Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 4 Kisah Pendek Tambahan Bahasa Indonesia – Litenovel

Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 4 Kisah Pendek Tambahan Bahasa Indonesia

Reader Settings

Size :
A-16A+
Daftar Isi

Kisah Pendek Tambahan

Mengobrol dengan Dewi (Volume 4)

“Halo,” panggilku. Aku sadar kembali di ruang sang dewi. Itu tidak masalah, tapi…

“Oh… Makoto.”

Dia… terlihat tidak begitu baik.

“Ehm, Noah? Ada apa?”

Dia merosot bersandar di sofa. Tunggu, dia punya sofa?

“Apa kamu tidak enak badan?” tanyaku.

“Mhmm. Aku menghabiskan sepanjang malam minum-minum bersama Eir lalu tertidur…”

“Dengan Eir?!”

Eir tentu saja adalah Dewi Air dan dewa pelindung Roses.

“Dia datang ke sini?”

“Ya. Dia sering datang kemari. Kuil Dasar Laut secara teknis adalah kuil di bawah kekuasaannya.”

“O-Oh…”

Aku lebih terkejut pada kenyataan bahwa Dewi Suci seperti Eir mau minum-minum bersama Noah, salah satu dewi kuno… Lagipula, Eir telah menyetujuiku menjadi Pahlawan Resmi Negara Roses, jadi kurasa dia dan Noah pasti berada dalam hubungan yang cukup baik. Kelompok dewa tertentu mungkin adalah musuh alami secara keseluruhan, tetapi mungkin saja para individu di dalam kelompok tersebut memiliki hubungan yang baik…?

“Makoto… ambilkan aku air.”

“B-Baik…”

Sekilas pandang ke arah meja memperlihatkan beberapa botol kosong. Aku mengambil kendi yang berada di antara botol-botol kosong itu dan menuangkan air ke dalam gelas.

“Ini.” Aku menyodorkan air itu kepadanya.

“Mmm, terima kasih. Selain itu, pijat aku.”

“B-Baik…”

Dia benar-benar tidak meminta banyak hal, ya?

Posisinya yang bermalas-malasan juga menampilkan punggungnya yang tak berdaya dengan jelas. Jantungku berdegup kencang saat melihat kulitnya—yang begitu pucat hingga hampir berkilau—sementara aku memijatnya.

“Bagian pinggulku juga?”

Aku terdiam sejenak. “Aku tidak tahu caranya.”

“Lakukan saja apa pun.”

B-Baiklah kalau begitu. Aku mengerahkan beberapa ingatan tentang tempat pijat yang pernah kulihat di TV dan mulai menekan bagian pinggulnya.

“Ahhh, pas sekali di situ… Kamu jago juga ya dalam hal ini?”

Aku menghela napas. Kenapa aku merasa seperti anak kecil yang terjebak untuk memijat neneknya?

“Siapa yang kamu panggil nenek?!”

“Salah ngomong,” kilahku, padahal aku tidak benar-benar mengatakannya. Dia sedang membaca pikiranku, jadi aku tidak boleh membiarkan perbandingan sembarangan melintas di benakku.

Aku menghabiskan waktu dengan melakukan yang terbaik di bagian depan—atau punggung—itu sebelum sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benakku.

“Um… untuk inilah kamu memanggilku ke sini?”

“Apakah itu… buruk?”

“Eh, aku tidak keberatan.” Lagi pula, bukankah merawat dewi adalah bagian dari tugas seorang murid?

Meskipun, hal ini memang terasa sedikit mengecewakan… Lagi pula, dia ingin aku membereskan kekacauan setelah dewi lain membuatnya mabuk berat.

“Aku terkejut Eir ternyata sangat kuat minum,” komentarku.

“Yah, Roses banyak memproduksi minuman keras.”

Dia benar—bahkan Macallan, tempat tinggal ku, terkenal dengan minuman kerasnya. Ada banyak penyulingan terkenal lainnya di negara ini juga. Pengikut Eir mungkin memberikan persembahan berupa alkohol, jadi aku bisa mengerti kenapa dia menjadi peminum berat.

Aku membiarkan pikirannya mengembara tanpa tujuan ke arah itu sambil terus melanjutkan pijatannya.

“Benar!” kata Noah. “Eir mendapatkan minuman enak dari para pengikutnya, lalu berkata ‘ini adalah yang terbaik dalam sepuluh tahun,’ padahal dia mengatakan hal yang sama tahun lalu.”

