak begitu ingat alasannya. Ada sekelompok orang yang juga selalu berkelahi sepanjang waktu, dan entah kenapa, aktivitas kami tumpang tindih dengan mereka. Tanpa alasan sama sekali, kami akan memulai perkelahian dan menang atau kalah berulang kali.
Aku ingin mengacaukan segalanya.
Kurasa aku selalu memiliki perasaan itu.
Lebih dari setengah tahun telah berlalu sejak aku bertemu Yamazaki.
Pada saat itu, aku dan Yamazaki sudah dikenal sampai batas tertentu. Bahkan ketika kami menghadapi lawan yang lebih tua, kami tidak takut untuk menantang mereka bertanding. Bahkan jika kami kalah, terkadang kami bertarung lagi dan akhirnya memenangkan pertandingan.
Bukannya aku menyukai perkelahian.
Aku hanya merasa lebih santai saat sedang berkelahi.
Aku tidak yakin kenapa. Mungkin itu bagus untuk melampiaskan dorongan-dorongan yang ada di dalam diriku. Segala kesengsaraan, kepahitan, dan emosi lainnya lenyap sebagai kekerasan. Meskipun aku dipukuli dan hancur berkeping-keping, aku merasa segar kembali secara aneh.
Aku bertemu dengan Yamazaki, mengenakan pakaian yang selera buruknya dipertanyakan.
Aku berjalan bersama Yamazaki, membicarakan hal-hal serius dan konyol. Kapan pun aku menemukan seseorang untuk diajak berkelahi, aku akan mencoba memicu pertengkaran dengan mereka. Tidak peduli apakah hari sudah larut malam atau belum. Bahkan jika kami hampir ditangkap, kami akan lari secepat mungkin.
Saat aku pulang ke rumah, ibuku selalu menungguku. Setiap kali dia melihatku terluka, dia akan memanggilku dengan penuh kekhawatiran.
“——Hei, dari mana saja kamu? Ada apa dengan luka-lukamu itu?”
Dia tampak seperti hendak menangis. Berulang kali, dia memintaku untuk tidak keluar pada malam hari. Tapi aku sama sekali tidak berniat mendengarkan kata-kata itu. Aku hanya menganggapnya menyebalkan.
“Diamlah! Kamu menghalangi jalanku, minggir!”
Aku mengibaskan bahuku dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan pakaianku yang kotor.
Aku tidak tahu mengapa aku begitu kesal, tapi aku hanya ingin melarikan diri.
Gagasan untuk kembali ke sekolah untuk belajar membuatku ketakutan.
——Suasana hatiku sedang baik sekarang. Tolong jangan ganggu aku.
Begitulah yang kupikirkan.
—Itu terjadi pada suatu hari.
Yamazaki berkata kepadaku,
“Kenapa kau tidak bertarung denganku?”
Aku sedang meminum sedikit susu dari karton. Apa? tanyaku balik.
“Kau dan aku, ayo kita bertanding.”
Aku meminum semuanya lalu membuangnya ke tempat sampah di depan toko serba ada.
Aku tahu bahwa suatu hari nanti dia akan mengusulkan hal seperti itu. Kami belum pernah bertarung sebelumnya. Jadi, aku langsung menyetujuinya.
“Tentu.”
Fisik Yamazaki jelas lebih unggul dariku. Meski begitu, aku tidak punya niat untuk kalah.
Lalu, hari pertandingan pun tiba.
Kami menyelinap keluar rumah dan pergi ke tempat yang telah kami tentukan sebelumnya.
Yamazaki dan aku saling berhadapan di sebuah taman yang sepi. Cara menentukan pemenangnya sederhana. Siapa pun yang pada akhirnya tetap berdiri, dialah yang menang.
Aku sangat bersemangat. Aku sudah tahu bahwa Yamazaki itu kuat. Aku tahu jika aku bisa mengalahkannya, aku akan menjadi yang terkuat.
Setelah… 5 menit, akulah orang yang tetap berdiri.
Sosok Yamazaki telah jatuh. Yamazaki tidak bisa berdiri menghadapi serangan gencar ku pada kakinya dan tidak mampu berdiri lagi.
“Sial.”
kata Yamazaki dengan nada kesal. Aku diliputi oleh kegembiraan. Aku berhasil, pikirku.
Aku tidak menyangka akan terjatuh ke dalam keputusasaan setelah itu.
Setelah beristirahat sejenak dan memastikan Yamazaki bisa berjalan kembali, kami berpisah.
Ada penyeberangan jalan yang besar di jalan menuju rumahku, jalan empat jalur dengan lalu lintas yang padat. Meskipun sudah larut malam, banyak mobil yang berlalu-lalang.
Aku menyadari bahwa lampu sedang merah dan berhenti.
Di seberang sana, aku melihat ibuku. Dia rupanya sedang mencariku. Dia berjalan ke sana kemari, melihat sekeliling, dan kemudian menemukanku. Lalu dia menepuk dadanya.
Sungguh merepotkan. pikirku. Dia mungkin akan marah lagi nanti. Kenapa mereka tidak membiarkanku sendiri saja?
Aku memastikan lampunya sudah hijau dan menyeberang jalan. Ibuku sedang menungguku di sana. Saat aku melangkah ke trotoar, aku sekilas melihatnya dan mencoba berjalan melewatinya.
Dia mencengkeram lengan bajuku.
Aku menepisnya, tetapi dia mencengkeramku lagi. Aku menyerah dan berbalik menghadap ibuku.
“Ibu tidak akan bilang apa-apa lagi. Tolong segera pulang…”
Ekspresi sedih di wajahnya itu menyebalkan. Aku semakin merasa kesal.
“Diamlah.”
Aku hanya bisa membalas dengan kata-kata yang sama. Sungguh merepotkan memikirkan sebuah jawaban.
Aku membalikkan badan dan mencoba kembali lewat jalan tadi. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar lagi sebelum pulang.
Aku mendengar suara udara yang terbelah.
Dan kemudian…
“Awas!!”
—Sebuah suara penuh kepanikan terdengar dari belakangku.
Apa? Pikirku, tetapi saat itu sudah terlambat.
Saat aku menolehkan kepala ke samping, aku melihat sebuah truk tangki melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Kakiku bagaikan tertusuk dan terpaku ke tanah karena terkejut dan ketakutan.
Ibuku mencengkeram lenganku dan menarikku.
Aku terlempar ke arah trotoar.
Ibuku hampir terjatuh bersamaku ke trotoar, tetapi dalam keterburu-buruan itu, salah satu sandalnya lepas.
Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke samping.
Untuk sesaat, pandangan kami saling bertemu.
Kemudian, sebuah truk tangki melintas di depanku dengan kecepatan tinggi.
Terdengar suara keras. Suara tabrakan antara manusia dan kendaraan. Suara ban yang berdecit menggesek tanah saat truk itu buru-buru mengerem.
Aku tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi.
Aku perlahan berdiri.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan ibuku yang tadinya ada di sana. Yang tersisa hanyalah jalan raya dengan bekas jejak ban.
——Ke mana dia pergi?
Aku melihat ke arah truk itu dan melihat ibuku bersandar di sebuah tiang, lebih dari 20 meter dariku.
Jantungku berdegup kencang.
Pernapasanku terhenti.
Suhu tubuhku perlahan menghilang. Kata-kata yang bergumam “Ibu…” memudar di mulutku.
