Shinja Zero no Megami-sama to Hajimeru Isekai Kouryaku Volume 11 Bab 8: Reuni Makoto Takatsuki Bahasa Indonesia
Bab 8: Reuni Makoto Takatsuki
◇ Sudut Pandang Grandsage Momo ◇
Aku menguap lebar. Aku berada di kediamanku di ibu kota Highland, Symphonia.
Belakangan ini, pola tidurnya adalah dua hari terjaga dan lima hari tidur. Karena aku adalah seorang setengah vampir, aku mengumpulkan lebih banyak mana saat aku tidur. Meminum darah orang akan membantuku memulihkan mana lebih cepat, tapi… aku sedang tidak ingin aktif mencari darah. Kecuali jika itu darah miliknya sendiri.
Sudah lama sekali sejak kekalahan awal Iblis. Anna adalah keturunan manusia, jadi tentu saja dia sudah tidak ada di sini lagi, tetapi bahkan seorang elf berumur panjang seperti Johnnie pun kini telah tiada. Hanya ada segelintir makhluk yang bisa hidup selama seribu tahun. Mayat hidup sepertiku, beserta naga purba seperti Guru Mel, mungkin adalah satu-satunya makhluk yang bisa.
Jika dipikir-pikir, sudah sekitar tiga ratus tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Dia telah membantuku sampai aku menjadi seorang penyihir penuh. Waktu itu, aku hanya bisa berdiri dengan sia-sia, tapi sekarang aku merasa jauh lebih kuat.
Yah, orang-orang memang menyebutku penyihir terkuat di benua ini.
Ketika dia mengakuiku sebagai penyihir seutuhnya, Guru Mel berkata, “Tidak ada lagi yang bisa kuajarkan kepadamu sekarang. Panggillah dirimu Grandsage Putih mulai sekarang.”
Bagian “putih” dari gelar itu rupanya karena aku adalah muridnya sendiri. Ketika seorang murid lulus, sudah menjadi kebiasaan untuk mengambil gelar mereka dari nama guru mereka.
Dalam seribu tahun terakhir, Guru Mel telah menjadi legenda di benua yang disebut Naga Suci ini.
Namun, dia sebenarnya adalah putri Raja Iblis…
Tentu saja, Sir Makoto juga tidak ada di sekitar sini. Dia sibuk melakukan perjalanan ke masa depan. Begitu Iblis dikalahkan, dia mengunjungi setiap wilayah dan mengusir raja-raja iblis yang tersisa. Dia bahkan secara berkala mencoba menaklukkan Kuil Dasar Laut.
Apa yang mendorongnya untuk terus maju tanpa henti? Tentu saja, ekspedisi ke Kuil Dasar Laut tidak berjalan dengan baik—dia selalu kembali dengan suasana hati yang buruk. Cain telah bergabung dengannya tetapi menghilang pada saat yang sama dengan Sir Makoto.
“Dadah, Momo. Aku akan menemuimu di masa depan.”
Aku masih bisa mengingat suaranya. Dia mengucapkan kata-kata itu sambil mengelus rambutku.
Sudah hampir seribu tahun sejak saat itu.
Aku ingin kau mengucapkan namaku lagi…
Belakangan ini, aku sering bermimpi tentang masa lalu—tentang era kegelapan, yang penuh dengan iblis dan monster. Bermimpi tentang masa-masa yang mengerikan… tetapi juga masa-masa yang dihabiskan untuk bepergian bersama Sir Makoto.
Aku merindukannya. Aku ingin berada di sisinya lagi. Aku ingin berbicara dengannya. Aku ingin mendengar suaranya. Tapi… aku tidak bisa.
Aku merasakan beban itu menimpa hatiku.
Memutuskan untuk mencari udara segar, aku meninggalkan kediaman itu.
Aku menghela napas. Ini adalah pertengahan musim dingin, dan jika aku manusia, hawa dingin itu akan terasa seperti pisau yang menyayat kulitku. Untungnya (atau sayangnya), sebagai seorang undead, aku tidak merasakan apa pun. Bulan sedang purnama. Orang-orang menyebutnya pertanda buruk, berkat Nevia di masa lalu.