“Jadi ini seperti Beaujolais nouveau?” tanyaku dalam hati. Kurasa ada pasar serupa bahkan di dunia ini.

“Itu hanya membuatku merasa kalau aku harus meminumnya, tahu kan?!”

“Aku mengerti maksudmu.”

“Kan?!”

Aku membiarkan keluh kesahnya berlalu begitu saja dan fokus menikmati saat-saat itu. Meskipun aku mungkin adalah seorang murid dari dewa jahat yang berencana menggulingkan dunia, saat-saat tenang dan santai ini tetap terasa sangat menyenangkan.

“Hei, ambilkan aku satu gelas lagi,” pintanya. “Kali ini arahkan ke mulutku.”

“Baiklah, baiklah,” jawabku dengan senyum tipis.

Begitulah, aku menghabiskan jam-jam tidurku bersama dewi yang ku hormati, hingga mimpiku berakhir. Itu adalah cara menghabiskan waktu yang baik… kurasa.

Percakapan antara Pendeta Wanita Bulan, Pahlawan Mawar, dan Sang Grandsage

◇ Sudut Pandang Furiae ◇

Ratusan kupu-kupu beterbangan di udara, semuanya tercipta sepenuhnya dari air.

Ksatriaku sedang berlatih lagi.

Makoto Takatsuki telah menjadi ksatria pengawal Priestess of the Moon (aku) selama beberapa hari sekarang. Ini adalah pemandangan yang sudah biasa kulihat.

Jika ksatriaku memiliki waktu luang, dia pasti akan berlatih. Apakah dia tidak pernah merasa lelah?

Penyihir itu sempat berlatih bersamanya, tetapi dia menyerah setelah tiga jam, mengatakan bahwa dia tidak sanggup berlatih lagi. Sang pendekar pedang berkata dia akan menyiapkan makan malam, jadi dia pasti berada di dapur.

Aku mengamatinya saat dia berlatih tanpa kenal lelah.

“Apakah elementalist itu selalu seperti ini?”

“Memang begitu,” jawabku secara otomatis. Namun kemudian, aku tersentak dan berbalik dengan cepat. “Apa?!”

Aku tidak menyadari kemunculan gadis muda di sebelahku. Dia berambut putih dan bermata merah serta mengenakan jubah putih. Sebenarnya, dia terlihat sangat menggemaskan, tetapi mana yang memancar darinya terasa begitu luar biasa.

Aku mengenalnya.

B-Bangsawan Agung Putih…

Dia dikabarkan sebagai penyihir terkuat di benua ini. Jadi, kenapa dia ada di sini?

“Apakah Anda memerlukan sesuatu, Grandsage?” tanya kesatriaku tanpa mengalihkan pandangan dari latihannya.

Kau tahu kau bahkan tidak melihat ke arah sini… kan?

“Memang,” jawab Grandsage. “Aku merasa sedikit lapar. Kalian akan segera kembali ke Roses, bukan?”

“Memangnya aku ini camilan?” tanya pria itu. “Tapi benar, kami memang akan kembali.”

“Hmm. Kalau begitu, datanglah ke Kastil Highland besok. Aku akan menunjukkan tempat yang bagus kepadamu.”

“Di mana?”

“Taman Pohon Cerium Milenium,” jawab Grandsage. “Itu adalah tempat favorit Abel seribu tahun yang lalu.”

“Oh!” ksatriaku berseru. “Aku ingin sekali melihatnya!”

Makoto Takatsuki tampak antusias dengan tawaran itu. Sepertinya aku belum pernah melihatnya begitu bersemangat. Biasanya dia begitu tenang.

“Kamu ini agak keanak-anakan, ksatriaku,” komentarku.

“Benarkah?”

“Ngomong-ngomong,” kata Grandsage sambil berpikir, “kamu menjadi ksatria pelindungnya. Apakah kamu menikmatinya?”

Ksatriaku tampak terkejut. “A-Apakah aku menikmatinya…?”

Bagiku, kontrak kami hanyalah sebuah cara untuk melarikan diri dari Symphonia. Kemungkinan besar itu juga sama baginya—sebuah kemitraan yang didasari kenyamanan dan cara untuk mencapai tujuan. Dia hanya menjadi ksatriaku untuk melindungi ibu kota dari pemberontakan.

Tidak mungkin dia merasa ini menyenangkan.

