Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 9 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 9 Cerita Pendek Bonus Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Cerita Pendek Bonus

Pertanyaan Sang Dewi Air

◇ Sudut Pandang Dewi Eir ◇

“Mako telah pergi ke masa seribu tahun lalu,” kataku.

“Dia memang pergi,” jawab Noah.

“Wah, kenapa kamu santai sekali? Apa kamu tidak khawatir dengan satu-satunya penganutmu itu?”

“Makoto-ku akan baik-baik saja.”

Kekasih Sophie, Mako, telah memulai perjalanan ke masa seribu tahun di masa lalu, yang berarti Dewa Jahat Noah saat ini tidak memiliki murid. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak terlihat terganggu—dia hanya bersantai di Kuil Dasar Laut seperti biasanya.

Di sisi lain…

“Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa menemukannya?! Ini tidak masuk akal! Jangan lari dari Penglihatan Masa Lalu-ku!”

Dewi termuda, Irrie, mengamuk dan mengomel. Terlepas dari semua kemampuannya, dia tidak bisa bersikap santai.

“Ada apa?” tanyanya kepadaku. “Dia tiba dengan selamat, kan?”

“Dia tiba! Jadi kenapa aku tidak bisa menemukan-nya?!”

Rupanya, dia ingin memberikan sedikit dukungan kepada Mako di masa lalu, tetapi Mako adalah seorang fanatik Titanea. Karena ketaatannya pada keyakinan lain, kami para Dewi Suci tidak dapat memberinya banyak bantuan. Meskipun begitu, Irrie adalah Dewi Takdir, jadi dia seharusnya bisa menemukannya dengan melacak sedikit distorsi sejarah.

Namun, dia tidak bisa.

“A-Apa yang harus kulakukan?! Kalau dia mati mendadak, maka…” Dia benar-benar panik, wajahnya pucat.

Aku tidak sampai seperti itu, tapi harus diakui, aku tetap khawatir. Monster-monster di masa lalu itu kuat, dan ada banyak Raja Iblis. Mako juga kuat, tapi kecelakaan bisa saja terjadi.

“Huah…” Noah menguap sambil merebahkan diri.

“Hei, Noah, kenapa kamu begitu tenang?” tanyaku. Meskipun kami selalu berbicara dengan santai, dia sebenarnya adalah dewi dengan peringkat yang jauh lebih tinggi dariku. Sebagai hukuman karena berpihak pada iblis seribu tahun lalu, kekuatannya telah dicabut dan dia dikurung, dan aku telah dipilih sebagai penjirnya. Sejak saat itu, aku selalu bersamanya. Setidaknya dia mudah diajak bicara—aku menganggapnya sebagai seorang teman.

“Dia cepat atau lambat akan menemukannya.” Noah terkekeh pelan. “Kamu tidak perlu khawatir.”

Sejujurnya, bahkan aku iri melihat betapa cantiknya tawa kecil itu membuatnya terlihat. Orang-orang lain bilang bahwa dialah yang paling menawan di surga, dan bahkan setelah sekian tahun berlalu, kecantikannya tetap hidup dan berseri.

“Apa kamu… sedang merencanakan sesuatu?”

“Aku, merencanakan sesuatu?” tanya dia dengan desahan jengkel. “Aku ini dikurung dan tidak punya kekuatan, ingat? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan apa pun?”

Ini adalah topik yang sudah sering kami bahas, dan aku tetap tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Karena obrolan dengan Noah tidak menghasilkan apa-apa, aku memutuskan untuk mengalihkan kembali pembicaraan ke Irrie. “Sudah menemukannya?”

“Belum, aku belum menemukannya!” teriaknya, suaranya sama sekali tidak memiliki ketenangan seperti Noah. “Aku sudah mencari di setiap sudut dan celah di area yang seharusnya menjadi wilayah Roses, tapi aku tidak bisa menemukannya!”

Hmm, jika dia tidak bisa menemukannya setelah mencari sedemikian teliti, maka mungkin…

“Mungkin dia ada di tempat lain?” usulku.