Mereka memanggilnya Penyihir Malapetaka sekarang. Dia berencana untuk berinkarnasi di era ini bersama Iblis.
Itu sungguh merepotkan. Dia telah menyebabkan begitu banyak masalah di masa lalu.
Aku merasa jengkel saat berjalan-jalan di taman kastil.
“Grandsage?” kudengar suara dari belakangku.
Aku tidak menduga ada orang di sekitar pada jam malam begini. Rambut pirangnya berkilau diterpa cahaya bulan. Aku menatap mata biru jernihnya.
“Noelle,” kataku.
Ini adalah putri kedua Highland yang cantik.
Mereka sangat mirip…
Dia adalah Pendeta Wanita Matahari, sekaligus sangat mirip dengan Anna. Aku sangat bisa memahami rumor tentang dirinya yang dianggap sebagai reinkarnasi sang santo.
“Sedang apa kamu belum tidur?” tanyaku.
Dia menatapku dengan gelisah. “Aku tidak bisa tidur, jadi aku berdoa di katedral. Aku ingin bertanya… apakah Iblis benar-benar akan kembali dalam beberapa tahun ke depan? Dan… apa yang harus kulakukan saat itu?”
Para pendeta wanita dari setiap negara telah diberi tahu secara bersamaan mengenai kembalinya Iblis.
Sejak saat itu, mereka telah menyusun rencana rahasia—yang berpusat di Highland—untuk melawan ancaman tersebut. Strategi ini dijuluki Rencana Front Utara. Meskipun ada banyak pertentangan antarnegara, sekarang kami semua sepakat dalam menghadapi kembalinya Iblis.
Meskipun begitu…
“Itu urusan nanti. Jangan terlalu dipikirkan sekarang,” saranku.
“Benar juga…” Kepala Noelle terkulai.
Dia pasti merasa gelisah. Santo Anna dari kelompok pahlawan penyelamat adalah pahlawan pendiri Highland. Noelle memikul beban sebagai orang yang dianggap sebagai reinkarnasinya. Itu adalah tekanan yang terlalu berat untuk ditanggung oleh seorang gadis belia.
“Um… bisakah Anda ceritakan kepada saya tentang bagaimana sang penyelamat bertarung?” tanya Noelle.
Aku menghela napas. “Lagi?”
Sejauh yang diketahui publik, aku hanya memiliki kekuatan dan ingatan dari Grandsage pertama. Namun, kenyataannya, aku adalah seorang vampir abadi yang sebenarnya merupakan Grandsage asli.
Hanya keluarga kerajaan dan beberapa bangsawan yang mengetahui hal itu.
“Baiklah, akan kuceritakan tentang kekalahan Bifrons,” kataku mengalah.
“Baik!” Matanya berbinar-binar saat menatapku.
Padahal yang sebenarnya kulakukan hanyalah menonton sementara Sir Makoto dan Anna menghajarnya…
Hatiku sedikit terasa sakit. Tetap saja, aku akan menceritakannya sebanyak yang Noelle inginkan jika itu bisa membuatnya merasa lebih baik.
Aku menambahkan sedikit dramatisasi saat menceritakan apa yang terjadi. Waktu terus berlalu.
Pada akhirnya, berita bahwa kami kedatangan tamu dari dunia lain sampai kepada kami. Pahlawan Cahaya kedua adalah salah satunya. Ada yang lain juga, masing-masing dengan kemampuan yang kuat.
Namun, tak seorang pun dari mereka yang datang ke Highland adalah Sir Makoto.
Meskipun begitu, tidak apa-apa. Aku masih memikirkan—memikirkan bagaimana aku akan menemuinya lagi.
◇
“Um, Anda berniat pergi sendiri ke Labyrinthos?”
“Benar. Apakah ada masalah dengan hal itu?”
Aku jarang meninggalkan kediamanku, jadi ketika aku pergi ke istana dan memberitahu raja serta perdana menteri tentang rencanaku, ekspresi wajah mereka berdua langsung menegang.