“Hmm, yah, aku sebenarnya sangat ingin mendapatkan skill Dark Magic, tapi pada akhirnya aku malah mendapatkan Charm. Tetap saja, aku bersenang-senang mempelajari teknik-teknik baru.”

Atau… rupanya, dia tidak keberatan. Apakah dia menikmati terikat kontrak dengan seseorang sepertiku? Seseorang yang disebut sebagai pendeta wanita terkutuk?

Dia memang orang yang aneh.

“Kalau begitu…” Grandsage mendekati ksatriaku. “Aku akan mengambil bagianku sekarang.”

Apa maksudnya…

“Hah?”

Sambil memerhatikan, dia menggigit leher pria itu. Aku menatap, tertegun bisu.

“T-Tunggu!” tahanku terbata-bata. Aku bisa mendengar tenggorokannya berdenyut saat dia menelan. “Ap-Apa yang sedang kau lakukan?!”

“Putri, tetaplah diam saat waktu makan,” tegur ksatriaku.

“Diamlah, Nona,” gumam Grandsage.

Apakah cuma aku satu-satunya yang menganggap ini aneh?! Kenapa ksatriaku bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja?!

Aku hanya bisa menyaksikan saat Grandsage bergelayut pada ksatriaku dan meminum darahnya. Tak lama kemudian dia selesai dan meminta diri, menyembuhkan luka-luka pria itu dengan jilatan lalu pergi melalui teleportasi.

Belakangan, aku baru tahu bahwa dia menyukai darah ksatriaku. Warna kulit pria itu bahkan tidak berubah sedikit pun meskipun darahnya telah dihisap…

Ada apa sebenarnya ini?

“Jadi… berapa lama lagi kamu akan berlatih?” tanyaku.

“Hmm… mungkin sampai waktu tidur.”

“Begitu ya.”

Seperti biasa, dia tidak menoleh ke arahku saat menjawab.

Aneh.

Ksatria pelindungku ini… sungguh aneh. Dia tidak membenciku, juga tidak menunjukkan ketertarikan—dia hanya melakukan urusannya sendiri… Aku belum pernah menemui orang seperti dia sebelumnya.

Entah bagaimana, aku merasa hal itu cukup menyenangkan.

Obrolan Perempuan antara Putri Sophia dan Putri Noelle

◇ Sudut Pandang Putri Sophia ◇

“Dasi mu miring, Takatsuki.”

“Terima kasih, Sasa.”

“Hei, Makoto, ayo kita berlatih di sebelah sini.”

“Baiklah.”

“Luuuu, kalian berdua tidak perlu pergi berlatih sendirian, kan?”

“Aya, tadi kamu mencoba menciumnya saat merapikan dasinya, bukan?”

Kedua gadis itu saling melotot dari jarak dekat. Dengan kata lain, pemandangannya sama seperti biasanya.

“Ksatria-ku, aku ingin pergi berbelanja. Temani aku.” Furiae mulai menarik lengannya.

“Benar, benar,” jawabnya.

“Curang, Fuu!”

“Fuuri! Tunggu giliranmu!”

“Eh… giliran? Kami akan segera kembali…?”

Tiga wanita cantik semuanya bermanja-manja padanya… Dulunya hanya dua, tapi sekali lagi, ada satu lagi yang bertambah.

Ugh. Sepertinya aku harus bergabung dengan mereka. Tapi aku punya tugas yang harus diurus…

“Lady Sophia, janji temu Anda berikutnya,” lapor bawahanku.

“Aku tahu!”

Jadi, dengan sangat terpaksa, aku berpisah dari Pahlawan Makoto.

◇

“Begitulah kejadiannya,” kataku mengakhiri cerita. “Semakin hari ada semakin banyak gadis di sekitarnya, Lady Noelle.”

“Hidupmu tidak mudah, Sophia.”

Setelah tugas resmi di kastil selesai, Lady Noelle mengundangku ke kamar pribadinya.

Aku menghela napas saat kami menyeruput teh bersama.

Lalu, terdengar ketukan di pintu, yang langsung diikuti oleh seseorang yang masuk.

“Hei, Noelle… Oh, Putri Sophia sedang bersamamu?” Ryousuke Sakurai—Pahlawan Cahaya—adalah orang yang nyelonong masuk itu. “Aku akan kembali lagi nanti.”

“Kau tidak perlu repot-repot,” kataku. “Aku juga baru saja hendak pergi.”

Dia adalah tunangannya, jadi aku ingin menghormati keberadaannya di sini.