Aku berjalan mendekat.
Selangkah demi selangkah. Selangkah demi selangkah.
Dengan hati-hati.
Lambat laun, pemandangan itu menjadi semakin jelas.
Sopir truk itu keluar dari kursi pengemudi dan menelepon seseorang dengan ponselnya. Aku tidak bisa mendengar suaranya.
Yang bisa kulihat hanyalah ibuku yang terbaring di sana.
Saat aku berdiri dekat dengannya, aku menyadari sesuatu.
Kepalanya remuk ke dalam.
Bagai bola basket yang kehilangan angin.
Kepalanya cacat dengan aneh. Wajahnya merah padam. Dan ada darah yang menetes dari mulutnya.
Aku meraih tangannya. Tidak mungkin, pikirku. Hal ini sama sekali tidak mungkin terjadi.
Mata ibuku terbuka sedikit. Mungkin itu sisa-sisa cahaya terakhir.
Mulut kecilnya bergerak.
“…Maafkan aku…”
Tangan ibuku lepas dari tanganku.
Dunia di dalam diriku hancur pada saat itu.
Aku tidak ingat detail tentang apa yang terjadi setelah itu.
* * *
—Pada akhirnya, ibuku meninggal.
Aku diberitahu bahwa dia tewas seketika. Pada saat kematiannya, aku melihatnya bergerak sedikit, tetapi hanya itulah yang bisa dikatakan oleh dokter.
Bisa jadi itu hanya ilusi. Ilusi dari keinginanku. Tapi bagaimanapun juga, hasilnya tetap sama.
Ibuku tidak akan kembali.
Aku tidak bisa berbicara dengannya lagi.
Aku tidak bisa meminta maaf kepadanya lagi.
Aku merasa seperti akan menjadi gila. Barulah pada saat itulah aku menyadari bahwa aku telah melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Kenapa aku tidak berusaha untuk lebih menghadapi ibuku?
Hal itu tidak ada bedanya dengan aku yang membunuhnya. Apa sebenarnya yang ingin kulakukan, hingga menghasilkan akibat seperti ini?
Ujian masuk sekolah menengah pertama benar-benar brengsek. Aku memiliki banyak pengalaman buruk. Sebagai reaksinya, aku mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya.
Tapi bukan berarti aku harus bersikap kasar seperti ini.
Aku tidak tahu seberapa besar beban yang telah kutimpakan padanya. Seberapa besar kekhawatiran yang telah kuberikan padanya?
Baru setelah aku kehilangan dirinya, aku mengerti bobot dari semua itu.
Di pemakaman, baik Sayaka maupun ayahku menangis. Saat aku mendengarkan tangisan mereka, aku merasa seolah-olah aku sedang disalahkan. Ini semua salahku. Dia mencariku hingga larut malam dan mencoba melindungiku dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Aku adalah satu-satunya orang yang hidup dengan bahagia, dan ibuku adalah satu-satunya yang mati.
Aku tidak bisa menerima kenyataan itu.
Para kerabat dan tetangga mengetahui perilaku burukku.
Bahkan jika mereka tidak mengatakannya secara langsung, aku bisa merasakan pandangan mereka tertuju padaku. Bisik-bisik yang kudengar bocor dari ruangan semuanya sedang menjelek-jelekkanku.
『Anak yang benar-benar tidak berguna. Dia mati karena salah anak itu. Andai saja dia yang mati.』
Aku tidak merasa marah mendengar kata-kata itu. Yang bisa kupikirkan hanyalah, “Ya, itu benar.”
Aku tidak bisa mengangkat kepalaku. Yang bisa kulakukan hanyalah terus menunduk selama pemakaman.
* * *
Mulai hari itulah.
Saat itulah aku mulai mengurung diri di rumah.
Kecelakaan itu terekam di kamera perekam video kapal tanker. Jadi pihak kepolisian hanya mengajukan sedikit sekali pertanyaan kepadaku.
Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Aku tidak pernah berbicara dengan siapa pun selain polisi. Kapan pun aku mencoba berbicara, otakku akan mulai bekerja sendiri. Otakku terus mencoba memperlihatkan adegan terburuk yang pernah kulihat.
Setiap kali ambulans lewat di depan rumahku, aku menutupi telingaku.
Jangan ingatkan aku, batinku dalam hati. Aku meringkuk dan memejamkan mata. Tidak ada lagi tempat bagiku untuk lari. Betapapun kerasnya aku berusaha, kenyataan tidak akan pernah berubah.
Aku memikirkan ibuku.
Tidak peduli seberapa buruk aku memperlakukannya, dia tidak pernah menyerah padaku. Dia selalu peduli padaku dan memikirkanku. Lebih dari sekali, dia mencoba mendengarkanku. Ini semua salahku karena aku tidak mau berbicara kepadanya dan memendam kekecewaan ini sendirian.
Aku bahkan tidak tahu kenapa aku begitu keras kepala.
——Bahkan sekarang, aku terkadang teringat pada keputusasaan yang kurasakan.
Aku memuntahkan gelembung-gelembung udara di sungai.
Para preman menghajarku dan melemparkanku ke sungai, dan aku merasa seolah-olah itu sudah tidak bisa dihindari lagi.
Inilah yang pantas kuperoleh.
Terluka, terjebak di dunia yang gelap, dan tenggelam.
Bagaimanapun aku mencoba, aku tidak bisa kembali normal. Ini bukan hanya tentang ibuku. Aku, dan semua orang, harus menerima apa yang hilang sebagai sesuatu yang hilang.
Keputusasaan adalah perasaan yang mengerikan.
Aku pikir aku tidak akan pernah bisa bertingkah ceria lagi. Karena rasa bersalah itu. Aku tidak akan bisa merasa bahagia.
Aku pikir aku akan mati dengan perasaan ini di dalam hatiku.
….Tapi ternyata tidak.
Aku bisa membangun kembali hidupku seperti ini lagi.
Aku bisa merangkak naik dari jurang keputusasaan dan hidup lagi demi tujuan yang baru.
Penderitaan dan rasa sakit itu tidak sepenuhnya hilang.
Namun aku masih bisa melangkah maju.
Pintu kamarku terbuka.
Cahaya bersinar masuk.
Aku menatap tangan yang diulurkan kepadaku dan akhirnya memutuskan untuk menyambutnya.
Baik Sayaka maupun ayahku adalah orang-orang yang penting bagiku.
Aku membuka mataku. Aku tidak peduli jika rasanya sakit karena air, aku membuka mataku.
Aku mengerahkan tenaga ke dalam tubuhku.
Darah mulai mengalir lagi. Aku perlahan-lahan mendapatkan kembali kesadaranku.
Aku bisa merasakan sesuatu yang panas membakar di dalam diriku.
Aku bisa mendengar detak jantungku. Aku masih hidup seperti ini.
Di dasar sungai, tangan kananku menyentuh sesuatu. Aku meraihnya dan mendongak.
Aku menggerakkan lenganku dan berjuang. Ada secercah cahaya samar di permukaan air. Aku bertanya-tanya apakah itu cahaya lampu jalan. Aku berenang dengan kuat ke arah itu.
Lambat laun, cahaya itu semakin dekat.
Aku menggapai cahaya itu.
Tubuhku naik ke permukaan.
Lalu, sekali lagi, aku muncul dari dalam air.
Saat aku memanjat keluar dari sungai, langit malam adalah hal pertama yang terlihat.
Rasa sakit itu datang lagi. Aku tidak merasakannya tadi, tapi sekarang rasanya sakit dan mau tidak mau harus kuwakili. Itu adalah bukti bahwa tubuhku sedang memulihkan indranya.
Lenganku, kakiku, wajahku, perutku, semuanya terasa nyeri. Rasanya lebih sakit daripada luka biasa karena noda air itu.
Namun, itu masih belum tak tertahankan.
Aku mencengkeram rumput di tepi sungai.
Aku perlahan merangkak keluar dari sungai. Aku naik ke daratan dan terengah-engah sambil memegangi pinggangku.
Ketika aku mendongak, aku melihat para berandalan itu sudah pergi. Aku berteriak,
“Tunggu!”
Aku berteriak sekuat tenaga. Para berandalan itu mendengar suaraku dan menoleh untuk melihatku.
“Jangan lari! Kemari!”
——Belum. Aku belum selesai.
Tidak ada artinya jika aku tidak menyelesaikan pekerjaanku. Untuk menunjukkan bahwa aku masih sanggup melakukannya, aku menatap tajam sang pemimpin.
Bahkan dari kejauhan, aku tahu bahwa dia sedang menertawakanku.
Kutebak dia melihat betapa babak belurnya diriku dan memutuskan bahwa satu orang saja sudah cukup. Hanya pemimpin kelompok itu yang mulai berjalan menghampiriku.
Aku menutupi apa yang telah kutemukan di dasar sungai dengan tanganku.
Pemimpin kelompok itu menatapku dari atas, tepat di sebelahku.
“Kau masih mau lanjut?”
Dia menyeringai. Aku menatap wajahnya dan balas tersenyum.
Dia mengangkat kakinya, bersiap untuk mendorongku ke sungai lagi. Itulah saat yang kuincar.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang kupunya, aku berdiri dan mencengkeram kerahnya. Lalu membantingnya ke bawah, menyapu kaki yang satunya hingga terjatuh.
Rasanya sang pemimpin sedang menindihku dari atas.
Kutahan kepalanya di dalam dekapanku. Kutekan tangan kananku ke lehernya.
“Kau tahu apa ini?”
Kau bisa merasakan hawa dingin di udara. Pemimpin itu membeku saat mendengarnya. Dia menatap mataku dalam diam.
Ekspresinya tampak seperti hendak berkata, “Nggak mungkin!” Aku menyipitkan mata.
Saat aku menekan sedikit lebih kuat, dia mengeluarkan suara yang menyedihkan.
“Bagaimana rasanya? Apa kau menikmatinya? Aku sudah membiarkanmu menghajarku separah ini. Aku yakin kau sudah puas. Meskipun aku sempat menguap karena semua serangan payah itu.”
Itu separuh kebohongan, separuh kebenaran. Aku melanjutkan, tidak peduli meskipun ada kebohongan di dalamnya.
“Oh, ngomong-ngomong, bukannya tadi kau sempat bilang ingin berbuat sesuatu pada kakakku?”
Dengan tangan kiriku, aku mengelus lehernya. Tubuh lawan itu tersentak. Aku mendorong tangan kananku lebih dalam.
“Jika kau benar-benar melakukannya, akan kubunuh kau.“
Aku berbisik di telinganya. Diucapkan satu per satu, untuk meningkatkan ketakutannya.
“Akan kubunuh kau. Ke mana pun kau lari, akan kukejar dan kubunuh kau. Aku tidak akan cuma memenggal kepalamu. Aku akan menguliti anggota tubuhmu, menghancurkan selangkanganmu, dan mencungkil bola matamu. Aku akan membuat rasanya begitu menyakitkan hingga kau mati karena rasa sakit itu, dan aku akan terus mengejarmu sampai mati. Ingat itu baik-baik.“
Lalu aku mendorongnya dengan kakiku. Dia merosot, mundur beberapa langkah, dan duduk begitu saja di tempat.
Sang pemimpin mengeluarkan tawa hambar. Mulutnya berkedut.
Dia menatapku tajam, lalu dengan cepat bangkit dan kabur. Para anak buahnya mungkin sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku yakin dia hanya sedang menyelamatkan muka.
Setelah memastikan para berandalan itu pergi, aku langsung merebahkan diri telentang.
Akhirnya, semuanya sudah berakhir.
Aku melemaskan kedua tanganku ke bawah. Aku menatap benda yang tadi kupegang.
Itu hanya sepotong pecahan kaca. Aku tidak peduli itu apa, asalkan aku bisa menakutinya.
Aku melemparkan pecahan kaca itu ke arah sungai. Benda itu mengeluarkan suara letupan kecil lalu tenggelam.
Aku berbaring telentang dan menatap langit malam.
Hampir tidak ada bintang yang terlihat. Tidak ada bulan, jadi langit tampak sangat bersih.
Aku mengembuskan napas panjang.
Aku bertanya-tanya sudah berapa banyak waktu yang berlalu. Mungkin tidak begitu lama. Tapi rasanya begitu lama bagiku.
Suasananya begitu sunyi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Aku bisa mendengar suara gemercik air. Seluruh tubuhku babak belur, dan setiap kali aku bernapas, ada bagian tubuhku yang terasa sakit.
Aku melihat lenganku dan mendapati bagian itu dipenuhi darah dan memar.
Aku harus pulang, pikirku, tetapi tubuhku tidak mau bergerak sesuai keinginanku. Meskipun lawanku tidak terbiasa berkelahi, dia tetap mampu melukai seseorang yang tidak bersenjata. Aku mungkin sedikit menurunkan kewaspadaanku.
Aku mengangkat tubuhku.
Seluruh tubuhku menjerit kesakitan dalam waktu bersamaan. Aku tidak bisa mengangkat kakiku seperti biasanya. Aku menyeret kakiku ke depan.
Aku bergerak ke bagian bawah jembatan.
Aku menemukan ponselku, yang telah kutinggalkan di sana sebelumnya. Aku tidak bisa menyimpannya di saku pakaianku karena takut terjatuh ke dalam sungai.
Aku duduk, bersandar pada tepi sungai alami itu. Aku mengambil ponselku dan menyalakannya.
Aku melihat waktu. Belum ada setengah jam sejak aku tiba di sini.
Itu berarti sudah hampir satu jam sejak aku meninggalkan rumah. Aku tidak ingin membuat ayahku khawatir. Aku harus memaksakan diri untuk pulang.
Saat itulah aku hendak menutup ponselku.
Ponsel itu bergetar.
Ah, pikirku. Aku melihat nama orang itu di layar lagi, persis seperti kemarin.
Aku tersenyum kecil. Aku tidak menyangka akan menerimanya di saat seperti ini.
Aku mengetuk notifikasi itu dan melihat isi pesannya.
Risa Enami: Apakah sekarang sudah baik-baik saja?
Melihat ini, seluruh tenaga di tubuhku terkuras habis.
Pakaianku yang basah menempel di kulitku.
Setiap kali angin bertiup, itu merenggut kehangatan dari tubuhku.
Cahaya dari ponselku terasa menyilaukan.
Risa Enami: Hei, apa kamu mendengarkanku?
Aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu lega melihat kata-kata yang datang dari Enami. Kondisi tubuhku sedang sangat buruk. Luka-lukaku terasa sakit dan aku kedinginan. Jadi, kenapa aku malah mengetik untuk menulis balasan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menghentikan tanganku.
Naoya Ookusu: Aku mendengarkan.
Terlepas dari semua yang telah terjadi, pikiranku tetap tenang. Detak jantungku yang sempat berpacu lebih cepat tadi juga sudah berhenti.
Risa Enami: Ada sesuatu yang tidak aku mengerti.
Enami-san mengirimkan soal tersebut kepadaku dalam bentuk gambar. Sepertinya itu adalah soal fisika. Aku membacanya sekilas untuk memahami isinya.
Aku bertanya-tanya apakah aku seharusnya mengajarinya cara belajar dalam kondisi seperti ini. Aku hampir tertawa.
Rasa sakit menghantamku seperti ombak. Aku mengerutkan kening karena hantaman ombak yang datang tiba-tiba itu. Tidak ada satupun bagian dari diriku yang tidak terasa sakit. Aku rasa tidak ada tulangku yang patah, tapi mungkin ada beberapa yang retak.
Suara angin berhembus. Aku menyentuh layar, sambil menarik lenganku.
Naoya Ookusu: Apa yang tidak kamu mengerti?
Risa Enami: Biar kulihat…
Dia memberitahuku di bagian mana dia mengalami kebuntuan, sedikit demi sedikit. Aku mendengarkan apa yang dia katakan dan mencoba mencari cara untuk membuatnya paham. Bukannya dia sama sekali tidak mengerti dari dasarnya.
Naoya Ookusu: Masalahnya ada di situ…
Aku membalas dengan kalimat yang sedikit lebih panjang. Aku langsung mendapat balasan dari Enami-san.
Risa Enami: Tapi kalau dipikir-pikir, di sinilah…
Naoya Ookusu: Bukan, bukan begitu. Mulai dari…
Rasanya seperti saat itu. Dia membawaku ke restoran cepat saji dan kami belajar bersama. Enami-san langsung mengerti kata-kataku. Dan percakapan itu terus berlanjut.
Aku melupakan rasa sakit itu. Aku terus mengetik dengan terburu-buru.
Risa Enami: Terima kasih. Aku sangat mengertinya.
Dia benar-benar menjadi lebih jujur dari sebelumnya. Itu adalah perasaan yang aneh bagiku.
Naoya Ookusu: Ah, sama-sama.
Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku punya ujian besok. Bagaimanapun juga, aku belum bisa banyak belajar hari ini. Karena aku sudah memutuskan untuk bersaing dengan Fujisaki, aku benar-benar ingin menantangnya juga.
Setetes air jatuh dari rambutku. Aku basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Beberapa tetes air juga mengenai layar. Aku mencoba menyekahnya dengan pakaianku untuk menghindari sentuhan yang tidak diinginkan, tetapi baju itu juga basah. Aku pun akhirnya menyerah.
Aku mendengar suara mobil melintasi jembatan. Aku mendapat pemberitahuan di ponselku.
Risa Enami: Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menantikan sebuah ujian.
Aku terkejut. Dan kemudian aku merasa sedikit senang.
Aku yakin para guru akan terkejut jika nilai Enami-san tiba-tiba naik. Aku pernah dengar kalau dia sering mendapat nilai merah sejak dia berhenti belajar.
Aku juga tak sabar ingin melihat hasil seperti apa yang akan dia dapatkan.
Risa Enami: Apakah kamu juga sedang belajar di sana sekarang?
Aku tidak yakin apa yang harus kukatakan padanya.
Dia sama sekali tidak akan bisa membayangkan bahwa aku sedang berada di padang rumput di tepi sungai dengan luka-luka di seluruh tubuhku. Aku bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Enami-san jika aku memperlihatkan penampilanku yang sekarang.
Aku memberinya jawaban yang aman.
Naoya Ookusu: Aku lelah, sedang berbaring.
Risa Enami: Ada apa dengan itu? wkwk
Itu tidak masuk akal, kan? Aku sendiri pun bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi padaku.
Rasa sakit fisik dan kelelahan mental ini semuanya adalah kesalahanku sendiri. Aku pernah kehilangan ibuku karena diriku, dan sekarang aku telah mendatangkan bahaya bagi adikku. Manusia tidak tumbuh dewasa dengan mudah. Ada saat-saat di mana kita tergoda untuk mengulangi kesalahan yang sama.
Saat aku bersandar di tebing tepi sungai, pikiranku menjadi tenang.
Aku telah melakukan semua yang perlu kulakukan. Tidak akan ada krisis lagi bagi adikku. Aku akan membungkuk kepada Yamazaki dan memintanya untuk mengawasi keadaan, tapi aku yakin aku telah memenuhi keinginan mereka.
Mengalahkan mereka itu mudah. Para pembuat onar itu tidak kuat. Tapi tidak peduli berapa kali kau memukul mereka. Itu hanya akan memperkuat kebencian mereka padaku.
Makanya aku memutus hubungan.
Aku membiarkannya memukuliku sekuat yang dia inginkan. Aku tidak peduli apa yang terjadi pada tubuhku. Aku bisa menunjukkan kepada anak buahnya bahwa dia bisa mengalahkanku. Mereka tidak punya alasan lagi untuk peduli padaku.
Aku tidak peduli apa pun yang diperlukan. Aku siap melalui kesusahan apa pun untuk mencapai tujuanku.
Itulah yang sudah kutuliskan.
Naoya Ookusu: Hei, beri tahu aku tentang itu!
Aku mendapati diriku menulis hal itu. Tentang apa? Enami-san bertanya kepadaku.
Naoya Ookusu: Apa hal yang paling penting bagimu, Enami-san?
Itulah yang kukatakan kepadanya beberapa waktu lalu.
Bagiku, hal yang paling penting adalah keluargaku. Tidak ada kebohongan dalam kata-kata itu. Itulah yang kupikirkan selama empat tahun terakhir. Sejak kematian ibuku, pikiran itulah yang telah menopangku.
Risa Enami: Aku tidak akan membocorkannya.
Tapi, bagaimanapun juga, dia tetaplah Enami-san. Tidak mungkin dia akan memberitahuku.
Ponselku bergetar lagi.
Risa Enami: Kamu benar-benar lelah ya.
Naoya Ookusu: Tutup mulutmu!
Selama ini, aku terus berlari ke depan tanpa melihat ke belakang.
Aku hanya berfokus pada apa yang harus kulakukan dan memikirkan hal itu saja. Aku terus berlari dan berlari, menengok ke belakang beberapa kali, dan sekarang aku beristirahat sebentar.
Tapi waktu itu kini telah usai.
Aku memiliki keluarga yang menungguku.
Aku harus pulang.
Naoya Ookusu: Yah, aku mau belajar.
Risa Enami: Oke.
Kumatikan layar ponselku.
Waktu seperti ini tidak begitu buruk terkadang.
* * *
Aku memastikan tidak ada orang di sekitar sebelum melepas pakaianku. Air telah meresap ke dalam pakaianku dan membuatnya terasa berat. Jika aku berjalan seperti ini, airnya mungkin akan terus menetes.
Aku memeras pakaian yang sudah kuambil. Aku juga memeras pakaian dalamku. Saat kukira aku tidak bisa memerasnya lagi, aku mengenakannya kembali.