“Tapi… dia kan Pahlawan Roses? Dia paling banyak menghabiskan waktu beraksi di negeri itu.”

“Itu memang benar…”

Kami berdua memiringkan kepala untuk berpikir.

Lalu, Noah ikut menyela. “Cek di dekat Springrogue.”

“Springrogue? Padahal Mako hampir tidak pernah menghabiskan waktu di sana.”

“Ada hubungan kuat antara dirinya dan Raja Mayat Hidup, beserta para bawahan raja iblis.”

“Oh.” Ucapku dan Irrie bersamaan. Terlepas dari sedikitnya waktu yang dia habiskan di sana, kunjungannya terbilang cukup bermakna.

“Ah! Bisa jadi ini tempatnya!” seru Irrie. “Ada jejak penggunaan elemen air di sini!”

Sepertinya kita akan menemukannya lebih cepat dari perkiraan kita.

Aku menoleh ke arah Noah. “Kamu benar-benar mengenalnya, ya?”

“Tentu saja aku mengenalnya,” jawabnya.

Dia kemudian berbaring lagi untuk tidur siang, senyuman tipis menghiasi bibirnya.

Ratu Laphroaig

◇ Sudut Pandang Furiae ◇

“Lady Furiae! Seratus warga baru telah tiba di ibu kota!”

“Yang Mulia! Saya membawa laporan tentang rekonstruksi Istana Bulan!”

“Ratu kami! Ada sekelompok naga di dekat ibu kota. Kami sedang mengerahkan pasukan untuk menghadapi mereka!”

Laphroaig telah didirikan kembali, dan lokasi yang akan segera menjadi kota itu sedang berada di tengah-tengah persiapan untuk sebuah festival. Masalah seolah muncul setiap hari, tetapi semua orang menghadapinya dengan proaktif.

Alasan di balik semua ini adalah, sampai sekarang, kami para cambion belum pernah memiliki negara sendiri. Sekarang, berkat Dewi Matahari, Laphroaig secara resmi diizinkan untuk menjadi sebuah bangsa lagi. Para cambion dari seluruh penjuru benua berkumpul di area ini. Semua ini berarti aku—sebagai ratu yang baru—sangat sibuk sampai-sampai membuatku pusing.

Aku belum pernah memimpin orang sebelumnya. Namun, ksatria-ku telah mempertaruhkan nyawanya untuk memberiku kesempatan ini, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memulihkan Laphroaig. Itulah sebabnya aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menghadapi pekerjaan yang tidak familiar ini setiap hari.

◇

“Aku kelelahan…” Setelah menyelesaikan tugas-tugas ku, aku menghela napas, bersandar kembali ke sofa di kamarku.

“Kerja bagus, Fuu! Aku sudah membuatkan teh.”

“Menjadi ratu pasti melelahkan, Fuuri. Aku membawakanmu beberapa buah ajaib yang kelihatannya bisa menjaga stiaminamu.”

“Kenapa kalian berdua ada di sini?”

Entah kenapa, ada dua penyusup di kamarku. Jelas sekali kalau mereka masing-masing adalah Aya dan Lucy.

“Kami datang untuk melihat keadaanmu. Ah, kami sudah mendapat izin dari Havel.”

“Oh! Dan kami juga telah membereskan sekawanan naga serta griffin yang mengamuk di negara ini.”

Havel adalah salah satu pembantuku. Dia membiarkan kedua orang ini keluar masuk sesuka hati mereka. Meskipun begitu, aku mengabaikan hal tersebut—hal kedua yang mereka sebutkan jauh lebih penting bagiku.

“Para naga itu baru menjadi masalah pagi ini…” gumamku.

“Yup! Kami mendapat permintaannya hari ini, jadi kami langsung pergi dan membereskan mereka,” jawab Lucy santai.

“Kami juga harus kembali ke Great Keith lagi nanti,” kata Aya. “Ampun deh, menyebalkan sekali…”

Aku mengangguk. “Menjadi seorang pahlawan memang tidak mudah.”

Aya mengangkat bahunya. “Yah, aku mendapat banyak uang dari situ… Tapi aku tidak akan lanjut setelah tahun ini!”