“Tidak! Sama sekali tidak! Hanya saja, terlepas dari naga wabah itu atau bukan, ini bukanlah sesuatu yang harus membebani Anda, dan—”
Aku memotong perkataan mereka. “Aku sudah membuat keputusan. Jika kalian menentangnya, silakan coba dan hentikan aku.”
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, membalas tatapan para bangsawan dan keluarga kerajaan. Setiap orang di sini tahu bahwa aku pernah menjadi bagian dari kelompok legendaris itu.
Biasanya, aku tidak akan pernah menggunakan prestise dari gelar bangsawanku seperti itu, tetapi aku melakukannya pada kesempatan tertentu.
“A-Aku menantikan kerja sama Anda, Grandsage.”
Itu datang dari Hero of Light saat ini, Ryousuke Sakurai.
Seorang hero dari dunia lain.
Dia kuat… Aku bisa mengetahuinya dari aura di sekitarnya—dia memiliki potensi terpendam yang jauh lebih besar daripada Anna. Meskipun begitu, dia baru saja tiba di dunia ini, jadi dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatannya.
“Ini pertarungan pertamamu,” kataku kepadanya. “Jika ada masalah, aku akan membantu.”
“Terima kasih.”
Dia adalah pemuda yang sopan.
“Grandsage… apakah Anda benar-benar akan pergi ke Labyrinthos?” tanya seorang bangsawan.
“Anda adalah aset terkuat kami. Mohon, pertimbang—”
“Pembicaraan ini sudah selesai,” kataku dengan datar. Aku akan bergabung dengan Hero of Light dalam kampanye untuk memusnahkan naga wabah itu.
“Momo dan aku pertama kali bertemu saat Hero of Light pergi ke Labyrinthos,” kata Makoto. Tidak mungkin aku akan membiarkan masa depan itu berubah.
Akhirnya… aku akhirnya bisa bertemu dengannya lagi…
Rasanya hampir seolah-olah aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, meskipun jantung itu sama sekali tidak berdetak.
Pada akhirnya, Hero of Light mengalahkan naga-naga wabah itu dengan mudah. Memang ada beberapa saat yang hampir gawat, tetapi dia telah berkinerja dengan baik dalam ujian pertamanya.
Dan… aku telah melihat dirinya.
◇
“Permisiii ya…”
Rambut hitam, mata hitam, dan postur tubuh yang mungil. Petualang yang memasuki tendaku itu tampak hampir tidak bisa diandalkan.
Ah… Rasanya aku hampir ingin menangis. Yang bisa kulakukan hanyalah menahannya di dalam.
Akhirnya… aku akhirnya bisa bertemu denganmu lagi…
Aku telah meminta Pahlawan Cahaya untuk memanggil temannya, orang dari dunia lain yang bernama Makoto Takatsuki. Dialah orang yang dikatakan memiliki statistik terendah dan skill paling sedikit di antara semua orang dari dunia lain. Itulah sebabnya Highland tidak meminta kehadirannya. Bukan hanya itu, tidak ada satupun negara lain yang ingin dia bertempur demi mereka.
Dia telah dilupakan di Kuil Air.
Pada saat aku mengetahui semua ini, dia sudah berada di dunia ini selama cukup lama. Sejujurnya, saat pertama kali mendengarkan laporan tersebut, aku meragukan apakah itu benar-benar dirinya.
Tapi…
Itu memang benar dia…
Tidak diragukan lagi. Dia terlihat persis seperti yang kuingat.
“Lewat sini. Berbicara seperti ini terasa sulit.”
Aku melakukan yang terbaik untuk menghentikan suaraku agar tidak bergetar. Sir Makoto yang kuingat jauh lebih berani—versi dirinya yang ini tampak gugup dan kurang percaya diri.
Benar… dia belum mengenalku…
Mengingat hal itu sedikit membantuku menjadi tenang. Kemudian, aku menyadari dua gadis imut di belakangnya.
Aah, dia membawa gadis-gadis bersamanya lagi…
Hal itu sedikit membuatku kesal. Aku menggunakan Appraisal untuk melihat gadis seperti apa sebenarnya mereka—yang satu adalah setengah iblis dan yang lainnya adalah lamia. Gadis setengah iblis itu bahkan keturunan Johnnie!