“Tidak, kumohon—Sophia, Ryousuke, kalian berdua tetaplah di sini.”

Kami berdua menatap Lady Noelle dengan bingung saat dia menyeringai.

◇

“Begitulah kejadiannya,” kataku. Aku menjelaskan kembali peristiwa sebelumnya, kali ini kepada Sir Ryousuke.

“Begitu ya. Ada banyak gadis di sekitar Takatsuki…” Dia tampak merasa dilema yang aneh. Seingatku, Pendeta Wanita Bulan itu juga cukup akrab dengannya.

Mungkin dia tidak begitu menikmati mendengar tentang wanita itu yang memberikan perhatian kepada pahlawan lain.

“Kamu adalah teman baiknya, bukan?” tanya Noelle. “Apakah kamu punya saran yang bisa kamu berikan kepada Sophia?”

Oh! Dia sudah cukup lama mengenal Makoto Takatsuki. Aku pasti tertarik mendengar apa yang ingin dia katakan.

“Baiklah,” mulainya. “Yah, hal pertama yang perlu kamu ketahui tentang Takatsuki adalah…”

Begitu dia mulai, dia tidak bisa berhenti… Pada saat Noelle berhasil menarik perhatiannya kembali, dia sedang mengenang masa kecil mereka, ketika dia dan Pahlawan Makoto berusia tiga belas tahun.

Apakah dia benar-benar akan berhenti bernostalgia?! Lagipula, dia tampak terlalu menyayanginya.

Bahkan Putri Noelle pun tampak terkejut, padahal dialah orang yang mengangkat topik tersebut.

“Oh, benar. Aku memang tahu satu hal menarik tentangnya,” komentarnya.

“A-Apa itu?” Dan berapa lama kira-kira cerita yang satu ini akan memakan waktu?

“Aku tidak ingat persis kapan itu, tapi salah satu gadis di kelas kami dulu menyukainya.”

“Oh?” Hmm, hal itu memang terdengar menarik.

Pahlawan Makoto pernah memberitahu bahwa dia tidak memiliki pasangan di dunia lamanya, jadi aku menunggu untuk mendengar arah pembicaraan ini.

“Aku baru mengetahuinya setelah itu, tapi dia juga tertarik padanya, jadi perasaan mereka sebenarnya saling membalas.”

“Oh, kalau begitu dia cukup pintar merayu ya,” kata Putri Noelle. Dia tampak sama tertariknya. “Lalu apa yang terjadi pada mereka berdua?”

“Yah, aku dan teman-temanku mencoba segala cara untuk menyatukan mereka…”

Ceritanya pasti tidak berjalan dengan lancar…

“Semua orang tahu dia menyukainya… semua orang kecuali Takatsuki.”

Apa…? Sepertinya aku ingat dia bilang ada tiga puluh murid di setiap kelas, jadi…

“Itu… benar-benar tidak peka yang luar biasa.” Suara Putri Noelle dipenuhi dengan rasa jengkel.

“Aku tidak yakin bisa menyebutnya tidak peka, sih… Takatsuki hanya sepertinya tidak akan benar-benar menyadari perasaan semacam itu kecuali seseorang memberitahunya dengan jelas.”

“Harus diucapkan secara lisan?” tanyaku.

“Itu terasa agak merepotkan,” kata Noelle.

Tapi itu mungkin penting… Lagipula, banyak wanita di sekitarnya adalah tipe orang yang sangat terbuka dengan perasaan mereka.

Setelah itu, aku pamit dan meninggalkan ruangan.

◇

Dalam perjalanan kembali ke tempat penginapanku, aku berpapasan dengan Pahlawan Makoto yang sedang melatih Sihir Air bersama Lucy dan Aya.

Mereka tidak sedang…bermesraan, tapi tetap saja tidak menyenangkan untuk dilihat.

Aku teringat perkataan Tuan Sakurai.

Dia tidak akan mengerti kecuali kau mengatakannya dengan jelas.

“Pahlawan Makoto.”

“Oh, Sophia, ada apa?” jawabnya.

“Aku menyukaimu,” kataku kepadanya. Itu… agak memalukan untuk diucapkan.

Dia dan kedua gadis itu menatapku dengan mata terbelalak karena terkejut.

“Umm… aku juga…?” jawabnya.

Jadi dia benar-benar memahamiku. Aku disuguhi pemandangan langka saat dia terlihat sangat bingung.

Dengan itu, aku merasa puas.

Daftar Isi

Komentar

guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted