Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan Volume 13 Bagian 10 & Epilog Bahasa Indonesia
Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan – Vol 13 Bab 5 Bagian 10 & Epilog Vol 13
Ini babnya. Selamat menikmati~
ED: LonelyMatter
Bagian 10
Itu adalah sebuah medan perang.
Pedang-pedang patah tertancap di tanah, tombak-tombak hancur bergelinding dihembus angin, dan zirah-zirah kosong hancur berkeping-keping. Tidak ada mayat, dan tidak ada bau darah. Anehnya, jika kau melihat ke langit, tempat itu dipenuhi oleh pedang, sama seperti di atas tanah.
Lebih akurat jika dikatakan bahwa dunia ini adalah kuburan perlengkapan perang.
Di tengah-tengah semua itu, Hiro melanjutkan perjalanannya dalam diam.
“Apakah ini… akhirat?”
“Sayangnya bukan. Ini adalah perbatasan yang mengarah ke Istana Pahlawan.”
Suara yang datang dari belakang mengejutkan Hiro, dan dia langsung berbalik.
“Sudah lama sekali, Kakak ipar.”
Melihat pemuda berambut pirang dan bermata pirang itu, Hiro langsung menurunkan kewaspadaannya.
Pemuda dengan wajah yang terluka itu merangkul bahunya dengan akrab.
Dia adalah Kaisar pertama Altius, adik ipar sekaligus rekan seperjuangannya yang telah bertarung bersama Hiro melewati masa-masa penuh gejolak seribu tahun lalu.
Sebelum Hiro sempat bertanya mengapa dia berada di sini, Altius memotongnya.
“Apakah kau puas?”
Dia tidak bertanya puas akan apa. Kata-kata itu bisa berarti banyak hal.
Maka Hiro menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, apakah kau sudah selesai?”
“Aku telah mencurahkan seluruh waktu dan usahaku. Aku tidak punya penyesalan lagi.”
“Benarkah?”
“Ya. Dan aku pikir orang-orang dari masa lalu harus melangkah maju dan tidak berlama-lama tinggal.”
Jika “pemurnian” Kaisar Api telah memungkinkan Hiro untuk bertahan hidup, itu bukanlah hal yang baik. Kemunculannya disaksikan oleh banyak orang.
Para prajurit Grantz yang tidak sempat berpikir di medan perang akan mengetahuinya setelah perang usai.
Mereka akan mengklaim bahwa itu disebabkan oleh Raja Naga Hitam dan bahwa dia harus dibawa ke pengadilan.
Tetapi Liz dan yang lainnya pasti akan melindungi Hiro.
Itu bisa memicu perang atau masalah baru. Jadi, begini saja sudah baik.
“Hal itu terjadi lagi. Kau mengambil kebebasan untuk membayangkan dan menarik kesimpulan terburuk yang mungkin terjadi. Kau selalu bersikap negatif terhadap tindakanmu sendiri seperti biasanya.”
Altius bergumam, dan pada saat yang sama, dia menepuk kepala Hiro.
“A-apa yang kau lakukan?”
Kekuatan pukulan itu begitu kuat sehingga Hiro terjatuh ke tanah dan mengeluarkan suara marah yang bernada menuduh kepada Altius.
Tetapi Altius melipat tangannya dan menatapnya dengan arogan.
“Kau selalu seperti ini. Kau tidak peka terhadap perasaan orang lain, seorang bodoh yang mengira pemikirannya sendiri adalah yang terbaik, dan bahwa itulah hasil yang paling utama.”
“Tapi sejauh ini, aku benar…”
“Diam dan dengarkan saat aku sedang berbicara.”
Tatapan di matanya yang menyuruhnya untuk diam sudah cukup untuk membuat Hiro terbungkam.
“Aku tidak tahu apa yang dia sukai darimu.”
Altius, yang duduk di tengah ruangan sambil menatap wajah Hiro, memiringkan kepalanya.
“Meskipun dia mengubah penampilannya dan keadaan jiwanya, dia tetap ingin berada dekat dengan pria yang dicintainya, dan dia menolak pergi ke Istana Pahlawan, demi mempercayai masa depan yang mungkin atau mungkin tidak akan terjadi.”
Altius mengembuskan napas panjang dan menepuk kepala Hiro.

“Kamu adalah seorang anak kecil. Kamu adalah anak manja yang tidak ada gunanya. Tapi orang-orang bilang semakin sulit seorang anak diurus, semakin manis pula dia. Aku membenci pikiran negatifmu, tapi kamu tetap satu-satunya adik iparku yang berharga.”
Altius memasang ekspresi rumit di wajahnya, percampuran antara kemarahan dan kesedihan. Hiro, yang tidak bisa menyangkal kebenaran dari setiap perkataannya, menatapnya dengan ekspresi tercengang tetapi kemudian mengerutkan kening saat menyadari sesuatu yang ditarik Altius dari saku celananya.
Itu adalah kertas hitam familiar yang telah menyegel ingatan Hiro. Awalnya berwarna putih, tetapi melalui proses mendapatkan kembali kekuatannya, kertas itu telah berubah menjadi hitam dan menghilang. Kartu lainnya berada di tangan Altius, sebuah kartu putih bersih tanpa noda sedikit pun.
“Apa itu?”
tanya Hiro, dan Altius memasang ekspresi jenaka, membusungkan dadanya seolah bangga atas kemenangannya.
“Ini adalah polis asuransi untukmu, orang yang suka berkorban. Kamu harus berterima kasih. Tubuhku hancur karenanya.”
Ekspresi keheranan menyebar di wajah Hiro saat ia menyadari makna di balik kata-kata tersebut.
“Kamu melihat seribu tahun ke masa depan?”
“Tentu saja tidak… Aku tidak tahu prosesnya, tapi aku hanya membaca hasilnya, dengan asumsi kamu akan tetap sama seperti sebelumnya.”
“Jadi aku menari di telapak tanganmu.”
Kedua selembar kertas itu menempel di telapak kakinya. Hiro memiringkan kepalanya saat ia memandang bergantian ke arah dua kertas yang menempel di bawah kakinya dan wajah Altius.
“Apa lagi yang sedang kamu rencanakan?”
“Aku telah mentransfer kekuatan ‘demon’ di dalam dirimu ke kertas hitam—‘jimat roh’.”
“Hah?”
“Aku telah melakukan tindakan pencegahan selama seribu tahun seandainya kamu dipanggil lagi agar kamu bisa menjadi manusia normal.”
Altius, yang begitu senang hingga ia tersenyum lebar, menyombongkan diri dengan bangga dan menambahkan seolah-olah ia menyadari sesuatu.
“Raja Roh sepertinya sedang merencanakan sesuatu juga. Apa kamu berbicara dengannya?”
“A-Aku tidak mendengar apa pun.”
“Kupikir dia setidaknya akan mengatakan sesuatu tentang kekalahan, tapi dia masih bersikap sembrono seperti biasanya.”
Saat Altius mengatakan ini, Hiro teringat—ketika Raja Roh muncul, dia mengira wanita itu telah menyatakan kekalahannya. Dia mengira itu ditujukan kepadanya.
“Yah, saat Hiro muncul di sini, itu berarti aku menang.”
Hiro buru-buru menghentikan Altius, yang terus berbicara sendiri.
“T-tunggu sebentar. Apa yang sedang kamu coba lakukan?”
Altius menyipitkan matanya bagaikan bilah pedang yang tajam dan berkata dengan sungguh-sungguh kepada Hiro yang kebingungan.
“Aku telah memperdayamu selama ini, asal kamu tahu. Kembalilah ke duniamu; masih terlalu cepat bagimu untuk datang ke sini.”
“T-tentu saja, itu tidak mungkin…”
Hiro telah ditikam hingga tewas oleh Death Immortal. Tubuhnya hancur lebur, dan tidak ada tempat lagi baginya untuk kembali.
“Wadahmu hanya rusak saja. Tubuhmu awalnya sudah terdistorsi oleh kutukan itu.”
Saat Altius mendekati Hiro, dia memungut dua lembar kertas dari bawah kakinya.
“Proses ‘pemurnian’ itu tidak membantumu; tubuhmu hancur saat kamu kembali normal. Jadi, aku menggunakan ini.”
Suara Altius terdengar gembira saat dia menyerahkan kertas hitam itu kepadanya.
“Aku yakin aku bisa merekonstruksi tubuhmu dengan kekuatan ‘demon’ yang disegel.”
Di bawah kertas hitam itu terdapat selembar kertas putih.
“Aku telah menempatkannya di dalam Flame Emperor. Dia akan menghidupkan kembali jiwamu.”
Dia mengulurkan tangan tersisa miliknya. Tidak ada apa-apa di sana. Hiro mendongak menatap Altius dengan rasa penasaran dan melihat senyum bermasalah di wajahnya.
“Atau… apakah kamu ingin pergi ke ‘Palace of Heroes’ bersamaku?”
Dulu, mereka adalah rekan seperjuangan dan menjelajahi dunia peperangan bersama-sama.
Namun sekarang… Hiro benar-benar bingung, bagaikan anak kecil yang tersesat.
Melihat ekspresi ini, Altius tertawa dengan rasa kasihan di wajahnya.
Epilog
Ibu kota kekaisaran yang besar dipenuhi dengan berkat.
Setiap sorak-sorai dipenuhi dengan kegembiraan. Setiap kata penuh dengan doa restu.
Dia melambaikan tangannya dari anjungan, dan di bawahnya, Alun-Alun Istana dipenuhi oleh orang-orang.
Setiap orang memiliki senyuman di wajah mereka, tanpa jejak kekhawatiran, begitu cerah hingga tidak ada sedikit pun petunjuk kecemasan.
Wanita yang berdiri di atas balkon tersebut memonopoli pandangan semua orang.
Dahulu kala, bangsa itu berada di ambang krisis eksistensial, dan setiap orang merasa hancur oleh ketakutan.
Namun sekarang, setelah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya itu teratasi, negara tersebut sekali lagi diagungkan sebagai juara dan berkuasa atas benua tengah.
Semua ini berkat seorang wanita yang mengatasi keputusasaan serta keadaan sulit dan memimpin rakyatnya meraih kemenangan dalam berbagai pertempuran.
Itulah mengapa rakyat memujinya.
Seorang maharani yang hebat, pahlawan besar yang melindungi tanah air mereka.
――Maharani Api Merah.
Ada orang-orang yang meneriakkan julukan wanita tersebut.
Bukan hanya satu atau dua. Banyak yang mulai membicarakannya.
Mereka berteriak dengan lantang untuk menyambut kelahiran seorang Maharani baru.
Seolah menanggapi perasaan rakyat, wanita itu melambaikan tangannya sekali lalu meninggalkan tempat kejadian.
Meskipun mimbar kehormatan itu telah kosong, sorak-sorai tetap berlanjut.
Ibu kota kekaisaran tidak akan kehilangan cahayanya untuk beberapa waktu ke depan.
Orang-orang akan menghabiskan malam di kedai-kedai minuman sambil menyanyikan pujian bagi “Maharani Api Merah”, para penyair keliling akan menggubah puisi untuk menghormatinya, dan orang-orang akan terus menceritakan kisah-kisah tentang kepahlawanannya.
Seiring berjalannya waktu, dia akan menjadi sosok legendaris, dan seiring waktu pula, dia akan menjadi sebuah mitos.
Karena dia telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya.
Kembali ke dalam istana, wanita itu berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan balkon dengan ruang singgasana.
Koridor yang diapit oleh dinding putih bersih itu dilapisi dengan permadani merah tua yang tebal. Wanita berambut merah itu sedang berjalan tanpa suara di sepanjang koridor ketika seorang anak laki-laki berpakaian serba hitam muncul di hadapannya, menghentikan langkahnya.
“Selamat!
Wanita itu mengangguk setelah ragu sejenak melihat ekspresi kegembiraan anak laki-laki tersebut.
“Aku tahu ini rasanya belum nyata… tapi terima kasih.”
“Ada banyak tantangan di depan. Tapi aku tahu kamu akan melewati semuanya.”
Untuk pertama dan terakhir kalinya, anak laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara kepada Maharani Api Merah tanpa rasa kagum yang berlebihan.
Jika ada orang lain yang berbicara kepada Sang Maharani dengan cara seperti itu, mereka pasti akan dihukum mati atau hukuman yang hampir setara karena dianggap tidak sopan.
Namun, mereka berdua memiliki kepercayaan yang kuat pada satu sama lain, karena telah berbagi banyak kesulitan dan suka duka bersama.
Terlebih dari cara mereka saling memandang dan tersenyum, semua orang tahu bahwa mereka terikat bersama.
“Sebagai ratu, kamu akan memimpin rakyatmu mulai sekarang. Kamu akan terus menyinari jalan mereka.”
“Ara, kamu mengatakannya seolah-olah itu urusan orang lain, dan kamu akan ikut denganku, kan?”
Wanita itu menatap wajah anak laki-laki itu dengan senyuman usil, dan dia menundukkan kepalanya karena malu.
“Kamu yakin?”
“Bukankah kamu sendiri yang membawaku ke sini?”
“Apa aku…?”
Anak laki-laki itu terkekeh saat mengingat apa yang telah dia lakukan.
Dia telah membuat wanita itu melalui banyak hal. Dia telah membuatnya menangis lebih dari sekali atau dua kali.
Meski begitu, dia cukup keras kepala untuk mengikutinya—dan dia tidak mengecawakannya sampai akhir.
Dia adalah seorang rekan seperjuangan, sahabat karib, dan anggota keluarga.
Dan orang yang paling dia cintai di dunia ini.
“Mari, kita jalani hidup bersama.”
Tekad wanita yang mengulurkan tangan kepadanya itu membara bagaikan nyala api.
Tentu saja, apa pun yang terjadi di masa depan, perasaan ini tidak akan pernah berubah.
Dengan senyuman secerah matahari, anak laki-laki itu tersenyum dan meraih tangannya.

Komentar