Mengetahui hal itu, aku tidak bisa begitu saja mengusir mereka…
Aku memberi si rambut merah sebuah hadiah untuk membantu mengendalikan mana miliknya, dan aku menasihati si lamia tentang cara yang lebih baik untuk menggunakan skill Transform yang jelas-jelas sedang ia kesulitan kuasai.
Itulah yang namanya menabur garam kepada musuh sendiri…
Ini adalah pepatah yang kudengar dari para pendatang dari dunia lain. Pepatah itu berasal dari kampung halaman Sir Makoto, yang berarti seseorang harus membantu musuh mereka alih-alih memanfaatkan kelemahan mereka.
Meskipun begitu, melihatnya setelah satu milenium adalah perasaan terbaik di dunia. Sekarang aku hanya ingin berbicara dengannya lebih banyak lagi.
◇
Setelah itu, aku memanfaatkan setiap kesempatan yang kudapat untuk menemuinya. Meskipun begitu, aku adalah Grandsage, jadi meluangkan waktu untuknya lumayan sulit.
Setiap kali aku melihatnya, dia menjadi semakin kuat.
Sebelum aku menyadarinya, dia sudah memiliki seorang Undyne di sisinya dan berkeliling dari satu negara ke negara lain, menyelamatkan banyak orang.
Kemudian, dia mengalahkan seorang raja iblis. Dia perlahan kembali menjadi pria yang kukenal.
Pada akhirnya… dia pergi menuju masa lalu.
Dia telah menyelamatkanku saat aku masih menjadi manusia. Aku telah jatuh cinta padanya.
Dan aku menjaga cinta itu… selama ribuan tahun ini. Setiap tahunnya, tanpa terkecuali. Selamanya dan selamanya dan selamanya.
Aku mendekati peti mati gelap di perkebunanku.
“Kapan… kamu akan bangun…?” gumamku dengan lesu.
Aku membuka peti mati itu, menampakkan Sir Makoto yang sedang tidur di dalam sihir esnya. Es itu dilindungi oleh seorang Undyne—aku tidak akan bisa mencairkannya.
“Ini… sudah seribu tahun berlalu…”
Aku menyentuh es itu. Rasanya keras, sama sekali tidak memiliki kehangatan cahaya.
“Kapan kamu akan bangun?”
Tidak ada jawaban.
Atau lebih tepatnya, seharusnya memang tidak ada.
“Anak kecil? Apa kamu menangis?”
Aku tersentak kaget. Tiba-tiba, seorang wanita cantik—yang tampak hampir seperti boneka berkulit biru—muncul di hadapanku.
Tentu saja aku mengenalinya.
“Dia…?”
“Lihat kamu,” ucapnya dengan nada menggoda, sambil menunjuk pakaian Grandsage. “Hampir tidak ada waktu yang berlalu, dan kamu sudah mengenakan pakaian yang sangat mewah.”
“Bagian mananya yang hampir tidak ada waktu?!” protesku. Waktunya sudah berlalu seribu tahun! Para Elemental benar-benar tidak punya kepekaan terhadap waktu!
Namun saat ini, semua itu tidak penting lagi.
Jika Dia ada di sini, kalau begitu…
Aku dengan cepat menoleh kembali ke arah peti mati.
“A-Ah…”
Es yang abadi itu telah lenyap tanpa jejak.
Aku bisa mendengar debaran jantung di dadanya.
Perlahan… sangat perlahan… matanya terbuka.
◇ Sudut Pandang Makoto Takatsuki (Seribu Tahun Lalu) ◇
Makoto Takatsuki, perintahkan Undyne untuk membekukanmu. Kamu akan bisa bangun di masa depan.
Instruksi Ira tidak sepenuhnya akurat.
“Tidur kriogenik…”
Bukannya aku tidak pernah memikirkannya. Tapi apakah itu benar-benar satu-satunya pilihan?
Hal yang paling menakutkan adalah aku tidak akan berdaya saat sedang tidur.
Apakah aku bahkan bisa bangun di masa depan?
Jangan khawatir! Suruh saja Momo menjaga saat kamu tidur.
“Suruh Momo menjaga?” ulangku.
Gadis itu melirikku dengan gelisah. “Apa yang ingin kamu aku lakukan…?”
“Momo, aku serahkan padamu!”
“Ehm, b-baiklah! Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi akan aku lakukan!” jawabnya mantap.
Dia adalah anak yang baik. Aku harus menjelaskan rencana ini kepadanya dengan benar di kemudian hari.
“Lalu bagaimana cara aku bangun?” tanyaku.
Kamu harus meminta Undyne untuk membangunkanmu, kata Ira.
“Momo tidak bisa melakukannya?”
Dia tidak akan bisa mematahkan mantra Undyne. Kamu harus bangun sendiri atau meminta Undyne yang melakukannya.
Begitu ya.
“Dia, bisakah kau membangunkanku dalam seribu tahun?”
“Aku tidak tahu apakah aku memiliki pemahaman yang baik tentang waktu… Seribu tahun adalah sekitar waktu yang telah berlalu sejak Titanomachy, kan?”
Itu terjadi lima belas juta tahun yang lalu.
Keheningan.
Elemental benar-benar tidak memiliki1 pengenalan waktu. Lima belas juta tahun di masa lalu—itu dianggap sebagai zaman legenda. Jika dia butuh waktu selama itu untuk membangunkanku, itu bahkan tidak akan lucu.
Baiklah, aku akan mengajarimu sedikit Fate Magic. Kamu bisa memasang pengatur waktu pada mantranya.
“Ada mantra yang bisa melakukan itu?” tanya Dia.
Belum ada. Aku sedang membuatkannya khusus untukmu.
“Terima kasih atas usahamu.”
Ira terkikik. Sebaiknya kamu menghargainya!
Dia secara pribadi mengajariku mantra itu, dan kemudian…
Hari itu pun tiba.
Johnnie dan Mel jelas ada di sini, begitu pula Volf, Julietta, dan yang lainnya dari kota dungeon. Momo menangis terus-menerus, jadi aku merasa sangat tidak enak. Dan Anna…sedang marah.
“Kita bisa bersama lebih lama,” cemberutnya. Namun, aku sudah memberitahunya terlebih dahulu, dan dia pun setuju. Pada akhirnya, dia melepas kepergianku dengan senyuman.
“Aku pergi dulu,” kataku kepada mereka.
Ini adalah perpisahan dengan semua orang di masa lalu.
“Makoto… kau ingat janjimu, kan?” tanya Anna.
“Aku ingat.”
“Jika kau sampai lupa, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja!”
Dia memberikan ciuman perpisahan yang lama di bibirku.
Senyum sedihnya dan wajah Momo yang sedang menangis adalah hal terakhir yang kuingat sebelum aku tertidur lelap selama seribu tahun.
◇
Aku perlahan membuka mataku. Ada cahaya jingga, dan langit-langit yang temaram memenuhi bidang penglihatanku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat nyala lilin berkedip-kedip.
Tepat di sebelahku, seseorang sedang menangis.
“Tuan… Ma…koto…”
Itu adalah seorang gadis kecil berambut putih.
Momo? Namun, ini bukanlah Momo yang kuingat. Ini adalah Grandsage yang telah mengantarku pergi dari katedral di Highland.
Tetapi cara dia membenamkan wajahnya ke dadaku dan menangis… itu benar-benar Momo. Dia telah menungguku selama ini.
Tubuhku terasa berat—bahkan hanya untuk membuka mulut saja rasanya sangat sulit. Aku telah tidur selama seribu tahun, jadi itu wajar saja.
Namun, aku harus memberitahunya—aku harus berterima kasih kepadanya.
“Momo…” Suaraku terdengar serak. “Aku kembali…”
“Aku sudah menunggu… begitu lama…” Suara Momo terdengar tercekat.
“Terima kasih,” kataku, menggerakkan lenganku yang terasa berat untuk mengelus rambutnya dengan lembut.
Aku sudah kembali ke masa kini sekarang.

Komentar