Rasanya jauh lebih mudah daripada sebelumnya.
Berdiri secara normal, tidak akan ada air yang menetes.
Aku pergi dari bawah jembatan. Aku berjalan menyusuri dasar sungai dan melangkah ke jalan raya.
Tidak ada orang di sana juga.
Hanya kota malam yang tenang yang terbentang di hadapanku.
Aku tidak ingin siapa pun melihatku seperti ini. Keadaanku sangat mengenaskan. Jika mereka melihatku, mereka akan mengira aku sudah gila. Aku dengan cepat mengenakan tudung jaketku.
Keadaannya sama persis seperti empat tahun lalu. Empat tahun lalu, aku kalah berkelahi dan merasa malu jika tubuhku yang babak belur dilihat orang, jadi aku berjalan dengan tudung ditarik kencang dan tangan di dalam saku.
Setiap langkah terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Kakiku terasa menjerit kesakitan. Kerusakan pada kaki kananku sangat parah. Saat aku mencoba berjalan secara normal, rasa sakitnya menjadi tak tertahankan.
Saat aku berjalan menyusuri sungai, aku bisa melihat permukaan air berkilauan di bawah lampu jalan. Aku menyeberangi jembatan dan menuju ke arah rumah. Jumlah lampu jalan berangsur-angsur bertambah. Aku memalingkan wajahku, berusaha agar tidak terlihat oleh orang yang lewat.
Akhirnya, aku tiba di depan sebuah rumah.
Cahaya lampu terpancar dari jendela-jendela rumah itu. Aku bertanya-tanya apakah mereka sudah menyadari bahwa aku pergi. Dengan hati-hati aku membuka pintu depan.
Bagian dalam rumah itu hampir sama persis seperti saat aku pergi. Aku bisa mendengar suara televisi menyala dengan kencang di ruang tamu. Aku melepas sepatuku dan melangkah naik ke undakan agar tidak menimbulkan suara.
Tapi sepertinya itu saja belum cukup.
—Saat aku hendak menaiki tangga, pintu kamar Sayaka terbuka.
Sayaka menatapku.
Kemudian, dia bergegas turun ke lantai bawah.
“…Ada apa dengan luka itu? Maksudku, dari mana saja kamu…?”
Aku pikir itu buruk dan memalingkan wajahku. Tapi aku malah secara tidak sengaja memperlihatkan wajahku yang bengkak kepadanya.
Namun, semuanya sudah terlambat. Dia mencengkeram lengan bajuku dan dengan paksa menyeretku ke ruang tamu.
Saat pintu ruang tamu dibuka, aku melihat ayahku sedang santai menonton TV.
Sayaka berteriak,
“Ayah! Ayah!!”
Dan kemudian dia menoleh ke arah kami. Pada saat itu, ekspresi ayahku membeku.
Aku berbalik untuk kabur. Tapi tak satu pun dari kedua orang itu yang mengizinkanku melakukannya.
“Naoya! Ada apa denganmu!?”
Dia berjalan menghampiriku dengan kelincahan yang biasanya tidak dia tunjukkan. Dia melepas tudungku dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Pipi dinginku terasa hangat di dalam genggaman tangannya.
Kehabisan akal untuk menjawab, aku berkata dengan suara pelan.
“Tidak ada apa-apa….”
“Bukan ‘tidak ada apa-apa’! Biar kulihat luka-luka itu!”
Ayahku dengan lancang merobek pakaianku.
Apa yang dilihatnya adalah tubuh yang dipenuhi oleh luka. Sangat jelas bahwa sesuatu telah terjadi padaku.
“Kamu…”
Baik ayahku maupun Sayaka tampak kehilangan kata-kata.
Bahkan saat aku menjadi berandal di masa lalu, aku jarang terluka separah ini. Aku tidak membiarkan diriku dipukuli secara sepihak.
“Jangan khawatirkan itu. Ini akan sembuh dalam semalam setelah tidur yang nyenyak.”
Aku mencoba mengambil kembali pakaianku, tetapi ayahku menyembunyikannya di belakang punggungnya.
——Jangan menatapku seperti itu. Aku benar-benar baik-baik saja.
Selanjutnya, Sayaka mencengkeram lenganku. Dia tampak hampir menangis. Aku bertanya-tanya apakah aku telah membuatnya mengira aku kembali menjadi kakak laki-laki yang mengerikan seperti dulu.
“Ini bukan apa-apa. Aku hanya terlibat masalah dengan beberapa berandal dan dipukuli secara sepihak.”
“…Sudahlah. Duduk saja di sana.”
Dia menunjuk ke sofa tempat ayah kami duduk tadi.
“Sudah kubilang aku baik-baik saja.”
“Apa kau lupa apa yang kau katakan padaku kemarin? Kau sendiri yang mulai merawatku tanpa izin kemarin.”
Aku terpaksa duduk. Aku memutuskan untuk menyerah. Memang benar, apa yang kukatakan kepada Sayaka dan apa yang kulakukan pada diriku sendiri sangatlah berbeda.
Sayaka mengeluarkan perban dan kain kasa yang kubeli untuknya. Dia juga meletakkan kotak P3K di atas meja. Kemudian dia menuangkan cairan disinfektan pada lukaku terlebih dahulu.
“Sakit.”
“Tahanlah.”
Aku memiliki luka di seluruh tubuhku. Larutan antiseptik dituangkan secara kasar pada setiap luka tersebut. Kurang terbiasanya dia dengan hal semacam ini membuatku merasa demikian. Ada kalanya cairan itu hampir masuk ke mataku.
Ayahku berkata,
“Ini tidak cukup. Aku akan pergi ke minimarket untuk membeli beberapa. Sayaka, aku mengandalkanmu.”
“Baik.”
Dan kemudian ayahku pergi keluar.
Situasinya jadi agak berlebihan. Kurang lebih dia akan menyuruhku pergi ke rumah sakit. Berpikir bahwa aku akan mencegah hal itu terjadi sendirian, aku terus diserang oleh cairan disinfektan.
“…Sayaka. Bisakah kamu setidaknya menempelkan sedikit kain kasa pada lukanya untuk sekarang?”
Ada kalanya luka yang sama disemprot dua kali. Ada begitu banyak luka hingga dia kehilangan jejak bagian mana saja yang sudah didisinfeksi.
“Mengerti.”
Sayaka tidak begitu mahir menggunakan tangannya. Cara dia memasang kain kasa dan plester tidak begitu rapi. Tangannya terasa lebih hangat dari biasanya.
Sekitar lima menit kemudian, ayahku pulang. Dia telah membeli banyak plester, salep, dan barang-barang lain yang mampu dibelinya. Kantong plastik itu penuh dengan perlengkapan medis.
“Bukankah itu terlalu berlebihan?”
“Tidak ada yang namanya terlalu berlebihan jika kau mempertimbangkan seberapa banyak yang harus kau ganti nanti.”
Di sisi lain Sayaka, ayahku juga mulai melakukan pengobatannya. Sayaka memegang lengan kiriku dan ayahku memegang lengan kananku. Tidak ada apa pun di tubuhku. Aku hanya mengenakan pakaian dalamku, tapi berkat kehangatan ruangan itu, aku tidak merasa kedinginan. Aku memerhatikan dalam diam saat salep dioleskan dan perban dipasang.
Setelah pukul sepuluh, semuanya akhirnya selesai.
Pakaianku sudah dimasukkan ke dalam mesin cuci. Aku ingin mandi, tapi aku tidak bisa melakukannya dalam kondisi seperti ini. Aku menyerah, berpikir akan lebih baik jika aku mandi sekali sebelum aku pergi besok.
Ayahku bertanya,
“Jadi, apa yang terjadi?”
Aku memberikan penjelasan yang sama seperti sebelumnya. Ceritanya adalah aku mencoba pergi ke minimarket dan dihajar oleh sekelompok berandalan. Itu adalah jawaban yang setengah benar, jadi aku yakin dia tidak akan bisa melihat kebohongan itu.
“Kenapa?”
Dia bertanya kepadaku dengan penuh simpati, tidak menyalahkanku dan tidak pula menghiburku.
“Kenapa kamu tidak lebih mengandalkan ayah saja?”
“…”
Bukannya aku bermaksud begitu.
Aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar…
Ayah mendekap kepalaku. Aku menarik napas perlahan dari dada Ayah.
“Kamu bisa lebih mengandalkan Ayah, tahu. Kamu mungkin menyalahkan dirimu sendiri. Tapi tidak ada seorang pun yang akan menyalahkanmu. Jadi, jangan khawatir. Kamu tidak harus bekerja terlalu keras.”
Suara Ayah begitu lembut, dan aku menjawab, “Iya…”
* * *
Aku kembali masuk ke kamarku dan menghela napas panjang.
——Aku belum bisa tidur.
Aku menyalakan lampu dan melihat sekeliling kamar lagi.
Semilir angin dari jendela yang terbuka sedikit menggoyang beberapa kertas.
Ada suara kepakan. Tulisan-tulisan di dinding berkibar tertiup angin.
Banyak kertas tertempel di sekujur dinding kamar.
—Peringkat pertama di angkatan.
—Lulus ujian masuk Universitas Tohashi.
—Menjadi kaya.
—Terus bekerja keras.
Dan seterusnya.
Ini hanya beberapa kata yang aku tulis saat aku memikirkannya. Ketika aku mulai bekerja keras demi tujuan baruku, aku menulis, menulis, dan terus menulis untuk memotivasi diriku sendiri. Dan aku menempelkannya di seluruh dindingku.
Saat aku berjalan sedikit lebih jauh, selembar kertas longgar yang biasa ku pakai belajar menyentuh kakiku.
Satu langkah lagi dan tumpukan buku soal akan membentur lututku.
Aku berpikir lagi bahwa aku tidak bisa bilang kamar Sayaka kotor.
Ini adalah tempat yang kuhabiskan sepanjang hidupku hanya untuk belajar. Saat aku berada di dalam kamar, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengenang masa lalu. Itu membuatku merasa seperti akan gila. Itulah sebabnya aku berusaha untuk hanya memikirkan pelajaranku.
Aku menyiapkan pena ku dan menulis kata-kata di buku catatanku. Saat aku melakukan ini, segala hal yang menghalangi jalanku menghilang dari depan mataku. Pikiranku terasa bahkan semakin jernih. Aku bisa berkonsentrasi penuh pada pelajaranku.
Bagiku, belajar adalah penyelamatanku.
Ada suatu waktu ketika aku melihat pantulan diriku sendiri di cermin saat sedang belajar. Saat itu, mataku merah karena kurang tidur. Aku memasang ekspresi wajah yang menakutkan. Itu adalah wajah seorang pria yang berusaha dengan putus asa untuk melarikan diri dari masa lalunya.
Itulah sebabnya aku tahu bahwa aku tidak boleh membiarkan siapapun melihatku belajar dengan serius.
Aku seharusnya hanya belajar di kamarku sendiri.
Jika tidak, karakterku akan dipertanyakan.
Aku duduk di kursi di depan mejaku.
Aku menyalakan lampu meja. Di atas meja terdapat buku catatan dan buku referensi yang telah kutinggalkan. Belajarku baru separuh jalan.
Meskipun terluka, aku mengambil pena.
Aku tidak akan berhenti belajar hanya karena hal ini.
Aku membuka buku referensi dan membaca isinya. Aku menggerakkan pena. Menyelesaikan soal-soal. Memeriksa jawabanku.
Bagaimanapun juga, aku harus menulis.
Memusatkan pikiranku pada pelajaran.
Semakin aku menggunakan pena, semakin jernih pikiranku.
Aku tidak merasakan sakit lagi.
Rasa sakit dan penderitaan yang kurasakan hari ini perlahan memudar.
Tak lama kemudian, aku jatuh ke dalam kondisi pelepasan diri. Ujian besok, fakta bahwa aku mengincar posisi terbaik, semuanya tertutupi oleh apa yang ada tepat di hadapanku.
Pandanganku semakin menyempit.
Semua indraku mulai melemah.
Ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk terus hidup.
Aku terus berlari, berlari, berlari.
Aku akan terus mencoba, dan terus menjauhkan kematian ibuku dariku.
Bahkan jika tiba saatnya aku harus berhenti.
Bahkan jika tiba saatnya aku tidak bisa berlari lagi, bahkan jika aku merasa kehilangan arah.
Aku akan terus berlari dengan mata tertuju pada jalan di depan, hingga batas kemampuan maksimal yang kumiliki.
“——Aku tidak akan pernah kehilangan pandangan dari orang-orang yang kucintai lagi.”
Pada hari pemakaman ibuku, aku menemui Yamazaki dan mengucapkan kalimat itu dengan pelan.
Suaraku serak. Suaraku begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh deru angin.
Aku tahu jika aku tidak mengungkapkannya lewat kata-kata dan mengeluarkannya, aku akan hancur lebur dan hatiku akan patah. Jadi, aku berusaha mengeluarkan suaraku sekeras mungkin yang kubisa.
Yamazaki hanya menjawab, “Begitu ya.”
“Itulah kenapa aku tidak akan menemuimu lagi.”
Yamazaki hanya mengangguk sebagai balasan padaku.
Aku memutar tumitku.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan debu. Sambil menyipitkan mata, aku menutupi mataku dengan tangan dan mulai berjalan perlahan.
——Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Aku tidak punya apa-apa. Itu tidak berubah.
Tapi kemudian aku sadar. Orang-orang yang aku pedulikan masih ada. Aku bisa hidup hanya demi mereka.
Itulah sebabnya aku telah dan akan terus melangkah maju. Aku tidak akan menoleh ke belakang.
* * *
Hari ujian.
Ketika aku berjalan masuk ke dalam kelas dengan penampilan seperti rongsokan, cukup banyak orang yang mengkhawatirkanku. Wajahku bengkak. Kakiku diseret. Sangat jelas bagi siapa pun yang melihatku bahwa aku tampak tidak normal, jadi mereka bertanya apa yang telah terjadi.
Luka tidak sembuh begitu saja. Rasa sakitnya tidak hilang setelah tidur sehari.
Bagian yang terburuk adalah wajahku. Mataku menyipit tertutup dan pipiku menggembung hingga tingkat yang biasa kau lihat di buku komik. Keadaannya sangat parah sehingga setiap kali teman sekelasku mendekatiku dan melihat wajahku, mereka akan berkata, “Wah!”
Tentu saja, guru menyadari keadaanku yang tidak normal itu.
Dia khawatir aku terlibat dalam semacam kejahatan atau di-bully atau semacamnya.
“——Sebaiknya kamu pergi ke ruang UKS.”
Itulah yang dikatakan oleh wali kelasku, Shiroyama-sensei.
Aku tidak punya pilihan selain mengerjakan ujian tengah semester di ruang UKS.
Aku merasa sangat bersalah karena telah membuat banyak orang khawatir, bukan hanya keluargaku.
Namun di saat yang sama, aku merasa bahagia.
Saat SMP, hal ini sangat tidak terpikirkan. Mereka jelas-jelas membenciku. Tidak peduli seperti apa penampilanku, tidak seorang pun yang peduli.
Tapi sekarang, semuanya berbeda.
Banyak orang yang peduli padaku.
Saito, Shindo, Fujisaki, Nishikawa… dan bahkan Enami-san.
Aku merasa sangat bersyukur atas orang-orang yang begitu peduli padaku.
Aku tidak begitu ingat tentang minggu ujianku. Pokoknya, aku sangat fokus selama ujian dan belajar sepanjang waktu setelah aku sampai di rumah.
Lukaku terasa nyeri sepanjang ujian, tapi itu tidak masalah. Aku telah mempersiapkan diri untuk ujian ini, dan aku tidak akan mengerjakannya setengah-setengah.
Selama ujian, kesadaranku tenggelam ke dalam lembar jawaban.
Konsentrasi yang telah kukurangkan di dalam ruangan itu menarikku ke dalam soal yang sedang dihadapi.
* * *
Itu adalah hari pengumuman hasil ujian.
Kami berkumpul di depan papan pengumuman di lorong.
Sebentar lagi, hasil ujian akan ditempel.
Sekitar satu menit kemudian, para guru membawa selembar kertas besar ke depan papan. Mereka membuka kertas yang digulung itu sedikit demi sedikit, menyematkan keempat sudutnya dengan paku payung, lalu meninggalkan tempat itu.
Di bagian paling kanan kertas itu. Seperti biasa, namaku tertera di sana.
Peringkat 1: Naoya Ookusu, 778 poin
Tidak mengejutkan. Aku sedikit lega, tapi aku sudah yakin akan hal itu.
Saito, yang berdiri di sampingku, berkata, “Kamu di peringkat pertama lagi…”
Suaranya terdengar tercengang.
…Sudah sekitar sepuluh hari berlalu sejak ujian tengah semester berakhir.
Lembar jawaban ujian sudah dikembalikan kepada setiap siswa. Tidak ada perbedaan antara perhitunganku dan nilai keseluruhan yang dipasang di papan. Di papan pengumuman di lorong, hanya nama-nama 50 siswa teratas yang dipajang. Tentu saja, nama Saito dan Shindo tidak ada di papan tersebut.
“Cara belajar seperti apa sih yang sebenarnya kamu lakukan?”
Saito bertanya kepadaku, tapi aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman masam.
Bagaimanapun juga, aku sebenarnya hanya bekerja keras. Aku hanya berkonsentrasi penuh dan mengerjakan soal demi soal terus-menerus.
Aku akan selalu berada di peringkat pertama. Aku sudah memutuskan hal ini sebelum masuk SMA.
Aku tidak boleh membiarkan diriku dikalahkan oleh siapa pun. Itu adalah hal minimal yang bisa kulakukan.
“Enak ya, kan? Kalau aku bisa mendapatkan sepersepuluh saja dari itu, aku bisa menghindari nilai merah.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak coba melakukan sepersepuluh dari apa yang kulakukan?”
Rupanya, Saito memiliki beberapa mata pelajaran yang mendapat nilai merah. Jika mendapat nilai merah, kamu harus mengikuti ujian susulan agar bisa lulus.
“Maaf ya. Aku tahu. Orang-orang serius memang berbeda.”
Setelah berkata begitu, Saito meninggalkan tempat tersebut.
Dia selalu datang untuk melihat pengumuman peringkat teratas, meskipun namanya dipastikan tidak ada di sana. Dia biasa bilang kalau dia penasaran apakah aku akan meraih peringkat pertama lagi.
Yah, setiap kali aku mendapatkannya, dia selalu menatapku dengan sinis.
Tiba-tiba, aku melihat nama peraih peringkat kedua dan menyadari bahwa itu adalah nama yang tidak asing.
Dan orang itu datang berdiri di sebelahku, menggantikan posisi Saito.
“Aku tidak menang…”
Fujisaki merosotkan bahunya.
Dia telah belajar lebih giat dari biasanya, dan peringkatnya naik dari tempat keempat ke tempat kedua, sesuatu yang tidak biasa baginya. Sepertinya dia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk pertandingan melawanku.
Aku berkata,
“Tidak, tapi itu sudah dekat. Tinggal sedikit lagi.”
“Menyebalkan sekali melihatmu begitu santai. Tentu saja, kau bisa berkata begitu ketika selisih skor kita mencapai 50 poin.”
“…Maaf.”
Ya, nama-nama itu berjajar di peringkat pertama dan kedua, tetapi perbedaannya sangat telak.
Tidak peduli seberapa banyak Fujisaki belajar, dia tidak akan bisa meruntuhkan bentengku segampang itu.
“Ah~. Aku kalah dalam pertaruhan. Akulah yang mengusulkan pertaruhan itu, jadi aku harus mematuhinya.”
Dia melirikku dari samping. Sejujurnya, aku tidak peduli yang mana pun, tapi jika aku mengatakannya, dia akan kecewa lagi.
“Benar. Aku ingin tahu apa yang harus aku pesan. Aku bisa memberikan perintah apa pun yang kuinginkan, kan?”
Fujisaki memeluk bahunya sendiri dan melangkah mundur.
“Eh? Apa? Apa yang akan kau perintahkan, Ookusu-kun!”
“Yah, apa yang harus kulakukan…?”
“Tidak, kamu tidak boleh memesan sesuatu yang aneh, ya?”
Aku menertawakan kepanikan Fujisaki.
Tentu saja aku tidak akan memesan sesuatu yang aneh. Tapi aku menganggap reaksinya menghibur, jadi aku memutuskan untuk mengggodanya sebentar.
“Aku tidak tahu apa yang aneh. Beritahu aku.”
“Oh, itu… itu. Aku tidak bisa memberitahumu itu!”
“Jadi, Fujisaki, apa kamu memikirkan sesuatu yang erotis?”
“Ookusu-kun!”
Sangat menggemaskan melihat wajah Fujisaki yang memerah.
* * *
Hari ini, kami mengikuti pelajaran seperti biasa.
Setelah pagi penuh dengan pelajaran, tiba waktunya untuk pergi ke sekolah. Setelah menyelesaikan kegiatan kami di klub sains, Saito, Shindo, dan aku berjalan menyeberangi halaman sekolah menuju gerbang sekolah.
Di depan gerbang utama, kami melihat seseorang seperti biasa.
“Kalian akhirnya datang.”
Tentu saja, itu adalah Enami-san. Belakangan ini, penyergapan tersebut menjadi lebih jarang terjadi. Terutama pada hari-hari ketika aku berpartisipasi dalam kegiatan klub, dia sering kali pergi dengan cepat.
Jadi aku pikir itu sedikit tidak biasa.
Saito dan Shindo meninggalkanku seperti biasa dan berjalan duluan.
Hanya Enami-san dan aku yang tertinggal di sana.
Aku tidak berniat melawan lagi. Hal itu sudah menjadi lumrah. Sekalipun kukatakan kami pulang bersama, jaraknya paling-paling hanya jalan kaki sebentar ke persimpangan T. Tidak ada alasan untuk menolaknya.
Meski begitu, aku berkata,
“Kenapa kamu ada di sini…?”
Enami-san menjawab tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Jangan pedulikan detailnya. Ayo kita pulang.”
Aku mengangguk kecil dan mengikutinya.
Beberapa hari yang lalu, aku menanyakan hasil ujian Enami-san. Sepertinya dia berhasil menghindari nilai merah di semua mata pelajaran, persis seperti yang dia janjikan padaku. Sebaliknya. Aku dengar dia mendapat lebih dari 50 poin dalam pelajaran matematika, yang telah kuajari dengan giat. Aku yakin para guru sangat terkejut. Saat memikirkannya, aku tidak bisa menahan tawa.
Enami-san memegang tasnya di punggungnya, dan rambut cokelatnya bergoyang. Aku berjalan keluar dari gerbang utama dan ke kiri, menuruni bukit. Aku bisa melihat matahari jingga mendekati cakrawala.
“Klub sains, ya? Apa yang kalian lakukan sampai larut begini? Percobaan?”
Dia sedang berjalan di depanku dan tiba-tiba berbalik untuk melihatku. Aku menggelengkan kepala.
“Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu sampai sekarang.”
“Tapi kamu bekerja di Lab 1, kan?”
“Ah… Yah. Tentu saja, kami memang menggunakan lab pertama.”
Namun, sama sekali tidak mungkin klub sains melakukan sains. Sebagian besar kegiatan klub ini hanya bermain game, dan beberapa dari mereka bahkan membawa komputer mereka sendiri untuk bermain game bishoujo.
Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan ini dengan lantang.
“Hmmm. Mungkin aku akan mampir melihat klub sains lain kali.”
“Jangan lakukan itu!”
Dia menertawakanku saat aku berteriak panik.
“Kamu putus asa sekali. Wajahmu merah semua.”
“Diamlah!”
Percakapan semacam ini sekarang sudah menjadi hal yang biasa terjadi sehari-hari.
Aku masih tidak tahu alasan pasti kenapa dia ingin pulang bersamaku, tapi aku jadi menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar kalau kami berjalan bersama seperti ini.
Enami-san adalah orang yang aneh.
Dia memiliki ekspresi dingin sekaligus ekspresi ceria seperti sekarang.
Aku dihampiri oleh Enami-san, yang sudah berjalan beberapa langkah di depanku.
“Apa yang sedang kamu lakukan? Ayo jalan yang cepat.”
Aku mengangguk dan berlari menuruni lereng.
Namun kakiku terasa sangat sakit sehingga aku langsung berhenti. Aku memegang kaki kananku dan meringkuk di sana.
“Maaf, apa lukanya belum sembuh?”
Kemudian Enami-san kembali menghampiriku. Aku menghentikannya dengan tanganku.
“Tidak, ini cuma sedikit nyeri. Aku baik-baik saja.”
Aku segera bangkit berdiri. Sungguh, ini bukan masalah besar. Aku mencoba berlari, tapi jalannya menurun dan aku menjejakkan kakiku dengan cara yang aneh.
“Fufu.”
Entah kenapa, Enami-san malah tertawa. Aku bertanya kepadanya, “Ada apa?”
“Bukan apa-apa.”
Ada apa sebenarnya? Aku cukup yakin ada sesuatu yang terjadi. Karena penasaran, aku melihat ke arah penampilanku dan menyadari bahwa ritsleting di celanaku sedikit terbuka. Aku sempat mampir ke kamar mandi sekali dalam perjalanan keluar tadi, jadi kurasa aku tidak menutupnya dengan benar waktu itu.
“Sial…”
Aku segera menaikkan ritsleting itu. Alangkah baiknya jika dia langsung memberitahuku, sungguh sifat yang usil.
“Hei.”
Enami-san bertanya kepadaku saat aku menyusulnya.
“Apa yang terjadi pada orang-orang yang melukaimu?”
“Ah.”
—Aku teringat apa yang terjadi setelah itu.
* * *
Bagaimanapun juga, para berandalan yang dimaksud tampaknya telah berhenti membalas dendam kepadaku. Aku sempat menemui Yamazaki sekali dan memintanya untuk memeriksa situasinya. Saat itulah dia memberitahuku.
“——Dia bilang dia tidak akan pernah berurusan lagi dengan ikan teri sepertimu.”
Aku menjawab, “Begitu ya.” lalu menepuk dadaku lega.
Segalanya tampaknya telah beres. Bagaimanapun, aspek fisiklah yang dia khawatirkan. Dia telah menghajarku, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.
“Sepertinya kau babak belur cukup parah.”
Yamazaki menatapku dan berkomentar. Aku mengangguk.
“Aku bukan orang yang sama lagi. Aku tidak akan membuat kesalahan demi harga diriku sendiri.”
“Begitu ya.”
Aku menyuruh Sayaka agar tidak pulang sendirian untuk sementara waktu. Untungnya, dia sepertinya memiliki teman yang searah stasiun kereta, jadi akhir-akhir ini mereka pulang bersama.
“Aku mengerti bahwa kau sedang melakukan yang terbaik. Jangan buat aku repot lagi.”
Aku meminta maaf dengan jujur.
“Aku minta maaf. Terima kasih atas bantuanmu kali ini.”
Yamazaki tertawa.
“Kau berbicara kepadaku seperti orang penting saja. Pertahankan saja sikap itu.”
“Aku tahu.”
Lalu aku mengatakannya lagi.
“Aku tidak akan pernah kehilangan pandangan dari orang-orang yang kucintai lagi.”
“Aku tahu.”
* * *
“Tidak masalah. Semuanya sudah diurus.”
“Hmmm. Kuharap begitu.”
Tidak ada lagi kekerasan, tidak ada lagi agitasi. Aku telah kembali ke tempat yang benar. Aku akan menepati sumpahku untuk melindungi tempat yang nyaman ini.
Pada saat itu, perkataan Enami-san terlintas kembali di benakku.
——Tapi bukan itu saja. Aku bertanya-tanya apakah ada hal-hal baru yang akan menjadi penting dalam hidupku mulai sekarang.
Entah kenapa, pikirku.
Kuharap hal-hal berhargaku juga akan bertambah.
Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba memikirkan hal itu. Aku hanya merasakan kembali bobot dari kata-kata “jangan pernah lupakan orang-orang yang kamu kasihi”.
“…”
Enami-san sedang menatapku.
Dia terdiam. Aku tidak bisa membaca emosi di matanya. “Ada apa?” tanyaku, dan Enami-san tertawa lagi.
“Kamu menutup ritsletingnya, kan?”
“…”
“Bukankah kamu senang, itu disadari.”
Aku mengembuskan napas panjang. Aku tidak tahu kenapa Enami-san memperlakukanku seperti anak kecil.
Aku mengabaikannya dan mulai berjalan pergi.
“Oh, apa kamu marah?”
“Tidak, aku tidak marah.”
“Kamu marah.”
“Tidak, aku tidak.”
Saat kami terus berbicara, kami perlahan bergerak maju. Enami-san dan aku berjalan berdampingan.

Komentar