“Kamu mau pensiun?” tanya Lucy. “Sayang sekali.”

“Aku tidak mau! Aku tidak mau jadi pahlawan lagi!”

Aya telah menjadi Pahlawan Resmi Negara Great Keith dengan memenangkan turnamen mereka, dan sekarang sepertinya dia ingin melepaskannya. Rasanya itu akan sangat disayangkan…tetapi pemikiran itu benar-benar sangat Aya.

“Kami berangkat ke Great Keith!” seru Lucy.

“Dadah, Fuu.”

Pasangan itu mengingatkanku pada badai—mereka mengatakan apa yang mereka inginkan, lalu, bagaikan sambaran petir, mereka pergi. Mereka… santai.

Hampir mirip seperti ksatriaku.

Saat aku mulai tertidur di ranjangku, aku mengenang masa-masa lalu.

◇

“Ya ampun… Kurasa aku kesiangan.”

Pasti karena hari-hari kerja keras yang berturut-turut, aku jadi telat bangun—matahari sudah tinggi di langit saat aku terbangun.

Gawat… Tugas-tugas-ku pasti sudah menumpuk.

Itulah yang kupikirkan saat aku menuju ke ruang kerjaku. Namun, begitu aku membuka pintu, aku disambut oleh pemandangan yang sangat tidak biasa. Duduk di kursi tamu, dengan lancar memindahkan dokumen-dokumen, adalah seorang wanita—Putri Sophia dari Roses.

“Lady Furiae, Lady Sophia telah tiba, jadi aku mempersilakannya masuk ke ruangan Anda,” kata Havel kepadaku.

Roses memberikan dukungan kepada Laphroaig, mengingat kami baru saja menjadi sebuah negara. Putri Sophia sendiri sedang membantuku menjalankan tugasku sebagai ratu.

“Havel! Kamu seharusnya langsung membangunkanku begitu Yang Mulia tiba! Kenapa—”

“Ah, aku yang bilang padanya untuk membiarkanmu beristirahat,” kata Putri Sophia. “Tolong jangan memarahinya terlalu keras.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sejujurnya, aku memang merasa jauh lebih baik setelah tidur lebih lama semalam.

“Um, yah, aku akan mulai juga… Tunggu! Kamu sudah menyelesaikan semua ini?!” Dokumen-dokumen yang kupikir akan butuh waktu dua hari semuanya tertumpuk rapi dan sudah selesai.

“Aku menyelesaikan hal-hal yang sederhana dan mengumpulkan apa pun yang memerlukan persetujuanmu secara terpisah, jadi tolong periksa itu terlebih dahulu.”

“Baiklah,” jawabku setelah sesaat, merasa kewalahan oleh efisiensinya.

Dia tiba-tiba tersenyum melihat kebingunganku. “Kamu akan segera terbiasa.”

Aku benar-benar merasa tidak akan pernah bisa melakukan apa yang dia bisa. Ksatria-ku… istri-istrimu terlalu terampil…

Aku harus mengejar ketertinggalan! Jadi, aku memacu diriku, mulai mengerjakan tugasku untuk hari itu.

Putri Sophia dan Crimson Fangs

◇ Sudut Pandang Putri Sophia ◇

Aku sedang duduk di kantor pribadiku, dan aku menghela napas. Bahkan belum sebulan sejak Pahlawan Makoto pergi. Aku telah membenamkan diri dalam pekerjaanku untuk mengalihkan perhatian dari rasa kesepianku, tetapi aku mungkin telah mengerjakannya sedikit terlalu berlebihan.

“Mungkin aku harus istirahat…”

Aku mengambil beberapa camilan dari sudut mejaku dan meneguk tehku yang sudah mulai dingin. Sebenarnya, bukankah aku pernah memakan ini bersama Pahlawan Makoto waktu itu? Ah, aku memikirkannya lagi… Ini tidak bagus. Eir bahkan telah menyuruhku untuk tidak terlalu memikirkannya.

Untuk mencoba mengusir pikiran-pikiran itu, aku akhirnya mengalihkan pandanganku ke tumpukan dokumen yang masih harus aku selesaikan. Mataku tertuju ke bawah, dan saat aku memindai halaman tersebut, perhatianku terpaku pada baris teks yang sangat mengkhawatirkan.

Ada penampakan seekor naga di sekitar Orion, desa paling selatan di Roses. Desa tersebut mengajukan petisi kepada negara untuk menanganinya. Rupanya, naga itu berada di luar kemampuan Kesatria Kuil dan para petualang di daerah tersebut. Pembayarannya akan berasal dari pajak mereka, dan aku tahu kepala desa mereka adalah orang yang rajin, jadi kecil kemungkinan dia akan mencoba memeras kita.

Namun, ada satu masalah…

“Kita tidak punya cukup orang.”

Roses memiliki sangat sedikit kesatria. Dan kesatria yang kita miliki pun tidak begitu kuat. Para petualang kita berada di posisi yang serupa. Meskipun begitu, naga ini bukanlah masalah yang bisa kita abaikan begitu saja.

Aku sedang cemas memikirkan cara mengatasinya ketika sesuatu membuyarkan konsentrasiku.

“Halo! Kau baik-baik saja, Sophia? Tidak memaksakan diri terlalu keras, kan?”

“Kami datang untuk nongkrong, Sophie!”

Para pengawalku pasti mendengar keributan itu—mereka langsung menerobos masuk.

“Penyusup, Lady Sophia?!”

“Bukan. Kalian boleh pergi,” perintahku. Lalu, aku menoleh ke arah kedua penyusup itu. “Lucy, Aya, sudah kubilang berulang kali, tolong jangan terlalu berisik saat kalian Teleport masuk.”

“Baaiiklah!”

“Maaf, Sophie!”

Benar sekali, kedua teriakan itu berasal dari mantan anggota party Hero Makoto.

◇

“Hmm, naga?”

“Para penduduk desa pasti khawatir setengah mati. Apa yang harus kita lakukan, Lu?”

“Kalahkan saja, tentu saja!”

“Mengerti!”

Lucy dan Aya datang sekadar untuk mengobrol denganku. Dengan perginya Pahlawan Makoto, mereka adalah segelintir orang yang bisa memahami dan berbagi perasaan kesepianku.

Aku menarik napas sejenak dan kembali berpijak di bumi. “T-Tunggu sebentar! Itu naga!” Hanya mereka berdua yang menghadapi makhluk seperti itu sungguh tidak masuk akal. Naga level seperti itu biasanya adalah tugas untuk sekitar tiga lusin ksatria.

“Akan baik-baik saja,” yakinkan Lucy kepadaku. “Aya adalah seorang pahlawan.”

“B-Begitu ya, memang… Tapi tetap saja.” Bentuk tubuh Aya yang imut dan mungil membuatnya mudah dilupakan, tetapi dia telah memenangkan turnamen Great Keith dan menjadi Pahlawan Resmi Negara mereka.

“Selain itu, kami mengalahkan beberapa naga di Labyrinthos,” ujar Lucy.

“Apa?!”

Mereka berdua menempatkan diri dalam bahaya sebesar itu?

“Sampai jumpa nanti, kalau begitu.”

“Dadah, Sophie.”

Tiba-tiba, mereka berdua menghabiskan hidangan penutup yang telah kuciptakan dan menghilang dengan Teleport, bagaikan kilatan petir di tengah badai.

Aku terkekeh pelan. “Mereka benar-benar hanya mendengarkan diri mereka sendiri.”

Hero Makoto juga hampir sama, dan kedua orang itu benar-benar terpengaruh olehnya. Saat aku mulai merampungkan sisa pekerjaanku, aku merasa sedikit lebih santai.

◇ Beberapa Jam Kemudian ◇

“Kami kembali!” seru Lucy.

“Halo lagi, Sophie.”

Ketika mereka tiba-tiba muncul lagi (untuk kedua kalinya hari ini), matahari telah sepenuhnya terbenam di bawah cakrawala, dan malam telah tiba sepenuhnya. Mereka… benar-benar orang yang gegabah.

“Ada apa?” tanyaku. “Apa kalian melupakan sesuatu?”

Persiapan adalah kunci dalam menghadapi naga. Jika mereka membutuhkan sesuatu, aku akan menggunakan seluruh kekuatan yang kumiliki sebagai seorang putri untuk mendapatkannya bagi mereka.

“Kami sudah membereskan naganya!” sorak Lucy.

Aya mengangguk penuh semangat. “Ya! Kami baru saja selesai melapor ke guild, tapi kami pikir kami harus memberitahumu juga.”

Aku terdiam selama beberapa detik yang terasa panjang.

“Apa?” Apa yang mereka bicarakan? Mereka kan baru saja menerima permintaannya, bukan?

“Wah, itu tadi gampang banget. Kerja bagus, Aya!”

“Teleport milikmu membuat segalanya jauh lebih mudah!”

Mereka berdua saling tertawa. Nanti, aku akan tahu bahwa mereka benar-benar telah membawa bahan-bahan dari naga itu kembali ke guild.

“Ada hal lain yang mengganggumu?” tanya Lucy.

“Kami akan mengambil semua quest yang sudah lama tertunda!” seru Aya.

Semangat mereka membuatku terkejut… tapi aku tahu mereka hanya berusaha menawarkan bantuan padaku.

“Istirahat saja untuk hari ini,” kataku pada mereka. “Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian.”

“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu,” kata Lucy.

“Benar, kita semua bisa berbagi.”

Aku mengeluarkan napas yang merupakan campuran antara desahan dan tawa. Kedua anak itu selalu mengikuti kata hati mereka sendiri. Memikirkannya saja sudah cukup membuatku terkikik.

“Ada apa?” tanya Lucy.

Aya tersenyum. “Sophie sekarang senang.”

“Setidaknya aku akan menyiapkan makanan,” kataku. “Kita bisa makan bersama-sama.”

Setelah itu, kami bertiga mengobrol cukup lama, dan aku mendapati suasana hatiku menjadi jauh lebih baik.

“Beri tahu kami jika kamu butuh bantuan,” ujar Lucy kepadaku.

“Yups, jangan memaksakan diri terlalu keras, Sophie.”

“Akan kulakukan,” janjiku sambil tersenyum. Rasanya sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali aku bisa tersenyum dengan bebas seperti ini. Ini bahkan mungkin pertama kalinya sejak Hero Makoto pergi.

Aku menunggumu.

Aku akan melakukan yang terbaik sampai dia kembali. Bukan sendirian, melainkan bersama semua orang di sisiku.

Sehari dalam Kehidupan Komandan Ksatria Pegasus

◇ Sudut Pandang Janet ◇

Aku sedang berpatroli mengudara di sekitar kastil. Ini secara teknis adalah bagian dari tugas-tugas ku, tetapi mengingat betapa damainya ibu kota, ini tidak jauh berbeda dari jalan-jalan santai.

Sebuah desahan lolos dari bibirku. Pikiranku tertuju pada peristiwa di katedral beberapa hari yang lalu. Makoto Takatsuki—pria yang perasaannya diam-diam kusimpan—telah berangkat dalam perjalanan ke negeri yang jauh. Menurut sang Dewi, dia tidak akan bisa kembali…

Bahkan Gerald tidak menjadi dirinya sendiri sejak rivalnya itu pergi. Dia telah pergi ke sebuah benteng di ujung paling utara benua—tempat yang sangat berbahaya yang dekat dengan benua iblis. Semua itu dilakukannya demi mengembalikan dirinya seperti sedia kala.

Aku tidak memiliki ketabahan untuk melakukan hal separah itu. Meskipun demikian, dengan kembalinya Iblis, para pasukan berada dalam kecemasan.

Pada akhirnya, patroliku berakhir dengan menangkap seorang pencuri tunggal, dan itulah akhir dari hari-ku.

◇

“Mal-am sela— Nona Janet’h?!”

Aku telah tiba di tempat yang awalnya diperkenalkan oleh Makoto Takatsuki kepadaku, dengan rencana untuk memesan makan malam. Pelayan penyambut tamu itu menjadi gugup saat melihat wajahku, dan aku memberi isyarat agar dia santai. Aku duduk di dekat tepi area itu dan perlahan-lahan menyeruput winpku.

“Ini makananmu. Selamat menikmati.”

Makanan yang dijual di sini agak avant-garde—hidangan yang dipikirkan oleh seorang dari dunia lain. Rasanya enak… tapi agak membosankan.

Makanannya jauh lebih enak terakhir kali aku berada di sini. Apakah karena aku sendirian?

Tanpa sadar, aku menghabiskan gelas kedua winpku.

“Aku ambil kursi ini,” kata seseorang, yang langsung menduduki kursi di sebelahku.

Aku tidak senang dengan hal itu—mereka mengganggu waktu sendiriku.

Aku menoleh untuk melihat siapa yang mengabaikan posisiku sebagai bagian dari keluarga Ballantine dan menerobos masuk ke ruanganku. Ketika mata kami bertemu, aku merasa terkejut.

“G-Grandsage?!”

Penyihir terkuat di negeri ini sedang duduk tepat di sebelahku.

“Pelankan suaramu. Mereka akan menyadarinya.”

“B-Benar… Um… kenapa Anda ada di sini?”

Dia menjawab seolah jawabannya sudah sangat jelas. “Karena makanannya enak.”

Yah, yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah, “Kenapa Anda sengaja duduk tepat di sebelah saya?” tapi Grandsage berada di urutan kedua dalam hal otoritas setelah raja dan paus, jadi aku tidak bisa bertanya secara lebih blak-blakan.

Pada akhirnya, sebuah koktail merah cerah dan steik berdarah disajikan di hadapannya. Wanita itu langsung menyantapnya dengan lahap.

“Lumayan,” ucapnya setelah selesai, sambil menyeka mulutnya dengan anggun. Rona merah akibat alkohol itu telah lenyap sepenuhnya.

“Apakah Anda sering datang ke tempat ini?” tanyaku dengan ragu-ragu.

“Tidak, ini pertama kalinya. Sang elementalist yang merekomendasikannya, jadi aku memutuskan untuk melihat seperti apa tempatnya.”

“Sang elementalist” adalah sebutannya untuk Makoto Takatsuki… Pria itu! Apa dia baru saja merekomendasikan tempat ini kepada setiap orang yang dia kenal?!

“Lagipula,” lanjutnya, “kau tampak tidak bersemangat. Gerald sedang berlatih di utara, bukan?”

“Yah, kakakku punya rencana sendiri… tapi aku…”

“Pendeta wanita air dan bulan sedang berlari kesana kemari untuk bersiap menyambut saat dia kembali. Apa kau puas hanya dengan membiarkan waktu berlalu begitu saja?”

Aku terperanjat mendengarnya. “Apa menurutmu Makoto Takatsuki akan kembali?” Sang dewi telah mengatakan kalau dia tidak akan bisa…

“Dia akan kembali,” ucapnya singkat. Tidak ada secuil pun nada mengejek di matanya—dia membalas tatapanku dengan mantap dan sungguh-sungguh.

Dia tampak yakin kalau dia akan kembali…? Aku tidak tahu kenapa, tapi begitulah kelihatannya. Kalau begitu, ini sama sekali bukan waktunya untuk bermuram durja…

Hampir dipastikan ada rapat-rapat yang diadakan siang dan malam hari untuk merumuskan strategi melawan Iblis. Begitu mereka memutuskan sebuah rencana, tugas kamilah para ksatria untuk melaksanakannya.

“Nah. Wajahmu terlihat jauh lebih baik sekarang.” Dia menyeringai. “Lagi pula, aku sudah membereskan pembayarannya.”

“Hah—?”

Bahkan sebelum suku kata itu keluar dari mulutku, dia sudah berteleportasi pergi.

Aku menatap dengan mulut menganga. Apa dia… datang untuk menghiburku? Datang ke sini hanya demi gadis kecil sepertiku?

Itu bukanlah sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang dengan posisi setinggi itu… tapi aku bersumpah di dalam hatiku bahwa aku akan memenuhi harapannya.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted